Anda di halaman 1dari 77

DISUSUN OLEH:

JEIN (5143210016)

D-3 TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatnya
saya dapat menyelesaiakn tugas critical book ini dengan tepat waktu.

Adapun critical book ini bertujuan untuk melengkapi tugas Konstruksi Bangunan
Gedung dan sebagai salah satu cara untuk menambah wawasan dalam mata kuliah Ilmu
Konstruksi Bangunan Gedung dari berbagai sumber buku yang telah say bandingkan isi dari
buku tersebut mengenai Konstruksi Bangunan Gedung.

Saya menyadari bahwa Critical book ini belum sesuai dengan apa yang di harapkan
dosen Konstruksi Banganan Gedung, sehingga apabila ada kesalahan dalam penulisan saya
meminta maaf dan menerima kritik dari para pembaca untuk perbaikan pada tugas berikutnya.
Pada akhirnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas penyelesaian critical book ini.

Medan, 26 mei 2015

Mukhlas
Daftar isi buku
Bab 1 Pendahuluan ..
1.1 latar belakang .
1.2 tujuan penulisan makalah ..
Bab 2 Ringkasan buku..
1. Pekerjaan pendahuluan .
1.1 Orang yang terkait dengan pendahuluan
1.1.1 Peserta pada pembangunan .
1.1.2 Hubungan kerja antara ahli dan pemberi tugas .
1.1.3 Etika dan tanggung jawab pada konstruksi bangunan .
1.1.4 Pembangunan dan kesehatan
1.2 Tahap pekerjaan awal .
1.2.1 Kapling tanah (site)
1.2.2 Pengukuran lahan sebagai dasar perencanaan .
1.2.3 Pra rencana dan rencana .
1.2.4 Penyelidikan tanah dan perhitungan struktur
1.2.5 Penelitian tanah secara geo-biologis .
1.2.6 Rencana kerja dan syarat syarat .
1.2.7 Gambar Kerja ..
1.2.8 Perhitungan Rencana Anggaran dan Biaya
1.2.9 Ijin Bangunan
1.2.10 Dokumen Lelang
1.3 Tahapan Pekerjaan Lapangan .
1.3.1 Persiapan lahan bangunan
1.3.2 Pengukuran kembali lahan .
1.3.3 Penetuan titik duga
1.3.4 Pemasangan boplang(bouwplank) .
1.3.5 Instalasi dalam lahan bangunan
2. Pekerjaan tanah .
2.1 Penggalian dan pengurukan tanah
2.1.1 Penggalian lapisan tanah humus
2.1.2 Pemotongan tanah dan penggalian lubang bangunan
2.1.3 Pengerukan tanah
2.1.4 Pemadatan tanah ..
2.1.5 Penggalian fondasi
2.2 Dinding penggalian lubang dan penahan galian tanah
2.2.1 Pencegahan longsoran tanah galian
2.2.2 Membuat dinding pengaman dalam galian ..
2.2.3 Drainase tempat bangunan
3. Struktur di bawah permukaan tanah (fondasi)

3.1 Pengetahuan fondasi


3.1.1 Kekuatan tanah sebagai dasar fondasi
3.1.2 Penentuan ukuran minimal fondasi .
3.1.3 Penyaluran beban terhadap fondasi
3.1.4 Hubungan antara fondasi dan pipa saluran kotor .
3.1.5 Pengaruh fondasi terhadap bangunan sekitarnya
3.1.6 Bahan fondasi .
3.2 Fodasi dangkal
3.2.1 Fondasi setempat .
3.2.2 Fondasi lajur .
3.2.3 Fondasi pelat beton bertulang
3.2.4 Fondasi sumuran
3.2.5 Fondasi cakar ayam .
3.3 Fondasi dalam ...
3.3.1 Fondasi tiang pancang (paku bumi)
3.3.2 Fondasi tiang beton cor ditempat ..
3.3.3 Fondasi tiang bor
3.3.4 Rakitan pada fondasi tiang
3.4 Balok pemerata beban dan lapisan kedap air
3.4.1 Fondasi dan konstruksi sloof
3.4.2 Trasraam sebagai lapisan kedap air horizontal
3.4.3 Pencegahan terhadap rayap .
4. Struktur diatas permukaan tanah (dinding dan kolom)
4.1 Pengetahuan dan fungsi dinding
4.1.1 Pengaruh luar terhadap dinding .
4.1.2 Struktur bangunan dan kronstruksi dinding
4.1.3 Bahan bangunan dinding dan pelapis
4.1.4 Penentuan konstruksi dinding yang baik
4.2 Konstruksi dinding massif (yang menerima beban)
4.2.1 Pengertian dan fungsi dinding massif ..
4.2.2 Konstruksi dinding batu alam
4.2.3 Konstruksi dinding dari batubata
4.2.4 Konstruksi dinding batako dan conblock
4.2.5 Konstruksi dinding dan kolom beton .
4.2.6 Konstruksi dindingtanah liat (pise) .
4.2.7 Pelapis dinding massif .
4.3 Konstruksi dinding kerangka dan kolom
4.3.1 Pengertian dan fungsi dinding kerangka
4.3.2 Konstruksi bangunan rangka kayu
4.3.3 Konstruksi dinding rangka baja .
4.3.4 Konstruksi dinding rangka beton bertulang
4.4 Konstruksi dinding dalam , pemisah ruang
4.4.1 Pengertian dinding pemisah
4.4.2 Konstruksi dinding batubata
4.4.3 Konstruksi dinding batako atau conblock ..
4.4.4 Konstruksi dinding kayu dan bamboo
4.5 Konstruksi dinding tirai
4.5.1 Konstruksi dinding
4.5.2 Sistem konstruksi dinding tirai
4.6 Konstruksi pelubang dinding
4.6.1 Konstruksi lubang dinding dengan batu alam
4.6.2 Konstruksi lubang dinding dengan batu bata
4.7 Konstruksi pertemuan komponen dinding dengan bangunan ..
4.7.1 Hubungan konstruksi antara 2 bahan yang berbeda
4.7.2 Pengertian dan konstruksi dilatasi

5. Konstruksi lantai dan pelat lantai


5.1 Pengertian, fungsi dan konstruksi lantai dan pelat lantai
5.1.1 Pengaruh luar terhadap lantai dan pelat lantai
5.1.2 Pembentukan ruang dan bahan bangunan pelat lantai
5.2 Konstruksi lantai dan penutup lantai .
5.2.1 Lantai plesteran dan lantai beton
5.2.2 Penutup lantai .
5.3 Konstruksi pelat lantai ...
5.3.1 Konstruksi pelat lantai berkubak torak (melengkung) ..
5.3.2 Konstruksi pelat lantai dengan balok kayu
5.3.3 Konstruksi pelat lantai dengan balok T
5.3.4 Konstruksi pelat lantai beton datar
5.3.5 Konstruksi pelat lantai komposit
6. Konstruksi atap .
6.1 Pengertian, fungsi, dan komponen konstruksi atap
6.1.1 Pengaruh luar terhadap atap
6.1.2 Faktor penentu kemiringan dan bentuk atap
6.1.3 Bahan konstruksi atap
6.2 Konstruksi kuda-kuda dari kayu .
6.2.1 Konstruksi atap bangunan dan kuda-kuda tradisional
6.2.2 Konstruksi atap kasau atau usuk
6.2.3 Konstruksi kuda-kuda gantung .
6.2.4 Konstruksi kuda-kuda dengan tiang .
6.2.5 Konstruksi kayu rangka batang
6.2.6 Alat sambungan kayu
6.3 Konstruksi kuda-kuda dari bamboo
6.4 Konstruksi kuda-kuda dari baja
6.5 Konstruksi kuda-kuda dari beton bertulang .
6.6 Konstruksi langit-langit
6.6.1 Pengertian, fungsi, konstruksi langit-langit
6.6.2 Konstruksi rangka dasar langit-langit
6.6.3 Konstruksi rangka penggantung
6.6.4 Bahan penutup langit-langit .
BAB III.REVIEW
BAB IV PENUTUP.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Konstruksi bangunan gedung adalah perpaduan dari berbagai jenis- jenis dan konstruksi
bangunan (susunan, stuktur) sehingga dapat menghasilkan suatu bangunan yang telah
direncanakan funsgsinya.Dalam melihat perkembangan zaman akhir-akhir ini , secara besar
besaran telah banyak mengalami perkembangan , khususnya dalam dunia bangunan
gedung.Dapat kita tinjau dari segi: bahan yang digunakan dalam pembangunan, bagaimana cara
penerapannya / bagaiman prateknya di lapangan , dan bagaimana konstruksi bangunan gedung
yang baik sesuai dengan alam.

Dalam critical book ini, kita akan dapat mengkaji secara lebih rinci tentang konstruksi
bangunan gedung , dan bagaimana pengaplikasiannya dalam dunia nyata.Konstruksi bangunan
gedung membutuhkan ketelitian , keahlian , pengetahuan yang dalam tentang suatu bangunan ,
oleh sebab itu orang orang yang terlibat dalam pembangunan harus benar-benar orang yang
dapt untuk diandalkan dan dipercayai.Konstruksi bangunan gedung adalah merupakan hasil
karya manusia yang nyata wujudnya.

Oleh sebab itu, di dalam critical book ini , penulis telah mengkaji secara lengkap
tentang konstruksi bangunan gedung dari berbagai sumber yang lengkap. Semoga dapat
membantu dan menambah pengetahuan kita tentang konstruksi banguan.

1.2 Tujuan

1. Untuk manambah wawasan / pengetahuan kita lebih dalm lagi tentang konstruksi
bangunan gedung,
2. Untuk mengetahui sebenarya, bagaimana konstruksi bangunan gedung itu secara baik dan
sesuai dengan alam sekitar,
3. Untuk menambah wawasan kita dalam mengidentifikasi unsur-unsur tentang suatu
konstruksi bangunan gedung ,
4. Untuk menambah wawasan kita tentang bagaimana cara penerapanny dalam dunia
lapangan.
BAB II

RINGKASAN BUKU

1. PEKERJAAN PENDAHULUAN

1.1 Orang Yang Terkait Dengan Pendahuluan

Di dalam pembangunan apapun, tidak ada yang merupakan hasil karya


seorang diri saja ,melainkan merupakan perpaduan beberapa factor:
pemamfaatan unsure atus factor ekonomi,bahan mentah dan orang yang
terlibat ,termasuk tukang dengan keterampilan masing masing dan para ahli
di berbagai bidang. Pada umumnya proses pembangunan dibagi 2 yaitu
perencanaan(menggambar konstruksi) dan pelaksanaan(membuat
konstruksi).

1.1.1 Peserta Pada Pembangunan

Pemilik(bouwheer,pemberi tugas) adalah seseorang atau institusi yang


umumnya memiliki hak atas tanah dan gedung yang akan dibangun dan
membiayai pembangunan ,dengan memberi tugas langsung kepada
pemborong kecil atau kontraktor atau dengan memberi tugas kepada
seorang arsitek(seseorang yang ahlli dalam membuat rancangan bangunan
dan gambar konstruksi),pemborong( kontraktor,seseorang yang menerima
pekerjaan pembangunan berdasarkan pelelangan, perundingan atau
kesepakatan langsung dari pemilik maupun arsitek sebagai wakilnya).
dan mandor(orang yang mengepalai beberapa tukang dan bertugas
mengawasi pekerjaan yang diberikan kepada mereka)
1.1.2 Hubungan Kerja Antara Ahli Dan Pemberi Tugas

Dalam hubungan kerja antara ahli dan pemberi tugas,ini lebih ditujukan
kepada ahli dan pemberi tugas pada tahap persiapan suatu proyek
bangunan.ahli yang dimaksut adalah Arsitek,Insinyur sipil,Ahli
geologi,elektro,mesin dll. Sebagai dasar ikatan hubungan kerja antara ahli
dan pemberi tugas dapat digunakan peraturan umum yang mencantumkan
segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan kerja antara ahli dan
pemberi tugas mengeani tanggung jawab dan kewajiban.

1.1.3 Etika Dan Tanggung Jawab pada Konstruksi Bangunan

Menurut Ludwig W. Etika dan estetika adalah satu kesatuan,dalam


konstruksi bangunan memerlukan moral dan etika serta memiliki tanggung
jawab social. Setiap orang yang terlibat dalam pembangunan adlah manusia
dan anggota masyarakat dengan hak dan kewajiban serta tanggung jawab
moral. Sikap terhadap pekerjaan yang perlu dimilliki semua peserta
adalah :bertekad untuk tidak menipu,tidak melepaskan dari hasil kerja yang
tidak memuaskan,dan bangga atas kemajuan usahanya. Pada ahli bangunan
yang professional bertanggung jawab terhadap kehidupan orang lain atau
masyarakat.mereka bertanggung jawab atas dampak pekerjaanya pada
kehidupan masyarakat,misalnya terhadap buruh dan pegawai bawahan.

1.1.4 Pembangunan Dan Kesehatan

Cara membangun serta teknologi membangun mengalami banyak


perubahan yang disebabkan oleh perkembangan ekonomi ,kebutuhan
gedung gedung dan lain lain. Seorang arsitek atau pemborong harus
bersikap etis dan tanggung jawab untuk menghindari hal hal yang tidak
diinginkan.pada penelitian pembangunan dan kesehatan dinyatakan bahwa
pencemaran udara adalah alas an gangguan kesehatan manusia yang
primer. hal ini harus diperhatikan dengan seksama
karena manusia dalam tidur jauh lebih peka daripada waktu dalam keadaan
terjaga.

1.2 Tahap Pekerjaan Awal

1.2.1 Kapling Tanah (site)

Di Indonesia hak atas suatu kapling tanah tergolong atas: pelimbahan tanah
garapan,tanah bersertifikat,hak milik tanah. Pemilikan suatu kapling tanah
tidak otomatis membri hak untuk membangun gedung diatasnya. Tanah
digolongkan atas: tanah pemerintahan,agraris,industry dan tanah dikawasan
kota atau desa

1.2.2 Pengukuran Lahan Sebagai Dasar Perencanaan

Pengukuran lahan adalah suatu pekerjaan mengukur lahan atau tanah untuk
mengetahui luas lahan serta menentukan batas batas kepemilikan atas
lahan tersebut yang dilakukan oleh seorang ahli.perlu diperhatikan
pengukuran tanah harus selalu dilakukan dalam keadaan datar

1.2.3 Pra Rencana Dan Rencana

Pra rencana adalah tahapan awal dari suatu proyek bangunan ,yakni brupa
gambar yang membuat segala sesuatu yang dikehendaki oleh pemberi tugas
yang bertugas yang berkaitan dengan Bangunan yang akan dibangun.
Rencana adalah tahapan lebih
lanjut dari pra rencana dan merupakan hasil akhir dari suatu proses
penggambaran walaupun masih akan diadakan perubahan perubahan yang
tidak berarti /berat sesuai dengan kondisi yang ada pada saat pembangunan
dilaksanakan.

1.2.4 Penyelidikan Tanah Dan Perhitungan Struktur

Penyelidikan tanah adalah tindakan yang dilakukan untuk memperoleh data


data mengenai tanah tempat yang akan dilakukan proyek pembangunan.
Cara pelaksanaan penyelidikan tanah diperlukan untuk menentukan
kekuatan tanah bagi pondasi yang dapat dilakukan dengan galian sumur
percobaan dengan pemboran tangan maupum mesin serta pemeriksaan
daya dukung tanah dengan tiang pancang percobaan

1.2.5 Penelitian Tanah secara Geo-Biologis

Dislokasi geologis dalam kerak bumi kearah horizontal maupun vertical


mengakibatkan suatu perubahan radiasi teristis yang biasanya berkaitan
dengan retakan. Dan biasanya pada retakan atau dislokasi geologis yang
dapat diukur dengan radioaktifitas atau radiasi gamma yang lebih tinggi,
yang mengakibatkan kanker jika manusia terbiasa tidur ditempat tersebut .
dislokasi geologis dibedakan antara retakan kering dan basah

1.2.6 Rencana Kerja Dan Syarat syarat(RKS)

Dalam rencana kerja ini tercantum segala sesuatu yang menyangkut proyek
bangunanbaik berupa kepemilikan pemberi tugas lokasi .yang dimaksut
dengan syarat syarat adalah semua persyratan yang diketahui dan
ditaati,menyangkut seluruh komponen komponen bangunan dalam hal mutu
dan cara pelaksanaan.

