Anda di halaman 1dari 11

Skenario 6

PERAWATAN PERIODONTAL PADA PASIEN ORTODONSIA

Seorang perempuan berumur 37 tahun datang ke dokter gigi dengan keluhan


pergeseran gigi dan terdapat jarak antar gigi daerah depan atas. Pemeriksaan klinis
didapatkan pergeseran gigi-gigi dan diastema pada 11,12,21, dan 22, gigitan dalam dengan
relasi molar kelas I Angels, dan protrusi gigi-gigi anterior dengan garis bibir tinggi.
Pemeriksaan periodontal terdapat plak dan kalkulus subgingiva, kemerahan margin gingiva,
kedalaman saat probing dan kehilangan perlekatan klinis antara 3 sampai 5 mm. Diagnosa
periodontitis agresif telah ditetapkan. Dokter gigi melakukan retraksi dan intrusi pada gigi-
gigi anterior dan koreksi oklusi. Intrusi menyebabkan penyatuan gingiva sekitar cemento
enamel junction dan sepertiga tengah gigi (gambar 1). Hal ini tampak seperti pembesaran
gingiva dan mahkota gigi tampak lebih pendek pada daerah gigi-gigi anterior atas. Hal ini
menyebabkan estetika kurang bagus dengan pembentukan false pocket. Dokter gigi juga
melakukan perawatan periodontal pada pasien tersebut.

STEP 1

1. False Pocket : poket oleh karena hiperplasi gingiva dan biasanya terjadi ketika
adanya inflamasi dan pembentukan sulkus oleh karena perbesaran gingiva lebih ke
koronal, dasar sulkus ke Cemento Enamel Junction.
2. Retraksi : gerakan perawatan ortho gigi diarahkan ke lengkung gigi.
3. Intrusi : pergeseran gigi masuk ke dalam soket alveolaris dan pergeserannya
ke arah vertikal.

STEP 2

1. Bagaimana hubungan perawatan ortho dan perio yang akan dilakukan?


2. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan pada perawatan periodontal pada pasien
orthodonsia di skenario?
3. Apakah ada jeda waktu antara perawatan orthodonsia dan perawatan periodontal?
4. Apa saja perawatan periodontal yang akan dilakukan dan bagaimana prosedurnya?
5. Bagaimana kontrol dan evaluasi?

STEP 3

1. Pasien dengan perawatan ortho pergerakan gigi kerusakan ligamen dan retensi
plak.
Untuk perawatan perio : dengan dilakukan scalling dan root planing

1
Macam perawatan ortho :
a. Pra ortho untuk mempersiapkan jaringan perio agar sehat kembali.
b. Saat ortho
c. Pasca ortho mengenai kekambuhan penyakit periodontal tekanan yang
diberikan tidak terlalu besar.
- Intrusi : pembesaran gingiva mengganggu estetik.

- Jika pasien tidak bisa melakukan adaptasi pada perawatan - Tekanan alat
ortho terlalu
besar

OH Buruk

Akumulasi plak

Kalkulus subgingiva

Hiperplasi gingiva

Perawatan perio

- Terapi perio dilakukan terlebih dahulu. Lebih mendahulukan oklusi fungsional.


2. Hal-hal yang harus diperhatikan :
a. Hiperplasi gingiva
b. Keadaan dari tulang alveolar (karena pada perawatan ortho kekuatan yang
diberikan cukup besar)
c. Menghilangkan sesuai dengan faktor etiologi. (misalnya :bakteri,kalkulus,plak)
d. Faktor penyakit sistemik (harus dinormalkan dulu)
e. Kondisi sosial ekonomi pasien.
f. Jika gingiva pada gigi mengalami resesi, maka dilakukan perawatan perio terlebih
dahulu.
g. Gigi yang perlu diretraksi.
h. DHE
i. Kondisi dari konsistensi jaringan periodontal pada penderita.
j. Jadwal kunjunganyang diperketat, jika pasien memiliki penyakit pada jaringan
periodontal.
3. Gingivektomi : dapat dilakukan 1-2 minggu setelah perawatan ortho.

2
- Bedah flap : dilakukan 6 bulan pasca operasi
- Scalling & rootplaning : kapan saja tanpa jeda.
4. Rencana Perawatan :
a. Terapi Fase 1 : DHE, scalling, root planing, evaluasi alat orthodontik dengan
mengurangi tekanan.
b. Evaluasi
c.

