Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

dengan Dry Eye Syndrome, Conjungtivitsi, Uveitis


sesuai NANDA, NOC dan NIC.

DISUSUN OLEH :
1. Mecthildis Andreana Pasaribu Boruk (032015084)
2. Rica Marintan Sitorus (032015089)
3. Rodameria Ambarita (032015091)
4. Roy Wilson Sihombing (032015093)
Kelas : Ners B T -II Akademik

STIKes Santa Elisabeth Medan


T/A 2017
Ners Tahap Akademik
BAB 1
PENDAHULUAN

Sindroma Mata Kering (Dry Eye Syndrome) ialah suatu gangguan pada

permukaan mata yang ditandai dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari
lapisan air mata. Angka kejadian Sindroma Mata Kering ini lebih banyak pada
wanita dan cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan usia. Peningkatan angka
terjadinya Sindroma Mata Kering ini ialah disebabkan oleh adanya peningkatan
angka harapan hidup dari populasi, peningkatan polusi, penggunaan obat-obatan
tertentu seperti obat alergi dan obat hipertensi, peningkatan pengguna lensa kontak
dan peningkatan penggunaan komputer.
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Karena lokasinya, konjungtiva
terpajan oleh banyak mikroorganisme dan substansi-substansi dari lingkungan luar
yang mengganggu (Vaughan, 2010). Peradangan pada konjungtiva disebut
konjungtivitis, penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan dengan mata
berair sampai konjungtivitis berat dengan sekret purulen (Vaughan, 2010).
Konjungtivitis umumnya disebabkan oleh reaksi alergi, infeksi bakteri dan virus,
serta dapat bersifat akut atau menahun (Ilyas, 2009). Penelitian yang dilakukan di
Belanda menunjukkan penyakit ini tidak hanya mengenai satu mata saja, tetapi bisa
mengenai kedua mata, dengan rasio 2,96 pada satu mata dan 14,99 pada kedua mata
(Majmudar, 2010).
Uveitis merupakan salah satu penyebab kebutaan di dunia termasuk Indonesia,
terlebih uveitis pada anak yang merupakan penyakit sangat serius dan lebih sering
mengancam kebutaan dibanding usia dewasa. Penatalaksanaan yang mungkin
dirasakan kurang optimal pada anak komplikasi yang cukup tinggi, serta seringnya
diperlukan pengobatan sistemik menunjukkan bahwa kelainan ini kronis dan berat
pada usia muda. Insiden uveitis pada populasi 100.000 orang adalah 15 kasus
pertahun. Di Amerika terdapat 2,3 juta orang penderita uveitis dimana kasus barunya
ditemukan sebanyak 45.000 pertahun. Uveitis juga menyebabkan 10% kebutaan.
Meskipun dapat terjadi pada semua usia, kebanyakan penderita berusia 20-50 tahun
dan menurun insidennya pada usia diatas 70 tahun.
BAB 2
KONSEP MEDIS

2.1 Defenisi
2.1.1 Definisi Dry Eye
Dry eye atau Mata kering ialah suatu gangguan pada permukaan mata yang
ditandai dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan air mata Mata
kering adalah penyakit multifaktorial pada air mata dan permukaan mata yang
menghasilkan gejala tidak nyaman, gangguan penglihatan, dan tidak stabilnya
film air mata yang berpotensi mengalami kerusakan pada permukaan mata. Mata
kering juga disertai dengan peningkatan osmolaritas film air mata dan
peradangan pada permukaan mata.
Istilah sindroma dry eye mewakili kelompok keadaan yang bermacam-
macam dikarakterisasikan oleh adanya gejala-gejala ketidaknyamanan okular
dan berhubungan dengan penurunan produksi airmata dan/atau abnormalitas
penguapan airmata yang sangat cepat. Prevalensi sindroma dry eye meningkat
dengan usia, mengenai sekitar 5% populasi dewasa selama dekade keempat
kehidupan, meningkat hingga 10-15% pada dewasa diatas usia 65 tahun.
Kebanyakan penelitian epidemiologis menunjukkan adanya prevalensi yang
lebih tinggi pada wanita. Sampai saat ini, sindroma dry eye tampaknya timbul
dengan prevalensi yang sama pada semua ras dan kelompok etnik.

2.1.2 Definisi Conjungtivitis


Konjungtiva dan kornea merupakan bagian mata yang mudah
berhubungan dengan dunia luar. Peradangan konjungtiva diakibatkan
infeksi bakteri atau virus . Conjungtivitis dapat pula terjadi akibat
asap, angin, dan sinar kuat selain daripada alergi, demam, tampek dan
penyakit lainnya. Pada peradangan konjungtiva tidak jarang
ditemukan hal hal berikut :
1. Mata merah, bengkak, sakit, panas, gatal, dan seperti kelilipan
2. Bila infeksi bakteri maka akan terdapat rasa lengket, sekret
mukokurulen
3. Bila infeksi karena virus maka akan bersifat sangat mudah menular
apalagi pada mata sebelahnya
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan
pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah,
sehingga sering disebut mata merah. (Suzzane, 2001). Konjungtivitis
adalah peradangan pada konjungtiva atau mata merah atau pink eye.
(Elizabeth, Corwin: 2001). Konjungtivitis merupakan peradangan
pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata)
yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), alergi,
dan iritasi bahan-bahan kimia. (Mansjoer, Arif dkk: 2001).

