Anda di halaman 1dari 30

UJIAN COMPOUNDING DAN DISPENSING

RESEP 39

Oleh :
DEWA AYU MADE INTAN PERMATA SARI ARSANA (1508515039)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
Soal:
Nn rima (22 tahun) datang keapotek anda dengan membawa resep dari dokter. Pasien pergi
kedokter karena mengeluh mengalami nyeri dada dan sesak napas sejak 3 hari yang lalu. 1
minggu yang lalu, pasien mengeluh batuk berdahak dan demam. Pasien sempat meminum
obat batuk yang dibelinya sendiri diapotek lain, batuk sempat membaik namun kini muncul
kembali. Pasien memiliki riwayat asthma. Riwayat pengobatan pasien tidak diketahui. Sehari-
hari pasien adalah seorang akuntan yang sering duduk di ruang ber-AC selama lebih dari 5
jam. Saat ini pasien mengeluh nyeri dada, sessak napas, dan batuk berdahak yang tidak tuntas.

I. RESEP:
II. HASIL PEMBACAAN RESEP

R/ Zycin 500mg III

S 1 dd I

R/ coredryl syr I

S 3 dd cth I

R/ Mirasic tab X

S 3 dd 1 prn

R/ salbutamol tab X

S 2 dd 1

R/ metyl prednisolon tab X

S 2 dd 1

A. SKRINING RESEP
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35 tahun 2014
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa skrining resep yang
dilakukan oleh apoteker meliputi:
A. Persyaratan administratif :
- Nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan;
- Nama dokter, nomor Sura Ijin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan paraf; dan
- Tanggal penulisan resep.
B. Kesesuaian farmasetik :
- Bentuk dan kekuatan sediaan;
- Stabilitas; dan
- Kompatibilitas (ketercampuran obat).
C. Pertimbangan klinis :
- Ketepatan indikasi dan dosis obat;
- Aturan, cara dan lama penggunaan obat;
- Duplikasi dan/atau polifarmasi;
- Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi klinik);
- Kontra indikasi; dan
- Interaksi.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka Apoteker harus
menghubungi dokter penulis resep. Apoteker juga melakukan penyiapan obat yang meliputi
peracikan, etiket, kemasan obat, penyerahan obat, informasi obat, konseling, pelayanan
informasi obat dan monitoring terhadap penggunaan obat (PerMenkes RI, 2014).
2.1 Skrening Administratif
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35 tahun 2014
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa skrining resep untuk
persyaratan administratif yang dilakukan oleh apoteker meliputi:
- Nama pasien
- Umur pasien
- Jenis kelamin pasien
- Berat badan pasien
- Nama dokter
- Nomor Sura Ijin Praktik (SIP) dokter
- Alamat praktek dokter
- Nomor telepon dokter
- Paraf dokter
- Tanggal penulisan resep
(PerMenKes RI, 2014)
Hasil skrining persyaratan administratif pada resep yang diterima dapat dilihat pada tabel
1 dibawah ini.
Tabel 1. Hasil Skrining Administratif
Tidak
Kelengkapan Resep Ada
Ada
Identitas Dokter Nama
SIP
Alamat praktik
Nomor telepon
Superscriptio Simbol R/
Nama Kota
Tanggal resep
Inscriptio Nama obat
Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Subscriptio Bentuk sediaan obat (BSO)
Signatura Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Waktu minum obat
Informasi lain
Penutup Paraf
Tanda tangan
Identitas pasien Nama
Alamat
Umur
Jenis kelamin
Berat badan
Berdasarkan persyaratan di atas, diketahui identitas dokter yang dicantumkan pada
resep tersebut sudah lengkap. Menurut Permenkes RI No 512/MENKES/PER/IV/2007 tentang
Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran, penulisan SIP dokter diperlukan untuk
menunjukkan bahwa dokter penulis resep secara tertulis terbukti telah memenuhi persyaratan
untuk menjalankan praktik kedokteran. Nomor telepon serta hari dan jam kerja diperlukan
guna mempermudah dalam menghubungi dokter penulis resep apabila terdapat permasalahan
terkait resep serta meminta persetujuan dari dokter penulis resep terkait pertimbangan
apoteker dalam mengatasi permasalahan tersebut (Rahmawati dan Oetari, 2002).
Waktu minum obat dari beberapa obat tidak terdapat pada resep. Waktu minum obat
berkaitan pemberian obat pada pagi, siang atau malam hari dan diberikan sebelum makan,
bersamaan dengan makanan atau setelah makan. Waktu minum obat terkait dengan interaksi
obat tersebut guna mengoptimalkan efektivitas obat yang digunakan.

Data mengenai waktu minum obat penting diketahui untuk menentukan waktu
penggunaan obat (sebelum atau sesudah makan) guna menghindarkan terjadinya interaksi
antar obat yang digunakan sehingga penggunaan obat dapat memberikan efek yang optimal.
Hasil skrining administratif menunjukkan bahwa Identitas pasien pada resep juga tidak
lengkap, yaitu kurangnya data mengnai berat badan dan tinggi badan pasien yang penting
diketahui untuk menjamin obat diberikan kepada pasien yang tepat, yang dilihat dari data
nama dan alamat, dan obat diserahkan dalam bentuk sediaan obat serta dosis yang tepat sesuai
umur dan berat badan pasien. Karena pada resep tidak terdapat data berat badan pasien, maka
perlu dilakukan penggalian informasi pasien dari pembawa resep ataupun dari pasien. Data
berat badan pasien diperlukan untuk melakukan perhitungan dosis individual. Namun dilihat
dari umur dan regimen pengobatan yang diberikan, maka dosis yang diberikan kepada pasien
adalah dosis untuk pasien dewasa sehingga perhitungan dosis dapat dilakukan dengan tidak
menggunakan berat badan pasien melainkan menggunakan dosis lazim dan dosis maksimum
dewasa. Selain itu kekuatan sedian tidak tercantum dalam resep sehingga perlu dikonfirmasi
kembali pada dokter penulis resep mengenai kekuatan sediaan.

