Anda di halaman 1dari 17

KENAIKKAN TUNJANGAN ANGGOTA DPR RI TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA (Anggaran Tahun 2016) Oleh: Ibnu Attoillah, Anggraini Wahyu H, Faradina Dyah Wulan Sari, Faiza Ittaqi, Suryo Laksono P.W. Keterangan: , Mahasiswa Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret

Abstrak

Paper ini menggambarkan kenaikkan tunjangan anggota DPR RI terhadap pengukuran kinerjanya, dilihat dari segi Legislasi, Pengawasan, dan Anggaran yang merupakan Fungsi dari DPR Indonesia. Sebelum membahas fungsi tersebut akan dijelaskan mengenai tugas dan pokok DPR sebagai parlemen Indonesia. Disinggung dari masa ke masa dengan studi kasus tahun 2015 tentang persetujuan kenaikkan tunjangan bagi anggota DPR untuk anggaran tahun 2016.

Pendahuluan

Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia dihebohkan kembali dengan keputusan Menteri Keuangan yang mengabulkan pengajuan kenaikan tunjangan anggota DPR yang akan dimasukkan kedalam APBN 2016. Hal ini tentu saja menjadi sorotan luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Dengan ditandatanganinya Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor S- 520/MK.02/2015, setidaknya para anggota DPR akan mengantongi uang saku bulanan sebesar Rp 61 juta rupiah jika mereka hanya sebagai anggota komisi dan tidak menjabat sebagai alat kelengkapan dewan apapun. Jika diakumulasikan maka dalam APBN 2016 nanti, Negara harus menganggarkan setidaknya Rp 34 Miliar Rupiah per bulan untuk membayar gaji dan tunjangan 560 anggota DPR yang sampai saat ini belum memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat atau sekitar Rp 400 Miliar per tahun. Sejak dilantik

pada tanggal 1 Oktober 2014 lalu, para anggota DPR telah melakukan beberapa hal yang patut diapresiasi, namun tidak sedikit pula kinerja DPR menjadi sorotan masyarakat luas. Kenaikan gaji dan tunjangan sebenarnya merupakan hal yang wajar dan lumrah dilakukan dan diberikan kepada para anggota DPR. Jika kita mengukur maupun melihat bagaimana kinerja DPR dalam satu tahun terakhir dan kinerja DPR sebelumnya maka kita dapat menilai bagaimana kelayakan tunjangan tersebut terhadap kinerjanya. Pengukuran kinerja sektor publik tidaklah mudah karena indikator yang digunakan tidak hanya berbasis keuangan (dalam hal ini anggaran DPR) tapi juga harus berdasarkan indikator non finansial (Jones, 2015 : p.18). Sehingga untuk mengukur kinerja harus dilihat dari fungsi utama tersebut. Namun, apakah semakin banyak undang undang yang dihasilkan maka kinerja DPR bisa dikatakan baik? Bagaimana jika UU tersebut tidak mencerminkan aspirasi rakyat banyak? Atau apakah jika serapan anggaran rendah maka kinerja DPR buruk? Sedangkan jika anggaran terserap maksimal maka kinerja DPR baik? Bagaimana jika serapan anggaran tersebut ternyata digunakan untuk program-program yang kurang bermanfaat bagi masyarakat umum? Untuk itulah indicator yang bersifat kuantitatif tersebut kurang efektif untuk mengukur kinerja DPR secara komprehensif (Tim Peneliti CEPP UI, 2014). Namun bukan tidak mungkin kinerja tersebut tidak dapat diukur. DPR sebagai pihak yang mengemban amanat rakyat harus mampu mewujudkan visi yang diembannya, yaitu: ―Terwujudnya DPR RI sebagai lembaga perwakilan yang kredibel dalam mengemban tanggung jawab mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur‖. Visi tersebut dapat terwujud bila DPR mampu menjalankan fungsi utamanya sesuai UU 17 tahun 2014 pasal 69 yaitu fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Asumsinya, bila ketiga fungsi ini dilakukan dengan baik (menetapkan produk hukum dan peraturan perundangan yang tepat, mengalokasikan penggunaan anggaran sesuai kebutuhan dan memastikan bahwa lembaga eksekutif bekerja dengan efektif) maka visi Dewan dapat tercapai (Tim Peneliti CEPP UI, 2014;Mar’iyah,2015). Maka, setelah hampir setahun mendapatkan amanah sebagai Wakil Rakyat di Senayan, apakah kenaikan tunjangan bagi 560 wakil rakyat ini adalah hal yang

pantas untuk mereka terima sebagai bentuk apresiasi kinerja mereka selama ini? Apakah hal ini dapat diterima rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam berdemokrasi di Indonesia? Berikut penjelasan mengenai pengukuran kinerja terhadap beberapa fungsi dan tugas pokok DPR.

