Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

ISOLASI SOSIAL DI WISMA SADEWARSJ GRHASIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Mata Kuliah


Keperawatan Jiwa

DisusunOleh :

Ad Dieni Ulya S (P0712021001)

Dedi Putra Mahendra (P0712021003)

Istianah Nur Alfiyah (P0712021015)

Rizki Arlintang (P0712021030)

Samiasih Ayu D (P0712021031)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2017
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

ISOLASI SOSIAL DI WISMA SADEWA RSJ GRHASIA

Laporan ini disahkan pada


Hari, tanggal :
Tempat:

Mengetahui,

Pembimbing Lapangan Pembimbing Akademik


PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

ISOALSI SOSIAL

A. Latar Belakang
Berdasarkan hasil observasi selama bertugas di Wisma Sadewa Rumah
Sakit Jiwa Ghrasia, beberapa klien masuk RS Ghrasia karena pasien
mengalami isolasi sosial. Umunnya mereka dibawa oleh
keluarganya,tetangganya maupun aparat keamanan karena mereka melakukan
perilaku kekerasan yang beberapa pasien dengan perilaku kekerasan. Hal
tersebut terjadi karena banyak diantara mereka yang mengalami isolasi sosial
sehingga tidak dapat asertif ketika memiliki masalah ataupun keinginan. Oleh
karena itu, perawat akan melakukan Terapi Aktivitas Kelompok
SosialisasiIsolasi Sosial (TAKS isolasi sosial) pada pasien yang ada di
Wisma Sadewa.
B. Topik
Isolasi sosial .
C. Sasaran.
Pasien bangsal Sadewa RSJ Ghrasia Sejumlah 9 orang
D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara
bertahap.
2. Tujuan Khusus
a. Klien mampu memperkenalkan diri
b. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
c. Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok
d. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik
percakapan
e. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi
pada orang lain
f. Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
g. Klien mampu menyampikan pendapat tentang manfaat kegiatan
tentang TAKS yang telah dilakukan.

