Anda di halaman 1dari 2

2.

6 Pengaruh Mulsa Terhadap Pertumbuhan tanaman

Penggunaan mulsa, baik mulsa organik maupun anorganik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Penggunaan mulsa bertujuan untuk mencegah kehilangan air dari tanah sehingga kehilangan air dapat dikurangi
dengan memelihara temperatur dan kelembaban tanah. Aplikasi mulsa merupakan salah satu upaya menekan
pertumbuhan gulma, memodifikasi keseimbangan air, suhu dan kelembaban tanah serta menciptakan kondisi yang
sesuai bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Mulyatri, 2003).

Suhu tanah maksimum di bawah mulsa jerami pada kedalaman 5 cm 10C lebih rendah dari pada tanpa mulsa,
sedangkan suhu minimum 1.9C lebih tinggi (Hamdani dan Simarmata, 2005). Efek aplikasi mulsa ditentukan oleh
jenis bahan mulsa. Bahan yang dapat digunakan sebagai mulsa di antaranya sisa-sisa tanaman (serasah dan
jerami) atau bahan plastik. Doring et al. (2006) menyatakan bahwa mulsa jerami mempunyai daya pantul lebih tinggi
dibandingkan dengan mulsa plastik. Menurut Mahmood et al. (2002) mulsa jerami atau mulsa yang berasal dari sisa
tanaman lainnya mempunyai konduktivitas panas rendah sehingga panas yang sampai ke permukaan tanah akan
lebih sedikit dibandingkan dengan tanpa mulsa atau mulsa dengan konduktivitas panas yang tinggi seperti plastik.
Jadi jenis mulsa yang berbeda memberikan pengaruh berbeda pula pada pengaturan suhu, kelembaban, kandungan
air tanah, penekanan gulma dan organisme pengganggu.

Tanaman yang tidak menggunakan MPHP pertumbuhannya sangat kurang optimal dan banyak gulmanya yang
dapat mengakibatkan persaingan dan pengambilan unsur hara serta rentan terhadap hama penyakit tanaman. (Leni,
2012). Menurut Suradinata (2006), penggunaan mulsa memberikan hasil yang lebih baik dibanding tanpa mulsa.
Keadaan ini dimungkinkan karena dengan penggunaan mulsa menyebabkan penurunan suhu tanah pada siang hari.
Pemberian mulsa pada percobaan ini dapat menurunkan suhu tanah rata-rata 3 sampai 6 C pada siang hari.
Menurut Mahmood et al. (2002) penurunan suhu tanah oleh mulsa disebabkan karena penggunaan mulsa dapat
mengurangi radiasi yang diterima dan diserap oleh tanah sehingga dapat menurunkan suhu tanah pada siang hari.
Menurut Timlin et al. (2006) suhu tanah yang rendah dapat mengurangi laju respirasi akar sehingga asimilat yang
dapat disumbangkan untuk penimbunan cadangan bahan makanan menjadi lebih banyak dibanding pada perlakuan
tanpa mulsa.

3.3.2.4 Pemupukan

Pemberian pupuk pada tanaman mentimun dilakukan dengan cara penugalan (membuat lubang di tanah
untuk lubang pupuk). Pupuk dibenamkan ke dalam lubang di samping batang sejauh kurang lebih 5 cm dan ditutup
dengan tanah. Ada 2 perlakuan yang berbeda, yaitu pada tanaman timun yang menggunakan mulsa dan nonmulsa.
Pada tanaman timun non mulsa penugalan dapat dilakukan secara langsung, sedangkan pada tanaman mentimun
yang menggunakan mulsa penugalan dilakukan dengan cara memasukkan tangan ke lubang mulsa, lalu membuat
lubang disamping tanaman sekitar 5 cm, lalu memasukkan pupuk ke dalam lubang, dan menutup kembali dengan
tanah. Adapun pemberian pupuk pada awal tanam yaitu menggunakan pupuk urea, KCL, dan SP-36. Selanjutnya
pada 7 hst (Hari setelah tanam), 14 hst, 21 hst, 28 hst dan 35 hst menggunakan pupuk Urea dan KCL.
Mulyatri. 2003. Peranan pengolahan tanah dan bahan
organik terhadap konservasi tanah dan air.
Pros. Sem. Nas. Hasil-hasil Penelitian dan
Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi

dalam

Diakh Wisudawati 1), Muhammad Anshar 2), Iskandar Lapanjang 2). 2016. PENGARUH JENIS
MULSA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
BAWANG MERAH (Allium ascalonicum Var. Lembah Palu) YANG
DIBERI SUNGKUp. e-J. Agrotekbis 4 (2) :126-133 , April 2016

Leni. 2012. Pengaruh Pemberian Mulsa Plastik Hitam Perak Dalam Produksi
Tanaman Cabai (Capsicum sp). Seminar Program Studi Hortikultura Semester V, Politeknik
Negeri Lampung. 4 November 2012)

Mahmood, M., K. Farroq, A. Hussain, and R. Sher.


2002. Effect of Mulching on Growth and Yield
of Potato Crop. Asian Jurnal. Of Plant Sci. I
(2); 122-133.
Dalam
Diakh Wisudawati 1), Muhammad Anshar 2), Iskandar Lapanjang 2). 2016. PENGARUH JENIS
MULSA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
BAWANG MERAH (Allium ascalonicum Var. Lembah Palu) YANG
DIBERI SUNGKUp. e-J. Agrotekbis 4 (2) :126-133 , April 2016

Suradinata, Y.R., 2006. Respon Tanaman Kentang


(Solanum tuberosum L) c.v. Granola terhadap
Pemberian Pupuk Bokashi, Kalium dan Mulsa
di Dataran medium. Agrikultura 17 (2):96-101.

Dalam
Diakh Wisudawati 1), Muhammad Anshar 2), Iskandar Lapanjang 2). 2016. PENGARUH JENIS
MULSA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
BAWANG MERAH (Allium ascalonicum Var. Lembah Palu) YANG
DIBERI SUNGKUp. e-J. Agrotekbis 4 (2) :126-133 , April 2016
Timlin, D., S.M.L. Rahman, J. Baker, V.R Reddy, D.
Feisher, B. Quebedeaux. 2006. Whole plant
photosynthesis, development, and carbon
partitioning in potato as a function of temperature.
Agron. J. 98(5):1195-1203.

Dalam
Jajang Sauman Hamdani*. 2009.Pengaruh Jenis Mulsa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Kultivar
Kentang (Solanum tuberosum L.) yang Ditanam di Dataran Medium. J. Agron. Indonesia 37 (1) : 14
20 (2009)