DPR RI Sebagai Parlemen Indonesia.

Suatu negara hanya akan hidup dan bergerak dinamis jika dijalankan oleh lembaga-lembaga negara sebagai pemegang kekuasaan negara(Zoelva 2008). Sedangkan kekuasaan negara itu dijalankan oleh lembaga-lembaga negara pada tingkat pusat maupun oleh lembaga negara pada tingkat lokal/daerah(Zoelva 2008). Melihat perkembangan sepanjang tahun 2002, sulit mencari bahasa yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR (Isra 2010). Berdasarkan UUD 1945 DPR merupakan lembaga legislative negara sebagaimana halnya yang dikenal dalam trias politica(Zoelva 2008). Namun yang sering mengalami perubahan yaitu dalam praktek ketatanegaraan, pelaksanaan tugas dan wewenang serta fungsi DPR yang sangat dipengaruhi situasi politik dan politik pemerintahan(Kassogy 2005). DPR Periode 20142019 memiliki keinginan agar lembaga ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi rakyat melalui pelaksanaan berbagai fungsinya (DPR RI 2015). Sebagai lembaga parlemen yang sesungguhnya, DPR mempunyai fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan, bahkan memiliki fungsi untuk memberikan pertimbangan/persetujuan(Suryani 2010). Fungsi Legislasi dilaksanakan oleh DPR selaku pemegang kekuasaan pembentuk Undang- Undang(Hiz 2015). Di bidang legislasi tentu diawali dengan penyusunan dan penetapan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 20152019. Pengaturan proses pembentukan Undang-undang dapat dilihat dalam UU No. 27 Tahun 2009 Tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD dan UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang membagi pembentukan Peraturan Perundang-undangan menjadi beberapa tahapan, yaitu perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan,pengesahan, pengundangan dan penyebarluasan(Norisman Tumuhu 2013).

Namun, terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan menurunnya eksistensi DPR dalam menjalankan fungsi legislasinya(Norisman Tumuhu 2013) yakni, kurangnya mempedomani landasan dan asas pembentukan Peraturan Perundang- undangan yang baik, kajian Naskah Akademik yang tidak mendalam, penyusunan Prolegnas yang tidak sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat, serta tidak adanya harmonisasi dan sinkronisasi Peraturan Perundang- undangan. Kemudian Fungsi Anggaran dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang mengenai APBN yang diajukan oleh presiden(Undip n.d.). Yang terkait dengan fungsi anggaran DPR adalah hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan kebijakan dalam bentuk program-program kerja pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai tujuan bernegara sebagaimana ditentukan dalam UUD 1945(Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie. SH. 2011). Karena itu, pelaksanaan fungsi anggaran DPR haruslah dimulai dengan penjabaran pelbagai kebijakan- kebijakan yang tertuang dalam bentuk hukum yang berlaku berupa program- program kerja pemerintahan dan pembangunan(Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie. SH. 2011). Fungsi Pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN serta kebijakan pemerintah(FORMAPPI 2010). Dalam menjalankan fungsi pengawasan DPR melakukannya Melalui kegiatan komisi yang dilakukan dengan mengadakan rapat-rapat DPR ; 1. Rapat Kerja 2.Rapat Dengar Pendapat 3.Rapat Dengar Pendapat Umum 4. Kunjungan Kerja 5. Rapat Konsultasi dengan DPD(FORMAPPI 2010). Kekuasaan ke tangan DPR bertambah banyak dengan adanya kewenangan untuk mengisi beberapa jabatan strategis kenegaraan, misalnya menentukan tiga dari sembilan orang hakim Mahkamah Konstitusi, dan memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan menentukan Kapolri(Isra 2010). Perhatian banyak kalangan terhadap DPR RI sejak era reformasi memang jauh meningkat, termasuk meningkatnya harapan dan tuntutan pada lembaga perwakilan ini(Kassogy 2005). Perhatian tersebut dapat dilihat dari berbagai aspirasi masyarakat yang disampaikan atas hasil kinerja pemerintah. Keberhasilan untuk secara konsisten mengetahui kehidupan masyarakat yang diwakilinya,