2.2 Skrining Farmasetis


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35 tahun 2014
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa skrining resep untuk
persyaratan farmasetis yang dilakukan oleh apoteker meliputi bentuk dan kekuatan sediaan;
stabilitas dan kompatibilitas (ketercampuran obat) (PerMenKes RI, 2014).
Hasil skrining farmasetis pada resep dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Hasil Skrining Farmasetis
Kriteria Zycin Coredryl Mirasic Salbutamol Metil Prednisolon
Bentuk sediaan Kapsul Sirup Tablet Tablet Tablet
Potensi/ kekuatan azitromici Diphenhyd Parasetamol Salbutamol Metil prednisolon
n 500mg ramine 500 mg 2mg atau 4mg 4mg
HCl 15
mg,
glyceryl
guaiacolate
75 mg,
menthol
2.5 mg
Stabilitas Stabil Stabil pada Stabil pada Stabil pada Stabil pada suhu
pada suhu suhu suhu <300C suhu kamar kamar (20-250C)
kamar <300C (20-250C)
0
(25 C)
Kompaktibilitas - - - - -
a. Bentuk sediaan
Mirasic, salbutamol, dan metil prednisolon dalam resep diberikan dalam bentuk tablet
sedangkan zycin diberikan dalam bentuk kapsul. Dilihat dari umur pasien, bentuk
sediaan tablet dan kapsul yang diberikan sudah sesuai, karena pasien dapat menelan
dengan baik. Coredryl diberikan dalam bentuk sediaan sirup yang dapat menyamankan
tenggorokan sehingga memberi keuntungan pada kondisi batuk pasien.
b. Potensi
Potensi zycin telah tercantum pada resep yaitu 500 mg. Potensi untuk coredryl, mirasic,
yang tersedia dipasaran hanya satu pilihan sehingga digunakan sediaan yang ada.
Sedangkan salbutamol yang tersedia dipasaran yaitu 2mg atau 4mg dan metil
prednisolon yang tersedia dipasaran yaitu 4 mg atau 8mg.
c. Stabilitas
Resep terdiri dari lima sediaan yang memiliki stabilitas yang berbeda setiap sediaan.
Adapun stabilitas masing-masing sediaan tersebut adalah:
Zycin (azitromisin)
Stabil pada suhu kamar (250C) (Lacy et al., 2011)
Salbutamol
Stabil pada suhu kamar (20-250C) (Lacy et al., 2011)
Metil Prednisolon
Stabil pada suhu kamar (20-250C) (Lacy et al., 2011)
Coredryl syr
Stabil pada suhu <300C (Lacy et al., 2011)
Mirasic
Stabil pada suhu <300C (Lacy et al., 2011)
d. Kompaktibilitas
Dalam resep tidak terdapat kegiatan pencampuran dari masing-masing sediaan dan
diserahkan dalam bentuk sediaan sehingga masing-masing sediaan pada resep tidak
terdapat masalah inkompaktibilitas.

2.3 Skrining Klinis


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35 tahun 2014
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa skrining resep untuk
pertimbanganklinis yang dilakukan oleh apoteker meliputi:

- Ketepatan indikasi dan dosis obat;


- Aturan, cara dan lama penggunaan obat;
- Duplikasi dan/atau polifarmasi;
- Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi klinik);
- Kontra indikasi; dan
- Interaksi
(PerMenKes RI, 2014).
Hasil skrining klinis pada resep dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Skrining Klinis
Nama Obat Indikasi Efek samping Kontra Interaksi
(Komposisi) Indikasi
Zycin Infeksi saluran Reaksi alergi, Hipersensitif -
pernafasan atas dan nefritis terhadap
bawah (Lacy et al., interstisial eritromisin,
2011). akut, mual, azitromisin dan
muntah, diare, makrolid lain.
nyeri perut,
Gangguan
kembung,
melena,
fungsi hati
ikterus
kolestatik,
palpitasi nyeri
dada,
moniliasis,
vaginitis,
nefritis pusing,
sakit kepala,
vertigo,
mengantuk,
lelah,
peningkatan
reversibel
enzim
transminase (L
acy et al., 2011).
Coredryl Gangguan Laktasi dan -
antihistamin, pencernaan. bayi prematur
dyspepsia, rhinitis (Lacy et al., atau baru lahir.
alergi (Lacy et al., 2011). Hipersensitivita
2011). s

Ekspektoran.
Menghilangkan
dahak dengan
menekan sekresi
thin bronchial yang
merupakan
penyebab batuk
produktif
Mirasic Digunakan pusing, Penderita -
pengobatan nyeri mengantuk, sakit gangguan
ringan sampai kepala, ruam, fungsi hati yang
sedang dan mual, sakit perut, berat, Penderita
mengurangi muntah (Lacy et hipersensitif.
demam, tidak al., 2011). (Lacy et al.,
mempunyai efek 2011).
anti-inflamasi
(Lacy, et al., 2010).
Salbutamol Asma dan kondisi tremor halis Penderita yang -
lain yang berkaitan pada otot hipersensitif
dengan obstruksi skelet terhadap obat
saluran nafas yang (biasanya ini. (Lacy et al.,
reversible pada tangan), 2011).
palpitasi,
(Sweetman et al.,
kejang otot,
2007). takikardia,
sakit kepala
dan
ketegangan.
Efek ini terjadi
pada semua
perangsang
adrenoresepto
r beta.
Vasodilator
perifer, gugup,
hiperaktif,
epitaxis
(mimisan),
susah tidur
(Lacy et al.,
2011).-
Metil Inflamasi, alergi, Tremor (20%) Infeksi jamur -
prednisolon asma (Sweetman, (Lacy et al., sistemik dan
pasien yang
2009) 2011). hipersensitif,
pemberian
kortikosterooid
yang lama
merupakan
kontraindikasi
pada ulkus
duodenum dan
peptikum,
osteoporosis
berat, penderita
dengan riwayat
penyakit jiwa,
herpes, Pasien
yang sedang
diimunisasi.
(Lacy et al.,
2011).

Dalam pertimbangan klinis, perlu diperhatikan kesesuaian dosis, jumlah dan durasi
pemberian obat. Hasil perbandingan dosis pustaka dan dosis resep dapat dilihat pada tabel 4.di
bawah ini.
Tabel 4. Perbandingan Dosis Pustaka dan Dosis Resep
Nama obat Dosis Pustaka Dosis Resep Keterangan

Zycin 500 mg dalam 500mg 1 kali sehari Sesuai


dosis tunggal dihari
pertama kemudian
250mg pada hari
berikutnya.
(Sweetman et al.,
2009).