E. Landasan Teori
1. Isolasi Sosial
a. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu
mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa
ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain (Purba, dkk. 2008).
Isolasi sosial adalah gangguan dalam berhubungan yang
merupakan mekanisme individu terhadap sesuatu yang mengancam
dirinya dengan cara menghindari interaksi dengan orang lain dan
lingkungan (Dalami, dkk. 2009).
Isolasi soaial adalah pengalaman kesendirian seorang individu
yang diterima sebagai perlakuan dari orang lain serta sebagai kondisi
yang negatif atau mengancam (Wilkinson, 2007).
b. Faktor Predisposisi
1) Faktor Perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui
individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini
tidak dapat dipenuhi, akan menghambat masa perkembangan
selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan
pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang
lain. Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan kehangatan
dari ibu/pengasuh pada bayi bayi akan memberikan rasa tidak aman
yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa
ketidakpercayaan tersebut dapat mengembangkan tingkah laku
curiga pada orang lain maupun lingkungan di kemudian hari.
Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak
tidak mersaa diperlakukan sebagai objek.
Menurut Purba, dkk. (2008) tahap-tahap perkembangan individu
dalam berhubungan terdiri dari:
- Masa Bayi
Bayi sepenuhnya tergantung pada orang lain untuk memenuhi
kebutuhan biologis maupun psikologisnya. Konsistensi
hubungan antara ibu dan anak, akan menghasilkan rasa aman
dan rasa percaya yang mendasar. Hal ini sangat penting karena
akan mempengaruhi hubungannya dengan lingkungan di
kemudian hari. Bayi yang mengalami hambatan dalam
mengembangkan rasa percaya pada masa ini akan mengalami
kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain pada masa
berikutnya.
- Masa Kanak-kanak
Anak mulai mengembangkan dirinya sebagai individu yang
mandiri, mulai mengenal lingkungannya lebih luas, anak mulai
membina hubungan dengan teman-temannya. Konflik terjadi
apabila tingkah lakunya dibatasi atau terlalu dikontrol, hal ini
dapat membuat anak frustasi. Kasih sayang yang tulus, aturan
yang konsisten dan adanya komunikasi terbuka dalam keluarga
dapat menstimulus anak tumbuh menjadi individu yang
interdependen, Orang tua harus dapat memberikan pengarahan
terhadap tingkah laku yang diadopsi dari dirinya, maupun sistem
nilai yang harus diterapkan pada anak, karena pada saat ini anak
mulai masuk sekolah dimana ia harus belajar cara berhubungan,
berkompetensi dan berkompromi dengan orang lain.
- Masa Praremaja dan Remaja
Pada praremaja individu mengembangkan hubungan yang intim
dengan teman sejenis, yang mana hubungan ini akan
mempengaruhi individu untuk mengenal dan mempelajari
perbedaan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Selanjutnya
hubungan intim dengan teman sejenis akan berkembang menjadi
hubungan intim dengan lawan jenis. Pada masa ini hubungan
individu dengan kelompok maupun teman lebih berarti daripada
hubungannya dengan orang tua. Konflik akan terjadi apabila
remaja tidak dapat mempertahankan keseimbangan hubungan
tersebut, yang seringkali menimbulkan perasaan tertekan
maupun tergantung pada remaja.
- Masa Dewasa Muda
Individu meningkatkan kemandiriannya serta mempertahankan
hubungan interdependen antara teman sebaya maupun orang tua.
Kematangan ditandai dengan kemampuan mengekspresikan
perasaan pada orang lain dan menerima perasaan orang lain
serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Individu siap untuk
membentuk suatu kehidupan baru dengan menikah dan
mempunyai pekerjaan. Karakteristik hubungan interpersonal
pada dewasa muda adalah saling memberi dan menerima
(mutuality).
- Masa Dewasa Tengah
Individu mulai terpisah dengan anak-anaknya, ketergantungan
anak-anak terhadap dirinya menurun. Kesempatan ini dapat
digunakan individu untuk mengembangkan aktivitas baru yang
dapat meningkatkan pertumbuhan diri. Kebahagiaan akan dapat
diperoleh dengan tetap mempertahankan hubungan yang
interdependen antara orang tua dengan anak.
- Masa Dewasa Akhir
Individu akan mengalami berbagai kehilangan baik kehilangan
keadaan fisik, kehilangan orang tua, pasangan hidup, teman,
maupun pekerjaan atau peran. Dengan adanya kehilangan
tersebut ketergantungan pada orang lain akan meningkat, namun
kemandirian yang masih dimiliki harus dapat dipertahankan.
2) Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk
mengembangkan gangguan tingkah laku.
- Sikap bermusuhan/hostilitas
- Sikap mengancam, merendahkan dan menjelek-jelekkan anak
- Selalu mengkritik, menyalahkan, anak tidak diberi kesempatan
untuk mengungkapkan pendapatnya.
- Kurang kehangatan, kurang memperhatikan ketertarikan pada
pembicaananak, hubungan yang kaku antara anggota keluarga,
kurang tegur sapa, komunikasi kurang terbuka, terutama dalam
pemecahan masalah tidak diselesaikan secara terbuka dengan
musyawarah.
- Ekspresi emosi yang tinggi
- Double bind (dua pesan yang bertentangan disampaikan saat
bersamaan yang membuat bingung dan kecemasannya
meningkat)
3) Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan
faktor pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga
disebabkan oleh karena norma-norma yang salah yang dianut oleh
satu keluarga.seperti anggota tidak produktif diasingkan dari
lingkungan sosial.
4) Factor Biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa.
Insiden tertinggi skizofrenia ditemukan pada keluarga yang anggota
keluarga yang menderita skizofrenia. Berdasarkan hasil penelitian
pada kembar monozigot apabila salah diantaranya menderita
skizofrenia adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot
persentasenya 8%. Kelainan pada struktur otak seperti atropi,
pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta
perubahan struktur limbik, diduga dapat menyebabkan skizofrenia.
c. Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor
internal maupun eksternal, meliputi:
1) Stressor Sosial Budaya
Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan,
terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah
dengan orang yang dicintai, kehilangan pasangan pada usia tua,
kesepian karena ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit atau dipenjara.
Semua ini dapat menimbulkan isolasi sosial.
2) Stressor Biokimia
- Teori dopamine: Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan
mesolimbik serta tractus saraf dapat merupakan indikasi
terjadinya skizofrenia.
- Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah
akan meningkatkan dopamin dalam otak. Karena salah satu
kegiatan MAO adalah sebagai enzim yang menurunkan
dopamin, maka menurunnya MAO juga dapat merupakan
indikasi terjadinya skizofrenia.
- Faktor endokrin: Jumlah FSH dan LH yang rendah
ditemukan pada pasien skizofrenia. Demikian pula prolaktin
mengalami penurunan karena dihambat oleh dopamin.
Hypertiroidisme, adanya peningkatan maupun penurunan
hormon adrenocortical seringkali dikaitkan dengan tingkah
laku psikotik.
- Viral hipotesis: Beberapa jenis virus dapat menyebabkan
gejala-gejala psikotik diantaranya adalah virus HIV yang
dapat merubah stuktur sel-sel otak.
3) Stressor Biologik dan Lingkungan Sosial
Beberapa peneliti membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering
terjadi akibat interaksi antara individu, lingkungan maupun
biologis.
4) Stressor Psikologis
Kecemasan yang tinggi akan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain.
Intesitas kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai
terbatasnya kemampuan individu untuk mengatasi masalah akan
menimbulkan berbagai masalah gangguan berhubungan pada tipe
psikotik.
Menurut teori psikoanalisa; perilaku skizofrenia disebabkan
karena ego tidak dapat menahan tekanan yang berasal dari id
maupun realitas yang berasal dari luar. Ego pada klien psikotik
mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi stress. Hal ini
berkaitan dengan adanya masalah serius antara hubungan ibu dan
anak pada fase simbiotik sehingga perkembangan psikologis
individu terhambat.
Menurut Purba, dkk. (2008) strategi koping digunakan pasien
sebagai usaha mengatasi kecemasan yang merupakan suatu
kesepian nyata yang mengancam dirinya. Strategi koping yang
sering digunakan pada masing-masing tingkah laku adalah
sebagai berikut:
- Tingkah laku curiga: proyeksi
- Dependency: reaksi formasi
- Menarik diri: regrasi, depresi, dan isolasi
- Curiga, waham, halusinasi: proyeksi, denial
- Manipulatif: regrasi, represi, isolasi
- Skizoprenia: displacement, projeksi, intrijeksi, kondensasi,
isolasi, represi dan regrasi.
d. Tanda dan Gejala
Menurut Purba, dkk. (2008) tanda dan gejala isolasi sosial yang dapat
ditemukan dengan wawancara, adalah:
- Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
- Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain
- Pasien mengatakan tidak ada hubungan yang berarti dengan orang
lain
- Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
- Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
- Pasien merasa tidak berguna
- Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
2. Terapi Aktivitas Kelompok
a. Definisi
Kelompok adalah kumpulan individu yang memilik hubungan satu
dengan yang lain,saling bergantung dan mempunyai norma yang
sama(struart & Laraia , 2001). Anggota kelompok mungkin dating dari
berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaanya,
seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif, kesamaan, ketidaksamaan,
kesukaan dan menarik (Yalom, 1995 dalam Struart & Laraia). Semua
kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok , ketika anggota
kelompok memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam
berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok.
b. Jenis Terapi Aktivitas Kelompok
Beberapa ahli membedakan kegiatan kelompok sebagai tindakan
keperawatan pada kelompok dan terapi kelompok. Stuart dan Laraia
(2001) menguraikan beberapa kelompok yang dapat dipimpin dan
digunakan perawat sebagai tindakan keperawatan bagi klien,
misalnya task group, supportive group, brief therapy groups, intensive
problem-solving groups, medication groups, activity therapy, dan peer
support groups. Wilson dan Kneisl (1992) menyampaikan beberapa
terapi kelompok seperti, analytic group psycho therapi, psychodrama,
self-help groups, remotivation, reedukasi dan client government
groups. Terapi aktivitas kelompok Rawlins, Williams, dan Beck (1993)
membagi kelompok menjadi tiga, yaitu terapi kelompok, kelompok
terapeutik, dan terapi aktivitas kelompok.
1)Terapi Kelompok
Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui
dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi
persyaratan tertentu. Fokus terapi kelompok adalah membuat sadar
diri (self-awereness), peningkatan hubungan interpersonal, membuat
perubahan atau ketiganya.
2)Kelompok Teraupetik
Kelompok terapeutik membantu mengatasi stres emosi, penyakit
fisik krisis, tumbuh-kembang, atau penyesuaian sosial, misalnya,
kelompok wanita hamil yang akan menjadi ibu, individu yang
kehilangan, dan penyakit terminal. Banyak kelompok terapeutik
yang dikembangkan menjadi self-help-group. Tujuan dari kelompok
ini adalah sebagai berikut :
a) Mencegah masalah kesehatan
b) Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok
c) Meningkatkan kualitas kelompok. Antara anggota kelompok
saling membantu dalam menyelesaikan masalah.
3)Terapi Aktivitas Kelompok
Kelompok dibagi sesuai kebutuhan yaitu, stimulasi persepsi,
stimulasi sensoris, orientasi realita, dan sosialisasi.

