Anda di halaman 1dari 6

Laporan Penyuluhan 1

Nama Peserta : Karang Taruna Dusun Burikan Tanda tangan :


Nama : Ibu Tutik Tanda tangan :
Pendamping
Nama Wahana : Karang Taruna Desa Burikan
Tema : Kesehatan Reproduksi Remaja
Penyuluhan
Tujuan : Meningkatkan Kesadaran Keshatan Repro dan Mencegah IMS
Penyuluhan
Hari/Tanggal : 21 Februari 2017
Waktu : pukul 20.30 22.00 WIB
Tempat : Desa
Jumlah Peserta : 25 peserta

Sesi Tanya Jawab

1. Bagaimana cara yg benar membersihkan alat kemaluan wanita ?


apakah aman dengan menggunakan alat pembersih yg di iklan-iklan ?

2. Apakah Ca serviks menular ? apa penyebab tersering ?

3. Apakah masturbasi itu aman ? apa resiko yg dapat terjadi ?

Jawaban

1. Secara fisiologis (alami), kemaluan wanita / vagina mempunyai kemampuan


untuk membersihkan vagina itu sendiri, seperti yg kita kenal dengan istilah
keputihan (fisiologis) jadi keputihan pd wanita itu sebenernya hal normal dengan
catatan tidak ada tanda infeksi bakteri maupun jamur seperti keputihan yg bau,
banyak, gatal bahkan nyeri. Jadi untuk membantu membersihkan, sebagai
wanita hanya perlu membersihkan bagian luar atau mulut vagina dengan sabun
yg berbahan dasar lembut dengan ph normal seperti sabun bayi. Penggunaan
vaginal douching spt di iklan tidak disarankan karna dapat mengganggu flora
normal pada vagina yang berfungsi sbg proteksi jika ada infeksi. Cara lain
menjaga kebersihan vagina dengan menjaga kelembaban vagina, mandi min
2kali sehari, tidak menggunakan celana ketat, ganti celana dalam min 2kali
sehari dan jika sedang mens sering sering ganti pembalut apalagi kalo darah
mens banyak.

2. Ca serviks sendiri banyak penyebabnya, salah satunya infeksi HPV. Virus


tersebut sebenarnya menular tapi pada pria gejala klinis yang timbul berbeda
yaitu bisa berupa kutil di alat kelamin. Penyebab tersering Ca serviks yaitu
infeksi HPV dan berhubungan intim terlalu dini. Karena jika wanita masih usia
dibawah 20 tahun blm dianjurkan untuk berhubungan intin karena sel serviks
masih belum matur, masih ada Gap pd sel serviks yg berbeda dan rentan
mengalami mutasi sehingga jika ada trauma atau benda asing mengenai sel
tersebut maka reaksinya bisa memicu terjadinya Ca serviks.
3. Sebenarnya kalau dibilang aman ya aman tapi tidak dianjurkan untuk
dilakukan karena bisa meningkatkan resiko masalah kesehatan pada alat kelamin
(penis). Kegiatan masturbasi berkali-kali bisa menyebabkan penis lecet, kalau
ada luka rentan terkena infeksi. Masturbasi yg terus dilakukan juga dapat
mengurangi jumlah sel sperma dan menurunkan kualitas sel sperma. Saat
berhubungan suami istri juga dapat menyebabkan ejakulasi dini. Jadi sebaiknya
biarkan sel sperma keluar dengan sendirinya secara alami yaitu saat laki-laki
mimpi basah. ;)
Laporan Penyuluhan 2

Nama Peserta : Guru TK Tanda tangan :


Nama : Ibu Retno Tanda tangan :
Pendamping
Nama Wahana : Pertemuan Rutin Guru TK di PKM Mlati 2
Tema : TB Anak
Penyuluhan
Tujuan : Meningkatkan Kesadaran Bahaya dan Mengenali Gejala TB
Penyuluhan pada Anak
Hari/Tanggal : 25 Februari 2017
Waktu : pukul 10.00-11.30 WIB
Tempat : Aula PKM Mlati 2
Jumlah Peserta : 20 peserta

Sesi Tanya Jawab

1. Anak saya sering batuk kambuh-kambuhan, bisa lebih dari sebulan.


Apa sudah masuk kriteria TB anak ?

2. Bagaimana cara mencegah penularan TB anak ?

3. Mengapa pengobatan TB lama dan harus dihabiskan obatnya ?

Jawaban

1. Untuk kriteria TB anak sendiri kita sebagai dokter punya skoring tersendiri.
Perlu digali lebih lanjut apakah batuk tersebut progresif dan terus menerus
terjadi. Anak-anak sendiri memang sering terjadi batuk akibat jajanan atau
konsumsi makanan yg tidak sehat dan merangsang reflek batuk, jadi perlu
dikroscek kebiasaan anak tersebut. Gejala lain yang menyertai batuk utnuk
dapat ditegakkan Tb adalah demam, sering keringat malam, nafsu makan
menurun, dan tes serta pemeriksaan lain yg dilakukan. Utnuk lebih pasti ibu bisa
membawa anaknya berobat ke dokter.

