Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH PEMBERIAN JUS KECAMBAH KACANG HIJAU

(Vigna radiata (L.) R. Wilczek)TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA DAN


SPERMATOGENESIS MENCIT JANTAN GALUR SWISS

Yance Anas1), Nur Chakim2), Suharjono3)


1)
Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
2)
Program S-1Fakultas Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang
3)
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang

INTISARI
Khasiat kecambah kacang hijau sebagai peningkat kesuburan alami pada pria masih belum
banyak diteliti dan dipublikasikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian jus
kecambah kacang hijau terhadap kualitas spermatozoa dan spermatogenesis mencit jantan Galur Swiss.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan randomized matched two-group
post test only design. Sebanyak 30 ekor mencit jantan dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari
kelompok kontrol (CMC 25 mL/kgBB/hari); kelompok d--tocopherol 556 IU/kgBB/hari; dan tiga
kelompok jus kecambah kacang hijau (33, 66 dan 132) mg/kgBB/hari. Sediaan uji diberikan tiap hari
secara per oral selama 20 hari. Pada hari ke-21, semua mencit dibunuh, testis dan epididimis
dipisahkan untuk pengukuran kualitas (jumlah, motilitas dan morfologi) spermatozoa dan
spermatogenesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus kecambah kacang hijau 33, 66
dan 132 mg/KgBB/ hari selama 20 hari tidak terbukti mampu meningkatkan kesuburan mencit jantan
galur Swiss. Skor spermatogenesis, jumlah spermatozoa dan morfologi spermatozoa normal mencit
jantan galur Swiss yang mendapatkan perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau tidak berbeda
bermakna dengan kelompok kontrol (p>0,05). Sebaliknya, pemberian jus kecambah kacang hijau justru
dapat menurunkan motilitas progresif spermatozoa mencit jantan galur Swiss (p<0,05).

Kata kunci: Jus kecambah kacang hijau (Vigna radiata (L.) R.Wilczek), kualitas spermatozoa;
spermatogenesis.

ABSTRACT
Efficacy of mung bean sprouts as natural fertility enhancer for men was not widely investigated
and published. The objective of this study is to investigate the effect of mung bean sprouts juice on
male Swiss mice spermatozoa quality and spermatogenesis. An experimental study performed with
randomized matched two-group post test only design approach. Thirtymale mice were dividedinto
fivegroups randomly, which consist of a control group (CMC25mL/kg BW/day); d--tocopherol group
(556 IU/kg BW/day) and three mung beans sproutjuice groups (33, 66 and 132) mg/kg BW/day. Mice
treated every dayfor 20days orally. Micewere sacrificed; testis and epididymis were collected and
examined. The spermatozoa quality (count, progressive motility and normal morphology) and
spermatogenesis observed. The results showedthatmung bean sproutsjuice treatment (33, 66 and 132)
mg/Kg BW/day for 20 days did not enhance male Swiss strain mice fertility. Spermatogenesis score,
count and normal morphology spermatozoa that receive treatment with mung bean sprout juice was not
significantly different to the control group (p>0.05). Conversely; mung bean sprouts juice treatment
lead to decrease male Swiss strain mice spermatozoa progressive motility (p<0,05).

Keywords: Mung bean sprouts (Vigna radiata (L.) R.Wilczek) juice, spermatozoa quality,
spermatogenesis.

PENDAHULUAN mengalami gangguan infertilitas. Menurut


Infertilitas (ketidaksuburan) merupakan Stuart dan Howard (1995), penyebab pasti
salah satu masalah serius yang dihadapi oleh infertilitas pada pria masih belum banyak
sebagian masyarakat. Pada umumnya, diketahui. Oleh karena itu, rencanapengobatan
kegagalan pasangan suami istri untuk yang rasional untuk memperbaiki patologi
memperoleh keturunan disebabkan karena infertilitas pada pria masih sulit untuk
infertilitas pada pria (Miyamoto, et.al.,2012). dikembangkan. Organisasi Kesehatan Dunia
Di Indonesia, diperkirakan sekitar 20% pria WHO pada tahun 2010 mengatakan bahwa

