Anda di halaman 1dari 6

Bahan 1

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 (Perppu No.1/2016)


tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak (UU No. 23/2002), pada intinya memuat ancaman pidana baru dan memperberat hukuman
bagi pelaku kekerasan sesksual terhadap anak. Salah satu yang paling menuai sorotan adalah
perihal hukuman kebiri. Dalam kutipan pidato saat mengumumkan Perppu ini Presiden
mengatakan Bahwa kejahtan luar biasa harus ditangani dengan tindakan luar biasa pula.
Ungkapan yang sering kita dengar dengan istilah extra ordinary crime and extra ordinary
action. Pertanyaan yang timbul dari kutipan tersebut, apakah kekerasan seksual merupakan
kejahatan luar biasa? Atau apakah kekerasan seksual telah dimasukkan sebagai bagian dari
kejahatan luar biasa? Ini masih seputar kalimat sederhana yang diucapkan di awal penyampaian
Jokowi, belum menyoal isi Perppunya. Hebat! Kekerasan seksual terhadap anak oleh Jokowi
telah setara dengan terorisme, penyalahgunaan dan peredaran narkoba, dan genosida.

Sekarang, mari menyoal mengenai Perppunya. Pertama, mengenai bentuk hukum, dalam Pasal
22 ayat (1) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945)
berbunyi:

Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan
pemerintah pengganti undang-undang.

Hal tersebut juga tertuang dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Yang patut digarisbawahi adalah kata dalam hal
ihwal kegentingan yang memaksa. Mengenai hal ihwal kegentingan yang memaksa ini tentu
menjadi subjektifitas Presiden. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam hal ini memiliki peran
menentukan pendapat Presiden tersebut. Apakah benar menimbulkan kegentingan yang memaksa
atau akan menimbulkan. DPR memiliki wewenang untuk menyetujui atau tidak menyetujui
Perppu tersebut pada sidang DPR, jika disetujui maka Perppu disahkan menjadi undang-undang,
jika tidak disetujui, maka Perppu harus dicabut, hal itu sebagaimana diatur dalam Pasal 22 ayat
(2) dan (3) UUD NRI 1945.

Pertanyaan kedua yang muncul, apakah kekerasan seksual terhadap anak merupakan hal ihwal
kegentingan yang memaksa?, menurut subjektifitas Penulis, kekerasan seksual terhadap anak
bukanlah hal ihwal kegentingan yang memaksa, yang apabila tidak diselesaikan segera akan
menimbulkan dampak yang besar bagi bangsa dan Negara, atau bukan merupakan hal yang
membutuhkan penanganan darurat melalui Perppu. Kekerasan seksual merupakan masalah moral
yang telah berpuluh tahun terjadi dan tidak dapat diselesaikan dengan berpikir parsial
menetapkan aturan yang sifatnya menakuti. Mengapa baru sekarang Pemerintah begitu
goyangnya menetapkan aturan sampai mengeluarkan Perppu padahal kekerasan seksual
terhadap anak sudah berpuluh tahun terjadi? Bahkan sebelum undang-undang perlindungan
terhadapnya ada. Tidakkah Pemerintah berpikir lebih jernih? Sungguh hebat program revolusi
mental yang diajukan oleh sang Presiden, tapi nampaknya Presiden yang menetapkan hukuman
kebiri telah mengebiri juga cita-cita mulianya yang bernama Revolusi Mental dengan
hukuman ini. Kebiri bukan revolusi mental, ini mengebiri revolusi mental! Aduh Pak! Ini betul
ingin menghukum kebiri atau hanya supaya terlihat berdiri? (Katanya) Kekerasan seksual
terhadap anak telah ditetapkan sebagai kejahatan luar biasa karena mengancam dan
membahayakan jiwa anak. Perampok juga mengancam dan membahayakan jiwa korban. Geng
motor, pembunuh, koruptor, pengedar narkoba, bahkan semua kejahatan juga mengancam dan
membahayakan jiwa. Kenapa semua tidak sekalian dibuatkan Perppu biar adil?