Coredryl dosis gliseril guaikolat Dalam resep gliseril Sesuai


dewasa: 200-400 mg guaikolat 75mg/5ml sirup
setiap 4 jam, dengan : 3 kali sehari 5ml
dosis maksimal 2,4
g/hari (Sweetman et Dosis gliseril guaikolat
per hari 225mg
al., 2009).

Mirasic Dewasa 0,5 1,5 3 kali sehari 500mg Sesuai


gram sekali minum
(Sweetman et al.,
2009).

Salbutamol 2-4 mg sekali; 6-8 2 mg x 2 = 4 mg Sesuai


mg/hari (untuk tablet
2 mg), 12-16 mg/hari
(untuk tablet 4 mg)
(Sweetman et al.,
2009).

Metil 4-48 mg sehari 4mg x 2 = 8 mg Sesuai


prednisolon (Sweetman et al.,
2009).

KESIMPULAN HASIL SKRINING RESEP:


Berdasarkan skrining yang telah dilakukan pada skrining administratif, skrining
farmasetis dan skrining klinis, resep di atas masih belum lengkap sehingga untuk memastikan
keabsahan dan kelengkapan resep maka perlu dilakukan komunikasi dengan pasien/pembawa
resep dan dokter penulis resep. Penelusuran identitas pasien dapat dilakukan dengan
komunikasi langsung dengan pasien atau pembawa resep. Untuk melakukan komunikasi
dengan dokter penulis resep, perlu digali informasi terlebih dahulu dari pasien/pembawa resep
karena identitas dokter penulis resep tidak lengkap.
Untuk menggali informasi yang tidak ada diresep serta untuk mencegah medication
error, maka apoteker melakukan penggalian informasi dari pasien.

Apoteker : Selamat siang, dik. Saya Intan apoteker di apotek dewa dewi farma. Ada
yang bisa saya bantu?
Nn Rima :Selamat siang, bu, saya ingin menebus resep ini.
Apoteker : Baik, dik. Mohon tunggu sebentar.
(Apoteker kemudian mengecek stok obat yang tercantum dalam resep dan memastikan bahwa
obat yang diresepkan bagi pasien tersedia di Apotek)
Apoteker : Mohon maaf dik, resep ini untuk siapa?
Nn Rima : Resep ini untuk saya sendiri bu.
Apoteker : Mohon maaf apakah Rima ada waktu sebentar? Ada hal yang ingin saya
tanyakan terkait pengobatan.
Nn Rima : Ya, silakan bu.
Apoteker : Kalau boleh tau tinggi dan berat badan adik berapa?
Nn Rima : Tinggi saya 165 cm dan berat badan saya 55 kg.
Apoteker : Adik Rima pergi ke dokter apa?
Nn Rima : Tadi saya pergi ke klinik yang ditangani oleh dokter umum dr. XXX di
klinik xxx.
Dalam kasus ini Apoteker sudah memiliki data administratif dari identitas Dokter penulis
resep karena diumpamakan resep dari klinik xxx dan dari dokter umum dr. XXX tersebut
sudah sering diterima di apotek. Setelah mengumpulkan seluruh informasi yang kurang, maka
resep diatas dapat dilayani.

III. MONOGRAFI OBAT


1. Metil Prednisolon
Komposisi : Tiap tablet mengandung Metilprednisolon 4 mg

Bentuk sediaan : Tablet

Indikasi : Inflamasi, alergi, asma


Dosis : 4-48 mg sehari.

Cara pemberian : Sesudah makanan.

Penyimpanan : Simpan pada suhu kamar dan tidak terpapar matahari langsung.
Kontraindikasi : Infeksi jamur sistemik dan pasien yang hipersensitif, pemberian
kortikosterooid yang lama merupakan kontraindikasi pada ulkus duodenum dan peptikum,
osteoporosis berat, penderita dengan riwayat penyakit jiwa, herpes, Pasien yang sedang
diimunisasi.
Efek samping : Tremor (20%)
(Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011)
2. Salbutamol
Komposisi : Tiap tablet mengandung salbutamol sulfat setara dengan
salbutamol 2 mg.

Bentuk sediaan : Tablet

Indikasi : Asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran
nafas yang reversible (Sweetman et al., 2007).

Dosis : 2-4 mg sekali; 6-8 mg/hari (untuk tablet 2 mg), 12-16 mg/hari
(untuk tablet 4 mg)

Cara pemberian : Sesudah makanan.

Penyimpanan : Simpan pada suhu kamar dan tidak terpapar matahari langsung.
Kontraindikasi : Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini.
Efek samping : tremor halis pada otot skelet (biasanya pada tangan),
palpitasi, kejang otot, takikardia, sakit kepala dan ketegangan. Efek ini
terjadi pada semua perangsang adrenoreseptor beta. Vasodilator perifer,
gugup, hiperaktif, epitaxis (mimisan), susah tidur.
(Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011)

3. Mirasic
Komposisi : Tiap tablet mengandung parasetamol 500 mg

Bentuk sediaan : Tablet

Indikasi : Digunakan pengobatan nyeri ringan sampai sedang dan


mengurangi demam, tidak mempunyai efek anti-inflamasi
Dosis : Dewasa 0,5 1,5 gram sekali minum

Cara pemberian : Sesudah makanan.

Penyimpanan : Simpan pada suhu kamar dan tidak terpapar matahari langsung.
Kontraindikasi : Penderita gangguan fungsi hati yang berat, Penderita
hipersensitif
Efek samping : pusing, mengantuk, sakit kepala, ruam, mual, sakit perut,
muntah (Lacy et al., 2011).
(Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011)
4. Coredryl
Komposisi : Tiap 5 ml mengandung dosis gliseril guaikolat dewasa: 200-
400 mg setiap 4 jam, dengan dosis maksimal 2,4 g/hari

Bentuk sediaan : sirup

Indikasi : antihistamin, dyspepsia, rhinitis alergi, ekspektoran

Dosis : dosis gliseril guaikolat dewasa: 200-400 mg setiap 4 jam,


dengan dosis maksimal 2,4 g/hari (Sweetman et al., 2009).

Cara pemberian : Sesudah makanan.

Penyimpanan : Simpan pada suhu kamar dan tidak terpapar matahari langsung.
Kontraindikasi : Laktasi dan bayi prematur atau baru lahir. Hipersensitivitas
Efek samping : Gangguan pencernaan.
(Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011)

5. Zycin
Komposisi : Tiap tablet mengandung 500 mg acytromisin

Bentuk sediaan : tablet

Indikasi : Infeksi saluran pernafasan atas dan bawah

Dosis : 500 mg dalam dosis tunggal dihari pertama kemudian 250mg


pada hari berikutnya.

