Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada kehamilan normal terdapat perubahan bermakna baik pada struktur maupun fungsi
dari saluran kemih, diantaranya dilatasi saluran kemih, yaitu pada kaliks, pelviks ginjal, dan
ureter. Keadaan ini terjadi sebelum usia kehamilan 14 minggu karena pengaruh hormon yang
melemaskan lapisan-lapisan otot saluran kemih. Pada fungsi ginjal juga terjadi peningkatan
segera setelah konsepsi. Aliran plasma ginjal dan filtrasi glomerulus efektif masing-masing
meningkat rata-rata 40% dan 65%. (Fadlun, 2012:14)
Secara empiris, kehamilan dengan kelainan ginjal kronis merupakan kehamilan dengan
resiko yang sangat tinggi. Karena kehamilan sendiri bisa menyababkan kelainan-kelainan pada
ginjal seperti infeksi saluran kemih, hipertensi dan lain sebagainya.
Pandangan bahwa perempuan yang menderita penyakit ginjal sebaiknya menghindari
kehamilan, telah ada sejak abad lalu. Luaran bayi dipercaya akan kurang baik dan pasien yang
menderita penyakit ginjal disarankan melakukan terminasi kehamilan Selain itu, data-data
mengenai perempuan hamil dengan transplantasi ginjal sejak tahun 2000 telah memberikan hasil
yang menggembirakan. Kesemuanya ini memberikan pandangan bahwa sebagian besar
perempuan yang mempunyai gangguan fungsi ginjal minimal dapat hamil dengan kemungkinan
kehamilannya berhasil mencapai 90%. (Prawirohardjo. 2009: 830)
Di Amerika Serikat rasio kelahiran hidup dari perempuan dengan riwayat penyakit ginjal
adalah 6,6 per 1.000 dari semua ras dan usia. Pada perempuan kulit putih rasio kelahiran adalah
3,0 per 1.000 kelahiran hidup dibandingkan 2,2 per 1.000 kelahiran hidup pasa kulit hitam.
(Prawirohardjo. 2009: 830)

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan Pengertian penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
2. Menjelaskan Etiomolgi penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
3. Menjelaskan Patofisiologis penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
4. Menjelaskan Faktor Resiko penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
5. Menjelaskan Tanda dan Gejala penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
6. Menjelaskan Komplikasi penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
7. Menjelaskan Penatalaksanan penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
C. Tujuan
1. Mengetahui dan Memahami pengertian penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
2. Mengetahui dan Memahami Etiomolgi penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
3. Mengetahui dan Memahami Patofisiologis penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
4. Mengetahui dan Memahami Faktor Resiko penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
5. Mengetahui dan Memahami Tanda dan Gejala penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
6. Mengetahui dan Memahami Komplikasi penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan
7. Mengetahui dan Memahami Penatalaksanan penyakit Ginjal pada Kehamilan dan Persalinan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi dan Perubahan Anatomik Ginjal dan Saluran Kemih
Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral dengan homeostasis tubuh
dalam mempertahankan keseimbangan fisika dan kimia. Ginjal menyekresi hormon dan enzim
yang membantu pengaturan produksi eritrosit, tekanan darah serta metabolisme kalsium dan
fosfor. Ginjal membuang sisa metabolism dan menyesuaikan ekskresi air daan pelarut. Ginjal
mengatur cairan tubuh, asiditas, dan elektrolit sehingga mempertahankan komposisi cairan yang
normal. (Mary Baradero, 2008 : 1)
Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomik ginjal dan
saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan
laboratorium.. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah
melahirkan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral
dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. (Prawirohardjo. 2009: 830)
Selain itu juga terjadi hiperlpasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks, dan
berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Akibat pembesaran
uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung
kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. Kandung kemih akan berpindah lebih anterior dan
superior. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung
kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. Kapasitas kandung kemih
meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. (Prawirohardjo. 2009:
830).
Gagal ginjal akut adalah suatu kondisi di mana ginjal tidak dapat menjalankanfungsinya
secara normal yang terjadi secara akut/tiba-tiba dan tidak berlangsung lama.
B. Etiologi
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas karena
dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi ginjal yang tidak bisa sembuh lagi.
Penyakit ginjal kronis (CKD) merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Di
Amerika Serikat (AS), prevalensi stadium akhir penyakit ginjal semakin meningkat. Jumlah
pasien yang terdaftar dalam tahap akhir penyakit ginjal (ESRD)-mendanai program Medicare
telah meningkat dari sekitar 10.000 penerima manfaat pada tahun 1973 untuk 86.354 pada tahun
1983, dan 547.982 pada tanggal 31 Desember, 2008.
Meskipun alasan yang tepat untuk pertumbuhan program ESRD tidak diketahui,
perubahan demografi penduduk, perbedaan beban penyakit di antara kelompok-kelompok ras
dan bawah-pengakuan tahap-tahap awal CKD dan faktor risiko untuk CKD, sebagian dapat
menjelaskan pertumbuhan ini.
Pasien dengan stadium akhir penyakit ginjal (ESRD) mengkonsumsi bagian yang tidak
proporsional sumber daya perawatan kesehatan. Total biaya program ESRD di AS adalah sekitar
$ 39460000000 pada tahun 2008. Medicare biaya per orang per tahun hampir $ 66.000 secara
keseluruhan, mulai dari $ 26.668 untuk pasien transplantasi untuk $ 77.506 bagi mereka yang
menerima terapi hemodialisis
Namun, meskipun besarnya sumber daya berkomitmen untuk pengobatan ESRD dan perbaikan
besar dalam kualitas terapi dialisis, pasien-pasien ini terus mengalami mortalitas dan morbiditas
yang signifikan, dan mengurangi kualitas hidup.