Sekarang, mari menilik isi Perppu No.1/2016. Perppu ini memperberat sanksi bagi pelaku
kejahatan seksual, yakni hukuman mati, penjara seumur hidup, maksimal dua puluh tahun
penjara dan minimal sepuluh tahun penjara. Selain itu juga mengatur tiga sanksi tambahan, yakni
kebiri kimiawi, pengumuman identitas ke publik, serta pemasangan alat deteksi elektronik bagi
kekerasan seksual tertentu yang mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular,
terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia (lihat Pasal 81
ayat (5) Perppu No.1/2016). Sanksi tambahan tidak berlaku bagi anak/dikecualikan bagi pelaku
anak sebagaimana disebutkan dalam Pasal 81 ayat (9) Perppu tersebut. Terdapat penambahan
pasal yakni Pasal 81A yang isinya mengatur mekanisme pemberian sanksi tambahan.
Pelaksanaan sanksi tambahan diberikan maksimal dua tahun setelah menjalani pidana pokok.
Untuk memperberat sanksi, secara subjektif dapat menilai bahwa hal tersebut wajar dilakukan.
Melihat fenomena belakangan ini, apalagi dengan kasus miris Yuyun beberapa waktu lalu. Itupun
sebenarnya jalannya tidak harus melalui Perppu tetapi bisa dimasukkan dalam Prolegnas tahun
berikutnya untuk dibahas. Tapi untuk sanksi tambahan, aduh! Sepertinya tidak rasional.

Sekarang, mari menguji konstitusionalitas hukum kebiri, konstitusionalkah? Dalam UUD NRI
1945 Pasal 1 ayat (3) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara Hukum, pada pasal 28A
menyatakan bahwa Setiap orang berhak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan
kehidupannya, Pasal 28D ayat (1) menyatakan bahwa Setiap orang berhak atas pengakuan
jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan
hukum, Pasal 28G mengatur hak atas perlindungan kehormatan dan martabat serta bebas dari
penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat atau martabat, ditutup dengan Pasal 28I
ayat (1) yang pada intinya menyatakan bahwa hak hidup, hak untuk tidak disiksa dan hak lainnya
yang disebutkan dalam pasal ini merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam
keadaan apapun. Setelah melihat pasal-pasal tersebut, konstitusionalkah hukum kebiri?
Sesuaikah dengan cita-cita revolusi mental yang sering diteriakkan oleh Jokowi? Sejalankah
dengan semangat perlindungan hak asasi manusia (HAM) yang dibangun selama ini? Penulis
beranggapan tidak, pandangan selanjutnya diserahkan kepada pembaca untuk menilai.

Antara semangat penegakan HAM dan hukum kebiri, nampaknya kita harus membuka banyak
instrumen perundang-undangan. Sejak 1998, Indonesia meratifikasi konvensi internasional
menentang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi atau
merendahkan martabat manusia yang diundangkan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1998. Indonesia telah meratifikasi berbagai instrumen internasional perlindungan dan penegakan
HAM, tetapi hari itu melalui subjektifitas Presiden atas kewenangannya menetapkan Perppu,
cita-cita dan penegakan HAM yang dibangun sejak lama, sejak reformasi bergulir kini
dipertanyakan kembali. Perppu No.1/2016 menjadi tanda tanya pertanyaan itu.

Hukum kebiri, antara kebiri dan terlihat berdiri. Entahlah! Tiga tahun lalu Penulis juga adalah
anak menurut UU, dan tiga tahun lalu Penulis menjadi bagian perlindungan UU No. 23/2002,
tetapi Penulis tidak sependapat dengan kebijakan yang diambil oleh Presiden Joko Widodo.
Semoga Perppu ini lahir atas keprihatinan Presiden pada masalah anak bukan karena alasan lain.
Bukan karena ingin terlihat berdiri (pencitraan) sebagaimana opini yang terbangun di beberapa
sosial media. Semua orang juga berdiri menentang kekerasan terhadap anak, tetapi tentu tidak
dengan langkah parsial menghukum pelaku kekerasan seksual dengan ganjaran hukum kebiri.
Semua orang menanti hasil revolusi mental bukan hasil kebiri. Apakah memilih perlindungan
anak atau perlindungan HAM? Maka jawabannya keduanya harus dipilih, maka hukum kebiri
bukanlah jalannya karena mencederai salah satu perlindungan yakni HAM. Semoga DPR bisa
mempertimbangkan dengan matang Perppu ini untuk disetujui atau tidak disetujui.

Bahan 2

Peristiwa kejadian kekerasan seksual terhadap anak saat ini semakin sulit dikendalikan.
Banyaknya predator-predator yang melakukan kekerasan terhadap anak menunjukkan bahwa
mereka itu ada dan sangat berbahaya bagi anak-anak kita. Pelaku kekerasan seksual terhadap
anak ini merupakan suatu penyakit kelainan jiwa yang dikenal dengan nama Pedophilia. Istilah
Penyakit ini secara umum menjelaskan salah satu kelainan psikoseksual, di mana individu
memiliki hasrat erotis yang abnormal terhadap anak.