berjalan lurus dengan upaya untuk meningkatkan aspirasi yang disampaikan masyarakat(Andea 2013). DPR dirasa mulai kehilangan kemampuan dalam merespon dan mengekspresikan kepentingan publik(Isra 2010). DPR lebih memikirkan kepentingan sendiri: dana aspirasi, pembangunan gedung DPR, mobil mewah, rumah dinas namun tidak responsif terhadap permasalahan rakyat(FORMAPPI 2010). DPR dianggap tidak memiliki cukup ahli (baik anggota sendiri atau staf ahli) dalam menyusun anggaran, bahkan dalam menyusun anggaran untuk dirinya dilakukan oleh Setjen DPR yang nota bene adalah birokrasi pemerintah(FORMAPPI 2010). Contoh lain dalam pelaksanaan kinerjanya adalah dalam penjaminan kesehatan bagi masyarakat yang realitasnya masih ditemukan banyak kesulitan, Realitas ini menunjukkan DPR dan pemerintah tidak serius mengurus pengelolaan jaminan sosial, termasuk biaya kesehatan bagi masyarakat(FORMAPPI 2010).

Efektivias Kinerja DPR Dilihat Dari Legislasi

Sistem pemerintahan yang dianut di Indonesia adalah presidensial dan sistem parlemennya adalah soft bikameral. Karakter perwakilan yang di pakai dalam UUD 1945 adalah perwakilan politik (Dewan Perwakilan Rakyat). Dewan Perwakilan Rakyat menjalankan fungsinya sebagai perwakilan politik sekaligus sebagai wakil rakyat. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai porsi yang tepat dalam UUD 1945 yaitu selayaknya lembaga perwakilan pada umumnya (Akbarrudin 2013). Secara konstitusional, DPR RI memiliki fungsi utama yakni fungsi legislasi dalam rangka menjalankan fungsi representasi Dewan. Terkait dengan fungsi legislasi, DPR memiliki tugas dan wewenang yaitu: a) Menyusun Program Legislasi Nasional (Prolegnas), b) Menyusun dan membahas Rancangan Undang-Undang (RUU), c) Menerima RUU yang diajukan oleh DPD (terkait otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah; pengelolaan SDA dan SDE lainnya; serta perimbangan keuangan pusat dan daerah), d) Membahas RUU yang diusulkan oleh Presiden ataupun DPD, e) Menetapkan UU bersama dengan Presiden, f) Menyetujui atau tidak menyetujui peraturan pemerintah pengganti UU

(yang diajukan Presiden) untuk ditetapkan menjadi UU (http://www.dpr.go.id/tentang/tugas-wewenang). Tugas Komisi dalam pembentukan undang-undang (legislasi) adalah mengadakan persiapan, penyusunan, pembahasan, dan penyempurnaan Rancangan Undang-Undang yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya (Faizal et al. 2010). Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donnelly, Gibson and Ivancevich: 1994). Untuk dapat melaksanakan fungsi ini dengan baik memang sangat diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap persoalan yang dihadapi, wawasan yang luas, dan tentu saja kemampuan teknis yang memadai. Selain itu tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk dapat menghasilkan suatu produk legislasi yang berkualitas, memerlukan proses yang tidak gampang (Wismar E,

2004).

Pergeseran kekuasaan legislasi di pemerintah dari eksekutif kepada legislatif ternyata belum disertai dengan peningkatan kinerja DPR dalam mempersiapkan dan menyusun RUU yang berasal dari inisiatif DPR. Kondisi inilah yang selama ini terjadi fenomena dan permasalahan dari DPR di Indonesia (Rusli 2013). Sekarang, proses legislasi lebih substansial, undang-undang dicermati dan diperdebatkan terlebih dahulu sebelum ditetapkan. Sehingga masuk akal bila tidak semua undang-undang bisa diselesaikan sesuai tenggat waktu yang telah disepakati. Kedua, Dewan terkendala oleh ketidak-sinkronan waktu antara penetapan Prolegnas, penetapan anggaran, dan Laporan Kinerja DPR RI. Inisiator RUU Prolegnas di tahun 2010-2014 DPR mengeluarkan 211 RUU sedangkan UU yang terealisasi sebanyak 52 oleh DPR. Sedangkan prolegnas tahun 2015-2019 menyusun RUU sebanyak 98 dan Prolegnas prioritas di tahun 2015 sebanyak 27 (http://www.dpr.go.id/uu/prolegnas-long-list). UU yang berhasil diselesaikan tidak sampai separuh dari target RUU setiap tahunnya. Produktivitas DPR yang rendah dalam membuat UU berbanding terbalik dengan anggaran yang dihabiskan. Indonesia Budget Center mencatat, tahun 2014