Hiperplasi Gingiva

Mengecil Membesar

Fase Pemeliharaan Fase II (bedah gingivektomi)

- Periodontitis agresif : bakteri A.a, sistem imun menurun, genetik


- Terapi : Antibiotik sistemik(tablet) dan lokal (diberikan setelah scalling dan
root planing)
- Tetrasiklin 250 mg 4 dd 1
- Kombinasi : Amoxicilin dan metronidazol 3 dd 1
- Edukasi dan kontrol plak
- Evaluasi :
a. kedalaman poket
b. pengurangan kedalaman poket (fase pemeliharaan)
c. poket semakin dalam :perawatan bedah flap root debridement oleh karena
kalkulus subgingivabedah flapevaluasipemeliharaan
- intrusi : tidak boleh dilakukan pada pasien dengan inflamasi gingiva oleh karena
akan terjadinya re attachmentdapat mengalami re attachment pada jaringan
periodontalnya.
- Diastema: perawatan ortho dilakukan setelah perawatan periodontal stabil
(cekatelastis dan tekanan ringan)
5. Kontrol
- Cek kembali adanya pembengkakan gingiva, kedalaman poket, plak dan
kalkulus.
- Instruksi pada pasien:
a. DHE
b. Cara menyikat gigi yang baik dan benar
c. Diet tidak memakan makanan yang terlalu keras dan lengket
d. Retraksi dengan retainer (pasca ortho dilakukan setelah 6 bulan)

3
STEP 4

PETA KONSEP

Hubungan Perawatan Orthodinsia


dan Jaringan Periodontal

Pertimbangan jaringan periodontal


sebelum, selama, dan setelah
perawatan orthodonti

Pemeriksaan klinik dan penunjang

Diagnosa Periodontitis agresif

Rencana Perawatn Terapi Fase 1

Evaluasi

Fase II
Fase IV
(pemeliharaan)

STEP 5:

4
LEARNING OBJECT

Mahasiswa Mampu Mengetahui dan Menjelaskan :

1. Pertimbangan jaringan periodontal sebelum, selama, dan sesudah perawatan ortho.


2. Rencana perawatan pra ortho, ortho, dan pasca ortho pada periodontitis agresif.
3. Kontrol dan evaluasi.

STEP 7

1. Pertimbangan jaringan periodontal pada perawatan orthodonsia :

Ada 2 macam injuri yang akan dihasillkan alat ortodontik terhadap jaringan periodontal :

1. Daerah yang terkena tekanan


2. Daerah yang terkena tarikan

Tekanan yang sedikit berlebihan dapat menstimulasi resorbsi tulang alveolar, dengan
menghasilkan pelebaran ruang ligament periodontal. Sedangkan tarikan yang berlebihan
menyebabkan elongasi serat ligament periodontal dan aposisi tulang alveolar. Pada daerah
dengan tekanan yang meningkat, pembulu darah sangat banyak dan ukurannya berkurang.
Pada daerah dengan tarikan yang meningkat akan berakibat ukuran pembulu darah bertambah
besar.

Tekanan yang sangat kuat menghasilkan perubahan dengan tingkat yang berbeda pada
ligament periodontal, dimulai penekanan serat yang menghasilkan daerah yang mengalami
hyalinasi. Kemudian injuri terhadap fibroblast dan sel jaringan ikat lainnya menimbulkan
nekrosis pada daerah ligamen. Perubahan vascular yang terjadi hingga 30 menit. Aliran darah
terganngu dan statis selama 2-3 jam. Dan antara 1-7 hari terjadi disintegrasi dinding pembulu
darah menuju jaringan sekitar. Untuk tambahan, terjadi peningkatan resorbsi tulang alveolar
dan resorbsi permukaan gigi.

Selain itu, pergeseran gigi pada saat perawatan juga mengakibatkan terbentuknya pseudo
poket. Poket yang semakin dalam akan menyediakan tempat untuk bakteri subgingiva
berkoloni dan merusak jaringan periodontal. Pseudo poket terjadi akibat pembesaran gingival
pada saat gingivitis. Sebagian besar bakteri subgingiva adalah bakteri periodontopatogen
anatara lain porphyromonas gingivalis, prevotelaintermedia, fusobacterium nucleatum, dan
Aa.

