Anda di halaman 1dari 11

BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi

Tinea pedis adalah infeksi kulit dari jamur superfisial pada kaki.Tinea pedis

merupakan infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari dan telapak

kaki.1,2

Istilah dermatofitosis harus dibedakan dengan dermatomikosis.

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk atau

stratum korneum pada lapisan epidermis di kulit, rambut dan kuku yang

disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Dermatomikosis merupakan arti

umum, yaitu semua penyakit jamur yang menyerang kulit.2

3.2 Epidemiologi

Mikosis superfisialis cukup banyak diderita penduduk negara tropis.

Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan

kelembaban yang tinggi, merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur

sehingga jamur dapat ditemukan hampir di semua tempat. Di Indonesia,

dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis.4

Kelompok usia yang sering menderita mikosis superfisialis adalah usia

produktif terutama pria dengan memiliki faktor predisposisi seperti pekerjaan

yang sering membuat kaki basah, trauma dan banyak berkeringat dan jarang

terjadi pada usia 1-4 tahun.5 Tinea pedis dapat terjadi pada semua kelompok umur

dengan memiliki faktor predisposisi untuk terjadinya tinea pedis serta sering

terjadi pada usia lanjut dan pasien yang sistem kekbalan tubuh yang rendah.1,6

7
3.3 Etiologi

Tinea pedis dapat disebabkan oleh infeksi jamur golongan epidermophyton,

Tricophyton, dan Microsporum yang tirularkan secara kontak langsung atau tidak

langsung.6

Tricophyton rubrum sering menyebabkan tinea pedis tipe moccasin dan

terjadi dalam waktu yang lama (kronis) dan sulit diobati. Sedangkan tricophyton

mentagrophyton sering menimbukan tinea pedis tipe subakut yang membentuk

vesikel dan muncul tiba-tiba, parah namun mudah diobati.7

3.4 Manifestasi Klinis

Tinea pedis dibagi berdasarkan gejala klinik, menjadi 3:2,6

1. Tipe papulo-skuamosa hiperkeratotik kronik (moccasin)

tinea pedis jenis ini dapat terjadi pada seluruh kaki, dan telapak kaki, tepi

sampai punggung kaki dan biasanya simetris. Lesi yang ditemukan dapat

berupa eritema yang ringan dan plak hiperkeratotik di atas daerah lesi yang

mengalami likenifikasi, skuama halus dan fisura pada sisi kaki.

Gambar 4 : tinea pedis tipe hiperkeratotik

8
Gambar 5: tinea pedis tipe hiperkeratotik

2. Tipe Interdigitalis (Intertrigenosa kronik)


Tinea pedis jenis ini dapat terjadi di sela-sela jari ke III, IV dan V dan dapat

meluas ke bawah jari (subdigital) dan juga ke sela-sela jari lain. Lesi dapa

berupa fisura yang dilingkasi sisik halus dan tipis.oleh karena daerah ini

lembab, maka sering terlihat maserasi. Aspek klinis maserasi berupa kulit

putih dan rapuh. Bila bagian kulit ini dibersihkan, maka akan terlihat kulit

baru, yang pada umumnya juga telah diserang oleh jamur.bentuk klinis ini

dapat berlangsung bertahun-tahun dengan menimbulkan sedikit keluhan

atau tanpa keluhan sama sekali. Pada suatu ketika kelainan ini dapat disertai

infeksi sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis,

limfadenitis, dan dapat terjadi erisipelas yang disertai gejala-gejala umum.

9
Gambar 6: tines pedis tipe interdigitalis
3. Tipe subakut
Pada jenis ini dapat terlihat vesikel, vesiko-pustul dan kadang-kadang bulla.

