Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

dengan pertolonganNya kami dapat menyelesaiakan karya ilmiah yang

berjudul Analisi Profitabilitas. Meskipun banyak rintangan dan hambatan

yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil

menyelesaikannya.

Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing

yang telah membantu kami dalam mengerjakan proyek ilmiah ini. Kami juga

mengucapkan terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah

memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan

karya ilmiah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas

dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para

mahasiswa Universitas Pasundan.Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak

kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu kepada dosen pembimbing,

saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah di masa yang

akan datang, mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Bandung, Maret 2016


Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada umumnya tujuan segenap perusahaan adalah memaksimalkan kekayaan


pemegang saham. Tujuan tersebut mempunyai ruang lingkup yang luas. Artinya dapat
memberikan dasar bagi manajemenuntuk mengambilkeputusan-keputusan dan tidak
rasional terhadap perusahaan. Tetapi ada juga perusahaanyang tujuan umumnya
adalah memaksimalkan laba tanpa memperhatikan kekayaan pemilik.
Memangdidasari, mencari laba yang sebesar-besarnya adalah penting, tetapi
management yang bijak seharusnya lebih memperhatikan investasi daripada total
keseluruhan laba perusahaan.

Informasi mengenai perkembangan yang terjadi, apakah menguntungkan atau


merugikan akan memberi bahan masukan yang berguna bagi pimpinan. Sedangkan
untuk mengetahui tahap perkembangan secara terperinci mengenai informasi atau
pertimbangan untuk mengambil keputusan dan tindakan dimasa mendatang,
sebaiknya dibuat suatu analisa kwantitatif. Analisa ini bertujuan agar data lebih
dimengerti sehingga dapat digunakan sebagai dasar berpijak dalam mengambil
keputusan bagi phak yang membutuhkan. Sebenarnya banyak analisa yang bisa
digunakan untuk mencapai maksud tersebut diatas, tetapi salah satu analisa yang bisa
digunakn olehperusahaan untuk mencapai maksud yang maksimal adalah analisa Du
Pont System. Weston dan Brigham mengatakan :

Analisa Du Pont System adalah analisa yang mencakup seluruh rasio aktifitas dan
margin keuntungan atas penjualan untuk menunjukkan bagaimana rasio ini
mempengaruhi profitabilitas. (J. Ferd Weston dan Fligene F. Bringham, 1994;152).
Dengan demikian analisa Du Pont System tidak hanya memfokuskan pada
laba yang dicapai , tetapi juga pada investasi yang digunakan untuk menghasilkan
laba tersebut.

Disadari bahwa dengan menggunakan salah satu analisis saja ( Analisa Du


Pont System ) tidak semua tujuan kuantitatif (Financial dan Non Financial ) dalam
satu badan usaha perusahaan akan dicapai secara maksimal. Tetapi paling tidak
dengan analisa Du Pont System ini, salah satu tujuan kuantitatif bias tercapai . Pada
gilirannya hal ini akan menjadi penunjang tercapainya tujuan lain.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara menghitung Net Profit Margin ?

2. Bagaimana cara menghitung Return on Asset ?

3. Bagamana cara menghitung biaya variable dan biaya tetap?

4. Bagaimana cara menghitung dengan analisis Du Pont?

C. Maksud dan tujuan

Penulis membuat makalah ini agar pembaca dapat mengetahui dan memahami
perhitungan Net Profir Margin, Return on Asset, biaya variable dan biaya tetap,
analisis Du Pont, perputaran total asset dan perputaran aktiva tetap.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Rasio Profitabilitas

Ilustrasi Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga

memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan

kegiatan operasinya. Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan

terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Rasio ini disebut juga rasio rentabilitas.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan


dalam mendapatka laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti

kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya

(Syafri, 2008:304).

B. Jenis-jenis Rasio Profitabilitas

2.1 Return On Asset (ROA)

a. Pengertian Return On Asset (ROA)

Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return)

atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return On Asset (ROA)

merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelolah

investasinya. Di samping itu hasil pengembalian investasi menunjukkan

produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modal pinjaman maupun modal

sendiri. Semakin rendah (kecil) rasio ini semakin kurang baik, demikian pula

sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari

keseluruhan operasi perusahaan.

Menurut Kasmir (2008, hal 201) Return On Assets (ROA) merupakan rasio

yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam

perusahaan.

Menurut I Made Sudana (2011, hal 22) mengemukakan bahwa Return On

Assets (ROA) menunjukan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh

aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak.


Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Return On Asset (ROA)

adalah rasio yang menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa diperoleh

dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan. Karena itu digunakan angka laba

setelah pajak dan rata-rata kekayaan perusahaan. Dengan demikian rasio ini

menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasinya perusahaan dengan

jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan

operasi tersebut.

