Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM

MATAKULIAH TEKNOLOGI PANGAN FUNGSIONAL

MATERI

PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

Disusun Oleh:
JAJIROH/131710101063
kelompok I/Kelas THP-C

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
NOVEMBER, 2015
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makanan yang kita konsumsi sekarang sudah banyak mengandung bahan bahan
tambahan yang apabila dikonsumsi dengan kadar yang berlebihan akan berdampak
buruk bagi tubuh. Akibatnya berbagai penyakit bermunculan menyerang tubuh kita. Hal
itu semua tak lepas dari adanya radikal bebas. Radikal bebas adalah atom atau gugus
yang memiliki satu atau lebih elektron tidak berpasangan. Radikal bebas juga dijumpai
pada lingkungan, beberapa logam (contohnya besi dan tembaga), asap rokok, obat,
makanan dalam kemasan, bahan aditif, dan lain-lain (Droge, 2002: Stevi G. dkk. 2012).
Radikal bebas ini dapat dihindari dengan antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh.
Akan tetapi kadarnya sedikit, melihat dari penyakit penyakit yang diderita oleh
manusia sekarang ini, antioksidan yang diproduksi oleh tubuh sudah tidak cukup
melawan radikal radikal bebas penyebab penykit. Hal ini mendorong setiap manusia
harus membutuhkan tambahan asupan antioksidnan dari luar tubuh. Karena salah satu
fungsi antioksidan ini dapat menghentikan reaksi dari radikal bebas. Menurut Kaur dan
Kapoor (2001) dalam Maulida (2007), berdasarkan cara reaksinya antioksidan
didefinisikan sebagai komponen yang dapat menghentikan rantai radikal bebas pada
oksidasi lemak dengan cara memberikan electron atau atom hydrogen pada lemak
yang mengandung radikal bebas.
Saat ini banyak penelitian mengenai aktivitas antioksidan pada berbagai macam
jenis tumbuhan. Selain itu banyak juga metode yang digunakan unuk pengujian
aktivitas antioksidan seperti metode DPPH, reducing power, uji kapasitas serapan
radikal oksigen (ORAC), metode tiosianat, uji dien terkonjugasi, aktivitas penghambat
radikal superoksida, aktivitas penghambatan radikal hidroksil dan masih banyak lagi.
Menurut Molyneux (2003) metode DPPH merupakan metode yang sederhana,
cepat dan mudah untuk penapisan aktivitas penangkapan radikal beberapa senyawa,
selain itu metode ini terbukti akurat, efektif dan praktis. DPPH merupakan radikal
bebas yang stabil. Tingginya aktivitas antioksidan pada sampel akan ditunjukkan
olehnya banyaknya DPPH yang direduksi yang terlihat dengan semakin pudarnya
warna ungu. Warna yang terbentuk dibaca dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 517 nm.
Untuk itu pada kesempatan ini dilakukan praktikum pengujian aktivitas antioksidan
pada kopi, kakao dan teh dengan menggunakan metode DPPH. Kemudian aktivitas
scavenging terhadap radikal DPPH dinyatakan sebagai % penghambatan terhadap
radikal DPPH.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dilakukan praktikum pengujian aktivitas atioksidan ini adalah :
1) untuk menguji mengetahui pengertian antioksidan
2) untuk mengetahui total aktivitas antioksidan tertinggi dan terendah pada setiap
bahan yang diuji dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil).
.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Antioksidan


Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghentikan reaksi propagasi radikal
bebas, baik yang berasal dari produk samping metabolisme yang terjadi di dalam
tubuh maupun yang berasal dari lingkungan seperti asap rokok, polusi udara, obat-
obatan tertentu, sinar ultraviolet, dan radiasi (Arief, 2008)..
Antioksidan adalah bahan tambahan yang digunakan untuk melindungi komponen-
komponen makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama
lemak dan minyak. Mekanisme penangkapan radikal bebas oleh polifenol adalah
dengan melepaskan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya (Medikasari, 2000).
Menurut Kaur dan Kapoor (2001) dalam Maulida (2007), berdasarkan cara
reaksinya antioksidan didefinisikan sebagai komponen yang dapat menghentikan
rantai radikal bebas pada oksidasi lemak dengan cara memberikan electron atau atom
hydrogen pada lemak yang mengandung radikal bebas.
Aktivitas antioksidan dari senyawa fenol terbentuk karena kemampuan senyawa
fenol membentuk ion fenoksida yang dapat memberikan satu elektronnya kepada
radikal bebas. Gambaran pada umumnya yaitu, antioksidan senyawa fenol (PhH)
dapat bereaksi dengan radikal bebas (ROO) membentuk ROOH dan sebuah senyawa
fenol radikal (Ph) yang relatif tidak reaktif. Selanjutnya, senyawa fenol radikal (Ph)
dapat bereaksi kembali dengan radikal bebas (ROO) membentuk senyawa yang
bersifat tidak radikal (Dhianawaty et al., 2013. dan Saxena et al., 2013). DPPH adalah
senyawa radikal bebas yang mampu bereaksi dengan senyawa yang dapat
mendonorkan atom hidrogen.
Mekanisme kerja antioksidan secara umum adalah menghambat oksidasi lemak.
Oksidasi lemak terdiri atas tiga tahap utama yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi.
Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak, yaitu suatu senyawa
turunan asam lemak yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya
satu atom hidrogen (reaksi 1). Pada tahap selanjutnya, yaitu propagasi, radikal asam
lemak akan bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi (reaksi 2). Radikal
peroksi lebih lanjut akan menyerang asam lemak menghasilkan hidroperoksida dan
radikal asam lemak baru (reaksi 3).
Inisiasi : RH ---- R* + H* (1)
Propagasi : R* + O2 -----ROO* (2)
ROO* + RH -----ROOH +R* (3)
Hidroperoksida yang terbentuk bersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih
lanjut menghasilkan senyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan
keton yang bertanggung jawab atas flavor makanan berlemak. Tanpa adanya
antioksidan, reaksi oksidasi lemak akan mengalami terminasi melalui reaksi antar
radikal bebas membentuk kompleks bukan radikal (reaksi 4)
Terminasi : ROO* +ROO* ---- non radikal (reaksi 4)
R* + ROO* ---- non radikal
R* + R* ----- non radikal
Antioksidan yang baik akan bereaksi dengan radikal asam lemak segera setelah
senyawa tersebut terbentuk. Dari berbagai antioksidan yang ada, mekanisme kerja
serta kemampuannya sebagai antioksidan sangat bervariasi. Seringkali, kombinasi
beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang lebih baik (sinergisme)
terhadap oksidasi dibanding dengan satu jenis antioksidan saja (Medikasari, 2000).

