Anda di halaman 1dari 19

I.

Tujuan
1.1. Mempelajari pengaruh geometri kristal dan indeks bias bahan terhadap
struktur bandgap kristal fotonik 2D.

II. Teori Dasar


2.1. Fotonik Band Gap
Kristal fotonik adalah material dielektrik yang memiliki indeks bias atau
permitivitas berbeda secara periodik, sehingga dapat mencegah perambatan
cahaya dengan frekuensi dan arah tertentu. Rentang daerah frekuensi tersebut
dinamakan photonic bandgap (PBG). Dasar teoretis mengenai kristal fotonik
dikembangkan pertama kali oleh E. Yablonovic dan S. John pada tahun 1987.
Sebagai hasilnya dijelaskan bahwa banyak fenomena yang terjadi pada
semikonduktor terjadi pula pada bahan kristal fotonik. Jika interval frekuensi dan
sudut datang berbeda-beda, maka cahaya akan dipantulkan seluruhnya oleh kristal
fotonik sehingga diketahui sifat-sifat fotonik bandgap secara lengkap.
Suatu sifat yang penting pada kristal fotonik dapat diperoleh jika terdapat
cacat (defect) pada struktur kristal fotonik. Defect tersebut menimbulkan keadaan
terlokalisasi di sekitar bandgap sehingga hanya akan terjadi transmitansi pada satu
atau beberapa selang frekuensi tertentu yang disebut sebagai bandpass. Variasi
pada struktur defect menghasilkan modifikasi pada frekuensi bandpass sedangkan
jika struktur kristal fotonik dimodifikasi dengan mengambil satu baris silinder
(rod) dalam kristal fotonik maka didapatkan sebuah pandu gelombang
(waveguide). Dengan variasi struktur cacat di sekitar pandu gelombang maka akan
terjadi pengalihan sebagian atau keseluruhan (kopling) dari medan
elektromagnetik (TM) yang dirambatkan pada kristal fotonik tersebut[1].
Konsep dasar dari PGB mirip dengan konsep dasar perambatan elektron
dalam kristal, hanya pembawanya adalah foton, sehingga bentuk interaksinya
digambarkan oleh persamaan Maxwell. Perbandingan konsep kristal fotonik dan
kristal biasa, ditunjukkan pada Tabel 2.1. Karena keduanya periodik, maka
digunakan fungsi Bloch untuk menggambarkan fungsi gelombangnya.
Tabel 2.1. Perbandingan konsep kristal fotonik dan kristal biasa[3]

Pada kristal photonic terdapat beberapa istilah dalam struktur pita


frekuensinya, yaitu :

a. Upper band : Pita yang terletak paling atas pada pita valensi(HOMO).
b. Lower band : Pita yang terletak paling bawah pada pita konduksi (LUMO).
c. Mid gap : Frekuensi yang berada di tengah band gap.
d. Gap mid gap ratio : Perbedaaan antara celah dan frekuensi di tengah band gap.

Gambar 2.1 Struktur pita frekuensi pada PBG[1]

Beberapa karakteristik Kristal fotonik:


a. Jika gelombang elektromagnetik menjalar ke dalam struktuk kristal fotonik,
maka ia akan dihamburkan akibat perbedaan indeks bias di dalam struktur.
b. Jika panjang gelombang jauh lebih besar dari pada konstanta kisi dari kristal
fotonik, struktur berperilaku seperti suatu medium efektif.
c. Jika panjang gelombang sebanding atau lebih kecil dari pada konstanta kisi
kristal fotonik, maka akan terjadi refleksi Bragg, sehingga membentuk
photonic band gap (PBG).

