Anda di halaman 1dari 43

TUGAS MATA KULIAH APLIKASI KOMPUTER

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG SADARI DENGAN


SIKAP MELAKUKAN SADARI SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER
PAYUDARA PADA MAHASISWI ALIH JENIS FKM UNIVERSITAS
AIRLANGGA

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 3/ AJ 2B
1. Rahayu
2. Pramita Ismaniar
3. Ilafi Rumaisya Nursyi 101611123030
4. Fifin Triana
5. Riza Ramli
6. Chatrine
7. Mb fitri
8. Debby

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis yang senantiasa diberikan nikmat
berupa kesehatan, kesempatan, kekuatan lahir dan batin sehingga penulis dapat
menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul HUBUNGAN TINGKAT
PENGETAHUAN TENTANG SADARI DENGAN SIKAP MELAKUKAN SADARI
SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA PADA MAHASISWI ALIH JENIS
FKM UNIVERSITAS AIRLANGGA, untuk memenuhi tugas mata kuliah Aplikasi
Komputer.
Karya Tulis Ilmiah ini dapat disusun dengan lancar tidak lepas dari bantuan
yang diberikan oleh semua pihak baik secara moril maupun material. Maka dari itu
penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada :
1. Tim dosen mata kuliah Aplikasi Komputer Kesehatan Mayarakat yang telah
membantu membimbing dalam menyelesaikan tugas.
2. Alih Jenis 2016 sebagai responden yang membantu mengisi kuisoner untuk
menyelesaikan tugas Aplikasi Komputer Kesehatan Masyarakat
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyusunan karya tulis ilmiah ini, maka penulis mengharap kritik dan saran yang
membangun sehingga penulis dapat memperbaiki kearah sempurna. Semoga karya ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Surabaya, Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................2
DAFTAR ISI .....................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.......................................................................................5
1.2. Rumusan Masalah..................................................................................6

2
1.3. Tujuan....................................................................................................6
1.4. Manfaat..................................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengetahuan...........................................................................................8
2.2. Sikap..................................................................................................11
2.3Perkembangan remaja akhir (mahasiswa)......19
2.4. Kanker Payudara....................................................................................20
BAB III METODOLOGI
4.1. Kerangka Pemikiran...............................................................................25
4.2............Hipotesis......................................................................................27
4.3............Desain Penelitian.........................................................................27
4.4.Populasi dan Sampel...............................................................................27
4.5.Waktu dan Tempat Penelitian..................................................................28
4.6 Variabel Penelitian..................................................................................28
4.7.Defenisi Operasional...............................................................................28
4.8.Instrument Penelitian..............................................................................31
4.9. Metode Pengelolahan Data dan Analisis Data.......................................31
BAB IV HASIL ANALISIS DAN INTERPRETASI
5.1 Hasil Penelitian.....................................................................................38
5.2 Pembahasan...........................................................................................40
5.3 Keterbatasan..........................................................................................40
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
6.1. Simpulan...............................................................................................47
6.2. Saran.47
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kasus kanker payudara di negara berkembang telah mencapai lebih dari 580.000
kasus pada setiap tahunnya dan kurang lebih 372.000 pasien atau 64% dari
jumlah kasus tersebut meninggal karena penyakit ini. Data WHO (World Health
Organization) menunjukkan bahwa 78% kanker payudara terjadi pada wanita usia
50 tahun ke atas, sedangkan 6% diantaranya kurang dari 40 tahun. Namun
banyak juga wanita yang berusia 30-an menderita penyakit mematikan ini
(Suryaningsih, 2009).
Kanker payudara di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker leher

4
rahim. Diperkirakan 10 dari 100.000 penduduk terkena kanker payudara dan 70%
dari penderita memeriksakan dirinya pada keadaan stadium lanjut (Ana, 2007).
Beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah penderita tidak tahu
atau kurang mengerti tentang kanker payudara, kurang memperhatikan payudara,
rasa takut akan operasi, percaya dukun atau tradisional dan rasa malas serta malu
memperlihatkan payudara (Sutjipto, 2009).
Dalam perkembangan teknologi dunia kedokteran, ada berbagai macam cara
untuk mendeteksi secara dini adanya kelainan pada payudara, diantaranya
dengan thermography, mammography, ductography, biopsi dan USG payudara.
Disamping itu ada juga cara yang lebih mudah dan efisien untuk dapat
mendeteksi kelainan payudara oleh diri sendiri yang dikenal dengan
pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pemeriksaan payudara sendiri
(SADARI) merupakan salah satu langkah deteksi dini untuk mencegah
terjadinya kanker payudara yang akan lebih efektif jika dilakukan sedini mungkin
ketika wanita mencapai usia reproduksi (Suryaningsih, 2009).
Pada usia 20 tahun seorang wanita dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan
pada payudaranya sendiri setiap bulan atau setiap tiga bulan sekali untuk dapat
mendeteksi secara dini jika terdapat kelainan dan segera mendapatkan penanganan
yang tepat (Setiati, 2009). Salah satu kelompok yang telah mencapai usia
tersebut adalah mahasiswi. Pada saat itu seorang mahasiswi memasuki tahap
perkembangan remaja akhir (adolescence) (Sarwono, 2004).
Mahasiswi yang menempuh pendidikan dalam bidang kesehatan pada umumnya
telah memperoleh pengetahuan tentang SADARI sehingga akan cenderung
membentuk sikap positif yang tercermin dalam perilakunya. Karena adanya
pengetahuan tersebut merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk
tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).
Bertolak dari pemikiran tersebut, maka peneliti tertarik untuk
mengambil judul Hubungan antara Tingkat Pengetahuan tentang SADARI dengan
Perilaku SADARI pada Mahasiswi Alih Jenis FKM Universitas Airlangga yang
diharapkan tahu dan mampu melakukan pemeriksaan tersebut sebagai salah satu

5
usaha deteksi dini kanker payudara.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yang diambil adalah
Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang SADARI dengan sikap
dalam melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara pada mahasiswa
alih jenis FKM Universitas Airlangga?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui adanya hubungan tingkat pengetahuan tentang SADARI
dengan sikap dalam melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara
pada Mahasiswa Alih Jenis FKM Universitas Airlangga.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan tentang kanker payudara pada mahasiswa
alih jenis FKM Universitas Airlangga.
b. Mengetahui tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan SADARI pada
mahasiswa alih jenis FKM Universitas Airlangga.
c. Mengetahui s i k a p d a l a m m e l a k u k a n SADARI pada mahasiswa alih
jenis FKM Universitas Airlangga.

