Anda di halaman 1dari 11

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Geologi Regional


Secara umum daerah penelitian merupakan suatu dataran dengan elevasi
sekitar 45 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di daerah penelitian terlihat suatu
perbukitan yang mengelilingi di bagian utara dan timur dari lokasi penelitian, yang
dapat dilihat pada gambar 3.1 dan gambar 3.3. Pegunungan tersebut merupakan zona
Pegunungan Serayu Selatan menempati bagian tengah Jawa membentang barat-timur
Jawa Tengah dari Purwokerto sampai Purworejo. Daerah ini bermorfologi
Pegunungan lipatan dengan litologi mlange pada kompleks Luk Ulo,
Karangsambung, Kebumen (Bammelen, 1949).

Gambar 3.1 Kondisi morfologi daerah kajian. (Digital Elevation Model (DEM), NASA, 2000).

(Keterangan : Lokasi Uji Pemompaan)


Mengacu pada pemetaan geologi Rahardjo, dkk. (1995), daerah kajian yang
termasuk dalam Kabupaten Purworejo yang merupakan bagian dari dataran aluvium
Jawa Tengah Selatan, yang dibatasi oleh Pegunungan Serayu Selatan dan Gunung Api
Sumbing di sebelah utara, Pegunungan Kulon Progo di timur, Samudra Hindia di
selatan dan dataran Kebumen-Banyumas di sebelah barat, terlihat pada gambar 3.2.
Menurut Bronto (2005), dataran Purworejo ini tersusun oleh endapan aluvium
yang terutama berasal dari rombakan batuan gunung api Tersier penyusun
Pegunungan Serayu Selatan dan Pegunungan Kulon Progo, serta Gunung Api Kuarter
Sum-bing. Di bagian utara sebelah timur endapan rombakan tua membentuk kipas
aluvium Purworejo, sedangkan di sebelah barat membentuk kipas aluvium Kutoarjo.
Kedua kipas aluvium itu bersumber dari sebelah timur laut daerah penelitian. Dataran
Purworejo bagian tengah terdiri atas endapan aluvium pantai tua yang kemudian
ditutupi oleh endapan aluvium sungai masa kini yang diangkut oleh Kali Wawar di
bagian barat, Kali Jali di bagian tengah, dan Kali Bogowonto di bagian timur. Dataran
Purworejo bagian selatan, mulai dari Kali Lereng sampai garis pantai sekarang,
dibentuk oleh en-dapan aluvium pantai muda. Diperkirakan sumber daya air tanah di
bawah dataran Purworejo ini sangat melimpah, dan khusus endapan aluvium pantai
muda mempunyai potensi yang tinggi akan bahan tambang pasir besi serta mineral
ikutannya.
Gambar 3.2 Peta geologi regional daerah kajian. (Rahardjo, dkk., 1995).

Kondisi sekitar daerah kajian merupakan dataran, dengan pemanfaatan lahan


berupa pemukiman, persawahan dan perkebunan, yang dapat terlihat pada gambar 3.2
dan 3.3.
Gambar 3.3 Penggunaan lahan berupa pemukiman dan perkantoran. (Kamera menghadap kearah
timurlaut).