2.2 Metode Pengujian Aktivitas Antioksidan


2.2.1 Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil)
Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dilakukan untuk menentukan
seberapa besar aktivitas suatu sampel untuk menghambat radikal stabil DPPH dengan
cara mendonorkan atom hidrogen. Sampel yang memiliki aktivitas antioksidan akan
mereduksi DPPH menjadi DPPH-H (Molyneux, 2004).
Metode DPPH merupakan metode yang sederhana, cepat dan mudah untuk
penapisan aktivitas penangkapan radikal beberapa senyawa, selain itu metode ini
terbukti akurat, efektif dan praktis (Molyneux, 2003).
Shivaprasad, Mohan, Kharya, Shiradkar, & lakshman (2005) menyatakan
bahwa metode DPPH adalah metode paling sering dilaporkan digunkan untuk skrining
aktivitas antioksodan dari berbagai tanaman obat. Metode peredaman radikal bebas
DPPH didasarkan pada reduksi dari radikal bebas DPPH yang berwarna oleh
penghambat radikal bebas. Prosedur ini melibatkan pengukuran penurunan serapan
DPPH pada panjang gelombang maksimalnya, yang sebanding terhadap konsentrasi
penghambat radikal bebas yang ditambahkan ke larutan reagen DPPH. Aktivitas
tersebut dinyatakan sebagai konsentrasi efektif (effective concentration), EC50 atau
(inhibitory contcentration), IC50 (Amelia, 2011).
DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil) merupakan radikal bebas yang stabil pada
suhu kamar, terbentuk kristal berwarna ungu dan sering digunakan untuk
mengevaluasi aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau ekstrak bahan alam
(Simanjuntak, Parwati, Lenny, Tamat, & Murwanti, 2004; Desmiaty, R,R, 2008, pp.72).
Radikal bebas DPPH akan ditangkap oleh senyawa antioksidan oleh radikal bebas
untuk mendapatkan pasangan elektron dan mengubahnya menjadi difenil pikril hidrazin
(DPPH-H). Radikal ini mempunyai kereaktifan rendah, sehingga dapat mengurangi
radikal bebas yang bersifat toksisk (Simanjuntak, Parwati, Lenny, Tamat, & Murwani,
2004; Cholisoh & Utami, 2008).
DPPH menerima elektron atau adikal hidrogen akan membentuk molekul
diamagnetik yang stabil. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer
elektron atau radikal hidrogen DPPH, akan menetralkan karakter radikal bebas dari
DPPH (Simanjuntak, Parwati, Lenny, Tamat, & Murwani, 2004; Cholisoh & Utami,
2008). Struktur molekul senyawa radikal bebas DPPH sebelum dan sesudah berikatan
dengan elektron dari senyawa lain dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

DPPH (radikal) DPPH (non radikal)


Sumber : Molyneux, 2004
Gambar 1. Struktur kimia senyawa DPPH radikal dan non radikal
Adapun reaksi peredaan DPPH dengan senyawa anttiradikal bebas dapat
dilihat pada contoh sebagai berikut :

Sumber : Prakash et al. 2001 dalam Amelia 2011


Gambar 2. Reduksi DPPH dari senyawa peredam radikal bebas
2.2.2 Metode reducing power
Shivaprasad, Mohan, Kharya, Shiradkar, & lakshman (2005) menyatakan
bahwa metode ini berprinsip pada kenaikan serapan dari campuran reaksi.
Peningkatan pada serapan menunjukkan peningkatan pada aktivitas antioksidan.
Dalam metode ini antioksidan membentuk kompleks berwarna dengan kalium
ferrisianida, asam trikloroasetat, dan besi (III) klorida yang diukur pada panjang
gelombang 700nm. Peningkatan pada serapan campuran reaksi menunjukkan
kekuatan mereduksi dari sampel (Amelia, 2011).
2.2.3 Metode uji kapasitas serapan radikal oksigen (ORAC)
Prosedur analisa ini mengukur kemampuan antioksidan dari makanan, vitamin,
suplemen nutrisi atau bahan kimia lainnya terhadap radikal bebas. Uji ini dilakukan
dengan menggunakan trolox (analog vitamin E) sebagai standar untuk menentukan
trolox ekuivalen (TE). Nilai ORAC kemudian dihitung dari TE dan ditunjukkan sebagai
satuan atau nilai ORAC. Semakin tinggi nilai ORAc, semakin besar kekuatan
antioksidannya (Amelia, 2011).
2.2.4 Metode tiosianat
Aktivitas antioksidan sampel dengan metode tiosianat ditujukan dengan
kekuatan sampel dalam menghambat peroksidasi adam linoleat. Jumlah peroksida
yang terbentuk diukur secara tidak langsung dengan pembentukan kompleks
ferritiosianat yang berwarna merah (Amelia, 2011).
2.2.5 Uji dien terkonjugasi
Shivaprasad, Mohan, Kharya, Shiradkar, & lakshman (2005) menyatakan
bahwa metode ini memungkinkan perhitungan yang dinamis terhadap dien
terkonjugasi sebagai hasil dari oksidasi awal PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acids)
dengan mengukur serapan UV pada 234 nm. Prinsip dari uji ini adalah bahwa selama
oksidasi asam linoleat, ikatan rangkap diubah menjadi ikatan rangkap terkonjugasi
yang mana dikarakterisasi oleh serapan UV kuat pada 234 nm. Aktivitas diekspresikan
dengan konsentrasi penghambatan (inhibitory concentration) IC50 (Amelia, 2011).
2.2.6 Aktivitas penghambat radikal superoksida
Shivaprasad, Mohan, Kharya, Shiradkar, & lakshman (2005) menyatakan
bahwa aktivitas penghambatan radikal superoksida secara in vitro diukur oleh reduksi
riboflavin/cahaya/nitro blue tetrazolium (NBT). reduksi NBT adalah metode yang paling
dikenal. Metode ini didasarkan pada pembangkitan radikal superoksida oleh
autooksidasi dari riboflavin dengan adanya cahaya. Radikal superoksida mereduksi
NBT menjadi formazon yang berwarna biru yang dapat diukur pada 560 nm. Kapasitas
ekstraksi untuk menghambat warna hingga 50% diukur dalam EC 50. Radikal
superoksida dapat juga dideteksi dengan oksidasi hidroksilamin, menghasilkan nitrit
yang kemudian diukur dengan reaksi kolorometri (Amelia, 2011).
2.2.7 Aktivitas penghambatan radikal hidroksil
Kapasitas penghambatan radikal hidroksil dari ekstrak dihubungkan secara
langsung terhadap aktivitas antioksidannya. Metode ini melibatkan pembangkitan in
vitro dari radikal hidroksil menggunakan sistem Fe3+/askorbat/EDTA/H2O2 berdasarkan
reaksi Fenton. Penghambatn dari radikal hidroksil dngan adanya antioksidan diukur
(Amelia, 2011).

