Anda di halaman 1dari 26

PERENCANAAN PERKERASAN JALAN RAYA SISTEM OVERLAY

TUGAS

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkerasan Jalan yang diampu
oleh DR.TS Supratman Agus, M.T

oleh :
Taliessya Alif Wahyunindya
NIM 1304327

DEPARTEMEN PENDIDIDKAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
Perencanaan Perkerasan Overlay

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya lah penyusun telah mampu menyelesaikan tugas yang berjudul Perencanaan
Perkerasan Jalan Raya Sistem Overlay. Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Perkerasan Jalan.

Perkerasan jalan merupakan konstruksi lapisan jalan yang terdiri dari tanah dasar,
lapis pondasi dan lapis permukaan. Beban kendaraan yang melintasi jalan ditahan dan
disalurkan ke tanah melalui lapis perkerasan. Untuk menghasilkan perkerasan yang bermutu
dan ekonomis perlu memperhatikan metode perhitungan yang digunakan serta kesesuaian
dengan lalu lintas yang melalui jalan tersebut. Pada jalan yang telah mengalami kerusakan
dilakukan metode Overlay atau pelapisan kembali lapisan aspal agar jalan yang dilalui terasa
nyaman kembali.

Penyusun menyadari bahwa selama penyusunan tugas ini banyak mendapat bantuan
dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penyusun mengucapkan terimakasih kepada:

1. DR.TS Supratman Agus, M.T, selaku dosen dosen mata kuliah Perkerasan Jalan;
2. Senior dan rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan
penyusunan tugas ini.
Tugas ini bukanlah hasil karya yang sempurna karena masih banyak kekurangan, baik
dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu penyusun sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan tugas ini. Akhirnya
semoga tugas ini bisa memberikan manfaat bagi penyusun dan pembaca. Amin.

Bandung, Mei 2016

Penyusun

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


2
Perencanaan Perkerasan Overlay

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL............................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2
1.4 Batasan Masalah.................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 3
2.1. Perkerasan Jalan ................................................................................................. 3
2.2. Pertimbangan Perencanaan Perkerasan Jalan .................................................... 3
2.3. Fungsi Konstruksi Perkerasan Jalan .................................................................. 4
2.4. Lapisan Konstruksi Perkerasan Jalan ................................................................ 4
2.5. Perencanaan Perkerasan Overlay ....................................................................... 11
BAB III PERENCANAAN PERKERASAN JALAN RAYA........................................ 13
3.1 Analisis Data Lalu Lintas..................................................................................... 13
3.2 Perencanaan Tebal Perkerasan Overlay............................................................... 14
BAB IV PENUTUP ........................................................................................................ 19
4.1 Simpulan.............................................................................................................. 19
4.2 Saran.................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 20

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


3
Perencanaan Perkerasan Overlay

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Susunan tebal lapis perkerasan lentur jalan raya (flexible pavement) 2
Gambar 2.Pergerakan Air Pada Konstruksi Perkerasan .............................. 4
Gambar 3. Lapisan Jalan Perkerasan Lentur ............................................... 5
Gambar 4. Penyebaran Beban Roda Melalui Perkerasan Jalan .................. 5
Gambar 5. Jenis Tanah Dasar ditinjau dari tanah asli.................................. 10
Gambar 6. Grafik Faktor Koreksi Lendutan................................................ 11

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


4
Perencanaan Perkerasan Overlay

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Persyaratan Berat Jenis ................................................................. 8


Tabel 2. Data survei lalu lintas .................................................................... 13
Tabel 3. Temperatur Lapis Beraspal............................................................. 14
Tabel 4. Lendutan Balik tiap titik ................................................................ 16
Tabel 5. AE 18 KSAL.................................................................................. 17
Tabel 6. Nilai N sesuai tahun dan pertumbuhan ......................................... 18

