Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

TEKNOLOGI PENYALUTAN
TABLET SALUT ENTERIK

OLEH
KELOMPOK VII

ANDRIYANI (O1A1 14 093)


LILI HANDAYANI (O1A1 14 022)
NENI RAHMADANI (O1A1 14 161)
REZKY NAHDIATI RIANDA B. (O1A1 14 039)
YUGO ADE ANUGRAH T.P. (O1A1 14 108)
ZALMATIA (O1A1 14 068)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayahnya, kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul TABLET SALUT
ENTERIK.
Tidak lupa, kami juga mengucapkan terima kasih kepada, teman-teman,
dan juga dosen mata kuliah Teknologi Penyalutan yang telah memberikan kami
waktu dalam penyelesaian makalah ini. kami berharap bahwa makalah ini dapat
menjadi salah satu sumber pengetahuan bagi para pembaca.
Kami sadar bahwa, makalah ini masih memiliki banyak kekurangan.
Sehingga, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Kendari, April 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................2
1.3 Tujuan...........................................................................................................2
1.4 Manfaat.........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1 Definisi Mata.................................................................................................4
2.2 Definisi Sediaan Tetes Mata.........................................................................5
2.3 Komposisi Sediaan dan Contoh Bahan-Bahan yang Dapat digunakan........6
2.4 Syarat Syarat Sediaan Tetes Mata ............................................................8
2.5 Keuntungan Dan Kerugian Tetes Mata........................................................9
2.6 Metode Pembuatan Sediaan Tetes Mata.......................................................9
2.7 Pewadahan dan Cara Sterilisasi SediaanTetes Mata...................................11
2.8 Evaluasi SediaanTetes Mata.......................................................................12
2.9 Cara Pengguanaan SediaanTetes Mata.......................................................14
BAB III PENUTUP................................................................................................16
3.1 Kesimpulan.................................................................................................16
3.2 Saran...........................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mata merupakan organ manusia yang peka dan penting dalam kehidupan,
yang berfungsi sebagai alat indra penglihatan. Mata dibentuk untuk menerima
rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina, lantas dengan persyaratan serabut-
serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini kepusat penglihatan pada otak
untuk ditafsirkan. Selain itu juga mata sangat sensitif terhadap rangsangan terutama
rangsangan-rangsangan nyeri, mata juga rentan terhadap infeksi bakteri atau virus
atau juga sering mengalami trauma karena benda-benda asing yang berupa butiran-
butiran kecil seperti debu dan asap.
Sediaan mata merupakan produk steril yang secara esensial bebas dari partikel
asing, senyawa dan pengemasannya sesuai untuk pemakaiannya dalam mata. Sediaan
mata sama dengan produk steril lainnya yaitu steril dari bahan partikulat. Tetes mata
merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan untuk mata,
dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata. Tetes
mata dimasukkan kedalam mata yang luka karena kecelakaan atau pembedahan yang
lebih potensial walaupun lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena. Selain obat
tetes mata digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dan kondisi pada mata,
dapat juga digunakan untuk menghilangkan ketidaknyamanan pada mata. Menurut
khasiatnya, obat mata dikenal antara lain sebagai anestetik topikal, anestetik lokal
untuk suntikan, midriatik & sikloplegik, obat-obat yang dipakai dalam pengobatan
glaukoma, kortikosteroid topikal, campuran kortikosteroid & obat anti-infeksi, obat-
obat lain yang dipakai dalam pengobatan konjungtivitis alergika, dan obat mata anti-
infeksi.Sediaan pengobatan dapat berupa larutan dan suspensi dengan cara
meneteskannya pada mata. Berdasarkan uraian diatas maka dalam makalah ini akan
dibahas lebih terperinci lagi tentang tetes mata.
2.1 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan mata ?
2. Apa yang dimaksud dengan sediaan tetes mata ?
3. Apa komposisi tetes mata dan contoh bahan-bahan yang dapat digunakan ?
4. Apa syarat-syarat sediaan tetes mata ?
5. Apa keuntungan dan kerugian sediaan tetes mata?
6. Bagaimana metode pembuatan tetes mata ?
7. Bagaimana pewadahan dan cara sterilisasi tetes mata ?
8. Bagaimana evaluasi sediaan tetes mata ?
9. Bagaimana cara pengguanaan sediaantetes mata ?
2.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk:
1. Mengetahui pengertian mata
2. Mengetahui pengertian sediaan tetes mata
3. Mengetahui komposisi tetes mata dan contoh bahan-bahan yang dapat
digunakan
4. Mengetahui syarat-syarat sediaan mata
5. Mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan tetes mata
6. Mengetahui metode pembuatan tetes mata
7. Mengetaui pewadahan dan cara sterilisasi tetes mata
8. Mengetahui evaluasi sediaan tetes mata
9. Mengetahui cara pengguanaan sediaan tetes mata
2.3 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Dapat mengetahui pengertian tetes mata
2. Dapat mengetahui pengertian sediaan tetes mata
3. Dapat mengetahui komposisi tetes mata dan contoh bahan-bahan yang dapat
digunakan
4. Dapat mengetahui syarat-syarat sediaan mata
5. Dapat mengetahui keuntungan dan kerugian sediaan tetes mata
6. Dapat mengetahui metode pembuatan tetes mata
7. Dapat mengetaui pewadahan dan cara sterilisasi tetes mata
8. Dapat mengetahui evaluasi sediaan tetes mata
9. Dapat mengetahui cara pengguanaan sediaan tetes mata
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mata


