Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jumlah produksi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang tidak
sebanding dengan tingkat konsumsi masyarakatnya mengakibatkan beban impor
semakin meningkat. Terbukti pada tahun 2008-2012 konsumsi BBM sebanyak 65
juta kiloliter (KL) menjadi 71 juta KL. Sedangkan pada kurun waktu yang sama
jumlah produksi dari 40 juta KL menjadi 32 juta KL, sementara itu impor BBM
meningkat sebesar 56,9% per tahun (detik.com). Angka impor yang tinggi
mengakibatkan beban subsidi pemerintah semakin meningkat. Dalam rangka
menekan biaya subsidi BBM salah satu tindakan pemerintah yaitu dengan
mengurangi konsumsi minyak tanah. Hal ini dikarenakan sebanyak 70% konsumsi
minyak tanah bersubsidi tidak tepat sasaran (esdm.co.id).
Program Nasional Konversi Minyak Tanah ke Liquefied Petroleum Gas
(LPG) yang berlandaskan pada Surat Menteri ESDM No. 1971/26/MEM/2007
bertujuan untuk mengurangi konsumsi minyak tanah sekaligus mengurangi
subsidi BBM (Vikalista, 2012). Namun, pelaksanaan program ini mengakibatkan
terjadinya lonjakan konsumsi LPG. Pada tahun 2015 konsumsi LPG meningkat
11,3% dibandingkan kebutuhan tahun lalu. Sehingga sebanyak 60,2% dari total
kebutuhan LPG akan diimpor (CNN Indonesia, 2015). Berdasarkan BPPT, 2014
diproyeksikan bahwa pada tahun 2030 jumlah konsumsi LPG akan semakin
meningkat sedangkan jumlah produksi LPG akan terus menurun. Sehingga hal ini
menimbulkan permasalahan baru yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan energi
nasional. Dalam mengatasi permasalahan tersebut diperlukan sumber bahan bakar
alternatif untuk menopang kebutuhan LPG.
Dalam pemilihan bahan bakar alternatif hal yang harus dipertimbangkan
yaitu aspek ramah lingkungan, efisiensi energi tinggi, dapat diperbaharui
(renewable) dan dapat disubstitusi langsung tanpa modifikasi komponen mesin.
Salah satu bahan bakar alternatif yang mempenyai sifat tersebut adalah
dimetileter. Berdasarkan penelitian oleh Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT, 2013) dimetilether (DME) dapat digunakan sebagai pengganti

1
Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dimethyl Ether (DME) adalah senyawa ether
paling sederhana dengan rumus kimia C2H5OH yang dikenal sebagai pelarut
organik dan media ekstraksi berwujud aerosol tak berwarna. Pada suhu dan
tekanan atmosferik, DME berwujud gas tak berwarna dan sifatnya menyerupai
bahan baku LPG yaitu propana (C3H8). DME merupakan senyawa yang tidak
mengandung unsur sulfur (S) dan nitrogen (N) sehingga, tidak menghasilkan
emisi sulfur oksida (SOx) selama pembakaran. Selain bersifat tidak beracun DME
juga mudah untuk disimpan dan didistribusikan (NEDO, 2006). Perbandingan
karakteristik DME terhadap bahan bakar lain disajikan pada Tabel 1.1
Tabel 1.1 Perbandingan Karakteristik DME dengan Bahan Bakar Lain
Properties DME Methane LPG methanol Gas oil
(LNG) propana
Struktur molekul CH3OCH3 CH4 C3H6 CH3OH -
Titik didih (0C) -25,1 -161,5 -42 64,8 180,360
1 atm
Tekanan uap 6,1 - 9,3 - -
(atm, 25 0C)
Angka setan 55-60 5-15 2,1-9,4 5,5-38 40-55
Kapasitas panas 6,9 12 11,1 5,04 10,2
(kcal/kg)

Saat ini produksi dimetileter dalam negeri berkisar 1500 ton/tahun dimana
PT. Bumi Tangerang Gas Industri merupakan produsen tunggal di Indonesia.
Jumlah tersebut belum dapat mencukupi kebutuhan substitusi DME pada LPG
karena produk DME tersebut digunakan untuk bahan intermediet industrial. Oleh
karena itu dibutuhkan pembangunan pabrik baru untuk memenuhi kebutuhan
DME. Pembangunan pabrik DME di Indonesia sejalan dengan wacana pemerintah
untuk mensubstitusikan DME pada LPG, yang didukung dengan peningkatan
produksi bahan baku metanol PT. KMI sebesar 200.000 ton/tahun sehingga
kapasitas totalnya menjadi 860.000 ton/tahun. Berdasarkan data dan pemikiran
diatas maka pendirian pabrik dimetileter harus dilakukan guna mencukupi
kebutuhan LPG nasional serta sebagai bahan bakar yang berkelanjutan dan ramah
lingkungan.

