Anda di halaman 1dari 55

ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL KLIEN DENGAN MASALAH

KEPERAWATAN KETIDAKPATUHAN PENGOBATAN


PADA BUDAYA SUMATERA

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PRAKTIKUM

Oleh
Kelompok 4
Kelas F

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2017
ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL KLIEN DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN KETIDAKPATUHAN PENGOBATAN
PADA BUDAYA SUMATERA

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PRAKTIKUM

disusun guna menyelesaikan tugas matakuliah Keperawatan Transkultural dengan


dosen pengampu Ns. Kushariyadi, M. Kep.

Oleh

Inka Mawardi Putri NIM 152310101059


Nuri Sinta Wirawati NIM 152310101069
Tria Mega Holivia NIM 152310101141
Arga Rifqi Adinda NIM 152310101143
Ana Septianadi Fahulpa NIM 152310101153
Mifta Irma Mei L NIM 152310101162

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2017

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB 1. PENDAHULUAN............................................................................................... 1
1.1 Latar belakang.................................................................................................... 1
1.2 Masalah............................................................................................................... 2
1.3 Tujuan.................................................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan Umum .............................................................................................. 2
1.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................................. 2
1.4 Manfaat .............................................................................................................. 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................... 3
2.1 Konsep Dasar Masalah Keperawatan.............................................................. 3
2.2 Konsep Dasar Transcultural Nursing............................................................... 4
BAB 3. APLIKASI TEORI............................................................................................. 15
3.1 Gambaran Kasus................................................................................................ 15
3.2 Pengkajian.......................................................................................................... 16
3.2.1 Faktor Teknologi........................................................................................... 16
3.2.2 Faktor Agama dan Filosofi........................................................................... 16
3.2.3 Faktor Kekeluargaan dan Sosial................................................................... 16
3.2.4 Nilai-Nilai Budaya, Kepercayaan, dan Gaya Hidup.................................... 17
3.2.5 Faktor Kebijakan dan Peraturan................................................................... 17
3.2.6 Faktor Ekonomi............................................................................................ 17
3.2.7 Faktor Pendidikan......................................................................................... 17
3.3 Diagnosa Keperawatan...................................................................................... 18
3.4 Rencana Keperawatan....................................................................................... 18
3.5 Implementasi Keperawatan.............................................................................. 19
3.6 Evaluasi............................................................................................................... 19
BAB 4. PEMBAHASAN................................................................................................. 20
BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN................................................................................ 25
5.1 Simpulan............................................................................................................. 25
5.2 Saran.................................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

2
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan di Indonesia relatif rendah, banyaknya masyarakat yang belum mendapat
pendidikan secara layak. Pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan berkeluarga
karena mereka yang berpendidikan tinggi dapat mempunyai pengetahuan yang lebih luas
dibandingkan dengan yang memiliki pendidikan rendah. Pengetahuan adalah hasil dari tahu
dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek. Pengetahuan dapat
mempengaruhi tingkah laku dan berhubungan dengan masalah kesehatan yang dapat memicu
terjadinya gangguan kesehatan pada kelompok tertentu. Pengetahuan yang rendah bila
dikaitkan dengan masalah kesehatan dapat menyebabkan ketidakpatuhan seseorang dalam
menjalani pengobatannya.
Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan
pengobatan yang mengacu kepada pengalaman, keterampilan turun temurun, dan pendidikan
atau pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Pelayanan kesehatan tradisional cukup populer di masyarakat Indonesia adalah pengobatan
fraktur, atau sering disebut masyarakat sebagai dukun patah tulang. Tidak sedikit pasien
fraktur yang datang ke pengobatan tradisional terlebih dahulu. Sehingga pada saat datang ke
rumah sakit sudah mengalami komplikasi akibat penanganan pertamanya yang tidak baik atau
tidak sesuai prinsip yang benar (Notoadmodjo, 2010).
Pengobatan tradisional masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat bukan hanya
disebabkan oleh ketidakpatuhan seseorang dalam melaksanakan pengobatan yang didukung
oleh faktor kebudayaan. Pengetahuan dapat mempengaruhi tingkah laku dan berhubungan
dengan masalah kesehatan yang dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan pada kelompok
tertentu. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin mudah dalam
menerima informasi. Kurangnya pengetahuan di Indonesia, khususnya di pedesaan banyak
dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan kebudayaan.
Berdasarkan permasalahan diatas, perlu adanya rencana untuk mengatasi permasalahan
defisit pengetahuan tentang pemberian perawatan patah tulang yang benar pada masyarakat di
Indonesia. Oleh karena itu perlu diberikan intervensi berupa pemberian informasi dan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat.

1.2 Masalah

1
Budaya yang melekat pada masyarakat dapat mempengaruhi ketidakpatuhan klien
dalam mencari pengobatan. Perawat mempunyai peranan penting untuk membantu klien
dalam memberikan informasi dan pengetahuan yang tepat tentang tempat pengobatan yang
tepat untuk menyelesaiakn masalah kesehatanya.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan tentang cara mengatasi masalah defisit pengetahuan tentang pentingnya
memberikan pengobatan medis pada klien patah tulang atau fraktur.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Menjelaskan pentingnya pelayanan medis pada klien patah tulang.
2. Menjelaskan manfaat dari pengobatan di pelayanan medis
3. Menjelaskan permasalahan yang dapat timbul dari pemberian pengobatan tradisional
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat untuk Masyarakat

Manfaat bagi masyarakat yaitu dapat meningkatkan tingkat pengetahuan pengobatan


yang tepat sehingga dapat mencapai derajat kesehatan yang lebih baik.

1.4.2 Manfaat untuk Penulis atau Mahasiswa

Manfaat bagi penulis yaitu menambah wawasan mengenai cara untuk mengatasi
masalah ktidakpatuhan masyarakat dalam mencari bantuan pengobatan sehingga penulis
sebagai perawat dapat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat,
khususnya tentang kesehatan.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Konsep Dasar Masalah Keperawatan
2.1.1 Ketidakpatuhan
Pengertian dari ketidakpatuhan yaitu perilaku individu dan atau pemberi asuahan yang
tidak sesuai dengan rencana promosi kesehatan atau terapeutik yang ditetapkan oleh individu
serta profesional pelayanan kesehatan. Perilaku pemberi asuhan atau individu yang tidak
mematuhi ketetapan, rencana promosi kesehatan atau terapeutik secara keseluruhan atau
sebagian dapat menyebabkan hasil akhir yang tidak efektif atau sebagian tidak efektif secara
klinis (NANDA,2015).

Ada beberapa faktor individu yang berhubungan dengan ketidakpatuhan yaitu harapan
seseorang tidak sesuai dengan fase perkembangan, keyakinan kesehatan tidak sesuai dengan
rencana, kurang dukungan sosial, kurang pengetahuan tentang pengobatan, nilai spritual yang
tidak sesuai dengan rencana, dan pengaruh kebudayaan. Faktor luar yang mungkin
mempengaruhi ketidakpatuhan yaitu kurang keterlibatan anggota dalam rencana kesehatan,
nilai sosial rendah mengenai perencanaan, dan persepsi bahwa kepercayaan orang terdekat
berbeda dengan renacna. Salah satu ketidakpatuhan seperti masyarakat yang tidak mau
menerima keberadaan layanan kesehatan sebagai tempat pengobatan yang tepat dan
mempercayai bahwa dukun dalam kebudayaannya sudah dianggap benar. Salah satu contoh
seperti kebiasaan di Sumatera apabila mengalami sakit, mereka menganggap dukun
merupakan orang yang tepat dalam mengobati penyakitnya, mereka tidak mempercayai
adanya tenaga kesehatan. Melihat kondisi tersebut perlu adanya pendekatan khusus untuk
meluruskan pandangan mereka mengenai pelayanan kesehatan.

2.1.2 Gangguan Akibat Pemijatan Tradisional


Metode pengobatan alternatif seperti pijat patah tulang yang dilakukan kebanyakan
masyarakat Indonesia, bila dikaitkan dengan ilmu kedokteran modern bisa menyebabkan
berbagai komplikasi, seperti :
1. Kompartemen Sindrome
Kompartemen sindrome terjadi karena tulang yang area luka dipijat-pijat yang dipijat
malah bengkak. Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup
di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan
aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabakan kerusakan pada otot. Gejalanya
mencakup rasa sakit karena terdapat ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang
berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan
perenggangan pasif pada otot yang terlibat. Jika dibiarkan, jaringan menjadi nekrosis atau

3
mati. Kalau dalam waktu lama masalah itu tidak ditangani, ujung-ujungnya adalah amputasi.
Belum lagi, saat di sangkal putung, ada pemberian ramuan yang dampaknya belum diketahui.
Bisa-bisa infeksi. Malah berbahaya karena ada risiko kerusakan saraf dan cedera pembuluh
darah. Beberapa kali waktu saya buka sudah busuk.
2. Sindrom Emboli Lemak
Sindrom emboli lemak merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan
kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang
dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gelembung lemak ini akan melewati sirkulasi dan
dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh darah-pembuluh darah pulmonari yang
menyebabkan sukar bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dypsnea,
perubahan dalam status mental (gaduh-gelisah, marah, bingung, stupor), tacypnea,
tachycardia, demam dan ruam kulit ptechie.
2.2 Konsep Dasar Transkultural Nurshing
2.2.1 Sejarah Transcultural Nurshing
Dr. Madeline Leininger, seorang perawat yang ahli antropologi, mempunyai andil
besar dalam meningkatkan riset dalam perawatan trans-kultural dan dalam merangsang
program-program studi yang erat kaitannya. Ia adalah pelopor keperawatan transkultural dan
seorang pemimpin dalam mengembangkan keperawatan transkultural serta teori asuhan
keperawatan yang berfokus pada manusia. Leininger juga adalah seorang perawat
professional pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan
budaya.
Madeline Leininger lahir di Sutton, Nebraska, dan memulai karir keperawatannya
setelah tamat dari program diploma di St. Anthonys School of Nursing di Denver. Pada
tahun 1950 ia meraih gelar sarjana dalam ilmu biologi dari Benedictine College, Atchison
Kansas dengan peminatan pada studi filosofi dan humanistik. Setelah menyelesaikan
pendidikan tersebut ia bekerja sebagai instruktur, staf perawatan dan kepela perawatan pada
unit medikal bedah sererta membuka sebuah unit perawatan psikiatri yang baru dimana ia
menjadi seorang direktur pelayanan keperawatan pada St. Josephs Hospital di Omaha.
Selama waktu ini ia melanjutkan pendidikan keperawatannya di Creigthton University di
Omaha. Tahun 1954 Leininger meraih gelar M.S.N. dalam keperawatan psikiatrik dari
Chatolic University of America di Washington, D. C. Ia kemudian bekerja pada College of
Health di Univercity of Cincinnati, dimana ia menjadi lulusan pertama (M. S. N ) pada
program spesialis keperawatan psikiatrik anak . Ia juga memimpin suatu program pendidikan
keperawatan psikiatri di universitas tersebut dan juga sebagai pimpinan dalam pusat terapi
perawatan psikiatri di rumah sakit milik universitas tersebut.

4
Leininger bersama C. Hofling pada tahun 1960 menulis sebuah buku yang diberi judul
Basic Psiciatric Nursing Consept yang dipublikasikan ke dalam sebelas bahasa dan
digunakan secara luas di seluruh dunia. Selama bekerja pada unit perawatan anak di
Cincinnati, Leininger menemukan bahwa banyak staff yang kurang memahami mengenai
faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Dimana diantara anak-anak ini
memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Ia mengobservasi perbedaan- perbedaan
yang terdapat dalam asuhan dan penanganan psikiatri pada anak-anak tersebut. Terapi
psikoanalisa dan terapi strategi lainnya sepertinya tidak menyentuh anak-anak yang memiliki
perbedaan latar belakang budaya dan kebutuhan. Leininger melihat bahwa para perawat lain
juga tidak menampilkan suatu asuhan yang benar-benar adequat dalam menolong anak
tersebut, dan ia dihadapkan pada berbagai pertanyaan mengenai perbedaan budaya diantara
anak-anak tersebut dan hasil terapi yang didapatkan. Ia juga menemukan hanya sedikit staff
yang memiliki perhatian dan pengetahuan mengenai faktor-faktor budaya dalam mendiagnosa
dan manangani klien.
Suatu ketika, Prof. Margaret Mead berkunjung pada departemen psikiatri University
of Cincinnati dan Leiniger berdiskusi dengan Mead mengenai adanya kemungkinan hubungan
antara keperawatan dan antropologi. Meskipun ia tidak mendapatkan bantuan langsung,
dorongan, solusi dari Mead , Leininger memutuskan untuk melanjutkan studinya ke program
doktor (Ph.D) yang berfokus pada kebudayaan, sosial, dan antropologi psikologi pada
Universitas Washington. Sebagai seorang mahasiswa program doktor, Leininger mempelajari
berbagai macam kebudayaan dan menemukan bahwa pelajaran antroplogi itu sangat menarik
dan merupakan area yang perlu diminati oleh seluruh perawat. Kemudia ia menfokuskan diri
pada masyarakat Gadsup di Eastern Highland of New Guinea, dimana ia tinggal bersama
masyarakat tersebut selama hampir dua tahun. Dia dapat mengobservasi bukan hanya
gambaran unik dari kebudayaan melainkan perbedaan antara kebudayaan masyarakat barat
dan non barat terkait dengan praktek dan asuhan keperawatan untuk mempertahankan
kesehatan.
Dari studinya yang dalam dan pengalaman pertama dengan masyarakat Gadsup, ia
terus mengembangkan teori perawatan kulturalnya dan metode ethno nursing. Teori dan
penelitiannya telah membantu mahasiswa keperawatan untuk memahami perbedaan budaya
dalam perawatan, manusia, kesehatan dan penyakit. Dia telah menjadi pemimpin utama
perawat yang mendorong banyak mahasiswa dan fakultas untuk melanjutkan studi dalam
bidang anthropologi dan menghubungkan pengetahuan ini kedalam praktik dan pendidikan
keperawatan transkultural. Antusiasme dan perhatiannya yang mendalam terhadap

5
pengembangan bidang perawatan transkultural dengan fokus perawatan pada manusia telah
menyokong dirinya selama 4 dekade.
Tahun 1950-an sampai 1960-an, Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari
pengetahuan dan penelitian antara perawatan dan anthropologi: formulasi konsep keperawatan
transkultural, praktek dan prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology :
Two Words to Blend : yang merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural,
menjadi dasar untuk pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang
mendasari perawatan kesehatan. Buku yang berikutnya, Transcultural Nursing : Concepts,
theories, research, and practise (1978), mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis,
praktek dalam keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama
dalam praktek perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa
perawatan treanskultural dan anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain,
menkipun berbeda. Teori dan kerangka konsepnya mengenai Cultural care diversity and
universality dijelaskan dalam buku ini.
Sebagai perawat profesional pertama yang melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor
dalam bidang antropologi dan untuk memprakarsai beberapa program pendidikan magister
dan doktor, Leininger memiliki banyak bidang keahlian dan perhatian. Ia telah memepelajari
14 kebudayaan mayor secara lebih mendalam dan telah memiliki pengalaman dengan
berbagai kebudayaan. Disamping perawatan transkultural dengan asuhan keperawatan sebagai
fokus utama , bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah administrasi dan pendidikan
komparatif, teori-teori keperawatan, politik, dilema etik keperawatan dan perawatan
kesehatan, metoda riset kualitatif, masa depan keperawatan dan keperawatan kesehatan, serta
kepemimpinan keperawatan. Theory of Culture Care saat ini digunakan secara luas dan
tumbuh secara relevan serta penting untuk memperoleh data kebudayaan yang mendasar dari
kebudayaan yang berbeda.