Mata merupakan suatu organ yang kompleks dengan anatomi dan fisiologi
yang unik.Mata adalah suatu struktur berisi cairan yang di bungkus oleh tiga
lapisan dari luar ke dalam. Isi bola mata terdiri atas lensa, badan bening dan cairan
dalam mata.Indera penglihatan juga dinamakan fotoreseptor karena mampu
menerima rangsang fisik yang berupa cahaya. Struktur mata dapat dibagi menjadi
dua bagian utama: segmen anterior (bagian depan mata) dan segmen posterior
(bagian belakang mata). Segmen anterior mata menempati kira-kira sepertiga
sedangkan bagian sisanya ditempati oleh segmen posterior. Jaringan seperti
kornea, konjungtiva, aqueous humor, iris, silia dan lensa merupakan bagian
anterior. Sedangkan bagian belakang mata atau segmen posterior mata meliputi
sklera, koroid, pigmen retina, epitel, saraf retina, saraf optik dan vitreous humor
(Patel, 2013: 1-2).

Gambar 1. Struktur mata


Secara umum mata memiliki struktur bola dengan dinding yang terdiri
dari tiga lapis: bagian luar: slera; bagian tengah, lapisan koroid dan tubuh siliari
serta iris; dan lapisan saraf bagian dalam jaringan retina.
1. Humor berair, adalah zat seperti jeli yang terletak diruang anterior mata
2. Koroid, merupakan lapisan terletak dibelakang retina dan menyerap radiasi
yang tidak terpakai
3. Otot empedu/ otot siliaris adalah otot berbentuk cincin yang menempel pada
iris. Hal ini penting karena kontraksi dan relaksasi otot siliaris mengendalikan
bentuk lensa
4. Kornea, adalah bagian paling depan mata, didepan iris dan pupil. Ini
merupakan jaringan bodi yang paling padat, dan kebanyakan saraf kornea
adalah saraf sensorik
5. Skela, adalah selubung putih yang keras disekitar bola mata bagian luar. Inilah
bagian mata yang disebut dengan istilah putih mata
6. Retina, dapat digambarkan sebagai layar yang gambarnya terbentuk oleh
cahaya yang telah dilewati kemata melalui kornea. Aqueous, pupil, lensa, lalu
haloid dan akhirnya vitreous sebelum mencapai retina. Retina mengandung
elemen fotosensitif (disebut batang dan kerucut) yang mengubah cahaya lalu
dideteksi menjadi impuls saraf yang kemudian dikirim keotak sepanjang
konjungtiva. Saraf optik ikut terlibat dalam pembentukan dan pemeliharaan
7. Konjungtiva, film air mata pencahar dan perlindungan dari mata ini adalah
selaput lendir tipis dan vaskularisasi selaput kornea yang melapisi permukaan
posterior kelopak mata dan daerah luar (Rashesh, 2013: 2-3)