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


5
Perencanaan Perkerasan Overlay

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


1
Perencanaan Perkerasan Overlay

BAB I

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Jalan merupakan suatu sarana yang dapat menghubungkan satu tmpat ke
tempat lain. Seiring dengan berjalannya waktu jalan pun berkembang dari yang
asalnya hanya untuk berjalan sampai sekarang bisa dilewati kendaraan yang besar.
Dalam perencanaan lapis perkerasan suatu jalan sangat perlu diperhatikan, bahwa
bukan cuma karakteristik material dari konstruksi penyusun lapis perkerasan dan
karakteristik lalu lintas saja yang perlu ditinjau, melainkan banyak faktor lain yang
juga besar pengaruhnya terhadap perencanaan lapis perkerasan yang tepat dan efisien.
Faktor faktor seperti ekonomi, kondisi lingkungan, sifat tanah dasar, fungsi jalan dan
faktor lainnya sangatlah penting untuk diperhatikan karena bukan cuma
mempengaruhi kekuatan dari konstruksi tetapi juga sangat berpengaruh terhadap
durability atau keawetan dari konstruksi lapis perkerasan tersebut.
Lapisan yang telah direncanakan dapat dilapis kembali akibat adanya
kerusakan pada lapisan perkerasan atau metode perkerasan secara bertahap. Proses ini
disebut pelapisan ulang atau overlay. Dari data yang ada penulis mencoba mendesain
perkerasan overlay agar jalan yang direncanakan tetap nyaman digunakan.

2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam laporan ini adalah :
a Bila data CBR lebih dari segmen, maka hitung atau rencanakan tebal konstruksi
overlay yang paling ekonomis pada panjang jalan segmen pertama?
b Berapa umur sisa pelayanan konstruksi perkerasan jalan yang masih layak sesuai
data?
c Lengkapi desain Anda dengan gambar kerja berskala (Potongan atas dan melintang)?

3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah :

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


2
Perencanaan Perkerasan Overlay

a. Bila data CBR lebih dari segmen, maka hitung atau rencanakan tebal konstruksi
overlay yang paling ekonomis pada panjang jalan segmen pertama.
b. Hitung umur sisa pelayanan konstruksi perkerasan jalan yang masih layak sesuai data.
c. Lengkapi desain Anda dengan gambar kerja berskala (Potongan atas dan melintang).

4 Batasan Masalah

Agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan, maka dilakukan pembatasan-


pembatasan terhadap ruang lingkup pembahasan. Adapun pembatasan masalah adalah
sebagai berikut:
a Penulisan dibatasi pada perencanaan tebal lapis perkerasan overlay

b Data perencanaan menggunakan data yang telah ditentukan.

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


3
Perencanaan Perkerasan Overlay

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Perkerasan Jalan


Perkerasan jalan adalah campuran agregat dan bahan pengikat yang biasa
digunakan untuk melayani beban lalu lintas di atasnya. Setiap perkerasan lalu lintas
harus dapat memfasilitasi sejumlah pergerakan lalu lintas dengan beragam jenis
kendaraan dan barang yang diangkutnya. Persyaratan umum dari suatu jalan adalah
dapatnya menyediakan lapisan permukaan yang selalu rata dan kuat, serta menjamin
keamanan yang tinggi untuk umur konstruksi yang cukup lama, juga dapat bertahan
lama di segala cuaca. Persyaratan tersebut tergantung dari imbangan antara tingkat
kebutuhan lalu lintas, keadaan tanah serta iklim yang bersangkutan.
Berdasarkan bahan pengikat yang menyusunnya, konstruksi perkerasan jalan
dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
a. Flexible Pavement, perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat
dimana lapisan perkerannya bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu
lintas ke tanah dasar.
b. Rigid Pavement, perkerasan yang menggunakan semen sebagai bahan pengikat
dimana pelat beton dengan atau tanpa tulangan diletakkan di atas tanah dasar
dengan atau tanpa lapis pondasi bawah sehingga beban lalu lintas sebagian besar
dipikul oleh pelat beton.
c. Composite pavement, perkerasan kaku yang dikombinasikan dengan perkerasan
lentur. Dapat berupa perkerasan lentur siatas perkerasan kaku, atau sebaliknya.