5
Pertimbangan lainnya :

a. Pra-ortodonti:
Terapi periodontal pra-ortodonti bertujuan untuk mempersiapkan jaringan periodontal
yang sehat, sehingga mampu menerima perawatan orthodonti dan menghindari
komplikasi periodontal seperti resorbsi tulang berlebihan dan relapsnya perawatan
ortodonti.
Pertimbangan seperti pada kasus pertama yaitu adanya gingivitis marginalis kronis
disebabkan akumulasi plak dan kalkulus disertai frenulum labialis rahang atas tanf
tinggi sehinga dipertimbangkan agar dilakukan terapi inisial terlebih dahulu untuk
mengeliminasi faktor yang yang memperberat penyakit periodontal dan setelah itu
dilakukan fase maintenance kemudian direncanaan untuk dilakukan fase bedah pada
frenulum agar tidak mengganggu gerakan ortodonti.
Pada kasus kedua yaitu adanya periodontitis kronis menyeluruh disebabkan akumulasi
plak dan kalkulus, dengan poket absolut 4-8 mm, kerusakan tulang mencapai 1/3
tengah akar sehingga pasien tersebut direncanakan untuk dilakukan open flap
debridement. Pertimbangan dilakukan flap adalah untuk mengeliminasi jaringan
granulasi, sementum nekrotik, tulang nekrotik, serta menciptakan perlekatan baru.
Kondisi poket yang dalam jika tidak dilakukan perawatan bedah periodontal, maka
akan menambah retensi dan akumulasi plak.
Pertimbangan lain yang juga harus diperhatikan :
a. Adanya keradangan
b. Panjang dan bentuk dari akar gigi
c. Lebar dan panjang dari tulang alveolar
d. Struktur kesehatan dari gingiva
b. Fase Ortho
Gaya yang digunakan tidak melebihi dari optimal gaya yang dapat diterima oleh PDL,
kekuatan gaya untuk mendapatkan gerakan tipping sebesar 35-60 g, gerakan translasi
(bodily movement) sebesar 70-120 g, uprighting akar sebesar 50-100 g, rotasi sebesar
35-60 g, ekstrusi sebesar 35-60 g dan intrusi sebesar 10-20 g.
Pencapaian oklusi fungsional pada pasien dengan riwayat penyakit periodontal
daripada mengejar oklusi sempurna dengan mengorbankan stabilitas jangka panjang
pada periodontal
c. Fase Pasca Ortho :

Pada pasca-orthodontik dilakukan retensi pasca-orthodontik yang berlangsung setidaknya


enam bulan untuk mengizinkan mineralisasi lengkap jaringan osteoid. Untuk stabilitas pasca-
orthodontik membutuhkan retensi semi permanen yaitu menggunakan fixed lingual retainer,
passive plate acrylic foil dan retensi permanen menggunakan intracoronal titanium pins.

6
Alasan stabilitas pasca-orthodontic membutuhkan retensi semi permanen atau permanen
yaitu:

1. Untuk mencegak resiko kekambuhan.


2. Untuk mengimbangi keseimbangan dari jaringan lunak atau mengurangi dukungan
tulang.
3. Untuk menghilangkan trauma oklusal sekunder.
4. Untuk meningkatkan kenyamanan pengunyahan terhadap mobilitas gigi

Pemeliharaan kebersihan mulut sangat penting dalam stabilisasi jangka panjang


setelah perawatan ortodontik. Pemeliharaan kebersihan mulut seperti kontrol plak yang baik
akan membuat oral hygiene baik dan mencegah adanya penyakit periodontal.

2. Pada perawatan periodontal preorthodontic phase, dihilangkan keradangan dengan


menjaga kebersihan rongga mulut melalui kontrol plak, scaling dan root planning.
Bleeding on probing, yang merupakan indikator penyakit periodontal, adalah tanda
suatu kelainan yang progresif dan aktif sehingga harus selalu diperhatikan selama
perawatan. Poket periodontal yang dalam sebagai pertanda terjadinya kerusakan
tulang perlu direkonstruksi terlebih dulu agar dapat dilakukan dengan bedah flap
periodontal. Penyembuhan ditunggu 6 minggu pasca operasi dan keadaan stabil.
Pada perawatan periodontal orthodontic phase, terdapat 4 hal yang harus
diperhatikan, yaitu kekuatan dan reaksi terhadap jaringan periodontal, karena kekutan
yang berlebihan dapat menyebabkan resorpsi tulang ataupun terjadi dehiscences.
Kedua adalah terjadinya gingiva hiperplasia, sebagai akibat OH yang tidak
diperhatikan atau karena kekuatan alat ortodonti yang terlalu besar. Ketiga, penderita
dengan adanya kerusakan jaringan periodontal, maka kekuatan alat ortodonti harus
seringan mungkin dengan masa yang lebih lama. Yang keempat, selalu memonitor
kesehatan jaringan periodontal terhadap keradangan pada jaringan periodontal, karena
akan menghambat pergerakan gigi.
Perawatan periodontal pada pasca orthodontic phase, retensi dilakukan paling sedikit
dengan jangka waktu 6 bulan. Hal-hal yang dapat terjadi jika tidak melakukan
tahapan ini adalah relaps, traumatik oklusi, dan mastikasi yang tidak seimbang dan
dapat memberi rasa tidak nyaman.