1.2.7 Gambar Kerja

Gambar kerja ada 2 yakni:


a) gambar arsitektur adalah semua gambar yang berkaitan dengan
arsitektur bangun yang akan dibangun,gambar gambar tersebut dapat
berupa gambar situasi,tampak,denah,potongan,detail dan gambar
konstruksi bangunan misalnya gambar rencana langit langit,intlasi air
kotor dan air bersih ,intlasi listrik dll.dengan ukuran dan posisi serta
spesifikasinya.
b) Gambar struktur bangunan adalah gambar yang berkaitan dengan
struktur dan konstruksi bangunan yang menyangkut posisi atau letak
struktur tersebut.konstruksinya besaran ukuran tulangan baja dalam
konstruksi beton. Pada umumnya gambar struktur berbeda dengan
gambar arsitektur terutama dalam hal letak sumbu pusat atau as baik
kolom maupun dinding juga ketinggian dari masing masing komponen
struktur.

1.2.8 Perhitungan Rencana Anggaran dan Biaya

Perhitungan rencana anggaran adalah perhitungan yang menyangkut jumlah


dan volume dari masing masing jenis pekerjaan serta harga satuan dari
masing masing pekerjaan tersebut dalam rupiah.Biaya adalah jumlah
keseluruhan dari rencan anggaran,termasuk didalamnya pajak,jasa
pelaksanaan serta biaya yang harus diperhitungkan.

1.2.9 Ijin Bangunan

Ijin bangunan adalah persetujuan dari pihak berwajib dalam hal ini
tergantung dimana bangunan tersebut dilaksanakan atas permohonan dari
pemilik bangunan. Pada umumnya ijin diberikan oleh kabupaten yang telah
tertandatangani. Ijin bangunan diperlukan
untuk :

a) Mendirikan bangunan sesuai UU aturan peraturan daerah tingkat 1


tentang bangunan dan pelaksanaannya.

b) Mendirikan bangunan tidak permanen atau bangunan yang sementara


c) memperluas bangunan yang pernah ada
Izin bangunan mempunyai batas waktu berlaku.
1.2.10 Dokumen Lelang

Dalam pelaksanaan pembagunan proyek dapat dilakukan oleh pemilik


maupun pihak kedua yakni pemborong /kontraktor. Untuk pelaksanaan
pembangunan yang dilakukan oleh pihak kedua dibutuhkan dokumen lelang
sebagai acuan dan ikatan dalam melaksanakan pembagunan tsb,baik berupa
syarat teknis maupun nonteknis ,yang dalam hal ini termasuk juga
pembayaran atas bangunan tersebut oleh pihak pertama kepada pihak
kedua dan sebaliknya bila ada penambahan atau pengurangan pekerjaan
dalam pembangunan itu.Yang termasuk dokumen lelang adalah gambar
lengkap dari proyek tsb(RKS) dan formulir formulir yang harus diisi oleh
pihak kontraktor.

Lelang berdasarkan jumlah peserta:

1) lelang terbatas
2) lelang terbuka umum

lelang berdasarkan cara penawaran pekerjaan oleh pemberi tugas:

1) lelang keseluruhan proyek


2) lelang sebagian proyek
3) lelang harga satuan
4) lelang serah kunci

lelang berdasarkan penentuan pemenang lelang:

1) lelang terbuka
2) lelang tertutup

1.3 Tahapan Pekerjaan Lapangan

1.3.1 Persiapan lahan bangunan


Tujuan dari persiapan ini untuk membebaskan lahan dari semua benda yang
ada diatas lahan tersebut

Persiapannya mencakup:

a. membersihkan lahan dari pohon,semak,rumput yang


mengganggu tempat pembangunan gedung
b. melndungi pohon agar tidak cacat
c. memasang pagar sementara demi ketenteraman,keamanan dan
keselamatan umum di tempat bangunan
d. mengadakan saluran air untuk pekerjaan bangunan dengan pipa
air PAM,sumur,air kali atau tempat penampungan air hujan
e. menyediakan listrik sementara
f. menyediakan bangsal untuk para buruh dan untuk bahan
bangunan
g. menyediakan kakus sementara yang sehat untuk para buruh
h. menyediakan peti obat yang isinya lengkap

1.3.2 Pengukuran kembali lahan.

Maksut dan tujuan pengukuran kembali lahan untuk mengetahui keadaan


sebenarnya dari luasan lahan serta batas batasnya.dan untuk mengontrol
apakah gambar rencana yang disiapkan sesuai dan dapat dilaksanakan
pada lahan tersebut. Pada lahan yang datar
kemungkinan terjadinya selisih akkibat kesalahan dalam pengukuran agak
kecil ,tetpai pada lahan yang miring dan berbukit kesalahan biasanya cukup
besar.semua pengukuran seharusnya disipat datar.

1.3.3 Penetuan titik duga

Penentuan titik duga adalah patokan ketinggian yang dipakai seterusnya


dalam pekerjaan pembangunan.titik duga ini merupakan patokan yang
dipakai dalam pembangunan.kesalahan dalam penentuan titik duga sangat
luas yakni terjadinya pembengkakan biaya pembangunan,kesulitan dalam
biaya penyelesaian saluran pembuangan.
1.3.4 Pemasangan boplang(bouwplank)

Boplang merupakan poros jarak antara kolom . dalam pembangunan letak


poros dari komponen bangunan sangat penting,baik berupa poros dinding
maupun terutama poros kolom dalam bangunan.sedikit kesalahan yang
terjadi akan mengakibatkan terjadinya pergeseran letak dinding maupun
letak kolom.akibat yang lebih parah lagi ialah ruang ruang yang yang terjadi
kemudian tidak sesuai dengan ukuran yang dikehendaki/ditentukan.

1.3.5 Instalasi dalam lahan bangunan.

Maksut dari instalasi ini adalah segala upaya instalasi yang digunakan baik
untuk penyaluran kebutuhan air bangunan,pembuangan/penyaluran air
hujan ,penyaluran air pondasi ke luar area lahan pembangunan dan juga
penyaluran limbah ke tempat penampungan sementara.

2. Pekerjaan tanah

2.1. Penggalian dan pengurukan tanah

Penggalian tanah adalah upaya yang dilakukan untuk mengubah keadaan


permukaan tanah sesuai dengan kebutuhan untuk suatu proyek
pembangunan.Upaya tersebut dapat berupa : perataan permukaan tanah,
pemotongan, pengerukan, penggalian , dll.

2.1.1 Penggalian lapisan tanah humus

Bila hasil dari penyelidikan tanah diketahui adanya lapisan tanah


humus( bunga tanah), maka lapisan tanah tersebut harus dilepas terlebih
dahulu untuk menghindari terjadinya penurunan yang berlebihan setelah
bangunan selesai di bangun.Bekas penggalian tanah humus harus diuruk
kembali dengan tanah yang kualitasnya lebih baik dan dipadatkan, sehingga
mencapai ketinggian permukaan tanah maksikum

2.1.2. Pemotongan tanah dan penggalian lubang bangunan

Dalam perencanaan suatu bangunan, perbedaan permukaan tanah


merupakan sesuatu yang sangat tersebut.Sebelum pemotongan tanah
dilakukan , tanah harus dilakukan pengukuran.Pemotongan tanah yang salah
akan dapat menyebabkan banyak kerugian.Pemotongan tanah maupun
penggalian tanah selalu mengandung tanah yang longsor

2.1.3 Pengerukan tanah

Pengerukan tanah harus dilakukan l lapis demi lapis.Cara yang terbaik


adalah dengan mengeruk lapisan per lapis dengan ketinggian tertentu, yaitu
20cm tiap lapisannya , dan kemudian dipadatkan.

2.1.4 Pemadatan tanah

Pemadatan tanah dilakukan dengan alat pemadat setiap penimbunan /


pengerukan mencapai ketebalan urukan 20cm.Dapat digunakan alat
stabilisator tanah seperti pelat getar, mesin gilas bergetar. Pemadatan yang
baik didapat dengan menyiram air ke permukaan tanah uruk sambil
dipadatkan.Kepadatan tanah uruk biasanya ditentukan sesuai dengan syarat-
syarat yang dikehendaki.Pada umunya, kepadatan yang dituntut berkisar 90-
95% kepadatannya, adalah sukar untuk mencapai kepadatan yang
sempurna(100%)

2.1.5 Penggalian fondasi

Merupakan penggalian tanah untuk dipasangi fondasi , yang dalam


galiannya disesuaikan dengan syarat syarat kedalaman galian yang
ditentukan. Untuk bangunan biasanya dilakukan hingga menncapai tanah
waras/ asli.Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan
penggalian fondasi , ada kala tidak perlu digali terlalu dalam kalau kondisi
tanah sudah keras dan memenuhi syarat- syarat kepadatan yang ditentukan

2.2 Dinding penga penggalian lubang dan penahan


galian tanah

Pada penggalian tanah untuk lubang bangunan maupun untuk fondasi dapat
dibedakan 2 sistem berikut yaitu; penggalian lubang dengan lerengan , dan
penggalian lubang dengan dinding pengaman

2.2.1 Pencegahan longsor tanah galian

Stabilitasi pada lereng tanah galian tergantung pada kemiringan lereng


tanah galian , keadaan tanah dan susunan lapisan tanah. Pada galian tanah
yang dalamnya melebihi 2,0- 3,0 m, stabilitas terhadap rebahan harus
diperhitungkan. Supaya dapat terjamin stabilitas pada lereng galian tanah
galian, air hujan harus disalurkan kesamping lewat parit kecil.Lereng galian
tanah dapat dilindungi dengan lapisan plastic , plesteran , sabuk-sabuk
beton untuk menghindari pengisapan air hujan oleh tanah.

2.2.2 Membuat dinding pengaman dalam tanah galian

Dinding pengaman tanah vertical digunakan jika keadaan dilapngan tidak


mengijinkan pembuatan lereng galian tanah , jika air tanah masuk kedalam
lubang bangunan , dan jika beban tanah disamping galian tanah terlalu
besar. Konstruksi dinding pengaman tanah vertical harus dipilih sedemikian
sehingga mudah dapat dipindah atau ditambah sesuai dengan perubahan
kedalaman galian yang dilakukan. Serta tidak menggaanggu kelanjutan dan
kemudahan pekerjaan galian itu sendiri. Dinding pengaman terdiri dari
papan yang ditempelkan pada permukaan dinding galian , juga diperkuat
dengan rusuk rusuk dan penyangga.

2.2.3 Drainase tempat bangunan

Dinding bendungan (turap) sebagai dinding pengaman harus dapat


menghindari masuknya air (air hujan maupun ait tanah) kedalam lubang
bangunan.Pada prinsipnya, hal ini dapat diatasi dengan memompa air dalam
lubang bangunan , yang dasarnya lebih rendah dari pada lubang bangunan.

3.Struktur dibawah permukaan tanah


(fondasi)

3.1 Pengertian fondasi

Fondasi merupakan bagian bangunan yang menghubungkan bangunan


dengan tanah , yang menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri,
beban berguna, gaya gaya luar terhadap gedung.

3.1.1 Kekuatan tanah sebagai dasar fondasi

Kekuatan tanah sebagai dasar fondasi tergantung pada susunan dan strukrur
tanah sebagai kulit bumi yang termakan cuaca dan air hujan.Makin
heterogen stuktur tanah makin sulit perencanaan fondasi.Fondasi bangunan
yang menjamin kestabilan /keseimbangan bangunan terhadap pembebanan
harus diperhitungkan sedimikian rupa.
Dengan pengetahuan tentang kosep stuktur, seharusnya fondasi merupakan
stuktur gedung yang mempunyai daya tahan paling lama sebagai landasan
dari stuktur bangunan

3.1.2 Penetuan ukuran minimal fondasi

Stuktur gedung dan daya tahan tanah mempengaruhi ukuran dan bentuk
fondasi.Pembebanan pada fondasi meliputi beban mati, beban hidup.Sebagai
perkiraan, dapat dianggap bahwa satu meter persegi rumah sederhana
adalah seberat 8 kN(beban mati) dan 2kN(beban hidup).
Kedalaman fondasi ditentukan oleh tebal
dinfing atas , lebar fondasi dan sudut membagi tekanan yang tergantung
pada bahan bangunan fondasi yang dipilh.Fondasi harus selalu tertanam
kuat dalam tanah, maka jangan menanam fondasi didalam humus atau
tanah yang mudah logsor.Pada gedung yang dibangun diatas cadas, ukuran
fondasi minimnal, salkan seluruh gedung tertanam dalam cadas tersebut.

3.1.3 Penyaluran beban terhadap fondasi

Bentuk fondasi sebagai penyaluran beban sehubungan dengan stuktur


gedung dapat disusun secara: stuktur bangunan masif, stuktur bangunan
pelat dinding sejajaar, stuktur bangunan sejajar.
Kemungkinan penyaluran beban dengan
fondasi tiang pancang, tiang bor, fondasi sumuran adalah: fondasi tiang
dengan pelat beton bertulang, fondasi tiang dengan sloof pengikat
berbentuk fondasi lajur,fondasi tiang dengan stuktur bangunan massif yang
membagi beban.Perbedaan kekokohan landasan atau perbedaan tekanan
atas tanah dapat diatasi dengan member celah dilatasi

3.1.4 Hubungan antara fondasi dan pipa saluran kotor


Karena pipa saluran air kotor dan fondasi sering terletak pada lapisan yang
sama. Maka tidak dapat dihindari terjadinya persilangan, terutama jika
digunakan fondasi lajur atau fondasi pelat beton.Jika pipa saluran air kotor ,
dan air bersih masuk kerumah pada bagian kaki dinding, maka sbaiknya
dibuat dilatasi disekeliling pipa dengan menggunakan pipa yang elastic
sebelum diisi mortar sehingga jika terjadi penurunan gedung, pipa tersebut
mengalami kebcoran.

3.1.5 Pengaruh fondasi terhadap bangunan sekitarnya

Fondasi umunya menyalurkan beban dari bangunan ketanah sebagai


landasan.Tekanan yang disalurkan tanah dianggap menyebar dengan sudut
tekanan sebesar 450.Jika fondasi banguanan lama, maka garis sudut tekanan
saling mempengaruhi.

3.1.6 Bahan fondasi

Fondasi bangunan dapat dibedakan menurut bahan yang dipergunakan


dalam pembuatannya , biasanya bahan bangunan terkait erat dengan
bentuk fondasi seperti: batu kali. Batu merah, beton berbatu untuk fondasi
lajur, beton bertulang untuk fondasi setempat, pelat beton bertulang

1. Fondasi batu kali = dibuat dengan batu pecahan yang cukup besar
2. Fondasi batu bata= dibuat hanya jika terdapat batu bata yang
bermutu tinggi sehingga tidak akan hancur dalam singkat ditanah
yang lembap
3. Fondasi beton = pada umunya digunakan hanya untuk gedung
bertingkat , walaupaun biayanya sidikit berbeda dengan fondasi
batu kali , fondasi ini menerima gaya tekan saja.
4. Fondasi beton bertulang= digunakan pada bangunan yang
bertingkat banyak dan jika keadaan daya dukung tanah yang
kecil.Dapat dianggap bahwa setiap tulangan baja yang digunakan
didalam fondasi akan dapat dihemat pada bagian atasnya.
5. Fondasi kayu = dapat digunakaan sebagai fondasi lajur maupun
tiang pancang didaerah rawa-rawa atau didalam air.Kayu sebagai
fondasi memiliki daya tahan lama jika selalu terendam air untuk
menghindarkan kebusukan.