2.2.2 Paradigma Transcultural Nursing


Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai cara
pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan
yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu :
manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrew and Boyle, 1995).
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai
dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki kecenderungan untuk

6
mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and
Davidhizar, 1995).
2. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu
keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga
dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas
sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin
mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and
Boyle, 1995).
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu
totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga
bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah
lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan,
pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup
rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah
keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga
atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial
individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan
tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang
menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat
hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah proses kegiatan sistimatis pada praktik
keperawatan agar pasien mampu mandiri sesuai latar belakang budayanya. Strategi
yang digunakan adalah mempertahankan, mengakomodasi, mentransformasi budaya
pasien menuju sehat paripurna (Leininger, 1991 dan Lindbert, J. Hunter, M. &
Kruszweski, 1983). Beberapa strategi yang ditempuh meliputi:
Strategi 1: Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak
bertentangan dengan kesehatan. Tindakan keperawatan diberikan sesuai dengan nilai
yang relevan sehingga pasien dapat mengoptimalkan status kesehatannya, misalnya
budaya berolah raga.
Strategi 2: Negosiasi budaya, yaitu intervensi keperawatan untuk membantu
pasien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya.

7
Perawat membantunya agar dapat memilih budaya lain yang lebih mendukung
peningkatan kesehatan, misalnya yang tidak terbiasa makan ikan karena berbau amis
dapat diganti sumber protein hewani lain.
Strategi 3: Restrukturisasi budaya, dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatannya. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup pasien
yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Tindakan keperawatan dirancang
sesuai latar belakang budaya sehingga budaya tetap dipandang sebagai rencana hidup
yang lebih baik setiap saat. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih
menguntungkan dan sesuai keyakinan yang dianut.
2.2.3 Konsep dalam Transcultural Nursing
1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan
dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu
tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan
keputusan.
3. Perbedaan Budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal daei
pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan
keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai
budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari
individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan
menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal
muasal manusia
7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian
etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada
perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku
pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan
baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan
manusia.
9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi
kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.

8
10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai,
kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau
memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan,
sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian
dengan damai.
11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya
bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.

9
2.2.3 Proses keperawatan Transcultural Nursing
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan
keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise
Model ).Sunrise Model dari teori Leininger dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Matahari
terbit sebagai lambang atau symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada puncak
dari model ini dengan pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk
mempertimbangkan arah yang membuka pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi
kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk menyelidiki berfokus pada keperawatan
profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah berarti mempengaruhi
tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-putus pada model ini
mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa tubuh manusia tidak
terpisahkan/ tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka.

10
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak
tampak pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah
agar seluruh terminologi tersebut dapat diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya.
Intervensi keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien atau nilai-nilai yang akan
dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak selalu sesuai
dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat yang produktif
untuk memberikan panduan dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan kebudayan
serta penelitian ilmiah. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan
oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien
(Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah
kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995).
Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada Sunrise Model yaitu :
a. Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat
penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu
mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan,
alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan
persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.
b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat
realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk
menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri.
Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut, status
pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan
kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama
panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin, tatus, tipe keluarga,
pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh
penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu
11
kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang
perlu dikaji pada faktor ini adalah : posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala
keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam
kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.
e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang
mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew
and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan
yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh
menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
f. Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material
yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang
harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan,
tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain misalnya asuransi,
penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.
g. Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh
jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka
keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti- bukti ilmiah yang rasional dan individu
tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien,
jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang
pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang
dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and
Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam
asuhan keperawatan transkultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan
perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan
ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.
C. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses
keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih
strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar
belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan

12
dalam keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan
budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan,
mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan
merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.
1. Cultural care preservation/maintenance
a. Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan
dan perawatan
b. Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
c. Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat
2. Cultural careaccomodation/negotiation
a. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien
b. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
c. Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan
berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik
3. Cultual care repartening/reconstruction
a. Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya.
b. Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok
c. Gunakan pihak ketiga bila perlu
d. Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat
dipahami oleh klien dan orang tua
e. Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan
Perawat dan klien harus mncoba untuk memahami budaya masing-masing melalui
proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang
akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami
budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara
perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari
efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat
terapeutik.
D. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang
mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak
sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat
bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

13
BAB 3. APLIKASI TEORI

3.1 Gambaran Kasus

Tn. F (43 Tahun) dan Ny. N (35 Tahun) serta ke 2 anaknya yaitu An. M dan An. L.
Mereka merupakan sebuah keluarga dari sekian banyak suku minang di Sumatera yang
tinggal di desa pedalaman yang kental akan tradisinya. Dalam kesehariannya Tn. F bekerja
sebagai kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sedangkan Ny. N
sebagai pedagang kaki 5 yang kesehariannya menjual dagangannya dengan mengelilingi
kampungnya. Mereka hidup dengan beberapa kelompok suku yang ada didaerahnya. Dimana
didalam suku tersebut terdapat dukun pijat yang sangat di percayai oleh semua anggota suku,
sehingga setiap apa yang dukun itu lakukan merupakan suatu hal yang mereka percayai.
Padalah semua suku di pedalam tersebut tidak menempuh pendidikan sama sekali.
Masyarakat di daerah tersebut tidak memiliki agama dan kepercayaan mereka hanya pada
dukun pjijat.

Suatu hari Tn. F melaksanakan kegiatan sehari-harinya sebagai kuli bangunan. Beliau
berangkat pagi jam 7 sampai lupa membawa bekal dari rumah. Beberepa menit kemudian Ny.
N menyadari bahwa Tn. F tidak membawa bekal untuk dibawa ke tempat kerjanya. Kemudian
Ny. N memanggil anak-anaknya yang sedang asik bermain di taman dekat rumahnya. Ny. N
menyuruh kedua anaknya agar mengantar bekal buat Tn. F ke tempat dimana beliau bekerja.
Setelah itu mereka sampai ketempat Tn. F bekerja dan ketika itu mereka berdua melihat Tn. F
di kerumuni banyak orang dan mereka bertanya-tanya kenapa Ayah mereka di kerumini
banyak orang. Ternyata Tn. F jatuh ketika Tn. F naik tangga yang tangga tersebut sudah
terlihat rapuh, akhirnya Tn. F merasa sakit di pergelangan kaki akibat jatuh dari tangga. Dan
An. M dan An L membawa Tn. F pulang kerumah dan sampai di rumah Ny. N terkejut
melihat dan mendengar kejadian tersebut. Dan akhirnya Ny. N dan anak-anaknya membawa
Tn. F ke tempat yang mereka percayai yaitu dukun pijat. Tn. F di pijat oleh dukun tersebut,
setelah itu diolesi oleh minyak dan mebacakan mantra serta meludahi di kaki Tn. F . Akan
tetapi setelah diakukan pijat ke esokan harinya kondisi Tn. F bukan malah membaik tapi
sebaliknya bertambah buruk Tn. F merasa Nyeri yang sangat hebat. Dan akhirnya Ny. N
membawa Tn. F ke rumah sakit kenapa Tn. F terus merintih kesakitan. Setelah dilakukan
pemerikasaan oleh perawat yang jaga pada sift tersebut ternnyata Tn. F mengalami Dislokasi
dan harus rawat dengan menyanggah kaki Tn. F dan mengompresnya dengan es, serta

14
diberikan obat pereda sakit. Perawat menanyakan kenapa Tn. F kenapa bisa terjadi hal
tersebut dan apakah pernah diobati. Keluarga tersebut menceritakan hal yang terjadi dan
memberitahukan bahwa pernah dibawa kedukun pijat yang ada di desanya hal itu karena
sudah menjadi kebiasaan ketika seseorang mengalami patah tulang dibawa ke tempat dukun
pijat tersebut. Namun, keluarga mereka tidak menetahui bahaya dari pijat tersebut. Dan pada
akhirya kelurga mereka diberikan penyuluhan oleh perawat bahaya pijat dan bagaimana
merawat ketika terjadi dislokasi pada kakinya.

3.2 Pengkajian
3.2.1 Faktor Teknologi
Pemanfaatan teknologi kesehatan dipengaruhi oleh sikap tenaga kesehatan, kebutuhan,
serta permintaan masyarakat. Minat masyarakat menjadi salah satu faktor yang dapat
mendorong seseorang untuk melakukan upaya pengobatan. Seperti halnya keluarga Tn.F
mereka tinggal di masyarakat pedalaman di Sumatera. Kebiasaan mereka lebih mempercayai
pengobatan tradisional seperti praktuik dukun. Seperti halnya ketika ia mengalami dislokasi ia
lebih memilih pengobatan dengan praktik dukun dari pada pelayanan kesehatan. Hal yang
perlu dikaji :
1. Bagaimana penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan
kesehatannya
2. Bagaimana kebiasaan berobat untuk mengatasi masalah kesehatan
3.2.2 Faktor Agama dan Filosofi
Masyarakat suku minang yang tinggal pedalaman Sumatera mereka tidak memiliki
kepercayaan tentang agama. Pandangan mereka saat mengalami sakit yaitu bahwa penyakit
yang mereka derita disebabkan oleh kejadian faktor alam yang tidak mendukung. Mereka
tidak percaya adanya Tuhan mereka mempercayai bahwa dukun merupakan seseorang yang
diberi anugerah oleh dewa yang diberi kepercayaan untuk menyembuhkan orang sakit. Hal
yang perlu dikaji :
1. Bagaiman pandangan tentang penyakit yang mereka alami
2. Kepercayaan apa yang mereka anut
3.2.3 Faktor Kekeluargaan dan sosial
Keluarga merupakan faktor pendukung seseorang dalam menentukan perilaku
kesehatnnya. Keadaan masyarakat sekitar juga mennetukan bagaiman keluarga tersebut
mendapatkan derajat kesehatan yang baik. Keluarga Tn. F termasuk keluarga inti, dimana
keluarga tinggal satu rumah yang terdiri dari suami, istri, dan kedua anaknya. Pengambilan
keputusan dalam menangani masalah diambil oleh kepala keluarga yaitu Tn.F. Hal yang perlu
dikaji:
1. Bagaimana struktur keluarga klien
2. Siapa yang berperan menjadi pengambil keputusan dalam keluarga
3.2.4 Nilai Budaya, Kepercayaan dan Gaya Hidup
15
Faktor ini dapat dikaji berdasarkan nilai budaya dan kepercayaannya yang diyakini oleh
keluarga Tn. F. Nilai budaya dan keyakinan diperoleh adari nilai atau norma yang dianut pada
masyarakat mereka. Masyarakat di pedalaman sumatera memiliki nilai serta keyakinan yang
kuat akan kepercayaan mistik serta dukun. Mereka mendatangi dukun yang akan
menyembuhkan penyakit tyang mereka alami. Mereka percaya akan mantra yang di ucapkan
oleh dukun pijat dapat menyembuhkan penyakitnya. Hal yang perlu dikaji:
1. Bahasa apa yang mereka gunakan setiap hari
2. Bagaiamana persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari
3.2.5 Faktor Kebijakan dan Peraturan
Faktor ini dapat dikaji berdasarakan kebiasaan yang dilakukan dilingkungan
masyarakatnya. Kebiasaan masyarakat serta peraturan dalam masyarakat dapat mempengaruhi
mereka dalam menjalani pengobatan. Masyarakat pedalaman di Sumatera ketika mengalami
penyakit atau cedera yang dialaminya mereka datang kedukun yang mereka percayai. Faktor
ini tidak berpengaruh terhadap perilakunya dalam pengobatan.
3.2.6 Faktor Ekonomi
Keadaan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi bagaiman seseorang memperoleh
pengobatannya. Keluarga Tn. F yang tergolong cukup dikarenakan Tn. F bekerja sebagai kuli
bangunan yang untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sedangkan Ny. N sebagai
pedagang kaki 5 yang juga membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Hal
yang perlu dikaji:
1. Apa pekerjaan keluarga klien
2. Berapa pendapatan keluarga per bulannya
3.2.7 Faktor Pendidikan
Pendidikan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan seseorang.
Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin orang tersebut memiliki kesadaran akan
kesehatannya. Masyarakat pedalam di daerah sumatera mereka hidup dalam suatu kelompok
dipedalaman yang mana disana tidak ada yang menempuh pendidikan. Seperti halnya
keluarga Tn.F mereka tidak menempuh pendidikan sama sekali. Hal ini sangat berpengaruh
terhadap perilaku ketidakpatuhan dalam pengobatan keluarga Tn. F terkait kesehatan yang
berhubungan dengan adat istiadat yang dimiliki oleh keluarga Tn. F. Hal yang perlu dikaj:
1. Bagaimana pendidikan keluarga klien
2. Bagaimana praktik pengobatan mandiri yang mereka jalani untuk kesehatannya
3.3 Diagnosa Keperawatan
Ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem yang diyakini atau
tradisi yang dianut.
3.4 Rencana Keperawatan
Restrukturisasi Budaya

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil

16
1. Ketidakpatuhan dalam Setelah dilakukan asuhan Restrukturisasi Budaya:
pengobatan keperawatan selama 2 jam 1. Beri kesempatan
berhubungan dengan sebanyak 2x kunjungan kepada klien untuk
sistem yang diyakini kerumah klien, masalah memahami
atau tradisi yang dianut ketidakpatuhan pengobatan informasi yang di
dapat teratasi dengan kriteria berikan dan
hasil: melaksanakannya.
a. Keluarga melaporkan
2. Tentukan tingkat
penggunaan strategi untuk
perbedaan pasien
menghilangkan perilaku
melihat dirinya dari
tidak sehat dan
budaya kelompok
memaksimalkan kesehatan
3. Gunakan pihak
b. Keluarga mampu
ketiga jika
menggunakan layanan
diperlukan
kesehatan sesuai dengan
4. Terjemahkan
kebutuhan
c. Keluarga menunjukkan terminologi gejala
kepatuhan pada yang dialami pasien
pengobatan dan program dalam bahasa
penanganan. kesehatan yang
mudah dimengerti
oleh klien.

