Anda di halaman 1dari 31

Laporan Kasus

BRONKOPNEUMONIA

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSMH Palembang

Laporan Kasus BRONKOPNEUMONIA Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSMH

Oleh:

Dyaz Desimorianiga

04084821517093

Pembimbing:

dr. H. Suwandi Safitra, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA RSUP Dr.MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

2017

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Topik

BRONKOPNEUMONIA

Oleh Dyaz Desimorianiga

04084821517093

Pembimbing dr. H. Suwandi Safitra, Sp.A

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Univesitas Sriwijaya / Rumah Sakit Umum Daerah Rabain periode 6 Maret – 15 Mei 2017.

Muara Enim, Maret 2017 Pembimbing,

dr. H. Suwandi Safitra, Sp.A

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada Allah swt, karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan topik “Bronkopneumonia”. Di kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. H. Suwandi Safitra, Sp.A selaku pembimbing yang telah membantu dalam penyelesaian laporan kasus ini. Laporan kasus ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNSRI-RSUD Rabain Muara Enim. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini, sehingga laporan kasus ini dapat diselesaikan oleh penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Demikianlah penulisan laporan ini, semoga bermanfaat, amin.

Muara Enim, April 2017

Penulis

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTIFIKASI

  • a. : Michael

Nama

  • b. : 1 tahun 11 bulan (05 Mei 2015)

Umur

  • c. : Laki-laki

Jenis Kelamin

  • d. : M. Izwan

Nama Ayah

  • e. : Susi Lawati

Nama Ibu

  • f. : Indonesia

Bangsa

Alamat

  • g. : Dsn. 1 Desa Betong

  • h. : IGD

Dikirim Oleh

  • i. : 13-04-2017

MRS Tanggal

II. ANAMNESIS Tanggal Diberikan Oleh

: 13-04-2017 : Ibu pasien

A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

  • 1. Keluhan Utama

: Sesak napas

  • 2. Keluhan Tambahan : Demam

  • 3. Riwayat Perjalanan Penyakit:

±3 hari SMRS, pasien mengalami demam tidak terlalu tinggi, terus menerus. Pasien juga mengalami batuk (+) berdahak, batuk terus-menerus tidak dipengaruhi waktu ataupun cuaca, batuk panjang tidak diakhiri suara whoop, pilek(+), sesak(-), nyeri tenggorokan(-), mual(-), muntah(-). Passien belum berobat. ±1 hari SMRS, batuk semakin berat, sesak(+), sesak baru pertamakali dialami, sesak tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca dan posisi, nyeri tenggorokan(-). Demam(+), pilek(+), mual(-), muntah(-), penurunan berat badan (-), BAB dan BAK tidak ada kelainan, anak menjadi rewel dan nafsu makan menurun. Pasien di bawa ke UGD RS Rabain. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat keluhan sesak sebelumnya tidak ada Riwayat Dalam Keluarga

Riwayat dalam keluarga yang mengalami keluhan yang sama ada.

Riwayat kontak positif dengan pasien TB dewasa tidak ada

Riwayat penyakit pertusis dalam keluarga disangkal

Riwayat Sosio Ekonomi Ayah bekerja sebagai seorang petani, ibu sebagai ibu rumah tangga. Menanggung 2 orang anak. Penghasilan orang tua berkisaran Rp. 2.500.000 / bulan. Biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS kesehatan.

Kesan : Ekonomi menengah bawah

RIWAYAT SEBELUM MASUK RUMAH SAKIT

  • 1. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran Lahir dari ibu G 2 P 1 A 0 Masa Kehamilan: Cukup Bulan

 

Partus

:Normal

Tempat

:Klinik

Ditolong oleh

:Bidan

Tanggal

:05 Mei 2015

BB

:2.800 gram

PB

:Ibu pasien lupa

Lingkar kepala

:Ibu pasien lupa

  • 2. Riwayat Makanan:

ASI

: 0-1,5 tahun

 

Susu botol

: usia 6 bulan sampai sekarang

Bubur susu

 

: 3-7 bulan

Nasi tim/lembek

: 8 bulan - sekarang

Nasi biasa

: Tidak pernah

Daging

: 5x seminggu

Tempe

: 4-5x/minggu @ 2 potong

Tahu

: 4-5x/minggu @ 1 potong

3. Riwayat Imunisasi

 

IMUNISASI DASAR

 
IMUNISASI DASAR ULANGAN

ULANGAN

 

Umur

Umur

 

Umur

Umur

 

BCG

1 bln

-

DPT 1

2 bln

DPT 2

4 bln

DPT 3

6 bln

18 bln

HEPATITIS

0 hari

HEPATITIS

1 bln

HEPATITIS B

6 bln

-

B 1

B 2

3

Hib 1

2 bln

Hib 2

4 bln

Hib 3

6 bln

15 bln

POLIO 1

0 hari

POLIO 2

2 bln

POLIO 3

4 bln

18 bln

CAMPAK

9 bln

POLIO 4

6 bln

KESAN : Imunisasi lengkap

 
  • 4. Riwayat Keluarga

 
 

Perkawinan

: 1 kali

 

Umur

: Ayah

: 31 tahun

 

Ibu

: 29 Tahun

 

Pendidikan

: Ayah : Tamatan SMA

 
 

Ibu

: Tamatan SMA

 

Penyakit yang pernah diderita

: Ayah : - Ibu

:

-

  • 5. Riwayat Perkembangan Gigi Pertama

:7 bulan

Berdiri

: 9 bulan

 

Berbalik

: 3 bulan

Berjalan

: 11

Tengkurap

: 3 bulan

Berbicara

: 10

Merangkak

: 7 bulan

Kesan

:Normal

Duduk

: 5 bulan

I. PEMERIKSAAN FISIK ( Objektif / O)

 
  • A. PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Keadaan Umum Kesadaran

:Tampak lemah :E 4 M 6 V 5

BB

:12 Kg

PB

:87 Cm

Status gizi BB/U TB (PB)/U BB/TB (PB) Lingkar kepala

: 0 D : 0 SD : 0 SD (gizi baik) :47 cm (Normocepali)

Edema (-), sianosis (+), dispnue (+), anemia (-), ikterus (-), dismorfik (-).