anggaran DPR Rp 2,37 triliun sedangkan dibanding tahun 2015 anggaran naik sebesar 3,556 triliun. Kondisi aras dan dinamika politik yang ada di tubuh institusi wakil rakyat tampaknya sangat berpengaruh pada kinerja dan keberpihakan DPR. Maka dari itu penilaian kinerja DPR tidak dapat diukur hanya dengan banyaknya produk undang-undang yang dihasilkan, akan tetapi produk legislasi merupakan konsensus gagasan nasional yang didasarkan atas kompleksitas pemikiran dari seluruh anggota DPR dan pemerintah yang sulit dan dibatasi oleh waktu. Hal tersebut wajar karena DPR merupakan lembaga politik representasi rakyat, dimana segala ide dan gagasan dituangkan (Dpr et al. 2015). Menurut Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia, pada tahun 2009 terdapat 52 produk UU yang terbit. Sedangkan pada tahun 2010, nampaknya terjadi penurunan dengan hanya terdapat 13 produk perundang-undangan yang terbit. Pada tahun 2011 terbit 13 produk undang- undang. Pada tahun 2012 terdapat 24 UU yang terbit. Pada tahun 2013 terdapat 24 produk UU yang terbit. Pada tahun 2014, merupakan tahun yang cukup produktif dengan 42 produk UU yang terbit dan pada tahun 2015 ini, menjadi tahun yang paling tidak produktif bagi anggota parlemen dengan 11 produk UU yang terbit dari sisa waktu satu bulan hingga tahun ini berakhir.

Banyak faktor yang melemahkan DPR melalui perubahan cara kerja dan memperbaiki mekanisme penyusunan dan pembahasan

Banyak faktor yang melemahkan DPR melalui perubahan cara kerja dan memperbaiki mekanisme penyusunan dan pembahasan Rancangan Undang- undang dalam Peraturan Tata Tertib berdasarkan Undang-undang (Tumuhu 2013). Perkembangan memang menunjukkan bahwa jumlah rancangan undang-undang yang berasal dari DPR jauh lebih banyak dibandingkan dengan era sebelumnya. Tetapi itu pun belum mencukupi karena UUD 1945 lebih mengutamakan DPR mempergunakan fungsi legislasi dibandingkan dengan fungsi yang lain. Meski ada peningkatan jumlah rancangan undang-undang yang berasal dari DPR, beberapa draf yang dihasilkan masih jauh dari sempurna (Eridani I Made 2015). Bahkan di mana badan pembuat undang-undang mempunyai kendali yang efektif atas pemimpin eksekutif (Pemerintah) yang menyusun RUU. Hubungan antara eksekutif dan badan pembuat undang-undang di dalam penganggaran adalah yang kompetitif di dalam banyak sistem. Badan pembuat undang-undang (DPR) bersaing dengan para eksekutif untuk mempengaruhi perumusan anggaran terhadap kendali atas tindakan-tindakan eksekutif. Ironisnya, perubahan- perubahan yang dimulai oleh para eksekutif untuk memperkuat Negara, malah

melemahkan peran-peran mereka

pembuat undang-undang untuk mengadopsi ukuran-ukuran yang serupa(Posner & Park 2007).

melalui badan

sendiri di dalam penganggaran

Efektifitas kinerja DPR dilihat dari Fungsi Pengawasan

Sejalan dengan upaya untuk perbaikan kinerja, analisis terhadap kinerja organisasi pemerintah menjadi sangat penting. Dengan analisis kinerja, informasi mengenai kinerja dan faktor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap kinerja dapat diketahui. Agar analisis meng-hasilkan informasi kinerja yang sebenarnya, maka diperlukan pengukuran kinerja yang obyektif dan komprehensif. Obyektif dan komprehensif mengandung arti bahwa kinerja diukur baik dari segi finansial maupun non finansial dan dari segi internal maupun eksternal organisasi (Rahmawati & Suwitri 2006). Pengukuran kinerja dikelompokkan dalam tiga kategori indikator, yaitu (1) indikator pengukuran kinerja service efforts, (2) indikator pengukuran service accomplishment, dan (3) indikator yang menghubungkan antara efforts dengan accomplishment (Arja Sadjiarto 2000). DPR sebagai salah satu lembaga dari sistem politik di Indonesia yang terkandung dalam UUD 1945, adalah sebuah lembaga aktif. Sikap dan tingkah lakunya dapat saja berubah-ubah dari waktu ke waktu, sejauh perubahan itu masih dalam kerangka aturan-aturan pokok yang terkandung dalam UUD 1945 (Sulistyowati 2011). Salah satu fungsi DPR berdasarkan UUD 1945 adalah fungsi pengawasan, yaitu DPR dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelaksana undang- undang, pelaksanaan anggaran dan belanja negara dan atas kebijaksanaan pemerintah (Jacobus 2013). Pengawasan merupakan hal penting dalam upaya untuk menjamin bahwa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan tujuan untuk dapat tercapai (Muhi 2011). Dalam menjalankan fungsinya, DPR periode sekarang ini dinilai sangat rendah kinerjanya. Padahal kinerja pemerintah dapat dianggap sukses atau berhasil jika sudah memenuhi kriteria seperti pernyataan berikut “For successful e-government endeavor, two critical requirements are needed: availability and