2.1.3 Definisi Unveitis


Uveitis merupakan inflamasi pada traktus uvealis. Definisi uveitis yang
digunakan sekarang menggambarkan setiap inflamasi yang tidak hanya
melibatkan uvea, tapi juga struktur lain yang berdekatan dengan uvea.. Uvea
merupakan lapisan vaskuler berpigmen dari dinding bola mata yang terletak
antara kornesklera dan neuroepitelium. Uvea terdiri dari tiga bagian, yaitu iris,
badan siliaris, dan koroid. Koroid merupakan bagian posterior dari uvea yang
terletak antara retina dan sklera. Terdapat tiga lapisan vaskuler koroid, yaitu
vaskuler besar, sedang, dan kecil. Pada bagian interna koroid dibatasi oleh
membran Bruch, sedangkan di bagian luar terdapat suprakoroidal. Vaskularisasi
uvea berasal dari arteri siliaris anterior dan posterior yang berasal dari arteri
oftalmika. Vaskularisasi iris dan badan siliaris berasal dari sirkulus arteri mayoris
iris yang terletak di badan siliaris yang merupakan anastomosis arteri siliaris
anterior dan arteri siliaris posterior longus. Vaskularisasi koroid berasal dari
arteri siliaris posterior longus dan brevis.

2.2 Etiologi
2.2.1 Etiologi Dry Eye
Sindrom mata kering terjadi ketika kelenjar lakrimal gagal menghasilkan air
mata yang cukup. Penurunan kualitas air mata ini beresiko menimbulkan iritasi dan
peradangan pada jaringan anterior. Selain terasa kering, gatal, dan sensasi terbakar
pada mata, penderita juga akan mengalami ketidaknyamanan khususnya saat
membaca, berkomputer, dan menonton televisi. Tidak hanya itu, sindrom ini bisa
menjadi salah satu indikasi penyakit seperti lupus, efek samping penggunaan obat-
obatan seperti antihistamin dan antidepresan, proses penuaan dan memasuki usia
menopause pada wanita. Iklim yang berangin, panas dan berdebu juga menjadi
faktor penyebabnya.

Jika hal ini terjadi, sangat disarankan untuk melakukan diagnosa guna
mengukur produksi air mata. Caranya dengan menggunakan lembar kertas filter
yang dipasang di kelopak mata bawah untuk mengukur produksi air mata pada
berbagai kondisi. Pengobatan dasar terhadap penyakit ini yaitu dengan memberikan
obat tetes yang berfungsi sebagai air mata buatan. Selain itu, mengkonsumsi asam
lemak omega-3 juga terbukti membantu meningkatkan produksi air mata. Omega-3
memiliki aktivitas anti-inflamasi alami untuk mengurangi peradangan pada
permukaan mata.

Berkedip secara teratur khususnya saat membaca dan berkomputer sangat penting
agar mata tetap terjaga kelembabannya. Selalu gunakan kacamata pelindung saat
menghadapi iklim yang buruk, dan banyak minum air putih minimal 8 gelas sehari
sebagai pencegahan.

2.2.2 Etiologi Conjungtivitis


Pembagian konjungtivitis berdasarkan penyebabnya :
1. Konjungtivitis akut bacterial, mis: konjungtivitis blenore, konjungtivitis
gonore,
2. konjungtivitis difteri, konjungtivitis folikuler, konjungtivitis kataral.
3. Konjungtivitis akut viral, mis: keratokonjungtivitis epidemik, demam
faringokonjungtiva, keratokonjungtivitis herpetic.
4. Konjungtivitis akut jamur
5. Konjungtivitis akut alergik
6. Konjungtivitis kronis, mis: trakoma.
Personal hygiene dan kesehatan lingkungan yang kurang, alergi, nutrisi kurang
vitamin A, iritatif (bahan kimia, suhu, listrik, radiasi ultraviolet), juga
merupakan etiologi dari konjungtivitis. ( Sumber: Mansjoer, Arif dkk., 2001,
Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid I, Medica Aesculapius FKUI, Jakarta.)