Suhu

:38,8 O C

Respirasi

:60 x/menit,

Tekanan Darah:80/50 mmHg

 

Nadi

: 140x/ menit, Isi/kualitas: cukup, Regularitas: reguler

Kulit

: Normal

  • B. PEMERIKSAAN KHUSUS

KEPALA :

Mata

: Konjungtiva anemis(-), skleraikterik (-), refleks cahaya (+/

Hidung

+), pupil bulat, isokor, 3mm. : Deviasi septum (-), Nafas upung hidung (+).

Mulut

: kelainan kongenital (-), bibir sianosis (+)

Lidah

: papilatropi (-), glositis (-)

Faring

: hiperemis (-)

Tonsil

: T1/T1 tenang, hiperemis (-)

LEHER

Inspeksi

: Simetris

Palpasi

: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

AXILLA Tidak teraba massa

THORAX

Inspeksi

:Simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis, scar (-),

Palpasi

massa (-). :Fraktur (-), krepitasi (-), nyeri tekan (-)

PARU

Inspeksi

: Retraksi (+)

Palpasi

: nyeri tekan (-), krepitasi (-), stemfremitus sulit nilai.

Perkusi

: sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: vesikuler meningkat, ronkhi (+) basah halus nyaring,

wheezing (-)

JANTUNG

Inspeksi

: ictuscordis tidak terlihat

Palpasi

: ictuscordis tidak teraba, thrill (-)

Perkusi

: batas jantung dalam batas normal

Auskultasi

: HR 140×/mnt, bunyi jantung I-II (+) normal, murmur (-),

ABDOMEN

gallop (-)

Inspeksi

: cembung, scar (-), massa (-), luka (-), pelebaran pembuluh

Palpasi

darah (-) : nyeri tekan (-), lemas, massa (-)

Perkusi

: timpani (+)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

HEPAR Tidak teraba pembesaran

LIEN Tidak teraba pembesaran

GINJAL Nyeri tekan (-), ballotement (-), nyeri ketok (-)

EKSTREMITAS Inspeksi Bentuk Deformitas Edema Trofi Pergerakan Tremor Chorea Akral Palpasi Nyeri tekan

: normal : tidak ada : tidak ada : tidak ada : spastik : tidak ada : tidak ada akral hangat, CRT <3”

:

: tidak ada

Fraktur/krepitasi: tidak ada

Edema

: tidak ada

INGUINAL Hernia (-), lesi (-) Kelenjar getah bening

: Tidak ada pembesaran

GENITALIA

Laki-laki

Phimosis

: tidak ada

Testis

: dalam batas

normal

Scrotum

: dalam batas

normal

Pemeriksaan Neurologis

Fungsi motorik

 

Lengan

Lengan

   

Fungsi motorik

Kanan

Kiri

Kaki kanan

Kaki kiri

Gerakan

Aktif

Aktif

Aktif

Aktif

Kekuatan

5

5

5

5

Tonus

Eutoni

Eutoni

Eutoni

Eutoni

Klonus

-

-

-

-

Refleks fisiologis

Tidak ada kelainan

 

Refleks patologis

Tidak ada kelainan

 

Gejala rangsang

 

menigeal

Tidak ada kelainan

 

Fungsi motorik

Dalam batas normal

 

Nervi craniales

Dalam batas normal

 
  • C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium tanggal 12 Maret 2017

Jenis Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

Hemoglobin(Hb)

Widal Test

Hasil

13,8 gr/dl

14-18 gr/dl

       

Eritrosit (RBC)

H

1/160

5,26.10 /mm 3

6

 

4,5 – 6,0. 10 6 /mm 3

Leukosit (WBC)

AH

1/80

18,21.10 /mm 3 +

3

 

5

– 10. 10 3 /mm 3

Hematokrit

(Ht)

O

40,9%

1/160

 

40-52%

Trombosit (PLT)

AO

293.10

1/80

3 /µL

 

150 – 450.10 3 /µL

Hitung Jenis

BH

CH

0,1%

1/80

1/80

   

Basofil

0

– 1

Eosinofil

BO

0,1%

1/160

Netrofil

CO

57,5%

1/80

1

– 3

   

Limfosit

31,3%

 

50

– 70

Monosit

11%*

 
 

20

– 40

2

– 8

RESUME

V.

±3 hari SMRS, pasien mengalami demam tidak terlalu tinggi, terus menerus. Pasien juga mengalami batuk (+) berdahak, batuk terus-menerus tidak dipengaruhi waktu ataupun cuaca , batuk panjang tidak diakhiri suara whoop, pilek(+), sesak(-), nyeri tenggorokan(-), mual(-), muntah(-).

±1 hari SMRS, batuk semakin berat, sesak(+), sesak baru pertamakali dialami, sesak tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca dan posisi, nyeri tenggorokan (-). Demam(+), pilek(+), mual(-), muntah(-), BAB dan BAK tidak ada kelainan, anak menjadi rewel dan nafsu makan menurun. Riwayat menderita penyakit yang sama sebelumnya disangkal. Pasien baru pertama kali MRS, sebelumnya tidak pernah sakit seperti ini. Dari riwayat penyakit keluarga tidak ada yang menderita penyakit asma, bronkopneumonia ataupun TB. Pada pemeriksaan fisik didapatkan Nadi 120 x/ menit, RR 45 x/ menit, T 38,8˚C, terdapat nafas cuping hidung (+), bibir sianosis (+), Retraksi dinding dada (+), vesikuler meningkat , ronkhi basah halus nyaring (+).