2.2 Pertimbangan Perencanaan Perkerasan Jalan


1. Konstruksi dan Pemeliharaan, faktor yang perlu dipertimbangkan :
a. Perluasan dan jenis drainase
b. Penggunaan konstruksi berkotak-kotak
c. Ketersediaan peralatan khususnya peralatan : pencampur material, penghamparan
dan pemadatan
d. Penggunaan konstruksi bertahap
e. Penggunaan Stabilisasi
f. Kebutuhan dari segi lingkungan dan keamanan pemakai/pengguna jalan
g. Sosial dan Strategi pemeliharaan
h. Resiko-resiko yang mungkin terjadi.

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


4
Perencanaan Perkerasan Overlay

2. Pertimbangan Lingkungan
Kelembaban :
a) Pola hujan dan penguapan
b) Permeabilitas lapisan aus
c) Kedalaman MAT (muka air tanah)
d) Permeabilitas relatif dari lapisan perkerasan
e) Bahu jalan tertutup atau tidak
f) Jenis perkerasan

Gambar 2.Pergerakan Air Pada Konstruksi Perkerasan

2.3 Fungsi Konstruksi Perkerasan Jalan


Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan pengikat yang digunakan
untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai adalah batu pecah atau batu
belah atau batu kali ataupun bahan lainnya. Bahan ikat yang dipakai adalah aspal,
semen ataupun tanah liat.

2.4 Lapisan Konstruksi Perkerasan Jalan


Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisan-lapisan yang diletakan di atas
tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk menerima
beban lalu lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya. Bebean kendaraan
dilimpahkan ke perkerasan jalan melalui bidang kontak roda berupa beban terbagi rata
Po. Beban tersebut diterima oleh lapisan permukaan dan disebarkan ke tanah dasar
penjadi P1 yang lebih kecil dari daya dukung tanah dasar.
Pada umumnya, perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan
yang tersusun dari bawah ke atas,sebagai berikut :
1. Lapisan tanah dasar (sub grade)
2. Lapisan pondasi bawah (subbase course)

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


5
Perencanaan Perkerasan Overlay

3. Lapisan pondasi atas (base course)


4. Lapisan permukaan / penutup (surface course)

Gambar 3. Lapisan Jalan Perkerasan Lentur

Gambar 4. Penyebaran Beban Roda Melalui Perkerasan Jalan

Sedangkan beban lalu lintas yang bekerja di atas konstruksi perkerasan dapat
dibedakan atas :
Muatan kendaraan yang berupa beban vertikal
Gaya rem kendaraan yang berupa beban horizontal
Pukulan roda kendaraan yang berupa getaran

Oleh karena itu sifat penyebaran gaya maka muatan yang diterima oleh masing-
masing lapisan berbeda dan semakin kebawah semakin kecil. Lapisan permukaan harus
mampu menerima seluruh jenis gaya yang bekerja, lapisan pondasi atas menerima gaya
vertikal dan getaran, sedangkan tanah dasar dianggap menerima gaya vertikal saja. Oleh
karena itu terdapat perbedaan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing
lapisan.

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


6
Perencanaan Perkerasan Overlay

1. Lapisan Permukaan ( Surface Course )


Lapisan yang terletak paling atas disebut lapisan permukaan, berfungsi antara lain
sebagai berikut :
a. Lapisan perkerasan penahan beban roda, dengan persyaratan harus mempunyai
stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan.
b. Lapisan kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan
di bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
c. Lapisan aus ( wearing Coure ), lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem
kendaraan sehingga mudah aus.
d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapis bawah, sehingga dapat dipukul oleh lapisan lain
dengan daya dukung yang lebih buruk.