2.2.3 Etiologi Unveitis


Penderita umumnya berada pada usia 20-50 tahun. Setelah usia 70 tahun,
angka kejadian uveitis mulai berkurang. Pada penderita berusia tua umumnya
uveitis diakibatkan oleh toksoplasmosis, herpes zoster, dan afakia. Bentuk
uveitis pada laki-laki umumnya oftalmia simpatika akibat tingginya angka
trauma tembus dan uveitis non granulomatosa anterior akut. Sedangkan pada
wanita umumnya berupa uveitis anterior kronik idiopatik dan toksoplasmosis.

2.3 Patofisiologis
2.3.1 Patofisiologis Dry Eye

Kualitas air mata yang kurang baik. Lapisan air mata terdiri dari tiga lapis, yaitu
lapisan minyak lipid, air/akuos dan musin. Apabila terjadi masalah di salah satu
lapisan tersebut akan menyebabkan gejala mata kering. Lapisan Minyak Lipid.
Lapisan luar ini diproduksi oleh kelenjar Meiboom yang terdapat di tepi kelopak
mata. Lapisan ini akan mengurangi penguapan lapisan dibawahnya. Jika lapisan
minyak ini tidak baik, maka penguapan lapisan akuos akan bertambah cepat.
Masalah ini sering terjadi pada orang-orang yang mengalami peradangan pada tepi
kelopak mata, acne dan beberapa kalainan kulit lain. Lapisan Air/Akuos. Lapisan
yang di tengah ini merupakan lapisan yang paling tebal dan diproduksi oleh kelenjar
air mata. Tugasnya membersihkan mata dari kotoran dan membersihkan dari benda
iritan untuk mata.Lapisan Musin. Lapisan yang paling dalam akan menempelkan
kedua lapisan diatasnya merata di permukaan mata.

Berkurangnya produksi air mata. Mata kering merupakan keadaan yang sangat
sering terjadi, terutama pada orang dengan usia lebih dari 40 tahun. Mata kering
makin bertambah dengan adanya lingkungan yang kering, matahari kuat, angin,
ketinggian tertentu dan lain-lain. Demikian pula pada pekerja yang membutuhkan
konsentrasi tinggi seperti bekerja di depan komputer, menyetir atau membaca akan
menurunkan jumlah kedipan sehingga penguapan air mata menjadi lebih banyak.
Masalah mata kering jarang menyebabkan komplikasi yang serius, tetapi apabila
mata merah, terasa kering dan tidak nyaman yang mengganggu maka sebaiknya
pergi berkonsultasi ke dokter mata anda agar dicarikan solusi yang tepat.

2.3.2 Patofisiologis Conjungtivitis


Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar sehingga kemungkinan
terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Apabila ada mikroorganisme
yang dapat menembus pertahanan konjungtiva berupa tear film yang juga
berfungsi untuk mmelarutkan kotoran-kotoran dan bahan-bahan toksik melalui
meatus nasi inferior maka dapat terjadi konjungtivitas.

Konjungtivitis merupakan penyakit mata eksternal yang diderita oleh


masyarakat, ada yang bersifat akut atau kronis. Gejala yang muncul tergantung
dari factor penyebab konjungtivitis dan factor berat ringannya penyakit yang
diderita oleh pasien. Pada konjungtivitis yang akut dan ringan akan sembuh
sendiri dalam waktu 2 minggu tanpa pengobatan. Namun ada juga yang
berlanjut menjadi kronis, dan bila tidak mendapat penanganan yang adekuat
akan menimbulkan kerusakan pada kornea mata atau komplikasi lain yang
sifatnya local atau sistemik.
Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan
factor lingkungan lain yang mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi
permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsure berairnya
mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris dan kerja memompa
dari pelpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air
mata mengandung substansi antimikroba termasul lisozim. Adanya agen
perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema
epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin
pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis
limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma
konjungtiva melalui epitel kepermukaan. Sel-sel kemudian bergabung dengan
fibrin dan mucus dari sel goblet, embentuk eksudat konjungtiva yang
menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.

Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-


pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hoperemi yang tampak paling
nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus. Pada hiperemi konjungtiva
ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papilla yang sering
disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensai ini
merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh
darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh
sakit pada iris atau badan siliare berarti kornea terkena.

