Anda di halaman 1dari 48

BAGIAN 1

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

DEFINISI DAN UNSUR PAJAK

Definisi pajak menurut Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 tentang perubahan ke- empat
atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan pada pasal 1 ayat 1 berbunyi pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunkan untuk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Sedangkan menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H., pajak adalah iuran rakyat kepada kas
negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa
timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum.
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:
1. Iuran dari rakyat kepada negara.
Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan
barang).
2. Berdasarkan undang-undang.
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan
pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat di
tunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran-pengeluaran
yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

FUNGSI PAJAK
Ada dua fungsi pajak, yaitu:
1. Fungsi anggaran (budgetair)
Pajak berfungsi sebagai salah satu sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai
pengeluaran-pengeluarannya.
2. Fungsi mengatur (cregulerend)
Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan
pemerintah bidang sosial dan ekonomi.
Contoh:
a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras untuk mengurangi kon
sumsi minuman keras.
b. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi
gaya hidup konsumtif.

SYARAT PEMUNGUTAN PAJAK

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungutan
pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Pemungutan pajak harus adil (Syarat Keadilan)
Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, undang-undang maupun
pelaksanaan pemungutan pajak harus adil. Adil dalam perundang-undangan di
antaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, kemampuan masing-masing.
Sedang adil dalam dengan memberikan hak bagi Wajib Pajak untuk mengajukan
keberatan yakni dengan pembayaran dan mengajukan banding kepada Pengadilan
Pajak.
2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (syarat yuridis)
Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini memeberikan
jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya.
3. Tidak menganggu perekonomian baik bagi negara maupun (Syarat Ekonomis)
Pemungutan tidak boleh menganggu kelancaran kegiatan produksi gangan, sehingga
tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.
4. Pemungutan pajak harus efisien (Syarat Finansiil)
Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus lebih rendah dari hasil
pemungutannya.
5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana Sistem pemungutan yang sederhana akan
memudahkan dan mendorong masya rakat dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya. Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.
Contoh:
a. Bea Meterai disederhanakan dari 167 macam tarif menjadi 2 macam tarif.
b. Tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi hanya satu tarif, yaitu 10%
c. Pajak perseroan untuk badan dan pajak pendapatan untuk perseorangan diseder-
hanakan menjadi pajak penghasilan (PPh) yang berlaku bagi badan maupun
perseorangan (orang pribadi).

TEORI-TEORI YANG MENDUKUNG PEMUNGUTAN PAJAK


Atas dasar apakah negara mempunyai hak untuk memungut pajak? Terdapat beberapa teori
yang menjelaskan atau memberikan justifikasi pemberian hak kepada negara untul memungut
pajak. Teori-teori tersebut antara lain adalah:
1. Teori Asuransi
Negara melindungi keselamatan jiwa, harta benda, dan hak-hak rakyatnya. oleh
karena itu rakyat harus membayar pajak yang diibaratkan sebagai suatu premi asu
ransi karena memperoleh jaminan perlindungan tersebut.
2. Teori Kepentingan
Pembagian beban pajak kepada rakyat didasarkan pada kepentingan (misalnya per
lindungan) masing-masing orang. Semakin besar kepentingan seseorang terhadap
negara, makin tinggi pajak yang harus dibayar.
3. Teori Daya Pikul

Beban pajak untuk semua orang harus sama beratnya, artinya pajak harus dibayar
sesuai dengan daya pikul masing-masing orang. Untuk mengukur daya pikul dapat
digunakan 2 pendekatan yaitu:
a. Unsur objektif , dengan melihat besarnya penghasilan atau kekayaan yang dimi
liki oleh seseorang.
b. Unsur subjektif, dengan memerhatikan besarnya kebutuhan materiil yang han
dipenuhi
Contoh:
Tuan A Tuan B
Rp 10 juta Rp 10 juta
menikah bujangan
dengan 3 anak
Penghasilan/bulan
Status
Secara objektif PPh untuk tuan A sama besarnya dengan tuan B, karena mempunyai
penghasilan yang sama besarnya. Sedangkan secara subjektif, PPh untuk tuan A lebih
kecil daripada tuan B, karena kebutuhan materiil yang harus dipenuhi tuan A lebih
besar.
4. Teori Bakti
Dasar keadilan pemungutan pajak terletak pada hubungan rakyat dengan negaranya.
Sebagai warga negara yang berbakti, rakyat harus selalu menyadari bahwa
pembayaran pajak adalah sebagai suatu kewajiban.
5. Teori Asas Daya Beli
Dasar keadilan terletak pada akibat pemungutan pajak. Maksudnya memungut pa jak
berarti menarik daya beli dari rumah tangga masyarakat untuk rumah tangga negara.
Selanjutnya negara akan menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk
pemeliharaan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian kepentingan se- luruh
masyarakat lebih diutamakan.

KEDUDUKAN HUKUM PAJAK


Menurut Prof Dr Rochmat Soemitro, S.H., Hukum Pajak mempunyai kedudukan di antara
hukum-hukum sebagai berikut:
1. Hukum Perdata, mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya
2. Hukum Publik, mengatur hubungan antara pemerintah dengan rakyatnya. Hukum ini
dapat dirinci lagi scbagai berikut:
a. Hukum Tata Negara
b. Hukum Tata Usaha (Hukum Administratif)
c. Hukum Pajak
d. Hukum Pidana
Dengan demikian kedudukan hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik.

HUKUM PAJAK MATERIIL DAN HUKUM PAJAK FORMIL


Hukum Pajak mengatur hubungan antara pemerintah (fiscus) selaku pemungut pajak dengan
rakyat sebagai Wajib Pajak. Ada 2 macam hukum pajak yakni:
1. Hukum pajak materiil, memuat norma norma yang menerangkan antara lain keadaan,
perbuatan, peristiwa hukum yang dikenai pajak (objek pajak), siapa yang dikenakan
pajak (subjek pajak), berapa besar pajak yang dikenakan (tarif pajak), segala sesuatu
tentang timbul dan hapusnya utang pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah
dan Wajib Pajak.
Contoh: Undang-undang Pajak Penghasilan.
2. Hukum pajak formil, memuat bentuk/tata cara untuk mewujudkan hukum materiil
menjadi kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak materiil). Hukum ini memuat
antara lain:
a. Tata cara penyelenggaraan (prosedur penetapan suatu utang pajak.
b. Hak-hak fiskus untuk mengadakan pengawasan terhadap para Wajib Pajak
mengenai keadaan, perbuatan dan peristiwa yang menimbulkan utang pajak.
c. Kewajiban Wajib Pajak misalnya menyelenggarakan pembukuan pencatatan, dan
hak-hak Wajib Pajak misalnya mengajukan keberatan dan banding.
Contoh: Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

PENGELOMPOKAN PAJAK
1. Menurut golongannya
a. Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak da tidak
dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau
dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.

2. Menurut sifatnya
a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya,
dalam arti memerhatikan keadaan diri Wajib Pajak.
Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpang kal pada objeknya, tanpa memerhati kan
keadaan diri Wajib Pajak.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas barang mewah.

3. Menurut lembaga pemungutnya


a. Pemerintah pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga negara.
Contoh: Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan
untuk membiayai numah tangga daerah.
Contoh :
Pajak Daerah terdiri atas:
Pajak Propinsi, contoh: Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan Bakar
Kendaraan Bermotor.
Pajak Kabupaten/Kota, contoh: Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak
Hiburan.

TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK


1. Stelsel Pajak
Pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel:
a. Stelsel nyata (riel stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada objek (penghasilan yang nyata), sehingga
penghasilan baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah atau yang
sesungguhnya diketahui. Stelsel nyata mempunyai kelebihan kan kebaikan dan
kekurangan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak yang dikena-
b. Stelsel anggapan (fictieve stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang.
Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya,
sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang
untuk tahun pajak berjalan. Kelebihan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama
tahunn berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya
adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya.
c. Stelsel campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan s anggapan. Pada awal
tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir
tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya
pajak menurut kenyataan lebih besar daripada pajak menurut anggapan, maka wajib
Pajak harus menambah. Sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta
kembali.
2. Asas Pemungutan Pajak
a. Asas domisili (asas tempat tinggal)
Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang
bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam
maupun dari luar negeri Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak dalam negeri.
b. Asas sumber
Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayah
nya tanpa memerhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.
c. Asas kebangsaan Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.

3. Sistem Pemungutan Pajak


a. Official Assessment System
Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah
(fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. Ciri-
cirinya:
Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus.
Wajib Pajak bersifat pasif.
Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.
b. Self Assessment System
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib
Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.
Ciri-cirinya:
Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib Pajak
sendiri.
Wajib Pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendi- ri
pajak yang terutang.
Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.
c. Withholding System
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memebrikan wewenang kepada
pihak ketiga (bukan fikus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk
memotong atau memungut pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
Ciri-cirinya: wewenang memotong atau memungut pajak yang terutang ada pada
pihak ketiga, yaitu pihak selain fiskus dan Wajib Pajak.

TIMBUL DAN HAPUSNYA UTANG PAJAK


Ada dua ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak:
1. Ajaran Formil
Utang pajak timbul karena dikeluarkannya surat ketetapan pajak oleh fiskus. Ajaran
ini diterapkan pada oficial assessment system.
2. Ajaran Materiil
Utang pajak timbul karena berlakunya undang-undang. Seseorang dikenai pajak
karena suatu keadaan dan perbuatan. Ajara ini diterapkan pada self assessment
system. Hapusnya utang pajak dapat disebabkan beberapa hal:
1. Pembayaran
2. Kompensasi
3. Kedaluwarsa
4. Pembebasan dan penghapusan

HAMBATAN PEMUNGUTAN PAJAK


Hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi :
1. Perlawanan pasif
Masyarakat enggan (pasif membayar pajak, yang dapat disebabkan antara lain:
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.
b. Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat
c. Sistem control tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik

2. Perlawanan aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang dilakukan oleh wajib
pajak dengan tujuan untuk menghindari pajak.
Bentuknya antara lain:
a. Tar avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar undang-
undang.
b. Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-
undang (menggelapkan pajak)

TARIF PAJAK
Ada 4 macam tarif pajak:
1. Tarif sebanding/proporsional
Tarif berupa persentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak
sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang
dikenai pajak.
Contoh: Untuk penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah pabean akan
dikenakan Pa jak Pertambahan Nilai sebesar 10%.
2. Tarif tetap
Tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak
sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.
Contoh: Besarnya tarif Bea Meterai untuk cek dan bilyet giro dengan nilai nominal
bera- papun adalah Rp 3.000,00.
3. Tarif progresif
Persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak
semakin besar.
Contoh: pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan untuk Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri.
Perpajaka Tarif Pajak Lapisan Penghasilan Kena Pajak 5% Sampai dengan Rp
50.000.000,00 15% Di atas Rp 50.000.000,00 sd. Rp 250.000.000,00 Di atas Rp
250.000.000,00 s d Rp 000,00 Di atas Rp 500.000.000,00 Menurut kenaikan
persentase tarifnya, tarif progresif dibagi: a. Tarif progresif progresif: kenaikan
persentase semakin besar b. Tarif progresif tetap kenaikan persentase tetap c. Tarif
progresif degresif kenaikan persentase semakin kecil
4. Tarif degresif
Persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak se
makin besar.