Untuk dapat memenuhi fungsi tersebut di atas, pada umumnya lapisan


permukaan dibuat dengan menggunakan bahan pengikat aspal sehingga menghasilkan
lapisan yang kedap air dengan stabilitas yang tinggi dan daya tahan yang lama. Jenis
lapis permukaan yang umum digunakan di Indonesia:

Lapisan Non-Struktural
a. Burtu ( Laburan aspal satu lapis ), merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan
tebal maksimum 2 cm.
b. Burda ( Lapisan aspal dua lapis ), merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapisan aspal yang ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan
dengan tebal padat maksimum 3,5 cm.
c. Latasir ( Lapisan Tipis Aspal Pasir ), merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapisan aspal dan pasir alam bergradasi menerus di campur, dihampar dan
dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2 cm.
d. Buras ( Laburan Aspal ), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal
taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inchi.
e. Latasbum ( Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari
campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur
secara dingin dengan tebal padat maksimum 1 cm.

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


7
Perencanaan Perkerasan Overlay

Lapisan Struktural
a. Penetrasi Macadam ( Lapen ), merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari
agregat pokok dan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yang diikat
oleh aspal dengan cara disemprotkan diatasnya dan dipadatkan lapis demi lapis. Di
atas lapen ini biasanya diberi laburan aspal dengan agregat penutup. Tebal lapisan
satu lapis dapat bervariasi antara 4 10 cm.
b. Lasbutag merupak suatu lapisan pada konstruksi jalan yang terdiri dari campuran
antara agregat, asbuton dan bahan pelunak yang diaduk, dihampar dan dipadatkan
secara dingin. Tebal pada tiap lapisannya antara 3 5 cm.
c. Laston ( Lapisan aspal beton ), merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan
yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai gradasi
menrus, dicampur, dihampar, dan dipadatkan pada suhu tertentu.

Lapisan Pondasi Atas ( Base Course )


Lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan
dinamakan lapis pondasi atas ( base course ). Karena tepat terletak di bawah permukaan
perkerasan maka lapisan ini menerima pembebanan yang berat dan yang paling
menderita akibat muatan, oleh karena itu material yang digunakan harus berkualitas
sangat tinggi dan pelaksanaan konstruksi harus dilaksanakan dengan cermat. Secara
umum base course mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan
menyebarkannya ke lapisan di bawahnya.
b. Lapisan peresapan untuk lapisan di bawahnya.
c. Bantalan terhadap lapisan permukaan.
Sebagaimana disebutkan di depan bahwa material yang digunakan untuk lapis
pondasi atas ( base course ) adalahmaterial yang cukup kuat. Untuk lapis pondasi atas
tanpa bahan pengikat umumnya menggunakan material dengan CBR ( california bearing
ratio ) > 50 % Plasitas Index (PI) < 4 %. Bahan-bahan alam seperti batu pecah, kerikil
pecah, stabilitas tanah dengan semen dan kapur dapat digunakan sebagai base course.
Jenis lapis pondasi atas yang umum digunakan di Indonesia antara lain :

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


8
Perencanaan Perkerasan Overlay

a. Agregat bergradasi baik, dapat dibagi atas batu pecah kelas A, batu pecah kelas B,
dan batu pecah kelas C. Batu pecah kelas A mempunyai gradasi lebih kasar dari batu
pecah kelas B, dan batu pecah kelas B lebih kasar dari batu pecah kelas C. Kriteria
dari jenis lapisan di atas dapat diperoleh dari spesifikasi yang diberikan. Sebagai
contoh diberikan persyaratan gradasi dari lapisan pondasi kelas B. Lapis pondasi
kelas B tersiri dari campuran kerikil pecah atau batu pecah dengan berat jenis
seragam dengan pasir, lanau atau lempung dengan persyartan di bawah ini :

Tabel 1. Persyaratan Berat Jenis


ASTM Standard Sieve Persentase Berat Lolos Butir
1.5 100
1 60 100
0.75 55 85
No 4 35 60
No 10 25 50
No 40 15 30
No 200 8 15