Karena Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar kemungkinan


konjungtiva terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Pertahanan
konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film, pada permukaan
konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik
kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior.
Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig A, Ig G yang berfungsi
menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat
menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang
disebut konjungtivitis.
2.3.3 Patofisiologis Uveitis
Peradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh efek langsung
suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi. Infeksi piogenik biasanya
mengikuti suatu trauma tembus okuli, walaupun kadang kadang dapat juga
terjadi sebagai reaksi terhadap zat toksik yang diproduksi oleh mikroba yang
menginfeksi jaringan tubuh diluar mata.
Uveitis yang berhubungan dengan mekanisme alergi merupakan reaksi
hipersensitivitas terhadap antigen dari luar (antigen eksogen) atau antigen dari
dalam (antigen endogen). Dalam banyak hal antigen luar berasal dari mikroba
yang infeksius. Sehubungan dengan hal ini peradangan uvea terjadi lama setelah
proses infeksinya yaitu setelah munculnya mekanisme hipersensitivitas.
Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier
sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel radang dalam humor
akuos. Pada pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal ini tampak sebagai flare,
yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown (efek tyndall).
Sel-sel radang yang terdiri dari limfosit, makrofag, sel plasma dapat
membentuk presipitat keratik yaitu sel-sel radang yang menempel pada
permukaan endotel kornea. Apabila prespitat keratik ini besar disebut mutton fat.
Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan sel-sel
radang di dalam bilik mata depan (BMD) yang disebut hipopion, ataupun migrasi
eritrosit ke dalam BMD, dikenal dengan hifema. Akumulasi sel-sel radang dapat
juga terjadi pada perifer pupil yang disebut Koeppe nodules, bila dipermukaan iris
disebut Busacca nodules.
Sel-sel radang, fibrin dan fibroblas dapat menimbulkan perlekatan antara iris
dengan kapsul lensa bagian anterior yang disebut sinekia posterior, ataupun antara
iris dengan endotel kornea yang disebut sinekia anterior. Dapat pula terjadi
perlekatan pada bagian tepi pupil, yang disebut seklusio pupil, atau seluruh pupil
tertutup oleh sel-sel radang, disebut oklusio pupil. Perlekatan-perlekatan tersebut,
ditambah dengan tertutupnya trabekular oleh sel-sel radang, akan menghambat
aliran akuos humor dari bilik mata belakang ke bilik mata depan sehingga akuos
humor tertumpuk di bilik mata belakang dan akan mendorong iris ke depan yang
tampak sebagai iris bombe. Selanjutnya tekanan dalam bola mata semakin
meningkat dan akhirnya terjadi glaukoma sekunder.
Pada kasus yang berlangsung kronis dapat terjadi gangguan produksi akuos
humor yang menyebabkan penurunan tekanan bola mata sebagai akibat
hipofungsi badan siliar.

2.4 Klasifikasi
2.4.2 Klasifikasi Conjungtivitis
1). Konjungtivitis Bakteri
Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis.
Konjungtivitis bakteri sangat menular, menyebar melalui kontak langsung
dengan pasien dan sekresinya atau dengan objek yang terkontaminasi.

2). Konjungtivitis bakteri hiperakut


Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri
hiperakut yang berat dan mengancam penglihatan, perlu rujukan
ke oftalmologis segera.

3). Konjungtivitis Viral


Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang
paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus
sistemik seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan
pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata
yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.

4). Konjungtivitis Alergi


Infeksi ini bersifat musiman dan berhubungan dengan sensitivitas terhadap
serbuk, protein hewani, bulu, makanan atau zat-zat tertentu, gigitan serangga
dan/atau obat ( atropin dan antibiotik golongan Mycin). Infeksi ini terjadi
setelah terpapar zat kimia seperti hair spray, tata rias, asap rokok. Asma,
demam kering dan ekzema juga berhubungan dengan konjungtivitis alergi.
Disebabkan oleh alergen yang terdapat di udara, yang menyebabkan
degranulasi sel mast dan pelepasan histamin.. Pasien dengan konjungtivitis
alergi sering memiliki riwayat atopi, alergi musiman, atau alergi spesifik (misal
terhadap kucing)

5). Konjungtivitis blenore, konjungtivitis purulen ( bernanah pada bayi dan


konjungtivitis gonore ). Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang
terdapat pada bayi yang baru lahir.

2.4.3 Klasifikasi Uveitis


Klasifikasi uveitis dibedakan menjadi empat kelompok utama, yaitu
klasifikasi secara anatomis, klinis, etiologis, dan patologis.
1) Klasifikasi anatomis
a) Uveitis anterior
- Iritis : inflamasi yang dominan pada iris
- Iridosiklitis : inflamasi pada iris dan pars plicata
b) Uveitis intermediet : inflamasi dominan pada pars plana dan retina perifer
c) Uveitis posterior : inflamasi bagian uvea di belakang batas basis vitreus
d) Panuveitis : inflamasi pada seluruh uvea

2) Klasifikasi klinis
a) Uveitis akut : onset simtomatik terjadi tiba-tiba dan berlangsung selama
<6 minggu
b) Uveitis kronik : uveitis yang berlangsung selama berbulan-bulan atau
bertahun-tahun, seringkali onset tidak jelas dan bersifat
asimtomatik
3) Klasifikasi etiologis
a) Uveitis eksogen : trauma, invasi mikroorganisme atau agen lain dari
luar tubuh
b) Uveitis endogen : mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh
berhubungan dengan penyakit sistemik, contoh: ankylosing spondylitis
Infeksi Yaitu infeksi bakteri (tuberkulosis), jamur (kandidiasis),
virus (herpes zoster), protozoa (toksoplasmosis), atau
roundworm (toksokariasis)
Uveitis spesifik idiopatik Yaitu uveitis yang tidak berhubungan
dengan penyakit sistemik, tetapi memiliki karakteristik khusus
yang membedakannya dari bentuk lain (sindrom uveitis Fuch)
Uveitis non-spesifik idiopatik Yaitu uveitis yang tidak termasuk ke
dalam kelompok di atas.

4) Klasifikasi patologis
a) Uveitis non-granulomatosa : infiltrasi dominan limfosit pada koroid
b) Uveitis granulomatosa : koroid dominan sel epiteloid dan sel-sel raksasa
multinukleus.

2.5 Manifestasi Klinis


2.5.1 Manifestasi Klinis Dry Eye

Gejala dan keluhan mata kering biasanya mengenai kedua mata antara
lain : sensasi rasa panas, kering dan gatal di mata; ada kotoran mata;
meningkatnya rasa iritasi mata terhadap angin dan asap; mata lelah setelah
membaca meski dalam waktu yang tidak terlalu lama; tidak tahan terhadap
cahaya; kesulitan mengenakan lensa kontak; mata berair; penglihatan kadang
buram terutama setelah digunakan untuk waktu yang lama atau akhir kerja.

Fungsi Kelopak yang berkurang


Dengan mengedip yang normalnya setiap 12 (dua belas) detik, kelopak mata
akan meratakan lapisan tipis airmata kepermukaan mata kita. Kurangnya
kedipan akan menyebabkan sensasi mata kering.

2.5.2 Manifestasi Klinis Conjungtivitis


Gejala umum konjungtivitis adalah mata merah, sekret atau mata kotor, dan
pedes seperti kelilipan. Konjungtivitis biasanya akan mengenai kedua mata akibat
mengenai mata sebelahnya. Bila terdapat hanya pada satu mata maka ini biasanya
diakibatkan alergi atau moluskum kontagiosum.
Pengobatan konjungtivitis pada umumnya adalah dengan mengobati kausal dan
tidak dibebat. Bila dibebat maka kuman akan berkembang biak dengan cepat karena
suhu mata yang biasanya lebih dingin akibat penguapan akan sama dengan suhu
badan.

2.5.3 Manifestasi Klinis Uveitis


1) Uveitis anterior
Gejala utama uveitis anterior akut adalah fotofobia, nyeri, merah,
penglihatan menurun, dan lakrimasi. Sedangkan pada uveitis anterior kronik
mata terlihat putih dan gejala minimal meskipun telah terjadi inflamasi yang
berat. Tanda-tanda adanya uveitis anterior adalah injeksi silier, keratic
precipitate (KP), nodul iris, sel-sel akuos, flare, sinekia posterior, dan sel-sel
vitreus anterior.

2) Uveitis intermediet
Gejala uveitis intermediet biasanya berupa floater, meskipun
kadang-kadang penderita mengeluhkan gangguan penglihatan
akibat edema makular sistoid kronik. Tanda dari uveitis
intermediet adalah infiltrasi seluler pada vitreus (vitritis) dengan
beberapa sel di COA dan tanpa lesi inflamasi fundus.
3) Uveitis posterior
Dua gejala utama uveitis posterior adalah floater dan gangguan
penglihatan. Keluhan floater terjadi jika terdapat lesi inflamasi
perifer. Sedangkan koroiditis aktif pada makula atau
papillomacular bundle menyebabkan kehilangan penglihatan
sentral.Tanda-tanda adanya uveitis posterior adalah perubahan
pada vitreus (seperti sel, flare, opasitas, dan seringkali posterior
vitreus detachment), koroditis, retinitis, dan vaskulitis.

2.6 Komplikasi
2.6.2 Komplikasi Conjungtivitis
Komplikasi yang sering timbul biasanya adalah:
Ulkus kornea dan menurut beberapa ahli komplikasi ini lebih cepat timbul
pada orang dewasa dari pada bayi (pada bayi komplikasi ulkus kornea timbul
sesudah minggu pertama) ulkus kornea dapat mengalami perforasi dengan
berakibat timbulnya endoftalmitis yang berakhir dengan kebutaan.
Oleh karena itu setiap penderita konjungtuvitis gonoreika perlu sekali untuk
diperiksa keadaan korneanya. Berhubung bahaya timbulnya komplikasi yang
dapat menimbulkan kebutaan, maka setiap penderita konjungtivitis gonoreika
harus dirawat dalam kamar isolasi.
Kesulitannya ialah penderita anak dan dewasa yang sulit diisolasi, sehingga
berbahaya untuk penularan sekitanya. Pengobatan dilakukan dengan
memberikan salep mata penisilin tiap jam sesudah terlebih dahulu setiap kali
mata dibersihkan dari pada sekret, selain itu juga diberikan penisilin
intramuskulus. Bila kuman telah resisten terhadap penisilin, dapat dipakai
antibiotika lain seperti kloramfenikol atau tertasiklin.