1
pada beberapa banyak kasus yang terjadi,
penyebab infertilitas pada pria diakibatkan Bahan Penelitian
oleh keadaan azoospermia non-obstruktif. Hewan percobaan yang digunakan
Keadaan ini merupakan sedikitnya volume adalah mencit jantan Galur Swiss yang
sperma yang diproduksi dan terjadinya diperoleh dari Laboratorium Jurusan Biologi
penurunan sekresi Folicle Stimulating FMIPA, Universitas Negeri Semarang.
Hormone (FSH) (Kobayashi, et.al., 2012). Kriteria inklusi mencit yang digunakan dalam
Di Indonesia, terdapat beberapa penelitian ini adalah galur Swiss, umur 2
tumbuhan dan sayuran yang diyakini oleh bulan, berat badan 20-30 gram; dan kriteria
masyarakat sebagai peningkat kesuburan eksklusi: tidak terdapat abnormalitas fisik pada
alami. Salah satu sayuran yang telah mencit dan mencit mati selama percobaan
digunakan oleh masyarakat untuk karena kesalahan perlakuan. Kecambah
meningkatkan kesuburan pria adalah kacang hijau diperoleh dengan cara di
kecambah kacang hijau (tauge). Masyarakat budidayakan sendiri. Bahan lain yang
mengkonsumsi kecambah kacang hijau ini digunakan adalah d--tocopherol (Dalfarol)
dalam bentuk sayuran (mentah/dimasak) atau dari Daria-varia, larutan CMC 1%, klorofrom
dibuat dalam bentuk jus. 99,0 % (Brataco), NaCL fisiologis (Otsuka),
Telah lama diketahui, kecambah kacang reagen giemsa, dan larutan etanol 70%,
hijau kaya akan kandungan vitamin E, C dan formalin 10%, etanol bertingkat, xilol, parafin,
selenium yang merupakan senyawa albumin meyer dan haematoxylin-eosin (HE).
antioksidan alami. Kombinasi vitamin E, C
dan selenium tersebut dapat melindungi Alat yang digunakan
berbagai sel di dalam tubuh sel dari oksidasi Polibek, nampan, alat semprot air,
radikal bebas, termasuk sel sperma. blender (philips), timbangan elektrik (cook
Berdasarkan sifat vitamin E yang master), botol plastik, jarum oral, seperangkat
merupakan vitamin larut lemak dan konsumsi alat gelas, seperangkat alat bedah, kamar
kecambah kacang hijau dalam bentuk sayuran hitung haemocytometer (Neubauer), objek
ataupun jus segar, sangat sulit untuk glass, deck glass, hand counter, laptop, vial,
dipercayai bahwa mengkonsumsi kecambah alat potong mikrotom (Shandon finesse 325),
kacang hijau dalam bentuk segar akan dapat objek glass dan mikroskop trinokuler (N-400
berkhasiat meningkatkan kesuburan pria. M).
Sejauh ini, khasiat kecambah kacang hijau
dalam meningkatkan kesuburan masih belum Jalan Penelitian
banyak diteliti dan dipublikasikan. Penelitian
ini mencoba untuk membuktikan khasiat Pembuatan Media Tanam dan Budidaya
kecambah kacang hijau sebagai sayuran Kecambah Kacang Hijau
peningkat kesuburan pria melalui uji pra-klinik Sebanyak tiga gram benih kacang hijau
dengan mengunakan hewan percobaan yang direndam selama satu malam dan selanjutnya
diberikan jus kecambah kacang hijau. benih kacang hijau disebar pada media tanam.
Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh Penyiraman dilakukan sebanyak tiga kali
jus kecambah kacang hijau (Vigna radiata sehari (pagi, siang dan sore hari). Media tanam
(L.)R. Wilczek) terhadap dua parameter diletakkan pada tempat terlindung dari cahaya.
kesuburan, yaitu kualitas spermatozoa Kecambah yang berumur dua hari dengan
(jumlah, motilitas dan morfologi spermatozoa) panjang sekitar 4-5 cm dipanen dan digunakan
dan spermatogenesis pada mencit jantan galur dalam penelitian.
Swiss.
Pembuatan Jus Kecambah Kacang Hijau
METODE PENELITIAN Pembuatan jus kecambah kacang hijau
Penelitian ini merupakan penelitian dilakukan setiap hari. Jus kecambah kacang
eksperimental dengan rancangan post test only hijau dibuat dalam tiga stok konsentrasi yaitu
control group design yang menggunakan (2,0; 4,0 dan 8,0) mg/mL. Untuk membuat
hewan coba sebagai subjek penelitian. Tempat konsentrasi 2,0 mg/mL, sebanyak 1,0 gram
penelitian dilakukan di Laboratorium kecambah kacang hijau ditambah 500,0 mL air
Farmakologi dan Toksikologi Fakultas dan diblender, kemudian dipindahkan ke
Farmasi Universitas Wahid Hasyim Semarang. dalam wadah plastik untuk langsung