2
1.2 Kapasitas Perancangan
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kapasitas
produksi pabrik dimetileter antara lain :

a. Proyeksi Kebutuhan Dimethyl ether sebagai Pengganti LPG di Indonesia


Diberlakukannya program konversi minyak tanah ke LPG
menyebabkan pemakaian LPG untuk keperluan rumah tangga meningkat
drastis, sehingga terjadi kelangkaan LPG di pasaran. Untuk memenuhi
kebutuhan nasional maka pemerintah terpaksa memasok persediaan LPG
dari luar. Hal ini menyebabkan beban keuangan negara untuk pengadaan
impor LPG meningkat. Oleh karena itu pemerintah bermaksud
menggunakan DME sebagai alternatif pengganti LPG, mengingat DME
mempunyai sifat yang hampir sama dengan LPG (Wibowo,et al.,2012).
Peraturan Menteri ESDM No.29 tahun 2013 pasal 4 ayat 1 dan 3
menyatakan bahwa DME sebagai bahan bakar dapat dimanfaatkan secara
langsung maupun sebagai campuran LPG. Hasil penelitian menyatakan
bahwa komposisi 20% DME dalam LPG dapat menurunkan emisi gas
buang SOx, Nox dan CO serta menghasilkan nyala api yang lebih baik
(wibowo,et al.,2012). Dengan demikian penentuan kapasitas produksi
DME harus memperhatikan proyeksi impor LPG di masa mendatang. Data
proyeksi impor LPG di Indonesia disajikan pada Gambar 1.2

Gambar 1.1. Proyeksi Produksi, konsumsi, ekspor dan impor LPG


(BPPT, 2014)

3
Berdasarkan proyeksi BPPT mengenai impor LPG (Gambar 1.2),
walaupun kapasitas dari kilang domestik diperkirakan meningkat
mencapai 4,48 juta ton/tahun namun impor LPG masih sangat diperlukan
dan besarnya mencapai 51%-52% dari total konsumsi LPG dalam kurun
waktu 2012-2035 (BPPT, 2014). Sebenarnya Indonesia kaya akan gas
alam dan banyak yang diekspor namun tetap terjadi impor LPG karena
komposisi gas alam lebih banyak mengandung C1 (metana) dan C2
(etana). Sedangkan LPG memiliki komposisi C3 (Propana) dan C4
(Butana). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun
produksi LPG dari dalam negeri ditingkatkan namun jumlah impor LPG
masih tinggi, sehingga dibutuhkan formulasi pencampuran DME pada
LPG untuk menekan jumlah impor.
DME dapat dipasok dari PT KMI yang menggunakan gas alam
sebagai bahan baku pembuatan metanol. Komposisi gas alam Indonesia
yang banyak mengandung C1 (metana) sangat memungkinkan untuk
menjamin kontinyuitas bahan baku metanol. Substitusi DME ke LPG
dapat dilakukan dengan beberapa persentase. Untuk menerapkan DME
guna keperluan rumah tangga, Pusat Teknologi Pengembangan
Sumberdaya Energi (PTPSE) BPPT mengkaji dan menguji coba
mencampur DME dan LPG dengan komposisi 20 : 80 persen. Setelah
diteliti dan diuji, komposisi 20% DME- 80% LPG dapat digunakan secara
langsung pada kompor LPG yang saat ini digunakan oleh masyarakat
tanpa membutuhkan modifikasi khusus. Jika DME yang disubstitusi pada
LPG sebanyak 20% maka proyeksi kebutuhan DME pada tahun 2035
sebesar 1,8 juta ton sedangkan proyeksi kebutuhan DME pada tahun 2021
sebanyak 1,34 juta ton. Berdasarkan proyeksi kebutuhan DME pada tahun
2021 maka kapasitas awal pabrik kami sebesar 150.000 ton/tahun.
Diperkirakan pabrik mulai beroperasi pada tahun 2021.

