Anda di halaman 1dari 8

Pembelajaran Tim (Team Learning)

Pendahuluan
Dialog
Diskusi
Tiga Dimensi Pembelajaran Tim
Konflik
Sikap Defensif
Studi Kasus

1. Pendahuluan
Cara pembelajaran tim dikembangkan berdasarkan keempat disiplin lainnya
dengan jalan memfasilitasi proses-prosess dialog dan refleksi kelompok yang
diperlukan untuk mengembangkan model pemikiran yang dapat diterima
bersama.

Pembelajaran tim berkaitan dengan bagaimana tim secara bersama-sama


memikirkan berbagai masalah komplek yang mereka hadapi serta bagaimana
mereka dapat menciptakan sesuatu yang benar-benar ingin mereka ciptakan.
Pembelajaran tim sangat tergantung pada dialog, yang merupakan suatu teknik
untuk menyalaraskan percakapan antar anggota tim.

Untuk memperaktekkan pembelajaran tim: anggota-anggota tim perlu menguasai


dua cara yang berbeda dalam berkomunikasi: mempraktekkan dialog dan diskusi

2. Dialog
Dalam dialog terjadi penggalian yang kreatif dan bebas tentang masalah-
masalah yang komplek dan terselubung, suatu kegiatan dimana masing-masing
pihak berusaha untuk saling mendengarkan dan menahan diri untuk selalu
mengemukakan pendapatnya sendiri.

Sebaliknya dalam diskusi, pandangan-pandangan atau pendapat yang berbeda


dikemukakan dan dipertahankan dan ditempat itu dilakukan pencarian untuk
mendapatkan pandangan yang terbaik untuk mendukung keputusan-keputusan
yang harus dibuat pada saat itu.

1
Dialog dan diskusi secara potensial bersifat saling melangkapi, sayangnya
kebanyakan tim kurang mempunyai kemampuan untuk membedakan antara
keduanya untuk kemudian secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai
tujuan pembelajaran.

Pada dialog, suatu kelompok dapat menggali berbagai masalah yang komplek
dan sulit dari berbagai sudut pandang. Individu-individu mengkomunikasikan
secara bebas asumsi-asumsi mereka tetapi mereka harus menahan diri dalam
memberikan pendapat akhir mereka. Hasil dari suatu dialog adalah suatu
penggalian bebas, yang memunculkan kepermukaan berbagai pengalaman yang
mendalam dan penuh. Namun demikian bisa juga muncul berbagai pandangan
yang berbeda dari pandangan individual mereka. Menurut ahli fisika David
Bohm, diperlukan tiga kondisi agar terjadi suatu dialog yang efektif:

Semua peserta harus menahan asumsi-asumsi mereka secara harfiah


menahan untuk menunda apa yang akan dikemukakannya kepada kita

Semua peserta harus saling menerima peserta lainnya sebagai kolega

Harus ada seorang fasilitator yang mengendalikan dialog agar tetap pada
konteksnya

3. Diskusi
Untuk keberhasilan pembelajaran tim, diskusi harus menjadi bagian pelengkap
dari dialog. Dalam suatu diskusi berbagai pendapat dikemukakan dan
dipertahankan, dalam hal ini mungkin berfungsi sebagai pemberi bahan analisis
yang berguna bagi suasana diskusi secara keseluruhan. Di dalam dialog
berbagai pendapat dikemukakan terhadap suatu pandangan yang baru atau
pemahaman bersama. Dalam diskusi dibuat keputusan.

Baik dialog maupun diskusi dapat menyebabkan terjadinya arah pengambilan


tindakan baru. Penetapan tindakan merupakan fokus dari diskusi sedangkan
tindakan-tindakan baru yang muncul merupakan suatu hasil sampingan dari
dialog. Anggota-anggota tim perlu membedakan antara keduanya dan bergerak
maju mundur sesuai dengan yang mereka perlukan. Apabila suatu tim tidak dapat
membedakan keduanya, biasanya mereka juga gagal dalam berdialog maupun
berdiskusi secara produktif.