D. Manfaat
1. Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan atau masukan untuk
menambah wawasan tentang hubungan tingkat pengetahuan SADARI dengan
sikap dalam melakukan SADARI pada mahasiswa.
2. Aplikatif
a. Bagi profesi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi
profesi bidan agar lebih meningkatkan perhatian terhadap pendidikan
kesehatan wanita khususnya tentang kanker payudara dan tindakan
preventif serta promotif dengan SADARI.
b. Bagi institusi
Mengembangkan kurikulum dan meningkatkan peran pendidik dalam
menyampaikan pengetahuan kanker payudara dan SADARI bagi mahasiswa

6
secara lebih menarik sehingga mampu mengaplikasikan sebagai usaha
preventif.
c. Bagi masyarakat
Meningkatkan tindakan preventif terjadinya kanker payudara secara dini
dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang SADARI dan mampu
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya
tindakan seseorang. Berdasarkan pengalaman dan penelitian, perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).
2. Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain
kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu dapat diperhatikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali suatu spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari
meliputi pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa,
tahun, daftar, rumus, teori dan kesimpulan. Oleh karena itu, tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, mendatakan dan lain

7
sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang
objek yang diketahui dan dapat mengintepretasikan materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi
disini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, prinsip
dan sebagainya dalam konteks lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja seperti dapat
menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru atau dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat
merencanakan dan dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya
terhadap suatu teori atau rumusan- rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi atau objek, penilaian didasarkan pada kriteria tertentu.
3. Metode memperoleh pengetahuan atau method of knowing menurut
Purnawan dalam Sulistina (2009) yaitu :
a. Tenacity, yaitu metode memperoleh pengetahuan yang dilakukan dengan
sangat meyakini sesuatu, meskipun bisa jadi apa yang diyakininya belum

8
tentu benar. Keyakinan ini disebabkan karena hal yang diyakini tersebut
umumnya terjadi.
b. Authority, yaitu metode memperoleh pengetahuan dengan
mempercayakan pada pihak yang dianggap kompeten.
c. Apriory, yaitu metode memperoleh pengetahuan dengan
menitikberatkan pada kemampuan nalar dan intuisi diri sendiri, tanpa
mempertimbangkan informasi dari pihak luar.
d. Science, yaitu cara memperoleh pengetahuan dengan melakukan
serangkaian cara-cara ilmiah, seperti mengajukan dugaan, pengontrolan
variabel, sampai penyimpulan. Cara ini dianggap sebagai cara yang paling
dapat diyakini kebenarannya atas pengetahuan yang diperoleh. Hal ini
karena pada science telah dilakukan serangkaian uji coba sebelum akhirnya
memperoleh pengetahuan berupa kesimpulan dimana pengujian-
pengujian seperti ini tidak ditemukan pada ketiga metode sebelumnya.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Hana dalam Sulistina (2009) tingkat pengetahuan seseorang
dipengaruhi oleh :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah serta berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan
seseorang, semakin mudah orang tersebut menerima informasi.
b. Pengalaman
Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan ketrampilan professional serta pengalaman belajar
selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil
keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara
ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang
keperawatan.

c. Usia
Semakin tua usia semakin bijaksana karena semakin banyak informasi yang
dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah

9
pengetahuannya. Pada orang yang sudah tua, tidak dapat diajarkan
kepandaian baru kepadanya karena telah mengalami kemunduran baik fisik
maupun mental.

B. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu
stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat, tetapi dapat ditafsirkan.
Sikap merupakan kecenderungan yang berasal dari dalam diri individu untuk
berkelakuan dengan pola-pola tertentu, terhadap suatu objek akibat pendirian dan
perasaan terhadap obbjek tersebut.11
1. Pengertian Sikap
Sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif,
predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi social, atau secara
sederhana, dan merupakan respon terhadap stimulus social yang telah
terkondisikan. Sikap dapat juga didefinisikan sebagai efek atau penilaian positif
atau negative terhadap suatu objek.11
2. Komponen Sikap
Sikap terdiri dari 3 komponen, yaitu :6
a. Komponen Kognitif
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh
individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotive
yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penaganan
(opini) terutama apabila menyangkut masalah atau isu atau problem yang
kontroversial.
b. Komponen Afektif
Komponen Afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.
Aspek emosional inilah biasanya yang berakar paling dalam sebagai
komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap
pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang
komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang
terhadap sesuatu.
c. Komponen Konatif

10
Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu
sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang dan berisi tendensi atau
kecenderungan untuk bertindak atau bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-
cara tertentu dan berkaitan dengan obyek yang dihadapinya adalah logis
untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam
bentuk tendensi perilaku.
3. Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yakni :6
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memmperhatikan
stimulus yang diberikan (obyek).
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan
tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain
terhadap suatu masalah merupakan suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resikonya.
4. Fungsi Sikap
Adapun fungsi dari sikap, yaitu :6
a. Fungsi Instrumental (fungsi penyesuaian)
Berkaitan dengan sarana dan tujuan. Sikap merupakan sarana mencapai
tujuan. Orang memandang sejauh mana obyek sikap dapat digunakan
sebagai sarana atau sebagai alat dalam rangka mencapai tujuan.
b. Fungsi Pertahanan Ego
Sikap yang diambil seseorang demi untuk mempertahankan egonya. Sikap
ini diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam
keadaan dirinya dan egonya.
c. Fungsi Ekspresi Nilai
Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk
mengekspresikan nilai yang ada padda dirinya. Mengambil sikap
tertentuterhadap nilai tertentu, menggambarkan keadaan system nilai yang
ada pada individu yang bersangkutan.

11
d. Fungsi Pengetahuan
Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan
pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan. Elemen-elemen dari
pengetahuan yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu
akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa hingga menjadi
konsisten.
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap antara lain :6
a. Pendidikan
Sikap dan tindakan seseorang yang didasari oleh pendidikan akan lebih
langgeng. Tingkat pendidikan wanita akan menentukan sikap dan
tindakannya dalam menghadapi berbagai masalah khususnya informasi
tentang kesehatan. Wanita yang berpendidikan tinggi akan semakin mudah
menyerap informasi sehingga masalahnya terselesaikan kemudian tiimbul
respon pada perilaku wanita.

b. Status Pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber
kesenangan tapi lebih banyak merupakan mencari nafkah yang
membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja
umumnya banyak menyita waktu. Bekerja akan mempunyai pengaruh
terhadap pengalaman dan pengetahuan.
c. Umur
Umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir. Semakin bertambahnya
usia seseorang membaik akan tetapi semakin tua daya tangkap seseorang
akan menurun. Umur semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak
informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga
menambah pengalaman ibu dan akan mempengaruhi sikap ibu. Tetapi pada
umur-umur tertentu pada menjelang usia lanjut IQ akan menurun cepat
sejalan bertambahnya usia sehingga kemampuan penerima atau mengingat
sesuatu akan berkurang.