3.5 Implementasi Keperawatan


Restrukturisasi Budaya

No Diagnosa Keperawatan Implementasi


1. Ketidakpatuhan dalam Restrukturisasi Budaya:
1. Memberikan kesempatan klien untuk
pengobatan berhubungan
memahami informasi yang diberikan
dengan sistem yang diyakini
dan melaksanakannya
dan tradisi yang dianut
2. Menentukan tingkat perbedaan pasien
dalam melihat dirinya dari budaya
kelompok.
3. Menggunakan pihak ketiga
4. Memberikan pengetahuan tentang
terminologi gejala klien kedalam

17
bahasa kesehatan yang dapat dipahami
oleh klien

3.6 Evaluasi Keperawatan

No Diagnosa Evaluasi
1. Ketidakpatuhan dalam S: keluarga menyatakan bahwa mereka
pengobatan berhubungan paham terhadap cidera dislokasi dan
dengan sistem yang diyakini mengetahui pemilihan pengobatan yang
dan tradisi yang dianut diambil
O: pasien dibantu oleh keluarga untuk minu
obat yang diberikan oleh perawat
A: masalah defisiensi pengetahuan teratasi
P: hentikan intervensi

BAB 4. PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian

4.1.1 Identitas Umum Keluarga

a. Identitas Kepala Keluarga

Nama : Tn.F

Umur : 43 Tahun

Agama :-

Suku : Minang

Pendidikan :-

Pekerjaan : Kuli bangunan

18
Alamat : Daerah suku pedalaman Sumatera Utara

Status kesehatan : Dislokasi kaki

b. Komposisi Keluarga

N Nama L/P Usia Hub Pendidika Pekerjaa Status


o Klg n n Kesehata
n

1. Ny. P 57 Istri - Pedagang Sehat


Tahun kaki lima

2. An.M P 17 Anak - - Sehat


Tahun pertam
a

3. An.L 14 Anak - - Sehat


Tahun kedua

4.1.2 Pengkajian berdasarkan data di Role play

Berdasarkan role play yang telah ditampilkan, Setelah dilakukan pengkajian data yang
muncul adalah Keluarga Tn.F merupakan sebuah keluarga dari sekian banyak suku Minang di
Sumatera yang tinggal di desa pedalaman. Masyarakat disana jauh akan akses teknologi
sehingga masyarakat disana masih kental akan tradisinya Tn. F dalam kesehariannya bekerja
sebagai kuli bangunan. Sedangkan Ny. N hanya bekerja sebagai pedagang kaki lima. Seluruh
anggota keluarga Tn.F tidak ada yang menempuh pendidikan termasuk kedua anaknya,
mereka hanya membantu Ny.N dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam menangani
masalah keluarga, keputusan diambil oleh Tn.F selaku kepala keluarga.

Keluarga Tn.F memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat tersebut sehingga
kepercayaan yang diyakini masyarakat sangat berpengaruh kepada keluarga Tn.F. Mereka
hidup dengan beberapa kelompok suku yang ada didaerahnya. Suku mempercayai adanya
dukun yang sangat di percayai oleh semua anggota suku, sehingga setiap apa yang dukun itu
lakukan merupakan suatu hal yang mereka percayai. Semua anggota masyarakat pada suku
pedalam tersebut tidak menempuh pendidikan sama sekali. Masyarakat di daerah tersebut
tidak memiliki agama dan kepercayaan mereka hanya pada dukun atau orang yang dianggap

19
paling berperan dalam masyarakat tersebut. Seperti halnya yang yang dijalani Keluarga Tn.F
ketika Tn.F mengalami kecelakaan ditempat kerjanyaa dan kakinya mengalami dislokasi,
mereka pergi. Tn. F ke dukun. Dukun tersebut memijat oleh dukun tersebut dan diolesi oleh
minyak dan mebacakan mantra serta meludahi di kaki Tn. F .

4.2 Diagnosa

Ketidakpatuhan merupakan suatu sikap dimana seseorang tidak disiplin atau tidak
maksimal dalam melaksanakan pengobatan yang mereka jalani yang dipengaruhi oleh
pengetahuan. Dengan adanya pengetahuan yang luas dapat dijadikan dasar memilih atau
mengambil keputusan mana yang baik dan mana yang tidak. Dalam pengambil keputusan
tidak hanya dengan bermodal dengan perasaan atau feeling saja namun juga sangat
dibutuhkan rasional dari keputusan tersebut. Sehingga dibutuhkan sebuah pengetahuan atau
ilmu yang dapat merasionalkan dari keputusan tersebut.

Ditinjau dari tingkat pendidikan keluraga Tn.F, semua anggota keluarga tidak ada yang
bersekolah, jadi semua keputusan berdasarkan atas nilai yang diyakini oleh mereka sejak
dulu. Faktor sosial dari masyarakat setempat yang memperkuat adanya keyakinan bahwa
dukun lah orang yang bisa menyemabuhkan segala penyakit yang mereka alami. Mereka
mengganggap dukun adalah seseorang yang diberi kekuatan dari dewa untuk menyembuhkan
penyakit mereka dan mereka percaya bahwa penyakit yang mereka alami adalah teguran dari
dewa tersebut dan hanya dengan perantara dukunlah penyakit tersebut bisa hilang. Pada kasus
dislokasi yang dialami Tn.F mereka percaya bahawa dukun mampu meyembuhkan kakinya
tetapi setelah dilakukan pemijatan dan bacaan mantra malah menimbulkan adanya komplikasi
tulang pada area dislokasi tersebut yaitu adanya komplikasi tulang yang menyebabkan kaki
bengkak dan perubahan posisi tulang.

Keyakinan yang kuat dari suatu kelompok dapat mempengaruhi perilaku individu.
Keyakinan akan pengobatan tradisional khusunya dukun memang sudah menjadi hal biasa di
amsyarakat Indonesia. Adanya asumsi yang kuat atas apa yang mereka yakini serta didukung
oleh kurangnya informasi yang mereka peroleh soal kesehatan menimbulkan perilaku
seseorang terhadap pengobatan yang mereka jalani.Oleh karena itu kepatuhan seseorang
dalam pengobatan merupakan hal yang terpenting dalam kesehatan agar apa yang dipilih atau
diputuskan merupakan pilihan yang terbaik sehingga meminimalkan penyesalan dan kerugian
yang akan terjadi kedepannya. Tradisi dari keluarga Tn.F dilakukan karena pengaruh sistem
nilai yang dianut, kurangnya informasi serta keadaan ekonomi keluarga sehingga pada

20
makalah ini mengangkat diagnosa ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan
sistem yang diyakini atau tradisi yang dianut

4.3 Rencana Keperawatan


Rencana keperawatan yang tepat dalam menagani masalah keperawatan dengan kasus
dislokasi yaitu dengan merestrukturisasi budaya pengobatan tradisional dukun pijat karena
dislokasi merupakan salah satu trauma tulang yang perlu penanganan khusus dan dukun pijat
bukan pilihan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Rencana keperawatan yang
dapat dilakukan yaitu

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


Hasil
1. Ketidakpatuhan dalam Setelah dilakukan asuhan Restrukturisasi Budaya:
pengobatan keperawatan selama 2 jam 1. Beri kesempatan
berhubungan dengan sebanyak 2x kunjungan kepada klien untuk
sistem yang diyakini kerumah klien, masalah memahami
atau tradisi yang dianut ketidakpatuhan pengobatan informasi yang di
dapat teratasi dengan kriteria berikan dan
hasil: melaksanakannya.
a. Keluarga melaporkan
2. Tentukan tingkat
penggunaan strategi
perbedaan pasien
untuk menghilangkan
melihat dirinya dari
perilaku tidak sehat dan
budaya kelompok
memaksimalkan
3. Gunakan pihak
kesehatan
ketiga jika
b. Keluarga mampu
diperlukan
menggunakan layanan
4. Terjemahkan
kesehatan sesuai dengan
terminologi gejala
kebutuhan
c. Keluarga menunjukkan yang dialami pasien
kepatuhan pada dalam bahasa
pengobatan dan program kesehatan yang
penanganan. mudah dimengerti
oleh klien.

4.4 Implementasi Keperawatan

21
No Diagnosa Keperawatan Implementasi
1. Ketidakpatuhan dalam Restrukturisasi Budaya:
1. Memberikan kesempatan klien untuk
pengobatan berhubungan
memahami informasi yang diberikan
dengan sistem yang diyakini
dan melaksanakannya
dan tradisi yang dianut
2. Menentukan tingkat perbedaan pasien
dalam melihat dirinya dari budaya
kelompok.
3. Menggunakan pihak ketiga
4. Memberikan pengetahuan tentang
terminologi gejala klien kedalam
bahasa kesehatan yang dapat dipahami
oleh klien

Pelaksanaaan dalam menyelesaikan masalah keperawatan tersebut perlu adanya


pendekatan yang tepat dengan melakukan menjalin hubungan baik dengan masyarakat
setempat serta melakukan pendekatan pribadi kepada orang yang berperan dalam masyarakat
tersebut. Terjalinnya hubungan yang baik antara petugas kesehatan dengan masyarakat serta
pengaruh dari seseorang yang berperan dalam masyarakat tersebut rencana keperawatan
dapat dijalan dengan baik tanpa ada konflik serta diharapkan maslah keperawatan dapat
terselesaikan.
4.5 Evaluasi
Evaluasi yang dapat dilakukan dengan pelakasanaan yang telah dilakukan dengan
mengevaluasi perubahan perilaku masyarakat tersebut dalam mencari bantuan pengobatan
serta bagaimana ketepatan masyarakat tersebut dalam menjalani pengobatannya. Jika ada
respon positif serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat tersebut maka rencana
keperawatan dapat dihentikan.

22
BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Permasalahan ketidakpatuhan dalam memilih pelayanan pengobatan merupakan hal


yang sudah banyak terjadi dikalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh
berbagai faktor mulai dari pengetahuan, keyakinan serta faktor ekonomi. Seperti halnya
permasalahan yang muncul pada masyarakat Sumatera yaitu kepercayaan mereka terhadap
dukun yang bisa menyembuhkan segala penyakit yang mereka alami salah satunya dukun
pijat patah tulang. Padahal pada kenyataanya pengobatan tradisional patah tulang dengan
dukun dapat menyebabkan komplikasi pada tulang seperti kompartemen sindrome yang
biasanya ditandai dengan adanya bengkak. Ketidakpatuhan seseorang dalam memilih
pengobatannya dapat diatasi dengan menggunakan cara pemberian informasi dan pendidikan
kesehatan kepada masyarakat serta solusi yang tepat. Perawat dapat memberikan pendidikan
kesehatan serta solusi pemilihan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan faktor ekonomi
suatu keluarga.

5.2 Saran

a. Sebagai seorang perawat seharusnya perawat dapat memahami budaya di setiap daerah
sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan dengan mudah.
b. Perawat perlu meningkatkan kreativitas dalam memodifikasi cara meningkatkan
pengetahuan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan.
c. Perawat perlu melibatkan keluarga dalam melaksanakan asuhan keperawatan keluarga.

23
DAFTAR PUSTAKA

Farldan M&Leininger M. 2002. Transkultural Nursing, Concept, Theories, Research


&Practice. Mc. Grow-Hill Companies
Khan I, Saeed M, Inam M, Arif M. Traditional bone setters; preference and patronage.
Professional Med J 2015;22(9):1181-1185. DOI: 10.17957/ TPMJ/15.2944

Leininger M. Madeline. Kultural Care Diversity dan Universality : A Theory Of Nursing.


1991. New York : National league for nursing press.
Lindbert, J. Hunter, M. & Kruszweski, A. (1983). Introduction to Person Centered Nursing.
Philadelphia : J.B.Lippincott Company.
NANDA.(2015). Diagnosis Keperawatan. Jakarta. EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Shadgan, B., Menon, M., Brien, P. J. O., Reid, W. D., & Pt, B. M. R. (2008). Diagnostic
Techniques in Acute Compartment Syndrome of the Leg, 0(0), 17.

24
LAMPIRAN

SUMBER TEORITIS MEDELINE LEININGER

Leininger teori devired dari disiplin ilmu antropologi dan keperwatan (Leininger,
1991b, 1995c; & McFarland 2002b, 2005). Dia telah mendefinisikan keperawatan
transkultural sebagai daerah utama keperawatan yang difokuskan pada studi banding dan
analisis beragam budaya dan subkultur di dunia sehubungan dengan adanya nilai-nilai
kepedulian, ekspresi, dan helath keyakinan penyakit dan pola perilaku.