Return On Asset (ROA) dapat dihitung dengan beberapa rumus sebagai

berikut para ahli yaitu :

Menurut Lukman Syamsuddin (2009, hal 63) :

Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa seberapa besar pengembalian

atas investasi yang dihasilkan oleh perusahaan dengan membandingkan laba usaha

dengan total asset atau operating assets. Oleh karena itu, semakin besar rasio

semakin baik karena berarti semakin besar kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba.

b. Manfaat Return On Asset (ROA)

Return On Asset (ROA) memiliki tujuan dan manfaat yang tidak hanya bagi

pihak pemilik usaha atau manajemen saja, tetapi bagi pihak di luar perusahaan,
terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan

perusahaan.

Menurut Munawir (2007, hal 91) kegunaan dari analisa Return On Asset

(ROA) dikemukakan sebagai berikut :

1. Sebagai salah satu kegunaannya yang prinsipil ialah sifatnya yang

menyeluruh. Apabila perusahaan sudah menjalankan praktek akuntansi yang

baik maka manajemen dengan menggunakan teknik analisa Return On Asset

(ROA) dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efisiensi

produksi dan efisiensi bagian penjualan.

2. Apabila perusahaan dapat mempunyai data industri sehingga dapat diperoleh

rasio industri, maka dengan analisa Return On Asset (ROA) ini dapat

dibandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaannya dengan

perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya

berada di bawah, sama, atau di atas rata-ratanya. Dengan demikian akan dapat

diketahui dimana kelemahannya dan apa yang sudah kuat pada perusahaan

tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.

3. Analisa Return On Asset (ROA) pun dapat digunakan untuk mengukur

efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh divisi/bagian., yaitu dengan

mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan.

Arti pentingnya mengukur rate of return pada tingkat bagian adalah untuk
dapat membandingkan efisiensi suatu bagian dengan bagian yang lain di

dalam perusahaan yang bersangkutan.

4. Analisa Return On Asset (ROA) juga dapat digunakan untuk mengukur

profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan perusahaan dengan

menggunakan product cost system yang baik, modal dan biaya dapat

dialokasikan kepada berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang

bersangkutan, sehingga dengan demikian akan dapat dihitung profitabilitas

dari masing-masing produk. Dengan demikian manajemen akan dapat

mengetahui produk mana yang mempunyai profit potential di dalam

longrun.

5. Return On Asset (ROA) selain berguna untuk keperluan kontrol, juga

berguna untuk keperluan perencanaan. Misalnya Return On Asset (ROA)

dapat digunakan sebagian dasar untuk pengembalian keputusan kalau

perusahaan akan mengadakan ekspansi.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return On Asset (ROA)

Besarnya Return On Asset (ROA) akan berubah kalau ada perubahan pada

profit margin atau assets turnover, baik masing-masing atau keduanya. Dengan

demikian maka pemimpin perusahaan dapat mengggunakan salah satu atau

keduanya dalam rangka usaha untuk memperbesar Return On Asset (ROA).


Menurut Munawir (2007, hal 89) besarnya Return On Asset (ROA)

dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :

1. Turnover dari operating assets (tingkat perputaran aktiva yang digunakan

untuk operasi).

2. Profit margin, yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam

persentase dan jumlah penjualan bersih. Profit margin ini mengukur tingkat

keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan

penjualannya.

2.2. Return On Equity (ROE)

a. Pengertian Retunr On Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) merupakan rasio untuk mengukur laba bersih

sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menitikberatkan pada bagaimana

efisiensi operasi perusahaan ditranslasi menjadi keuntungan bagi para pemilik

perusahaan.

Menurut Kasmir (2008, hal 204) bahwa hasil pengembalian ekuitas atau

return on equity atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur

laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.

Sedangkan menurut Lukman Syamsuddin (2009, hal 64) menyatakan :

Return On Equity (ROE) merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income)


yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun

pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam

perusahaan.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa

rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal

sendiri. Secara umum tentu saja semakin tinggi return atau penghasilan yang

diperoleh, maka semakin baik kedudukan perusahaan tersebut. Rasio ini

memperlihatkan sejauh mana perusahaan mengelolah modal sendiri secara efektif,

mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal

sendiri atau sering disebutkan juga dengan rentabilitas perusahaan. Dengan

demikian Return On Equity (ROE) dapat dihitung dengan rumus :

Return On Equity=

b. Faktor-faktor Mempengaruhi Return On Equity (ROE)

Return On Equity (ROE) menunjukkan kesuksesan manajemen dalam

memaksimalkan pengembalian pada pemegang saham, semakin tinggi rasio ini akan

semakin baik karena memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar pada

pemegang saham. Untuk meningkatkan Return On Equity (ROE) maka terdapat

beberapa faktor-faktor yang mempengaruhinya.