Gambar 3.4 Tata guna lahan persawahan di bagian utara terlihat pegunungan. (Kamera
menghadap kea rah utara).
3.2 Prinsip Dasar Uji Pemompaan
Pergerakan airtanah sangat dipengaruhi oleh prinsip hidraulik yang secara umum
dijelaskan melalui Hukum Darcy. Hukum Darcy menjelaskan tentang kemampuan air
mengalir pada rongga-rongga (pori) dalam tanah dan sifat-sifat yang
memengaruhinya. (Todd, 2005). Prinsip dari uji pemompaan yaitu melakukan
pemompaan pada suatu sumur dan mengukur keluaran air (debit) dari sumur serta
drawdown/penurunan muka air saat dilakukan pemompaan dan hasilnya dapat
dihitung untuk mengetahui karakteristik hidraulik dari suatu akuifer (Kruseman dan
de Ridder, 2000). Uji pemompaan tersebut, pada prinsipnya mengacu pada dasar
Hukum Darcy mengenai pergerakan airtanah (Todd, 2005). Secara umum ada 2
metode dalam uji pemompaan, yaitu:
1. Uji Pemompaan Menerus (Long Period Test)
Uji pemompaan menerus merupakan suatu uji pemompaan yang dilakukan
dengan mengukur debit secara konstan yang mampu dihasilkan akuifer suatu
sumur serta mengukur nilai penurunan ataupun naiknya muka air ketika dipompa
dan ketika uji pemulihan dalam kurun waktu tertentu.
2. Uji Pemompaan Bertahap (Step Drawdown Test)
Uji pemompaan bertahap pada prinsipnya mengukur debit airtanah secara
bertahap serta mengukur nilai drawdown dari airtanah.
3. Uji Pemulihan/Recovery
Secara umum dalam uji pemulihan, yaitu mengukur naiknya (proses
pengisian) air hingga pada muka airtanah saat akan dilakukan uji pemompaan
pada waktu tertentu.
Gambar 3.5 Penurunan muka air ketika uji pemompaan. A.Kondisi muka awal air ketika dilakukan
pemompaan, B. Kondisi muka air dalam kurun waktu tertentu. (de Ridder, 1999).

Dalam uji pemompaan dilakukan pengukuran debit serta penurunan muka air
saat dilakukan pemomaan maupun ketika uji pengembalian air (recovery test). Dari
nilai tersebut, menurut Todd (2005) dapat dihitung didapatkan 3 nilai, yaitu sebagai
berikut.
1. Transmisivitas
Menurut Todd (2005) Transmisivitas merupakan suatu nilai dimana kekentalan
kinematic air yang dapat disalurkan melalui akuifer pada satuan unit hidraulik.
Transmisivitas dilambangkan sebagai : T = Kb = (M.day-1)x(m)= M2.day-1. Nilai
transmisivitas tersebut dibagi menjadi 2 tipe dimana mendekati nilai 12,4 M 2.day-1
tergolong debit kecil, sedangkan nilai 124 M2.day-1 tergolong debit besar.
2. Konduktivitas Hidraulik
Menurut Drisscoll (2007) koefisien konduktivitas hidraulik merupakan suatu
sifat air yang berhubungan dengan material geologi yang memiliki kemampuan untuk
menyalurkan air pada standart temperature dan densitas tertentu, dimana karakteristik
ini dilambangkan dengan suatu nilai koefisien konduktivitas hidraulik. Pada tabel 3.1
terlihat suatu nilai konduktivitas hidraulik dari berbagai macam batuan.
Tabel 3.1 Nilai konduktivitas hidraulik dari berbagai macam batuan. (Biro reklamasi
USA, 1977 dalam Todd, 1966).

3. Koefisien Cadangan
Koefisien cadangan merupakan suatu volume air yang didapatkan atau
dilepaskan dari cadangan, per unit perubahan dalam satuan per unit area. Dalam
akuifer bebas nilai koefisien cadangannya berkisar antara 0.01-0.30, sedangkan pada
akuifer tertekan memiliki nilai antara 10-5-10-3 (Drisscoll, 2007).

3.3 Metode Perhitungan Uji Pemompaan Menerus


Dalam uji pemompaan, data yang telah didapat dari lapangan selanjutnya
dilakukan perhitungan untuk mengetahui nilai hidraulik dari suatu akuifer pada sumur
yang dilakukan pemompaan. Menurut Todd (2005), salah satu metode yang dapat
digunakan untuk perhitungan data hasil uji pemompaan menerus yaitu metode
Cooper-Jacob.
Dalam perhitungannya Cooper dan Jacob mendapatkan kesimpulan bahwa u
adalah kecil bila r kecil dan t besar, maka sesudah dua suku pertama dari deretan
suku-suku non equilibrium equation dapat diabaikan, sehingga :
Q r2S
h - h0 (0,5772 ln )
4T 4Tt