Tujuan teori adalah untuk menemukan keragaman perawatan manusia dan


universalities dalam hubungannya dengan pandangan dunia, struktur sosial, dan dimensi lain
yang dikutip, dan kemudian menemukan cara untuk memberikan perawatan kongruen budaya

25
kepada orang-orang dari cultuere berbeda atau sama untuk mempertahankan atau
mendapatkan kembali mereka baik makhluk, kesehatan, atau menghadapi kematian dengan
cara telah sesuai budaya (Leininger, 1985b, 1988b, 1988c, 1988d; dikutip tahun 1991b)

Tujuan dari teori ini adalah untuk meningkatkan dan memberikan perawatan
cullturally kongruen dengan orang taht yang bermanfaat, akan cocok dengan, dan akan
berguna untuk klien, keluarga, atau kelompok budaya lifeways sehat (Leininger, 1991b).

Keperawatan transkultural melampaui keadaan kesadaran untuk yang menggunakan


pengetahuan perawatan budaya keperawatan untuk praktek perawatan budaya kongruen dan
bertanggung jawab (Leininger, 1991b, 1995c). Leininger telah menyatakan bahwa dalam
waktu, akan ada jenis baru praktik keperawatan yang mencerminkan praktik keperawatan
berbeda yang didefinisikan secara kultural, membumi, dan spesifik untuk memandu
perawatan untuk individu, keluarga, kelompok, dan institusi. Dia berpendapat bahwa karena
budaya dan peduli pengetahuan yang luas dan paling holistik berarti untuk konsep dan
memahami orang, mereka adalah pusat untuk dan penting untuk pendidikan keperawatan dan
praktek (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Selain itu, dia
menyatakan bahwa keperawatan transkultural telah menjadi salah satu daerah yang paling
penting, relevan, dan sangat menjanjikan dari studi formal, penelitian, dan praktek karena
orang-orang hidup di dunia multikultural (Leininger, 1984a, 1988a, 1995c; Leininger &
McFarland, 2002a, 2005). Leininger memprediksi bahwa untuk keperawatanmenjadi
bermakna dan relevan dengan klien dan perawat lain di dunia, pengetahuan keperawatan
transkultural dan kompetensi akan penting untuk memandu semua keputusan keperawatan
dan tindakan untuk hasil yang efektif dan sukses (Leininger, 1991b, 1996a, 1996b; Leininger
& McFarland, 2002a, 2005).

Leininger (2002a) membuat perbedaan antara keperawatan transkultural dan


keperawatan lintas budaya. mengacu pada perawat disiapkan dalam keperawatan transkultural
yang siap dan berkomitmen untuk mengembangkan pengetahuan dan praktek dalam
keperawatan transkultural, sedangkan keperawatan lintas budaya mengacu pada perawat
menggunakan konsep antropologi terapan atau medis, dengan banyak perawat tidak
berkomitmen untuk mengembangkan teori keperawatan transkultural dan penelitian
berdasarkan praktek (Leininger, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a). Dia juga
mengidentifikasi bahwa keperawatan internasional dan keperawatan transkultural yang
berbeda. keperawatan internasional yang berfokus pada perawat berfungsi antara dua budaya,

26
namun transkultural keperawatan berfokus pada beberapa budaya dengan teori dan praktek
dasar perbandingan (Leininger, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a).

Leininger menjelaskan perawat generalis transkultural sebagai perawat disiapkan di


tingkat sarjana muda yang mampu menerapkan konsep transkultural keperawatan, prinsip,
dan praktek-praktek yang dihasilkan oleh perawat spesialis transkultural (Leininger, 1989a,
1989b, 1991c, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a). spesialis perawat trancultural
disiapkan dalam program pascasarjana menerima di persiapan mendalam dan bimbingan
dalam pengetahuan keperawatan transkultural dan praktek. spesialis ini telah memperoleh
keterampilan kompetensi melalui pendidikan postbaccalaureate. "Spesialis ini telah
mempelajari budaya dipilih dalam kedalaman yang cukup (nilai, keyakinan, dan cara hidup)
dan sangat berpengetahuan dan secara teoritis berdasarkan tentang perawatan, kesehatan, dan
faktor lingkungan yang berhubungan dengan prerspectives keperawatan transkultural
(Leininger, 1984b, p. 252). Spesialis perawat transkultural berfungsi sebagai praktisi bidang
ahli, guru, reserarcher, dan konsultan sehubungan dengan memilih budaya. individual ini juga
menghargai dan menggunakan teori keperawatan untuk mengembangkan dan pengetahuan
advace dalam disiplin keperawatan trancultural, yang Leininger (1995c, 2001) bidang
memprediksi harus menjadi fokus dari semua pendidikan keperawatan dan praktek.

Leininger (1996b) memegang dan mempromosikan teori baru dan berbeda dari teori
tradisional di keperawatan, yang biasanya mendefinisikan teori sebagai seperangkat konsep
logis yang saling terkait dan proposisihipotetis yang dapat diuji untuk tujuan menjelaskan atau
memprediksi peristiwa, fenomena, atau situasi.Sebaliknya, Leinenger mendefinisikan teori
sebagai penemuan yang sistematis dan kreatif pengetahuan tentang domain yang menarik atau
fenomena yang muncul penting untuk memahami atau untuk menjelaskan beberapa fenomena
yang tidak diketahui.Dia percaya bahwa teori keperawatan harus memperhitungkan penemuan
kreatif tentang individu, keluarga, dan kelompok-kelompok, dan peduli mereka, nilai-nilai,
ekspresi, keyakinan, dan tindakan atau praktek berdasarkan pada cara-cara kehidupan budaya
mereka untuk memberikan yang efektif, memuaskan, dan perawatan budaya yang
kongruen.Jika praktik keperawatan gagal mengenali aspek budaya kebutuhan manusia,maka
akan ada tanda-tanda dari praktek perawatan kurang menguntungkan atau berkhasiat dan
bahkan bukti ketidakpuasan dengan sevices keperawatan, yang membatasi penyembuhan dan
kesejahteraan(Leinenger, 1991b, 1995a, 1995c; Leinenger& McFarland, 2002a, 2005).

27
Leininger (1991b) mengembangkan theory nya culture care diversity dan universality,
yang didasarkan pada keyakinan bahwa manusia dari budaya yang berbeda dapat
menginformasikan dan mampu membimbing para ahli untuk menerima jenis perawatan yang
mereka inginkan atau butuhkan dari orang lain. Budaya dicontoh dan dinilai kebiasaan
manusia yang mempengaruhi keputusan dan tindakan mereka; karena itu teori diarahkan pada
perawat untuk menemukan dan mendokumentasikan dunia klien dan menggunakan sudut
pandang emic, pengetahuan dan praktik yang sesuai dengan etik (pengetahuan professional),
sebagai dasar untuk membuat keputusan tindakan keperawatan professional yang kongruen
dengan budaya (Leininger,1991b, 1995c). Sesungguhnya, keperawatan budaya adalah teori
keperawatan holistik yang luas, karena memperhitungkan totalitas dan perspektif kehidupan
manusia secara holistik dan eksistensi dari waktu ke waktu, termasuk faktor-faktor struktur
sosial, pandangan dunia, sejarah dan nilai-nilai budaya, konteks lingkungan (Leininger 1981),
ekspresi bahasa, dan masyarakat (umum) dan pola professional. Ini adalah beberapa dasar
kritis dan penting untuk penemuan pengetahuan keperawatan bahwa esensi dari keperawatan
yang daapat mengarah pada kesehatan dan kesejahteraan klien dan memandu praktik terapi
keperawatan. Teori keperawatan budaya dapat induktif dan deduktif, berasal dari emic
(insider) dan etik (luar)pengetahuan. Namun leininger mendorong dan memperoleh
pengetahuan emic didasarkan dari orang-orang atau budaya karena pengetahuan tersebut
adalah yang paling kredibel (1991b)

Kisaran teori ini tidak menengah maupun teori makro, tetapi harus dilihat secara
holsitik dengan domain tertentu yang menarik. Leininger percaya istilah kisaran menengah
dan makro yang usang dalam pengembangan dan penggunaan teori (1991b, 1995c; Leininger
& McFarland, 2002a, 2005).

Fitur Unik Dari Teori

Menurut Leininger, teori keanekaragaman perawatan budaya dan universalitas


memiliki beberapa fitur yang berbeda, berbeda dari teori keperawatanl ainnya. Itu adalah satu-
satunya teori yang difokuskan secara eksplisit pada menemukan perawatan budaya holistic
dan komprehensif, dan itu adalah sebuah teori yang dapat digunakan dalam budaya barat dan
non barat karena masuknya beberapa factor holistik yang mempengaruhi perawatan manusia
seperti pandangan dunia, struktur social faktor, bahasa, perawatan generic dan profesional,

28
budaya leluhur dan konteks lingkungan. Teori memiliki dimensi abstrak dan praktek yang
dapat diperiksa secara sistematis untuk sampai pada hasil perawatan kongruen budaya. Itu
adalah satu-satunya teori keperawatan secara eksplisit berfokus pada budaya dan perawatan
budaya, dengan tiga modalita spraktek teoritis untuk sampai pada keputusan perawatan
kongruen budaya dan tindakan untuk mendukung kesejahteraan, kesehatan, dan gaya hidup
memuaskan bagi orang-orang. Teori ini dirancang untuk akhirnya menemukan perawatan-apa
yang beragam dan apa yang universal terkait untuk peduli kesehatan dan memiliki focus
komparatif untuk mengidentifikasi praktik asuhan keperawatan transkultural yang berbeda
atau kontras dengan konstruksi perawatan khusus. Teori dengan metode ethnonursing (metode
penelitian keperawatan pertama yang dirancang untuk cocok dengan teori) telah
memungkinkan dirancang untuk mencari data informantemic, dan memungkinkan dapat
digunakan untuk ketetapan kasus kesehatan budaya. Teori dapat menghasilkan pengetahuan
baru dalam keperawatan dan pelayanan kesehatan untuk sampai pada perawatan budaya
kongruen, aman, dan bertanggungjawab.

KONSEP UTAMA DAN DEFINISI

Leininger telah mengembangkan banyak hal yang relevan dengan teori. Yang utama
didefinisikan di sini pembaca dapat mempelajari teori lengkapnya dari karya definitif nya
(Leininger, 1991b, 1995c; Leininger dan McFarland, 2002a, 2005).

KEPERAWATAN MANUSIA DAN KEPEDULIAN

Konsep keperawatan manusia dan kepedulian mengacu pada fenomena abstrak dan
nyata dengan ekspresi bantu, mendukung, memungkinkan, dan memfasilitasi cara untuk
membantu diri sendiri atau orang lain dengan jelas atau kebutuhan diantisipasi untuk
meningkatkan kesehatan, kondisi manusia, atau kehidupan, atau untuk cacat wajah atau
sekarat.

BUDAYA

Budaya mengacu pada kehidupan bermotif, nilai-nilai, keyakinan, norma, simbol, dan praktek
individu, kelompok, atau lembaga yang dipelajari, bersama, dan biasanya ditularkan dari satu
generasi ke generasi lain.

BUDAYA KEPERAWATAN

29
Budaya keperawatan mengacu pada bantuan sintesis dan bentukan budaya, mendukung,
memungkinkan, atau tindakan peduli fasilitatif terhadap diri atau orang lain berfokus pada
kebutuhan nyata atau diantisipasi untuk kesehatan klien atau kesejahteraan, atau menghadapi
cacat, kematian, atau kondisi manusia lainnya.

BUDAYA KERAGAMAN KEPERAWATAN

keanekaragaman perawatan budaya mengacu pada variabilitas budaya atau perbedaan


keyakinan perawatan, makna, pola, nilai-nilai, simbol, dan lifeways dalam dan di antara
budaya dan manusia.

KESATUAN BUDAYA KEPEDULIAN

Kesatuan budaya kepedulian mengacu pada kesamaan atau makna perawatan berbasis budaya
yang sama ("kebenaran"), pola, nilai-nilai, simbol, dan kehidupan mencerminkan hati-hati
karena kemanusiaan universal.

PANDANGAN DUNIA

Pandangan dunia mengacu pada cara pandang kelompok individu dalam memahami dunia
tentang mereka sebagai nilai, sikap, gambar, atau perspektif tentang kehidupan dan dunia.

DIMENSI STRUKTUR BUDAYA DAN SOSIAL

Budaya dan sosial dimensi struktur merujuk pada pola dinamis, holistik, dan saling fitur
terstruktur dari budaya (atau subkultur), termasuk agama (atau spiritualitas), kekerabatan
(sosial), karakteristik politik (hukum), ekonomi, pendidikan, teknologi, nilai-nilai budaya,
filsafat, sejarah, dan bahasa.

KONTEKS LINGKUNGAN

Konteks lingkungan mengacu pada totalitas lingkungan (fisik, geografis, dan sosial budaya),
situasi, atau peristiwa dengan pengalaman terkait yang memberikan makna interpretatif untuk
membimbing ekspresi manusia dan keputusan dengan referensi ke lingkungan atau situasi
tertentu.

30
ETNOHISTORI

Etnohistori mengacu pada urutan fakta, peristiwa, atau perkembangan dari waktu ke waktu
sebagaimana diketahui, menyaksikan, atau didokumentasikan tentang orang yang ditunjuk
untuk budaya.

EMIK

Emik mengacu pada atau pandangan lokal, adat, insider dan nilai-nilai tentang fenomena.

ETIK

Etik mengacu pada luar atau lebih pandangan universal dan nilai-nilai tentang fenomena.

KESEHATAN

Kesehatan mengacu pada keadaan kesejahteraan negara yang meliputi budaya, didefinisikan,
dihargai, dan dipraktekkan oleh individu atau kelompok yang memungkinkan mereka untuk
berfungsi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

Keperawatan transkultural mengacu area formal pengetahuan dan praktek difokuskan pada
perawatan budaya holistik (peduli) fenomena dan kompetensi untuk membantu individu atau
kelompok untuk mempertahankan atau mendapatkan kembali kesehatan mereka (atau
kesejahteraan) dan untuk menangani cacat, mati humanistik dan ilmiah, atau kondisi manusia
lainnya dengan cara budaya kongruen dan bermanfaat.

BUDAYA KEPERAWATAN PELESTARIAN ATAU PEMELIHARAAN

Pelestarian keperawatan budaya atau pemeliharaan adalah mereka membantu, mendukung,


memberi fasilitas, atau memungkinkan tindakan profesional dan keputusan yang membantu
orang dari budaya tertentu untuk mempertahankan atau mempertahankan nilai-nilai perawatan
berarti dan lifeways untuk kesejahteraan mereka, untuk pulih dari penyakit, atau berurusan
dengan cacat atau kematian.