Menurut Keown et.al (2001, hal 105) untuk meningkatkan tingkat pengembalian

ekuitas dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut :

1. Meningkatkan penjualan tanpa meningkatkan beban dan biaya secara

proposional.

2. Mengurangi harga pokok penjualan atau beban operasi perusahaan.

3. Meningkatkan penjualan secara relatif atas dasar nilai aktiva, baik dengan

meningkatkan penjualan atau mengurangi jumlah investasi pada aktiva

perusahaan.

4. Meningkatkan penggunaan hutang secara relatif terhadap ekuitas, sampai titik

yang tidak membahayakan kesejahteraan keuangan perusahaan.

Dengan diketahuinya faktor-faktor yang dapat meningkatkan Return On

Equity (ROE), maka nantinya akan memudahkan pihak perusahaan melalui kreditur

keuangan untuk lebih meningkatkan lagi keuntungan perusahaan melalui

pengembalian atas ekuitas atau modal perusahaan. Sehingga nantinya akan

memberikan deviden yang baik kepada pemegang saham perusahaan dan nantinya

dapat menjadi pertimbangan kepada pemegang saham untuk lebih besar lagi

menginvestasikan modalnya kepada perusahaan.

2.3 Net Profit Margin


Net Profit Margin (NPM) adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih. Menurut Bastian

dan Suhardjono (2006), Net Profit Margin adalah perbandingan antara laba bersih

dengan penjualan. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena

mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang diterapkan perusahaan dan

kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha. Menurut Weston dan Copeland

(1998), semakin besar Net Profit Margin berarti semakin efisien perusahaan tersebut

dalam mengeluarkan biaya-biaya sehubungan dengan kegiatan operasinya.

Semakin besar NPM, maka kinerja perusahaan akan semakin produktif,

sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya

pada perusahaan tersebut. Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase laba bersih

yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini, maka dianggap

semakin baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi.

Hubungan antara laba bersih dan penjualan bersih menunjukkan kemampuan

manajemen dalam menjalankan perusahaan secara cukup berhasil untuk menyisakan

margin tertentu sebagai kompensasi yang wajar bagi pemilik yang telah menyediakan

modalnya untuk suatu risiko. Para investor pasar modal perlu mengetahui

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Dengan mengetahui hal tersebut

investor dapat menilai apakah perusahaan itu profitable atau tidak.Menurut

Sulistyanto (tanpa tahun: 7) angka NPM dapat dikatakan baik apabila > 5%.

Rumus untuk menghitung NPM adalah sebagai berikut :

NPM = Laba Bersih X 100%


Penjualan

2.4 Asset turnover ratio

Asset turnover ratio (ATO) atau disebut juga rasio perputaran total aktiva

merupakan rasio yang mengukur tingkat efisiensi dan efektivitas dari perputaran

maupun pemanfaatan total aktiva dalam menghasilkan penjualan. Rasio ini

menunjukkan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap

rupiah yang telah ditanamkan pada aktiva perusahaan. Semakin tinggi rasio ini

semakin baik bagi perusahaan.

Rasio ini dapat menjelaskan seberapa sukses suatu perusahaan dalam

memanfaatkan aset nya untuk menghasilkan laba. Jika suatu perusahaan dapat

melakukan penjualan dengan menggunakan aset secara minimal maka akan

menghasilkan rasio perputaran aktiva yang lebih tinggi. Dengan ini dapat

disimpulkan bahwa perusahaan dapat menjalankan operasi dengan baik karena

mampu memanfaatkan aset yang dimilikinya secara efisien. Rasio perputaran aktiva

yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan memanfaatkan aset nya secara tidak

efisien dan optimal. Asset turnover ratio (ATO) merupakan salah satu faktor penting

yang berpengaruh pada Return on Equity menurut dari analisis Dupont.

ATO mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan oleh perusahaan

untuk menghasilkan pendapatan. Indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi

adanya masalah pada aktivitas perusahaan serta berpengaruh pada rasio ini antara lain

pangsa pasar produk kunci menurun, berpindahnya penguasaan pangsa pasar pada
pesaing, modal kerja yang menurun drastis, perputaran persediaan yang menurun

drastis, kepercayaan konsumen berkurang, dan beberapa indikator lainnya.