2
digunakan dalam penelitian. Jus kecambah campur dengan larutan CMC 1,0% sedikit
kacang hijau stok 4,0 dan 8,0 mg/mL dibuat demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai
dengan cara yang sama dengan larutan stok volume 15,0 mL.
2,0 mg/mL. Pembuatan Larutan CMC 1,0%
Sediaan CMC 1,0% digunakan sebagai
Pembuatan Suspensi d tocopherol (556 larutan pensuspensi dan sebagai bahan uji
IU/mL) pada kelompok kontrol negatif. Larutan CMC
Dosis d--tocopherol yang digunakan 1,0% dibuat dengan menimbang sebanyak 1,0
dalam penelitian ini adalah 556 IU/kgBB/hari. gram serbuk CMC dan dilarutkan dalam
Sebanyak dua kapsul Dalfarol (200 IU) akuades (dengan bantuan pemanasan dan
diambil dengan menggunakan jarum suntik pengadukan) sedikit demi sedikit sampai
sampai isi dalam kapsul habis, selanjutnya, volume 100,0 mL.
ditampung dalam beker glass kemudian

Perlakuan Hewan Uji spermatozoa mengendap) untuk memudahkan


Mencit dikelompokkan secara acak perhitungan. Jumlah sperma diamati di bawah
menjadi 5 kelompok perlakuan. Sebelum mikroskop trinokuler dengan perbesaran 400x.
perlakuan, mencit diadaptasikan terlebih Hasil perhitungan jumlah sperma kemudian
dahulu dalam suasana laboratorium selama dimasukkan ke dalam rumus berdasarkan
satu minggu. Pemberian pakan dilakukan tiga sesuai penelitian yang dilakukan oleh Suparni
kali setiap hari (pagi, siang dan sore) hari (2009), persamaan 1.
menggunakan pakan standar BR2 dan minum
ad. libitum. Tiga peringkat dosis jus kecambah Jumlah sperma = 2
kacang hijau (33, 66 dan 132) mg/kgBB/hari; x105sperma/mL(1)
d- tokoferol 556 IU/kgBB/hari dan CMC
1,0% 25,0 L.Kg/BB/hari diberikan secara oral N = jumlah sperma yang dihitung pada 25
satu kali sehari selama 20 hari. Pemejanan kotak
sediaan uji dilakukan pada pagi hari sekitar
pukul 09.00 WIB. Pengamatan Motilitas Sperma
Satu tetes sampel sperma diteteskan ke
Pengambilan Testis dan Epididimis atas objek glass kemudian ditutup dengan deg
Pada hari ke 21, mencit dikorbankan glass. Pengamatan motilitas dilakukan di
dengan cara disklokasi tulang belakang. bawah mikroskop trinokuler dengan
Bagian bawah perut mencit dibasahi dengan perbesaran 200x. Pengamatan dilakukan
kapas alkohol 70%, dan selanjutnya dipotong sedikitnya pada lima lapang pandang. Setiap
melintang hingga terlihat epididimis dan testis. satu lapang pandang direkam selama 20 detik,
Selanjutnya, satu buah organ testis kemudian dilakukan pengklasifikasi motilitas
dimasukkan ke dalam larutan formalin 10% sperma yang meliputi :motilitas progesif
untuk keperluan pemeriksaan (sperma bergerak cepat dan lurus), non-
spermatogenesis. Epididimis diurut/diplirit progesif (sperma bergerak ditempat) dan
menggunakan pinset untuk mengeluarkan immotil (sperma tidak bergerak/mati).
spermatozoa sehingga tersuspensi ke dalam Perhitungan % motilitas sperma progresif,
larutan NaCl 0,9%. Pengamatan mikroskopis non-progresif dan immotil di lakukan sesuai
terhadap kualitas sperma dilakukan dalam dengan persamaan 2-4.
jangka waktu yang tidak melebihi dari 60
menit (WHO, 2010). Pemeriksaan kualitas % sperma progresif : a/n x 100% ...(2)
sperma yang dilakukan meliputi jumlah,
motilitas dan morfologi sperma % sperma non-progrsif : b/n x 100%...(3)

Pemeriksaan Jumlah Sperma % sperma Immotil : c/n x 100%..........(4)


Sebanyak 10 L sampel sperma,
diteteskan di sisi kamar hitung Neubauer yang a = Jumlah sperma dengan motilitas progresif
sudah ditutup dengan kaca penutup, dan
dibiarkan selama 5 menit (agar sel-sel