AKOMODASI BUDAYA KEPERAWATAN ATAU NEGOSIASI

Akomodasi perawatan budaya atau negosiasi adalah mereka membantu, mendukung,


fasilitatif, atau memungkinkan tindakan profesional dan keputusan yang membantu orang dari

31
budaya yang ditunjuk (atau subkultur) untuk beradaptasi dengan atau Negosiatif dengan orang
lain untuk hasil kesehatan yang berarti, menguntungkan, dan kongruen.

BUDAYA KEPERAWATAN MEMPERBARUI ATAU RESTRUKTURISASI

Budaya perawatan Repatterning atau restrukturisasi mengacu untuk membantu, mendukung


fasilitatif, atau memungkinkan tindakan profesional dan keputusan yang membantu klien
menyusun ulang, mengubah, atau memodifikasi kehidupan mereka untuk hasil kesehatan
baru, berbeda, dan benficial.

KOMPETENSI BUDAYA KEPERAWATAN

Budaya asuhan keperawatan yang kompeten mengacu pada penggunaan eksplisit perawatan
berbasis budaya dan pengetahuan kesehatan yang sensitif, kreatif, dan bermakna sesuai
dengan kehidupan umum dan kebutuhan individu atau kelompok untuk kesehatan yang
bermanfaat dan bermakna dan kesejahteraan untuk menghadapi penyakit, cacat, atau
kematian.

PENGGUNAAN BUKTI EMPIRIS

Selama lebih dari 5 dekade, Leininger telah menyatakan bahwa perawatan adalah
esensi dari keperawatan dan fitur yang dominan, khas, dan pemersatu keperawatan (1970,
1981, 1988a, 1991; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Dia menyatakan bahwa perawatan
adalah kompleks, sulit dipahami, dan sering tertanam dalam struktur sosial dan aspek lain dari
budaya (1991b; Leininger & McFarland, 2005). Dia berpendapat bahwa bentuk-bentuk yang
berbeda, ekspresi, dan pola perawatan yang beragam, dan beberapa bersifat universal
(Leininger, 1991b; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Leininger (1985a, 1990b) nikmat
ethnomethods kualitatif, terutama ethnonursing untuk belajar perawatan. Metode ini
diarahkan untuk menemukan orang-orang-kebenaran, pandangan, keyakinan, dan lifeways
bermotif orang. Selama tahun 1960-an Leininger mengembangkan metode ethnonursing
untuk mempelajari fenomena keperawatan transkultural khusus dan systemtically. Metode ini
berfokus pada klasifikasi keyakinan perawatan, nilai-nilai, dan praktek sebagai cognivetely
atau subyektif dikenal dengan budaya yang ditunjuk (atau wakil budaya) melalui emic bahasa
yang berpusat pada rakyat lokal mereka, pengalaman keyakinan, dan sistem nilai tentang
fenomena keperawatan aktual atau potensial seperti perawatan, kesehatan, dan faktor

32
lingkungan (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Meskipun
keperawatan telah menggunakan kata-kata peduli dan merawat lebih dari satu abad, definisi
dan penggunaan telah kabur dan digunakan sebagai klise, tanpa makna khusus untuk budaya
klien atau perawat (Leininger, 1981, 1984a). "Memang, konsep tentang kepedulian telah
beberapa yang paling sedikit dipahami dan dipelajari dari semua bidang pengetahuan dan
penelitian manusia di dalam dan di luar keperawatan" (Leininger, 1978, p.33). Dengan teori
transkultural perawatan dan metode ethnonursing berdasarkan emic (tampilan insider)
keyakinan, seseorang akan dekat dengan penemuan perawatan berbasis masyarakat, karena
data datang langsung dari orang-orang dan tidak berasal dari etik (vviews luar) keyakinan dan
praktek peneliti. Sebuah tujuan penting dari teori ini adalah untuk mendokumentasikan, tahu,
memprediksi, dan menjelaskan secara sistematis melalui data lapangan apa yang beragam dan
universal tentang perawatan generik dan profesional budaya yang dipelajari (Leininger,
1991b).

Leininger (1984a, 1988a) menyatakan bahwa rinci dan berdasarkan budaya


pengetahuan dan praktek peduli harus membedakan kontribusi keperawatan dari orang-orang
dari disiplin lain. Alasan pertama untuk mempelajari teori perawatan adalah bahwa konstruk
perawatan telah penting untuk pertumbuhan manusia, pembangunan, dan kelangsungan hidup
bagi manusia dari awal spesies manusia (Leininger, 1982, 1984a). Alasan kedua adalah untuk
menjelaskan dan memahami pengetahuan budaya dan peran pengasuh dan perawatan
penerima dalam budaya yang berbeda untuk memberikan budaya perawatan kongruen
(Leininger, 1991b, 1995c, 2002a, 2002b, 2002c). Ketiga, peduli pengetahuan ditemukan dan
dapat digunakan sebagai penting untuk mempromosikan penyembuhan dan kesejahteraan
klien, untuk menghadapi kematian, atau untuk menjamin kelangsungan hidup budaya manusia
dari waktu ke waktu (Leininger, 1981, 1984a, 1991b). Keempat, profesi keperawatan perlu
sistematis mempelajari perawatan dari perspektif budaya yang luas dan holistik untuk
menemukan ekspresi dan makna dari perawatan, kesehatan, penyakit, dan kesejahteraan
sebagai pengetahuan keperawatan (Leininger, 1991b, 1995c, 2002a, 2002b, 2002c) .
Leininger (1991b, 1995c, 2002a, 2002b, 2002c) menemukan perawatan yang sebagian besar
merupakan fenomena yang sulit dipahami sering tertanam dalam lifeways dan nilai-nilai
budaya. Namun, pengetahuan ini adalah dasar yang kuat untuk perawat untuk memandu
praktek mereka untuk perawatan kongruen budaya dan cara terapi khusus untuk menjaga
kesehatan, mencegah penyakit, menyembuhkan, atau membantu orang menghadapi kematian
(Leininger, 1994). Sebuah tesis utama dari teori ini adalah bahwa jika arti perawatan dapat

33
digenggam sepenuhnya, kesejahteraan atau kesehatan individu, keluarga, dan kelompok cn
diprediksi dan perawatan kongruen budaya dapat disediakan (Leininger, 1991b). Leininger
(1991b) views peduli sebagai salah satu konstruk paling kuat dan fenomena sentral
keperawatan. Namun, membangun seperti perawatan dan pola harus sepenuhnya
didokumentasikan, dipahami, dan digunakan untuk memastikan bahwa perawatan berbasis
budaya menjadi panduan utama untuk terapi keperawatan transkultural dan digunakan untuk
menjelaskan atau memprediksi praktik keperawatan (Leininger, 1991b).

Sampai saat ini, leininger telah mempelajari beberapa budaya di kedalaman dan telah
belajar banyak budaya bawah-sarjana dan mahasiswa pascasarjana dan fakultas kami
menggunakan metode kualitatif. Dia secara eksetensif telah menguaraikan konstruksi
perawatan seluruh budaya di mana setiap budaya banyak memiliki arti yang berbeda,
pengalaman budaya, dan digunakan oleh orang-orang dari budaya yang beragam dan serupa
(Leininger, 1991b, 1995c; Leininger & McFarland, 2002a, 2005) Pengetahuan baru antar
budaya terus ditemukan oleh perawat dalam perkembangan praktik perawatan antar budaya
dengan budaya yang beragam dan sejenisnya. Dalam waktu, leininger (1991b) percaya fitur
yang beragam dan universal perawatan dan kesehatan akan didokumentasikan sebagai inti
dari Keperawatan pengetahuan dan praktek.

Leininger menyatakan bahwa tujuan dari teori perawatan untuk memberikan


perawatan budaya kongruen (1991b, 1995c, 2002a, 2002b, 2002c; Leininger & McFarland,
2005). Dia percaya perawat harus bekerja ke arah memberikan penjelasan menggunakan
perawatan dan makna sehingga perawatan budaya, nilai-nilai, kepercayaan, dan cara hidup
dapat menyediakan basis yang akurat dan dapat diandalkan untuk perencenaan dan secar
efektif menerapkan budaya khusus perawatan dan untuk indentifikasi semua fitur yang umum
atau universal tentang perawatan. Dia berpendapat bahwa perawat tidak dapat memisahkan
pandangan dunia, struktur sosial dan budaya keyakinan (rakyat dan profesional). Kesegaran,
kesehatan, penyakit, atau perawatan ketika dengan budaya, karena faktor-faktor ini terkait
erat. Faktor-faktor struktur sosial seperti agama, politik, budaya, ekonomi, dan kekerabatan
adalah kekuatan yang signifikan mempengaruhi perawatan dan mempengaruhi pola penyakit
dan kesejahteraan. Dia juga menekankan pentingnya menemukan generik (rakyat, lokal dan
masyarakat adat) perawatan dari budaya dan membandingkannya dengan perawatan
profesional (Leininger, 1991b).

34
Leininger telah menemukan bahwa kebutaan budaya, shock, pengenaan, dan
etnosentrisme oleh perawat kini terus mengurangi kualitas pelayanan kepada klien dari
budaya yang berbeda (Leininger, 1991a, 1994,1995c; Leininger & McFarland, 2002a,
2005).Selain itu, diagnosa keperawatan dan diagnosa medis yang tidak berbasis budaya dan
dikenal menciptakan masalah serius bagi budaya yang menyebabkan hasil tidak
menguntungkan dan kadang-kadang serius(Leiningger 1990c).Budaya perawatan kongruen
adalah apa yang membuat klien puas bahwa mereka telah menerima perawatan yang baik;itu
adalah kekuatan penyembuhan yang kuat untuk perawatan kesehatan yang
berkualitas.Perawatan berkualitas adalah apa yang paling klien cari ketika mereka datang
untuk mendapat layanan dari perawat, itu bisa terwujud hanya jika berasal dari perawat
menyadari hanya ketika perawatan budaya berasal dikenal dan digunakan.

ASUMSI UTAMA

Asumsi utama untuk mendukung Teori Perawatan Budaya Leininger untuk Keanekaragaman
dan mengikuti Universalitas .Definisi berasal dari karya Leininger ini menentukan pada teori
(Leininger ini, 1991b, Leininger & McFarland, 2002a, 2005).

1. Care adalah esensi dari keperawatan dan fokus yang berbeda, dominan, pusat, dan
pemersatu.

2. Perawatan budaya berdasarkan (peduli) sangat penting untuk kesejahteraan, kesehatan,


pertumbuhan dan kelangsungan hidup, dan menghadapi cacat atau kematian.

3. Perawatan budaya berdasarkan pada cara yang paling komprehensif dan holistik untuk
mengetahui, menjelaskan, menafsirkan, dan memprediksi fenomena asuhan
keperawatan dan untuk memandu keputusan dan tindakan keperawatan.

4. Keperawatan Transcultural adalah disiplin perawatan humanistik dan ilmiah dan


profesi dengan tujuan utama untuk melayani individu, kelompok, komunitas,
masyarakat, dan lembaga.

5. Budaya berbasis caring adalah penting untuk menyembuhkan dan penyembuhan, tidak
ada penyembuhan tanpa peduli, tapi peduli bisa ada tanpa menyembuhkan.

35
6. Budaya perawatan konsep, makna, ekspresi, pola, proses, dan bentuk-bentuk struktural
perawatan bervariasi transculturally dengan keragaman (perbedaan) dan beberapa
universalities (kesamaan).

7. Setiap kebudayaan manusia memiliki generik(Lay, folk, atau adat) pengetahuan


perawatan dan praktek-praktek dan basanya pengetahuan perawatan profesional yang
bervariasi transculturally dan individual.

8. Perawatan berdasarkan nilai-nilai budaya, kepercayaan, dan dipengaruhi oleh praktek


dan cenderung tertanam didalam pandangan dunia, bahasa, filosofi, agama (dan
spiritual), kekerabatan, sosial, politik, hukum, pendidikan, dan konteks lingkungan
budaya.
9. Menguntungkan, sehat, dan memuaskan dalam perawatan berbasis budaya
mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat dalam konteks lingkungan mereka.

10. Budaya perawatan kongruen dan menguntungkan dapat terjadi hanya ketika nilai-nilai
pelayanan, ekspresi, atau pola dikenal dan digunakan secara eksplisit untuk perawatan
yang tepat, aman, dan bermakna.

11. Perbedaan perawatan budaya dan kesamaan yang ada antara perawatan generik
profesional dan klien dalam budaya manusia di seluruh dunia.
12. Konflik budaya, praktik pemaksaan budaya, tekanan budaya, dan penyakit budaya
mencerminkan kurangnya pengetahuan perawatan budaya dalam memberikan
kongruen budaya, bertanggung jawab, aman, dan perawatan yang sensitif.
13. Metode penelitian kualitatif nilai budaya keperawatan memberikan sarana penting
untuk menemukan dan menafsirkan emic dan etik tertanam, kompleks, dan beragam
data budaya perawatan secara akurat. (Leininger, 1991b, pp. 44-45)

Universalitas perawatan mengungkapkan sifat umum manusia dan kemanusiaan,


sedangkan keragaman perawatan mengungkapkan variabilitas dan dipilih, sifat unik dari
manusia.