accessibility” (Almarabeh & Abu Ali 2010). Artinya adalah pemerintah dalam hal ini DPR harus efisien dan transparan dalam melakukan suatu kebijakan, karena masyarakat selalu menyorot kebijakan-kebijakan DPR yang dianggap kontroversial dan tidak sesuai dengan fungsinya. Sebagai contoh pada tahun 2014 ketika anggota DPR berencana membangun gedung DPR baru yang diestimasi menghabiskan dana sebesar Rp 2,7 triliun, kemudian pelaksanaan kujungan kerja ke luar negeri yang anggarannya tidak realistis dan kebanyakan tidak sesuai dengan tujuan kunjungan kerja. Tentunya hal tersebut menjadi bumerang bagi DPR jika dilihat dari fungsi pengawasan, karena seharusnya DPR lebih bijak menggunakan kebijakan tersebut apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit seperti ini. Tentunya hal ini menjadi salah satu penyebab citra buruk DPR di mata masyarakat Indonesia pada umumnya. Menurut (Widhiastuti 2014) tujuan organisasi akan berhasil apabila ada kebersamaan dan komitmen diantara para pemegang kendali organisasi tersebut. Negara merupakan organisasi terbesar yang dikelola dengan kompleksitas yang tinggi. Oleh karena itu agar dapat tercipta good governance tentunya diperlukan manajemen berbasis kinerja yang sangat baik. Menurut (Rasul 2008) manajemen berbasis kinerja merupakan suatu metode untuk mengukur kemampuan program atau aktivitas yang dilakukan organisasi publik atau instansi pemerintah dalam mencapai hasil atau outcome yang diharapkan oleh para pemangku kepentingan (stakeholders). Salah satu komponen penting dari good governance adalah akuntabilitas publik, yang merupakan pemberian informasi dan pengungkapan aktivitas dan kinerja pemerintah pada publik (Ulum 2011). Diharapkan DPR dalam hal melakukan fungsi pengawasan benar-benar serius akan hal ini, seperti pernyataan berikut ini ‖pengawasan‖ sering diartikan dengan kata ―kontrol, supervisi, monitoring atau auditing‖ (Yusuf n.d.). Seperti maknanya DPR harusnya jadi pengawas di setiap kebijakan pemerintah, DPR harusnya menjadi wakil rakyat seperti yang sudah diamanatkan dalam UUD 1945, bukan malah jadi elemen politik yang sibuk akan kepentingannya sendiri tetapi kemudian seakan- akan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya.

Efektifitas kinerja DPR dilihat dari Fungsi Anggaran

Salah satu upaya untuk mewujudkan good governance, akuntabilitas, transparansi informasi, dan partisipasi public dalam penyusunan, pengelolaan dan pengawasan anggaran merupakan hal yang sangat essensial sebagai salah satu wujud dari demokrasi (Seknas FITRA, 2012; Bertot et al, 2011; Cameron, 2004; Casey (2006) dalam Biondi dan Lapsley, 2014). Untuk itu indicator yang akan digunakan penulis untuk menilai kinerja DPR-RI dari fungsi anggaran akan menitikberatkan pada akuntabilitas pengelolaan anggaran. Meliputi, dan transparasi dan tingkat partisipasi publik. Analisis akan didasarkan pada hasil open budget survey IBP (International Budget Partnership). IBP merupakan organisasi internasional yang memberikan penilaian terhadap kinerja anggaran negara-negara di dunia berdasarkan kuisioner yang disusun tim IBP.

di dunia berdasarkan kuisioner yang disusun tim IBP. Sumber : IBP (2015) Menurut Harrison dan Sayogo

Sumber : IBP (2015) Menurut Harrison dan Sayogo (2014), demokrasi, human capital, dan pengungkapan dokumen anggaran berhubungan secara konsisten dengan transparansi, akuntabilitas dan campur tangan Supreme Audit Authority dalam sektor publik. Transparansi merupakan kunci utama untuk mewujudkan mekanisme good governance (Lapsley dan Rios, 2015). IBP menilai transparansi anggaran dengan menggunakan 109 kuisioner, dan untuk indicator ini Indonesia mendapat skor 59. Hal ini dikarenakan dari 8 dokumen anggaran ada beberapa dokumen yang tidak dibuat dan atau tidak dipublikasikan secara tepat waktu oleh

pemerintah (DPR). Misalnya dokumen Pre-Budget Statement. Selain itu kualitas informasi yang terkandung dalam dokumen juga tidak luput dari indikator penilaian.

