Anda di halaman 1dari 93

dan

dan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
DIREKTORAT BINA TEKNIK
SUBDIT TEKNIK JEMBATAN Januari 2009
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


DAN
KETENTUAN TERKAIT DALAM PERWUJUDAN
KONSTRUKSI JEMBATAN

Januari 2009
(1)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR

URAIAN UMUM

Januari 2009

1
Kata Pengantar

Jembatan merupakan bagian dari salah satu prasarana perhubungan yang pada
hakekatnya merupakan unsur penting dalam mendukung perekonomian dan
kehidupan masyarakat serta merupakan wahana dalam menciptakan kesatuan
dan persatuan bangsa dalam mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila
seperti termaktub di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Oleh karena itu, Direktorat Bina Teknik Ditjen Bina Marga sebagai institusi
terdepan dalam penyelenggaraan jembatan mempunyai tugas melaksanakan
pembinaan teknis penyelenggaraan jembatan. Perencanaan teknis jembatan
sebagai domain kegiatan dari Sub Direktorat Teknik Jembatan Dit. Bintek Ditjen.
Bina Marga meliputi Pengembangan gagasan (design development), Preliminary
Desain, Detail Engineering Design (DED) sampai dengan penyiapan rencana
kerja (shopdrawing).

Salah satu tugas pembinaan teknis penyelenggaraan jembatan adalah


penyusunan Prosedur Operasional Standar (POS). Beberapa POS yang penting
perencanaan teknis jembatan tersebut telah disusun seperti diuraikan pada
dokumen ini adalah (1) Uraian Umum, (2) Penyusunan Kerangka Acuan Kerja, (3)
Survey Pendahuluan, (4) Survey Lalu Lintas, (5) Survey Geodesi, (6) Survey
Geoteknik, (7) Survey Hidrologi, (8) Perencanaan Teknis Jembatan, (9)
Penyampaian DED, (10) Penyelenggaraan Jembatan Khusus.

Jakarta, 19 Januari 2009

Subdit Teknik Jembatan


Direktorat Bina Teknik
Direktorat Jenderal Bina Marga

i
Daftar Isi

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR DAN


KETENTUAN TERKAIT DALAM PERWUJUDAN PRODUK
KONSTRUKSI JEMBATAN

1. POS Uraian Umum........................................................................................ 1-1/5

2. POS Penyusunan Kerangka Acuan Kerja ..................................................... 2-1/7

3. POS Survey Pendahuluan ............................................................................ 3-1/6

4. POS Survey Lalu Lintas ................................................................................ 4-1/5

5. POS Survey Geodesi .................................................................................... 5-1/8

6. POS Survey Geoteknik ................................................................................. 6-1/7

7. POS Survey Hidrologi ................................................................................... 7-1/6

8. POS Perencanaan Teknis Jembatan .......................................................... 8-1/12

9. POS Penyampaian DED ............................................................................... 9-1/9

10. POS Penyelenggaraan Jembatan Khusus ................................................ 10-1/13

ii
Daftar Gambar

Gambar 1-1. Keterkaitan berbagai pihak dalam mewujudkan produk infrastruktur .........................1-1/5

Gambar 1-2. Skema Penjadwalan rencana penyelenggaraan pelaksanaan jembatan ...................1-2/5

Gambar 1-3. Perbandingan Tingkat Resiko Investasi vs terhadap

Biaya Penyiapan Studi-Kajian ......................................................................................1-3/5

Gambar 3-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey Pendahuluan ...........................................................3-6/6

Gambar 4-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey Lalu Lintas ...............................................................4-5/5

Gambar 5-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey Geodesi ..................................................................5-8/8

Gambar 6-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey Geoteknik ................................................................6-7/7

Gambar 7-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey Hidrologi ..................................................................7-6/6

Gambar 10-1. Tahapan Pengadaan Pelaksanaan Jembatan Khusus ........................................................ 10-11/13

iii
Daftar Tabel

Tabel 1-1. Status POS Perencanaan Teknik Jembatan...................................................................1-4/5

Tabel 1-2. Daftar POS Pelaksanaan Teknik ....................................................................................1-5/5

Tabel 1-3. Status POS Pemanfaatan Bidang Jembatan ..................................................................1-5/5

Tabel 2-1. Jenis Laporan yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa............................................2-4/7

Tabel 2-2. Prosentase Alokasi Waktu setiap Jenis Laporan............................................................2-5/7

Tabel 2-3. Kualifikasi Tenaga Ahli untuk setiap Jenis Laporan........................................................2-5/7

Tabel 2-4. Jumlah Personil Tenaga Ahli berdasarkan Jenis Laporan..............................................2-6/7

Tabel 2-5. Billing Rate Tenaga Ahli ..................................................................................................2-6/7

Tabel 3-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat dalam Survey Pendahuluan...........................3-6/6

Tabel 4.1. Penggolongan Jenis Kendaraan .....................................................................................4-3/5

Tabel 4-2. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat dalam Survey Lalu Lintas...............................4-4/5

Tabel 5-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat dalam Survey Geodesi...................................5-7/8

Tabel 6-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat dalam Survey Geoteknik ................................6-5/7

Tabel 6-2. Spesifikasi Pengujian Tanah di Laboratorium.................................................................6-6/7

Tabel 7-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat dalam Survey Hidrologi ..................................7-5/6

Tabel 9-1. Penyiapan DED melalui kontrak .....................................................................................9-2/9

Tabel 9-2. Penyiapan DED melalui Kegiatan Swakelola PU ...........................................................9-2/9

iv
1. POS: Uraian Umum

URAIAN UMUM

A. Pendahuluan

Prosedur Operasional Standar (POS) penyelenggaraan jembatan meliputi seluruh


rangkaian yang dimulai dari suatu gagasan/impian akan suatu infrastruktur sampai
dengan tahapan operasional jembatan, dan biasanya dibagi dalam 4 (empat)
kelompok besar yaitu:

- Studi-studi pendukung terwujudnya gagasan

- Perencanaan teknis, adalah perwujudan blueprint dalam bentuk produk


rekayasa atau perencanaan teknis

- Fisik konstruksi, adalah perwujudan blueprint dalam bentuk fisik konstruksi


yang merupakan sinergi antara pihak kontraktor dan konsultan pengawas
dalam mengamankan produk perencanaan teknis

- Pemanfaatan dan pemeliharaan, sesuai dengan asumsi dan pertimbangan


dalam rekayasa

Keterkaitan berbagai pihak dalam mewujudkan produk infrastruktur yang sesuai


dengan kebutuhan dan pemanfaatan rencana, ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1-1. Keterkaitan berbagai pihak dalam mewujudkan produk infrastruktur

Pada umumnya penyusunan rencana penyelenggaraan pelaksanaan jembatan


mengikuti skema penjadwalan seperti yang ditunjukkan pada gambar 2. Lamanya

Subdit Teknik Jembatan, Bina Teknik 1 - 1/5


1. POS: Uraian Umum

waktu perwujudan suatu pelaksanaan jembatan, berkisar antara 2 sampai dengan


5 tahun, tergantung pada besaran pelaksanaan yang ditinjau.

Studi Sosial Ekonomi Studi Kelayakan Preliminary/ Design


& Pra-Studi (1 Th) Development
Kelayakan (1 Th) (1 Th)

Final Engineering Konstruksi dan Operasional


(2 Th) Supervisi Dan
(3 Th) Pemeliharaan

Gambar 1-2. Skema Penjadwalan rencana penyelenggaraan pelaksanaan jembatan

Agar diperoleh mutu yang baik sesuai persyaratan yang diminta, perlu diterapkan
sistem manajemen mutu yang dituangkan dalam rencana mutu berupa Rencana
Mutu Pelaksanaan (RMP) maupun Rencana Mutu Kontrak (RMK) pada setiap
langkah pekerjaan mulai dari studi sosial ekonomi dan pra-studi kelayakan hingga
pekerjaan konstruksi dan supervisi.

B. Studi-Studi Pendukung

Studi-studi pendukung diperlukan untuk pelaksanaan baru atau pelaksanaan


dengan kondisi lalu-lintas relatif kecil di bawah 1000 kendaraan per-hari. Saat ini
telah tersedia suatu prosedur yang sistematis dalam penyusunan rencana dan
program pelaksanaan jembatan di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga
yaitu

IBMS bersama-sama dengan IRMS, sistem yang diperuntukkan


menyusun rencana dan program pelaksanaan jembatan.

Dengan sistem yang ada yaitu IBMS dapat disusun rencana dan program
jembatan untuk jangka panjang (5 tahunan) dan program tahunan dengan
prosedur incremental economic analysis yaitu dengan membandingkan antara
adanya pelaksanaan dengan tidak adanya pelaksanaan dengan asumsi:

Subdit Teknik Jembatan, Bina Teknik 1 - 2/5


1. POS: Uraian Umum

- Volume lalu-lintas terus meningkat dengan kenaikan tertentu

- Kerusakan jalan dan jembatan mengikuti suatu kurva kerusakan tertentu


(deterioration model)

- Bunga bank tetap (Interest) untuk suatu kurun waktu analisis

Sedangkan untuk pelaksanaan yang tidak dapat dievaluasi menggunakan sistem-


sistem yang ada seperti pelaksanaan jembatan besar yang akan melibatkan
investasi besar, maka perlu dilakukan kajian-kajian dan studi-studi pendukung.
Kajian dan studi ini menjadi sangat penting mengingat kegagalan dalam
penyiapannya akan berdampak pada kesalahan investasi yang melibatkan biaya
lebih besar dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk melakukan studi
dan kajian tersebut. Kurva berikut ini menggambarkan tingkat resiko investasi
dibandingkan dengan biaya penyiapan studi/kajian.

Biaya Investasi
Studi dan Kajian

Perencanaan Teknis

Pelaksanaan Fisik

Pemanfaatan
Resiko
WAKTU

Gambar 1-3. Perbandingan Tingkat Resiko Investasi vs terhadap Biaya Penyiapan Studi-Kajian

Pada gambar 3 terlihat bahwa kebutuhan biaya untuk studi dan kajian (dalam hal
ini Feasibility Study) relatif kecil dibandingkan resiko investasinya. Sehingga
Resiko kegagalan dan/atau ketidakoptimalan penyiapan perencanaan teknis lebih
kecil dibandingkan dengan kegagalan menyiapkan FS.

C. Perencanaan Teknis Jembatan

Perencanaan teknis jembatan merupakan domain kegiatan Sub Direktorat Teknik


Jembatan, Direktorat Bintek, Ditjen Bina Marga. Perencanaan teknis jembatan

Subdit Teknik Jembatan, Bina Teknik 1 - 3/5


1. POS: Uraian Umum

meliputi Pengembangan gagasan (design development), Preliminary Desain,


Detail Engineering Design (DED) sampai dengan penyiapan rencana kerja
(shopdrawing).

Konsep pengadaan perencanaan teknis yang ada sekarang masih belum optimal
sehingga setiap pengadaan DED perlu dilengkapi dengan kajian alternatif design.
Walaupun, pada tahap DED masih ada kegiatan pengembangan gagasan dan
pemilihan alternatif rencana, namun sifatnya sudah terbatas mengingat penyedia
jasa (konsultan perencana) yang terlibat akan melakukan kajian yang sudah
tertentu tanpa banyak alternatif. Hal ini akan membatasi pilihan alternatif yang
optimal baik dari segi efektivitas, efisiensi dan estetika bagi pengguna jasa.

Pengadaan konstruksi dalam bentuk EPC (Engineering Procurement and


Construction) adalah perencanaan teknis yang disiapkan oleh penyedia jasa
dengan memberikan alternatif pilihan DED yang optimal dari ketiga aspek di atas,
apalagi bila ditunjang dengan perencanaan yang disayembarakan.

Tabel 1-1. Status POS Perencanaan Teknik Jembatan

No. POS Perencanaan Teknik Jembatan Status

1 POS Penyusunan KAK (TOR) Tersedia

2 POS Pengadaan Penyedia Jasa (Konsultan) FC-1

3 POS Survey Pendahuluan Tersedia

4 POS Inventarisasi Jembatan Ex-BMS92

5 POS Detail Jembatan Ex-BMS92

6 POS Survey Lalu Lintas Tersedia

7 POS Survey Geodesi Tersedia

8 POS Survey Geoteknik Tersedia

9 POS Survey Hidrologi Tersedia

10 POS Perencanaan Teknis Jembatan Tersedia

11 POS Penyampaian DED Tersedia

12 POS Penyusunan Harga Satuan Ex-SK BM

13 POS Permintaan Bahan Jalan & Jembatan FC-4


Catatan : ex-BMS92 = Manual Pemeriksaan Jembatan

Subdit Teknik Jembatan, Bina Teknik 1 - 4/5


1. POS: Uraian Umum

D. Pelaksanaan Fisik

Perwujudan blueprint dalam bentuk produk fisik infrastruktur yang biasanya


berlaku dalam sistem saat ini dilakukan oleh penyedia jasa (kontraktor) bersama
dengan pihak konsultan pengawas. Konsultan pengawas berfungsi untuk
mengamankan produk perencanaan teknis agar dapat diwujudkan sesuai
rencana. Pihak penyedia jasa dalam sistem yang berlaku dapat dilaksanakan oleh
satu/beberapa badan usaha atau subkontraktor.

Tabel 1-2. Daftar POS Pelaksanaan Teknik

No. POS Pelaksanaan Fisik


1 POS Pembebasan Tanah
2 POS Pengadaan Penyedia Jasa (Kontraktor & Pengawas)
3 POS Pre Award Meeting
4 POS PCM
5 POS Pembayaran Monthly Sertifikat
6 POS CCO
7 POS Revisi Design
8 POS Review Design
9 POS Program Mutu
10 POS PHO
11 POS Eskalasi
12 POS Putus Kontrak

E. Pemanfaatan

Fase pasca konstruksi sangat menentukan umur layanan jembatan yang


dibangun. Pada tahap ini petunjuk operasional dan pemeliharaan/penanganan
harus disiapkan sehingga umur layanan rencana dapat dicapai dan kerusakan dini
dapat dihindarkan. Pada tahap ini, infrastruktur jembatan disamping harus
disiapkan POS untuk pemanfaatannya juga harus disediakan biaya yang cukup
untuk melakukan penanganan yang baik terutama untuk pemeliharaan jembatan.

Tabel 1-3. Status POS Pemanfaatan Bidang Jembatan

No. POS Pemanfaatan Bidang Jembatan Status


1. POS Survey Jembatan Ex-BMS92
2. POS Pemeliharaan Jembatan Ex-BMS92
3. POS Pemanfaatan fasilitas Jembatan Bagi Umum
4. POS Permohonan Izin Lewat Cargo Super-Berat
Catatan : ex-BMS92 = Manual Pemeriksaan Jembatan

Subdit Teknik Jembatan, Bina Teknik 1 - 5/5


(2)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN KERJA

Januari 2009
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN KERJA

A. Maksud

Dokumen ini dimaksudkan sebagai petunjuk umum dalam rangka penyiapan dan
penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) untuk paket pekerjaan layanan
konsultan yang akan dilelangkan.

B. Tujuan

Dokumen ini dibuat dengan tujuan agar penyusunan KAK dapat lebih sistematis
dan jelas, sehingga tercipta pemahaman yang sama antara pemberi tugas dengan
penyedia jasa terhadap sasaran yang hendak dicapai untuk paket pekerjaan yang
akan dilelangkan.

C. Ruang Lingkup

Dokumen ini memuat acuan dasar penyusunan KAK di lingkungan Subdit Teknik
Jembatan.

D. Acuan Normatif

1. Keppres RI No. 80/2003 dan Perubahannya tentang Pedoman


Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah

2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.207/PRT/M/2005 tentang


Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Pemerintah Secara Elektronika

E. Pihak Terkait/Terlibat

1. Kepala Satuan Kerja (Kasatker)

2. Pejabat Pembuatan Komitmen (PPK)

3. Pengawas Pekerjaan (Project Officer)

4. Panitia Lelang

2 - 1/7
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

F. Prosedur

1. Umum

Sebelum melaksanakan pengadaan, pengguna jasa wajib menyusun dan


mempersiapkan KAK dengan tujuan sebagai berikut :

a) Menjelaskan tujuan dan lingkup jasa konsultasi serta keahlian yang


diperlukan.

b) Sebagai acuan dan informasi mengikuti pengadaan dalam rangka


menyiapkan kelengkapan administrasi, usulan teknis, dan usulan biaya
bagi para konsultan yang diundang.

c) Sebagai acuan dalam evaluasi usulan, klarifikasi dan negosiasi dengan


calon konsultan terpilih, dasar pembuatan kontrak, dan acuan evaluasi
hasil kerja konsultan.

d) KAK sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut :

1) Uraian pendahuluan, berisi penjelasan mengenai gambaran secara


garis besar mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan antara lain
latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran, lingkup kegiatan, dan
keluaran.