Tabel 1-2 Tujuan, tipe, dan aktivitas dari terapi aktivitas kelompok
(Sumber : Rawlins, Williams, dan Beck, 1993)

Tujuan Tipe Aktivitas


1.Mengembangkan Bibliotherapy Menggunakan artikel, buku, sajak,
stimulasi persepsi puisi, surat kabar untuk merangsang
atau menstimulasi berpikir dan
mengembangkan hubungan dengan
orang lain.
Stimulus dapat berbagai hal yang
tujuannya melatih persepsi.
2.Mengembangkan Musik, seni, menari Menyediakan kegiatan
stimulasi sensoris mengekspresikan perasaan
Relaksasi Belajar teknik relaksasi dengan cara
nafas dalam, relaksasi otot, imajinasi
3.Mengembangkan Kelompok orientasi Fokus pada orientasi waktu, tempat
orientasi realitas realitas, kelompok dan orang; benar dan salah; bantu
validasi memenuhi kebutuhan
4.Mengembangkan Kelompok Mengorientasikan diri dan regresi
sosialisasi remotivasi pada klien menarik realitas dalam
berinteraksi atau sosialisasi
Fokus pada mengingat

Kelompok
mengingatkan

Terapi aktivitas kelompok sering dipakai sebagai terapi


tambahan. Sejalan dengan hal tersebut, maka Lancester
mengemukakan beberapa aktivitas yang digunakan pada TAK,
yaitu menggambar, membaca puisi, mendengarkan musik,
mempersiapkan meja makan, dan kegiatan sehari-hari yang lain.
Wilson dan Kneisl (1992) menyatakan bahwa TAK adalah manual,
rekreasi dan teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman
seseorang serta meninkatkan respon sosial dan harga diri. Aktivitas
yang digunakan sebagai terapi di dalam kelompok, yaitu membaca
puisi, seni, musik, menari dan literatur.
Dari uraian tentang terapi aktivitas kelompok yang dikemukakan
oleh Wilson, Kneisl, dan Lancester ditemukan kesamaan dengan
terapi kelompok tambahan yang disampaikan oleh Rawlins,
Williams, dan Beck. Oleh karena itu, akan diuraikan kombinasi
keduanya menjadi terapi aktivitas kelompok.
Terapi aktivitas kelompok bibagi empat, yaitu terapi aktivitas
kelompok stimulasi kognitif / persepsi, terapi aktivitas kelompok
stimulasi sensori, terapi aktivitas stimulasi realita, dan terapi
aktivitas kelompok sosialisasi.
a) Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Kognitif / Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau
stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien
dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini,
diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam
kehidupan menjadi adaptif.
b) Aktivitas berupa stimulus dan persepsi.
Stimulus yang disediakan: baca artikel / majalah / buku / puisi,
menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan);
stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses
persepsi klien yang maladaptif atau distruktif, misalnya
kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada
orang lain, dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien
terhadap stimulus.
c) Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Sensori
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensoris klien.
Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus
yang disediakan, berupa ekspresi perasaan ssecara nonverbal
(ekspresi wajah, gerakan tubuh). Biasanya klien yang tidak mau
mengungkapkan komunikasi verbal akan terstimulasi emosi dan
perasaannya, serta menampilkan respons. Aktivitas yang
digunakan sebagai stimulus adalah: musik, seni, menyanyi,
menari. Jika hobi klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai
sebagai stimulus, misalnya lagu kesukaan klien, dapat
digunakan sebagai stimulus.
d) Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realitas
Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar klien,
yaitu diri sendiri, orang lain yang ada disekeliling klien atau
orang yang dekat dengan klien dan lingkungan yang pernah
mempunyai hubungan dengan klien. Demikian pula dengan
orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu, dan rencana kedepan.
Aktivitas dapat berupa: orientasi orang, waktu, tempat, benda
yang ada disekitar, dan semua kondisi nyata.
e) Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang
ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara
bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok, dan
massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam
kelompok.
3. Pengorganisasian
a. Pasien
1) Kriteria pasien dalam terapi aktivitas kelompok :
a) Klien yang tidak terlalu gelisah.
b) klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu
berlangsungnya Terapi Aktifitas Kelompok
c) Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu
berinteraksi dalam kelompok kecil
d) Klien tenang dan kooperatif
e) Kondisi fisik dalam keadaan baik
f) Mau mengikuti kegiatan terapi aktivitas
g) Klien yang dapat memegang alat tulis
h) Klien yang panca inderanya masih memungkinkan
2) Uraian Seleksi Kelompok :
a) Hari : Rabu
b) Tanggal : 26 April 2017
c) Tempat pertemuan : Ruang Sadewa
d) Waktu : 09.00 s/d selesai
e) Lamanya : 45 menit
f) Kegiatan : Terapi Aktivitas Kelompok Perilaku
kekerasan
g) Jumlah Anggota : 9 Orang
h) Jenis TAK : isolasi sosial
b. Leader
Bertugas :
1) Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan
jalan menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien
termotivasi untuk mengekspresikan perasaannya
2) Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah
atau mendominasi
3) Koordinator, Mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian
tujuan dengan cara memberi motivasi kepada anggota untuk
terlibat dalam kegiatan
c. Co-leader
Bertugas :
1) Mendampingi leader jika terjadi blocking
2) Mengkoreksi dan mengingatkan leader jika terjadi kesalahan
3) Bersama leader memecahkan penyelesaian masalah