Partikel yang mempunyai diameter kurang dari 0,02 mm harus tidak lebih
dari 3 % dari berat total contoh bahan yang diuji.
b. Pondasi Macadam
c. Pondasi Telford
d. Penetrasi Mcadam ( Lapen )
e. Aspal Beton Pondasi ( Asphalt Concrete Base / Asphalt Treated Base )
f. Stabilisasi yang terdiri dari :

Stabilisai agregat dengan semen ( Cement Treated Base )


Stabilisai agregat dengan kapur ( Lime Treated Base )
Stabilisai agregat dengan aspal ( Asphalt Treated Base )

Lapisan Pondasi Bawah ( Sub Base Course )


Lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan tanah dasar dinamakan
lapis pondasi bawah ( sub base ) yang berfungsi sebagai :
a. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
Lapisan ini harus cukup kuat, mempunyai CBR ( 20 % dan Plastisitas Indeks (PI) >
10 %

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


9
Perencanaan Perkerasan Overlay

b. Efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif murah dibandingkan


dengan lapisan perkerasan di atasnya.
c. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal
d. Lapisan peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi
e. Lapisan pertama, agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Hal ini sehubungan dengan
kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh
cuaca, atau lemahnya daya dukug tanah dasar menahan roda alat berat.
f. Lapisan untuk mencegah partikel-patrikel halus dari tanah dasar naik ke lapis
pondasi atas. Untuk lapisan itu lapisan pondasi bawah haruslah memenuhi syarat
filter, yaitu :

Dimana :
D15 : diameter butir pada keadaan banyaknya persen yang lolos = 15 %
D85 : diameter butir pada keadaan banyaknya persen yang lolos = 85 %

Jenis lapisan pondasi bawah yang umum digunakan di Indonesia adalah :


a. Agregat bergradasi baik, dibedakan atas sirtu/pitrun yang terdiri dalam kelas A, kelas
B dan kelas C. Sirtu kelas A bergradasi lebih kasar dari sirtu kelas B, yang masing-
masing dapat dilihat pada spesifikasi yang diberikan.
b. Stabilisasi yang terdiri dari :

Stabilisai agregat dengan semen ( Cement Treated Base )


Stabilisai agregat dengan kapur ( Lime Treated Base )
Stabilisai agregat dengan aspal ( Asphalt Treated Base )

Lapisan Tanah Dasar ( Sub Grade )


Lapisan tanah setebal 50 100 cm dimana di atasnya akan diletakan lapisan pondasi
bawah dinamakan lapisan tanah dasar ( sub grade ) yang dapat berupa tanah asli yang
dipadatkan ( jika tanah aslinya baik ), tanah yang didatangkan dari tempat lain dan
dipadatkan atau tanah yang distabilisasi dengan kapur atau bahan lainnya. Pemadatan

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


10
Perencanaan Perkerasan Overlay

yang baik akan diperoleh jika dilakukan pada kondisi kadar air optimum dan diusahakan
kadar air tersebut konstan selama umur rencana. Hal ini dapat dicapai dengan
pelengkapan drainase yang memnuhi syarat. Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan
tanah dasar ( sub grade ) dapat dibedakan atas ( seperti yang ditunjukan pada gambar
3.3)
a. Lapisan tanah dasar, tanah galian
b. Lapisan tanah dasar, tanah timbunan
c. Lapisan tanah dasar, tanah asli

Sebelum lapisan-lapisan lainnya diletakan, tanah dasar ( sub grade ) dipadatkan


terlebih dahulu sehingga tercapai kestabilan yang tinggi terhadap perubahan volume,
sehingga dapat dikatakan bahwa kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan
sangat ditentukan oleh sifat-sifat daya dukug tanah dasar.

