Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Setiap hari tubuh organisme menghasilkan kotoran dan zat-zat sisa dari
berbagai proses tubuh. Agar tubuh kita tetap sehat dan terbebas dari penyakit,
maka kotoran dan zat-zat sisa dalam tubuh kita harus dibuang melalui alat-alat
ekskresi.
Alat eksresi pada masing-masing mahluk hidup berbeda-beda. Tubuh hewan
60 sampai 95 % tubuhnya terdiri dari air yang tersebar dalam cairan intrasel
dan ekstrasel dan sewaktu-waktu konsentrasi cairannya tersebut bisa berubah,
maka keseimbangan harus dipertahankan oleh hewan melalui mekanisme yang
disebut dengan OSMOREGULASI (proses untuk menjaga keseimbangan
antara jumlah air dan zat terlarut yang ada dalam tubuh hewan).
Secara umum proses osmoregulasi adalah upaya atau kemampuan untuk
mengontrol keseimbangan air dan ion antara di dalam tubuh dan
lingkungannya melalui mekanisme pengaturan tekanan osmose. Proses
osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh
dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air
maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel
akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana
untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Menjelaskan fungsi utama sistem ekskresi pada hewan
2. Menjelaskan cara Coelenterata dan Echinodermata dalam memelihara
konsentrasi cairan internal tubuhnya tanpa alat ekskresi khusus
3. Menjelaskan mekanisme pengisian dan pengosongan vakuola kontraktil
pada Protozoa
4. Menjelaskan perbedaan struktur dan fungsi antara protonefridia dengan
metanefridia
5. Mendiskusikan perbedaan antara kerja kelenjar antenal lobster (Crustacea
laut) dengan Carcinus (kepiting pantai)

1
6. Menjelaskan mekanisme serangga dapat menghasilkan urin hipertonik
yang pekat
7. Menjelaskan tahap-tahap proses pembentukan urin pada serangga
8. Menjelaskan pengaturan air tubuh karena pengaruh ADH
9. Menjelaskan pengaturan kadar Na+, K+, dan Ca2+ dalam cairan tubuh oleh
pengendalian hormonal
10. Menjelaskan hubungan antara bentuk ekskresi nitrogenous pada hewan
dengan pengendalian air tubuhnya
11. Menjelaskan perbedaan antara osmokonformitas dengan osmoregulasi
12. Menjelaskan bahwa dalam mengatasi gangguan osmotik medium di
sekitarnya, hewan mengatasi dengan pola yang sama
13. Menjelaskan bahwa pada dasarnya hewan osmokonformer juga melakukan
proses regulasi meskipun terbatas
14. Membuat daftar perbedaan antara mekanisme regulasi hiperosmotik ikan
air tawar dan regulasi hipoosmotik pada ikan air laut
15. Mendiskusikan, apakah hewan euryhalin selalu osmokonformer, dan
hewan stenohalinselalu osmoregulator
16. Menjelaskan mekanisme osmoregulasi hewan yang dapat hidup di air laut
maupun air payau, dan di air laut maupun air tawar
17. Mendiskusikan apakah Invertebrata darat itu termasuk osmoregulator
hipoosmotik atau hiperosmotik
18. Menjelaskan cara ikan bertulang rawan mampu memelihara darahnya
hiperosmotik terhadap air laut
19. Menjelaskan mekanisme osmoregulasi katak pemakan kepiting yang
mencari makan di laut
20. Menjelaskan bahwa ekskresi garan ekstrarenal lebih ekonomis dalam
penggunaan air daripada ekskresi garam lewat renal (ginjal)
21. Menjelaskan alasan nelayan yang kehausan di laut tidak berani minum air
laut

BAB II
PEMBAHASAN

2
A. Pengertian ekskresi
Sistem ekresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme
yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. seperti CO2, H2O, NH3, zat warna
empedu dan asam urat.Zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh
akan dikeluarkan melalui alat ekskresi. Alat ekskresi yang dimiliki oleh makhluk
hidup berbeda-beda.Semakin tinggi tingkatan mahluk hidup, semakin kompleks
alat ekskresinya.
Terdapat beberapa istilah dalam Sistem ekskresi, diantaranya :
a. Defekasi : yaitu proses pengeluaran sisa pencernaan makanan yang disebut
feses. Zat yang dikeluarkan belum pernah mengalami metabolisme di dalam
jaringan.Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidak diserap usus sel epitel,
usus yang rusak dan mikroba usus.
b. Ekskresi : yaitu pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna
lagi bagi tubuh.
c.Sekresi : yaitu pengeluaran getah oleh kelenjar pencernaan ke dalam saluran
pencernaan. Getah yang dikeluarkan masih berguna bagi tubuh dan umumnya
mengandun genzim.
d.Eliminasi : yaitu proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga
yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus).
Organ ekskresitori memiliki beberapa fungsi, yang kesemuanya
berhubungan dengan pemeliharaan komposisi lingkungan internal tubuh yang
konstan. Pemeliharaan komposisi yang konstan memerlukan suatu syarat dasar,
yaitu bahwa setiap zat yang diambil organisme dari lingkungan eksternalnya harus
diimbangi dengan pengeluaran dalam jumlah yang sama.1
Fungsi utama dari sistem ekskresi:
1. Memelihara konsentrasi ion-ion tunggal yang tepat (Na+,K+,Cl-,Ca+
+
,H+,dsb).
2. Memelihara volume air tubuh yang tepat.
3. Memelihara konsentrasi osmotic (mengikuti 1 dan 2).
4. Mengekskresikan sisa-sisa metabolism (urea, asam urat, dll).
5. Mengekskresikan zat-zat asing dan atau hasil-hasil metabolism.
Kebanyakan sisa-sisa metabolisme dibuang oleh organ-organ ekskreton. Semua
organ memisahkan bermacam-macam zat asing, dimana zat tersebut dapat tetap

1
Soewolo, Pengantar Fisiologi Hewan. (Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah) hlm.
210

3
dalam bentuk aslinya, namun ada yang dimodifikasi dulu menjadi bentuk yang
tdak berbahaya atau bentuk yang mudah diekskresikan.
Peranan utama organ ekskresitori adalah memindahkan kelebihan
sejumlah zat yang diregulasi dari tubuh secara cepat. Jadi membantu memelihara
suatu keadaan homeostatis dalam merespon semua pengaruh yang cenderung
menyebabkan perubahan.
Secara prinsip terdapat dua proses yang bertanggungjawab dalam
pembentukan cairan ekskresi, yaitu ultrafiltrasi atau transpor aktif. Pada
ultrafiltrasi, terdapat tekanan yang mendorong cairan melalui membrane
semipermeable, sehingga kecual protein dan molekul-molekul besar, air dan
molekul zat terlarut berukuran kecil seperti garam-garam, gula dan asam amino
dapat menembus membrane. Transport aktif adalah gerakan zat terlarut menembus
membrane dengan melawan gradient elektroniknya yaitu suatu proses yang
menggunakan energy metabolic. Dikenal dua macam transport aktif yaitu skresi
aktif dan absorbs aktif . pada sekresi aktif, zat-zat dipindahkan dari lingkungan
internal lumen kelingkungan internalnya.
Struktur morfologi dan anatomi organ ekskres sangat berfariasi, namun
secara fungsional dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok: 1) organ
ekresitori umum, yaitu organ ekskresitori yang fungsinya mirp ginjal dengan hasil
ekskresi seperti urin, 2) organ ekskresitori khusus yang berfungsi tambahan
sebagai organ ekskresitori.
Termasuk organ ekskresitori umum adalah: (a) Vakuola kontrajtil pada
protozoa, (b) organ nefridial pada Invertebrata, (c) kelenjar atenal pada udang,
(d) saluran Malpighi pada serangga dan (e) ginjal pada Vertebrata. Termasuk
organ ekskresitori tambahan: (a) insang pada udang-udangan dan ikan, (b)
kelenjar rektal pada elasmobranchiata, (c) kelenjar garam pada reptile dan burung
laut, (d) hati pada vertebrata, (e) instestin pada serangga.

B. Organ-organ Ekskresitori2
Untuk memudahkan mempelajari berbagai organ ekskresitori perlu
dilakukan pengelompokan. Tipe-tipe umum alat ekskresitori dan penyebarannya
pada kerajaan hewan ini dapat dilihat dibawah ini:
Belum memiliki oragan ekskresitori:
- Coelenterate
- Echinodermata
Vakuola kontraktil:
- Protozoa
- Bunga karang (sponges)
Organ-organ Nefridial:
a) Protonefridium, yang tertutup:
- Platyhelminthes

2
Ibid. hlm.212

4
- Ascelminthes
b) Metanefridium, terbuka pada ujung:
- Anelida
c) Nefridium:
- Molluska
Kelenjar Antenal (kelenjar hijau):
- Crustacea
Pembuluh Malpighi:
- Serangga
Ginjal
- Vertebrata
Hasil sistem ekskresi
a. Zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu.
b.Zat padat yaitu berupa feces.
c. Gas berupa CO2.
d.Uap air berupa H2O.

a. Mekanisme ekskresi pada hewan


a) Alat ekskresi pada coelenterate dan Echinodermata
Kedua kelompok phila ini tidak memiliki organ ekskresitori khusus.
Memang mengherankan, misalnya untuk Coelenterata air tawar memiliki
cairan tubuh hipertonik terhadap mediumnya dan memiliki membrane yang
sangat permeable terhadap air dan garam, namun volume tubuhnya dapat
dipertahankan lingkungan internalnya yang ekivalen dengan 0,025 M
larutan NaCl. Bagaimana hewan tersebut mengeluarkan kelebihan air dari
dalam tubuhnya belum diketahui.
Coelenterate dapat mengekskresikan dengan mudah sisa
metabolismnya melalui proses difusi. Disamping itu coelenterate juga
memiliki astrosit-astrosit, yaitu sel-sel fagosit yang dapat menelan dan
memindahkan zat-zat asing. Fenomena regulasi ionic lain yang menarik
telah dijumpai pada beberapa dengan air laut tempat hidupnya. Air laut
memiliki konsentrasi SO4- dan Mg++ yang lebih rendah tetapi konsentrasi
Na+ lebih tinggi dari pada cairan tubuh medusa. Mekanisme regulasi ionic
hewan tersebut dimaksudkan juga untuk mencapai suatu kemampuan
mengapung yang tepat. Misalnya, dengan mengurangi kandungan SO 4-
sampai separuh kandungan normalnya, akan mencapai peningkatan daya
apung 1 mg/ml dan hewan akan mengambang. Pada banyak organisme
aquatic, mekanisme osmotic digunakan untuk mengubah tegangan jaringan,
selaras dengan daya apung yang dibutuhkan.

5
Umumnya studi dan observasi protozoa dan coelenterate cenderung
menempatkan transport aktif sebagai dasar osmoregulasi dan aktivitas yang
lain. Echinodermata, tidak memiliki masalah dalam osmogerulasi, sebab
cairan tubuh hewan ini selalu isosmotic dengan air laut.

b. Vakuola Kontraktil
dua kelompok hewan yang memiliki vakuola kontraktil, yaitu
protozoa dan bunga karang (sponges). Nampaknya bahwa semua protozoa
air tawar selalu memiliki vakuola kontraktil, sedangkan protozoa air laut
tidak selalu memilikikinya. 3
Karena cairan tubuh protozoa air tawar hiperosmotis terhadap
mediumya, dan permukaan tubuhnya permeable terhadap air, maka
tubuhnya cenderung menggelembung (oleh air yang masuk dari
mediumnya), namun hal ni tidak terjadi sebab protozoa terus menerus
mengeluarkan kelebihan air dari dalam tubuhnya. Untuk mempertahankan
cairan tubuh yang hiperosmotis, maka protozoa harus tidak hanya
mengeluarkan kelebihan air saja, tetapi juga harus mengganti zat-zat
terlarut yang ikut hilang, barangkali dengan pengambilan secara aktif dari
mediumnya.
Bahwa vakuola kontraktil terutama berfungsi sebagai organ
regulasi osmotic dan regulasi volume, telah ditunjukkan pada Ameba
Chaos-chaos dimana jumlah air yang masuk setara dengan jumlah air yang
dikeluarkan oleh vakuola kontraktil.
Observasi mikroskop terhadapa vakuola kontraktil protozoa air
tawar, menunjukkan adanya siklus perubahan volume yang kontinyu. Pada
tahap pengisian volumenya Nampak semakin besar sampai mencapai
ukuran kritis. Setelah itu diikuti dengan tahap pengosongan sampai
vakuola kontraktil Nampak hilang. Kemudian vakuola kontraktil Nampak
membesar lagi. Begitu seterusnya, siklus terulang lagi.
Sebelum membalas lebih lanjut siklus pengisian dan pengosongan
vakuola kontraktil, perlu dibahas terlebih dahulu anatomi vakuola
kontraktil. Vakuola kontraktil dapat memiliki tempat yang tetap dalam sel,
misalnya pada paramaecium, atau dapat muncul disembarang tempat
dalam tubuh, misalnya pada Ameba. Pada Ameba, lumen vakuola
kontraktil dibatasi oleh suatu membrane tunggal yang tipis.disekitar
membrane terdapat suatu lapisan tebal yang disebut spongiome (tebal 0,5-
2m), yang penuh dengan vesikel-vesikel kecil yang masing-masing
penampangnya antara 0,02-0,2m. sekitar lapisan vesikel ini terdapat
lapisan mitokondria, yang diperkirakan menyediakan energy yang
diperlukan untuk kerja osmotic dalam membentuk isi vakuola yang
hipoosmotik. Bla dilihat dengan mikrograf electron Nampak bahwa
3
Ibid. hlm. 214

6
vesikel-vesikel menuangkan isinya kedalam vakuola kontraktil dengan
cara meleburkan diri (eksositosis).

(gambar, siklus pengisian dan pengosongan vakuola


kontrakti )

Bagaimana vakuola kontraktil berbentuk dengan isinya yang


hipoosmotik terhadap sitoplasma, dapat dijelaskan dengan berbagai cara,
salah satunya adalah sebagai berikut: Vesikel-vesikel kecil yang
mengelilingi vakuola kontraktil mula-mula berisi cairan yang isotonic
dengan sitosol. Vesikel-vesikel kemudian memasukkan Na + kecairan
vesikel dan mengeluarkan K+ dari cairan vesikel secara transport aktif
dengan menggunakan energy ATP yang dibuat dalam mitokondria.
Akhirnya setelah konsentrasi osmotic cairan vesikel berkurang sampai
sekitar setengah konsentrasi dalam sitosol (cairan vesikel menjadi
hipoosmotik), vesikel-vesikel bergerak menuju dan menuangkan isinya
kedalam vakuola kontraktil (fase pengisian). Fase pengisian ini akan
terjadi terus menerus sampai volume vakuola kontraktil cukup besar.
Kemudian vakuola kontraktil berkonsentrasi secara tiba-tiba sehingga
cairannya disemprotkan keluar melalui pori-pori pada permukaan (fase
pengosongan). Setelah itu akan dimulai fase pengisian berikutnya.
Mekanisme seperti ini memungkinkan terjadinya larutan hipoosmotik
dengan menahan garam yang bermanfaat.
Aktivitas vakuola kontraktil tersebut menyebabkan Na+ banyak
yang hilang. Untuk menjaga konsentrasinya didalam sitoplasma, diduga
protozoa menggantinya dengan memasukkan secara aktif dari mediumnya.
Pada beberapa protozoa air tawar dan bunga karang, tidak dijumpai
adanya pembentukan vakuola kontraktil sehingga bagaimana mekanisme
hewan-hewan tersebut melakukan osmoregulasi, tidak diketahui dengan

7
jelas. Pada paramaecium tidak ada peleburan vesikel-vesikel seperti
Nampak pada Ameba, tetapi digambarkan ada saluran nefridial masuk
kevakuola kontraktil. Saluran nefridial ini mungkin mempunyai fungsi
yang mirip dengan vesikel-vesikel untuk mengisi vakuola kontraktil.