d. Observer
Bertugas :
1) Mengobservasi persiapan dan pelaksanaan TAK dari awal sampai
akhir
2) Mencatat semua aktivitas dalam terapi aktivitas kelompok
3) Mengobservasi perilaku pasien
e. Fasilitator
Bertugas :
1) Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung.
2) Memotivasi klien yang kurang aktif.
3) Membantu leader memfasilitasi anggota untuk berperan aktif dan
memfasilitasi anggota kelompok
F. Pelaksanaan Terapi Aktivitas Kelompok
1. Mengenal aturan permainan
2. Mampu memperkenalkan diri
3. Mampu mencocokkan kartu yag sesuai
4. Mampu berdiskusi isi kartu
5. Mampu menyimpulkan isi kartu
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI

A. Pelaksanaan
Hari, tanggal : Jumat, 28 April 2017
Waktu : 15.15-16.00 WIB
Tempat : Wisma Sadewa RSJ Ghrasia
Jumlah pasien : 9 orang

B. Tim Terapi
1. Leader : Ad Dieni Ulya S
2. Co-Leader : Istianah Nur A
3. Observer : Samiasih Ayu D
4. Fasilitator : Rizki Arlintang dan Dedi Putra M

C. Tujuan
Tujuan Umum
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
Tujuan Khusus
4) Klien mampu memperkenalkan diri
5) Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
6) Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok
7) Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
8) Klien mampu menyampaikan perasaan tentang kegiatan yang telah
dilakukan.

D. Setting

E. Media
1. Kartu TAKS
2. Kursi
3. HP (music)

F. Instrumen
Lembar observasi

G. Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi

H. Langkah kegiatan
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah mengikuti TAK
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik pada klien
b. Menanyakan perasaan klien hari ini
c. Menanyakan apakah sudah mengenal satu sama lain dengan
teman satu bangsalnya.
d. Menanyakan apa saja kegiatan hari ini
3. Kontrak
1) Klien bersedia mengikuti TAK
2) Berpakaian rapi dan bersih
3) Klien yang ingin melakukan bak atau bab di persilahkan
4) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai selama 45
menit.
4. Tahap kerja
a. Klien duduk melingkar.
b. Terapis memberikan kartu TAKS sebanyak 4 kartu tiap klien.
c. Terapis menyalakan music dan klien mulai bergerak melingkar.
d. Saat music berhenti, klien yang duduk di bangku warna merah
memilih salah satu kartu dan di bacakan.
e. Klien yang lain mencocokan kartu yang telah dibacakan.
f. Kartu yang sama temanya di bacakan satu per satu
g. Klien yang tidak memiliki kartu dengan tema yang sama
menyimpulkan keseluruhan dari keempat kartu yang telah
dibacakan oleh klien yang memiliki kartu.
h. Kegiatan c-g dilakukan sampai kartu yang di pegang oleh klien
habis.
5. Tahap terminasi
a. Evaluasi : menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK ,
menanyakanulang cara baru yang sehat mencegah perilaku
kekerasan.
b. Tindak lanjut : menganjurkan klien untuk berinteraksi dengan teman
sebelahnya.
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada
tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai
dengan tujuan TAK.
Aspek kemampuan verbal

Klien
Aspek yang di nilai
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Mampu
memperkenalkan diri
dengan baik :
a. N
ama lengkap
b. N
ama panggilan
c. A
lamat
d. H
obi
Mampu berinteraksi
dengan klien yang lain
Mampu bekerja sama
dengan klien yang lain.

Aspek kemampuan non verbal

Aspek yang dinilai Klien

Kontak mata
Bahasa tubuh
Mengikuti kegiatan dari
awal sampai akhir

Nama klien :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
DAFTAR PUSTAKA

Herawaty, Netty. 1999. Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta : EGC.

Keliat BA dan Akemat. (2005). Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok.


Jakarta: EGC

Keliat BA, Panjaitan RA, Helena N, (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa
Edisi 2. Jakarta : EGC

Stuart, Gail Wiscart & Sandra J. Sundeen. 1995. Buku Saku Keperawatan
Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC