Anda di halaman 1dari 11

1

Tugas Mata 13 Mei 2017


Apris Tesryanto Liufeto

1. Ablasi Retina
a. Anamnesis
Ablasi retina regmatogenosa: terdapatnya gangguan penglihatan yang kadang-kadang
terlihat sebagai tirai yang menutup, terdapatnya ada riwayat pijaran api (fotopsia) pada
lapangan penglihatan.
Ablasi retina traksi: penglihatan menurun tanpa rasa sakit, akibat adanya tarikan
jaringan parut pada badan kaca.
Ablasi retina eksudatif: penurunan dapat berkurang dari ringan sampai berat, biasanya
disebabkan penyakit koroid, skleritis, radang uvea, toksemia gravidarum, tumor
retrobulbar.

b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan visus didapatkan visus turun mendadak
2) Defek lapangan pandang
3) Funduskopi:
Ablasi retina regmatogenosa: terlihat retina yang terangkat berwarna pucat
dengan pembuluh darah diatasnya dan terlihat adanya robekan retina berwarna
merah.
Ablasi retina traksi: memiliki permukaan yang lebih konkaf dan cenderung lebih
lokal, biasanya tidak meluas ke ora seratta
Ablasi retina eksudatif: permukaan retina yang terangkat terlihat licin.

Ablasi regmatogenosa Ablasi traksi Ablasi eksudatif


2

4) Pemeriksaan slit lamp; anterior segmen biasanya normal, pemeriksaan vitreous


untuk mencari tanda pigmen atau tobacco dust, ini merupakan patognomonis dari
ablasio retina pada 75 % kasus.
5) Periksa tekanan bola mata: ablasi regmatogenosa (rendah), traksi (normal),
eksudatif (bervariasi)
c. Pemeriksaan penunjang : tidak ada
d. Tatalaksana
. 1. Scleral buckling : setelah defek pada retina ditandai pada luar sclera, cryosurgery
dilakukan disekitar lesi. Dilanjutkan dengan memperkirakan bagian dari dinding bola
mata yang retinanya terlepas, lalu dilakukan fiksasi dengan buckle segmental atau
circular band (terlingkari >360 derajat) pada sclera. Keuntungan dari tehnik ini adalah
menggunakan peralatan dasar, waktu rehabilitasi pendek,resiko iatrogenic yang
menyebabkan kekeruhan lensa rendah, mencegah komplikasi intraocular seperti
perdarahan dan inflamasi.
2. Retinopeksi pneumatic : udara dimasukkan ke dalam viterus. Dengan cara ini retina
dapat dilekatkan kembali. Cryosurgery dilakukan sebelum atau sesudah penyuntikan gas
atau koagulasi dengan laser yang dilakukan di sekitar defek retina setelah perlekatan
retina. Pelepasan dengan robekan tunggal pada retina di tepi atas fundus (arah jam 10-
jam 2) adalah kondisi yang paling bagus untuk prosedur ini.

Skleral buckling
3

Retinopeksi pneumatic
Pars Plana Vitrektomi : dibawah mikroskop, badan vitreus dan semua komponen
penarikan epiretinal dan subretinal dikeluarkan. Lalu retina dilekatkan kembali dengan
cairan perfluorocarbon. Defek pada retina ditutup dengan endolaser atau aplikasi
eksokrio.
Keuntungan PPV:
1. Dapat menentukan lokasi defek secara tepat
2. Dapat mengeliminasi media yang mengalami kekeruhan karena teknik ini dapat
dikombinasikan dengan ekstraksi katarak.
3. Dapat langsung menghilangkan penarikan dari vitreous.
Kerugian PPV:
1. Membutuhkan tim yang berpengalaman dan peralatan yang mahal.
2. Dapat menyebabkan katarak.
3. Kemungkinan diperlukan operasi kedua untuk mengeluarkan silicon oil
4. Perlu follow up segera (terjadinya reaksi fibrin pada kamera okuli anterior yang
dapat meningkatkan tekanan intraokuler.
4

e. Prognosis
ad vitam : dubia ad bonam
ad fungtionam : dubia ad malam apabila ablasio retina meliputi daerah macula,
kemungkinan pengembalian penglihatan sangat rendah.
ad sanationam : dubia ada bonam Ablasio retina mempunyai risiko berulang.

