Anda di halaman 1dari 19

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Keanekaragaman Hewan dengan judul Kelas Aves


yang disusun oleh:

Nama : Wais Al Kurni


Nim : 105440014415
Kelas/Kelompok : D15/6
Kelmpok : 07 Mei 2017

Telah diperiksa oleh Dosen Pembimbing dan dinyatakan diterima.

Makassar, 07 Mei 2017


Dosen Pembimbing Praktikan

Hilmi Hambali, S.Pd., M.Kes Wais Al Kurni

Mengetahui,
Kordinator Laboratorium

Nurul Magfirah,S.Pd.,M.Pd
NIDN:0925048603

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Indonesia memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi.
Jenis-jenis burung telah lama dikenal oleh masyarakat walaupun tidak semua
jenis burung, akan tetapi kecintaan dan perhatian masyarakat terhadap jenis
burung liar yang sangat begitu kurang. Begitu juga peneliti-peneliti dan hobi
mengamati burung di alam belum dilakukan di negara kita .

Indonesia merupakan negara keempat di dunia yang memiliki


keanekaragaman jenis burung setelah Columba dan Peru. Menurut penelitian
jenis-jenis burung di Indonesia ini sangat luar biasa, terdapat 1531 jenis
burung, 381 jenis diantaranya adalah endemik. Sumatra merupakan salah satu
pulau yang sangat kaya dengan jenis burung setelah Irian Jaya. Di Sumatra
terdapat 464 jenis burung, 138 jenis diantaranya juga dijumpai di kawasan
Sunda, 16 jenis burung hanya ditemui di Pulau Jawa dan Sumatra, dan 11
jenis di Kalimantan dan Sumatra. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa
burung memiliki kekayaan jenis yang tinggi. Untuk itu penting bagi kita
mempelajari cara mengamati dan mengidentifikasi burung.

Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga


terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis
yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar,
ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa
sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di
tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena
adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh.
Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan
otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh
ringan dari zat tanduk.

Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih


pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka
bumi. Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka
menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak
pegunungan. Burung juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir
pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-
masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya.

Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna dan


bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau
daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang
memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang
keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar
untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap
nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar
pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk
berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengamati struktur
morfologi dan anatomi serta mengidentifikasi system digestoria, system
urogenitalia, system respiratoria, system circulatoria, system nervosum dan
system skeleti dari burung merpati (Columba livia).
C. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini yakni agar setiap praktikan dapat
mengetahui dan membedakan struktur morfologi dan anatomi serta
mengidentifikasi system digestoria, system urogenitalia, system respiratoria,
system circulatoria, system nervosum dan system skeleti dari burung merpati (
Columba livia).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Burung atau aves adalah salah satu kelompok yang paling banyak dan
paling terkenal di dunia. Mereka berdarah panas seperti mamalia tetapi lebih
dekat kekerabatannya dengan reptil, mereka berkembang sejak 135 juta tahun
yang lalu. Semua burung lebih dulu bernenek moyang dari fosil burung
pertama, yaitu Archaeopteryx (Mac Kinnon, 1991).

Kelas Aves adalah kelas hewan vertebrata yang berdarah panas dengan
memiliki bulu dan sayap. Tulang dada tumbuh membesar dan memipih,
anggota gerak belakang beradaptasi untuk berjalan, berenang dan bertengger.
Mulut sudah termodifikasi menjadi paruh, punya kantong hawa, jantung
terdiri dari empat ruang, rahang bawah tidak mempunyai gigi karena gigi-
giginya telah menghilang yang digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk
dan berkembang biak dengan bertelur. Kelas ini dimanfaatkan oleh manusia
sebagai sumber makanan, hewan ternak, hobi dalam peliharaan. Dalam bidang
industri bulunya dapat dimanfaatkan contohnya baju, hiasan dinding, dan
lainnya. (Mukayat, 1990).

Kelas aves memiliki kemajuan bila dibandingkan dengan kelas-kelas


yang mendahuluinya dalam hal; 1. Tubuh mempunyai penutup yang bersifat
isolasi, 2. Darah vena dan arteri terpisah secara sempurna dalam sirkulasi pada
jantung, 3. Pengaturan suhu tubuh, 4. Rata-rata metabolisme aves tinggi, 5.
Mempunyai kemampuan untuk terbang, 6. Suaranya berkembang dengan
baik, 7. Menjaga anaknya dengan baik dan cara khusus (Jasin, 1992).

Struktur dan fisiologi burung diadaptasikan dalam berbagai cara untuk


penerbangan efisien. Yang paling utama dari semua ini tentu saja adalah
sayap. Meskipun sekarang sayap itu bisa memungkinkan burung untuk
terbang jarak jauh untuk mencari makanan yang cocok dan berlimpah.
Mungkin saja sayap itu dahulu timbul sebagai adaptasi yang membantu
mereka meloloskan diri dari pemangsanya (Kimball, 1999).