12
d. Pengeluaran Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi
haruslah meninggalkan kesan kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah
terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang
melibatkan factor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi,
penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama
membekas.
e. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah
dengan sikap orang yang dianggap penting. Biasanya orang yang dianggap
penting bagi individu adalah orang tua, orang yang strata sosialnya lebih
tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami dan
lain-lain.
f. Pengaruh Kebudayaan
Apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan
kehidupan kelompok, maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap
negative terhadap kehidupan individualism yang mengutamakan
kepentingan perorangan.
g. Media Masa
Dalam pemberitahuan surat kabar maupun radio atau media komunikasi
lainnya, berita yang seharusnya factual disampaikan secara obyetif
cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh
terhadap sikap konsumennya.
h. Lembaga Pendidikan dan lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama
angat menentukan system kepercayaan tidaklah mengherankan kalau pada
gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam mempengaruhi
sikap individu terhadap sesuatu hal.
i. Faktor Emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan
pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap
merupakan pernyataan frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme

13
pertahanan ego. Sikap sedemikian dapat merupakan sikap yang sementara
dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula
merupakan sikap yang lebih presisten dan bertahan lama. Suatu contoh
bentuk sikap yang didasari oleh factor emosional adalah prasangka.
Prasangka didefinisikan sebagai sikap yang tidak toleran, tidak fair atau
tidak favorable terhadap sekelompok orang dan merupakan bentuk sikap
negative yang didasari oleh kelainan kepribadian pada orang-orang yang
sangat frustasi.
6. Sifat Sikap
Adapun sifat sikap adalah :6
b. Sikap positif (favorable) kecenderungan tindakan adalah mendekati,
menyayangi, mengharapkan, obyek tertentu.
c. Sikap negatif (infavorable) kecenderungan untuk menjauhi,
menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
7. Skala Sikap6
Beberapa skala sikap antara lain : Skala Thrustone, Likert, Unobstrusive
Measures, dan Multidimensional Scaling.
a. Skala Thurstone (Method of Equel Appearing Intervals)
Metode ini mencoba menempatkan sikap seseorang pada rentangan
kontinum dari yang sangat unfavorable hingga sangat favorabel terhadap
suatu obyek sikap. Caranya dengan memberikan orang tersebut sejumlah
aitem sikap yang telah ditentukan derajat favorabilitasnya.
b. Skala Likert (Method of Summateds Ratings)
Likert (1932) mengajukan metodenya sebagai alternatif yang lebih
sederhana dibandingkan dengan skala Thurstone. Skala Thurstone yang
terdiri dari 11 point disederhanakan menjadi dua kelompok, yaitu yang
favorable dan yang unfavorable. Sedangkan aitem yang netral tidak
disertakan. Untuk mengatasi hilangnya netral tersebut, Likert
menggunakan teknik konstruksi test yang lain. Masing-masing responden
diminta melakukan eggrement atau disegreemennya untuk masing-masing
aitem dalam skala yang terdiri dari 5 point (sangat setuju, setuju, ragu-ragu,

14
tidak setuju, sangat tidak setuju). Semua aitem yang favorable kemudian
diubah nilainya dalam angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5
sedangkan untuk yang sangat tidak setuju nilainya 1. Sebaliknya, untuk
aitem yang unfavorable nilai skala sangat setuju adalah 1 sedangkan untuk
yang sangat tidak setuju nilainya 5. Seperti halnya skala Thurstone, skala
Likert disusun dan diberi skor sesuai dengan skala interval sama (equal
interval scale).

c. Unobstrusive Measures
Metode ini berakar dari suatu situasi dimana seseorang dapat mencatat
aspek-aspek perilakunya sendiri atau yang berhubungan sikapnya dalam
pertanyaan.
d. Multidimensional Scaling
Teknik ini memberikan deskripsi seseorang lebih kaya bila dibandingkan
dengan pengukuran sikap yang bersifat unidimensional. Namun demikian,
pengukuran ini kadangkala menyebabkan asumsi-asumsi mengenai
stabilitas struktur dimensional kurang valid terutama apabila diterapkan
pada orang lain, lain isu, dan lain skala aitem.
8. Penilaian Pernyataan Sikap12
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap seseorang.
Pernyataan sikap merupakan serangkaian kalimat yang berisi tentang sikap
seseorang terhadap suatu obyek. Pernyataan sikap terbagi menjadi 2 jenis yaitu
favorable dan unfavorable.
a. Favorable (positif) adalah pernyataan-pernyataan sikap yang berisi tentang
hal-hal yang positif atau kalimat yang mendukung ataupun memihak pada
obyek sikap. Score pada masing-masing pertanyaan dapat berupa SS
(Sangat Setuju) : 4, S (Setuju) : 3, TS (Tidak Setuju) : 2, STS (Sangat Tidak
Setuju) : 1.
b. Unfavorable (negatif) adalah pernyataan-pernyataan sikap yang berisi
tentang hal-hal yang negative atau kalimat yang tidak mendukung pada
obyek sikap. Dan sebaliknya score untuk pertanyaan-pertanyaan negative

15
dapat berupa SS (Sangat Setuju) : 1, S (Setuju) : 2, TS (Tidak Setuju) : 3,
STS (Sangat Tidak Setuju) : 4.
9. Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dibedakan menjadi 2 cara yaitu secara langsung dan
tidak langsung. Dengan cara langsung, subjek secara langsung dimintai
pendapat bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah yang dihadapkan
kepadanya. Cara ini mengukur sikap dengan menggunakan pertanyaan-
pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam suatu alat yang telah
ditentukan dan langsung diberikan kepada subjek yang diteliti. Selain itu
pengukuran dapat pula dilakukan dengan cara yang tidak terstruktur yaitu
dengan wawancara bebas, pengamatan langsung, atau survey.6 Secara tidak
langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian
ditanyakan pendapat responden melalui kuesioner.6
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran sikap, yaitu:6
1) Keadaan objek yang ditukar
2) Situasi pengukuran
3) Alat ukur yang digunakan
4) Penyelenggaraan pengukuran
5) Pembacaan atau penilaian hasil pengukuran.
Dalam mengkategorikan sikap, maka peneliti menggunakan rumus

mn
rentang skala yaitu :13 RS = b

Keterangan :
RS : rentang Skala
m : angka tertinggi
n : angka terendah
b : jumlah kelompok

C. Perkembangan remaja akhir (mahasiswa)


Camenius dalam Sarwono (2004) mengemukakan teori pendidikan yang
berwawasan perkembangan, menganjurkan pembagian sekolah berdasarkan teori

16
perkembangan jiwa yang didasarkan pada teori Psikologi Fakultas meliputi :
1. 0-6 tahun : pendidikan oleh ibu sendiri (mother school) untuk
mengembangkan bagian dari jiwa (fakultas) penginderaan dan pengamatan
2. 6-12 tahun : pendidikan dasar (elementary school) sesuai dengan
berkembangnya fakultas ingatan (memory) dan diberikanlah dalam
tahap ini pelajaran-pelajaran bahasa, kebiasaan-kebiasaan sosial dan agama.
3. 12-18 tahun : sekolah lanjutan (latin school) sesuai dengan
berkembangnya fakultas penalaran (reasoning). Pada tahap ini anak- anak
dilatih untuk mengerti prinsip-prinsip kausalitas (hubungan sebab akibat)
melalui pelajaran tata bahasa, ilmu alam, matematika, etika, dialektika
dan rethorika.
4. 18-24 tahun : pendidikan tinggi (universitas) dan pengembaraan (travel)
untuk mengembangkan fakultas kehendak (faculty of will).
Menurut Blos dalam Sarwono (2004) tahap remaja akhir ini juga merupakan
masa konsolidasi menuju dewasa yang ditandai dengan beberapa hal, yaitu:
1. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain
dalam pengalaman-pengalaman baru.
3. Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
4. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti
dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain.
5. Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (privat self) dan
masyarakat umum (the public).

