Anda di halaman 1dari 7

CARA MENGHITUNG KERUGIAN NEGARA DALAM KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI

CARA MENGHITUNG KERUGIAN NEGARA


Untuk menghitung kerugian Keuangan Negara terlebih dahulu harus diketahuiapakah kasus yang
dihitung kerugian keuangan negaranya masih masuk dalam ruang lingkup Keuangan Negara.
Menurut Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut.

Pada dasarnya kerugian Keuangan Negara terjadi jika prestasi yang diterima oleh negara lebih kecil
dari uang yang dibayarkan oleh negara. Sama halnya dengan prinsip akuntansi, prestasi yang
diterima sebagai sisi debit sedangkanuang yang dikeluarkan negara sebagai sebagai kredit. Antara
debit dan kredit harus sama (balance). Jika terdapat sisi debit lebih kecil daripada sisi kreditalias
tidak balance, maka timbullah yang disebut kerugian Keuangan Negara. Bagaimana jika sisi debit
lebih besar dari sisi kredit dalam arti prestasi yang diperoleh negara lebih besar daripada uang yang
dibayarkan. Apakah pihak rekanan/penyedia barang & jasa boleh menuntut pembayaran lebih?
Tentu saja tidak bisa karena yang menjadi dasar perikatan adalah kontrak awal antara negara dan
rekanan/penyedia barang & jasa. Sebaliknya jika prestasi yang diterima negara lebih kecil dari pada
uang yang dibayarkan, negara berhak meminta pengembalian uang dari rekanan/penyedia barang &
jasa.
Berdasarkan undang-undang terdapat beberapa definisi kerugian keuangan negara sebagai berikut:
UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
Pasal 1 angka 22
Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan
pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan


Pasal 1 angka 15
Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan
pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi


Penjelasan pasal 32 ayat (1)
Yang dimaksud dengan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara adalah kerugian yang
sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan
publik yang ditunjuk.
Tujuan dari sebuah kegiatan audit investigasi atau audit dalam rangka penghitungan kerugian
keuangan negara (PKKN) adalah untuk menentukan adanya penyimpangan dan kerugian yang
ditimbulkan dari penyimpangan tersebut. Bisa dikatakan bila terdapat kerugian keuangan hampir
dipastikan terdapat penyimpangan. Namun ada juga kondisi dimana terdapat penyimpangan namun
tidak ditemukan kerugian Keuangan Negara. Misalnya pada kasus pengadaan barang/jasa di atas
Rp200.000.000,00 menurut Perpres Pengadaan Barang/Jasa, pengadaan tersebut harus dilakukan
dengan metode pelelangan umum namun pihak SKPD melakukannya secara swakelola.
Penyimpangan telah terjadi namun setelah dilakukan pemeriksaan ternyata barang tersebut telah
sesuai spesifikasi dan tidak terjadi kemahalan hargasehingga tidak ada kerugian Keuangan Negara.
Pada saat melakukan audit investigasi/ PKKN atas kasus TPK, auditor memerlukan metode
penghitungan yang tepat untuk dapat menghitung jumlah kerugian keuangan negara yang terjadi.
Penggunaan metode untuk menghitung kerugian keuangan negara ditentukan berdasarkan bukti-
bukti audit yang mendukung pengungkapan kronologi fakta dan terjadinya pengeluaran negara.
Metode penghitungan kerugian keuangan tidak dapat disamaratakan antara kasus satu dengan
kasus lain. Dalam artian metode penghitungan kerugian keuangan sangat tergantung dengan sifat
kasus, judgement auditor itu sendiri dan kriteria yang digunakan. Maka tidak heran jika kita pernah
mendengar suatu kasus tindak pidana korupsi yang sama, beberapa pemeriksa memiliki hasil
penghitungan kerugian Keuangan Negara yang berbeda-beda.

