Anda di halaman 1dari 4

Hari Jumat, Tanggal 11 Maret 2015 saya mengunjungi toko Era Rafi.

Waktunya agak kurang


tepat karena saya datang ketika toko mau tutup. Estimasi saya, saya sampai di Pasar Asemka
pukul 15.30 namun ternyata bikun datangnya cukup lama dan ketika sampai di stasiun UI,
ada kereta menuju Jakarta Kota namun saya belum menyeberang rel jadi saya harus
menunggu kereta selanjutnya. Saya sampai disana pukul 16.30, namun toko belum ditutup
jadi saya sempat mengobrol dengan pak Hartono kurang lebih selama dua puluh menit.

Operasi bisnis Pak Hartono mencakup membeli barang menjual barang. Pak Hartono
membeli barang dari beberapa pihak. Sekitar lima puluh persen barang dagangannya
diperoleh dari mengimpor dari China. Sekitar tiga puluh persen barang dagangan Pak
Hartono dibeli dari importir yang ada di Pasar Asemka dalam jumlah yang besar. Sedangkan
dua puluh persennya dibeli langsung dari pengrajin yang tersebar di beberapa daerah seperti
Bandung, Surabaya, Semarang dan Jakarta. Istilah satuan barang-barang yang dijual dalam
jumlah besar adalah koli. Pak Hartono membeli dalam koli-an lalu dijual secara lusinan atau
ecer.

Pak Hartono mendapat pengetahuan mengenai impor dari temannya yaitu pengelola gedung
yang sedang disewa Pak Hartono untuk berjualan. Bapak pengelola gedung juga merupakan
importir. Awalnya bapak pengelola gedung mengajak Pak Hartono ke China untuk bertemu
trader. Trader berguna sebagai pihak ketiga yang menjembatani antara pihak pabrik dan Pak
Hartono. Alurnya Pak Hartono diberikan gambar dari contoh produk. Lalu Pak Hatono
memilih barang apa saja yang ingin dibeli, jumlahnya berapa, apa saja warnanya. Trader
menghitung jumlah uang yang dibayarkan Setelah itu trader akan memesankan produk
tersebut ke pabrik. Dibuatlah semacam perjanjian kapan barang tersedia dan dikirim berikut
pembayarannya. Setelah barang jadi, barang dikirim via laut.Dalam sekali pengiriman
biasanya satu kontainer. Ketika sampai dipelabuhan, barang dikirim menggunakan truk ke
Pasar Asemka. Barang di cek kondisinya, jumlahnya dan lain-lain. Setelah pengecekan
selesai dan ternyata barang sesuai dengan pesanan, Pak Hartono mengkonfirmasi trader untuk
membayarkan uang pembelian. Trader mendapatkan fee sebesar tiga persen dari trasaksi.
Begitu pula bapak pengelola gedung yang mengajari Pak Hartono untuk mengimpor
mendapatkan sepuluh persen dari setiap transaksi. Dan itu tidak hanya berlaku pada teman
beliau yang mengajari tentang impor, teman beliau yang lain yang memberi tau informasi
produsen dan membantu beliau juga mendapatkan sepuluh persen dari transaksi.
Ketika saya bertanya mengapa masih ada tiga puluh persen barang yang mengambil dari
importir, mengapa tidak mengimpor semuanya sendiri, Pak Hartono menjawab bahwa dalam
bisnisnya ini terkadang ada keterbatasan. Terkadang ada importir lain yang mengimpor suatu
barang A yang sangat laku keras dipasaran, sehingga mau tidak mau Pak Hartono harus
membeli dari importir tersebut. Sebaliknya ketika barang yang Pak Hartono impor sangat
laku keras dipasaran maka pedagang lain juga akan datang ke Pak Hartono untuk membeli
barang tersebut.

Alur penjualan di Toko Era Rafi dimulai dari mengambil barang dari gudang dan menata
dalam rak-rak. Tidak ada pola waktu khusus dalam mengambil dan menata barang, setiap
barang yang dipajang mulai habis, karyawan lalu mengambil barang dan menata barangnya
jika tidak sedang melayani konsumen. Ketika ada konsumen yang butuh dilayani kegiatan
menata barang harus ditinggalkan dan mendahulukan melayani pelanggan.

Karyawan melayani pelanggan dengan mengambilkan barang-barang yang ingin dibeli


pelanggan. Setelah barang-barang dipesan dikumpulkan maka akan dibuatkan nota.
Pelanggan membawa nota ke kasir dan membayarnya. Bersamaan dengan itu, karyawan
mengemas barang yang sudah dibeli dan membawa barang ke tempat pengambilan barang.
Pelanggan dapat mengambil barangnya dengan menyerahkan tembusan nota di tempat
pengambilan barang. Ditempat pengambilan barang, barang di dalam kardus/plastik dicek
kembali jumlahnya sesuai nota.