2.6.3 Komplikasi Uveitis


Komplikasi terpeting yaitu terjadinya peningkatan tekanan intraokuler (TIO)
akut yang terjadi sekunder akibat blok pupil (sinekia posterior), inflamasi, atau
penggunaan kortikosteroid topikal. Peningkatan TIO dapat menyebabkan atrofi
nervus optikus dan kehilangan penglihatan permanen. Komplikasi lain meliputi
corneal band-shape keratopathy, katarak, pengerutan permukaan makula, edema
diskus optikus dan makula, edema kornea, dan retinal detachment

2.7. Penatalaksaan Medis


2.7.1 Penatalaksaan Dry Eye
1. Tear film break-up time 12,15 Tear film break up time (BUT) adalah
indeks dari stabilitas lapisan airmata pre korneal. Diukur sebagai berikut :
a) Fluorescein diteteskan pada forniks inferior
b) Pasien diinstruksikan untuk berkedip beberapa kali kemudian berhenti
c) Lapisan airmata diperiksa dengan cahaya yang luas dan cobalt blue
filter.
Setelah interval beberapa waktu, titik-titik atau garis-garis hitam yang
mengindikasikan daerah dry eye akan timbul. BUT merupakan interval
antara kedipan terakhir dengan munculnya dry spot pertama yang
terdistribusi secara acak. BUT yang kurang dari 10 detik adalah abnormal.

2. Rose bengal 15
Pewarnaan ini memiliki afinitas terhadap sel epitel yang telah mati
dan mukus. Rose bengal mewarnai konjungtiva bulbi yang terpapar,
menghasilkan pola pewarnaan yang khas dari dua buah segitiga dengan
dasarnya di limbus. Filamen-filamen dan plak pada kornea juga tampak lebih
jelas dengan pewarnaan ini. Satu kekurangan dari pewarnaan dengan rose
bengal ini adalah dapat menyebabkan iritasi okular yang dapat bertahan
selama satu hari, khususnya pada dry eye yang berat. Untuk meminimalisasi
iritasi yang dapat terjadi diberikan hanya satu tetes kecil saja, namun
penggunaan anastesi topikal tidak diberikan oleh karena dapat memberikan
hasil positif palsu.

3. Tes Schirmer
Produksi lapisan akuos airmata dapat dilakukan dengan berbagai macam
cara Tes Schirmer dilakukan dengan meletakkan kertas strip tipis pada
kuldesak inferior. Jumlah pembasahan dapat diukur untuk mengetahui
jumlah produksi akuos. Terdapat berbagai macam cara melakukan tes
Schirmer. Tes sekresi basal (Basal secretion test) dilakukan setelah diteteskan
anastetik topikal. Kertas strip tipis (lebar 5 mm, panjang 35 mm) diletakkan
pada pertemuan antara pertengahan dan 1/3 lateral palpebra inferior untuk
meminimalisasi iritasi pada kornea selama tes berlangsung. Tes ini dapat
dilakukan dengan mata tertutup ataupun terbuka, meskipun beberapa ahli
merekomendasikan dengan mata yang tertutup untuk membatasi efek dari
berkedip. Meskipun pengukuran normal cukup bervariasi, pemeriksaan yang
telah diulang dengan hasil pembasahan 5 mm dengan anastesi, dapat
merupakan sugesti yang besar terhadap defisiensi lapisan akuos, sedangkan
5-10 mm masih meragukan.
Tes Schirmer I, dimana cara pemeriksaannya serupa dengan tes sekresi
basal namun dilakukan tanpa anastetik topikal, mengukur keduanya baik
basal sekresi dan refleks sekresi dikombinasikan. Pembasahan 10 mm
setelah 5 menit merupakan diagnostik untuk defisiensi lapisan akuos.
Tes Schirmer II yang mengukur refleks sekresi, dilakukan dengan cara
yang serupa tanpa anastetik topikal. Namun setelah kertas filter diletakkan
pada forniks inferior, aplikator dengan ujung kapas digunakan untuk
mengiritasi mukosa nasal. Pembasahan 15 mm setelah 5 menit konsisten
dengan adanya defek pada refleks sekresi.
4. Tear meniscus 12
Dilakukan dengan inspeksi tinggi tear meniscus antara bola mata dengan
kelopak mata bawah (normal tingginya adalah 1,0 mm dan konveks). Tear
meniscus 0,3 mm atau kurang dianggap abnormal.