VI. DAFTAR MASALAH

  • 1. Sesak nafas

  • 2. Demam

  • 3. Batuk

  • 4. Pilek

VII. DIAGNOSIS BANDING

Bronkopneumonia Bronkhiolitis Akut Tuberkulosis Asma Bronchiale Pertusis

VIII. DIAGNOSIS KERJA Bronkopneumonia

IX. TATALAKSANA (Planning / P)

  • a. PEMERIKSAAN ANJURAN Rontgen Thorax Tes PCR untuk B. pertusis

  • b. TERAPI ( SUPORTIF–SIMPTOMATIS-CAUSATIF)

FARMAKOLOGIS Kausal Inj. Ampisilin 4x 300mg Dexametasone 3 x ½ cth Paracetamol syrp 3 x 1cth Ambroxol 3 x ½ cth

Suportif IVFD KAEn 3B gtt 10x / makro

O 2 nasal 2 liter / menit

Nebulizer Ventoline tiap 12 jam

  • c. MONITORING Pantau vital sign (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu badan)

setiap 6 jam Keseimbangan cairan dan elektrolit

  • d. EDUKASI

    • 1. Menjelaskan tentang gejala dan penyebab penyakit

    • 2. Menjelaskan mengenai pemberian antibiotik, dosis dan efek samping

    • 3. Menjelaskan prognosis dan komplikasi penyakit

    • 4. Bila anak bertambah sesak (RR > 50x/menit) maka sementara anak dipuasakan telebih dahulu dan dipasang NGT.

    • 5. Bila anak demam, beri makan yang cukup, dan beri obat penurun panas

    • 6. Menjauhkan anak dari polusi udara dan asap rokok

X. PROGNOSIS

  • a. Quaadvitam

:dubia ad bonam

  • b. Quaadfunctionam

:dubia ad bonam

  • c. Quaadsanationam

:dubia ad bonam

FOLLOW UP (Subjektif/Objektif/Assestment/Planning)

Tanggal

Subjektif, Objektif, &Assesment

Penatalaksanaan

13

April

S :Sesak nafas (+), demam (+),

IVFD KAEN 3B gtt 10x /

2017

Batuk(+), pilek (+)

makro

O :Sens : CM, N: 120x/menit, RR:

O 2 nasal 2 liter / menit

45x/menit, T: 38,8 o C

A : Bronkopneumonia

Inj. Ampisilin 4x 300mg

KS : kepala : Konjungtiva palpebra

Dexametasone 3 x ½ cth

anemis (-), Sklera Ikterik (-), Refleks

Paracetamol syrp 3 x 1cth

cahaya(+), Nafas cuping hidung (+), bibir sianosis (+).

Ambroxol 3 x ½ cth

Leher : pembesaran KGB tidak ada Thorax: simetris, retraksi dinding

Nebulizer Ventoline tiap 12 jam

dada(+) Cor : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-) Pulmo : vesikuler meningkat, ronkhi (+)basah halus nyaring, wheezing (-) Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba. Inguinal : normal, nyeri tekan (-). Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas: akral hangat, pucat(-) edema tungkai (-),CRT <3”,

 

14

Maret

S :Sesak nafas (-), demam (+),

IVFD KAEN 3B gtt 10x /

2017

Batuk(+), pilek (+)

makro

O :Sens : CM, N: 115x/menit, RR:

Inj. Ampisilin 4x 300mg

34x/menit, T: 37,8 o C

A : Bronkopneumonia

Dexametasone 3 x ½ cth

KS : kepala : Konjungtiva palpebra

Paracetamol syrp 3 x 1cth

anemis (-), Sklera Ikterik (-), Refleks cahaya(-), Nafas cuping hidung (-),

Ambroxol 3 x ½ cth

bibir sianosis (-). Leher : pembesaran KGB tidak ada

Nebulizer Ventoline tiap 12 jam

Thorax: simetris, retraksi dinding dada(-) Cor : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-) Pulmo : vesikuler meningkat, ronkhi (+)basah halus nyaring, wheezing (-) Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba. Inguinal : normal, nyeri tekan (-). Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas: akral hangat, pucat(-) edema tungkai (-),CRT <3”,

 

15

Maret

S :Sesak nafas (-), demam (-),

IVFD KAEN 3B gtt 10x /

 

Batuk(+), pilek (+)

makro

2017

O :Sens : CM, N: 120x/menit, RR:

Inj. Ampisilin 4x 300mg(IV)

34x/menit, T: 36,8 o C

Paracetamol syrp 3 x 1cth

KS : kepala : Konjungtiva palpebra

anemis (-), Sklera Ikterik (-), Refleks cahaya(-), Nafas cuping hidung (-), bibir sianosis (-). Leher : pembesaran KGB tidak ada Thorax: simetris, retraksi dinding dada(-) Cor : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-) Pulmo : vesikuler meningkat, ronkhi (+)basah halus nyaring, wheezing (-) Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba. Inguinal : normal, nyeri tekan (-). Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas: akral hangat, pucat(-) edema tungkai (-),CRT <3”, A : Bronkopneumonia

Ambroxol 3 x ½ cth Nebulizer Ventoline tiap 12 jam

16

April

S :Sesak nafas (-), demam (-),

IVFD KAEN 3B gtt 10x /

2017

Batuk(+), pilek (+)

makro

O :Sens : CM, N: 118x/menit, RR:

Inj. Ampisilin 4x 300mg

35x/menit, T: 36,8 o C

Inj. Klorafenikol 4x300mg

KS : kepala : Konjungtiva palpebra

Dexametasone 3 x ½ cth

anemis (-), Sklera Ikterik (-), Refleks

Paracetamol syrp 3 x 1cth

cahaya(-), Nafas cuping hidung (-),

bibir sianosis (-). Leher : pembesaran KGB tidak ada Thorax: simetris, retraksi dinding dada(-) Cor : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-) Pulmo : vesikuler meningkat, ronkhi (+)basah halus nyaring, wheezing (-) Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba. Inguinal : normal, nyeri tekan (-). Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas: akral hangat, pucat(-) edema tungkai (-),CRT <3”, A : Bronkopneumonia

Ambroxol 3 x ½ cth Nebulizer Ventoline tiap 12 jam

17

April

S :Sesak nafas (-), demam (-),

IVFD KAEN 3B gtt 10x /

2017

Batuk(+), pilek (-)

makro

O :Sens : CM, N: 115x/menit, RR:

Inj. Ampisilin 4x 300mg

 

28x/menit, T: 36,5 o C

Inj.Klorafenikol 2x300mg

KS : kepala : Konjungtiva palpebra

Dexametasone 3 x ½ cth

anemis (-), Sklera Ikterik (-), Refleks

Paracetamol syrp 3 x 1cth

cahaya(-), Nafas cuping hidung (-), bibir sianosis (-).

jika T>38,5

Leher : pembesaran KGB tidak ada Thorax: simetris, retraksi dinding dada(-) Cor : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-) Pulmo : vesikuler meningkat, ronkhi (-)basah halus nyaring, wheezing (-) Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba. Inguinal : normal, nyeri tekan (-). Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas: akral hangat, pucat(-) edema tungkai (-),CRT <3”, A : Bronkopneumonia

Ambroxol 3 x ½ cth Nebulizer Ventoline tiap 12 jam

18 April

S :Sesak nafas (-), demam (-),

IVFD KAEN 3B gtt 10x /

2017

Batuk(-), pilek (-)

makro

O :Sens : CM, N: 109x/menit, RR:

Dexametasone 3 x ½ cth

24x/menit, T: 36,7 o C

A : Bronkopneumonia

Cefixim Sirup 2x1cth

KS : kepala : Konjungtiva palpebra

Paracetamol syrp 3 x 1cth

anemis (-), Sklera Ikterik (-), Refleks cahaya(-), Nafas cuping hidung (-),

jika T>38,5 Ambroxol 3 x ½ cth

bibir sianosis (-).

Nebulizer Ventoline tiap 12

Leher : pembesaran KGB tidak ada Thorax: simetris, retraksi dinding dada(-)

jam R/Pulang

Cor : BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-) Pulmo : vesikuler meningkat, ronkhi (-)basah halus nyaring, wheezing (-) Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), massa (-), bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba. Inguinal : normal, nyeri tekan (-). Genitalia : tidak ada kelainan Ekstremitas: akral hangat, pucat(-) edema tungkai (-),CRT <3”,

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1. Definisi

Pneumonia merupakan infeksi yang mengenai parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing. Bronkopneumonia didefinisikan sebagai peradangan akut dari parenkim paru pada bagian distal bronkiolus terminalis dan meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli. 1

2.2

Epidemiologi

Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak di Negara berkembang. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia dibawah lima tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak di seluruh dunia, lebih kurang dua juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Menurut survey kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% angka kematian bayi dan 22,8% kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit system respiratori, terutama pneumonia. 2 Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun Insiden pneumonia pada anak ≤ 5 tahun di negara maju adalah 2-4 kasus/100 anak/tahun, sedangkan dinegara berkembang 10-20 kasus/100 anak/tahun. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian pertahun pada anak balita di negara berkembang. 2

  • 2.3. Etiologi

 

Usia

pasien

merupakan peranan penting pada perbedaan dan kekhasan

pneumonia anak, terutama dalam spectrum etiologi, gambaran klinis dan strategi pengobatan. Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil meliputi Streptococcus grup B dan bakteri gram negatif seperti E.colli, pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar dan balita pneumoni sering disebabkan

oleh Streptococcus pneumonia, H. influenzae, Stretococcus grup A, S. aureus,

sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae 2

Penyebab utama virus adalah

Respiratory Syncytial Virus (RSV) yang

mencakup 15-40% kasus diikuti virus influenza A dan B, parainfluenza, human

metapneumovirus dan adenovirus. Nair, et al 2010 melaporkan estimasi insidens global pneumonia RSV anak-balita adalah 33.8 juta episode baru di seluruh dunia dengan 3.4 juta episode pneumonia berat yang perlu rawat-inap. Diperkirakan tahun 2005 terjadi kematian 66.000 -199.000 anak balita karena pneumonia RSV, 99% di antaranya terjadi di negara berkembang. Data di atas mempertegas kembali peran RSV sebagai etiologi potensial dan signifikan pada pneumonia anak-balita baik sebagai penyebab tunggal maupun bersama dengan infeksi lain. 2 Daftar etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan usia yang bersumber dari data di Negara maju dapat dilihat di tabel.

Tabel 1. Etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara maju.