Berita-berita tentang kekerasan seksual terhadap anak banyak diberitakan, baik di media cetak,
media elektronik, dan media sosial, menunjukkan semakin meningkatnya kejahatan tersebut.
Hal ini menuntut perhatian seluruh lapisan masyarakat, khususnya Pemerintah (pusat dan daerah)
dan lebih khusus lagi adalah aparat penegak hukum.

Berdasarkan catatan Komnas Perlindungan Anak, pada bulan Januari-April 2014,


tercatat sejumlah 342 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Sementara itu, data
dari Kepolisian (Polri) mencatat 697 kasus kekerasan seksual terhadap anak terjadi
pada tahun 2014. Adapun data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
menunjukkan, kasus kekerasan anak di Indonesia hingga April 2015 sebanyak 6006
kasus. Dari jumlah tersebut, kasus kekerasan seksual anak rata-rata 45 anak
mengalami kekerasan seksual setiap bulannya menurut KPAI. (Davit Setyawan,
KPAI, 20 Oktober 2015).

Melihat tren jumlah kasus yang ada, diharapkan peran serta dari organisasi pemerhati anak,
misalnya KPAI dan Komnas Perlindungan Anak. Peran mereka harus lebih konkrit lagi dalam
mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Pemerintah juga dituntut berperan aktif
dan lebih fokus untuk mencegah kejahatan atau kekerasan tersebut. Pemerintah harus
memperkuat peran KPAI dengan memberi fungsi mediasi dan investigasi serta melakukan
pengawalan khusus terhadap penanganan hukum.

Pada masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), telah dikeluarkan
Instruksi Presiden (Inpres) No. 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual
Terhadap Anak. Inpres ini dikeluarkan sebagai jawaban semakin maraknya kekerasan seksual
terhadap anak, khususnya yang terjadi pada Jakarta Internasional School (JIS).

Inpres ini menginstruksikan kepada para Menteri, Jaksa Agung, Kapolri, Kepala Lembaga non
Pemerintah, Gubernur dan Walikota/Bupati, untuk mengambil beberapa langkah yang diperlukan
sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing. Melakukan pencegahan dan
pemberantasan kejahatan seksual terhadap anak melalui Gerakan Nasional Anti Kejahatan
Seksual Terhadap Anak (GN-AKSA), yang melibatkan seluruh unsur masyarakat dan dunia.

Selain itu pada tahun 2014 juga telah disahkan undang-undang tentang perlindungan anak yang
baru, yaitu UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak. Undang-undang ini diharapkan dapat menjadi senjata pamungkas untuk
mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Dalam UU ini juga telah mengatur
mengenai keamanan anak dalam lingkungan sekolah, dan hukuman bagi pendidik yang
melakukan kekerasan seksual terhadap anak, jumlah hukumannya pun telah diubah jadi lebih
lama. Namun nampaknya tidak dapat membuat efek jera bagi para predator-predator anak,
terbukti semakin maraknya kekerasan seksual terhadap anak saat sekarang ini.

Oleh karena itu banyak pengamat dan pemerhati anak menyatakan bahwa Indonesia sudah
Darurat Kekerasan Seksual Anak. Keadaan inilah yang menimbulkan pemikiran untuk
mengoreksi hukuman atau menambah hukuman bagi pelaku kekerasan seksual anak, berupa
hukuman pemberatan. Karena hukuman yang ada dianggap tidak dapat memberi efek jera bagi
pelaku.

Hukuman pemberatan sebenarnya sudah diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia, yaitu pada Pasal 58 angka (2). Pasal ini menekankan bahwa pelaku kekerasan seksual
(perkosaan terhadap anak) harus dikenakan pemberatan hukuman. Hal inilah sebenarnya tidak
diperhatikan oleh pembuat undang-undang, sehingga tidak terakomodir dalam undang-undang
yang baru disahkan tentang perlindungan anak. Perlu diketahui, kata pemberatan hukuman yang
dimaksud bukan dimaknai sebagai hukumannya diperlama waktunya, melainkan selain hukuman
penjara ada tambahan hukuman dalam bentuk lain, misalnya pada korupsi, uang pengganti.

Presiden Joko Widodo, merespon posisitf ide tentang hukuman tambahan mengenai pemberatan
kepada pelaku kekerasan seksual anak. Terobosan baru dilakukan dengan menginstruksikan
untuk membuat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang mengatur
tentang hukuman tambahan tersebut. Pembicaraan ini muncul pada Rapat Terbatas Pembahasan
Anak, yang dimunculkan oleh Jaksa Agung Prasetyo dan mendapat dukungan dari Ketua KPAI,
Menteri Sosial dan Menteri Kesehatan.

