Anda di halaman 1dari 5

DERET BALMER PADA SPEKTRUM HIDROGEN

Ressa Muhripah Novianti* (140310140021)


Silmi Nurul Utami (140310140027)
Program Studi Fisika FMIPA
Universitas Padjadjaran
Selasa, 08.00 10.00 WIB
29 November 2016

Asisten : Febrian Alfandi, S.Si.

Abstrak

Atom Hidrogen adalah atom yang paling sederhana di dunia ini. Bohr dengan postulat atomnya
menunjukkan bahwa atom Hidrogen yang tereksitasi akan memancarkan sinar. Sinar yang dipancarkan
tersebut bersesuaian juga dengan Deret Balmer. Dari informasi ini diperoleh bahwa adanya sinar yang
terpancar maka sinar tersebut akan memiliki panjang gelombang tertentu. Maka dari itu tujuan utama
dari eksperimen ini adalah untuk menentukan panjang gelombang H(merah), H(hijau kebiru-biruan)
dan H(biru). Hasil percobaan menggunakan lampu Neon menunjukkan bahwa biru = 397 nm 436
nm, hijau tua = 452 nm 486 nm, hijau muda = 505 nm 562 nm, merah = 569 nm 594 nm. Untuk lampu
Argon didapatkan ungu = 386 nm 420 nm, hijau = 427 nm 505 nm, kuning = 531 nm 611nm, merah
= 608 nm 623 nm. Dan untuk lampu Hidrogen didapatkan hijau = 433 nm 479 nm, merah = 582
nm 637 nm. Spektrum warna yang muncul ini menunjukkan adanya transisi elektron. Secara umum
hasil percobaan menunjukkan kesesuaian dengan teori yaitu sinar merah mempunyai panjang
gelombang terpanjang dan ungu mempunyai panjang gelombang terpendek. Dengan kesesuaian
percobaan dengan literatur yang cukup dekat karena dihasilkan KSR secara keseluruhan yang cukup
kecil yaitu 0.2% - 22%.

Kata kunci: atom Hidrogen, spektrum cahaya, panjang gelombang, deret Balmer, transisi elektron

I. Pendahuluan adalah tidak bisa menerangkan hubungan antara


larutan senyawa dan daya hantar arus listrik.
Spektrum cahaya yang dipancarkan dari Model atom Thomson digambarkan sebagai bola
pembakaran dan lecutan listrik pada gas telah pejal bermuatan positif yang homogen dan elektron
menunjukkan karakteristik spektrum atom H dari bermuatan negatif tersebar di dalamnya (seperti roti
suatu unsur kimia. Lecutan listrik pada gas Hidrogen kismis. Kelemahan dari teori Thomson adlah tidak
memberikan spektrum yang terdiri dari empat dapat menjelaskan susunan muatan positif dan
panjang gelombang pada empat daerah. negatif dalam bola tersebut.
Empat daerah tersebut dapat dibatasi karena panjang Model atom Rutherford digambarkan bahawa
gelombang keempat cahaya tersebut. Agar dapat atom terdiri atas inti atom bermuatan positif dan
menghitung panjang gelombangnya maka perlu hampir seluruh massa atom terpusat pada inti,
dilakukan eksperimen Deret Balmer pada Spektrum artinya elektron beredar mengelilingi inti (model tata
Hidrogen. Tujuan utama dari eksperimen ini adalah surya). Kelemahan teori Rutherford adalah tidak
untuk menentukan panjang gelombang H(merah), dapat menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke
H(hijau kebiru-biruan) dan H(biru). dalam inti.

II. Teori Dasar


2.1. Perkembangan Teori Atom
Atom merupakan partikel penyusun semua
benda yang berukuran sangat kecil. Di dalam atom
terdapat sub atom yaitu partikel penyusun atom yang
ukurannya lebih kecil. Setiap atom memiliki inti Gambar 1. Perkembangan model atom
yang terdiri dari proton dan neutron serta elektron
yang bergerak cepat mengelilingi inti atom. Perkembangan selanjutnya, teori atom Bohr.
Hipotesa Dalton menggambarkan model atom Niels Bohr menyusun model atom seperti Rutherford
sebagai bola pejal, kelemahan dari teori Dalton tetapi dengan memasukkan teori kuantum untuk
menyempurnakannya. Teori atom Bohr berdasarkan
pada dua postulat, yaitu :

Postulat 1
Elektron-elektron yang mengelilingi inti mempunyai
lintasan tertentu yang disebut lintasan stasioner dan
tidak memancarkan energi. Dalam gerakannya
elektron mempunyai momentum angular sebesar[1]

= (1)
2
Postulat 2. Gambar 3. Diagram Energi Atom Hidrogen
Dalam tiap lintasannya elektron mempunyai
Garis H adalah merah, H biru, H dan H adalah
tingkat energi tertentu (makin dekat dengan inti ungu. Deret Balmer hanya berisi panjang gelombang
tingkat energinya makin kecil dan tingkat energi pada bagian tampak dari spektum Hidrogen[2].
paling kecil n = 1) Pengukuran panjang gelombang dapat
Bila elektron pindah dari kulit luar ke dalam maka dilakukan dengan menggunakan kisi difraksi yang
akan memancarkan energi berupa foton. diletakkan pada meja spektrometer. Saat cahaya
Sebaliknya bila pindah dari kulit dalam ke luar melewati kisi, terjadi peristiwa difraksi:

akan menyerap energi. Atau = atau = (4)


= = (2) = tan (5)

dengan : d = jarak antara celah kisi ( m)
Dengan h = konstanta Planck (6,626 x 10-34 J.s) n = orde spektrum (n = 1, 2, 3, . . .)
a = jarak kisi ke layar
2.2. Spektrum Atom Hidrogen b = jarak terang pusat ke spektrum
Radiasi elektromagnetik dari berbagai atom
dapat dikelompokkan ke dalam spektrum kontinu
dan spektrum diskrit[2]. Spektrum gas hidrogen III. Metode Percobaan
terdiri atas deretan garis-garis. Spektrum garis
membentuk suatu deretan warna cahaya dengan Alat dan Bahan
panjang gelombang berbeda. [3] Balmer menemukan Alat yang paling utama adalah sumber cahaya
rumus yang cocok dengan panjang gelombang deret yaitu lampu Neon, Argon, dan Hidrogen serta
Balmer. Rumus Balmer untuk panjang gelombang peralatan penunjang lainnya seperti lensa, kisi, dan
adalah layar. Layar ini berfungsi untuk melihat spektrum
warna yang dihasilkan.
1 1 1
= ( ) (3)
22 2 Prosedur Percobaan
n = 3, 4, 5, . . .
Dengan R adalah konstanta Rydberg:
R = 1.097 x 10-7 m-1 = 0.01097 nm-1

Gambar 4. Rangkaian alat percobaan

Percobaan ini dilakukan dengan pertama-tama


menyusun peralatan seperti pada Gambar 4.
Gambar 2. Deret Balmer Hidrogen. Percobaan dilakukan dengan menggunakan 3
macam sumber cahaya yang berbeda, yaitu lampu
Hidrogen, lampu Neon, dan lampu Argon. Dengan 5
variasi jarak kisi ke layar (a) , yaitu 11 cm, 13 cm,
15 cm, 17 cm, dan 19 cm. Selanjutnya mengamati
spektrum warna yang dihasilkan oleh masing-
masing sumber ketika dinyalakan dan mencatat jarak
antara terang pusat ke setiap spektrum warna yang Tabel 2. Data untuk Lampu Argon
terbentuk (b). Lampu Argon

Jarak a (cm) Warna Jarak b (cm) (nm) literarur (nm) KSR (%)

IV. Hasil dan Pembahasan Ungu 2.75 404.226 405.1 0.216


Hijau 3.15 458.830 547.7 16.226
11
Dari percobaan didapatkan data berupa jarak Kuning 3.7 531.353 579.8 8.356
kisi ke layar (a) dan jarak terang pusat ke spektrum Merah 4.4 618.984 627.3 1.326
warna bagian kanan dan kiri (b kanan) dan (b kiri). Ungu 3.1 386.596 405.1 4.568

Kedua jarak (b kanan) dan (b kiri) ini akan dirata- Hijau 3.45 427.509 547.7 21.945
13
ratakan dengan perumusan berikut : Kuning 4 490.143 579.8 15.463
Merah 5.1 608.682 627.3 2.968
Ungu 3.9 419.390 405.1 3.527
+
= (6) 15
Hijau 4.65 493.498 547.7 9.896
2 Kuning 5.3 555.248 579.8 4.235
Jarak a dan b ini akan digunakan untuk menghitung
Merah 6.05 623.424 627.3 0.618
panjang gelombang dari masing-masing spektrum
Ungu 4.35 413.159 405.1 1.989
warna yang muncul dengan perumusan : Hijau 5.15 483.215 547.7 11.774
17
Kuning 5.8 538.168 579.8 7.180

= atau = (4) Merah 6.7 611.113 627.3 2.580

Ungu 4.95 420.185 405.1 3.724
Hijau 6.05 505.684 547.7 7.671
= tan (5) 19
Kuning 6.7 611.113 579.8 5.401

Merah 7.5 611.944 627.3 2.448
dengan : d = jarak antar kisi
d = 1/6000 = 0.0001667 cm Tabel 3. Data untuk Lampu Hidrogen
n = orde spektrum (n = 1, 2, 3, . . .) Lampu Hidrogen
a = jarak kisi ke layar
Jarak a (cm) Warna Jarak b (cm) (nm) literarur (nm) KSR (%)
b = jarak terang pusat ke spektrum
Hijau 3.05 445.320 547.7 18.693
11
Sehingga didapatlah data sebagai berikut : Merah 4.45 625.034 627.3 0.361
Hijau 3.5 433.289 547.7 20.889
13
Merah 5.25 624.105 627.3 0.509
Tabel 1. Data untuk Lampu Neon
Lampu Neon Hijau 4.05 434.443 547.7 20.679
15
Merah 5.6 582.924 627.3 7.074
Jarak a (cm) Warna Jarak b (cm) (nm) literarur (nm) KSR (%)
Hijau 5.1 478.913 547.7 12.559
17
Biru 2.7 397.298 438.5 9.396 Merah 7 634.583 627.3 1.161
Hijau tua 3.1 452.087 547.7 17.457 Hijau 5.65 475.055 547.7 13.264
11 19
Hijau muda 3.5 505.339 547.7 7.734 Merah 7.85 636.417 627.3 1.453
Merah 4 569.572 627.3 9.203
Biru 3.3 410.071 438.5 6.483 Bila digambarkan hubungan antara jarak b
Hijau tua 3.75 461.934 547.7 15.659
13 terhadap a dalam bentuk grafik untuk setiap
Hijau muda 4.15 506.852 547.7 7.458
Merah 4.825 579.934 627.3 7.551
spektrum warna maka didapatlah grafik sebagai
Biru 3.85 414.347 438.5 5.508
berikut :
Hijau tua 4.4 469.123 547.7 14.347
15
Hijau muda 4.95 522.296 547.7 4.638 Grafik 1. Hubungan b terhadap a Lampu Neon
Merah 5.3 555.248 627.3 11.486
Biru 4.35 413.159 438.5 5.779
Hijau tua 5 470.277 547.7 14.136
17
Hijau muda 5.65 525.651 547.7 4.026
Merah 6.15 566.980 627.3 9.616
Biru 5.15 436.021 438.5 0.565
Hijau tua 5.8 486.605 547.7 11.155
19
Hijau muda 6.1 562.898 547.7 2.775
Merah 7.25 594.177 627.3 5.280
Grafik 2. Hubungan b terhadap a Lampu Argon spektrum warna yang muncul untuk Neon dan Argon
lebih banyak dibandingkan untuk Hidrogen.