2
4. Tiga Dimensi Pembelajaran Tim
Pikirkanlah secara mendalam tentang berbagai masalah komplek. Disana tim
harus belajar untuk menyaring berbagai potensi dari sekelompok pemikiran agar
dapat menghasilkan suatu pemikiran baru yang lebih berbobot. Sekalipun
mudah diucapkan, namun seringkali terdapat berbagai kekuatan yang beroperasi
pada organisasi-organisasi yang cenderung membuat intelegensia tim menjadi
berkurang, dan menjadi kurang penting dibanding dengan intelegensia anggota
tim secara perorangan.

Bangkitkanlah tindakan inovatif yang terkoordinasi. Tim-tim olah raga yang juara
dan kelompok jazz dapat menjadi suatu metafora untuk beraksi secara spontan,
namun tetap dengan cara-cara yang terkoordinasi. Tim-tim yang tenar di dalam
suatu organisasi dapat mengembangkan bentuk hubungan yang sama suatu
kepercayaan yang operasional, dimana setiap anggota tim tetap sadar tentang
keberadaan anggota-anggota tim lainnya dan dapat diarahkan untuk tetap
bertindak dengan cara-cara yang terkoordinasi dengan anggota tim lainnya.

Pertahankan kelangsungan saling keterkaitan antar tim, misalnya, kebanyakan


kegiatan tim senior sebenarnya dilaksanakan melalui tim-tim lainnya. Dengan
demikian suatu tim yang belajar secara terus menerus akan dapat memberi
dorongan kepada tim lainnya dengan jalan mendemonstrasikan praktek-praktek
dan ketrampilan-ketrampilan yang dapat diterapkan oleh tim-tim lainnya.

Caring Understanding Partners (CUP) Inisiative adalah suatu kerjasama dari


berbagai perhimpunan olah raga dan para pendidik kesehatan yang
mempromosikan gaya hidup sehat di kalangan dan melalui para atlit di beberapa
negara Sub-Sahara di Afrika.

Melalui berbagai seminar CUP, dan klinik serta berbagai kesempatan untuk
tampil di masyarakat, para atlit belajar tentang bagaimana menampakkann suatu
citra yang baik di depan umum, serta menjadi duta perdamaian dari cabang oleh
raga mereka. Hal tersebut juga memberi kesempatan bagi para atlit untuk belajar
tentang gaya hidup yang lebih sehat, dan mempromosikannya kepada orang
orang lain, serta menawarkan pelayanan kemanusiaan yang berharga kepada
masyarakat di sekitar mereka. Disini koordinasi diantara tim pemain
menggunakan metafora olah raga dan menerapkannya selangkah lebih maju
dengan jalan menerapkan koordinasi mereka di dalam bidang komunikasi
masalah kesehatan.

5. Konflik
Berlawanan dengan mitos yang terkenal, tim-tim besar bukan merupakan tim
yang bebas dari konflik. Salah satu indikator penting dari satu tim yang terus
belajar adalah terjadinya konflik mengenai berbagai gagasan. Pada tim-tim
besar, konflik tersebut dapat diubah menjadi produktif. Sering kali terjadi konflik
mengenai suatu visi.

3
Bahkan, pada saat seseorang memiliki suatu visi yang sama, orang bisa saja
mempunyai gagasan-gagasan yang berbeda tentang bagaimana cara mencapai
visi tersebut. Ide-ide yang bertentangan yang mengalir secara bebas merupakan
hal penting untuk berfikir kreatif, karena untuk menemukan suatu cara
pemecahan baru tidak seorangpun dapat semata-mata hanya bergantung pada
idenya sendiri.