3
b = Jumlah sperma dengan motilitas non- berisi larutan formalin 10,0% (Zulham, 2009).
progresif c = Jumlah sperma Testis direndam minimal selama 24 jam,
dengan motilitas immotil kemudian dicuci dengan air dan dilanjutkan
n = Jumlah sperma pada lima lapang pandang dengan melakukan dehidrasi menggunakan
pelarut etanol bertingkat. Tahap selanjutnya
Pengamatan Morfologi Sperma adalah mengeluarkan cairan pembening dari
Satu tetes sampel sperma dan giemsa testis dan diganti dengan parafin. Pengecoran
dibuat dalam bentuk hapusan pada obyek testis dilakukan dengan membuat blok parafin
glass, kemudian dikering anginkan. agar mudah dipotong dengan mikorotrom.
Selanjutnya, sediaan hapusan ditetesi dengan Hasil potongan tersebut kemudian
etanol 70% dan dibiarkan selama 15 menit dipindahkan ke penangas air dengan suhu
hingga kering. Pengamatan dilakukan terhadap 60oC dan diletakkan di atas objek glass yang
100 sperma dibawah mikroskop trinokuler telah diolesi albumin meyer. Proses analisa
dengan pembesaran 400x. Selanjutnya, preparat jaringan organ testis dilakukan
dilakukan perhitungan persentase antara dengan cara mewarnai hasil irisan dengan
sperma normal dengan abnormal sesuai Heatoksilin-Eosin (HE) dan diamati di bawah
penelitian yang dilakukan oleh Suparni(2009). mikroskop trinokuler. Hematoxylinakan
Penentuan bentuk morfologi sperma normal mewarnai inti sel sedangkan eosin mewarnai
dan abnormal dilakukan berdasarkan hasil sitoplasma (Zulham, 2009). Penilaian
penelitian Anggrahini (2009). spermatogenesis dilakukan berdasarkan
penilaian skor spermatogenesis yang mengacu
Pemeriksaan Spermatogenesis pada skor spermatogenesis Johnson
Testis yang telah diambil difiksasi
dengan menggunakan larutan formalin 10%
dengan cara merendam testis dalam vial yang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
HASIL PENELITIAN perlakuan jus kecambah kacang hijau pada
Pengaruh Pemberian Jus Kecambah mencit selama 20 hari tidak mampu
Kacang Hijau Terhadap Jumlah Sperma meningkatkan jumlah sperma mencit. Jumlah
Mencit Jantan Galur Swiss sperma mencit yang telah mendapatkan
Parameter kecambah kacang hijau perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau
dalam mempengaruhi jumlah sperma pada 33 132 mg/KgBB/hari selama 20 hari adalah
penelitian ini adalah apabila jumlah sperma sebanyak 2,22 3,27 juta/mL. Jumlah sperma
mencit pada kelompok perlakuan jus tersebut tidak berbeda bermakna dengan
kecambah kacang hijau lebih tinggi atau lebih jumlah sperma mencit yang mendapatkan
rendah dibandingkan dengan kelompok perlakuan dengan kontrol CMC 1,0% 25
kontrol negatif. Gambar sebaran sperma dalam mL/KgBB/hari (p>0,05). Sebaliknya, jumlah
perhitungan jumlah sperma menggunakan sperma mencit yang mendapatkan perlakuan
kamar hitung Neubeur dapat di lihat pada dengan d--tokoferol 556 IU/KgBB/hari
gambar 1. Perbandingan rata-rata jumlah adalah sebanyak 10,53 juta/mL, lebih tinggi
sperma antar kelompok perlakuan tersaji pada secara signifikan dari kelompok kontrol
gambar 2. (p<0,05).

Gambar 1. Sebaran jumlah pada kamar hitung Neubeur

4
Gambar 2. Perbandingan rata-rata jumlah sperma mencit setelah mendapat perlakuan
dengan jus kecambah kacang hijau selama 20 hari. Jumlah sperma merupakan
nilai rata-rata SEM (n=5). Hasil uji Mann-Witney dengan taraf kepercayaan 95%,
tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan dengan
kelompok kontrol negatif (CMC) (p>0,05).