Cara pemberian : Sesudah makanan.


Penyimpanan : Simpan pada suhu kamar dan tidak terpapar matahari langsung.
Kontraindikasi Hipersensitif terhadap eritromisin, azitromisin dan makrolid
lain. Gangguan fungsi hati
Efek samping : Reaksi alergi, nefritis interstisial akut, mual, muntah,
diare, nyeri perut, kembung, melena, ikterus kolestatik, palpitasi nyeri
dada, moniliasis, vaginitis, nefritis pusing, sakit kepala, vertigo,
mengantuk, lelah, peningkatan reversibel enzim transminase (Lacy et al.,
2011).
(Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011)
IV. PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL
Penggunaan obat yang rasional adalah bila pasien menerima obat yang sesuai dengan
kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dan dengan harga yang paling murah untuk
pasien dan masyarakat (WHO, 1985). WHO memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari
seluruh obat di dunia diresepkan, diberikan dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan
separuh dari pasien menggunakan obat secara tidak tepat. Maka dari itu penting untuk menilai
penggunaan obat yang rasional guna menjamin pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai
dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dengan harga yang terjangkau
(KemenKes RI, 2011). Penilaian untuk penggunaan obat yang rasional dapat dinilai dari salah
satunya adalah metode SOAP.
a. Subjektif
Three prime question dapat ditanyakan kepada pasien untuk memperoleh informasi
tambahan yang dibutuhkan guna memperkuat anamnese kefarmasian. Berikut adalah
percakapan antara Apoteker dengan pasien:
Apoteker : Selamat siang dik, Saya Apoteker Intan, ada yang bisa saya bantu?
Nn Rima : Siang Mbak, saya mau menebus resep ini (sambil menyerahkan resep
kepada apoteker)
Apoteker : Iya dik, mohon tunggu sebentar saya lihat dulu resepnya
(menganalisa resep)
Nn Rima : Iya Mbak
Apoteker : Dik, saya minta waktunya sebentar ada beberapa hal yang perlu
saya tanyakan terkait resep yang Bapak terima
Nn Rima : Iya Mbak
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang adik terima?
Nn Rima : Dokter mengatakan akan meresepkan obat untuk melegakan
pernafasan karena saya sering sesak akhir-akhir ini.
Apoteker : Bagaimana penjelasan dokter tentang cara pakai obat anda?
Nn Rima : Dokter tidak mengatakan apa-apa tentang cara pakai obat yang akan
diberikan.
Apoteker : Bagaimana penjelasan dokter tentang harapan setelah anda
mengkonsumsi atau memakai obat-obat yang diresepkan?
Nn Rima : Dokter berharap sesak saya tidak kambuh setelah mengkonsumsi
obat-obatan yang diresepkan dan harus segera ke dokter jika masih
sering mengalami sesak nafas.
Apoteker : Apa keluhan yang Bapak rasakan sehingga Bapak berkonsultasi ke
Dokter?
Nn Rima : Saya merasakan sesak napas, Mbak. Napas saya berbunyi (mengi)
dan saya juga batuk berdahak
Apoteker : Apakah ibu memiliki riwayat astma?
Nn Rima : iya, Mbak.
Apoteker : Bagaimana dengan warna dahak adik ?
Nn Rima : Warnanya kuning dan kental, Mbak
Apoteker : Apa ada keluhan lain selain sesak napas, dik?
Nn Rima : Yah, saya merasa didada saya terasa nyeri dan waktu itu saya merasa
badan saya panas mbak
Apoteker : Sudah berapa lama adik mengalami sesak dan batuk?
Nn Rima : Sesak baru dari 3hari yang lalu, kalau batuk sudah dari 1 minggu
yang lalu.
Apoteker : Apa adik sedang mengkonsumsi obat untuk penyakit tertentu?
Nn Rima : Tidak, Mbak
Apoteker : Apa adik punya alergi obat?
Nn Rima : Tidak, Mbak
Apoteker : Apa adik memiliki keluhan lain atau riwayat penyakit lain?
Nn Rima : Saya sudah menderita asma dan Keluarga saya memang rata-rata
menderita asma Mbak. Saya tidak punya riwayat sakit lain.
Apoteker : apa aktifitas adik sehari-hari?
Pasien : saya seorang akuntan duduk diruang ber ac selama 5 jam lbih
Apoteker :Oh begitu. Baiklah, dik. Terima kasih informasinya. Mohon tunggu
sebentar.
Berdasarkan hasil wawancara/ menggali informasi dari pasien:
Sesak dialami sejak 3 sehari yang lalu.
Nyeri dada sejak 3 hari yang lalu
Batuk berdahak (dahak berwarna kuning kental). Batuk dialami sejak 1 minggu
yang lalu.
Demam ketika 1 minggu yang lalu
Riwayat penyakit sebelumnya astma
seorang akuntan duduk diruang ber ac selama 5 jam lbih
Kondisi pasien saat ini:
Masih mengeluh nyeri dada, sesak nafas dan batuk berdahak.
b. Objektif
Setelah melakukan penilaian secara subjektif, maka langkah selanjutnya adalah menilai
pasien secara objektif.Namun pada kasus di atas tidak terdapat data hasil pemeriksaan
laboratorium sehingga apoteker hanya dapat menilai dari data subjektif saja.
c. Assesment
Tahap selanjutnya adalah assesment.Pada tahap assesment, Apoteker dapat melakukan
penilaian kondisi klinis yang dialami pasien (anamnese) yang disesuaikan dengan analisa
4T1W dan identifikasi drug related problem untuk menganalisa penggunaan obat yang
rasional untuk kondisi pasien tersebut.
Berdasarkan hasil analisis resep dan didukung oleh data Subjektif ( Keluhan Pasien) dan
Objektif. Dapat diketahui bahwa pasien menderita asma
Keluhan Pasien :
nyeri dada, sesak nafas dan batuk berdahak.
Selanjutnya dilakukan penilaian kesesuaian pemberian terapi pasien dalam resep dengan
algoritma terapi pasien asma dari pustaka. Algoritma terapi asma pada pasien dewasa dapat
dilihat pada gambar 2 dan gambar 3.
Berdasarkan obat yang diresepkan dokter dan indikasinya pasien diduga mengalami asma.
Asma merupakan penyakit paru dengan karakteristik inflamasi dan penebalan pada lapisan
epitelial dan submukosal saluran pernapasan; penyempitan atau konstriksi dari otot
pernapasan (bronkokonstriksi); dan hipersekresi mukus. Ketiga hal tersebut terjadi secara
bersamaan, diiringi dengan hiperresponsivitas. Hiperresponsivitas tidak dapat diterapi,
sedangkan ketiga gejala klinis yang lain harus diterapi secara bersamaan yaitu melalui
pemberian kortikosteroid untuk mengatasi inflamasi, bronkodilator untuk mengatasi
bronkokonstriksi, serta mukolitik untuk mengatasi hipersekresi mukus (Dipiro et al., 2008).
Asma ditandai dengan rasa sesak didada, nafas yang yang berat (bunyi khas,) disertai batuk
terutama pada malam hari, dan dahak sulit keluar (Tjay dan Rahardja, 2007).
Salbutamol merupakan bronkodilator yang paling efektif. Stimulasi reseptor 2-
adrenergik mengaktivasi adenil siklase, yang menghasilkan peningkatan AMP siklik
intraselular. Hal ini menyebabkan relaksasi otot polos, stabilisasi membran sel mast dan
stimulasi otot skelet. Salbutamol juga berperan dalam melonggarkan jalan nafas ketika terjadi
asma.
Pemberian azitromicin pada resep sesuai dengan guideline terapi asma. Terapi antibiotika
tidak dianjurkan bila keluhan disertai demam dan batuk yang menetap lebih dari 6 hari
(Depkes RI, 2005). Dari data subjektif diketahui bahwa pasien mengalami demam dan batuk
berdahak baru dialami selama 7 hari.