Alasan kenapa harus Perppu, karena jika merevisi undang-undang yang ada akan memakan
waktu lebih lama dalam prosesnya, sementara tuntutan tentang upaya perlindungan bagi anak ini
sudah semakin mendesak. Pemerintah memandang sangat serius kejahatan kekerasan terhadap
anak, terutama kekerasan seksual. Terobosan dengan menerbitkan Perppu tentang pemberatan
hukuman, dianggap dapat menyelesaikan atau memberikan perlindungan terhadap anak.

Hal inilah yang menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Terlepas dari masalah pro dan
kontra tersebut, penulis melihat bahwa hukuman pemberatan bagi pelaku kekerasan seksual
terhadap anak, memang patut mendapatkan hukuman tambahan atau pemberatan. Hanya saja
hukuman pemberatan tersebut, memang harus dapat membuat jera bagi pelaku

Pemberatan memang dikenal dalam Hukum Pidana, misalnya dalam Pasal 52 KUHP, pasal ini
mengenai pemberatan dalam jabatan, yaitu bilamana seseorang melanggar suatu kewajiban
khusus dari jabatannya. Ada 4 hal keadaan yang menjadi dasar pemberatan, a) melanggar suatu
kewajiban khusus dari jabatan, b) memakai kekuasaan jabatannya, c) menggunakan kesempatan
karena jabatannya, d) menggunakan sarana yang diberikan karena jabatannya. Selain itu dalam
Hukum Pidana seseorang dapat dikenakan pemberatan hukuman karena pengula-ngan atau biasa
dikenal dengan nama Recidive. Diatur dalam Pasal 486, 487, 488 dan 368, 387 KUHP.

Berdasarkan KUHP tersebut, maka hukuman pemberatan bagi pelaku kekerasan terhadap anak,
dapat diterapkan. Hal itu karena rata-rata pelaku berumur dewasa yang seharusnya memberikan
perlindungan terhadap anak, bukan malah melakukan semaunya terhadap anak. Dalam UU No.
35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
dalam konsiderannya, menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin
kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan
hak asasi manusia. Dengan demikian bagi yang tidak setuju dengan pemberatan hukuman bagi
pelaku kekerasan terhadap anak dalam bentuk pengebirian, dengan alasan melanggar hak asasi
manusia, sebenarnya bukan demikian, karena hukuman pemberatan dijatuhkan sebagai akibat
orang tersebut telah melanggar hak asasi seorang anak, di mana orang tersebut harus memberi
perlindungan kepada anak, berdasarkan konsideran UU No. 35 tahun 2014
Melihat dari uraian tersebut, penulis setuju dengan hukuman pemberatan bagi
pelaku kekerasan seksual terhadap anak berupa pengebirian. Namun, pengebirian
dapat dilakukan dengan metode ilmiah yang paling menguntungkan dan dapat
berakibat membuat efek jera

Sekedar tambahan, kami berpandangan bahwa tujuan setiap hukuman apa pun
bentuknya adalah menimbulkan efek jera. Artinya, setelah proses hukuman
dilaksanakan maka diharapkan ada perubahan dari si pelaku. Atau paling tidak
meminimalisir kekerasan yang terjadi. Yang jadi pertanyaan, dari mana kita tahu
apakah hukuman kebiri mampu memberikan jaminan perlindungan bagi anak dari
ancaman pelecehan seksual atau tidak padahal hukuman itu belum dilakukan?
Memang hasil yang akan didapatkan tidak akan serta merta terasa. Namun kami
optimis kelak hukuman kebiri kimia akan berdampak positif dalam kasus kekerasan
seksual terhadap anak, terlepas dari adanya beberapa pihak yang menganggap
bahwa kebijakan ini melanggar hak asasi manusia. Namun perlu diketahui, Perppu
ini dibuat agar memenuhi rasa keadilan para korban. Bukan untuk melanggar hak
asasi seseorang. Anak -anak diatur dalam undang-undang perlindungan anak,
mereka harus dilindungi dari segala bentuk kejahatan apa pun. Sebagai ultimatum
remedium, hukuman ini akan menarget para pelaku kekerasan seksual yang
berstatus residivis atau telah melakukan berkali-kali (sebagaimana disebutkan pada
pasal 76 D Perppu No1/2016) dan mampu dibenarkan atas perbuatan pelaku yang
bukan lagi dikarenakan pemikiran atau kejiwaan mereka, tetapi lebih kepada nafsu.