Adanya bulu pada burung merupakan karakter spesifik yang


menunjukkan jenis burung. Sayap merupakan adaptasi dari burung yang jelas
untuk terbang. Merupakan airfoil yang menggambarkan prinsip aerodinamika.
Sisik pada kaki burung merupakan sisa evolusi dari reptil. Bulu adalah salah
satu adaptasi vertebrata yang paling luar biasa karena sangat ringan dan kuat.
Bulu terbuat dari keratin, protein yang juga menyusun rambut dan kuku pada
mammalia dan sisik pada reptilia. Pertama kali, burung merupakan hewan
yang memiliki sayap sebagai penyekat selama evolusi hewan endoterm,
setelah itu baru dimanfaatkan sebagai peralatan terbang. Selain itu bulu juga
dapat dimanipulasi untuk mengntrol pengerukan udara di sekitar sayap
(Kimball, 1999).

Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata
lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik
berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara
embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat
menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga
terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis
sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus,
sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup
bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh
darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada
perkembangan selanjutnya (Jasin, 1992).
Burung merpati (Columba livia) merupakan salah satu jenis burung
yang sudah lama dipelihara dan dibudidaya oleh para penggemar burung.
Burung merpati adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang
(vertebrata) yang memiliki bulu dan sayap yang mayoritas aktivitasnya adalah
terbang di udara. Burung merpati mempunyai beberapa kelebihan
dibandingkan dengan jenis burung lainnya yaitu burung merpati mampu
mengingat lokasi dengan baik serta burung merpati mampu terbang hingga
sekitar 65 80 km/jam dan dalam satu hari mampu terbang sejauh sekitar 965
km (Kadri, 2016).

Columba livia termasuk dalam famili Columbidae dari ordo


Columbiformes, yang mencakup sekitar 300 spesies burung kerabat pekicau.
Dalam percakapan umum, istilah "dara" dan "merpati" dapat saling
menggantikan. Dalam praktik ornitologi, terdapat suatu kecenderungan "dara"
digunakan untuk spesies yang lebih kecil dan "merpati" untuk yang besar,
namun hal ini tidak secara konsisten diterapkan, dan secara historis nama
umum untuk burung-burung tersebut memiliki banyak variasi antara istilah
"dara" dan "merpati." Famili ini terdapat di seluruh dunia, namun varietas
terbesar terdapat di Indomalaya dan Ekozona Australasia. Dara dan merpati
muda disebut "squabs" (Chrome, 1991).

Merpati dan dara adalah burung berbadan gempal dengan leher pendek
dan paruh ramping pendek dengan cere berair. Spesies yang umumnya dikenal
sebagai "merpati" adalah merpati karang liar, umum digunakan di banyak
kota. Dara dan merpati membangun sangkarnya dari ranting dan sisa-sisa
lainnya, yang ditempatkan di pepohonan, birai, atau tanah, tergantung
spesiesnya. Mereka mengerami satu atau dua telur, dan kedua induknya sangat
memedulikan anaknya, yang akan meninggalkan sangkarnya setelah 7 hingga
28 hari. Dara makan biji, buah dan tanaman. Tidak seperti kebanyakan burung
lainnya (namun lihat juga flamingo), dara dan merpati menghasilkan "susu
tembolok." Kedua jenis kelamin menghasilkan zat bernutrisi tinggi ini untuk
memberi makan anaknya (Chrome, 1991).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Minggu, 07 Mei 2017
Waktu : Pukul 08.00-10.00 WITA
Tempat: Laboraturium Biologi Unismuh Makassar
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum adalah:
1. Papan bedah : 1 Buah
2. Pinset bedah : 1 Buah
3. Pisau bedah : 1 Buah
4. Gunting bedah : 1 Buah
5. Jarum pentul : 4 Buah
6. Kertas tissue : Seperlunya
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada saat praktikum adalah:
1. Burung merpati ( Columba livia ) : 1 Ekor
C. Prosedur kerja
Adapun kerja pada percobaan ini yaitu:
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Meletakkan Burung merpati ( Columba livia ) diatas papan bedah
(disceting pan).
3. Mengamati struktur morfologi tubuh Burung merpati ( Columba livia ).
2. Membedah hewan dengan menggunakan gunting bedah atau scalpel
dengan hati-hati agar tidak ada bagian anatomi yang rusak agar lebih
mudah dan jelas ketika melakukan pengamatan.
3. Mengamati struktur anatomi tubuh hewan satu persatu dengan seksama,
kemudian menggambar dan beri keterangan.
4. Mengidentifikasi system digestoria, system urogenitalia, system
respiratoria, system circulatoria, system nervosum dan system skeleti dari
Burung merpati ( Columba livia ).
4. Setelah melakukan pengamatan bersihkan semua alat yang telah digunkan
dan membersihkan laboratorium agar lebih steril.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
1. Burung Merpati ( Columba livia )