 

Usia

Etiologi yang sering

Etiologi yang jarang

 
 

Lahir - 20 hari

Bakteri

Bakteri

 

E.colli

Bakteri anaerob

 

Streptococcus grup B

Streptococcus grup D

 

Listeria monocytogenes

Haemophillus influenza

 
 

Streptococcus pneumonie

 
 

Virus

CMV

HMV

3 miggu – 3 bulan

Bakteri

Bakteri

Clamydia trachomatis

Bordetella pertusis

 

Streptococcus pneumoniae

Haemophillus influenza tipe B

 

Virus

Moraxella catharalis

 

Adenovirus

Staphylococcus aureus

 

Influenza

Virus

Parainfluenza 1,2,3

 

CMV

4 bulan – 5 tahun

Bakteri

Bakteri

Clamydia pneumonia

Haemophillus influenza tipe B

 

Mycoplasma pneumoniae

Moraxella catharalis

 

Streptococcus pneumoniae

Staphylococcus aureus

 

Virus

Neisseria meningitides

 

Adenovirus

 

Virus

Rinovirus

Varisela Zoster

 

Influenza

Parainfluenza

 
 

tahun – remaja

Bakteri

Bakteri

 

Clamydia pneumonia

Haemophillus influenza

 

Mycoplasma pneumoniae

Legionella sp

 

Streptococcus pneumoniae

Staphylococcus aureus

 
 

Virus

Adenovirus

Epstein-Barr

Rinovirus

 

Varisela zoster

 

Influenza / Parainfluenza

 

2.4.

Klasifikasi

 

WHO

merekomendasikan

penggunaan

peningkatan

frekuensi

napas

dan

retraksi subkosta untuk mengklasifikasikan pneumonia di negara berkembang. Namun demikian, kriteria tersebut mempunyai sensitivitas yang buruk untuk anak malnutrisi dan sering overlapping dengan gejala malaria. Klasifikasi pneumonia berdasarkan WHO dijelaskan pada tabel berikut: 2

Tabel 2. Klasifikasi beratnya pneumonia berdasarkan WHO. 2

Klasifikasi

Anak usia < 2 bulan

Anak usia 2 bulan – 5 tahun

Pneumonia

Kesadaran turun,

pernapasan ireguler

Kesadaran turun, letargis

Sangat Berat

letargis

Tidak mau minum

Tidak mau menetek / minum Kejang Demam atau hipotermia Bradipnea atau

Kejang Sianosis Malnutrisi

Pneumonia

Napas cepat

Retraksi (+)

Sianosis (-)

Berat

Retraksi yang berat

Masih dapat minum

Pneumonia

 

Takipnea

Ringan

Retraksi (-)

Sedangkan dalam MTBS/IMCI, derajat keparahan dalam diagnosa pneumonia dapat dibagi menjadi pneumonia berat yang harus dirawat inap dan pneumonia ringan yang bisa rawat jalan.

Tabel 3. Hubungan antara diagnosisi klinis dan Klasifikasi-Pneumonia (MTBS). 3

Diagnosis Klinis

Klasifikasi (MTBS)

Pneumonia berat (rawat inap):

 

tanpa gejala hipoksemia dengan gejala hipoksemia dengan komplikasi

Penyakit sangat berat (Pneumonia berat)

Pneumonia ringan (rawat jalan)

Pneumonia

Infeksi respiratorik akut atas

Batuk: bukan pneumonis

2.5. Patogenesis 1,4 Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya

infeksi penyakit. Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui berbagai cara, antara lain:

  • 1. Inhalasi langsung dari udara

  • 2. Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring.

  • 3. Perluasan langsung dari tempat-tempat lain.

  • 4. Penyebaran secara hematogen.

Mekanisme daya tahan traktus respiratorius sangat efisien untuk mencegah infeksi yang terdiri dari:

  • 1. Susunan anatomis rongga hidung.

  • 2. Jaringan limfoid di nasofaring.

3.

Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret

lain yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.

  • 4. Refleks batuk.

  • 5. Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.

  • 6. Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.

  • 7. Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama dari Ig A.

  • 8. Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja

sebagai antimikroba yang non spesifik. Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan

sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu:

  • a. Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti) Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

  • b. Stadium II (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

  • c. Stadium III (3 – 8 hari)

Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

  • d. Stadium IV (7 – 11 hari) Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat

Gambar 1. Patofisiologi 4

2.6.

Patofisiologi

Gambar 2. Algoritma Patofisiologi bronkhopneomonia 2.7. Gejala Klinis Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar

Gambar 2. Algoritma Patofisiologi bronkhopneomonia 4

  • 2.7. Gejala Klinis

Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yang berat,

mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan perawatan dirumah sakit. Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme

penyebab yang luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, dan faktor patogenesis. Disamping itu, kelompok usia pada anak merupakan faktor penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda, sehingga perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia.

Gambaran klinis pneumonia pada bayi

dan anak bergantung pada berat

ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut:

  • - Gejala infeksi umum, yaitu: demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti: mual, muntah atau diare; kadang- kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.

  • - Gejala gangguan respiratori, yaitu: batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas cuping hidung, merintih, dan sianosis.

    • 2.8. Pemeriksaan Fisik

Dalam pemeriksaan fisik penderita pneumonia ditemukan hal-hal sebagai

berikut:

  • - Pada nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal, suprasternal, dan pernapasan cuping hidung.

  • - Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.

  • - Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran fremitus selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi perluasan infeksi paru (kolaps paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang. Pada perkusi tidak terdapat kelainan dan pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring. Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan berulang dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada tinggi ataupun rendah (tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi), keras atau lemah (tergantung dari amplitudo osilasi) jarang atau banyak (tergantung jumlah crackles individual) halus atau kasar (tergantung dari mekanisme terjadinya). Crackles dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan napas/jalan napas kecil yang tiba-tiba terbuka.

  • 2.9. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit. Hitung leukosit dapat membantu membedakan pneumoni viral dan bakterial. Infeksi virus leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm 2 dengan limfosit predominan) dan bakteri leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm 2 dengan neutrofil yang predominan. Pada hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta peningkatan LED.Analisa gas darah menunjukkan hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik. Isolasi mikroorganisme dari paru, cairan pleura atau darah bersifat invasif sehingga tidak rutin dilakukan . Pemeriksaan radiologi Foto rontgen toraks pada pneumonia ringan tidak rutin dilakukan, hanya direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. Kelainan foto rontgen toraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis. Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia hanyalah pemeriksaan posisi AP. Lynch dkk mendapatkan bahwa

tambahan posisi lateral pada foto rontgen toraks tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakkan diagnosis.

tambahan posisi lateral pada foto rontgen toraks tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakkan diagnosis. Gambar 3.

Gambar 3. Rontgen infiltrat alveoler di lobus kanan bawah ec. S pneumoniae 6 Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari:

  • - Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,

peribronchial cuffing dan hiperaerasi

  • - Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru disebut sebagai round pneumonia

  • - Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

Gambaran

foto

rontgen

toraks

dapat

membantu

mengarahkan

kecenderungan etiologi. Penebalan peribronkial, infiltrat interstitial merata dan hiperinflasi cenderung terlihat pada pneumonia virus. Infiltrat alveolar berupa

konsolidasi segmen atau lobar, bronkopneumonia dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh bakteri.

C-Reactive Protein (CRP) Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk membedakan antara faktor infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan bakteri, atau infeksi bakteri superfisialis dan profunda. Kadar CRP biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan infeksi bakteri superfisialis daripada infeksi bakteri profunda. CRP kadang digunakan untuk evaluasi respons terhadap terapi antibiotik.

Pemeriksaan Mikrobiologis

Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin dilakukan kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di rumah sakit. Untuk pemeriksaan mikrobiologik, spesimen dapat berasal dari usap tenggorok, sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura, atau aspirasi paru

  • 2.10. Diagnosis

Pneumonia Ringan Disamping batuk atau kesulitan bernapas, hanya terdapat napas cepat saja. Dan

dipastikan anak tidak memiliki tanda tanda pneumonia berat. Kriteria napas cepat:

  • - pada anak umur 2 bulan – 11 bulan: > 50 kali/menit

  • - pada anak umur 1 tahun – 5 tahun: > 40 kali/menit Pneumonia Berat

Terdapat batuk dan/atau kesulitan bernapas ditambah minimal salah satu hal berikut:

  • - Kepala terangguk – angguk

  • - Pernapasan cuping hidung

  • - Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam

  • - Foto rontgen dada menunjukan gambaran pneumonia (infilrat luas,

konsolidasi, dll) Selain itu dapat ditemukan pula hal berikut ini:

  • - Napas cepat:

o Anak umur < 2 bulan: > 60 kali /menit o Anak umur 2 – 11 bulan: > 50 kali/menit o Anak umur 1 – 5 tahun: > 40 kali/menit o Anak umur > 5 tahun: > 30 kali/menit

  • - Suara merintih (grunting) pada bayi muda

  • - Pada auskultasi terdengar:

o Crackles (ronki) o Suara pernapasan menurun o Suara pernapasan bronkial Dalam keadaan yang sangat berat dapat dijumpai:

  • - Tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan semuanya

  • - Kejang, letargis atau tidak sadar

  • - Sianosis

  • - Distres pernapasan berat

  • 2.11. Diagnosis Banding

Tabel 5. Diagnosis banding anak yang datang dengan keluhan batuk dan atau kesulitan bernafas

Diagnosis

Gejala klinis yang ditemukan

Bronkopneumoni

  • - Batuk

a

  • - Sesak nafas

  • - Demam

  • - Biru disekitar mulut

  • - Menggigil pada anak

  • - Kejang pada bayi

  • - Nyeri dada

  • - Dispneu yang ditandai dengan pernafasan cepat(takipneu), pernafasan cuping hidung, retraksi dan sianosis

  • - Suara nafas vesikuler meningkat sampai broncial

  • - Suara nafas tambahan ronkhi basah halus nyaring

Bronkhiolitis Akut

  • - Episode pertama wheezing pada anak umur < 2 tahun

  • - Demam atau riwayat demam, namun jarang terjadi demam tinggi

  • - Sesak nafas dengan tanda-tanda obstruksi saluran nafas

  • - Hiperinflasi dinding dada

  • - Ekspirasi memanjang, dan mungkin terdengar

wheezing saat ekspirasi

Tuberculosis

  • - demam (≥ 2 minggu) tanpa sebab yang jelas

(TB)

  • - riwayat kontak positif dengan pasien TB dewasa

  • - uji tuberculin positif (≥10 mm, pada keadaan imunosupresi ≥ 5 mm)

  • - pertumbuhan buruk/kurus atau berat badan menurun

  • - batuk kronis (≥ 3 minggu) pembengkakan kelenjar limfe leher, aksila, inguinal yang spesifik. Pembengkakan tulang/sendi punggung,

panggul, lutut, falang.

Asma Bronchial

  • - Batuk kronik berulang atau dan wheezing bersifat berulang

  • - Sering pada malam hari, musiman

  • - Sesak nafas yang paroksimal dengan ada atau tidak foktor pencetus

  • - Ada atau tidak ada gejala atopi dalam keluarga

Batuk Pertusis

  • - Batuk,terutama malam hari

  • - Batuk panjang, tidak ada inspirasi diantaranya dan diakhiri dengan whoop saat inspirasi.

  • - Pilek

  • - Serak

  • - Anoreksisa

  • - Demam ringan

2.12. Penatalaksanaan

Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak mau makan/minum, atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi, dan terutama mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap.

Tabel 6. Kriteria rawat inap pneumonia

 

Bayi

Anak

 

Saturasi oksigen < 92%, sianosis

Saturasi oksigen <92%, sianosis

 

Frekuensi napas > 60 kali/menit

Frekuensi napas > 50 kali/menit

 

Distres

pernapasan,

apnea

intermiten,

Distres pernapasan

 

atau grunting

 

Tidak mau minum/menetek

 

Grunting

Keluarga tidak bisa merawat di rumah

Terdapat tanda dehidrasi

 
 

Keluarga

tidak

bisa

merawat

di

rumah

Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi

pemberian cairan intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam basa, elektrolit, dan gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik. Penyakit penyerta harus ditanggulangi dengan adekuat.

Penggunaan

antibiotik

yang

tepat

merupakan

kunci utama keberhasilan

pengobatan. Terapi antibiotik harus segera diberikan pada anak dengan pneumonia yang diduga disebabkan oleh bakteri. Identifikasi dini mikroorganisme penyebab tidak dapt dilakukan karena tidak tersedianya uji mikrobiologis cepat. Oleh karena itu, dipilih berdasarkan pengalaman empiris yakni didasrkan pada kemungkinan etiologi penyebab dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien serta epidemiologis. Pneumonia rawat jalan Pada pneumonia rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara oral, misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol. Pada pneumonia ringan berobat jalan, dapat diberikan antibiotik tunggal oral dengan efektifitas yang mencapai 90%. Dosis yang digunakan adalah Kotrimoksazol (4mg TMP/kgBB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari atau Amoksisilin (25mg/kgBB/kali) 2 kali sehari selama 3 hari. Untuk pasien HIV diberikan selama 5 hari.

Anjurkan Ibu untuk memberi makan anak. Nasihati Ibu untuk kontrol ulang anaknya setelah 2 hari ke RS, atau lebih cepat jika keadaan anak memburuk, tidak bisa minum atau menyusu. Ketika anak kembali:

-Jika pernapasannya membaik (melambat), demam berkurang, nafsu makan membaik, lanjutkan pengobatan sampai seluruhnya 3 hari -Jika frekuensi pernapasan, demam, dan nafsu makan tidak ada perubahan, ganti ke antibiotik ke lini kedua dan nasihati ibu untuk kembali lagi. -Jika ada tanda pneumonia berat, rawat anak di rumah sakit dan tangani sesuai pedoman di bawah ini. Pneumonia rawat inap Beri ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam), harus dipantau 24 jam selama 72 jam pertama. Bila anak memberikan respons yang baik maka diberikan selama 5 hari. Selanjutnya terapi dilanjutkan di rumah atau di rumah sakit dengan amoksisilin oral (15mg/kgBB/kali diberikan 3 kali sehari) untuk 5 hari berikutnya. Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam atau terdapat keadaan yang berat (tidak dapat menyusu atau minum/makan, ata memuntahkan semuanya, kejang, letargis atau tidak sadar, sianosis, distress pernapasan berat) maka ditambahkan kloramfenikol (25 mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8 jam). Bila pasien datang dengan keadaan klinis berat, segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin. Sebagai alternatif, beri seftriakson (80-100 mg/kgBB IM atau IV sekali sehari). Apabila diduga pneumonia stafilokokal, ganti antibiotik dengan gentamisin (7,5 mg/kgBB IM sekali sehari) dan kloksasiklin (50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam) atau klindamisin (15 mg/kgBB/hari-3 kali pemberian). Bila keadaan anak membaik, lanjutkan klosasiklin (atau diklosasiklin) secara oral 4 kali sehari sampai secara keseluruhan mencapai 3 minggu, atau klindamisin secara oral selama 2 minggu.

Tatalaksana Umum Pasien dengan saturasi oksigen < 92% pada saat bernapas dengan udara kamar, harus diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau sungkup untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%

  • - Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang, diberikan cairan intravena dan dilakukan balans cairan ketat

  • - Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak dengan pneumonia

  • - Anitipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga kenyaman pasien (Paracetamol 10-15 mg/kgBB/kali)

  • - Nebulisasi dengan ß2 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary clearance

  • - Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4

jam sekali, termasuk pemerikaan saturasi oksigen Nutrisi -Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan per oral, harus

dihindari. Makanan dapat diberikan lewat nasogastric tube (NGT) atau intravena. Tetapi harus diingat bahwa pemasangan NGT dapat menekan pernapasan, khusunya pada bayi/anak dengan ukuran lubang hidung kecil. Jika memang dibutuhkan sebaiknya menggunakan yang terkecil.

  • - Perlu dilakukan pemantauan balans cairan agar anak tidak mengalami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon antidiuretik Kriteria pulang:

  • - Gejala dan tanda pneumonia menghilang

    • - Asupan peroral adekuat

    • - Pemberian antibiotik dapat diteruskan dirumah (peroral)

    • - Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol dan

kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan dirumah.

 

2.13.

Komplikasi

 

Komplikasi dari pneumonia adalah:

 

Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps

paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang. Empiema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura

terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.

Infeksi sitemik

-

Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.

 

-

Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

 

2.14.

Prognosis

Sembuh

total,

mortalitas

kurang

dari

1

%,

mortalitas

bisa lebih tinggi

didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan datang

terlambat untuk pengobatan.

Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui. Infeksi berat dapat memperburuk keadaan melalui asupan makanan dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi. Kedua-duanya bekerja sinergis, maka malnutrisi bersama-sama dengan infeksi memberi dampak negatif

yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi apabila berdiri sendiri.

2.15. Pencegahan

Pneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya bronkopneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh kaita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti cara hidup sehat, makan makanan bergizi dan teratur, menjaga kebersihan, beristirahat yang cukup, rajin berolahraga, dan lainnya. Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi antara lain. Vaksinasi pneumokokus Dapat diberikan pada umur 2,4,6, 12-15 bulan. Pada umur 17-12 bulan diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan ; pada usia > 1 tahun di berikan 1 kali, namun keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada usia 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup 1 kali.