Kelainan ini dapat mulai pada daerah sela-sela jari, kemudian meluas ke

punggung kaki atau telapak kaki. Isi vesikel berupa cairan jernih yang

kental. Setel;ah pecah, vesikel tersebut meninggalkan sisik yang berbentuk

limgkaran yang disebut koleret. Infeksi sekunder dapat terjadi juga pada

bentuk ini, sehingga dapat menyebabkan selulitis, limfangitis dan kadang-

kadang menyerupai erisipelas. Jamur terdapat pada bagian atap vesikel.

Untuk menemukannya, sebaiknya diambil atap vesikel atau bulla untuk

diperiksa secara sediaan langsung atau untuk biak.

Gambar 7: Tinea pedis tipe subakut

3.5 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:6

10
1. Kerokan kulit + KOH 10% akan tampak hifa (+)

Gambar 8: KOH: Tampak hifa dan spora (mikrokonidia)


2. Biakan agar Sabouraud: tumbuh koloni-koloni jamur untuk mengidentifikasi

jenis jamur yang menginfeksi.


3. Sinar wood: fluoresensi positif

3.6 Diagnosa Banding


1. Tinea pedis tipe hiperkeratotik
2. Dermatitis kotak iritan

3. Dyshidrosis Eczema

4. Keratoderma Palmoplantar

5. Psoriasis pustulosa palm-plantar (Barber)

Beberapa perbedaan diagnosis banding untuk penyakit ini tercantum pada

tabel berikut:

No Diagnosis Alasan Gambaran Lesi Foto


Diagnosis

11
1 Tinea Adanya Lesi patch
Pedis Tipe keluhan eritematous /
Moccasin gatal dan hipopigmentasi,
lesi tampak batas tegas, tepi
patch ireguler,
eritematou dengan dasar
s, berbatas berwarna
tidak tegas, merah muda
tepi sampai merah,
ireguler, terkadang
ukuran adanya fisura
plakat, dan kulit
jumlah kering, ukuran
multipel, numular-plakat,
dengan jumlah multiple
skuama distribusi
halus dan regional
fisura, simetris.
distribusi
simetris.
2 Dermatitis Adanya Lesi patch
Kontak keluhan eritematous
Iritan gatal, lesi berbatas tegas
tampak tepi ireguler
patch ukuran
eritematou numular-plakat,
s dengan terkadang
skuama adanya
halus. hyperkeratosis
dan/atau fisura,
distribusi
regional.

12
3 Dyshidrosi Adanya Pada masa
s Eczema keluhan akut, lesi
gatal, kulit tampak plak
telapak eritema dengan
kaki kering edema, kecil,
dan vesikel
mengeras. berkelompok.
Lesi Pada masa
tampak subakut, lesi
eritematou tampak plak
s dan eritema dengan
skuama. sisik dan
krusta.
Selanjutnya,
lesi akan
tertutup dengan
sisik kering
atau akan
menjadi
likenifikasi.
4 Keratoder Lesi Lesi berupa
ma tampak kulit yang
Palmoplant kering dan menebal
ar adanya dengan warna
penebalan putih keperakan
kulit terutama di
(hyperkera daerah telapak
tosis) pada tangan dan
telapak telapak kaki.
kaki
dengan
fisura.
5 Psoriasis Adanya Lesi berupa
pustulosa keluhan plak
palm- gatal, kulit eritematosa,
plantar telapak papul, pustul,
(Barber) kaki diatasnya
kering, dan terdapat
lesi tampak skuama kasar,
patch transparan,
eritemaous berlapis-lapis,
dengan dan berwarna
skuama putih
halus dan keperakan.
hyperkerat Psoriasis pada
osis. telapak kaki
akan tampak
patch berwarna

13
putih keperakan
akibat dari
garukan;
sebagian plak
akan terlihat
seperti liken
simplek atau
eczema
hyperkeratosis

3.7 Penatalaksanaan2,8

Obat topikal digunakan untuk mengobati penyakit jamur yang terlokalisir.


