Anda di halaman 1dari 7

PENGANTAR PRAKTIKUM SITOGENETIKA

I. PENDAHULUAN
Pemeriksaan sitogenetika adalah suatu pemeriksaan dari bahan
genetik pada tingkat sel (kromosom) yang dapat diperiksa dengan mikroskop
cahaya. Praktikum Sitogenetika bertujuan untuk menambah pemahaman dan
melatih ketrampilan mengenai materi yang telah disampaikan di ruang kuliah
tentang Pemeriksaan Sitogenetika. Hal-hal yang kurang dipahami mengenai
cara-cara pemeriksaan kromosom, diharapkan setelah praktikum ini akan
menjadi lebih jelas.
Saat keadaan sel dalam interfase (fase istirahat), kromosom dalam
inti terdiri dari sebuah molekul tunggal kromatin yang berbentuk seperti benang
panjang. Ketika proses pembelahan sel, terjadi kondensasi (penebalan dan
pemendekan) kromatin menjadi kromosom. DNA dalam kromosom mengalami
replikasi membentuk 2 lajur benang (kromatid) yang saling berikatan pada
sentromer. Sentromer berbentuk seperti konstriksi (penyempitan) pada satu
bagian kromosom.
Lokasi sentromer membedakan bentuk kromosom menjadi
metasentrik, submetasentrik dan akrosentrik. Apabila sentromer terletak di
tengah kromosom dan membagi lengan p (pendek) dan q (panjang) sama
panjang, maka disebut kromosom metasentrik. Apabila sentromer mendekati
lengan p, maka disebut kromosom submetasentrik, sedangkan bila sentromer
terdapat pada ujung lengan p, maka disebut akrosentrik.
Dalam praktikum ini dilakukan kegiatan sebagai berikut:
1. Melatih ketramplian menggunakan mikroskop
2. Pengenalan metafase sel pada preparat
3. Pemeriksaan jumlah kromosom
4. Pemeriksaan struktur kromosom
5. Pelaporan hasil pemeriksaan

Sebelum praktikum, teliti dan perhatikan alat-alat dan bahan


yang diperlukan, meliputi:
1. Bahan : 5 Preparat banding kromosom
2. Alat dan reagen :
- mikroskop - minyak emersi
- alat tulis - alkohol 96%
- tisue - gunting, lem kertas

II. PEMAKAIAN MIKROSKOP


Perhatikan cara mengambil atau memindahkan mikroskop yaitu tangan
kanan memegang arm (lengan)mikroskop, sedangkan tangan kiri menyangga base
(dasar) mikroskop.
Taruh slide (preparat) pada stage, fixir dengan clip. Pergunakan low power
objective dengan memutar revolving nosepiece. Dengan course adjustment,
turunkan lensa objective sedekat mungkin dengan slide (jangan sampai menyentuh
slide). Dengan mata terbuka, lihatlah dengan satu mata melalui lensa okuler (pada
mikroskop monookuler). Bila letak mikroskop terlalu rendah, aturlah dengan
inclination joint. Aturlah coarse dan fine adjustment, sehingga preparat yang diamati
tampak jelas. Bila belum nampak bayangan dengan terang, perhatikan keadaan
diagfragma, posisi kondensor dan kebersihan lensa.
Preparat slide (preparat kering) membutuhkan penerangan yang banyak,
jadi kondensor harus diatur tinggi dan diagfragma dibuka lebih lebar. Untuk
mendapatkan pembesaran yang lebih besar lagi, pergunakan high power objective
dan aturlah fine adjustment. Untuk pemakaian oil emmersion objective, teteskan
terlebih dahuluminyak emersi di tempat yang akan diperiksa dan dijaga jangan
sampai lensa menyentuh preparat, kemudian atur coarse dan fine adjustment.
Bersihkan mikroskop setelah dipergunakan,terutama lensa-lensanya.
Bersihkan bekas minyak emmersi pada lensa dengan menggunakan xylol.
III. PEMERIKSAAN SITOGENETIKA
Pemeriksaan sitogenetika berperan dalam deteksi kelainan bahan
genetik yang dibawa (baik yang diturunkan maupun yang terjadi secara de
novo) dan kalianan yang didapat (acquired) akibat proses dalam tubuh, seperti
keganasan.
Deteksi kelainan kromosom pada penykit genetik akan membantu
dalam pencagahan, penanganan, intervensi dan progran pendidikan,
pemberian konseling dan keluarga berencana. Baik sebelum maupun setelah
pemeriksaan genetik, pasien dan keluarga memerlukan penjelasan tentang
tujuan pemeriksaan, kemungkinan diagnosisnya dan hasil pemeriksaan. Pada
keganasan hematologik, deteksi kelainan kromosom akan membantu dalam
diagnosis, penentuan terapi, tindak lanjut dan prognosis penyakit.