2) Data penunjang, berisi data yang berkaitan dengan pelaksanaan


pekerjaan antara lain Data dasar, Standar teknis, Studi-studi
terdahulu yang pernah dilaksanakan, dan lain-lain.

3) Tujuan dan ruang lingkup pekerjaan, berisi penjelasan mengenai


tujuan yang ingin dicapai, keluaran yang akan dihasilkan, lingkup
kewenangan yang dilimpahkan kepada konsultan, perkiraan jangka
waktu penyelesaian pekerjaan jasa konsultan, kualifikasi dan jumlah
tenaga ahli yang harus disediakan konsultan, perkiraan keseluruhan
tenaga ahli/tenaga pendukung yang diperlukan dan jadwal setiap
tahapan pelaksanaan pekerjaan.

4) Ketentuan tentang jenis dan jumlah laporan yang disyaratkan, antara


lain laporan pendahuluan, laporan antara, laporan draft awal dan
laporan akhir.

2 - 2/7
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

2. Bentuk Susunan KAK

a) Maksud

KAK dimaksudkan sebagai penjelasan mengenai latar belakang


diperlukan pekerjaan ini dan harus mengacu kepada Tugas Pokok
(TUSI) Subdit Teknik Jembatan.

b) Tujuan

KAK ditujukan sebagai penjelasan mengenai produk yang akan


dihasilkan.

c) Sasaran

Pokok bahasan KAK adalah mengenai manfaat yang hendak dicapai


dari paket pekerjaan yang meliputi:

Internal : Lingkungan PU Pusat dan Dinas PU

External : Penyedia Jasa (Konsultan Perencana/Pengawas &


Kontraktor) dan Masyarakat (umum dan akademisi)

d) Lingkup Kegiatan

Lingkup kegiatan bertujuan membatasi kegiatan yang harus dilakukan


penyedia jasa agar supaya sasaran yang akan dicapai dari pelaksanaan
pekerjaan tersebut dapat terpenuhi.

e) Pengguna Jasa

Pengguna Jasa adalah Satker Pembinaan dan Pengembangan Teknik


Jalan dan Jembatan Direktorat Bintek Ditjen Bina Marga, Jl. Pattimura
No. 20 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110.

f) Sumber Dana

Sumber dana yang membiayai paket pekerjaan ini adalah APBN Murni
dengan nilai Rp. ..

g) Tenaga Ahli

Kebutuhan personil konsultan harus direncanakan secara teliti dan


cermat sesuai tingkat kesulitan pekerjaan, sedangkan jumlah personil

2 - 3/7
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

dan durasi pekerjaannya harus mencerminkan kapasitas konsultan agar


dapat melaksanakan pekerjaan lebih efektif dan efisien.

Langkah-langkah penentuan kebutuhan personil adalah

1) Jenis laporan yang harus diserahkan oleh penyedia jasa, seperti


yang tercantum pada tabel 1-1.

Tabel 2-1. Jenis Laporan yang harus diserahkan oleh Penyedia Jasa

No. Jenis Laporan Pokok Bahasan


a. Metodologi dan Rencana Kerja
b. Organisasi Pekerjaan
1 Laporan Pendahuluan c. Pemahaman KAK yang dituangkan dalam konsep
awal kerangka pemikiran penyelesaian
d. Mobilisasi personil
a. Hasil pengumpulan data sekunder dan primer
b. Hasil kajian terhadap data survey
2 Laporan Antara
c. Konsep perencanaan
d. Progres kegiatan dan rencana selanjutnya
a. Draft desain
3 Laporan Draft Awal b. Gambar rencana
c. Progres kegiatan dan rencana selanjutnya
a. Penyempurnaan laporan-antara dan progres
perencanaan.
b. Detailed Engineeering Design
c. Bersamaan dengan Laporan akhir dikumpulkan
juga Dokumen Lelang mencakup:
4 Laporan Akhir Vol. I : Syarat-syarat kontrak
Vol. II : Syarat-syarat umum kontrak
Vol. III : Spesifikasi Teknik
Vol. IV : Gambar Rencana
Vol V : Perhitungan Kuantitas

2) Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk setiap jenis laporan

Ketersediaan waktu penyelesaian suatu paket pekerjaan sangat


tergantung turunnya DIPA (Daftar Isian Perencanaan Anggaran, 1.0
bulan) dan proses pelelangan ( 2.0 bulan). Dengan demikian alokasi
waktu yang tersedia dalam satu tahun anggaran maksimal 8 bulan,
sehingga perlu sekali mengalokasikan waktu yang tepat untuk
penyelesaian tiap-tiap jenis laporan yang menjadi tanggung jawab
penyedia jasa, seperti yang tercantum pada tabel 1-2.

2 - 4/7
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

Tabel 2-2. Prosentase Alokasi Waktu setiap Jenis Laporan

No Jenis Laporan Prosentase Alokasi Waktu


1. Laporan Pendahuluan 10% - 15%
2. Laporan Antara 40% - 50%
3. Laporan Draft Awal 25% - 40%
4. Laporan Akhir 10% - 15%

3) Kualifikasi Tenaga Ahli yang diperlukan untuk setiap jenis laporan

Berdasarkan alokasi waktu diatas, maka kebutuhan tenaga ahli untuk


pekerjaan perencanaan teknis maupun studi-studi jembatan adalah
seperti yang tercantum pada tabel 1-3.

Tabel 2-3. Kualifikasi Tenaga Ahli untuk setiap Jenis Laporan

No. Jenis Laporan Kualifikasi


TENAGA AHLI (tergantung kebutuhan)
1 Laporan Pendahuluan a) Ketua Tim/Ahli Perencana Jembatan
a) Ketua Tim/Ahli Perencana Jembatan
b) Ahli Struktur/Teknik Jembatan
2 Laporan Antara c) Ahli Geodesi
d) Ahli Geoteknik
e) Ahli Hidrologi
a. Ketua Tim/Ahli Perencana Jembatan
b. Ahli Struktur/Teknik Jembatan
c. Ahli Struktur Beton
3 Laporan Draft Awal
d. Ahli Struktur Baja
e. Ahli Kuantitas dan Biaya
f. Ahli Spesifikasi Teknik
a. Ketua Tim/Ahli Perencana Jembatan
b. Ahli Struktur/Teknik Jembatan
4 Laporan Akhir
c. Ahli Kuantitas dan Biaya
d. Ahli Spesifikasi Teknik
ASISTEN TENAGA AHLI (tergantung kebutuhan)
1 Laporan Pendahuluan Tidak ada
Ass. Struktur/Teknik Jembatan
Ass. Geodesi
2 Laporan Antara
Ass. Geoteknik
Ass. Hidrologi
3 Laporan Draft Awal Ass. Struktur/Teknik Jembatan
4 Laporan Akhir Tidak ada

4) Jumlah Personil konsultan

Jumlah personil konsultan berdasarkan jenis laporan adalah seperti


yang tercantum pada tabel 1-4.

2 - 5/7
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

Tabel 2-4. Jumlah Personil Tenaga Ahli berdasarkan Jenis Laporan

No. Tenaga Ahli Jumlah Personil

TENAGA AHLI (tergantung kebutuhan)

1. Ketua Tim 1

2. Ahli Struktur/ Teknik Jembatan 1

3. Ahli Geodesi 1

4. Ahli Geoteknik 1

5. Ahli Hidrologi 1

6. Ahli Struktur Beton 1

7. Ahli Struktur Baja 1

8. Ahli Kuantitas dan Biaya 1

9. Ahli Spesifikasi Teknik 1

ASISTEN TENAGA AHLI (tergantung kebutuhan)

1. Ass. Ahli Struktur/ Teknik Jembatan 1

2. Ass. Ahli Geodesi 1

3. Ass. Ahli Geoteknik 1

4. Ass. Ahli Hidrologi 1

5) Penyusunan Owner Estimate (OE)

Format perhitungan OE mengacu kepada ketentuan Kepmen


Kimpraswil No.257/KPTS/M/2004 sedangkan perhitungan Billing Rate
tenaga ahli mengacu kepada SE Bappenas & Depkeu 1998 (1.5 x
indeks BPS 1999-tahun pengadaan).

Tabel 2-5. Billing Rate Tenaga Ahli

No. Kualifikasi Keterangan


BIAYA PERSONIL
1 Tenaga Ahli
1.5 x indek BPS
2 Ass Tenaga Ahli
BIAYA NON PERSONIL
Tenaga Pendukung
1. Sekretaris
2. Operator komputer
L1
3. Drafter
4. Pesuruh kantor
5. Penjaga kantor

2 - 6/7
2. POS: Penyusunan Kerangka Acuan Kerja

L2 Komputer Supply
Biaya Pengolah Data
L3
1. Sewa computer
Biaya Telekomunikasi
L4 1. Telepon
2. Fax
Biaya Presentasi
1. Honor pembahas
L5 2. Penggandaan
3. Sewa infocus
4. Konsumsi pembahas
Biaya Pelaporan
1. Laporan Pendahuluan
2. Laporan Antara
3. Laporan Konsep Laporan Akhir
L6
4. Laporan Akhir
5. Executive Summary
6. Naskah Produk Akhir
7. CD Laporan Akhir

2 - 7/7
(3)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY PENDAHULUAN

Januari 2009
D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
3. POS: Survai Pendahuluan

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY PENDAHULUAN

A. Maksud

Prosedur ini dimaksudkan sebagai tahap awal untuk mendapatkan data lapangan
yang diperlukan dalam proses perencanaan jembatan guna menentukan perkiraan
dan saran yang diusulkan sebagai bagian penting bahan kajian kelayakan teknis
perencanaan jembatan.

B. Lingkup

Prosedur ini memuat survey pendahuluan yang merupakan lanjutan setelah hasil
persiapan desain disetujui sebagai panduan pelaksanaan survey dilapangan yang
meliputi kegiatan studi literatur, koordinasi dengan instansi terkait, dan diskusi
perencanaan di lapangan.

C. Acuan

Dokumen kontrak.

D. Pihak yang Tekait/Terlibat

1. Pemberi Tugas

2. Penyedia Jasa

a) Ketua Tim

b) Ahli Teknik Jalan Raya

c) Ahli Struktur/Teknik Jembatan

d) Ahli Teknik Geodesi

e) Ahli Teknik Geoteknik

f) Ahli Teknik Hidrologi/Hidrolika

3 - 1/6
3. POS: Survai Pendahuluan

E. Prosedur

1. Surat Ijin Survey

1. Team Leader mengajukan ijin pelaksanaan survey pendahuluan ke


pemberi tugas berikut tanggal dan waktu pelaksanaan survey.

2. Setelah disetujui oleh pemberi tugas, selanjutnya pemberi tugas


membuat surat pemberitahuan kepada instansi yang terkait dengan
pelaksanaan survey yang akan dibawa oleh Team Leader.

2. Pelaksanaan Survey Pendahuluan

a) Survey Geometrik

Kegiatan yang dilakukan pada survey pendahuluan adalah

Mengidentifikasi/memperkirakan secara tepat penerapan desain


geometrik (alinyemen horisontal dan vertikal) berdasarkan
pengalaman dan keahlian yang harus dikuasai sepenuhnya oleh
Highway Engineer yang melaksanakan pekerjaan ini dengan
melakukan pengukuran-pengukuran secara sederhana dan benar
(jarak, azimut dan kemiringan dengan helling meter) dan membuat
sketsa desain alinyemen horizontal maupun vertikal secara khusus
untuk lokasi-lokasi yang dianggap sulit, untuk memastikan trase yang
dipilih akan dapat memenuhi persyaratan geometrik yang dibuktikan
dengan sketsa horizontal dan penampang memanjang rencana trase
jalan.

Didalam penarikan perkiraan desain alinyemen horizontal dan vertikal


harus sudah diperhitungkan dengan cermat sesuai dengan
kebutuhan perencanaan untuk lokasi-lokasi : galian dan timbunan.

Semua kegiatan ini harus sudah dikonfirmasikan sewaktu mengambil


keputusan dalam pemilihan lokasi jembatan dengan anggota team
yang saling terkait dalam pekerjaan ini.

Di lapangan harus diberi/dibuat tanda-tanda berupa patok dan tanda


banjir, dengan diberi tanda bendera sepanjang daerah rencana
dengan interval 50 m untuk memudahkan tim pengukuran, serta

3 - 2/6
3. POS: Survai Pendahuluan

pembuatan foto-foto penting untuk pelaporan dan panduan dalam


melakukan survey detail selanjutnya.

Dari hasil survey recon ini, secara kasar harus sudah bisa dihitung
perkirakan volume pekerjaan yang akan timbul serta bisa dibuatkan
perkiraan rencana biaya secara sederhana dan diharapkan dapat
mendekati desain final.

b) Survey Topografi
Kegiatan yang dilakukan pada survey topografi adalah

Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan patok


beton Bench Mark di awal dan akhir Pelaksanaan.

Mengamati kondisi topografi.

Mencatat daerah - daerah yang akan dilakukan pengukuran khusus


serta morfologi dan lokasi yang perlu dilakukan perpanjangan koridor.

Membuat rencana kerja untuk survey detail pengukuran.

Menyarankan posisi patok Benchmark pada lokasi/titik yang akan


dijadikan referensi.

c) Survey Rencana Jembatan


Kegiatan yang dilakukan pada survey rencana jembatan adalah

Menentukan dan memperkirakan total panjang, lebar, kelas


pembebanan jembatan, tipe konstruksi, dengan pertimbangan terkait
dengan LHR, estetika, lebar sungai, kedalaman dasar sungai, profil
sungai/ada tidaknya palung, kondisi arus dan arah aliran, sifat-sifat
sungai, scouring vertikal/horisontal, jenis material bangunan atas
yang tersedia dan paling efisien.

Menentukan dan memperkirakan ukuran dan bahan tipe abutmen,


pilar, fondasi, bangunan pengaman (bila diperlukan) dengan
mempertimbangkan lebar dan kedalaman sungai, sifat tebing, sifat
aliran, endapan/sedimentasi material, benda hanyutan, scouring yang
pernah terjadi.

3 - 3/6
3. POS: Survai Pendahuluan

Memperkirakan elevasi muka jembatan dengan mempertimbangkan


MAB (banjir), MAN (normal), MAR (rendah) dan banjir terbesar yang
pernah terjadi.

Menentukan dan memperkirakan posisi/letak lokasi jembatan dengan


mempertimbangan situasi dan kondisi sekitar lokasi, profil sungai,
arah arus/aliran sungai, scouring, segi ekonomi, sosial, estetika yang
terkait dengan alinyemen jalan, kecepatan lalu lintas rencana,
jembatan darurat, pembebanan tanah timbunan dan quarry.

Dari hasil survey recon ini secara kasar harus sudah bisa dihitung
perkiraan volume pekerjaan yang akan timbul serta bisa dibuatkan
perkiraan rencana biaya secara sederhana dan diharapkan dapat
mendekati desain final.

d) Survey Geologi dan Geoteknik


Kegiatan yang dilakukan pada survey pendahuluan geologi dan
geoteknik adalah

Mengamati secara visual kondisi lapangan yang berkaitan dengan


karakteristik tanah dan batuan.

Mengamati perkiraan lokasi sumber material (quarry) sepanjang


lokasi pekerjaan.

Memberikan rekomendasi pada Higway Engineer dan Bridge


Engineer berkaitan dengan rencana trase jalan dan rencana
jembatan yang akan dipilih.

Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi khusus (rawan longsor, dll).

Mencatat lokasi yang akan dilakukan pengeboran maupun lokasi


untuk test pit.

Membuat rencana kerja untuk tim survey detail

e) Survey Hidrologi/Hidrolika
Kegiatan yang dilakukan pada survey Hidrologi/Hidrolika adalah

Mengumpulkan data curah hujan.

3 - 4/6
3. POS: Survai Pendahuluan

Menganalisa luas daerah tangkapan (catchment area).