3.2 Fondasi dangkal

Jika keadaan daya dukung tahan dasar mengizinkan penyaluran beban


gedung lewat fondasi dangkal. Maka fondasi inilah yang merupakan system
fondasi paling ekonomis

3.2.1. Fondasi setempat

Digunakan pada bagian bangunan yang terpisah seperti kolom, tiang ,


dll.Pada bangunan sementara diterapkan juga fondasi setempat. Sebagai
bahan bangunan dapat digunakan kayu , batu alam atau beton. Pada
konstruksi kayu perlu diperhatikan bahwa kayu yang tidak selalu terendam
air akan membusuk.tiang yang melalui batasan tersebut sebaiknya dibuat
dari kayu ulin

3.2.2 Fondasi lajur

Fondasi lajur digunakan untuk struktur bangunan massif atau pelat dinding
sejajar pada kekuatan dan keadaan tanah yang seragam. Sebagai bahan
bangunan dapat digunakan kayu,batu alam,beton dan beton bertulang.pada
konstruksi bangunan perlu diperhatikan bahwa kayu yang itdak selalu
terendam air akan membusuk.tiang yang melalui batasan tersebut
sebaiknya dibuat dari kayu ulin.
Konstruksi fondasi lajur dari beton bertulang dapat
dimamfaatkan pada kekuatan tanah yang rendah atau beban bangunan
yang tinggi.dua duanya membutuhkan fondasi lajur yang agak
lebar,sehingga beton bertulang lebih ekonomis daripada beton atau beton
berbatu biasa saja.

3.2.3 Fondasi pelat beton bertulang


Fondasi pelat penuh dari beton bertulang dibuat seluas ukuran gedung yang
direncakan ,akan tetapi dapat juga di beri lubang ditengah ruang masing
masing.dan fondasi pelat beton bertulang membebani beban bangunan
secara merata ke tanah.

Fondasi pelat beton bertulang dapat digunakan jika:

a. kekokohan landasan tidak memenuhi kebutuhan atau beban bangunan


begitu tinggi,sehingga fondasi lajur begitu lebar,sehingga
membutuhkan ruang seluas gedung.
b. struktur bangunan rangka dengan jarak jarak tiang (atau bangunan
dengan pelat dinding sejajar ) dengan beban yang tinggi dan jaraknya
<8.00 m
c. beban bangunan yang tinggi sudah dibagi seragam pada seluruh luas
bangunan oleh struktur bangunan massif (atau bangunan dengan pelat
dinding sejajar)
d. wilayah bangunan yang sering banjir (rob) dan fondasi pelat beton
bertulang yang dilengkapi dinding kaki beton bertulang yang sekaligus
kedap air dapat menghindarkan naiknya air dari bawah.

Perhitungan fondasi pelat beton bertulang dilakukan seperti perhitungan


pelat lantai yang terbalik (tekanan tanah=beban berguna dari bawah dan
kolom dengan beban bangunan=reaksi tumpuan dari atas ke bawah).
Pada gedung dengan fondasi pelat beton bertulang berada dibawah
permukaan air tanah ,perlu diperhatikan gaya apungnya.

3.2.4 Fondasi sumuran

Fondasi sumuran diterapkan apabila letak lapisan tanah yang daya


dukungnya kuat 2.0-6.0 m dibawah permukaaan tanah.fondasi sumuran
dapat dibayangkan dengan fondasi tiang pemboran yang pendek dan bis
betonnya 600, 1000, 1200 atau 1500 mm. bis beton berdiameter
600 mm biasanya di bor atau dikerjakan dengan diameter 1000 mm.
Fondasi sumuran digunakan pada tempat dimana pengentak fondasi
tiang tidak diperbolehkan karena pertimbangan getaran yang ditimbulkan
atau karena tempat yamg sempit sehingga tidak memungkinkan
instalasinya.jarak satu sama lain antara masing masing fondasi sumuran
adalah 4.0-7.0 m.ujung atas fondasi selanjutnya dihubungkan dengan sloof
beton bertulang yang menghubungkan fondasi sumuran sama yang lain dan
sekaligus menerima beban dinding dan gedung.

3.2.5 Fondasi cakar ayam

Fondasi cakar ayam merupakan gabungan dari fondasi sumuran dengan


fondasi pelat beton bertulang.Fondasi ini menggunakan fondasi sumuran
yang pendek 1.5-2.5 m dengan isinya beton bertulang dan jarak rata ratanya
hanya 2.5 m.

3.3 Fondasi dalam

Fondasi ini digunakan jika kekuatan tanah tidak memenuhi kekuatan karena
tidak teratur atau karena pembebanan terlalu tinggi. Fondasi dalam akan
menyalurkan beban kepada lapisan tanah yang lebih bawah.
System fondasi ini
dibagi atas fondasi tiang beralih( mengalirkan beban kepada lapisan tanah
bawah yang kuat)atau tiang pergesekan(mengalirkan beban lewat
pergesekan permukaan tiang ke tanah samping,yang sekaligus
dipadatkan,pada tempat tanpa lapisan tanah yang kuat).menurut cara
konstruksi ,fondasi tiang dapat dibagi atas tiang pancang (dari kayu ,beton
bertulang ,atau profil baja ) dan tiang pemboran (dari beton bertulang)

3.3.1 Fondasi tiang pancang(paku bumi)

Fondasi ini terdiri dari:beton tiang panjang siap-jadi dan tiang panjang yang
dibuat dari beton tumbuk.fondasi tiang pancang-siap jadi terbuat dari bahan
kayu,profil baja atau beton bertulang.penggunaan tiang pancang
membutuhkan penyelidikan tanah yang tepat dan yang menjelaskan
dalamnya lapisan tanah dan kekuatan tertentu pada seluruh luas bangunan.
System fondasi tiang pancang tidak dapat digunakan pada tanah yang berisi
batubatuan yang besar atau halangan lain semacam itu.
pemasangan/pancangan dilakukan
dengan alat pengentak.Menurut ketepatgunaanya ,sebagai alat tiang
pancang dapat dipilih alat tiang pancang tangan dengan bobot kepala babi
yang besar serta jumlah pukulan per menit yang kecil atau alat tiang yang
pancang solar dengan bobot kepala babi yang kecil tetapi jumlah pukulan
per menitnya besar.

Alat pemancang dengan tangan.

Alat ini dikerjakan secara tangan saja.


Pada suatu kerangka kaki tiga dipasang balok pengendali kepala
babi dan sebuak katrol diujung atas.para buruh bangunan akan menarik tali
pada kerangka kaki tiga sehingga kepala babi naik(1 buruh-12.5 kepala babi)
dan kemudian melepaskannya.kepala babi jatuh ke ujung atas tiang
pancang,yang lau turun masuk ke dalam tanah.beratnya 100-300 kg,tinggi
pengangkatnya 1.2 1.5 m dengan hasil per jam 15 biang (15 biang = 25-30
pukulan)untuk mempermudah pekerjaan penarikan kepala babi ,digunakan
kerek. Berat kepala babi yang dikerek dapat bertambah sampai 2.0 ton
dengan tiang pengangkatnya 10-12 m.kepala babi diikat dengan kaitan pada
suatu pemandu.sesudah kepala babi dinaikkan,tali kaitan ditarik sehingga
kepala babi jatuh pada ujung atas tiang pancang.kemudian pemandu
diturunkan dan diikat lagi dengan kaitan.

Alat pemancang dengan bahan bakar solar.

Alat ini bekerja dengan injeksi solar yang terbakar oleh pukulan kepala babi.
Akibat daya letusan, kepala babi akan terangkat lagi dan seterusnya.
Alat pemancang vibrator

Sebagai ganti alat pemancang dengan bahan bakar solar yang sangat
bising, makin lama makin sering digunakan alat tiang pemancang
vibrator.Karena alat ini mudah digunakan untuk memukul maupun menarik,
system ini paling ekonomis untuk tiang beton cor ditempat.

Tiang pancang kayu

Tiang pancang kayu hanya dapat digunakan jika selalu berada didalam
air sehingga (karena tidak ada oksigen) kayu tidak bisa membusuk.Jarak
antara tiang pancang kayu sekurang-kurangnya 2.5 kali garis tengah, dan
seharusnya >60cm. Kekuatan tiang kayu berkaitan dengan gemang dan
panjangnya.

Tiang pancang profil baja

Tiang pancang profil baja agak jarang digunakan karena system ini
biasanya sangat mahal.Tiang pancang profil baja dapat dipakai pada beban
tinggi yang harus disalurkan kepada lapisan cadas yang kuat dibawah
tanah.JIka digunakan tiang pancang ini, harus dilakukan pencegahan
terhadap karat.

Tiang pancang beton bertulang

Tiang pancang beton bertulang sering digunakan karena tidak perlu


memperhatikan keadaan air tanah seperti pada tiang pancang kayu atau
masalah karat pada tiang pancang profil baja.Panjangnya dapat dibuat
menurut keperluan.Tiang pancang beton terlebih dahulu dicior berbentuk
segi empat.Tiang pangcang beton, yang disediakan secara pratekan dapat
menghemat baja tulangan.
3.3.2 Fondasi tiang beton cor ditempat

Tiang beton dapat juga dicor ditempat.Sesudah tanah dilubangi, lubang itu
diisi beton yang ditumpuk didalam lubang.Pada tanah yang homogeny tanpa
batu-batuan dan pada tempat yang tidak terkena air tanah, pengecoran
tanpa bekisting, sedangkan pada tanah yang heterogen atau didalam air
tanah menggunakan pipa bekisting.Pipa baja dengan ujung runcing
dipancang hingga mengenai lapisan tanah yang cukup kuat.Selanjutnya,
pipa baja diisi beton yang ditumbukkan kedalam pipa yang sekaligus ditarik
kembali keatas.

3.3.3 Fondasi tiang bor

Selain fondasi tiang pancang dan tiang beton cor ditempat, terdapat
juga fondasi tiang bor yang sama. Perbedaannya terletak pada dimensi tiang
yang gemanya lebih besar ( 30-120cm), pada peralatan kerangka kaki-3
yang lebih sederhana, dan pada system bor yang tidak mengakibatkan
getaran.Fondasi tiang bor pada keadaan tanah yang homogeny tanpa batu-
batuan dan pada tempat yang tidak kena air tanah dapat dicor tanpa
bekisting, sedangkan pada tanah yang heterogen atau didalam air tanah
dengan menggunakan pipa bekisting.Oleh karena tiang dibor, maka dapat
diambil contoh-contoh tanah pada lapisan tanah masing-masing jika
peralatan bor memadai.

3.3.4 Rakitan pada fondasi tiang

Rakitan pada fondasi tiang yang dipilih dapat dibentuk sebagai fondasi
setempat, fondasi lajur atau fondasi pelat, akan tetapi selalu dibuat dari
beton bertulang, kecuali pada fondasi tiang kayu juga dapat dirakit dengan
kayu. Jika digunakan fondasi tiang pancang beton bertulang, ujung kepala
tiang, sesudah tiang ditanamkan, harus dipecah ssehingga tulangan
menonjol bebas dan dapat dihubungkan dengan tulang rakitan fondasi.Pada
fondasi setempat, digunakan pelat beton setempat juga. Jarak minimal yang
perlu diperhatikan adalah jarak dari teepi rakitan kepusat tiang >1.2 kali
tiang, dan jarak dari pusat tiang kepusat tiang yang lain >2.5 kali tiang.
Jumlah tiang yang ditempatkan minimal 3 buah.

3.4 Balok pemerata beban dan lapisan kedap air

3.4.1 Fondasi dan konstruksi sloof

Fungsi sloof adalah untuk membagi beban secara merata.Beban


struktur dan konstruksi gedung disalurkan kefondasi, dan sekaligus sloof
mengikat batu kali atau tiang.Sloof dapat dibuat dari konstruksi kayu, batu
bata, atau beton bertulang.

Konstruksi sloof dari kayu

Pada konstruksi rumah panggung dengan fondasi tiang kayu, sloof


dapat dibentuk sebagai balok pengapit.Jika sloof dari kayu terletak diatas
fondasi lajur dari batu atau beton, maka dipilih baloh tunggal.

Konstruksi sloof dari batu bata

Rolag dibuat dari susunan batu bata yang dipasang secara melentang
dan diikat dengan adukan 1 : 4. Konstruksi rolag tidak memenuhu
persyaratan membagi beban.

Kontruksi sloof dari beton bertulang

Konstruksi sloof ini dapat digunakan diatas fondasi batu kali apabila
fondasi tersebut dimasukkan untuk bangunan tidak bertingkat dengan
perlengkapan kolom praktis pada jarak dinding 3m.Ukuran lebar atau tinggi
sloof beton bertulang adalah >15/20cm. Konstruksi sloof beton bertulang
dimanfaatkan sebagai balok pengikat pada fondasi tiang.

3.4.2 Trasraam sebagai lapisan kedap air horizontal

Trasraam berfungsi sebagai lapisan kedap air horizontal, pencegahan


naiknya kelembaban dari tanah melalui fondasi kedalam dinding yang dapat
menyebabkan dinding busuk supaya trasraam dapat memenuhi kegunaanya
sebagai pencegah naiknya kelembaban, maka perlu diperhatikan bahwa
hampir semua bahan bangunan memungkinkan proses penyebaran
kelembaban melalui sifat higroskopis. Karena sifatnya itu, bahan bangunan
dapat menerima dan menyampaikan kelebapan berarti bisa mengisap,
menyimpan, dan melepaskan air dalam keadaan cair atau gas.

Berdasarkan bahan bangunan, lapisan trasraam menggunakan:

lapisan aspal atau bitumen atau kertas aspal


karet trasraam atau karet talang atau lembaran PE
seng pelat atau datar atau minimal BJLS 50
plesteran emulsi atau mengandung efoksi , belum diperdagangkan .
trasraam lapisan aspal digunakan diatas lantai sloof beton
bertulang atau dibawah sloof kontruksi kayu .
karet trasraam dipotong sesuai dengan lebar sloof dan dipasang
diatas sloof . setiap sambungannya harus tumpang tindih minimum
10 cm .
trasraam seng pelat atau datar . seng yang dipilih adalah seng yang
tahan karat . yang mempunyai keuntungan dalam mencegah
rayap .
plesteran emulsi biasanya plesteran semen yang ditambah bahan
sintesis sehingga plesteran tahan retak atau elastic dan kedap air .

Lapisan Kedap Air yang Vertikal

Kaki dinding harus dilindungi terhadap masuknya air tanah atau air
hujan .lapisan kedap air yang vertical dapat dibuat dari lapisan aspal atau
bitumen pada bagian luar . supaya tekanan air tanah dapat dikurangi , diberi
lapisan kerikil dan saluran vipa air kesamping rumah .

3.4.3 Pencegahan terhadap rayap

Ada beberapa macam tindakan pencegahan terhadap rayap yaitu :

- memperhatikan bahaya rayap dalam perencanaan dan perincian


pekerjaan
- melakukan pengawetan dengan obat-obatan
- melakukan pencegaan selama pelaksanaan pendirian bangunan
- menggunakan bahan-bahan bangunan yang tidak dapat dirusakkan
oleh rayap seperti beton,baja , kaca dan lain-lain

pencegahan pada tempat yang berawa-rawa .

pada daerah rawa-rawa gedung yang dibangun biasanya sederhana


dan berkontruksi kayu . bila perlu , dibawah bangunan itu diadakan galian
untuk kolam air .

Pencegahan pada lapangan yang kering

Pada bangunan kontruksi kayu diatas fondasi setempat atau lajur dari
beton, pencegahan terhadap rayap dapat dilakukan dengan cara menutup
bagian atas fondasi atau sloof dengan seng .seng dipilih dari bahan yang
tahan karat ( seng yang di galfanisasi , dengan tebal > BJLS50 ).
Sambungan-sambungan dapat dilipat dan disolder seperti semua tembusan
yang terjadi pada strip seng ini .kontruksi pencegahan terhadap rayap
dengan menggunakan seng dapat dilakukan pada fondasi kontruksi kayu
setempat maupun bton lajur . seng dipasang pas diatas permukaan sloof
atau fondasi . dengan begitu , rayap tidak mungkin dapat naik tanpa
sepengetahuan penghuni karena rayap harus melewati ujung seng yang
terbuka disekeliling semua dinding .
4. Struktur diatas permukaan tanah ( dinding dan
kolom )

4.1 pengertian dan fungsi dinding

Dinding adalah bagian struktur bangunan yang berbentuk bidang


vertical dan yang berguna untuk melingkungi , membagi atau melindungi .
selain memenuhi kebutuhan dinding juga dapat menerima beban dari
kontruksi lantai atas atau atap dan menyalurkan beban itu kepada sloof dan
fondasi . menurut struktur gedung , didnding yang menerima beban dapat
berbentuk persegi atau melingkar , berbentuk pelat , berbentuk tiang atau
kolom dimana dinding dilubangi sedemikian rupa sehingga tinggal kolom
saja .