Gambar 5. Jenis Tanah Dasar Ditinjau Dari Tanah Asli

Masalah-masalah yang sering dijumpai menyangkut tanah dasar ( sub grade ) adalah :
a. Perubahan bentuk tetap dari jenis tanah tertentu akibat beban lalu lintas. Perubahan
bentuk yang besar akan menyebabkan jalan tersebut rusak. Tanah-tanah dengan
plastisitas tinggi cenderung akan mengalami hal ini. Lapisan-lapisan tanah lunak
yang terdapat di bawah tanah dasar harus diperhatikan. Daya dukung tanah dasar
yang ditunjukan nilai CBR dapat merupakan indikasi dari perubahan bentuk yang
dapat terjadi.

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


11
Perencanaan Perkerasan Overlay

b. Daya dukung tanah dasar yang tidak merata pada daerah dengan macam tanah yang
sangat berbeda. Penelitian yang seksama atas jenis dan sifat tanah dasar sepanjang
jalan dapat mengurangi akibat tidak seragamnya daya dukung tanah dasar.
Perencanaan tebal perkerasan dapat dibuat berbeda-beda dengan membagi jalan
menjadi segmen-segmen berdasarkan sifat tanah yang berlainan.
c. Perbedaan penurunan ( differntial settlement ) akibat terdapatnya lapisan-lapisan
tanah lunak di bawah tanah dasar akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk
tetap. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan penyelidikan tanah dengan diteliti.

2.5 Perencanaan Perkerasan Overlay

Overlay perkerasan terdiri dari 4 macam overlay.

1. HMA Overlay diatas perkerasan asphalt


Design-nya mulai dari berdasarkan perhitungan empiris sampai kepada keputusan dari
seorang engineering.

2. HMA Overlay diatas perkerasan PCC (Rigid Pavement)


Analisis mekanisnya sangat sulit, karena terdiri dari dua material yang berbeda, yang
tentunya mempunyai sifat yang berbeda. Sebelum di-overlay, lapisan lama harus dalam
keadaan baik atau sudah diperbaiki kondisinya. Jika rigid pavementnya tidak bisa diperbaiki,
satu-satunya cara harus dihancurkan, kemudian dibuat perkerasan kembali, dengan
perhitungan buka overlay tetapi perkerasan baru rigid.

3. PCC Overlay diatas perkerasan Asphalt Pavement


Penggunaan overlay ini tidak umum dilakukan. Tetapi pernah dilakukan di negara
lain. Prosedur desain sama dengan prosedur perhitungan desain baru, dan perkerasan yang
ada menjadi pondasi bagi perkerasan lama.

4. PCC Overlay diatas perkerasan PCC Pavement


Ada tiga macam overlay ini, yaitu : unbonded, bonded dan partially bonded.

TALIESSYA ALIF WAHYUNINDYA - 1304327


12
BAB III
PERENCANAAN LAPIS PERKERASAN OVERLAY

3.1. Analisis Data Lalu Lintas

Besarnya volume lalu lintas yang ada dan perbandingan banyaknya lalu lintas yang
melewati jalur jalan tersebut akan menjadi dasar perencanaan perkerasan jalan dalam
menentukan angka pertumbuhan lalu lintas. Data sekunder lalu lintas diperoleh dari tahun
1998 2004, adalah seperti tabel di bawah ini :

Tabel 2. Data survei lalu lintas

Total Jumlah tiap jenis Kendaraan ( %)


Tahu
LL / Traile
n PC PU T2as T3as T4as Bus MC
Unit r
1998 21000 30.3 18.3 12.2 4.3 9.2 5.4 8 12.3
1999 23000 34.2 15.3 12.7 3.3 11.7 5.3 10.2 7.3
2000 25500 32.7 12.2 11.3 6.2 6.4 4.2 8.3 18.7
2001 2900 27.3 9.4 18.7 8.2 6.6 5.3 8.2 16.3
2002 33700 30.2 15.7 13.2 4 8.7 3.7 9.2 15.3
2003 34000 30.7 10.2 12.3 8.2 8.7 6.4 7.2 16.3
2004 38000 31.3 11.3 10.3 8.2 8.7 3.3 10.2 16.7