Pengaruh Pemberian Jus Kecambah non- progresif dan immotil) mencit jantan
Kacang Hijau Terhadap Motilitas Sperma galur swiss setelah perlakuan selama 20 hari
Mencit Jantan Galur Swiss tersaji pada tabel I.
Motilitas sperma digunakan untuk Hasil penelitian menunjukkan bahwa %
menilai tingkat keaktifan pergerakan sperma. sperma dengan motilitas progresif pada mencit
Dalam penelitian ini, motilitas sperma yang mendapatkan perlakuan dengan jus
diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: motilitas kecambah kacang hijau (33 132)
progresif, motilitas non progresif serta mg/KgBB/hari selama 20 hari berkisar (0,00
immotil. Motilitas progresif ditandai dengan 13,30) %. Persentase jumlah sperma dengan
spermatozoa bergerak aktif, baik linier atau di motilitas progresif ini jauh lebih kecil bila
lingkaran besar. Sperma memiliki motilitas dibandingkan dengan mencit kelompok
non-progresif jika bergerak dengan jalur yang kontrol (52,15%) dan d--tokoferol 556
abnormal, misalnya berenang di lingkaran IU/KgBB/hari (80,90%) (p<0,05). Oleh karena
kecil, atau hanya mengerakkan flagellar yang itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa
dapat diamati. Sperma yang immotil ditandai pemberian jus kecambah kacang hijau selama
dengan tidak adanya gerakan.Hasil 20 hari dapat menurunkan motilitas sperma
perbandingan motilitas sperma (progresif, progresifmencit jantan galur Swiss.

Tabel I. Perbandingan rata-rata persentase motilitas sperma mencit setelah mendapatkan


perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau (33, 66, dan 132) mg/kgBB/hari
selama 20 hari. Motilitas sperma merupakan nilai rata-rata (%) (n=5). *Hasil uji
Man-Whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan kelompok kontrol negatif
(CMC) (P<0,05).

Pengaruh Pemberian Jus Kecambah Dalam penelitian ini, parameter


Kacang Hijau terhadap Morfologi sperma kecambah kacang hijau dalam mempengaruhi
mencit jantan Galur Swiss morfologi sperma adalah apabila morfologi

5
sperma normal pada mencit kelompok setelah perlakuan selama 20 hari dalam
perlakuan jus kecambah kacang hijau lebih penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.
tinggi atau lebih rendah bila dibandingkan Hasil perbandingan persentase morfologi
dengan kelompok kontrol negatif (CMC). sperma normal dan abnormal pada mencit
Gambar morfologi sperma normal dan jantan galur Swiss tersaji pada gambar 4.
abnormal pada mencit jantan galur swiss

Gambar 3. Morfologi Sperma mencit dengan perbesaran 400x

Gambar 4. Perbandingan (%) rata-rata morfologi sperma mencit setelah mendapat


perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau (33, 66, dan 132) mg/kgBB/hari
selama 20 hari. Morfologi sperma merupakan nilai rata-rata (%) SEM (n=5).
Hasil uji Anova dengan taraf kepercayaan 95% menunjukkan tidak ada perbedaan yang
bermakna antara % morfologi sperma normal dengan kelompok kontrol negatif (CMC)
(P>0,05).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (78,55%) (p>0,05) dan mencit yang


persentase morfologi sperma normal mencit mendapatkan perlakuan dengan d--
yang mendapat perlakuan dengan jus tocopherol 556 IU/KgBB/hari (81,92%). Oleh
kecambah kacang hijau (33, 66 dan 132) karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa
mg/KgBB/hari selama 20 hari berturut-turut perlakuan jus kecambah kacang hijau 33 132
adalah sebesar 75,07%, 71,00% dan 72,10%. mg/KgBB/ selama 20 hari tidak
% morfologi sperma normal ini tidak berbeda meempengaruhi morfologi sperma mencit
bermakna dengan mencit kelompok kontrol jantan galur Swiss.
mencit jantan galur Swiss dalam penelitian ini
Pengaruh Pemberian Jus Kecambah dapat dilihat pada gambar 5. Dari preparat ini
Kacang Hijau terhadap Spermatogenesis selanjutnya dilakukan perhitungan skor
Mencit Jantan Galur Swiss spermatogenesis. Perbandingan hasil penilaian
Gambaran penilaian skor skor spermatogenesis pada preparat jaringan
spermatogenesis pada preparat jaringan organ testis mencit dilakukan berdasarkan kriteria
testis atau penampang tubulus semineferus Johnson dan tersaji pada gambar 6.

6
Gambar 5. Penampang tubulus seminiferus mencit jantan yang dipontong melintang untuk
penilaian klasifikasi spermatogenesis sesuai skor Johnson. keterangan: Skor
Johsen bernilai 10. Skor Johsen bernilai 9. Skor Johsen bernilai 8. Skor Johsen
bernilai 7. Skor Johsen bernilai 6. Skor Johsen bernilai 5.