C. Penyebab Gagal Ginjal


Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang diderita oleh
tubuh yang mana secara perlahan - lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun
beberapa penyakit yang sering kali berdampak kerusakan ginjal diantaranya :
Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension)
Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus)
Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striktur)
Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik
Menderita penyakit kanker (cancer)
Kelainan ginjal, dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri
(polycystic kidney disease)
Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat infeksi atau pun dampak dari penyakit darah
tinggi. Istilah kedokterannya disebut sebagai glomerulonephritis.
Adapun penyakit lainnya yang juga dapat menyebabkan kegagalan fungsi ginjal apabila tidak
cepat ditangani antara lain adalah; Kehilangan carian banyak yang mendadak (muntaber,
perdarahan, luka bakar), serta penyakit lainnya seperti penyakit Paru (TBC), Sifilis, Malaria,
Hepatitis, Preeklampsia, Obat-obatan dan Amiloidosis.
Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah yang semakin buruk dimana ginjal
sama sekali tidak lagi mampu bekerja sebagaimana funngsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal
2 macam jenis serangan gagal ginjal, akut dan kronik.
D. Patofisiologi
Gagal ginjal mendadak (acute renal failure) merupakan komplikasi yang sangat gawat
dalam kehamilan dan nifas, karena dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi
ginjalyang tidak bisa sembuh lagi. Kejadiannya 1 dalam 1300-1500 kehamilan.
Kelainan ini didasari oleh 2 jenis patologi.
1. Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan.
2. Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal ayng menderita.
Penderita yang mengalami gagal ginjal mendadak ini sering dijumpai pada kehamilan
muda 12-18 minggu, dan kehamilan telah cukup bulan. Pada kehamilan muda, sering
diakibatkan oleh abortus septic yang diakibatkan oleh bakteri Chlostridia welchii atau
streptococcus. Gambaran klinik lain yaitu berupa sepsis, dan adanya tanda-tanda oligouria
mendadak dan azothemia serta pembekuan darah intravaskuler (DIC), sehingga terjadi nekrosis
tubular yg akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila kerusakan tubulus tidak terlalu luas
dalam waktu 10-14 hari. Seringkali dilakukan tindakan tindakan histerektomi untuk
menagatasinya, akan tetapi ada peneliti yang menganjurkan tidak perlu melakukan operasi
histerektomi tersebut asalkan penderita diberikan antibiotic yang adekuat dan intensif serta
dilakukan dialysis terus menerus sampai fungsi ginjal baik. Lain halnya dengan nekrosis kortikal
yang bilateral, biasanya dihubungkan dengan solusio plasenta, preeclampsia berat atau
eklampsia, kematian janin dalam kandungan yang lama, emboli air ketuban yang mnyebabkan
terjadinya DIC, reaksi transfuse darah atau pada perdarahan banyak yang dapat menimbulkan
iskemi.
Penderita dapat meninggal dalam waktu 7-14 hari setelah timbulnya anuria. Kerusakan
jaringan dapat terjadi di beberapa tempat yang tersebar atau ke seluruh jaringan ginjal.
Pada masa nifas sulit diketahui sebabnya, sehingga disebut sindrom ginjal idiopatik
postpartum. Penanggulangan pada keadaan ini, penderita diberi infuse, atau transfusi darah,
diperhatikan keseimbangan elektrolit dan cairan dan segera dilakukan hemodialisis bila ada
tanda-tanda uremia. Banyak penderita membutuhkan hemodialis secara teratur atau dilakukan
transplantasiginjal untuk ginjal yang tetap gagal. Gagal ginjal dalam kehamilan ini dapat dicegah
bila dilakukan:
1. Penangan kehamilan dan persalinan dengan baik:
2. Perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan baik;
3. Pemberian trannfusi darah dengan hati-hati.
E. Faktor Resiko
1. Retensi Urin
Bentuk uterus yang inkarserta dan retroversi akan menyebabkan ureter stasis dan meregang. Hal
ini akan mengakibatkan rasa nyeri ketika miski dan retensi urin akut, dan lebih jauh lagi akan
menyebabkan cystitis.
2. Ureter yang pendek
Wanita yang memiliki ureter yang pendek, yang lebih panjangnya hanya sekitar 3,5cm dan
letaknya hampir berdekatan dengan rektum,perineum dan vagina. Ureter dapat tertekan ketika
terjadi prolapsutro-vaginal, hal ini yang menyebabkan sisa urin tertinggal dan menjadi sumber
infeksi.
3. Trauma Jalan Lahir
Trauma dapat terjadi saat persalinan, ketika bagian dasar kandung kemih dan leher janin berada
dalam posisi yang sulit.
F. Tanda dan Gejala
Adapun tanda dan gejala terjadinya gagal ginjal yang dialami penderita secara akut antara
lain : Bengkak mata, kaki, nyeri pinggang hebat (kolik), kencing sakit, demam, kencing sedikit,
kencing merah /darah, sering kencing. Kelainan Urin: Protein, Darah / Eritrosit, Sel Darah Putih /
Lekosit, Bakteri. Sedangkan tanda dan gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal ginjal
kronik antara lain : Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual, muntah, bengkak, kencing
berkurang, gatal, sesak napas, pucat/anemi. Kelainan urin: Protein, Eritrosit, Lekosit. Kelainan
hasil pemeriksaan Lab. lain: Creatinine darah naik, Hb turun, Urin: protein selalu positif.
G. Komplikasi
Komplikasi seperti hipertensi dan preeklamsi lebih sering pada perempuan dengan
penyekit ginjal polikistik. Kehamilan tampaknya tidak menyebabkan perburukan atau
akselerasi / percepatan perjalanan penyakit. (Prawiroharjo.2009:841)
Komplikasi yang dapat terjadi adalah abortus dan janin yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi
apabila tidak diobati berkisar 30-40%,kelahiran prematur dan IFUD.
Prognosis pada ibu akhirnya buruk; ada yang segera meninggal, ada yang agak lama,hal
itu tergantung dari luasnya kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidak adanya
faktor-faktor yang mempercepat proses penyakit.
Prognosis bagi janin dalam kasus tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat
hipertensi. Wanita dengan fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat
melanjutkan kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat
insufiensi plasenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tekanan darah yang sangat
tinggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan partus prematurus, atau janin mati dalam
kandungan.