3.2 Perencanaa Tebal Lapisan Overlay


Dalam perencanaan overlay lebih sederhana dibandingkan dengan perencanaan lentur
ataupun rigid. Data awal yang dieprluka adalah hasil dari uji Bankleman Beam sebagai
berikut:
H1 = 10 cm
H2 = 20 cm
Tu = 27 0C
Tp = 35 0C
Tu + Tp = 27+35 = 62 0C

Tabel 3 Temperatur Lapis Beraspal

Dari tabel diatas didapat nilai :


Tt = 28.6 0C
Tb = 31 0C
TL = (Tu+Tt+Tb)/3
= (35+28.6+31)/3
= 31.5 0C

Ca = 0.8 (Muka Air tinggi)


FKB-BB = 0.99
Lalu nilai FT didapat dari grafik

Gambar 6 Grafik Faktor Koreksi Lendutan (Ft)

dengan nilai TL = 31.5 0C didapat nilai FT = 1.1

Setelah didapat semua nilai diatas maka kemudia dimasukan dengan data hasil dari
benkleman beam hingga mendapatkan nilai rata-rata dan standar deviasi

d rata-rata = d/n

(n d 2( d )2 )
Sd= n (n1)
Tabel 4 Lendutan balik tiap titik

didapat: d rata-rata = 12.35


SD = 6.229
FK = SD/d x 100%
=6.229/12.35 x 100%
= 25.36 % Baik
Tabel 5 AE 18 KSAL

Pethitungan Lendutan izin


Dijin = 5.5942 x e-0.2769xlogX
= 5.5942 x e-0.2769xlog(0.296147)
= 6.475 mm
Dwakil = d + 2s 98%
= 12.35 + (2 x 6.229 x 98%)
= 24.56 mm

Pehitungan Tebal Tambahan


2.303 log ( D )0.408(1log ( X ))
Tov = 0.080.013(log ( X ) )

= 14.33 mm
Tov minimal 4 cm, maka diambil Tov = 4 cm
Karena lapisan tambahan menggunakan bahan Aspal Beton, maka nilai tersebut perlu
dikalikan dengan factor konversi bahan tersebut dengan nilai 1, maka didapat ketebalan
Tov = 4 x 1 = 4 cm.

Perhitungan Umur Sisa Konstruksi


r = 7.18 %
n = 5 tahun
N didapat dari tabel berikut :
Tabel 6 Nilai N sesuai tahun dan pertumbuhan

N = 5.98
Umur Pelayanan Konstruksi
2 2
n =
( i ) ( )
log 2 N + +1 log + 1
i
log ( i+ 1 )

2 2
=
(
log 2 x 5.98+
7.18 ) (
+1 log
7.18
+1 )
log ( 7.18+1 )

= 1,11 bulan
BAB IV

PENUTUP

1 Simpulan

Setelah melakukan perhitungan perancangan perkerasan jalan, maka didapatkan :


Lendutan balik yang mewakili pada segmen jalan menurut pengujian Benkelman
beam adalah sebesar 24.56 mm, sedangkan lendutan izinnya adalah 6.47 mm.
Tebal Perkerasan tambahan yang dibutuhkan adalah 1.433 cm, namun yang
digunakan adalah tebal perkerasan minimum yaitu 4 cm
Umur sisa kinerja jalan adalah 1.11 bulan

4.1 Saran
Dalam perencanaan perkerasan overlay harus diperhatikan dalam hasil uji bankelman
beam karena akan sangat berpengaruh pada semua perhitungan overlay ini, terutama dalam
tebal overlay.
DAFTAR PUSTAKA

AASHTO, American Association of State Highway and Transportation Officials, Guide for
design of pavement structures

Suryawan, Ari. 2009. Perkerasan Jalan Beton Semen Portland (Rigid Pavement)
Perencanaan Metode AASHTO. Yogyakarta. Beta Offset.
LAMPIRAN