4.1.1 pengaruh luar terhadap dinding ( suhu , cuaca , gempa bumi )

Kolom merupakan elemen linear dan dinding merupakan elemen dalam


bidang bangunan yang vertical .dinding adalah kontruksi yang berfungsi
sebagai pembagi ruang , factor pengaman maupun fungsi mistik . dinding
secara fisik dipengaruhi oleh struktur gedung serta bahan bangunan yang
dipilih .

Perlindungan terhadap sinar matahari

Perlindungan terhadap sinar matahari merupakan salah satu kebutuhan


penting didaerah beriklim tropis untuk kenyamanan dalam ruang .panas
yang diserap oleh permukaan dinding luar akan menghangatkan juga
permukaan dinding dalam sesudah beberapa waktu menurut daya serap
panas dan tebalnya dinding . perbedaan waktu tersebut sangat
mempengaruhi iklim makro dan suhu dalam ruangan .

Perlindungan terhadap air hujan .

Tergantung pada luasnya atap sengkuap yang melindungi dinding penutup


luar , pada kualitas lapisan terakhir dan pada perbandingan perekat dan
bahan tambahan pada plesteran .kestabilan terhadap beban muatan
ditentukan oleh peraturan bangunan nasional .

Dinding harus dibuat sedemikian rupa sehingga memikul berat sendiri ,


berat angin dan dalam hal merupakan diding pemikul harus dapat
memikul beban-beban diatasnya .
Diding harus dibuat tegak lurus betul
diatas lubang dengan panjang horijontal lebih dari 1,00 m dalam
dinding harus diberi balok latei dari beton bertulang , baja atau kayu
kawat .

Perlu diperhatikan bahwa persyaratan tersebut sebetulnya hanya


memperhatikan stuktur bangunan rangka dengan tebal dinding <11 cm
.pada gedung yang tidak bertingkat dan tinggi dinding tidak melebihi 3,25 m
dapat digunakan tebal dinding 10-11 cm .

Kestabilan terhadap gempa

Ditentukan oleh peraturan perencanaan tahan gempa Indonesia sebagai


berikut .bentuk gedung tahan gempa dipilih sesederhana mungkin berbentuk
bujur sangkar dan segi panjang . jika bentuk gedung yang panjang sekali
atau yang asimetris tidak dapat dihindari .

Yang paling terancam adalah lantai pertama yang berstruktur bangunan


rangka .kerusakan selalu timbul pada tempat yang lemah , misalnya pada
dinding diantara jendela-jendela .kerusakan sering juga terjadi pada
pengisian bidang diantara rangka beton bertulang , dan oleh karena itu
kestabilan rangka beton bertulang tidak terjamin lagi

4.1.2 Stuktur bangunan dan konstruksi dinding

Menurut pengertian stuktur dinding yang menerima beban , dan dinding


yang tidak menerima beban dapat menyusun konstruksi bangunan.Dinding
sebagai stuktur bangunan yang menerima beban dan menyalurkan
beban sampai ke fondasi, dinding ini adalah bagfian dari stuktur gedung
yang harus tahan lama, selama bangunan berdiri.Dinding yang tidak
menerima bebanmerupakan bagian bangunan pelengkap atau pengisi
yang membagi ruang , bagian ini harus berdiri kaku , berbobot ringan , dan
terpasang diantara konstruksi pelat lantai

Daya panggul suara kebisingan

Berdasarkan pengertian bahwa bobot per m2 suatu konstruksi bangunan


dinding mempengaruhi peredaman suara, oleh karena itu, perlu dinilai daya
menanggul suara/ kebisingan, dapat dianggap bahwa semakin besar
konstruksi dinding semakin baik meredam suara.Berhubungan dengan
akusik ruang, perlu diperhatikan bentuk ruang dan penyelesaian permukaan
bidang ( lantai, dinding , langit-langit). Dalam
bentuk ruang , pada umunya dihindari penggunaan sudut 900, paling sedikit
dinding atau langut langit sebaiknya dipasang miring atau berbentuk
lengkungan.Sebaiknya plesteran kasar( tanpa acian dan plamir).Untuk langit
langit dipilih bahan yang kasar seperti papan serat kayu.

Difusi kelembapan dan sifat higrokopis

Hampir semua bahan bangunan memugkinkan proses penyebaran


kelembapan melalui higrrokopis , sifat ini menyebabkan banhan bangunan
menerima dan menyampaikan kelembapan , berarti menghisap,
menyimpan.Semakin kecil pori-pori bahan bangunan , mak semakin besar
daya mengisap air. Semakin besar
pori-pori , semakin mudah pori-pori tersisi air. Air bisa masuk akibat
gravitasi , tekanan angin , ka[pilaritas atau kelembapan tanah.Sifat
higrokopis tidak penting dihubungkan sengan suhu dan iklim didalam ruang.
Difusi kelembapan dapat diatasi dengan menggunakan bahan bangunan
yang sifatnya higrokopis tinggi, jika dapat dihindari bahwa bangunan itu
dapat mengisap air selain dari kelembapan udara.

4.1.3 Bahan bangunan dinding dan pelapis dinding

Batu alam
Ketahanan batu alam berdasarkan berat jenis batu alam yang dapat
ditentukan sebesar 2-3t/m3.Tekanan yang diperkenankan pada batu
alam adalah:
- Batu cadas 10N/m2
- Batu paras 50N/m2-100N/m2
- Kapur kerang 30N/m2 90 N/m2
- Batu kapur 130N/m2 250N/m2
- Granit / batu pejal 200N/m2 270N/m2
Batu alam dapat dieksploitasi dengan perejang, baji,
ledakan.Permukaan batu alam dapat dipersiapkan menurut
keperluan .Pada prinsipnya , dapat ditentukan bahwa batu alam yang
keras boleh dipakai dengan permukaan yang kasar , dan batu alam
yang agak lemah memerlukn permukaan batu yang halus , sehingga
lebih tahan terhadap cuaca.

Batu bata (batu merah)


Digunakan sebagai bahan bangunan yang harus mempunyai rusuk
rusuk yang tajam, dan sikuy, bidang- bidang sisi harus datar tidak
menunjukkan retakan , tidak mudah hancur atau patah.Permukaan
batu bata harus kasar , warnanya merah , dan nyaring bila diketok.
Beton ringan berpori
Keuntungan beton ringan berpori terletak pada bobot nya yang ringan.
Yang dapat trebuat dari pasir kuarsa , kapur padam, semen Portland ,
tepung alluminium dan air. Dari segi ekologi, beton ringan berpori
dapat dinilai baik , dayanya menanggulangi bising dan panas yag
cukup tinggi , serta tertahan terhadap api.
Batako atau conblock
Pemakaian batako maupun conblock bila dibandingkan dengan batu
merah.Mengurangi jumlah batu yang dibituhkanper m2 luas dinding
secara kuantitatif.Batako dan conblock dapat diprose lewat cara
pemadatan saja dengan peralatan sederhana, karena pada umunya
tidak perlu untyuk dibakar , sehingga batako dan conblock dapat
menghemat energy,80%.
Beton
Merupakan campuran yang terdiri dari perekat, bahan tambahan dan
agregat.Tujuan dibuatnya agregat adalah mengikat biji pasir dan kerikil
serta mengisi lubang lubang diantarnya.Air digunakan dalam
pengikatan dan pengersan saat dicampurkan/diaduk.Kualitas beton
tidak tergantung pada tanbahan , air , kualitas semen , melainkan
pada pelaksaan beton , yaitu pada pencampuran komponen
komponen dan pada pekerjaan perawatan lanjutan.Beton dapat diaduk
secar manual atau masinal.

4.1.4 Penetuan konsruksi dinding yang baik

Penetuan konsruksi dinding yang baik merupakan dasar stuktur bangunan,


fungsi dinding, dan pengaruh luar.Maka , sebaiknya dipakai pola piker yang
memperhatikan analisis, konstruksi dan persyaratan , pelaksanaan dan
sintesis

4.2 Konstruksi dinding massif ( yang menerima beban)

4.2.1 pengertian dan fungsi dinding massif


Merupakan dinding dari satu bahan bangunan saja, akan tetapi pada prinsip
ini umumnya ditafsirkan lebin luas sehingga mortar dan plesteran boleh
ditambahkan, yang biasanay berfungsi sebagai bagian bangunan yang
menerima beban.

4.2.2 Konstruksi dinding batu alam

Aturan batu alam pada konstruksi dinding batu alam

Pada konstruksi dinsing batu alam, harus diperhatikan bahwa panjang batu
selalu harus dipasang tegak lurus arah gaya tekan. Perbandingan antara
panjang dan tinggi batu 1:1-1:5. Adukan mortar tidak boleh dicampur semen
Portland dan pasir karena adukan tersebut terlalu keras. Pada bagian dinding
dibawah permukaan tanah (fondasi) sebaiknya dipakai bahan adukan 1
bagian kapur : 6 bagian pasir.
Jika dinding batu alam tidak diplester, maka semua siar mendatar dan
vertical harus diisi sesudah dinding selesi. Ukuran celah dalamnya harus
sama dengan lebarnya. Sebagai mortar digunakan adukan 1 bagian semen
Portland : 0,5 bagian kapur : 4 bagian pasir menurut konstruksinya, dinding
batu alam dapat dibagi segai berikut:

- Konstruksi dinding batu alam tanpa perekat


- Konstruksi dinding batu kali
- Konstruksi dinding batu pecahan
- Konstruksi dinding batu tarahan
- Konstruksi dinding batu berlapis
- Konstruksi dinding batu alam
- Konstruksi dinding batu campur

4.2.3 Konstruksi dinding dari batu bata

Konstruksi dinding batu buatan yang dibakar (batu bata) yang


menerima beban (letaknya atau dibagian kulit bangunan) harus memenuhi
ketentuan bahwa tebal dinding batu bata minimum adalah batu atau
11cm (karena ketebalan dinding menentukan kekuatan terhadap daya tekan
vertical, gaya horizontal, gaya gempa). Dinding batu batu seharusnya
diperkuan dengan rangka pengaku yang terdiri dari kolom atau balok beton
bertulang.
ukuran-ukuran bata merah bermacam-macam tergantung kegunaan
dan pesanan, namun ukuran standartnya ialah :
1)Jenis besar : panjang 240 mm, lebar 115 mm, tebal 52 mm
2)Jenis kecil : panjang 210 mm, lebar 110 mm, tebal 50 mm
Bata merah dapat dibagi menjadi 3 tingkat seperti berikut :
1) Tingkat I dengan kuat tekan rata-rata >10 N/mm2
2) Tingkat II dengan kuat tekan rata-rata 8-10 N/mm2
3) Tingkat III dengan kuat tekan rata-rata 6-8 N/mm2

Aturan batu bata

Bata bata dalam aturan tertentu, masing-masing dihubungkan dengan


mortar menjadi satu kesatuan yang dapat menerima beban.Siar-siar tegak
selalu diusahakan agar tidak merupakan satu garis, melainkan harus
bersilang. Aturan batu bata buatan, masing-masing mempunyai sifat dan
nama khusus yang dibagi menjadi 2 golongan, yaitu lapisn dan pengaturan.
Lapisan-lapisan dibagi atas lapisan memanjang, melintang, memanjang
tegak, memanjang silang, aturan batu bata belanda dan bata gotik atau
vlaams.

4.2.4 Konstruksi dinding batako dan conblock

Ketebalan dinding yang terbuat dari batu buatan yang tidak dibakar, dari
btako atau conblock biasanya sekitar 15cm dan tinggi maksimumnya 3,0cm,
panjang dinding maksimumnya 7,5m dan luas maksimum 12m2.
Aturan pemasangan batako atau
conblock sebenarnya tidak berbeda dengan aturan penyusunan batu bata
merah. Akan tetapi, sebaiknya ukuran dinding diatur sedemikian rupa
sehingga sesuai dengan ukuran batako atau conblock yang akan digunakan.
Pada prinsipnya, digunakan aturan batu
memanjang.Penyusunan batu bata atau conblock sebelum dipakai cukup
setinggi 5 lapis, dan ini juga memudahkan pengambilan.Sebelum dimulai
pemasangan, pertama tama batako atau conblock diatur diatas fondasi atau
pada sloof agar tidak ada kelebihan atau kekurangan.Jika dinding batako
atau conblock diperkuat dengan rangka pengaku, maka dapat diberi
tulangan baja dan dicor dengan beton.Penguatan ini selalu digunakan pada
sudut-sudut, pertemuan atau persilangan dinding pada sisi pintu dan
jendela.

4.2.5 Konstruksi dinding dan kolom beton

Dinding beton terbuat dari campuran beton yang dicor didalam


bekisting.Sesudah beton tersebut menjadi keras, bekisting
dilepaskan.Dinding beton dapat diperkuat dengan menggunakan tulangan
baja, anyaman tulangan baja atau serat baja. Konstruksi dinding beton
yang baik memiliki sifat untung yakni terhadap kebakaran, tahan terhadap
gampa bumi, dan besarnya massa (penyerapan panas dan perambatan
suara melalui materi Kualitas beton tidak hanya tergantung pada bahan
tambahan, air, semen, melainkan sebagian besar pada persiapan beton
yaitu pada cara mencampurkan komponen dan para perawatan.

Bekisting dinding dan kolom beton

Bekisting untuk beton biasa maupun beton bertulang menuntun biaya yang
cukup tinggi, jika tidak digunakan berkali kali, bekisting kurang
ekologis.Bekisting harus mampu menampung dan menumpu beton basah
ditempatnya dan menjamin bentuknya.Tugas bekisting terbatas pada waktu
dan dapat dianggap sebagai bagian pembangun sementara. Bekisting
sebaiknya disusun sedemikian sehingga dapat digunakan kembali pada
kesempatan yang lain. Konstruksinya tergantung pada cara pengecoran
beton, ada tidaknya derek dan alat getar. Papan bekisting harus dipasang
sedemikian rupa sehingga papan-papan tidak akan mencembung oleh
pengaruh matahari dan hujan sebelum beton dicor.

Bekisting untuk dinding beton

Pemasangan kawat pengikat dapat dilakukan dengan memasang penopang


atau pemengang jarak sementara dengan paku dari atas.Kemudian, didekat
penopang jarak dan balok memanjang, dibor 2 lubang untuk kawat
pengikat.Rentangan kawat pengikat dapat dilakukan dengan memuntir
kawat pengikat pada persilangan sampai bekisting menjadi rapat dengan
pemegang jarak atau dengan menggunakan 2 baji.

Bekisting kolom

Bekisting kolom berbentuk bundar yang terdiri dari bilah kayu dapat diikiat
dengan papan sebagai balok.Lebar papan pengikat atau balok pengunci
>7cm pada bagian busur.Menurut garis tengah kolom, dibutuhkan 8-12
papan.

Bekisting dengan multipleks

Penggunaan multipleks sebagai bekisting jauh lebih menguntungkan jika


dipakai berulang-ulang.Keuntungan yang diperoleh ialah permukaan lebih
luas (sambungan lebih sedikit), lebih ringan, permukaannya licin.Untuk
ketahanan multipleks yang permukaannya dicat atau gunakan multipleks
yang tahan air.
4.2.6 Konstruksi dinding tanah liat (pise)

Penggunaan tanah liat dalam gradasi yang cocok dan dalam keadaan
lembab dapat ditumbuk dalam bekisting yang mirip dengan bekisting
dinding beton.Bekisting tanah liat digunakan secara bertahap-tahap, karena
tanah liat sesudah ditumbuk didalam bekisting menjadi stabil dan dapat
langsung dilepas.Sebagai pengikat bahan digunakan kayu berbentuk
kerucut, pada lubangnya dipasang kayu vertical yang memegang dinding
bekisting.Tanah liat ditumpuk dengan ketebalan <10cm sekaligus.