C. Organ-organ Nefridial
Organ ekskresitori yang sebenarnya hanya terdapat pada phila
hewan yang memiliki tubuh bilateral simetris. Tipe yang paling umum,
yang secara luar tersebar pada invertebrata adalah nefridia, suatu
pembuluh sederhana atau pembuluh bercabang yang terbuka keluar
melalui suatu lubang (nephridial pore). Terdapat dua tipe utama nefridia:
(1) protonefridium, yaitu suatu pembuluh yang ujung internalnya tertutup
dan pada bagian dalam ujung ini memiliki sel api atau sel rambut, dan
(2) metanefridium, merupakan suatu pembuluh ekskretori yang ujungnya
berhubungan dengan rongga tubuh (coleom) melalu suatu struktur
berbentuk corong yang disebut nefridostom atau nefrostom.4

a. Protonefridia

Protonefridia terutama terdapat pada hewan yang tidak memiliki


rongga tubuh (selom) yang sebenarnya dan tidak mempunyai sistem
sirkulasi yang bertekanan tinggi (pada Platyhelminthes dan
Aschelminthes), demikian juga tidak memilki tekanan hidrostatik yang
diperlukan untuk ultrafiltrasi. Protonefridia merupakan suatu saluran yang
sempit yang ujungnya tertutup oleh sel-sel nyala atau solenosit. Seekor
hewan mungkin memiliki dua atau lebih protonefridia, yang sering
bercabang-cabang secara intensif. Ujung yang tertutup berakhir pada
struktur berbentuk seperti bola lampu, masing-masing dengan lubang
lumen yang memiliki satu flagellum atau banyak silia didalmnya. Bila
memiliki flagellum tunggal, sel ujung disebut solenosit, bila memiliki
banyak silia yang mengarah kedalam lumen, struktur ini disebut sel nyata
(flame sel) sebab bila silia bergoyang akan memberikan gambaran seperti
gerak nyala api (lidah api). Warna phenol-red (phenolsulfonphthalein).
Satu aspek dari sekresi moluska yang Nampak agak khusus, yaitu bahwa
fungsi kedua ginjal tidak selalu sama (misalnya pada Haliotis).
Bahwa beralasan suatu moluska laut, yang cairan tubuhnya sotonik
dengan air laut dan tidak memiliki masalah dalam regulasi air, tidak
melakukan reabsorbs air dan ginjalnya. Hewan ini harus mereguklasi
komposisi ionic dan mengekskresi sisa metabolic, dan dalam hal dua
ginjalnya berbeda fungsi, PAH dan phenol-red secara aktif disekresi

4
Ibid. hlm.219

8
terutama oleh ginjal kanan, sementara reabsorbsi glukosa nampaknya
terutama dilakukan oleh ginjal kiri.

b. Metanefridia

Metanefridium merupakan suatu pembuluh sempit yang tidak


bercabang, ujung sebelah dalam berbentuk corong terbuka kedalam rongga
selom. Metanefridia hanya dijumpai pada hewan yang memiliki selom
(misalnya Anelida) tetapi tidak berarti hewan yang memiliki selom pasti
memiliki metanefridia.

Fungsi metanefridium ( serng disebut nefridium sederhana) tidak


begitu jelas namun beberapa studi menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
cairan dari selom masuk kedalam nefridium melalui nefrostom yang
berbentuk corong. Cairan yang telah melewati saluran nefridium yang
panjang ini akan mengalami perubahan. Pada saat masuk ke nefridium,
cairan adalah isosmotic, tetapi garam-garam direabsorbsi pada akhir organ
ini, dan urin yang dikeluarkan adalah encer.

Nampak disini bahwa metanefridium berfungsi seperti ginjal


filtrasi reabsorbsi, dimana mula-mula cairan dibentuk secara ultrafiltrasi,
kemudian cairan mengalami reabsorbsi selama melewati pembuluh yang
urinferous.

c. Nefridium Moluska

Kelompok besar moluska adalah Cephalopoda (Oktopus dan cumi-


cumi), Bivalvia (kerang dll) dan gastropoda (keong). Octopus dan cumi-
cumi merupakan hewan laut, tetapi keong ada yang hidup didarat.

Fungsi ginjal telah dipelajari dengan baik pada semua anggota


kelompok ini. Pada semua anggota pembentukan urin dimulai dengan
ultrafiltrasi dar darah filtrat berisi zat-zat yang harus dibuang, tetapi juga
zat-zat yang masih berguna misalnya glukosa dan asam amino. Oleh
karena itu zat-zat yang masih berguna direabsorbsi dulu sebelum cairan
dibuang.

Disamping reabsorbsi zat-zat yang masih berguna, juga terjadi


sekresi aktif zat-zat khusus kedalam cairan urin pada bagian tubulus distal
dan pengumpul dari ginjal. Dua senyawa yang disekresikan secara aktif
pada berbagai ginjal (termasuk ginjal vertebrata) adalah asam
paraaminohipurat (sering disingkat PAH) dan zat warna phenol-red
(phenolsulfonphthalein). Satu aspek dari sekresi Moluska yang Nampak
agak khusus yaitu bahwa fungsi kedua ginjal tidak selalu sama (misalnya
pada Haliotis).

9
Beralasan bahwa suatu moluska laut, yang caran tubuhnya isotonic
dengan air laut dan tidak memiliki masalah dalam regulasi air, tidak
melakukan reabsorbsi air dalam ginjalnya. Hewan ini harus meregulasi
komposisi ionic dan mengekskresi sisa metabolic, dan dalam hal dua
ginjalnya berbeda fungsi, PAH dan phenol-red secara aktif disekresi
terutama oleh ginjal kanan, sementara reabsorbsi glukosa nampaknya
terutama dilakukan oleh ginjal kiri.

D. Kelenjar Antenal Crustacea


Organ renal pada Crustacea adalah kelenjar antennal atau kelenjar hijau.
Sepasang kelenjar terletak pada kepala, yang masing-masing terdiri dari suatu
kantung awal, yaitu suatu saluran ekskretori bergulung yang panjang dan suatu
kandung kencing, yang bermuara pada lubang ekskresitori dekat dasar antenna.
Oleh karena itu namanya adalah kelenjar antennal.
Urin dibentuk dalam kelenjar antenal melalu filtrasi dan reabsorbsi,
ditambah sekresi tubular. Ultrafltrasi dapat ditunjukkan dengan penyuntikan
inulin, yang kemudian muncul dalam urin. Lobster, suatu tipe Crustacea laut,
menghasilkan urin dengan konsentrasi inulin yang sama dengan darah, yang
menunjukkan bahwa air tidak reabsorbsi. PAH dan phenol-red, dijumpai dalam
urin dengan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan Dalam darah. Ini menunjukkan
bahwa PAH dan phenol-red diskresi dalam urin terjadi pula prose sekresi.
Berbeda dengan lobster, carcinus (kepitingpantai yang umum) melakukan
reabsorbsi air dari ultrafltrat. Carcinus merupakan osmoregulator yang baik dan
dapat bertahan didalam air payau. Konsentrasi inulin dalam urinnya mungkin
lebih banyak dari pada dalam darahnya, sebagai bukti terjadi reabsorbsi air dari
ultrafiltrat. Penjelasannya dalah bahwa reabsorbsi aktif dari natrum nampaknya
diikuti oleh reabsorbsi paif dari air. Hasilnya dalah bahwa kandungan natrium
dalam urin lebih rendah dari dalam darah.

10
(gambar kelenjar antenal pada udang)

Pada Crustacea laut, kelenjar antenal bekerja menahan kalium dan


kalsium, serta mengeluarkan magnesium dan sulfat. Konsentrasi magnesium urin
sangat bervariasi, tetapi cenderung meningkat secara substansial bila kepiting
dipindah ke air laut. Ini bukti bahwa magnesium secara aktif ditranspor kedalam
urin pada saat urin berada dalam kantung kencing dan bahwa konsentrasinya
menigkat sewaktu urin dibiarkan dalam kantung kencing.
Suatu perbandingan antara Gammarus pulex, suatu Amphipoda air tawar
dan Gammarus duebeni, Amphipoda air payau, menampakkan suatu perbedaan
yang menarik G. pulex air tawar menghasilakn urin yang sangat encer dan bahkan
mungkin lebih encer dari pada mediumnya. Ini berarti bahwa hewan mampu
membuang kelebihan air yang masuk , konsentrasi urinnya lebih pekat (mendekati
konsentrasi darahnya). Hewan ini tidak mampu membentuk urin yang sangat
encer, yang berarti memerlukan energy tambahan untuk mengganti zat terlarut
dalam urin yang hilang. Pada air tawar ini dapat bertahan, tetapi tidak mampu
bersaing dengan G. pulex.

E. Saluran Malpighi Serangga5


Sistem ekskresitori serangga terdiri dari saluran-saluran, yang dikenal
sebagai saluran Malpighi, yang jumlahnya berkisar dari dua sampai beberapa
ratus. Setiap saluran bermuara ke intestine, pada perbatasan antara usus tengah
dengan usus belakang, ujung lain yang buntu pada kebanyakan serangga terletak
dalam hemocoele. Beberapa serangga, khususnya kumbang yang makan
makanan kering (misalnya kumbang tepung, Tenebro), memiliki suatu susunan
khusus saluran Malpighi yang berhubungan dengan kemampuan luar biasa dalam
menarik air dari kotoran. Ujung saluran yang buntu terletak sangat dekat dengan
rectum keseluruhan struktur dikelilingi oleh suatu membrane (membrane
perirectal). Rongga yang dibentuk oleh membrane ini terisi dengan cairan
perirectal, yang mengelilingi baik saluran Malpighi maupun epithelium rektal,
tetapi dipisahkan dari semolimfa umum.

5
Ibid. hlm.221

11
(gambar saluran malpighi pada serangga)

Kerja saluran Malpighi adalah sebagai berikut: kalium dikeluarkan secara


aktif kedalam lumen saluran Malpighi dan air mengikuti secara pasif, karena
kekuatan osmosis. Hasilnya, terbentuk cairan yang kaya kalium yang berlebihan
dalam salurakhir. Dalan. Cairan in isotonic dengan daerah, tetapi memiliki
komposisi yang sangat berbeda. Ini sangat kontras dengan ginjal manusia, dimana
cairan urinarin primer adalah hasil ultrafiltrasi dar plasma darah.
Didalam saluran Malpighi cairan dirubah oleh proses sekresi dan
reabsorbsi. Cairan kemudian masuk ke usus akhir. Dalam usus akhir zat terlarut
dan kelebihan air reabsorbsi, dan asam urat (yang masuk cairan sebagai kalium
urat yang terlarut dalam ar) diendapkan. Ini memudahkan penarikan air lebih
lanjut. Yang tersisa dalam rectum adalah campuran urin dan feses.
Serangga yang hidup pada vegetasi berair, makan makanan dengan
kandungan air yang tinggi dan mengekskresikan urin yang berlebihan. Serangga
yang hidup pada makanan kering dapat menghasilkan ekskret yang sangat kering.
Larva kumbang tepung (Tenebrio molitor) misalnya, menghabiskan keseluruhan
siklus hidupnya dalam tepung kering.

F. Ginjal Vertebrata6
Ginjal semua vertebrata: ikan, amfibi, reptile, burung dan mamalia, dalam
hal prinsip-prinsisp fungsi filtrasi reabsorbsi dan sekresi tubular adalah sama.
Beberapa ikan teleostei berbeda dari pola umum ini, yaitu dalam pembentukan
urin tidak menggunakan mekanisme ultrafiltrasi, tetapi keseluruhannya hanya
dengan mekanisme sekresi tubular.

6
Ibid. hlm.223

12
(gambar struktur ginjal)

Ada keuntungan dan kerugian mekanisme filtrasi. Ultrafiltrat primer


mengandung semua senyawa yang ada dalam darah, kecuali zat-zat yang
bermolekul besar, misalnya protein. Banyak senyawa yang difiltrasi masih
berguna bagi hewan (misalnya glukosa, asam amino, vitamin) dan senyawa
tersebut tidak boleh dibuang oleh karena itu zat-zat tersebut harus direabsorbsi.
Ginjal filtrasi reabsorbsi dapat memproses cairan dalam jumlah besar, dan
sering lebih dari 99% volume yang difilter direabsorbsi dan kurang dari 1%
diekskresikan sebagai urin. Ditinjau dari kerja reabsorbsi tersebut, rupanya ginjal
yang hanya melakukan sekresi tubular lebih maju, sebab menghemat energy untuk
kerja reabsorbsi.
Semua vertebrata dapat memproduksi urin yang isotonic atau hipotonik
terhadap darah, tetapi hanya burung dan mamalia dapat memproduksi urin yang
hipertonik terhadap cairan tubuh. Pada kan tawar, kelebihan air dibuang sebagai
urin yang encer. Hewan air laut tidak dapat membuang kelebihan garam sebagai
urin encer atau urin isotonic, tetapi dikeluarkan melalui organ ekskresitori garam
tambahan (misalnya insang, kelenjar rektal, kelenjar garam). Mamalia laut
memiliki ginjal dengan perkecualian kemampuan mengkonsentrasi urin dan
hewan ini mengatasi masalah garam dengan ginjal ekskresi. Untuk mamalia darat
kemampuan memproduksi urin yang kental adalah sangat penting untuk menjaga
keseimbangan air. Kemampuan burung dan reptile mengekskresikan asam urat,
memungkinkan menghasilkan urin setengan padat.

G. Nefron Sebagai Unit Fungsional Ginjal

13
Ginjal semua vertebrata terdiri atas unit-unit fungsional yang disebit
nefron. Ikan kecil hanya memiliki beberapa puluh nefron, sedangkan mamalia
besar, pada setiap ginjalnya mengandung sampai beberapa juta nefron.
Pada manusia setiap ginjal tersusun atas sekitar satu juta nefron. Nefron
merupakan unit fungsional ginjal, yaitu unit paling kecil didalam ginjal yang
mampu melakukan fungsi ginjal, yaitu membentuk urin, dan dengan fungsi
tersebut nefron juga memelihara kekonstanan komposisi cairan ekstraseluler
tubuh.
Berdasarkan letaknya didalam ginjal, nefron dapat dibedakan antara
nefron korteks dan nefron juxtamedulla. Nefron korteks terletak dibagian korteks,
pada umumnya ditandai dengan adanya saluran henle yang pendek. Nefron
medulla mempunyai glomerulus yang letaknya dibagian korteks dekat bagian
medulla. Selain itu juga mempunyai saluran henle yang panjang yang menjulur
jauh ke bagian medulla. Anatomi suatu nefron dapat dilihat pada gambar.