Karenanya, suatu konflik dapat menjadi bagian dari dialog yang sedang
berlangsung. Pada tim-tim yang sedang besarnya, terjadi satu dari dua kondisi
yang biasanya menyertai konflik, yaitu tidak terdapat tanda-tanda konflik yang
muncul kepermukaan atau terjadi suatu polarisasi yang kaku. Pada tim-tim yang
kelihatannya dari luar tenang-tenang saja para anggotanya percaya bahwa
mereka harus menekan pendapat-pendapat mereka yang bertentangan agar tim
dapat terpelihara karena jika setiap orang mengemukakan pikirannya tim akan
terpecah-pecah dalam perbedaan-perbedaan yang tidak dapat didamaikan. Tim
yang terpolarisasi adalah tim yang para menajernya mengemukakan
pandangannya secara terbuka dan berbagai pandangan yang berbeda sangat
ditekan oleh kekuatan kelompok polarisasi. Setiap orang mengetahui dimana
orang-orang lainnya berdiri dan dalam hal ini pergerakan hampir tidak terjadi .

6. Sikap Defensif
Pembelajaran tim juga mencakup pembelajaran tentang bagaimana seseorang
menangani secara kreatif kekuatan- kekuatan besar yang menghambat
terjadinya dialog dan diskusi produktif dalam suatu tim kerja. Yang paling utama
dari hal ini adalah mempertahankan rutinitas, kebiasaan dalam berinteraksi yang
melindungi kita dan orang-orang lain dari ancaman dan hal-hal yang memalukan,
yang biasanya juga akan mencegah kita untuk belajar. Sebagai contoh, jika
dihadapkan pada suatu konflik, anggota-anggota tim seringkali berusaha
menyamarkan perbedaan yang ada atau mengemukakannya secara terbuka.
Mempertahankan rutinitas bisa bermacam-macam bentuknya dan juga
merupakan hal yang sangat biasa, dan biasanya berlangsung tanpa diketahui.
Kita biasa mengatakan bahwa suatu ide menarik, padahal kita sama sekali tidak
bermaksud menggunakan gagasan tersebut dengan sungguh-sungguh.Pada
saat suatu masalah yang sulit muncul, kita cenderung merubah pokok
pembicaran seolah-olah tidak memiliki sopan santun yang baik. Atau kita
menyuruh orang untuk berhenti mengemukakan gagasannya agar terhindar dari
keharusan untuk mempertimbangkannya.

Akan tetapi defensif yang berlebihan yang menghalangi pembelajaran juga


mengandung potensi yang besar untuk mendorong pembelajaran, jika kita dapat
mempelajari bagaimana cara memanfaatkan energi yang terkandung di
dalamnya. Jajak pendapat/penyelidikan (suatu process dimana kita mencari
asumsi-asumsi yang kita pegang (refleksi) dan yang dipegang orang lain (dialog)
serta keterampilan merefleksikan ( suatu cara untuk merenungkan kembali

4
proses berpikir kita sehingga kita menjadi lebih sadar tentang bagaimana kita
membentuk model mental ). Kesemua itu membantu kita untuk melepaskan
energi yang ada untuk kemudian diarahkan kepada dialog dan diskusi.

Pembelajaran tim adalah proses kesearahan dan pengembangan kemampuan


suatu tim untuk menciptakan hasil yang diinginkan para anggotanya.
Pembelajaran tim dikembangkan dengan cara mengembangkan suatu visi yang
dikembangkan secara bersama. Pembelajaran tim juga mengembangkan
kemampuan pribadi, karena tim-tim yang hebat terdiri dari individu-individu yang
hebat. Akan tetapi visi bersama dan bakat belumlah cukup. Dunia penuh dengan
tim-tim yang anggota-anggotanya berbakat yang untuk sesaat mempunyai
kebersamaan visi, namun gagal untuk belajar. (Didiplin Kelima h.236)

Dalam studi kasus berikut ini digambarkan tiga dimensi penting untuk
pembelajaran tim:
1. Perlunya berfikir secara mendalam tentang masalah-masalah yang komplek
2. Perlunya tindakan-tindakan yang inovatif dan terkoordinasi, dan
3. Adanya Peranan anggota tim terhadap anggota tim lainnya.