2.3 Karakteristik Komponen Antioksidan Teh, Kopi, dan Kakao


2.3.1 Karakteristik antioksidan teh
Katekin adalah senyawa metabolit sekunder yang secara alami dihasilkan oleh
tumbuhan dan termasuk dalam golongan flavonoid. Senyawa ini memiliki aktivitas
antioksidan berkat gugus fenol yang dimilikinya. Katekin pada daun teh merupakan
senyawa yang sangat kompleks, tersusun sebagai komponen senyawa katekin (C),
epikatekin (EC), epikatekin galat (ECG) epigalokatekin galat (EGCG) dan galokatekin
(GC). Kandungan katekin pada daun teh segar berkisar 13,5-31 % dari seluruh berat
kering daun. Hasil penelitian University of Kansas (2007) yang dipresentasikan di
Amerika Chemical Society, menyatakan bahwa katekin dalam teh hijau berkemampuan
100 kali lebih efektif untuk menetralisir radikal bebas daripada vitamin C (Juniaty,
Towaha., 2013).
Penelitian kedokteran modern menegaskan khasiat teh terutama teh hijau
sebagai anti flamasi, anti karsinogenesis dan anti proliferasi. Hal ini disebabkan oleh
dalam teh hijau diketahui mengandung unsur antioksidan katekin yang memiliki
spektrum luas (Simanjuntak, 2004). Epigallocatechin-3-gallate (EGCG) adalah polifenol
terbanyak dalam teh hijau yang memiliki potensi sebagai anti flamasi dan antiproferasi
sehingga mampu mengurangi kerusakan sel tubuh akibat setres oksidatif.
Aktivitas antioksidan teh hijau diketahui berhubungan dengan kandungan
polifenolnyaa. Aktivitas antioksidan ini bekerja pada membran sel yang mempunyai
fungsi menghambat atau mencegah kemunduran atau kehancuran sel akibat reaksi
oksidasi (Widjaja, 1997).
Flavanol merupakan satu diantara sekian banyak antioksidan alami yang
terdapat dalam tanaman pangan yang memiliki kemampuan mengikat logam. Senyawa
flavanol dalam teh kurang disebut sebagai penentu kualitas, tetapi diketahui
mempunyai aktivitas yang dapat menguatka dinding pembuluh darah kapiler dan
memacu penggumpalan vitamin C (Juniaty, Towaha. 2013).
2.3.2 Karakteristik antioksidan kopi
Kopi merupakan golongan tanaman fitokimia disebut juga plant phenols
(Flavonoid polyphenolics). Plant phenols adalah senyawa kimia yang berasal dari
tanaman dan mengandung antioksidan yaitu cinnamic acids, benzoic acids, flavonoids,
proanthocyanidins, stilbenes, coumarins, lignans, lignins serta chlorogenic acid.
Diantara senyawa tersebut yang paling banyak terdapat di dalam kopi adalah
chlorogenic acid. Senyawa phenol mempunyai aktivitas biologi sebagai antioksidan
yang poten secara in vitro sehingga mampu melindungi DNA, lipid dan protein dengan
melawan radikal bebas yang merusak secara in vivo, sehingga mampu mengurangi
risiko terjadinya penyakit kronik (Kirana, Ramaniya., 2009).
Chlorogenic acid merupakan keluarga esters yang dibentuk antara trans
cinnamic acids dan quinic acid dan merupakan senyawa phenolik utama di dalam kopi
yang banyak ditemukan di tanaman lain yang didapatkan dari buah dan daun (Kirana,
Ramaniya., 2009).

Gambar 3. Struktur kimia Chlorogenic acid


Senyawa ini telah dikenal sejak lama sebagai antioksidan. Senyawa ini mampu
memperlambat pengeluaran glukosa ke aliran darah setelah makan dan lebih banyak
terdapat dalam kopi robusta daripada kopi arabika (Kirana, Ramaniya., 2009).
Senyawa lain yang terkandung di dalam kopi selain Chlorogenic acid (Kirana,
Ramaniya., 2009):
Hydroxy-cinnamic acids
Senyawa ini merupakan trans-phenyl-3-propenoic acids dengan substitusi yang
berbeda pada cincin aromatik dan yang paling banyak terdapat pada biji kopi
adalah caffeic acid, ferulic acid, p-coumaric acid.
Caffeoylquinic acids, feruloylquinic acids dan dicaffeoylquinic acids
Senyawa ini termasuk kelompok utama chlorogenic acid yang ditemukan sedikit
pada biji kopi dan coffee pulp (ampas/daging buah).
Tannin
Senyawa ini merupakan senyawa phenolik yang terkandung dalam buah kopi.
Kandungan tannin dapat rusak atau dikurangi dengan merendam ampas dalam air,
serta larutan alkali, dan inokulasi dengan mikroorganisme terseleksi. Tannin
ditemukan pada pemrosesan kering sebagai residu dari coffee pulp, namun tidak
ditemukan pada pemrosesan biji kopi cara basah. Tannin merupakan senyawa
phenolik utama pada buah kopi, sedang pada biji kopi tannin terutama sebagai
keluarga ester yang terbentuk antara hydroxycinnamic acids dan quinic acid,
secara bersama-sama disebut chlorogenic acid.
Anthocyanidin
Anthocyanidin seperti cyanidin, pelargonidin dan 1- peonidin diidentifikasi pada
biji kopi arabika 1 % phenolic glycosides.
Lignan
Termasuk senyawa ini adalah secoisolariciresinol, lariciresinol, matairesinol dan
pinoresinol. Lignan merupakan antioksidan larut lemak seperti sesamolinol dan
sesamolin. Perannya mencegah terbentuknya radikal bebas, dan membersihkan
radikal bebas yang telah siap terbentuk. Lignan merupakan phytoestrogen dengan
estrogenik. Lignan ditemukan dalam berbagai sumber bahan makanan, termasuk
kopi. Senyawa phenolik seperti lignan dan anthocyanins terdapat pada biji kopi
dalam jumlah kecil.
2.3.3 Karakteristik antioksidan kakao
Kakao adalah sumber zat bio-aktif antioksidan, khususnya senyawa flavonoid
yang banyak bermanfaat bagi kesehatan. Biji kakao sebagai sumber yang kaya akan
flavonoid, mengandung banyak monomer epikatekin (flavan-3-ol) dan molekul
prosianidin (bentuk polimer). Dalam hal ini prosianidin merupakan penangkap radikal
bebas yang efektif (Karyadi, 2005).
Pada tahun 1999 para peneliti dari National Institute of Public Health and
Environtment di Bilthoven, Netherlands telah menguji kandungan katekin dalam kakao.
Katekin dalam kakao berasal dari golongan flavonoid, dimana merupakan salah satu
antioksidan terkuat. Mereka menemukan bahwa dark chocolate mengandung 53,5
mg/100 g, yaitu 4 kali lebih banyak dari yang terdapat dalam teh (Beckett, 2000).
Aktivitas antioksidan polifenol kakao menjadi kekuatan yang ampuh dari cokelat
untuk menghalangi reaksi oksidasi kolesterol jahat (LDL), yang menyebabkan darah
bisa mengental. Selanjutnya dapat mencegah pengendapan lemak pada dinding
pembuluh darah. Peranan polifenol sebagai antioksidan dapat menghalangi terjadinya
tahapan inisiasi penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis. Pada akhirnya
dapat mengurangi risiko serangan jantung koroner dan stroke.
BAB III. BAHAN DAN METODE

3.1 Bahan
3.1.1 Bahan pangan yang digunakan dalam analisa:
a. Bubuk kakao
b. Bubuk kopi
c. Teh
3.1.2 Bahan kimia yang digunakan dalam analisa:
a. Aquadest
b. DPPH
c. Etanol

3.2 Preparasi Bahan


Dalam praktikum analisa aktivitas antioksidan ini tidak dilakukan preparasi pada
bahan.