(gambar struktur anatomi nefron)

Setiap nefron terdiri atas: (1) unsur pembuluh (vascular component) dan
(2) unsur pembuluh tubular (tubular component). Secara struktual dan fungsional,
keduanya sangat berhubungan. Unsur pembuluh adalah bagian nefron yang
merupakan pembuluh darah yairu: arteriol aferen, glomerulus, arteriol eferen, dan
kapiler peritubular. Arteriol aferen berfungsi membawa darah ke glomerulus.
Glomerulus merupakan suatu jaringan kerja dari dua pilih sampai 40 kapiler, yang
berfungsi memfilter air dan zat terlarut dari darah melintasi dinding kapiler.
Cairan yang difilter tersebut susunannya mirip dengan plasma darah, kemudian
mengalir didalam unsur tubular dan nefron dan mengalami berbagai proses

14
transport untuk diubah menjadi urin. Arteriol aferen membawa darah dari
glomerulus dan mengalirkannya kekapiler tubular. Kapiler tubular berfungsi
memasok darah kejaringan ginjal dan berperan penting dalam pertukaran zat
antara sistem tubular dengan darah selama pengubahan filtrate glomerulus
menjadi urin. Oleh karena itu kapiler peritubular berjalan pararel dengan unsur
tubular.

Unsur-unsur (unsur epitel) adalah bagian nefron yang berupa pembuluh


yang berisi cairan, yang dindingnya tersusun atas satu lapis sel-sel epitel. Unsur
tubular terdiri atas: Kapsula Bowmans, tubulus proksimal, saluran Henle yang
terdiri atas saluran turun dan saluran naik, tubulus distal dan saluran penampung.
Kapsula bowmans merupakan ujung permulaan dari tubulus proksimal
yang meluas dan melekuk kedalam sehingga membentuk lekukan seperti
mangkuk berdinding rangkap. Didalam lekukan seperti mangkuk ini tersimpan
glomerulus. Karena hubungan yang sangat erat antara glomerulus dan kapsula
bowmans, struktur ini secara bersama-sama disebut korpuskel ginjal. Semua
korpuskel ginjal berada dalam bagian korteks ginjal, yang kalau diamati akan
Nampak seperti granula-granula pada korteks tersebut. Dari kapsula bowman
filtrate glomerulus masuk kedalam tubulus proksimal yang terletak sebagian besar
didaerah korteks, berkelok-kelok didaerah korteks.

(gambar )

Bagian berikutnya adalah saluran henle, suatu saluran berbentuk huruf U


yang berada didaerah medulla. Garis tengah saluran henle lebih kecil dari pada
garis tengah tubulus proksimal maupun tubulus distal. Saluran naik dari saluran
henle menuju kearah korteks dan bersambung dengan tubulus distal yang juga

15
bekelok-kelok didaerah korteks. Tubulus distal ini kemudian barmuara kesaluran
penampung.

H. Pembentukan Urin pada Vertebrata 7


Pembentukan urin pada vertebrata melalui 3 prose yaitu (1) ultrafiltrasi
glomerular, (2) Reabsorbsi tubular, dan (3) Sekresi tubular

(gambar skema proses filtrasi, sekresi dan reabsobsi pada nefron )

a) Ultrafiltrasi
Pembentukan urin dimulai dari proses ultrafiltrasi yang berlangsung
didalam glomerulus. Ultrafiltrasi adalah proses pemindahan plasma darah
(kecuali sel-sel darah dan protein molekul besar) dari glomelurus menuju
keruang kapsual Bowman dengan menembus membrane filtrasi. Membrane
filtrasi tersusun atas 3 lapisan, yaitu lapisan sel endothelium glomerulus,
membrane kapiler, dan epitel kapsula Bowman, namun demikian membrane
filtrasi merupakan membrane yang relative tipis.

7
Ibid. hlm.226

16
(gambar proses ultrafiltrasi yang berlangsung didalam glomerulus)

Ultrafiltrasi terjadi karena adanya tekanan filtrasi yang merupakan


selisih tekanan darah kapiler glomerular dengan tekanan osmotic koloid darah
dan tekanan hidrostatik cairan dalam kapsula bowman. Bila tekanan filtrasi
disingkat TF, tekanan darah glomerular = TG tekanan osmotic koloid = TO,
tekanan hidrostatik kapsula Bowman =THB, maka tekanan filtrasi dapat
disrumuskan sbb.
TF= TG (TO + THB)
Tekanan darah dalam kapiler glomerular diperkirakan sekitar 55
mmHg, yang merupakan tekanan kapiler yang jauh lebih tinggi dari pada
tekanan kapilar dibagian tubuh yang lain. Tekanan kapiler glomerular ini akan
dihambat oleh adanya tekanan osmotic koloid darah (yang disebabkan oleh
protein plasma), dan tekanan hidrostatik yang ditimbulkan oleh cairan yang
ada dalam kapsula Bowman. Tekanan osmotic koloid ini besarnya sekitar 30
mmHg. Tekanan hidrostatik cairan dalam kapsula Bowman diperkirakan
sebesar 15 mmHg. Dengan demikian tekanan filtras netto adalah sebesar
22-35-10 = 10 mmHg. Suatu tekanan yang cukup kuat untuk mendorong
ultrafiltrat melintasi membrane filtrasi masuk ketubulus nefron.
Disamping disebabkan oleh tekanan filtrasi, ultrasfiltrasi masih
ditunjang oleh factor-faktor lain, yaitu (1) permukaan filtrasi yang luas
(kapiler glomerulus banyak), (2) penampang arteriol aferen lebih kecil dari
pada arterol aferen (memberikan tahanan darah pada glomerulus), dan (3)
membrane filtrasi yang relatf tipis dengan pori-pori yang relative banyak.
Pada manusa, secara normal kecepatan fltrasi glomerular mencapai
120 ml per menit, dan ultrafiltrat yang terbentuk setiap hari rata-rata adalah

17
200 liter, sedangkan urin yang dikeluarkan hanya sekitar 1,5 liter sampai 2
liter perhari. Oleh karena itu harus ada mekanisme tertrntu yang mengubah
filtrate menjadi urin. Jadi harus ada mekanisme tertentu untuk menarik 198,5
liter cairan kesirkulasi darah.
b) Reabsorbsi Tubular8
Reabsorbsi tubular merupakan proses perpindahan cairan dari tubulus
renalis menuju darah dalam kapiler peritubular (lihat gambar 9.6). filtrate
glomerular mengandung zat-zat seperti terdapat dalam plasma kecuali protein
darah yang berukuran besar yang tidak dapat menembus dinding kapiler
glomerulus. Beberapa zat penting seperti glukosa asam amino seluruhnya
mengalami reabsorbsi. Zat lain seperti Natrium, klorida, dan kebanyakan
mineral mengalami reabsorbsi yang bervariasi. Ini berarti bahwa beberapa zat
direabsorbsi dengan kuat, yang lain lebih lemah, tergantung pada kebutuhan
tubuh untuk mengkonversi setiap mineral. Banyak diantara reabsorbsi ini
merupakan transport aktif yang menggunakan energy untuk mentranspor zat
dari cairan tubular melintasi sel, masuk kedalam darah peritubular yang
mengembalikannya kedalam sirkulasi umum.

(gambar reabsorbsi garam pada tubulus proksimal)

Untuk kebanyakan zat padat terdapat batas maksimum jumlah zat


yang dapat direbsorbsi, ialah maksimum transport untuk zat tersebut.
Misalnya, glukosa biasanya direabsorbsi seluruhnya oleh tubulus ginjal
karena maksimum transport untuk mekanisme reabsorbsi glukosa lebih tinggi
dari pada jumlah glukosa yang bisasa terdapat didalam filtrate glomerular.
8
Ibid. hlm.228

18
Tidak seperti glukosa, kebanyakan ion mineral diekskresikan dalam
urin dengan jumlah yang bervariasi (ekskresinya dkendalikan). Sebagai
contoh, reabsorbsi matrium (kation yang dominan dalam plasma), yang
memberikan gambaran tentang fleksibilitas proser reabsorbsi (gambar 9.7).
setiap 12 jam misalnya, terdapat 600 g natrium yang difilter oleh gijal
manusia. Hampir seluruhnya direabsorbsi, tetapi beberapa tepatnya
tergantung pada pemasukan natrium yang sangat banyak, ginjal hanya dapat
mengekskresikan maksimum kira-kira 10 g natrium tiap hari.
Urutan filtrasi reabsorbsi ternyata mempunyai keterbatasan internal
dalam fleksibilitasnya. Natrium dan ion-ion lain direabsorbsi dibagian
proksimal maupun dari distal dari tubulus nefron. Sekitar 85% garam dan air
direabsorbsi dibagian proksimal ini merupakan reabsorbsi wajib, karena
seluruhnya ditentukan oleh proses fisika (tekanan osmotic zat terlarut) dan
tidak dikendalikan secara fisiologis.
Reabsorbs natrium dibagian distal dikendalikan oleh aldosterone,
suatu hormone steroid dari korteks anak ginjal. Ini disebut reabsorbsi
fakultatif, yang berarti bahwa reabsorbsi itu dapat disesuaikan secara
fisiologis menurut kebutuhan. Fleksibilitas reabsorbsi distal bervariasi untuk
hewan berlainan, pada manusia fleksibilitas itu terbatas, tetapi pada Rodensia
amat longgar. Ini merupakan salah satu alasan mengapa rodensa mampu
beradaptasi dengan lingkungan yang sangat kering.

(mekanisme reabsorbsi garam natrium dalam tubulus


ginjal)

c) Sekres tubular9

9
Ibid. hlm.231

19
Selain mereabsorbsi zat-zat dalam jumlah besar dari filtrate plasma,
tubulus gnjal juga dapat mensekresikan zat-zat tertentu kedalam cairan
tubular. Proses ini merupakan kebalikan dari reabsorbsi tubular,
memungkinkan ginjal meningkatkan konsentrasi zat-zat yang disekresikan,
misalnya H+ dan K+, obat-obatan dan berbagai zat organic asing. Tubulus
distal merupakan tempat berlangsungnya sebagian besar sekresi tubular.
Pada ginjal ikan bertulang keras, reptile dan burung sekresi tubular
merupakan proses yang lebih berkembang dibandingkan dengan pada ginjal
mamalia. Ikan laut bertulang keras mensekresikan secara aktif magnesium
dan sulfat dalam jumlah besar, yang merupakan hasl sampingan dari cara
hewan itu melakukan osmoregulasi. Reptile dan burung mengekskresikan
asam urat dan bukan urea sebagai sisa nitrogen utama. Zat inii disekresikan
secara aktif oleh epitelium tubular, karena asam urat hampir tidak larut, zat ni
membentuk Kristal-kristal di dalam urin dan memerlukan sedikit air untuk
ekskresi. Jadi ekskresi asam urat merupakan adaptasi penting untuk
konservasi air.

I. Pengaturan Air dan Elektron10


a) Pengaturan air
Tekanan osmotic darah diatur oleh ginjal. Jika pemasukan air kedalam
tubuh banyak, ginjal akan mengekskresikan air dan menahan garam-garam,
sehingga dihasilkan urin yang encer. Kalau pemasukan air sedikit, ginjal akan
menahan air dengan membentuk urin yang pekat. Dalam keadaan sangat
kehausan, manusia dapat memperpekat urinnya sampai kira-kira empat kali
konsentrasi osmotik darah.

10
Ibid. hlm.231

20
(mekanisme konsentrasi urin)

Kemampuan ginjal mamalia dan beberapa burung untuk menghasilkan


urin yang pekat bersangkutan dengan peranan saluran Henle, yang dapat
merupakan sistem pelipat arus berlawanan (counter current multipler system).
Aliran dalam dua saluran Henle (bagian turun dan bagian naik) memang
berlawanan arah. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bagan saluran Henle
turun lebih permeable terhadap NaCl dan air, sedangkan bagian naik relative
tidak permeable terhadap air dan garam. Bagian saluran Henle naik
mentranspor aktif NaCl keluar menuju cairan jaringan disekitarnya, karena
bagian pipa Henle turun lebih permeable terhadap garam dan air, maka NaCl
yang dikeluarkan secara aktif oleh pipa naik, secara pasif masuk kembali
kedalam bagan saluran Henle turun. Dengan gerakan natrium antara kedua
bagian pipa Henle seperti itu, konsentrasi urin pada dasar saluran Henle
maupun konsentrasi cairan jaringan disekitarnya dapat berlipat ganda.
Air direabsorbsi secara pasif (osmosis) di sepanjang tubulus renalis.
Dari seluruh air difilter 65% direabsorbsi ditubulus proksimal dan 15%
disaluran Henle, sedangkan 20% ssanya direabsorbsi ditubulus distal dan
saluran pengumpul. Reabsorbsi pada tubulus distal dan saluran pengumpul ini
dikendalikan oleh hormone antideuretk (vasopressin) yang dihasilkan oleh
neurohipofisis. Pembebasan hormone ditentukan oleh keadaan perubahan
tekanan darah akibat dari perubahan kadar air darah.
Jika tekanan osmotic darah naik, misalnya dalam keadaan kehausan,
sekresi ADH meningkat. ADH meningkat permeabilitas pipa pengumpul itu.

21
Hasilnya ialah bahwa air berdifusi keluar dari pipa pengumpul, masuk kedalam
cairan interstisial disekitarnya. Urn kehilangan air sehingga menjadi lebih
pekat.
Sebaliknya apabila dalam tubuh terdapat terlalu banyak air (misalnya
banyak minum), sekresi ADH berkurang, pipa pengumpul menjadi relative
impermeable, air banyak tertahan dalam urin, sehingga dihasilkan urin yang
encer.
Kemampuan mamalia mensekresikan urin yang pekat berhubungan
dengan panjang pendeknya saluran Henle. Mamalia yang hidup dilingkungan
akuantik (misalnya lingsang) dan tidak perlu mengkonservasi air, mempunyai
saluran Henle yang pendek, dan hanya dapat memperpekat urinnya menjad
hanya sekitar dua kali kepekatan plasma darahnya. Manusia yang memiliki
saluran Henle relative panjang, dapat memperpekat urinnya sampai 4,2 kali
kepekatan darahnya. Sedangkan yang paling mampu memperpekat urinnya
adalah mamalia gurun, misalnya unta dapat menghasilkan urin dengan
kepekatan 8 kali kepekatan darahnya, gerbil (sejenis tikus gurun) dapat
memperpekat sampai 14 kali, dan tikus gurun diaustralia sampai 22 kali.
Seperti sudah dikemukakan didepan, tikus gurun hampir tidak pernah minum,
juga tidak mendapatkan air dari makanannya, sebagian besar air dalam
tubuhnya adalah air metabolic.
b) Pengaturan Elektrolit11
Elekrolit adalah zat yang apabila dilarutkan kedalam air akan
mengalami disosiasi menjadi kation (ion positif) dan anion (ion negatf). Ion-
ion tersebut masuk ketubuh sebagai makanan yang dimakan. Anion dan kation
utama yang penting dalam cairan tubuh adalah Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, HCO3-
dan PO4-3.