Mengamati kondisi terain pada daerah tangkapan sehubungan


dengan dengan bentuk dan kemiringan yang akan mempengaruhi
pola aliran.

Mengamati tata guna lahan.

Menginventarisasi bangunan drainase existing.

Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi penting.

Membuat rencana kerja untuk survey detail.

Mengamati karakter aliran sungai/morfologi yang mungkin


berpengaruh terhadap konstruksi dan saran-saran yang diperlukan
untuk menjadi pertimbangan dalam perencanaan berikutnya.

f) Survey Lingkungan
Kegiatan yang dilakukan pada survey dampak lingkungan adalah :

Inventarisasi terhadap zona lingkungan awal yang bertujuan untuk


mengidentifikasi komponen lingkungan yang sensitif, yang meliputi:

- Aspek Fisik, kimia dan biologi.

- Aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat.

Pencatatan lokasi bangunan bersejarah, kuburan, fasilitas umum dsb.

Pengambilan contoh air.

Pengamatan kondisi.

Foto dokumentasi yang diperlukan sehubungan dengan analisa.

Membuat rencana kerja untuk survey detail.

F. Pelaporan

Hasil dari lapangan harus dibuat dalam bentuk laporan lengkap yang berisi :

1. Hasil survey pendahuluan

2. Foto dokumentasi

3 - 5/6
3. POS: Survai Pendahuluan

Tabel 3-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat

Check List Kegiatan Pihak yang terlibat


a b c d e
a. Penetapan lokasi pelaksanaan pada didiskusikan x x
peta disetujui x
b. Persetujuan ijin dan tanggal disetujui x
pelaksanaan survey
c. Pembuatan surat ijin survey ke disetujui x
instansi terkait
d. Pelaksanaan survey sesuai lokasi dilakukan x
yang ditentukan
Pengamatan awal kondisi lapangan dilakukan x x

Pengambilan foto survey dilakukan x x


e. Pembuatan laporan pelaksanaan dilakukan x x
survey
Catatan:
Pihak yang terkait adalah:
a. Koordinator Survey Lapangan
b. Engineer (Highway, Topography,
Geology, Hidrology, Environment)
c. Team Leader
d. Pemberi Tugas

Bagan alir pelaksanaan survey

Engineer Team Leader Pemberi Tugas Instansi terkait

Pengusulan Survey memenuhi


dan lokasi persyaratan

Pembuatan surat ijin ke surat ijin ke instansi


Pengajuan tanggal instansi terkait terkait
pelaksanaan survey

surat ijin ke instansi


Pelaksanaan survey terkait

Pembuatan Laporan

Gambar 3-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey Pendahuluan

3 - 6/6
(4)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY LALU LINTAS

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
4. POS: Survai Lalu Lintas

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY LALU LINTAS

A. Maksud

Prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk melakukan survey volume lalu
lintas, serta menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang melewati ruas
jalan tertentu dalam satuan waktu, sehingga dapat dihitung lalu lintas harian rata-
rata sebagai dasar perencanaan jalan dan jembatan.

B. Ruang Lingkup

Prosedur ini memuat penyelidikan seluruh jenis kendaraan yang lewat pada suatu
ruas jalan.

C. Acuan

Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997.

D. Pihak yang Terkait/Terlibat

1. Pemberi Tugas

2. Konsultan

a). Team Leader

b). Engineer

c). Surveyor

E. Prosedur

1. Surat Ijin Survey

a) Pengajuan lokasi, jenis survey, jumlah, dan waktu pelaksanaan survey


oleh Engineer kepada Team Leader untuk mendapatkan masukan dan
persetujuan.

4 - 1/5
4. POS: Survai Lalu Lintas

b) Setelah mendapat persetujuan dari Team Leader, selanjutnya Team


Leader mengajukan ijin pelaksanaan survey ke pemberi tugas berikut
tanggal, jenis, jumlah dan lokasi pelaksanaan survey.

c) Setelah disetujui oleh pemberi tugas, selanjutnya pemberi tugas


membuat surat pemberitahuan kepada instansi yang terkait dengan
pelaksanaan survey yang akan dibawa oleh pelaksana survey.

2. Pelaksanaan Survey

a) Pos-pos Perhitungan Lalu Lintas dibagi dalam beberapa tipe, yaitu:

Pos Kelas A yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas
jalan dengan jumlah lalu lintas yang tinggi dan mempunyai LHR >
10.000 kendaraan.

Pos Kelas B yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas
jalan dengan jumlah lalu lintas yang sedang dan mempunyai 5.000 <
LHR < 10.000 kendaaan.

Pos Kelas C yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas
jalan dengan jumlah lalu lintas yang rendah dan mempunyai LHR <
5.000 kendaraan.

b) Pemilihan Lokasi Pos

Lokasi pos harus mewakili jumlah lalu lintas harian rata-rata dari ruas
jalan, tidak terpengaruh oleh angkutan ulang alik yang tidak mewakili
ruas (commuter traffic).

Lokasi pos harus mempunyai jarak pandang yang cukup untuk


kedua arah, sehingga memungkinkan pencatatan kendaraan dengan
mudah dan jelas,

Lokasi pos tidak boleh ditempatkan pada persilangan jalan.

c) Periode Perhitungan

Pos Kelas A

Perhitungan dilakukan dengan periode 40 jam selama 2 hari, mulai


pukul 06.00 pagi pada hari pertama dan berakhir pukul 22.00 pada
hari kedua.

4 - 2/5
4. POS: Survai Lalu Lintas

Pos Kelas B

Perhitungan seperti pada pos kelas A. Pelaksanaan perhitungan


pada pos-pos kelas B sesuai jadual yang telah ditentukan.

Pos Kelas C

Perhitungan dilakukan dengan periode 16 jam mulai pukul 06.00 pagi


dan berakhir pukul 22.00 pada hari yang sama yang ditetapkan untuk
pelaksanaan perhitungan.

d) Pengelompokan Kendaraan (TC-Manual)

Dalam perhitungan jumlah lalu lintas, kendaraan dibagi dalam 8


(delapan) kelompok mencakup kendaraan bermotor dan kendaraan
tidak bermotor.

Tabel 4.1. Penggolongan Jenis Kendaraan

Golongan/Kelompok Jenis Kendaraan


1 Sepeda motor, sekuter
2 Sedan, Jeep, dan Station Wagon.
3 Opelet, Suburban, Combi,
4 Pick-up, Mobil hantaran, Box
5a Bus Kecil
5b Bus Besar
6 Truk 2 sumbu
7a Truk 3 sumbu
7b Truk Gandengan
7c Truk Semi Trailer
8 Kendaraan tidak bermotor, sepeda
Pengenalan ciri kendaraan :
1. Sepeda Kumbang : sepeda yang ditempeli mesin 75 cc (max).
2. Kendaraan bermotor roda 3 antara lain : bemo dan bajaj.
3. Kecuali Combi, umumnya sebagai kendaran penumpang umum maximal 12
tempat duduk seperti mikrolet, angkot, minibus, pick-up yang diberi penaung
kanvas/pelat dengan rute dalam kota dan sekitarnya atau angkutan pedesaan.
4. Umumnya sebagai kendaraan barang maximal beban sumbu belakang 3,5 ton
dengan bagian belakang sumbu tunggal roda tunggal (STRT).
5a. Bus Kecil adalah sebagai kendaraan penumpang umum dengan tempat duduk
antara 16 s/d 26 buah, seperti kopaja, metromini, elf dengan bagian belakang
sumbu tunggal roda ganda (STRG) dan panjang kendaraan maximal 9 m dengan
sebutan bus .
5b. Bus Besar adalah sebagai kendaraan penumpang umum dengan tempat duduk
antara 30 s/d 50 buah, sperti bus malam, bus kota, bus antar kota yang
berukuran + 12 m dan STRG.
6. Truk 2 sumbu adalah sebagai kendaraan barang dengan beban sumbu belakang
antara 5-10 ton (MST 5,8,10 dan STRG).

4 - 3/5
4. POS: Survai Lalu Lintas

7a. Truk 3 sumbu adalah sebagai kendaraan barang dengan 3 sumbu yang letaknya
STRT dan SGRG (sumbu ganda roda ganda).
7b. Truk gandengan adalah sebagai kendaraan no. 6 dan 7 yang diberi gandengan
bak truk dan dihubungkan dengan batang segitiga. Disebut juga Full Trailer
Truck.
7c. Truk semi trailer atau truk tempelan adalah sebagai kendaraan yang terdiri dari
kepala truk dengan sumbu 2-3 sumbu yang dihubungkan secara sendi dengan
pelat dan rangka bak yang beroda belakang yang mempunyai 2 atau 3 sumbu
pula.

F. Pelaporan

Hasil dari lapangan harus dibuat dalam bentuk laporan lengkap yang berisi:

1. Foto dokumentasi

2. Data lapangan

3. Perhitungan

Tabel 4-2. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat.

Check List Kegiatan Pihak yang terlibat


a b c d e
a. Penetapan lokasi pelaksanaan pada didiskusikan x x
peta disetujui x
b. Persetujuan ijin dan tanggal disetujui x
pelaksanaan survey
c. Pembuatan surat ijin survey ke disetujui x
instansi terkait
d. Persiapan kebutuhan peralatan, dilakukan x x
formulir dan personil
e. Pelaksanaan survey sesuai lokasi dilakukan x
yang ditentukan
Pengamatan awal kondisi lapangan dilakukan x

Pengambilan foto survey dilakukan x x

f. Pembuatan laporan pelaksanaan dilakukan x


survey
Catatan:
Pihak yang terkait adalah:
a. Koordinator Survey Lapangan
b. Engineer (Highway, Topography,
Geology, Hidrology, Environment)
c. Team Leader
d. Pemberi Tugas

4 - 4/5
4. POS: Survai Lalu Lintas

Bagan alir pelaksanaan survey

Engineer Team Leader Pemberi Tugas Instansi terkait

Pengusulan Survey memenuhi


dan lokasi persyaratan

Pengajuan tanggal Pembuatan surat ijin ke surat ijin ke instansi


pelaksanaan survey instansi terkait terkait

Pelaksanaan survey

Pembuatan Laporan

Gambar 4-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey

4 - 5/5
(5)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY GEODESI

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
5. POS: Survai Geodesi

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY GEODESI

A. Maksud

Prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk melakukan pemetaan situasi di


sekitar lokasi jembatan terpilih.

B. Ruang Lingkup

Prosedur ini memuat survey topografi yang dilakukan di sepanjang lokasi as jalan
pada jembatan yang sesuai dengan rencana lokasi jembatan yang dikehendaki.
Pertimbangan lokasi jembatan didasarkan pada rekomendasi dari Studi
Kelayakan.

C. Acuan

Dokumen kontrak

D. Pihak yang Terkait/Terlibat

1. Pemberi tugas (owner)

2. Penyedia Jasa

a) Team leader

b) Geodetic Engineer

c) Surveyor

E. Prosedur

1. Surat Ijin Survey

a) Pengajuan lokasi, jenis survey, jumlah dan waktu pelaksanaan survey


oleh engineer kepada Team Leader untuk mendapatkan masukan dan
persetujuan.

Hal :5 - 1/8
5. POS: Survai Geodesi

b) Hasil persetujuan dari Team Leader, selanjutnya mengajukan ijin


survey ke pemberi tugas berikut tanggal, jenis, jumlah dan lokasi
pelaksanaan survey.

c)Setelah persetujuan survey oleh pemberi tugas, selanjutnya pemberi


tugas membuat surat pemberitahuan kepada instansi yang terkait
dengan pelaksanaan survey yang akan dibawa oleh pelaksana survey.

2. Pelaksanaan Survey

a) Pekerjaan Perintisan

Pekerjaan perintisan berupa merintis atau membuka sebagian


daerah yang akan diukur sehingga pengukuran dapat berjalan
lancar.

Peralatan yang dipakai untuk perintisan adalah parang, kampak dan


sebagainya.

Perintisan diusahakan mengikuti koridor yang telah diplot di atas


peta topografi atau atas petunjuk Kepala Satker/Project officer.

b) Pekerjaan pengukuran

Sebelum melakukan pengukuran harus diadakan pemeriksaan alat


yang baik yang sesuai dengan ketelitian alat dan dibuatkan daftar
hasil pemeriksaan alat tersebut.

Awal pengukuran dilakukan pada tempat yang mudah dikenal dan


aman, dibuat titik tetap (BM) yang diambil dari titik triangulasi atau
lokal.

Awal dan akhir kegiatan hendaknya diikatkan pada titik-titik tetap


(BM).

Pekerjaan pengukuran topografi sedapat mungkin dilakukan di


sepanjang rencana as jalan (mengikuti koridor rintisan) dengan
mengadakan pengukuran-pengukuran tambahan pada daerah
persilangan dengan sungai dan jalan lain sehingga memungkinkan
diperoleh as jalan sesuai dengan standar yang ditentukan.

Hal :5 - 2/8
5. POS: Survai Geodesi

1) Pengukuran Titik Kontrol Horizontal

Pengukuran titik kontrol dilakukan dalam bentuk poligon


tertutup.

Sisi poligon atau jarak antara titik poligon maksimal 100 meter
diukur dengan peges ukur (meteran).

Patok-patok untuk titik-titik poligon adalah patok kayu, sedang


patok-patok untuk titik ikat adalah dari beton.

Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur Theodolit jenis


Wild-T2.

a). Titik-titik ikat (BM) harus diukur sudutnya dengan alat yang sama
dengan alat pengukuran poligon, jaraknya diukur dengan pegas
(meteran)/jarak langsung, ketelitian poligon adalah sebagai
berikut :

Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10 kali akar


jumlah titik poligon.

Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dari 5.

Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal kegiatan, dan


pada setiap jarak 5 km (kurang lebih 60 titik poligon) pada titik
akhir pengukuran.

Pengamatan matahari pada tiap titik dilakukan dalam 4 seri (4


biasa dan 4 luar biasa).

2) Pengukuran Titik Vertikal

Jenis alat yang digunakan untuk pengukuran ketinggian


adalah cukup dengan alat waterpass jenis NAK-2 atau yang
setingkat.

Untuk pengukuran ketinggian dilakukan dengan double stand


dengan perbedaan pembacaan maksimum 2 mm.

Rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik, dalam


arti pembagian skala jelas dan sama.

Hal :5 - 3/8
5. POS: Survai Geodesi

Setiap kali pengukuran dilakukan 3 (tiga) pembacaan, benang


atas, tengah dan bawah.

Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT) dan Benang Bawah


(BB), mempunyai kontrol pembacaan : 2BT = BA + BB.

Ketelitian pengukuran tidak boleh melampaui 10 kali akar D.

Referensi leveling menggunakan referensi koordinat


geografis.

3) Pengukuran Situasi

Pengukuran situasi dilakukan dengan alat Tachimetri (To).

Ketelitian alat yang dipakai adalah 10.

Pengukuran situasi daerah sepanjang rencana jalan harus


mencakup semua keterangan yang ada di daerah tersebut.

Untuk tempattempat jembatan atau perpotongan dengan


jalan lain, pengukuran harus diperluas (lihat pengukuran
khusus).

Tempat-tempat sumber material jalan yang terdapat di sekitar


jalur jalan perlu diberi tanda di atas peta dan di photo (jenis
dan lokasi material).

4) Pengukuran Penampang Memanjang

Pengukuran Penampang memanjang dilakukan di sepanjang


sumbu rencana jalan.

Alat yang digunakan adalah jenis Theodolit atau alat ukur lain
yang mempunyai ketelitian yang sama.

5) Pengukuran Penampang Melintang

Pengukuran penampang melintang pada daerah yang datar


dan landai dibuat setiap 50 m dan pada daerah-daerah
tikungan/ pegunungan setiap 25 m.

Pada daerah yang menikung, dari as jalan ke arah luar 25 m


dan ke arah dalam 75 m.

Hal :5 - 4/8
5. POS: Survai Geodesi

Lebar pengukuran penampang melintang 50 m ke kiri dan ke


kanan as jalan.

Khusus untuk perpotongan dengan sungai/jalan dilakukan


dengan ketentuan khusus (lihat pengukuran khusus).

Alat yang digunakan adalah sejenis Wild To.

6) Pengukuran Khusus Jembatan

Pengukuran situasi daerah sepanjang jembatan harus


mencakup semua keterangan yang ada di sepanjang jalan
dan jembatan, misalnya: rumah, pohon, pohon pelindung
jalan, pinggir jalan, pinggir selokan, letak gorong-gorong serta
dimensinya, tiang listrik, tiang telepon, batas-batas bangunan
jembatan, sawah, kebun, arah aliran air dan lain sebagainya.