Perawatan pada penyakit periodontal agresif dapat dilakukan menggunakan terapi


bedah berupa cangkok tulang. Adanya cangkok tulang pada defek infraboni kasus
periodontitis agresif dapat membantu terjadinya regenerasi jaringan periodontal, yaitu

7
terbentuk tulang alveolar, sementum, dan ligamen periodontal yang baru. Cangkok tulang
yang dapat digunakan pada kasus periodontitis agresif adalah cangkok tulang alograf, yaitu
bahan cangkok dari spesies yang sama. Pemilihan cangkok tulang alograf terbukti dapat
mengalami regenerasi tulang sebanyak 4-10 mm dan mengurangi kedalaman poket
periodontal berkisar 1-2 mm.

Rencana perawatan agresif periodotitis

1. Fase inisial :
a. DHE mengenai kontrol plak yang dapat dicapai dengan mendidik dan memotivasi
pasien dengan mengajarkan teknik menyikat gigi yang benar, penggunaan alat
bantu pembersihan interdental seperti benang gigi serta pemakaian obat kumur
berupa khlorhexidin 0,12% atau 2% atau povidon iodin 1%
b. Scaling dan root planing
Pada saat scalng dan root planing dapat pula ditambahkan antibiotik lokal
c. Antibiotik
Antibiotik yang dapat digunakan antara lain :
Antibiotik sistemik
Tetracyclin 250 mg 4 kali sehari selama 12-14 hari
Metronidazole 500 mg 3 kali sehari selama 7 hari
Doxycyclin 200 mg selama 1 hari kemudian dilanjutkan 100 mg per hari
selama 14 hari
Kombinasi metronidazole 250 mg dan amoxycilin 375 mg 3 kali sehari
selama 7 hari
Kombinasi metronidazole 500 mg dan ciprofloxaxin 500 mg 2 kali sehari
selama 8 hari

Antibiotik lokal

Tetracyclin containing fibers


Subgingival doxycyclin
Subgingival nimocyclin
Subgingival metronidazole
2. Evaluasi terhadap fase initial dengan melihat adanya kedalaman poket, keadaan
gingiva. apabila terjadi penyusutan kedalaman poket yang signifikan maka dapat
dilanjutkan pada fase pemeliharaan tetapi apabila poket menjadi semakin dalam atau
tidak terlihat adanya perubahan penyusutan poket yang signifikan maka dilakukan
terapi fase bedah
3. Fase bedah

8
Melakukan root debridemen dengan membuat flap agar akar terlihat sehingga
pemakaian alat dan pembersihan kalkulus pada bagian akar yang belum dapat optimal
dapat dilakukan dengan sempurna.
4. Fase Pemeliharaan
Fase pemelihaan selalu dilakukan dalam perawatan penyakit periodontal untuk
mempertahankan keadaan jaringan periodontal agar tetap sehat. Fase pemeliharaan
dilakukan seumur hidup dengan melakukan kontrol rutin.

3. Kontrol dan evaluasi :


- Pasien dewasa yang menjalani perawatan ortodontik harus telah dilakukan scaling
yang hati-hati dengan jadwal yang dipercepat, biasanya frekuensinya dua kali
lebih cepat dari pasien yang tidak melakukan perawatan ortodontik. Dengan kata
lain, seorang pasien dewasa yang biasanya melakukan scaling dan polishing setiap
interval 6 bulan tanpa perawatan ortodontik, maka pada saat dilakukan perawatan
ortodontik diharuskan melakukannya setiap 3 bulan, dan pada pasien yang
biasanya dilakukan setiap 3 bulan maka pada perawatan ortodontik dilakukan
setiap 6 minggu.
- Disarankan perlunya kerjasama dan komunikasi yang baik untuk merawat pasien
yang memiliki kelainan periodontal pada perawatan ortodontik. Kunci untuk
perawatan ini adalah diagnosis yang tepat sebelum terapi ortodontik serta
komunikasi terus menerus selama perawatan ortodontik karena tidak semua
masalah periodontal diperlakukan dengan cara yang sama.