Rumus untuk menghitung ATO adalah sebagai berikut :

Penjualan
ATO = X 100%
Total Aset

2.5 Perputaran Aktiva tetap

Menurut Beams ( 2000: 121) perputaran aktiva tetap adalah Posisi aktiva

Tetap dan taksiran waktu perputaran aktiva tetap dapat dinilai dengan menghitung

tingkat perputaran aktiva tetap yaitu, dengan membagi penjualan dengan total aktiva

tetap bersih.

Maka dapat disimpulkan bahwa perputaran aktiva tetap ditentukan oleh 2

faktor utama yaitu, penjualan dan total aktiva tetap bersih. Yang dimaksud total aktiva

tetap bersih adalah total aktiva tetap setelah dikurangi penyusutan aktiva tetap.

Metode perputaran total aktiva adalah :

Penjualan
- Perputaran total aktiva tetap :
Total aktiva tetap bersih

365
- Waktu perputaran total aktiva :
Peputaran total aktiva
2.5.1 Prinsip Penilaian Aktiva tetap

Penilaian aktiva tetap berkaitan dengan penentuan nilai pertukaran dari aktiva

tersebut. Ada dua jenis pertukaran yaitu, nilai keluaran dan nilai masukan. Nilai

keluaran adalah: aliran dana yang diperkirakan akan diterima perusahaan dimasa

uang akan datang sesuai dengan harga pertukaran. sedangkan nilai masukan

menunjukan jumlah rupiah yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh

aktiva yang akan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.

Dalam hubungannya dengan pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan

dengan pengunaan aktiva tetap terdiri dari:

a. Pemeliharaan (Maintenance) adalah pengeluaran yang bertujuan untuk

mempertahankan aktiva tetap pada kondisi yang tetap baik. Dengan demikian tidak

mengakibatkan penambahan manfaat.


b. Reparasi adalah pengeluaran yang bertujuan mengembalikan aktiva tetap pada

kondisi semula. Manfaat ini hanya untuk kelangsungan jalannya operasi.


c. Penggantian (Replacement) adalah pengeluaran untuk mengantikan sebagian

(komponen) aktiva tetap yang rusak berat. Akan menambah terhadap usia pengunaan

aktiva tetap yang bersangkutan .


d. Perbaikan (Betterment) adalah pengeluaran yang bertujuan untuk meningkatkan akiva

tetap dari kondisi semula kepada kondisi yang lebih baik.


e. Penambahan (Addition) adalah pengeluaran yang bertujuan untuk memperluas dan

peningkatan fasilitas yang sudah ada, misalnya penambahan bangunan.


2.5.2 Penyusutan Aktiva Tetap

Menurut Hendi Somantri (2000:126) penyusutan adalah Alokasi jumlah

suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi,

penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung

maupun tidak langsung.

Nilai perolehan aktiva tetap, selama masa penggunannya akan turun setiap

saat, sehingga habis masa pengunaannya aktiva tetap dianggap sudah tidak

mempunyai manfaat lagi bagi perusahaan. Karena aktiva tetap memberikan manfaat

selama beberapa periode akintansi, maka kerugian tersebut harus dibebankan kepada

periodeperiode selama masa penggunaannya.

Besarnya penyusutan yang menjadi beban setiap periode selam masa

penggunannya. Aktiva tetap, tergantung kepada empat faktor sebagai berikut :

1. Harga Perolehan

2. Nilai Sisa atau Nilai Residu

Adalah nilai aktiva tetap setelah habis masa penggunannya, biasanya ditetapkan atas

dasar taksiran.

1. Usia Ekonomis atau Usia Manfaat


2. Metode Penyusutan yang diterapkan

Metode penyusutan pada dasarnya dirancang atas dasar faktor-faktor tertentu

contohnya : faktor waktu, faktor penggunaan. Metode penyusutan yang berdasarkan

kepada faktor waktu antara lain :

1). Metode Garis Lurus

Dimana metode ini , beban penyusutan tiap tahun penggunan aktiva tetap jumlahnya

sama.

Harga perolehan Nilai Residu


Penyusutan =
Usia Ekonomis

2). Metode Beban Menurun yaitu :

a). Metode Jumlah Angka Tahun

Metode ini penyusutan untuk tiap tahun jumlahnya menurun

sisa usia aktitiva tetap x jumlah disusutkan


Penyusutan =
jumlah angka tahun usia

b). Metode Menurun Ganda

Penyusutan ditetapkan atas dasar prosentase tertentu yang dihitung dari harga buku

pada tahun yang bersangkutan.