4.2.7 Pelapis dinding massif

Pelapis dinding batu alam atau tegel kramik

Pelapisan dinding dengan batu alam, batu buatan, tegel kramik dapat
melindungi konstruksi dinding terhadap cuaca dan menghemat biaya
pemeliharaan. Pelapisan dinding berfungsi menghindari merembesnya air
hujan kedalam konstruksi dinding, akan tetapi tidak menerima beban atau
gaya statis yang lain. Sebaiknya pelapisan dinding terlihat sebagai pelapis
dinding dan bukan meniru dinding batu alam

Pelapis dinding batu lempengan

Konstruksi lapisan dinding dengan batu alam dapat dibagi atas pemasangan
lapisan dinding batu lempengan yang melekat pada dinding dan
pemasangan lapisan dinding pelat batu alam dengan pengudaraan.

Pemasangan batu lempengan yang melekat pada dinding

Pemasangan lapisan batu lempengan yang melekat pada dinding merupakan


cara yang sangat umum. Harus diperhatikan agar dinding yang menerima
beban, yang biasanya dari batu merah, sudah cukup kering dan tidak
bergerak lagi, biasanya jika dinding tersebut sudah berumur paling sedikit 6
minggu sebelum lapisan batu lempengan mulai dipasang, guna menghindari
retak-retak. Lempengan yang dipergunakan tidak boleh terlalu besar dan
tebal.

Pemasangan lapisan dinding batu alam dengan pengudaraan

Pemasangan lapisan dinding pelat batu alam denagn pengudaraan (berupa


lubang tipis diantara struktur primer dan lapisan dinding batu alam guna
mengurangi panas oleh sinar matahari). Akan tetapi cara yang cocok jika
digunakan pelat batu alam yang digergaji dan diash halus. Pada sebelah
bawah dan atas dinding harus dibuat celah terbuka keudara luar sehingga
pengudaraan dibelakang pelat dinding terjamin.
Pemasangan pelat dinding batu alam dilakukan
dengan angkur penopang yang menerima seluruh beban lapisan
dinding.Karena itu, angkur harus dibuat dari baja anti karat (stainless-steel),
yang dipasang dengan adukan semen Portland pada dinding struktur primer.

Pelapisan dinding dengan tegel keramik

Dapat dipasang dengan satu cara yaitu melekatkan pada dinding dengan
mortat. Adukan mortar telah dibicarakan pada pemasangan lapisan dinding
lempeng batu alam.

4.3 Konstruksi dinding kerangka dan kolom

4.3.1 Pengertian dan fungsi dinding kerangka

Pada dinding berlapis dan dinding rangka, masing-masing tugas dinding


adalah menerima beban, melindungi konstruksi gedung dan penghuni,
membagi ruang, menangkal panas, dibagi atas lapisan dinding
tertentu.Dengan demikian fungsi dinding dapat dilakukan secara optimal.

4.3.2 Konstruksi bangunan rangka kayu

Konstruksi bangunan rangka kayu ialah bentuk dasar suatu bangunan


prakilang dan bangunan rangka.Konstruksi bangunan rangka kayu, menurut
susunannya dapat digolongkan atas konstruksi rangka-rangka tersusun
dengan pembangunan konstruksi dinding setingkat demi setingkat
berkonstruksi biasanya dengan tiang-balok, dan konstruksi rangka-rangka
terusan dengan tiang papan yang menmbus melalui semua tingkat
bangunan.

Kayu yang melintang

- Bantalan membatasi dinding dibagian kaki dan menumpunya. Oleh


sebab itu, bantalan seluruhnya harus bertumpu dan cukup kuat.
- Peran dinding merupakan bagian paling atas (penutup dinding, ring
balok) yang mendukung seluruh beban konstruksi lantai paling atas
dan atap.
- Palang membagi bidang antara 2 tiang atau kuda penopang dalam
bidang yang lebih kecil dan memperkuat struktur dinding. Menurut
tingginya dinding, digunakan 2-3 palang yang disambung dengan
purus biasa.

Kayu yang berdiri tegak

- Tiang menentukan tinggi dinding dan berdiri tegak lurus antara


bantalan dan terang dinding. Tiang biasanya berpenampang bujur
sangkar. Jika penampang ini tidak sesuai pada suatu titik sambungan,
maka dapat digunakan tiang ganda.

Kayu yang berdiri miring (kayu penopang)

- Kuda penopang membagi segi empat bidang dinding kedalam bidang


segitiga yang mantap dan menjaga agar dinding tidak bergerak oleh
gempa bumi atau tekanan angin. Antara tiang dan kaki kuda penopang
harus berjarak 8-12cm kayu muka, yang menghindari pergeseran.
Penampang kuda penopang setidaknya harus sama dengan tiang atau
sebaiknya 2cm lebih lebar.

4.3.4 kontruksi dinding rangka baja


kontruksi baja yang baik harus dilakukan dengan keahlian dan dikerjakan
dengan teliti . bahan , tegangan , bentuk dan ukurannya harus memenuhi
syrat-syarat peraturan nasional . bagian bangunan yang dapat mengalami
karat harus dilapisi cat anti karat . profil baja dan sebagainya harus
dibersihkan dari semua karat sebelum di cat . pembersihan tersebut dapat
dilakukan dengan kimia maupun secara mekanis .
profil bajai biasanya diperdagangkan dalam bentuk batang panjang 12,0
m . profil bajai dapat dipotong maupun disambung . sebagai sambungan
dapat digunakan sebagai keling , baut atau las . profil baja dapat diperkuat
dengan memilih baja profil yang lebih besar , 2 baja profil atau yang dilas
menjadi batang kotak atau profil baja h . perubahan penampang profil baja
harus diatur secara berangsur-angsur .perubahan secara mendadak harus
dihindarkan . pembekokan baja siku dapat dilakukan dengan memanasi
baja .sampai warnanya merah muda . lubvang untuk baut dan paku keeling
pada kontruksi yang akan memikul beban dinamis . dibawah tumpuan profil
baja harus diberi sekurang-kurangnya lapisan adukan semen Portland
setebal > 1 cm . pada kontruksi dengan baja profil rangka harus diberi pelat
atau batang sambungan secukupnya .

4.3.5 kontruksi dinding rangka beton bertulang .

Kontruksi bangunan rangka , selain dari kayu atau baja, dapat juga dibuat
dari beton bertulang . kontruksi bangunan rangka beton bertulang terdiri dari
kolom beton bertulang dan pelat lantai bertulang ynag kadang-kadang
diperkuat dengan balok pendukung . kontruksi bangunan rangka beton
bertulang paling sesuai untuk bangunan gedung yang tinggi , bangunan
didaerah rawan gempa dan sebagainya .

4.4 kontruksi dinding dalam , pemisah ruang

4.4.1 pengertian dinding pemisah ruang ( dinding yang tidak


menerima beban )
Dinding pemisah ruang tidak mempenagruhi kestabilan gedung karena
dinding tersebut tidak menerima beban apapun . walaupun demikian dinding
pemisah ruang dapat memenuhi fungsi meredam suara , mencegah
kebakaran , dan mengatur fungsi dalam ruang . kontruksi dinding pemisah
ruang dapat dikontruksikan dengan batu-batuan atau berangkai kayu / profil
baja dengan bermacam-macam lapisan . meskipun tidak menerima beban ,
dinding pemisah harus diperhatikan sehingga kestabilannya terjamin .

4.4.2 kontruksi dinding batu bata

Kontruksi dinding yang tidak menerima beban hanya berfungsi sebagai


pembagi ruang .jika dibuat dari batu bata maka tebal dinding minimum 110
mm dengan aturan batu memanjang atau ikatan setengah batang .dinding
yang membagi ruang ini pada umumnya dipasang pada tebal lantai > 60
mm dengan kolom praktis dipasang setiap 2.0-3.0 m

4.4.3 kontruksi dinding batako atau conblock

Jika dibuat dari batako atau conblock dinding dipasang diatas lantai beton
dengan tebal > 80 mm untuk batako yang tidak berlubang , sedangkan tebal
lantai 60 mm untuk batako yang berlubang . setiap panjang benteng 4,0 m
harus dipasang kolom praktis dan setiap tinggi 3,0 m dipasang ring balok .

4.4.4 kontruksi dinding kayu dan bambu

Untuk kontruksi dinding yang tidak menerima beban dan yang dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat dibongkar pasang , maka pada umumnya
dipergunakan rangka kayu ukuran 50/120 mm baik kearah vertical maupun
horijontal denga system sambungan bibir lurus atau takikan .
4.5 kontruksi dinding tirai

4.5.1 kontruksi dinding


terdiri dari elemen-elemen dinding dan jendela
yang ringan dan dipasang berjarak dengan struktur primer . kontruksi
dinding tirai terdiri dari kaca yang sangat tinggi .

4.5.2 sistem kontruksi dinding tirai

Dapat berupa , kontruksi dinding tirai beruji-ruji dan kontruksi dinding tirai
berangka . kontruksi dinding tirai dapat terdiri dari pelat atau papan seng ,
papan semen berserat atau kayu , dan kaca .

4.6 kontruksi pelubang dinding

Pembuatan lubang pembukaan pada dinding penutup luar selalu merupakan


kelemahan secara material , lubang pembukaan saling menghubungkan
ruang-ruang , menjamin pencahayaan , akan tetapi sekaligus menjadi titik
lemah structural dan sinar panas maupun pencuri dapat masuk.pembuatan
lubang pada dinding tergantung pada tekhnologi yang digunakan . dibarat
umumnya diterapkan system busur , sedangkan di asia lebih umum adalah
kontruksi dengan batu yang menonjol dan membentuk pesandaran atas
berbentuk tangga .

4.6.2 kontruksi lubang dinding dengan batu alam

Karena pembuatan lubang dinding lubang busur dan segi empat dalam
kontruksi batu alam agak jarang dilaksanakan , dalam buku ini sekedar
diperlihatkan cara sederhana .

4.6.3 kontruksi lubang dinding dengan batu bata


Arti dan guna busur adalah pembatasan lubang jendela atau pintu keatas
dan mendukung kontruksi bangunan dengan menerima beban .jika
kontruksi busur menerima beban yang terlalu besar , maka busur akan
patah . pada kontruksi dindig dengan batu merah biasanya digunakan
lapiasan batu melintang . semua
kontruksi busur dalam kontruksi batu merah membutuhkan bekisting
sebagai dasar pemasangan sampai mortar cukup kering dan kuat . jika
busur agak tinggi , maka dibuat 2 bidang papan kayu . pembuatan busur
landai dapat dilaksanakan dengan penggunaan lapisan batu melintang
berdiri atau dengan persiapan balok latei beton bertulang yang prakilang .

4.7 kontruksi pertemuan komponen dinding dengan


bangunan

4.7.1 hubungan kontruksi antara 2 bahan yang berbeda

Hubungan konstruksi antara 2 bahan yang berbeda akan selalu


menimbulkan retak-retak oleh karena itu , 2 bahan yang berbeda tidak
mngkin disambungkan secara langsung tanpa terjadi retak . karena pada
prinsipnya banguna terdiri dari struktur bangunan yang menerima beban
dan yang tidak menerima beban .
karena itu , pada garis pertemuan , bidang masing-masing harus dipisahkan
atau dibuat dengan kontruksi yang lebih teliti . kerusakan bangunan yang
terjadi seperti retak-retak pada plesteran tembok biasanya disebabkan oleh
kesalahan dalam kontruksi . untu mengatasinya dibuat celah untuk retak
pada hubungan-hubungan anatara dinding dengan lantai , dinding denga
dinding , dinding denga loteng .

4.7.2 penegetian dan kontruksi dilatasi


Suatu gedung mempunyai bentu yang berbeda bagiannya maupun struktur
berbeda , akan mengalami kerusakan berupa retak-retak pada dinding .
bahkan dapat terjadi penurunan sebagi kontruksi . hal ini terjadi karena
adanya perbedaan pembebanan yang tidak merata , sehingga apabila terjadi
penurunan maka besarnya penurunan yang satu akan berbeda dengan yang
lain . hal ini dapat diatasi dengan cara membuat cerah dilatasi .

5. kontruksi lantai dan pelat lantai

5.1 pengertian , fungsi dan kontruksi lantai dan pelat


lantai

Lantai adalah kontruksi bangunan gedung yang terletak diatas


tanah atau diatas pelat lantai . pelat lantai adalah kontruksi pemisah ruang
secara mendatar pada gedung bertingkat yang bertugas ganda .pelat lantai
harus lebih luas , maka system-sistem dapat ditambahkan menjadi kontruksi
pelat lantai yang lebih luas , jika jarak antara dinding yang meneriam beban
lebih luas , maka penambahan tidak dapat dilakukan dan pelat lantai akan
lebih tebal .

5.1.1 pengaruh luar terhadap lantai dan pelat lantai


Pelat lantai merupakan elemen dalam bidang bangunan yang horijontal yang
dapat membagi ruang pada tingginya , membentuk gedung bertingkat yang
penusunannya berguna untuk menghemat penggunaan lahan . pelat lantai
dipengaruhi secara pisik oleh bentu dan struktur gedung , kontruksi maupun
bahan bangunan yang dipilih.

5.1.2 pembentukan ruang dan bahan bangunan pelat lantai

Susunan kontruksi pelat lantai

- Penutup lantai
- Alas lantai
- Lapisan kedap air
- Pelat lantai
- Ruang utilitas
- Langit-langit

Pembentukan ruang oleh kontruksi pelat lantai

Stuktur bangunan dan kontruksi pelat lantai yang dipilih akan mempengaruhi
pembentukan ruang dibawahnya seperti struktur bangunan massif dengan
pelat lantai berkubah dengan conblock , struktur bangunan pelat diinding
sejajar dengan balok lantai kayu , struktur bangunan rangka dengan
kontruksi pelat beton betulang .

Bahan bangunan untuk lantai , pelat lantai , dan langit-langit

Batu alam tidak dapat menerima gaya tarik karena penggunaannya


terbatas .
Batu bata tidak dapat menerima gaya tarik karena penggunaannnya
terbatas pada penutup lantai atau kontruksi pelat lantai berkubah
Batu beton ringan berpori seperti batu alam tidak dapat menerima
gaya tarik.
Batako dan conblock
Kayu merupakan bahan yang bermutu tinggi untuk menutup lantai
maupun kontruksi balok lantai karena perbandingan antara bobot dan
tegangan tarik sangat baik .
Bahan kayu seperti kayu lapis , papan blok , papan lamin , papan
partikel , papan serta kayu-semen , pelat semen dengan serat buatan .
yang digunakan sebagai bahan pelapis langit-langit saja , dan
dimanfaatkan sebagi bahan mekisting
Baja profil memiliki perbandingan antara bobot dan tegangan tarik
maupun tegangan lengkung yang menguntungkan
Beton .

5.2 kontruksi lantai dan penutup lantai

5.2.1 lantai plesteran dan lantai beton

Lantai plesteran kapur-pasir dengan adukan 2 bagian(volume) pasir: 1


bagian kapur.Landasan adalah tanah yang dipadatkan atau tanah yang
distabilisasi. Dengan cara yang sama dapat dibuat lantai beton ,yakni
dengan mengganti adukan tras-kabur dengan beton.beton yang digunakan
adalah mutu II(K175-K225), dientak setebal 5-8 cm menurut keadaan alasan
tanah dibawahnya. lantai
beton dapat digosok dalam keadaan basah sampai permukaannya licin
dengan menggunakan bubur semen Portland.lantai beton yang kedap air dan
kelembapan tanah harus dibuat dengan lantai beton setebal < 8
cm.kemudian di cat aspal panas cetebal 2 mm. kemudian alas lantai setabal
4 cm dengan beton mutu K275 atau dengan campuran tras-kapur 1:5.
Penutup lantai pada alas yang rata dan licin ini adalah ubin,keramik ,kayu
atau parket, permadani.