11
Ibid. hlm.233

22
(komposisi elektrolit dalam tubuh)

untuk menunjang fungsi sel-sel tubuh secara optimal maka keberadaan


ion-ion tersebut dalam cairan tubuh harus dijaga agar selalu dalam rentangan
yang konstan. Perubahan kadar salah satu ion saja dapat menimbulkan suatu
perubahan fungsi tubuh secara drastic. Misalnya kadar K+ yang terlalu rendah
didalam cairan ekstraseluler akan dapat menyebabkan potensial membrane
saraf dan sel otot menjadi tinggi (membrane mengalami hiperpolarisasi) yang
menyebabkan paralisis. Kadar Ca++ dalam cairan ekstraseluler yang tinggi akan
menyebabkan permeabilitas membrane sel turun d
dan sebaliknya bila kadar Ca++ dalam cairan ekstraseluler rendah, maka
permeablitas membrane sel akan nak kembali.
Peranan Mg++ yang sesungguhnya belum diketahui secara pasti, tetapi
kadar ion Mg++dalam cairan ekstraseluler yang meningkat akan menekan fungsi
saraf. Rupanya fungsi Cl-, HCO3-, SO4- dan NO3- dapat saling digantikan,
artinya kekurangan salah satu anion tersebut dapat digantikan oleh yang lain
tanpa menyebabkan perubahan fungsi sel yang berarti. PO 4 memiliki peranan
yang agak luas, misalnya bila kadarnya rendah dapat mengganggu proses
klorifikasi tulang sebabreaksi PO4-3 dan Ca++ akan membentuk garam tulang
(Ca3(PO4)2) disamping itu PO4 juga dibutuhkan untuk memelihara reaksi kimia
yang konstan dalam sel.
c) Pengaturan Kadar Na+12
Ion Na merupakan kation yang kadarnya dalam cairan ekstraseluler
paling tinggi, yaitu sekitar 90% dari keseluruhan katon yang ada dalam cairan
ekstraseluler. Dari keseluruhan Na+ yang berada dalam filtrate glomerulus, rata-
12
Ibid. hlm.234

23
rata 99,5%direabsorbsi dan sekitar 0,5%nya disekresikan lewat urin.
Reabsorbsi Na+ dilakukan secara aktif diseluruh bagian tubulus renalis.
Sistem hormone yang terlibat dalam pengaturan Na + adalah mekanisme
reninangiotensin aldosterone, yang menstimulus reapsorbsi Na+ pada tubulus
distal dan saluran pengumpul. Bila Na+ dalam cairan ekstraseluler meningkat
diatas normal memakan kelebhan H2O sehingga volume cairan ekstraseluler
membesar. Sebaliknya bila Na+ dalam cairan ekstraseluler turun dibawah
normal, maka aktivitas osmotic cairan ekstraseluler juga menurun, akibatnya
air lebih sedikit dapat ditahan, sehinga volume cairan ekstraseluler juga
mengecil. Perubahan volume ini akan diikuti dengan perubahan tekanan darah.
Bila volume caran ekstraseluler turun maka tekanan darah naik, dan
sebaliknya.
Sel-sel granular dari juxtaglomerular mensekresikan suatu hormone,
yaitu renin kedalam darah sebagai respon terhadap penurunan NaCl
(penurunan volume cairan ekstraseluler). Renin yang disekresikan tersebut
akan mengaktifkan angiotensinogen menjadi angiotensin I. Angiotensinogen
adalah protein plasma yang disintesis oleh hati dan selalu berada dalam plasma
pada konsentrasi yang tinggi. Pada saat melewati paru-paru, angiotensin I
diubah menjadi Angiotensin II oleh enzim pengubah (converting enzyme) yang
melekat pada kapiler pulmonary. Angiotensin merupakan stimulus utama untuk
dibebaskannya aldosterone dan kelenjar adrenal. Aldosterone tersebut akan
mempengaruhi peningkatan reabsorbsi Na+ oleh tubulus distal dan saluran
pengumpul, selanjutnya menigkatkan kembali Na+ oleh cairan ekstraseluler.
Jadi secara kesluruhan mekanisme renin angiotensin aldosterone akan
meningkatkan retensi NaCl dan suatu resultan H2O dan meningkatkan tekanan
darah arterial.

d) Pengaturan Kadar K+
Seperti Na+, maka K+ secara berkesinambungan direabsorbsi oleh
tubulus renalis. Kalau aldosterone berpengaruh meningkatkan reabsorbsi Na+ ,
maka pada waktu yang bersamaan reabsorbsi K + menurun. Kadar K+ yang

24
meningkat dalam cairan ekstraseluler merupakan suatu rangsang yang
menyebabkan sekresi aldosterone meningkat. Peningkatan sekresi aldosterone
akan meningkatkan reabsorbsi Na+ namun menurunkan reabsorbsi K+ dar arteri
peritubular kedalam tubulus distal. Dengan mekanisme ini maka kadar K+ yang
berlebihan dalam cairan ekstraseluler dapat dicegah.
e) Pengaturan Ion Ca
Kadar Ca++ terutama dikendalikan oleh paratormon yang dhasilkan oleh
kelenjar paratiroid. Hormone ini mestimulus peningkatan konservasi Ca ++ dan
eliminasi PO4-3 oleh ginjal selama pembentukan urin. Dibawah pengaruh
hormone paratormon, ambang renal untuk Ca++ ditingkatkan sehingga lebih
banyak Ca++ yang direabsorbsi dari pada yang terbuang lewat urin. Hal ini
mempengaruhi peningkatan Ca++ plasma dan menurunkan terbuangnya Ca++
lewat tarn.
Bersamaan dengan stimulasi reabsorbsi Ca++, hormone paratomon
juga meningkatkan ekskresi urinary PO4-3 melalui penurunan reabsorbsi PO4-3
jadi hormone paratormon menyebabkan suatu penurunan PO 4-3 plasma
bersamaan dengan peningkatan konsentrasi Ca++ plasma.
Hormone paratomon yang menyebabkan perpndahan PO4-3 dari cairan
tubuh penting untuk melindungi hilangnya Ca++ dari tulang. Karena
karakteristk kelarutan garam kalsium fosfat, maka hasil kali konsentrasi Ca ++
plasma dengan PO4-3 plasma, maka bila tingkat PO4-3 plasma meningkat,
beberapa Ca++ plasma dtekan kembali ke dalam tulang melalui pembentukan
Kristal hidroksiapatite, sehingga mengurangi tingkat Ca++ plasma dan
menjaga produk kalsium fosfat tetap. Hubungan timbal balik terjadi k arena ion
bebas dalam cairan ekstraseluler dalam keseimbangan dengan Kristal tulang.

J. Ekskresi Nitrogen13
Kebanyakan makanan yang dinamakan hewan mengandung tiga zat
makanan utama: lemak, dan protein (ditambah sejumlah kecil asam nukleat).
Hasil akhir dari metabolism karbohidrat dan lemak adalah karbondioksida dan
air. Protein dan asam nukleat menghasilkan produk ekskretori yang

13
Ibid. hlm.237

25
mengandung nitrogen sederhana. Tiga senyawa ekskresitori yang mengandung
nitrogen tersebut adalah ammonia (NH3, urea (CH4ON2) dan asam urat
(C5H4O3N4).
Bila asam amino dimetabolisme, kelompok amino (-NH 2) dipindah
melalui proses deaminasi dan membentuk ammonia (NH3). Ammonia
dekskresikan tanpa perubahan oleh kebanyakan hewan, biasanya oleh
invertebrate akuatik, tetapi oleh beberapa hewan, ammonia tersebut disintetis
menjadi urea, dan oleh hewan yang lain menjadi asam urat sebelum
diekskresikan.

(gambar produk ekskresi nitrogen utama yang digunakan oleh hewan)

a) Amonotelik
Kebanyakan hewan invertebrate aquatic mengekskresikan ammonia
sebagai hasil akhir metabolism protein. Karena sifat kelarutannya yang tinggi
dan ukuran molekulnya kecil, ammonia berdifusi secara sangat cepat.
Ammonia dapat dihilangkan (dibuang) melalui setiap permukaan yang
bersentuhan dengan air dan tidak memerlukan diekskresikan oleh ginjal. Pada
ikan teleostei kebanyakan nitrogen diekskresikan sebagai ammonia melalui
insang. Pada ikan karper dan ikan mas, insang mengekskresikan 6 sampai 10
kali nitrogen lebih banyak dari yang diekskresikan oleh ginjal, dan hanya 10%-
nya adalah urea, sisanya adalah ammonia. Pada umumnya protozoa, porifera,

26
coelenterate, platihelminthes dan Crustasease merupakan hewan amonotelik.
Larva amfibia mengekskresikan ammonia, sedangkan buaya selain
mengekskresikan ammonia juga sedikit asam urat. Nampak dari uraian diatas
bahwa semua hewan amonotelik adalah hewan aquatic.
b) Ureotelic
Habitat hewan ureotelic adalah akuatik atau terrestrial. Urea mudah
larut dalam air dan memiliki toksisitas rendah. Teleostei mengekskresikan
terutama ammonia dan sejumlah urea, sedangkan Elasmobranchia, Amfibia
dewasa dan mamalia produk ekskresi nitrogenous utamanya adalah urea.

Pada Elasmobranchia (hiu dan ikan pari), katak pemakan kepiting, dan
pada Latemeria urea dipertahankan dan berperan utama dalam pengaturan
osmotic, sehingga merupakan suatu produk metabolic yang bernilai. Urea
difilter dan glomorelus dari ginjal Elasmobranchia, tetapi karena urea penting
dalam osmoregulasi, tidak boleh hilang lewat urin. Oleh karena itu pada
Elasmobranchia urea dipertahankan melalui reabsorbsi tubular secara aktif.
Pada amfibia keadaannya berbeda. Urea difilter, tetapi disamping itu sejumlah
zat ditambahkan keurin melalui sekresi tubular aktif.

27
Jad Elasmobranchia dan amfibia memiliki transport tubular aktif dari
ure, tetapi transport arahnya berlawanan pada dua kelompok hewan tersebut.
Ini merupakan contoh penting bahwa suatu fungsi fisiologkal dapat muncul
secara independen pada dua kelompok dan untuk mencapai akhir yang sama
tidak harus dengan mechanism yang sama.
Katak pemakan kepiting yang juga mempertahankan urea untuk
pengaturan air tubuh, tidak menunjukkan aktivitas reabsorbsi tubular aktif dari
urea. Katak jenis ini memiliki produksi urin yang rendah dan tubulus ginjalnya
sangat permeable terhadap urea. Oleh karena itu urea berdifusi dari cairan
tubular kembali kedalam darah dan muncul dalam urin dengan konsentrasi
yang hampir sama dengan darah. Karena volume urin rendah pada saat berada
dalam air laut, maka hanya sedikitb urea yang dibuang melalui urin.
Konsep umum ekskresi urea pada ginjal mamalia yaitu urea difilter
dalam glomerulus dan kemudian dipertahankan secara pasif oleh tubulus,
meskipun sejumlah urea karena kemampuan berdifusinya tinggi masuk
kembali kedalam darah secara difusi pasif.
c) Uricotelik14
Hewan uricotelik umumnya adalah terrestrial. Termasuk hewan
uricotelik dalah insekta, Gastropoda darat, kadal, ular dan burung.
Pembentukan asam urat dapat dipandang sebagai keberhasilan adaptasi
terhadap konservasi air pada habitat terrestrial. Karena kelarutan asam urat dan
garam-garamnya sangat kecil (sekitar 6mg perliter air), maka penarikan air dar
urun menyebabkan asam urat dan garam-garamnya lebih padat.
Warna putih setengah padat pada kotoran burung adalah urin yang
tersusun terutama atas asam urat, sangat sedikit air digunakan untuk ekskresi
produk ekskresitori nitrogenous pada hewan-hewan ini. Beberapa serangga
melakukan pengurangan (reduksi) pada air urinnya yang hilang sehingga
serangga tidak mengekskresikan asam urat dan urea, dan buaya
mengekskresikan terutama ammonia. Keadaan ini baik untuk
menggeneralisasikan bahwa bentuk ekskresi ini.

K. Pengertian Osmoregulasi

14
Ibid. hlm.239

28
Komponen utama penyusun tubuh hewan adalah air, yang jumlahnya
mencapai 60-95 % dari berat tubuh hewan15. Air tersebar pada berbagai bagian
tubuh, baik di dalam sel (sebagai cairan intra sel : CIS) maupun diluar sel (sebagai
cairan ekskresi : CES). CES sendiri tersebar pada bagian tubuh, contohnya plasma
darah dan cairan serebrospinal. dalam CES terlarut berbagai macam zat, meliputi
berbagai ion dan sari makanan, sisa obat, hormon, serta zat sisa metabolisme sel
seperti urea dan asam urat. konsentrasi setiap jenis zat dalam cairan tubuh dapat
berubah setiap saat, tergantung pada berbagai faktor.
sekalipun demikian, hewan harus mampu mempertahankan keseimbangan
antara jumlah air dan zat terlarut pada tingkatan yang tepat. Mekanisme untuk
mengatur jumlah air dan konsentrasi zat terlarut disebut osmoregulasi. Jadi,
osmoregulasi adalah proses untuk menjaga keseimbangan antara jumlah air dan
zat terlarut yang ada dalam tubuh hewan.
1. pentingnya osmoregulasi bagi hewan
Proses inti dari osmoregulasi yaitu osmosis. Osmosis adalah pergerakan
air dari cairan yang mempunyai kandungan air lebih tinggi menuju ke cairan
yang mempunyai kandungan air lebih rendah. Istilah isotonis sering digunakan
untuk menyebutkan dua macam larutan yang mempunyai tekanan osmotik
sama. Dalam kajian osmoregulasi, istilah tersebut sering kali dignakan pada
saat membahas tekanan osmotik dua macam cairan. Misalnya , tekanan
osmotik pada cairan di dalam dan diluar sel atau atara cairan tubuh dan air laut.
osmoregulasi dapat dilukiskan pada gambar dibawah ini.