2.2. Kristal Fotonik 2D


Kristal fotonik 2D tersusun periodik pada dua sumbu aksisnya, dan
homogen sepanjang sumbu ketiga. Kristal fotonik 2D terdiri atas susunan kolom-
kolom dielektrik seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2. Pada kristal foronik
terdapat nilai bandgap pada bidang x-y. Di dalam gap ini, tidak ada transmitansi
yang terjadi, dan cahaya yang menumbuknya akan dipantulkan seluruhnya.
Kristal fotonik 2D dapat memantulkan cahaya yang datang dari arah manapun
pada bidang sehingga tidak ada cahaya yang dapat ditransmisikan di dalamnya.

Gambar 2.2 Struktur kristal fotonik 1D, 2D dan 3D[1]

Gambar 2.3 Kristal fotonik 2D yang terdiri atas kolom-kolom dielektrik dengan jari-jari
r dan konstanta dielektrik r. Material ini homogen pada sumbu z (digambarkan seperti
silinder yang panjang), dan periodik pada bidang x-y dengan konstanta jarak pada pusat
silinder sebesar a [2]
Jika kz = 0, maka cahaya merambat pada bidang x-y. Gelombang EM yang
datang pada kristal fotonik 2D dapat mengklasifikasikan modus perambatannya
dengan membagi menjadi dua polarisasi yang berbeda. Modus transverse electric
(TE) memiliki arah medan magnet H yang tegak lurus terhadap bidang, H= H()
dan medan listrik E yang sejajar dengan bidang E() =0 . Modus transverse
magnetic (TM) bersifat sebaliknya, yaitu E = E() dan H () =0[2].

2.3. Persamaan Gelombang pada Kristal Fotonik


Interaksi antara gelombang elektomagnetik / cahaya dan materi
dideskripsikan oleh vektor medan listrik dan medan magnet. Propagasi dari kedua
vektor medan tersebut ditentukan oleh persamaan maxwell. Terdapat empat
persamaan penting dan dinyatakan dalam bentuk divergensi dan curl. Keempat
persamaan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
= (2.1)

= 0 (2.2)
= (2.3)

= (2.4)
Gelombang elektomagnetik merupakan konsekuensi logis dari persamaan
Maxwell. Persamaan gelombang EM bebas atau persamaan gelombang tanpa
sumber yaitu =0 dan J=0 , maka persamaan Maxwell dapat ditulis menjadi :
= 0 (2.5)
= 0 (2.6)
= (2.7)

= (2.8)

Persamaan (2.7) dan (2.8) menunjukan hubungan cross E dan B (E di ruas


kiri dan B di ruas kanan atau sebaliknya). Untuk membuat hubungan tersebut
tidak cross, yaitu kedua ruas dinyatakan dalam E saja atau B saja, dapat dilakukan
dengan menerapkan operator curl pada persamaan tersebut.
Hasilnya jika =0 dan J=0 maka persamaan gelombangnya adalah[4] :

- =0 (2.9)

- =0 (2.10)

dengan
=
(2.11)

=
(2.12)

III. Metodologi Percobaan


3.1. Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan adalah :
1. Unit komputer dengan spesifikasi minimum P4 dan software Mathlab 7.
2. Program simulasi dengan nama file modul2 untuk menjalankan program.

3.2. Prosedur Percobaan


3.2.1. Struktur PBG (Photonic Band Gap) Kristal Fotonik 2D
1. Membuka aplikasi Matlab untuk menjalankan program simulasi modul2.
2. Mengatur parameter jari-jari rongga (silinder) 0.25, jumlah pita 8, frekuensi
maksimum 0.8 .
3. Memvariasikan parameter lainnya seperti susunan kisi (kisi segiempat dan kisi
segienam), mode gelombang (TE dan TM), konstanta dielektrik (11.4 dan 1),
serta konstanta dielektrik latar (11.4 dan 1).Variasi yang dilakukan sebagai
berikut :
Tabel 3.1. Variasi Susunan Kisi, Mode Gelombang, dan Konstanta Dielektrik

Susunan Kisi Mode Gelombang Dielektrik Rongga Dielektrik Latar


1 11.4
TM
11.4 1
Segi Empat
1 11.4
TE
11.4 1
1 11.4
TM
11.4 1
Segi Enam
1 11.4
TE
11.4 1
4. Memplot band gap.
5. Memilih titik upper band dan lower band.
6. Menghitung nilai gap, mid gap, dan frekuensi, menggunakan perumusan :
(3.1)

(3.2)

(3.3)

7. Mengcrop simulasi gambar photonic band gap.

3.2.2. Simulasi Perambatan Gelombang Cahaya pada Kristal Fotonik 2D


1. Membuka aplikasi Matlab untuk menjalankan simulasi modul4.
2. Mengatur beberapa parameter seperti :
Jumlah rongga = 21
Rongga bawah = 4
Jari-jari rongga silinder = 0.25
Step = 20
Jumlah step simulasi = 2500
Jumlah pulsa = 2
3. Memvariasikan jenis simulasi (kristal fotonik dan pandu gelombang), jenis
sumber (kontinu dan pulsa), dan frekuensi. Dengan variasi sebagai berikut :
Tabel 3.2. Variasi Frekuensi, Jenis Simulasi, dan Jenis Sumber

4. Melakukan simulasi perambatan gelombang dan mengcrop gambar simulasi.


IV. Pengolahan Data
Dari hasil percobaan simulasi struktur photonic band gap didapatkan
gambar sebagai berikut :

Gambar 4.1. Simulasi PBG Kisi Segiempat untuk rongga=1 latar=11.4


(a) TE (b) TM

Gambar 4.2. Simulasi PBG Kisi Segiempat untuk rongga=11.4 latar=1


(a) TE (b) TM
Gambar 4.3. Simulasi PBG Kisi Segienam untuk rongga=1 latar=11.4
(a) TE (b) TM

Gambar 4.4. Simulasi PBG Kisi Segienam untuk rongga=11.4 latar=1


(a) TE (b) TM

Dari gambar simulasi tersebut ditentukan nilai upper band dan lower band
untuk menghitung nilai gap, mid gap, dan frekuensi melalui perhitungan berikut :

4.1. Menghitung nilai gap


- Kisi Segiempat TM rongga=1 latar=11.4
- Kisi Segiempat TM rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segiempat TE rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segiempat TE rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segienam TM rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segienam TM rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segienam TE rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segienam TE rongga=11.4 latar=1

4.2. Menghitung nilai mid gap


- Kisi Segiempat TM rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segiempat TM rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segiempat TE rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segiempat TE rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segienam TM rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segienam TM rongga=11.4 latar=1


- Kisi Segienam TE rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segienam TE rongga=11.4 latar=1

4.3. Menghitung nilai frekuensi


- Kisi Segiempat TM rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segiempat TM rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segiempat TE rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segiempat TE rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segienam TM rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segienam TM rongga=11.4 latar=1

- Kisi Segienam TE rongga=1 latar=11.4

- Kisi Segienam TE rongga=11.4 latar=1


Sehingga didapatlah data sebagai berikut :
Tabel 4.1. Perhitungan Gap, Mid gap, dan Frekuensi
Susunan Kisi Mode Gelombang Dielektrik Rongga Dielektrik Latar Upper Band Lower Band Gap Mid Gap Frekuensi
1 11.4 0.2106 0.1756 -0.035 -0.0175 0.1931
TM
11.4 1 0.2619 0.3733 0.1114 0.0557 0.3176
Segi Empat
1 11.4 0.2198 0.2017 -0.0181 -0.00905 0.21075
TE
11.4 1 0.4357 0.4012 -0.0345 -0.01725 0.41845
1 11.4 0.2054 0.2035 -0.0019 -0.00095 0.20445
TM
11.4 1 0.2554 0.3914 0.136 0.068 0.3234
Segi Enam
1 11.4 0.2058 0.247 0.0412 0.0206 0.2264
TE
11.4 1 0.4316 0.4284 -0.0032 -0.0016 0.43