Pada dasarnya terdapat beberapa metode yang biasa dipergunakan dalam menghitung besarnya
jumlah kerugian Keuangan Negara antara lain metodetotal loss, metode net loss, metode harga
wajar dan metode harga pokok.
1. Metode net loss (kerugian bersih)
Jumlah total loss (kerugian total) dihitung dari seluruh jumlah uang yang dibayarkan/ dikeluarkan
oleh negara karena negara tidak mendapatkan imbalan/prestasi senilai jumlah pengeluaran
tersebut. Metode total loss(kerugian total) dipergunakan untuk menghitung kerugian keuangan
negara pada kasus kegiatan fiktif dan barang/jasa yang sama sekali tidak dapat digunakan.
Beberapa kondisi ketika metode total loss dapat diterapkan:
1. Pengadaan barang/jasa fiktif
2. Kegiatan fiktif
3. Honor fiktif/tidak dibayarkan
4. Barang/jasa yang diterima tidak sesuai spesifikasi kontrak sehingga tidak dapat digunakan atau
dimanfaatkan
Bagaimana jika dalam kegiatan atau pengadaan tersebut terdapat pajak seperti PPN atau PPh yang
telah dipotong dan disetor ke kas negara? Apakah pajak tersebut menjadi pengurang kerugian
keuangan negara? Ternyata berdasarkan pengalaman saya melakukan audit, pajak-pajak tersebut
tidak mengurangi kerugian Keuangan Negara namun oleh auditor dianggap sebagai tindak lanjut.
Misal SKPD X membuat suatu kegiatan fiktif sebesar Rp100.000.000 dan atas kegiatan tersebut
bendahara SKPD X telah memotong PPN dan PPh sebesar Rp15.000.000,00. Kerugian keuangan
negara atas kegiatan fiktif tersebut tetap Rp100.000.000,00 bukan Rp85.000.000,00. Setoran pajak
Rp15.000.000,00 tidak dapat dijadikan pengurang kerugian Keuangan Negara walaupun terdapat
pemasukan ke kas negara. Pajak diinformasikan sebagai tindak lanjut. Sedangkan untuk pengadaan
barang/jasa yang hasil pekerjaannya tidak dapat digunakan/dimanfaatkan, pajak harus dikurangkan
terlebih dahulu.
2. Metode net loss (kerugian bersih)
Metode net loss (kerugian bersih) dipergunakan apabila dalam kasus pengadaan barang/jasa terjadi
kekurangan volume pekerjaan. Dalam kasus ini rekanan hanya berhak menerima pembayaran
sebesar prestasi yang dia berikan kepada negara. Hal tersebut sesuai dengan Perpres Nomor 70
Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pasal 89 ayat 4 yang berbunyi
"Pembayaran bulanan/termin untuk Pekerjaan Konstruksi, dilakukan senilai pekerjaan yang telah
terpasang, termasuk peralatan dan/atau bahan yang menjadi bagian dari hasil pekerjaan yang akan
diserahterimakan, sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Kontrak."
Pajak-pajak yang telah disetorkan ke kas negara harus dikurangkan terlebih dahulu. Baru kemudian
pembayaran netto yang diterima rekanan (setelah dikurangi pajak) disandingkan dengan nilai
realisasi terpasang yang dihitung berdasarkan penghitungan volume pekerjaan terpasang oleh ahli
teknis bangunan. Auditor tidak dapat menghitung sendiri volume pekerjaan terpasang karena auditor
tidak mempunyai kompetensi di bidang teknik bangunan/konstruksi. Sebagai solusinya, auditor bisa
meminta bantuan ahli teknik misalnya dari Dinas Pekerjaan Umum atau Universitas yang
independen. Kalau kita melihat skema penghitungan kerugian keuangan negara tadi seolah-olah
auditor tidak mempertimbangkan besaran keuntungan yang berhak diterima oleh rekanan?
Jawabannya adalah jika dalam proses pengadaan sudah terdapat penyimpangan maka judgement
auditor menyatakan bahwa rekanan tersebut tidak berhak atas keuntungan.
https://www.facebook.com/pemantaukeuangannegara/posts/1333899629969522

METODE PENGHITUNGAN KERUGIAN NEGARA


DALAM AUDIT INVESTIGATIF
Pengirim: budiman slamet / widyaiswara
ABSTRAKSI

Salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam mengungkap terjadinya tindak pidana korupsi
sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi adalah dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Permasalahan menjadi kompleks karena dalam menghitung kerugian keuangan negara pada
dasarnya tidak dapat dipolakan secara seragam. Hal ini disebabkan sangat beragamnya modus
operandi kasus-kasus penyimpangan/tindak pidana korupsi yang terjadi. Demikian pula karena
bukti-bukti asli yang diperlukan untuk menghitung jumlah kerugian keuangan negara tidak tersedia
secara lengkap.
Hasil pembahasan KTI ini adalah: Metode yang digunakan auditor dalam menghitung kerugian
keuangan negara harus memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta dapat
dipertanggungjawabkan secara professional judgment, dengan metode; 1). Kerugian total (Total
Loss ), 2). Kerugian total denganpPenyesuaian, 3). Kerugian bersih ( Net Loss ) 4). Harga wajar,
5).Harga pokok, 6).Opportunity Cost, dan 7). Bunga sebagai unsur kerugian negara.

Proses Perhitungan
Kerugian Negara - Oleh:
Dr. Ferry A. Suranta,SH.,
MBA., MH, Dosen
Pascasarjana Ilmu Hukum
Universitas Medan Area
(UMA) Medan, dan
Praktisi Hukum
B Y AH MA D S YAIK H ON JU MAT, 19/0 9/2 014

Dalam setiap perkara tindak pidana korupsi, perhitungan keugian negara merupakan hal yang
sangat esensial. Sebab dalam penalaran umum (kendati tidak seluruhnya), besar kecilnya kerugian
negara akan menjadi salah satu faktor penentu terhadap beratnya tuntutan jaksa ataupun vonis
hakim. Hal ini menjadi pertimbangan karena tidak terlepas dari dampak ekonomis dan sosiologis
yang ditimbulkan tindak pidana korupsi tersebut yang biasanya berbanding lurus dengan jumlah
besar kerugian negara. Bahkan yang terutama, Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun
1999 menyebutkan bahwa salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam mengungkap tindak pidana
korupsi adalah dapat merugikan keuangan negara dan perekonomian negara.

Tentu, dalam proses penentuan kerugian negara, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui,
yakni pertama, menentukan ada atau tidaknya kerugian negara; kedua, menghitung besarnya
kerugian keuangan negara kalau memang ada dan ketiga, menetapkan kerugian negara tersebut
(Tuanakota, 2009). Ketiga rangkaian tersebut merupakan kesatuan yang sama-sama penting.
Namun, ppenetapan kerugian negara menjadi poin krusial karena menimbulkan banyak multitafsir.
Salah satu faktor penyebabnya adalah pemaknaan mengenai kerugian negara dalam perkara tindak
pidana korupsi yang masih problematik hingga saat ini. Hal tersebut terjadi tak lain karena tidak
seragamnya bahasa peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.

Sebagai perbandingan, dapat dilihat dalam beberapa pasal-pasal berikut ini. Menurut Pasal 1 butir
22 UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Kerugian Negara/Daerah adalah
kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Pengertian tersebut persis dengan yang
tertuang dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa
Keuangan (UU BPK).

Jika memperhatikan bunyi kedua pasal tersebut, harusnya dapat dimaknai bahwa pemahaman
mengenai kerugian negara haruslah sesuatu yang sudah pasti dan nyata terjadi, bukan abstrak dan
sebuah rekaan atau anggapan. Dengan kata lain, kerugian keuangan negara tidaklah termasuk
potensi kerugian yang mungkin terjadi akibat tindak pidana korupsi. Namun, pemahaman tersebut
agak berbeda dengan Penjelasan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan secara
nyata telah ada kerugian keuangan negara adalah kerugian yang sudah dapat dihitung jumlahnya
berdasarkan basil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk.

Sesat Pikir Perhitungan

Keuangan Negara dalam rangkaian Kerugian Keuangan Negara memberikan batas, seperti pagar
di halaman rumah . Sekaligus menjawab pertanyaan : Apakah Kerugian yang kita selidiki, kita
investigasi, atau kita sidik termasuk wilayah keuangan negara atau bukan? Seperti halnya dengan
istilah Kerugian , isitilah Keuangan Negara merupakan unsur yang sangat krusial dalam pasal
pasal dan ayat ayat tertentu dari tindak pidana korupsi dalam beberapa perkara dalam tindak pidana
korupsi. Menurut pasal tersebut, lembaga auditor, akuntan publik dan instansi tertentu seperti BPKP
diberi kewenangan mutlak untuk melakukan perhitungan. Sayangnya, perhitungan yang dilakukan
BPKP seringkali mengalami sesat pikir. Sebagai contoh terjadi dalam kasus tindak pidana korupsi
pengadaan material dan jasa LTE PLTGU GT 21 dan GT 22 Belawan Medan. Ada beberapa hal
menarik sekaligus ironis sehubungan dengan cara BPKP melakukan perhitungan kerugian
keuangan negara dalam kasus tersebut.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum justru menggunakan data ini sebagai alat bukti. Menurut
BPKP, dalam kasus tersebut terdapat kerugian keuangan negara dengan total loss sebesar Rp
237,4 miliar. Kerugian tersebut dihitung berdasarkan sejumlah pembayaran yang dilakukan oleh
PLN sebagai kontraktor. Anehnya, BPKP juga memasukkan kerugian keuangan negara berupa
kehilangan pendapatan negara yang tidak terealisir terhitung mulai 20 November 2012-24
September 2013 (309 hari atau 7416 jam) sebesar Rp 2 trilyun.

Bagaimana BPKP Menghitung?

Bagi kaum awam, jumlah kerugian ini tentu merupakan jumlah yang sangat fantastis. Tanpa
bermaksud mendikotomikan kasus korupsi kecil atau besar, karena bagaimana pun korupsi sekecil
apapun harus diperangi bersama-sama, namun cara perhitungan BPKP ini harus diluruskan. Jika
tidak, maka hal tersebut akan menimbulkan multitafsir dan ketidakpastian hukum yang akan
merugikan hak asasi setiap warga negara dalam penegakan hukum.

Dalam perhitungannya, BPKP berasumsi terkait dengan kasus PLN Sumbagut bahwa GT22 sejak
tanggal 22 November 2012 s/d tanggal 22 September 2013 (tanggal dimana Kejaksaan Agung
menyita GT22 untuk keperluan penegakan hukum) tidak beroperasi. Oleh karena itu, hal tersebut
akan menimbulkan kehilangan produksi KWH sebesar (132 MW + 65 MW) x 7416 jam =
1.460.952.000 kWh. Hasil tersebut didapat dari 132 MW beban GT22 digabung dengan beban ST20
sebesar 65 MW. Jika biaya pokok produksi PLN pada periode tersebut sebesar Rp 1.374,-/kWh,
maka potensi kehilangan pendapatan PLN dihitung sebesar 1.460.952.000 kWh x Rp. 1.374,- = Rp.
2.007.348.048.000.

Berdasarkan contoh tersebut, terdapat dua sudut kesesatan berfikir dalam perhitungan yang
dilakukan BPKP terhadap kerugian keuangan negara (dalam hal ini PLN), pertama, kerugian
keuangan negara seharusnya hanya terhadap apa yang sudah nyata terjadi. Tidak termasuk potensi
kerugian akibat tidak beroperasinya pembangkit GT22 dan ST20. Sebab walaupun yang
mengauditnya adalah instansi yang berwenang (BPKP), namun BPKP tidak boleh dengan
seenaknya memprediksi kerugian tersebut. Sebab hal tersebut belum pasti terjadi.
Kedua, jumlah total kerugian sekitar Rp 2 trilyun tersebut sejatinya tidak mutlak kerugian negara.
BPKP seharusnya mampu membedakan bagaimana perbedaan pengadaan barang di instansi
pemerintah dan di BUMN seperti PLN. Bagaimana pun, harus dipahami bahwa PLN adalah badan
usaha negara yang mencari profit. Dimana seluruh kekayaannya tidak mutlak seluruhnya
merupakan kekayaan negara.

Cara perhitungan yang dilakukan BPKP seperti ini tidak boleh berulang lagi. BPKP semestinya
dapat lebih cermat dan akurat. Sebab perhitungan kerugian negara ini alat bukti yang sangat vital
dalam kasus tindak pidana korupsi yang dapat mengakibatkan orang-orang yang tidak bersalah
teraniaya dan dapat mengakibatkan kerugian moril dan materil. Semoga saja. (analisadaily.com)

http://www.neraca.co.id/article/45620/proses-perhitungan-kerugian-negara-oleh-dr-
ferry-a-surantash-mba-mh-dosen-pascasarjana-ilmu-hukum-universitas-medan-area-
uma-medan-dan-praktisi-hukum