2.2 Definisi Tetes Mata


Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, yang
digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata
disekitar kelopak mata dan bola mata (Ditjen POM, 1979: 10).
Tetes mata merupakan obat yang paling umum diberikan pada mata, tetes
mata berupa larutan yang harus steril, harus jernih serta bebas partikel asing,
serat dan benang. Jika harus menggunakan dapar, sebaiknya obat tetes mata
didapar pada pH 7,4 hal ini karena mengingat waktu kontak obat tetes mata
dengan mata relatif singkat (Syamsuni, 2006: 95).

2.3 Komposisi Tetes Mata dan Contoh Bahan-Bahan yang dapat Digunakan
Selain bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan
tambahan untuk mempertahankan potensi dan mencegah peruraian. Bahan
tambahan itu meliputi :
a. Pengawet
Sebagaimana yang telah dikatakan, bahan ini digunakan untuk
mencegah perkembangan mikroorganisme yang mungkin terdapat selama
penggunaan tetes mata. Bahan pengawet yang dianjurkan adalah nipagin,
nipasol, klorbutanol, fenil etil alkohol, timerosol, fenil raksa (II) nitrat atau
fenil raksa (II) asetat 0,002% b/v, benzalkonium klorida 0,01% b/v,
klorheksidina asetat 0,01% b/v. Dengan catatan bahan pengawet tidak boleh
ditambahkan pada sediaan larutan mata untuk pembedahan, karena dapat
menimbulkan iritasi pada jaringan mata.
b. Pengental
Bahan pengental harus bebas dari partikel yang dapat terlihat, yang
dapat ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama
kontal dengan jaringan. Bahan pengental yang digunakan yaitu
hidroksipropilmetilselulosa atau polivinil alkohol.
c. Pendaparan
Pendaparan bertujuan untuk mencegah kenaikan pH yang
disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan
pH dalam mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Air mata normal
memiliki pH 7,4 (dalam beberapa hal, pH dapat berkisar antara 3,5-8,5)
dan mempunyai kapasitas dapar tertentu (Syamsuni, 2006: 97).
d. Pembawa
Beberapa larutan pembawa yang digunakan untuk obat tetes mata
yaitu:
1) Pembawa asam borat
Pembawa asam borat dibuat dengan melarutkan 1,9 g asam borat dalam
air secukupnya sampai 100 mL. Pembawa ini bersifat isotonis terhadap
terhadap mata mempunyai pH sedikit dibawah 5.
2) Pembawa asam borat khusus
Pembawa asam borat khusus dibuat dengan melarutkan 100 mg Na-
sulfit anhidrat dalam pembawa asam borat secukupnya sampai 100 mL.
Larutan pembawa ini cocok untuk melarutkan zat-zat yang mudah
teroksidasi, misalnya epinefrin, fisostigmin
3) Pembawa fosfat isotonik
Pembawa fosfat isotonik dibuat dengan cara mencampurkan Na-
hidrogen fosfat anhidrat 0,8% b/v, larutan Na-fosfat anhidrat 0,947% b/v
dan Na-klorida secukupnya sampai didapat larutan yang isotonik.
Pembawa ini bersifat dapar, yang dengan mengatur perbandingan
volume larutan Na-hidrogen fosfat anhidrat dengan Na-fosfat, akan
didapat pH larutan yang diinginkan (Syamsuni, 2006: 95).
e. Pengkhelat
Ketika ion-ion dan logam berat dapat menyebabkan peruraian obat
dalam larutan digunakan bahan pengkhelat yang bertujuan untuk mengikat
ion dalam kompleks organik yang akan memberikan perlindungan.
Etilenadiaminetetraasetat (EDTA) telah digunakan dalam kondisi seperti itu
untuk khelasi ion logam kalsium (Astalos, 2012:2).