15
Isnaini, wiwit.2006. Fisiologi hewan. Yogyakarta : kanisius. Hal 242

29
(gambar konseptual tekanan osmotik. dalam keadaan demikan air akan bergerak dari kiri ke
kanan hingga konsentrasi kedua belah pihak sama/seimbang(Kay Ian. 1998.
Introduction to Animal Physiology. United Kingdom: BIOS Scientific Publishers Ltd.
))

Konsep tekanan osmotik dapat menimbulkan kebingungan sehingga


sebagian orang lebih suka menggunakan istilah konsentrasi osmotik. jika suatu
laurtan memiliki konsentrasi osmotik lebih tinggi, tekanan osmotiknya juga lebih
tiggi. Larutan yang mempunyai konsentrasi osmotik lebih tinggi dari pada larutan
yang lain disebut larutan hiperosmotik. sebaliknya, larytan yag memilik
konsentrasi osmotik rendah dari pada larutan lainnya dinamakan larutan
hipoosmotik. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua hewan
dapat melakukan osmoregulasi dengan baik. Hewan yang mampu melakukan
osmoregulasi denganbaik disebut hewan osmoregulator. Apabila todak mampu
mempertahankan tekanan osmotik di dalam tubuhnya, hewan harus melakukan
berbagai penyesuaian agar dapat bertahan ditempat hidupnya. hewanyang
memperlihatka kemampuan demikian disebut hewan osmokonformer.
setiap jenis lingkungan memberikan berbagai faktor pendukung khas bagi
hewan yang hidup di dalamnya, sekaligus mengandung ancaman tertentu yang
dapat membahyakan kehidupan hewan16. Demikan pula, kemampuan dan jenis
organ tubuh yang dimiliki setiap hewan pun berbeda. oleh karena itu, mekanisme
osmoregulasi yang dilakukan hewan juga berbeda-beda, dan menunjukkan adanya
variasi yang sangat luas. Hal yang pasti ialah bahwa cara yang dilakukan hewan
sepenuhnya tergantung pada kemampuan dan alat/organ osmoregulasi yang
dimiliki, serta keadaan lingkungan masing-masing.
L. Lingkungan hidup hewan
Pada dasarnya lingkungan hidup hewan dapat dibagi menjadi lingkunagn
air da lingkungan darat. Lingkungan air masih dibedakan lagi menjadi lingkungan
air laut dan lingkungan air tawar. Sedikit sekali hewan darat yang benar-benar
telah meninggalkan lingkungan air. Misalnya serangga dan beberapa hewan darat
yang lain, meskipun dianggap paling berhasil beradaptasi dengan kehidupan di
darat, namun hidupnya sedikit banyak msih berhubungan langsung dengan air

16
Ibid.,hal 245

30
tawar. Kebanyakan hewan selain serangga, hidup di dalam air atau sangat
tergantung pada air.
Komposisi cairan tubuh kebanyakan hewan, khusunya konsentrasi
komponen utama, merefleksi komposisi air lautan permulaan, tempat nenek
moyang hewan pertama kali muncul. Air laut mengandung sekitar 3,5 % garam.
Ion utama adalah natrium, klorida, magnesium, sulfat dan kalsium yang berada
dalam jumlah yang sangat besar.
Tabel perbandingan kandungan ion-ion dalam air laut dan air tawar

Ion Jumlah per 1 lt Jumlah per liter


air laut air tawar

Mmol G mmol g

Natrium 470,2 10,813 475,4 10,933

Magnesium 53,57 1,303 54,17 1,317

Kalsium 10,23 0,410 10,34 0,414

Kalium 9,96 0,389 10,07 0,394

Klorid 548,3 19,440 554,4 19,568

Sulfat 28,25 2,713 28,56 2,744

Bikarbonat 2,34 0,143 2, 37 0,145

Jumlah konsentrasi garam di lingkungan sangat bervariasi sesuai tempat


geografisnya. Di lautan tengah dimana penguapan tinggi tidak diikuti dengan
jumlah yang sama masuknya air tawar dari dari sungai, maka lautan tengah
memiliki kandungan garam mendekati 4 %. Di lain daerah khusunya di daerah
pesisir, kandungan agak rendah dibandingkan dengan lautan terbuka, tetapi
jumlah relatif ion-ion terlarut agak konstan seperti tabel diatas.

M. Prinsip-prinsip dasar osmoregulasi


Terhadap lingkungan hidupnya, ada hewan air yang membiarkan
konsentrasi cairan tubuhnya berubah-ubah mengikuti perubahan mediumnya

31
(osmokonformer). Kebanyakan invertebrata laut tekanan osmotik cairan tubuhnya
sama dengan tekanan osmotik air laut. Cairan tubuh demikian dikatakan isotonik
atau isosmotik. Dengan medium tempat hidupnya. Bila terjadi perubahan
konsentrasi dalam mediumnya, maka cairan tubuhnya disesuaikan dengan
perubahan tersebut (osmokonformitas).
Sebaliknya ada hewan yang mempertahunkan agar tekanan osmotik cairan
tubuhnya relatif konstan lebih rendah dari mediumnya atau lebih tinggi dari
mediumnya. Untuk mempertahankan cairan tubuh relatif konstan, maka hewan
melakukan regulasi osmotik, hewannya disebut regulator osmoti atau
osmoregulataor. Ada dua macam regulasi osmotik yaitu regulasi hipoosmotik dan
regulasi hiper osmotik. Pada regulator hipoosmotik, misalnya ikan air laut, hewan

ini selau mem[erthanakan konsentrasi cairan tubuhnya lebih rendah dari


mediumnya. Sedangan pada regulator hiperosmotik, misalnya ikan air tawar,
hewan ini selalu mem[ertahnkan konsentrasi cairan lebih tinggi dari pada
mediumnya.
Beberapa hewan ada yang toleran terhadap rentangan luas konsentrasi
garam mediumnya, hewan demikian disebut hewan euryhaline. sedangkan hewan
lain hanya toleran terhadap rentangan yang sempit konsentrasi garam mediumnya,
hewan demikian diebut stenohaline.
Fenomena lain yang biasanya berhubungan sangat ekat dengan tingkat
perkembangan kapasitas osmoregulasi adalah kemampua hewan mengontrol kadar
air dalam tubuhnya. Osmokonformitas rupanya adalah hasil kombinasi dari

32
ketidakmampuan mengontrol isi larutan tubuh. Sebaliknya osmoregulasi
merupakan manifestasi perkembangan kemampuan yang baik dari kedua proses
tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa hewan osmokonformer juga merupakan
konformer volume, sebaliknya osmoregulator juga merupkan regulator volume.

(grafik konformitas dan regulasi)

N. Mekanisme Osmoregulasi
Pada dasarnya regular hiperosmotik menghadapi dua masalah fisiologik :
(1) air cenderung masuk ke dalam tubuh hewan, sebab konsentrasi zat terlarut
dalam tubuh hewan lebih tinggi daripada mediumnya, dan (2) zat terlarut
cenderung keluar tubuh, sebab konsentrasi di dalam tubuh lebih tinggi daripada di
luar tubuh. Di samping itu pembuangan air sebagai penyeimbangan air masuk,
juga membawa keluar zat terlarut di dalamnya. Untuk mengatasi masalah ini
maka regulator hiperoosmotik harus (1) mengurangi masuknya air ke dalam tubuh
(meningkatkan impermeabilitas dinding tubuh) atau mengeluarkan kelebihan air
yang ada dalam tubuh (lewat urin dan fases) sebaliknya terhadap zat terlarut,
hewan harus (2) memasukkan garam garam ke dalam tubuh (lewat makan dan
minum) atau mempertahankan zat terlarut yang ada dalam tubuhnya.

Sebaliknya regulator hiperosmotik menghadapi dua masalah fisiologik :


(1) air cenderung keluar tubuh, sebab kadar air dalam tubuh lebih tinggi daripada
mediumnya, dan (2) zat trlarut cenderung masuk kedalam tubuh sebab kadar zat

33
terlarut di luar tubuh (dalam dinding medium) lebih tinggi daripada dalam cairan
tubuhnya. Untuk menghadapi masalah tersebut maka regulator hipoosmotik harus
(1) menghabat keluarnya air dari dalam tubuh atau mempertahankan air yang ada
dalam tubuh, sebaliknya terhadap zat terlarut hewan harus (2) berusaha mencegah
masuknya garam ke dalam tubuh atau mengeluarkan kelebihan garam yang masuk
tubuh.

Untuk mengatur kadar air dan zat terlarut dalam tubuhnya, hewan
menggunakan organ organ ekskresi yang dalam bekerjanya menggunakan
mekanisme transport aktif.

34
(gambar Hilangnya air melalui air
Mekanisme osmoregulasi. Pertukaran aktif air dan garam di kulit, paru-paru,
dan saluran pencernaan )

O. Unit konsentrasi Zat terlarut

Banyak cara untuk menyatakan konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan
encer. Tekanan osmotic adalah salah satu dari empat sifat koligatif (sifat yang
tergantung pada banyaknya zat terlarut bukan jenis zat terlarut) dari larutan. Tiga
sifat koligatif yang lain adalah penurunan titik beku, penurunan tekanan uap dan
peningkatan titik didih. Mengukur tekanan osmotic suatu larutan secara langsung

35
sangatlah sulit, khususnya untuk sampel kecil yang mengandung zat zat mudah
terurai (terdisosiasi) seperti yang biasa terdapat dalam cairan biologic. Keempat
sifat koligatif tersebut secara linier berhubungan satu dengan yang lain, sehingga
memungkinkan mendeterminasi tekanan osmotic secara tidak langsung dengan
mengukur salah satu sifat.

Konsentrasi zat terlarut biasanya dinyatakan dalam unit molaritas yaitu


mol perliter larutan. Pada konteks biologi biasanya digunakan unit milimol
(mmol). Misalnya suatu larutan 0,5 mol per liter sama dengan 500mmol per liter.
Dapat juga dinyatakan sebagai osmolaritas (osmoles per liter) osmolaritas suatu
larutan tergantung pada jumlah partikel terlarut. Osmolaritas suatu larutan
nonelektrolit (misalnya sukrosa) sama dengan konsentrasi molar. Suatu larutan
elektrolit misalnya NaCL yang terurai menjadi Na+ dan Cl- memiliki suatu
konsentrasi osmotic lebih tinggi daripada yang ditunjukkan oleh molaritasnya,
namun nilai osmotic tersebut tidak menjadi 2 kali nilai osmotiknya sebab garam
tidak terurai secara penuh.

Air murni menurut definisi membeku pada 0,00C. satu molal larutan
encer (1 mol/kg air) dari lautan yang tidak mengalami disosiasi membeku pada
-1,86C. disini dikatakan bahwa air memiliki suatu penurunan titik beku sebesar
-1,86C. pada kebanyakan studi fisiologi hewan, tidak perlu untuk mengkonversi
penurunan titik beku menjadi tekanan osmotic yang sebenarnya. Biasanya diubah
ke dalam equivalen konsentrasi (konsentrasi osmotic atau konsentrasi total).
Konversi yang paling umum adalah mengartikan penurunan titik beku 1,86C
sebagai suatu konsentrasi osmotic dari 1 osmolal (1000 mOsmolal). Jadi bilangan
1,86C adalah penurunan titik beku setiap 1000 mOsm/liter tanpa memperhatikan
komposisinya. Biasanya dalam fisiologi, penurunan titik beku dinyatakan dengan
lambing (delta).

Karena osmoregulasi bersangkutan dengan cairan tubuh (darah), urin dan


medium, maka tekanan osmotic darah diberi symbol I, urine diberi symbol u,
dan medium diberi symbol o.

36
P. Osmoregulasi pada Invertebrata dan Vertebrata
1. Osmoregulasi pada Invertebrata Air Laut
Kebanyakan hewan invertebrata laut bersifat osmokonformer, ditandai
dengan adanya konsentrasi osmotik cairan tubuhnya yang sama dengan air
laut tempat mereka hidup. Hal ini berarti bahwa mereka berada dalam
keseimbangan osmotik dengan lingkungannya. Akan tetapi, bukan berarti
bahwa mereka berada dalam keseimbangan ionik. Jadi, antara air laut dan
cairan di dalam tubuh hewan terdapat perbedaan kompisisi ion, yang akan
menghasilkan gradien konsentrasi. Dalam keadaan demikian,hewan
memiliki peluang untuk memperoleh masukan ion tertentu dari iar laut,
apabila konsentrasi ion tersebut di laut lebih tinggi dari pada yang tedapat di
dalam tubuh hewan. Pemasukan ion tersebut akan membuat cairan tubuh
hewan menjadi hiperosmotik dibanding air laut, dan keadaan tersebut akan
menyebabkan terjadinya pemasukan air

tabel komposisi ion dalam cairan tubuh invertebrata laut dan


dalam air laut

Spesies Hewan/ Air Konsentrasi ion (mmol/liter)


laut Na+ K+ Mg2+ Ca2+ Ca42- Cl-

37
Air laut 479,0 10,2 55,0 10,3 29,9 540,0
Ubur-ubur 464,0 10,6 54,0 9,8 15,5 567,0
Rajungan 500,0 12,0 30,0 24,0 16,6 550,0
Kerang-kerangan 490,0 12,8 54,0 12,5 29,5 563,0

Hewan melakukan pengaturan konsentrasi ion dengan cara menyekresi atau


menyerap ion secara aktif. Cara osmoregulasi pada vertebrata laut berbeda dengan
osmoregulasi pada invertebrata. Vertebrata laut dapat dibedakan manjadi dua
kelompok, yaitu konformer osmotik dan ionik serta regulator osmotik dan ioinik.

2. Osmoregulasi pada Invertebrata Air Tawar


hewan air tawar mempunyai cairan tubuh dengan tekanan osmotik yang
lebih tinggi dari lingkungannya. Berarti , mereka terancam oleh dua hal utama,
yaitu kehilangan garam dan pemasukan air yang berlebihan.
vertebrta dan invertebrta air tawar membatasi pemasukan air dengan cara
membentuk permukaan tubuh yang impermeabel terhadap air. Meskipun
demikian, air dan ion tetap dapat bergerak melewati insang yang relatif
terbuka. air yang masuk ke dalam tubuh invertebrata dikeluarkan dalam bentuk
urin. Laju aliran urin invertebrata air tawar jauh lebih tinggi dari pada yang
dialami oleh hewan laut. akan tetapi, pengeluaran urin juga menyebabkan
pengeluaran ion, oleh karena itu hwan perlu melakukan transpor aktif untyk
memasukkan ion kedalam tubuhnya.
cairan tubuh Toleostei air tawar memiliki konsentrasi osmotik yang lebih
tinggi dari pada air tawar. oleh karena itu, hewan ini memiliki peluang yang
besar untuk memasukkan air kedalam tubuhya, terutama melalui insang.
kelebihan air itu akan dikeluarkan lewat urin, namun dengan cara itu jumlah
garam pun akan hilang dari tubuh bersama urin. Sebagian garam meninggalkan
tubuh ikan melalui insang. Seabagai pengganti garam yanghlang, hewan

38
tersebut akan mengambil garam melalui insang dengan cara transpor aktif.
Dalam hal ini, insang berfungsi sebagai lat untuk memasukkan garam ke dalam
tubuh dengan cara transpor aktif, sekaligus untuk membunang kelebihan garam
secara difusi.

3. Osmoregulasi hewan pada lingkungan payau


Tidak semua hewan akuatik selamanya menetap di habitat yang tetap (air
laut atau tawar.) sejumlah hewan laut maupun hewan air tawar pada saat saat
tertentu masuk ke daerah payau. Lingkungan payau ialah lingkungan akuatik
di daerah pantai, yang merupakan tempat pertemuan antara air sungai dan
laut17. Pada beberapa jenis ikan seperti lamprey, salmon, dan belut,
perpindahan anatara air tawar dan air bergaram merupakan bagian dari siklus
hidup yang normal. Ada juga hewan akuatik yang hidup menetap di daerah
perairan payau. Hewan yang demikian pasti memiliki kemampuan adaptasi
yang baik terhadap perubahan kadar garam di habitatnya, mengingat bahwa
kadar garam di daerah payau selalu berubah18.
Contoh hewan yang dapat hidup di lingkungan payau ialah larva dari
beberapa jenis nyamuk. Larva tersebut pada umumnya dapat tumbuh dengan
sama baiknya, baik di air tawar maupun di air bergaram yang berapa kali
lebih pekat dari cairan hemolimfenya. Bahkan larva tersebut juga dapat
menoleransi kadar garam yang tiga kali lebih tinggi dari pada kadar garam air
laut.
Larva nyamuk Aedes campestris lebih mengagumkan lagi karena dapat
hidup di danau yang mengandung garam alkalis, dengan kandungan utama
natrium karbonat dan memiliki ph lebih darin 10. Di dalam air yang
mempunyai kadar garam rendah, larva aedes bersifat hiperosmotik terhadap
mediumnya, tetapi pada air dengan kadar garam tinggi, cairan tubuhnya
bersifat hipoosmotik. Larva ini dapat beradaptasi terhadap konsentrasi garam
yang lebih tinggi (lebih dari 500 kali lipat ), tanpa mengubah konsentrasi ion
penting dalam cairan hemolimfe lebih dari dua kali lipat.