Sedangkan metode penyusutan yang didasari kepada faktor penggunaanya, terdiri

dari :

1. Metode Satuan Jam Kerja

Metode ini, beban penyusutan ditetapkan atas dasar jam kerja yang dapat dicapai

dalm periode yang bersangkutan .

penyusutan : jam kerja yg dicapai x tarif penystan tiap jam kerja

Tarif penyusutan tiap jam kerja : harga perolehan nilai residu

Taksiran jam kerja yg dpt dicapai

2. Metode Satuan Hasil Produksi

Metode ini sama dengan satuan jam kerja, yaitu berdasarkan kepada faktor

penggunaannya.

harga perolehan nilai residu


Tarif penyusutan tiap satuan :
Taksiran jmlh satuan yg dihslkan

2.6 Analisis Du Pont

Sistem Du Pont dan ROI sedikit berbeda karena pada Du Pont, ROI

merupakan Net Profit Margin dikalikan dengan perputaran aktiva. Perusahaan yang

mengembangkan sistem analisis ini sehingga sering disebut dengan sistem Du Pont
atau ROI dengan pendekatan Du Pont. Analisis ini lebih menekankan pada seberapa

banyak laba yang bisa diperoleh dengan seluruh kekayaan yang dimiliki oleh

perusahaan.

Sistem Du Pont digunakan untuk menganalisis dan meningkatkan prestasi

perusahaan. Hasil pengembalian atas total aktiva mencoba mengukur efektivitas

perusahaan dalam memanfaatkan sumberdaya yang kadang-kadang disebut dengan

hasil pengembalian investasi (return on investment/ ROI). Berdasarkan gambar

tersebut di bawah , usaha untuk meningkatkan keuntungan dari penjualan dapat

diselidiki. Kemungkinan menaikkan harga untuk meningkatkan laba (atau

menurunkan harga untuk meningkatkan volume penjualan). Formula Du Pont ini

digunakan untuk mengontrol perubahan dalam rasio aktivitas dan net profit margin

dan seberapa besar pengaruhnya terhadap Return On Investment.

2.7 Metode Analisis DuPont

Menurut Sofyan Safri Harahap dalam buku Analisis Kritis Atas Laporan

Keuangan Caranya sebenarnya hampir sama dengan analisis laporan keuangan

biasa, namun pendekatannya lebih integratif dan menggunakan komposisi laporan

keuangan sebagai elemen analisisnya. Ia mengurai hubungan pos-pos laporan

keuangan sampai mendetail sebagai berikut :


Dari bagan diatas, maka diperoleh elemen-elemen penyusun dari analisis Du-

Pont ini yang akan dijelaskan satu per satu sebagai berikut:

1. Return of Equity (ROE)

LABA BERSIH SETELAH PAJAK


ROE =
EQUITY PEMILIK SAHAM

Berfungsi untuk melihat efektifitas penggunaan modal sendiri terhadap laba

atau keuntungan bersih perusahaan setelah pajak, dimana setiap rupiah modal yang

ditanamkan dapat menghasilkan keuntungan yang diharapkan.


2. Return of Investment (ROI)

ROI= % LABA BERSIH X TOTAL ASSET TURNOVER

Penentuan ROI berfungsi untuk mengatur efektifitas penggunaan asset

terhadap laba bersih. Hal ini mengidentifikasi seberapa besar harta total dimanfaatkan

atau digunakan untuk mendapatkan keuntungan.

3. Equity Multiplier

Nilai equity multiplier ini menunjukkan kemampuan equity atau modal

sendiri menciptakan total asset.

Equity Multiplie= TOTAL ASSET

EQUITY

4. Persentase Laba Bersih

Perbandingan ini menunjukkan seberapa besar total penjualan yang dilakukan

merupakan laba bersih yang dapat diperoleh oleh perusahaan.

PERSENTASE LABA BERSI = LABA SETELAH PAJAK

PENJUALAN

5. Total Asset Turnover

Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan

dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan.

Semakin tinggi rasio ini semakin baik.

TOTAL ASSET TURNOVER = PENJUALAN

TOTAL ASSET
6. Laba Setelah Pajak

Laba setelah pajak adalah laba yang diperoleh oleh perusahaan setelah

dikurangi dengan pajak.

LABA SETELAH PAJAK = PENJUALAN-TOTAL BIAYA-PAJAK

7. Penjualan

Merupakan arus masuk atau peningkatan nilai aset dari suatu equity atau

penyelesaian kewajiban dari equity atau gabungan keduanya selama periode tertentu

yang berasal dari penyerahan/produksi barang, pemberian jasa atas pelaksana

kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan.

8. Total Biaya

Total biaya merupakan arus keluar aktiva, penggunaan aktiva, atau munculnya

kewajiban atau kombinasi keduanya selama suatu periode yang disebabkan oleh

pengiriman barang, pembebanan jasa, atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang

merupakan kegiatan utama perusahaan.