(1)
Pada persamaan 1 dapat ditulis kembali dalam logaritma desimal, sehingga menjadi :
2.30Q 2.25Tt
h - h0 log
4T r2S
(2)
Dari persamaan 2 dapat disimpulkan bila h0-h atau s diplot terhadap logarima t, maka
didapatkan kurva linier. Dengan memproyeksikan untuk h 0-h atau s = 0, dimana t =
t0, maka dapat dilihat pada persamaan 3.
2.30Q 2.25Tt0
0 log
4T r2S
(3)
2.25Tt0 2.25Tt0
1 S
r2S r2
sehingga diperoleh : atau
Nilai transmisivitas didapat dengan mencatat nilai bilamana t/t0 =10, dimana
log t/t0 = 1; sehingga dengan mengganti h 0-h atau s dengan s,dimana s adalah
perbedaan drawdown per log cycle t (dapat dilihat pada gambar 3. ), maka :
2.30Q
T
4s
(4)
Keterangan :
T : transmisivitas (m2/hari)
Q : debit pemompaan (m3/hari)
S : drawdown dalam satu siklus log (m)
Setelah didapatkan nilai transmisivitas pada persamaan 4, kemudian hitung nilai K
pada persamaan 5.
T
K
B
(5)
Keterangan :
K : Koefisien konduktifitas hidraulik (m/hari)
T : Transmisivitas (m2/hari)
B : Tebal akifer (m)
Berdasarkan penjelasan di atas mengenai metode perhitungan Cooper dan
Jacob, untuk mendapatkan nilai s dan nilai t maka data hasil pumping test diplotkan
ke dalam kurva semi log yang dapat dilihat pada gambar 3.5 .

Gambar 3.5 Contoh data uji pemompaan untuk mendapatkan nilai s dan t. (Todd, 2005).

3.4 Kimia Air


Analisa kualitas air tanah dilakukan dengan pengambilan sampel/conto air
tanah pada sumur yang diuji untuk dianalisis di laboratorium untuk mengetahui
parameter-parameter kualitas air bersih menurut Departemen Kesehatan RI sesuai
SK PERMENKES NO. 429/MENKES/PER/IV/2010. Adapun parameter-parameter
tersebut sesuai dalam tabel 3.2.

Tabel 3.2. Parameter Kualitas Air


KADAR MAKSIMUM YANG
No. PARAMETER SATUAN
DIPERBOLEHKAN
A. FISIKA
1 Bau - -
2 Kekeruhan Skala NTU 25
3 TDS mg/l 500
4 Rasa - -
o
5 Suhu C Suhu udara 3 oC
6 Warna HZ 50
B. KIMIA
a. KIMIA ANORGANIK
1 Besi mg/l 1.0
2 Fluorida mg/l 1.5
3 Kesadahan mg/l 500
4 Chlorida mg/l 250
5 Mangan mg/l 0.4
6 Nitrat mg/l 50
7 Nitrit mg/l 3.0
8 Sianida mg/l 0.07
9 pH - 6.5-8.5
b. KIMIA ORGANIK
1 Zat Organik mg/l 10

3.5 Litologi Bawah Permukaan


Berdasarkan data dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015 mengenai
susunan litologi pada sumur bor BESDM Serayu Selatan, yang dirangkumkan
melalui hasil analisis uji logging dan pengambilan sampel batuan dari pelaksanaan
pekerjaan pengeboran, lapisan batuan yang dijumpai sebagai berikut.
1. Lapisan I pada kedalaman 0-5 meter, merupakan tanah penutup/top soil
2. Lapisan II pada kedalaman 5-30 meter, merupakan lapisan batuan pasir batu
grosok, dalam hal ini diasumsikan sebagai endapan alluvial.
3. Lapisan III pada kedalaman 30-110 meter, merupakan padas pasir, dalam
istilah geologi diartikan sebagai batupasir.
Kondisi susunan litologi bawah permukaan yang ada pada sumur uji (terlampir) ini
akan digunakan dalam penentuan jenis akuifer yang ada, dimana berdasarkan data
tersebut di atas tergolong dalam akuifer bebas.