17
Ibid., hal 250
18
Ibid., hal 251

39
Larva aedes menanggapi peningkatan kadar garam di luar tubuhnya
dengan cara meningkatkan laju minum beberapa kali lipat. Tampaknya
minum merupakan satu satunya cara untuk memperoleh air sebagai pengganti
air yang terlepas ke lingkungannya yang lebih pekat. Akan tetapi minum air
juga berarti memasukan berbagai ion terlarut dalam jumlah berlebihan.
Kelebihan berbagai ion terlarut ini harus di keluarkan dari dalam tubuh dan
hal ini dilakukan melalui tubulus Malpighi dan rectum. Larva ini juga
memiliki strucktur khusus yang disebut papilla anal. Pada medium encer,
papilla anal berfungsi sebagai tempat/alat untuk mengambil ion secara aktif,
tetapi pada medium yang pekat berfungsi sebagai alat untuk mengeluarkan
kelebihan garam.
Larva aedes setiap hari minum 2,4 kilo meter air (lebih dari sepertiga
kadungan total air dalam tubuhnya yang hanya 6,5 mikroliter). Jumlah
natrium yang ditelan perhari sebanyak 1,2umol (jauh lebih tinggi dari pada
kandungan natrium total dalam tubuhnya yang hanya 0,96 umol), dan akan
dikeluarkan lagi melalui permukaan tubuh. Jumlah air yang diperlukan untuk
mengeluarkan natrium tersebut hanya 1,8 ul. Dengan demikian, tersisa
sejumlah air yang masih cukup untuk menggantikan air yang hilang dari
tubuhnya secara difusi (melalui permukaan tubuh 0,2 ul dan melalui papilla
anal 0.4 ul). Dengan cara demikian larva hipotonis ini dapat mengatur
tekanan osmotic dalam tubuhnya dan tetap dalam keadaan seimbang dan
lingkungannya yang sangat pekat.
Contoh hewan lain yang melakukan perpindahan dari laut ke air tawar
dan sebaliknya yaitu ikan Teleostei, meskipun dengan kemampuan yang
terbatas. Ketika berpindah dari air tawar ke laut, dalam waktu 10 hari belut
akan kehilangan air secara osmotic, yang besarnya mencapai 4% dari berat
tubuhnya. Apabila hewan ini diperlakukan sedemikian rupa sehingga tidak
dapat minum air laut (misalnya dengan cara menempatkan balon pada
esofagusnya) belut tersebut akan terus menerus kehilangan air sehingga
akhirnya mengalami dehidrasi, dan segera mati dalam beberapahari namun
apabila kemudia belut dibiarkan kembali minum air laut berat tubuh yang
hilang akan segera degantikan dan mencapai keadaan seimbang dalam waktu

40
1-2 hari. Pengambilan ataupun pembuangan air dan berbagai zat terlarut pada
belut berlangsung melalui insang, dengan arah aliran yang berlawanan. Akan
tetapi mekanisne yang menyebabkan perubahan arah transport zat melalui
insang tersebut blum diketahui dengan jelas, diperkirakan mekanisme tersebut
melibatkan peran hormone.

4. Osmoregulasi hewan pada lingkungan darat


Hewan yang sangat berhasil hidup di darat dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu arthopoda dan Vertebrata19. Kemampuan nya untuk hidup di
darat telah membuat kedua kelompok hewan tersebut dapat meningkakan
perolehan oksigen namun mempunyai masalah besar yang berkaitan dengan
pengaturan keseimbangan air dan ion. Hewan darat juga mengalami
keterbatasan untuk mendapatkan air sehingga mudah terancam dehidrasi.
Kehilangan air dari tubuh hewan darat dapat terjadi dengan sangat mudah
melalui penguapan. Air yang hilang tersebut harus diganti. Penguapan air dari
tubuh dapat dipengaruhi oleh berbagai factor sebagai berikut.
1) Kandungan uap air di atmosfer : pengauapan dapat ditekan apabila
kandugan air di atmosfir (kelembapan relatif) meningkat
2) Suhu : jika suhu atmosfer meningkat penguapan akan bertambah cepat.
3) Gerakan udara pada permukaan beda yang dapat melakukan evaporasi :
laju penguapan meningkat, jika pergerakan udara meningkat (ada angina
yang kuat)
4) Tekanan barometric : jika tekanan barometric menurun, laju pengauapan
bertambah
5) Luas permukaan penguapan : apabila daerah permukaan yang menghadap
ke lingkungan lebih luas, pelepasan air akan lebih besar/cepat

a. Osmoregulasi pada Invertebrata darat


Ivertebrata darat umumnya merupakan golongan arthopoda, insekta,
dan laba laba (yang paling banyank ialah insekta). Salah satu gambaran khas
dari insekta ialah adanya rangka luar yang berlapis lilin, yang disebut lapisan
kultikula. Adanya kultikula pada insekta merupakan cara untuk memperkecil
kehilangan air melalui permukaan tubuh. Akan tetapi pada saat baru

19
Ibid., hal 255

41
dilahirkan kultikula belum sepenuhnya impermeable terhadap air sehingga
insekta dapat kehilangan air akibat penguapan melalui permukaan tubuhnya.
Tidak semua kultikula pada invertebrate darat dapat menghabat
kehilangan air dari dalam tubuh. Hal ini dapat diamati pada cacing tanah,
yang mempunyai kultikula sangat tipis. Cacing tanah tetap daapat mengalami
kehilangan air lewat kulit. Pada cacing tanah, pelepasan air melalui
penguapan dapat mencapai 70 kali lebih besar dari pada pelepasan air pada
insect. Pelepasan aiar melalui penguapan dapat juga disebabkan oleh adanya
perubahan susunan lilin pada rangka luar tubuhnya akibat kerusakan fisik
atau panas.
Tempat kedua yang merupakan jalan pelepasan air pada insekta adalah
spirakel, walaupun sejumlah trachea memiliki spirakel yang dilindungi khitin,
pelepasan air melalui bagian tersebut tetap menjadi beban berat bagi hewan.
Sebagai usaha untuk membatasi pelepasan air, beberapa insekta melakukan
respirasi siklik atau respirasi diskontinyu.
Dalam proses tersebut, insekta melakukan pengambilan oksigen
dengan laju yang kontinyu tetapi pelepasan karbondioksida dilakukan secara
periodic dengan cara disemburkan. Di antara pelepasan yang satu dan
pelepasan yang berikutnya karbondioksida tetap larut (ditahan) dalam cairan
tubuh. Selanjutnya spirakel bergetar dan menutup sepenuhnya. Selama
spirakel bergetar tekanan dalam sistem trakea menjadi lebih rendah daripada
tekanan atmosfer. Keadaan ini menyebabkan udara atmosfer bergerak masuk
ke dalam trakea, sedangkan aliran udara keluar dari tubuh dapat dicegah. Jadi
pristiwa tersebut terjadi inspirasi secara teratur tetapi ekspirasi ditunda.
Berarti, setiap kali inspirasi tidak selalu diikuti dengan ekspirasi.
Penundaan ekspirasi dapat diartikan sebagai penundaan kehilangan
air. Pada saat inspirasi, oksigen di konsumsi untuk keperluan tubuh insekta.
Dengan cara respirasi siklik itu, insekta dapat tetap memperoleh oksigen yang
cukup tanpa disertai kehilangan air dalam jumlah banyak.
Insekta mengalami kehilangan air dalam jumlah sangat sedikit melalui
fases dan urin. Hewan ini mengeluarkan zat sisa bernitrogen dalam bentuk
asam surat yang sangat tidak larut dalam air. Dengan demikian, pengeluaran

42
zat sisa bernitrogen dalam bentuk asam urat akan sangat menghemat
pengeluaran air dari dalam tubuh. Bahkan pada kecoak asam urat tidak
dikeluarkan dari tubuh, tetapi ditimbun di permukaan tubuhnya sehingga
membentuk struktur yang mirip kultikula. Cara ini sangat bermanfaat untuk
menghemat pengeluaran air. Apabila dibandngkan dengan cara pengeluaran
asam urat melalui organ pengeluaran (dalam bentuk urin).
Pada umumnya insekta memperoleh air denga cara minum air. Dari
makanan dan dengan menghasilkan air metabolic. Air metabolic yaitu air
yang dihasilkan selama proses metabolism makanan. Oksidasi metabolic dari
1 gram gula dapat menghasilkan 0.6 gram air, sementara 1 gram lemak
menghasilkan 1 gram air. Selain dengan ketiga cara itu insekta juga dapat
memperoleh air dari cara menyerap uap air dari lingkungan sekitarnya.
a) Osmoregulasi pada serangga
Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh hewan darat termasuk
invertebrata darat adalah kehilangan air dan dalam tubuhnya. Untuk
mengatasi maslah ini, hewan meningkatkan impermeabilitas kulitnya. Kulit
kebanyakan hewan darat impermebeabel terhadap air, dan sedikit sekali
hilang melalui kulit. Serangga misalnya, memiliki kutikula yang berlilin,
yang sangat impermeabel terhadapa air, sehingga serangga sedikit sekali air
hilang melalui kulitnya. Lilin disimpan pada permukaan eksokeleton melalui
saluran kecil menembus kutikulanya.
Kehilangan air pada serangga terutama melalui penguapan, sebab
serangga memiliki luas permukaan tubuh 50 kali lebih besar dari pada volume
tubuhnya (mamlia hanya volume tubuhnya). Jalan penting kehilangan air
pada serangga adalah spirakel. Untuk mengurangi kehilangan air, pada
kebanyakan serangga menutup spirakelnya akan kehilanagan air lebih cepat.
Pada beberapa kumbang gurun, kehilangan air lewat pernafasan jauh lebih
sedikit dari pada kehilangan kulitnya.
Invertebrata menggunakan mekanisme ginjal membentuk urin.
Serangga dan mungkin beberapa laba-laba adalah sekelompok invertebrata
darat yang membentuk urin pekat. Namun pada beberapa serangga, urin dan
fesesnya di dehidrasi melalui transpor aktif air menembus epitelium saluran
pencernaan bagian belakang. Pada periplaneta yang mengalami dihidrasi

43
cairan rektal, maka osmokonsentrasi urinnya menjadi 2 kali osmokonsetrasi
hemolimfanya.
Pada serangga, saluran malpihi bersama-sama dengan saluran
pencernaan bagian belakang membentuk sistem ekskresitori-osmoregulasi
utama. Secara garis besar, saluran ini terdiri dari slauran malpighi tipis,
panjang, yang bermuara kedalam saluran pencernaan pada tempat antara usus
depan dan usus belakang, dan ujung yang lain berada dalam homocoel
(rongga tubuh yang berisi darah). Sekresi yang dibentuk dalam tubulus masuk
ke dalam usus belakang, kemudian didehidrasi dan masuk ke dalam rektum
dan di ekskresikan melalui anus sebagai urin pekat. Karena serangga
memiliki sistem sirkulasi terbuka, maka saluran malpighi dikelilingi oleh
darah, yang tekanannya tidak lebih tinggi dari pada tekanan cairan dalam
saluran. Selama tidak ada perbedaan tekanan yang berarti sebelah
menyebelah membran malpighi, filtrasi tidak dapat berperan dalam
pembentukan urin pada serangga20. Oleh karena itu urin harus dibentk
keseluruhannya melelui sekresi, yang mungkin didikuti reabsorbsi beberapa
isi cairan yang disekresikan.
Osmoregulais cairan tubuh serangga darat cenderung lebih tinggi dari
pada serangga air. Penurunan titik beku cairan tubuh serangga darat misalnya
pada skorpion (-1,1250C), pada laba-laba (-0,8940C), lebih tinggi dari pada
serangga air. Misalnya larva nyamuk (-0,650C).

b) Osmoregulasi pada cacing tanah, keong dan siput


Cacing tanah merupakan hewan malam, menghindari tanah kering,
dan akan menggali tanah lebih dalam pabila permukaan tanah mulai kering,
bila cacing tanah dimsukkan ke air keran selama 5 jam, maka cacing tanah
akan mengabsorbsi air equivalen dengan 15 % berat tubuh pemulanya. Bila
cacing yang telah beradapptsi dengan air dipindah ke anah atau udara kering,
cacing dapat mentoleransi kehilangan 50-80 % air tubuhnya.
Cacing tanah secara aktif mengabsorbsi ion-ion, dapat memproduksi
urin encer yang secara esensial hipoosmotik mendekati isosmotik. Diduga
bahwa konsentrasi urin disesuaikan menurut kebutuhan keseimbangan air.

20

44
Dalam keadaan normal penurunan titik beu cairan tubuhnya bekisar antara
0,30-0,50 C.
Molusca darat, misalnya siput dan keong, permukaan tubuhnya yang
berdaging sangat impermeabel. Bila dikeluarkan dari cangkanganya, aka
kehilangan air hampir secepat penguapan pada permukaan air seluas
permukaan tubuhnya. Semua keong dan siput bernafas terutama dengan paru-
paru yang terbentuk dari matel tubuhnya, dan terbuka keluar melalui lubang
kecil. Bentuk demikian memungkinkan kehilangan air melalui pernafasan.
Banyak keong dan siput hars pergi ke mikrohabitatnya, yang lembab
dan merupakan hewan malam. Bila kondisi makin kering, moluska darat
bersembunyi di balik dedaunan atau pelindung yng lain. Pada keong yang
memiliki enutup cangkang akan menutup cangkangnya dengan operkulum,
sehingga tubuhnya terlindung dari kehilangan air.
Banyak keong darat secara rutin mengeluarkan suatu zat yang
mengandung sisa nitrogen sebagai asam urat yang sulit larut, dan terdapat
bukti bahwa zat ini meningkat pada beberapa spesies selama kesulitan air.
Selama estivasi, asam urat disimpan dalam ginjal dalam beberapa bentuk, jadi
mengurangi kehilangan air untuk ekskresi nitrogen.

5. Osmoregulasi Pada Vertebrata Air

Berdasarkan bukti bukti di duga ikan Osteichthyes bermigrasi dari air


tawar ke laut. Banyak ikan ikan Teleostei telah masuk kembali ke air tawar
dimana beberapa yang lain (holosteans) tetap hidup terus dlam air tawar, beberapa
ikan laut sekarang tidak tergantung pada air tawar. Beberapa yang lain seperti ikan
salem (anadromous) kembali ke air tawar untuk bertelur, sementara yang lain
sejenis belut (catadromous) berbiak di dalam lautan dan dewasa dalam air tawar.
Sementara itu ada ikan yang telah menyesuaikan hidup air payau, misalnya
Fundulus, selama hidupnya berada dalam air payau.

Konsentrasi osmotic semua Vertebrata air tawar jauh lebih tinggi dari pada
mediumnya (air tawar) Vertebrata air tarwar memiliki osmolaritas darah antara

45
200-300 mOsm, sedangkan air tawar kurang lebih hanya 50 mOsm. Keadaan
demikian menimbulkan masalah penggelembungan tubuh hewan dan terus
menerus akan kehilangan garam tubuh, meskipun antara hewan satu dengan yang
lain berbeda beda. Perbedaan tersebut dapat terjadi tergantung pada (1) perbedaan
jumlah membrane absolut dan relative yang berhadapan dengan medium (2)
perbedaan permeabilitas absolut terhadap air dan zat terlarut (3) perbedaan tingkat
perkembangan mekanisme pengambilan zat terlarut pada membrane dan (4)
perbedaan efisiensi organ organ ekskretori (terutama ginjal) dalam menjaga
kehilangan zat terlarut. Keempat factor tersebut, terutama tiga factor terakhir,
dikontrol oleh organisme dan dapat diatur untuk menyesuaikan perubahan kondisi
lingkungannya.