Penilaian Pengobatan yang Rasional


1. Tepat Indikasi
Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnosa Dokter.Indikasi yang
digunakan adalah indikasi yang sesuai dengan kategori farmakologi dari masing-masing obat.
Tepat Indikasi adalah pemilihan obat bagi pasien harus didasarkan pada diagnosis penyakit
yang akurat (Donatus, 2004). Berdasarkan anamnese kefarmasian yang dilakukan oleh
apoteker, pasien diduga menderita asma dimana Salbutamol merupakan bronkodilator yang
paling efektif. Stimulasi reseptor 2-adrenergik mengaktivasi adenil siklase, yang
menghasilkan peningkatan AMP siklik intraselular. Hal ini menyebabkan relaksasi otot polos,
stabilisasi membran sel mast dan stimulasi otot skelet. Salbutamol juga berperan dalam
melonggarkan jalan nafas ketika terjadi asma.
Pemberian azitromicin pada resep sesuai dengan guideline terapi asma. Terapi antibiotika
tidak dianjurkan bila keluhan disertai demam dan batuk yang menetap lebih dari 6 hari
(Depkes RI, 2005). Dari data subjektif diketahui bahwa pasien mengalami demam dan batuk
berdahak baru dialami selama 7 hari.
Pemeberian mirasic sebagai anlgesik untuk mengatasi nyeri dada yang dialami pasien.
Kemudian coredryl mengandung difenhidramin dan gliseril guaikolat untuk mengatasi batuk
berdahak pada pasien karena gliseril guaikolat sebagai espektoran dan difenhidramin yaitu
alergi yang mungkin timbul pada infeksi pernafasan.
2. Tepat Obat

Tepat obat adalah pemilihan obat harus didasarkan pada keamanan dan khasiat obat. Obat
yang diberikan kepada pasien dikatakan tepat dengan mempertimbangkan (a) ketepatan kelas
terapi dan jenis obat sesuai dengan efek terapi yang diperlukan; (b) kemanfaatan dan
keamanan obat sudah terbukti, baik resiko efek sampingnya maupun adanya kontraindikasi;
(c) jenis obat paling mudah didapat; (d) jumlah jenis obat yang dipakai sedikit mungkin
(Chalker, 2012).jadi pemberian obat tersebut telah tepat.
3. Tepat Dosis:
# Dosis salbutamol untuk dewasa adalah 2-4 mg untuk 3-4 kali sehari (Sweetman et al., 2009).
Dalam resep salbutamol 4 mg atau 2 mg (konfirmasi dokter dahulu) diberikan 2 kali sehari
Dosis salbutamol perhari = 2 mg x 2 = 4 mg
Dosis salbutamol pustaka = 2-4 mg sekali; 6-8 mg/hari (untuk tablet 2 mg), 12-16
mg/hari (untuk tablet 4 mg)
Dengan demikian dosis salbutamol pada resep berada rentang dosis terapi untuk sehari
pemakaian.

# Dosis metilprednisolon untuk dewasa adalah 4-48 mg sehari (Sweetman et al., 2009). Dalam
resep metilprednisolon 4 mg : 2 kali sehari sebanyak 4mg
Dosis metilprednisolon perhari = 4mg x 2 = 8 mg
Dosis metilprednisolon pustaka = 4-8 mg sehari
Dengan demikian dosis metilprednisolon pada resep berada rentang dosis terapi.

# dosis gliseril guaikolat dewasa: 200-400 mg setiap 4 jam, dengan dosis maksimal 2,4 g/hari
Dalam resep gliseril guaikolat 75mg/5ml sirup : 3 kali sehari 5ml
Dosis gliseril guaikolat per hari 225mg
Dengan demikian gliseril guaikolat pada resep berada rentang dosis terapi

# dosis parasetamol Dewasa 0,5 1 gram sekali minum


Dalam resep 500mg : 3 kali sehari 500mg
Dosis parasetamol sehari sebanyak 3 x 500 yaitu 1500mg
Dengan demikian parasetamol pada resep berada rentang dosis terapi

#dosis azitromicin untuk dewasa 500 mg dalam dosis tunggal dihari pertama
kemudian 250mg pada hari berikutnya.
Dosis dalam resep 500mg 1 kali sehari
Dosis sehari : 500mg
Dengan demikian parasetamol pada resep berada rentang dosis terapi

4. Tepat Pasien:

Sediaan yang diberikan sedian tablet, kapsul dan sirup telah sesuai dengan pasien yang
berumur 22 tahun sehingga dapat diberikan.

