Anda di halaman 1dari 5

TEKANAN UAP AIR DIBAWAH 100 C

PANAS MOLAR DARI PENGUAPAN

Ressa Muhripah Novianti* (140310140021)


Busrifa Laras Depi (140310140015)
Program Studi Fisika FMIPA
Universitas Padjadjaran
Selasa, 08.00 10.00 WIB
2 Mei 2017

Asisten : Ilham Dhiaputra

Abstrak

Zat memiliki karakteristik yang berbeda-beda contohnya adalah zat cair yang akan menguap jika
dipanaskan sehingga terjadi perubahan fasa dari cair menjadi gas. Pada perubahan fasa tersebut antara
tekanan dan suhu memiliki suatu hubungan yang dijelaskan memiliki persamaan Clausius-Clapeyron.
Hal tersebut dapat dibuktikan melalui percobaan tekanan uap air dibawah 100 C panas molar dari
penguapan. Percobaan ini dilakukan dengan memanaskan air sampai mendidih untuk menghilangkan
gas kemudian air tersebut suhunya diturunkan sampai mencapai suhu ruang 30C, kemudian
dipanaskan kembali untuk mengukur tekanan dari suhu 35C sampai 85C untuk setiap kenaikan 5C.
Dari data tersebut dapat dihitung besarnya tekanan uap air dan nilai panas penguapan. Nilai panas
penguapan ini menunjukkan jumlah kalor yang dibutuhkan air untuk dapat berubah fasa dari cair
menjadi gas dan dari percobaan didapatkan nilai panas penguapan sebesar 51,695 kJ. Hal ini berbeda
dari nilai panas penguapan literatur yaitu sebesar 41,2 kJ sehingga KSR yang didapatkan adalah sebesar
25,473%. Persamaan Clausius-Clapeyron ini tergambar melalui grafik tekanan uap (Puap) terhadap 1/T
dimana hubungan keduanya adalah berbanding terbalik.

Kata kunci: perubahan fasa, cair, gas, panas penguapan, tekanan, suhu.

I. Pendahuluan beberapa jenis yaitu adanya tekanan hidrostatik,


tekanan paskal, dan tekanan archimides. [1]
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temui
berbagai jenis zat yaitu padat, cair, dan gas. Salah 2.2 Perubahan Wujud Zat
satu jenis zat yang dibahas kali ini adalah zat cair. Perubahan wujud zat adalah perubahan wujud zat
Setiap zat memiliki karakteristik yang berbeda yang tidak disertai dengan terbentuknya zat baru. [2]
dalam keadaan tertentu, salah satu karakteristik yang
dimiliki oleh zat cair adalah akan menguap jika
dipanaskan (suhu dinaikkan). Antara suhu dan
tekanan mempunyai suatu hubungan yang dijelaskan
melalui persamaan Clausius-Clapeyron. Dalam
praktikum ini akan dicari bagaimana hubungan dari
temperatur dan tekanan melalui persamaan Clausius-
Clapeyron.
Adapun tujuan dari praktikum ini diantaranya
adalah untuk menyelidiki tekanan uap air pada
temperatur 35C sampai 85C, melihat bahwa
persamaan Clausius-Clapeyron menggambarkan
hubungan antara temperatur dan tekanan secara
memadai, serta menyatakan nilai rata-rata untuk Gambar 2.1 Perubahan Wujud Zat
penguapan panas.
Mencair, perubahan wujud zat dari padat menjadi
cair
II. Teori Dasar Membeku, perubahan wujud zat dari cair menjadi
padat
2.1 Tekanan Mengembun, perubahan wujud zat dari gas
Tekanan adalah besarnya gaya persatuan luas, menjadi cair
maka P = F/A. Tekanan pada zat cair tejadi pada
Menguap, perubahan wujud zat dari cair menjadi III. Metode Percobaan
gas
Menyublim, perubahan wujud zat dari padat Alat dan Bahan
menjadi gas Pada percobaan digunakan beaker glass, dan labu
Mengkristal, perubahan wujud zat dari gas menjadi tiga leher sebagai wadah air, magnetic stirrr bar
padat. untuk memanaskan air, manometer untuk mengukur
tekanan, termometer untuk mengukur suhu, dan
2.3 Tekanan Uap pompa vakum untuk mengurangi uap air, serta
Tekanan uap adalah tekanan suatu uap pada beberapa selang, penyangga, dan penjepit.
kesetimbangan dengan fasa bukan uapnya. Semua
zat padat dan cair memiliki kecenderungan untuk
menguap menjadi satu bentuk gas. Dan gas memiliki
kecenderungan untuk mengembun kembali.
Tekanan uap suatu zat cair bergantung pada
banyaknya molekul di permukaan yang memiliki
cukup energi kinetik untuk lolos dari tekanan
molekul molekul tetangganya. [1]

2.4 Diagram Fasa

Gambar 3.1. Rangkaian alat percobaan

Prosedur Percobaan
Percobaan dilakukan dengan mengisi air
bagian pada beaker glass, dan bagian pada labu
tiga leher kemudian memanaskan keduanya dengan
magnetic stirrer bar sampai mendidih. Ketika air
pada labu tiga leher mendidih maka diturunkan
suhunya sampai mencapai suhu ruang yaitu 30C
dengan menggunakan es batu. Air pada labu tiga
leher ini dididihkan untuk menghilangkan gas pada
air. Apabila sudah mencapai suhu 30C diukur
tekanannya dengan manometer, barulah kemudian
labu tiga leher ini dimasukkan ke dalam beaker glass
Gambar 2.2 Diagram Fasa yang terisi air. Keduanya dipanaskan diatas
magnetic stirrer heat. Kemudian tekanannya diukur
Diagram fasa adalah diagram yang menampilkan untuk suhu 35C sampai 85C setiap kenaikan 5C.
hubungan antara temperatur dengan tekanan dimana
terjadi perubahan fasa selama proses pendinginan
dan pemanasan yang lambat dengan kalor karbon. IV. Hasil dan Pembahasan
Komponen umum diagram fasa adalah garis
kesetimbangan, yang menunjukan pada garis yang Pada percobaan didapatkan data berupa suhu uap
menandai kondisi dimana beberapa fasa dapat air (T) dan tekanan yang terukur pada manometer
berdampingan pada kesetimbangan. Titik tripel (Pukur). Kemudian dicari besarnya nilai tekanan uap
merupakan titik pada diagram fasa dimana garis dari air (Puap), nilai panas penguapan (X), dan nilai
equilibrium berpotongan. logaritmik dari tekanan uap (ln P), serta persentase
kesalahan relatif (KSR) dari panas penguapan.
2.5 Persamaan Clasius- Clapeyron Dengan menggunakan perumusan :
Persamaan clasius- clapeyron dapat digunakan
bila 2 fasa dalam sistem suatu komponen berada 1. Menghitung nilai tekanan uap air (Puap)
dalam keadaan setimbang, kedua fasa itu memiliki = + .....................(2)
energi molar sama untuk peristiwa penguapan dan Contoh :
sublim. [3] = 101325 46000 + 70000
= 125325
= (1) Dengan :
.
Pawal = tekanan awal pada suhu 30C
Po = tekanan 1 atm
Pukur = tekanan yang terukur pada manometer
2. Menghitung nilai panas penguapan (X) 4. Menghitung KSR untuk panas penguapan (X)
= . ........................................................(3) = |

| 100%.............................(5)
Contoh :
Contoh :
= 6217,5 . (8,3144)
41,2 51,695
= 51695 = 51,695 = | | 100% = 25,473%
Dengan : 41,2
m = gradien grafik P terhadap 1/T
R = konstanta umum gas 8,3144 J/molK Dengan :
Xlit = panas penguapan literatur (41,2 kJ)
Xperc = panas penguapan percobaan (kJ)
3. Menghitung nilai ln P menurut persamaan
Clausius- Clapeyron
1
ln = . ....................................................(4)

Contoh :
51695 1
ln = . = 20, 1868
8,3144 308

Dengan :
X = panas penguapan (Joule)
\
T = suhu uap air (K)

Tabel 4.1. Data Hasil Percobaan


T (C) Pukur (hPa) Pukur(Pa) Po (Pa) Pawal (Pa) Puap (Pa) 1/T * (10^4)(1/K) m X = m .R (kJ) ln P KSR X (%)
35 460 46000 125325 32,468 20,1868
40 440 44000 127325 31,949 19,8643
45 420 42000 129325 31,447 19,5520
50 380 38000 133325 30,960 19,2493
55 360 36000 135325 30,488 18,9559
60 340 34000 101325 70000 137325 30,030 6217,5 51,695 18,6712 25,473
65 310 31000 140325 29,586 18,3950
70 280 28000 143325 29,155 18,1269
75 240 24000 147325 28,736 17,8665
80 210 21000 150325 28,329 17,6134
85 180 18000 153325 27,933 17,3674

Gambar 4.1. Hubungan Tekanan uap air dan 1/T suhu 30C diukur tekanannya dengan manometer,
barulah kemudian labu tiga leher ini dimasukkan ke
dalam beaker glass yang terisi air. Keduanya
dipanaskan diatas magnetic stirrer heat.
Untuk mengukur suhu labu tiga leher
dihubungkan dengan termometer, untuk mengukur
tekanan dihubungkan dengan manometer. Kemudian
dihubungkan pula dengan pompa vakum untuk
mengurangi uap air, karena ketika air dipanaskan
uap airnya akan meningkat.
Dari data yang didapat terlihat bahwa semakin
meningkatnya suhu, tekanan air pun semakin
meningkat pula hal ini sesuai dengan persamaan gas
ideal PV = nRT. Maka dapat dilihat pada grafik
Analisa Percobaan hubungan antara tekanan uap air (Puap) dan dengan
Percobaan ini dilakukan untuk menghitung nilai 1/T adalah berbanding terbalik sehingga nilai ln P
rata-rata panas penguapan serta membuktikan bahwa nya akan berbanding lurus dengan 1/T. Hal ini sesuai
persamaan Clausius-Clapeyron dapat dengan persamaan Clausius-Clapeyron yaitu :
menggambarkan hubungan antara temperatur dan 1
tekanan secara memadai. Percobaan dilakukan ln = .

dengan memanaskan air bagian pada beaker glass, Nilai X ini merupakan panas penguapan yaitu
dan bagian pada labu tiga leher sampai mendidih. panas yang diperlukan untuk mengubah fasa cair
Ketika air pada labu tiga leher mendidih maka menjadi gas. Perubahan fasa cair menjadi gas terjadi
diturunkan suhunya sampai mencapai suhu ruang karena adanya penyerapan kalor oleh air, semakin
yaitu 30C. Air pada labu tiga leher ini dididihkan kalor meningkat (suhu naik) maka semakin banyak
untuk menghilangkan gas. Apabila sudah mencapai pula kalor yang diserap air sehingga terjadi
peningkatan jumlah uap air. Panas penguapan (X)
yang didapat dari hasil percobaan adalah sebesar
51,695 kJ dengan nilai panas penguapan literatur
sebesar 41,2 kJ, bila dibandingkan melalui
perhitungan KSR maka didapatlah persentase
kesalahan relatif sebesar 25,473%. Hal tersebut
dapat dikarnakan pada saat percobaan air yang
digunakan adalah air keran biasa yang sudah
tercampur dengan zat lain bukan air demineralisasi
sehingga mempengaruhi terhadap proses
penguapannya.

V. Kesimpulan

5.1. Tekanan uap air semakin meningkat seiring


dengan meningkatnya suhu air dari 35C
sampai 85C yang menunjukkan bahwa
hubungan keduanya adalah berbanding lurus.
5.2. Hubungan antara tekanan dan suhu tergambar
melalui grafik tekanan uap (Puap) terhadap
1/T dimana hubungan antara (Puap) dan 1/T
adalah berbanding terbalik namun ln P dan
1/T saling berbanding lurus hal ini
menunjukkan kesesuaian persamaan
Clausius-Clapeyron.
5.3. Nilai rata-rata untuk panas penguapan adalah
sebesar 51,695 kJ.

Daftar Pustaka

[1] Termodinamika diakses dari web


Aguspur.staff.uns.ac.id/file/2009/07.
Termodinamika.pdf pada 9 April 2017.
[2] Diagram fase pada meteri sifat.2012 diakses
dari web http://hudawaudchemestry.
wordpress.com/20 12/07/15/diagram-fasa-
pada-materi-sifat-kolegatif-larutan/ pada 10
April 2017.
[3] Persamaan claasius-clapeyron diakses dari web
http://documnet.tips/document/makalah/pe
rsamaan-clasius-clapeyron.html pada 10
April 2017.