5
STUDI KASUS Pada tahun 1992 sekelompok kecil
masyarakat memprotes penambahan
beberapa program pelayanan disekitar
tempat tinggalnya di Vancouver, Washington.
Pusat kesehatan Washington barat daya
memikirkan untuk menambah pelayanan
sosial dan klinik WIC Departemen
Kesehatan untuk program kedokteran
perilaku. Kaiser Permanente juga
mempertimbangkan untuk membangun
sebuah klinik di tempat tersebut. Karena
keadaan lingkungan masyarakatnya miskin,
banyak pengangguran dan banyak orang
yang menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan mental, ketergantungan obat
dan pelayanan-pelayanan sosial lainnya, maka badan-badan perencana
memperkirakan bahwa pelayanan baru yang akan dikembangkan tersebut akan
disambut dengan hangat atau paling tidak akan diterima. Di luar dugaan, pada
waktu petugas datang mereka disambut dengan teriakan jangan masuk
kehalaman rumah saya (Not In My Back Yard = NIMBY). Teriakan tersebut
membuat mereka terhenyak dan mundur. Kejadian itu juga telah menyebabkan
wakil kepala urusan masyarakat pada bagian perencanaan kesehatan dari Kaiser
Permanente mempertimbangkan kembali cara pendekatan mereka dalam
perencanaan kesehatan masyarakat (Sumber: Medicine and Public Health by
Rozlasker and the Committee on Medicine and Public Health, p.109-111)

Dibutuhkan waktu selama beberapa tahun oleh tiga organisasi untuk


bernegosiasi tentang masalah kesehatan yang perlu diperbaiki, yang dilakukan
dengan melibatkan ketiganya dalam perencanaan kesehatan jangka panjang.
Kini ketiga pimpinan eksekutifnya mengaku bahwa adanya kerjasama yang
saling menguntungkan di antara mereka saja, masih belum cukup. Mereka perlu
mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan evaluasi program, dan
penilaian itu juga harus juga mempertimbangkan secara luas kebutuhan-
kebutuhan kesehatan di seluruh Clark County. Dengan menggunakan organisasi
penghubung, ketiga organisasi itu dapat mengumpulkan dana lebih dari
$100.000 dari rumah sakit, organisasi asuransi kesehatan, pemerintahan Kota
dan Kabupaten, CDC, dan Dinas Kesehatan setempat untuk membayar seorang
tenaga fasilitator guna memimpin proses pelibatan penduduk. Selain itu Dinas
Kesehatan juga membentuk bagian penilaian dan epidemiologi untuk membantu
mereka memfokuskan penilaian pada SDM di instansinya sendiri. Atas upaya
Dinas Kesehatan terbentuklah suatu kelompok kemitraan masyarakat. Kelompok
tersebut di beri nama Community Choices 2010 (CC2010), yang anggotanya
terdiri dari penduduk (termasuk mereka yang melakukan protes awal, sehingga
memicu terbentuknya kelompok itu), pemimpin-pemimpin organisasi, petugas-
petugas kesehatan, para pelaku bisnis setempat, dan wakil-wakil dari unit-unit
pemerintahan seperti pengawas sekolah Kabupaten, bagian kepolisian, bagian
tranportasi dan perwakilan dari organisasi pengembangan ekonomi.

6
Tujuan kelompok tersebut adalah untuk mengevaluasi kesehatan masyarakat
dan mempriotaskan kebutuhan-kebutuhan kesehatan.

Dinas kesehatan menyumbang tenaga epidemiologinya kepada CC2010 untuk


membantu pengumpulan dan penganalisaan data. Mereka mengumpulkan data
kesakitan dan kematian yang diperoleh dari catatan Dinas Kesehatan, data
penyakit dapat dilaporkan serta data pre-natal dan kehamilan. Mereka juga
memeriksa data pemulangan pasien dari rumah sakit negara bagian, berbagai
data sensus yang penting dari bagian perencanaan Kabupaten dan data tingkat
pendidikan serta angka drop-out dari sekolah Kabupaten. Selain itu sejumlah
rekanan juga mengembangkan berbagai database untuk institusi mereka sendiri
misalnya: data kejahatan disediakan oleh kepolisian, data ekonomi dari dinas
tenaga kerja negara bagian. Disamping itu, baik Kaiser Permanente maupun
pusat kesehatan juga memberikan data tentang perawatan pasien dari bagian
Gawat Darurat yang tidak diasuransikan. CC2010 juga membentuk sejumlah
fokus grup di masyarakat serta menjadwalkan sejumlah pertemuan.