III.1 Indikasi Pemeriksaan Sitogenetika


1. Kecurigaan adanya kelainan kromosom klasik
2. Individu dengan cacat bawaan
3. Individu dengan keterbelakangan mental/disabilitas intelektual
4. Orang tua dari anak dengan kelainan kromosom
5. Pasangan dengan riwayat tidak subur
6. Pasangan dengan riwayat keguguran spontan berulang
7. Wanita dengan postur tubuh pendek (<140 cm)
8. Individu dengan jenis kelamin tidak jelas
9. Individu ingin operasi ganti kelamin
10. Amenorrhoe primer
11. Kegagalan tanda-tanda kedewasaan pada pria dan wanita
12. Individu dengan kecenderungan bertindak kriminal
13. Ibu hamil dengan usia lebih dari 35 tahun
14. Ibu hamil dengan riwayat pernah melahirkan bayi cacat
15. Keganasan hematologik

III.2 Jenis Pemeriksaan Sitogenetika


a. Kromatin seks
Pemeriksaan kromatin seks memerlukan bahan hapusan permukaan
dalam pipi. Pemeriksaan ini sangat sederhana dan terjangkau. Informasi
pemeriksaan kromatin seks sangat terbatas yaitu hanya untuk deteksi jenis
kromosom yang biasanya dopakai sebagai indikator jenis kelamin. Bila
tampak satu kromatin seks (Barr body) di dalam sel positif, berarti individu
tersebut mempunyai 1 kromosom X+1 = 2 kromosom X yang sesuai
dengan jenis kelamin wanita, atau pada laki-laki dengan kalinan kromosom
sekx (sindrom Klinefelter). Sebaliknya bila tidak tampak kromatin seks
(negatif) berarti individu hanya memiliki 1 kromosom X, yaitu pada jenis
kelamin laki-laki atau pada wanita dengan kelainan kromosom seks
(sindrom Turner)
b. Sitogenetika pada penyakit/gangguan genetik
Pemeriksaan ini untuk mendeteksi adanya kelainan maupun jumlah
kromosom pada sel limfosit dari darah tepi, biasanya digunakan darah
vena berheparin.

c. Sitogenetika pada keganasan darah


Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan struktur
maupun jumlah kromosom pada sel lekosit dari sumsum tulang yang
mempunyai indeks mitosis tinggi. Kultur pada sel darah tepi tidak
diperbolehkan menggunakan Phytohaemaglutinin (PHA) karena
mengakibatkan false positif. Kelainan kromosom pada keganasan darah
sulit dideteksi daro sel darah tepi karena jumlah metafase yang terlalu
sedikit.
d. Sitogenetika untuk diagnosis prenatal
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosis keadaan bayi dalam
kandungan pada ibu hamil 8-12 minggu. Ada 2 jenis cara pengambilan
sampel untuk pemeriksaan sitogenetika untuk diagnosis prenatal, yaitu
dengan biopsi plasenta (villi chorialis) melalui servik uteri yang dipandu
oleh USG pada ibu hamil >8 minggu. Cara lain yang dapat ditempuh untuk
pengambilan sampel adalah dengan amniocentesis yang dilakukan saat
usia kehamilan lebih tua (12-16 minggu). Saat itu diharapkah cairan
amnion sudah mencapai >200 mL, sehingga dapat dilakukan penyedotan
cairan amnion melalui abdomen dipandu dengan USG.