2. Penularan bakteri TB yaitu melalui droplet atau cairan yg biasanya keluar saat
kita batuk atau bersin. TB anak sendiri biasanya jarang menular dari anak ke
anak. Biasanya anak yg terkena TB tertular dari penderita TB yang dewasa. Oleh
karena itu sebagai org tua harus menjaga anak dari kontak TB dewasa, dan terus
meningkatkan kekebalan tubuh anak. Sejak dini kita juga bisa mengajarkan
kepada anak kita untuk mengetahui cara bersin dan batuk yang benar jika di
depan umum. Untuk pencegahan lain yang dapat dilakukan di rumah salah
satunya menjaga kebersihan, sanitasi dan ventilasi yg baik di rumah atau kamar
anak. Biarkan udara dan sinar matahari masuk ke seluruh ruangan karena
bakteri TB akan mati jika terpapar sinar UV atau sinar matahari.
3. Karena bakteri TB sendiri memerlukan banyak kombinasi berbagai jenis
antibiotik untuk mencegah gejala akibat peningkatan jumlah dan progresivitas
bakteri tersebut. Hal tersebut sudah dilakukan berbagai penelitian dan
percobaan sehingga sudah muncul regimen yg ampuh mencegah progresivitas
penyakit TB. Dan semua obat itu harus diminum sesuai anjuran yg diberikan,
karena kalau tidak anak tidak akan sembuh dan menjalani pengobatan dari awal
lagi. Jika tidak patuh dalam pengobatan, bakteri TB semakin ganas, bahkan akan
terjadi namanya MDR TB yaitu kasus sakit TB dimana obat atau regimen TB yg
biasanya bisa menyembuhkan tidak dapat melawan kuman Tb sehingga
diberikan regimen yg berbeda dan pengobatan lebih lama.
Laporan Penyuluhan 3

Nama Peserta : Kader dan Warga Dusun Tanda tangan :


Bolawen
Nama : Ibu Atik Tanda tangan :
Pendamping
Nama Wahana : Pertemuan Warga Dukuh Bolawen
Tema : Deteksi Dini Gangguan Jiwa
Penyuluhan
Tujuan : Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Tentang Gejala
Penyuluhan Gangguan Jiwa dan Penangan Awal pd Orang Dengan Gejala
Gangguan JIwa
Hari/Tanggal : 16 Maret 2017
Waktu : pukul 10.00-12.00 WIB
Tempat : Desa
Jumlah Peserta : 20 peserta

Sesi Tanya Jawab

1. Anak saya sulit dibilangin, apapun yang saya katakan dibantah, dia
seperti batu sangat kaku dan tidak mau mendengarkan nasehat org
tua. Apakah itu termasuk gangguan jiwa ? bagaimana cara mengatasi
anak tersebut ?

2. Apakah gangguan jiwa itu menular dan penyakit yg bisa diturunkan ?

3. Bagaimana cara memperlakukan orang yang sudah keluar dari RSJ


dan memberitahu lingkungan sekitar agar tidak mengucilkan ?

Jawaban

1. Sebenarnya hal tersebut muncul berdasarkan kepribadian anak itu sendiri.


Dan kepribadian itu dibangun sejak kecil oleh lingkungan sekitar, termasuk orang
tua itu sendiri, lingkungan sekolah, pergaulan dan lain-lain. Jadi semua itu tidak
lepas dari bagaimana anak tersebut mengambil contoh dari lingkungannya
sedari kecil. Untuk itu, sebagai orang tua atau pendidik harus memberikan
contoh kepada anak untuk bisa mendengarkan pendapat orang lain, tidak egois
dan ingin menang sendiri. Sebagai orang tua juga harus bisa berperan sebagai
teman anaknya sendiri agar anak juga merasa nyaman dan merasa dimengerti
sebagai seorang anak yang beranjak dewasa. Buat anak merasa tidak dihakimi
dengan nasehat yang diberikan, pilih kata-kata atau alur nasehat yg bisa
diterima anak dengan baik. Jika hasil belum maksimal, anak bisa dibawa ke
psikolog untuk ditemukan solusinya.

2. Gangguan jiwa bukan merupakan penyakit menular. Untuk kasus keturunan,


memang biasanya keturunan yg memiliki orang tua dengan riwayat gangguan
jiwa lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan. Hal tersebut mungkin terjadi
salah satunya karena ambang depresi rendah atau jika mempunyai masalah
gampang depresi dan putus asa.

3. Untuk menghadapi org dengan riwayat gangguan jiwa kita harus memberikan
kenyamanan pd mereka dengan menganggap org tersebut sebagai suatu bagian
dari masyarakat pd umumnya, tidak membedakan perlakuan terhadapt mereka.
Dengan begitu mereka tidak merasa dikucilkan dan membantu proses
penyembuhan gangguan jiwa. Untuk memberitahu masyarakat lain, kita bisa
mengajak dan memberitahu bahwa peran kita sebagai teman dan warga di
sekitarnya sangatlah berpengaruh terhadap penyembuhan kesehatan org
dengan riwayat gangguan jiwa. Jangan mendiskriminasi org tersebut dan buat
org tersebut sebagai salah satu bagian dari sosialisasi di lingkungannya.
Tugaskan org tersebut sebagai anggota sosialisasi, beri mereka kesibukan di
masyarakat agar merasa menjadi warga masyarakat normal seutuhnya.