2. Oklusi Vena Retina Sentral/ Branch Retinal Vein Occlusion (BRVO)


a. Anamnesis
Penglihatan kabur/ penurunan visus yang mendadak, baik sentral (bila terkena macula
lutea) ataupun perifer, lapangan pandang berkurang, dapat terdapat skotoma sentral, tidak
sakit, bersifat unilateral (pada salah satu mata).
Berusia 50 tahun. Riwayat penyakit glaukoma, DM, hipertensi, kelainan darah,
arteriosklerosis, papiledema, retinopathy radiasi, penyakit pembuluh darah, endophlebitis.
b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan visus didapatkan visus turun mendadak.
2) Pemeriksaan lapangan pandang didapatkan lapangan pandang berkurang.
3) Funduskopi didapatkan vena yang berkelok-kelok, edema macula, dan retina.
Perdarahan berupa titik-titik terutama bila terdapat penyumbatan vena yang tidak
sempurna. Bercak eksudat diantara bercak perdarahan. Papil edema dan pulsasi vena
hilang.

In CRV occlusion, the disc is


massively swollen with splotches
of hemorrhage and cotton wool
spots diffusely.

c. Pemeriksaan penunjang
5

1) Pemeriksaan gula darah, profil lipid, kolesterol, dan trigliserida.


2) Angiografi fluorescein untuk melihat letak peyumbatan, adanya penyumbatan total/
sebagian, dan ada tidaknya neovaskularisasi.
d. Tatalaksana
Antikoagulan, fotokoagulasi. Steroid bila oklusi terjadi karena phlebitis.
Bila terjadi neovaskularisasi iris, terapi diganti dengan injeksi anti-VEGF intravitreal.
e. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungtionam : dubia karena beberapa bulan setelah diterapi, beberapa orang
menunjukkan perbaikan visus, sedangkan yang lainnya tidak.
Ad sanationam : dubia ad bonam

3. Oklusi Arteri Retina Sentral/ Central Retinal Artery Occlusions (CRAO)


a. Anamnesis
Penglihatan hilang secara mendadak yang hilang timbul (amaurosis fugaks), penurunan
lapangan pandang, tidak nyeri, pupil anisokoria.
Usia 50 tahun.
Riwayat penyakit pembuluh darah seperti emboli, thrombus, arteritis, hiperkoagulasi,
arterosklerosis, penyakit jantung, migren (spasme pembuluh darah), trauma, dan
peningkatan tekanan intraokuli.

b. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan visus didapatkan visus turun mendadak.
2) Pemeriksaan lapangan pandang didapatkan lapangan pandang berkurang.
3) Tonometry didapatkan peningkatan tekanan intraokuli.
4) Funduskopi didapatkan edema retina (sel ganglion retina berwarna pucat akibat
kurang suplai darah), sehingga memberi gambaran cherry red spot pada macula lutea
fovea centralis.
6

In CRA occlusion, the retina


appears grossly swollen and pale,
with a prominent fovea that would
otherwise be obscured by a normal,
pinkish-red background

c. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan profil lipid, kolesterol, dan trigliserida.
2) Angiografi fluorescein didapatkan penurunan pengisian arteri.
3) Electroretinografi (ERG) didapatkan gelombang B-wave yang menunjukkan iskemik
retina.
4) Carotid ultrasound duplex scan untuk mendeteksi plak carotis.
5) Echocardiografi untuk mendeteksi sumber emboli misalnya pada penyakit katub
jantung.
6) Sedimentasi Rate (ESR) dan biopsy A. Temporalis untuk pasien Great Cell Arteritis
(GCA) jika tidak ditemukan plak.
d. Tatalaksana
1) Beri O2 dengan nasal kanul atau sungkup.
2) Kurangi TIO dengan urut bola mata, asetazolamide, dan parasintesis bilik mata
depan.
3) Vasodilator + antikoagulan.
4) Steroid bila terjadi peradangan.
e. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungtionam : dubia.
Ad sanationam : dubia, karena apabila tidak diterapi dalam 90 menit maka
hilangnya penglihatan dapat bersifat irreversible.

4. Perdarahan vitreus
a. Anamnesis
Penglihatan menghilang mendadak, floters, tidak nyeri. Memiliki riwayat trauma, pasca
bedah intraokuler, DM, hipertensi.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan visus didapatkan visus menurun mendadak.
2) Pemeriksaan lapangan pandang didapatkan lapangan pandang berkurang.
3) Funduskopi didapatkan tidak terlihat adanya refleks fundus yang berwarna merah dan
sering memberikan bayangan hitamyang menutup retina. Pemeriksaan mata
7

kontralateral dengan dilatator untuk melihat penyebab perdarahan vitreus seperti


retinopathy diabetik.
8

c. Pemeriksaan Penunjang
1) Cek tekanan darah dan gula darah (GDS, GDP, GD2PP, HbA1c).
2) Gonioskopi untuk melihat adanya neovaskularisasi. B-scan ultrasonography jika
polus posterior dipenuhi oleh darah.
d. Tatalaksana
1) Istirahat dengan posisi kepala lebih tinggi sekitar 30 selama 3 hari.
2) Hentikan penggunaan aspirin dan anti radang non steroid, kecuali memang sangat
diperlukan.
3) Dalam waktu beberapa minggu atau bulan darah akan diabsorbsi tubuh dengan cara
dimakan leukosit an sel plasma.
4) Vitrectomi untuk mengeluarkan darah dari vitreus body bila terdapat bersama dengan
ablasio retina atau perdarahan yang lebih lama dari 6 bulan, dan bila terjadi glaukoma
hemolitik.
5) Ablasio retina dan neovaskularisasi dapat diterapi dengan cryotherapy atau laser
photocoagulation.
6) Terapi baru intravitreal injection of hyaluronidase saat ini sedang dipelajari dan dapat
menjadi pilihan terapi tambahan di masa depan.
e. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungtionam : dubia, jika karena DM atau hipertensi maka dapat timbul
perdarahan ulang, meskipun perdarahan sebelumnya sudah diabsorbsi tubuh.
Ad sanatinam : dubia, karena sebagian kasus dapat timbul jaringan sikatrik yang
dapat mengakibatkan ablasio retina, atau dapat timbul proliferasi jaringan (retinitis
proliferans) yang akan akan mengancam penglihatan secara irreversible walaupun
perkembangan pembuluh darah telah berhenti.

5. Migren
a. Anamnesis
9

Nyeri kepala sebelah yang dapat juga dirasakan di belakang kedua bola mata yang berdenyut
disertai mual, muntah, letih, dan gejala mata yang paling menonjol yaitu fotofobia. Gejala
gangguan penglihatan selalu mendahului sakit kepala sebelah, akan terlihat garis cahaya
berkelok-kelok ireguler yang kadang-kadang tepi garis berwarna terang yang disebut spectrum
fortifikasi. Keluhan dapat berupa kaburnya benda diatas atau dibawah objek yang dilihat, kadang
juga dengan skotoma sentral.
b. Pemefiksaan fisik
1) Penurunan visus
2) Defek lapangan pandang hemianopsia lateral
c. Pemeriksaan penunjang
d. Tatalaksana
1) Istirahat di tempat gelap pada serangan migren dan cegah pemakaian obat pencetus sakit
kepala seperti obat antihamil
2) Koreksi kelainan refraksi yang ada
3) Gejala dapat diringankan dengan aspirin dan ergotamine tartrat pada saat serangan
e. Prognosis
ad vitam : dubia ad bonam
ad fungtionam : dubia ad bonam
ad sanationam : dubia ad bonam