D. Kanker Payudara
1. Pengertian
Menurut Wiknjosastro (2006) kanker payudara disebut juga Carcinoma
Mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.
Tumor ini dapat tumbuh dalam kelenjar payudara, saluran payudara, jaringan
lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Kanker ini memang tidak tumbuh
dengan cepat namun berbahaya. (Suryaningsih, 2009).
2. Etiologi
Belum diketahui secara pasti penyebab dari kanker payudara ini. Hal yang

17
perlu diketahui bahwa insiden kanker payudara ini meningkat seiring dengan
pertambahan usia (Varney, 2004).
3. Faktor risiko
Terdapat beberapa faktor risiko yang mampu memicu terjadinya kanker
payudara diantaranya :
a. Faktor kesehatan reproduksi meliputi nuliparitas, menarche pada usia
muda, menopause pada usia lebih tua, kehamilan pertama pada usia tua
(lebih dari 30 tahun) atau tidak mempunyai anak sama sekali dan
bertambahnya usia
b. Pemakaian hormone
c. Kegemukan (lemak berlebih)
d. Terpapar radiasi
e. Riwayat keluarga (anak perempuan yang ibunya menderita kanker
payudara memiliki peningkatan risiko terkena kanker payudara)
f. Ras
g. Gaya hidup meliputi merokok, konsumsi alkohol dan malas
bergerak(Suryaningsih, 2009)
4. Tanda dan gejala
Hampir 90% keabnormalan pada payudara ditemukan oleh penderita
sendiri, sedangkan 10% ditemukan melalui pemeriksaan fisik atas sebab
tertentu. Sebagian besar atau sebanyak 66% temuan awal yang dijumpai pada
kasus kanker payudara adalah terabanya benjolan yang masih bersifat invasi
lokal, kemudian sekitar 11% muncul tanda rasa nyeri pada jaringan payudara,
terjadi nipple discharge sebanyak 9%, terjadi local edema sebanyak 4%, dan
terjadi nipple retraction sebanyak 3%. Gejala lanjut yang terjadi meliputi
munculnya ulcerasi pada payudara yang menimbulkan rasa gatal, nyeri,
pelebaran, kemerahan, atau axillary adenopathy (Pernoll, 2001).
5. Tingkatan atau klasifikasi kanker payudara
a. Klasifikasi patologik meliputi kanker puting payudara, kanker ductus
lactiferous dan kanker dari lobules.
b. Klasifikasi klinik meliputi 4 stadium, sebagai berikut :
1) I, merupakan kanker payudara dengan besar sampai 2 cm dan tidak
memiliki anak sebar.
2) II (A dan B), merupakan kanker payudara yang besarnya sampai 2 cm

18
atau lebih dengan memiliki anak sebar di kelenjar ketiak.
3) III (A, B dan C), merupakan kanker payudara yang besarnya sampai 2
cm atau lebih dengan anak sebar di kelenjar ketiak, infra dan
supraklavikular, infiltrasi ke fasia pektoralis atau ke kulit atau kanker
payudara yang apert (memecah ke kulit).
4) IV, merupakan kanker payudara dengan metastasis yang sudah jauh,
misalnya ke tengkorak, tulang punggung, paru-paru, hati atau panggul.
(Wiknjosastro, 2006)
Disamping itu ada pula penggunaan klasifikasi dengan sistem T, N,
dan M. T berarti tumor size, N berarti node atau kelenjar getah bening
regional dan M berarti metastase atau penyebaran jauh. Adapun
klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Klasifikasi Kanker Payudara Berdasarkan T,N,M
Breast Cancer of Surgical Staging
T Stage Stage Grouping

Tis In situ 0 Tis N0 M0


T1 2 cm I T1 N0 M0
T2 >2 cm but 5 cm IIA T0 N1 M0
T3 >5 cm T1 N1 M0
T4 Involvement of skin or chest wall or T2 N0 M0
inflammatory cancer
IIB T2 N1 M0
T3 N0 M0
N Stage IIIA T0 N2 M0
N0 No lymph node involvement T1 N2 M0
N1 13 nodes T2 N2 M0
N2 4-9 nodes T3 N1 M0
N3 10 nodes or any infraclavicular nodes T3 N2 M0
IIIB T4 N0 M0

19
M Stage T4 N1 M0
M0 No distant metastases T4 N2 M0
M1 Distant mestastases IIIC Any T N3 M0
IV Any T Any M1
N
Sumber : Cunningham, 2008Cara mendeteksi kanker secara dini
Mengajarkan wanita bagaimana melakukan pemeriksaan payudara mandiri
adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan pemeriksaan
payudara. Pentingnya pemeriksaan payudara tahunan oleh dokter atau tenaga
kesehatan dan pemeriksaan bulanan secara mandiri harus ditanamkan pada
wanita selama kehidupannya (Varney, 2004).
Dalam mendeteksi kanker payudara secara dini dapat dilakukan dengan
berbagai macam cara diantaranya dengan thermography (prosedur diagnosis
dengan prinsip berdasarkan level kimia dan aktivitas pembuluh darah yang
akan menghasilkan peningkatan suhu pada payudara), mammography (metode
pendeskripsian dengan menggunakan sinar X berkadar rendah), ductography
(bagian dari mammography yang berguna untuk mendiagnosis nipple discharge
dan intraductal papilloma), biopsi dan USG payudara. Salah satu cara yang
lebih mudah dan efisien untuk dapat mendeteksi kelainan payudara oleh diri
sendiri adalah dengan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) atau biasa
disebut dengan Breast Self Examination (BSE). SADARI ini penting untuk
dilakukan karena 85% penderita kanker menemukan kanker payudaranya
sendiri.