Hewan laut dibagi menjadi dua kelompok : (1) kelompok yang


berkonsentrasi osmotiknya sama (isomotik) atau sedikit di atas air laut (misalnya
pada hagfish, Elasmobranchili, dan katak pemakan kepiting), dan (2) kelompok
yang berkonsentrasi osmotic kira kira 1/3 air laut (belut laut, teleostei).

Kelompok pertama tidak memiliki masalah besar dalam hal keseimbangan


air, sebab cairan di dalam dan di luar tubuh konsentrasinya sama, tidak ada aliran
air osmotic, sebaliknya yang kedua dengan jelas hiposmotik yang hidup dalam
medium dengan konsentrasi lebih pekat. Problem osmotic dan cara mengatasi
antara keduanya berbeda banyak.

Vertebrata air tawar di lain pihak secara seragam memiliki konsentrasi


sekitar sampai 1/3 air laut, jadi vertebrata air tawar dalam keadaan
hiperosmotik terhadap air tawar (mediumnya), dan secara prinsip sama dengan
invertebra air tawar.

1) Ikan air laut

Ikan hag (Myxine dan Polistotrema), secara eksklusif adalah hewan


laut, cairan tubuh keduanya isosmotic terhadap medium pada rentangan 600-
1540 mOsm. Ikan ikan tersebut menunjukkan kemampuan regulasi ionic dan
total osmokonsentrasi berbeda beda secara luas dengan mengubah ubah asam
amino. Dengan perkecualian pada ikan hag, semua Vertebrata laut memiliki

46
konsentrasi garam dalam cairan tubuhnya lebih rendah (hiposmotik) dari air
laut. Ingat bahwa ikan air laut di duga berasal dari air tawar.

Ikan air laut yang hipoosmotik menghadapi masalah kehilangan air


tubuh, dan sekaligus menghadapi masalah masuknya zat zat terlarut ke dalam
tubuhnya karena gradient konsentrasi. Permukaan tubuh terutama permukaan
insangnya agak permeable terhadap air, air banyak hilang melalui insang, urin,
dan fases untuk mengganti air yang hilang, ikan air laut minum air laut.

Meskipun minum dapat memperbaiki kadar air, namn sejumlah garam


juga ikut tertelan dan diabsorsimoleh dinding usus bersama sama air.
Konsentrasi garam dalam tubuhnya meningkat, ini merupakan masalah kedua
yang harus diatasi olehikan air laut. Utuk mengatasi masalah ini, maka garam
harus di keluarkan dalam konsentrasi lebih tinggi daripada air laut.

(mekanisme osmoregulasi pada air laut yang bertulang sejati (A)


regulasi air (B) regulasi garam)

Ginjal ikan bertulang sejati tidak dapat melakukan tugas untuk


memproduksi urin lebih pekat daripada darah. Organ organ yang lain harus
ada yang membantunya. Tugas ini dilakukan oleh insang di samping
melakukan tugas pertukaran gas, arena sekresi garam melalui membrane
insangi ini melawan gradient kadar, maka mekanismenya pasti transport aktif,

Mekanisme utama regulasi osmotic pada teleostei (ikan bertulang


sejati) air laut digambarkan pada gambar di atas .gambar A menunjukan
gerakan air. Air hilang secara osmotic melalui ginjal, dan melalui urin. Untuk
mengganti air hilang ikan minum air laut, mengabsorsi air dan garam melalui
usus. B menunjukan gerakan garam yang masuk tubuh bersama air yang
diminum. Garis panah ganda pada insang menunjukkan pembuangan secara
transport aktif dari natrium dan klorida.

47
Ekskresi natrium dalam urine kurang penting sebab urin teleostei
biasanya lebih encer dari pada cairan tubuhnya. Namun bagaimana pun juga,
ginjal melakukan peran utama dalam ekskresi ion ion bivalen, yaitu
magnesium dan sulfat, yang mengganti sekitsr sepersepuluh garam dalam air
laut. Ion ini dieliminasi oleh insang yang hanya mengekresikan natrium dan
klorida.

Meskipun ikan air lautminum air laut, penelitian menunjukan bahwa


hanya sebagian kecil total natrium yang diambil berasal dari minum di duga
sebagian besar natrium masuk lewat kulit dan insang yang agak permeable.

Pada ikan killi (fundulus heteroclitus) yang telah beradaptasi terhadap


air tawar dan laut, telah dipelajari perubahan permeabilitas terhadap natrium
dan klorida yang terjadi selama adaptasi terhadap berbagai konsentrasi.
Permeabilitasnya turun dalam beberapa menit setelah dimasukkan ke dalam
air tawar , tetapi peningkatan permeabilitas setelah dikembalikan ke dalam air
laut memerlukan waktu sampai beberapa jam.

Pengangkatan ion ion tidak dilakukan oleh sel sel epitel insang pada
umumnya, tetapi dilakukan oleh sel sel khusus yang disebut sel sel khlorida
(chloride cells). Sel sel tersebut disebut sel khlorida tanpa diketahui fungsinya,
dan sampai. Beberapa tahun tetap tidak pasti apakah mengangkut khlorida
secara aktif dan natrium mengikuti secara pasif atau apakah natrium yang
diangkut secara aktif dengan diikuti klorida secara pasif.

Pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) yang hidup di air laut


maupun tawar, misalnya hiu dan bangsanya, memiliki konsentrasi garam
darah selalu lebih tinggi daripada mediumnya (air laut). Konsentrasi garam
plasmanya sama dengan ikan bertulang sejati, tetapi bagian osmotic yang
disebabkan oleh NaCl hanya 45% dari keseluruhan. Bagian terbesar
konsentrasi osmotic terbentuk oleh banyaknya urea dan beberapa oksida
trimethylamine (TMO) yang berada dalam sebuah jaringan dan cairan tubuh
nya. Jadi ikan bertulang rawan dapat memelihara gradient osmotic dalam air
laut sama dengan dalam air tawar dan dapat terus mengeluarkan urine yang

48
hiposmotik dari darahnya. Reabsorpsi urea pada ginjal ikan dogfish
bervariasi tergantung pada konsentrasi urea darah. Kulit dan insang
Elasmobranchiata relative impermeable terhadap urea.

Terdapat banyak variasi konsentarasi urea pada berbagai jenis ikan


potamotrigon dari amazoa atas hanya memiliki 1,07mM urea, sedangkan
Carcharhinusdari danau Nicaragua memiliki 80 mM urea.

Ikan bertulang rawan yang hidup di laut berbeda dalam teleransinya


terhadap air payau encer. Scyliorhinus akan mati dalam 60% air laut, tetapi
tetap hidup bila ditambahkan urea atau sukrosa untuk meningkatkan
osmokonsentrasi setinggi air laut. Hiu lemon (negaprion) yng diaklimasikan
pada 50% air laut selama satu minggu, konsentrasi osmotic darahnya turun
menjadi 40%, urea plasmanya menjadi 55% oksida trimethylamine menjadi
60% dan klorida menjadi 20%.

2) Ikan Air Tawar

Kondisi air tawar mirip invertebrate air tawar, ikan air tawar memiliki
osmkkonsentrasi plasma sebesar 130 sampai 170 mOsm,m urin banyak dan
encer. Perbandingan penurunan titik beku antara medium, cairan tubuh dan
urine adalah adalah sebagai berikut (o = -0,03 C; i = -0,57C; dan u=
-0,08C), dan volume urine nya 200 sampai 400 ml/kg/hari. Kulitnya relative
impermeable sedikit air masuk lewat minum dan makanan, tetapi sejumlah air
masuk secara osmotic melalui insang dan membrane mulut. Kelebihan air
masuk akan diimbangi denga ekskresi lewat ginjal sebab ginjalnya memiliki
glomeruli yang telah berkembang dengan baik untuk filtrasi. Begitu filtrate
melalui tubulus, sebagian besar zat terlarut direabsorsi, sehingga
menghasilkan urine yang encer namun tidak seencer air tawar, sehingga garam
yang hilang selain melalui tubulus, sebagian besar zat terlarut direabsorsi
sehingga garam yang hilang selain melalui urine juga melalui difusi dan fases.
Garam yang hilang sebagian diganti lewat makanan, sehingga lewat absorsi
aktif dari medium yang sangat encer.

49
(mekanisme osmoregulasi pada ikan air tawar)

Untuk penambahan garam beberapa spesies tergantung terutama pada


makanan (Acerina, Perca) sementara yannga lain memiliki sistem absorsi
garam secara aktif melalui insang (Leuciscus Carassius) keadaan ini dapat
diteliti dengan menempatkan ikan dalam ruang yang bersekat, sehingga bagian
kepala dan bagian diketahui bahwa pengambilan ion secara aktif terjadi hanya
pada ruang bagian depan kesimpulannya bahwa kulit hanya berperan kecil
dalam pengambilan ion dan kalau ada melalui absorsi aktif.

3) Ikan Berpindah Medium

Kebanyakan ikan bertulang sejati memiliki kemampuan terbatas


berpindah dari air tawar ke air laut dan sebaliknya, sebab mereka adalah
stenohalin. Namun ada beberapa ikan yang mampu berpindah hidup antara air
tawar dan air laut dalam siklus hidupnya, misalnya lamprey (sejenis belut laut)
dan ikan salem, perpindahan antara air tawar dan air laut membawa
konsenkuesi perubahan mekanisme osmoregulasinya.

Petromyzon (Lamprey) bertelur dan menetas di air tawar, dan dewasa


hidup di air laut. Darah Petromyzon memiliki penurunan titik beku (i)
sebesar -0.48C di air tawar dan -0,59C pada saat berada dalam air laut. Bila
lamprey masuk keair tawar, dia berhenti minum, tetapi bila kembali ke air
payau, mereka minum dan ekskresi ekstrarenal Na dan Cl siaktifkan. Dalam
air tawar, mereka dapat mengabsorsi Cl secara aktif.

Anguilla vulgaris sejeis belut yang hidup di benua eropa dan Amerika
berkembang biak di laut Sargaso Atlantik Tengah, kemudian belut muda

50
bermigrasi ke masing masing daerahnya. Pada saat hidup di laut, belut
memiliki darah debgan penurunan titik beku (i) sebesar -0,69C sam pai
-0,73C. dan pada saat belut air tawar penurunan titik beku (i) darahnya
adalah -0,61C 0.62C bila belut berpindah dari air tawar ke air laut, ia akan
kehilangan air osmotic mencapai 4% dari berat tubuhnya dalam 10 jam. Bila
belut dicegah minum air laut dengan menempatkan balon pada esofagusnya, ia
terus kehilangan air osmotikmencapai 4% dari berat tubuhnya dalam 10 jam.
Bila belut dicegah minum air air laut dengan menempatkan balon pada
esofagusnya, ia terus kehilangan air dan dalam beberapa hari akan mati karena
dehidrasi. Bila belut kembali ke air laut, ia segera minum air laut dan berat
tubuhnya kembali normal dalam 1 sampai 2 hari.

Bila belut berpindah dari air tawar ke air laut atau sebaliknya, selain
merubah arah aliran osmotic air, untuk mencapai keadaan seimbang dan
mengganti zat terlarut yang tambah atau hilang, belut merubah arah transport
ion secara aktif dalam insang. Bagaimana perubahan arah tersebut terjadi,
belum diketahui, diasumsikan melibatkan mekanisme endokrin.

Ikan salem bertelur dalam air tawar, ikan muda kemudian migrasi ke
laut pada saat hidup di laut, darahnya memiliki penurunan titik beku (i)
sebesar -0,76C sebesar -0,67C jadi ikan salem mengalami pengenceran
hanya sebesar 12%.

6. Osmoregulasi pada vertebrata darat


Vertebrata yang berhasil berkembang di lingkungan darat terutama dari
kelas reptile, burung, dan mamalia. Amfibi tidk dapat dikatakan sebagai hewan
darat sejati, karena masih sangat tergantung pada lingkungan yang lembap.
Vertebrata darat pada umumnya memperoleh air dari air minum dan makanan,
untuk menghemat air vertebrata melakukan berbagai cara yang cukup bervariasi.
Hewan dari kelas reptile, meliputi ular,buaya,kadal,dan kura kura memiliki
kulit yang kering dan bersisik. Keadaan kulit yang kering dan bersisik tersebut
diyakini merupakan cara beradaptasi yang baik terhadap kehidupan darat, yakni
agar tidak kehilangan banyak air. Untuk lebih menghemat air hewan tersebut
menghasilkan zat sisa bernitrogen dalam bentuk asam urat yang pengeluarannya

51
hanya membutuhkan sedikit air. Selain itu reptile juga melakukan penghematan
air dengan menghasilkan fases yang kering, bahnkan kadal dan kura kura pada
saat mengalami dehidrasi mampu memanfaatkan urin encer yang dihasilkan dan
disimpan di kandung kemihnya, denagn cara mereabsorbsinya.
Adaptasi yang mempertahankan keseimbangan air juga dilakukan oleh
burung. Pada burung pengaturan keseimbangan air ternyat berkaitan erat dengan
proses mempertahankan suhu tubuh. Burung yang hidup di daerah pantai dan
memperoleh makan dari laut (burung laut) menghadapi masalah berupa
pemasukan garam yang berlebihan. Hal ini berate bahwa burung tersebut harus
berusaha mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya melalui kelenjar garam.
Yang terdapat pada cekungan dangkal di kepala bagian atas di sebelah atas tiap
matanya di dekat hidung. Apabila burung laut menghadapi kelebihan garam
didlam tubuhnya, hewan itu akan menyekresikan cairan pekat yang banyak
mengandung NaCL. Kelenjar garam ini hanya aktif pada saat tubuh burung
dijenuhkan oleh garam. Kelenjar serupa jg ditemukan pada reptile.
Pada mamalia kehilangan air dan garam dapat terjadi lewat keringat 21.
Sementara cara mereka memperoleh air sama seperti vetebrata lainya, yaitu dari
air minum dan makanan. Akan tetap untuk mamalia yang hidup di padang pasir
memperoleh air dengan cara minum merupakan hal mustahil. Sebagai contoh
tikus, kanguru, tidak minum air tetapi dapat bertahan dengan menggunakan air
metabolic yang dihasilkan dari oksidasi glukosa.

7. Osmoregulasi pada Amfibi

Sebagian besar amfbi adalah hewan air atau semiakuatik. Telurnya


diletakkan dalam air, dan lavarnya adalah hewan air yang bernapas dengan insang
melalui metamorfosis, kebanyakan amfibi (tidak semua) mengubah alat
pernapasannya dengan paru-paru. Beberapa salamander tetap memiliki insang dan
tetap hidup dalam air setelah dewasa dan kebanyakan katak dilain pihak berubah
menjadi hewan darat, meskipun biasanya masih tetap memilih habitat berair.