3.3 Ekstraksi Senyawa Antioksidan


Ekstraksi adalah kegiatan penarikan zat aktif yang dapat larut sehingga terpisah
dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisa yang diekstrak
mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut
seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain (Depkes, 2000).
3.3.1 Ektraksi senyawa antioksidan bahan padat

Sampel bubuk

Penimbangan 1,5 gram

+Air hangat 50 ml
Pelarutan 10 menit

Residu
Penyaringan

Filtrat

Tera 50 ml

Pengambilan sampel 1 ml

Tera 50 ml

Pada praktikum pengujian aktivitas antioksidan ini terdapat dua jenis sampel
yang digunakan yaitu sampel padat dan sampel cair. Untuk sampel padat berupa
bubuk kopi, the, dan kakao, langkah awal yang dilakukan yaitu menyiapkan sampel
yang akan diuji, dengan menimbang masing-masing sebanyak 1,5 gram menggunakan
neraca analitik. Penimbangan dilakukan pada neraca analitik supaya diperoleh berat
bahan yang tepat atau sesuai. Kemudian sampel tersebut dilarutkan dengan air hangat
sebanyak 50 ml sambil diaduk selama 10 menit yang bertujuan agar sampel tersebut
benar-benar larut didalam air. Sedangkan penggunaan air hangat berfungsi untuk
mempermudah proses pelarutan sehingga diperoleh ekstrak senyawa bioaktif polifenol
secara maksimal. Setelah 10 menit, maka larutan tersebut disaring menggunakan
kertas saring untuk memisahkan antara residu dan filtrat. Filtrat yang didapatkan
kemudian di tera menggunakan aquades pada labu takar 50 ml hingga volume 50 ml.
Fungsi dari peneraan ini adalah agar larutan ekstrak tidak terlalu pekat sehingga
memudahkan dalam proses pengukuran absorbansinya. Kemudian campuran bahan
dan pelarut 1 mL dan dimasukkan kedalam labu takar 50 mL. Selanjutnya campuran
bahan dan pelarut ditera kembali dengan aquadest hingga 50 mL.
3.3.2 Ekstraksi senyawa antioksidan bahan cair

Sampel cair

Pengambilan 0,1 ml

Pemasukan dalam tabung reaksi

Pada ekstraksi sampel cair berupa teh dalam kemasan, langkah awal yang
dilakukan adalah mengambil sebanyak 0,1 ml sampel menggunakan pipet ukur dan pi-
pump, agar pengambilan sampel lebih akurat. Kemudian sampel cair tersebut
dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebagai wadah untuk langkah selanjutnya.

3.4 Prosedur Analisa


3.4.1 Prosedur analisa pengujian aktivitas antioksidan

0,1 ml ekstrak sampel


Etanol 1 ml (blanko)

Pencampuran hingga 1 ml
+ etanol

+3ml DPPH 400n


+3ml DPPH 400n

Vorteks Vorteks

Pendiaman 60 ml

Pengukuran nilai absorbansi = 517 nm

Perhitungan antioksidan

Langkah pertama yang dilakukan pada apengujian aktivitas antioksidan yaitu


menambahkan etanol pada 0,1 ml ekstrak yang berfungsi untuk mempermudah proses
pelarutan dan dilakukan pencampuran hingga 1 ml. Kemudian ditambahkan 3 ml
DPPH 400 M sebagai reagen yang berfungsi untuk mengetahui banyaknya
antioksidan yang terkandung pada bahan. Lalu di vorteks agar semua bahan
homogen.
Disisi lain dilakukan penyiapan blanko dimana etanol 1 mL ditambahkan
dengan 3 mL DPPH 400 M yang kemudian divorteks agar homogen. Selanjutnya
sampel dan blanko tersebut dilakukan pendiaman selama 60 menit untuk mengetahui
reaksi perubahan warna yang terjadi. Setelah itu dilakukan pengukuran menggunakan
spektrofotometer untuk mengukur nilai absorbansi pada = 517 nm. Dikarenakan pada
panjang gelombang tersebut, warna ungu pada polifenol yang terkandung pada
sampel dapat terlihat. Selanjutnya dilakukan perhitungan antioksidan yang terkandung
pada bahan. Kemudian aktivitas scavenging terhadap radikal DPPH dinyatakan
sebagai % penghambatan terhadap radikal DPPH. Persen penghambatan dihitung
sesuai rumus:
Ao As
peng h amabatan= x 100
Ao

Dimana : Ao = absorbansi tanpa penambahan sampel ekstrak (kontrol)


As = absorbansi dengan penambahan sampel ekstrak
3.4.2 Contoh perhitungan
Sampel C5 (Mirai ocha)
2,847 2,563
Ulangan 1. %Penghambatan =
100% = 9,9754%
2,847

2,847 2,157
Ulangan 2. %Penghambatan =
100% = 24,2360%
2,847

9,9754% + 24,2360%
Rata-rata =
= 17,1057%
2

SD = ( 9,9754 17,1057)2 + ( 24,2360 17,1057)2


21 = 10,0838

10,0838
RSD =
100% = 58,9498%
17,1057

Sampel C6 (Teh kepala djenggot)


2,847 2,751
Ulangan 1. %Penghambatan =
100% = 3,3720%
2,847
2,847 2,775
Ulangan 2. %Penghambatan = 2,847
100% = 2,5290%

3,3720% + 2,5290%
Rata-rata =
= 2,9505%
2

SD = ( 3,3720 2,9505)2 + ( 2,5290 2,9505)2


21 = 0,5961

0,5961
RSD = 2,9505
100% = 20,2031%
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Aktivitas antioksidan bubuk kakao, bubuk kopi, dan teh
%Penghambatan
Sampel Rata-rata SD RSD
Ulangan 1 Ulangan 2
A1 2,2831 2,4236 2,3534 0,0993 4,2215
A2 0,6674 3,3017 1,9845 1,8628 93,8637
A3 0,6674 1,8616 1,2645 0,8445 66,7823
A4 0,5971 0,4215 0,5093 0,1242 24,3830
B1 3,6530 4,4257 4,0393 0,5464 13,5273
B2 0,1756 0,0702 0,1229 0,0745 60,6092
B3 4,5662 11,7316 8,1489 5,0667 62,1766
B4 7,6221 8,4651 8,0436 0,5961 7,4107
B5 1,3699 1,3347 1,3523 0,0248 1,8366
B6 0,1054 0,0351 0,0702 0,0497 70,7107
B7 5,0931 10,4320 7,7626 3,7752 48,6336
B8 3,0207 3,0910 3,0558 0,0497 1,6255
C1 13,8391 24,1658 19,0025 7,3021 38,4269
C2 37,3375 30,8395 34,0885 4,5948 13,4791
C3 4,5662 7,8328 6,1995 2,3098 37,2583
C4 54,2677 59,5364 56,9020 3,7255 6,5473
C5 9,9754 24,2360 17,1057 10,0838 58,9498
C6 3,3720 2,5290 2,9505 0,5961 20,2031
C7 10,6779 5,0580 7,8679 3,9739 50,5076
C8 85,8799 77,5202 81,7000 5,9112 7,2352
C9 11,7668 9,9052 10,8360 1,3164 12,1480
C10 30,5585 20,6182 25,5883 7,0288 27,4689

4.2 Pembahasan
Gambar dibawah ini merupakan grafik rata-rata total polienol yang terkandung
dalam sampel uji. Sampel A merupakan sampel yang berupa produk kakao, sampel B
merupakan sampel produk kopi, dan sampel C merupakan sampel berupa produk teh
dengan berbagai macam olahan.
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
B6 B2 A4 A3 B5 A2 A1 C6 B8 B1 C3 B7 C7 B4 B3 C9 C5 C1 C10 C2 C4 C8