5.2.2 Penutup lantai

Ubin semen Portland,ubin teraso dan lempeng batu alam

Lantai beton yang kedap air dan kelembapan tanah dapat dilapisi dengan
ubin semen Portland,ubin teraso,lempeng batu alam yang dipasang dengan
mortar semen setebal 1-3 cm .Lempemg batu alam dapat dibedakan
menurut jenis batunya yaitu:

o lempeng batu granit: harus berstruktur padat dengan dibelah


menjadi lempengan atau digergaji setebal 3-5 cm
o Lempeng batu marmer: herus berstruktur padat,agak halus tidak
mengandung lapisan yang berstruktur seperti mika
o Lempeng batu andesit:ubin gunung harus berstruktur
padat,dibelah menjadi lemengan yang permukaannya rata dan
datar sehingga membentuk bidang yang datar.

Tegel keramik

Dipasang dengan menggunakan perekat pengikat elastic yang diaduk sebagi


bubur semen dengan pasir halus ,air dan perekat emulsi. Siar siar diantara
pelat ubin berjarak sekitar 2 mm diisi denga bubur semen yang sama
sesudah ubin keramik terpasang 5-7 hari

Batu jalanan (paving block)


Dibuat dari beton halus setebal 6 cm dengan berbagai bentuk.batu jalanan
biasanya dipasang dalam pasir atau dengan mortar semen seperti ubin
semen.pola pemasangan adalah pola bubuk rebung ,bergaris lurus atau
berpetak persegi.

Papan kayu

Konstruksi lantai kayu yang paling sederhana ialah papan yang langsung
dipasang dan dipaku diatas sloof atau balok loteng.pada bangunan rumah
tinggal bertingkat,dapat digunakan kostruksi yang menanggulangi suara
atau bising ,yang berlapis majemuk:

Lapisan pertama sebagai lantai dasar terdiri dari papan papan


setebal >25 mm dengan lebar 6-12 cm dengan sudut 450
Lapisan kedua adalah pekat serat kayu stebal 18 mm yang
berfungsi sebagai peredam suara .pelat ini tidak boleh dilubangi
atau disambung.lapisan akhir adalah lantai kayu dengan papan
atau parket kayu tanpa member paku yang tempus pada pelat
serat kayu.lantai ini kemudian diikat dengan les lanatai pada
dinding.

Parket kayu kepala,parket papan dan parket bingkai

Parket kayu kepala digunakan sebagai lantai bengkel dan pabrik


sehingga tempat kerja sehat untuk kaki orang pekerja dengan ketebalan 6-
10 cm dan ukuran 8x8 8x20 cm. parket papan dan bingkai dibuat dari kayu
massif setebal 19-23 mm dengan alur 6 mm.parket ini dapat dipakun pada
lantai dasar atau di lem satu sama lain jikaberenang diatas pelat serat kayu
setebal 18mm.

parket digolongkan sbt:

Parket papan pendek ( 30-60 cm panjangnya dan 6-9 cm lebar).


Parket papan panjang(61-100 cm panjangnya dan 6-9 cm lebar).
Parket bingkai( bersegi 4 20x20 sampai 40x40 cm)
Bahan sintetis dan linoleum

Sebagai pengganti penutup lantai sintetis digunakan linoleum yang terbuat


dari bahan karung goni atau kanvas yang dilapisi campuran minyak
lena,getah serbuk kayu atau gabus dan pewarna. Linoleum adalah bahan
bangunan ekologis yang diperdagangkan dalam bentuk rol.penutup lantai
sintetis dan linoleum dalam bentuk pelat,lembaran atau rol biasanya dilem
dengan perekat PVA atau dengan aspal panas pada lantai dasar yang halus
dan rata.

Permadani,penutup lantai tekstil

Penutup lantai permadani juga dapat dipasang pada lantai beton yang
dilengkapi dengan lapisanb kedap air, dengan keuntungan yang diperoleh
yaitu: untuk menanggulangi kebisingan / perambatan suara melalui
materi.Serat pembuatan permadani adalah bulu domba , PA(poliamida),
PE(polyester),PP(polipropilen). Permadani juga kadang-kadang dilengkapi
dengan lapisan dasar dari karet.Permadani merupakan penutup lantai yang
sebenarya tidak cocok untuk iklim tropis lembap , dan sulit dibersihkan dari
kuman , dan debu.

5.3 Konstruksi pelat lantai

5.3.1 Konstruksi pelat lantai berkubah torak(melengkung)


Merupakan konstruksi loteng kuno yang pada awalnya dibangun
dengan batu tanah liat.Dalam konstruki, pelat lantai berkubah torak
memungkinkan suatu kesatuan antara konstruksi dinding dengan konstruksi
loteng.Penggunaan kubah torak berbentuk busur meng8kuti garis lingkaran
atau garis rantai melengkung kedinding yang menerima beban dan
mempersulit pembuatan lubang dinding untuk pintu dan jendela.

Konstruksi pelat lantai berkubah torak kecil(melengkung


landai)menggunakan busur tembereng untuk menghemat tinggi
konstruksi, yang mengakibatkan gaya horizontal pada tumpuan yang
terletak diantara busur tenbereng yang dapat digunakan dalam
konstruksi balok penopang profil baja.
Konstruksi pelat lantai berkubah torak lebar(melengkung
landai) merupakan konstruksi busur tembereng dengan lebar
bentang 3.00 m ke atas. Pembuatannya mirip dengan konstruksi pelat
lantai berkubah torak kecil , hanya tekan dalam konstruksi maupun
pada tumpuan bertambah besar.

5.3.2 Konstruksi pelat lantai dengan balok kayu

Pasangan balok lantai dan balok loteng

Balok lantai merupakan konstruksi kayu yang paling bawah sebagai


penopang lantai, yang biasanya dapat dibuat dari kayu kelas 1 yang tahan
rayap.Pengawetan dapat dilakukan dengan penggecetan.

Balok loteng memisahkan 2 lantai pada basngunan yang bertingkat, dan


sekaligus menopang konstruksi langit langit , lantai dasar dan penutup
lantai. Yang berfungsi sebagai konstruksi pembatas antara lantai yang paling
atas dengan ruang atap.
5.3.3 Konstruksi pelat lantai beton dengan balok T

Bangunan bertingkat dan konstruksi atap datar biasanya dilengkapi dengan


konstruksi pelat lantai beton bertulang , yang tahan terhadap kebakaran,
kelembapan , dan hama. Konstruksi ini merupakan suatu perkembangan dari
pelat lantai berkubah torak.Konstruksi ini biasanya lebih ringan dari pada
konstruksi pelat lantai datar.

5.3.4 Konstruksi pelat lantai beton datar

Konstruksi ini merupakan perkembangan dari pelat lantai beton dengan


balok T. tumpuan pada pelat lantai beton datar dapat dibuat linear (struktur
bangunan masif maupun pelat dinding sejajar) atau setempat ,berbentuk
cendawan(struktur bangunan rangka).karena itu ,konstruksi pelat lantai
datar dapat digunakan sebagai pelat lantai yang terarah (tulangan pokok
satu arah saja)atau yang tidak terarah(tulangan pokok bersilangan).

Bekisting pelat lantai beton bertulang

Konstruksi bekisting pelat lantai beton bertulang pada umumnya dibuat dari
kayu(kayu massif maupun multikpleks). Bekisting lain seperti pelat semen
berserat gelombang atau seng gelombang khusus akan diterangkan pada
bab pelat lantai komposit

5.3.5 Konstruksi pelat lantai komposit( termasuk bekisting semen


berserat / seng bergelombang)

Pelat lantai kayu-beton komposit terdapa dua sisitem penyelasaiannya


yaitu;

1. penggunaan papan kayu dan pelat beton sedemikian rupa sehingga papan
kayu menerima gaya tarik dan pelat beton menerima tekanan. Keuntungan
ini adalah terl;etak pada penggunaan papan secara multifungsi sebagai
papan langit-langit tanpa konstruksi penggantung, papan bekisting tidak
perlu dilepaskan lagi.Kekurangan sisitem ini adalah penyusutan beton yang
bertentangan dengan pengembangan papan kayu yang basah.Tegangan
akan mengakibatkan retakan , yang dapat diatasi dengan penggunaan beton
berserat.

2. Penggunaan balok kayu dan pelat beton sedemikian rupa, sehingga balok
kayu menerima gaya tarik dan pelat beton menerima tekanan.Keuntungan
system ini adalah terletak pada bangunan yang multipleks kayu sebagai
langit-langit tanpa konstruksi penggantung dan sebagai papan bekisting
yang tidak perlu dilepas lagi.Kekurangnya adalah pada penggunaan balok
kayu sebagai penerima gaya tarik dengan permukaan yang sempit sekali
untuk menyalurkan gaya geser dan menahan pasak baja.

Pelat lantai beton datar dengan bekisting semen berserat

Pelat semen berserat gelombang besar dapat digunakan sebagai bekisting,


terutama jika harganya seimbang dengan harga papan bekisting.Konstruksi
bekisting untuk semen berserat bergelombang mirip dengan konstruksi
bekisting kayu biasa, tetapi ukuran balok melintang dan jaraknya

Pelat lantai beton datar dengan bekisting seng gelombang

Pelat lantai beton datardengan bekisting seng gelombang kusus memiliki


keuntungan yang mirip dengan pelat lantai kayu beton komposit, karena
dapat dimanfaatkan sebagai bekisting saja, dan sekaligus sebagai penerima
gaya tarik , dan sebagai pelat lantai beton T.Biasanya bekisting seng
bergelombang khusu digunakan untuk konstruksi rangka baja, dimana
perlengkapan bekisting tidak dibutuhkan lagi.

Batang baja tulang dan jaringan baja tulangan

Pemasangan batang baja tulangan harus dilakukan dengan teliti, baja


tulangan tidak boleh menempel baja tulangan pada bekisting sedikit pun
karena bahaya karatan.Pada konstruksi bangunan yang terlindung , baja
tulangan harus berjarak 20mm dari bekisting. Pada konstruksi tudak
terlindung di dalam air, baja tulangan harus berjarak 25mm dan untuk
menjamin ketahanan dalam kebakaran selama 2 jam tebal srelimut harus
35mm.Beton bertulang baja merupakan gabungan beton yang memiliki
karakteristik kuat terhadap gaya tekan dan gaya tarik dalam perbandingan ,
dan baja yang memiliki kekuatan nterhadap gaya tarik.

Jaringan baja tulangan

Jaringan baja tulangan tidak efisien pada balok pendukung beton bertulang,
kolom dan cendawan beton bertulang.Ukuran standart jaringan BRC adalah
5.40m x 2.10m dalam bentuk lembar atau panjang 54.00m berbentuk
gulungan dengan lebar 2.10m.Sambungan memanjang (arah tulangan pokok
membutuhkan tumpangan lembar jaringan sebesar 2 kampuh las, ditambah
2.5cm.Sambungan samping lembar jaringan minimal 2.5cm saja. Jika lembar
jaringan BRC tidak mencukupi kebutuhan puncak moment melebihi
kemampuan lembar jaringan, maka dapat digunakan lembar jaringan
tambahan
6. Konstruksi Atap

6.1 Pengertian, fungsi, dan komponen konstruksi atap

Atap adalah bagian paling atas dari suatu bangunan, yang melindungi
gedung dan penghuninya secara fisik maupun metafisik
(mikrokosmos/makrokosmos).

6.1.1 Pengarruh luar terhadap atap (suhu, cuaca, kebakaran)

Pengaruh luar tehadap atap menentukan pilihan penyelesaian yang baik


terhadap suhu, cuaca,serta keamanan terhadap kebakaran sehingga atap
memenuhi kebutuhan.

6.1.2 Faktorpenentu kemiringan dan bentuk atap

Pada konstruksi kuda-kuda, kemiringan dipengaruhi prinsip konstruktif,


misalnya konstruksi atap dasar, konstruksi atap kasau, konstruksi atap peran
atau gording.Kemiringan atap berkaitan dengan pelapis atap atau
sambungan dan celah.Semakin banyak celah berarti semakin kecil ukuran
elemen penutup atap, maka atap harus dibuat semakin curam agar hair
hujan dapat mengalir dengan cepat.Kemiringan atap juga dipengaruhi cuaca
dan iklim yang ditandai dengan pergantian arah angin dan musim hujan atau
kemarau.

Elemen-elemen atap yaitu:


a. kuda-kuda yang berfungsi sebagai penopang, balok dasar,
penahan gaya tarik dan menerima gaya tekan.
b. Peran atau gording merupakan penyanggah kasau atau usuk
yang terletak pada kuda penopang.
c. Kasau atau usuk yang berfungsi sebagai penyanggah reng.
d. Reng yang berfungsi sebagai tempat mengaitkan genting.
e. Ring balok atau balok dinding yang berfungsi sebagai pendukung
balok kuda-kuda.
f. Lisplank tirisan yang berfungsi sebagai pengikat ujung kasau.
g. Lisplank ujung gevel yang berfungsi sebagai pelingdung gording
dan reng terhadap air hujan dan panas matahari agar tidak cepat
lapuk.
h. Rangka batang merupakan konstruksi rangka yang terletak pada
bidang dan saling dihubungkan dengan sendi pada ujungnya,
sehingga membentuk suatu bagian bangunan dari segi tiga.
i. Pelapis atap yang berfungsi sebagai lapisan kedap air.
j. Penutup atap yang berfungsi sebagai lapisan air terakhir.

Hubungan antara bentuk, struktur dan konstruksi atap

Menentukan konstruksi atap yang baik adalah tugas yang cukup rumit
karena banyak fator saling mempenganruhi: bentuk, struktur, konstruksi
maupun bahan bangunan. Pembentukan atap mengakibatkan persoalan
antara bentuk luar dan ruang atap yang diciptakan.

6.1.3Bahan konstruksi atap

a. Kayu merupakanbahan bangunan yang sesuai sekali untuk lenar


bentang tidak lebih dari 4m karena mudah didapat, mudah dikerjakan,
bobot yang ringan, kekuatan yang tinggi terhadap gaya tarik, tekanan
maupun lendutan.
b. Baja berbentuk profil gilas atau pelat yang dibengkokkan merupakan
bahan bangunan atap yang sesuai sekali untuk lebar bentang 10-30m
dimana konstruksi atap baja umumnya adalah konstruksi rangka
batang yang dilas yang biasanya disediakan secara prakilang
dibengkel tertentu.
c. Balok beton bertulang sebagai beton cor ditempat hanya dapat
dipertanggung jawabkan pada balok yang horizontal. Beton bertulang
harus dicor dalam keadaan mendatar pada lantai kerja dan kemudian
sebagai elemen prakilang diangkat keatas ring balok.

6.2 Konstruksi kuda-kuda dari kayu

6.2.1 Konstruksi atap bangunan dan kuda-kuda tradisional

Konstruksi kuda-kuda tradisional sering juga dinamakan konstruksi atap


peran atau bording karena dalam pertentangan dengan konstruksi atau
kasau konstruksi kuda-kuda menggunakan berbagai peran yang tepat adalh
untuk atap pelana dan atap perisai yang simetris atau tidak simetris.Kasau-
kasau diletakkan dan dipikul oleh tiang. Jika tiang pendukung atap ini berdiri
vertical, maka konstruksi atap dinamakan kuda-kuda dengan tiang dimana
tiang itu yang menerima gaya tarik yang dilengkapi dengan kuda penopang
sejajar dengan kasau. Konstruksi kuda-kuda atap kasau dan konstruksi yang
umunya digunakan adalah konstruksi atap pelana.

6.2.2 Konstruksi atap kasau atau usuk

Atap kasau dan atap kasau balok bangsal merupakan konstruksi tanpa kuda-
kuda dengan kemiringan >300.Atap kasau adalah konstruksi sederhana yang
sesuai untuk rumah yang agak kecil.Kasau biasanya dihubungkan dengan
gigi tunggal pada balok loteng.Untuk menahan geseran kesamping pada gigi
tunggal, kasau ditahan dengan paku, baut atau papan pengapit.