Efek samping dari obat-obatan ini sangat minimal, biasanya terjadi dermatitis
kontak alergi, yang biasanya terbuat dari alkohol atau komponen yang lain.
a. Imidazol Topikal. Efektif untuk semua jenis Tinea pedis tetapi lebih
cocok pada pengobatan Tinea pedis interdigitalis karena efektif pada
dermatofit dan kandida.
Klotrimazole 1 %. Antifungal yang berspektrum luas dengan
menghambat pertumbuhan bentuk yeast jamur. Obat dioleskan dua
kali sehari dan diberikan sampai waktu 2-4 minggu. Efek samping
obat ini dapat terjadi rasa terbakar, eritema, edema dan gatal.
Ketokonazole 2 % krim merupakan antifungal berspektrum luas
golongan Imidazol; menghambat sintesis ergosterol, menyebabkan
komponen sel yang mengecil hingga menyebabkan kematian sel
jamur. Obat diberikan selama 2-4 minggu.
Mikonazol krim, bekerja merusak membran sel jamur dengan
menghambat biosintesis ergosterol sehingga permeabilitas sel
meningkat yang menyebabkan keluarnya zat nutrisi jamur hingga
berakibat pada kematian sel jamur. Lotion 2 % bekerja pada
daerah-daerah intertriginosa. Pengobatan umumnya dalam jangka
waktu 2-6 minggu.
b. Tolnaftat 1% merupakan suatu tiokarbamat yang efektif untuk
sebagian besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida.
Digunakan secara lokal 2-3 kali sehari. Rasa gatal akan hilang dalam
24-72 jam. Lesi interdigital oleh jamur yang rentan dapat sembuh

14
antara 7-21 hari. Pada lesi dengan hiperkeratosis, tolnaftat sebaiknya
diberikan bergantian dengan salep asam salisilat 10 %.
c. Piridones Topikal merupakan antifungal yang bersifat spektrum luas
dengan antidermatofit, antibakteri dan antijamur sehingga dapat
digunakan dalam berbagai jenis jamur.
Sikolopiroksolamin. Pengunaan kliniknya untuk dermatofitosis,
kandidiasis dan tinea versikolor. Sikolopiroksolamin tersedia dalam
bentuk krim 1 % yang dioleskan pada lesi 2 kali sehari. Reaksi
iritatif dapat terjadi walaupun jarang terjadi.
d. Alilamin Topikal. Efektif terhadap berbagai jenis jamur. Obat ini juga
berguna pada Tinea pedis yang sifatnya berulang (seperi
hiperkeratotik kronik).
Terbinafine, menurunkan sintesis ergosterol, yang mengakibatkan
kematian sel jamur. Jangka waktu pengobatan 1 sampai 4 minggu.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa terbinafine 1%
memiliki keefektifan yang sama dengan terbinafine 10% dalam
mengobati tine pedis namun dalam dosis yang lebih kecil dan lebih
aman.
e. Antijamur Topikal Lainnya.
Asam benzoat dan asam salisilat. Kombinasi asam benzoat dan
asam salisilat dalam perbandingan 2 : 1 (biasanya 6 % dan 3 %) ini
dikenal sebagai salep Whitfield. Asam benzoat memberikan efek
fungistatik sedangkan asam salisilat memberikan efek keratolitik.
Asam benzoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru
tercapai setelah lapisan tanduk yang menderita infeksi terkelupas
seluruhnya. Dapat terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian,
juga ada keluhan yang kurang menyenangkan dari para pemakainya
karena salep ini berlemak.
Asam Undesilenat. Dosis dari asam ini hanya menimbulkan efek
fungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan pemakaian yang lama
dapat memberikan efek fungisidal. Obat ini tersedia dalam bentuk

15
salep campuran yang mengandung 5 % undesilenat dan 20% seng
undesilenat.
Haloprogin. Haloprogin merupakan suatu antijamur sintetik,
berbentuk kristal kekuningan, sukar larut dalam air tetapi larut
dalam alkohol. Haloprogin tersedia dalam bentuk krim dan larutan
dengan kadar 1 %.