Gambar 6. Perbandingan nilai rata-rata skor spermatogenesis mencit setelah mendapat


perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau selama 20 hari. Nilai
spermatogenesis merupakan nilai rata-rata SEM (n=5). Hasil uji Kruskal-Wallis
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna skor spermatogenesis kelompok
yang mendapat perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau dengan kelompok
kontrol (p> 0,05).

Hasil penelitian, menunjukkan bahwa jus kecambah kacang hijau 33 132


skor spermatogenesis mencit yang diberi mg/KgBB/hari selama 20 hari tidak
perlakuan dengan d--tocopherol memiliki mempengaruhi spermatogenesis mencit jantan
skor yang paling tinggi yaitu sebesar 9,6; galur Swiss (p>0,05).
sedangkan skor spermatogenesis kelompok
kontrol negatif (CMC) adalah sebesar 8,84 Diskusi dan Pembahasan
(p>0,05). Skor spermatogenesis mencit yang Salah satu sayuran yang telah
diberi perlakuan dengan jus kecambah kacang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk
hijau (33, 66 dan 132) mg/kgBB/hari adalah meningkatkan kesuburan pria adalah
sebesar 8,80, 8,68 dan 9,4. Skor kecambah kacang hijau (tauge). Masyarakat
spermatogenesis tersebut tidak beebeda mengkonsumsi kecambah kacang hijau ini
bermakna bila dibandingkan dengan kelompok dalam bentuk sayuran (mentah/dimasak) atau
kontrol (p>0,05). Oleh karena itu, pemberian dibuat dalam bentuk jus.

7
Kecambah kacang hijau diketahui kaya mencit jantan galur Swiss yang mendapatkan
akan kandungan vitamin E, C dan selenium perlakuan dengan jus kecambah kacang hijau
yang merupakan senyawa antioksidan alami. selama 20 hari tidak berbeda bermakna dengan
Kombinasi senyawa antioksidan tersebut dapat kelompok kontrol (p>0,05). Hal ini mungkin
melindungi berbagai sel di dalam tubuh sel disebabkan karena vitamin E yang terkandung
dari oksidasi radikal bebas, termasuk sel di dalam jus kecambah kacang hijau tidak
sperma. (Astawan, 2005). Pada penelitian mencukupi untuk berperan sebagai antioksidan
terdahulu, vitamin E telah dilaporkan mampu dalam melindungi sperma pada saat
melindungi spermatozoa terhadap kerusakan spermatogenesis. Jumlah vitamin E (tokoferol)
peroksidatif dan penurunan motilitas (Therond yang terkandung dalam kecambah kacang
et al., 1996). Vitamin E juga dapat hijau sekitar (7 g/g) (Purwono dan Hartono,
menetralisir hidroksil, peroksida, dan radikal 2005). Jumlah vitamin E pada kecambah
hidrogen peroksida dan mencegah aglutinasi kacang hijau yang sangat sedikit ini
sperma (Agarwal, et.al., 2005). Vitamin E juga kemungkinan tidak mampu melindungi saat
diduga akan mampu mempertahankan fertilitas produksi sperma, selain itu, vitamin E
pria dengan cara melindungi beberapa sel merupakan vitamin yang tidak larut air,
penyusun tubulus seminiferus di dalam testis sehingga pemberian sediaan kecambah kacang
dari kerusakan akibat serangan radikal bebas hijau dalam bentuk jus tidak dapat melarutkan
yang terjadi secara alami di dalam tubuh vitamin E dan absorpsinya ke dalam sirkulasi
(Ardini, 2005). Regina dan Traber (1999) sistemik juga relatif sedikit. Selain itu,
menyatakan bahwa defisiensi vitamin E pada perlakuan pemberian jus kecambah kacang
tikus menyebabkan degenerasi epitel tubuli hijau dalam penelitian ini hanya dilakukan
seminiferi dan menghentikan produksi selama 20 hari. Apabila lama perlakuan
spermatozoa. Selain itu, pemberian vitamin E dilakukan lebih dari 20 hari mungkin saja akan
secara oral pada pasien astenospermia mendapatkan hasil yang lebih akurat. Hal ini
dilaporkan mampu meningkatkan motilitas sangat berhubungan dengan siklus
spermatozoa secara signifikan (Suleiman et spermatogenesis. Satu siklus spermatogenesis
al., 1996). pada mencit membutuhkan waktu antara 40-60
Kandungan beberapa protein dan hari (Hafez 1970). Selain siklus
vitamin E pada kecambah kacang hijau juga spermatogenesis, umur hewan uji yang
diduga kuat dapat meningkatkan kualitas mempengaruhi proses spermatogenesis,
sperma dan spermatogenesis pada mamalia. dimana pada usia tertentu tingkat kesuburan
Penelitian ini mencoba untuk membuktikan hewan akan mulai menurun secara perlahan-
penggunaan empiris kecambah kacang hijau lahan disebabkan karena perubahan dan
sebagai peningkat kesuburan alami. Tiga penurunan fungsi organ reproduksi (Khaidir,
peringkat dosis jus kecambah kacang hijau 2011).
(33, 66 dan 132) mg/KgBB/hari diberikan Penelitian ini juga menyimpulkan
pada mencit jantan galur Swiss selama 20 hari. bahwa pemberian jus kecambah kacang hijau
Pada hari ke-21 setelah perlakuan jus justru dapat menurunkan motilitas progresif
kecambah kacang hijau dilakukan spermatozoa mencit jantan galur Swiss.
pemeriksaan kualitas spermatoa dan Penurunan motilitas sperma mencit
spermatogenesis. Kualitas spermatozoa kemungkinan dipengaruhi oleh senyawa lain
digambarkan oleh jumlah, motilitas progresif selain senyawa vitamin E yang terkandung di
dan morfologi spermatozoa normal; sedangkan dalam kecambah kacang hijau. Senyawa lain
spermatogenesis digambarkan oleh skor yang belum diketahui ini, kemungkinan besar
spermatogenesis berdasarkan pengamatan berperan dalam merusak membran sel
preparat jaringan testis mencit jantan galur metokondria, karena plasma membran
Swiss dengan menggunakan skor Johnson. mitokondria sperma tersusun atas asam lemak
Secara keseluruhan, penelitian ini tak jenuh yang rentan terhadap serangan
menyimpulkan bahwa pemberian jus radikal bebas (OConnell et al., 2002). Sekitar
kecambah kacang hijau 33 132 mg/KgBB/ 50% asam lemak tidak jenuh yang ditemukan
hari selama 20 hari tidak terbukti mampu dalam sebuah sel spermatozoa adalah dekosa-
meningkatkan kesuburan mencit jantan galur heksaenoat (DHA). Asam lemak ini yang
Swiss. Skor spermatogenesis, jumlah bersifat sangat rentan terhadap oksidasi dan
spermatozoa dan morfologi sperma normal mudah mengalami kerusakan akibat reaksi