5. Waspada Efek Samping:


Efek samping yang muncul penggunaan salbutamol yaitu tremor dengan persentase
kejadian 20% dan pada penggunaan gliseril guaikolat dapat menyebabkan pusing,
mengantuk dan gangguan percenaan. Sebaiknya diinformasi kepada pasien agar
mengurangi aktivitas selama penggunaan obat
DRUG RELATED PROBLEM (DRP)

Penggunaan obat yang tidak rasional sering dijumpai dalam praktek sehari-hari.
Peresepan obat tanpa indikasi yang jelas, penentuan dosis, cara, dan lama pemberian yang
keliru, serta peresepan obat yang mahal adalah beberapa contoh dari penggunaan obat yang
tidak rasional. Penggunaan suatu obat dikatakan tidak rasional jika kemungkinan dampak
negatif yang diterima oleh pasien lebih besar daibandingkan manfaatnya. Dampak negatif
dapat berupa:
a. Dampak klinik (contohnya terjadi efek samping dan resistensi kuman)
b. Dampak ekonomi (biaya tidak terjangkau)
(KepmenKes RI, 2011).

Analisa penggunaan obat yang rasional dapat dilakukan dengan identifikasi DRP, yakni:

No Tipe DRP Deskripsi

1 Informasi obat kurang jelas Penggunaan kekuatan salbutamol belum jelas


2mg atau 4 mg

a. Plan:
Pertimbangan Pengatasan DRP
No Drug Related Deskripsi Pengatasan
Problem
(DRP)
1 Informasi obat Penggunaan kekuatan Intervesi yang mungkin yaitu
kurang jelas salbutamol belum jelas 2mg penggunaan obat salbutamol dengan
atau 4 mg kekuatan 4mg untuk penanganan asma

Untuk mengatasi masalah terkait resep dan obat, apoteker melakukan konsultasi dengan
Dokter melalui telpon (menjelaskan DRP dan memberikan pertimbangan pengatasan, meminta
masukan dan persetujuan dari Dokter)
Apoteker :Selamat siang Dok,
Dokter : Selamat siang, maaf dengan siapa?
Apoteker :Saya intan apoteker dari apotek Dewa Dewi, ingin bertanya mengenai
resep atasnama Nn rima
Dokter :Selamat Siang Bu, ia silahkan , benar itu pasien saya yang barusan
dari sini, apa ada masalah dengan resep tersebut?
Apoteker :pemberian salbutamol dengan kekuatan berapa ya dok? Diapotek
kami tersedia sediaan salbuitamol dengan kekuatan 2mg dan 4 mg.
Apabila Nn Rima diberikan dengan dosis 4 mg dengan pemberian 2 kali
sehari, maka dalam sehari dosis salbutamol adalah 8 mg sehingga dosis
salbutamol memenuhi rentang terapi pengobatan dok.
Dokter : oo untuk salbutamolnya dengan sediaan 4mg saja bu
Apoteker : oh baik pak,, makasi atas waktunya
Dokter : sama-sama

Kesimpulan hasil konsultasi dengan Dokter:


Salbutamol yang digunakan dengan sediaan 4mg

B. COMPOUNDING dan DISPENSING


COMPOUNDING
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, penyiapan obat tersebut meliputi peracikan,
etiket, kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat, informasi obat, konseling, dan
monitoring penggunaan obat.
1. Penyiapan Obat
Tidak terdapat proses compounding karena tidak terdapat resep racikan. Obat yang
perlu disiapkan zycin sebanyak 3 kapsul, sediaan sirup codryl 1 botol, mirasic
sebanyak 10 tablet, salkbutamol sebanyak 10 tablet, metal prednisolon sebanyak 10
tablet.
2. Final Check
Pemeriksaan akhir dapat dilakukan dengan melihat kondisi sediaan tablet dan kasul
dimasukkan dalam plastik klip. Pada sirup coredryl yang digunakan, diperhatikan
kembali kemasan dan aturan pakainnya.

3. Sign off
Sediaan kapsul zycin yang telah dikemas kemudian diberi etiket dengan keterangan
diminum 1 kali sehari 1 kapsul.
Tablet mirasic yang telah dikemas dan diberi etiket, dengan keterangan diminum 3 kali
sehari 1 tablet bila perlu/bila terasa nyeri
Tablet salbutamol yang telah dikemas dan diberi etiket, dengan keterangan diminum 2
kali sehari 1 tablet
Tablet metal prednisolon yang telah dikemas dan diberi etiket, dengan keterangan
diminum 2 kali sehari 1 tablet
Sirup coredryl sebanyak 1 botol kemudian diberikan etiket putih dengan keterangan 3
kali sehari 1 sendok teh
4. Clean up
Peralatan dibersihkan.
5. Etiket
Untuk sediaan coredryl sirup

APOTEK DEWA DEWI


Jln. Akasia No. 1
Telp. (0361) 8424395
Apoteker : Dw. A. Md. Intan Permata Sari A., S.Farm.,Apt.
SIA :00.04.1.3.00067

SIPA : 2608/DEPKES.1127/010xx
No : 5
Nama pasien : nn rima Tgl:21/10/2015
Umur : 22 tahun

Diminum 3 kali sehari 1 sendok teh


sesudah makan

Ttd apoteker

APOTEK makmur
Jln. Pecatu, No. 47
Telp. (0361) 240163
Apoteker : Ni Made Listiari, S.Farm.,Apt.
SIPA : 2608/DEPKES.1127/010xx
No : 5
Nama pasien : nn rima Tgl:10/06/2014
Umur : 22 tahun

Diminum 2 kali sehari 1 sendok teh


sesudah makan

Ttd apoteker
Untuk resep zycin
APOTEK DEWA DEWI
Jln. Akasia No. 1
Telp. (0361) 8424395
Apoteker : Dw. A. Md. Intan Permata Sari A., S.Farm.,Apt.
SIA :00.04.1.3.00067

SIPA : 2608/DEPKES.1127/010xx
No : 5
Nama pasien : nn rima Tgl:21/10/2015
Umur : 22 tahun
Diminum 1 kali sehari 1 tablet
sesudah makan
BUD : 6 Bulan

Ttd apoteker
Untuk resep Mirasic
APOTEK DEWA DEWI
Jln. Akasia No. 1
Telp. (0361) 8424395
Apoteker : Dw. A. Md. Intan Permata Sari A., S.Farm.,Apt.
SIA :00.04.1.3.00067

SIPA : 2608/DEPKES.1127/010xx
No : 5
Nama pasien : nn rima Tgl:21/10/2015
Umur : 22 tahun
Diminum 3 kali sehari 1tablet
sesudah makan
BUD : 6 Bulan