2.7.2 Penatalaksanaan Conjungtivitis


Untuk penatalaksanaan keperawatan pada konjungtivitis meliputi:
- Kojungtivitis bakteri biasanya diobati dengan tetes mata atau krim antibiotik, tetapi
sering sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2 minggu tanpa pengobatan. Karena
sangat menular diantara anggota keluarga lain dan teman sekolah, maka diperlukan
tehnik mencuci tangan yang baik dan pemisahan handuk bagi orang yang terjangkit.
Anggota keluarga jangan bertukar bantal atau seprei.
- Kompres hangat pada mata dapat mengangkat rabas.
- Konjungtivitis akibat virus biasanya diobati dengan kompres hangat. Untuk
mencegah penularan, diperlukan tehnik mencuci tangan yang benar
- Konjungivitis alergi diobati dengan menghindari alergen apabila mungkin, dan
pemberian tetes mata yang mengandung anti histamin atau steroid untuk mengurangi
gatal dan peradangan.

Conjungtivitis bakterial diobati dengan tetes mata antibiotika (polymyxin,


bacitracin, garamycin) beberapa kali untuk 2-3 hari.
Pemakai lensa kontak harus melepas lensa kontaknya
Conjungtivitis alergi diobati dengan antihistamin
Kompres hangat di[ergunakan tidak lebih dari 20 menit.
2.7.3. Penatalaksaan Medis Uveitis
Tujuan terapi uveitis adalah mencegah komplikasi yang mengancam
penglihatan, menghilangkan keluhan pasien, dan jika mungkin mengobati
penyebabnya. Ada empat kelompok obat yang digunakan dalam terapi uveitis,
yaitu midriatikum, steroid, sitotoksik, dan siklosporin. Sedangkan uveitis akibat
infeksi harus diterapi dengan antibakteri atau antivirus yang sesuai.
Penatalaksanaan uveitis meliputi pemberian obat-obatan dan terapi operatif,
yaitu :
1. Kortikosteroid topikal, periokuler, sistemik (oral, subtenon, intravitreal) dan
sikloplegia
2. Pemberian antiinflamasi non steroid
3. Pemberian obat jenis sitotoksik seperti ankylating agent (siklofosfamid,
klorambusil), antimetabolit (azatrioprin, metotrexat) dan sel T supresor
(siklosporin)
4. Terapi operatif untuk evaluasi diagnostik (parasentesis, vitreus tap dan biopsi
korioretinal untuk menyingkirkan neoplasma atau proses infeksi) bila
diperlukan.
5. Terapi untuk memperbaiki dan mengatasi komplikasi seperti katarak,
mengontrol glaukoma dan vitrektomi.
Midriatikum berfungsi untuk memberikan kenyamanan pada pasien, mencegah
pembentukan sinekia posterior, dan menghancurkan sinekia. Memberikan
kenyamanan dengan mengurangi spasme muskulus siliaris dan sfingter pupil
dengan menggunakan atropin. Atropin tidak diberikan lebih dari 1-2 minggu.
Steroid topikal hanya digunakan pada uveitis anterior dengan pemberian steroid
kuat, seperti dexametason, betametason, dan prednisolon. Komplikasi
pemakaian steroid adalah glaukoma, posterior subcapsular cataract, komplikasi
kornea, dan efek samping sistemik.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1. PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Tekanan darah, pernapasan, berat badan pemeriksaan sinus paranasalis, pemeriksaan
paru, kondisi inflamasi sendi. Pemeriksaan suhu tubuh untuk menentukan kejadian
demam untuk tanda infeksi
2. Riwayat
a. Penyakit diabetes melitus, tuberkulosis
b.abses gusi, karies gigi
C.batuk, pilek, sinusitis
3. Pemeriksaan khusus mata
A.kekaburan penglihatan
B. Nyeri
C. Epifora
D.Kemerahan pada kornea
E.Kekeruhan kornea
F.Hipopion
G.Blefarospasme
H.Pelembatan reflekx pupil, pupil menyempit, bentuk tidak teratur

Kasus

Tn A berusia 64 tahun seorang pekerja bangunan datang keRumah Sakit


umum dikotannya dengan keluhan rasa panas, kering dan gatal di bagian mata,
terdapat kotoran mata yang berlebihan. Klien mengatakan ada rasa perih pada
mata ketika terkena angin dan asap, mata lelah ketika membaca dalam jangka
waktu yang tidak terlalu lama. Klien juga mengatakan tidak tahan terhadap
cahaya, mata berair, penglihatan kadang buram terutama setelah digunakan
untuk waktu yang lama atau akhir kerja. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
hasil mata klien terlihat merah, pandangan tidak fokus terhadap objek yang
ditunjukkan. Tanda-tanda Vital TD 130/90 mmhg, RR: 26 x/mnt, Nadi : 92
x/mnt, S: 37,8 C.

Diagnosa 1

Gangguan Rasa nyaman berhubungan dengan gejala yang terkait ditandai dengan rasa
tidak nyaman, gatal, gelisah, kurang puas dengan keadaan, merintih.