H. Penatalaksanan
Penanganan Obstetri
Penyebab kematian dan kesakitan bayi pada pasien dengan kelainan ginjal adalah persalinan
kurang bulan. Masih ada perdebatan tentang melahirkan bayi secara elektif lebih cepat dari
waktunya sekitar(34-36 minggu) pada pasien dengan insufisiensi ginjal kronis atau yang sedang
menjalani dialisis terutama jika paru janin sudah matang.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, penyakit yang menyertai kehamilan itu diantaranya adalah penyakit
ginjal. Semua penyakit ini memberikan dampak pada kehamilan sehingga semua penyakit harus
bisa ditangani dengan baik sehingga dampak yang ada tidak besar atau minimal atau bahkan
tidak ada dampak yang ditimbulkan pada kehamilan baik itu pada ibu maupun pada janin.
Selain itu, dalam penangan penyakit ini harus diperhatikan dalam pemberian obat-obatan.
Karena dengan pemberian obat-obatan yang salah dapat memberikan efek terutama kepada sang
janin. Sehingga kita harus mengetahui jenis obat-obatan yang boleh diberikan kepada ibu hamil
dan juga yang tidak boleh diberikan pada ibu hamil. Jangan sampai kita bermaksud memberikan
pengobatan untuk kesembuhan tapi malah menyebabkan efek teratogenik pada janin.
B. Saran
sebagai penolong persalinan kita harus bisa mendeteksi secara dini penyakit-penyakit yang
menyertai kehamilan sehingga dapat meminimalkan atau menghilangkan resiko cacat atau
kematian janin. Kita harus bisa megetahui penanganan yang tepat atau pengobatan yang aman
buat kehamilan ibu sehingga persalinan dapat berjalan secara fisiologi. Selain itu, kesadaran dari
ibu untuk memeriksakan diri selama hamil sehingga tidak dapat terdeteksi secara dini.

DAFTAR PUSTAKA

Fadlun. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika


Nugraheny, Esti. 2010. Asuhan Kebidanan Pathologi. Yogyakarta : Pustaka Rihama
Prawirohardjo Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.