6.2.3 Konstruksi kuda-kuda gantung

Merupakan sistem atap yang menyalurkan semua beban kedinding luar yang
menerima beban.Konstruksi kuda-kuda gantung dipilih jika panjang balok
loteng melebihi 5m m adanya dinding pendukung atau tiang.Sebenarnya
konstruksi kuda-kuda gantung menjadi konstruksi gantung.Konstruksi kuda-
kuda gantung dipasang dengan kasau <4m.Konstruksi kuda-kuda dengan
satu tiang sesuai untuk lebar bentang >8m.

6.2.4 Konstruksi kuda-kuda dengan tiang

Merupakan system konstruksi atap yang paling sederhana dan yang


menyalurkan beban kedinding luar yang menerima beban maupun keander
yang menyalurkan beban atap kedinding dalam yang menerima
beban.KOnstruksi kuda-kuda dengan tiang dipasang kasau <4m. Tiang itu
mendukung peran yang dibebani oleh kasau-kasau dan gaya horizontal.
Perannya biasanya dikonstruksikan sebagai balok gerber dan dilengkapi
dengan kuda penopang yang menambah kestabilan kuda-kuda itu.Hubungan
diantara 2 peran secara melintang biasanya dilakukan dengan papan
pengapit yang dapat ddipasang dengan takikan dan baut.

6.2.5 Konstruksi kayu rangka batang

Merupakan konstruksi rangka segi tiga dimana garis sumbu batang harus
lurus dan masing-masing hanya menerima gaya tekan atau tarikan. Garis
sumbu batang bertemu pada titik simpul yang bekerja sebagai engsel dalam
bidang rangka batang.

Pemilihan konstruksi batang baku yang cocok

1. Atap lesenar konstruksi rangka batang sederhana, kemiringan


atap sesuka hati, lebar bentang 5-12m jarak tumpuan 1-2,5m.
2. Atap pelana konstruksi rangka batang berbaku, kemiringan atap
maksimal 150 lebar bentang 5-15m dan jarak tumpuan 1-5m.
3. Konstruksi rangka portal dengan 2 ruas merupakan system statis
tidak tertentu perhitungan dalam rangka portal dengan 2 ruas
menuntun pengetahuan khusus karena kelenturan bahan
penyambung.
4. Konstruksi rangka portal dengan 3 ruas konstruksi rangka batang
berbaku. Kemiringan atap <20o, lebar bentang 10-25m jarak
tumpuan 3-5m.

Batang penopang perata (konstruksi rangka batang memanjang) batang


masing-masing pada suatu konstruksi rangka batang tidak sama kuatnya
dengan kata lain, melengkungnya batang-batang berbeda satu sama lain.
Tergantung dari bahan pelapis dan langit-langit, bisa timbul ketidakrataan
paa bidang atap, dipandang dari sisi hubungan dan tirisan atap.

Konstruksi papan badan miring

Pada perhitungan moment lembam dan moment tahanan pada konstruksi


badan papan miring bagian badan harus diabaikan. Tegangan pada bagian
sayap dapat dianggap merata.Bagian badan paling sedikit terdiri dari 2
bagian yang bersilangan, atau jika sejajar harus diatur sehingga hanya
dibebani tarikan.

Pemilihan konstruksi papan badan miring yang sesuai

1. Atap lesenar konstruksi badan papan miring tipe a,b,c. Kemiringannya


sesuka hati lebarr bentang 5-12m jarak tumpuan 2-4m.
2. Atap pelana konstruksi badan papan miring tipe a,b,c. Kemiringan atap
<150 lebar bentang 5-12m jarak tumpuan 2-4m.
3. Konstruksi rangka portal dengan 3 ruas. Konstruksi badan papan
miring tipe a,b,c dengan kemiringan atap sesuka hati. Lebar bentang
10-20m, jarak tumpuan 3-4m.
4. Atap gigi gergaji (shed) konstruksi badan papan miring tipe a,b,c.
Bidang atap diberi papan diagonal. Kemiringan atap sesuka hati. Lebar
bentang 5-12m jarak tumpuan 4-6m.

6.2.6 Alat sambungan kayu

1. Paku dapat digunakan sebagai alat sambungan jika banyaknya minimal


4 paku.
2. Baut hanya boleh digunakan pada bangunan sederhana dan semi
permanen karena baut dinilai alat sambungan yang lunak yang
biasanya digunakan untuk menyambung kayu yang benar-benar kering
udara, karena penyusutan kayu bisa mengakibatkan retak pada kayu
dan mengurangi kekuatan sambungan.
3. Sekrub merupakan alat sambungan yang jauh lebih kuat terhadap
pencabutan dibandingkan paku.
4. Baut pasak kusus, pasak cincin, pelat kotok buldok, pelat lantai.

6.3 konstruksi kuda- kuda dari bambu


Pada umumnya ,elemen-elemen bangunan ynag dibuat dari bambu jauh
lebih murah dan ekologis jika dibandingkan dengan bahan bangunan lain
yang memiliki kegunaan yang sama.

Syarat syarat suatu bambu agar dapat digunakan sebagai konstruksi yaitu:
a. bamboo harus tua
b.berwarna jernih atau hijau tua
c.berbintik putih pada pangkalnya
d. padat
e.permukaanya mengkilap dan buku
bukunya tidak boleh pecah

6.4 konstruksi kuda kuda dari baja


Biasanya digunakan didaerah dimana balok kayu yang panjang sulit di dapat
dan harganya terlalu mahal.konstruksi kuda kuda dari baja terbuat dari pelat
baja,baja profil.dalam pembuatannya melibatkan beberapa bidang keahlian
seperti insinyur sipil,ahli gambar bangunan baj serta tukang kerja
baja.Sebagai alat samnbung yang sering digunakan adalah baut atau
las(secara tradisional baja juyga dapat menggunakan sambungan keeling)

6.5 konstruksi kuda kuda dari beton bertulang


Pada prinsipnya ,konstruksi kuda kuda dari beton bertulang dibuat dengan
penampang lintang kecil dengan kemiringan dan letaknya diatas gedung
yang tinggi tidak dapat dijamin.oleh karena itu konstruksi dari betin
bertulang yang menjamin kualitas menurut peraturan beton Indonesia yang
baru harus dicor didalam bekisting secara berbaring. Sesudah konstruksi
kuda kuda kering dan kuat (sesudah 28 hari)dapat diangkat dengan derek
dan dipasang ditempat yang dikehendaki.

6.6 konstruksi langit langit


6.6.1 pengertian,fungsi,konstruksi langit langit

Langit langit biasanya dipasang sebagai perbaikan estetika (menutup


konstruksi kuda kuda atap,ataun balok dukungan pada konstruksi pelat lantai
beton bertulang dsb.)
konstruksi langit langit terdiri dari 2 bagian yaitu: konstruksi rangka dasra
langit langit atau rangka penggantung dan lapisan penutup langit langit.

6.6.2 konstruksi rangka dasar langit langit.

Dapat digunakan sebagai lapisan atap kedua yang kedap air terhadap
kobocoran bentuk atap dan dapat direncanakan sesuai jarak kasau dan
ukuran pelat serat semen atau tripleks.penutup ukuran pelat yang digunakan
sebagai penutup langit langit.pelat tersebut dapat disusun secara datar atau
bersisik diatas atau dibawah kasau (usuk).Jika digunakan tripleks sebaiknya
lapisan atapnya dilapisi dengan cat.Pada konstruksi langit langit diatas kasau
dipasang papan berukuran 3x 10 cm.tepat diatas setiap kasau sebagai
pemdukung reng.

6.6.3 konstruksi rangka penggantung

Biasanya dibuat dari balok berukuran 5x7 cm yang dipasang berselang


seling sesuai dengan bentuk dan ukuran bahan penutup langit
langit.konstruksi bahan penggantung dari logam terdiri dari profil baja atau
aluminium yangh dipasang langsung dengan kawat gantung.pada konstruksi
kuda kuda ,penutup langit dipasang dalam profil dengan penjepit ukuran
.ukuran dan bentuknya disesuaikan dengan konstruksi penggantung dan
ukuran bahan penutup langt langit seperti tripleks 600x600
mm,600x1200mm,serat semen 500x1000mm atau gipskarton 600x1220
mm.

6.6.4 Bahan penutup langit langit

Tripleks (kayu lapis) adalah bahan bangunan yang dapat digunakan


untuk langit langit.tripleks dapat dibentuk sesuai dengan ukuran dan
bentuk konstruksi langit langit yang direncanakan.untuk mencega
melengkungnya tripleks karena ukuran dan bentuk terlalu panjang.

Ukuran tripleks yang dapat dibentuk

Ukuran Ukuran yang


Tebal standar dibentuk( maksimal)
Tripleks Panjang x lebar panjang
lebar
6 mm 2440x1220 600 mm 1220 mm
mm
4 mm 2130 x915 600 mm 600 mm
mm
Karena tripleks agak peka terhadap air,maka perlu diberi pengawet
berbentuk cat,malam,atau lapisan rapat air dibawah atap genting

Serat semen(eternit) pada umumnya diperdagangkan dengan


ukuran standar yaitu 1000x1000 mm dan 1000 x 2000 mm,agar
bentuk konstruksi langit langit dapat menyesuaikan dengan ukuran
serat semen.untuk memperkuat langit langit pelat serat semen tebal 6
mm sebaiknya diberi balok atau papan konstruksi dasar tambahan
sehingga ukuran maksimun tidak melebihi 500x1000 mm.
Gipskarton diperdagangkan dengan ukuran tebal 10 -12 mm, panjang
2440 mm serta lebar 1220 mm. bahan penutup langit langit ini bentuk
dan ukurannya dapat disesuaikan dengan bentuk konstruksi langit
langit.untuk pencegahannya rusaknya gipskarton dibutuhkan pelapis
atap yang kedap air .untuk mencegah melengkungnya giskarton maka
ukuran maksimal dibuat 600x600 mm.
Papan kayu sebagai pelapis konstruksi langit langit dipilih jenis kayu
yang mempunyai motif indah dan warnanya terang (mis.kayu ramin),
bentuk dan ukurannya disesuikan dengan konstruksi rangka dasar atau
penggantung langit langit. Tebal papan yang dipilih 10 -14 mm
Bambu sebagai bahan pelapis konstruksi langit langit sering
digunnakan sebagai anyaman di rumah pedesaan.motif dan ukuran
anyaman bamboo dapat dipesan langsung pada tempat yang
memproduksi anyaman bamboo tsb.

BAB III

REVIEW
1) Pada buku utama(panduan):
Dijelaskan bahwa bangunan itu bukan merupakan hasil karya sendiri tapi
melainkan merupakan perpaduan dari banyak factor misalnya: dalam segi
pemamfaatan unsure/factor ekonomi,bahan mentah ,energy dan orang yang
terlibat,termasuk tukang dengan keterampilan masing masing dan para ahli
di bidang bangunan misalnya:seorang arsutek
pemborong(kontraktor),mandor.

Sedangkan pada buku konstruksi bangunan gedung( pembanding)


dijelaskan bahwa bangunan itu merupakan perpaduan dari beberapa bahan
dan konstruksi sehingga dapat berfungsi sesuai dengan apa yang
direncanakan/dirancang.

2) Pada buku utama (panduan)

Dijelaskan bahwa etika dan tanggung jawab pada konstruksi bangunan itu
merupakan suatu kesatuan baik etika maupun estetika .hal tersebut
membicarakan tentang kualitas,struktur dan konstruksi yang baik dan
kuat.dimensi moral juga terlibat jika proses bangunan memperhatikan
sumber alamnya,melestarikan lingkungan.dan penanggung jawab social
dalam pembangunan dan konstruksi gedung adalah manusia dan angg0ta
masyarakat dengan hak dan kewajibannya adalah bertekad untuk tidak
menipu tidak melepaskan dari tangannya hasil kerja yang tidak mencapai
kualitas yang baik.

Sedangkan pada buku konstruksi bangunan gedung tidak ada dijelaskan


/dituliskan tentang etika dan tanggung jawab di dalam konstruksi bangunan.

Dan pada buku ilmu konstruksi bangunan gedung dijelaskan jika


tanggung jawab itu lebih ditujukan kepada orang orang yang bertanggung
jawab(penerima tugas) yang diderita/dialami oleh pemberi tugas sebagai
akibat dari kesalahan yang dibuat oleh ahli/orang yang bekerja pada waktu
pelaksanaan dan dari segi costetika lebih ditujukan pada wewenang kepada
ahli untuk memerintahkan pekerjaan tambahan yang merugikan pemakaian
praktis dari bangunan seperti yang diinginkan oleh pemberi tugas.

3) dalam buku utama:

Dalam hubungan kerja antara ahli dan pemberi tugas lebih di tujukan kepada
tenaga ahli dan pemberi tugas pada tahap persiapan suatu rencana proyek
bangunan. Tenaga ahli yang dimaksutkan adalah ahli geologi ,arsitektur
,insinyur sipil dll. Sebagai dasar ikatan hubungan kerja antara ahli dan
pemberi tugas digunakan peraturan umum yang dikatakan segala sesuatu
yang berkaitan dengan hubungan kerja antara ahli dan pemberi tugas tugas
atau lebih jelasnya lagi diterangkan dalam nbuku IRTA atau IAI(Ikatan
arsitek Indonesia)

Sedangkan pada buku ilmu konstruksi bangunan 1 dijelaskan dalam


hal hubungan kerja antara ahli dan pemberi tugas disusun oleh dewan Teknik
pembangunan indo pada tahun 1969,sebaggai pengganti peraturan
peraturan dari IRTA dan DATI( dewan arbitrase teknik Indonesia ) lebih
ditujukan pada ahli dan pemberi tugas.
4) dalam buku utama :

Dijelaskan bahwa penggalian tanah adalah upaya yang dilakukan untuk


mengubah keadaan permukaan tanah sesuai dengan kebutuhan untuk suatu
proyek pembangunan.upaya itu dapat berupa parataan permukaan tanah
,pemotongan ,pengerukan,dll. Dalam penggalian lapisan tanah humus(tanah
organis) harus dilepas terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya
penurunan yang berlebihan setelah dibangun suatu bangunan,dikhawatirkan
jika pondasi bangunan tidak menempel pada lapisan tanah asli.dan pada
pengaliran lubang bangunan dapat dilakukan dengan cara manual/traktor
/mesin keruk.

Sedangkan pada buku ilmu konstruksi bangunan 1dijelaskan bahwa


penggalian humus bangunan sebaiknya ditimbun setelah tanah harus digali
dan tanah galiannya dapat digunakan dalam pembuatan kebun.setelah
gedung atau bangunan sudah kira-kira selesai dan penggalian lubang
bangunan dibuat dengan ukuran dan letak bangunan yang direncanakan
menurut ketentuan oleh boplang,yang dapat dilakukan dengan cara manual
atau dengan kerja tangan (bangunan sederhana) dan mesin ( untuk
bangunan gedung bertingkat).
5) Dalam buku utama :

Dijelaskan bahwa perencanaan bangunan itu merupakan sebagai dasar


pengukur lahan untuk mengetahui luas lahan serta menentukan batas-batas
kepemilikan lahan dengan gambar yang dikeluarkan oleh pihak agraria yang
dikenal dengan Badan Pertahanan Negara.

Sedangkan pada buku ilmu konstruksi bangunan 1 : Dijelaskan bahwa


perencanaan bangunan merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan
pengetahuan dan pengalaman. Dalam perencanaan suatu bangunan secara
keseluruhan, kita terlebih dahulu mengetahui beberapa aspek yaitu luas
tanah, luas bangunan, letak bangunan dengan memperhatikan sifat dan
perhitungan dari setiap konstruksi, dengan mengembangkan imajinasi asli,
sehat dan nyaman.