Berikut merupakan langkah-langkah pada SADARI :


a. Melihat
Meliputi bentuk dan ukuran, puting lurus ke depan atau tertarik ke dalam,
puting atau kulit ada yang lecet atau tidak, warna kulit tampak
kemerahan atau tidak, tekstur kulit tampak menebal dengan pori-pori
melebar atau mulus, tampak adanya kerutan, cekungan atau tidak
(payudara yang normal adalah payudara dengan bentuk sempurna tanpa

20
perubahan warna, tekstur dan pembengkakan).
b. Memijat
Secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting, untuk
mengetahui ada atau tidaknya cairan yang keluar dari puting susu
(seharusnya tidak ada cairan yang keluar, kecuali sedang
menyusui).
c. Meraba
Dilakukan dengan gerakan memutar mulai dari tepi payudara hingga ke
puting, masing-masing gerakan memutar dilakukan dengan kekuatan
tekanan berbeda-beda, yaitu:
1) Tekanan ringan untuk meraba ada tidaknya benjolan di dekat
permukaan kulit
2) Tekanan sedang untuk meraba ada tidaknya benjolan di tengah- tengah
jaringan payudara
3) Tekanan cukup kuat untuk merasakan adanya benjolan di dasar
payudara, dekat dengan tulang dada.
d. Meraba ketiak
Raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui ada
tidaknya benjolan (Suryaningsih, 2009).

Gambar 2.1 Langkah-Langkah SADARI

E. Hubungan antara tingkat pengetahuan SADARI dengan perilaku SADARI pada


mahasiswa
Berdasarkan penjabaran tinjauan pustaka diatas dapat dikatakan bahwa
dengan adanya tingkat pengetahuan yang dimiliki tentang pemeriksaan payudara
sendiri (SADARI) akan membentuk kecenderungan sikap positif yang tercermin

21
dalam perilakunya. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa pengetahuan
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dan
perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada tidak
didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).
SADARI ini dirasa perlu dan efektif untuk dilakukan pada tahap
remaja akhir atau kelompok usia perguruan tinggi (17-24 tahun) karena pada
batasan usia tersebut (20 tahun lebih tepatnya) merupakan saat yang tepat untuk
mulai melakukan usaha preventif deteksi dini terjadinya penyakit kanker
payudara, terutama pada kelompok yang berhubungan dengan dunia atau
pendidikan kesehatan yang nantinya akan mengaplikasikannya kepada masyarakat
luas.

BAB III
METODOLOGI

A. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran pada dasarnya gabungan beberapa teori sehingga membentuk
sebuah pola pemikiran atau kerangka pikir penelitian yang akan dilakukan dan
berbentuk skema.20
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian mengenai hubungan antara tingkat
pengetahuan tentang SADARI dengan sikap melakukan SADARI sebagai deteksi dini
kanker payudara dengan menggunakan variabel independen meliputi tingkat
pengetahuan mahasiswa dan variabel dependen meliputi sikap mahasiswa dalam
melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara, hal tersebut terdapat pada
diagram berikut ini :

22
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Hubungan antara Pengetahuan Mahasiswa tentang SADARI
dengan Sikap dalam melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara
Keterangan :
: diteliti

: tidak diteliti

23
B. Hipotesis
Hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan
penelitian yang telah dirumuskan dalam perencanaan penelitian. Untuk mengarahkan
kepada hasil penelitian ini maka dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan
jawaban sementara dari penelitian ini. Jawaban sementara dari suatu penelitian ini
biasanya disebut hipotesis. Jadi, hipotesis di dalam suatu penelitian berarti jawaban
sementara penelitian, patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan
dibuktikan dalam penelitian tersebut.4
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Ho (Hnol) yaitu tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang
SADARI dengan sikap dalam melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker
payudara pada mahasiswi Alih Jenis FKM Universitas Airlagga.
2. Ha (Halternative) yaitu terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang
SADARI dengan sikap dalam melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker
payudara pada mahasiswi Alih Jenis FKM Universitas Airlagga.

C. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan
cross sectional yaitu peneliti mencoba untuk mencari hubungan antar variabel faktor
risiko dan efek yang analisisnya untuk menentukan ada tidaknya hubungan antar
variabel tersebut sehingga perlu disusun hipotesisnya dan diobservasi pada saat
yang sama (Taufiqurrahman, 2008).

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi semester II jalur alih jenis
Program Studi S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat sejumlah 104 orang untuk
mengetahui perilaku sebagai calon tenaga kesehatan yang telah mendapatkan
pengetahuan tentang SADARI.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswi alih jenis Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Airlangga sebanyak 50 responden.

E. Waktu dan Tempat Penelitian

24
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
pada tanggal 17 Mei 2017.

F. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel
dependen. Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam
mempengaruhi variabel lain, variabel ini mempunyai nama lain seperti variabel prediktor,
risiko, atau kausa.21 Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan
tentang SADARI.
2. Variabel terikat
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya
variabel bebas. Variabel ini bergantung pada variabel bebas terhadap perbahan. Variabel ini
juga disebut sebagai variabel efek, hasil, outcome, atau event.21 Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah sikap mahasiswa dalam melakukan SADARI sebagai deteksi dini
kanker payudara.
G. Definisi Operasional
Definisi Operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan
karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau
pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Definisi Operasional
ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan
cara pengukuran merupakan cara dimana variabel dapat diukur dan ditentukan
karakteristiknya.21

25
No Variabel Definisi Alat Ukur Parameter dan Skala
Operasional Kategori pengukuran
H. 1 Tingkat Tingkat Kuesioner 1. Baik apabila Ordinal Ins
Pengetahuan pengetahuan dengan 20 hasil
tentang tentang SADARI pernyataan prosentase tru
SADARI meliputi valid. 76-100%
me
pengetahuan Pernyataan 2. Cukup
subjek tentang Positif : apabila hasil n
kanker payudara 1. B = Benar prosentase
termasuk nilai 1 56-75%
pengertian, 2. S = Salah 3. Kurang
kemungkinan nilai 0 apabila hasil
penyebab, faktor prosentase
risiko, tanda dan Pernyataan <56%
gejala, tingkatan Negatif :
(stadium), 1. B = Benar
pencegahan dan nilai 0
deteksi dini 2. S = Salah
terhadap kanker nilai 1
payudara dengan
pemeriksaan
SADARI.
2 Sikap Sikap Kuesioner 1. Sikap baik, Ordinal
mahasiswa merupakan efek dengan 10 jika nilainya
dalam atau penilaian pernyataan 31-40
melakukan positif atau valid. 2. Sikap
SADARI negative tentang Pernyataan cukup, jika
sebagai deteksi kanker payudara Positif : nilainya 21-
dini kanker termasuk 1. SS = Sangat 30
payudara pengertian, Setuju nilai 4 3. Sikap
kemungkinan 2. S = Setuju kurang, jika
penyebab, faktor nilai 3 nilainya 10-
risiko, tanda dan 3. TS = Tidak 20
gejala, tingkatan Setuju nilai 2
(stadium), 4. STS = Sangat
pencegahan dan Tidak Setuju
deteksi dini nilai 1
terhadap kanker
payudara dengan Pernyataan
pemeriksaan Negatif :
SADARI. 1. SS = Sangat
Setuju nilai 1
2. S = Setuju
nilai 2
3. TS = Tidak
Setuju nilai 3
4. STS = Sangat
26
Tidak Setuju
nilai 4
Penelitian
Alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
kuesioner yang terdiri dari 2 macam yaitu :
1. Kuesioner untuk mengidentifikasi pengetahuan responden tentang kanker payudara
dan SADARI yang terdiri dari 20 item pernyataan dengan kategori Benar
dan Salah dan diberikan skor 1 dan 0 yang artinya sebagai berikut :
Tabel 3.1 Skor penilaian pengetahuan SADARI
Jawaban Favourable Unfavourable
Benar 1 0
Salah 0 1
Tabel 3.2 Kisi kisi soal pengetahuan tentang
SADARI