Pemberian antifungal oral dilakukan setelah pengobatan topikal gagal


dilakukan. Secara umum, dermatofitosis pada umumnya dapat diatasi dengan
pemberian beberapa obat antifungal di bawah ini antara lain:
1. Griseofulvin merupakan obat yang bersifat fungistatik.
Griseofulvin dalam bentuk partikel utuh dapat diberikan dengan dosis 0,5
1 g untuk orang dewasa dan 0,25 - 0,5 g untuk anak-anak sehari atau
10-25 mg/kg BB. Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyakit,
penyebab penyakit, dan imunitas penderita. Setelah sembuh klinis
dilanjutkan 2 minggu agar tidak residif. Dosis harian yang dianjurkan
dibagi menjadi 4 kali sehari. Di dalam klinik cara pemberian dengan
dosis tunggal harian memberi hasil yang cukup baik pada sebagian besar
penderita. Griseofulvin diteruskan selama 2 minggu setelah
penyembuhan klinis. Efek samping dari griseofulvin jarang dijumpai,
yang merupakan keluhan utama ialah sefalgia yang didapati pada 15 %
penderita. Efek samping yang lain dapat berupa gangguan traktus
digestivus yaitu nausea, vomitus dan diare. Obat tersebut juga dapat
bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi hepar.
2. Ketokonazole. Obat per oral, yang juga efektif untuk
dermatofitosis yaitu ketokonazole yang bersifat fungistatik. Kasus-kasus
yang resisten terhadap griseofulvin dapat diberikan obat tersebut
sebanyak 200 mg per hari selama 10 hari 2 minggu pada pagi hari
setelah makan. Ketokonazole merupakan kontraindikasi untuk penderita
kelainan hepar.
3. Itrakonazole. Itrakonazole merupakan suatu antifungal yang
dapat digunakan sebagai pengganti ketokonazole yang bersifat

16
hepatotoksik terutama bila diberikan lebih dari sepuluh hari. Itrakonazole
berfungsi dalam menghambat pertumbuhan jamur dengan mengahambat
sitokorm P-45 yang dibutuhkan dalam sintesis ergosterol yang
merupakan komponen penting dalam sela membran jamur. Pemberian
obat tersebut untuk penyakit kulit dan selaput lendir oleh penyakit jamur
biasanya cukup 2 x 100-200 mg sehari dalam selaput kapsul selama 3
hari. Interaksi dengan obat lain seperti antasida (dapat memperlambat
reabsorpsi di usus), amilodipin, nifedipin (dapat menimbulkan terjadinya
edema), sulfonilurea (dapat meningkatkan resiko hipoglikemia).
Itrakonazole diindikasikan pada Tinea pedis tipe moccasion.
2. Terbinafin. Terbinafin berfungsi sebagai fungisidal juga dapat
diberikan sebagai pengganti griseofulvin selama 2-3 minggu, dosisnya
62,5 mg 250 mg sehari bergantung berat badan. Mekanisme sebagai
antifungal yaitu menghambat epoksidase sehingga sintesis ergosterol
menurun. Efek samping terbinafin ditemukan pada kira-kira 10 %
penderita, yang tersering gangguan gastrointestinal di antaranya nausea,
vomitus, nyeri lambung, diare dan konstipasi yang umumnya ringan.
Efek samping lainnya dapat berupa gangguan pengecapan dengan
presentasinya yang kecil. Rasa pengecapan hilang sebagian atau
seluruhnya setelah beberapa minggu makan obat dan bersifat sementara.
Sefalgia ringan dapat pula terjadi. Gangguan fungsi hepar dilaporkan
pada 3,3 % - 7 % kasus. Terbinafin baik digunakan pada pasien Tinea
pedis tipe moccasion yang sifatnya kronik. Pada suatu penelitian ternyata
ditemukan bahwa pengobatan Tinea pedis dengan terbinafine lebih
efektif dibandingkan dengan pengobatan griseofulvin.

17