Menurut Bonnie Kostelecky, MS,MPA,RN, Direktur Unit Penilaian dan


Epidemiologi Dinas Kesehatan kiat tersebut dilakukan agar data yang diperoleh
mempunyai arti bagi penduduk. Kami menciptakan hubungan dengan berbagai
sisi kehidupan dan sistem sekolah mereka sehinggaa kami dapat menyampaikan
data yang ada secara langsung kepada masyarakat

Ketika kami berbicara tentang penyebab kematian, kami tidak hanya melihat
angka-angka saja. Kami juga melihat langsung ke lingkungan mereka, misalnya
melihat langsung jumlah orang usia dan lanjut, jarak tempat tinggal mereka ke
tempat pelayanan, serta jalur-jalur bus yang ada. Jika semua informasi tersebut
telah terkumpul, data tersebut dapat sangat berguna. Data itu membuat orang
berfikir tentang asal atau penyebab berbagai masalah kesehatan. Dari analisis
data tersebut juga diketahui tentang penyebab tingginya angka penderita kanker
paru-paru dan jantung koroner. Selanjutnya, temuan tersebut telah mendorong
kelompok untuk melakukan kampanye anti merokok dan berbagai cara untuk
membentuk sikap kaum remaja terhadap kebiasaan merokok.

Setelah proses penilaian berjalan satu tahun, kemitraan masyarakat yang ada
menetapkan enam bidang utama yang perlu mendapatkan intervensi, antara lain:
pemuda dan keluarga, kesempatan ekonomi, akses terhadap pelayanan
kesehatan dan pelayanan sosial, praktek-praktek kesehatan dan keselamatan,
serta norma-norma masyarakat yang positif. Fasilitator mendorong masyarakat
untuk melakukan identiifikasi tentang berbagai strategi untuk mengatasi berbagai
masalah di masing-masing bidang. yang paling penting, fasilitator meminta
kelompok untuk mempertimbangkan lembaga-lembaga dan individu mana di
masyarakat yang telah memberikan perhatian terhadap masalah-masalah
tersebur.

7
Implementasi dari berbagai strategi yang diprioritaskan tersebut telah
menghasilkan suatu proyek masyarakat sehat yang melibatkan lebih dari
400 orang pada berbagai panitia, sub panita, kelompok kerja dan diskusi
informal.

Dinas kesehatan, pusat kesehatan dan organisasi pemeliharaan kesehatan telah


membuat berbagai perubahan yang terprogram sebagai hasil dari evaluasi
program kesehatan. Dinas kesehatan memberikan perhatian yang lebih besar
terhadap kampanye anti merokok dan telah mendorong timbulnya program
penggalangan dana masyarakat untuk kegiatan promosi kesehatan secara luas
di masyarakat. Pusat kesehatan telah memanfaatkan beberapa bagian dari data
untuk analisis sasaran pemasaran dan membuat deskripsi ulang tentang upaya-
upaya pendidikan pasiennya. Kaiser Permanente juga terlibat dalam kampanye
yang luas di negara bagian untuk meningkatkasn angka imunisasi, dan telah
menggunakan data yang ada untuk menyusun target imunisasi, terutama di
ruangan-ruangan darurat, dimana kesempatan untuk melakukan imunisasi
datang secara tidak terduga.

Mengenai masalah NIMBY yang semula muncul, akhirnya dinas kesehatan


menyetujui untuk memindahkan klinik-klinik WIC dan kegiatan imunisasinya ke
lingkungan lainnya, namun kampus kesehatan mental dan beberapa dari
program pengobatan kecanduan obat tetap berada di lokasi semula. Namun
demikian, Kostelecky mengatakan bahwa tidak setiap masalah dapat
dipecahkan dengan proses perencanaan masyarakat seperti diatas.