Anda di halaman 1dari 22

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Obesitas mulai menjadi masalah kesehatan diseluruh dunia, bahkan WHO
menyatakan bahwa obesitas sudah merupakan suatu epidemi global, sehingga obesitas
sudah merupakan suatu problem kesehatan yang harus segera ditangani. Obesitas adalah
kondisi berlebihnya lemak dalam tubuh yang sering dinyatakan dengan istilah gemuk
atau berat badan berlebih (Anderson, 2011). Menurut WHO (2013) mendefinisikan
obesitas adalah akumulasi abnormal lemak tubuh yang dapat menyebabkan risiko bagi
kesehatan. Obesitas dan overweight merupakan dua hal yang berbeda, namun demikian
keduanya sama-sama menunjukan adanya penumpukan lemak yang berlebihan dalam
tubuh, yang ditandai dengan peningkatan nilai Indek
Obesitas pada anak sampai kini masih merupakan masalah, satu dari 10 (sepuluh)
anak di dunia mengalami obesitas dan peningkatan obesitas pada anak dan remaja saat
ini sejajar dengan orang dewasa (WHO, 2013). Lebih dari 9 juta anak di dunia berusia 6
tahun ke atas mengalami obesitas. Sejak tahun 1970, obesitas kerap meningkat di
kalangan anak, hingga tahun 2007 angkanya terus melonjak dua kali lipat pada anak usia
2-5 tahun dan usia 12-19 tahun, bahkan meningkat tiga kali lipat pada anak usia 6-11
tahun. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008-2010, kasus
obesitas di seluruh dunia bertambah lebih dari dua kali lipat sejak 1980. Pada tahun
2008, lebih dari 200 juta orang laki-laki dan hampir 300 juta perempuan mengalami
obesitas, serta hampir 43 juta anak dibawah usia 5 tahun kelebihan berat badan pada
tahun 2010. Hal ini didukung oleh data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 yang
menunjukan prevalensi obesitas dan obesitas pada anak umur 5 sampai 12 tahun di
Indonesia sebesar 18,8 %, dengan persentase gemuk 10% dan obesitas 8,8% meningkat
dari tahun 2012 yang ditemukan yaitu 9,2% dan Sumatera Barat termasuk dalam 10
besar provinsi yang mengalami obesitas tertinggi, menempati urutan ke-10 dan yang
tertinggi pertama yaitu adalah DKI Jakarta dengan prevalensi obesitas pada anak umur 5-
12 tahun sebesar 26,6% dan di Sumatera Barat sebesar 7,7%.
Hasdianah (2014) menuliskan bahwa anak yang mengalami obesitas menghadapi
risiko masalah kesehatan yang berat seperti hipertensi, diabetes, osteoartritris, apneu
tidur, asthma dan penyakit kandung empedu. Obesitas merupakan penyakit yang
kompleks karena diantaranya terkait hereditas, pilihan makanan, aktivitas fisik, pengaruh
media dan pengaruh keluarga serta sosial. Berat badan lahir merupakan penyebab
2

obesitas selain faktor lainnya, seperti genetik, kenaikan berat badan saat bayi, aktivitas
fisik, nutrisi, tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendapatan keluarga serta pola makan.
Riwayat berat saat lahir memiliki hubungan yang positif dengan obesitas saat masa anak-
anak dan saat dewasa nantinya. Bila saat lahir sudah memiliki berat badan yang lebih
atau lahirnya besar maka akan ada kemungkinan mengalami obesitas nantinya.
Pertumbuhan secara fisik dapat berupa perubahan tentang besar, jumlah, dan ukuran
besar kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan organ tubuh
(Hidayat, 2008).
Permasalahan obesitas tidak dapat dianggap mudah begitu saja, karena obesitas
dan obesitas pada anak berpotensi meningkatkan resiko timbulnya berbagai gangguan
kesehatan. Sehingga, sangat perlu pemerintah menekan angka prevalensi obesitas pada
balita sedini mungkin dengan beberaa program dan juga pemerintah diharapakan lebih
menegaskan pada masyarakat untuk ikut berperan yaitu dengan meningkatkan
pemahaman serta kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Dan saat ini pun,
pemerintah telah mencanangkan program SUN (Scalling Up Nutrition) yaitu suatu
program gerakan yang difokuskan pada Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 hari
pertama kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan pengertian obesitas pada anak ?
2. Apa saja penyebab obesitas pada anak ?
3. Apa saja tanda dan gejala obesitas pada anak ?
4. Apa saja faktor risiko obesitas pada anak ?
5. Apa saja komplikasi obesitas pada anak ?
6. Apa saja pencegahan obesitas pada anak ?
7. Apa saja penanganan obesitas pada anak?
8. Bagaimana kasus obesitas pada anak ?
9. Bagaimana pengkajian, diagnosa, perencanaan, dan evaluasi obesitas pada anak ?
10. Bagaimana satuan acara penyuluhan obesitas pada anak ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian obesitas pada anak
2. Mengetahui penyebab obesitas pada anak
3. Mengetahui tanda dan gejala obesitas pada anak
4. Mengetahui faktor risiko obesitas pada anak
5. Mengetahui komplikasi obesitas pada anak
6. Mengetahui pencegahan obesitas pada anak
7. Mengetahui penanganan obesitas pada anak
8. Mengetahui bagaimana kasus obesitas pada anak
9. Mengetahui bagaimana pengkajian, diagnosa, perencanaan, dan evaluasi obesitas
pada anak
3

10. Mengetahui bagaimana satuan acara penyuluhan obesitas pada anak

BAB 2
TINJAUAN KASUS

2.1 Teori Kasus


2.1.1 Pengertian
Obesitas dapat diartikan penimbunan lemak tubuh yang berlebihan sehingga
berat badan anak balita jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan anak.
Overweight adalah suatu keadaan berat badan anak balita yang melebihi berat badan
normal atau seharusnya. Dengan demikian, anak yang menderita obesitas pasti
mengalami kelebihan berat badan, tetapi anak yang mengalami kelebihan berat badan
belum tentu menderita obesitas. (Dina, 2003)
2.1.2 Penyebab Obesitas pada Anak
4

1. Faktor Genetik (Keturunan)


Kemungkinan seorang anak beresiko menderita obesitas sebesar 80%, jika
kedua orangtuanya menderita obesitas sebesar 40%. Individu yang memiliki
kecepatan metabolisme lebih lambat memiliki resiko lebih besar menderita
obesitas. Fakta bahwa beberapa gen terlibat dalam resiko terjadinya obesitas pada
anak. (Wahyu, 2009)
2. Faktor Aktivitas
Pola aktivitas anak yang minim berpengaruh besar dalam peningkatan resiko
obesitas, hal ini dikarenakan mereka enggan melakukan aktivitas sehari-hari
sehingga menyebabkan tubuhnya kurang membakar kalori yang ada dalam
tubuhnya. Oleh karena itu, jika asupan energi berlebih tanpa diimbangi dengan
aktivitas fisik yang seimbang maka seorang anak akan mudah menderita obesitas.
(Dina, 2003)
3. Faktor Hormonal
Obesitas bisa juga disebabkan oleh faktor hormonal, misalnya menurunnya
fungsi kelenjar tiroid dalam tubuh. Akibatnya, metabolisme dalam tubuh menjadi
lambat, artinya kalori atau energi yang dikeluarkan tubuh berkurang sehingga
terjadi peningkatan timbunan lemak dalam tubuh. Berat badan pun bertambah,
cepat atau lambat, obesitas pun pasti terjadi.
Hormon insulin yang diproduksi oleh pancreas dipicu secara berlebihan
(hiperinsuline) karena konsumsi makanan sehari-hari dalam jumlah berlebihan,
khususnya makanan berkadar kalori tinggi. Peningkatan hormone insulin
menyebabkan sintesis lemak dalam tubuh semakin meningkat, yang berarti
timbunan lemak dalam tubuh juga meningkat sebagai penyebab terjadinya obesitas.
Penurunan aktivitas kelenjar kelamin atau disebut hipogonadisme juga
menyebabkan lambatnya metabolisme tubuh. Hal ini berarti tubuh sangat hemat
dalam mengeluarkan kalori sehingga terjadi peningkatan timbunan lemak tubuh.
Hiperaktivitas atau hiperfungsi dari kelenjar adrenal kortikal juga menyebabkan
kelainan metabolisme (sindrom cushing), ternyata dapat menyebabkan obesitas
yang sering terjadi pada anak-anak. (Dina, 2003)
4. Faktor Psikologis
Faktor psikologis mempengaruhi kebiasaan makan anak, misalnya kepuasan
anak dengan mengonsumsi makanan yang sedang tren, yaitu fast food (fried
chicken, pizza, atau hamburger). Tentu saja, kegemaran anak-anak mengonsumsi
fast food yang tinggi kalori secara berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat
badan disertai dengan kenaikan timbunan lemak tubuh.
5

Aspek psikologis dari orangtua juga dapat memicu terjadinya obesitas pada
anak, misalnya adanya anggapan bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat
dan menunjukkan keadaan sosial ekonomi keluarga. (Dina, 2003)
5. Pola Makan
Jika seorang anak mengkonsumsi makanan dengan kandungan energi sesuai
yang dibutuhkan tubuhnya oleh sebab itu maka tidak ada energi yang disimpan.
Sebaliknya, jika anak mengonsumsi energi melebihi yang dibutuhkan tubuh maka
kelebihan energi akan disimpan sebagai cadangan energi. Cadangan energi secara
berkesinambungan ditimbun setiap hari yang akhirnya akan menimbulkan obesitas.
(Wahyu, 2009)
2.1.3 Tanda dan Gejala
1. Wajah membulat
2. Pipi tembem
3. Dagu rangkap
4. Leher relatif pendek
5. Dada membusung, dengan payudara yang membesar karena mengandung
jaringan lemak
6. Perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat
7. Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian dalam
saling menempel dan bergesekan. Akibatnya, timbullah lecet
8. Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalamjaringan lemak
(burried penis)
2.1.4 Faktor Risiko
Banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya risiko terjadinya kelebihan berat
badan pada anak:
a. Pola makan.
Mengkonsumsi makanan berkalori tinggi, makanan tinggi lemak biasanya tinggi
kalori. Minuman bersoda, kudapan, permen dan makanan penutup dapat juga
menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan. Makanan dan minuman seperti
ini biasanya memiliki kandungan kalori dan gula atau garam yang tinggi.
b. Jarang bergerak
Anak-anak yang jarang bergerak akan lebih mudah mengalami kenaikan berat
badan karena mereka tidak membakar kalori melalui aktivitas fisik.
c. Masalah genetik
Bila anak anda datang dari sebuah keluarga yang rata-rata anggotanya mengalami
kegemukan, dia mungkin secara genetik akan mengalami kelebihan berat badan,
6

terutama bila berada dalam lingkungan dimana makanan tinggi kalori selalu
tersedia dan aktivitas fisik jarang dilakukan.
d. Faktor psikologis
Ada sebagian anak-anak yang makan terlalu banyak sebagai pelampiasan bila ada
masalah, terutama masalah emosi, seperti stres atau kebosanan.
e. Faktor keluarga/sosial
Kebiasaan orangtua dalam menyiapkan makanan di rumah.
f. Anak cacat
Anak aktivitasnya kurang karena problem fisik atau cara mengasuh.
2.1.5 Komplikasi
Berbagai keadaan yang erat hubungannya dengan obesitas, baik yang terjadi pada
masa bayi maupun pada masa dewasa antara lain:
a. Terhadap kesehatan
Obesitas ringan sampai sedang, morbiditasnya kecil pada masa anak-anak.
Tetapi bila obesitas masih terjadi masa dewasa, maka morbiditas maupum
mortalitas akan meningkat. Terdapat korelasi positif antara tingkat obesitas
dengan berbagai penyakit infeksi, kecuali TBC.
b. Saluran pernafasan
Pada bayi obesitas merupakan resiko terjadinya infeksi saluran pernafasan
bagian bawah, karena terbatasnya kapasitas paru-paru. Adanya hipertrofi tonsil
dan adenoid akan mengakibatkan obstruksi saluran nafas bagian atas, sehingga
mengakibatkan anoksia dan saturasi oksigen rendah yang disebut sindrom chubby
puffer. Obstruksi kronis saluran pernafasan dengan hipertrofi dan adenoid akan
mengakibatkan gangguan tidur, gejala-gejala jantung dan kadar oksigen dalam
darah yang abnormal. Keluhan lainnya adalah nafas yang pendek.
c. Kulit
Kulit sering lecet karena gesekan. Anak merasa gerah atau panas sering
disertai miliaria, maupun jamur pada lipatan-lipatan kulit.
d. Ortopedi
Anak yang obesitas pergerakannya lambat. Sering terdapat kelainan ortopedi
seperti legg-perthee, gemu valgum, slipped femoral capital epiphyses, tibia vara
dll.
e. Efek psikologis
Kurang percaya diri. Anak pada masa remaja yang obesitas biasanya pasif
dan depresif. Karena sering tidak dilibatkan pada kegiatan yang dilakukan oleh
teman sebayanya. Juga sulit mendapatkan pacar karena merasa potongan
tubuhnya jelek, tidak modis, merasa rendah diri sehingga mengisolasi dari
pergaulan dengan teman- temannya.
2.1.6 Pencegahan
7

a. Pencegahan harus sedini mungkin sejak dari bayi, yaitu dengan memberikan ASI.
Bayi yang minum ASI jarang yang menjadi obesitas karena komposisi ASI
mempunyai mekanisme tersendiri dalam mengontrol berat badan bayi.
b. Memberikan contoh yang baik dengan cara memperhatikan makanan yang anda
makan sehingga anda dapat tetap konsisten menjaga berat badan ideal
c. Aktif dan mengundang anak untuk bergabung menjalankan kebiasaan yang sehat
bersama-sama.
d. Harus menyadari, bahwa tekanan yang terlalu besar pada kebiasaan makan dan
berat badan anak anda dapat memberi efek terbalik dimana si anak makan terlalu
banyak, atau mungkin membuat mereka rawan terjangkit kelainan pada pola
makan.
e. Tidak perlu menjadi terlalu kritis, anda hanya perlu menekankan pada apa yang
baik, seperti senangnya bisa bermain di luar rumah, berbagai variasi buah segar
yang bisa anda dapatkan sepanjang tahun.
f. Tekankan keuntungan dari banyak beraktivitas selain dari membantu mereka
untuk menjaga berat badan, contohnya, banyak bergerak membuat jantung, paru-
paru dan otot-otot lain menjadi lebih kuat.
2.1.7 Penanganan
a. Makan dengan Pola Makan yang Sehat
1. Pilihlah buah dan sayuran dibandingkan makanan cepat saji. Selalu sediakan
kudapan yang sehat. Dan jangan pernah menggunakan makan sebagai hadiah
atau hukuman.
2. Batasi pembelian minuman yang manis, termasuk juga minuman yang
memiliki rasa buah. Minuman seperti ini hanya memberikan sedikit nutrisi
dibandingkan dengan kalori tinggi yang mereka miliki. Minuman ini juga
dapat membuat anak anda merasa terlalu kenyang untuk makan makanan yang
lebih sehat.
3. Pilih resep dan metode memasak yang menggunakan lemak sesedikit
mungkin. Contohnya, anda bisa memanggang ayam bukan menggorengnya.
4. Sajikan makanan berwarna-wani di atas meja: sayuran hijau dan kuning, buah
aneka warna, dan roti yang terbuat dari whole-grain. Batasi sajian karbohidrat
berwarna putih: beras, pasta, roti putih dan gula (sebagai makanan penutup).
5. Duduk bersama untuk menikmati makanan sekeluarga. Buat makan bersama
sebagai kebiasaan saat untuk berbagi berita dan cerita. Jangan makan di depan
televisi atau komputer, yang akan menyebabkan anak mengunyah tanpa
berpikir.
8

b. Jangan sampai jatuh ke dalam perangkap kebiasaan makan yang kurang baik:
1. Jangan berikan permen atau jajanan sebagai hadiah bagi anak yang
berkelakuan baik atau untuk menghentikan kelakuan buruk. Cari solusi lain
untuk mengubah perilaku mereka.
2. Jangan biasakan anak untuk selalu menghabiskan isi piringnya. Bayipun akan
menolak botol susu atau ASI sebagai tanda bahwa mereka sudah kenyang.
Bila anak-anak sudah cukup kenyang, jangan paksa mereka untuk
melanjutkan makan.

3. Jangan berbicara soal makanan yang jelek atau sama sekali melarang adanya
permen dan makanan favorit dari menu makanan anak yang mengalami
kelebihan berat badan. Anak-anak bisa berontak dan mengkonsumsi makanan
terlarang tersebut dalam jumlah banyak di luar rumah atau menyelundupkan
makanan tersebut ke dalam rumah.
c. Meningkatkan Aktivitas Fisik
1. Batasi waktu santai di depan layar televisi menjadi hanya dua jam dalam
sehari. Aktivitas diam lainnya (main video games dan komputer atau bicara di
telepon) juga harus dibatasi.
2. Tekankan pada aktivitas bukan olahraga. Aktivitas anak anda tidak harus
berupa program olahraga yang terstruktur, tujuannya hanya agar mereka tetap
bergerak. Aktivitas bermain bebas seperti bermain petak-umpet, tarik tambang
atau lompat tali dapat menjadi cara yang jitu untuk membakar kalori dan
meningkatkan stamina.
3. Temukan aktivitas yang disukai oleh anak anda.
4. Bila anda ingin memiliki anak yang aktif, anda sendiri harus aktif. Gunakan
tangga bukan lift atau eskalator dan parkir mobil anda di tempat yang agak
jauh dari toko.
5. Buat pekerjaan rumah tangga sebagai kegiatan keluarga.
6. Buat aktivitas yang bervariasi. Biarkan anak-anak secara bergantian memilih
aktivitas apa yang akan mereka lakukan hari atau minggu ini. Latihan
memukul, boling, dan renang, semua ikut dihitung.
7. Buat sebagai komitmen keluarga. Anak-anak tidak dapat mengubah sendiri
pola makan dan pola aktivitas mereka. Mereka membutuhkan dukungan dan
dorongan dari keluarga dan pengasuh mereka.
9

2.2 Kasus
Posted: 02/03/2013 11:05

Menkes Nafsiah Mboi. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)


Liputan6.com, Jakarta : Masalah gizi adalah hal yang sangat penting dan
mendasar dari kehidupan manusia. Namun, ternyata bukan hanya masalah kekurangan
gizi yang menjadi masalah di Indonesia tapi kelebihan gizi yang dinilai juga merupakan
penyebab kematian utama Indonesia.
Seperti dicatat dari data Riskesdas, tahun 2010 prevalensi gizi kurang pada balita di
Indonesia masih sebesar 17,9 persen dan stunting masih 35,6 persen.
Di samping itu, diperkirakan 14.2% balita di Indonesia mengalami gizi lebih dan
kegemukan (obesitas). Bahkan, pada kelompok dewasa, prevalensi gizi lebih telah
mencapai 21%.
Kelebihan gizi merupakan risiko utama penyakit tidak menular (PTM) yang juga
merupakan salah satu penyebab utama kematian di Indonesia, ujar Menteri Kesehatan,
Nafsiah Mboi seperti dikutip dari siaran Pers, Sabtu (2/3/2013).
Menurut Menkes, walaupun Indonesia sudah berhasil menurunkan angka gizi
buruk, tapi masih butuh usaha ekstra untuk mencapai target MDGs. Kita sudah berhasil
menurunkan angka gizi buruk. Tetapi untuk menurunkan membutuhkan extra effort
untuk mencapai target MDGs, kata Menkes.
Seperti diketahui, kekurangan gizi di Indonesia selain dapat menimbulkan masalah
kesehatan (morbiditas, mortalitas dan disabilitas), juga menurunkan kualitas sumber daya
10

manusia (SDM) suatu bangsa. Bahkan, kekurangan gizi dapat menjadi ancaman bagi
ketahanan dan kelangsungan hidup suatu bangsa.
Untuk menanggulangi perbaikan gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi, saat
ini pemerintah bersama organisasi profesi dan organisasi masyarakat, sedang melakukan
inisiatif baru dalam bentuk suatu gerakan yang difokuskan pada Percepatan Perbaikan
Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Scaling Up Nutrition (SUN). "Gerakan ini
mengintegrasikan intervensi langsung dan intervensi tidak langsung yang
diselenggarakan oleh berbagai sektor pembangunan,"tambah Nafsiah.

2.3 Pengkajian
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008-2010, kasus
obesitas di seluruh dunia bertambah lebih dari dua kali lipat sejak 1980. Pada tahun
2008, lebih dari 200 juta orang laki-laki dan hampir 300 juta perempuan mengalami
obesitas, serta hampir 43 juta anak dibawah usia 5 tahun kelebihan berat badan pada
tahun 2010. Hal ini didukung oleh data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 yang
menunjukan prevalensi obesitas dan obesitas pada anak umur 5 sampai 12 tahun di
Indonesia sebesar 18,8 %, dengan persentase gemuk 10% dan obesitas 8,8% meningkat
dari tahun 2012 yang ditemukan yaitu 9,2% dan Sumatera Barat termasuk dalam 10
besar provinsi yang mengalami obesitas tertinggi, menempati urutan ke-10 dan yang
tertinggi pertama yaitu adalah DKI Jakarta dengan prevalensi obesitas pada anak umur 5-
12 tahun sebesar 26,6% dan di Sumatera Barat sebesar 7,7%.

2.4 Diagnosa
Obesitas pada anak

2.5 Perencanaan
a. Makan dengan Pola Makan yang Sehat
1. Pilihlah buah dan sayuran dibandingkan makanan cepat saji. Selalu sediakan
kudapan yang sehat. Dan jangan pernah menggunakan makan sebagai hadiah atau
hukuman.
2. Batasi pembelian minuman yang manis, termasuk juga minuman yang memiliki
rasa buah. Minuman seperti ini hanya memberikan sedikit nutrisi dibandingkan
dengan kalori tinggi yang mereka miliki. Minuman ini juga dapat membuat anak
anda merasa terlalu kenyang untuk makan makanan yang lebih sehat.
11

3. Pilih resep dan metode memasak yang menggunakan lemak sesedikit


mungkin. Contohnya, anda bisa memanggang ayam bukan menggorengnya.
4. Sajikan makanan berwarna-wani di atas meja: sayuran hijau dan kuning, buah
aneka warna, dan roti yang terbuat dari whole-grain. Batasi sajian karbohidrat
berwarna putih: beras, pasta, roti putih dan gula (sebagai makanan penutup).
5. Duduk bersama untuk menikmati makanan sekeluarga. Buat makan bersama
sebagai kebiasaan saat untuk berbagi berita dan cerita. Jangan makan di depan
televisi atau komputer, yang akan menyebabkan anak mengunyah tanpa berpikir.
b. Jangan sampai jatuh ke dalam perangkap kebiasaan makan yang kurang baik:
1. Jangan berikan permen atau jajanan sebagai hadiah bagi anak yang berkelakuan
baik atau untuk menghentikan kelakuan buruk. Cari solusi lain untuk mengubah
perilaku mereka.
2. Jangan biasakan anak untuk selalu menghabiskan isi piringnya. Bayipun akan
menolak botol susu atau ASI sebagai tanda bahwa mereka sudah kenyang. Bila
anak-anak sudah cukup kenyang, jangan paksa mereka untuk melanjutkan makan.

3. Jangan berbicara soal makanan yang jelek atau sama sekali melarang adanya
permen dan makanan favorit dari menu makanan anak yang mengalami kelebihan
berat badan. Anak-anak bisa berontak dan mengkonsumsi makanan terlarang
tersebut dalam jumlah banyak di luar rumah atau menyelundupkan makanan
tersebut ke dalam rumah.
c. Meningkatkan Aktivitas Fisik
1. Batasi waktu santai di depan layar televisi menjadi hanya dua jam dalam sehari.
Aktivitas diam lainnya (main video games dan komputer atau bicara di telepon)
juga harus dibatasi.
2. Tekankan pada aktivitas bukan olahraga. Aktivitas anak anda tidak harus berupa
program olahraga yang terstruktur, tujuannya hanya agar mereka tetap
bergerak. Aktivitas bermain bebas seperti bermain petak-umpet, tarik tambang atau
lompat tali dapat menjadi cara yang jitu untuk membakar kalori dan meningkatkan
stamina.
3. Temukan aktivitas yang disukai oleh anak anda.
4. Bila anda ingin memiliki anak yang aktif, anda sendiri harus aktif. Gunakan tangga
bukan lift atau eskalator dan parkir mobil anda di tempat yang agak jauh dari toko.
5. Buat pekerjaan rumah tangga sebagai kegiatan keluarga.
12

6. Buat aktivitas yang bervariasi. Biarkan anak-anak secara bergantian memilih


aktivitas apa yang akan mereka lakukan hari atau minggu ini. Latihan memukul,
boling, dan renang, semua ikut dihitung. Yang penting anda melakukan suatu
aktivitas.
7. Buat sebagai komitmen keluarga. Anak-anak tidak dapat mengubah sendiri pola
makan dan pola aktivitas mereka. Mereka membutuhkan dukungan dan dorongan
dari keluarga dan pengasuh mereka.

2.6 Evaluasi
Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan
Saat ini, pemerintah bersama organisasi profesi dan organisasi masyarakat sedang
melakukan inisiatif baru dalam bentuk suatu gerakan untuk menanggulangi perbaikan
gizi baik kekurangan maupun kelebihan gizi, yang mana memfokuskan pada Percepatan
Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Scalling Up Nutrition (SUN)
(2012).
Sasaran dari gerakan ini yang ingin dicapai pada akhir tahun 2025 yang disepakati
yaitu sebagai berikut :
1. Menurunkan proporsi anak balita yang stunting sebesar 40 persen
2. Menurunkan proporsi anak balilta yang menderita kurus (wasting) kurang dari 5
persen.
3. Menurunkan anak yang lahir berat badan rendah sebesar 30 persen
4. Tidak ada kenaikan proporsi anak yang mengalami gizi lebih
5. Menurunkan proporsi ibu usia subur yang menderita anemia sebanyak 50 persen
6. Meningkatkan prosentase ibu yang memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan paling
kurang 50 persen
Dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan untuk penunjang program 1000 Hari Pertama
Kehidupan dibagi menjadi dua yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi
spesifik merupakan tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus
untuk kelompok 1000 HPK. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor
kesehatan. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu
relatif pendek.

BAB 3
13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Obesitas pada Anak


Sasaran : Masyarakat sekitar Puskesmas Desa Krembangan
Tempat : Puskesmas Krembangan
Hari/tanggal : Senin / 10 Oktober 2016
Pukul : 08.00 - 08.30 WIB
Waktu : 30 menit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Pada akhir proses penyuluhan, masyarakat mampu memahami obesitas pada anak

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah selesai megikuti penyuluhan, maka masyarakat mampu :
a. Mengetahui pengertian obesitas pada anak
b. Mengetahui penyebab obesitas pada anak
c. Mengetahui tanda dan gejala obesitas pada anak
d. Mengetahui faktor risiko obesitas pada anak
e. Mengetahui komplikasi obesitas pada anak
f. Mengetahui pencegahan obesitas pada anak
g. Mengetahui penanganan obesitas pada anak

III. SASARAN
Masyarakat sekitar Puskesmas Desa Krembangan

IV. MATERI
1. Pengertian obesitas pada anak
2. Penyebab obesitas pada anak
3. Tanda dan gejala obesitas pada anak
4. Faktor risiko obesitas pada anak
5. Komplikasi obesitas pada anak
6. Pencegahan obesitas pada anak
7. Penanganan obesitas pada anak

V. METODE
a. Ceramah
b. Tanya jawab

VI. MEDIA
a. Power point
b. LCD

VII. KEGIATAN PENYULUHAN


NO WAKTU KEGIATAN
PENYULUHAN PESERTA
14

1. 5 Menit Pembukaan
a. Salam pembuka - Menjawab salam
b. Perkenalan - Memperhatikan
c. Apersepsi - Berpartisipasi aktif
d. Mengkomunikasian tujuan - Memperhatikan

2. 15 menit Kegiatan inti penyuluhan


a. Menjelaskan dan menguraikan - Memperhatikan dan
materi tentang : mencatat penjelasan
1. Pengertian obesitas pada anak
penyuluhan dengan
2. Penyebab obesitas pada anak
3. Tanda dan gejala obesitas cermat
- Menanyakan hal-hal
pada anak
4. Faktor risiko obesitas pada yang belum jelas
- Memperhatikan
anak
5. Komplikasi obesitas pada jawaban dari
anak penyuluhan
6. Pencegahan obesitas pada
anak
7. Penanganan obesitas pada
anak
b. Memberikan kesempatan kepada
masyarakat untuk bertanya
c. Menjawab pertanyaan
masyarakat yang disuluh
berkaitan dengan materi yang
belum jelas
3. 10 menit Penutup
a. Menyimpukan materi yang telah - Memperhatiakan
disampaikan keterangan kesimpulan
b. Melakukan evaluasi penyuluhan
dari materi penyuluhan
dengan demonstrasi kegiatan
yang disampaikan
c. Mengakhiri kegiatan penyuluhan
- Menjawab salam

VIII. KRITERIA EVALUASI


Kriteria proses :
1. Masyarakat antusias terhadap materi penyuluhan
2. Masyarakat konsentrasi mendengarkan penyuluhan
3. Masyarakat mengajukan dan menjawab pertanyaan dengan benar
Kriteria hasil :
15

Masyarakat dapat
1. Menyebutkan pengertian obesitas pada anak
2. Menyebutkan penyebab obesitas pada anak
3. Menyebutkan tanda dan gejala obesitas pada anak
4. Menyebutkan faktor risiko obesitas pada anak
5. Menyebutkan komplikasi obesitas pada anak
6. Menyebutkan pencegahan obesitas pada anak
7. Menyebutkan penanganan obesitas pada anak

Materi Penyuluhan
1. Pengertian
Obesitas dapat diartikan penimbunan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat
badan anak balita jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan anak. (Dina,
2003)

2. Penyebab Obesitas pada Anak


a. Faktor Genetik (Keturunan)
Kemungkinan seorang anak beresiko menderita obesitas sebesar 80%, jika
kedua orangtuanya menderita obesitas sebesar 40%, jika salah satu orangtuanya
menderita obesitas. Keterlibatan faktor genetik ini dalam meningkatkan resiko
obesitas dan obesitas diketahui berdasarkan fakta yang ada, yaitu adanya perbedaan
kecepatan metabolisme tubuh antara satu individu dan individu lainnya. (Wahyu,
2009)
b. Faktor Aktivitas
Pola aktivitas anak yang minim berpengaruh besar dalam peningkatan resiko
obesitas, hal ini dikarenakan mereka enggan melakukan aktivitas sehari-hari sehingga
menyebabkan tubuhnya kurang membakar kalori yang ada dalam tubuhnya. Oleh
karena itu, jika asupan energi berlebih tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang
seimbang maka seorang anak akan mudah menderita obesitas. (Dina, 2003)
c. Faktor Hormonal
Obesitas bisa juga disebabkan oleh faktor hormonal, misalnya menurunnya
fungsi kelenjar tiroid dalam tubuh. Akibatnya, metabolisme dalam tubuh menjadi
lambat, artinya kalori atau energi yang dikeluarkan tubuh berkurang sehingga terjadi
peningkatan timbunan lemak dalam tubuh. Berat badan pun bertambah, cepat atau
lambat, obesitas pun pasti terjadi.
16

Hormon insulin yang diproduksi oleh pancreas dipicu secara berlebihan


(hiperinsuline) karena konsumsi makanan sehari-hari dalam jumlah berlebihan,
khususnya makanan berkadar kalori tinggi. Peningkatan hormone insulin
menyebabkan sintesis lemak dalam tubuh semakin meningkat, yang berarti timbunan
lemak dalam tubuh juga meningkat sebagai penyebab terjadinya obesitas.
Penurunan aktivitas kelenjar kelamin atau disebut hipogonadisme juga
menyebabkan lambatnya metablisme tubuh. Hal ini berarti tubuh sangat hemat dalam
mengeluarkan kalori sehingga terjadi peningkatan timbunan lemak tubuh.
Hiperaktivitas atau hiperfungsi dari kelenjar adrenal kortikal juga menyebabkan
kelainan metabolisme (sindrom cushing), ternyata dapat menyebabkan obesitas yang
sering terjadi pada anak-anak. (Dina, 2003)
d. Faktor Psikologis
Faktor psikologis mempengaruhi kebiasaan makan anak, misalnya kepuasan
anak dengan mengonsumsi makanan yang sedang tren, yaitu fast food (fried chicken,
pizza, atau hamburger). Tentu saja, kegemaran anak-anak mengonsumsi fast food
yang tinggi kalori secara berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan disertai
dengan kenaikan timbunan lemak tubuh.
Aspek psikologis dari orangtua juga dapat memicu terjadinya obesitas pada
anak, misalnya adanya anggapan bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat dan
menunjukkan keadaan sosial ekonomi keluarga. Di samping itu, anggapan bahwa
mengonsumsi fast food menjadi bagian gaya hidup dan dapat meningkatkan gengsi
sehingga mereka cenderung membiarkan anak-anaknya menggemari bahkan menjadi
pola makan sehari-hari. (Dina, 2003)
e. Pola Makan
Jika seorang anak mengkonsumsi makanan dengan kandungan energi sesuai
yang dibutuhkan tubuhnya oleh sebab itu maka tidak ada energi yang disimpan.
Sebaliknya, jika anak mengonsumsi energi melebihi yang dibutuhkan tubuh maka
kelebihan energi akan disimpan sebagai cadangan energi. Cadangan energi secara
berkesinambungan ditimbun setiap hari yang akhirnya akan menimbulkan obesitas.
(Wahyu, 2009)

3. Manifestasi klinis
a. Wajah membulat
b. Pipi tembem
c. Dagu rangkap
d. Leher relatif pendek
17

e. Dada membusung, dengan payudara yang membesar karena mengandung jaringan


lemak
f. Perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat
g. Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian dalam
saling menempel dan bergesekan. Akibatnya, timbullah lecet
h. Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalamjaringan lemak
(burried penis)

4. Faktor Risiko
a. Pola makan.
Mengkonsumsi makanan berkalori tinggi, makanan tinggi lemak biasanya tinggi
kalori. Minuman bersoda, kudapan, permen dan makanan penutup dapat juga
menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan. Makanan dan minuman seperti ini
biasanya memiliki kandungan kalori dan gula atau garam yang tinggi.
b. Jarang bergerak
Anak-anak yang jarang bergerak akan lebih mudah mengalami kenaikan berat badan
karena mereka tidak membakar kalori melalui aktivitas fisik.
c. Masalah genetik
Bila anak anda datang dari sebuah keluarga yang rata-rata anggotanya mengalami
kegemukan, dia mungkin secara genetik akan mengalami kelebihan berat badan,
terutama bila berada dalam lingkungan di mana makanan tinggi kalori selalu tersedia
dan aktivitas fisik jarang dilakukan.
d. Faktor psikologis
Ada sebagian anak-anak yang makan terlalu banyak sebagai pelampiasan bila ada
masalah, terutama masalah emosi, seperti stres atau kebosanan.
e. Faktor keluarga/sosial
Kebiasaan orangtua dalam menyiapkan makanan di rumah.
f. Anak cacat
Anak aktivitasnya kurang karena problem fisik atau cara mengasuh.

5. Komplikasi
a. Terhadap kesehatan
Obesitas ringan sampai sedang, morbiditasnya kecil pada masa anak-anak. Tetapi bila
obesitas masih terjadi masa dewasa, maka morbiditas maupum mortalitas akan
meningkat. Terdapat korelasi positif antara tingkat obesitas dengan berbagai penyakit
infeksi, kecuali TBC. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi tersebut, dikaitkan
dengan menurunnya respon imunologik sel T dan aktivitas sel polimorfonnuklear.
b. Saluran pernafasan
Pada bayi obesitas merupakan resiko terjadinya infeksi saluran pernafasan bagian
bawah, karena terbatasnya kapasitas paru-paru. Adanya hipertrofi tonsil dan adenoid
18

akan mengakibatkan obstruksi saluran nafas bagian atas, sehingga mengakibatkan


anoksia dan saturasi oksigen rendah yang disebut sindrom chubby puffer.
c. Kulit
Kulit sering lecet karena gesekan. Anak merasa gerah atau panas sering disertai
miliaria, maupun jamur pada lipatan-lipatan kulit.
d. Ortopedi
Anak yang obesitas pergerakannya lambat. Sering terdapat kelainan ortopedi seperti
legg-perthee, gemu valgum, slipped femoral capital epiphyses, tibia vara dll.
e. Efek psikologis
Kurang percaya diri. Anak pada masa remaja yang obesitas biasanya pasif dan
depresif. Karena sering tidak dilibatkan pada kegiatan yang dilakukan oleh teman
sebayanya. Juga sulit mendapatkan pacar karena merasa potongan tubuhnya jelek,
tidak modis, merasa rendah diri sehingga mengisolasi dari pergaulan dengan teman-
temannya.

6. Pencegahan
a. Pencegahan harus sedini mungkin sejak dari bayi, yaitu dengan memberikan ASI.
Bayi yang minum ASI jarang yang menjadi obesitas karena komposisi ASI
mempunyai mekanisme tersendiri dalam mengontrol berat badan bayi.
b. Memberikan contoh yang baik dengan cara memperhatikan makanan yang anda
makan sehingga anda dapat tetap konsisten menjaga berat badan ideal
c. Aktif dan mengundang anak untuk bergabung menjalankan kebiasaan yang sehat
bersama-sama.
d. Harus menyadari, bahwa tekanan yang terlalu besar pada kebiasaan makan dan
berat badan anak anda dapat memberi efek terbalik dimana si anak makan terlalu
banyak, atau mungkin membuat mereka rawan terjangkit kelainan pada pola
makan.
g. Tidak perlu menjadi terlalu kritis, anda hanya perlu menekankan pada apa yang
baik, seperti senangnya bisa bermain di luar rumah, berbagai variasi buah segar
yang bisa anda dapatkan sepanjang tahun.
h. Tekankan keuntungan dari banyak beraktivitas selain dari membantu mereka
untuk menjaga berat badan, contohnya, banyak bergerak membuat jantung, paru-
paru dan otot-otot lain menjadi lebih kuat.
7. Penanganan
a. Makan dengan Pola Makan yang Sehat
1) Pilihlah buah dan sayuran dibandingkan makanan cepat saji. Selalu sediakan
kudapan yang sehat. Dan jangan pernah menggunakan makan sebagai hadiah atau
hukuman.
19

2) Batasi pembelian minuman yang manis, termasuk juga minuman yang memiliki
rasa buah.
3) Pilih resep dan metode memasak yang menggunakan lemak sesedikit mungkin.
4) Sajikan makanan berwarna-wani di atas meja: sayuran hijau dan kuning, buah
aneka warna, dan roti yang terbuat dari whole-grain. Batasi sajian karbohidrat
berwarna putih: beras, pasta, roti putih dan gula (sebagai makanan penutup).
5) Duduk bersama untuk menikmati makanan sekeluarga. Jangan makan di depan
televisi atau komputer, yang akan menyebabkan anak mengunyah tanpa berpikir.
b. Jangan sampai jatuh ke dalam perangkap kebiasaan makan yang kurang baik:
1) Jangan berikan permen atau jajanan sebagai hadiah bagi anak yang berkelakuan
baik atau untuk menghentikan kelakuan buruk.
2) Jangan biasakan anak untuk selalu menghabiskan isi piringnya. Bila anak-anak
sudah cukup kenyang, jangan paksa mereka untuk melanjutkan makan.

3) Jangan berbicara soal makanan yang jelek atau sama sekali melarang adanya
permen dan makanan favorit dari menu makanan anak yang mengalami kelebihan
berat badan.
c. Meningkatkan Aktivitas Fisik
1) Batasi waktu santai di depan layar menjadi hanya dua jam dalam sehari.
2) Tekankan pada aktivitas bukan olahraga. Aktivitas bermain bebas seperti
bermain petak-umpet, tarik tambang atau lompat tali dapat menjadi cara yang
jitu untuk membakar kalori dan meningkatkan stamina.
3) Temukan aktivitas yang disukai oleh anak anda.
4) Bila anda ingin memiliki anak yang aktif, anda sendiri harus aktif. Gunakan
tangga bukan lift atau eskalator dan parkir mobil anda di tempat yang agak jauh
dari toko.
5) Buat pekerjaan rumah tangga sebagai kegiatan keluarga.
6) Buat aktivitas yang bervariasi.
7) Buat sebagai komitmen keluarga. Anak-anak tidak dapat mengubah sendiri pola
makan dan pola aktivitas mereka. Mereka membutuhkan dukungan dan
dorongan dari keluarga dan pengasuh mereka.
20

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kegemukan (obesitas) berbeda dengan kelebihan berat badan (Oberweight).
Kegemukan yaitu penimbunan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat badan anak
balita jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan anak. Dan overweight
adalah suatu keadaan berat badan anak balita yang melebihi berat badan normal atau
seharusnya.
Hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi masalah dalam hal kesehatan gizi
masyarakat, terutama pada kelompok usia anak yaitu mengenai persoalan kekurangan
21

gizi (malnutrisi) di satu sisi dan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas di sisi
lainnya, terutama di kota-kota besar di Indonesia.
Saat ini, pemerintah bersama organisasi profesi dan organisasi masyarakat sedang
melakukan inisiatif baru dalam bentuk suatu gerakan untuk menanggulangi perbaikan
gizi baik kekurangan maupun kelebihan gizi, yang mana memfokuskan pada Percepatan
Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Scalling Up Nutrition (SUN).

4.2 Saran
Dalam upaya menekan angka prevalensi kegemukan dan obesitas pada ank,
diharapkan tidak hanya keluarga yang berperan ataupun hanya pemerintah saja yang
berperan, namun dari semua pihak baik pemerintah, masyarakat, dan peran dari yang
lainnya. Hal ini ditujukan agar target penurunan angka prevalensi kegemukan dan
obesitas pada anak dapat tercapai secepatnya.

Daftar Pustaka

Anderson, S, Gooze RA, Lemeshow S, Robert C. 2011. Quality of Child Maternal


Relationship and Risk of Adolescent Obesity. American Academy of Pediatrics.; 129:
132-40
Dina Agoes, Maria Poppy. 2003. Mencegah dan Mengatasi Kegemukan pada Balita. Jakarta :
Puspa Swara, 2003
Riskesdas Nasional, 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan, Republik Indonesia
22

Syarifah, Fitri. 2013. Menkes: Obesitas Pada Balita,Penyebab Kematian Utama di


Indonesia
http://health.liputan6.comread525236menkes-obesitas-pada-balitapenyebab-kematian-
utama-di-indonesia.htm.
Wahyu, Genis Ginanjar. 2009. Obesitas pada Anak. Yogyakarta : Penerbit B First.
World Health Organization. 2013. Childhood Overweight and Obesity. Global Strategy on
Diet, Physical Activity and Health, WHO