9. Total Aset

Total aset adalah total harta yang dimiliki oleh perusahaan yang berperan

dalam operasi perusahaan misalnya kas, persediaan, aktiva tetap, aktiva yang tak

berwujud, dan lain lain.

10. Aktiva Lancar

Aktiva lancar disini meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan aktiva

lancar lainnya.

11. Nilai Buku Aktiva Lancar


Nilai buku aktiva tetap yaitu harga buku yang diperoleh dari nilai perolehan

historis dikurangi akumulasi penyusutan yang telah dibebankan kepada pendapatan.

12. Equity

Equity (modal pemilik) adalah suatu hak yang tersisa atas aktiva suatu lembaga

(equity) setelah siketahui kewajibannya.

13. Total Liabilities

Total liabilities (kewajiban/utang) merupakan kewajiban ekonomis dari suatu

perusahaan yang diakui dan dinilai sesuai prinsip akuntansi. Kewajiban disini

termasuk juga saldo kredit yang ditunda yang bukan merupakan utang atau

kewajiban.
BAB III

PERHITUNGAN BIAYA

3.1 BIAYA (TEORI PRODUKSI)

A. Biaya Total (Total Cost) / TC

Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan

perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya total dapat dihitung

dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

TC = FC + VC

Dimana FC = Fix Cost; VC = Variabel Cost.

Contoh:

Diketahui : FC=Rp 120.000,00 , VC = Rp 240.000,00

Ditanya : TC =

Jawab:

TC = FC + VC

=120.000+240.000
=360.000

B. Biaya Variabel (Variable Cost atau VC)

Biaya variabel adalah biaya produksi yang jumlahnya berubah sesuai dengan

jumlah produksi yang dihasilkan. Jika produksi sedikit, biaya variabel sedikit dan

sebaliknya.. Biaya tetap dan biaya variabel membentuk dua komponen dari total

biaya. Biaya langsung, bagaimanapun, adalah biaya yang dapat dengan mudah

dikaitkan dengan objek biaya tertentu.

Namun, tidak semua biaya variabel adalah biaya langsung. Sebagai contoh,

biaya overhead variabel produksi adalah biaya variabel yang merupakan biaya tidak

langsung, tidak langsung menjadi suatu biaya. Biaya variabel kadang-kadang disebut

biaya tingkat-unit karena mereka bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi.

Contoh biaya variabel adalah biaya bahan mentah, upah tenaga produksi, bahan

pembantu.Besarnya biaya variabel total (TVC), jumlah seluruh biaya variabel yang

dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan sejumlah produk. Untuk

menghitung besar variabel total dapat menggunakan rumus berikut:

Keterangan:

TVC = Biaya variabel total


VC = Biaya variabel per unit

Q = Jumlah produksi.

TVC = VC x Q

Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu:

TC = FC + VC atau VC = TC - FC

Contoh:

Diketahui: FC = 120.000 TC = 480.000

Ditanya : VC =

Jawab:

TC = FC + VC

480.000 = 120.000 + VC

VC = 480.000 120.000

= 360.000

C. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC

Biaya tetap adalah pengeluaran bisnis yang tidak bergantung pada tingkat

barang atau jasa yang dihasilkan oleh bisnis tersebut. Pengeluaran ini berkaitan

dengan waktu, seperti gaji atau beban sewa yang dibayar setiap bulan, dan sering
disebut sebagai pengeluaran tambahan. Ini berbeda dengan biaya variabel yang

berkaitan dengan volume (dan dibayar per barang/jasa yang diproduksi).

Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi.

Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen

telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari

penurunan rumus menghitung biaya total. Penuruanan rumus tersebut, adalah:

TC = FC + VC atau FC = TC VC

Contoh:

Diketahui: VC = 600.000 TC = 720.000

Ditanya : FC =

Jawab:

TC = FC + VC

720.000= FC + 600.000

FC = 720.000 600.000

= 120.000

D. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC

Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk

memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh
perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai

berikut,

ATC = AFC + AVC

Contoh:

Diketahui: TC = 360.000 Q = 3

AFC = 40.000 AVC = 80.000

Ditanya : ATC =

Jawab:

ATC = ATC = AFC + AVC

= atau = 40.000 + 80.000

= 120.000 = 120.000

Dengan menggunakan kedua rumus di atas, maka telah diketahui bahwa

hasilnya adalah sama, yaitu Rp 120.000,00.

E. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost) / AVC

Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC)

untuk memproduksi sejumlah baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu.

Biaya variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut,

yaitu:

AVC = ATC - AFC (lihat contoh di atas)

F. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC


Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk

memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut.