Patok Km dan Hm yang ada pada tepi jalan harus diambil dan
dihitung koordinatnya. Ini dimaksudkan untuk memperbanyak
titik referensi pada penemuan kembali sumbu jalan yang
direncanakan.

Daerah yang diukur 200 meter panjang masing-masing oprit


jembatan, 100 meter pada kiri dan kanan as jalan pada
daerah sungai, 50 meter kiri dan kanan as jalan yang
mencakup patok DMJ.

Alat yang digunakan adalah sejenis Wild-To.

7) Pemasangan Patok Patok

Patok beton dibuat dengan ukuran 15x15x60 cm dan harus


dipasang 2 (dua) buah, masing-masing pada awal/akhir, dan
pada patok antara, dipasang dengan interval 1 km dan
berpotongan antara rencana jalan dengan sungai 2 buah
seberang menyeberang.

Patok beton tersebut harus tertanam kedalam tanah


sepanjang 45 cm (yang terlihat di atas tanah 15 cm).

Patok-patok (BM) diberi tanda BM dan Nomor Urut.

Hal :5 - 5/8
5. POS: Survai Geodesi

Untuk memudahkan pencarian patok kembali, sebaiknya pada


pohon-pohon di sekitar patok diberi cat atau pita atau tanda-
tanda tertentu misalnya . (nomor urut/ 2008).

Patok poligon maupun patok station diberi tanda cat kuning


dengan tulisan hitam yang diletakan di sebelah kiri ke arah
jalannya pengukuran.

Khusus untuk profil memanjang titik-titiknya yang terletak di


sumbu jalan diberi paku yang dilingkari cat kuning sebagai
tanda.

8) Perhitungan dan Penggambaran Peta

Perhitungan koordinat poligon utama didasarkan pada titik


titik ikat yang dipergunakan.

Penggambaran titiktitik poligon harus didasarkan pada hasil


perhitungan koordinat, tidak boleh secara grafis.

Gambar ukur yang berupa gambar situasi dalam kertas


millimeter dengan skala 1:1000 untuk situasi jalan dan skala
1:500 untuk situasi jembatan.

Ketinggian titik detail harus tercantum dalam gambar ukur


begitu pula semua keteranganketerangan penting.
Ketinggian titik tersebut perlu dicantumkan.

F. Pelaporan

Laporan Akhir Survey Geodesi/Topografi harus mencakup sekurang-kurangnya


pembahasan mengenai hal-hal berikut:

1. Data pelaksanaan

2. Peta situasi kegiatan yang menunjukkan secara jelas lokasi kegiatan


terhadap kota besar terdekat

3. Lokasi Titik-titik Kontrol Horizontal

4. Lokasi Titik-titik ikat (BM)

5. Pengukuran Penampang Memanjang

Hal :5 - 6/8
5. POS: Survai Geodesi

6. Pengukuran Penampang Melintang

7. Pengukuran Khusus Jembatan

8. Lokasi Pemasangan Patok Patok

9. Metode Perhitungan dan Penggambaran Peta

10. Rekomendasi

Tabel 5-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat.

Check List Kegiatan Pihak yang terlibat


a b c d e
a. Penetapan lokasi pelaksanaan pada didiskusikan x x
peta disetujui x
b. Persetujuan ijin dan tanggal disetujui x
pelaksanaan survey
c. Pembuatan surat ijin survey ke disetujui x
instansi terkait
d. Persiapan kebutuhan peralatan, dilakukan x x
formulir dan personil
e. Pelaksanaan survey sesuai lokasi dilakukan x
yang ditentukan
Pengisian data ke formulir yang dilakukan x
sesuai
Pengambilan foto survey dilakukan x x

f. Pembuatan laporan pelaksanaan dilakukan x


survey
Catatan:
Pihak yang terkait adalah:
a. Koordinator Survey Lapangan
b. Engineer (Highway, Topography,
Geology, Hidrology, Environment)
c. Team Leader
d. Pemberi Tugas

Hal :5 - 7/8
5. POS: Survai Geodesi

Bagan Alir (Flowchart)

Engineer Team Leader Pemberi Tugas Instansi terkait

Pengusulan Survey memenuhi


dan lokasi persyaratan

Pengajuan tanggal Pembuatan surat ijin ke surat ijin ke instansi


pelaksanaan survey instansi terkait terkait

Pelaksanaan survey

Pengambilan foto
survey

Pembuatan Laporan

Gambar 5-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey

Hal :5 - 8/8
(6)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY GEOTEKNIK

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
6. POS: Survai Geoteknik

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY GEOTEKNIK

A. Maksud

Prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk melakukan penyelidikan tanah


disekitar lokasi rencana jembatan, sehingga diperoleh data tanah yang cukup
akurat.

B. Ruang Lingkup

Prosedur ini dilakukan untuk mengadakan peninjauan kembali terhadap semua


data tanah dan material yang ada, selanjutnya mengadakan penyelidikan tanah
dan material di sepanjang pelaksanaan jembatan tersebut yang akan dilakukan
berdasarkan survey langsung di lapangan maupun dengan pemeriksaan di
laboratorium.

C. Acuan

Dokumen Kontrak

D. Pihak yang Terkait/Terlibat

1. Pemberi tugas (owner)


2. Penyedia Jasa
a). Team leader
b). Geoteknik Engineer
c). Surveyor

E. Prosedur

1. Surat Ijin Survey

a). Pengajuan lokasi, jenis survey, jumlah dan waktu pelaksanaan survey
oleh engineer kepada Team Leader dimaksudkan untuk mendapatkan
masukan dan persetujuan.

6 - 1/7
6. POS: Survai Geoteknik

b). Hasil persetujuan dari Team Leader, selanjutnya mengajukan ijin


pelaksanaan survey ke pemberi tugas berikut tanggal, jenis, jumlah dan
lokasi pelaksanaan survey.

c). Setelah persetujuan survey oleh pemberi tugas, selanjutnya pemberi


tugas membuat surat pemberitahuan kepada instansi yang terkait
dengan pelaksanaan survey yang akan dibawa oleh pelaksana survey.

2. Survey Penyelidikan Tanah

Penyelidikan geoteknik disini merupakan bagian dari penyelidikan tanah


yang mencakup seluruh penyelidikan lokasi kegiatan berdasarkan
klasifikasi jenis tanah yang didapat dari hasil tes dengan mengadakan
peninjauan kembali terhadap semua data tanah dan material guna
menentukan jenis/ tipe pondasi yang tepat dan sesuai tahapan
kegiatannya, sebagai berikut:

a). Mengadakan penyelidikan tanah dan material di lokasi pelaksanaan


jembatan yang akan dibangun dengan menetapkan lokasi titik-titik bor
yang diperlukan langsung di lapangan.

b). Melakukan penyelidikan kondisi permukaan air (sub-surface)


sehubungan dengan pondasi jembatan yang akan dibangun.

c). Menyelidiki lokasi sumber material yang ada di sekitar lokasi


pelaksanaan, kemudian dituangkan dalam bentuk penggambaran peta
termasuk sarana lain yang ada seperti jalan pendekat/oprit, bangunan
pelengkap/ pengaman dan lain sebagainya.

d). Pekerjaan pengambilan contoh dengan pengeboran (umumnya


terhadap undisturbed sampling) dimaksudkan untuk tujuan penyelidikan
lebih lanjut di laboratorium untuk mendapatkan informasi yang lebih
teliti tentang parameter-parameter tanah dari pengetesan Index
Properties (Besaran Indeks) dan Engineering Properties (Besaran
Struktural Indeks).

e). Penyelidikan tanah untuk desain jembatan yang umum dilaksanakan di


lingkungan Bina Marga dengan bentang > 60 m (relatif dari 25 m s/d 60
m tergantung kondisi) digunakan bor-mesin (alat bor yang digerakkan

6 - 2/7
6. POS: Survai Geoteknik

dengan mesin) di mana kapasitas kedalaman bor dapat mencapai 40 m


disertai alat split spoon sampler untuk Standar Penetration Test ( SPT )
menurut AASHTO T 206 74. Sedangkan untuk bentang < 60m
(relatif dari 25 m s/d 60 m tergantung kondisi) digunakan peralatan
utama lapangan yang terdiri atas:

Alat sondir dengan bor tangan (digerakkan dengan tangan).


Pengeboran harus dilakukan sampai kedalaman yang ditentukan
(bila tidak ditentukan lain) untuk mendapatkan letak lapisan tanah
dan jenis batuan beserta ukurannya dan harus mencapai tanah
keras/batu dan menembus sedalam kurang lebih 3.00 m.

Boring dan sampling harus dikerjakan dengan memakai Manual


Operated Auger dengan kapasitas hingga kedalaman 10 m.

Alat tes sondir type Gouda atau sejenisnya, antara lain Dutch
Cone Penetrometer yang memakai sistem metrik dan harus
dilengkapi dengan Friction Jacket Cone, kapasitas tegangan konus
minimum 250 kg/cm2 dan kedalamannya dapat mencapai 25 m.

f). Pada setiap jembatan, penyelidikan tanah yang dibutuhkan pada


masing-masing lokasi rencana pondasi harus sudah menetapkan
penggunaan jenis bor dan posisi lubang bor yang direncanakan serta
jumlah titik bor minimal satu titik boring, yaitu satu titik bor mesin atau
satu set bor tangan dan sondir, tergantung bentang rencana
jembatannya. Hal ini tergantung pada kondisi area (alam dan lokasi),
kepentingan stuktur dan tersedianya peralatan pengujian beserta
teknisinya.

g). SPT dilakukan pada interval kedalaman 1,50 m s/d 2,00 m untuk
diambil contohnya (undisturbed dan disturbed).

h). Mata bor harus mempunyai diameter yang cukup untuk mendapatkan
undisturbed sample yang diinginkan dengan baik, dapat digunakan
mata bor steel bit untuk tanah clay, silt dan mata bor jenis core barrel.

i). Digunakan casing (segera) bilamana tanah yang dibor cenderung


mudah runtuh.

6 - 3/7
6. POS: Survai Geoteknik

j). Untuk menentukan besaran index dan structural properties dari contoh-
contoh tanah, baik yang terganggu (disturbed) maupun yang asli
(undisturbed) tersebut di atas dan contoh material (quarry), maka
pengujian di laboratorium dikerjakan berdasarkan spesifikasi SNI, SK
SNI, AASHTO, ASTM, BS dengan urutan terdepan sebagai prioritas
pertamanya.

k). Laporan penyelidikan tanah dan material harus pula berisi analisa dan
hasil daya dukung tanah serta rekomendasi jenis pondasi yang sesuai
dengan daya dukung tanah tersebut dan hasil bor log dituangkan dalam
bentuk tabel/formulir bor log dan form drilling log yang dilengkapi
dengan keterangan/data diantaranya tentang tipe bor yang digunakan,
kedalaman lapisan tanah, tinggi muka air tanah, grafik log, uraian
lithologi, jenis sample, nilai SPT, tekanan kekuatan (kg/cm2), liquid/
plastis limit, perhitungan pukulan dan lain sebagainya.

3. Pengolahan data dan pengujian laboratorium

a). Hasil pelaksanaan survey berdasarkan data yang didapat, dilakukan


pengujian laboratorium yang telah memenuhi persyaratan.

b). Jenis pengujian tanah sampel ditunjukkan pada Tabel 6-2.

F. Pelaporan

Laporan Akhir Geoteknik harus mencakup sekurang-kurangnya pembahasan


mengenai hal-hal berikut:

1. Data pelaksanaan
2. Peta situasi pelaksanaan yang menunjukkan secara jelas lokasi
pelaksanaan terhadap kota besar terdekat
3. Kondisi morfologi sepanjang lokasi
4. Kondisi badan jalan yang ada di sepanjang trase jalan
5. Batuan penyusun (stratigrafi) sepanjang trase jalan. Untuk peta penyebaran
batuan disiapkan dalam kertas HVS ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan
standar pewarnaan geologi dan diberi notasi

6 - 4/7
6. POS: Survai Geoteknik

6. Hasil akhir pemeriksaan laboratorium dijadikan acuan untuk perbaikan hasil


deskripsi secara visual
7. Penyebaran jenis tanah di sepanjang trase jalan. Untuk peta penyebaran
tanah disiapkan dalam kertas kalkir ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan
standar pewarnaan geologi dan diberi notasi
8. Analisis perhitungan konstruksi timbunan dan stabilitas lereng
9. Analisis longsoran di sepanjang trase jalan
10. Sumber bahan konstruksi jalan (jenis dan perkiraan volume cadangan)
11. Gejala struktur geologi yang ada (kekar, sesar/patahan dsb.) beserta
lokasinya
12. Rekomendasi

Tabel 6-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat.

VI Check List Kegiatan Pihak yang terlibat


a b c d e
a. Penetapan lokasi pelaksanaan pada didiskusikan x x
peta disetujui x
b. Persetujuan ijin dan tanggal disetujui x
pelaksanaan survey
c. Pembuatan surat ijin survey ke disetujui x
instansi terkait
d. Persiapan kebutuhan peralatan, dilakukan x x
formulir dan personil
e. Pelaksanaan survey sesuai lokasi dilakukan x
yang ditentukan
Pengisian data ke formulir yang dilakukan x
sesuai
Pengambilan sample dilakukan x

Pengambilan foto survey dilakukan x x

f. Pengujian laboratorium sample tanah dilakukan x x

g. Pembuatan laporan pelaksanaan dilakukan x


survey
Catatan:
Pihak yang terkait adalah:
a. Koordinator Survey Lapangan
b. Engineer (Highway, Topography,
Geology, Hidrology, Environment)
c. Team Leader
d. Pemberi Tugas

6 - 5/7
6. POS: Survai Geoteknik

Tabel 6-2. Spesifikasi Pengujian Tanah di Laboratorium.

NO. PENGUJIAN ACUAN KETERANGAN


SIFAT INDEKS

1 Kadar air ASTM D 2216-92

2 Batas susut ASTM D 427-93

3 Batas plastis ASTM D 4318-93 - Fresh Condition

4 Batas cair SK-SNI M-07-1989-F - oven dried 100 oC

5 Analisa saringan SNI-03-3423-1994

6 Berat Jenis ASTM D 854-92 Gunakan ' Wet method '

7 Berat isi SNI-1742-1989

8 Chloride Content K.H. Head, Vol.1, 1984

9 Carbonate Content K.H. Head, Vol I, 1984

10 Sulphate Content K.H. Head, Vol. 1, 1984

SIFAT KUAT
GESER TANAH

11 Direct Shear SNI 03-2813-1992 - Fresh sample dengan Penjenuhan

ASTM D 3080-90 - Fresh sample tanpa Penjenuhan

- Fresh sample dioven 70 oC selama satu hari

SIFAT
PEMAMPATAN
TANAH

12 Swelling ASTM D 4546-90 - Fresh Condition- Dioven 40 oC dan 70 oC


selama satu hari

KEPADATAN

13 Pemadatan

SIFAT
KELULUSAN

14 Permeabilitas KH Head Vol. 2 1984 Manual of Soil Laboratory Testing. Gunakan


metode Falling Head

6 - 6/7
6. POS: Survai Geoteknik

Bagan Alir (Flowchart)

Engineer Team Leader Pemberi Tugas Instansi terkait

Pengusulan Survey memenuhi


dan lokasi persyaratan

Pengajuan tanggal Pembuatan surat ijin ke surat ijin ke instansi


pelaksanaan survey instansi terkait terkait

Pelaksanaan survey

Pengujian sampel di
laboratorium

Pembuatan Laporan

Gambar 6-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey

6 - 7/7
(7)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY HIDROLOGI

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
7. POS: Survey Hidrologi

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


SURVEY HIDROLOGI

A. Maksud

Dokumen ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk melakukan pengumpulan data


hidrologi dan karakter/perilaku aliran air pada bangunan air yang ada (sekitar
jembatan), guna keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana
(elevasi muka air banjir), perencanaan drainase dan bangunan pengaman
terhadap gerusan, river training (pengarah arus) yang diperlukan.

B. Lingkup

Dokumen ini memuat penyelidikan data curah hujan, data bangunan pengaman
yang ada dan menentukan curah hujan rencana guna memberikan masukan
dalam proses perencanaan yang aman.