Dalam hal menjual barang, Pak Hartono memiliki strategi harga dan diferensisasi. Strategi
harga yang dimaksud Pak Hartono adalah menjual dengan harga rendah tidak masalah
untungnya kecil tapi barang terjual banyak. Pak Hartono juga menjual barang dari kualitas
rendah sampai kualitas tinggi. Barang dengan kualitas yang rendah tentu harganya murah,
sifatnya berbanding lurus, semakin tinggi kualitas semakin tinggi harganya. Namun pak
Hartono menyesuaikan pembelian barang kualitas tertentu sesuai dengan permintaan
konsumen. Biasanya memang Pak Hartono lebih banyak menyetok barang dengan kualitas
menegah kebawah karena harganya yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk
barang kualitas tinggi tentu stoknya tidak sebanyak yang kualitas menengah kebawah karena
selain harganya yang mahal membutuhkan porsi modal yang besar adalah karena inventory
turnover-nya kecil. Tidak seperti inventory turnover barang kualitas menengah kebawah.
Meskipun begitu hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan setiap konsumen yang dari
berbagai macam lapisan sosial dapat berbelanja di toko Pak Hartono. Pak Hartono secara
pribadi tidak membedakan para konsumennya, siapapun bisa berbelanja di tokonya asalkan
punya uang. Satu lagi strategi Pak Hartono adalah beliau sering mengajak bicara secara
personal kepada pelanggan-pelanggannya, ketika kedekatan sudah terbangun maka pelanggan
cenderung menghabiskan uangnya untuk berbelanja ditokonya. Pak Hartono meyakini bahwa
bisnisnya lancar juga karena kemampuannya dalam mendekati orang, memperlakukan orang
lain dengan baik sehingga orang-orang ini nantinya akan membantu dia. Sebagai wujud
profesionalitas dan wujud rasa terima kasihnya Pak Hartono selalu membagi fee yang
sebelumnya telah saya sebutkan kepada teman-temannya, karena keyakinan Pak Hartono
yaitu rezeki sudah diatur oleh Tuhan, manusia tinggal menjemputnya dengan usaha keras.

Pak Hartono sempat mencoba strategi bisnis baru dengan menjual barangnya layaknya di
supermarket. Pengunjung membeli barang dan ada kasir yang menscan barcode. Agar
penjualan tercatat dengan baik, namun usaha pak Hartono ini gagal karena kecenderungan
pembeli di Pasar Asemka adalah menawar, jadi tidak bisa harganya tetap seperti di
supermarket. Padahal pak Hartono sudah membeli seperangkat komputer dan program senilai
tiga puluh juta.

Barang yang dijual di toko Pak Hartono kurang lebih mencapai seribu macam. Dalam
penentuan harga Pak Hartono mengambil keuntungan dua puluh persen untuk satu unit
barang. Namun harga barang akan dikurang sepuluh persen apabila dibeli dalam jumlah
lusinan. Karena tidak menggunakan sistem barcode maka Pak Hartono menggunakan sistem
kode yang menunjukkan harga dengan menuliskannya di belakang plastik produk. Konsumen
bisa menawar harga yang lebih murah jika membeli lebih dari satu. Itulah mengapa sistem
komputerisasi belum bisa diterapkan di toko Era Rafi.

Seperti yang saya paparkan sebelumnya, tidak ada pola waktu usaha yang tetap. Dan Pak
Hartono hanya mengatur jam buka adalah jam 08.00 sedangkan jam tutup 16.30. Karyawan
dipersilahkan untuk makan siang dan sholat bergantian. Tidak disediakan jam istirahat siang
khusus, karyawan bebas bergantian melayani pelanggan ketika mau makan siang maupun
sholat. Tidak ada waktu khusus untuk menata barang di rak, mengambil barang dari gudang,
semuanya dilakukan sesuai kebutuhan.

Pegawai pak Hartono berjumlah 38 orang. Sebagian besar karyawannya adalah perempuan.
Karyawan laki-laki bertugas untuk melakukan pekerjaan berat. Mereka berasal dari daerah
Jakarta dan sekitarnya. Gaji karyawan Pak Hartono berkisar diantara Rp 60.000,00 sampai
Rp. 150.000,00 per harinya. Selain itu pak Hartono juga memiliki karyawan freelance yang
bertugas sebagai kurir yang mengatarkan pesanan yang minta dikirim ke jasa pengiriman
barang (seperti ke counter JNE, TIKI,POS,dsb). Karyawan freelance ini digaji Rp 30.000,00
per pengiriman barang.

Modal awal bisnis Pak Hartono dari tabungannya sejumlah Rp 4.500.000,00. Lalu beliau
sempat mendapatkan untung dari penjualan gelang tsunami sejumlah Rp 80.000.000,00. Dari
modal itulah bisnis Pak Hartono dikembangkan. Dengan mengumpulkan keuntungannya
menjadi modal ekspansi bisnisnya. Karena keterbatasan waktu dan toko sudah tutup, saya
belum menanyakan pendanaan modal dari pihak lain selain uang Pak Hartono pribadi.

Pak Hartono memilih lokasi di Pasar Asemka karena passionnya berjualan aksesoris. Dan
pusat grosir aksesoris berada di Pasar Asemka, yang menjadi tempat yang dituju oleh
pengecer aksesoris dari seluruh Indonesia untuk membeli barang dagangan. Selain itu karena
Pak Hartono masih membeli barang dari importir yang ada di Pasar Asemka, jadi akan lebih
efektif jika Pak Hartono berjualan di Pasar Asemka karena mengurangi biaya kirim tiga puluh
persen dari keseluruhan barang. Pak Hartono sengaja menyewa gedung 3 karena lokasinya
yang strategis dan berbelanja di Toko Pak Hartono lebih nyaman dibanding harus berdesakan
di dalam pasar.