2.4 Syarat-syarat Sediaan Tetes Mata


Menurut Scovilles : 247
Farmasis seharusnya menyiapkan larutan mata yang :

1. Steril

2. Dalam pembawa yang mengadung bahan-bahan germisidal untuk


meningkatkan sterilitas;

3. Bebas dari partikel yang tersuspensi;

4. Bahan-bahan yang akurat;

5. Isotonik atau sangat mendekati isotonic;

6. Dibuffer sebagaimana mestinya;

7. Dimasukkan dalam wadah yang steril;

8. Dimasukkan dalam wadah yang kecil dan praktis

Menurut DOP Cooper :

Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus
memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Ia seharusnya steril ketika dihasilkan

2. Ia seharusnya bebas dari partikel-partikel asing

3. Ia seharusnya bebas dari efek mengiritasi

4. Ia seharusnya mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah


pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan
selama penggunaan.

5. Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis dengan sekresi lakrimal


konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk obat khusus, dan idelanya
tidak terlalu jauh dari netral

6. Ia seharusnya stabil secara kimia

2.5 Keuntungan dan kerugian tetes mata


A. Keuntungan tetes mata
Pharmaceutical Dosege Form and Design (Jones, 2006 :136)
- Penerapan agen terapi langsung ke lokasi aksi untuk memastikan agen
terapeutik tersedia pada konsentrasi yang lebih dicapai
- Pemberian bentuk sediaan lokal untuk mata dapat dengan mudah dilakukan
oleh pasien
Internasional Journal Drug Delivery System Biopharmaceutics (Akhtiar,
2013)
- Penyerapan yang cepat dan onset yang cepat pula
- Menghindari metabolisme lintas pertama dihati
B. Kerugian tetes mata
Internasional Journal Drug Delivery System Biopharmaceutics (Akhtiar,
2013)
- Permeabilitas terbatas dikornea
- Menyebabkan efek terapi jangka pendek karena mata berkedip
- Drainase dari dosis ke dalam saluran air mata menyebabkn efek sistemik

2.6 Metode Pembuatan Tetes Mata


Tetes mata berair umumnya dibuat dengan menggunakan cairan pembawa
berair yang mengandung zat pengawet seperti fenil raksa (II) nitrat atau fenil
raksa (II) asetat 0,002% b/v, benzalkonium klorida 0,01% b/v, klorheksidin asetat
0,01% b/v, yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet
dengan obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata itu
dimungkinkan untuk digunakan. Benzalkonium klorida tidak cocok untuk tetes
mata yang menganndung anastetik lokal (Syamsuni, 2006: 94).
Pembuatan obat tetes mata, jika tidak dinyatakan lain adalah sebagai
berikut (FI III):
a. Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa yang mengandung salah satu zat
pengawet tersebut diatas, lalu larutan dijernihkan dengan penyaringan,
masukkan kedalam wadah, tutup kedap dan sterilkan dengan sterilisasi A/B
yang tertera pada injectiones
b. Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu
zat pengawet tersebut diatas, kemudian larutan disterilkan dengan cara
sterilisasi C yang tertera pada injectiones, masukkan kedalam wadah steril
secara aseptik dan ditutup kedap
c. Obatdilarutkan kedalam cairan pembawa tak berair yang steril (yang
disterilkan pada 150 0C dalam oven), dimasukkan kedalam wadah steril
secara aseptik dan ditutup kedap.
Obat tetes mata yang digunakan untuk pembedahan mata tidak boleh
mengandung pengawet karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata.
Menurut FI IV, pembuatan larutan mata (larutan oftalmik) memerlukan perhatian
khusus seperti pada larutan hidung dan telinga, dalam hal:
1)Toksisitas bahan obat
2)Nilai isotonisitas
3)Kebutuhan bahan pengawet
4)Sterilitas
5)Kemasan yang tepat
Secara ideal larutan mata mempunyai nilai isotonisitas sama dengan
larutan NaCl P 0,9%, tetapi mata tahan terhadapnilai isotonisitas yang setara
dengan larutan NaCl P 0,6-2,0%. Beberapa larutan obat mata perlu hipertonis
untuk: a) meningkatkan daya serap; b) menyediakan kadar zat aktif yang cukup
tinggi sehingga menghasilkan efek obat yang cepat dan efektif.
(Syamsuni, 2006: 96).