Gambar Morfologi Keterangan

1. Penutup mata
2. Penutup telinga
3. Dorsal yang ditutupi
bulu
4. Sayap yang ditutupi
bulu
5. Bulu sayap sekunder
6. Bulu sayap primer
7. Ekor dengan bulu yang
besar
8. Kaki dengan 4 jari
9. Kulit kering dan
bersisik pada tarsometatarsus
10. Sayap
11. Leher
12. Paruh
13. Lubang hidung

Gambar Morfologi Bulu Keterangan

1. Vane
2. Rachis
3. Barb
4. Afterfeather
5. Downy barbs
6. Hollow shaft, calamus

Gambar Anatomi Keterangan


1. Tembolok
2. Jantung
3. Lambung
4. Hati
5. Empedal
6. Kantung udala
7. Paru-paru

Gambar Sistema Digestoria Keterangan

1. Kerongkongan
2. Tembolok
3. Lambung kelenjar
4. Empedal
5. Usus
6. Kloaka
7. Pankreas
8. hati
Gambar Sistema Urogenitalia Keterangan

a. Betina
1. Ovarium kiri
2. Oviduk
3. Kloaka
4. Oviduk yang menyusut

b. Jantan
1. Testis
2. Vas deferens
3. Ureter
4. Kloaka
Gambar Sistema Respiratoria Keterangan

1. Lubang hidung
2. Trakea
3. Kantung udara depan
4. Kantung udara belakang
5. Paru-paru

Gambar Sistema Circulatoria Keterangan

1. Arteri pulmonalis
2. Vena pulmonalis
3. Atrium kiri
4. Atrium kanan
5. Ventrikel kiri
6. Ventrikel kanan
7. Aorta
8. Pembuluh vena
9. Aorta pulmonalis
10. Arteri
Gambar Sistema Nervosum Keterangan

1. Pusat penciuman ( lobus


olfaktorius)
2. Otak besar
3. Pusat penglihatan ( lobus
optikus )
4. Otak tengah
5. Otak kecil
6. Sumsum penghubung

Gambar Sistema Skeleti Keterangan

1. Tulang sayap
2. Sayap
3. Ulna
4. Radius
5. Humerus
6. Tulang panggul
7. Tulang paha
8. Tulang telapak kaki
9. Tulang jari kaki
10. Tulang kering
11. Tulang dada
12. Tulang rusuk
13. Tulang leher
14. Rahang
15. Rongga mata
16. Tengkorak