No Pertanyaan Nomor item Jumlah


soal
1. Pengertian kanker payudara 1, 12 2
2. Penyebab kanker payudara 2, 3 2
3. Faktor risiko kanker payudara 4, 5 2
4. Tanda dan gejala kanker payudara 6, 7 2
5. Tingkatan klinik kanker payudara 8, 9 2
6. Pencegahan dan deteksi dini 10, 11, 13, 14, 15, 16, 17, 10
dengan SADARI 18, 19, 20

Jumlah 20

2. Kuesioner untuk mengidentifikasi sikap responden untuk melakukan


SADARI terdiri dari 10 item pertanyaan pilihan ganda dengan 4 skala
penilaian yang diberikan skor sebagai berikut :

Tabel 3.3 Skor penilaian perilaku SADARI

27
Skala Sangat Setuju Tidak Sangat Tidak
Setuju Setuju Setuju
Positif (+) 4 3 2 1
Negatif (-) 1 2 3 4

Tabel 3.4 Kisi kisi soal tentang perilaku SADARI


No. Pertanyaan Nomor item Jumlah
Soal
1. Aktivitas SADARI 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 7
2. Frekuensi dan waktu SADARI 8 1
3. Langkah-langkah SADARI 9, 10 2

Jumlah 10

I. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data


1. Metode Pengolahan Data
Metode pengolahan data adalah pengolahan data yang bertujuan mengubah data
menjadi informasi statistik, informasi yang diperoleh digunakan untuk pengambilan
keputusan terutama dalam pengujian hipotesis.20 Teknik pengolahan data dalam
penelitian ini adalah :
a. Entry Data adalah proses pengumpulan data, mengkonversikan data tersebut ke
formulir mesin baca, dan menyimpannya sementara/memasukkannya langsung
ke unit pengelola computer. Dalam penelitian ini entry data menggunakan
aplikasi Epi Info dan SPSS 21
b. Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh
atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau
setelah data terkumpul.21 menggunakan aplikasi computer Epi Info.
c. Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data
yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila
pengelolaan dan analisa data menggunakan komputer.21
1) Kode untuk pengetahuan :

28
Kode 1: pengetahuan kurang

Kode 2: pengetahuan cukup

Kode 3: pengetahuan baik

2) Kode untuk sikap :


Kode 1: sikap kurang

Kode 2: sikap cukup

Kode 3: sikap baik

d. Scoring dilakukan setelah ditetapkan kode jawaban atau hasil observasi


sehingga setiap jawaban responden atau hasil observasi dapat diberikan skor.28
Scoring yang digunakan yaitu :
1) Pengetahuan
a) Pernyataan positif
Jawaban benar :1
Jawaban salah :0
b) Pernyataan negatif
Jawaban benar :0
Jawaban salah :1
2) Sikap
a) Pernyataan positif
Sangat Setuju (SS) :4
Setuju (S) :3
Tidak Setuju (TS) :2
Sangat Tidak Setuju (STS) :1
b) Pernyataan negatif
Sangat Setuju (SS) :1
Setuju (S) :2
Tidak Setuju (TS) :3
Sangat Tidak Setuju (STS) :4
e. Tabulating adalah membuat tabel-tabel data sesuai dengan tujuan penelitian
atau yang diinginkan oleh peneliti.6

29
f. Data entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke
dalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi
frekuensi sederhana atau dengan membuat tabel kontigensi.21
2. Analisis Data
Analisis data adalah tahapan dimana data diolah dan dianalisa dengan
teknik tertentu. Analisa data dilakukan dengan alat bantu program Statistikal
Product Service Solutions (SPSS) for Windows versi 21.00, dengan langkah-
langkah analisa data yang dilakukan adalah sebagai berikut :4
a. Analisis Univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendiskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian.4 Variabel yang dianalisis secara
univariat dalam penelitian ini adalah variabel pengetahuan untuk mengetahui
tingkat pengetahuan mahasiswa tentang SADARI dan variabel sikap
mahasiswa dalam melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker
payudara.
1) Analisis variabel pengetahuan
Analisis dari variabel pengetahuan mahasiswa tentang SADARI
dirumuskan kedalam tabel distribusi frekuensi dengan rumus :
f
P (%) = n x 100

Keterangan :
p = prosentase

f = frekuensi

n = jumlah responden

Dari hasil analisis pengetahuan mahasiswa tentang SADARI dapat


dikategorikan sebagai berikut :12

a) Pengetahuan baik, jika presentase jawaban 76 100 %.

30
b) Pengetahuan cukup, jika presentase jawaban 56 75 %.
c) Pengetahuan kurang, jika presentase jawaban < 56 %.
2) Analisis variabel sikap
Analisis dari variabel sikap dalam menghadapi perubahan pada
masa menopause dikategorikan dalam kategori baik, cukup, dan kurang
dengan menggunakan rumus Rentang Skala, yaitu:21
mn
RS=
b

Keterangan :

RS : Rentang Skala
m : jumlah soal x skor tertinggi (10 x 4) = 40
n : jumlah soal x soal terendah (10 x 1) = 10
b : jumlah kategori = 3
RS = 40-10
3
= 10

Dari hasil analisis sikap mahasiswa dalam melakukan SADARI


sebagai deteksi dini kanker payudara dengan skor tertinggi 40 dan skor
terendah 10 dengan rentang skala 10. Sehingga dapat diperoleh rentang
skala sebagai berikut :12

a) Sikap baik, jika nilainya 31-40


b) Sikap cukup, jika nilainya 21-30
c) Sikap kurang, jika nilainya 10-20
b. Analisis Bivariat dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi yaitu
melihat hubungan variabel bebas dengan variabel
terikat.21

31
Analisa data dalam penelitian ini menggunakan
Korelasi Kendall Tau yang digunakan untuk mencari
hubungan dan menguji hipotesis antara dua variabel
atau lebih, bila datanya berbentuk ordinal atau
rangking :25

Keterangan :
= Koefisien korelasi Kendall Tau yang besarnya (-1 < 0 < 1)

A = Jumlah rangking atas

B = Jumlah rangking bawah

N = Jumlah anggota sampel

Uji signifikansi koefisien korelasi menggunakan rumus z, karena

distribusinya mendekati distribusi normal. Rumusannya adalah sebagai

berikut :

Keterangan :