dalam dokumen juga tidak luput dari indikator penilaian. Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa tingkat transparansi

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa tingkat transparansi anggaran di Indonesia masih lebih baik disbanding negara tetangga, Malaysia, Timor Leste dan Papua Nugini. Namun masih jauh tertinggal dari Selandia Baru yang menduduki urutan pertama dalam hal transparansi anggaran. Selandia Baru merupakan negara pertama di dunia yang mampu melakukan reformasi system akuntansi di sektor public sehingga mampu menyajikan akun-akun fiscal, termasuk neraca, menggunakan accrual accounting ( Cangiano, 1996). Menurut Cangiano, dengan menyajikan aku-akun yang sepenuhnya berbasis akrual, penilaian terhadap kinerja keuangan dapat dilakukan dengan lebih transparan. Bolton (2003) juga memiliki pendapat yang sama bahwa dengan adanya adopsi yang sesuai dalam hal pelaporan keuangan dari sektor privat ke sektor public (accrual accounting) akan menambah akuntabilitas laporan tersebut. Sedangkan dari segi partisipasi public dalam penyusunan anggaran, pemerintah hanya mendapat 35 poin dan masuk kategori ―limited‖. Hal ini mengindikasikan bahwa kesmpatan yang diberikan pada public untuk ikut andil

dalam proses anggaran terbatas. Partisipasi public dalam penyususnan anggaran bisa berupa public hearing atau public consultations forum (Seknas FITRA). Waheduzzaman (2010) dalam penelitiannya di Bangladesh mengungkapakan ada beberapa hal yang membuat tingkat partisipasi public dalam urusan pemerintah rendah, yaitu karena secara mental masyarakat belum siap untuk mengikuti program-program yang dibuat pemerintah atau karena masyarakat tidak bisa menilai nilai (value) yang bisa diperoleh dari keterlibatan mereka dalam program pemerintah. Hal ini mungkin juga berlaku di masyarakat Indonesia sehingga menyebabkan tingkat partisipasi masyarakat dalam siklus anggaran rendah.

Kesimpulan:

Kenaikan gaji dan tunjangan bagi para pejabat politik merupakan hal yang sangat wajar. Tidak ada peraturan dan perundang-undangan apapun di negeri ini yang melarang hal tersebut terjadi. Begitupun dengan kondisi yang saat ini terjadi dengan para anggota DPR yang telah menerima kenaikan tunjangan untuk periode anggaran 2016 mendatang. Namun, seperti beberapa hal yang kami telah uraikan diatas pula ada beberapa hal yang mungkin dapat menjadi pertimbangan untuk tidak menyetujui kenaikan tunjangan DPR ini. Setidaknya ada dua hal mendasar yang menjadi hal fundamental mengapa kenaikan tunjangan bagi para anggota DPR ini patut untuk tidak disetujui.

1.

Public Trust

Kepercayaan masyarakat terhadap kinerja para anggota dewan semakin lama semakin rendah. Belum lama terjadi kasus ―Papa minta saham‖ yang menyangkut ketua DPR, Setya Novanto, sebelumnya juga terdapat kasus ―Megaproyek gedung baru DPR‖. proyek besar yang ditaksirkan menghabiskan dana Rp. 124 miliar yang merupakan fasilitas-fasilitas yang hendak dibangun dan tidak disandarkan pada urgensi yang jelas. Citra DPR juga identik dengan kepentingan politik pribadi atau golongan, sehingga antar elemen di tubuh DPR terbagi-bagi dalam kepentingan politik. Selain itu, kinerja DPR juga menjadi indikator bahwa mereka saat ini belum layak mendapatkan apresiasi berupa

kenaikan tunjangan. Seperti yang telah tertulis diatas, dari 39 prolegnas prioritas hanya 3 yang berhasil dilaksanakan, namun hal tersebut dalam bentuk PERPU.

2.