8
berantai antara radikal bebas dengan asam Anggrahini S. 2009. Pengaruh Lama
lemak tidak jenuh, sehingga meningkatkan Pengecambahan terhadap
peroksidasi lipida (Sanocka dan Kurpisz, Kandungan -Tokoferol dan
2004). Peroksidasi lipida dilaporkan Villegas Senyawa Proksimat Kecambah
et.al., (2003) berkorelasi dengan penurunan Kacang Hijau (Phaseolus radiatus
fosforilasi protein pada aksonem dan L.).
berkurangnya ATP intrasel. Menurut http://patpijogja.wordpress.com/200
Tremellen (2008), terjadinya proses 9/08/27/. Diakses tanggal 19 Januari
peroksidasi pada spermatozoa akan diikuti 2012
oleh perubahan struktur membran plasma Ardini, S.D. 2005. Efek Pemberian Kombinasi
spermatozoa sehingga mengubah kestabilan Vitamin C dan Vitamin E terhadap
dan fungsi membran, serta menurunkan Kadar Nitric Oxide pada
fluiditas membran spermatozoa. Rusaknya Preklampsia. Tesis. Fakultas
membran plasma mitokondria spermatozoa Kedokteran Universitas
mengakibatkan terganggunya metabolisme sel Diponegoro, Semarang.
spermatozoa, sehingga menyebabkan Astawan M. 2005. Kacang Hijau, Antioksidan
penurunan motilitas spermatozoa. Penelitian yang Membantu Kesuburan Pria.
ini belum bisa mengidentifikasi senyawa yang http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_
mempengaruhi penurunan motilitas sperma, ntrtnhlth_kacanghijau.php.diakses
sehingga perlu dilakukan penelitian lebih tanggal19 Januari 2012
lanjut. Hafez E.S.E., 1970, Reproduction and
Berbeda dengan jus kecambah kacang Breeding Techniques for
hijau, pemberian vitamin E (d--tokoferol) Laboratory Animal. Lea and
556 IU/KgBB/ hari selama 20 hari ternyata Febiger, Philadelphia
mampu meningkatkan jumlah spermatozoa Ilyas S., 2011, Pengaruh Pemberian Vitamin E
dan motilitas sperma progresif (p<0,05). Terhadap Jumlah, Morfologi Dan
Walaupun demikian, pemberian d--tokoferol Motilitas Sperma Serta Kadar
belum berhasil meningkatkan jumlah Malondialdehyde (MDA) Testis
morfologi spermatozoa normal dan Mencit Jantan Dewasa (Mus
spermatogenesis mencit jantan galur Swiss musculus L) yang Mendapat
(p>0,05). Beberapa penelitian menyebutkan Latihan Fisik Maksimal, Skripsi,
bahwa pemberian vitamin E pada hewan Universitas Sumatra Utara.
mampu meningkatkan jumlah sperma secara Kobayashi, H., Koichi, Nagao, K. and
nyata (Ilyas, 2011). Nakajima, K., 2012, Focus Issue on
Male Infertility, Adv. Urol, 01,
KESIMPULAN 2012.
Miyamoto, T., Tsujimura, A., Miyaqawa, Y.,
Pemberian jus kecambah kacang hijau Koh, E., Namiki, M. and Senqoku,
33 132 mg/KgBB/ hari selama 20 hari tidak K., 2012,
terbukti mampu meningkatkan kesuburan MaleInfertilityandItsCausesinHum
mencit jantan galur Swiss. Skor an, Adv. Urol, 2012 : 2012.
spermatogenesis, jumlah spermatozoa dan OConnell M., McClure, N. and Lewis, S.E.,
morfologi sperma normal mencit jantan galur 2002. Mitochondrial DNA
Swiss yang mendapatkan perlakuan dengan jus Deletions and Nuclear DNA
kecambah kacang hijau selama 20 hari tidak Fragmentation in Testicular and
berbeda bermakna dengan kelompok kontrol Epididymal Human Sperm. Hum.
(p>0,05). Sebaliknya, pemberian jus kecambah Reprod.17(6):1565-1570.
kacang hijau justru dapat menurunkan Purwono dan Hartono, R., 2005, Kacang
motilitas progresif spermatozoa mencit jantan Hijau; Penebar Swadaya; Indonesia,
galur Swiss (p<0,05). Hal. 8
Regina, B.F. and Traber, .G.,1999. Vitamin E:
DAFTAR PUSTAKA Function and Metabolism. Faseb J.
Agarwal, A., Prabakaran, A. and Said, T.M., 13:1145-1155.
2005. Prevention of Oxidative Stress Sanocka, D. and Kurpisz, M.,2004. Reactive
Injury to Sperm, J. Androl, 26: 654-600. Oxygen Species and Sperm Cells.