4
b. Ketersediaan bahan baku
Kontinyuitas bahan baku merupakan hal penting bagi
keberlangsungan operasi pabrik. Sehingga ketersediaan dan pengadaannya
harus diperhatikan. Bahan baku utama yang digunakan untuk
memproduksi DME adalah metanol. Metanol dapat diperoleh dari PT.
Kaltim Methanol Industri di Bontang yang berkapasitas 660.000 ton/tahun
dengan kemurnian mencapai 99,85% - 99,98%. Kapasitas produksi
tersebut memiliki rincian 70% (462.000 ton per tahun) untuk kebutuhan
luar negeri sedangkan sisanya 30% (198.000 ton per tahun) untuk
kebutuhan dalam negeri (PT. KMI). Kapasitas total PT. KMI sebagai
produsen dalam negeri masih mencukupi kebutuhan pabrik DME,
sehingga ketersediaan bahan baku tetap terjaga.
c. Kapasitas minimal
Pabrik yang didirikan harus memiliki kapasitas yang lebih besar
dari pabrik sebelumnya. Sampai saat ini kegiatan produksi DME di
Indonesia hanya dilakukan oleh PT. Bumi Tangerang Gas Industry dengan
kapasitas 1.500 ton/tahun. Sedangkan produk DME pabrik tersebut
didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan industri kosmetik dan
makanan. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pabrik DME baru dengan
kapasitas yang lebih besar guna mengurangi biaya impor LPG nasional.
Data produsen DME di dunia disajikan pada Tabel 1.2

5
Tabel 1.2.World DME Production Capacity
Kapasitas
Nama Pabrik Lokasi
(Metric Ton)
PT. Bumi Tangerang Indonesia 1.500
Shell/RWE (Germany) Jerman 60.000
Hamburg DME Co, Germany Jerman 10.000
Arkosue Co, Holland Belanda 10.000
DuPont, West Virginia US 15.000
Bengbu, Anhui 10.000
XinAo Group
Shanghai 200.000
Yigao Chemical Co Inner Mongolia 20.000
Shanghai Huayi Group Shanghai 5.000
Hubei Industrial Group Jingmen 100.000
Shanxi and Huayang Group Jincheng, Shanxi 140.000
Hubei Zhongjie Hubei 100.000
Machanping Fuquan,
Guizhou Tianfu Chemical 180.000
Guizhou Province
(Global Dimethyl Ether Emerging Markets, 2007)
1.3 Pemilihan Lokasi Pabrik
a. Bahan baku
Bahan baku merupakan kebutuhan pokok bagi keberlangsungan
suatu pabrik sehingga kontinuitasnya harus terjaga.Untuk menjaga
ketersediaan bahan baku hal yang perlu diperhatikan yaitu transportasi
bahan baku menuju pabrik. Jarak antara pabrik dengan sumber bahan
baku menentukan besarnya biaya transportasi pada unit pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian. Jika produk yang dihasilkan lebih berat
daripada bahan baku (weight gain) maka pabrik dibangun dekat dengan
pasar, namun sebaliknya jika produk yang dihasilkan lebih ringan dari
bahan bakunya (weight loss) maka pabrik dibangun dekat dengan sumber
bahan baku.
b. Tersedianya utilitas air dan bahan bakar
Utilitas adalah unit pendukung proses di dalam suatu pabrik yang
mempengaruhi berjalannya proses produksi. Faktor utama dalam