Respon jaringan periodontal untuk menindaklanjuti tekanan yang besar dari piranti
ortodonti yaitu: gaya yang berat akan menyebabkan nyeri, nekrosis pada elemen seluler di
dalam ligament periodontal, dan fenomena dari undermining resorption pada tulang alveolar
di dekat gigi yang terkena. Untuk meminimalisasi hal tersebut, tekanan yang lebih ringan
dianggap lebih kompatibel dengan ketahanan sel-sel pada ligamen periodontal dan
remodeling dari soket gigi dengan frontal resorption. Tipe frontal resorption atau resorpsi
frontal ini relatif tidak menyebabkan sakit. Pada praktek ortodontik, sebaiknya membuat
gerakan gigi sebisa mungkin dengan resorpsi frontal, walau kita tahu bahwa beberapa area
dari ligamen periodontal nekrosis dan undermining resorption (resorbsi yang merusak)
mungkin akan terjadi meskipun sudah berusaha mencegahnya.

9
DAFTAR PUSTAKA

- Sulijaya, Benso., Hari, Sunarto. 2014. Persiapan Jarinagn Periodontal pada Pasien
Ortodontik-Periodontik. Jakarta: The Third National Scientific Seminar in
Periodontics-Enhancing Professionalism in Dental Treatment Based on
Periodontal Consideration in Dentistry.
- Sebbar, Mourad et al. 2015. Periodontal Health dan Orthodontics. InTech-
Emerging Trends in Oral Health Sciences and Dentistry.
d. Widyastuti, Yany dan Yulianti Kemal. 2015.Perawatan Ortodontik pada Pasien
Periodontal Kompromi.Makassar Dent J.4(3): 98-102
e. Lenggogeny, P dan Sri Lelyati C Masulill. 2015. Penatalaksanaan Periodontitis
Agresif Menyeluruh (Laporan Kasus). The second periodontic seminar (PERIOS 2)
FKG Universitas Airlangga
f. Herawati, Dahlia. 2011. Terapi Kombinasi Root Debridement dan Antibiotik Terhadap
Peridontitis Agresif. Majalah Kedokteran Gigi 18(2): 200-204
g. Mitchell L. An Introduction to Orthodontics. 3th ed. Oxford University Press. 2007. p.
218-25
h. Carranzas, Newman, Takei, et al. Clinical Periodontology. 10 th ed. Saunders:
Elseivers Inc; 2006. p. 506-12

10
i. Forsberg CM, Brattstorm V, Malmberg E, Nord CE., Ligature Wires of Ligation and
Their Association with Microbacterial Colonization of Streptococcus Mutans. Eur J
Orthod 1991;13:416-20
j. Mulya Levani, Masulili Sri Lelyati C. Terapi Bedah Flep dan Cangkok Tulang pada
Periodontitis Agresif di Regio Gigi Anterior Mandibula. Majalah Kedokteran Gigi.
2012; 1 ; p. 70
k. Prahasanti, Chiquita. Kelainan Jaringan Periodontal pra dan pasca perawatan
ortodonti. Surabaya.UNAIR
l. Sulijaya, Benso. Persiapan Jaringan Periodontal pada Pasien Ortodontik-Periodontik.
IPERI Jakarta; 18-22
m. Lastianny, Sri Pramestri. Dampak Pemakaian Alat Ortodontik Terhadap Kesehatan
Jaringan Periodontal. Bagian Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas
Gajah Mada; Yogyakarta. Maj Ked GI; Desember 2012, 19(2): 181-184
n. Lestianny, P.S.Dampak pemakaian alat ortodontik terhadap kesehatan jaringan
periodontal. Maj Ked Gi; Desember 2012; 19 (2) : 181-184
o.
p. Lastianny, Sri Pramestri. Dampak Pemakaian Alat Ortodontik Terhadap Kesehatan
Jaringan Periodontal. Bagian Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas
Gajah Mada; Yogyakarta. Maj Ked GI; Desember 2012, 19(2): 181-184
q. Widyastuti, Y., Kemal, Y. 2015. Perawatan ortodontik pada pasien periodontal
kompromi. Makassar Dent J; 4(3):98-102

11