C. Acuan

Proses analisa perhitungan harus mengacu pada standar nasional Indonesia


(SNI) No: 03-3424-1994 atau Standar Nasional Indonesia (SNI) No: 03-1724-1989
SKBI-1.3.10.1987 (Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk
Bangunan di Sungai).

D. Pihak yang Terkait/Terlibat

1. Pemberi Tugas

2. Penyedia Jasa :

a. Ketua Tim

b. Ahli Hidrologi/Hidrolika

c. Surveyor

7 - 1/6
7. POS: Survey Hidrologi

E. Prosedur

1. Surat Ijin Survey

a. Pengajuan lokasi, jenis survey, jumlah dan waktu pelaksanaan survey


oleh engineer kepada Team Leader untuk mendapatkan masukan dan
persetujuan.

b. Hasil persetujuan dari Team Leader, selanjutnya mengajukan ijin


pelaksanaan survey ke pemberi tugas berikut tanggal, jenis, jumlah
dan lokasi pelaksanaan survey.

c. Setelah persetujuan survey oleh pemberi tugas, selanjutnya membuat


surat pemberitahuan kepada instansi yang terkait dengan
pelaksanaan survey yang akan dibawa oleh pelaksana survey.

2. Pelaksanaan Survey

Survey hidrologi lengkap digunakan untuk melengkapi parameter-


parameter desain jembatan yang dalam hal ini jembatan yang dimaksud
adalah jembatan di atas lalu-lintas sungai atau saluran air. Untuk itu
pengumpulan data untuk analisa hidrologi yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut :

a. Karakteristik daerah aliran (Catchment Area) dari setiap gejala aliran


yang harus dipelajari dengan cermat dari peta topografi maupun
pemeriksaan langsung di tempat meliputi data curah hujan, tata guna
lahan, jenis permukaan tanah, kemiringan dan lain-lain.

b. Karakteristik sungai yang meliputi:

Kecepatan aliran dan gejala arah

Debit dan daerah pengaruh banjir

Tinggi air banjir, air rendah dan air normal

Lokasi penggerusan (scouring) serta jenis/sifat erosi maupun


pengendapan

Kondisi aliran permukaan pada saat banjir

7 - 2/6
7. POS: Survey Hidrologi

c. Analisa hidrologi yang diperlukan untuk jembatan yang melintas


sungai, sebelum tahap perhitungan/perencanaan hidrolika dari alur
sungai, adalah untuk menentukan

Debit banjir dalam alur sungai jembatan atau debit maksimum


sungai selama periode ulang banjir rencana yang sesuai.

Perkiraan tinggi maksimum muka air banjir yang mungkin terjadi


dan semua karakteristiknya.

Kedalaman air : air banjir, air rendah dan air normal.

d. Untuk menentukan elevasi tinggi muka jembatan diperlukan suatu


perkiraan tinggi maksimum banjir yang mungkin terjadi, ditetapkan dan
diperhitungkan dengan periode ulang banjir rencana atau dalam kurun
waktu rencana sebagai berikut :

Untuk jembatan panjang/besar (konstruksi khusus) diperhitungkan


dengan periode ulang 100 tahunan.

Untuk jembatan biasa/ tetap termasuk gorong-gorong


diperhitungkan dengan periode ulang 50 tahunan.

Untuk jembatan sementara, perlintasan saluran air dan jembatan


yang melintas di atasnya diperhitungkan dengan periode ulang 25
tahunan.

Untuk keperluan analisa hidrologi ditetapkan dengan periode ulang


50 tahunan.

Untuk perhitungan scouring berdasarkan jenis tanah dasar sungai


dan debit serta kecepatan aliran arus sungai.

Dalam menentukan besar debit banjir maksimum dalam kurun


waktu rencana tersebut, dipakai pendekatan berdasarkan analisa
frekuensi dari suatu data curah hujan lebat. Di sini perlu ditinjau
hubungan/korelasi antara curah hujan dan aliran sungai.

Metode untuk menentukan besar debit banjir tersebut


diklasifikasikan menjadi 3 cara yaitu

Cara statistik/kemungkinan-kemungkinan

7 - 3/6
7. POS: Survey Hidrologi

Cara hidrograf/sintetik

Rumus empiris/metode rasional

e. Analisa drainase ditetapkan dengan kala ulang (return period) 25 tahun


dan 50 tahun yang pemilihannya terlebih dulu dikonsultasikan dengan
pihak Pemberi Tugas.

f. Dari hasil survey dan analisa yang dilakukan, antara lain dapat
ditentukan elevasi jembatan dan bangunan pengaman terhadap
gerusan, tumbukan air dan debris.

F. Pelaporan

Laporan mengenai survey dan analisis hidrologi, yang meliputi:

1. Data Kegiatan

2. Peta situasi pelaksanaan yang menunjukkan secara jelas lokasi pelaksanaan


terhadap kota besar terdekat, pos pencatat curah hujan

3. Data curah hujan untuk setiap pos yang diambil

4. Analisis/perhitungan

5. Penentuan dimensi dan jenis bangunan air

6. Daftar lokasi bangunan air yang direncanakan

7 - 4/6
7. POS: Survey Hidrologi

Tabel 7-1. Daftar Kegiatan dan Pihak yang Terlibat.

VII Check List Kegiatan Pihak yang terlibat


a b c d e
a. Penetapan lokasi pelaksanaan pada didiskusikan x x
peta disetujui x
b. Persetujuan ijin dan tanggal disetujui x
pelaksanaan survey
c. Pembuatan surat ijin survey ke disetujui x
instansi terkait
d. Pelaksanaan survey sesuai lokasi dilakukan x
yang ditentukan
e. Pengumpulan data dari instansi dilakukan x
terkait
f. Pengambilan foto survey dilakukan x

g. Pembuatan laporan pelaksanaan dilakukan x


survey

h. Pembuatan laporan hasil survey dilakukan x

Catatan:
Pihak yang terkait adalah:
a. Koordinator Survey Lapangan
b. Engineer (Highway, Topography,
Geology, Hidrology, Environment)
c. Team Leader
d. Pemberi Tugas

7 - 5/6
7. POS: Survey Hidrologi

Bagan Alir (Flowchart)

Engineer Team Leader Pemberi Tugas Instansi terkait

Pengusulan Survey memenuhi


dan lokasi persyaratan

Pengajuan tanggal Pembuatan surat ijin ke surat ijin ke instansi


pelaksanaan survey instansi terkait terkait

Pelaksanaan survey

Pembuatan Laporan

Gambar 7-1. Bagan Alir Pelaksanaan Survey

7 - 6/6
(8)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

A. Maksud

Dokumen ini dimaksudkan sebagai pedoman teknis agar pelaksanaan pekerjaan


perencanaan struktur jembatan dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan
standar persyaratan teknis.

B. Maksud

Dengan adanya pedoman ini diharapkan pelaksanaan pekerjaan jembatan mulai


dari tahap perencanaan struktur jembatan sampai pada tahap pembangunan
jembatan dapat berlangsung sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup yang akan dijelaskan dalam dokumen ini meliputi :

1) Ketentuan umum dan teknis perencanaan teknis jembatan.

2) Tahapan perencanaan teknis jembatan :

a. Perencanaan struktur atas

b. Perencanaan struktur bawah dan pondasi

c. Perencanaan bangunan pelengkap

D. Pihak Terkait/Terlibat

1. Pemberi Tugas

2. Penyedia Jasa

a. Ketua Tim

b. Ahli Teknik Jalan Raya

c. Ahli Struktur/Teknik Jembatan

d. Ahli Geodesi

e. Ahli Geoteknik

f. Ahli Hidrologi

8 - 1/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

g. Ahli Struktur Beton dan Ahli Struktur Baja

h. Ahli Pondasi

i. Ahli Kuantiti dan Anggaran Biaya

j. Ahli Spesifikasi Teknik

E. Prinsip Perencanaan Teknis Jembatan

1. Perencana harus berpengalaman dan kompeten dibidang perencanaan jembatan,


dibuktikan dengan sertifikasi keahlian yang diterbitkan oleh organisasi atau
lembaga yang berwenang dan terakreditasi.

2. Perencana harus bertanggungjawab penuh pada hasil perencanaannya, termasuk


apabila menggunakan produk standar suatu komponen struktur jembatan yang
dibuat pihak lain, kecuali bila dapat menunjukkan sertifikat kelayakan yang
diterbitkan oleh lembaga yang berwenang di bidang jembatan untuk komponen
tersebut. Pertanggungjawaban harus dinyatakan dengan cara menandatangani
setiap lembar gambar rencana dan setiap dokumen pelaporan perhitungan atau
analisis yang mendukungnya.

3. Hasil perencanaan dan perhitungan harus disetujui dan disahkan oleh instansi
yang berwenang, seperti Departemen Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan
Umum di daerah. Bila perlu dapat dimintakan untuk diteliti banding atau diverifikasi
oleh pihak ketiga yang independen, sebelum dilakukan persetujuan dan
pengesahan oleh instansi yang berkompeten.

4. Perencana harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam kriteria


perencanaan.

5. Perencanaan harus memperhatikan rencana tata guna lahan di lokasi rencana


jembatan, beserta kendala alinyemen dan kendala lintasan di bawahnya, agar
didapat suatu hasil rancangan geometrik, bentuk dan cara pelaksanaan konstruksi
yang optimal.

6. Perencanaan harus berdasarkan hasil survey dan penyelidikan, yang memberikan


informasi yang jelas dan akurat mengenai kondisi lapangan di lokasi rencana
jembatan, dan kondisi teknis lainnya yang mendasari kriteria perencanaan.

7. Perencanaan harus memperhatikan ketersediaan material dan peralatan di sekitar


lokasi jembatan agar diperoleh rancangan jembatan yang praktis dan ekonomis.

8 - 2/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

F. Pokok-Pokok Perencanaan

Perencanaan jembatan dapat dilakukan menggunakan dua pendekatan dasar


untuk menjamin keamanan struktural yang diijinkan, yaitu Rencana Tegangan
Kerja (WSD) dan Rencana Keadaan Batas (Limit State). Struktur jembatan yang
berfungsi paling tepat untuk suatu lokasi tertentu adalah yang paling baik
memenuhi pokok-pokok perencanaan berikut ini:

1. Kekuatan dan stabilitas struktur

2. Kenyamanan bagi pengguna jembatan

3. Ekonomis

4. Keawetan dan kelayakan jangka panjang

5. Kemudahan pemeliharaan

6. Estetika

7. Dampak lingkungan pada tingkat yang wajar dan cenderung minimal

Untuk memenuhi pokok-pokok perencanaan tersebut, persyaratan dalam


perencanaan harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan Peraturan perencanaan
Jembatan BMS 92 sebagai berikut:

1. Persyaratan umum perencanaan

2. Persyaratan Analisa Struktur

3. Persyaratan Perencanaan Pondasi

4. Persyaratan Perencanaan Elemen Struktur Jembatan

Agar tingkat standar kualitas perencanaan tertentu sesuai persyaratan dapat


dicapai, maka panduan atau Manual Perencanaan Jembatan (Bridge Design
Manual) BMS 92 harus menjadi pegangan dalam menetapkan

1. Metodologi Perencanaan

2. Pemilihan dan Perencanaan Struktur Jembatan

3. Perencanaan Elemen Struktur Jembatan

4. Perencanaan Pondasi, Dinding Penahan Tanah dan Slope Protection

5. Dan lain sebagainya

8 - 3/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

G. Kriteria Perencanaan

1. Peraturan-peraturan yang dipergunakan

2. Mutu material yang dipergunakan

3. Metode dan asumsi pada perhitungan

4. Metode dan asumsi dalam penentuan pemilihan type struktur atas, struktur bawah
dan pondasi

5. Metode pengumpulan data lapangan

6. Program komputer yang dipergunakan dan validasi kehandalan yang dinyatakan


dalam bentuk bench mark terhadap contoh studi

7. Metode pengujian pondasi

H. Peraturan yang digunakan

1. Perencanaan struktur jembatan harus mengacu kepada

a. Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92

b. Manual Perencanaan Jembatan (Bridge Design Manual) BMS 92

c. peraturan lain yang relevan dan disetujui oleh pemberi tugas, antara lain:

Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan, SNI (Design


Standard of Earthquake Resistance of Bridges)

Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya


(SK.SNI T-14-1990-0.3)

Pembebanan untuk Jembatan RSNI 4

Peraturan Struktur Beton untuk Jembatan, RSNI

Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan, ASNJ4

2. Perencanaan jalan pendekat dan oprit harus mengacu kepada

a. Standar perencanaan jalan pendekat jembatan (Pd T-11-2003)

b. Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, No.038/T/BM/1997

c. Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metoda


Analisa Komponen SNI 1732-1989-F

8 - 4/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

3. Untuk perhitungan atau analisa harga satuan pekerjaan mengikuti ketentuan

a. Panduan Analisa Harga Satuan, No. 028/T/Bm/1995, Direktorat Jenderal Bina


Marga, Departemen Pekerjaan Umum

I. Pembebanan jembatan

Beban-beban harus direncanakan berdasarkan aturan-aturan yang ada dalam


Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92, dan harus
merupakan kombinasi dari

1. Beban berat sendiri

2. Beban mati tambahan

3. Beban hidup

4. Beban sementara

5. Beban-beban sekunder

J. Analisa Struktur

1. Perencanaan struktur jembatan harus didasarkan pada Peraturan Perencanaan


Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92. Prinsip-prinsip dasar untuk
perencanaan struktur jembatan adalah Limit States atau Rencana Keadaan Batas.

2. Analisis mencakup idealisasi struktur dan pondasi pada aksi beban rencana
sebagai suatu model numerik. Dari model tersebut gaya dalam dan deformasi
serta stabilitas keseluruhan struktur dapat dihitung. Pendekatan analisis dapat
menggunakan paket software struktur komersil yang mana terlebih dahulu
dilakukan validasi dengan menggunakan contoh-contoh yang diketahui (dapat
menggunakan contoh dari text book) dan dilakukan pengecekan secara manual
untuk menyakinkan keakuratan hasil analisis.

3. Untuk analisis struktur jembatan dapat dilakukan dengan pendekatan: (1) Linear
Elastik, (2) Linear Dinamik, (3) Non-linear elastic, (4) Response Spectrum, (5)
Time History Analysis atau (6) pendekatan Plastisitas. Penggunaan pendekatan
analisis plastis harus mendapat persetujuan dari pemberi tugas. Khusus untuk
jembatan bersifat fleksibel seperti jembatan gantung pejalan kaki, analisis
terhadap aeroelastik perlu dilakukan.

8 - 5/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

4. Penentuan kapasitas penampang dari elemen struktur jembatan dapat


menggunakan paket software komersil yang memiliki kemampuan pengecekan
terhadap parameter design sesuai dengan peraturan perencanaan Jembatan
(Bridge Design Code) BMS 92. Penggunaan paket software dengan standard
selain Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92 harus
mendapat persetujuan dari pemberi tugas.