2.5 Pewadahan dan Cara Sterilisasi Tetes Mata


Tipe wadah yang biasa digunakan untuk tetes mata adalah vertikal dilipat
ambar atau gelas botol hijau layak dengan tutup bakelite yang membawa tube
tetes dengan sebuah pentil dan kemampuan untuk ditutup sebagaimana untuk
menahan mikroorganisme. Sifat-sifat yang penting yang perlu diperhatikan yaitu
sebagai berikut :
1. Wadah dilengkapi dengan uji untuk membatasi alkali gelas. Copper (1963)
menunjukkan bahwa kadang-kadang botol dapat dibebasalkalikan tetapi tube
tetes tidak. Ini dapat dicontohkan oleh tetes mata fisostigmin dalam larutan
dalam botol tidak berwarna tetapi pada tube tetes berwarna merah muda.
2. Wadah melindungi isi bahan terhadap cahaya. Banyak bahan obat sensitif
terhadap cahaya.
3. Wadah mempunyai segel yang memuaskan. Norton (1963) menunjukkan test
warna.
4. Pentil karet atau pentil dari bahan-bahan lain adalah penyerap dan sebaiknya
dijenuhkan dengan pengawet yang digunakan dalam larutan mata dimana
mereka digunakan.
5. Wadah di desain untuk penetes yang siap digunakan dan melindungi terhadap
kerusakan dan kontaminasi.
6. Wadah dilengkapi dengan pengaturan racun. Banyak obat mata adalah racun.
7. Wadah non gelas tidak bereaksi dengan obat-obat atau partikel lain yang
menjadi isi larutan.
Menurut The Art Of Compounding (Schoville, 1911)
Wadah untuk larutan mata sebaiknya digunakan dalam unit kecil, tidak
pernah lebih besar dari 15 mL dan lebih disukai yang lebih kecil. Botol 7,5 mL
adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan
wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan
meminimalkan jumlah pemaparan konteminasi. Larutan mata disiapkan secara
terus-menerus dikemas dalam wadah tetes (droptainers) polietilen atau dalam
botol tetes gelas. Untuk mempertahankan sterilitas larutan, wadah harus steril.
Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida, sementara penetes gelas dapat
dengan dibungkus dan diotoklaf. Secara komersial disiapkan unit dosis tunggal
dengan volume 0,3 ml atau kurang dikemas dalam tube polietilen steril dan
disegel dengan pemanasan.
Wadah gelas sediaan mata tradisional dilengkapi penetes gelas yang telah
dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polietilen densitas rendah yang
disebut Droptainer. Hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan,
biasanya karena keterbatasan sterilitas. Larutan intraokuler volume besar 250-500
ml telah dikemas dalam gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas
dalam pabrik khusus wadah polietilen/polipropilen.
Wadah gelas Tipe I merupakan bahan yang bagus untuk penyiapan larutan
mata secara continue. Wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril
kemudian disterilisasi dengan otoklaf. Penetes normalnya disterilkan dan dikemas
dalam blister pack yang menyenangkan.
Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. Meskipun
beberapa botol plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran,
masih dilakukan penyempurnaan untuk mendapatkan kemasan yang terbaik.
Wadah plastik yang digunakan biasanya polietilen densitas rendah. Wadah plastik
permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. Wadah plastik dapat
mengandung variasi bahan-bahan ekstraneous seperti bahan pelepas jamur,
antioksidan, reaksi quenchers dan reaksi serupa. Lem label, tinta dan warna juga
dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat, sebaliknya bahan-bahan menguap
dapat menyerap dari larutan ke dalam atau melalui wadah plastik.