6. Amaurosis fugaks
a. Anamnesis
Gelap sementara 2-5 detik yang biasanya hanya mengenai satu mata pada saat serangan dan
normal kembali setelah beberapa menit atau jam, disertai dengan gangguan kampus segmental
tanpa rasa sakit dan terdapatnya gejala-gejala sisa. Dapat terjadi akibat hipotensi ortostatik,
spasme pembuluh arah, aritmia, migren retina, anemia, arteritis dan koagulopati.
b. Pemeriksaan fisik
1) Terdapat penurunan fisus
2) Tidak terdapat defek lapangan pandang karena pendeknya serangan
3) Funduskopi tidak ditemukan kelainan karena pendeknya serangan.
c. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan darah lengkap dan hemostasis
2) EKG untuk mengetahui aritmia
d. Tatalaksana
1) Pada penyakit karotis dengan aspirin 325 mg dan berhenti merokok
2) Kontrol hipertensi dan diabetes sebagai penyebab
3) Pada penyakit jantung aspirin 325 mg 4 kali sehari dengan pertimbangan bedah jantung
dan kontrol semua risiko yang berhubungan dengan arteriosclerosis
4) Diberi salisilat dan obat untuk mobilisasi sel darah
e. Prognosis
ad vitam : dubia ad bonam
ad fungtionam : dubia ad bonam
ad sanationam : dubia ad bonam
7. Uveitis Posterior/ Koroiditis
a. Anamnesis
Penglihatan buram terutama bila mengenai daerah sentral macula, bintik terbang (floater),
tidak nyeri,tidak fotofobia. Memilki riwayat trauma, pasca bedah intraokuler, infeksi (TB,
10

sifilis, toxoplasma), ataupun penyakit autoimun seperti oftalmia simpatikum, Behcets


syndrome, ankylosing spondylitis, Lyme disease, sarcoidosis, and psoriasis, ataupun
juvenile rheumatoid arthritis (pada anak-anak).
b. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan visus didapatkan visus yang menurun mendadak.
2) Funduskopi untuk melihat adanya ablasio retina.

3) Tonometri untuk melihat adanya glaukoma.


4) Slit Lamp dengan fluorescein untuk melihat adanya neovaskularisasi.
c. Pemeriksaan Penunjang
Tes darah untuk mengetahui adanya infeksi herpes virus, toxoplasmosis, toxocariasis and
spirochetes. Foto rontgen dada untuk mendeteksi adanya sarcoidosis or tuberculosis.
d. Tatalaksana
Obat tetes mata kortikosteroid dan dilatators pupil untuk mengurangi inflamasi dan nyeri.
e. Prognosis
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungtionam : dubia karena tergantung apakah diterapi atau tidak. Jika diterapi,
prognosanya baik.
Ad sanationam : dubia ad malam karena dapat berkembang menjadi glaukoma,
katarak, dan ablasio retina.

Mengapa pada kelainan saraf optic terdapat gangguan penglihatan


warna merah-hijau?

Hukum Kollner menyatakan bahwa defek merah-hijau disebabkan oleh lesi saraf optic
ataupun jalur posterior, sedangkan defek biru-kuning disebabkan oleh kelainan pada
epitel sensoris retina atau sel kerucut S (pigmen biru) dan batang retina. Hal ini mungkin
terkait dengan meningkatnya kerentanan sel kerucut S dan sel batang terhadap iskemia
11

dan kerusakan oksidatif, walaupun defisiensi sel kerucut S lebih terlihat karena densitas
yang lebih rendah dan laju metabolisme yang tinggi. Terdapat pengecualian Hukum
Kollner terutama pada glaucoma yang merupakan gangguan saraf optic dan biasanya
terdapat defek biru-kuning pada fase awal, yang kemudia menyebabkan defek hijau-
merah setelahnya. Hal ini diduga karena receptor-mediated excitotoxicity pada sel
ganglia dan parvocellular retinal ganglia cells mediating red-green opponency lebih
mendominasi.