Gambar 4. Grafik kandungan antioksidan sampel


Berdasarkan Gambar 4. dapat diketahui bahwa sampel produk teh memiliki
kandungan antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan sampel kopi ataupun kakao.
Hal ini dikarenakan pada teh memiliki komposisi antioksidan tertinggi daripada komoditi
lainnya. Perbadaan kandungan antioksidan pada sampel segar maupun olahan
menunjukkan tidak jauh berbeda. Menurut Bravo (1998), aktifitas antioksidan
berhubungan dengan kandungan gugus hidroksil polifenol yang mampu
menyumbangkan atom hidrogen ke dalam radikal bebas untuk menetralkan sifat
radikal.
Tingginya kandungan antioksidan pada sampel teh, baik olahan maupun segar
dapat disebabkan karena kandungan senyawa yang terdapat pada daun teh. Dimana
pada teh mengandung senyawa polifenol, alkaloid (kafein, teofilin, dan teobromin),
asam amino, karbohidrat, protein, klorofil, mineral dan komponen lainnya. Diantara
senyawa-senyawa tersebut, polifenol merupakan senyawa yang memiliki aktivitas
antioksidan yang paling kuat (Cabrera et al., 2003).
Produk kopi memiliki aktivitas antioksidan lebih rendah daripada teh dan
tertinggi daripada kakao, hal ini dapat dikarenakan perbedaan kandungan antioksidan
pada bahan. Pada kopi terdapat proses penyangraian, jika proses ini dilakukan dengan
waktu yang cukup lama dengan suhu yang tinggi maka akan terjadi pirolisis atau
menguapnya senyawa-senyawa volatil pada bahan yang dapat mempengaruhi
kandungan antioksidannya.
4.2.1 Kakao
Kakao adalah sumber zat bio-aktif antioksidan, khususnya senyawa flavonoid
yang banyak bermanfaat bagi kesehatan. Biji kakao sebagai sumber yang kaya akan
flavonoid, mengandung banyak monomer epikatekin (flavan-3-ol) dan molekul
prosianidin (bentuk polimer). Dalam hal ini prosianidin merupakan penangkap radikal
bebas yang efektif (Karyadi, 2005).
Pada produk kakao sampel A1, A2, A3 dan A4 memiliki nilai rata-rata
kandungan aktivitas antioksidan secara berturut-turut sebesar 2,3534%, 1,9845%,
1,2645%, dan 0,5093%. Hal ini menunjukkan bahwa sampel A4 dengan komposisi
bahan yang terdiri dari sari jahe segar, gula pasir, serbuk kakao, serai dan garam
memiliki rata-rata kandungan aktivitas antioksidan terendah. Sedangkan nilai tertinggi
pada produk kakao terdapat pada sampel A1 yang memiliki komposisi bahan bubuk
kakao, vanili, soda kue. Rendahnya antioksidan pada kakao ini dapat dimungkinkan
karena adanya proses fermentasi yang lebih lama (sekitar 7 hari) daripada teh. Proses
fermentasi ini dapat mempengaruhi jumlah kandungan antioksidan yang terdapat pada
bahan.
4.2.2 Kopi
Kopi merupakan golongan tanaman fitokimia disebut juga plant phenols
(Flavonoid polyphenolics). Plant phenols adalah senyawa kimia yang berasal dari
tanaman dan mengandung antioksidan yaitu cinnamic acids, benzoic acids, flavonoids,
proanthocyanidins, stilbenes, coumarins, lignans, lignins serta chlorogenic acid.
Diantara senyawa tersebut yang paling banyak terdapat di dalam kopi adalah
chlorogenic acid. Chlorogenic acid merupakan keluarga esters yang dibentuk antara
trans cinnamic acids dan quinic acid dan merupakan senyawa phenolik utama di dalam
kopi yang banyak ditemukan di tanaman lain yang didapatkan dari buah dan daun
(Kirana, Ramaniya., 2009).
Dari hasil pengamatan yang telah didapatkan, produk kopi memiliki nilai
antioksidan sedang. Pada produk kopi dengan kode sampel B3 yang merupakan
produk kopi dengan komposisi yang terdiri atas kopi robusta dan kopi arabika memiliki
nilai rata-rata aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai sebesar 8,1489%. Kemudian
pada sampel dengan kode B6 yang merupakan produk kopi dengan dengan
komposisi bahan yang terkandung yaitu kopi bubuk minim kafein, gula, krimer memiliki
nilai rata-rata aktivitas antioksidan terendaah dengan nilai sebesar 0,0702%.
Perbedaan tersebut dapat disebabkan karena adanya perbedaan komposisi bahan
yang digunakan. Sesuai dengan literatur menurut Sukohar dkk (2011), yang
menyatakan bahwa kopi mengandung senyawa kafein yang merupakan alkaloid
xanthin dan asam klorogenat termasuk golongan senyawa polifenol yang memiliki
aktivitas antioksidan (Septianus, 2011 dalam Wirabuana, P dan Andi, I. L., 2013).
4.2.3 Teh
Berdasarkan Gambar 4. maka dapat diketahui bahwa produk teh memiliki
kandungan senyawa antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan produk kakao maupun
kopi. Prduk teh yang tertinggi terdapat pada sampel dengan kode C8 yang merupakan
produk Zeestea Green Tea dengan komposisi bahan yaitu air, gula pasir, daun teh
hijau dengan melati & vitamin C; dengan nilai rata-rata aktivitas antioksidan sebesar
81.7%. Sedangkan nilai terendah produk teh terdapat pada sampel C6 yang
merupakan produk Mirai Ocha dengan komposisi bahan tersusun atas air, sirup
fruktosa, gula, teh hijau bubuk (0,096%), perisa identik sakura, antioksidan, asam
askorbat, pengatur keasaman natrium bikarbonat; memiliki nilai rata-rata aktivitas
antioksidan sebesar 2,9505%.
Katekin adalah senyawa metabolit sekunder yang secara alami dihasilkan oleh
tumbuhan dan termasuk dalam golongan flavonoid. Senyawa ini memiliki aktivitas
antioksidan berkat gugus fenol yang dimilikinya. Katekin pada daun teh merupakan
senyawa yang sangat kompleks, tersusun sebagai komponen senyawa katekin (C),
epikatekin (EC), epikatekin galat (ECG) epigalokatekin galat (EGCG) dan galokatekin
(GC). kandungan katekin pada daun teh segar berkisar 13,5-31 % dari seluruh berat
kering daun. Hasil penelitian University of Kansas (2007) yang dipresentasikan di
Amerika Chemical Society, menyatakan bahwa katekin dalam teh hijau berkemampuan
100 kali lebih efektif untuk menetralisir radikal bebas daripada vitamin C (Juniaty,
Towaha., 2013).
Pada komoditi teh, antioksidan tertinggi terdapat pada teh hijau, hal ini dapat
dikarenakan pada pembuatan teh hijau tidak terdapat proses fermentasi seperti pada
teh hitam dan teh oolong atau teh terfermentasi sebagian. Proses fermentasi pada teh
hitam mengakibatkan hilangnya beberapa komponen antioksidan akibat reaksi oksidasi
enzimatis katekin oleh polifenol oksidase. Oksidasi tersebut mengubah katekin menjadi
tehaflavin dan tehaflavin galat. Senyawa hasil oksidasi katekin tersebut masih memiliki
aktivitas antioksidan, namun nilai kapasitas antioksidannya lebih rendah daripada
katekin (Kukhtar 2007).
Tingginya nilai rata-rata kandungan aktivitas antioksidan pada sampel teh
Ready To Drink (RTD) dibandingkan sampel teh seduh khususnya teh hijau yang
rendah dimungkinkan karena adanya kesalahan dalam prosedur analisa yang
dilakukan oleh praktikan. Pada sampel teh RTD mengalami proses pengolahan yang
panjang dari pada teh seduhan. Proses tersebut mengakibatkan kandungan
antioksidan pada sampel mengalami oksidasi, sehingga kandungan antioksidan
sampel semakin rendah. Menurut Ribereau Gayon (1972) dalam Supriyanto (2007),
menyatakna bahwa peristiwa oksidasi polifenol udara dipercepat oleh pengaruh suhu.
Pada oksidasi polifenol atom H pada gugus OH diambil oleh senyawa pengoksidasi,
sehingga menjadi tidak dikenal sebagai polifenol pada hasil analisis kadar polifenol.
Semakin banyak atom H yang diambil, makin kecil kadar polifenol yang terukur.
4.2.4 Nilai SD dan RSD kakao, kopi dan teh
Setelah dilakukan perhitungan rata-rata nilai aktivitas antioksidan maka nilai
Standar Deviasi (SD) dan Relative Standart Deviation (RSD) pada sampel produk
kakao, kopi, dan teh dapat dihitung. Menurut Wijayanti (2008), yang menyatakan
bahwa jika nilai Standart Deviasi semakin kecil menunjukkan tingkat penyebaran data
yang semakin baik, nilai Standart Deviasi terbesar adalah 1 untuk tingkat keakuratan
95%. Menurut Harmita (2004) jika konsentrasi sampel 10 gram/L, maka nilai SDR
paling tinggi adalah sampai 7,3%. Namun berdasarkan standar AOAC (2005) yang
menyatakan bahwa sangat teliti: %RSD <1, teliti: %RSD 1, sedang: %RSD 2-5, dan
tidak teliti: %RSD >5.

Nilai rata-rata SD
12

10

0
B5 B6 B8 B2 A1 A4 B1 B4 C6 A3 C9 A2 C3 C4 B7 C7 C2 B3 C8 C10 C1 C5

Gambar 5. Grafik nilai SD pada pengujian aktivitas antioksidan kakao, kopi dan teh
Berdasarkan Gambar 5. secara keseluruhan nilai SD terendah terdapa padat
sampel B5 yang merupakan produk kopi jenis robusta dengan nilai sebesar 0,0248%.
Sedangkan nilai SD tertinggi diperoleh pada sampel C5 yang merupakan produk teh
hijau seduhan dengan nilai sebesar 10,0838%. Kemudian nilai RSD terendah sebesar
0,0248% terdapat pada sampel B8 yang merupakan produk kopi dengan komposisi
bahan bubuk kopi dan serbuk jahe. Sedangkan nilai RSD tertinggi sebesar 93,8637%
terdapat pada sampel A2 yang merupakan produk kakao dengan komposisi bahan
bubuk kakao, gula, susu bubuk, vanili (lihat Gambar 6.).

Nilai rata-rata RSD


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
B8 B5 A1 C4 C8 B4 C9 C2 B1 C6 A4 C10 C3 C1 B7 C7 C5 B2 B3 A3 B6 A2

Gambar 5. Grafik nilai SD pada pengujian aktivitas antioksidan kakao, kopi dan teh
Kakao
Pada produk kakao sampel A1, A2, A3, dan A4 nilai SD secara berturut-turut
adalah 0,0993%, 1,8628%, 0,8445% dan 0,1242%. Nilai SD pada sampel A1,
A2 dan A3 menunjukkan bahwa sampel tersebut memiliki tingkat keakuratan
yang tinggi karena memiliki nilai yang kurang dari 1 %. Sedangkan nilai RSD
pada sampel A1, A2, A3, dan A4 secara berturut-turut adalah 4,2215%,
93,8637%, 66,7823%, dan 24,3830%. Hal ini menunjukkan bahwa sampel A1
memiliki tingkat ketelitian yang sedang, sedangkan sampel A2, A3, dan A4
memiliki tingkat ketelitian yang sangat rendah. Hal ini karena nilai RSD yang
diperoleh lebih dari 5%.
Kopi
Pada produk kopi sampel B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7, dan B8 nilai SD secara
berturut-turut adalah 0,5464%, 0,0745%, 5,0667%, 0,5961%, 0,0248%,
0,0497%, 3,7752%, dan 0,0497%. Sampel B1, B2, B4, B5, B6, dan B8 memiliki
tingkat kekuratan yang tinggi. Sedangkan pada sampel B3 dan B7 memiliki
tingkat keakuratan yang rendah. Nilai RSD pada sampel B1, B2, B3, B4, B5,
B6, B7, dan B8 secara berturut-turut adalah 13,5273%, 60,6092%, 62,1766%,
7,4107%, 1,8366%, 70,7107%, 48,6336% dan 1,6255%. Hal ini menunjukkan
bahwa sampel B5 dan B8 memiliki tingkat ketelitian yang sedang, sedangkan
pada sampel B1, B2, B3, B4, B6, dan B7 memiliki tingkat ketelitian yang sangat
rendah.
Teh
Pada produk teh sampel C1, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8, C9, dan C10 nilai SD
secara berturut-turut adalah 7,3021%, 4,5948%, 2,3098%, 3,7255%,
10,0838%, 0,5961%, 3,9739%, 5,9112%, 1,3164%, dan 7,0288%. Hal ini
menunjukkan bahwa pada sampel C6 memiliki tingkat keakuratan yang tinggi.
Selebihnya merupakan sampel yang memiliki tingkat keakuratan yang rendah.
Kemudian nilai RSD pada sampel C1, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8, C9, dan
C10 secara berturut-turut adalah 38,4269%, 13,4791%, 37,2583%, 6,5473%,
58,9498%, 20,2031%, 50,5076%, 7,2352%, 12,1480%, dan 27,4689%. Dari
kesepuluh sampel tersebut menunjukkan bahwa sampel memiliki tingkat
ketelitian yang sangat rendah. Hal ini disebabkan karena nilai RSD yang
dihasilkan <5%.
Adanya ketidak akuratan data yang didapatkan dari hasil perhitungan nilai SD
dan ketidak telitian pada bahan dari hasil perhitungan RSD bisa disebabkan karena
adanya kesalahan pada saat melakukan penimbangan, pemipetan, dan pada saat
dilakukan ekstraksi.
BAB V. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai


berikut :
1) Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghentikan reaksi propagasi
radikal bebas, baik yang berasal dari produk samping metabolisme yang
terjadi di dalam tubuh maupun yang berasal dari lingkungan seperti asap
rokok, polusi udara, obat-obatan tertentu, sinar ultraviolet, dan radiasi.
2) Nilai kandungan senyawa antioksidan pada produk kakao terbesar terdapat
pada sampel A1 atau vicco bubuk cokelat murni dengan komposisi bahan
bubuk kakao, vanili, soda kue; sedangkan kandungan senyawa antioksidan
terendah terdapat pada sampel A4 atau pro food jahe chocolate yang
memiliki komposisi bahan sari jahe segar, gula pasir, serbuk kakao, serai,
garam. Sementara pada produk kopi, kandungan senyawa antioksidan
diperoleh pada sampel B3 atau sekar arum kopi blanding ekselen
sementara kandungan senyawa antioksidan terendah pada sampel B6 atau
sekar arum komik (kopi minim kafein). Kemudian pada produk teh,
kandungan senyawa antioksidan tertinggi terdapat pada sampel C8 atau
zestea green tea dan kandungan senyawa antioksidan terendah diperoleh
pada sampel C6 atau mirai ocha.
DAFTAR PUSTAKA

Amelia, P. 2011. Isolasi, Ealuasi Struktur dan Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa kimia
dari Daun Garcinia Benthami Pierre. Tesis Universitas Indonesia.