LANDASAN TEORITIS

Prinsip adalah suatu dasar untuk mengembangkan pedoman dengan menggunakan


sebuah landasanteori. Dalam mengembangkan teori, berikut terdapatempat prinsip utama
konseptualisasi yang dirumuskan dengan Teori Perawatan Budaya (Leininger, 2002c):

36
1. Ekspresi perawatan budaya, makna, pola, dan praktik-praktik yang beragam, serta
masih belum ada persamaan asuhan dari beberapa atribut-atribut universal
2. Pandangan dunia terdiri dari beberapa faktor struktur sosial, seperti agama, ekonomi,
nilai-nilai budaya, etnohistori, konteks lingkungan, bahasa, dan perawatan generik
yang profesional, yang berpengaruh penting terhadap pola asuh perawatan budaya
untuk memprediksi kesehatan, kesejahteraan, penyakit, penyembuhan, dan cara-cara
orang dalam menghadapi cacat dan kematian.
3. Etika perawatan secara umum dan profesional dalam konteks lingkungan yang
berbeda sangat mempengaruhi hasil sehat dan sakit.
4. Dari analisis sebelumnya terdapat tiga tindakan utama yang dapat digunakan untuk
memberikan intervensi perawatan budaya yang aman, kongruen dan bermakna
terhadap kesehatan perawatan budaya. Tiga tindakan tersebut adalah: (1) Preservasi
atau pemeliharaan perawatan budaya, (2) akomodasi atau negosiasi perawatan budaya,
dan (3) Restrukturisasi budaya atau perbaikan perawatan budaya. Cara tindakan
perawatan budaya tersebut diprediksikan sebagai faktor kunci untuk
memperolehtindakan perawatan yang kongruen, aman dan bermakna.

Dalam teori konseptualisasi, pertama utama dan pusat teoritis prinsip itu,
"keanekaragaman perawatan (perbedaan) dan universal (kesamaan) ada di antara dan antar
budaya di dunia" (Leininger, 2002, hal.78). Namun, Leininger menegaskan bahwa makna
perawatan budaya dan penggunaan harus ditemukan untuk membangun pengetahuan lintas
budaya. Sebuah prinsip teoritis utama kedua adalah "(bahwa) pandangan dunia, faktor
struktur sosial seperti agama, ekonomi, pendidikan, teknologi, politik, kekerabatan (sosial),
etnohistori, lingkungan, bahasa, dan faktor perawatan generik dan profesional akan sangat
mempengaruhi makna perawatan budaya, ekspresi, dan pola dalam budaya yang berbeda
(Leininger, 2002, hal.78)

Leininger telah mempertahankan bahwa faktor-faktor ini perlu didokumentasikan


dalam rangka memberikan pelayanan yang bermakna dan memuaskan kepada orang-orang
dan diperkirakan akan menjadi pengaruh yang kuat pada perawatan berbasis budaya. Faktor-
faktor ini juga diperlukan untuk ditemukan langsung dari informan untuk mempengaruhi
faktor yang berhubungan dengan kesehatan, kesejahteraan, penyakit dan kematian. Ketiga
prinsip teoritis utama adalah, "baik generik (emic) dan profesional (etik) perawatan perlu
diajarkan, diteliti, dan dibawa bersama-sama ke dalam praktek perawatan untuk memuaskan

37
perawatan untuk klien yang mengarah pada kesehatan dan kesejahteraan mereka" (Leininger,
2002).

Keempat prinsip teoritis utama adalah konseptualisasi dari "tiga tindakan utama
perawatan dan keputusan, untuk sampai pada perawatan kongruen budaya untuk kesehatan
umum dan kesejahteraan klien, atau untuk membantu mereka menghadapi kematian atau
cacat" (Leininger, 2002c, p. 78). Mode ini adalah perawatan pelestarian budaya atau
pemeliharaan budaya; perawatan budaya akomodasi, negosiasi; dan Repatterning perawatan
budaya atau restrukturisasi. peneliti mengacu pada penemuan dari struktur sosial, praktek
umum dan profesional, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi sambil belajar perawatan
berdasarkan budaya bagi individu, keluarga, dan kelompok. Faktor-faktor ini perlu dipelajari,
dikaji dan ditanggapi dalam hubungan perawat klien yang dinamis dan partisipatif (Leininger
1991a, 1991b, 2002b; Leininger & McFarland, 2002a)

BENTUK LOGIS

Teori Leininger ( 1995c) berasal dari antropologi dan keperawatan tetapi dirumuskan
untuk menjadi keperawatan transkultural dengan perspektif perawatan manusia. Dia
mengembangkan metode penelitian ethnonursing dan telah menekankan pentingnya
mempelajari orang-orang dari pengetahuan etnik atau lokal mereka dan pengalaman yang
sesuai dengan etik (luar) keyakinan dan praktik mereka. Bukunya, Metode Penelitian
Kualitatif dalam Keperawatan ( Leininger 1985a) dan publikasi (Leininger, 1990b, 1995c ,
2002c) terkait memberikan pengetahuan substantif tentang metode kualitatif dalam
keperawatan.

Dalam kata-katanya sendiri, Leininger terampil dalam menggunakan ethnonursing,


etnografi, sejarah kehidupan, cerita kehidupan, fotografi, dan metode fenomenologis yang
memberikan pendekatan holistik untuk mempelajari perilaku budaya dalam konteks
lingkungan yang beragam. Dengan metode kualitatif, peneliti bergerak dengan orang-orang
dalam kegiatan sehari-hari mereka untuk memahami kata-kata mereka.

Penelitian perawat induktif memperoleh data rekening deskriptif dan interpretatif


didokumentasikan dari informan melalui pengamatan dan partisipasi atau dengan cara lain
memberi penjelasan perawatan sebagai tantangan utama dalam metode. pendekatan kualitatif
penting untuk mengembangkan perawatan dasar dan budaya untuk memandu perawat dalam

38
pekerjaan mereka. dari awal, ethnonursing telah didasarkan terutama dalam data dari budaya
yang diteliti, yang berbeda dari teori didasarkan dari Glasser dan Strauss (1967).

Meskipun metode lain penelitian seperti pengujian hipotesis dan metode kuantitatif
eksperimental dapat digunakan perawatan transkultural, metode pilihan tergantung pada
tujuan peneliti, tujuan penelitian, dan fenomena yang akan diteliti. kreativitas dan kemauan
peneliti perawat menggunakan metode penelitian yang berbeda untuk menemukan
pengetahuan keperawatan didorong. Namun, Leininger menyatakan bahwa metode kualitatif
yang penting untuk membangun makna dan pengetahuan budaya akurat, metode kuantitatif
secara umum telah nilai terbatas untuk mempelajari budaya dan peduli. menggabungkan
metode kualitatif dan kuantitatif cenderung mengaburkan temuan dan merupakan
penyalahgunaan dari kedua paradigma (Leininger, 1991b, 1995c)

Leininger mengembangkan sunrise enabler (gambar 22-1) pada 1970-an untuk


menggambarkan komponen penting dari teori. dia telah disempurnakan matahari terbit hingga
saat ini dan dengan demikian enabler berevolusi lebih definitif dan berharga untuk
mempelajari secara akurat elemen beragam atau komponen teori dan membuat penilaian
klinis kongruen budaya. enabler ini dan teori lengkap keanekaragaman perawatan budaya dan
universalitas tidak sepenuhnya dibahas di sini. hanya ide sected ditawarkan untuk
memperkenalkan pembaca untuk leiningerr karya perintis dan kreatif berkembang teori dari
waktu ke waktu. matahari terbit enabler symbolixer terbitnya matahari (care) (Lininger, 199
1b, 1995c; Leininger Dan, Mcfarland, 2002a, 2005) bagian atas lingkaran menggambarkan
komponen strukture sosial dan faktor wordview yang mempengaruhi perawatan dan
kesehatan troung bahasa, etnihistory, Dan konteks evironmental. faktor-faktor ini juga
mempengaruhi rakyat, profesional, dan sistem keperawatan (s), yang bersama-sama dari sinar
matahari penuh, yang repreciate perawatan manusia dan kesehatan (Leininger, 1991b, 1995c,
Leininger dan keperawatan bertindak sebagai jembatan antara flok (generik) dan . syestem
profesional ada jenis perawatan dan keputusan dan tindakan yang diprediksi dalam teori:
perawatan budaya presenvation Arakh atau pemeliharaan, accomodasianaccomodation
perawatan budaya atau negosiasi, restrukturisasi perawatan budaya d reppattening ar
(Lininger, 199 1b, 1995c; Leininger dan, Mcfarland , 2002a, 2005)

Konsep matahari terbit menggambarkan manusia sebagai tak terpisahkan dari latar
belakang mereka budaya dan struktur sosial, pandangan dunia, sejarah, dan konteks
lingkungan sebagai prinsip dasar teori Leininger ini (Leininger, 1991b, 1995c; Leininger dan

39
McFarland, 2002a, 2005).Jenis kelamin, ras, usia, dan kelas yang tertanam dalam faktor
struktur sosial dan dipelajari.Biologis, emosional, dan lainnya dimensi yang dipelajari dari
pandangan holistik dan tidak terpecah-pecah atau terpisah.Teori generasi dari model ini dapat
terjadi pada berbagai tingkat dari berbagai mikro (individu tertentu skala kecil) atau untuk
belajar kelompok, keluarga, masyarakat, atau fenomena skala besar (beberapa
budaya).Leininger juga telah mengembangkan beberapa kemungkinan untuk memudahkan
mempelajari fenomena menggunakan empat tahapan analisis data kualitatif.Yang paling
penting, kriteria kualitatif digunakan untuk menganalisis data; kredibilitas mereka ,
konfirmabilitas, makna dalam konteks, saturasi, pengulangan, dan pengalihan (Leininger,
1995c, 2002c).kriteria kuantitatif tidak boleh digunakan dengan metode kualitatif, karena
bekas memiliki kriteria khusus untuk mengukur hasil.

Leininger juga mengembangkan empat kemungkinan lain untuk membantu peneliti


perawat dalam penggunaan metode keperawatan budaya."memungkinkan tajam kontras
dengan perangkat mekanistik seperti alat-alat, timbangan, instrumen pengukuran, dan alat-alat
distancing tujuan impersonal lainnya umumnya digunakan dalam studi kuantitatif.Alat-alat ini
sering dipandang sebagai tidak wajar dan menakutkan untuk informan budaya "(Leininger,
2002c, hal.89)

40
BUDAYA PERAWATAN
Pandangan Dunia
Budaya & Sosial Dimensi Struktur

Nilai budaya dan gaya hidup

Sosial & keluarga Kebijakan dan peraturan

Agama & filosofi


Faktor ekonomi

Pengaruh
Perasaan peduli , Pola & Praktek

Faktor teknologi
Faktor pendidikan
Kesehatan holistik (kesejahteraan)

Fokus: Individu, Keluarga, kelompok, komunitas, & Lembaga


Dalam konteks kesehatan Beragam

Perawatan umum
Praktek perawatan Perawatan penyembuhan

keputusan perawatan dan peilaku

Budaya Perawatan Pelestarian/ pemeliharaa


Budaya Perawatan Akomodasi / negosiasi
Budaya Perawatan Repatterning / restrukturisasi

Budaya Perawatan kongruen


Kesehatan & Kesejahteraan

LEININGERS SUNRISE MODEL TO DEPICT THEORY OF CULTURE CARE


DIVERSITY AND UNIVERSALITY

41
Dukungan peserta observasi refleksi digunakan untuk memudahkan peneliti dalam
memasuki dan tinggal dengan informan dalam penelitian yang mereka kenal. Penelitian
secara bertahap bergerak dari peran mengamati dan mendengar, transisi dari peserta dan
reflektor dengan informan. Dengan bergerak perlahan dan sopan dengan izin, Peneliti
tidak mengganggu karena itu mampu mengamati apa yang terjadi secara alami di
lingkungan atau dengan masyarakat.

Orang asing lebih mudah percaya kepada teman,penelitian oleh perawat menyangkut
pengkajian mengenai diri sendiri dan masyarakat dan budaya yang dipelajari. Tujuan dari
panduan ini adalah untuk menjadi teman terpercaya sebagai salah satu tindakan dari orang
asing yang tidak dipercaya ke teman terpercaya dan sikap yang berbeda, perilaku, dan harapan
dapat diidentifikasi. Proses ini sangat penting bagi peneliti untuk mudah dipercaya sehingga
data yang didapat bedasarkan kejujuran, kredibel, dan mendalam dapat ditemukan dari
informan.

Inti dari penyelidikan dapat digunakan oleh para perawat pada setiap studi dengan
jelas yang berkembang pada area fokus yang diteliti. Domain penyelidikan adalah "tailor
membuat pernyataan singkat terfokus langsung dan khusus pada perawatan budaya dan
fenomena kesehatan" (Leininger, 2002c, p. 92), menyatakan pertanyaan atau ide yang
berhubungan dengan fokus penelitian, tujuan, dan sasaran.

Penilaian kesehatan akulturasi enabler panduan penting lain yang digunakan dengan
metode ini. Hal ini penting ketika mempelajari budaya untuk menilai sejauh mana acculturasi
informan 'apakah mereka lebih "tradisional atau non-tradisional berorientasi pada nilai-nilai
mereka, kepercayaan, dan jalan hidup yang ditempuh" (92 Leininger, 2002c, p.). enabler ini
digunakan untuk kedua penilaian budaya dan studi penelitian ethnonursing.

PENERIMAAN DALAM BIDANG KEPERAWATAN

Leininger mengidentifikasi beberapa faktor yang berhubungan dengan kelambatan


perawat untuk mengorganisasikan keperawatan transkultural dan faktor budaya di praktek
keperawatan dan pendidikan keperawatan (Leininger, 1991 b; Leininger & Mc Farland,
2005). Pertama, teori yang dikonsep pada tahun 1950, ketika sebenarnya tidak ada perawat
yang menyiapkan antropologi atau pengetahuan tentang budaya untuk memahami konsep
transkultural, model, atau teori. Dulu banyak perawat yang tidak memiliki pengetahuan
tentang antropologi dan bagaimana ilmu antropologi dapat berkontribusi pada keperawatan

42
dan kebiasaan atau sebagai latar belakang pengetahuan untuk memahami fenomena
keperawatan atau masalah keperawatan. Kedua, walaupun masyarakat memiliki budaya yang
melekat, banyak klien yang enggan untuk menambah kesehatan personal untuk menemukan
bagaimana kebutuhan budaya mereka dan sosial (Leininger, 1970, 1978, 1995c; Leininger &
Mc Farland, 2002a). Ketiga, sampai diputuskan, artikel tentang keperawatan transkultural
diusulkan untuk dipublikasikan editor sering menolak karena editor tidak tau nilai, atau
memahami hubungan antara pengetahuan kebudayaan dengan keperawatan transkultural atau
keuntungannya bagi keperawatan. Keempat, konsep perawatan hanya manarik sedikit minat
dari perawat hingga akhir tahun 1970, ketika Leininger memulai mempromosikan pentingnya
pelajaran keperawatan, memperoleh latar belakang pendidikan antropologi, dan memperoleh
persiapan dalam keperawatan transkultural, penelitian, dan praktek. Kelima, Leininger
berpendapat bahwa keperawatan cenderung tetap mempertahankan etnosentrisme dan jauh
terlibat dalam arah pengobatan medis. Keenam, keperawatan terlalu lambat untuk membuat
kemajuan yang substantif yang mengarah pada perkembangan yang membawa perubahan
dalam pengetahuan. Karena banyak perawat yang meneliti untuk mendapatkan hasil
kuantitatif daripada kualitatif. Penerimaan baru-baru ini dan menggunakan metode penelitian
kualitatif di keperawatan akan menyediakan wawasan baru dan pengetahuan yang
berhubungan dengan keperawatan dan keperawatan transkultural.