B. Pembahasan
1. Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan mengenai morfologi,
anatomi dan sistema pada spesies Burung Merpati ( Columba livia ) dari kelas
aves. Diketahui bahwa burung merpati memiliki struktur morfologi tubuhnya
terbagi atas 4 bagian yang terdiri dari Caput (kepala), cervix (leher), truncus
(badan) dan caudal (ekor). bagian caput terdapat rostrum (paruh). Tipe paruh
pemecah biji-bijian, nostril, organon visus dengan membran niktitans. bagian
cervix terdapat bulu tetrices. Bagian truncus terdapat alat ekstremitas atas
berupa sayap. bagian sayap tertutupi oleh remiges. terdapat 2 jenis remiges
pada sayap yaitu remiges primae yang melekat secara digital pada digiti dan
secara metacarpal pada metacarpalia, remiges secundariae melekat secara
cubital pada radio-ulna. Selain itu, terdapat Parapterum yang menutupi daerah
bahu dan ala spuria yang menempel pada paluk (ibu jari). Alat ekstremitas
bawah berupa sepasang kaki yang memiliki falcula (kuku), falcula merupakan
derivat dari epidermis. Kaki Columba livia termasuk kaki tipe petengger. Pada
bagian caudal terdapat retrices (bulu ekor) yang memiliki vexillum yang
simetris. Adaptasi vexillum simetris ini berguna dalam keseimbangan saat
terbang karena ekor digunakan sebagai kemudi/ pengarah (navigator) pada
saat seekor burung terbang.
2. Anatomi
Pengamatan secara anatomi Columba livia, terlihat adanya espohagus,
trachea, pulmo, cor, crop, proventriculus, hepar, gizzard (rempela), pankreas,
intestinum tenue, intestinum crasum, ren, ureter, dan kloaka.
Sistem Pencernaan, terdiri dari cavum oris (dengan rostrum),
esophagus yang panjang, crop yang berfungsi sebagai tempan penimbunan
makanan, proventrikulus menghasilkan asam lambung, gizzard untuk
menggiling makanan, intestinum tenue, intestinum crassum, dan berakhir pada
kloaka. Kelenjar pencernaan berupa hepar, tak memiliki vesica fellea
(empedu).
Sistem urogenitalia terdiri dari alat ekskresi berupa ren yang relatif
besar, bewarna merah coklat, tertutup oleh peritonium (retroperitonial). Tiap-
tiap ren terbagi atas 4 lobi. Dari dataran ren adalah ventral keluar ureter yang
sempit menuju ke cauda dan berakhir pada cloaca. Daeah yang berasal dari
arteri renalis akan disaring secara filtratis. Zat-zat yang tidak berguna dalam
darah terutama berupa ureum akan dibuang dalam proses filtrasi ini.
Ginjal bertipe metanefros berwarna coklat tua. Saluran ureter
bermuara langsung pada kloaka dan tidak ada kandung kemih. Ekskret semi
solid (mengandung urat). Kelenjar adrenal sepasang, pada pertukaran ventral
ginjal. Sekret dari gonad mengatur karakteristik seksual sekunder (bulu,
jengger, dan gembel). Fertilisasi terjadi di dalam. Ovarium hanya satu yang
sebelah kiri. Sebelum telur dikeluarkan mendapat penutup albumin dan
cangkang dalam oviduk, maka inkubasi adalah 16-18 hari. Pada hewan jantan
terdapat sepasang testis yang bulat berwarna putih, melekat di sebelah anterior
dari ren dengan suatu alat penggantung. Testis di sebelah kanan lebih kecil
dari pada yang kiri. Dari masing-masing testis terjulur saluran vas diferensia
sejajar dengan ureter yang berawal dari ren. Pada sebagian aves, memiliki
vesicula seminalis yang merupakan gelembung kecil bersifat kelenjar dan bagi
tempat menampung sementara sperma sebelum dituangkan melalui pupil yang
terletak pada kloaka. Pada hewan betina terdapat sepasang ovari, hanya yang
dekskum mengalami atrophis (mengecil dan tidak bekerja lagi). Dari ovari
menjulur oviduct panjang berkelok-kelok, berlubang pada bagian cronial
dengan bentuk corong. Lubang oviduct disebut ostium abdomanalis.
Fertilisasi terjadi di dalam tubuh dengan jalan mengadakan kopulasi. Waktu
copulatio, maka proctoduea dari kedua jenis burung saling tempel kuat-kuat,
sehingga sperma yang keluar pada ejaculatio langsung masuk ke dalam
proctodoeum yang betina, untuk kemudian menuju oviduct. Organ reproduksi
betina hanya terdiri dari satu ovarium sebelah kiri. Tuba merupakan oviduct
bagian rustral, terdapat kelenjar.
Sistem respirasi, terdiri dari nostril, cavum nasalis, cavum oris, larynx,
trakea, saccus pulmonalis anterior, pulmo, saccus pulmonalis posterior.
Sistem sirkulasi, sama seperti hewan dari kelas aves lainnya yakni
terdiri dari jantung beruang empat (atrium dextrum dan ventrikel sinistrum,
ventrikel dextrum dan atrium sinistrum).
3. Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Classis : Aves
Ordo : Columbiformes
Familia : Columbidae
Genus : Columba
Spesies : Columba livia

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa dari
percobaan terhadap kelas aves spesies burung merpati ( Columba livia)
struktur morfologi tubuhnya terbagi atas 4 bagian yang terdiri dari Caput
(kepala), cervix (leher), truncus (badan) dan caudal (ekor). bagian caput
terdapat rostrum (paruh). Sedangkan pengamatan secara anatomi Columba
livia, terlihat adanya espohagus, trachea, pulmo, cor, crop, proventriculus,
hepar, gizzard (rempela), pankreas, intestinum tenue, intestinum crasum, ren,
ureter, dan kloaka.
B. Saran
Sebelum praktikum dimulai siapkan alat dan bahan yang akan
digunakan demi menunjang kelancaran dalam pelaksanaan praktikum.
Kemudian, pada saat praktikum, ketika menggunakan peralatan bedah
sebaiknya tetap berhati-hati. Terutama ketika melakukan pembedahan
terhadap spesies hewan untuk mengetahui sisi anatominya, agar terhindar dari
cidera dan terjadinya kerusakan pada spesies yang dibedah.

DAFTAR PUSTAKA

Crome, Francis H.J. (1991). Forshaw, Joseph. ed. Encyclopaedia of Animals: Birds.
London: Merehurst Press. hlm. 115116. ISBN 1-85391-186-0.

Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Sinar Jaya.

Kadri, Mohamad Haekhal Mahessa, dkk. 2016. Karakteristik Dan Perilaku Merpati
Tinggi Lokal Jantan Dan Betina. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol.
4(2): 156-160, Mei 2016.

Kimball, J, W. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Mackinnon, J. 1991. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan


Bali. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.
Mukayat, D. 1990. Zoologi Vertebrata. Jakarta: Erlangga.