K. Tahapan Perencanaan Teknis Jembatan

1. Pengumpulan dan Analisa Data Lapangan

a. Survey pendahuluan (mengacu kepada POS Survey Pendahuluan)

b. Survey lalu lintas (mengacu kepada POS Survey Lalu Lintas)

c. Pengukuran Geodesi (mengacu kepada POS Survey Geodesi)

d. Penyelidikan geoteknik/geologi (mengacu kepada POS Survey Geoteknik)

e. Survey hidrologi (mengacu kepada POS Survey Hidrologi)

2. Perencanaan Geometri dan alinyemen jembatan

a. Kendala alinyemen horisontal dan vertikal

b. Kendala geoteknik

c. Profil topografi

d. Kendala di bawah lintasan atau sungai/laut

e. Tinggi permukaan air laut

f. Kebutuhan tinggi bebas vertikal

3. Penentuan bentang dan lebar jembatan

a. Profil topografi

b. Kendala banjir tertinggi 50 tahun terakhir

c. Teknolgi konstruksi (kemudahan dalam pelaksanaan)

d. Faktor ekonomis

e. Kebutuhan lalu lintas berdasarkan hasil survey lalu lintas

f. Prediksi lalu lintas masa depan

g. Kemungkinan dan kemudahan pelebaran jembatan pada masa akan datang

8 - 6/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

4. Pemilihan bentuk struktur jembatan

a. Kendala geometri

b. Kendala material dan ketersediaannya.

c. Kecepatan pelaksanaan

d. Kesulitan perencanaan dan pelaksanaan

e. Pemeliharaan jembatan

f. Biaya konstruksi

5. Perencanaan struktur atas jembatan

Perencanaan struktur atas jembatan harus direncanakan sesuai dengan aturan-


aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design
Code) BMS 92 atau peraturan lain yang relevan yang disetujui oleh pemberi
tugas. Prinsip-prinsip dasar untuk perencanaan struktur jembatan adalah Limit
States atau Rencana Keadaan Batas, dengan memperhatikan beberapa faktor
berikut ini:

a. Pembebanan pada struktur atas jembatan harus dihitung berdasarkan


kombinasi dari semua jenis beban yang secara fisik akan bekerja pada
komponen struktur jembatan.

b. Kekuatan struktur atas jembatan harus direncanakan berdasarkan analisis


struktur dan cara perhitungan gaya-gaya dalam yang ditetapkan di dalam
standar/ peraturan yang disebut diatas dan khususnya berhubungan dengan
material yang dipilih.

c. Deformability, lawan lendut dan lendutan dari struktur atas jembatan harus
dihitung dengan cermat, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang
agar tidak melampaui nilai batas yang diijinkan oleh standar/peraturan yang
digunakan.

d. Umur layan jembatan harus direncanakan berdasakan perilaku jangka panjang


material dan kondisi lingkungan di lokasi jembatan yang diaplikasikan pada
rencana komponen struktur jembatan khususnya selimut beton, permeabilitas
beton, atau tebal elemen baja, terhadap resiko korosi ataupun potensi
degradasi meterial.

8 - 7/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

6. Perencanaan struktur bawah jembatan

Struktur bangunan bawah harus direncanakan secara benar terhadap aspek


kekuatan dukung dan stabilitas, sebagai akibat beban struktur atas dan tekanan
tanah vertikal ataupun horisontal dan harus mengikuti aturan-aturan yang
ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS
92, faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah

a. Struktur bawah jembatan harus direncanakan untuk menanggung beban


struktur atas melalui komponen tumpuan, yang sudah merupakan kombinasi
terbesar dari semua beban struktur atas, beserta beban-beban yang bekerja
pada struktur bawah yaitu: tekanan tanah lateral, gaya-gaya akibat aliran air,
tekanan air, gerusan, tumbukan serta beban-beban sementara lainnya yang
dapat bekerja pada komponen struktur bawah.

b. Kekuatan struktur bawah harus ditentukan berdasarkan analisis struktur dan


cara perencanaan kekuatan yang ditetapkan di dalam peraturan yang
berhubungan dengan material yang digunakan.

c. Perletakan jembatan harus direncanakan berdasarkan asumsi yang diambil di


dalam modelisasi struktur dengan memperhatikan kekuatan dan kemampuan
deformasi komponen perletakan seperti karet elastomer yang mengacu kepada
SNI 03-4816-1998 Spesifikasi bantalan karet untuk perletakan jembatan.

d. Deformasi yang potensial terjadi khususnya penurunan harus diperhatikan di


dalam perencanaan struktur bawah. Penurunan harus diantisipasi dan dihitung
dengan cara analisis yang benar berdasarkan data geoteknik yang akurat,
dimana pengaruh dari potensial penurunan diferensial dari struktur bawah, bila
ada harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur atas.

e. Jika gerusan dapat mengakibatkan terkikisnya sebagian tanah timbunan di atas


atau di samping suatu bagian struktur bawah jembatan maka pengaruh
stabilitas dari massa tanah harus diperhitungkan secara teliti.

f. Umur layan rencana struktur bawah harus direncanakan berdasarkan perilaku


jangka panjang material dan kondisi lingkungan khususnya bila berada di
bawah air yang diaplikasikan pada rancangan komponen struktur bawah
khususnya selimut beton, permeabiitas beton atau tebal elemen baja terhadap
resiko korosi ataupun potensi degradasi material.

8 - 8/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

7. Perencanaan pondasi jembatan

Struktur bangunan bawah harus direncanakan secara benar terhadap aspek


kekuatan dukung dan stabilitas, sebagai akibat beban struktur atas dan beban
struktur atas dan harus mengikuti aturan-aturan yang ditentukan dalam Peraturan
Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92, faktor-faktor yang perlu
diperhatikan adalah

a. Analisis dapat dilakukan terpisah atau terintegrasi dengan analisis struktur


jembatan. Penggunaan paket software komersil, harus dilakukan validasi
terlebih dahulu dengan menggunakan contoh dari text book dan dicek secara
manual untuk mendapatkan keyakinan.

b. Pondasi jembatan pada umumnya dapat dipilih dari jenis :

1) Pondasi dangkal/pondasi telapak

2) Pondasi caisson

3) Pondasi tiang pancang (jenis end bearing atau friction)

4) Pondasi Tiang Bor

5) Pondasi jenis lain yang dianggap sesuai

c. Penentuan jenis dan kedalaman pondasi dilakukan berdasarkan kondisi lapisan


tanah dan kebutuhan daya dukung untuk struktur bawah serta batasan
penurunan pondasi. Secara umum kondisi dan kendala lapangan yang harus
dipertimbangkan adalah

1) Pembebanan dari struktur jembatan

2) Daya dukung pondasi yang dibutuhkan

3) Daya dukung dan sifat kompresibilitas tanah atau batuan

4) Penurunan yang diijinkan dari struktur atas/bawah jembatan

5) Tersedianya alat berat dan material pondasi

6) Stabilitas tanah yang mendukung pondasi

7) Kedalaman permukaan air tanah

8) Perilaku aliran air tanah

9) Perilaku aliran air sungai serta potensi gerusan dan sedimentasi

10) Potensi penggalian atau pengerukan di kemudian hari yang berdekatan


dengan pondasi

8 - 9/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

d. Khususnya untuk penggunaan pondasi tiang, penentuan jenis dan panjang


tiang harus dilakukan berdasarkan kondisi lapangan di lokasi rencana
jembatan, khususnya kondisi planimetri serta berdasarkan atas evaluasi yang
cermat dari berbagai informasi karakteristik tanah yang tersedia, perhitungan
kapasitas statik vertikal dan lateral, dan/atau berdasarkan riiwayat/pengalaman
sebelumnya.

8. Perencanaan jalan pendekat

a. Perencanaan jalan pendekat jembatan termasuk komponen pelat injak harus


memperhatikan kesinambungan ukuran dan ketinggian jembatan. Apabila jalan
pendekat dibuat dari tanah urugan maka harus diperhatikan potensi penurunan
jangka panjang dari lapisan tanah pendukung/atau urugan tanah yang menjadi
tumpuan perkerasan jalan pendekat.

b. Potensi penurunan tanah harus dihitung secara cermat berdasarkan hasil


penyelidikan tanah.

c. Perencanaan jalan pendekat harus mengacu kepada ketentuan yang telah


dijelaskan pada bagian VIII.2.

9. Perencanaan Bangunan Pelengkap dan Pengaman

a. Perencanaan komponen bangunan pelengkap dan pengaman dalam


pekerjaan perencanaan jembatan harus mengikuti aturan-aturan yang
ditentukan di dalam acuan:

Undang-undang RI No.14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan


Jalan

Pedoman marka jalan, Pd T-12-2004-B

b. Perencanaan komponen pelengkap dan pengaman jembatan meliputi:

Rambu dan marka pada jembatan

Pagar pengaman jembatan

Lampu penerangan pada jembatan

Struktur pengaman pada pilar jembatan terutama untuk menghindari


tumbukan langsung dengan pilar jembatan (seperti fender pengaman atau
sejenisnya)

8 - 10/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

10. Penggambaran

Gambar rencana harus ditampilkan dalam format yang sesuai dengan petunjuk
dari pengguna jasa dan/atau instansi yang berkompeten untuk pengesahan
dokumen perencanaan. Gambar rencana harus ditampilkan dalam format A3
untuk dokumen lelang dan Format A1 untuk keperluan kegiatan pelaksanaan
konstruksi di lapangan. Gambar rencana harus terdiri dari urutan sebagai berikut:

a. Sampul luar dan sampul dalam

b. Daftar isi

c. Peta lokasi jembatan yang dilengkapi dengan peta jaringan jalan eksisiting dan
petunjuk arah utara mata angin

d. Daftar simbol (legenda) dan singkatan

e. Daftar rangkuman volume pekerjaan

f. Potongan memanjang, potongan melintang dan denah jembatan dengan skala


1:100

g. Gambar detail dengan skala 1:20, yang mencakup pelat lantai kendaraan,
struktur atas, struktur bawah dan pondasi jembatan

h. Gambar standar

11. Spesifikasi Teknik

Penyusunan spesifikasi teknik harus mengacu kepada gambar rencana dan harus
memperhatikan semua aspek pelaksanaan konstruksi serta dapat menjelaskan
secara rinci metode dan urutan pelaksanaan termasuk jenis dan mutu material
yang digunakan.

12. Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya

Penyusunan jenis item pekerjaan harus sesuai dengan spesifikasi yang


digunakan, perhitungan volume pekerjaan harus dilakukan secara rinci
berdasarkan daftar item pekerjaan yang dibuat sesuai dengan gambar rencana
dan tabel perhitungan harus mencakup semua jenis pekerjaan.

13. Pelaporan dan Penyiapan Dokumen Lelang

a. Dokumen Lelang

Bab I : Instruksi Kepada Peserta Lelang

8 - 11/12
8. POS: Perencanaan Teknis Jembatan

Bab II : Bentuk Penawaran, Informasi Kualifikasi dan Perjanjian

Bab III : Syarat-syarat Kontrak

Bab IV : Data Kontrak

Bab V : Spesifikasi

Bab VI : Gambar - gambar

Bab VII : Daftar Kuantitas

Bab VIII : Bentuk - Bentuk Jaminan

b. Pelaporan

Laporan-laporan yang harus dibuat untuk pekerjaan perencanaan teknis


jembatan adalah sebagai berikut :

1) Laporan Bulanan.

2) Laporan Antara, antara lain berisi

a). Laporan Survey Pendahuluan

b). Laporan Survey Topografi/Geodesi

c). Laporan Survey Geoteknik

d). Laporan Survey Hidrologi

e). Laporan Survey Lingkungan

3) Laporan Draft Awal

4) Laporan Akhir, termasuk di dalamnya adalah dokumen lelang

8 - 12/12
(9)

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PENYAMPAIAN DED PERENCANAAN
TEKNIK JEMBATAN

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PENYAMPAIAN LAPORAN DED
PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

A. Maksud

Dokumen ini merupakan pedoman bagi perencana untuk menyampaikan hasil


perencanaaan teknis struktur jembatan yang berkualitas dan juga menjadi
pegangan bagi aparatur pemerintah yang berkompeten dalam proses
persetujuan/pengesahan hasil perencanaan.

B. Tujuan

Dokumen ini bertujuan menyeragamkan kualitas penyampaian hasil perencanaan


teknis struktur jembatan sehingga memudahkan proses persetujuan/pengesahan.

C. Acuan

1. Undang-Undang No.18 Tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi yang berkaitan


dengan kegagalan bangunan.

2. Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 Pasal 9 ayat (5), tentang Pedoman
Pelaksanaan Barang/Jasa Pemerintah.

3. Peraturan Pemerintah No.34 Tahun 2006 Pasal 86 ayat (1) tentang Jalan.

D. Lingkup Kegiatan

1. Dokumen ini memuat tata cara penyiapan perencanaan struktur jembatan dalam
rangka persetujuan dari instansi yang berwenang, dalam hal ini Subdit Teknik
Jembatan, terutama dari segi teknis dan administrasi, antara lain berisi penjelasan
mengenai kelengkapan serta materi berkas perencanaan struktur, batasan-
batasan dalam analisis perencanaan struktur, metode uji beban dan kriteria
penilaian berkas perencanaan struktur.

2. Mengimplementasikan fungsi dan tugas Direktorat Bina Teknik (Subdit Teknik


Jembatan) menyangkut pembinaan teknik jembatan secara mantap dan
memenuhi tuntutan pembangunan khususnya untuk jembatan-jembatan dengan
bentangan besar (mayor bridge) 100 meter.

9 - 1/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

E. Ketentuan Umum

1. Wewenang Merencana dan Mengetahui

a. Penyiapan DED melalui kontrak

Tabel 9-1. Penyiapan DED melalui kontrak

Jenis Bangunan
No Melakukan/Menyetujui Mengetahui Keterangan
Atas
Rangka, Gelagar Dua
Tumpuan & Balai
1 P2JJ -
Jembatan Sistem
Lantai.
Gelagar Menerus, Penyiapan Rencana
Pelengkung & Teknis
2 Jembatan Sistem P2JJ Bintek dibantu Tim Teknis/
Kabel serta Jembatan Konsultan Independent
Non-Standar lainnya. Proof Checker *)
Penyiapan Rencana
Semua Jenis Teknis
Jembatan termasuk Subdit Teknik dapat dibantu Tim
3 Bintek
dengan Sumber Jembatan Teknis/ Konsultan
Dana Loan. Independent Proof
Checker *)
*) tergantung pada kompleksitas struktur jembatan dan yang disiapkan dalam format Engineering
Procurement Contract/Turn-key.

b. Penyiapan DED melalui kegiatan swakelola PU

Tabel 9-2. Penyiapan DED melalui Kegiatan Swakelola PU

Melakukan/
No Jenis Bangunan Atas Mengetahui Keterangan
Menyetujui
Rangka, Gelagar Dua
1 Tumpuan & Jembatan P2JJ Balai -
Sistem Lantai.
Subdit Teknik Penyiapan Rencana Teknis
2 Semua Jenis Jembatan. Bintek
Jembatan dapat dibantu Tim Teknis

2. Tanggung Jawab Pemberi Tugas

a. Membuat analisa fungsional untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi pendukung


operasional dan pemeliharaan sehingga sistem desain jembatan dapat
terwujud.

b. Penetapan kriteria (parameter teknik yang bersifat kualitatif dan kuantitatif,


keterkaitannya dan kendala-kendala) untuk sistem perencanaan.

9 - 2/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

c. Mengevaluasi perbedaan pendekatan desain alternatif melalui Cost


Effectiveness Analysis dan Trade Off Studi.

d. Mempersiapkan spesifikasi sistem termasuk komponennya (misalnya


berdasarkan: SNI, BMS, AASHTO, JIS dll).

e. Memilih komponen-komponen yang akan dipakai dalam sistem dan


pengumpulan informasi/rekomendasi dari pemasok.

f. Membantu pemasok dalam pengadaan komponen sistem sesuai spesifikasi


yang ditentukan dan sebagai bahan acuan dalam penyusunan dokumen
kontrak.

g. Menyiapkan dan mendokumentasikan desain lay-out, daftar harga satuan


bahan dan upah, standar-standar dll.

h. Melakukan penaksiran melalui pendekatan prediksi, analisis, dan mereview


kinerja desain secara periodik.

i. Mengembangkan model-model engineering dan prototype untuk maksud


mengevaluasi sistem.

j. Pemilihan software untuk menghasilkan produk desain yang optimal.

k. Mengembangkan pengujian spesifikasi dan prosedur untuk pengembangan


sistem dan komponennya; dan menuntaskan pengujian khusus untuk
menjamin bahwa seluruh desain memenuhi ketentuan/persyaratan.

l. Melakukan/membuat modifikasi desain seperlunya untuk memperbaiki


kekurangan/kesalahan-kesalahan dan atau mengembangkan sistem.

3. Tanggung Jawab Perencana

a. Perencana harus profesional dan beritikad baik.

b. Perencana harus mengikuti peraturan-peraturan dan kaidah-kaidah teknik


yang berlaku.

c. Perencana harus berpengalaman dan kompeten di bidang perencanaan


jembatan, dibuktikan dengan sertifikasi keahlian yang diterbitkan oleh
organisasi atau lembaga yang berwenang dan terakreditasi.

d. Perencana harus bertanggungjawab penuh pada hasil perencanaannya,


termasuk apabila menggunakan produk standar suatu komponen struktur
jembatan yang dibuat pihak lain, kecuali bila dapat menunjukan sertifikat
kelayakan yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang di bidang jembatan

9 - 3/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

untuk komponen tersebut. Pertanggungjawaban harus dinyatakan dengan cara


menandatangani setiap lembar gambar rencana dan setiap dokumen
pelaporan perhitungan atau analisis yang mendukungnya.

e. Terbuka terhadap perkembangan teknis.

