Anda di halaman 1dari 3

Analisa Runtuhnya Hanggar Bandara Hasanuddin Makassar

Nggak tahu kenapa, yang namanya musibah adanya bangunan yang runtuh sebenarnya banyak
terjadi di Indonesia. Meskipun demikian, apa yang menjadi penyebabnya jarang ada yang
membahasnya. Jika musibah itu terjadi, biasanya dijadikan kasus tertutup, kalaupun ada yang
dituntut maka yang dijadikan kambing hitam adalah adanya dugaan korupsi. Kesannya kalau
korupsi maka mutunya pasti jatuh. Karena nggak bermutu maka wajar saja kalau runtuh.

Apakah seperti itu kejadiannya. Bisa iya tetapi bisa juga tidak. Kalaupun mutunya jatuh,
mestinya tidak pada saat konstruksi. Sejelek-jeleknya mutu, yang merencanakan pasti akan
berharap bahwa musibah tidak akan terjadi pada saat konstruksi. Minimal sampai saat serah
terima maka bangunannya harus ok. Kalau tidak, maka tentu tanggung-jawab masih pada
kontraktor, bisa-bisa tidak mendapatkan bayaran sesenpun. Oleh sebab itu, jika ada keruntuhan
yang terjadi pada saat konstruksi, maka pasti ada yang tidak beres pada konstruksinya.

Terkait hal itu, kebetulan ketika sedang menjelajah internet, menemukan foto yang menarik dari
news-okezone, sebagai berikut.

Sebelumnya saya pikir, foto keruntuhan tersebut terjadinya di luar negeri, dan sudah lama. Eh
ternyata tidak, itu baru saja terjadi kemarin di bulan Maret 2015 di Indonesia. Tepatnya di
hanggar udara Sultan Hasanuddin, Makasar. Sepintas sih memang pernah dengar, tapi sejak itu
koq adem ayem. Nggak ada kabar berita apa yang menjadi penyebabnya.
Kecuali foto di atas, saya nggak punya data yang lain. Jadi bagi pembaca yang mempunyainya,
dan bisa disharing tentu akan lebih menarik lagi untuk dievaluasi. Kalau melihat keruntuhannya,
maka kelihatannya sistem rangka di atas sudah saling terangkai. Jadi ketika ada satu yang gagal,
akan menyebabkan pengaruh ke bagian lain. Kesannya seperti kartu domino.

Terlepas dari hal itu, saya tertarik sekali melihat sistem kolom yang digunakan. Kalau melihat
kolomnya berwarna putih dan penampangnya kotak, serta tidak ada bracing yang mengikatnya
maka ada kesan bahwa kolomnya dari beton bertulang. Tidak terlihat kolomnya mengalami
bengkok, tetapi bahkan miring secara keseluruhan. Itu berarti kegagalan dimulai dari sistem
pondasinya.

Dugaan saya, ketika terjadi hentakan yang mungkin terjadi pada saat erection, maka hal itu
menjadi gaya lateral pada rangka yang diteruskan ke kolom pendukung rangka tersebut. Tahu
sendiri, gaya lateral pada kolom setinggi itu, maka kejadiannya seperti kantilever, momen di
kolom bagian bawah akan sangat besar. Saya nggak tahu sistem pondasi yang digunakan. Karena
kalau hanya digunakan sistem pondasi telapak, maka momen kantilever tentu akan susah ditahan
karena akan sangat besar. Nah karena sistem pondasi nggak kuat, maka rangka akan jatuh, pada
saat jatuh tersebut akan narik ke rangka lain, yang tentu saja kelihatannya tidak kuat menahan
gaya lateral pemicu tersebut. Jadi begitu deh, roboh semua.

Jika benar, kolomnya dari beton bertulang, maka aku yang nggak habis pikir adalah mengapa
dipilih sistem kolom tunggal. Kalau dari beton bertulang, maka tentu akan lebih baik jika pada
arah memanjangnya dapat dijadikan sistem portal sehingga pada satu sisi kekakuannya akan
meningkat drastis, adapun pada sisi lain tentu dapat diberikan pondasi yang mampu menahan
momen tak terduga. Jika itu terjadi maka tentu kolomnya tidak akan miring seperti di atas. Itu
kesannya sistem pondasinya tidak memadai. Tapi ini hipotesis saja lho, maklum datanya hanya
gambar foto di atas.

Catatan : Jika kolomnya dari baja, maka hubungan pondasi dan kolom baja di bagian bawah
bisa seperti sendi. Sistem pondasi hanya menerima gaya aksial saja. Itu mengapa sistem pondasi
telapak kadang-kadang bisa dipakai. Sistem strukturnya kayak meja, kolom dan atap menjadi
satu kesatuan. Pada kondisi ini, maka biasanya pada saat erection (perakitan) diperlukan penahan
kolom sementara untuk mencegah instabilitas.
Kondisi berbeda jika digunakan kolom beton. Sistem yang sama seperti di atas, tidak bisa
dipakai. Mungkin karena kolom betonnya besar maka akan memberi kesan lebih kuat. Ini sangat
mengecoh sehingga sokongan sementara saat erection bisa-bisa tidak diberikan. Hubungan
kolom bagian bawah ke pondasi seperti kondisi jepit. Itu berarti sistem pondasi akan menerima
momen.

Jadi jika tidak ada sokongan sementara pada saat erection maka perilakunya adalah seperti
kolom kantilever. Jika ada gaya lateral pada saat erection maka akan menimbulkan momen yang
besar di bagian bawah (pondasi). Kalau digunakan sistem pondasi telapak maka perlu luasan
dasar yang besar. Jadi biasanya, untuk mengatasinya perlu disediakan tiang pancang. Kalau
kolomnya tegak sendirian, maka minimal perlu tiga atau bahkan empat tiang agar stabil.

Terus terang ini baru dugaan (hipotesis), perlu detail pondasi untuk evaluasi yang tepat. Jadi
kalau pondasinya hanya berupa pondasi telapak, dan tanpa shoring (penyokong) pada saat
erection, maka itulah penyebabnya.