APOTEK DEWA DEWI


Jln. Akasia No. 1
Ttd apoteker
Untuk resep salbutamol Telp. (0361) 8424395
Apoteker : Dw. A. Md. Intan Permata Sari A., S.Farm.,Apt.
SIA :00.04.1.3.00067

SIPA : 2608/DEPKES.1127/010xx
No : 5
Nama pasien : nn rima Tgl:21/10/2015
Umur : 22 tahun
Diminum 2 kali sehari 1 tablet
sesudah makan
BUD : 6 Bulan

Ttd apoteker
Untuk resep metal prednisolon

APOTEK DEWA DEWI


Jln. Akasia No. 1
Telp. (0361) 8424395
Apoteker : Dw. A. Md. Intan Permata Sari A., S.Farm.,Apt.
SIA :00.04.1.3.00067

SIPA : 2608/DEPKES.1127/010xx
No : 5
Nama pasien : nn rima Tgl:21/10/2015
Umur : 22 tahun
Diminum 3 kali sehari 1tablet
sesudah makan
BUD : 6 Bulan

DISPENSING
Teapi Farmakologi:
Sediaan kapsul zycin yang telah dikemasTtd apoteker
kemudian diberi etiket dengan keterangan
diminum 1 kali sehari 1 kapsul.
Tablet mirasic yang telah dikemas dan diberi etiket, dengan keterangan diminum 3 kali
sehari 1 tablet bila perlu/bila terasa nyeri
Tablet salbutamol yang telah dikemas dan diberi etiket, dengan keterangan diminum 2
kali sehari 1 tablet
Tablet metal prednisolon yang telah dikemas dan diberi etiket, dengan keterangan
diminum 2 kali sehari 1 tablet
Sirup coredryl sebanyak 1 botol kemudian diberikan etiket putih dengan keterangan 3
kali sehari 1 sendok teh

Terapi Non Farmakologi:


Mencegah serangan asma dengan jalan menghilangkan faktor pencetus yang
ditimbulkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Diawali dengan assessment dan pemantauan penyakit pasien yang meliputi:
a. Identifikasi dan mengendalikan paparan terhadap faktor pencetus, termasuk
intensitas dan durasinya. Ada beberapa faktor pencetus yang erat hubungannya
dengan serangan asma, yaitu faktor alergen, keletihan, infeksi, ketegangan emosi,
serta faktor lain seperti bahan iritan, asap rokok, refluks gastroesofagal, rinitis
alergi, obat (aspirin dan bloker) dan bahan kimia, endokrin, serta faktor anatomi
dan fisiologi.
b. Perhatikan riwayat kesehatan lainya seperti alergi, sinusitis, polip, hidung, infeksi
saluran nafas, atau penyakit paru lainnya.
c. Menilai dan monitor pola perkembangan gejala asma
d. Rehabilitasi paru-paru secara komprehensif termasuk fisioterapi, latihan
pernafasan, latihan relaksasi, mengoptimalkan perawatan medis, mendukung
secara psikosis dan memberikan edukasi kesehatan.
e. Hidrasi secukupnya (minum air yang cukup 8-10 gelas sehari).
f. Nutrisi yang tepat, yaitu diet kaya protein dan mencegah makanan berat menjelang
tidur.

2. Orang Tua perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


a. Menjaga kesehatan keluarga agar tidak menimbulkan masalah psikologis bagi
anak (misalnya menunjukkan muka kesal, menggerutu, bertengkar, atara ibu dan
ayah, memarahi anak karena kurang patuh, dsb)
b. Menjaga kesehatan anak dengan memberi makanan yang cukup bergizi tetapi
menghindari makanan yang mengandung allergen bagi anaknya.
c. Merencanakan kapan anak harus dibawa kosultasi.
d. Menunjang persediaan dengan baik agar terapinya terkontrol secara teratur
(Mansjoer dkk, 2001; Nurarif dan Kusuma, 2013)

KIE
Menjelaskan obat, indikasi, waktu penggunaan (sebelum, sesudah makan). Cara
pemakaian, aturan pemakaian (siang,malam, berapa tablet/sirup, serbuk dll)
Pasien diedukasi untuk menyimpan sediaan ditempat yang aman, ditempat sejuk
(lemari es) dan pada wadah yang tertutup rapat, parasetamol syrup disimpan pada
suhu kamar, kering (FI IV, 1995).
Pasien disarankan untuk segera ke dokter jika ada gejala lain yang tidak diinginkan
atau setala menggunakan obat tidak terjadi perubahan.
Pasien disarankan kembali ke dokter setelah terapi untuk kontrol dan melihat
keberhasilan terapi (UHC, 2013).
Menginformasikan ke ibu pasien akan dilakukan evaluasi efektivitas penggunaan
obat, melalui telpon, hari kedua setalah mengkonsumsi obat.
Pasien disarankan agar istirahat yang cukup.
Informasikan terapi non farmakologinya(gaya hidup, makanan, dll)
Pasien disarankan agar menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Olahraga dengan intensitas yang tinggi harus diselingi dengan latihan intensitas yang
rendah atau istirahat aktif selama 1-2 menit. Olahraga rutin dilakukan setidaknya
selama 6-10 minggu.
Pasien dianjurkan untuk mengurangi merokok dan apabila mungkin, segera
menghentikan kebiasaan merokok agar asma lebih terkontrol.
MONITORING DAN EVALUASI
Monitoring juga bertujuan memantau kondisi pasien setelah menggunakan obat tersebut
apakah obat yang diberikan dapat menimbulkan respon terapi yang diinginkan, (Goals
terapy yang telah ditetapkan) tidak menimbulkan respon, atau malah menimbulkan respon
terapi yang merugikan (adverse drug reaction). Jika ditemukan adanya ADR atau efek
samping obat, maka pasien dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter agar dapat
dipertimbangkan mengenai tindakan penanganan yang sesuai.
Monitoring :
a. Adapun parameter efektivitas terapi yang dapat dievaluasi adalah kondisi klinik pasien
dan tanda-tanda vital pasien, antara lain:
b. Kondisi klinik pasien
c. Diamati perbaikan terhadap nafas pasien yang tersengal-sengal terutama saat
melakukan aktivitas berat dan berolahraga, mengi saat bernafas, batuk pada malam
hari, dan pengeluaran dahak.
d. Tanda-tanda vital pasien
e. Perbaikan tanda-tanda vital dilihat berdasarkan pemeriksaan berikut:
Pemeriksaan Heart Rate/HR agar HR tetap berada dalam nilai normal, yaitu 70-80
kali/menit.
Pemeriksaan Respiratory Rate/RR untuk mengetahui perbaikan nafas yang
tersengal-sengal (nilai normal = 12-20 x/menit)
Pemeriksaan Blood Pressure/BP agar BP pasien tetap berada dalam nilai normal,
yaitu 120/80 mmHg.
Pemeriksaan Peak Expiratory Flow/PEF untuk mengetahui arus puncak ekspirasi,
sehingga dapat diketahui fungsi paru dan ada tidaknya sumbatan pada jalan nafas
(nilai PEF normal 80%
f. Jika keadaan pasien tidak kunjung membaik dimana masih menunjukkan gejala infeksi
setelah diberikan terapi empiris antibiotik spektrum luas. Dapat disarankan untuk
melakukan kultur bakteri pada pasien, untuk mengetahui bakteri spesifik sebagai acuan
pemilihan antibiotik yang tepat (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2007;
DepKes RI, 2011).