32
Z : nilai statistik hitung
: koefisien korelasi Kendal Tau
N : jumlah sampel
Apabila Z hitung > Z tabel maka Ho ditolak, artinya signifikan.
Apabila Z hitung Z tabel maka Ho diterima, artinya tidak signifikan.25

BAB IV
HASIL ANALISIS DAN INTERPRETASI

A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR merupakan salah satu fakultas
yang ada di Universitas Airlangga Surabaya. FKM Unair terletak di Jl.
Mulyorejo, Kampus C Unair, Sukolilo Surabaya Jawa Timur. Fakultas ini

33
mempunyai batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Fakultas SAINTEK.
b. Sebalah Selatan berbatasan dengan Masjid Ulul Azmi.
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Stundent Centre.
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Jl. Ir. Soekarno.
Pada penelitian mengenai hubungan Tingkat Pengetahuan tentang
SADARI dengan Sikap melakukan SADARI sebagai deteksi dini kanker
payudara pada Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair. Fakultas Kesehatan
Masyarakat terdapat wanita yang berisiko mengalami kanker payudara.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Mei 2017 dengan
menyebarkan kuisioner saat mahasiswa sedang istirahat dari
perkuliahan.

2. Hasil Penelitian
a. Karakteristik Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang SADARI sebagai
Deteksi Dini Kanker Payudara

Gambar 4.1 Karakteristik Usia Responden


Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa usia responden terbanyak
pada usia 23 tahun dengan persentase 44% sebanyak 22 orang. Sedangkan yang
terkecil berada pada usia 21 tahun, 27 tahun, 29 tahun, 33 tahun, 34 tahun, dan
39 tahun yang masing-masing sebanyak 1 orang.
b. Pengetahuan Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang SADARI sebagai
Deteksi Dini Kanker Payudara
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Relatif Pengetahuan Mahasiswa Alih Jenis FKM
Unair tentang SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara
No Pengetahuan Frekuensi Prosentase (%)
1 Baik 34 68 %
2 Cukup 9 18 %

34
3 Kurang 7 14 %
Jumlah 50 100%

Tabel 4.1 diatas dapat diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai


pengetahuan baik dengan persentase 68 % sebanyak 34 orang dan hanya 14 %
responden yang berpengetahuan kurang sebanyak 7 orang.
c. Sikap Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang SADARI sebagai Deteksi Dini
Kanker Payudara
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Sikap Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang
SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara Mahasiswa Alih Jenis
FKM Unair
Sikap Frekuensi Prosentase (%)
No
1 Baik 33 66%
2 Cukup 10 20%
3 Kurang 7 14%
Jumlah 50 100%

Tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa sikap responden dalam melakukan
SADARI sebagai deteksi dini Kanker Payudara mayoritas dalam kategori baik
yaitu sebesar 66 % atau 33 responden.
d. Hubungan Pengetahuan Mahasiswa tentang SADARI dengan Sikap Melakukan
SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara pada Mahasiswa FKM Unair
Tabel 4.3 Hubungan Pengetahuan Mahasiswa tentang SADARI dengan Sikap
Melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara pada Mahasiswa
Alih Jenis FKM Unair
Variabel Sikap Total
Baik Cukup Kurang
F % F % F %
Pengtahuan Baik 33 66% 1 2% 0 0% 68%
Cukup 0 0% 9 18% 0 0% 18%
0,966
Kurang 0 0% 0 0% 7 14% 14%
Total 33 66% 10 20% 7 14% 100%
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui hasil koefisien korelasi Kendall Tau sebesar
0,966 dengan angka signifikan 0,000. Karena N > 30 maka signifikansi
menggunakan Z tabel dengan perhitungan sebagai berikut:

35
0,966 0,966
Z hitung= = =

2 ( 2 N + 5)
9 N ( N 1 ) 2 ( 2 ( 50 ) +5 )
9 ( 50 ) ( 501 ) 2 (100+5 )
( 450 )( 49 )

0,966 0,966 0,966 0,966


= = = =3,14
0,0095 0,308
2 ( 105 )
22050 210
22050

Penelitian ini menggunakan Uji 2 sisi dengan = 5% maka = 5% = 0,05 :


2 = 0,025. Sehingga pada tabel ditemukan nilai Z =1,96 . Karena Z hitung(3,14)
> Ztabel(1,96) maka H0 ditolak jadi ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan Hubungan Pengetahuan Mahasiswa tentang SADARI dengan Sikap
Melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara pada Mahasiswa Alih
Jenis FKM Unair.

B. Pembahasan
1. Karakteristik Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang SADARI sebagai Deteksi
Dini Kanker Payudara
Karakteristik responden yang diteliti mayoritas berusia 23 tahun dengan
jenis kelamin perempuan. Responden yang diteliti merupakan mahasiswa semester
2 Alih Jenis di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga angkatan
2016. Pada usia remaja perempuan termasuk dalam usia yang rentan terkena
penyakit kanker payudara. Oleh karena itu sangat diperlukan untuk melakukan
deteksi dini kanker payudara dengan melakukan SADARI.
2. Pengetahuan Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang SADARI sebagai Deteksi
Dini Kanker Payudara
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiswa
Alih Jenis FKM Unair semester 2 tahun 2016 mayoritas dalam kategori baik 34
responden (68%) kemudian dalam kategori cukup sejumlah 9 responden (18%), dan
kategori kurang sejumlah 7 responden (14%).
Melihat kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa pengetahuan responden
tentang SADARI mayoritas sudah dalam kategori baik. Pengetahuan merupakan

36
hasil tahu dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap
sesuatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa. Sebagian besar
pengetahuan diperoleh melalui mata, telinga, pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt
behavior).10
Pengetahuan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal meliputi pendidikan, pekerjaan, dan umur. Pengetahuan ini dipengaruhi
oleh pendidikan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima
informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya
pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap
nilai-nilai baru yang diperkenalkan.6
Faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan meliputi lingkungan dan
sosial budaya. Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia
dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku orang maupun
kelompok. Sehingga responden bisa mendapatkan pengetahuan melalui informasi
yang didapatkan disekitar lingkungannya. Jika lingkungan responden itu baik maka
pengetahuan yang dimiliki cukup baik meskipun tidak menutup kemungkinan
adanya seseorang yang lingkungannya baik tetapi memiliki kecenderungan tidak
mau menerima informasi dari lingkungannya sehingga pengetahuan yang dimiliki
juga kurang. Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui
penalaran apakah yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang
dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah
pengetahuannya walaupun tidak melakukannya.6 Begitupun dengan pengetahuan
responden tentang SADARI ini bisa dengan sendirinya didapatkan melalui system
sosial budaya yang ada di masyarakat misalnya budaya Jawa yang terkenal dengan
keramahannya, seseorang tahu bahwa dia harus bersikap ramah dan tidak mudah
marah karena jika dia marah tidak sesuai dengan sosial budaya yang ada.