Biaya tetap rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

AFC = ATC - AVC (lihat contoh diatas)

G. Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC

Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan (incremental

cost). Biaya marginal merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk

menambah produksi sebanyak satu unit keluaran tambahan. MC adalah turunan

pertama dari TC atau C. Biaya marginal dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

MC = TC = dTC / dQ

Contoh :

C = 4 + 2Q + Q2

MC =

Jawab :

MC = C

= 2 + 2Q

Maka, TC minimum tercapai pada saat MC = 0 dan MC minimum tercapai pada saat

MC = 0.

H. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) / OC


Biaya kesempatan merupakan biaya atas kesempatan yang dilepas dengan

tidak menempatkan sumber daya perusahaan pada nilai pemanfaatan tertingginya atau

merupakan pendapatan biaya yang dikorbankan sebagai akibat kita memilih alternatif

tertentu.

BAB IV
PROBLEM

PROBLEM
1. Berikut ini data keuangan PT Wahyu Madyo

2011 2010 2009


1,000, 900, 900,
Penjualan 000 000 000
500, 500, 470,
HPP 000 000 000
170, 160, 150,
Biaya administrasi 000 000 000
9, 8, 6,
Pendapatan non-operasional 000 000 500
14, 12, 11,
Biaya bunga 000 000 000
280, 270, 240,
Pendapatan sebelum pajak 000 000 000
115, 110, 100,
Pajak 000 000 000
170, 160, 140,
Pendapatan bersih 000 000 000
190,0 180, 180,00
Modal Kerja 00 000 0
300, 280, 170,
Bangunan, pabrik, peralatan 000 000 000
800, 770, 700,
Total aset 000 000 000
120, 112, 100,
Utang jangka panjang 000 000 000
400, 360, 340,
Modal saham 000 000 000

Hitung setiap tahunnya : Net profit margin, return on asset, perputaran total aset,
analisis Du Pont, Perputaran aktiva tetap. Jelaskan !

2. Misalkan ada informasi untuk dua segmen dari suatu suatu perusahaan seperti
berikut ini.

Segmen A Segmen B
Penjualan

Tahun 1 400 1,400

Tahun 2 440 1,500

Pendapatan Operasional (sebelum pajak)

Tahun 1 48 104

Tahun 2 60 135

Rata-rata Aset

Tahun 1 260 850

Tahun 2 280 975

Pengeluaran Modal

Tahun 1 80 130

Tahun 2 90 150

Depresiasi

Tahun 1 40 54
Tahun 2 43 58
a. Hitung biaya variabel dan biaya tetap untuk setiap segmen, setiap tahunnya!
b. Segmen mana yang mempunyai titik impas yang lebih tinggi? Jelaskan !
c. Segmen mana yang lebih menguntungkan? Jelaskan!

Jawaban Problem:

1. PT WAHYU MADYO

Laporan Laba Rugi

2009

Sales 900.000
Cost Of Goods Sold 470.000
Gross Profit 430.000
B. Operasional
150.000
Operating Income 280.000
Other Revenue 6.500
EBIT 286.500
Interest Exp. 11.000
EBT 275.500
Tax
2010 100.000
EAT/
Sales Net Income 175.500
900.000
Cost Of Goods Sold 500.000
Gross Profit 400.000
B. Operasional
160.000
Operating Income 240.000
Other Revenue 8.000
EBIT 248.000
Interest Exp. 12.000
EBT 236.000
Tax 110.000
EAT/ Net Income 126.000
2011

Sales 1.000.000
Cost Of Goods Sold 500.000
Gross Profit 500.000
B. Operasional
170.000
Operating Income 330.000
Other Revenue 9.000
EBIT 339.000
Interest Exp. 14.000
EBT 325.000
Tax 115.000
EAT/ Net Income 210.000

2009
Tax 100.000
Tingkat Pajak = = x 100% = 0,36/36%
EBT 275.500

2010
Tax 110.000
Tingkat Pajak = = x 100% = 0,46/46%
EBT 236.000

2011
Tax 115.000
Tingkat Pajak = = x 100% = 0,35/35%
EBT 325.000

- Net Profit Margin

Laba bersih X 100


Tahun Net Profit Margin =
Penjualan %

339.000 X 100
2011 NPM =
1.000.000 %
= 0,339/ 33%
248.000 X 100
2010 NPM =
900.000 %
= 0,275/ 27%
286.500 X 100
2009 NPM =
900.000 %
= 0,318/ 31%

- Return On Asset

Laba bersih X 100


Tahun Return On Asset =
%
Total aset

210.000 X 100
2011 ROA =
%
800.000
= 26%
126.000 X 100
2010 ROA =
%
770.000
= 16%
175.500 X 100
2009 ROA =
%
700.000
= 25%