Sedangkan untuk simulasi perambatan gelombang pada kristal fotonik 2


dimensi didapatkan gambar sebagai berikut :

Gambar 4.5. Simulasi Perambatan Gelombang Kristal Fotonik Kontinu f = 0.2264

Gambar 4.6. Simulasi Perambatan Gelombang Kristal Fotonik Pulsa f = 0.2264


Gambar 4.7. Simulasi Perambatan Gelombang Pandu Gelombang Kontinu f = 0.2264

Gambar 4.8. Simulasi Perambatan Gelombang Pandu Gelombang Pulsa f = 0.2264

Gambar 4.9. Simulasi Perambatan Gelombang Kristal Fotonik Kontinu f = 0.3234


Gambar 4.10. Simulasi Perambatan Gelombang Kristal Fotonik Pulsa f = 0.3234

Gambar 4.11. Simulasi Perambatan Gelombang Pandu Gelombang Kontinu f = 0.3234

Gambar 4.12. Simulasi Perambatan Gelombang Pandu Gelombang Pulsa f = 0.3234


Gambar 4.13. Simulasi Perambatan Gelombang Kristal Fotonik Kontinu f = 0.3176

Gambar 4.14. Simulasi Perambatan Gelombang Kristal Fotonik Pulsa f = 0.3176

Gambar 4.15. Simulasi Perambatan Gelombang Pandu Gelombang Kontinu f = 0.3176


Gambar 4.16. Simulasi Perambatan Gelombang Pandu Gelombang Pulsa f = 0.3176

V. Pembahasan Hasil

Pada percobaan photonic band gap (PBG) terdapat 2 parameter kisi yaitu
dengan rongga udara dan latar Galium, serta rongga Galium dan latar udara.
Dengan 2 parameter kisi tersebut untuk mengetahui adanya photonic band gap
maka digunakan 2 mode gelombang, yaitu transverse magnetic (TM) dan
transverse electric (TE).

Bila dilihat dari perbedaan nilai antara konstanta dielektrik ( rongga)


dengan konstanta dielektrik ( latar), maka ketika konstanta dielektrik rongga
( rongga) 11.4 lebih besar daripada konstanta dielektrik latar ( latar) 1 maka
pada band gap nilai upper band dan lower band memiliki nilai yang lebih
besar jika dibandingkan saat konstanta dielektrik ( rongga) 1 lebih kecil
daripada konstanta dielektrik ( latar) 11.4. Hal ini menunjukkan bahwa ketika
konstanta dielektrik ( rongga) lebih besar dibandingkan konstanta dielektrik (
latar) kondisi ini memungkinkan untuk menghambat perambatan gelombang
dengan frekuensi yang lebih besar. Hal ini ditunjukkan dengan nilai frekuensi
yang lebih besar.

Jika dilihat dari variasi geometri kisi, maka pada kisi segiempat dengan
mode gelombang TE nilai gap dan mid gapnya negatif. Hal ini terjadi karena
adanya overlapp atau beririsannya upper band dengan lower band, kondisi ini
menunjukkan terjadinya perambatan foton pada kristal fotonik 2D artinya tidak
ada frekuensi yang bisa ditahan oleh kristal fotonik 2D. Sedangkan untuk mode
gelombang TM pada kisi segiempat memiliki nilai gap yang cukup besar yaitu
0.1114, hal ini menunjukkan adanya penghambat bagi foton untuk merambat pada
kristal fotonik. Artinya foton dengan frekuensi 0.2619 (a/) sampai 0.3733 (a/)
akan ditahan sehingga tidak dapat merambat pada kristal fotonik. Dapat dikatakan
untuk kisi segiempat, mode gelombang TM lebih baik dalam menghambat
perambatan foton dibandingkan mode TE.