Monitoring efek samping obat


Apabila ditemukan adanya ADR atau efek samping obat, maka pasien dianjurkan
untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker agar dapat dipertimbangkan mengenai
tindakan penanganan yang sesuai.
Nama Nn rima
Medication Record PMR
Jenis Kelamin Perempuan

Tgl. lahir / umur 22th Riwayat Alergi -

Alamat denpasar Riwayat Pengobatan -

No. Telepon - Riwayat Penyakit asma

Pekerjaan akuntan
Alamat Kantor -
Asuransi -

Tanggal Dokter Hasil assesement Obat yg. Diminta (tx) Kie Follow up Catatan
pasien - Resep - drp (es,
- Non Resep interaksi)

xxxxx Asma dengan batuk Skapsul diminum 1 kali sehari Penggunaan


berdahak 1 kapsul. mirasic bila perlu
Tablet mirasic diminum 3 kali
sehari 1 tablet bila perlu/bila
terasa nyeri
Tablet diminum 2 kali sehari 1
tablet
Tablet metal prednisolon
diminum 2 kali sehari 1 tablet
Sirup coredryl 3 kali sehari 1
sendok teh

Pelapor

Dewa Ayu Made Intan Permata Sari Arsana, S.Farm., Apt.


KARTU MONITORING PENGGUNAAN OBAT
KARTU MONITORING PENGGUNAAN OBAT
Nama Petugas Yosefina Nama Pasien
Tanggal Alamat
Pasien
Jam Usia/BB
Lama No Telp
Percakapan
Penerima Pasien
Informasi Orang Tua Pasien
Keluarga Pasien
Lainnya
Diagnosa:
Tgl Resep : No Resep : Nama Dokter :.

R/ R/ R/ R/

Tgl Obat Habis: Tgl Obat Habis: Tgl Obat Habis: Tgl Obat Habis:
Bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat :
Sembuh Tambah Parah
Membaik Muncul Masalah Baru
Tetap
Bila muncul masalah/pertanyaan baru deskripsikan ditempat yang disediakan

Kategori permasalahan baru


Dosis Kemungkinan Interaksi
Cara Pemakaian Kemungkinan Efek Samping
Waktu Minum Obat Lainnya :
Frekuensi Minum Obat Ketersediaan (lama)
Kepatuhan Harga
Kategori Terapi: Terapi saluran pernafasan
Pemecahan Permasalahan
Memberitahu Dokter Diberi Saran
Dirujuk Kedokter Ditawarkan Produk Yang Membantu
Saran /Produk yang direkomendasikan:

Saran/Informasi untuk pasien


Lakukan kontrol setelah obat habis diminum
Medication Record PMR

Nama Nn rima
Riwayat Alergi -
Jenis Kelamin Perempuan Riwayat Pengobatan -
Riwayat Penyakit Asma
Tgl. lahir / umur 22th
Alamat denpasar
No. Telepon -
Pekerjaan akuntan
Alamat Kantor -
Asuransi -

Tanggal Dokter Hasil assesement Obat yg. Diminta (tx) Kie Follow up Catatan
pasien - Resep - drp (es,
- Non Resep interaksi)

xxxxx Asma dengan batuk Skapsul diminum 1 kali sehari Penggunaan


berdahak 1 kapsul. mirasic bila perlu
Tablet mirasic diminum 3 kali
sehari 1 tablet bila perlu/bila
terasa nyeri
Tablet diminum 2 kali sehari 1
tablet
Tablet metal prednisolon
diminum 2 kali sehari 1 tablet
Sirup coredryl 3 kali sehari 1
sendok teh

Pelapor

Dewa Ayu Made Intan Permata Sari Arsana, S.Farm., Apt.


KARTU MONITORING PENGGUNAAN OBAT
KARTU MONITORING PENGGUNAAN OBAT
Nama Petugas Yosefina Nama Pasien
Tanggal Alamat
Pasien
Jam Usia/BB
Lama No Telp
Percakapan
Penerima Pasien
Informasi Orang Tua Pasien
Keluarga Pasien
Lainnya
Diagnosa:
Tgl Resep : No Resep : Nama Dokter :.

R/ R/ R/ R/

Tgl Obat Habis: Tgl Obat Habis: Tgl Obat Habis: Tgl Obat Habis:
Bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat :
Sembuh Tambah Parah
Membaik Muncul Masalah Baru
Tetap
Bila muncul masalah/pertanyaan baru deskripsikan ditempat yang disediakan

Kategori permasalahan baru


Dosis Kemungkinan Interaksi
Cara Pemakaian Kemungkinan Efek Samping
Waktu Minum Obat Lainnya :
Frekuensi Minum Obat Ketersediaan (lama)
Kepatuhan Harga
Kategori Terapi: Terapi saluran pernafasan
Pemecahan Permasalahan
Memberitahu Dokter Diberi Saran
Dirujuk Kedokter Ditawarkan Produk Yang Membantu
Saran /Produk yang direkomendasikan:

Saran/Informasi untuk pasien


Lakukan kontrol setelah obat habis diminum
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Direktorat Jendral
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Hal. 17.
Lacy, C.F., L.L Amstrong, M.P. Goldman, and L.L. Lance. 2009. Drug Information Handbook.
17th Edition. United States: Lexicomps.