Dari munculnya spektrum warna tersebut dapat


kita tentukan panjang gelombang spektrum warna
untuk masing-masing sumber cahaya. Untuk lampu
Neon didapatkan :
biru = 397 nm 436 nm,
hijau tua = 452 nm 486 nm,
hijau muda = 505 nm 562 nm,
Grafik 3. Hubungan b terhadap a Lampu Hidrogen merah = 569 nm 594 nm
Untuk lampu Argon didapatkan :
ungu = 386 nm 420 nm,
hijau = 427 nm 505 nm,
kuning = 531 nm 611nm,
merah = 608 nm 623 nm
Untuk lampu Hidrogen didapatkan :
hijau= 433 nm 479 nm,
merah = 582 nm 637 nm
Pada percobaan ini dilakukan pengamatan
mengenai deret Balmer yaitu pada spektrum warna Panjang gelombang yang didapatkan tersebut
dengan sumber cahaya lampu Hidrogen. Dan bergantung pada jarak b dan a. Karena variasi jarak
beberapa sumber cahaya lain yaitu Neon dan Argon a dan b yang berbeda maka panjang gelombang yang
yang berfungsi sebagai pembanding dari spektrum dihasilkan dari variasi jarak a dan b tersebut pun
warna Deret Balmer. Dari percobaan ini data yang berbeda-beda. Namun panjang gelombang yang
diperoleh adalah berupa jarak terang pusat terhadap didapatkan nilainya tidak jauh dengan nilai panjang
spektrum warna yang muncul (b) dengan variasi gelombang literatur. Apabila dibandingkan antara
jarak kisi terhadap layar (a). nilai percobaan dengan literatur dapat dilihat dari
Pada lampu neon dihasilkan 4 spektrum warna persentase kesalahan relatif yang dihasilkan (KSR)
yaitu biru, hijau tua, hijau muda, dan merah. Untuk yaitu untuk lampu Argon 0.5% - 17.5%, untuk lampu
lampu argon dihasilkan 4 spektrum warna pula yaitu Neon 0.2% - 22%, dan untuk lampu Hidrogen 0.3%
ungu, hijau, kuning, dan merah. Sedangkan pada - 21%. Maka dapat dilihat secara keseluruhan bahwa
lampu Hidrogen hanya dihasilkan 2 spektrum warna percobaan yang dilakukan cukup baik karena hasil
yaitu merah dan hijau. Spektrum warna yang muncul yang didapatkan mendekati literatur.
menunjukkan adanya transisi elektron atau
perpindahan elektron dari lintasan elektron tertentu
ke lintasan elektron yang lain. Spektrum warna yang V. Kesimpulan
berbeda menunjukkan perpindahan elektron yang
berbeda pula. Misalnya transisi elektron dari n=1 ke 5.1. Dapat menentukan panjang gelombang
n=2 akan menghasilkan spektrum warna yang H(merah), H(hijau kebiru-biruan) dan
berbeda dengan transisi elektron dari n=2 ke n=4. H(biru) dengan mengamati spektrum
Perbedaan banyaknya spektrum warna yang warna yang terbentuk dari berbagai sumber
muncul disebabkan karena nomor atom dari Neon, cahaya yaitu Neon, Argon, dan Hidrogen.
Argon, dan Hidrogen yang berbeda-beda. Nomor Dimana spektrum warna yang muncul
atom Argon adalah 18, Neon 10 dan Hidrogen 1. menunjukkan adanya transisi elektron.
Nomor atom tersebut menunjukkan banyaknya
elektron atau proton pada suatu unsur atom. Daftar Pustaka
Sehingga semakin besar nomor atom maka elektron
nya semakin banyak, sehingga tingkatan energi [1] Beiser, Arthur. 1990. Konsep Fisika Modern.
(lintasan elektron) semakin banyak dan Jakarta : Erlangga
menyebabkan transisi elektron yang terjadi semakin [2] Tipler, Paul. 2001. Fisika untuk Sains dan
banyak pula. Semakin besar nomor atom maka Teknik jilid 2. Jakarta : Erlangga
semakin banyak pula spektrum warna yang [3] Krane, Knneth. 1992. Fisika Modern. Jakarta :
terbentuk hal tersebut terlihat pada percobaan bahwa UI Press.