Perawat sekarang menyadari pentingnya keperawatan transkultural, perawatan


manusia, dan metode kualitatif. Leininger (personal communication, April 2002) telah
menyatakan :

Kita memasuki fase baru keperawatan seperti kita menghargai dan menggunakan
pengetahuan keperawatan transkultural dengan fokus pada kepedulian manusia,
kesehatan, dan perilaku sakit. Dengan migrasi dari banyak kelompok budaya
dan kebangkitan identitas budaya konsumen, dan tuntutan dalam perawatan
berbasis budaya, perawat menyadari kebutuhan untuk praktik sensitif budaya
dan praktik yang kompeten. Sebagian besar negara dan masyarakat dunia adalah
multikultural saat ini, dan begitu tenaga kesehatan diharapkan dapat memahami
dan menanggapi klien dari budaya yang beragam dan budaya yang serupa.
Imigran dan orang-orang dari budaya asing mengharapkan perawat untuk
menghormati dan menanggapi nilai, keyakinan, lifeways, dan kebutuhan. Bukan
yang hanya dapat menjadi perawat praktek keperawatan unicultural (satu
kebudayaan).

43
Dunia menjadi lebih berkultur atas perbedaan, perawat akan menemukan kebutuhan
yang penting untuk persiapan yang menyediakan perawatan bagus yang berkultur. Beberapa
perawat sedang mengalami budaya shock, konflik, dan perselisihan ketika mereka berpindah
sari satu area ke area yang lain dan dari pedesaan ke komunitas perkotaan tanpa persiapan
perawatan transkultural. Sebagai konflik kultur yang muncul, keluarga kurang puas dengan
perawatan dan pelayanan medis. (Leniger, 1991b). Perawat2 yang travel dan mencari
pekerjaan ditanah asing sedang mengalami ketegangan kultur. Transkultural pendidikan
perawatan telah menjadi bagian utama untuk semua perawat dunia. Sertifikasi transkultural
perawat oleh masyarakat perawatan transkultural telah menyiapkan pelajaran pokok untuk
melewati perlindungan publik dari ketidakamanan dan secara kultur tidak kompeten pelatihan
perawatan. (Leniger, 199a,2001). Menurut, lebih dari beberapa perawat sedang mecari
pendidikan transkultural untuk melindungi diri mereka sendiri dam juga pelanggan. Jurnal
dari Perawatan Transkultural juga telah menyediakan penelitian dan secara pandangan teori
lebih dari 100 budaya dunia untuk membimbing perawat transkultural didalam prakteknya.

Masuknya budaya dan perawatan komparatif dalam kurikulum keperawatan dimulai


sejak tahun 1996 di University of Colorado, dimana Leininger adalah professor keperawatan
dan antropologi. Kesadaran akan pentingnya keperawatan lintas budaya bertahap, mulai
ditunjukkan selama akhir tahun 1960, tetapi sangat sedikit pendidik perawat yang
mempersiapkannya secara adekuat untuk mengajar tentang keperawatan transkultural. Sejak
master pertama di dunia dan program kedokteran di keperawatan transkultural diterima dan
diimplementasikan pada tahun 1977 di University of Utah, lebih banyak perawat yang telah
menyiapkan untuk mempelajari secara spesifik pada keperawatan transkultural. Sekarang
dengan tingginya kesadaran akan biaya perawatan yang tinggi, perbedaan budaya, dan hak
asasi manusia, ada banyak permintaan yang lebih besar secara lebih komprehensif, holistic,
dan perhatian pada orang-orang dengan perbedaan budaya untuk melindungi dan
menyediakan perawatan yang berkualitas dan untuk mencegah gugatan perawatan yang tidak
benar. Permintaan Leininger untuk spesifik pada perawatan budaya didasarkan pada teori
wawasan yang telah dikritisi untuk penemuan beragam dan aspek umum dalam keperawatan
(Leininger, 1995c, 1996a, 1996b,; Leininger & McFarland, 2002b). Sebuah kebutuhan kritis
untuk perawat agar dididik tentang keperawatan transkultural di sarjana dan program S2. Itu
juga dibutuhkan untuk persiapan fakultas dengan kualitas yang baik pada keperawatan
transkultural untuk mengajar dan membimbing penelitian keperawatan di sekolah
keperawatan di United States dan di Negara lain (Leininger, 1995c, 1996b, Tom-orne, 2002).

44
Sejak tahun 1980 an peningkatan jumlah budaya keperawata menekankan
keperawatan transkultural dan perawatan manusia. salah satu program awal untuk fokus pada
perawatan berada di Cuesta College di California selama tahun 1970, di mana
mengembangkan program keperawatan sarjana dengan benar sebagai tema sentral. Tentu saja
tittles termasuk peduli consepts I & II, peduli keluarga, sebuah perawatan diri profesional
(Leininger, 1984a). Selama akhir 1980-an, empat master dan empat program doktor di
Amerika Serikat menawarkan program transkultural keperawatan, pengalaman penelitian, dan
dipandu pengalaman studi lapangan (Leininger, 1995c). Leininger terus menerima banyak
permintaan untuk memberikan kursus, kuliah, dan lokakarya tentang perawatan manusia annd
keperawatan transkultural di Amerika Serikat dan negara lainnya. Permintaan untuk perawat
transkultural jauh melebihi fakultas yang tersedia, uang, dan sumber daya lainnya. ada
kedepan, pada tahun 1996, Leininger menerima panggilan untuk sekolah keperawatan untuk
menawarkan program transkultural untuk memenuhi permintaan di seluruh dunia untuk
banyak perawat dan budaya (Leininger, 1995a, 1995b, 1996b). Program keperawatan ini
diperlukan untuk latihan dan persiapan sertifikasi perawat transcultural.Mereka juga
diperlukan untuk penelitian dan konsultasi di seluruh dunia. Saat ini dana tidak memadai
untuk belajar pendidikan keperawatan transcultural dan praktek. Meskipun permintaan
masyarakat untuk perawat transcultural jelas, persiapan pendidikan masih lemah dan terbatas
bagi banyak perawat di seluruh dunia. Anggota fakultas keperawatan yang tidak mengerti
keperawatan transkulturan dan cara teori budaya dan akibatnya tidak akan mengijinkan siswa
untuk belajar atau meneliti fenomena yang menyebabkan penderitaan besar bagi mahasiswa
keperawatan (Leininger,2002d).

Penelitian

Banyak perawat di seluruh dunia saat ini menggunakan teori keperawatan budaya
Leininger. Teori ini merupakan salah satunya di keperawatan yang difokuskan secara khusus
pada perawatan budaya dan dengan menggunakan metode penelitian (ethnonursing) untuk
menguji teori ( Lininger 1991b, 1995c;Leininger&McFarland 2002a,2005). Sekitar 100
budaya dan bagian budaya telah dipelajari pada tahun 1995 dan sedang berlangsung
(Leininger, 1991b,1995c, 1996a; Leininger & McFarland, 2002a). Dana untuk mendukung
keperawatan transkultural yang sedikit dan terbatas di sebagian besar masyarakat, karena dana
penilitian biomedis dan daftar prioritas kepala teknis. Sangat sedikit sekolah keperawatan di
Amerika Serikat menerima dukungan federal untuk penelitian keperawatan transcultural
kecuali mereka focus pada kuantitatif, objektif (Pengukuran). Keperawatan transcultural dan

45
perawat lainnya tertarik pada penelitian keperawatan transcultural yang melanjutkan
penelitian mereka meskipun dana yang terbatas atau tidak ada. Perawat ini merupakan
pemimpin dalam berbagai penelitian dan program instruksional terkait dengan keperawatan
transcultural. Mereka telah banyak berperan membuka pintu banyak organisasi untuk
keperawatan transcultural. Meskipun tuntutan masyarakat untuk kompeten secara budaya,
sensitive, perawat yang bertanggung jawab, organisasi internasional dan organisasi nasional
mulai mendukung keperawatan transcultural pada tahun 1990-an. Melalui upaya yang gigih
dan kompetensi kemajuan datang menuntut perawat spesialis transcultural. Perawat
transcultural telah mendorong banyak perawat lain untuk mengejar penelitian dan
menemukan beberapa pengetahuan yang sama sekali baru dalam keperawatan. Pengetahuan
ini akan kembali membentuk dan mengubah keperawatan di masa depan.

APLIKASI KLINIK PADA TEORI UNTUK PRAKTEK

Menurut Mc Farland (1995,2002) studi keperawatan selama 2 tahun pada akhir tahun
1980-an, meliputi kelompok Anglo-Amerika dan Afrika-Amerika pada orang tua bertempat
tinggal di kota Midwestern Amerika Serikat. Peneitian dilakukan untuk mendalami dan
menginvestigasi etik perawatan budaya yang didapatkan beberapa temuan yang signifikan dan
penting dalam penggunaan tindakan dan model teori ketika merawat orang tua. Temuan
perawatan yang kongruaen dengan budaya adalah sebagai berikut :

1. Anglo-Amerika dan Afrika Amerika tentang pengharapan pelestarian perawatan dan


pemeliharaan orang tua seumur hidup mengenai pola generik.
2. Melakukan fokus perawatan diri adalah nilai pemeliharaab perawatan utama bagi
budaya dan merupakan domain temuan untuk warga lainnya.
3. Perawatan pelindung sangat penting untuk orang tua di Afrika-Amerika dan Anglo-
Amerika, tetapi staf perawat memberikan perawatan pelindung dan praktik akomodasi
perawatan budaya untuk kedua kelompok tersebut, seperti mendampingi mereka
ketika mereka ingin pergi untuk jalan-jalan di lingkungan kota.
4. Perawat Afrika-Amerika dipraktekkan akomodasi budaya terkait perawatan emic
dengan pemeliharaan pelestarian nilai-nilai perawatan generik dan praktik perawatan.
Kebudayaan negoisasi adalah cara-cara budaya baru bagi perawat untuk memberikan
kongruen budaya yang aman untuk orang tua dari kedua budaya. Berdasarkan temuan
penelitian ini, beberapa kebijakan perawatan budaya institusi dikembangkan untuk memandu
perawatan lansia profesional.

46
PENGEMBANGAN LANJUT

Leininger memprediksi bahwa semua perawat profesional di dunia harus siap dalam
keperawatan transkultural dan harus menunjukkan kompetensi dalam keperawatan
transkultural (Leininger, 1981, 1995c Leininger & McFarland, 2002a, 2005). Keperawatan
transkultural harus menjadi bagian integral dari pendidikan dan latihan bagi perawat untuk
menjadi relevan di abad kedua puluh satu. Saat ini, permintaan untuk perawat budaya trans
jauh melebihi jumlah perawat, dosen, dan spesialis klinis di dunia. Teori perawat transkultural
dan peneliti sangat dibutuhkan untuk terus mengembangkan pengetahuan baru transkultural
dan untuk mengubah pendidikan dan praktek keperawatan. Pada tahun 2010, semua perawat
harus memiliki pengetahuan dasar tentang beragam budaya di dunia AAD secara mendalam
dari dua atau tiga budaya (Leininger, 1995c, 1996a), Leininger percaya penelitian
transkultural keperawatan sudah mulai menyebabkan beberapa cara yang sangat menjanjikan
untuk memajukan pendidikan dan praktek keperawatan. Semua disiplin ilmu kesehatan,
termasuk kedokteran, farmasi, kerja sosial, akan menggabungkan pengetahuan kesehatan
transkultural dan praktek dalam program studi mereka dalam waktu dekat. Tren ini akan
meningkatkan permintaan untuk fakultas yang kompeten dalam perawatan kesehatan
transkultural. Leininger (1995) berpendapat bahwa pengembangan transcultural akan menjadi
penting untuk memenuhi kebutuhan yang berkembang pada perawat transkultural untuk
bekerja dengan disiplin lain. Sekarang dan masa depan teori dan studi keperawatan
transkultural akan menjadi penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam
budaya. Teori Kebudayaan Perawatan akan semakin penting di seluruh dunia. Pengetahuan
perawatan transkultural akan sangat penting untuk membentuk suatu badan substansi
pengetahuan keperawatan budaya dan membuat profesi transkultural dan disiplin. Teori
Leininger ini telah memperoleh dukungan di seluruh dunia dan digunakan karena bersifat
holistik, relevan, dan futuristik dan penawaran dengan spesifik, namun abstrak, peduli
pengetahuan. Sunrise model sebagai dominan gambar dan panduan untuk belajar dan menilai
orang dari kebutuhan budaya yang beragam dan serupa.

TINJAUAN

Kemudahan (simplicity)

Teori ini terus menghasilkan banyak domain penyelidikan bagi para peneliti perawat
untuk mengejar pengetahuan ilmiah dan humanistik. Teori ini menantang perawat untuk
mencari beragam perawatan berbasis budaya yang fenomenal di beragam budaya, budaya

47
keperawatan. dan budaya dari sosial di seluruh dunia. Teori ini dalam lingkup global sangat
kompleks dan praktis. Hal ini membutuhkan pengetahuan keperawatan transkultural dan
metode penelitian yang sesuai untuk menjelaskan fenomena. Teori perawatan budaya
Leininger adalah relevan di seluruh dunia untuk membantu memandu peneliti perawat dengan
pendekatan teori dan penelitian dan untuk memandu praktek. Hal Ini holistik dan
komprehensif oleh karena itu, beberapa konsep dan konstruksi yang berkaitan dengan struktur
sosial, lingkungan, bahasa sangat penting untuk menemukan dan memperoleh pengetahuan
kultural atau pengetahuan berdasarkan rakyat. Teori ini menunjukkan beberapa hubungan
antar konsep dan faktor keragaman konsep-konsep kunci dan hubungan. Hal ini
membutuhkan beberapa pengetahuan anthrepological dasar, dan juga pengetahuan
keperawatan transkultural, yang akan digunakan dalam mode yang akurat dan ilmiah. Setelah
teori telah dikonsep sepenuhnya, Leininger menemukan bahwa siswa sarjana dan pascasarjana
keperawatan sangat antusias untuk menggunakan teori dan temuan praktis, relevan, dan
berguna itu dalam pekerjaan mereka. Penggunaan sunrise model menjadi domain utama.