BAGIAN 2
BAGIAN PAJAK NEGARA DAN PAJAK DAERAH
Pengenaan pajak di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu: Pajak Ne- gara
dan Pajak Daerah.
PAJAK NEGARA
Pajak Negara yang sampai saat ini masih berlaku adalah:
1. Pajak Penghasilan (PPh)
Dasar hukum pengenaan Pajak Penghasilan adalah Undang- undang No. 7 Tahun
1984 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 36 Tahu 2008.
Undang-undang Pajak Penghasilan berlaku mulai tahun 1984 dan merupakan
pengganti UU Pajak Perseroan 1925, UU Pajak Pendapatan 1944, UU PBDR 1970.
2. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPN & PPn BM).
Dasar hukum pengenaan PPN & PPn BM adalah Undang-undang No. 8 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang PPN & PPn BM efektif mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985 dan
merupakan pengganti UU Pajak Penjualan 1951.
3. Bea Meterai
Dasar hukum pengenaan Bea Meterai adalah Undang-undang No. 13 Tahun 1985.
Undang-undang Bea Meterai berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 menggantikan
peraturan dan Undang-undang Bea Meterai yang lama (Aturan Bea Meterai 1921)
4. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Dasar hukum pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan adalah Undang-undang No. 12
Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1994.
Undang-undang PBB berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 dan merupakan pengganti:
a. ordonansi Pajak Rumah Tangga tahun 1908.
b. ordonansi verponding Indonesia tahun 1923
c. Ordonansi Pajak Kekayaan tahun 193
d. Ordonansi Verponding tahun 1928
e. Ordonansi Pajak Jalan tahun 1942.
f. Undang-undang Darurat nomor ll tahun 1957 khususnya pasal 14 hurufik
Undang-undang nomor 11Prp Tahun 1959 Pajak Hasil Bumi.
5. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Dasar hukum pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah
Undang-undang No. 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Un
dang-undang No. 20 Tahun 2000. Undang-undang BPHTB berlaku sejak tanggal
Januari 1998 menggantikan ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 No. 291

PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH


DASAR HUKUM
Dasar hukum pemungutan pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah Undang-undang No. 28
Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
PAJAK DAERAH
Beberapa pengertian atau istilah yang terkait dengan Pajak Daerah antara lain:
1. Daerah otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan yang mempunyai batas-
batas wilayah yang masyarakat hukum urusan pemerintahan dan berwenang mengatur
dan mengurus sendiri berdasarkan kepentingan setempat menurut Indonesia aspirasi
masyarakat dalam sistem egara Kesatuan
2. Pajak Daerah, selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi rah yang yang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat Republik Undang-undang, dengan tidak wajib
kepada
3. Badan, keperluan Daerah mendapatkan imbalan secara memaksa berdasarkan bagi
yang adalah sekumpulan kemakm gsun g melakukan orang dan/atau modal yang
rakyat. roan usaha maupun yang tidak melakukan merupak terbatas, perseroan
komanditer, perseroan usaha yang baik lainnya, meliputi perse Usaha Negara.
(BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk
apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan
bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
4. Subjek Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan Pajak.
5. Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau Badan, meliputi pembayar pajak, pemotong
pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
Jenis Pajak dan objek Pajak Pajak Daerah
Pajak daerah dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Pajak Provinsi, terdiri dari:
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor,
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Air Permukaan; dan
e. Pajak Rokok.
2. Pajak Kabupaten/Kota, terdiri dari:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame,
e. Pajak Penerangan Jalan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
g. Pajak Parkir
h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Khusus untuk Daerah yang setingkat dengan daerah provinsi, tetapi tidak terbagi
dalam daerah kabupaten/kota otonom, seperti Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, jenis
pajak yang dapat dipungut merupakan gabungan dari pajak untuk daerah provinsi dan
pajak untuk daerah kabupaten/kota.

Tarif Pajak
Tarif untuk setiap jenis pajak adalah berikut:
1. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi ditetapkan sebagai rendah sebesar
a. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling (satu persen) dan paling tinggi
persen); tarif dapat
b. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya ditetapkan secara
progresif paling rendah sebesar 2% (dua dan palin tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).
2. pajak kendaraan bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam kebakaran, sosial
keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan, tah TNIPOLRl, Pe Pemerin merintah Daerah,
dan Kendaraan lain yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. ditetapkan paling rendah
sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dan paling tinggi sebesar 1% (satu persen).

3. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan paling rendah
sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dan paling tinggi sebesar 0,2% (nol koma dua
persen).

4. Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi masing-masing
sebagai berikut:
a. Penyerahan pertama sebesar 20% (dua puluh persen), dan
b. Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1% (satu persen)

5. Khusus untuk Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang tidak ggunakan
jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi masing-masing sebagai berikut:
a. Penyerahan pertama sebesar 075% (nol koma tujuh puluh lima persen); dan
b. Penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075% (nol koma nol tujuh puluh lima
persen).

6. Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan paling sebesar 10% tinggi
(sepuluh persen). Khusus Pajak Bahan Bakar Kendaraan Umum dapat ditetapkan
Bermotor ditetapkan paling lebih rendah dari tarif Pajak Bahan paling sedikit 50% pribadi.
Bakar Kendaraan puluh persen)
7. Tarif Pajak Air Permukaan ditetapkan paling tinggi sebesar 10%
8. Tarif Pajak Rokok ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen) (sepuluh persen) dari cukai
rokok.
9. Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).
10. Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).
11. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima persen).
12. Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua puluh lima per- sen).
sebesar 10% (sepuluh per
13. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi
14. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua
puluh lima persen). persen).
15. Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30%(tiga puluh
16. Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (dua puluh persen).
17. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepulth persen)
Perkotaan ditetapkan paling tin
18. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan sebesar 0,3% (nol koma tiga persen).
sebesar
19. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi 5% (ima
persen).
Tarif pajak tersebut di atas ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Tata Cara Pemungutan Pajak pajak


Pemungutan Pajak dilarang d Setiap wajib Pajak wajib membayar Pajak terutang berdasarkan
pajak atau dibayar sendiri oleh wajib berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Wajib Pajak yang menggu kewajiban perpajakan berdasarkan Kepala Daerah dibayar dengan
nakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau dokumen lain yang dipersamakan berupa
karcis dan nota perhitungan.
Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan Kurang kan Surat Pajak
(SPTPD, Surat Ketetapan Pajak Daerah Bayar (SKPDKB), dan/atau Surat Ketetapan Pajak
Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKB).

Daluwarsa Penagihan Pajak


Hak untuk melakukan pajak menjadi daluwarsa setelah melampaui 5 (lima) tahun sejak saat
terutangnya pajak, kecuali apabila lakukan tindak pidana di bidang perpajakan daerah
Retribusi Daerah
Beberapa pengertian istilah yang terkait dengan Retribusi Daerah antara lain :
l. Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah pungutan Daerah
sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
badan
2. Jasa, adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang me-
nyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh
orang pribadi atau badan. 3. Jasa Umum, adalah jasa yang disediakan atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan
umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
4. Jasa Usaha, adalah jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut
prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor
swasta
5. Perizinan tertentu, adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka
berian izin kepada orang atau Badan dimaksudkan untuk pembinaan penggunaan
pengendalian dan pengawasan atas ke sarana ruang, serta sumber daya alam,
barang, pemanfaatan melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian
lingkungan.

Objek Retribusi Daerah


Yang menjadi objek Retribusi Daerah adalah:
1. Jasa Umum
2. Jasa Usaha
3. Perizinan Tertentu

Retribusi Jasa Umum


Retribusi yang dikenakan atas jasa umum digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum. objek
Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerin- tah Daerah
untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi
atau Badan. Jenis Retribusi Jasa Umum adalah:
1. Retribusi Pelayanan Kesehatan
2. Retribusi Pelayanan Persampahan Kebersihan
3. Retribusi Penggantian Biaya cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Siria.
4. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat
5. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
6. Retribusi Pelayanan Pasar,
7. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
8. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;
9. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;
10. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus;
11. Retribusi Pengolahan Limbah Cair;
12. Retribusi Pelayanan Tera Tera Ulang
13. Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan
14. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

Retribusi Jasa Usaha


Retribusi yang dikenakan atas jasa usaha digolongkan sebagai Retribusi Jasa Usaha. objek
Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan
menganut prinsip komersial yang meliputi:
l. Pelayanan dengan menggun kekayaan Daerah yang belum di- manfaatkan secara optimal;
dan/atau
2. Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh
pihak swasta.

Jenis Retribusi Jasa Usaha adalah:


1. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;
2. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan;
3. Retribusi Tempat Pelelangan;
4. Retribusi Terminal;
5. Retribusi Tempat Khusus Parkir;
6. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan Villa;
7. Retribusi Rumah Potong Hewan;
8. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan;
9. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;
10. Retribusi Penyeberangan di Air; dan
11. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

Retribusi Perizinan Tertentu


Retribusi yang dikenakan atas perizinan tertentu digolongkan sebagai Retribusi Perizinan
Tertentu. Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh
Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pe ngaturan
dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang,
prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga
kelestarian lingkungan. Jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah:
1. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;
2. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol;
3. Retribusi Izin Gangguan;
4. Retribusi lzin Trayek; dan
5. Retribusi Izin Usaha Perikanan.

Subjek Retribusi Daerah


Subjek Retribusi Daerah adalah sebagai berikut
1. Retribusi Jasa Umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan me-
nikmati pelayanan jasa umum yang
2. Retribusi Jasa Usaha adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/ menikmati
pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.
3. Retribusi Perizinan Tertentu adalah orang pribadi atau badan memperoleh izin tertentu
dari Pemerintah Daerah.

Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi


Prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi adalah sebagai berikut:
1. Retribusi Jasa Umum, ditetapkan dengan memerhatikan biaya penyediaan jasa yang
bersangkutan, kemampuan masyarakat, aspek keadilan, dan efektivitas pengen lian
atas pelayanan tersebut. Yang dimaksud dengan biaya di sini meliputi biaya operasi
dan pemeliharaan, biaya bunga, dan biaya modal.
2. Retribusi Jasa Usaha, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang
layak, yaitu keuntungan yang diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut di
lakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
3. Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau
seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Yang dengan biaya
penyelenggaraan pemberian izin di sini meliputi penerbitan dokumen izin,
pengawasan di lapangan, penegakan hukum, penatausahaan, dan biaya dampn negatif
dari pemberian izin tersebut.

Tata Cara Pemungutan Retribusi


Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRT) atau
dokumen lain yang dipersamakan berupa karcis, kupon, dan kartu langganan Dalam hal
Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar,
dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari
Retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan
Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD). Penagihan Retribusi terutang sebagaimana
didahului dengan Surat Teguran. Tata cara pelaksanaan pemungutan Retribusi ditetapkan
dengan Peraturan Kepala Daerah.