BAB III ANALISIS KASUS

±3 hari SMRS, pasien mengalami demam tidak terlalu tinggi, terus menerus. Pasien juga mengalami batuk (+) berdahak, batuk terus-menerus tidak dipengaruhi waktu ataupun cuaca, batuk panjang tidak diakhiri suara whoop, pilek(+), sesak(-), nyeri tenggorokan(-), mual(-), muntah(-). ±1 hari SMRS, batuk semakin berat, sesak(+), sesak baru pertamakali dialami, sesak tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca dan posisi, nyeri tenggorokan (-). Demam(+), pilek(+), mual(-), muntah(-), penurunan berat badan drastis(-), BAB dan BAK tidak ada kelainan, anak menjadi rewel dan nafsu makan menurun.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaaan fisik, diagnosis banding yang dapat dipikirkan adalah bronkopneumonia, bronkhiolitis akut, tuberkulosis, asma bronkial, dan batuk pertusis. Diagnosis tuberkulosis dapat disingkirkan karena tidak adanya demam (≥ 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, tidak terdapat riwayat kontak dengan pasien TB dewasa. Tidak adanya pertumbuhan buruk/kurus atau berat badan menurun dan tidak ada batuk kronis (≥ 3 minggu). Pada diagnosis asma bronkial juga dapat disingkirkan karena tidak batuk kronik berulang, sesak nafas tidak ada faktor pencetus seperti dipengaruhi aktivitas, cuaca dan posisi, dan tidak adanya riwayat atau gejala atopi dalam keluarga. Diagnosis batuk pertusis dapat disingkirkan karena batuk terus-terusan, tidak muncul turutama pada malam hari, tidak ada batuk panjang yang tidak ada inspirasi diantaranya dan diakhiri dengan whoop saat inspirasi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan, suhu 38.8 O C, Respirasi 45 x/menit, nafas upung hidung(+), bibir sianosis(+), retraksi sidinding dada(+) vesikuler meningkat, ronkhi(+) basah halus nyaring. Sehingga dapat menyingkirkan diagnosis bronkhiolitis akut, pada bronkhiolitis akut ekspirasi memanjang dan dapat terdengar wheezing saat ekspirasi. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat didiagnosis bronkopneumoni karena pada pasien ini terdapat batuk, sesak nafas, demam, Dispneu yang ditandai dengan pernafasan cepat(takipneu), pernafasan cuping hidung, retraksi dinding dada dan bibir sianosis. Vesikuler meningkat sampai broncial. Terdapat ronkhi basah halus nyaring. Penatalaksanaan pada pasien ini berdasarkan panduan praktik klinik (PPK) kasus bonkopneumonia antara lain yaitu terapi oksigen, pemberian cairan sesuai kebutuhan. Untuk terapi antibiotik, diberikan berdasarkan umur, keadaan umum penderita dan etiologi penyakit yang di evaluasi setiap 48-72 jam. Lama pemberian antibiotik diberikan tergantung pada kemajuan klinis penderita, evaluasi hasil pemeriksaan penunjang (darah dan foto thoraks) dan jenis kuman penyebab, pada umumnya membutuhkan waktu 10-14 hari, kecuali untuk kuman staphylococcus dapat diberikan selam 6 minggu. Atasi penyakit penyerta yang lain jika ada. Diberikan sesuai protokol terapi pneumonia pada pasien usia >2 bulan, lini pertama ampisilin bila dalam 3 hari tidak terdapat perbaikan, maka diberikan kloramfenikol dengan dosis 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 kali

pemberian. Atau dengan menggunakan lini kedua yaitu ceftriaxone dengan dosis 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 1-2 kali dosis pemberian. Jika terdapat demam, maka diberikan paracetamol dengan dosis 10-15 mg/kgBB/kali. Pemberian kortikosteroid dexamethasone untuk mencegah pelepasan zat-zat di dalam tubuh yang menyebabkan peradangan. Ambroxol adalah salah satu obat yang masuk ke dalam golongan mukolitik, yaitu obat yang fungsinya adalah mengencerkan dahak. Ambroxol sirup untuk anak usia s/d 2 tahunn diberi 2,5 ml (½ sendok takaran) 2 kali sehari, untuk anak usia 2-5 tahun siberi 2,5 ml(½ sendok takaran) 3 kali sehari. Nebulizer untuk pemberian bronkodilator (ventolin) pada kondisi dahak yang kental. Prognosis pada bronkopneumonia ini adalah sembuh total, mortalitas kurang dari 1%, mortalitas bisa lebih tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan datang terlambat untuk pengobatan. Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan melalui asupan makanan dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap infeksi. Kedua- duanya bekerja sinergis, maka malnutrisi bersama-sama dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi apabila berdiri sendiri. Penyakit bronkopneumonia dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan penderita atau mengobati secara dini penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia ini. Selain itu hal-hal yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh kaita terhadap berbagai penyakit saluran nafas seperti cara hidup sehat, makan makanan bergizi dan teratur, menjaga kebersihan ,beristirahat yang cukup, rajin berolahraga, dll. Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Garna, Herry, dkk. 2005. Pedoman diagnosis dan terapi. Bandung: UNPAD

  • 2. Hegar, Badriul. 2010. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: IDAI.

  • 3. Latief, Abdul, dkk. 2009. Pelayanan Kesehatan anak di rumah sakit standar WHO. Jakarta: Depkes

  • 4. Price, Sylvia Anderson.1994. Pathophysiology: Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta: EGC

  • 5. Sastroasmoro, Sudigdo, dkk. 2009. Panduan pelayanan medis dept. IKA. Jakarta: RSCM

  • 6. Rahajoe, Nastini.N., dkk. 2008. Buku Ajar Respirologi, Edisi 1. Jakarta: IDAI

  • 7. Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15,Volume 2.Jakarta:EGC.

8.

Opstapchuk M, Roberts DM, haddy R. community-acquired pneumonia in infants and children. Am fam physician 2004;20:899-908