Anda di halaman 1dari 4

KONTROL YANG DIPAHAMI (PERCEIVED CONTROL)

Keyakinan-Keyakinan Akan Kontrol

Skinner, Wellborn, dan Connell (1990) membedakan tiga jenis kepercayaan yang berperan

dalam kontrol yang dipahami. Keyakinan strategis merupakan penilaian yang berkaitan

dengan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan (misalnya, kemampuan, usaha,

oranglain, keberuntungan, faktor yang tidak diketahui). Keyakinan kapasitas mengacu pada

kapabilitas pribadi terkait dengan kemampuan, usaha, orang, orang lain, dan

keberuntungan. Misalnya, keyakinan strategi berupa, Cara terbaik bagi saya untuk

mendapatkan nilai yang baik yaitu dengan bekerja keras.

Keyakinan terkontrol merupakan penilaian mengenai peluang kita untuk berprestasi di

sekolah tanpa mengacu pada cara khusus (misalnya, Saya bisa bekerja dengan baik di

sekolah jika saya mau).

Ketidakberdayaan Yang Dipelajari (Learned Helplessness)

Learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) mengacu pada keadaan psikologis

yang mencakup gangguan pada motivasi, proses kognitif, dan emosi mengacu pada

pengalaman sebelumnya yang tidak terkontrol (Maier & Seligman, 1976; Peterson, 2000;

Seligman, 1975, 1991). Kunci untuk menghasilkan ketidakberdayaan ialah kemandirian

yang dipahami antara respons dan hasil.

Satu perwujudan dari ketidakberdayaan adalah sikap pasif. Orang-orang tidak akan

melakukan apa-apa ketika mereka yakin bahwa mereka tidak memili kontrol terhadap

sebuah situasi. Situasi yang bisa dikontrol sebelumnya membuat seseorang lebih agresif,

tetapi pada akhirnya perilaku tersebut akan menjadi kurang asertif.

Seligman (1975) mengartikan ketidakberdayaan sebagai sebuah penjelasan bagi depres

reaktif yang muncul karena perubahan tiba-tiba dan dramatis dalam kehidupan seseorang

(misalnya, kematian orang yang dikasihi, perceraian, atau kehilangan pekerjaan).


Siswa Yang Memiliki Masalah Dalam Belajar

Ketidakberdayaan mencirikan banyak siswa yang memiliki masalah dalam belajar

yang memasuki siklus yang terus berputar dimana pengaruh negatif saling

berinteraksi dengan kegagalan akademik (Licht & Kistner, 1986)

Akhirnya siswa mengiterprestasikan keberhasilan mereka memiliki penyebab

eksternal, misalnya tugas yang mudah, mereka beruntung, atau guru membantu

mereka. Mereka menghubungkan kegagalan dengan rendahnya kemampuan yang

merupakan hal internal, global, dan stabil, dan secara negatif mempengaruhi efikasi-

diri, motivasi, dan prestasi (Nolen-Hoeksema, Girgus, & Seligman, 1986)

KONSEP DIRI

Konsep diri dan perannya dalam motivasi dan pembelajaran akademik:

Dimensi-Dimensi Dan Perkembangan

Konsep diri mengacu pada persepsi seseorang terhadap dirinya secara keseluruhan (a)

terbentuk melalui pengalaman, dan interpretasi, dengan lingkungan dan (b) sangat

dipengaruhi oleh pelaksanaan dan evaluasi oleh orang penting lainnya.

Efektivitas diri (self esteem) merupakan pengalaman seseorang mengenai pentingnya

dirinta, atau apakah seseorang itu menerima dan menghargai dirinya. Penghargaan diri

merupakan komponen konsep diri yg bisa dievaluasi. Kepercayaan diri (self confidence)

menunjukan perluasan yang diyakini seseorang mengenai apa yg bisa dihasilkannya, tujuan

yg dicapai, atau pelaksanaan tugas kompeten.


Stabilitas konsep diri (self concept) mengacu pada kemudahan atau kesulitan mengubah

konsep diri. Stabilitas tergantung sebagian pada bagaiman kepercayaan terwujud atau

terstruktur.

Konsep Diri Dan Pembelajaran

Pemikiran bahwa konsep diri terkait secara positif dengan pembelajaran di sekolah secara

intuitif bisa diterima. Siswa yang yakin dengan kemampuan belajarnya dan merasa berharga

menunjukkan minat dan motivasi yang lebih besar di seolah, yang memperkuat prestasi.

Prestasi yang lebih tinggi, pada gilirannya, memperteguh efikasi-diri untuk belajar dan

mempertahankan penghargaan-diri yang tinggi.

MOTIVASI INTRISTIK

Motivasi intrinsik mengacu pada keinginan untuk melakukan aktivitas bukan untuk

mendapatkan hadiah melainkan pengerjaan tugas itu sendiri. Beberapa susut

pandang mengenai motivasi intristik dibahas diawah ini:

Motivasi yang efektif (effectance motivation). Dalam sebuah seminar, White (1959)

mengartikan motivasi yang efektif sebagai kecocokan atau kemampuan, dan semua

padanan yang terkait dengannya seperti kapabilitas, kapasitas, efisiensi, profisiensi,

dan keterampilan.

Motivasi untuk menguasai. Jika White berfokus pada kesuksesan, Harter

mempertimbangkan keberhasilan dan kegagalan. Harter juga menekankan peran

pensosialisasian agen dan hadiah, proses dimana anak menginternalisasi tujuan

penguasaan dan mengembangkan sistem penghargaan sendiri, dan pentingnya

menghubungkan motivasi yang dipahami.


Ketidakselarasan dan ransangan. Beberapa peneliti mendalilkan bahwa motivasi

intristik mencerminkan kebutuhan pada jumlah rangsangan lingkungan yang cukup.

Self-determination (kebulatan tekad). Motivasi intristik meupakan kebutuhan yang

melekat dalam diri manusia dan berasal dari bayi sebagai kebutuhan yang tidak bisa

dibedakan pada kompetensi dan kebulatan tekad.

Penilaian berlebihan dan penghargaan. Lepper dan Hodell (1989) membuat

hipotesis bahwa ada 4 sumber motivasi intristik: tantangan, keingintahuan, kontrol,

dan fantasi.

APLIKASI-APLIKASI DALAM PENGAJARAN

Pelatihan Motivasi Berprestasi

Pelatihan motivasi berprestasi bertujuan membantu siswa mengembangkan pikiran dan

perilaku siswa dalam motivasi berprestasi.

Program-Program Pengolahan Atribusi

Program-program pengubahan atribusi berusaha memperkuat motivasi dengan mengubah

atribusi siswa terhadap keberhasilan dan kegagalan. Peneliti telah mengidentifikasi siswa

yang cocok dengan pola atribusi ini dan telah melatih mereka untuk mengaitkan kegagalan

pada faktor yang dapat dikontrol ketimbang mengaitkannya pada kemampuan yang rendah.