6
merancang unit utilitas adalah kemampuannya untuk mensupply proses
produksi dalam jumlah yang cukup, kualitas yang baik, memenuhi syarat
dan reabilitas yang tinggi serta murah. Utilitas air dimanfaatkan sebagai
fluida pendingin, proses produksi, steam pemanas, dan kebutuhan
lainnya. Sumber air diperoleh dari air laut, air danau dan sungai.
Ketersediaan bahan bakar dan energi untuk operasional pabrik, digunakan
sebagai pembangkit steam dan penyedia sumber listrik. Maka sebaiknya
dipilih lokasi yang dekat dengan sumber air dan bahan bakar, sehingga
biaya produksi lebih ekonomis.
c. Sarana Transportasi dan Infrastruktur
Sarana transportasi dan infrastruktur yang baik sangat dibutuhkan
untuk kelancaran kegiatan bisnis suatu pabrik. Sarana-sarana transportasi
tersebut misalnya jalan yang memadai, jembatan yang kokoh, pelabuhan,
dan sarana transportasi penunjang seperti dekat dengan bandara.
d. Lokasi pemasaran
Lokasi pemasaran perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi
pabrik. Hal ini berkaitan dengan keamanan dalam pendistribusian produk.
Jika produk weightloss maka pabrik didirikan mendekati bahan baku.
Sedangkan jika produk weight gain maka pabrik didirikan dekat dengan
pasar.
e. Sumber daya manusia
Hal yang perlu dipertimbangan pada pemilihan lokasi pabrik yaitu
berada dekat dengan lingkungan fasilitas pendidikan yang baik. Sarana
pendidikan dapat mendorong pembangunan tenaga kerja industri
bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja industri kompeten yang siap
kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan industri dan/atau perusahaan
kawasan industri, meningkatkan produktivitas tenaga kerja industri,
meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor industri serta
memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi tenaga kerja industri
(kemetrian perindustrian,2015).
f. Faktor geografis

7
Dalam usaha untuk menjamin kelancaran operasional pabrik maka
pemilihan lokasi hendaknya memperhatikan faktor geografisnya. Letak
geografis dapat mempengaruhi kemungkinan bencana alam seperti gempa
bumi, letusan gunung berapi, cuaca ekstrim dll.
g. Faktor sosial masyarakat dan hukum
Keadaan sosial masyarakat disekitar pabrik memegang peranan
penting dalam kelancaran pembangunan pabrik hingga beroperasinya
suatu pabrik. Kondisi masyarakat yang diharapkan yaitu aman dan jauh
dari konflik. Faktor hukum juga perlu diperhatikan mengingat keterkaitan
antara lokasi pabrik dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut.
Sebaiknya, pendirian pabrik dilakukan di kawasan industri untuk
mempermudah perijinannya.

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor diatas maka pabrik dimethyl ether


dibangun di daerah Bontang Kalimantan Timur dengan alasan sebagai berikut :

1. Lokasi yang dipilih berdekatan dengan PT. Kaltim Metanol Industri


Berdasarkan analisa produk DME yang memiliki berat lebih ringan
daripada bahan baku metanol (weightloss) maka pabrik dibangun dekat
dengan sumber bahan baku. Dalam hal ini bahan baku metanol diperoleh
dari PT. Kaltim Metanol Industri (Bontang) dengan kapasitas 660.000
ton/tahun. Proses transportasi bahan baku menuju pabrik melalui sistem
pemipaan inline yang dilengkapi dengan instalasi yang aman.
2. Kota Bontang berbatasan langsung dengan Selat Makassar, sehingga
penyediaan utilitas air tetap terjaga. Sedangkan untuk kebutuhan bahan
bakar batubara dipasok dari beberapa industri batubara di sekitar
Kalimantan Timur, diantaranya Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT
Indominco Mandiri.
3. Perkembangan kota Bontang yang pesat dikarenakan adanya industri
besar seperti pupuk kaltim, PT.Badak NGL, dan Kaltim Industrial Estate
(KIE) yang mendorong perkembangan sarana transportasi darat, laut dan
udara. Sebagai buktinya yaitu adanya pembangunan highway yang

8
menghubungkan kota Balikpapan-Samarinda-Bontang-Sangatta. Selain
itu telah tersedia melalui Bandara Udara Bontang dan Bandara Perintis
yang berada di kawasan industri PT. Badak NGL.
4. Daerah bontang merupakan kawasan industri kimia yang mengalami
perkembangan pesat, hal ini akan mempermudah pemasaran produk
dimetileter. Namun, sampai saat ini konsumen DME sebagian besar
masih di pulau Jawa, tetapi pemasaran DME dari Bontang ke Jawa
tidaklah sulit karena tersedia transportasi yang memadah.
5. Perkembangan perekonomian kota Bontang telah mendorong tingkat
pendidikan dikota tersebut. Sehingga, perusahaan lebih mudah
mendapatkan pekerja yang kompeten dari kota bontang dan sekitarnya.
Selain itu, proyeksi kebutuhan DME dimasa mendatang yang semakin
tinggi yang berarti keberadaan pabrik DME masih diperlukan dapat
memungkinkan adanya tenaga kerja dari luar pulau Kalimantan.
6. Letak geografis pulau kalimantan yang jauh dari pertemuan lempeng
Eaurasia dan Indo-Australia menyebabkan jauh dari potensi gempa dan
letusan gunung berapi. Iklim yang tropis dengan intensitas hujan rendah
akan mendukung kegiatan operasional pabrik. Selain itu, pesisir kota
Bontang dikelilingi banyak pulau kecil yang dapat mengurangi ombak
dan potensi terjadinya tsunami.
7. Kota Bontang merupakan kota yang dibangun sebagai kawasan industri
sehingga perijinan pendirian pabrik kepada pemerintah daerah akan lebih
mudah. Berada di kawasan industri menjadi peluang untuk melakukan
pengolahan limbah secara bersama dan terintegrasi. Keberadaan
beberapa perusahaan besar di kota Bontang menyebabkan tingkat
perekonomian masyarakatnya meningkat sehingga berbagai fasilitas
modern lengkap tersedia, mulai dari fasilitas perumahan bagi karyawan,
tempat olahraga, rekreasi, taman bermain, rumah sakit hingga hotel
berbintang. Tersedianya berbagai infrastruktur yang memadahi serta
perkembangan ekonomi yang pesat menyebabkan tumbuhnya kondisi

9
masyarakat yang kondusif dengan kepadatan penduduk yang relatif
rendah yaitu 288/km2.

I.4. Tinjauan Proses

Secara umum sinthesis senyawa esther dilakukan dengan cara dehidrasi


senyawa alkohol. Dimethyl Ether umumnya diproduksi dengan proses dehidrasi
methanol dengan bantuan katalis. Ada beberapa macam proses sintesis dimethil
ether di industri dengan katalis yang berbeda, yaitu dehidrasi methanol dengan
katalis asam sulfat, katalis alumina, katalis zeolite, dan katalis HZSM-5.

a. Dehidrasi Methanol dengan Katalis Asam Sulfat


Dalam proses dehidrasi methanol, katalis asam atau katalis dengan sisi
aktif yang bersifat asam sangat potensial untuk pembentukan Dimethil ether
(Wang, 2002). Salah satu katalis asam yang umum digunakan adalah asam
sulfat. Reaksi dehidrasi dengan katalis Asam Sulfat ini menghasilkan produk
yang terdiri dari Dimethyl Ether, air dan Methanol sebagai reaktan yang
belum bereaksi. Methanol terlebih dahulu diuapkan kemudian dialirkan ke
reaktor yang berisi katalis H2SO4 pada suhu 125-140oC dan tekanan 1 atm
(Zhang & Guo.,2008). Pada tahap selanjutnya, produk yang terbentuk
dialirkan menuju scrubber dan dimurnikan dengan proses distilasi.
Reaksi :
CH3OH + H2SO4 CH3H2SO4 + H2O
CH3H2SO4 + CH3OH CH3OCH3 + H2SO4
Konversi: 45%
Keuntungan :
Suhu dan tekanan operasi reaktor paling rendah diantara proses
dehidrasi lain
Kerugian :
Menggunakan katalis asam sulfat (H2SO4) yang bersifat korosif
sehingga diperlukan peralatan dengan bahan konstruksi yang tahan
terhadap korosi

10
Peralatan yang dibutuhkan lebih banyak dibanding dengan proses
dehidrasi lain
Menghasilkan konversi paling rendah dibanding proses serupa namun
dengan katalis yang berbeda
b. Dehidrasi Methanol dengan Katalis Alumina (Proses Senderens)
Pada reaksi dehidrasi methanol, air merupakan komponen yang dapat
menghambat proses reaksi methanol menjadi DME dengan cara menutupi sisi
aktif katalis sehingga diperlukan katalis yang tahan terhadap air (Jun et al.,
2002). Proses Senderens merupakan peristiwa kontak langsung (direct
contact) yang terjadi antara metanol dengan katalis alumina (mengandung
10,2% silika) menghasilkan Dimethyl Ether (DME), air, serta methanol yang
belum bereaksi. Kontak langsung terjadi di dalam reaktor antara methanol
dan katalis Al2O3 (padat) pada temperatur 250-400oC dalam fase gas. Hasil
reaksi yang terbentuk dimurnikan dengan proses distilasi guna memisahkan
antara DME dengan produk samping (H2O dan methanol yang belum
bereaksi).
Reaksi :
2CH3OH(g) CH3OCH3(g) + H2O(g)
Konversi: 80%
Keuntungan :
Prosesnya sederhana sehingga peralatan yang digunakan sedikit
Peralatan yang sedikit menyebabkan biaya investasi rendah
Konversi lebih tinggi dibanding proses dehidrasi katalis Asam Sulfat
Kerugian :
Suhu dan tekanan operasi reaktor tinggi
c. Dehidrasi Methanol dengan Katalis Zeolit
Molecular sieves merupakan salah satu katalis yang cukup potensial
dalam mengkonversi methanol menjadi DME. Dengan molecular sieves
sebagai katalis, maka reaksi dapat berlangsung pada tingkat keasaman yang
berbeda, mempunyai active site yang tinggi, sintesis dan karakterisasi bahan
yang sudah diteliti dengan baik, dan ketersediaan secara komersial (wang,et