Pemanfaatan Retribusi
Pemanfaatan dari penerimaan masing-masing jenis Retribusi diutamakan untuk men- danai
kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan yang bersangkutan.
Ketentuan mengenai alokasi pemanfaatan penerimaan Retribusi ditetap- kan dengan
Peraturan Daerah.

Perpajakan Daluwarsa penagihan Retribusi setelah melampaui wak. Hak untuk melakukan
penagihan Retribusi menjadi daluwarsa jika Wajib Retribusi (tiga tahun terhitung sejak saat
terutangnya Retribusi, kecuali melakukan tindak pidana di bidang Retribusi.

PENDAHULUAN Sistem perpajakan yang lama temyata sudah tidak sesuai lagi dengan
tingkat kehidup- an sosial ekonomi masyarakat Indonesia, baik dari segi kegotong-royongan
nasional maupun dari laju pembangunan nasional yang telah dicapai. Di samping itu, sistem
per- pajakan yang lama tersebut belum dapat menggerakkan peran dari semua lapisan subjek
pajak yang besar peranannya dalam menghasilkan penerimaan dalam negeri yang sangat
diperlukan guna mewujudkan kelangsungan dan peningkatan pembangunan nasional. oleh
karena itu, pemerintah menciptakan sistem perpajakan yang baru yaitu dengan lahirnya
Undang-undang perpajakan baru, yang terdiri atas: UUNo. 6 tahun 1983 tentans Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, UU No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Pengha- silan dan UU
No. 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, UU No. 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan dan UU no. 13
tahun 1985 tentang Bea Meterai. Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan dilandasi falsa fah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang di dalamnya
tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban
perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan. Undang-undang ini memuat ketentuan umum dan
tata cara perpa jakan yang pada prinsipnya diberlakukan bagi undang-undang pajak material,
kecuali dalam undang-undang pajak yang bersangkutan telah mengatur sendiri mengenai
keten- tuan umum dan tata cara perpajakannya. Sejalan dengan perkembangan ekonomi,
teknologi informasi, sosial, dan politik, dis dari bahwa perlu dilakukan perubahan Undang-
undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Perubahan tersebut bertujuan
untuk lebih memberikan keadilan, meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak,
meningkatkan kepastian dan penegakan hukum, serta mengantisipasi kemajuan di bidang
teknologi informasi dan perubahan ketentuan material di bidang perpajakan. Selain itu,
perubahan tersebutjuga dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur
perpajakan, meningkatkan keterbukaan administrasi perpajakan, dan meningkatkan
kepatuhan sukarela Wajib Pajak Sistem, mekanisme, dan tata cara pelaksanaan hak dan
kewajiban perpajakan yan sederhana menjadi ciri dan corak dalam perubahan Undang-
undang ini dengan t menganut sistem self assessment. Perubahan tersebut khususnya
berkaitan dengan ningkatan keseimbangan hak dan kewajiban bagi masyarakat Wajib Pajak
sehingg masyarakat Wajib Pajak dapat melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya
dengan lebih baik.

Perpajaan Dengan berpegang teguh pada kepastian hukum, keadilan, dan kesede Can dan
tujuan perubahan Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Perpajakan ini
mengacu pada kebijakan pokok sebagai berikut: l. Meningkatkan efisiensi pemungutan pajak
dalam rangka mendukung penerimaan negara; keadilan bagi masyarakat guna me. 2.
Meningkatkan pelayanan, kepastian hukum dan modal, dengan tetap mendukung ningkatkan
daya saing dalam bidang penanaman pengembangan usaha kecil dan menengah; 3.
Menyesuaikan tuntutan perkembangan sosial ekonomi masyarakat serta perkem- bangan di
bidang teknologi informasi 4. Meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban; 5.
Menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan; 6. Meningkatkan penerapan prinsip self
assessment secara akuntabel dan konsisten; 7. Mendukung iklim usaha ke arah yang lebih
kondusif dan kompetitif Dengan dilaksanakannya kebijakan pokok tersebut diharapkan dapat
meningkatkan penerimaan negara dalam jangka menengah dan panjang seiring dengan
meningkatnya kepatuhan sukarela dan membaiknya iklim usaha. DASAR HUKUM Dasar
hukum Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah Undang-undang No. 6 Tahun
1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 16 Tahun 2009
PENGERTIAN-PENGERTIAN Dalam pembahasan Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan akan dijumpai peng ertian-pengertian atau istilah-istilah yang sudah baku.
Pengertian-pengertian atau istilah-istilah tersebut, antara lain: 1. Pajak adalah kontribusi
wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi ata badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-undang, dengan tidak

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat 2. Wajib Pajak
adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayaran pajak, pemo- tong pajak, dan
pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan. sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. 3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau
modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
usaha yang meliputi pet roan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha
milik n atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, fima. si,
koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi
sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak
investasi kolektif dan bentuk usaha tetap 4. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi
dasar bagi Wajib Pajak untuk meng- hitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang
dalam suatu jangln "rktr tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang KUP Masa
Pajal sama ngan I (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peratura
Menteri Keuangan paling lama 3 (tiga) bulan kalender. 5. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1
(satu) tahun kalender kecuali bila Wajib P menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan
tahun kalender. 6. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu l (satu) Tahun Pajak.
7. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak,
dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketertuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. 8. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak
dan biaya penagihan pa 9. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar
sendiri oleh Wa jib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan
Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berialan tidak atau kurang dibayar, ditambah
dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasil yang
dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahu- luan kelebihan
pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.

Perpajakan 28 10 Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yan
dapa dikreditkan setelah dikurangi dengan pendahuluan kelebihan pajak dikarangi dengan
pajak yang yang dari pajak yang tentang mengolah data, kete 11. Pemeriksaan adalah
serangkaian kegiatan menghimpun dan rangan, dawatau bukti yang dilaksanakan secara
objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan
ketentuan peraturan perun dang-undangan perpajakan. 12. Bukti Permulaan adalah keadaan,
perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan
petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah tejadi suatu tindak pidana di bidang
perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara. 13. Pemeriksaan Bukti permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan
untuk menda patkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah1ejadi tindak pidana di
bidang perpajakan. 14. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung
jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakilyang menjalankan hak dan memenuhi
kewajiban Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. 15.
Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian
Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian ten- tang kebenaran
penulisan dan penghitungannya. Untuk pengertian-pengertian atau istilah-istilah selain
tersebut di atas, akan dikaitkan langsung dengan pembahasan-pembahasan selanjutnya.
TAHUN PAJAK Pada umumnya tahun pajak sama dengan tahun takwim atau tahun Wajib
Pajak dapat mengunakan tahun pajak kal Akan tetapi syarat konsisten tidak sama dengan
ender. Kantor (taat asas) selama 12 bulan, dan tahun takwim dengan sebagai Pelayanan Pajak
Pratama setempat. Cara entukan berikut: suatu tahun pajak adalah

etentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 1. Tahun Pajak sama Dengan Tahun Takwim. 1
Januari 2014 31 Desember 2014 Pembukaan dimulai Januari 2014 dan berakhir 31 Desember
2014, disebut tahun pajak 2014. 2. Tahun Pajak Tidak Sama Dengan Tahun Takwim. 1 Juli
2014 30 Juni 2015 Pembukuan dimulai 1 Juli 2014 dan berakhir 30 Juni 2015. Disebut tahun
pajak 2014 karena 6 bulan pertama jatuh pada tahun 2015. 1 April 2014 31 Maret 2015
Pembukuan dimulai 1 April 2014 dan berakhir 31 Maret 2015. Disebmt tahun pajak 2014
karena lebih dari 6 bulan jatuh pada tahun 2014. 1 oktober 2014 30 September 2015
Pembukuan dimulai 1 Oktober 2014 dan berakhir 30 September 2015. Disebut tahun pajak
2015 karena lebih dari 6 bulan jatuh pada tahun 2015. NOMOR POKOK WAJIB PAJAK
(NPWP) 1. Pengertian Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib
Pajak se- bagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda
pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya. 2. Fungsi NPWP a. Sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. b.
Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan ad- ministrasi
perpajakan.

3. Pencantuman NPWP diwajibkan Dalam hal berhubungan dengan dokumen


perpajakan. Wajib Pajak mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimilikinya.
4. Pendaftaran NPWP Setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif
dan objektif se- suai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang
wilayah kerjanya me- liputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan
kepada Wajib Pajak diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak. Yang dimaksud dengan
"persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai de- ngan ketentuan mengenai
subjek pajak dalam Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.
"Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pa- jak yang menerima atau
memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan pemungutan
sesuai dengan ketentuan Undang-undang Pajak Pengha- silan 1984 dan perubahannya.
Tempat pendaftaran dilakukan pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerianya meliputitempat tinggaldan kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
keranya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi Wajib Pajak orang pribadi
pengusaha tertentu. Kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap
wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan
keputusan hukum atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan
penghasilan dan Wanita kawin selain tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk
memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak atas namanya sendiri wanita kawin tersebut
dapat melaksanakan hak agar terpisah dari hak dan dan memenuhi kewajiban
perpajakannya kewajiban perpajakan suaminya. Bagi wanita kawin yang telah
memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perpajakan dan: a, tidak hidup terpisah; atau b tidak
melakukan peranjian pemisahan penghasilan dan harta secara tertulis hak dan
kewajiban perpajakannya digabungkan dengan pelaksanaan hak daa menuhan
kewajiban perpajakan suaminya. Telapi apabila ingin melaksana

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah
dari hak dan kewajiban perpajakan suami, harus mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor
Pokok Wajib Pajak. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak da lam kedudukannya sebagai subjek pajak menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak
dari orang pribadi yang meninggalkan warisan tersebut dan diwakili oleh: a, salah seorang
ahli waris, b. pelaksana wasiat; atau c. pihak yang mengurus harta peninggalan. Direktur
Jenderal Pajak menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak secara j tan apabila Wajib Pajak yang
memenuhi persyaratan subjektif dan objektif tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan
NPWP Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak
secara jabatan dimulai sejak saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuar peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (ima)
tahun sebelum diterbitkannya Nomor Pokok Wajib Pajak. Kewajiban mendaftarkan diri untuk
memperoleh NPWP dibatasi jangka waktunye karena hal ini berkaitan dengan saat pajak
terutang dan kewajiban mengenakae pajak terutang. Jangka waktu pendaftaran NPWP adalah:
atau pekerjaan bebas a. Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha dan Wajib
Pajak badan, wajib mendaftarkan diri paling lambat 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai
dijalankan. me- b. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau tidak
lakukan pekerjaan bebas apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang
disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak, wajib mendaftarkan diri paling
lama pada akhir bulan berikutnya. Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk
mendapatkan NPWP akan dikenakan sanksi perpajakan. 5. Sanksi Setiap orang yang dengan
sengaja tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak, atau
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPwP sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam)
bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumiah pajak
terutang yang tidak atau kurang diba

2. yar dan paling banyak 4 (empa) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kura dibayar.
Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila
seseorang melakukan lagi tinda pidana di bidang perpajakan sebelum lewat l (satu tahun,
terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. Setiap orang yang
melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgu nakan atau menggunakan
tanpa hak Nomor Pokok Wajib dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau
melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipi dana dengan pidana penjara
paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua)
kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang
dilakukan dan paling banyak 4(empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau
kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan. 6. Penghapusan NPWP Penghapusan
NPWPadalah tindakan menghapuskan NPWP dari administrasi Kantor Pelayanan Pajak.
Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak apabila: a.
Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif se suai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan b. Wajib Pajak badan dalam rangka
likuidasi atau pembubaran karena penghen- tian atau penggabungan usaha; c. Wanita yang
sebelumnya telah memiliki NPwP dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta
dan penghasilan; d. Wajib Pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di
Indonesia; atau Dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan Nomor e.
Pokok Wajib Pajak dari Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif
dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang dangan perpajakan Direktur
Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atau verifikasi harus mem- berikan keputusan
atas permohonan penghapusan Nomor Pokok wajib Pajak dalam jangka waktu 6 (enam)
bulan untuk Wajib Pajak orang pribadi atau 12 (dua belas) bulan untuk Wajib Pajak sejak
permohonan diterima secara Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud telah lewat dan
Direktur Jenderal Pa

tuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 33 jak tidak memberi suatu keputusan, permohonan
penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dianggap dikabulkan. 7. Format NPWP NPWP
terdiri dari 15 digit, yaitu 9 (sembilan) digit pertama merupakan Kode Wajib Pajak dan 6
(enam) digit berikutnya merupakan Kode Administrasi Perpajakan. Formatnya adalah sebagai
berikut: XX. XXX. XXX. X-XXX. XXX NGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha
atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan
usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean,
melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. Pengusaha Kema
Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarka dang-undang Pajak Pertambahan
Nilai 1984 dan perubahannya. Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai Pajak
Pertambahan Nilai berdasar- kan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan
perubahannya wajib melaporka usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Pengusaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai
1984 yang: 1. memilih sebagai Pengusaha Kena Pajak; atau tidak memilih sebagai Pengusaha
Kena Pajak tetapi sampai dengan suatu bulan dalam suatu tahun buku jumlah nilai peredaran
bruto atas penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak telah melampaui batasan
yang ditentukan sebagai Peng- usaha Kecil, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak paling lama akhir bulan berikutnya. Kewajiban melaporkan
untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dilakukan sebelum melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak. Ter- pengusaha yang telah memenuhi syarat
sebagai PKP tetapi tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai P akan dikukuhkan
sebagai PKP secara jabatan dan dikenakan sanksi perpajakan.

ketentu Perpajakan 1. Fungsi Pengukuhan PKP Sebagai identitas PKP yang bersangkutan.
Pertambahan Nilai dan Pajak b. Me hak dan kewajiban di Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah. e. Pengawasan administrasi perpajakan. 2. Tempat Pengukuhan PKP melaporkan
usahanya Wajib Pajak yang memenuhi ketentuan sebagai PKP wajib untuk dikukuhkan
sebagai PKP pada: dan Konsultasi a. Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Pelayanan,
Penyuluhan, Perpajakan yang wilayah keranya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudu-
kan, dan/atau tempat kegiatan usaha wajib Pajak; atau b. Kantor Pelayanan Pajak tertentu
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan di bidang perpajakan. Dalam hal
tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak berada
dalam 2 (dua) atau lebih wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat
menetapkan Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar. 3. Pencabutan
Pengukuhan PKP Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak
dapat melakukan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Pencabutan Pen Pengusaha
Kena Pajak dapat dilakukan dalam hal a. PKP pindah alamat ke wilayah kera Kantor
Pelayanan Pajak lain; b. Sudah tidak memenuhi persyaratan sebagai PKP termasuk PKP yang
jumlah peredaran dan/atau penerimaan bruto untuk suatu tahun buku tidak melebihi SURI c.
batas jumlah peredaran dan/atau penerimaan bruto untuk Pengusaha Kecil: PKP telah
dipusatkan tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai di tempat lain; atau d. PKP
menyalahgunakan pengukuhan PKP Atas permohonan Wajib Pajak untuk melakukan
Pencabutan Pengukuhan usaha Kena Pajak, Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan
pemeri verifikasi harus memberikan keputusan dalam jangka waktu 6 (enam) Peng tanggal
permohonan diterima secara lengkap. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat, Direktur
Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, maka

tuan Umum dan Tata Cara Perpajaka Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
dianggap dikabulkan dan surat ke- putusan mengenai Pencabutan Pengukuhan Pengusaha
Kena Pajak harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama (satu bulan setelah jangka
waktu 6 (enam bulan berakhir. 4. Sanksi Setiap orang yang dengan sengaja tidak melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak atau menyalahgunakan atau
menggunakan tanpa hak Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, sehingga dapat menimbulkan
kerugia pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enar bulan
dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang
yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar. Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali
sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tinda pidana di bidang perpajakan sebelum
lewat 1 tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan Setiap
orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalan gunakan atau
menggunakan tanpa hak Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dalam rangka mengajukan
permohonan restitusi atau melakukan kompensasi Fa pengkreditan pajak, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua tahun dan denda paling
sedikit 2 (dua kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan
yang dilakukan dan pa ling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau
kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan. SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) 1.
Pengertian SPT Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan
untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bu- kan
objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan. 2. Fungsi SPT Fungsi Surat Pemberitahuan bagi wajib Pajak Pajak
Penghasilan adalah sebagai sa rana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk meiaporkan tentang:

36 pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/ata melalui
pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun Pajat a. u Bagian Tahun Pajak;
objek pajak; penghasilan yang merupakan objek pajak dan/atau bukan harta dan kewajiban;
dan/atau pemotongan atau pemu. d. pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang
ngutan pajak orang pribadi badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak sesu dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Bagi Pengusaha Kena Pajak, fungsi Surat
Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
penghitungan jumlah Pajak Per tambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang: pengkreditan Pajak Masukan
terhadap Pajak Keluaran, dan b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan
sendiri oleh Peng usaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak,
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Bagi pemotongan atau
pemungut pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan
mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya. 3. Prosedur
Penyelesaian SPT Wajib Pajak sebagaimana mengambil sendiri Surat Pemberitahuan di
tempat yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau mengambil dengan cara lain ang
tata cara pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Men- teri Keuangan.
Wajib Pajak juga dapat mengambil Surat Pemberitahuan dengan cara lain, misalnya dengan
mengakses situs Direktorat Jenderal Pajak untuk memperoleh formulir Surat Pemberitahuan
tersebut b. Setiap wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan
jelas, dalam Bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, Arab, satuan mata uang
Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor Direktorat Jenderal Pajak
Pajak terdaftar kan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. c. Wajib
Pajak yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk me garakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa eleng Rupiah, wajib menyampaikan asing dan mata uang dengan
menggunakan satuan Surat Pemberitahuan dalam Bahasa Indonesia mata uang selain Rupiah
yang diizinkan.

uan Umum dan Tata Cara Perpajakan d. Penandatanganan SPT dapat dilakukan secara biasa,
dengan tanda tangan stempel, atau tanda tangan elektronik atau digital, yang semuanya
mempunyai kekuatan hukum yang sama. Bukti-bukti yang harus dilampirkan pada SPT,
antara lain: Untuk wajib Pajak yang mengadakan pembukuan: Laporan Keuangan berupa
neraca dan laporan rugi laba serta keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk
menghitung besarnya penghasilan kena pajak. Pengu- Untuk SPT Masa PPN sekurang-
kurangnya memuat jumlah Dasar naan Pajak, jumlah Pajak Keluaran, jumlah Pajak Masukan
yang dapat dikreditkan, dan jumlah kekurangan atau kelebihan pajak. Untuk Wajib Pajak
yang menggunakan norma perhitungan: Perhitungan jumlah peredaran yang terjadi dalam
tahun pajak yang bersangkutan. 4. Pembetulan SPT dan Pengungkapan Ketidakbenaran Wajib
Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan surat Pemberitahuan yang telah
disampaikan dengan menyampaikan p tertulis, dengan syar t Direktur Jenderal Pajak belum
melakukan tindakan: a. Verifikasi dalam rangka menerbitkan surat ketetapan pajak; b.
Pemeriksaan, atau c. Pemeriksaan Bukti Permulaan. Pernyataan tertulis dalam pembetulan
Surat Pemberitahuan dilakukan dengan cara memberi tanda pada tempat yang telah
disediakan dalam Surat Pemberitahuan yang menyatakan bahwa Wajib Pajak yang
bersangkutan membetulkan Surat Pemberita huan. Dalam hal pembetulan Surat
Pemberitahuan menyatakan rugi atau lebih bayar, pem- betulan Surat Pemberitahuan harus
disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan. Wajib Pajak yang
membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan maupun Surat Pemberitahuan Masa yang
mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar,
dihitung sejak jatuh tempo pemba- yaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari
bulan dihitung penuh l (satu) bulan.

TOT Um ketentuan Perpajakan telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan
tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wijib Pajak, terhadap
perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan per apabila wajib Pajak
dengan kemauan sendiri pembayaran jumlah pajak buatannya tersebut dengan disertai
pelunasan kekurangan sebesar 150% yang sebenamya terutang beserta sanksi administrasi
berupa denda (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar. Walaupun
Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak
belum menerbitkan surat ketetapan pajak, Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri dapat
mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat
Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya, yang dapat
mengakibatkan pajak pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil; b.
rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar; jumlah harta
menjadi lebih besar atau lebih kecil, atau d. jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih
kecil. Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ini beser- ta
sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (ima puluh persen) dari pajak yang kurang
dibayar, harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan.
Wajib Pajak dapat membetulkan Surat Pemberitahuan Tahunan yang telah disampai Wajib
Pajak menerima ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan,
Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa
Tahun Pajak sebelumnya, yang kan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah
dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan yang akan dibetulkan tersebut, dalam
jangka waktu (tiga) bulan setelah menerima surat ketetapan pajak, Keputusan Surat
Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Keberatan Kembali
dengan Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pem syarat 5. Jenis SPT Secara
garis besar SPT dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat
Pemberitahuan untuk suatu Masa P

tentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan b. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat
Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. SPT meliputi: a. SPT
Tahunan Pajak Penghasilan; b. SPT Masa yang terdiri dari: SPT Masa Pajak Penghasilan;
SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai; dan SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai bagi Pemungut
Pajak Pertambahan Nilai SPT dapat berbentuk: a. formulir kertas (hardcopy); atau b.
dokumen elektronik. 6. Batas Waktu Penyampaian SPT Batas waktu penyampaian Surat
Pemberitahuan adalah: a. untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari
setelais alchi Masa Pajak. Khusus untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambaha Nilai
disampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berukhirnyi Masa Pajak. Wajib Pajak
orang pri b. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan badi, paling lama 3 (tiga)
bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau c. untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak badan, pa ling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak. 7.
Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka
waktu penyampaian SPT Tahunan seba- gaimana dimaksud untuk paling lama 2 (dua) bulan
sejak batas waktu penyampaian SPT Tahunan dengan cara menyampaikan Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Ta Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dibuat secara tertulis dan
disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak, sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan
berakhir, dengan dilampiri: Pajak yang batas a. Penghitungan sementara pajak terutang dalam
l (satu) Tahun waktu penyampaiannya diperpanjang;

40. umu ketentuan b. Laporan keuangan sementara; dan pajak Surat Setoran Pajak sebagai
bukti pelunasan kekurangan pembayaran yang terutang Pajak Pemberitahuan Perpanjangan
SPT Tahunan wajib ditandatangani oleh Wajib atau Kuasa Wajib Pajak. Dalam hal
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan ditandatangani oleh Kuasa Wajib Pajak,
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunaa harus dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus.
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dapat disampaikan: a, secara langsung. b. melalui
pos dengan bukti pengiriman surat; atau c. dengan cara lain yang meliputi: melalui
perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat atau saluran tertentu
yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan perkembangan teknologi
informasi. Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang tidak memenuhi ketentuan seba-
gaimana dianggap bukan merupakan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan. 8. Sanksi
Terlambat atau Tidak Menyampaikan SPT Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan
dalam jangka waktu yang telah ditentukan atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat
Pemberitahuan, dike- ai sanksi administrasi berupa denda sebesar: a. Rp 500.000,00 (lima
ratus ribu rupiah) untuk surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, b, Rp
100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya c, Rp 1.000.000,00
(satu juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan,
d. Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak MAl S
Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi. wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak
menyampaikan Surat Pemberita- huan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya
tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar
sehingga dapat apabila nimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tidak dikenai sanksi
pidana kealpaan tersebut pertama kali dilakukan oleh Wajib Pajak dan Wajib Pajak t

ntuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebut wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah
pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus
persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan Surat
Ketetapan Pa- jak Kurang Bayar. Kealpaan Surat Pemberitahuan, Setiap orang yang karena
kealpaannya tidak menyampaikan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya
tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar
sehingga dapat m nimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut
merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali, didenda paling sedikit (satu) kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (du kali jumlah
pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga)
bulan atau paling lama 1 (satu) tahun Kesengajaan Surat Pemberitahuau at Setiap orang yang
dengan sengaja tidak menyampaikan benar menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau
keterangan yang isinya tidak atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negar dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling
laraa (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak
atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar. kali sanksi pidana apa Pidana tersebut ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2
(dua) sebelum lewat l bila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan
dijatuhkan. (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang URAT
SETORAN PAJAK (SSP) DAN PEMBAYARAN PAJAK 1. Pengertian Surat Setoran Pajak
adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak ya ah d lakukan dengan menggunakan
formulir atau telah dilakukan dengan negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh
Menteri Keuangan.

42 2. Fungsi SSP telah disahkan oleh pejabat SSP berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak
apabila telah mendapatkan kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila dasi. 3.
Tempat Pembayaran dan Penyetoran Pajak a. Bank ditunjuk oleh Menteri Keuangan. b,
Kantor Pos. 4. Jangka waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak aktu pembayaran atau
penyetoran pajak diatur sebagai berikut: a. Pembayaran Masa PPh Pasal 4 Ayat (2) yang
dipotong oleh Pemotong Pajak Penghasilan ha rus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh)
bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan. PPh Pasal 4 Ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak harus disetor
paling lama tanggal 15 (ima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir, kecuali
ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. PPh Pasal 4 Ayat (2) atas penghasilan dari pengalihan
hak atas tanah dan atau bangunan yang dipotong/dipungut atau yang harus dibayar sendiri
oleh Wajib Pajak, harus disetor sebelum akta, keputusan, perjanjian, kesepakat an atau risalah
lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ditandatangani oleh pejabat yang
berwenang. PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama
tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. PPh Pasal 15 yang harus
dibayar sendiri disetor paling harus lama tanggal 15 (ima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir. PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor p lama
tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir PPh Pasal dipotong oleh
Pemotong harus lama tanggal 10 epuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. PPh
Pasal 25 harus dibayar paling lama tanggal 15 (ima belas) bulan beri kutnya setelah Masa
Pajak berakhir.

akan dan Tata Cara Per PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi
ber- samaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau
dibebaskan, PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas im por harus dilunasi pada saat
penyelesaian dokumen pemberitahuan pabea impor. PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan
PPnBM atas impor yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, harus disetor
dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah dilakukan pemungutan pajak. PPh Pasal 22
yang pemungutannya dilakukan oleh kuasa pengguna ar garan atau pejabat penanda tangan
Surat Perintah Membayar sebagi Pemungut PPh Pasal 22, harus disetor pada hari yang sama
dengan pe- laksanaan pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak rekanan pemerintah melalui
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Pasal 22 yang dipungut oleh Bendahara
Pengeluaran, harus disetor paling lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelaksanaan pembayaran
atas p rahan barang dibiayai dari belanja Negara Daerah dengan yang rekanan dan d
menggunakan surat setoran Pajak atas nama tangani oleh bendahara. Pajak badan PPh Pasal
22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib tertentu sebagai Pemungut Pajak harus disetor
paling lama tanggal 10 (se puluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. PPN atau
PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak harus disetor paling lama akhir bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa PPN
disampaikan. PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak oleh orang
dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pab harus disetor berwujud pribadi atau badan
yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak 15 dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah
Pabean, paling lama tanggal (lima belas) bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak.
oleh PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri harus disetor orang pribadi atau
badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri paling lama tanggal 15 (ima belas) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. oleh Pejabat PPN atau PPN dan PPnBM yang
pemungutannya dilakukan Penandatangan Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut P

44 pada hari yang dengan pelaksanaan pembayaran kepada Pengusaha Pajak sama melalui
Kantor P Rekanan Pemerintah bendaharaan Negara. oleh Bendahara Pengeluaran PPN atau
PPN dan PPnBM yang dipungut lama 7 (tujuh) hari setel sebagai Pemungut PPN, harus
disetor paling tanggal pelaksanaan pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak Rekanan
Pemerintah melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. PPN atau PPN dan PPnBM
yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut PPN yang ditunjuk selain Bendahara
Pemerintah, harus disetor paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir. PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana di
maksud dalam Pasal 3 Ayat (3b) Undang-undang KUP yang melaporkan beberapa Masa
Pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling lama pada akhir Masa
Pajak terakhir. Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria
tertentu harus dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk ma sing-masing jenis
pajak. b. Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Kete- tapan
Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan
Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah
pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak
tanggal diterbitkan. Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan h dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan
Pajak Penghasilan disampaikan. Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau pajak
bertepatan dengan penyetoran hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional,
pembayaran atau pajak dapat dilakukan pada hari kera berikutnya. Hari libur nasional
sebagaimana dimaksud termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan
Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan
oleh Pemerintah. Setiap keterlambatan pembayaran dikenakan bunga sebesar 2 sebulan, yang
dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan t pembayaran, dan bagian dari
bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan

etentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 45 5. Tata cara Menunda atau Mengangsur
Pembayaran Atas Ketetapan Pajak Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan secara tertulis
untuk mengangsur at menunda pembayaran pajak yang masih harus dibayar dalam Surat
Tagihan Pa jak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding,
serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang terutang
bertambah, serta Pajak Penghasilan Pasal 29, kepada Direktur Jenderal Pajak. Permohonan
harus diajukan paling lama 9 (sembilan) hari kerja sebelum saat ja tempo pembayaran utang
pajak berakhir disertai dengan alasan dan bukti yang men dukung permohonan. Wajib Pajak
yang mengajukan permohonan pengangsuran atau penundaan pembayaran pajak harus
memberikan jaminan yang dapat berupa garansi bank, surat/dokumen bukti kepemilikan
barang bergerak, penanggungan utang oleh pihak ketiga, sertifikat tanah, atau sertifikat
deposito. Wajib Pajak yang mengajukan permohonan pengangsuran pembayaran pajak sete-
lah melampaui batas waktu harus memberikan jaminan berupa garansi bank sebesar utang
pajak yang dapat dicairkan sesuai dengan jangka waktu pengangsuran. Direktur Jenderal
Pajak menerbitkan surat keputusan atas permohonan tersebut berupa menerima seluruhnya,
menerima sebagian, atau menolak. Surat keputusan diterbitkan paling lama 7 (tujuh) hari
kerja setelah tanggal diteri manya permohonan. Apabila jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja
telah terlampaui dan Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan suatu keputusan, permohonan
disetujui sesuai dengan permohonan Wajib Pajak, dan keputusan persetujuan pengangsuran
pembayaran pajak atau keputusan persetujuan penundaan pembayaran pajak harus diterbitkan
paling lama 5 (ima) hari keria setelah jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja tersebut berakhir.
URAT KETETAPAN PAJAK Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi
Surat Ketetapan Pajak Ku rang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.

46 SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR (SKPKB) 1. Pengertian surat


ketetapan pajak yan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) adalah pajak, jumlah
kekuranga menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit jumlah pajak yang ma
pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan sih harus dibayar. 2. Penerbitan
SKPKB SKPKB diterbitkan apabila: a. berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain
pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar, b. Surat Pemberitahuan tidak disampaikan
dalam jangka waktu yang telah di tentukan dan setelah ditegur secara tertulis tidak
disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran; c, berdasarkan
hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai Pajak Pertamba han Nilai dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak
atau tidak seharusnya dikenai tarif 0% (no persen d. kewajiban menyelenggarakan
pembukuan atau pencatatan tidak dipenuhi se- hingga tidak besarnya pajak yang terutang;
atau e. kepada Wajib Pajak diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuh- kan
sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan. sKPKB hanya dapat diterbitkan terhadap
Wajib Pajak yang berdasarkan hasil peme- riksaan atau keterangan lain tidak memenuhi
kewajiban formal dan atau kewajiban material. Keterangan lain tersebut adalah data konkret
yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktur Jenderal Pajak, antara lain berupa hasil konfirmasi
faktur pajak dan bukti pemotongan Pajak Penghasilan. 3. Sanksi Administrasi a. Apabila
SKPKB dikeluarkan karena alasan pada poin 2a dan 2e, maka jumlah kekurangan pajak
terutang ditambah dengan sanksi administrasi rupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan
paling lama 24 (dua puluh empat Pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya
Surat Ketetapan Kurang Bayar Pajak

an Umum dan Tata Cara Perpajakan b. Apabila sKPKB dikeluarkan karena alasan pada poin
2b, 2c, dan 2d, maka dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar: dari PPh yang
tidak atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak. 100% dari PPh yang tidak atau kurang
dipotong, tidak atau kurang di pungut, tidak atau kurang disetor, dan dipotong atau dipungut
tetapi tidak atau kurang disetorkan. 100% dari PPN dan PPnBM yang tidak atau kurang
dibayar. 4. Fungsi SKPKB a. Koreksi atas jumlah yang terutang menurut SPT-nya b. sarana
untuk mengenakan sanksi. c. Alat untuk menagih pajak. 5. Jangka Waktu Penerbitan SKPKB
Dalam jangka waktu 5 (ima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan
SKPKB. Walaupun jangka waktu 5 (ima) tahun telah lewat, Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat
puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang diba- yar, apabila wajib Pajak
setelah jangka waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
atau tindak pidana lainnya yang dapat menim bulkan kerugian pada pendapatan negara
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. SURAT
KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR TAMBAHAN (SKPKBT) 1. Pengertian Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (sKPKBT adalah surat ketetapan pajak yang
menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. 2. Penerbitan SKPKBT
sKPBT diterbitkan apabila ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah
pajak yang terutang setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan.

4. Fungsi SKPKBT a. Koreksi atas jumlah yang terutang menurut SPT nya. b, Sarana
untuk mengenakan sanksi. c. Alat untuk menagih pajak. 4. Sanksi SKPKBT Jumlah
kekurangan pajak yang terutang dalam SKPKBT ditambah dengan sanksi administrasi
berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak terse. but. Sanksi
administrasi berupa kenaikan tidak dikenakan apabila SKPKBT diterbitkan
berdasarkan keterangan tertulis dari wajib Pajak atas kehendak sendiri, dengan syarat
Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan da lam rangka
penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan. 5. Jangka waktu
Penerbitan SKPKBT Dalam jangka waktu 5(ima) tahun setelah saat terutangnya pajak
atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak apabila
ditemukan data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang
setelah dilakukan tindakan pemeriksaan dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan
Pajak Kurang Ba yar Tambahan, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan SKPKBT
Apabila jangka waktu 5 (ima) tahun telah lewat, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bu nga sebesar
48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar,
dalam hal Wajib Pajak setelah jangka waktu 5 (ima) tahun tersebut dipidana karena
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap. SURAT KETETAPAN PAJAK LEBIH
BAYAR (SKPLB) 1. Pengertian Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) adalah
surat ketetapan pajak menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak yang besar
daripada karena jumlah kredit pajak lebih pajak yang terutang atau seharusnya tidak
terutang.

an Umum dan Tata Cara Perpajakan 2. Penerbitan SKPLB SKPLB diterbitkan setelah
dilakukan pemeriksaan, jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar lebih
besar daripada jumlah pajak yang terutang. Surat Kete- tapan Pajak Lebih Bayar
diterbitkan untuk: a. Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak lebih besar
daripada jumlah pa- jak yang terutang; b. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah
kredit pajak lebih besar daripada jum- lah pajak yang terutang. Jika terdapat pajak
yang dipungut oleh Pemungut Paja! Pertambahan Nilai, jumlah pajak yang terutang
dihitung dengan cara jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan pajak yang dipungut
oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut, atau c. Pajak Penjualan atas Barang
Mewah apabila jumlah pajak yang dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang
terutang. 3. Fungsi SKPLB Sebagai alat atau sarana untuk mengembalikan kelebihan
pembayaran pajak SURAT KETETAPAN PAJAK NIHIL (SKPN) 1. Pengertian Surat
Ketetapan Pajak Nihil (SKPN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah
pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan
tidak ada kredit pajak. 2. Penerbitan SKPN SKPN diterbitkan apabila setelah
dilakukan pemeriksaan jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang dibayar sama
dengan jumlah pajak yang terutang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit
pajak atau tidak ada pembayaran pajak. SURAT TAGIHAN PAJAK (STP) 1.
Pengertian Surat Tagihan Pajak (STP) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak
dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.

2. Penerbitan STP STP dikeluarkan apabila: Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan
tidak atau kurang dibayar, Dari hasil penelitian terdapal kekurangan pembayaran
pajak sebagai aki salah tulis dan/atau salah hitung; Wajib Pajak dikenai sanksi
administrasi berupa denda dan/atau bunga; d Pengusaha yang telah dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak, tetapi ti membuat filtur pajak atau membuat faktur
pajak, tetapi tidak tepat waktu; Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap (selain: identitas pembeli,
nama dan tanda Pengusaha Kena Pajak melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan
masa pe- nerbitan faktur pajak; atau Pengusaha Kena Pajak yang gagal berproduksi
dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
9 Ayat (6a) Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya. 3.
Fungsi STP a. Sebagai koreksi atas jumlah pajak yang terutang menurut SPT Wajib
Pajak. b. Sarana mengenakan sanksi administrasi berupa bunga atau denda. c. Alat
untuk menagih pajak. 4. Sanksi Administrasi STP a. Jumlah kekurangan pajak yang
terutang (poin 2a dan 2b) ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua persen) per bulan untuk pa ling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung
sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Tagihan Pajak. b. Terhadap
pengusaha atau Pengusaha Kena Pajak (poin 2d, 2e, atau 20, selain wajib menyetor
pajak yang terutang, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua
persen) dari Dasar Pengenaan Pajak. c. Terhadap Pengusaha Kena Pajak (poin 2g)
dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari
jumlah pajak yang ditagih kemba li, dihitung dari tanggal penerbitan Surat Keputusan
Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai tanggal penerbitan Tagihan
bagian dari bulan dihitung penuh l

n Umum dan Tata Cara Perpajakan 5. Kekuatan Hukum STP STP (Surat Tagihan
Pajak) mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan surat ketetapan pajak,
sehingga dalam hal penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa, ERATAN
DAN BANDING Tata Cara Penyelesaian Keberatan Wajib Pajak dapat mengajukan
keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu: Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar (SKPKB) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN).
Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. b. Pengajuan keberatan yang dituangkan dalam
bentuk Surat Keberatan sebagai mana dan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia; mengemukakan jumlah pajak yang
terutang atau jumlah pajak yang dipo- tong atau dipungut atau jumlah rugi menurut
penghitungan Wajib Pajak dengan disertai alasan-alasan yang menjadi dasar
penghitungan; l (satu) Surat Keberatan diajukan hanya untuk 1 (satu) surat ketetapan
pajak, untuk 1 (satu) pemotongan pajak, atau untuk 1 (satu) pemungutan pajak, Wajib
Pajak telah melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang
telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan; diajukan
dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim Surat Ke- tetapan Pajak atau
sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga kecuali Wajib
Pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena
keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak force majeur), dan surat keberatan
ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat k ratan ditandatangani oleh
bukan Wajib Pajak, surat keberatan ters dilampiri dengan surat kuasa khusus.

52 Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, wajib
Pajak wajib melunasi pajak yang masih dibayar paling sedikit sejumlah yang telah
disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. sebelum surat
keberatan disampaikan. d. Dalam hal surat keberatan yang disampaikan oleh Wajib
Pajak belum memenuhi persyaratan, Wajib dapat menyampaikan perbaikan surat
keberatan de ngan melengkapi persyaratan yang dipenuhi sebelum jangka waktu 3
(tiga) bulan. persyaratan bukan merupakan surat ke e. Surat keberatan yang tidak
memenuhi Surat Keputusan beratan sehingga tidak dipertimbangkan dan tidak
diterbitkan Keberatan. atau keterangan lain yang tidak diberikan Pembukuan, catatan,
data, informasi, keberatan, pada saat pemeriksaan tidak dipertimbangkan dalam
penyelesaian kecuali pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain
tersebut ber ada di pihak ketiga dan belum diperoleh Wajib Pajak pada saat
pemeriksaan. g. Direktorat Jenderal Pajak dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan
sejak tang gal Surat Keberatan diterima, harus memberi keputusan. Keputusan
Direktorat Jenderal Pajak dapat berupa: Mengabulkan seluruhnya. Mengabulkan
sebagian Menolak. Menambah besarnya jumlah pajak yang masih harus dibayar. h.
Apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan telah terlampaui dan Direktur
Jenderal Pajak tidak menerbitkan Surat Keputusan Keberatan, keberatan yang
diajukan Wajib Pajak dianggap dikabulkan dan Direktur Jenderal Pajak wajib
menerbitkan Surat Keputusan Keberatan sesuai dengan keberatan Wajib Pajak.
Apabila pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan
pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2 (dua
persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat bulan dengan ketentuan
untuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan dihitung sejak tanggal pembayaran yang m nyebabkan kelebihan
pembayaran pajak sampai dengan diterbitka Surat Keputusan Keberatan,

tuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 53. untuk Surat Ketetapan Pajak Nihil dan
Surat Ketetapan Pajak Lebih Ba yar dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan
pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan. Dalam hal keberatan
Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib P dikenai sanksi administrasi
berupa denda sebesar 50% (ima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan
keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan
keberatan. Contoh Untuk tahun pajak 2012, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB) d ngan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp
1.000.000.000,00 diterbitkan terhadap PT ABC. Dalam pembahasan akhir hasil
pemeriksaan, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar sebesar
Rp 400.000.000,00. Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp
400.000.000,00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya Direktur
Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan jumlah pajak
yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp 700.000.000.0 Dalam hal ini, Wajib
Pajak dikenai sanksi berupa denda sebesar: 50% x (R 700.000.000,00 Rp
400.000.000,00) Rp 150.000.000,00 k. Tetapi apabila kemudian Wajib Pajak
mengajukan permohonan banditag a Surat Keputusan Keberatan, sanksi tersebut tidak
dikenakan Apabila pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, yang
menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, kelebihan pembayaran tersebut
dikembalikan dengan ditambah imbalan sebesar 2 bunga (dua persen) per bulan untuk
paling lama 24 (dua puluh empat bulan dengan ketentuan sebagai berikut: untuk Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
dihitung sejak tanggal pembayaran yang me nyebabkan kelebihan pembayaran pajak
sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, atau untuk Surat Ketetapan
Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Ba yan dihitung sejak tanggal penerbitan
surat ketetapan pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan. 2.
Tata Cara Penyelesaian Banding Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding
hanya kepada ba dilan pajak atas Surat Keputusan Keberatan

54 b. Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan pengadilan khusus di ling


peradilan tata usaha negara c. banding diajukan paling lama 3 (tiga) bulan sejak Surat
Ke Keberatan diterima, dengan cara: Tertulis dalam Bahasa Indonesia.
Mengemukakan alasan-alasan yang jelas. Melampirkan salinan Surat Keputusan
Keberatan. d. Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan permohonan
banding be lum merupakan pajak yang terutang sampai dengan Putusan Banding
diterbitkan. Apabila permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib
Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari
jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pa jak yang
telah dibayar sebelum mengajukan keberatan Contoh: Untuk tahun pajak 2012, Surat
Ketetapan Pajak Kurang B (sKPKB de- ngan jumlah pajak yang masih harus dibayar
sebesar Rp 1.000.000.000,00 diterbitkan terhadap PT ABC. Dalam pembahasan akhir
hasil pemeriksa- an, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak yang masih harus dibayar
sebesar Rp 400.000.000,00. Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB terse- but
sebesar Rp 400.000.000,00 dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya.
Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan jumlah
pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp 700.000.000,00. Selanjutnya
Wajib Pajak mengajukan permohonan ban- ding dan oleh Pengadilan Pajak
diputuskan besarnya pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp
650.000.000,00. Dalam hal ini Wajib Pajak akan dikenai sanksi administrasi berupa
denda sebesar 100% x (Rp 650.000.000 Rp 400.000.000) Rp 250.000.000,00. f
Apabila pengajuan keberatan atau banding dikabulkan sebagian atau seluruh nya,
yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, tersebut dikembalikan dengan
ditambah kelebihan pembayaran untuk paling imbalan bunga sebesar 2% sebagai
berikut: lama 24 (dua puluh empat) bulan dengan ketentuan untuk Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dihitung
sejak tanggal pembayaran yang nyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai
dengan diterb Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau

n Umum dan Tata Cara Perpajakan untuk Surat Ketetapan Pajak Nihil dan Surat
Ketetapan Pajak Lebih Ba- yar dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak
sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding.
BETULAN, PENGURANGAN, PENGHAPUSAN, ATAU PEMBATALAN 1.
Pembetulan Atas permohonan Wajib Pajak, atau karena jabatannya, Direktur Jenderal
Pajak da pat membetulkan: a. Surat ketetapan pajak (SKPKB, SKPKBT, SKPN,
SKPLB) b. Surat Tagihan Pajak, c. Surat Keputusan Pembetulan, d. Surat Keputusan
Keberatan, e. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, f Surat Keputusan
Penghapusan sanksi Administrasi, g. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak,
h. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau j. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga,
yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, danatau
kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan per
pajakan 2. Pengurangan, Penghapusan, atau Pembatalan Direktur Jenderal Pajak
karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapa a. mengurangkan atau
menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, dan kenaikan yang dengan
ketentuan perundang- undangan perpajakan dalam hal sanksi tersebut dikenakan
karena kekhilafan Wajib Pajak, atau bukan karena kesalahannya; b. mengurangkan
atau membatalkan surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pa jak yang tidak benar;
atau c. membatalkan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil pemerik-
saan yang dilaksanakan tanpa: penyampaian Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan;
atau pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dengan Wajib Pajak.
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan
pajak apabila: pajak; atau Wajib Pajak tidak mengajukan keberatan atas surat
ketetapan b. Wajib Pajak mengajukan keberatan tetapi keberatannya tidak
dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak karena tidak memenuhi persyaratan.
Permohonan pengurangan atau pembatalan surat ketetapan pajak yang tidak benar
tidak dapat diajukan dalam hal wajib Pajak mencabut pengajuan keberatan yan telah
disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak. DALUWARSA PENAGIHAN PAJAK
Hak untuk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya
penagihan pajak, daluwarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak
penerbitan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat
Ke- putusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.
Daluwarsa penagihan pajak tertangguh apabila: diterbitkan Surat Paksa; ada
pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak lang- sung. 3.
diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Ku- rang
Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud dalam; atau 4. dilakukan penyidikan tindak
pidana di bidang perpajakan. PEMERIKSAAN Direktur Jenderal Pajak berwenang
melakukan Pemeriksaan dengan tujuan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan untuk lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan 1. Pengertian Pemeriksaan adalah serangkaian
kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang
dilaksanakan secara objektif dan profesional ber sarkan suatu standar pemeriksaan
untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban

n Umum dan Tata Cara Pe perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan pera- turan perundang-undangan perpajakan. 2. Sasaran
Pemeriksaan Yang menjadi sasaran pemeriksaan maupun penyelidikan adalah untuk
mencari adanya: Interpretasi Undang-undang yang tidak benar. b. Kesalahan hitung. c.
Penggelapan secara khusus dari penghasilan. d. Pemotongan dan pengurangan tidak
sesungguhnya, yang dilakukan Wajib P jak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya. 3. Ruang Lingkup Pemeriksaan Pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan harus dilakukan terhadap Wajib Pajak
yang mengajukan permohonan pengembalian ke- lebihan pembayaran pajak. Selain
itu juga dapat dilakukan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Wajib Pajak
menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar, b. Wajib Pajak
yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan perib yaran pajak c. Wajib
Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan rugi d. Wajib Pajak
melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi, pem- bubaran, atau akan
meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya; e. Wajib Pajak melakukan perubahan
tahun buku atau metode pembukuan atau karena dilakukannya penilaian kembali
aktiva tetap; f Wajib Pajak tidak menyampaikan atau menyampaikan Surat
Pemberitahuan tetapi melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan dalam surat
teguran yang terpilih untuk dilakukan Pemeriksaan berdasarkan analisis risiko; atau g.
Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang terpilih untuk dilakukan
Pemeriksaan berdasarkan analisis risiko. Ruang lingkup Pemeriksaan untuk tujuan
lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
dapat meliputi penentuan, pencocokan, atau pengumpulan materi yang berkaitan
dengan tujuan Pemeriksaan. Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-un- dangan perpajakan dilakukan
dengan kriteria antara lain sebagai berikut:

perpajaka 58 a. berian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan selain yang dilaku
berdasarkan verifikasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang
mengatur mengenai tata cara Verifikasi; b. penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak
selain yang dilakukan berdasarkan Verifikasi sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan yang meng c. pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha
Kena Pajak selain yang mengenai tata Verifikasi; dilakukan berdasarkan Verifikasi
sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai tata
cara Verifikasi: d. Wajib Pajak mengajukan keberatan; penghasilan netto e,
pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan f pencocokan data
dan/atau alat keterangan; g. penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil; h.
penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai; pemeriksaan
dalam rangka penagihan pajak; j. penentuan saat produksi dimulai atau
memperpanjang jangka waktu kompen- sasi kerugian sehubungan dengan pemberian
fasilitas perpajakan, dan/atau k. memenuhi permintaan informasi dari negara mitra
Perjanjian Penghindaran Pa- jak Berganda. PENYIDIKAN 1. Pengertian Penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta me nemukan tersangkanya.
Penyidikan tindak pidana bidang perpajakan dilaksanakan menurut ketentuan yang
diatur dalam Undang-undang nomor 8/1981 KUHAP 2. Penyidik Penyidik dalam
tindak pidana perpajakan adalah pejabat Pegawai sipa Neg tertentu di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenan bagai penyidik untuk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang pemajakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan

59 etentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 3. wewenang Penyidik a. menerima,


mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan atau la- poran tersebut menjadi
lebih lengkap dan jelas; b meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan
mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; c. meminta keterangan dan
bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang
perpajakan d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak
pidana di bidang perpajakan; e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan
bukti pembukuan, pencata- tan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan
terhadap bahan bukti tersebut; f meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tin- dak pidana di bidang perpajakan; g menyuruh
berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat
pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identita orang, benda, dan/atau
dokumen yang dibawa b, memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di
bidang perpajakan: memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa
sebagai tersang ka atau saksi; j, menghentikan penyidikan; dan/atau k melakukan
tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang
perpajakan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan. 4. Kewajiban Penyidik
Penyidik sebagaimana memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan
hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Nega- ra
Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang
Hukum Acara Pidana. KEWAJIBAN DAN HAK WAJIB PAJAK Kewajiban Wajib
Pajak I. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP 2. Melaporkan usahanya untuk
dikukuhkan sebagai PKP

60 3. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar. ke Kantor p 4. dengan


benar (SPT diambil sendiri), dan memasukkan layanan Pajak dalam batas waktu yang
telah ditentukan. 5. Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan 6. Jika diperiksa wajib:
a. Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen menjadi
dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghas yang diperoleh,
kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek y terutang pajak. b.
Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipar- dang
perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. 7. Apabila dalam waktu
mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang
diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk meraha- siakan, maka
kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan
pemeriksaan. Hak-hak Wajib Pajak 1. Mengajukan surat keberatan dan surat banding.
2. Menerima tanda bukti pemasukan SPT. 3. Melakukan pembetulan SPT yang telah
dimasukkan. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT. 5. Mengajukan
permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak. 6. Mengajukan
permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan pajak. 7.
Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak. 8. Mengajukan permohonan
penghapusan dan pengurangan sanksi, serta pembetulan surat ketetapan pajak yang
salah 9. Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya 10.
Meminta bukti pemotongan atau pemungutan pajak. 11. Mengajukan keberatan dan
banding.

umum dan Tata Cara Perpajakan 61 ntuan AJIBAN PEMBUKUAN/PENCATATAN


1. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk me
ngumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa,
yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan rugi
untuk periode Tahun Pajak tersebut. Sedangkan pencatatan terdiri atas data yang
dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau
penghasilan bruto sebagai dasar unt menghitung jumlah yang terutang, termasuk
penghasilan yang pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final 2. Wajib Pajak
orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekeriaan bebas dan Wajib Pajak
badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. 3. Wajib Pajak yang
dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan
pencatatan, adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melaku- kan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peratura perundang-undangan
perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan netto d ngan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Netto dan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan
kegiatan usaha atau pekeriaan bebas. 4. Pembukuan atau pencatatan kegiatan a.
Diselenggarakan dengan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau usaha yang
sebenarnya. menggunakan huruf Latin, angka b. Harus diselenggarakan di Indonesia
dengan da Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun da!?m Bahasa Indonesia atau
lam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. stelsel akrual atau c.
Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan buku hanu stelsel
kas. Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun mendapat persetujuan
dari Direktur Jenderal Pajak. mengenai harta, terdiri atas catatan d. serta penjualan
dan pembelian jiban, modal, penghasilan dan biaya, k dapat dihitung besarnya pajak
yang terutang. uang selain Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata i
dapat diselenggarakan oleh mendapat uangan

62 f Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencata dan
dokumen lain termasuk pengolahan data dari pembukuan yang dike hasil a secara
elektronik atau secara program aplikasi online wajib disimpan se 10 (sepuluh) tahun
di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat tin Wajib Pajak orang pribadi, atau
di tempat kedudukan wajib Pajak badan. Sanksi Tidak Memenuhi Kewajiban
Pembukuan terutang ditetapkan de. Tidak mengadakan pembukuan pencatatan, pajak
yang ngan SKP ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100%, dan
khusus untuk PPh pasal 29 ditambah kenaikan sebesar 50%. b. Setiap orang yang
dengan sengaja: memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang
palsu tau seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya:
tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak
memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain; tidak
menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar pem- SA bukuan atau
pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang
dikelola secara elektronik atau diselenggarakan se- cara program aplikasi online di
Indonesia; dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling
lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empa) kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar. Pidana menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila sese-
orang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu)
tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. SANKSI
PERPAJAKAN sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti ditaati/dipatuhi
Atau dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif agar
Wajib Pajak tidak mel gar norma perpajakan.

entuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 63 palam undang-undang perpajakan dikenal
dua macam sanksi, yaitu sanksi Adminis- trasi dan sanksi Pidana. Ancaman terhadap
pelanggaran suatu norma perpajakan ada yang diancam dengan sanksi administrasi
saja, ada yang diancam dengan sanksi pidana saja, dan ada pula yang diancam dengan
sanksi administrasi dan sanksi pidana. Perbedaan sanksi administrasi dan sanksi
pidana adalah: Sanksi administrasi Merupakan pembayaran kerugian kepada negara,
khususnya yang berupa bunga d kenaikan. Sanksi pidana Merupakan siksaan atau
penderitaan. Merupakan suatu alat terakhir atau benteng hu kum yang digunakan
fiskus agar norma perpajakan dipatuhi. Menurut ketentuan dalam undang-undang
perpajakan ada 3 macam sanksi administrasi. yaitu berupa denda, bunga, dan
kenaikan SANKSI PIDANA Ketentuan sanksi pidana Menurut ketentuan dalam
undang-undang perpajakan ada 3 macam sanksi pi yaitu: denda pidana, kurungan, dan
penjara. Denda pidana Berbeda dengan sanksi berupa denda administrasi yang hanya
diancam/ dikenakan ke- pada Wajib Pajak yang melanggar ketentuan peraturan
perpajakan, sanksi berupa denda pidana selain dikenakan kepada Wajib Pajak ada juga
yang diancamkan kepada pejabat pajak atau kepada pihak ketiga yang melanggar
norma. Denda pidana dikenakan kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran
maupun bersifat kejahatan Pidana kurungan Pidana kurungan hanya diancamkan
kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran. Dapat ditujukan kepada wajib Pajak,
dan pihak ketiga. Karena pidana kurungan dian- camkan kepada si pelanggar norma
itu ketentuannya sama dengan yang diancamkan dengan denda pidana, maka
masalahnya hanya ketentuan mengenai denda pidana seki- an itu diganti dengan
pidana kurungan selama-lamanya sekian.

64 Pidana penjara merupakan hukuman perampasan ke Pidana penjara seperti halnya


pidana kurungan. Ancaman pidana pen merdekaan. Pidana penjara diancamkan
terhadap kejahatan. dan kepada wajib tidak ada yang ditujukan kepada pihak ketiga,
adanya kepada pejabat SANKSI ADMINISTRASI 1. Bunga 2% per bulan Cara
Membayar Menagih Masalah SSP/STP Pembetulan sendiri SPT (SPT Tahunan atau
SPT Masa) tetapi belum diperiksa Dari penelitian rutin: SSP/STP PPh pasal 25
tidak/kurang dibayar. SSPISTP PPh pasal 21, 22, 23 dan 26 serta PPn yang ter- lambat
dibayar. SSP/STP sKPKB, STP, SKPKBT tidak/kurang dibayar atau terlambat
dibayar. SSP/STP SPT salah tulis/salah hitung. 3 Dilakukan pemeriksaan, pajak
kurang dibayar SSP/SPKB (maksimum 24 bulan) 4 Pajak diangsurlditunda: SKPKB,
SKKPP, STP SSPISTP 5 SPT tahunan PPh ditunda, pajak kurang dibayar SSPISTP
Catatan 1. Sanksi administrasi berupa b dapat dibagi menjadi bunga pembayaran, bu
nga penagihan dan bunga ketetapan. Bunga penagihan adalah bunga karena
pembayaran pajak yang ditagih dengan surat tagihan berupa STP, S SKPKBT tidak
dilakukan dalam batas wak- tu pembayaran. Bunga penagihan umumnya ditagih
dengan STP (ihat pasal 19 (1) KUP) 3. Bunga ketetapan adalah bunga yang
dimasukkan dalam surat ketetapan p bahan pokok maksimum 24 bulan. ketetapan
umumnya ditagih dengan SKPKB lihat (2) KUP tam

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 65 2. Denda Administrasi Cara


Membayar/Menagih No Masalah l Tidak terlambat memasukkan menyam- STP
ditambah Rp 100.000,00 atau Rp 500.000,00 atau Rp paikan SPT 1.000.000,00 2
Pembetulan sendiri, SPT tahunan atau SSP ditambah 1500 SPT masa tetapi belum
disidik 3 Khusus PPN: SSP/SPKPB (ditambah 20% a. Tidak melaporkan usaha b.
Tidak membuat/mengisi faktur denda dari dasar pengenaan) Melanggar larangan
membuat Fak tur (PKP yang tidak dikukuhkan) 4 Khusus PBB a. STP, SKPKB tidak
kurang dibayar STP+denda 2% (maksimum 24. bulan atau terlambat dibayar b.
Dilakukan pemeriksaan, pajak ku sKPKB+denda administrasi dari selisih pajak yang
terutang. rang dibayar 3. Kenaikan 50% dan 100% Cara Menagih Masalah
Dikeluarkan SKPKB dengan penghitungan secara jabatan a. Tidak memasukkan SPT
SK PKB ditambah kenaikan 50% SPT tahunan (PPh 29) 2) SPT tahunan (PPh 21, 23,
2 dan SKPKB ditambah kenaikan 100% PPN) b. Tidak menyelenggarakan
pembukuan sKPKB sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 50% PPh pasal 29 100%
PPh pasal 21, 23, 26 dan PPN KUP c. Tidak memperlihatkan buku/doku SK PKB
men, tidak memberi keterangan, tidak 50% PPh pasal 29 100% PPh pasal 21, 23, 26
dan PPN memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan, sebagaimana dimaksud d.
pasal 29 50% Pengajuan Keberatan ditolak ditambah skPKB ditambah kenaikan e.
Pengajuan banding ditolak/ditambah SK PKB ditambah kenaikan 100%

66 Cara Menagih Masalah 2 Dikeluarkan SKPKBT karena: ditemukan SKPKBT


100% data baru, data semula yang belum terung- kap setelah dikeluarkan SKPKB SK
PKB 100% 3 Khusus PPN Dikeluarkan SKPKB karena pemeriksaan, di mana PKP
tidak seharusnya meng- kompensasi selisih lebih, menghitung tarif 0% diberi restitusi
pajak. SANKSI PIDANA Ketentuan mengenai sanksi pidana di bidang perpajakan
diatur/ditetapkan dalam UUNo. 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir
dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
dan UU No. 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 12 Tahun 1994
tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Yang Dikenakan Norma Sanksi Pidana Sanksi
Pidana I. Setiap orang l. Kealpaan tidak menyampaikan Didenda paling sedikit l (satu)
kali SPT atau menyampaikan SPT jumlah pajak terutang tidak yang tetapi tidak
benarlengkap atau atau kurang dibayar dan paling melampirkan keterangan yang
banyak 2 (dua) kali jumlah pajak tidak benar. terutang yang tidak atau kurang dibayar,
atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau 2. sengaja paling lama 1
(satu) tahun. SPT, tidak menyampaikan Pidana penjara paling singkat 6 tidak
meminjamkan pem (enam) bulan dan paling lama 6 bukuan, catatan atau dokumen
(enam) tahun dan denda paling lain, dan hal-hal lain sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak
mana dimaksud dalam pasal 39 terutang yang tidak atau kurang KUP. dibayar dan
paling banyak 4 (em- pat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar
Pidana tersebut ditambahkan (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila
seseorang melakukan lagi tindak pidana di

ntuan Umum dan Tata Cara akan 67 Yang Dikenakan Norma Sanksi Pidana Sanksi
Pidana bidang perpajakan sebelum lewat l (satu) tahun, terhitung sejak se- lesainya
menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. 3. Melakukan percobaan untuk Pidana
penjara paling singkat 6 melakukan tindak pidana menya- (enam) bulan dan paling
lama lahgunakan atau menggunakan 2 (dua) tahun dan denda paling tanpa hak Nomor
Pokok Wajib sedikit 2 (dua) kali jumlah testi Pajak atau Pengukuhan Peng tusi yang
dimohonkan dan/atau usaha Kena Pajak sebagaimana, kompensasi atau pengkreditan
atau menyampaikan Surat Pem- yang dilakukan dan paling banyak beritahuan
dan/atau keterangan 4 (empat) kali jumlah restitusi yang yang isinya tidak benar atau
dimohonkan dan/atau kompensasi tidak lengkap, dalam rangka atau pengkreditan
yang dilakukan mengajukan permohonan resti- tusi atau melakukan kompensasi pajak
atau pengkreditan pajak. 4. Sengaja tidak menyampaikan Pidana kurungan selama-
lamanya SPOP atau menyampaikan SPOP 6 (enam) bulan dan/atau setinggi- tetapi
isinya tidak benar seba tingginya 2 (dua) kali jumlah paja gaimana dimaksudkan
dalam terutang. pasal 24 UU PBB. 5. Dengan sengaja tidak menyam a. Pidana penjara
selama-lamanya paikan SPOP, memperlihatkan/ 2 (dua) tahun dan atau denda
setinggi-tingginya 5 (lima) kali meminjamkan surat/dokumen palsu, dan hal-hal lain
sebagai jumlah pajak yang terutang. mana diatur dalam pasal 25 (l) b. Sanksi (a dilipat
duakan jika sebelum lewat satu tahun terhi tung sejak selesainya menjalani
sebagian/seluruh pidana yang dijatuhkan melakukan tindak pidana lagi Pidana
kurungan selama-lamanya Kealpaan tidak memenuhi II. Pejabat kewajiban
merahasiakan hal seba 1 (satu) tahun dan/atau denda se- gaimana dimaksud dalam
pasal 34 tinggi-tingginya Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) KUP (tindak
pelanggaran)

Sanksi Pidana Yang Dikenakan Norma Sanksi Pidana Sengaja tidak memenuhi
kewajib- Pidana penjara selama-lamanya an merahasiakan hal sebagaimana 2 (dua)
tahun dan/atau denda se- dimaksudkan dalam pasal nggi-tingginya Rp 50.000.000,00
KUP (tindak kejahatan). 34 UU rupiah). lima puluh juta Ill. Pihak Ketiga sengaja
tidak memperlihatkan Pidana Kurungan selama-lamanya atau tidak meminjamkan
surat atau 1 (satu) tahun dan/atau dokumen lainnya dan/atau tidak setinggi-tingginya
Rp 2.000.000,00 menyampaikan keterangan yang (dua juta rupiah) diperlukan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 (1) huruf d dan e UU PBB Catatan: 1. Pidana
penjara dan/atau denda pidana (karena melakukan tindak kejahatan terhadap
perpajakan) dapat dilipatduakan, apabila melakukan tindak pidana perpajakan sebe-
lum lewat satu tahun, terhitung sejak selesainya menjalani sebagian atau seluruh
pidana penjara yang dijatuhkan. 2. Penuntutan tindak pidana terhadap pejabat hanya
dilakukan apa ada pengaduan dari orang yang kerahasiaannya dilanggar. Jadi pidana
terhadap pejabat merupakan delik aduan. Tindak pidana perpajakan tidak dapat di
setelah lampau 5 tahun.