AOAC, 2005. Official Methods of Analysis. Association of Official Analytical Chemists.


Benjamin Franklin Station, Washington.

Arief S., 2008, Radikal Bebas, Laporan Penelitian, Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas
Kedokteran UNAIR, Surabaya

Cholisoh, Z., & Utami, W. 2008. Aktivitas Penangkap Radikal Ekstrak Etanol 70% Biji
Jengkol (Archidendron jiringa). Pharmacon. 9 (1): 33-40.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ektrak


Tumbuhan Obat. Jilid IV. Jakarta.

Dhianawaty D, Panigoro R. Antioxidant activity of the waste water of boiled Zea mays
(swett corn) on the cob. Int J Res Pharm Sci. 2013;4(2):2669.

Juniaty Towaha, Balittri. 2013. Kandungan Senyawa Kimia pada Daun Teh (Camellia
sinensis). Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Volume 19
Nomor 3.

Juniaty Towaha, Balitttri. 2013. Kandungan Senyawa Kimia pada Daun teh (camellia
sinensis). Warta Peelitian dan pengembangan Tanaman Industri. Volume 19
No.3. hal 12-16.

Kirana, Ramaniya. 2009. Pengaruh pemberian Teh Hijau (Cammelia sinensis)


terhadap kerusakan Struktur Histologis Alveolus Paru Mencir yang Dipapar
Asap Rokok. Skripsi Fakultas kedokteran fakultas kedokteran Universitas
sebelas Maret. Surakarta

Maulida R. 2007. Aktivitas Antioksidan Rumpul Laut Caulerpa lentillifera. SKRIPSI.


Universitas Institut Pertanian Bogor.

Maulida R. 2007. Aktivitas Antioksidan Rumpul Laut Caulerpa lentillifera. SKRIPSI.


Universitas Institut Pertanian Bogor.

Molyneux, P. 2003. The use of the stable free radikal diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for
estimating antioxidant activity. Journal Science of Technology. 26(2):211-219.

Molyneux, P., 2004, The Use of the Stable Free Radikal diphenylpicrylhydrazyl (DPPH)
for Estimating Antioxidant Activity, J. Science of Technology., 26(2):211-219.

Saxena M, Saxena J, Nema R, Singh D, Gupta A. Phytochemistry of medicinal plants.


J Pharmacog Phytochem. 2013;1(6):16882.

Septianus, WS. 2011. Komposisi Kimia Biji Kopi. (ws_septianus@yahoo.com. Diakses


tanggal 22 Oktober 2015).
Simanjuntak, M. 2004. Teh Hijau Untuk Semua. http://www.google.co.id/teh-hijau.htm.
(25 Oktober 2015)

Simanjuntak, P., Parwati, T., Lenny, L. E., Tamat, S. R, Murwanti, R. 2004. Isolasi dan
Identifikasi Antioksidan dari Ekstrak Benalu Teh (Scurrula oortiana (Korth)
Danser). Jurnal Ilmu kefarmasian Indonesia. ISSN : 1693-1831. 5(1): 19-24.

Stevi G. Dungira., Dewa G. Katja., Vanda S. Kamu. 2012. Aktivitas Antioksidan Ekstrak
Fenolik Dari Buah Manggis ( Garcinia mongostana L). Jurnal MIPA ONLINE 1
(1) 11 15 . UNSRAT Manado.

Widjaja, B. 1997. 6 Alasan Minum Teh Hijau. http://depkes.go.id/6alasan.htm. (26


Oktober 2015)
LEMBAR PERHITUNGAN

Absorbansi blanko-Ansorbansi sampel


%Penghambatan =
100%
Absorbansi blanko

SAMPEL A1
2,847 2,782
1. %Penghambatan =
100% = 2,2831%
2,847
2,847 2,778
2. %Penghambatan =
100% = 2,4236%
2,847
2,2831% + 2,4236%
Rata-rata =
= 2,3534%
2

SD = ( 2,2831-2,3434)2 + ( 2,4236-2,3534) 2
21 = 0,0993

0,0993
RSD =
100% = 4,2215%
2,3534

SAMPEL A2
2,847 2,828
1. %Penghambatan =
100% = 0,6674%
2,847
2,847 2,753
2. %Penghambatan =
100% = 3,3017%
2,847

0,6674% + 3,3017%
Rata-rata =
= 1,9845%
2

SD = ( 0,6674 1,9845)2 + ( 3,3017 1,9845)2


21 = 1,8628

1,8628
RSD =
100% = 93,8637%
1,9845

SAMPEL A3
2,847 2,828
1. %Penghambatan =
100% = 0,6674%
2,847
2,847 2,794
2. %Penghambatan = 2,847
100% = 1,8616%

0,6674% + 1,8616%
Rata-rata =
= 1,2645%
2

SD = ( 0,6674 1,2645)2 + ( 1,8616 1,2645)2


21 = 0,8445

0,8445
RSD = 1,2645
100% = 66,7823%

SAMPEL A4
2,847 2,830
1. %Penghambatan =
100% = 0,5971%
2,847
2,847 2,835
2. %Penghambatan =
100% = 0,4215%
2,847

0,5971% + 0,4215%
Rata-rata =
= 0,5093%
2

SD = ( 0,5971 0,5093)2 + ( 0,4215 0,5093)2


21 = 0,1242

0,1242
RSD =
100% = 24,3830%
0,5093

SAMPEL B1
2,847 2,743
1. %Penghambatan =
100% = 3,6530%
2,847
2,847 2,721
2. %Penghambatan =
100% = 4,4257%
2,847

3,6530% + 4,4257%
Rata-rata =
= 4,0393%
2

SD = ( 3,6530 4,0393)2 + ( 4,4257 4,0393)2


21 = 0,5464
0,5464
RSD = 4,0393
100% = 13,5273%

SAMPEL B2
2,847 2,842
1. %Penghambatan =
100% = 0,1756%
2,847
2,847 2,845
2. %Penghambatan =
100% = 0,0702%
2,847

0,1756% + 0,0702%
Rata-rata =
= 0,1229%
2

SD = ( 0,1756 0,1229)2 + ( 0,0702 0,1229)2


21 = 0,0745

0,0745
RSD =
100% = 60,6092%
0,1229

SAMPEL B3
2,847 2,717
1. %Penghambatan =
100% = 4,5662%
2,847
2,847 2,513
2. %Penghambatan =
100% = 11,7316%
2,847

4,5662% + 11,7316%
Rata-rata =
= 8,1489%
2

SD = ( 4,5662 8,1489) 2 + ( 11,7316 8,1489) 2


21 = 5,0667

5,0667
RSD =
100% = 62,1766%
8,1489

SAMPEL B4
2,847 2,630
1. %Penghambatan = 2,847
100% = 7,6221%

2,847 2,606
2. %Penghambatan =
100% = 8,4651%
2,847
7,6221% + 8,4651%
Rata-rata = 2
= 8,0436%

SD = ( 7,6221 8,0436)2 + ( 8,4651 8,0436)2


21 = 0,5961

0,5961
RSD =
100% = 7,4107%
8,0436

SAMPEL B5
2,847 2,808
1. %Penghambatan =
100% = 1,3699%
2,847
2,847 2,809
2. %Penghambatan = 2,847
100% = 1,3347%

1,3699% + 1,3347%
Rata-rata =
= 1,3523%
2

SD = ( 1,3699 1,3523)2 + ( 1,3347 1,3523)2


21 = 0,0248

0,0248
RSD = 1,3523
100% = 1,8366%

SAMPEL B6
2,847 2,844
1. %Penghambatan =
100% = 0,1054%
2,847
2,847 2,846
2. %Penghambatan =
100% = 0,0351%
2,847

0,1054% + 0,0351%
Rata-rata =
= 0,0702%
2

SD = ( 0,0154 0,0702)2 + ( 0,0351 0,0702)2


21 = 0,0497

0,0497
RSD =
100% = 70,7107%
0,0702

SAMPEL B7
2,847 2,702
1. %Penghambatan = 2,847
100% = 5,0931%

2,847 2,550
2. %Penghambatan =
100% = 10,4320%
2,847

5,0931% + 10,4320%
Rata-rata =
= 7,7626%
2

SD = ( 5,0931 7,7626)2 + ( 10,4320 7,7626)2


21 = 3,7752

3,7752
RSD =
100% = 48,6336%
7,7626

SAMPEL B8
2,847 2,761
1. %Penghambatan =
100% = 3,0207%
2,847
2,847 2,759
2. %Penghambatan =
100% = 3,0910%
2,847

3,0207% + 3,0910%
Rata-rata =
= 3,0558%
2

SD = ( 3,0207 3,0558)2 + ( 3,0910 3,0558)2


21 = 0,0497

0,0497
RSD =
100% = 1,6255%
3,0558

SAMPEL C1
2,847 2,453
1. %Penghambatan =
100% = 13,8391%
2,847
2,847 2,159
2. %Penghambatan =
100% = 24,1658%
2,847

13,8391% + 24,1658%
Rata-rata = 2
= 19,0025%
SD = ( 13,8391 19,0025)2 + ( 24,1658 19,0025)2
21 = 7,3021

7,3021
RSD =
100% = 38,4269%
19,0025
SAMPEL C2
2,847 1,784
1. %Penghambatan =
100% = 37,3375%
2,847
2,847 1,969
2. %Penghambatan =
100% = 30,8395%
2,847

37,3375% + 30,8395%
Rata-rata =
= 34,0885%
2

SD = ( 37,3375 30,0885)2 + ( 30,8395 34,0885)2


21 = 4,5948

4,5948
RSD =
100% = 13,4791%
34,0885

SAMPEL C3
2,847 2,717
1. %Penghambatan =
100% = 4,5662%
2,847
2,847 2,624
2. %Penghambatan =
100% = 7,8328%
2,847

4,5662% + 7,8328%
Rata-rata =
= 6,1995%
2

SD = ( 4,5662 6,1995) 2 + ( 7,8328 6,1995)2


21 = 2,3098

2,3098
RSD =
100% = 37,2583%
6,1995

SAMPEL C4
2,847 1,302
1. %Penghambatan = 2,847
100% = 54,2677%

2,847 1,152
2. %Penghambatan =
100% = 59,5364%
2,847

54,2677% + 59,5364%
Rata-rata =
= 56,9020%
2
SD = ( 54,2677 56,9020)2 + ( 59,5364 56,9020)2
21 = 3,7255

3,7255
RSD =
100% = 6,5473%
56,9020

SAMPEL C5
2,847 2,563
1. %Penghambatan =
100% = 9,9754%
2,847
2,847 2,157
2. %Penghambatan =
100% = 24,2360%
2,847

9,9754% + 24,2360%
Rata-rata = 2
= 17,1057%

SD = ( 9,9754 17,1057)2 + ( 24,2360 17,1057)2


21 = 10,0838

10,0838
RSD =
100% = 58,9498%
17,1057

SAMPEL C6
2,847 2,751
1. %Penghambatan =
100% = 3,3720%
2,847
2,847 2,775
2. %Penghambatan = 2,847
100% = 2,5290%

3,3720% + 2,5290%
Rata-rata =
= 2,9505%
2

SD = ( 3,3720 2,9505)2 + ( 2,5290 2,9505)2


21 = 0,5961

0,5961
RSD = 2,9505
100% = 20,2031%

SAMPEL C7
2,847 2,543
1. %Penghambatan =
100% = 10,6779%
2,847
2,847 2,703
2. %Penghambatan = 2,847
100% = 5,0580%

10,6779% + 5,0580%
Rata-rata =
= 7,8679%
2

SD = ( 10,6779 7,8679)2 + ( 5,0580 7,8679)2


21 = 3,9739

3,9739
RSD = 7,8679
100% = 50,5076%

SAMPEL C8
2,847 0,402
1. %Penghambatan =
100% = 85,8799%
2,847
2,847 0,640
2. %Penghambatan =
100% = 77,5202%
2,847

85,8799% + 77,5202%
Rata-rata =
= 81,7%
2

SD = ( 85,8799 81,7)2 + ( 77,5202 81,7)2


21 = 5,9112

5,9112
RSD =
100% = 7,2352%
81,7

SAMPEL C9
2,847 2,512
1. %Penghambatan =
100% = 11,7668%
2,847
2,847 2,565
2. %Penghambatan =
100% = 9,9052%
2,847

11,7668% + 9,9052%
Rata-rata =
= 10,8360%
2

SD = ( 11,7668 10,8360)2 + ( 9,9052 10,8360)2


21 = 1,3164
1,3164
RSD = 10,8360
100% = 12,1480%

SAMPEL C10
2,847 1,977
1. %Penghambatan =
100% = 30,5585%
2,847
2,847 2,260
2. %Penghambatan =
100% = 20,6182%
2,847

30,5585% + 20,6182%
Rata-rata =
= 25,5883%
2

SD = ( 9,9754 17,1057)2 + ( 24,2360 17,1057)2


21 = 7,0288

7,0288
RSD =
100% = 27,4689%
25,5883
LAMPIRAN FOTO

Penimbangan 1,5 gr Penambahan 50 ml Pengadukan


sampel aquadest

Penyaringan dengan Peneraan dengan aquadest Pengambilan 1 ml ekstrak


kertas saring sampai 50 ml

Peneraan dengan Pengambilan cuplikan 0,1 Penambahan 0,9 ml


aquadest sampai 50 ml ml etanol PA pada ekstrak

Penambahan 3 ml DPPH Vorteks, didiamkan 30 Pengukuran absorbansi


menit pada =517 nm