Sedangkan pada buku ilmu konstruksi bangunan 1 tidak ada dijelaskan


tentang perencanaan bangunan

6) Dalam buku utama:

Dijelaskan bahwa pondasi merupakan bagian bangunan yang


menghubungkan bangunan dengan tanah, yang menjamin kestabilan
bangunan terhadap berat sendiri, beban berguna dan gaya-gaya dan gaya-
gaya luar terhadap gedungseperti tekanan angin, gempa bumi, yang
dipengaruhi oleh keadaan kekuatan tanah.

Sedangkan pada buku ilmu konstruksi bangunan 1 dituliskan bahwa


pondasi adalah bagian bangunan yang menghubungkan dengan tanah yang
diperhitungkan dengan tepat dalam menghindarkan penurunan gedung yang
tidak merata.

Sedangkan dalam buku konstruksi bangunan gedung dituliskan jika


konstruksi yang paling terpenting pada suatu bangunan yang berfungsi
sebagai penahan seluruh beban (hidup dan mati) yang berada diatasnya dan
gaya gaya dari luar ,yang terletak pada bagian paling bawah suatu
bangunan dengan syarat syarat:

.pondasi harus kuat

.pondasi dapat menyesuaikan kemungkinan terjadinya gerakan tanah

.pondasi dapat menahan gangguan dari unsure kimiawi dalam tanah.

7) dalam buku utama

Dijelaskan bahwa ukuran minimal pondasi dapat dilihat dari keadaan tanah.:

Kekuatan tanah dasar baik,tanah hampit tidak dapat di press,


Kekuatan tanah dasar sedang,tanah yang dapat di press,tebal lapisan
3-4 m
Kekuatan tanah dasar jelek,tanah yang menjingkir jika di press

Dalam konstruksi bangunan gedung.


ukuran pondasi ditentukan dengan konstruksinya :

Untuk pondasi batubata


Untuk pondasi batukali dengan bentuk trapezium dengan ukuran tinggi
60-80 cm lebar bawah 60-80 cm,lebar atas 25-30 cm.
Untuk pondasi setempat dibuat hanya pada titik tertentu(terdapat
kolom,yang biasanya terbuat dari beton bertulang
Untuk pondasi sumuran ,menggunakan beton berdiameter 60-80 cm
dan kedalamannya 1-2 m
Untuk pondasi melajur ,ukuran lebar dan pondasi lajur ini sama dengan
lebar bawah dari pondasi batukali,yaitu 70 cm.
Untuk pondasi tiang pancang ,kedalamanya2-5 m,ukuran diameter
pondasi dari 20,30,40 cm.
Sedangkan dalam ilmu konstruksi bangunan 1 dijelaskan ukuran pondasi
minimal dipengaruhi dan ditentukan berdasarkan kedalaman pondasi
ditentukan oleh tebalnya dinding atas dan lebarnya .

8) dalam buku utama

dijelaskan bahwa pondasi dapat dibagi atas tiang pancang (dari kayu,beton
bertukang,profil baja ) dan tiang pemboran(di beton bertulang).pondasi tiang
pancang (paku bumi),tidak dapat digunakan padaa tanah yang berisi batuan
yang besar.pemasangan /pancangan dilakukan dengan alat
pengentak,dengan bobot kepala babi yang besar serta jumlah pukulan per
menit yang kecil/tiang pancang solar dengan bobot kepala babi yang agak
kecil tetapi jumlah pukulan per menit.

Sedangkan pada buku ilmi konstruksi bangunan 1:

pondasi paku bumi diterapkan pada bangunan 1 gedung yang harus


didirikan pada suatu tanah bangunan yang tidak memungkinkan landasan
yang kokoh.gaya gaya yang diperkenalkan per paku bumi beralih dan paku
bumi pergesekan.secara konstruksi paku bumi dapat diperlakukan sebagai
paku bumi pelantak

Dan sedangkan pada buku konstruksi bangunan gedung dijelaskan


bahwa pondasi dalam adalah pondasi yang dipergunakan pada bangunan
yang berdiri diatas tanah yang lembek .pondasi ini juga dipakai pada
bangunan dengan bentangan yang cukup lebar (jarak antara kolom 6 cm)
serta dipakai juga pada bangunan bertingkat.yang termasuk dalam golongan
pondasi ini adalah pondasi tiang pancang ( beton,besi,pipa baja)pondasi
sumuran ,pondasi borpile dll
9) Dalam buku utama.

Dijelaskan bahwa konstruksi bangunan gedung dinding dan pelapis dinding


terdiri atas:Pada konstruksi dinding batualam ,harus diperhatikan bahwa
panjang batu selalu harus dipasang tegak lurus arah gaya tekan
.perbandingan panjang :tinggi batu adalah 1:1-1:5.

Jenis konstruksi ini dapat dibagi menjadi:

Konstruksi dinding batu kali


Konstruksi dinding batu pecahan
Konstruksi dinding batu tarahan
Konstruksi dinding batu berlapis
Konstruksi dinding batu batualam
Konstruksi dinding batu campur

Sedangkan pada buku Ilmu konstruksi bangunan 1, dituliskan bahwa


konstruksi dinding batu alam harus diperhatikan,bahwa panjang batu selalu
dipasang siku siku ,pada gaya arah tekan ( missal berat sendiri,tingkat atap
sebelah atas).perbandingan panjang :tinggi batu sebaiknya dipilih 1:1 1:5.
Dinding batu alam dapat dibagi menurut konstruksinya yakni:
Konstruksi dinding batu alam yang kering
Konstruksi dinding batu kali
Konstruksi dinding batu pecahan
Konstruksi dinding batu tarahan
Konstruksi dinding batu berlapis
Konstruksi dinding batu batu alam
Sedangkan pada buku konstruksi bangunan gedung ,dijelaskan bahwa
pada prinsipnya bangunan berfungsi untuk memisahkan suatu ruangan
dengan ruangan lainnya dinding bangunan pada dasarnya dibedakan atas
dinding luar dan dinding dalam.konstruksi dapat dibagi menjadi Konstruksi
dinding batu bata dimana pemasangannya harus memperhatikan syarat
syarat dan ketentuan dalam pemasangan batu bata sebagai dinding
bangunan yaitu:

Pada 2 buah lapisan berurutan ,siar siar tegak tidak boleh dipasang
segaris
Tebal spasi/mortar dalam pasangan sekitar 0,5-2 cm
Pada dinding yang tebalnya lebih dari setengah bata,hendaknya
dipasang 1 strek dalam lapisan strek berselang seling di dalam dan
diluar.
Pada pertemuan antara 2 dinding setengah bata secarab berselang
seling dipasang 2 buah 3 klesor

10) dalam buku utama.

Dijelaskan bahwa konstruksi pelat lantai dengan balok kayu,pasangan


balok lantai merupakan konstruksin kayu yang paling bawah sebagai
penopang lantai yang biasanya dibuat dari kayu kelas 1yang tahan rayap.
Dan balok loteng memisahkan 2 lantai pada bangunan yang bertingkat dan
sekaligus menopang konstruksi langit langit ,lantai dasar ,penutup lantai.
Yang dalam perencanaannya jarak balok lantai di balok loteng ,harus
memenuhi kebutuhan kestabilan dan memperhatikan ukuran ukuran bahan
bangunan yang dipasarkan ditempat,termasuk dalam hubungan dengan
konstruksi lantai dasar,bahan penutup lantai,langit langit.jarak diantara
balok 45cm( konstruksi rangka 45 cm(konstruksi rangja terusan)) dan 60-70
cm(konstruksi rangka tersusun.) Sedangkan dalam buku ilmu konstruksi
bangunan gedung 1 dituliskan bahwa konstruksi pelat lantai dengan kayu
(parkel) boleh dipasang hanya pada lantaibeton yang diisolasi terhadap
kelembapan dengan aspal /diatas lapisan plesteran yang padat dan rata
pada konstruksi loteng masif .konstruksi lantai dari kayu dibagi atas 2
macam,yaitu lapisan kayu yang tipis ( 8 mm-10 mm tebal) yang dilem
dengan perekat khusus diatas plesteran itu dan yang sering dinamakan
parket /karakul kayu.

Sedangkan dalam buku konstruksi bangunan gedung,tidak ada


dijelaskan secara rinci/tidak dibahas

11) dalam buku panduan

Dijelaskan bahwa hubungan antara bentuk,struktur dan konstruksi atap


menetukan konstruksi atap yang baik adalah tugas yang cukup rumit karena
banyak factor sehingga mempengaruhi pembentukan mengakibatkan
persoalan antara bentuk luar dan ruang atap.pada konstruksi diadakan
system rangka batang/pelat maupun bahan bangunan yang di pilih sebagai
konstruksi /kuda kuda sehingga mempengaruhi kemiringan atap.

Sedangkan pada buku konstruksi bangunan gedung dijelaskan


bahwa hubungan antara bentuk ,struktur,konstruksi atap tidak begitu
lengkap. Tapi yang dibahas adalah bahwa atap berfungsi sebagai penutup
seluruh ruangan yang ada dibawahnya ,hingga terlindung dari panas dan
hujan suatu pelapisan didukung oleh suatu konstruksi yang disebut dengan
rangka /kuda kuda yang didasarkan pada bentuk atap dan jenis bahan
penutupnya.

Sedangkan pada buku ilmu konstruksi bangunan gedung 1


,yang dibahas adalah bahwa konstruksi atap kayu terbuat kayu/balok
bangsal dengan kemiringan 300 dengan bidang atap yang condong dengan
ukuran 5,00 m untuk kasau dan balok tunggal jangan lebih dari 4,50m dan
2,50 m, dimana pemasangnya dilakukan dengan teliti dan dihubungkan
dengan gigi tunggal pada balok loteng
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Bangunan merupakan perpaduan dari berbagai bahan dan konstruksi sehingga dapat
berfungsi sesuai dengan apa yang direncanakan, seperti menjaga dan melindungi penghuninya
dari bencana apapun.Bangunan yang layak untuk di tempat tinggalin/di huni harus ditinjau dari
segi konstruksi bangunan dan perencanaan , misalnya dari segi bahan yang akan digunakaan, dan
letak bangunan, d.l.l Didalam membangun suatu bangunan diperlukan ketelitian dan keahlian
serta pengetahuan di bidang bangunan.

4.2 Saran

Sebaiknya dalam hal membangun bangunan gedung dibutuhkan perhitungan, ketelitian ,


serta keahlian .Dan bangunan yang akan kita banguan harus kita sesuaikan dengan alam.kita
tidak boleh hanya membangun saja, kita harus memikirkan secara baik-baik apa dampak
bangunan tersebut terhadap alam.Dan didalam membangun kita juga perlu menjaga etika,
estetika dan tanggung- jawab. Dalam membangun kita harus memberikan yang terbaik , agar
pemilik bangunan puas dengan karya kita. Dan jika terjadi sedikit kesalahan dalam pelaksanaan
membangun, maka kita harus bertanggung jawab, kita tidak boleh lari dari tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1987.Pedoman Mendirikan Bangunan Gedung. Jakarta:Dep.PU.

Allen, Edward. 2002. Dasar-Dasar Konstruksi Bangunan. Jakarta:Erlangga.

Bowles, J.E. 1993.Analisis dan Desain Pondasi.Jakarta:Erlangga.

Daryanto. 2005. Gambar Teknik Bangunan. Jakarta:Rineka Cipta.

Frick, Heinz.1992.Ilmu Konstruksi Bangunan Jilid 1 dan 2. Yogyakarta:Kanisisus.

Gunawan, Rudy. 2003. Penghantar Ilmu Bangunan: Yogyakarta.

Hakim, Rustam. 1987. Unsur Perancangan . Jakarta: Bina Aksara.

Hamza, Andi.dkk. 2000. Dasar-Dasar Hukum Perumahan. Jakarta: Rineka Cipta.

Kwantes, J. 1987. Membangun, Ilmu Bangunan Jilid 1 dan 2. Jakarta:Erlangga.

Muharam, A. Nugraha. 2009. Menata Funitur di Ruang Sempit. Jakarta:Griya


Kreasi.

Sardjono, A. Budi. 2005. Mengembangkan Rumah Kecil. Semarang:Trubus A.

Soegiharjo, dkk. 1987. Ilmu Bangunan Gedung Jilid 1 dan 2. Jakarta:Depdikbud.


Soekarto. 1987. Menggambar Teknik Bangunan 2. Jakarta:Depdikbud.

Sosrodarsono, Sugono. 1994. Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi. Jakarta:Pradnya


Paramita.

Supribadi, I. K. 1986. Ilmu Banguna Gedung, Seri Praktis Bangunan Sipil.


Bandung:Penerbit Armico.

Susanto, Gatut. 2009. Panduan Lengkap Membangun Rumah Bertingkat.


Jakarta:Griya Kreasi.

Tabrani, Suryanto. 2006. Auto CAD 2006. Teknik Menggambar 2D. Jakarta:Dian
Rakyat.

https://www.google.co.id/search?q=pintu&hl diupload 18 Juni 2012.

http://konstruksi-stel.blogspot.com/tentang-dan-seputar pondasi-
bangunan.html.diupload 18 Juni 2012.

http://hardi91.wordpress.com//2010/02/pondasi-sarang-laba-laba-sebagai-solusi.html.
diupload tgl 19 Juni 2012.

Ackermann, kurt. Tragwerke in der Konstrukiven Architektur. Stuggart:


DeutscheVerlags-Anstalt, 1988.

Belz, Walter et al. Mauerwerk-Atlas. Munchen: IIAD, 1984.

Cointereaux, Francois. Die Pise-Baukunst. Repr. 1803.Berlin1987.

Departemen PU. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia.Bandung.1983.

Departemen PU. Peraturan Perencanaan Bangunan Tahan Gempa.Bandung.1983.

Ebinghause, Hugo. Structure Systems. New York: Van Nostrand Reinhold Co.
1981.Frick, Frick, Heinz. Ilmu Konstruksi Bangunan Kayu. Yogjakarta:
Kanisius,1996.

Frick, Heinz. Ilmu Konstruksi Bangunan. Diktat-kuliah Vanduz:LIS, 1990.


Frick, Heinz. Mekanika Teknik1+2.Statika dan kegunaanya. . Yogjakarta:
Kanius.1997.

Frick, Heinz. Ruamh Sederhana. Kebijaksanaan Perencanaan dan kontruksi.


Yogjakarta: Kanisius, 1984.

Frick, Heinz/Fx. BambangSuskianto. Dasar-dasar eko-arsitektur.


Yogjakarta:Kanisius.1998.

Frick, Heinz/LMF.Purwanto.Sistem bentuk struktur Bangunan. Yogjakarta:


Kansius. 1998.

Gotz, Karl-Heinz et al. (ed.) Holzbau-Atlas. Munchen: IIAD, 1978.

Gut, Paul. Roof Structure Guide. St. Gall:SKAT,1993.

Gut, Paul/Ackerknecht,Dieter. Climate responsive building. St. Gall.1993.

Hamzuri.Ruamh Tradisional jawa. Jakarta:Proyek Pengembangan Permuseuman


DKI, n.d.

Hermans, Marleen. Detoriartion Charecteristics of building Components. Diss.


Eindhoven : University of Techonology.1995.

Hungerbuhler, Ruedi. Konstruktionim im Hochbau.jilid 1+2.Dietikon


:BAufachverlag,1979.

Rooner, Heinz. Kontext 72: Sockel.Zurich:ETH.1989.

Rooner, Heinz. Kontext 74:Decke,.Zurich:ETH.1986.

Rooner, Heinz. Kontext 75:Wand.Zurich:ETH.1987.

Rooner, Heinz/Frey, G.Kontext 78: Baustruktur.Zurich:ETH.1986.

Teddy Boen.Manual Bangunan Tahan Gempa.Jakarta:1978.

Stulz, Roland. Appropriate Building Materials. St.Gall:SKAT,1981.


http:// www. Goole.co.id/search?q=pintu dan hl diuplod 18 juni 2012

http:// konstruksi- stel.blogspot.com/ tentang dan seputar- pondasi-


bangunan.html, diuplod 18 juni 2012

Anda mungkin juga menyukai