4. Proses Pengesahan/Persetujuan Desain

a. Pemeriksaan berkas perencanaan struktur oleh Subdit Teknik Jembatan


terutama ditujukan terhadap keamanan struktur jembatan, dengan perhatian
utama pada segi pembebanan, kekuatan, kestabilan dan kekakuan.

b. Apabila berkas perencanaan tidak layak untuk diperiksa maka Subdit Teknik
Jembatan akan mengembalikan berkas perencanaan kepada Perencana
Struktur untuk diperbaki/dilengkapi.

c. Perencana Struktur bisa diminta untuk melengkapi laporan dan gambar secara
lengkap dan jelas apabila berkas laporan yang disampaikan dianggap tidak
lengkap.

d. Subdit Teknik Jembatan dapat menghadirkan Konsultan Perencana hanya


apabila diperlukan penjelasan dari Konsultan beserta Pemberi Tugas/Pemilik
atau Wakilnya yang dapat membuat keputusan.

e. Hasil dari pemeriksaan mempunyai 7 (tujuh) kategori, yaitu:

1) Disetujui dengan catatan yang harus diperhatikan Perencana, tanpa harus


memasukkan berkas tambahan.

2) Disetujui dengan catatan dan harus memasukkan tambahan kelengkapan


dokumen.

3) Belum bisa diterima, perlu perbaikan, tambahan, ataupun perubahan


desain.

4) Perlu dipanggil Perencananya untuk dapat berdialog langsung dengan


Subdit Teknik Jembatan karena adanya materi yang dipertanyakan.

5) Perlu penjelasan terlebih dahulu dari perencana untuk jembatan yang


bersifat khusus.

6) Tidak layak untuk diperiksa.

9 - 4/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

f. Konsultan Perencana diberi kesempatan untuk memperbaiki perencanaan


struktur secepatnya setelah pertanyaan atau permintaan perbaikan dimintakan
kepada Perencana.

g. Apabila berkas perencanaan struktur telah diperiksa berkali-kali dan masih


terdapat hal-hal penting yang belum dipenuhi atau memenuhi syarat, maka
kepada Perencana dilakukan pemanggilan untuk bisa berkomunikasi dengan
Subdit Teknik Jembatan. Dan bila hal-hal tersebut diatas masih saja terjadi
maka kepada Perencana tersebut bisa dilakukan teguran dengan tembusan
surat kepada pihak assosiasi profesi yang memberi rekomendsi pemberian
SIBP kepada Perencana Struktur tersebut.

F. Ketentuan khusus

1. Kriteria Perencanaan

a. Peraturan-peraturan yang dipergunakan, terutama untuk perencanaan


bangunan atas, bangunan bawah dan pondasi jembatan

b. Mutu material yang dipergunakan

c. Metode dan asumsi pada perhitungan

d. Metode dan asumsi dalam penentuan pemilihan type bangunan atas,


bangunan bawah dan pondasi

e. Metode pengumpulan data lapangan

f. Program komputer yang dipergunakan

g. Metode pengujian pondasi

2. Peraturan yang Digunakan

a. Indonesian Bridge Management System (IBMS) : Bridge Design Code, Bridge


Design Manual dan Bridge Investigation Manual dan revisi-revisinya

b. Standar perencanaan jalan pendekat jembatan (Pd T-11-2003)

c. Tata cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota edisi No.038/T/BM/1997


September 1997

d. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan (Maret 1992)

e. Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metoda


Analisa Komponen SNI 1732-1989-F

9 - 5/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

f. Panduan Analisa Harga Satuan, No. 028/T/Bm/1995, Direktorat Jenderal Bina


Marga, Departemen Pekerjaan Umum

3. Panduan Perencanaan

Agar tingkat standar kualitas perencanaan tertentu sesuai persyaratan dapat


dicapai, maka panduan atau Manual Perencanaan Jembatan (Bridge Design
Manual) BMS 92 harus menjadi pegangan dalam menetapkan:

a. Metodologi Perencanaan

b. Pemilihan dan Perencanaan Struktur Jembatan

c. Perencanaan Elemen Struktur Jembatan

d. Perencanaan Pondasi, Dinding Penahan Tanah dan Slope Protection

e. Dan lain sebagainya

4. Peraturan Pembebanan jembatan

Beban-beban harus direncanakan berdasarkan aturan-aturan yang ada dalam


Peraturan Perencanaan Jembatan (Bridge Design Code) BMS 92, dan harus
merupakan kombinasi dari :

a. Beban berat sendiri

b. Beban mati tambahan

c. Beban hidup

d. Beban sementara

e. Beban-beban sekunder

5. Tahapan Perencanaan Teknis Jembatan

Tahapan perencanaan teknis (mengacu POS Perencanaan Teknis Jembatan)


yang harus dilakukan oleh perencana adalah :

a. Perencanaan Geometri dan Alinyemen jembatan

b. Penentuan Bentang dan Lebar jembatan

c. Pemilihan Bentuk Struktur Jembatan

d. Analisa Struktur

e. Perencanaan Struktur Atas Jembatan

f. Perencanaan Struktur Bawah Jembatan

9 - 6/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

g. Perencanaan Pondasi Jembatan

h. Perencanaan Prasarana Utilitas

i. Perencanaan Bangunan Pelengkap Jembatan

j. Penggambaran Rencana Kontruksi Jembatan

k. Spesifikasi Teknik

l. Perhitungan Volume Pekerjaan dan Rencana Anggaran Biaya

6. Kelengkapan Dokumen

a. Gambar Struktur (3 set)

b. Laporan penyelidikan tanah (3 set), dengan jumlah dan kualitas tes harus
memadai, berikut analisis dan rekomendasinya. Dalam hal ini pihak Subdit
Teknik Jembatan dapat meminta tes tambahan

c. Perhitungan struktur (3 set)

d. Gambar-gambar struktur

7. Laporan Perencanaan

a. Laporan perhitungan detail harus dalam bahasa Indonesia, jika diperlukan bisa
dalam bahasa Inggris

b. Ringkasan dan Penjelasan dari laporan perhitungan harus dalam bahasa


Indonesia

c. Laporan perhitungan harus jelas dan sistematis, diberi nomor halaman dan
daftar isi agar mudah dibaca dan diikuti jalan pikiran dari perencana

d. Perencana harus konsisten, dimana dalam melakukan perhitungan harus


sesuai dengan penjelasan yang diberikan pada awal laporan perhitungan
struktur ataupun penjelasan singkat

e. Pada perencanaan yang bersifat perubahan terhadap desain yang pernah


diajukan, selain perhitungan baru yang disampaikan, bagian laporan lama
yang terkait wajib disertakan berikut penjelasan secara sistematik mengenai
hal-hal yang berubah dan pertimbangan yang ada

f. Laporan hasil perencanaan teknis, antara lain berisi:

a. Hasil pengumpulan data primer

b. Hasil survey detail/primer

9 - 7/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

c. Hasil kajian

d. Hasil analisa struktur

e. Hasil perencanaan teknik yang meliputi lokasi jembatan, alinyemen,


geometri, bentuk bangunan atas, bentuk bangunan bawah, pondasi,
utilitas, komponen pelengkap

f. Gambar rencana teknik jembatan

g. Spesifikasi Teknik

h. Hasil perhitungan volume pekerjaan dan rencana anggaran biaya

8. Gambar-Gambar

a. Sampul luar dan sampul dalam

b. Daftar isi

c. Peta lokasi jembatan yang dilengkapi dengan peta jaringan jalan eksisting dan
petunjuk arah utara mata angin

d. Daftar simbol (legenda) dan singkatan

e. Daftar rangkuman volume pekerjaan

f. Denah dan potongan memanjang jembatan dengan skala 1:100

g. Potongan melintang (cross section) dibuat dengan skala horisontal 1:100,


dalam gambar potongan melintang harus mencakup: -

h. Gambar detail dengan skala 1:20, yang mencakup pelat lantai kendaraan,
bangunan atas, bangunan bawah dan pondasi jembatan

G. Legalisasi DED

1. Setiap lembar gambar rencana harus ditandatangani oleh pihak Konsultan


Perencana, dengan ketentuan:

a. Kolom pertama ditandatangani oleh Perencana (yang merencanakan)

b. Kolom kedua ditandatangani oleh Pemeriksa (yang memeriksa)

c. Kolom ketiga ditandatangani oleh Team Leader (yang menyetujui)

2. Untuk sampul DED dibelakang Cover, sebagai administrasi proyek dibuatkan


Berita Acara Pengesahan antara Penyedia jasa, Pemberi tugas dan Pengguna
Jasa yang terdiri dari :

9 - 8/9
9.POS: Penyampaian Laporan DED Perencanaan Teknis Jembatan

a. Kolom pertama ditandatangani oleh Direktur Utama Konsultan Perencana

b. Kolom kedua ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen/Kasatker

c. Kolom ketiga ditandatangani oleh Institusi Organisasi Struktural yang lebih


tinggi (Subdit Teknik Jembatan)

H. Penjelasan-Penjelasan yang Harus Disampaikan

1. Kondisi sekitar lokasi rencana jembatan

2. Metodologi perencanaan, baik asumsi-asumsi yang digunakan maupun hal-hal


yang dianggap penting untuk diketahui oleh Tim Pemeriksa

3. Apabila perhitungan struktur jembatan menggunakan program komputer maka


harus dijelaskan input data maupun outputnya

4. Agar dijelaskan secara ringkas mengenai kelengkapan perhitungan detail

5. Asumsi-asumsi yang digunakan pada perhitungan struktur bangunan atas


jembatan, bangunan bawah jembatan dan pondasi jembatan

6. Metode pelaksanaan pondasi jembatan

7. Metode pelaksanaan struktur atas jembatan

9 - 9/9
( 10 )

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PENYELENGGARAAN JEMBATAN KHUSUS
(Pertimbangan Penghubungan Tetap Jembatan Antar Pulau, Teluk, & Sungai Besar)

Januari 2009

D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M
D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A
D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K
Jl. Pattimura No. 20 Gd. Sapta Taruna Lt. VI Keb-Baru Telp/Fax (021) 7251544 - 7247283 Jkt 12110
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR


PENYELENGGARAAN JEMBATAN KHUSUS

A. LATAR BELAKANG

Jembatan adalah suatu konstruksi yang dibangun untuk melewati massa (lalu lintas, air) di
atas suatu penghalang. Semakin lebar halangan yang harus dilewati, makin besar
panjang jembatan yang dibutuhkan. Jembatan yang dibangun harus direncanakan untuk
mampu melewatkan lalu lintas yang dilayaninya dengan aman dan nyaman.

Jembatan merupakan bagian dari suatu ruas jalan, sehingga keberadaan suatu jembatan
tidak dapat berdiri sendiri melainkan bagian dari suatu sistem jaringan jalan. Prinsip dasar
dalam pembangunan jembatan adalah jembatan untuk jalan raya, tetapi bukan jalan
raya untuk jembatan. Dengan demikian perencanaan jembatan merupakan bagian dari
perencanaan jaringan jalan.

Jembatan khusus didefinisikan sebagai suatu jembatan yang memiliki bentang yang
panjang atau yang memiliki nilai strategi yang tinggi.

Jembatan khusus merupakan salah satu infrastruktur penting. Pembangunan dari


jembatan khusus memerlukan biaya yang cukup besar. Demikian juga pengaruh
keberadaan jembatan akan memberikan dampak yang besar juga. Karena itu proses
pembangunan suatu jembatan harus dilakukan secara hati-hati mulai dari tahap awal
sampai jembatan tersebut beroperasi.

Salah satu tahapan penting dalam proses pembangunan jembatan adalah tahap Studi
Kelayakan, dimana semua aspek ditinjau untuk memastikan bahwa proses pembangunan
jembatan dapat dilanjutkan atau tidak serta untuk mengetahui kapan jembatan tersebut
dibutuhkan.

Makalah ini akan menyajikan konsep studi kelayakan, tahapan-tahapan dari


pembangunan Infrastruktur besar, proses pengadaan jembatan khusus di Indonesia serta
Studi Kelayakan yang dilakukan pada jembatan-jembatan khusus di Indonesia.

B. KONSEP DASAR STUDI KELAYAKAN

1. Definisi

Sesuai dengan istilah yang digunakan, studi kelayakan adalah suatu analisis terhadap
viability (diteruskan atau tidak) suatu ide. Fokus dari suatu studi kelayakan adalah
untuk mampu menjawab pertanyaan penting Should we proceed with the

10 - 2/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

proposed project idea?, sehingga segala aktivitas dalam studi kelayakan bertujuan
untuk membantu menjawab pertanyaan tersebut.

Mengetahui lebih awal bahwa suatu ide tidak bekerja sesuai yang diharapkan akan
dapat mencegah penggunaan uang, waktu dan sumber daya secara sia-sia.

2. Feasibility Study Vs Business Plan

Studi Kelayakan bukanlah suatu business plan, hal ini seringkali disalah artikan.

Studi Kelayakan memiliki fungsi investigasi, sedangkan business plan memiliki fungsi
planning/perencanaan yang berisikan langkah-langkah yang diperlukan untuk
mewujudkan suatu proposal dari suatu ide menjadi kenyataan.

Studi Kelayakan mempertimbangkan dan mengkaji beberapa alternatif, yang nantinya


akan dikaji untuk mendapatkan alternatif terbaik, sedangkan business plan berisi
hanya satu alternatif.

Hasil dari studi kelayakan akan menjadi basis bagi business plan yang mulai
dipersiapkan jika sudah diketahui bahwa suatu alternatif itu layak untuk dilanjutkan.
Business plan berisikan blueprint dari project implementation.

3. Kenapa perlu dilakukan Feasibility Study?

Jika kita mengkaji investasi yang telah berhasil, akan kita temui bahwa rencana
investasi tidak akan dilakukan tanpa melalui proses penilaian terhadap hal-hal penting
dan menganalisis kemungkinan keberhasilan dari investasi yang akan dilakukan.
Karena itu Studi Kelayakan merupakan suatu langkah krisis dan penting dalam suatu
investasi. Jika dilaksanakan secara tepat akan memberikan investasi terbaik.

Berikut ini adalah alasan kenapa Studi kelayakan perlu untuk dilaksanakan:

a. Memunculkan beberapa alternatif sehingga memberikan arah atau fokus


terhadap rencana investasi

b. Mengurangi alternatif-alternatif yang ada

c. Memberikan alasan untuk melanjutkan atau tidak melanjutkan suatu investasi

d. Meningkatkan kemungkinan untuk sukses atau tercapainya tujuan investasi


dengan cara mengidentifikasi dan menanggulangi pengaruh pelaksanaan
sedini mungkin

e. Menyediakan informasi yang berkualitas bagi pengambil keputusan

f. Menyediakan bahan untuk menarik minat investor

10 - 3/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

Untuk kasus investasi jembatan khusus, studi kelayakan diperlukan karena alasan:

a. Biaya
Kegiatan jalan dan jembatan merupakan kegiatan yang memerlukan biaya yang
sangat besar, sehingga perlu dipastikan bahwa dana yang digunakan akan
memberikan hasil yang diharapkan.

b. Prioritas
Keterbatasan keuangan yang dimiliki baik oleh pemerintah maupun swasta
menyebabkan pentingnya memberikan skala prioritas untuk setiap penggunaan
dana pembangunan.

c. Dampak
Jalan dan jembatan merupakan infrastruktur publik yang memberikan pengaruh
yang sangat besar baik yang positif maupun negatif terhadap lingkungan di
sekitarnya.

d. Aspek Ekonomis
Pembangunan jalan dan jembatan tidak terlepas dari aspek ekonomi, apakah
investasi yang ditanamkan akan mendapatkan pengembalian yang diharapkan.

4. Lingkup Kegiatan Feasibility Study

Secara umum suatu studi kelayakan terdiri atas 3 (tiga) komponen utama yaitu

a. Analisis Kebutuhan

Hal paling penting yang harus dikaji dalam suatu studi kelayakan adalah ada
tidaknya potensi kebutuhan akan investasi yang dimaksud. Misalnya untuk
kasus jembatan besar, perlu diketahui besarnya demand lalu lintas yang akan
menggunakan jembatan tersebut jika jembatan tersebut dibangun. Jika ternyata
kebutuhan tersebut tidak mencapai level yang diharapkan, maka rencana
investasi sebaiknya ditinjau kembali.

Data-data yang dibutuhkan didapat dengan melakukan survey/pengumpulan


data sekunder maupun primer serta kajian yang tepat.

b. Kelayakan Teknis

Secara teknik perlu dilakukan kajian terhadap lokasi investasi yang tepat serta
solusi-solusi teknik dalam pelaksanaan tersebut. Untuk kasus jembatan khusus
perlu dicari lokasi terbaik jembatan, keterkaitan dengan jaringan jalan eksisting,
tipe struktur yang mungkin digunakan, biaya yang diperlukan, dan kemampuan
melaksanakan pekerjaan tersebut.

10 - 4/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

c. Kelayakan Finansial

Berdasarkan estimasi yang dilakukan untuk 2 aspek di atas, analisis kelayakan


finansial dapat dilakukan. Hal-hal yang perlu diketahui adalah

Start-Up Costs

Operating Costs

Revenue Projections

Sources of Financing

Profitability Analysis

5. Hasil Studi Kelayakan

Hasil dari suatu studi kelayakan akan berisikan kajian secara mendalam atas berbagai
alternatif tersebut. Penentuan alternatif terbaik bukan merupakan target suatu studi
kelayakan, karena yang harus disajikan adalah atas masing-masing alternatif secara
mendalam. Adalah bukan tugas dari pelaksana studi kelayakan untuk menentukan
apakah investasi tersebut dihentikan atau diteruskan. Keputusan atas hal ini ada pada
pemberi pekerjaan.

C. TAHAPAN PEMBANGUNAN FIXED LINK

1. Definisi dan Tahapan Pembangunan Fixed Link

Dalam bidang infrastruktur transportasi darat, Fixed link didefinisikan sebagai


struktur/bangunan permanen melintas di atas perairan/lautan yang menyediakan jalur
yang tidak terganggu bagi lalu lintas ataupun kereta api dengan tingkat keamanan,
efisiensi dan kenyamanan yang baik. Secara umum istilah Fixed Link diasosiasikan
dengan jalan bebas hambatan atau lintasan kereta api yang cukup panjang. Sebuah
Fixed Link bisa terdiri dari kombinasi dari beberapa tipe struktur/bangunan seperti
tunnel, pulau buatan, causeways dan berbagai tipe jembatan.

Fixed Link adalah suatu pelaksanaan yang melibatkan investasi yang besar dan
sangat peting bagi lingkungan sekitarnya. Keberadaan Fixed Link akan memberikan
pengaruh terhadap pengembangan dari potensi yang ada di wilayah yang dilayani.
Karena itu tahapan-tahapan perencanaan harus dilakukan secara hati-hati dan
mendalam.

Secara garis besar tahapan pembangunan suatu fixed link terdiri dari 3 tahap utama
yaitu

10 - 5/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

a. Tahap I: Project Planning

Tahap perencanaan awal (early planning phase) sangat berpengaruh terhadap


tugas-tugas tahap perencanaan selanjutnya setelah keputusan tentang fixed link
tersebut diambil. Pada tahapan ini diharapkan terjadi perdebatan politik tentang
keputusan untuk merencanakan fixed link. Hal ini bisa berlangsung berpuluh tahun
bahkan bisa berabad-abad. Pada periode ini aktivitas perencanaan pada tingkatan
tertentu diperlukan untuk menunjukkan kebutuhan fixed link tersebut dan untuk
mengetahui pengaruh negatif dan positif dari pembangunannya.

Hal-hal yang harus diputuskan dalam tahap ini adalah

Kepemilikan dan Pendanaan.

Perkiraan Lokasi.

Umur layan yang diharapkan.

Kebutuhan Kapasitas Lalu Lintas/Necessary Trafic Capacity.

Pertimbangan terhadap lalu lintas lain jalur pelayaran kapal dan juga jalur
penerbangan pesawat.

Prinsip-prinsip dalam Environmental Evaluation.

Risk Policy.

International Convention.

b. Project Development

Hal-hal yang dilakukan pada tahap Project Development adalah

Studi awal adalah

Mereview semua informasi yang berkaitan dengan keberadaan fixed


link tersebut

Menginvestigasi solusi-solusi teknis yang feasible dan layak untuk


diaplikasikan

Melakukan estimasi terhadap lalu lintas. Untuk lalu lintas kereta api
harus ditentukan apakah jalur kereta api akan dibangun 1 atau 2
lintasan. Hal yang sama untuk lalu lintas jalan raya, apakah akan
dilewatkan dengan diangkut kereta, atau apakah disediakan lintasan
untuk lalu lintas kendaraan, serta berapa jalur dan lajur yang

10 - 6/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

disediakan. Solusinya biasanya menyangkut aspek teknik, ekonomis,


sosial dan politik.

Keputusan dapat diambil nanti pada tahap berikutnya jika data yang
dimiliki telah lebih lengkap dan memadai.

Studi-studi yang dilakukan pada Tahapan ini adalah

Studi Alternatif Alinyemen

Akan mereview posisi alinyemen yang mungkin serta menetapkan


koridor bagi studi selanjutnya. Dalam studi ini juga dipertimbangkan
koneksi dengan sistim jaringan transportasi yang ada serta potensi
lokasi konfliknya. Untuk setiap alternatif alinyemen perlu ditentukan
konfigurasi struktur yang akan digunakan. Setiap alternatif konsep yang
muncul nantinya akan dikaji secara lebih mendalam pada tahapan
selanjutnya.

Enviromental condition study

Bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengaruh keberadaan struktur


terhadap lingkungan serta melakukan tinjauan terhadap aturan serta
standar yang terkait dengan lingkungan yang harus dipenuhi.

Technical site condition study

Studi ini difokuskan kepada aspek geologi, pondasi, navigasi, cuaca,


dan kondisi hidraulik. Dilakukan juga review terhadap topography yang
ada serta rekomendasi bagi studi tambahan untuk dilaksanakan pada
tahap selanjutnya.

Preliminary design basis study

Pada saat ini akan direview semua persyaratan-persyaratan, peraturan,


standar. Termasuk didalamnya adalah mengidentifikasikan persyaratan
yang terkait dengan aspek keselamatan dan keandalan struktur.

Preliminary costing basis study

Studi ini bertujuan untuk menentukan metode estimasi biaya serta


memberikan informasi awal tentang biaya yang diperlukan bagi
pembangunan kegiatan tersebut.

10 - 7/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

Conceptual Study

Conceptual Study adalah proses yang berulang dimana semua aspek yang
mungkin yang berpengaruh terhadap keberadaan project harus
dipertimbangkan, diberi bobot, dan diklarifikasi untuk mencapai solusi yang
paling mungkin bagi pemenuhan kebutuhan/tujuan bagi lokasi kegiatan.

Conceptual study terdiri atas

Penyusunan Project Basis, yang terdiri dari


Geometric Requirement, Structural Requirement, Environmental
Requirement, Risk Requirement, Aethestic/Aesthetic?,
Requirement, Navigation Condition, Wind Condition, Earthquake
Condition, Costing Basis.

Penentuan alternatif yang mungkin

Preliminary Site Investigation


Pada saat yang bersamaan dilakukan juga preliminary site investigation
seperti penyelidikan tanah dalam koridor alinyemen, pengumpulan data
angin, analisis potensi bahaya gempa dan potensi tabrakan kapal.

Kajian dan Penilaian Alternatif Solusi


Setiap alternatif solusi akan disajikan dalam bentuk gambar dan uraian
dan harus sesuai dengan Project Basis dengan mempertimbangkan

Preliminary Site Investigation, Structural Aspect, Architectural


Aspect, Environmental Aspect, Mechanical and Electrical Instalation
and Utilities, Definitions and Constrains for Operation and
Maintenance, Cost Aspect, Major Construction Stages.

Adalah tidak mungkin untuk memenuhi semua requirement, tetapi harus


diupayakan untuk mencapai solusi yang berimbang (BALANCE
SOLUTION). Karena itu pada tahap Conceptual Study dilakukan
pembobotan dari setiap parameter untuk masing-masing alternatif solusi.
Hasil yang didapat adalah rangking teknik saja, sedangkan keputusan atas
alternatif yang digunakan ditentukan oleh Owner.

Project Selection

Untuk Tujuan Penentuan alternatif perlu dilakukan juga studi-studi berikut

Analisis Dampak Lingkungan dari Kegiatan

Studi Lalu lintas dan Penentuan Besarnya Tarif

10 - 8/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

Lay-Out dan biaya dari jalan akses yang diperlukan untuk


menghubungkan Fixed Link dengan jaringan yang sudah ada

Prosedur Pelelangan

Technical rangking yang diperoleh pada tahap Conceptual Study dan hasil
studi-studi di atas akan dimasukkan dalam pembentukkan Cost Benefit
model yang nantinya dijadikan dasar dalam menentukan solusi terpilih
adalah wewenang Owner. Solusi terpilih tersebut harus memperhitungkan
juga sudut pandang politik. Public Hearing merupakan salah satu cara
yang dilakukan untuk mencapai keputusan akhir. Hasilnya adalah The
solution of Chose SOLUSI YANG DIPILIH.

Procurement Strategy

Setelah solusi terpilih ditetapkan, langkah berikutnya adalah menentukan


strategi pengadaan konsultan dan kontraktor. Tujuannya adalah untuk
menjamin bahwa semua pekerjaan dan aktivitas didistribusikan dan
dilaksanakan oleh pihak yang paling berkualitas pada setiap tahapan
kegiatan, mencapai standar kualitas yang diinginkan, dan dengan biaya
keseluruhan yang paling rendah.

Secara umum ada 3 strategi yang umum digunakan untuk kegiatan Fixed
Link, yaitu

Separate Design and Construction (SDC), suatu konsep dimana


dokumen kontrak disiapkan oleh pengelola kegiatan dengan dibantu
konsultan, sedangkan pelaksanaan konstruksi oleh kontraktor.

Design Built (DB), suatu konsep dimana proses desain dan


konstruksi diserahkan kepada suatu pihak yang umumnya kontraktor.

Design Built Operate and Transfer (BOT), konsep ini hampir sama
dengan DB, perbedaannya adalah bahwa semua biaya ditanggung
oleh pihak yang diberi konsesi, dan pihak tersebut diberikan massa
konsesi sebelum diserahkan kepada pemerintah.

Tender Design

Tender Evaluation

Detailed Design

c. Construction

10 - 9/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

D. PENGADAAN JEMBATAN KHUSUS DI INDONESIA

Secara umum pembangunan suatu jembatan dimulai dari tahap Studi Kelayakan
(Feasibility Study), namun mengingat suatu jembatan itu merupakan bangunan pelengkap
jalan, maka pendekatan yang dilakukan adalah melakukan studi kelayakan suatu ruas
jalan dimana jembatan berada. Kemudian apabila dari hasil kajian tersebut ternyata ruas
jalan tersebut layak untuk direalisasikan, maka dapat dilanjutkan untuk selanjutnya
dioperasikan serta dipelihara.

Untuk kegiatan khusus seperti pembangunan jembatan-jembatan strategis atau jembatan-


jembatan dengan bentang yang panjang dimana diperlukan dana yang cukup besar,
misalnya Jembatan Teluk Balikpapan, Jembatan Batam Tronton, Jembatan Selat
Madura dan sebagainya, harus dilakukan studi kelayakan khusus.

Termasuk didalam skope pekerjaan studi kelayakan tersebut adalah:

a. Pemilihan Alternatif Rute

b. Studi Sosial Ekonomi

c. Studi Dampak Lingkungan

d. Design Development

e. Preliminary Design

f. D.s.b

Diharapkan dari studi tersebut, dengan memperhatikan pola sistem jaringan jalan dan
konsep tata ruang, maka khusus untuk pelaksanaan jembatan khusus akan didapatkan :

a. Kepastian Lokasi

b. Penentuan Jembatan dan Jumlah jalur

c. Mode Lalu Lintas yang akan digunakan

d. Keperluan ruang bebas jembatan untuk jalur navigasi

e. Prediksi perkembangan lalu lintas

f. Prediksi frekuensi lalu lintas navigasi termasuk bobotnya

Rekomendasi dari studi-studi tersebut di atas harus ditunjang dengan legal aspek seperti
persetujuan dari Departemen Perhubungan dalam hal penentuan Jalur Navigasi serta
persetujuan Departemen Pekerjaan Umum dalam hal keterkaitan dengan sistem jaringan
Prasarana dan sebagainya.

10 - 10/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

Selanjutnya setelah melalui rangkaian studi di atas, umumnya dilanjutkan dengan tahap
Engineering (Perencanaan teknis dan Studi-Studi lainnya) dan kajian masalah pendanaan
(Financial Aspect). Lamanya tahapan-tahapan pengadaan tersebut dalam kondisi normal
berkisar antara 3 sampai 4 tahun mulai dari Pra Studi Kelayakan sampai Tahap
Konstruksi, sebagaimana disajikan pada gambar di bawah. Sedangkan untuk Crash
Program, tahapan-tahapan tersebut dapat diselesaikan antara 1 sampai dengan 2 tahun.

0,5 - 1,0 tahun


Studi Sosial 0,5 - 1,0%
Ekonomi &
Pra Studi

Studi 0,5 - 1,0 tahun


Kelayakan 0,5 - 1,0%

Preliminary / 0,5 - 1,0 tahun


Design 3,0 - 4,0%
Development

Final Konstruksi Operasional &


Engineering & Supervisi Pemeliharaan

1 tahun 3 tahun
4,0 6,0 %

Gambar 10-1. Tahapan Pengadaan Pelaksanaan Jembatan Khusus

E. Project : Jembatan Panjang

Studi Teknik Detailed Engineering Design

a. Latar Belakang

Untuk mengetahui secara rinci semua asumsi yang digunakan dalam tahap perencanaan
serta untuk mendapatkan parameter-parameter penting bagi perencanaan jembatan,
diperlukan serangkaian technical study. Mengingat bentangan jembatan yang besar dan
umur rencana jembatan yang khusus, maka kebutuhan data-data perencanaan tersebut
harus didapat secara akurat.

10 - 11/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

Hasil Studi teknik tersebut akan menjadi dasar bagi perencana jembatan untuk melakukan
detailed engineering design.

b. Studi Teknis yang diperlukan

Adapun Studi Teknis yang diperlukan adalah

Studi Topografi Bawah Air / Bathimetry

Untuk mengetahui profil dasar laut di lokasi kegiatan.

Studi Gelombang, Pasang, arus dan sedimentasi

o Untuk mengetahui kondisi angin, gelombang, pasang surut dan arus di lokasi
kegiatan.

o Untuk mengetahui tingkat sedimentasi di lokasi kegiatan.

Studi Scouring

o Untuk mengetahui local scouring di lokasi pilar jembatan akibat dibangunnya


jembatan.

Studi Geologi

o Untuk mengetahui kondisi permukaan khususnya di lokasi jembatan, mulai


darat, pantai dan laut.

o Memetakan kondisi geologi, khususnya litologi dan struktur geologi di daerah


sekitar kegiatan.

o Memberikan informasi dalam bentuk gambar 3 dimensi tentang kondisi bawah


permukaan di lokasi kegiatan.

o Metode yang digunakan adalah Geoelektrik untuk daratan, georadar untuk


daerah pantai dan sub bottom profiling untuk lautan.

Soil Investigation

o Mendapatkan data primer di lokasi pekerjaan yang akan digunakan untuk


perencanaan.

o Mengidentifikasikan textur lapisan tanah di lokasi kegiatan berdasarkan hasil


penyelidikan dan pengukuran langsung di lapangan dan laboratorium.

o Melakukan analisis dan evaluasi tentang jenis pondasi dan daya dukung.

o Menyediakan data bagi studi teknis lain seperti Seismic Hazzard dan lain-lain.

10 - 12/13
10. POS: Penyelenggaraan Jembatan Khusus

Seismic Hazzard Analysis

o Mengidentifikasikan fenomena-fenomena geologi yang berpotensi menjadi


sumber gempa yang ada di sekitar lokasi jembatan.

o Mendapatkan parameter gempa berupa percepatan tanah dasar dan respon


spectra di batuan dasar dan di dasar laut.

Wind Resistant Study/Wind Tunnel Test

o Mengidentifikasikan fenomena-fenomena akibat angin dinamik pada jembatan.

o Mendapatkan parameter beban angin.

Salitasi/salinitas (Keasinan)

Pergerakan Kapal

Kecepatan Angin

Tidal

Dan lain-lain

10 - 13/13