11
al., 2002). Salah satu molecular sieves yang sering digunakan sebagai
katalis pada dehidrasi methanol adalah zeolite.
Secara teoritis, proses ini berlangsung melalui peristiwa kontak
langsung (direct contact) di dalam reaktor antara uap CH3OH dengan katalis
zeolit padat pada range temperatur 250-400oC. Hasil reaksi berupa Dimethyl
Ether sebagai produk utama, air sebagai produk samping dan Methanol
sebagai reaktan yang belum bereaksi. Dalam rangka menghasilkan Dimethyl
Ether (DME) dengan kemurnian tinggi, hasil reaksi perlu didistilasi untuk
memisahkan DME dari komponen lain (H2O dan sisa Methanol yang ikut
bersama produk utama).
Reaksi :
2CH3OH(g) CH3OCH3(g) + H2O(g)
Konversi: 80%
Kuntungan :
Prosesnya sederhana sehingga peralatan yang diperlukan sedikit
Biaya investasi untuk peralatan yang diperlukan sedikit
Konversi tinggi
Proses purifikasi sederhana
Kerugian :
Suhu dan tekanan operasi reaktor tinggi
d. Dehidrasi Methanol dengan Katalis HZSM-5
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, katalis H-ZSM-5
merupakan katalis yang sangat baik untuk reaksi dehidrasi methanol
menjadi DME karena mempunyai selektifitas methanol yang tinggi (Fu,et
al.,2005). Proses produksi Dimethyl Ether melalui dehidrasi Methanol
berlangsung sesuai reaksi seperti berikut :
2CH3OH(g) CH3OCH3(g) + H2O(g)
Reaksi ini bersifat eksotermis dan berlangsung dalam fase uap pada range
suhu 240 270oC dan tekanan 16 atm.
Konversi : 88,7%
Keuntungan :

12
Suhu operasi reaktor relatif rendah dibandingkan dengan menggunakan
katalis zeolit dan -alumina
Menghasilkan konversi paling tinggi diantara katalis lain
Kerugian : Tekanan operasi reaktor tinggi

Perbandingan proses dehidrasi methanol menjadi Dimethyl ether dengan


berbagai katalis dapat disajikan pada Tabel 1.3 berikut ini.
Tabel 1.3 Perbandingan Proses Dehidrasi Methanol dengan berbagai Katalis
Variabel Katalis Asam Sulfat Katalis Alumina Katalis Zeolit Katalis HZSM
(Proses Senderens)
0
Suhu operasi 120 - 240 C 250 400 0C 250 400 0C 240 270 0C
Tekanan 1 atm 16 atm

Konversi 45% 80% 88,7%

Kelebihan Suhu dan tekanan Proses sederhana Prosesnya sederhana Suhu operasi
reaktor paling rendah sehingga alat yang Alat yang dibutuhkan relatif rendah
dibandingkan dengan digunakan sedikit sedikit Konversi
proses katalis lain Investasi rendah Biaya investasi tinggi
rendah
Konversi tinggi
Kekurangan Butuh alat dengan Suhu dan tekanan Suhu dan tekanan Tekanan
bahan konstruksi operasi reaktor operasi reaktor operasi
yang tahan tinggi tinggi reaktor tinggi
terhadap korosi
karena asam sulfat
bersifat korosif
Peralatan yang
dibutuhkan lebih
banyak
Konversi rendah

13