Anda di halaman 1dari 10

1.

Ascaris lumbricoides
GAMBAR 1

Klasifikasi Ascaris lumbricoides


Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Subclass : Secernemtea
Ordo : Ascoridida
Super famili : Ascoridciidea
Genus : Ascaris
Species : Ascaris lumbricoides

Epidemiologi
Prevalensi askariasis di Indonesia tinggi, terutama yang terjadi pada anak-anak. Frekuensinya
antara 60-90%. Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan yang
baik. Pemakaian jamban keluarga dapat memutus rantai siklus hidup Ascaris lumbricoides ini.
Kirra kira 25 % dari seluruh penduduk dunia terinfeksi cacing ini , terutama dinegara negara
tropis. Telur Ascaris lumbricoides berkembang sangat baik pada tanah liat yang memiliki
kelembapan tinggi dan pada suhu 25 - 30 C. Pada kondisi ini, telur tumbuh menjadi bentuk
infektif (mengandung larva) dalam waktu 2-3 minggu.

Morfologi
Cacing Ascaris berbentuk bulat panjang, memiliki kutikula yang tebal serta tiga buah bibir pada
bagian mulutnya. Dua buah bibirnya terletak pada bagian dorsal. Masing-masing bibir dilengkapi
dengan papillae dibagian lateral dan subventral dan dilengkapi pula dengan sederetan gigi pada
permukaan sebelah dalam.

tiga bibir pada bagian anterior

Cacing dewasa berbentuk silinder dan berwarna pink, yang jantan lebih kecil dari betina. Cacing
jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada cacing jantan
ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing
betina, pada sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi. Stadium
dewasa cacing ini hidup di rongga usus muda. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Seekor
cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi
berukuran 60 x 45 mikron. Sedangkan telur yang tak dibuahi, bentuknya lebih besar sekitar 90 x
40 mikron. Telur yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia. Dalam lingkungan
yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu 3 minggu.

Cacing ini telah memiliki saluran pencernaan yang lengkap, organ reproduksi berbentuk
tubular, yang jantan mempunyai tubula reproduktif tunggal, yang betina mempunyai dua buah
tubula reproduktif dan vulva secara ventral terdapat pada bagian posterior 1/3 bagian anterior
tubuh.
Penampang melintang

Siklus Hidup

siklus hidup Ascaris l


Usus manusia -> Cacing -> Telur Cacing -> Keluar bersama feses -> Tersebar ->
Menempel pada makanan -> Termakan -> Menetas -> Larva -> Menembus Usus ->
Aliran Darah -> Jantung -> Paru-Paru -> Kerongkongan -> Tertelan -> Usus Manusia ->
Cacing Dewasa.

Hospess definitifnya adalah manusia. Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak
pada tempatnya dapat mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini akan matang
dalam waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah tercemar telur
Ascaris dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Ascaris.
Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan
menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran,
yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru. Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus,
masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke
saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa. Cacing akan menetap di
usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali
bersama tinja. Siklus pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak
pada tempatnya.

Patologi

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan cacing dewasa dan larva, biasanya terjadi
pada saat berada diparu-paru. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya ringan.
Kadang-kadang penderita mengalami gejala gtangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan
berkurang, diare atau konstipasi

Ada dua fase ascariasis

1. fase perpindahan larva dari darah ke paru-paru. Selama perpindahannya ke paru-paru


larva menyebabkan pneumonia. Gejala pneumonia ini adalah demam rendah, batuk, ada
sedikit darah di sputum, asma. Sejumlah bessar wanita, menigkat reaksi alerginya.
Umumnya ada eosinofil.
2. Fase dewasa di usus

Adanya sedikit cacing dewasa di usus halus tidak menghasilkan gejala, tapi bisa
meningkatkan nyeri pada abdominal yang samar-samar atau intermiten colic, terutama
pada anak-anak. Penyakit yang berat bisa menyebabkan malnutrisi. Penyebaran cacing
dewasa bisa dihambat oleh lumen apendik atau cairan empedu dan mengalami pervorasi
pada dinding usus. Komplikasi ascaraiasis bisa terjadi seperti obstruksi usus,
apendikcitis.

Pencegahan dan Pengendalian

Pencegahan

1. mencegah kontak dengan tanah yang mengandung feses manusia


2. Hendaknya membuang tinja (feces) pada WC yang baik.

3. cuci tangan dengan sabun dan air sebelum menyentuh makanan

4. ketika bepergian ke negara yang sanitasi danhigienisnya jelek, hindari makanan yang
mungkin berkontaminasi dengan tanah

5. cuci, kupas atau masak bahan-bahan sayur dan buah sebelum dimakan

6. edukasi kesehatan melalui sekolah , organisasi kemasyarakatan.

7. Hendaknya tidak menggunakan feces sebagai pupuk kecuali sudah dicampur dengan zat
kimia tertentu.

Pengendalian
Walaupun askariasis merupakan infeksi cacing yang paling lazim di seluruh dunia, pada
pengendaliannya hanya mendapat sedikit perhatian, sebagian karena perdebatan (kontroversi)
mengenaiarti klinisnya dan juga karena tanda epidemiologisnya yang unik. Upaya
pengurangan beban cacing pada manusia dengan kemoterapi massa telah menunjukkan
beberapa harapan. Karena frekuensi reinfeksi tinggi, kemoterapi harus diulang pada interval
3 sampai 6 bulan. Kemungkinan dan tanggungan biaya demikian akan harus dievaluasi
sebelum hal ini dapaty diterima secara luas. Praktek-prakteksanitasi yang diarahkan pada
pengobatan tinja manusia sebelum ia digunakan sebagai pupuk dan menyediakan fasilitas
pembuangan sampah mungkin merupakan cara-cara pencegahan melawab askariasis yang
paling efektif.

Strongyloides stercoralis

http://www.google.com/search?
hl=en&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1024&bih=499&oq=+Cacing+Strongyloide
s+stercorali&gs_l=im

Klasifikasi Strongyloides stercoralis


Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Subclass : Adenophorea
Ordo : Enoplida
Super famili : Rhabiditoidea
Genus : Strongyloides
Species : Strongyloides stercoralis

Epidemiologi, distribusi geografis dan Kondisi Penyebaran terkini

Epidemiologi

Daerah yang panas, kelembapan tinggi dan sanitasi yang kurang, sanagt menguntungkan cacing
Strongyloides.Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva yaitu, tanah gembur, berpasir dan
humus.Frekuensi di Jakarta pada tahun 1956, sekitar 10-15%, sekarang jarang
ditemukan.Pencegahan yang disebabkan cacing ini, tergantung pada sanitasi pembuangan tinja
dan melindungi kulit dari tanah yang terkontanimasi, misalnya dengan memakai alas kaki.

distribusi geografis dan Kondisi Penyebaran terkini

Infeksi S. Stercoralis tersebar luas di seluruh daerah tropis dan daerah beriklim sedang, jarang
ditemui di daerah beriklim dinginmeskipun infeksi ini kurang lazim daripada infeksi oleh cacing
kremi usus lain.

Distribusi Penyakit
Tersebar di daerah beriklim tropis atau subtropis, umumnya di daerah panas dan lembab.
Prevalensi penyakit di daerah endemis tidak diketahui secara pasti. Prevalensi tinggi
ditemukan pada masyarakat dengan kondisi kebersihan perorangan yang jelek. S.
fulleborni dilaporkan hanya terdapat di Afrika dan Papua New Guinea.

MORFOLOGI
Cacing dewasa
Cacing dewasa berbentuk seperti benang halus tidak berwarna. Cacing betina yang hidup sebagai
parasit, dengan ukuran 2,20 x 0,04 mm, adalah nematoda filariform yang kecil, tak berwarna,
semi transparan dengan kutikulum yang bergaris halus. Cacing ini mempunyai ruang mulut dan
oesophagus panjang, langsing dan silindris. Sepanjang uterus berisi sebaris telur yang berdinding
tipis, jenih dan bersegmen. Cacing betina yang hidup bebas lebih kecil dari pada yang hidup
sebagai parasit di vilus duodenum dan yeyunum, menyerupai seekor nematoda rabditoid khas
yang hidup bebas dan mempunyai sepasang alat reproduksi. Cacing jantan yang hidup bebas
lebih kecil dari pada yang betina dan mempunyai ekor melingkar.

Telur
Telur dari bentuk parasitik, sebesar 54 x 32 mikron berbentuk bulat oval dengan selapis dinding
yang transparan. Bentuknya mirip dengan telur cacing tambang, biasanya diletakkan dalam
mukosa usus, telur itu menetas menjadi larva rabditiform yang menembus sel epitel kelenjar dan
masuk kedalam lumen usus serta keluar bersama tinja. Telur jarang ditemukan di dalam tinja
kecuali sesudah diberi pencahar yang kuat.

Siklus Hidup:
Parasit ini mempunyai tiga siklus hidup:

Siklus langsung

Sesudah 2 sampai tiga hari di tanah, larva rabditiform yang berukuran kira-kira 225 x 16 mikron,
berubah menjadi larva filariform dengan bentuk langsing dan merupakan benruk infektif.
Panjangnya kira-kira 700 mikron. Bila menembus kulit manusia, larva tumbuh, masuk ke dalam
peredaran darah vena dan kemudian melalui jantung kanan sampai ke paru. Dari paru parasit
yang mulai menjadi dewasa menembus alveolus, masuk ke trakhea dan laring. Sesudah sampai
di laring terjadi refleks batuk, sehingga parasit tertelan, kemudian sampai di usus halus bagian
atas dan menjadi dewasa. Cacing betina yang dapat bertelur ditemukan kira-kira 28 hari sesudah
infeksi.

2) Siklus tidak langsung

Pada siklus tidak langsung, larva rabditiform di tanah berubah menjadi cacing jantan dan cacing
betina bentuk bebas. Bentuk-bentuk yang berisi ini lebih gemuk dari bentuk parasitik. Cacing
yang betina berukuran 1 mm x 0,06 mm, yang jantan berukuran 0,75 mm x 0,04 mm,
mempunyai ekor melengkung dengan dua buah spikulum. Sesudah pembuahan, cacing betina
menghasilkan telur yang menetas menjadi larva rabditiform. Larva rabditiform dalam waktu
beberapa hari dpat menjadi larva filariform yang infektif dan masuk ke dalam hospes baru, atau
larva rabditiform tersenut dapat juga mengulangi fase hidup bebas. Siklus tidak langsung ini
terjadi bilamana keadaan lingkungan sekitarnya optimum yaitu sesuai dengan keadaan yang
dibutuhkan untuk kehidupan bebas parasit ini, misalnya di negerinegeri tropic dengan iklim
lemabab. Siklus langsung ini sering terjadi di negeri-negeri yang lebih dingin dengan keadaan
yang kurang menguntungkan untuk parasit tersebut.

3) Autoinfeksi

Larva rabditiform kadang-kadang menjadi larva filariform di usus atau daerah sekitar anus
(perianal), misalnya pada pasien penderita obstipasi dan pada pasien penderita diare.Bila larva
filariform menembus mukosa usus atau kulit perianal, maka terjadi suatu daur perkembangan di
dalam hospes Adanya autoinfeksi dapat menyebabkan strongiloidiasis menahun pada penderita
yang hidup di daerah non endemik. (Srisasi Gandahusada, Ilahude, Wita Pribadi, 2006 )

Patologi

Bila larva filariform dalam jumlah besar menembus kulit, timbul kelainan yang dinamakan
creeping eruption yang sering disertai dengan rasa gatal yang hebat.Cacing dewasa
menyebabkan kelainan pada mukosa usus muda. Infeksi ringan dengan Strongyloides pada
umumnya terjadi tanpa diketahui hospesnya karena tidak menimbulkan gejala. Infeksi sedang
dapat menyebabkan rasa sakit seperti tertusuk-tusuk di daerah epigastrium tengah dan tidak
menjalar. Mungkin ada mual, dan muntah, diare dan konstipasi saling bergantian. Pada
strongiloidiasis ada kemungkinan terjadi autoinfeksi dan hiperinfeksi. Pada hiperinfeksi
cacing dewasa yang hidup sebagai parasit dapat ditemukan di seluruh traktus digestivus dan
larvanya dapat ditemukan di berbagai alat dalam (paru, hati, kandung empedu). Sering
ditemukan pada orang yang mengalami gangguan imunitas dan dapat menimbulkan
kematian.Pada pemriksaan darah mungkin ditemukan eosinofilia atau hiperesinofilia
meskipun pada banyak kasus jumlah sel eosinofil normal. (Srisasi Gandahusada, Ilahude,
Wita Pribadi, 2006)

Pecegahan
a. Pakailahalat-alatyang menyehatkanuntukpembuangankotoranmanusia.
b. Pakailahsepatuwaktubekerjadikebun.
c. Rawatlahpenderitayang sudahterkenapenyakittersebut
d. Sanitasi pembuangan tinja
e. Melindungi kulit dari tanah yang terkontaminasi, misal dengan memakai alas kaki
f. Penerangan kepada masyarakat mengenai cara penularan, dan cara pembuatan serta
pemakaian jamban.

Pengendalian

Praktek-praktek kebersihan yang dirancang untuk mencegah penularan dari tanah dan dari orang-
ke-orang merupakan cara-cara pengendalian yang paling efektif. Karena infeksi tidak lazim,
deteksi dan pengobatan kasus dianjurkan. Individu yang akan merupakan sasaran terapi
imunosupresi harus mengalami pemeriksaanskrining untuk S. stercoralis dan, jika terinfeksi,
diobati dengan tiabendazol.