NOC

Status Kenyamanan

Batasan Karakteristik:

1. Tingkat Kenyamanan
2. Tingkat Kecemasan
3. Tingkat Rasa Takut
4. Tingkat Stress

NIC
Diagnosa 2
Resiko mata kering
Definisi : Beresiko terhadap ketidaknyamanan mata atau kerusakan kornea dan
konjungtiva karena penurunan kuantitas atau kualitas air mata untuk melembabkan mata

Faktor Resiko :
Penuaan
Penyakit autoimun (mis, arthritis rheumatoid, diabetes mellitus, penyakit toroid, gout,
osteoporosis, dll)
Lensa kontak
Factor Iingkungan (mis, penyejuk udara, angin berlebihan, pemanjanan sinar matahari,
polusi udara, kelembaban rendah)
Gender wanita
Riwayat alergi
Hormone
Gaya hidup (mis, merokok, pengguna kafein, membaca dalam waktu lama)
Terapi ventilasi mekanis
Lesi neuologis dengan kehilangan reflek sensoro atau motorik (lagoftalmos, kurang reflek
kedip spontan karena penurunan kesadaran dan gangguan medis lain)
Kerusakan permukaan ocular
Tempat hidup
Efek samping terkait pengobatan (mis ,agens farmaseutikal seperti inhibitor enzim
pengubah angiotensin, deuretik, trasquilizer, analgesik, sedatif, agens blok
neuromuscular)
Defisiensi vitamin A

NOC
Sensory Function : Vision
Kriteria Hasil :
Ketajaman pusat penglihatan kanan dan kiri
Ketajaman menglihat sekeliling mata kanan dan kiri
Dapat menangkap penglihatan terpusat kanan dan kiri
Menangkap penglihatan penifer kanan dan kiri
Respon stimulus penglihatan adekua
Tidak ada penglihatan ganda
Tidak ada penglihatan kabur
Tidak ada sakit kepala
Ketegangan mata berkurang
Tidak ada pusing
Mata lembab
Tidak terdapat benda asing dimata

NIC
Eyes Care
Monitor tanda-tanda kemerahan, cairan, atau ulserasi
Istruksikan pasien tidak menggosok mata
Monitor reflek kornea
Ganti lensa kontak jika perlu
Gunakan pelindung mata (kaca mata) jika diperlukan
Lakukan Perawatan mata jika perlu
Lakukan alternative perbaikan mata untuk diplopia
Gunakan tetes mata untuk melembabkan
Gunakan salep mata untuk melembabkan
Medication Administrasion : Eyes
Ikuti administrasi lima benar dalam pemberian obat
Catat riwayat pengobatan pasien dan riwayat alergi
Kaji pengetahuan pasien tentang pengobatan dan pengetahuan pasien tentang metode
pengobatan
Instrksikan pasien membuka mata untuk mempermudah memasukkan obat
Monitor efek lokal sistemik yang berlawanan dari pengobatan

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Syndrome mata kering (keratokonjungtivis sica) adalah kondisi dimana mata pasien
tidak bisa memproduksi air mata yang cukup, atau air mata menguap terlalu cepat. Ini
bisa menyebabkan mata kekurangan air dan menjadi meradang. Syndrome ini dapat
terjadi karena dipengaruhi gejala blefaritis, dermatitis seboroik, dan dermatitis rosea,
namun dapat juga disebabkan karena kualitas air mata yang kurang baik.
Gejalanya ditandai dengan nyeri atau kering, sekitar mata, dan ada yang mengganjal di
dalam mata dengan penglihatan yang buram. Semua gejala tersebut dapat dihilangkan
dengan menggunakan obat tetes mata yang mengandung cairan yang dibuat untuk bisa
menggantikan air mata.
Konjungtivitis adalah suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, clamida, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Sidarta illias.SpM., Penuntun Ilmu penyakit mata., 2010., Jakarta.,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ns. Anas Tamsuri., S.Kep., Klien gangguan Mata dan penglihata., Jakarta., EGC
Kanski JJ. Retinal Vascular Disorders in Clinical Ophthalmology: A Systematic
Approach. 3rdEdition. Oxford: Butterworth-Heinemann Ltd, 1994. 152-200
Rao NA, Forster DJ. Basic Principles In: Berliner N, editors. The Uvea Uveitis and
Intraocular Neoplasms Volume 2. New York: Gower Medical Publishing, 1992. 1.1
Riordan-Eva P. Anatomy & Embryology of the Eye In: Riordan-Eva P, Whitcher JP,
editors. General Ophthalmology 17th Ed. London: McGraw Hill, 2007.
Schlaegel TF, Pavan-Langston D. Uveal Tract: Iris, Ciliary Body, and Choroid In:
Pavan-Langston D, editors. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy. 2nd Edition,
Boston: Little, Brown and Company, 1980. 143-144.