Umum (Generality)
Teori transkultural keperawatan memiliki kriteria umum karena teori yang berorientasi
luas, komprehensif dalam lingkup seluruh dunia. teori keperawatan transkultural dalam
asuhan keperawatan dari transkultural dan pandangan dunia perspektif. Hal ini berguna dan
berlaku untuk kedua kelompok dan individu dengan tujuan perawatan budaya tertentu.
Konsep luas atau generik yang terorganisasi dengan baik dan didefinisikan untuk studi dalam
budaya tertentu. Penelitian ini telah menyebabkan sejumlah ahli pengetahuan sebagian besar
tidak diketahui di masa lalu. Banyak aspek budaya, perawatan, dan kesehatan sedang
diidentifikasi, karena faktor-faktor ini berdampak pada keperawatan. Transkulturan
diperlukan untuk tujuan perbandingan dari kedua budaya dan beberapa perawatan
yangpengetahuan universal. Lebih dari kelompok budaya dunia perlu dipelajari dan
dibandingkan. kelompok budaya dunia perlu dipelajari dan dibandingkan dengan memvalidasi
konstruk peduli di masa depan. Teori bermanfaat sebagai panduan untuk studi budaya dan
untuk studi banding dari beberapa kebudayaan. Temuan dari teori yang digunakan saat dalam
perawatan klien, dalam berbagai pengaturan kesehatan dan masyarakat di seluruh dunia hal
ini digunakan untuk mengubah sistem pendidikan keperawatan dan pelayanan, terutama
dinilai dalam mengembangkan pendekatan baru dan perbedaan perspektif keperawatan
komunitas tradisional.

48
Presisi Empiris
Teori keperawatan transkultural adalah penelitian dan riset kualitatif telah menjadi
paradigma utama untuk menemukan fenomena yang sebagian besar tidak diketahui dalam
perawatan dan kesehatan dalam beragam budaya. pendekatan kualitatif ini berbeda dengan
metode penelitian kuantitatif tradisional, yang membuat pengukuran tujuan penelitian.
Namun, metode penelitian ethnonursing sangat ketat dan bahasa menuntut di alam dan hasil.
Dari seratus konstruksi perawatan tiga puluh lima telah diidentifikasi dan masih terus
ditemukan, dengan kekayaan pengetahuan keperawatan transkultural lainnya. Atribut penting
adalah bahwa akurasi data didasarkan berasal dari penggunaan ethnomethods atau dari sudut
pandang emik atau orang yang mengarah ke kredibilitas tinggi, konfirmabilitas, dan kekayaan
data empiris. Temuan masa depan penelitian akan menyebabkan perawatan dan kesehatan dan
implikasi untuk ethnonursing praktek dan pendidikan untuk menyesuaikan budaya tertentu
dan fitur universal. Kriteria kualitatif kredibilitas dan konfirmabilitas dari studi mendalam
dari informan dan konteks menjadi jelas. Pengetahuan keperawatan transkultural yang telah
ditetapkan selama dekade terakhir telah memiliki dampak yang besar pada sistem
keperawatan dan kesehatan (Leininger, 1995c; Leininger & McFarland 2002a, 2005)

Konsekuensi yang didapat


Teori keperawatan Transcultural memiliki hasil yang penting untuk keperawatan.
Rendering perawatan budaya khusus adalah tujuan baru yang diperlukan dan penting dalam
keperawatan. Ini menempatkan teori keperawatan transkultural pusat domain akuisisi
pengetahuan keperawatan dan penggunaan. Teori ini sangat berguna, yang berlaku, dan
penting untuk praktek keperawatan, pendidikan, dan penelitian. Konsep perawatan sebagai
fokus utama keperawatan dan basis pengetahuan keperawatan dan praktek ini telah
berlangsung lama dan penting untuk memajukan pengetahuan keperawatan dan praktek.
Leininger (1991) mencatat bahwa, meskipun keperawatan selalu membuat klaim dengan
konsep perawatan, penelitian yang ketat pada perawatan telah terbatas sampai 3 dekade
terakhir. Teori ini bisa menjadi sarana untuk membangun suara dan disiplin dipertahankan dan
profesi, membimbing praktik untuk memenuhi dunia multikultural.
RINGKASAN
Dalam bab alam, pentingnya, dan fitur-fitur utama dari teori perawatan budaya
dibahas. Metode penelitian ethnonursing dan enabler disajikan untuk menunjukkan
kesesuaian antara teori dan metode. Pengetahuan tentang teori dan metode yang diperlukan
sebelum meluncurkan sebuah studi ethnonursing. Sepenuhnya memahami teori dan metode

49
(dengan enabler) mengarah ke temuan studi yang kredibel dan bermakna. Melalui
pemahaman lengkap, penelitian menjadi bermakna, menarik, dan bermanfaat untuk dilakukan,
dan peneliti mengembangkan kepercayaan diri dan kompetensi dalam penggunaan teori dan
metode.
Sebagai teori utama dalam keperawatan, perawatan budaya sangat dihargai worlwide.
Disiplin lain telah menemukan teori dan metode yang sangat membantu dan berharga.
Perawat yang menggunakan teori dan metode yang sering berkomunikasi bagaimana berharga
dan pentingnya bidang ini kosong menemukan cara berdasarkan budaya untuk mengetahui
dan praktik keperawatan dan perawatan kesehatan. Berlatih perawat sekarang memiliki
holistik, temuan penelitian berdasarkan budaya untuk digunakan dalam merawat klien dari
beragam budaya dan sama atau subkultur di negara yang berbeda. Teori ini tidak sulit untuk
digunakan setelah peneliti memahami dan metode dan memiliki bimbingan mentor.
Pendatang baru untuk teori dan metode bisa mendapatkan keuntungan dari berpengalaman,
mentor ahli selain mempelajari penelitian transkultural dilakukan dengan menggunakan
metode iklan teori. Yang paling penting, perawat sering mengungkapkan bahwa teori ini dan
metode adalah satu-satunya yang masuk akal untuk digunakan dalam keperawatan. Mereka
berpendapat sangat alami untuk menyusui dan membantu seseorang untuk mendapatkan
wawasan baru yang segar tentang perawatan, kesehatan, dan kesejahteraan. Tidak diragukan
lagi, itu adalah teori iklan hari ini besok dan satu yang akan tumbuh digunakan di masa depan
dalam pertumbuhan kami dan dunia yang semakin multikultural. Reseach dan teori
menyediakan jalur baru untuk memajukan profesi keperawatan dan tubuh pengetahuan
transkultural untuk aplikasi dalam praktek keperawatan, pendidikan, penelitian, dan
konsultasi klinis di seluruh dunia.

Studi Dasar
Seorang pria Muslim tua Arab-Amerika yang berbicara sedikit bahasa Inggris dirawat
di rumah sakit untuk meningkatkan nyeri saat istirahat di kaki kirinya. Kakinya dingin dan
pucat dan ia hd sejarah prosedur bedah vaskular. Dia memiliki banyak masalah kesehatan
kronis termasuk diabetes tipe 2, Hipertensi, dan penyakit paru obstruktif kronik. Ia juga telah
memiliki infark miokard dan beberapa kecelakaan pembuluh darah otak. Sementara di rumah
sakit, ia mengembangkan sakit perut dan menjalani kolesistektomi a. Kakek tua ini memiliki
keluarga besar, termasuk istri, sembilan anak, dan banyak cucu. Istrinya bersikeras bahwa
semua anggota keluarga mengunjunginya setiap hari saat ia berada di rumah sakit. Keluarga
ingin wajah pria itu berbalik ke arah kiblat (arah timur) saat mereka berdoa dengan dia.

50
Mereka membawa ayat-ayat taaped dari koran, yang mereka bermain di samping tempat
tidurnya. Keluarga lain yang mengunjungi kerabat yang sakit mereka mengeluh kepada
perawat bahwa keluarga Arab mengambil seluruh ruang tunggu dan tidak ada tempat untuk
orang lain untuk duduk.
Sebagai seorang perawat, bagaimana Anda dapat menggunakan tiga mode dari teori
perawatan budaya untuk memberikan perawatan kongruen budaya untuk laki-laki tua ini dan
keluarganya, serta untuk klien lain dan keluarga mereka di unit perawatan kritis?

AKTIVITAS BERPIKIR KRITIS


1. Pilih empat studi penelitian yang dilaporkan dalam jurnal transcultursl
keperawatan yang menggunakan teori Leininger ini keanekaragaman perawatan budaya
dan universalitas. Setiap studi yang dipilih harus mewakili budaya yang berbeda,
pengaturan penelitian yang berbeda, dan budaya yang berbeda dari budaya siswa.
a. Setiap studi dan mengidentifikasi hubungan teori untuk domain penyelidikan, tujuan, asumsi,
definisi, metode, desain penelitian, analisis data, keputusan keperawatan, dan kesimpulan.
b. Memberikan bukti bahwa temuan teori dalam kaitannya dengan domain penyelidikan, prinsip
teori, dan diturunkan konsekuensi.
2. Diskusikan kegunaan teori keanekaragaman perawatan budaya dan
universalitas di abad dua puluh pertama yang menemukan pengetahuan keperawatan dan
memberikan perawatan kongruen budaya. Mempertimbangkan tren saat ini konsumen dari
perawatan kesehatan, faktor keragaman budaya, dan perubahan kurikulum sekolah
kedokteran dan keperawatan. Berikut adalah beberapa contoh dari tren dan perubahan yang
Anda mungkin ingin mempertimbangkan dalam diskusi Anda:
a. Pentingnya pengetahuan keperawatan transkultural dalamdunia yang semakin beragam
b. Pertumbuhankelompok dukungan awam untuk memberikan informasi dan berbagi
pengalaman dan dukungan untuk klien, keluarga, dan kelompok-kelompok yang mengalami
kronis, terminal, atau mengancam jiwa penyakit atau modalitas pengobatan dari beragam
budaya atau simiar (umum).
c. Penggunaan nilai-nilai budaya, kepercayaan, praktik kesehatan, dan pengetahuan penelitian di
sarjana dan pascasarjana nursng kurikulum di seluruhrentang hidup
d. Inklusiperawatan alternatif atau generik dalam kurikulum keperawatan, seperti laki-laki obat
(asli penyembuh Amerika, curers, dan dukun di barat daya ) dan dipilih dibuktikan metode
Cina terbukti efektif untuk pengobatan penyakit cronic
e. Penggunaan pengetahuan penelitian peduli budaya sebagai arah baru dan masa depan
keperawatan di abad kedua puluh satu
f. meningkatnya jumlah buku, kaset audio, dan video yang dipublikasikan pada pemeliharaan
kesehatan , pengobatan alternatif, herbal, vitamin, mineral, dan lainnya di konter obat dan

51
persiapan, yang menuntut basis pengetahuan transkultural
g. Spiral biaya perawatan kesehatan, mereka terpaksa menggunakan organisasi pemeliharaan
kesehatan, kurangnya asuransi kesehatan, meningkatnya ketergantungan pada diagnosis diri,
pengobatan, danperawatan, dan peningkatan ketersediaan kit diagnostik untuk acquired
immunodeficiency pengujian syndrome, pemantauan glukosa, skrining kolesterol, ovulasi dan
kehamilan tes, tes darah okultisme, danseperti
h. masalahterkait dengan konflik budaya, stres, nyeri, dan cultural imposition prakteks
3. Mengatur beberapa observasi dan wawancara pengalaman di sebuah pusat
kesehatan mahasiswa universitas lokal atau departemen kesehatan masyarakat dengan
orang-orang dari beragam budaya. Memastikan berikut:
a. Identifikasi budaya diwakili oleh klien dengan menggunakan teori Leininger dan enabler
sunrise.
b. Apa campuran budaya dari staf (dokter, perawat, pekerja sosial, dan ulama) dari pusat atau
kesehatan departemen? Bagaimana latar belakang budaya dari staf berbeda dari yang dari
pelanggannya?
c. Arrange konferensi dengan para perawat dan memastikan sikap berbasis budaya, nilai, dan
keyakinan, dan mereka yang tercermin dalam klien menggunakan pusat atau departemen.
Membandingkan dan kontras nilai-nilai, sikap, dan keyakinan dari staf dengan orang-orang
dari klien. Apa persamaan budaya dan perbedaan?
d. Mengatur wawancara dengan direktur pusat atau departemen dan memastikan faktor ekonomi,
politik, hukum, dan lainnya dari Leininger ini enabler sunrise yang mempengaruhi klien
penggunaan pusat atau departemen.
e. Survei materi cetak tersedia di tunggu dan pemeriksaan kamar dan ruang kelas dan
mengidentifikasi apa yang budaya dan bahasa yang digambarkan oleh visual aids, artefak, dan
lukisan.
f. Atas dasar data yang diperoleh dari latihan ini, bagaimana bisa teori keanekaragaman
perawatan budaya dan universalitas digunakan untuk memberikan perawatan budaya sensitif
dan kongruen dengan klien menggunakan pusat atau departemen dan meningkatkan kepuasan
dengan perawatan yang diterima?
4. Diskusikan jenis prasyarat pengetahuan, pengalaman, sikap, dan keterampilan
yang diperlukan untuk secara efektif menggunakan teori keanekaragaman perawatan
budaya dan universalitas.
5. Diskusikan relevansi teori keanekaragaman perawatan budaya dan
universalitas untuk perawat yang bekerja di pengaturan praktek yang berbeda dan peran.

52