Sedangkan pada kisi segienam mode gelombang TE dan TM sama-sama


memiliki nilai gap yang cukup besar. Pada mode TM foton dengan frekuensi
0.2554 (a/) sampai 0.3914 (a/) akan ditahan sehingga tidak dapat merambat
pada kristal fotonik. Pada mode TE perambatan foton yang akan dihambat adalah
frekuensi 0.2058 (a/) sampai 0.247 (a/).

Hal ini menunjukkan bahwa selain perbedaan nilai konstanta dielektrik


rongga dan latar, variasi geometri kisi pun berpengaruh terhadap perambatan
foton.

Pada simulasi perambatan gelombang pada kristal fotonik 2D divariasikan


jenis simulasi dan jenis sumber yang digunakan. Jenis sumber yang digunakan
adalah kontinu dan pulsa. Kontinu berarti sumber diberikan secara terus-menerus
sedangkan untuk pulsa sumber hanya diberikan sekali saja. Jenis sumber yang
digunakan ini mempengaruhi nilai intensitas medan perambatan dari fotonnya.
Dari hasil percobaan terlihat bahwa saat sumber kontinu maka intensitas medan
perambatannya besar dibandingkan sumber pulsa. Pada suatu kristal, berdasarkan
teori semakin jauh jarak yang ditempuh oleh foton, maka intensitas dari foton
tersebut akan berkurang secara eksponensial. Tetapi karena pada kristal fotonik
terdapat defect atau cacat kristal yang berfungsi untuk membelokkan arah rambat
gelombang sehingga fotonnya melalui peristiwa refleksi yang secara otomatis
akan kembali meningkatkan nilai intensitas dari perambatan gelombangnya. Hal
ini yang menyebabkan untuk kondisi pandu gelombang terdapat kenaikan
intensitas pada nilai-nilai jarak tertentu yang sebenarnya dipengaruhi oleh posisi
dari defect pada kristalnya.
Kristal fotonik dengan sumber kontinu menghasilkan perambatan
gelombang yang teratur dan akan meningkat intensitasnya ketika frekuensinya
diperbesar. Pada pandu gelombang dengan sumber kontinu memperlihatkan
bagaimana gelombang dapat terpandu di sepanjang cacat kristal fotonik. Cacat
kristal tersebut berupa cacat garis sehingga mode gelombang elektromagnetik
dapat melewati rentang daerah photonic band gap.
VI. Kesimpulan

Struktur band gap kristal fotonik 2D selain dipengaruhi oleh indeks bias
yaitu konstanta dielektrik rongga dan latar dipengaruhi pula oleh geometri kristal,
jari-jari rongga, dan jari-jari latar. Pembentukan band gap pada kristal dengan kisi
segiempat hanya terjadi pada mode gelombang TM sedangkan pada kisi segienam
terjadi pada mode gelombang TE dan TM.
DAFTAR PUSTAKA

[1]. Kurniawan, Chandra. 2010. ANALISIS KOPLING MEDAN


ELEKTROMAGNETIK TRANSVERSE MAGNETIC (TM) PADA KRISTAL
FOTONIK 2D DENGAN DEFEK INDEKS BIAS SIMETRIK
MENGGUNAKAN METODE TENSOR GREEN. Bogor: IPB
[2]. Joannopoulos JD, Meade RD, Winn JN. 1995. Photonic Crystals : Molding
the Flow of Light. New Jersey : Princeton University Press.
[3]. Dr. Ayi Bahtiar, M.Si. 2008. Diktat Kuliah Rekayasa Optik. Jurusan Fisika.
Fakultas MIPA. Universitas Padjadjaran
[4]. Shella, Netha sabono. 2013. PENENTUAN SIFAT OPTIK KRISTAL
FOTONIK MULTILAYER DENGAN INDEKS BIAS DAN TEBAL
LAPISAN YANG DIVARIASIKAN . makasar. Universitas Hasanudin.