Kondisi Perekonomian

Bukan hal yang baru lagi bagi kita, bahwa kondisi perekonomian di Indonesia saat ini memang tengah mengalami penurunan. Dari mulai dollar yang telah melebihi RP 14.000,- dan merupakan nilai tukar terendah sejak era Reformasi, pertumbuhan ekonomi yang melambat, ekspor yang menurun, kenaikan harga barang pokok, PHK yang mulai terjadi di berbagai daerah di nusantara. Kondisi seperti ini tentu saja mempersulit masyarakat, apalagi angka

kemiskinan mengalami kenaikan sebesar 0,86 juta orang atau saat ini ada sekitar 28,59 juta rakyat Indonesia yang dinyatakakan BPS berada di bawah garis kemiskinan (BPS. 2015). Jika kemarin DPR berdalih kenaikan tunjangan ini karena inflasi yang mengalami kenaikan, maka sepatutnya rakyat lah yang menerima tunjangan akan kenaikan inflasi yang saat ini mencapai kisaran 5% (BI. 2015). Maka rakyat lah yang sepatutnya mendapatkan perhatian lebih ketika kondisi perekonomian tengah sulit seperti ini, karena dapat dipastikan bahwa, kondisi rakyat Indonesia yang saat ini berada di bawah garis kemiskinan pasti jauh lebih sulit kondisinya dibanding para anggota DPR yang saat ini tengah duduk manis Senayan sana. Dengan demikian kenaikan tunjangan bagi para anggota DPR ini merupakan hal yang sepatutnya tidak terjadi. Kenaikan tunjangan bagi para anggota DPR in bukanlah opsi yang tepat untuk dapat meningkatkan kinerja para anggota dewan yang saat ini masyarakat luas belum merasakan manfaat nya secara signifikan. Mungkin, jika kondisi nya berbalik dan kinerja para anggota DPR sangat luar biasa memuaskan masyarakat dan dampak yang diberikan dapat dirasakan secara signifikan oleh masyarakat, pasti masyarakat Indonesia akan menyetujui rencana kenaikan gaji maupun tunjangan bagi para anggota DP R. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kebijakan ini dicabut oleh pemerintah yang menandatangi Surat Keputusan yang menyatakan bahwa tunjangan DPR akan mengalami kenaikan di tahun anggaran 2016 mendatang.

Daftar Pustaka

2015. Open Budget Survey Index Ranking 2015. International Budget Partnership

2015. Country Summary : Open Budget Survey. International Budget Partnership (http://internationalbudget.org/wp -content/uploads/OBS2015-CS-Indonesia-English.pdf)

Akbarrudin, A., 2013. Pelaksanaan Fungsi Legislasi DPR RI dan DPD RI Pasca Amandemen UUD 1945. Pandecta, (Vol 8, No 1 (2013)). Available at:

Almarabeh, T. & Abu Ali, A., 2010. A General Framework for E-Government : Definition Maturity Challenges , Opportunities , and Success. Europen Journal of Science Research, 39(1), pp.2942.

Andea, F.G., 2013. Kinerja Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam Penyerap an Aspirasi Masyarakat Di Kabupaten Halmahera Utara. Governance, 5(1). Available at:

Arja Sadjiarto, 2000. Akuntabilitas dan pengukuran kinerja pemerintahan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 2(2), pp.pp.138150. Available at:

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/aku/article/view/15674.

Bertot, et al. 2011. Promoting Transparency And Accountability Through Icts, Social Media, And Collaborative E-Government. Transforming Government: People, Process and Policy Vol. 6 No. 1, 2012 pp. 78-91

Biondi, Lucia dan Irvine Lapsley. 2014. Accounting, Transparency and Governance: The Heritage Assets Problem. Qualitative Research in Accounting & Management Vol. 11 No. 2, 2014 pp. 146-164

Bolton, Mike. 2003. Public Sector Performance Measurement: Delivering Greater Accountability. Work Study Vol.52 No. 1, 2003 pp. 20-24

BPS. 2015. http://bps.go.id/brs/view/1158 Diakses 3 Desember 2015.

Cameron, Wayne. 2004. Public Accountability: Effectiveness, Equity, Ethics. Australian Journal of Public Administration Vol. 63 No. 4, pp. 5967

Cangiano, Marco. 1996. Accountability and Transparency in Public Sector: New Zea land Experience. Working Paper of International Monetery Fund

Departemen Kajian Strategis

BEM UI. 2015 DPR Naikkan Tunjangan . Depok: BEM UI 2015.

Dpr, L. et al., 2015. Langkah dpr menuju parlemen modern dalam demokrasi indonesia laporan kinerja dpr (1 oktober 2014 13 agustus 2015).

DPR RI, 2015. Langkah dpr menuju parlemen modern dalam demokrasi indonesia laporan kinerja dpr (1 oktober 2014 13 agustus 2015).

Eridani

I Made, E.D.P., 2015. FUNGSI LEGISLASI DPR DALAM PEMBENTUKAN

UNDANG-UNDANG.