IV. IDENTIFIKASI KROMOSOM


Kromosom pada manusia normal berjumlah 46, yaitu 22 pasang
autosom dan sepasang kromosom seks. Autosom pada laki-laki dan wanita
memiliki jumlah dan struktur yang sama, sedangkan kromosom seks diantara
keduanya berbeda. Kromosom seks pada laki-laki normal adalah XY
sedangkan pada wanita normal adalah XX.
Kromosom diklasifikasikan menurut ukuran dan letak sentromer.
Identifikasi kromosom sangat sulit dilakukan. Dengan pengecatan solid
(Giemsa), penggolongan bentuk kromosom dibedakan menjadi 7 grup, yaitu :
A : kromosom metasentrik terbesar yaitu kromosom 1,2,dan 3
B : kromosom submetasentrik besar yaitu kromosom 4 dan 5
C :kromosom metasentrik dan submetasentrik ukuran medium yaitu kromosom
6-12 dan X
D : kromosom akrosentrik yaitu kromosom 13, 14 dan 15
E : kromosom metasentrik medium (16) dan submetasentrik kecil (17 dan 18)
F : kromosom metasentrik kecil yaitu kromosom 19 dan 20
G : kromosom akrosentrik kecil yaitu kromosom 21, 22 (bersatelit) dan Y (tidak
bersatelit)
Penggolongan tersebut hanya dilakukan apabila identifikasi individual
kromosom tidak jelas.
Diagnosis pada pemeriksaan sitogenetika kromosom dapat
dilakukan apabila pengecatan kromosom menggunakan teknik banding. Teknik
tersebut menggunakan enzim tripsin sebelum dicat dengan Giemsa. Enzim
tripsin akan memberikan gambaran kromosom dengan garis-garis lintang gelap
dan terang dalam ketebalan yang bervariasi. Dengan pengecatan banding,
kromosom digolongkan mengikuti ukuran kromosom dari besar ke kecil
menggunakan angka pada autosom (kromosom 1-22), kecuali kromosom 22
lebih besar dari kromosom 21 dan huruf X dan Y pada kromosom seks.
Masing-masing kromosom dibagi menjadi regio-regio. Setiap regio
diberi nomer secara sekuensial dari sentromer mulai dari regio 1. Lokasi regio
ditunjukkan dengan menyebutkan nomer kromosom, lengan kromosom (p atau
q) dan nomer dari regio itu sendiri. Regio dibagi lagi menjadi band (terang dan
gelap). Masing-masing band dalam regio diberi nomer secara sekuensial
dimulai dari sentromer. Nomer tersebut dituliskan setelah nomer regio. Ujung-
ujung lengan kromosom tidak dianggap sebagai band sehingga tidak diberi
nomer, tetapi dinamakan sepagai pter (ujung lengan p) dan qter (ujung lengan
q). Sedangkan sentromer diberi neme cen. Dengan teknik khusus kromosom
dapat tampak lebih panjang sehingga dapat dilihat adanya subband. Subband
juga diberi nomer dengan pemberian titik setelah penulisan band, misalnya
1p21.1. Pemeriksaan sitogenetik kromosom mengacu pada idiogram
kromosom (lampiran), sedangkan teknik penulisan diagnosis pada
pemeriksaan tersebut harus mengikuti standar internasional (International
System for Human Cytogenetic Nomenclature/ISCN).

V. ABNORMALITAS KROMOSOM
1. ABNORMALITAS JUMLAH KROMOSOM
1. Trisomi
Trisomi (2N+1) : terdapatnya 3 kopi dari suatu kromosom. Contoh:
Sindrom Down (trisomi 21), Sindrom Patau (Trisomi 13), Sindrom Edward
(trisomi 18)
b. Monosomi
Monosomi (2N-1) : hanya ada 1 kopi dari suatu kromosom. Contoh :
Sindrom Turner (monosomi X)

2. ABNORMALITAS STRUKTUR KROMOSOM


Translokasi : pertukaran materi genetik antara 2 kromosom.
Tipe Resiprokal : terjadi patahan pada 2 kromosom, yang kemudian kedua
patahan ini bertukar tempat untuk membentuk struktur kromosom yang baru
Tipe Robertsonian : sub-tipe dari translokasi resiprokal, dimana patahannya
terjadi di dekat sentromer dua kromosom akrosentrik
Insersi : segmen patahan dari suatu kromosom menempel/tersinsersi pada
kromosom lain
Delesi : hilangnya sebagian segmen kromosom, menyebabkan monosomi
kromosom untuk segmen tersebut
Inversi : adanya 2 patahan pada suatu kromosom diikuti dengan menempelnya
kembali patahan tersebut namun dalam posisi yang terbalik
Kromosom Ring : terbentuk ketika ada patahan pada kedua lengan kromosom,
dimana segmen akhir kromosom kemudian saling menempel membentuk
gambaran cincin
Isokromosom : hilangnya satu lengan dari suatu kromosom dengan duplikasi
lengan lainnya.