9
Reprod. Biol. Endocrinol. 23(2) : tocopherol in Human Spermatozoa
12. and Seminal Plasma Relationship
Stuart, S. and Howard, M.D., 1995, Treatment with Motility Antioxidant Enzymes
of Male Infertility, N. Eng. J.Med. and Leukocytes. Mol. Hum. Reprod.
332, 312-317 2: 739-744.
Suleiman, S.A., Ali, M.E., Zaki, Z.M., El- Tremellen, K. 2008. Oxidative Stress and
Manik, E.M. andNasr, M.A., 1996. Male Infertility a Clinical
Lipid Peroxidationand Human Perspective. Hum. Reprod.
Sperm Motility: Protective Role of Update14(3):243-258.
Vitamin E. J. Androl.17:530-537. Villegas, J., Kehr, K., Soto, L., Henkel, R.,
Miska, M. and & Sanchez, R., 2003.
Suparni, 2009, Pengaruh Pemberian Vitamin C Reactive Oxygen Species Induce
terhadap Jumlah Sperma dan Reversible Capacitation in Human
Morfologi Sperma Mencit Jantan Sspermatozoa. Androlog,35 : 227-
Dewasa (Mus musculus L.) yang 232.
dipaparkan Monosodium Glutamat Zulham, 2009, Penuntun Praktikum
(MSG), Tesis, Sekolah Pascasarjana Histoteknik, Departemen Histologi
Universitas Sumatra Utara. FKUSU, Medan, Hal. : 2, 5-8, 15.
Therond, P., Auger, J., Legrand, A. and
Jouannet, P., 1996. Alpha-

10