Kertha Negara, (Vol. 03, No. 03, September 2015). Available at:

Faizal, D.A., Si, M. & Pengantar, K., 2010. KINERJA TAHUNAN P e r i o d e.

FORMAPPI, 2010. Satu Tahun Kinerja DPR: Kepercayaan Publik yang Teringkari. , (September).

Harrison, M. Teressa dan Djoko Sigit S. 2014. Transparency, Participation, and Accountability Practices in Open Government: A Comparative Study. Government Information Quarterly Vol. 31 pp. 513-525

Hiz, N.E.M.Z., 2015. TATA KELOLA

PERUSAHAAN NEGARA YANG BAIK

BERDASARKAN FUNGSI PENGAWASAN DPR RI TERHADAP KINERJA BUMN.pdf.

Innes, E. Judith dan David E. Booher. 2004. Reframing Public Participation: Strategies for the 21st Century. Planning Theory & Practice, Vol. 5, No. 4 pp. 419436, December 2004

Isra, S., 2010. POTRET LEMBAGA PERWAKILAN RAKYAT.

Jacobus, A.H.N., 2013. Lex Administratum , Vol.1/No.1/Jan-Mrt/2013.

Kassogy, D., 2005. Pelaksanaan fungsi DPR.

, 1(1), pp.5771.

Lapsley, Irvine dan Ana-Maria Rios. 2015. Making sense of government budgeting: an internal transparency perspective. Qualitative Research in Accounting & Management Vol. 12 No. 4, 2015 pp. 377-394

Mar’iyah, Chusnul. 2015. Hansard Dan Bill Digest Sumber Informasi Evaluasi Kinerja DPR. Parlementaria Ed.127 Tahun 2015.

Muhi, A.H., 2011. Optimalisasi pelaksanaan fungsi pengawasan dewan perwakilan rakyat daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan. , (4), pp.116.

Norisman Tumuhu, 2013. FUNGSI LEGISLASI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK

INDONESIA

INDONESIA (DPR-RI).

, (3), pp.195202.

Posner, P. & Park, C., 2007. Role of the Legislature in the Budget Process : , 7(3), pp.1–26.

Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie. SH., 2011. Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Anggaran DPR-RI, Jakarta, Rabu, 6 Juli, 2011. Guru Besar Hukum Tata Negara UI, Mantan Ketua MK-RI, mantan Anggota Wantimpres Bidang Hukum dan Ketatanegaraan. 1. , (i), pp.17.

Rahmawati, A.D. & Suwitri, S., 2006. Analisis Kinerja Organisasi Publik. , 3(1), pp.7888.

Rasul, S., 2008. ABB Korupsi.

Rusli, Z., 2013. KINERJA BADAN LEGISLASI

DPRD. Jurnal Kebijakan Publik , (Vol 4, No 01

Seknas FITRA. 2012. Measuring Subnational Budget Transparency, Participation, and Accountability: Indonesia. ( diunduh dari http://www.internationalbudget.org/wp-

Sulistyowati, 2011. KETIDAKADILAN DPR-RI DALAM MENJALANKAN FUNGSINYA.

pp.7580.

,

Suryani, N., 2010. Sistem lembaga perwakilan rakyat di indonesia. , (1), pp.113.

Tim Peneliti CEPP Tahun 2014.

UI. 2014. Mengukur Kinerja DPR RI 2014-2019. Parlementaria Ed.120

Tumuhu, N., 2013. FUNGSI LEGISLASI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA INDONESIA (DPR-RI). LEX ADMINISTRATUM, (Vol 1, No 2 (2013): Lex administratum). Available at:

Ulum, A.S., 2011. Peran Pengukuran Kinerja Dalam Mendukung Good Governance Dalam Perspektif Agency Theory. Jurnal Dinamika Akuntansi, 3(1), pp.6066.

Undip, K.M., Tugas dan Wewenang Lembaga Negara.

Waheduzzaman. 2010. Value of People’s Participation for Good Governance in Developing Countries. Transforming Government: People, Process and Policy Vol. 4 No. 4, 2010 pp.

386-402.

Widhiastuti, H., 2014. Big Five Personality sebagai Prediktor Kreativitas dalam Meningkatkan Kinerja Anggota Dewan. , 41(1), pp.115133.

Wismar, E., 2004. Yogyakarta. Analisis Peranan Badan Legislatif Daerah Dalam Pembentukan Perda

Yusuf, M., DALAM PELAKSANAAN ANGGARAN ( Study di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat ). , I(1).

Zoelva, H., 2008. SITEM PERAWAKILAN RAKYAT DI.