Regulasi osmotic amfibi mirip ikan air tawar, kulitnya berperan sebagai
organ osmoregulasi utama. Pada saat hewan berada dalam air tawar, terdapat
aliran osmotic air kedalam tubuhnya, yang akan dikeluarkan sebagai urin yang
sangat encer. Bersama urin ikut terbuang garam-garam. Disamping itu garam
21
Ibid., hal 257

52
hilang melalui kulitnya. Kehilangan garam ini diganti dengan jalan pengambilan
secara aktif dari dalam air tawar melalui kulitnya.

Katak dan salamander umumnya adalah hewan air tawar, akan mati dalam
beberapa jam bila ditaruh dalam air laut, jadi katak dan salamander adalah
regulator hiperosmotik sempt. Namun ada sejenis katak pemakan kepiting, hidup
didaerah rawa mangrove, mencari makan dan berenang dalam air laut. Pada saat
katak berada dalam air laut ia menjadi hewan regulator hiposmotik. Untuk
mencegah kehilangan air osmotic melalui kulitnya, katak menambah urea dalam
darahnya, sebab kulit amfibi dapat mencapai 480 mmol urea per liter. Mekanisme
ini beralasan, sebab kulit amfibi relative permeable terhadap air, sehingga secara
sederhana untuk mencegah kehlangan air dibuat konsentrasi osmotk darah seperti
mediumnya.

Karena urea esensial bagi katak untuk hidup normal, maka urea ditahan
dalam tubuh dan tidak diekskresikan bersamam urin. Pada hiu, urea ditahan
melalui reabsorbsi aktif dalam tubuli ginjal. Pada katak pemakan kepiting, urea
ditahan dengan mereduksi volume urin pada saat katak berada dalam air laut.
Nampaknya urea tidak direabsorbsi secara aktif, sebab konsentrasi urea dalam
urin tetap dalam keadaan sedikit diatas urea dalam plasma.

Katak pemakan kepiting, yang muda memiliki toleransi lebih besar


terhadap salinitas tinggi dari pada yang dewasa. Pada katak muda, pola regulasi
osmotiknya mirip dengan teleostei, sedangkan yang dewasa mirip
Elasmobrankhii.

8. Osmoregulasi pada Reptil

Ada empat ordo utama bangsa repti yaitu: ular, kadal, kura-kura dan
buaya. Diantara keempat ordo tersebut, buaya sangat tergantung pada air,
sedangkan ketiga ordo yang lain (ular, kadal, dan kura-kura), telah beradaptasi
dengan baik terhadap habitat kering, dan hanya sedikit sekali akuatik atau
semiakuatik. Semua reptile akuatik bernapas dengan paru-paru, salah satu ciri
hewan darat.

Kulit reptile kering, berzat tanduk dan impermeable terhadap air. Air
hilang terutama melalui penguapan lewat kulit. Table 12.3 menunjukkan
perbandngan kehilangan air pada beberapa reptile melalui penguapan lewat kulit.

Table 12.3 penguapan air lewat permukaan kulit pada beberapa reptile pada suhu
230-250C (m3/cm2/jam) pada perbedaan tekanan uap 1 mmHg (0,13kPa).

53
Ular air (Natrik) 41
Kura-kura air tawar (Pseudodemys) 24
Kura-kura kotak (Terrapene) 11
Iguana (Iguana) 10
Kura-kura (Gopherus) 3

Kehilangan air karena penguapan pada seluruh reptile ternyata lebih besar
dari pada lewat pernapasannya. Misalnya pada ular air, kehilangan air lewat kulit
sebesar 88% dan lewat pernapasan 12%, pada kura-kura gurun kehilangan panas
lewat kulit 76% dan lewat pernapasan sebesar 24%. Reptile mengekskresikan
asam urat (sebagai hasil akhir metabolism protein) lewat urin. Karena asam urat
tidak larut dalam air, maka untuk mengekskresikannya diperlukan sedikit air. Jadi
reptile dapat kehilangan air lewat penguapan, pernapasan, dan urin.

Ada jenis ular, kura-kura, kadal, dan buaya yang hidup dilaut. Beberapa
ular laut, sudah tidak tergantung sama sekali pada daratan, bahkan termasuk
berkembangbiak tidak meninggalkan lautan. Kura-kura laut, menghabiskan
sebagian besar hdupnya dilautan bebas, tetapi mereka kembali kepantai berpasir
didaerah tropis untuk bertelur. Kura-kura jantan tidak pernah kedarat. Kadal laut
lebih terikat kedarat, misalnya pada iguana laut Galapagos, Amblyrhinchus
Cristatus, sebagian besar waktunya digunakan untuk hidup dibatu-batu karang,
dan turun kelaut hanya untuk mencari makan berupa ganggang laut.

Pada beberapa laut, ekskresi garam dilakukan oleh kelenjar garam


dikepalanya, disamping ginjalnya. Kelenjar garam menghasilkan cairan dengan
konsentrasi tinggi, terutama natrium dan klorida yang konsentrasinya lebih tinggi
dari pada air laut. Kelenjar garam tidak berfungsi terus menerus seperti pada
ginjal tidak mampu berfungsi, dalam hal penggunaan air, kelenjar garam lebih
ekonomis dari pada ginjalnya.

Pada kadal laut, kelenjar gararm (kelenjar nasal) mengekskresikan haslnya


kebagian anterior rongga hidungnya, dan ekshalasi yang tiba-tiba, menyemprokan
cairan keluar seperti spray melalui lubang hidungnya. Pada reptile laut yang
memiliki cairan tubuh isosmotic dengan air laut, misalnya iguana Galapagos
pemakan rumput laut, tidak memiliki kelenjar garam.

Kura-kura laut pemakan tumbuhan atau karnivora, memiliki kelenjar


garam yang besar pada sekitar kedua matanya (kelenjar orbital). Kelenjar ini
bermuara pada sudut posterior matanya, dan pada saat mengeluarkan ekskresinya
kura-kuranampak seperti menangis. Kelenjar air mata manusia mirip dengan
kelenjar garam pada reptile meskipun tidak secara khusus berperan dalam
mengekskresikan garam (ingat bahwa rasa air mata kita asin). Air mata manusia
isosmotic dengan plasma darah.

54
Ular laut juga mempunyai kelenjar garam yang bermuara kedalam rongga
mulutnya (kelenjar bawah lidah). Sedangkan buaya laut, sebagian tidak memiliki
kelenjar garam, sebagian yang lain memiliki kelenjar-kelejar kecil yang bermuara
pada permukaan lidahnya. Buaya yang tidak memiliki kelenjar garam memelihara
keseimbangan garam cairan tubuhnya dengan hidup dimuara sungai, memakan
ikan, dan memiliki kulit yang sangat impermeable.

9. Osmoregulasi pada burung dan mamalia


Kebanyakan burung dan mamalia sangat terikat dengan iar tawar,
meskipun sebagian ada yang hidup di gurun-gurun dan harus tergantung kepada
air metabolik. Metabolisme burung tinggi, dan kehilangan air lewat pernapasan
juga relatif tinggi. Urin kloaka mungkin berbentuk pasta encer dari kristal-kristal
asam urat, reabsorbsi air mungkin terjadi pada tubuh, ginjal, pada kloaka dan juga
pada usus besar.
Kehilangan air transpirasional relatif rendah. Permeabilitas kulit berbeda
antara spesies yang satu dengan yang lain, demikian juga kehilangan air
transpirasional lewat kulit sangat berbeda. Persentase kehilangan air tubuh setiap
hari pada burung kecil pemakan biji lebih tinggi dari pada burung besar. Pada
manusia dan tikus pad suhu tinggi sekitar 25 0 C dalam udara kering, sekitar
separuh jumlah air yang hilang adalah lewat kulitnya. Tikus gurun di lain pihak,
kehilangan air tubuh lewat kulit hanya 5 %, dan banyak hewan pengerat lain yang
hidup di derah kering juga menunjukkan kehilangan air yang rendah lewat
kulitnya. Pada burung unta kehilangan air lewat penguapan kulit kurang dari 2 %
dari total kehilangan air tubuh.

55
(Gambar kelenjar garam pada burung yang terletak di daerah kantong mata yang terbuka ke
arah rongga hidung)

Burung laut, camar dan pelikan serta burung gurun dan bebek, memiliki
kelenjar nasal yang melayani ekskresi garam ekstrarenal. Camar mengekskresikan
banyak Na+ dan k+ secara ekstrarenal, bahkan dalam keadaan tanpa stress osmotik.
Pada bebek, sekresi Na kelenjar nasla mungkin tujuh kali lebih pekat dari
pada urin, dan skresi k nasal mungkin 3.0 kali konsentrasi urin22. Sekresi distimuli
oleh kelebihan garam atau oleh hiperosmotik sukrosa, keduanya menyebabkan
peningkatkan volume dengan penarikan air jaringan. Sekresi juga dipicu oleh zat
kolinergenik seperti metakolin.

(gambar sekresi burung)

Pengaturan keseimbangan air pada mamalia memungkinkannya untuk


hidup pada udara lembab atau kering, dalam air tawar atau laut, dan meliputi
rentangan luas suhu lingkungan. Mamalia mengatasi stres osmotik dan
pemeliharaan keseimbangan air dehidrasi dengan varisai pengambilan iar dan
dengan mengntrol jalan kehilangan air. Mamalia memiliki kapasitas lebih dari

22

56
pada burung dalam memproduksi urin yang hiperosmotik terhadap darah, tidak
perlu bnatuan kelanjar ektrarenal kecuali kelenjr keringat.
Pada manusia dengan berat badan 70 kg misalnya, kehilanagn air per hari
adalah 600-2000 ml melalui urin, 50-200 ml melalui feses, 350-700 ml melalui
penguapan kulit, 50-400 ml melalui keringat, dan 350-400 ml melalui paru-paru.
Faktor penting untuk mengurangi penguapan air masuk tubuh adalah
bahwa permeabilitas kulit mamalia adalah sangat rendah. Beberpa mamalia
menguapkan air melalui kelenjar keringat atau dengan terengah-engah. Mamalia
kecil seperti kelinci memiliki pendinginan evaporatif rendah atau bahkan tidak
ada. Pada manusia kehilanagan 10 % tubuhnya dapat menyebabkan keadaan
buruk, pada tikus, unta dan domba, kehilanagan 30 % air tubuhnya dapat
menyebabkan kematian.
Kehilangan air lewat feses pada mamalia berbeda-beda. Seekor unta dalam
keadaan tidak minum berlebihan, fesesnya mengandung 76 gr air per 100 gr berat
kering, dalam keadaan kelebihan air, fesesnya mengandung 109 gr air/100 gr berat
kering.perbandingan kandungan air dalam 100 gr berat kering feses pada beberapa
mamalia adalah sebagai berikut : tikus putih = 225 gr, sapi lebih besar dari 566 gr.
Seekor unta dengan berat 400-500 kg tanpa kelebihan minum mungkin
mengeluarkan urin 1,5 liter/hari, hewan pemakan rumput = 0,5-8 liter/hari. Bila
tidak minum air dan hanya amakan rumput kering, seekor unta dalam 8 hari akan
kehilangan sekitar 17 % berat tubuh atau sekitar 30 % air tubuhnya, ini mewakili
38 % air interstitial dan 24 % air intraseluler. Unta menggunakan air rumen untuk
pendinginan.

57
(gambar strategi mamalia ,..)
Setelah dehidrasi, penyembuhan dengan minum mengikuti beberapa pola
yang berbeda pada mamlia yang berbeda, unta mengganti defisit dalam 10 meenit
dan minum sebanyak 25 % berat tubuhnya dalam 1 kali minum, manusia biasanya
lambat untuk mengganti air dengan dengan minum.
Beberapa rodensia dan marsupialia di musim dingin tidak memerlukan
minum air, cukup dari air metabolik saja. Rodensia yang tetap tinggal dalam liang
pada siang hari akan mengurangi kehilangan air sebesar 25 %. Pad atikus gurun
pada udara kering kehilangan air lewat pernapasan = 0,54 mgr air/ml O2 yang
dikonsumsi, bila dibandingkan dengan manusia = 0,84 mgr dan tikus (lab) = 0,94
mgr.
Mamalia laut memiliki ginjal dengan kemampuan efisiensi dalam
meproduksi urin yang sangat hipertonik. Untuk membantu kerja ginjal, mamlia
laut tidak minum air laut, tetapi hanya menelan air bersama makanan yang
dimakan. Sumber air yang lain seperti mamlia gurun adalah air metaboliknya.
Manusia, seperti mamalia yang lain tidak dilengakapi dengan organ untuk
mengekresikan air laut. Ginjal manusia mampu memindahkan sampai sekitar 6 gr
Na+ dari aliran darah/liter urin yang diproduksi.

Air laut laut mengandung sekitar 12 gr/liter Na+. Jadi minum air laut dapat
menyebabkan manusia mengakumulasi garam atanpa penambahan air yang
eqivalen secara fisiologis. Dengan kata lain, untuk mengekskresikan garam yang
di telan bersama sejumlah aitr laut, ginjal manusia memerlukan jumlah air lebih
banyak dari pada yang terkandung dalam air laut yang diminum, jadi minum air

58
laut akan diikuti secara cepat23, itulah alasan mengapa manusia khusunya para
nelayan yang mencari ikan di tengah laut tidak berani nimun air laut ketika dia
kehausan.

BAB III
KESIMPULAN

Sistem ekresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang
sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu
dan asam urat.Zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh akan
dikeluarkan melalui alat ekskresi. Alat ekskresi yang dimiliki oleh makhluk hidup
berbeda-beda.Semakin tinggi tingkatan mahluk hidup, semakin kompleks alat
ekskresinya.
Struktur morfologi dan anatomi organ ekskres sangat berfariasi, namun
secara fungsional dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok: 1) organ
ekresitori umum, yaitu organ ekskresitori yang fungsinya mirip ginjal dengan hasil
ekskresi seperti urin, 2) organ ekskresitori khusus yang berfungsi tambahan
sebagai organ ekskresitori.
Osmoregulasi adalah proses untuk menjaga keseimbangan antara jumlah air
dan zat terlarut yang ada dalam tubuh hewan. Komponen utama penyusun tubuh
hewan adalah air. Proses inti dari osmoregulasi yaitu osmosis. Osmosis adalah
pergerakan air dari cairan yang mempunyai kandungan air lebih tinggi menuju ke
cairan yang mempunyai kandungan air lebih rendah.
Kebanyakan hewan invertebrata laut bersifat osmokonformer, ditandai
dengan adanya konsentrasi osmotik cairan tubuhnya yang sama dengan air laut
tempat mereka hidup. hewan air tawar mempunyai cairan tubuh dengan tekanan
osmotik yang lebih tinggi dari lingkungannya. vertebrata dan invertebrata air
tawar membatasi pemasukan air dengan cara membentuk permukaan tubuh yang
impermeabel terhadap air.

23

59
Vertebrata darat pada umumnya memperoleh air dari air minum dan makanan,
untuk menghemat air vertebrata melakukan berbagai cara yang cukup bervariasi.
Ivertebrata darat umumnya merupakan golongan arthopoda, insekta, dan laba laba
(yang paling banyank ialah insekta). Salah satu gambaran khas dari insekta ialah
adanya rangka luar yang berlapis lilin, yang disebut lapisan kultikula. Adanya
kultikula pada insekta merupakan cara untuk memperkecil kehilangan air melalui
permukaan tubuh.

60