37
Pada penelitian ini mayoritas pengetahuan responden dalam kategori baik,
namun ada pula pengetahuan responden dalam kategori kurang sebesar 7 responden,
hal ini disebabkan karena pengetahuuan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik
internal maupun eksternal yang telah dibahas diatas.
Pengetahuan responden yang baik karena pendidikannya tinggi, pekerjaannya
juga mendukung untuk memperoleh banyak pengetahuan dan berbagai pengalaman
yang bisa memperbanyak informasi yang didapatkan. Selain itu lingkungan dan
sosial budaya yang ada juga bisa diserapnya dengan baik sehingga pemikirannya
pun maju.
3. Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tentang SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker

Payudara
Sikap Hasil penelitian 50 responden yang diteliti pada mahasiswa FKM

Unair mayoritas dalam kategori baik responden (66%), kategori cukup 10

responden (20%) dan minoritas dalam kategori kurang sejumlah 7 responden (14%).
Sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif,

predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana,

dan merupakan respon terhadap stimulus sosial yang telah terkondisikan. Sikap

dapat juga didefinisikan sebagai efek atau penilaian positif atau negative terhadap

suatu objek.11
Hal ini seperti pada teori mengenai sifat sikap yang dibagi menjadi dua,

yaitu sikap positif (favorable) dan sikap negatif (infavorable). Sikap positif ialah

kecenderungan tindakan mendekati, menyayangi, mengharapkan obyek tertentu.

Sikap negatif ialah kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, dan

tidak menyukai obyek tertentu.6


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap antara lain pendidikan,

status pekerjaan, umur, pengeluaran pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap

38
penting, pengaruh kebudayaaan, media masa, lembaga pendidikan dan lembaga

agama, dan faktor emosional. Sikap dan tindakan seseorang yang didasari oleh

pendidikan akan lebih langgeng. Tingkat pendidikan wanita akan menentukan sikap

dan tindakannya dalam menghadapi berbagai masalah khususnya informasi tentang

kesehatan. Wanita yang berpendidikan tinggi akan semakin mudah menyerap

informasi sehingga masalahnya terselesaikan kemudian timbul respon pada sikap

wanita.6
Sikap wanita usia 48-55 tahun juga dipengaruhi oleh pekerjaan wanita itu.

Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang

kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan tapi

lebih banyak merupakan mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak

menyita waktu. Bekerja akan mempunyai pengaruh terhadap pengalaman dan

pengetahuan.6
4. Hubungan Pengetahuan dengan Sikap dalam Melakukan SADARI sebagai

Deteksi Dini Kanker Payudara pada Mahasiswa Alih Jenis FKM Unair tahun

2016
5. Berdasarkan hasil penelitian hubungan Pengetahuan dengan Sikap

dalam Melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara pada Mahasiswa

Alih Jenis FKM Unair tahun 2016 disimpulkan ada hubungan yang signifikan

antara Pengetahuan dengan Sikap dalam Melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini

Kanker Payudara dimana dengan nilai = 0,966 dan uji signifikansi Zhitung = 1,96.
Data yang diperoleh dalam penelitian mayoritas responden dalam

kategori berpengetahuan baik dan sikapnya juga baik yaitu sebesar 33 responden

(66%). Sedangkan responden yang pengetahuannya cukup dan sikapnya cukup ada

39
9 responden (18%) dan responden yang pengetahuannya kurang dan sikapnya juga

kurang ada 7 responden (14%). Namu ada 1 (2%) responden yang berpengetahuan

baik tapi sikapnya cukup.


Hasil penelitian sesuai dengan teori tentang hubungan antara pengetahuan

dengan sikap. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

terbentuknya sikap seseorang. Berdasarkan pengalaman dan penelitian, jika

seseorang memiliki pengetahuan yang baik maka akan memiliki perilaku yang baik

pula.12
Sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif,

predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi social, atau secara sederhana,

dan merupakan respon terhadap stimulus social yang telah terkondisikan. Sikap

dapat juga didefinisikan sebagai efek atau penilaian positif atau negative terhadap

suatu objek.11
Dalam penelitian ini jelas bahwa pengetahuan sangat berhubungan erat

dengan sikap yang dimilikinya. Dimana seseorang yang berpengetahuan baik

bersikap baik pula, dan seseorang yang berpengetahuan kurang bersikap kurang

juga, begitupun bila seseorang memiliki pengetahuan cukup seseorang itu bersikap

cukup pula.
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pengetahuan sangat

mempengaruhi sikap seseorang terhadap suatu hal. Dimana faktor-faktor yang

mempengaruhi sikap antara lain pendidikan, status pekerjaan, umur, pengeluaran

pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruhh kebudayaan, media

masa, lembagga pendidikan dan lembaga agama, dan faktor emosional.6


Keterbatasan

40
Dalam melakukan penelitian ini terdapat keterbatasan-keterbatasan yang

disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :


1. Peneliti tidak meneliti tentang karakteristik/ faktor-faktor yang mempengaruhi

pengetahuan dan sikap.


2. Pada waktu pengisian kuesioner, responden terlihat kurang teliti dan menjawab

seadanya.
3. Banyak responden merasa ragu-ragu menjadi responden, sehingga peneliti

memberikan penjelasan terlebih dahulu agar bersedia menjadi responden.


Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner tertutup sehingga responden tidak

bisa menjawab secara luas dan tidak bisa memaparkan pendapatnya secara jelas

karena hanya memilih jawaban yang telah tersedia pada kuesioner.

41
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai Hubungan Pengetahuan Mahasiswa tentang

SADARI dengan Sikap Melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara pada

Mahasiswa FKM Unair tahun 2016, diperoleh simpulan sebagai berikut :

1. Pengetahuan responden tentang SADARI mayoritas berpengetahuan baik.


2. Sikap responden dalam melakukan SADARI mayoritas sikapnya dalam kategori

baik.
3. Ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan Mahasiswa tentang SADARI

dengan Sikap Melakukan SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara pada

Mahasiswa FKM Unair tahun 2016


B. Saran
Saran yang dapat peneliti sampaikan pada mini riset ini adalah :
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan institusi pendidikan terutama perpustakaan dapat memperbarui dan

memperbanyak buku-buku khususnya tentang SADARI sehingga bisa menambah

informasi dan referensi tentang materi SADARI sebagai deteksi dini kanker

payudara.
2. Bagi Responden
Lebih meningkatkan lagi pengetahuannya khususnya tentang SADARI agar bisa

mendeteksi dini kanker payudara dengan baik dan tanpa hambatan yang berarti

melalui media masa ataupun ikut dalam acara acara penyuluhan tentang

SADARI atau kanker payudara.


3. Bagi Peneliti Selanjutnya

42
Diharapkan peneliti selanjutnya untuk menyempurnakan penelitian ini,

merincikan penelitian ini, dan memperdalam masalah-masalah yang berkaitan

dengan SADARI dan kanker payudara.

43

Anda mungkin juga menyukai