VI. PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN KROMOSOM


Cara melaporkan bentuk/konstitusi kromosom dalah mengkuti cara
yang diharuskan oleh ISCN. Standar penulisan konstitusi kromosom adalah:
pertama kali tulis jumlah kromosom, kemudian koma dan diikuti jenis
kromosom seks, lalu koma dan tuliskan kelainan struktur (bila ada). Bila ada
kelainan kromosom yang melibatkan 2 kromosom, maka tulislah jenis
kromosom secara urut dari nomer yang terkecil.
Semua metafase yang sudah dianalisis difoto hitam putih, tiap-tiap kromosom
digunting dan ditempel pada kertas laporan sesuai dengan urutan nomernya.
Dokter ahli sitogenetika menentukan kariotipnya dan memberikan kesimpulan
dari hasil pemeriksaan.

Referensi:
Sultana MHF, Pengantar Sitogenetika, Genetika Molekuler dan Alat Bantu Konseling
Genetika, Laboratorium Bioteknologi Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, 2000

Lampiran

Kariotipe Kromosom Wanita Normal : 46,XX


Pengelompokan Kromosom pada Gambaran Kromosom Wanita Normal
Kromosom Laki-laki Normal : 46, XY

Kariotipe Kromosom pada Sindrom Down : 47,XY+21

Kariotipe Kromosom Sindrom Turner: 45,X


Fragilitas Membran Eritrosit
Oleh : Tim Biokimia

1. Tujuan Percobaan :
Memperlihatkan pengaruh larutan hiper/hipotonik terhadap membran sel.

b. Kegunaan Test
1. Membantu menegakkan diagnosis spherositosis herediter dan
beberapa penyakit hepar maupun kelainan metabolisme.
2. Untuk screning test penyakit thalasemia.

c. Dasar
Dalam larutan hipotonis, SDM akan menggembung karena perbedaan osmose, air akan
tertarik masuk ke dalam SDM. Setelah sel mencapai volume tertentu (critical volume),
membran sel akan robek dan pecah(hemolisis) sehingga terlepaslah molekul-molekul
besar seperti Hb larutan akan berwarna merah jernih. Hb yang terdapat di supernatan
inilah yang diukur dengan spektrofotometer.

d. Alat dan Bahan


1. Larutan stock bufer saline, larutan ini dapat dibuat dengan melarutkan NaCl di dalam
fosfat bufer pH 7,4 untuk dijadikan larutan bufer saline 10%.
2. Sukrosa media pH 6.0.
3. Larutan heparin 5.000 IU/cc
4. Spektrofotometer Stat Fax 3300
5. Mikro pipet 1.000 ul
6. Tabung reaksi 14 buah
7. Pipet volume 0,2 ; 0,5 ; 1 ; 2 ; 5 dan 10 ml
8. Injeksi spuit 3 ml
9. Sentrifus dan tabungnya

e. Cara Kerja
1. Siapkan 14 tabung reaksi, berilah tanda pada masing-masing tabung angka-angka 0,
0,15, 0,20, 0,25, 0,30, 0,35, 0,40, 0,45, 0,50, 0,55, 0,60, 0,65, 0,70, dan
0,90.
2. Masukkan 10 ml larutan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda-beda dari 0, 0,15
s/d 0,90 %.
3. Ambil darah vena sebanyak 2,5 ml dengan menggunakan Heparin sebanyak 200 IU.
4. Tambahkan 0,1 ml darah heparin pada masing-masing tabung dan campur dengan
baik, sampai darah merah tercampur merata dalam larutan NaCl.
5. Diamkan di temperatur kamar selama 60 menit dan kemudian lakukan pemusingan
pada 3.000 rpm selama 3-4 menit.
6. Ambil 3 ml supernatan dan lakukan pembacaan dengan spectrophotometer pada 540
nm. Sedangkan pembacaan blangko adalah dari supernatan 0,90%. Dengan blank
0,90% pembacaan sample 0 akan berkisar 0,4 dan 0,8 unit ID. Bila tidak perlu
dilakukan pengenceran untuk semua sample.

f. Perhitungan
Untuk menghitung berapa banyak hemolisis terjadi pada masing-masing tabung maka
pembacaan masing-masing tabung dibandingkan dengan pembacaan OD tabung 0.

g. Interpretasi
Mengingat belum adanya data hemolisis SDM untuk bangsa kita, dapatlah untuk
sementara dipergunakan data yang telah dibakukan di dunia Barat yaitu:

% NaCl % Lisis
0,20 97-100
0,30 90-98
0,35 50-95
0,40 5-45
0,45 0-6

h. Tugas
1. Buatlah grafik standart tersebut di atas dan buatlah grafik hasil percobaan kelompok
saudara !
2. Bandingkan dengan grafik standart, maka saudara akan dapat memperoleh
interpretasi hasil kerja saudara.