2.6 Evaluasi Sediaan Tetes Mata


1. Sterilitas
Suatu bahan dinyatakan steril apabila bebas dari mikroorganisme hidup yang
patogen maupun yang tidak, baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam
bentuk sporanya. Dikatakan memenuhi syarat jika tidak lebih dari delapan
kelinci masing-masing menunjukkan kenaikan suhu 0,50C atau lebih dan
jumlah kenaikan suhu maksimal delapan ekor kelinci lebih dari 3,3 0C.
2. Kejernihan
Digunakan alat khusus, tidak adanya terlihat partikel asing dan jernih secara
normal diperoleh dengan filtrasi, pentingnya peralatan filtrasi dan tercuci baik
sehingga bahan-bahan partikulat tidak terkontribusikan untuk larutan dengan
desain peralatan untuk menghilangkannya. Pengerjaandilakukan dalam
lingkungan bersih.
3. Volume
Volume isi netto setiap wadah harus sedikit berlebih dari yang
ditetapkan.Kelebihan volume bisa dilihat ditabel

4. Stabilitas zat aktif


Harus dapat dipastikan bahwa bahan aktif stabil pada proses pembuatan
khususnya pada proses sterilisasi dan stabil pada waktu penyimpanan sampai
waktu tertentu. Artinya sampai batas waktu tersebut kondisi obat masih dapat
memenuhi persyaratan.
5. Kemampuan difusi zat aktif dari sediaan
Sesuai dengan bahasan tentang pengaruh pH terhadap penetrasi bahan aktif
sediaan obat tetes mata, maka koefisien partisi bahan aktif dalam sediaan
merupakan hal yang sangat penting. Evaluasi kemampuan difusi bahan aktif
dari sediaan obat tetes mata berlangsung beberapa tahap:
a. Kemampuan perubahan pH sediaan OTM sebagai akibat penambahan
sejumlah volume tertentu larutan pH 7,4
b. Kecepatan difusi bahan aktif dari sediaan
c. Kecepatan difusi bahan aktif sediaan setelah penambahan sejumlah
volume tertentu larutan dengan pH 7,4

2.7 Cara Pengguanaan Sediaan Tetes Mata (Gennaro, 2000 : 824)

Berikut ini adalah cara penggunaan dari obat tetes mata :