Karena bunga tidak masuk dalam analisa ROA, maka bunga ditambahkan
kembali ke laba bersih. Apabila ingin tepat lagi, maka sebenarnya ada penghematan
pajak yang muncul dari penggunaan bunga, karena bunga bisa dipakai sebagai
pengurangan pajak. Dengan demikian setelah penyesuaian pajak formula ROA
dihitung sebagai berikut:
NI + Interest Exp. (1-Tingkat
Pajak) X 100
Tahun Return On Asset =
%
Total aset

210.000 + 14.000 (1-


X 100
2011 ROA = 0,35)
%
800.000
= 27%
126.000 +12.000 (1-
X 100
2010 ROA = 0,46)
%
770.000
= 17%
175.500 + 11.000
X 100
2009 ROA = (1-0,36)
%
700.000
= 26%
- Asset Turnover Ratio / Perputaran Total Aset

Tahu Penjualan X 100


Asset Turnover Ratio=
n Total aset %

1.000.00
0 X 100
2011 ATO =
%
800.000
= 1,25%
2010 ATO = 900.000 X 100
770.000 %
= 1,17%
900.000 X 100
2009 ATO =
700.000 %
= 1,28%
- Perputaran Total Aktiva Tetap

Penjualan
Tahu
n
Perputaran total aktiva tetap =
Total aktiva tetap bersih

1.000.000
2011 Perputaran total aktiva tetap =
300.000
= 3,33%
900.000
2010 Perputaran total aktiva tetap =
280.000
= 3,21%
900.000
2009 Perputaran total aktiva tetap =
170.000
= 5,3%

- Analisi Du Pont
Du Pont memakai beberapa metode

Return Of Equiy (ROE) Equity Multiple

Return Of Tahu
Equity= Equity
Laba bersih Total aset
Tahu
n
Multiple=
n Equity
Modal saham

800000
Equity= Equity170000
Return Of2011 Multiple=
2011 190000
400000
= 0.425 (42,5%) = 4,21
770000
Equity= Equity160000
Return Of2010 Multiple=
2010 180000
360000
= 0,44 (44,4%)= 4,28
700000
Equity= Equity140000
Return Of2009 Multiple=
2009 180000
340000
= 0,41 (41,1%)= 3,89
Menentukan Return On Investasi (ROI) Du Pont

ROI dapat mengukur tingkat keuntungan yang dihasilkan dari investasi total

perusahaan.

Menurut Syamsudin (2001:64) analisis Du Pont System adalah ROI yang

dihasilkan melalui pekalian antara keuntungan dari komponen-komponen sales

serta efisiensi penggunaan total assets di dalam menghasilkan keuntungan tersebut.

ROI = Net Profit Margin x PerputaranAktiva

2009 Du Pont ROI = 0,318 x 1,28 = 0,407

2010 Du Pont ROI = 0,275 x 1,17 = 0,321

2011 Du Pont ROI = 0,339 x 1,25 = 0,423

Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan

- Kriteria perusahaan yang baik

ROI (Du Pont System) berada di atas rata-rata industri menunjukkan bahwa

perputaran aktiva dan net profit margin sangat tinggi


Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba semakin

baik

- Kriteria perusahaan yang kurang baik

ROI (Du Pont System) berada dibawah rata-rata industri menunjukkan bahwa

perputaran aktiva dan net profit margin sangat rendah

Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba kurang
baik.

Jawaban Problem

2.
DAFTAR PUSTAKA

Hanafi, Mamduh H dan A. Halim. 2012. Analisis Laporan Keuangan, edisi 4.


Yogyakarta :Penerbit UPP STIM YKPN.

Djarwanto. 2004. Pokok-pokok Analisis Laporan Keuangan.Edisi Kedua. Cetakan


Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Noreen Brewer, Garrison. 2013. Akuntansi Manajerial. Edisi 14. Jakarta : Salemba
Empat

http://rahmatsuharjana.blogspot.com/2013/05/contoh-analisis-laporan-
keuangan-pada.html
http://bilongtuyu.blogspot.co.id/2013/05/asset-turnover-ratio-ato.html
http://ariefmuliadi30.blogspot.co.id/2014/05/metodeanalisis-dupont-du-
pont-telah.html
http://nanangbudianas.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-du-pont.html
http://ilmiahekonomi.blogspot.co.id/2009/05/analisis-du-pont-system-
sebagai-salah.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Biaya_tetap
https://id.wikipedia.org/wiki/Biaya_variabel
http://dasarekonomi.blogspot.co.id/2013/05/biaya-teori-produksi-biaya-
total-total.html
https://belajar.kemdikbud.go.id/SumberBelajar/tampilajar.php?
ver=12&idmateri=51&lvl1=5&lvl2=0&lvl3=0&kl=7