1. Cuci tangan
2. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah
3. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika penetes
dimasukkan ke dalam botol untuk membawa larutan ke dalam penetes
4. Tempatkan penetes di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata bagian
bawah sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan penetes pada mata atau
jari.
5. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan jangan
berkedip paling kurang 30 detik
6. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup rapat
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan obat tetes mata yaitu:
1) Jika penetesnya terpisah, selalu tempatkan penetes dengan ujung menghadap
ke bawah
2) Jangan pernah menyentuhkan penetes denga permukaan apapun
3) Jangan mencuci penetes
4) Ketika penetes diletakkan diatas botol, hindari kontaminasi pada tutup ketika
dipindahkan
5) Ketika penetes adalah permanen dalam botol, ketika dihasilkan oleh industri
farmasi uunutk farmasis, peraturan yang sama digunkahn menghindari
kontaminasi
6) Jangan pernah menggunakan tetes mata yang telah mengalami perubahan
warna
7) Jika anda mempunyai lebih dari satu botol dari tetes yang sama, buka hanya
satu botol saja
8) Jika kamu menggunakan lebih dari satu jenis tetes pada waktu yang sama,
tunggu beberapa menit sebelum menggunakan tetes mata yang lain
9) Sangat membantu penggunaan obat dengan latihan memakai obat di depan
cermin
10) Setelah penggunaan tetes mata jangan menutup mata terlalu rapat dan tidak
berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan obat tempat
kerjanya.
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah :
1. Mata adalah suatu struktur berisi cairan yang di bungkus oleh tiga lapisan
dari luar ke dalam. Isi bola mata terdiri atas lensa, badan bening dan cairan
dalam mata.
2. Tetesmata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, yang digunakan
untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar
kelopak mata dan bola mata, dimana tetes mata harus steril, jernih, serta
bebas partikel asing, serat dan benang. Jika harus menggunakan dapar
sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH 7,4 hal ini mengingat waktu
kontak obat tetes mata dengan mata relatif singkat.
3. Komposisi dari tetes mata serta bahan-bahan yang dapat di gunakan yaitu
pengawet, pengental, pendapar, pembawa dan pengkhelat.
4. Syarat-syarat sediaan tetes mata yaitu harus steril, dalam pembawa yang
mengadung bahan-bahan germisidal untuk meningkatkan sterilitas,bebas dari
partikel yang tersuspensi, bahan-bahan yang akurat,isotonik atau sangat
mendekati isotonic, dibuffer sebagaimana mestinya, dalam wadah yang steril,
dalam wadah yang kecil dan praktis, bebas dari efek mengiritasi,
mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah pertumbuhan
mikroorgenisme yang berbahaya, dan stabil secara kimia.
5. Keuntungan dari obat tetes mata adalah penerapan agen terapi langsung ke
lokasi aksi, mudah dilakukan oleh pasien, penyerapan yang cepat dan
onsetnya cepat, menghindari metabolisme lintas pertama di hati. Sedangkan
kerugiannya adalah permeabilitas terbatas di kornea, menyebabkan efek
terapi jangka pendek karena mata berkedip, dan drainase dari dosis ke dalam
saluran air mata menyebabkan efek sistemik.
6. Metode pembuatan tetes mata adalah pertama obat dilarutkan kedalam cairan
pembawa yang mengandung salah satu zat pengawet lalu larutan dijernihkan
dengan penyaringan, masukkan kedalam wadah, tutup kedap dan sterilkan
dengan sterilisasi A/B yang tertera pada injectiones, kemudianobat dilarutkan
kedalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu zat pengawet
tersebut diatas, kemudian larutan disterilkan dengan cara sterilisasi C yang
tertera pada injectiones, masukkan kedalam wadah steril secara aseptik dan
ditutup kedap, dan terakhir obatdilarutkan kedalam cairan pembawa tak
berair yang steril (yang disterilkan pada 150 0C dalam oven), dimasukkan
kedalam wadah steril secara aseptik dan ditutup kedap.
7. Wadah yang digunakan untuk tetes mata yaitu wadah gelas tipe I

3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada penyusunan makalah ini adalah penyusun
sangat berharap bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan apabila
ada kekurangan mohon untuk dilengkapi lagi agar makalah ini jauh lebih baik dari
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Akhtiar , N. 2013. Vicolus Okular Drug Delivery System. Internasional Journal Of


Biopharmaceutics. Vol. 4 (1)

Astalos, J.P., Valentina L.L., Ivanka P.V., Dean S.Z., Mandic, Tigrena C. dan Nikola
S. 2012. Eye Drops Preservative as The Cause of CornealBand Keratopathy in
Long-Term Pilocarpine Hydrochloride Treatment. Acta Clin Croat. Vol 51 (1).

Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.

Gennaro, A.R.. 2000. Remington The Science and Practice of Pharmacy, 20th
Edition. Publishing AS.

Jones, D. 2006. Pharmaceutical Dosage Form and Design Pharm Press. London

Patel, A., Kishore C., Vibhuti A. dan Ashim K.M. 2013. Ocular Drug Delivery
Systems: An Overview. World Journal ofPharmacology.Vol 2 (2).
Rashesh, K.K dan Mangi Ravi K. 2013. Advances In Opthalmic Drug Delivery
System. Pharma Science MonitorAn International Journal Of Pharmaceutical
Sciences. Vol 4 (4).

Schoville. 1911. The Art Of Compounding. Philadelphia


Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta.