Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PANGAN PEMBUTAN BANDENG PRESTO

Dosen Pembimbing:

Rahmani, S.TP, MP

Zulfiana Dewi, SKM., MP

Ir. Hj. Ermina Syainah, MP

Disusun Oleh:

Kelompok 2

Adelya Rahmah P07131215081

Ashfia Ruhama P07131215085

Binti Maulina P. P07131215089

Rahmat Hidayat P07131215113

Rizka Zalecha R . P07131215117

Rosalina P07131215119

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN

JURUSAN GIZI DIPLOMA IV 2017


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai negara yang maritime, Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam
perikanan, baik perikanan air tawar, air payau, maupun air laut. Menurut Saparinto (2007),
potensi akuakultur air payau, yakni dengan sistem tambak diperkirakan mencapai 931.000 ha
dan hampir telah dimanfaatkan potensinya hingga 100% dan sebagian besar digunakan untuk
memelihara ikan bandeng (Chanos chanos Forsk) dan udang (Pennaeus sp.).
Salah satu produk perikanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat adalah ikan
bandeng. Ikan bandeng merupakan suatu komoditas perikanan yang memiliki rasa cukup
enak dan gurih sehingga banyak digemari masyarakat. Selain itu, harganya juga terjangkau
oleh segala lapisan masyarakat. Ikan bandeng digolongkan sebagai ikan berprotein tinggi dan
berkadar lemak rendah (Susanto, 2010).
Dalam industri pengolahan ikan, kesempurnaan penanganan ikan segar memegang
peranan penting karena hal ini menentukan hasil olahan, sehingga perlu dipikirkan suatu
teknologi yang dapat memperbaiki penanganan pasca panen dan dapat menganekaragamkan
hasil olahan dari ikan. Alternatif penanganan ikan yang hingga kini masih dilakukan secara
tradisional ataupun modern adalah olahan bandeng seperti ikan bandeng. Bandeng presto
adalah salah satu bentuk olahan ikan dengan prinsip pemanasan bertekanan tinggi yang di
campur atau dilumuri dengan bumbu-bumbu sehingga tulang menjadi lunak. Pengolahan
ikan ini sudah cukup memasyarakat, terutama dikalangan nelayan. Ikan bandeng merupakan
suatu komoditas perikanan yang memiliki rasa cukup enak dan gurih sehingga banyak
digemari masyarakat. Selain itu, harganya juga terjangkau oleh segala lapisan masyarakat
(Yahya, 2014).
Menurut Astawan (2004), salah satu upaya untuk mengatasi hambatan dalam
pemanfaatan ikan bandeng adalah mengolah ikan bandeng secara duri lunak. Di Indonesia,
produk bandeng duri lunak mulai dikenal walaupun jumlah produksinya masih dibawah ikan
asin maupun ikan pindang, tetapi pada masa yang akan datang pengolahan ikan Bandeng
secara duri lunak cukup cerah prospeknya. Cita rasa yang dimiliki pun jauh lebih enak
dibandingkan dengan ikan yang diolah secara diasin maupun dengan cara lainnya.
Di beberapa tempat, ikan bandeng memiliki banyak nama, misalnya di Sumatera dikenal
dengan sebutan banding, mulch, atau agam; di Bugis disebut bolu; di Filipina disebut bangos;
dan di Taiwan disebut sabahi (Saparinto, 2007).

1.2 Tujuan
1. Membuat bandeng presto
2. Membandingkan warna, tekstur, aroma, dan rasa ikan bandeng presto
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bandeng Presto

Salah satu hasil olahan ikan bandeng adalah bandeng duri lunak. Mempunyai ciri
hampir sama dengan pindang bandeng, dengan kelebihan yakni tulang, duri dari ekor hingga
kepalanya cukup lunak, sehingga dapat dimakan tanpa menimbulkan gangguan duri pada
mulut (Arifudin, 1988).
Menurut SNI No: 4106.1-2009, bandeng presto/duri lunak adalah produk olahan hasil
perikanan dengan bahan baku ikan utuh yang mengalami perlakuan sebagai berikut:
penerimaan bahan baku, sortasi, penyiangan, pencucian, perendaman, pembungkusan,
pengukusan, pendinginan, pengepakan, pengemasan, penandaan, dan penyimpanan.
Bandeng duri lunak merupakan salah satu jenis diversifikasi pengolahan hasil perikanan
terutama sebagai modifikasi pemindangan yang memiliki kelebihan yaitu tulang dan duri
dari ekor sampai kepala lunak sehingga dapat dimakan tanpa menimbulkan gangguan duri
pada mulut (Arifudin, 1988).
Dalam pengolahan bandeng duri lunak dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara
tradisional dan modern. Pada pengolahan bandeng duri lunak secara tradisional, wadah yang
digunakan untuk memasak biasanya berupa drum yang dimodifikasi atau dandang berukuran
besar. Pengolahan bandeng duri lunak secara tradisional menggunakan prinsip pengolahan
ikan pindang.
Pengolahan bandeng duri lunak secara tradisional dilakukan dengan menggunakan
prinsip pemindangan. Dalam proses pemindangan, ikan diawetkan dengan cara mengukus
atau merebusnya dalam lingkungan bergaram dan bertekanan normal, dengan tujuan
menghambat aktivitas atau membunuh bakteri pembusuk maupun aktivitas enzim (Afrianto
dan Liviawaty, 1989).
Secara modern, pengolahan bandeng duri lunak menggunakan presto. Bandeng presto
merupakan hasil olahan dari ikan bandeng yang melalui proses pemanasan dan tekanan.
Pengolahan bandeng presto menggunakan suhu tinggi (115-1210C) dengan tekanan 1,5
atmosfer. Suhu dan tekanan yang tinggi dicapai dengan menggunakan autoclave yaitu alat
bertekanan tinggi atau dalam skala rumah tangga dengan alat presscooker selama 60-90
menit (Arifudin, 1993). Pada pemasakan presto adanya uap bertekanan tinggi akan dapat
melunakkan duri sehingga duri ikan akan menjadi rapuh dan mudah hancur, namun bentuk
ikan masih seperti aslinya (Achyadi, 2001).
Dalam pengolahan bandeng presto juga ditambahkan garam sebagai pengawet yang
berfungsi mengurangi kadar air pada suatu bahan pangan sehingga akan menghambat atau
menghentikan sama sekali aktivitas enzim dan bakteri yang berperan dalam proses
penurunan mutu ikan, selain itu garam juga bersifat bakteristatik (Wahyuningsih, 2002).
Menurut (Loppies, 1992) kandungan protein presto ikan mengalami peningkatan menjadi
28,8 32,1 persen akibat adanya proses pengolahan dengan menggunakan garam serta
penggunaan suhu tinggi karena adanya pengeluaran dari daging ikan yang menyebabkan
protein lebih terkonsentrasi dibandingkan dengan ikan segar yang belum mengalami
pengolahan.
Proses pengolahan bandeng duri lunak dengan uap air panas bertekanan tinggi
menyebabkan tulang dan duri menjadi lunak. Selain itu uap air panas yang bertekanan tinggi
ini sekaligus berfungsi menghentikan aktifitas mikroorganisme pembusuk ikan, kerasnya
tulang ikan disebabkan adanya bahan organik dan anorganik pada tulang. Bahan anorganik
meliputi unsur-unsur kalsium, phosphor, magnesium, khlor dan flour sedangkan bahan
organik adalah serabut-serabut kolagen. Tulang menjadi rapuh dan mudah hancur bila bahan
organik yang terkandung di dalamnya larut (Soesetiadi, 1977).

2.2 Panci Presto


Panci presto (preasure cooker) adalah sebuah alat memasak untuk membuat masakan
menjadi cepat matang. presto juga digunakan utuk membuat daging dan tulang menjadi
empuk dan dapat dikonsumsi. Panci ini berguna untuk mempercepat pengempukan daging.
Dengan panci ini, apabila kita membuat sop dengan panci biasa memerlukan waktu 3 jam,
dengan panci ini kita hanya memerlukan waktu 1 jam saja. Daging yang biasanya
membutuhkan waktu setengah jam untuk mengempukan, dengan alat ini cukup 10 menit,
sudah empuk. Dengan cepatnya proses pemasakan makanan, maka akan menghemat
penggunaan gas.
Panci presto menggunakan tutup yang rapat sehingga uap air tidak dapat keluar (lihat
gambar 1). Pada waktu tertentu alat ini mencapai ambang batas atau standar dimulainya
perhitungan lama pemasakan. pada presto ditandai bunyi berdesing karena uap air melewati
savety valve.

Gambar 1. Panci Presto

2.3 Prinsip Kerja Presto


Ketika merebus atau mengukus, maka temperatur maksimal rebusan atau kukusan tidak
akan lebih dari 1000C (pada tekanan atmosfer) selama masih terdapat air dalam fase cair.
Untuk menaikkan temperatur rebusan ini, maka perlu dinaikkan tekanan air dalam panci,
sehingga temperatur air rebusan juga akan naik. Karena bentuk panci yang tertutup, maka
tekanan air dalam panci dapat dibuat naik, sehingga temperaturnya juga naik, maka bahan
makanan yang kita letakan dalam panci presto akan lebih cepat empuk dan menjadi lebih
lunak. Untuk Lebih jelasnya perhatikan Gambar berikut :

Kalor yang diterima


sistem terperangkap
didalam sistem
{SYSTEM}
sehingga tidak ada
kalor yang dilepas

Kalor yang diberikan


lingkungan kepada sistem
Tombol ditekan ketika
hendak memasak
menggunakan panci presto,
dan seiring dengan
meningkatnya suhu dan
tekanan didalam panci
mendorong Tombol tersebut
kembali keatas dan Uap
panas dilepaskan dari tombol
tersebut sehingga panci
prestopun berbunyi

Gambar 2.6 Skema Cara Kerja Presto

Berdasarkan skema diatas dapat disimpulkan bahwa kalor yang diberikan oleh
lingkungan kepada sistem tidak dapat dilepaskan kembali kepada lingkungan yang
dikarenankan sistem tertutup rapat, sehingga dapat disimpulkan apabila volume gas yang
berada diruang tertutup dipertahankan konstant, maka tekanan gas sebanding suhu
mutlaknya dan hal ini sesuai dengan hukum Gay Lussac untuk lebih jelasnya perhatikan
diagram fasa sebagai berikut:

Gambar 2.7. Diagram Fasa air


Gambar 2.7. adalah grafik tekanan terhadap temperatur pada volume konstant untuk air.
Grafik ini dinamakan diagram fasa. Dimana bagian diagram antara titik O dan C
menunjukkan tekanan uap terhadap temperatur.
Dari grafik tersebut dapat disimpulkan panci presto bila dipanaskan, kerapatan cairan
akan berkurang dan kerapatan uap bertambah. Dimana molekul gas didalam uap bertambah
dan bergerak sangat cepat dan tidak ada gaya yang cukup besar yang beraksi pada molekul
tersebut kecuali selama tumbukan yang bersifat elastik dan terjadi dalam waktu yang sangat
singkat, dan tekanan dari banyaknya molekul gas didalam uap dapat diatur dengan mengatur
suhu dan volumenya.
Sedangkan pada titik C merupakan titik kritis dimana tidak terdapatnya perbedaan
antara cairan dengan gas. Dan jika panci presto didinginkan, maka sebagian uap mengembun
menjadi cairan sewaktu bergerak kembali kekurva OC sampai zat mencapai titik O pada
gambar 2.7. dimana titik O adalah titik triple yaitu suatu titik fasa uap,cair dan padat berada
sama-sama dalam kesetimbangan.
2.4 Standar Mutu
Mutu produk bandeng duri lunak mempengaruhi terhadap tingkat pemenuhan gizi bagi
konsumen maupun dalam harga jual produk bandeng duri lunak. Berikut adalah beberapa
parameter mutu bandeng duri lunak. Ikan bandeng duri lunak yang baik harus memenuhi
kriteria tertentu. Cara paling mudah untuk menilai mutu ikan bandeng duri lunak adalah
dengan menilai mutu sensorisnya (Wibowo, 1996).
Tabel 4. Kriteria mutu ikan Bandeng duri lunak berdasarkan penilaian organoleptik
No Parameter Deskripsi
1. Rupa Ikan utuh dan tidak patah, mulus, tidak luka atau lecet,
bersih, tidak terdapat benda asing, tidak ada endapan
2. Warna lemak, garam, atau kotoran lain
Warna spesifik, cemerlang, tidak berjamur, dan
3. Bau
berlendir
Spesifik seperti ikan rebus, gurih, segar, tanpa bau
4. Rasa
tengik, masam, basi, atau busuk
5. Tekstur Gurih spesifik bandeng duri lunak, enak dan tidak
terlalu asin, rasa asin merata, serta tidak ada rasa asing
Kompak, padat, cukup kering, tidak berair, dan kesat
Sumber: Saparinto (2007)

Persyaratan mutu bandeng duri lunak menurut SNI No: 4106.1-2009 adalah sebagai
berikut:
Tabel 4. Persyaratan mutu bandeng presto menurut SNI No: 4106.1-2009
No Jenis Uji Satuan Persyaratan Mutu
a. Organoleptik Angka (1-9) Minimal 7
b. Cemaran Mikroorganisme
1. ALT, maks Koloni/gram 5,0 x 105
2. Escherichia coli APM/gram <3
3. Salmonella * Per 25 gram Negatif
4. Vibrio cholerae * Per 25 gram Negatif
5. Staphylococcus aureus Koloni/gram Maksimal 1 x 103
c.
Cemaran Kimia
Mg/gram Maksimal 0,5
1. Merkuri (Hg) Mg/gram Maksimal 0,2
2. Timbal (Pb) Mg/gram Maksimal 0,05
3. Kadmium (Kd)
*) Apabila diperlukan
Sumber : Badan Standardisasi Nasional (2006) (SNI No: 4106.1-2009).

2.5 Kualitas Bandeng Presto


Ikan bandeng dalam Bahasa Latin diikenal sebagai Chanos-Chanos atau dalam Bahasa
Inggrisnya adalah Milk Fish. Ikan Bandeng yang termasuk dalam Familia Chanidae ini
memiliki Kandungan Gizi per-100 gram daging ikan yang terdiri dari energi 129 kkal,
protein 20 gr, lemak 4.8 gr, kalsium 20 mg, fosfor 150 mg, besi 2 mg, vitamin A 150 SI serta
vitamin B1 0.05 mg (Saparinto, 2006: 11).
Dari kandungan nutrisi tersebut terlihat bahwa kandungan protein ikan bandeng cukup
tinggi. Hal ini yang menjadikan ikan bandeng sangat mudah dicerna serta sangat baik untuk
dikonsumsi oleh semua usia dalam mencukupi kebutuhan protein tubuh, menjaga dan
memelihara kesehatan serta mencegah penyakit akibat kekurangan zat gizi mikro. Seperti
halnya ikan salmon, ikan bandeng juga mengandung Asam Lemak Omega 3 yang sangat
berguna dalam mencegah terjadinya
penggumpalan darah sehingga dapat mencegah serangan penyakit jantung koroner. Selain
itu Asam Lemak Omega 3 juga bersifat hipokolesterolemik yang dapat menurunkan kadar
kolesterol darah serta mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan berperan dalam
pertumbuhan otak pada janin serta membantu pertumbuhan sistem saraf
(http://id.shvoong.com).
Ikan bandeng yang diolah menjadi bandeng presto akan memiliki beberapa nilai lebih
diantaranya :
a. Jika disimpan, ikan mempunyai daya tahan yang lama.
b. Durinya menjadi lunak, sehingga mudah dalam penyajiannya.
c. Harga dan nilai jualnya akan meningkat jika dibandingkan sebelum dibuat presto.
(Suhaeni, 2007: 12)
BAB III
METODE PRAKTIKUM

2.6 Alat/Bahan :
1. Alat
Pisau, baskom, alumunium foil
2. Bahan
Ikan bandeng, garam, bumbu dihaluskan (tiap kg ikan : bawang merah 5 siung,
bawang putih 1,5 siung, kunyit 0,5 cm, dan jahe 0,25 cm)

2.7 Prosedur :
1. Siangi ikan (sisik tidak perlu dibersihkan), keluarkan insang dan isi perutnya, lalu
cuci
2. Rendam ikan dalam larutan garam 3% selama 20 menit, tutup dengan es batu di
permukaannya
3. Tiriskan ikan dan beri garam halus 2%
4. Lumuri ikan dengan bumbu yang dihaluskan
5. Bungkus ikan dengan alumunium foil
6. Masak selama 60 menit dalam panci presto
7. Angkat ikan setelah panci dingin, tiriskan, amati mutu organoleptik dan kadar air
bandeng
8. Catatan : masing-masing perlakuan 2 ekor ikan

2.8 Diagram Alir

Siangi ikan

Cuci ikan

Rendam ikan dalam larutan garam 3% selama 20 menit

Tutup dengan es batu


Tiriskan ikan

beri garam halus 2%

Lumuri ikan dengan bumbu

Bungkus ikan dengan alumunium foil

Masak selama 60 menit

Angkat ikan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Organoleptik pindang presto pada aluminium foil

Warna : Pucat
Aroma : Tidak menyengat

Rasa : Gurih

Tekstur : Lebih lunak

Organoleptic pindang presto pada daun pisang

Warna : agak kekuningan

Aroma :khas daun pisang

Rasa :gurih

Tekstur:lunak,berair

Berat ikan : sebelum disiangi = 600 gr

Sesudah disiangi = 485 gr


4.2 Pembahasan

Dari hasil praktikum yang kelompok kami lakukan diketahui bahwa terjadi
penurunan berat ikan bandeng sebesar 115 gram. Hal ini dikarenakan menurunnya kadar
air sehingga mempengaruhi berat ikan. Menurut Mainaliza (2003), kadar air merupakan
parameter yang umum diisyaratkan dalam standar mutu suatu bahan pangan, karena
kadar air dalam kandungan bahan pangan sangat menentukan kemungkinan terjadinya
reaksi-reaksi biokimia. Selain itu dengan adanya reaksi biokimia akan mengakibatkan
penurunan mutu dari suatu produk pangan sehingga sebagian air harus dikeluarkan dari
produk pangan tersebut (Buckle et al., 1987).
Menurut Gaman dan Sherrington (1994) penurunan kadar air disebabkan lama
waktu pemasakan menyebabkan air yang terdapat dalam pangan menguap. Jamasuta dkk.,
(1996) menambahkan lama waktu pemasakan akan berpengaruh terhadap reaksi
perpindahan garam dari lingkungan luar kedalam jaringan daging ikan.
Dari hasil organoleptik yang kami lakukan diketahui warna produk kuning,
tekstur lunak, rasa gurih dan aroma khas ikan bandeng. Warna, rasa dan aroma bandeng
presto dipengaruhi adanya bumbu. Bumbu memegang peranan penting karena
menentukan cita rasa produk akhir. Selain itu daya awet ikan Bandeng duri lunak juga
dapat ditunjang oleh penggunaan bumbu dalam proses pengolahannnya. Ada 2 macam
bumbu yang digunakan dalam pembuatan Bandeng duri lunak, yaitu bumbu rendam dan
bumbu urap. Istilah tersebut mengacu pada cara perlakuan pada waktu memberikan
bumbu, ada yang digunakan untuk merendam bandeng dan ada yang diurapkan ke
seluruh tubuh bandeng. Bahkan ada juga yang langsung merebus bandeng dalam larutan
garam. Cara terakhir ini biasanya digunakan dalam pembuatan bandeng duri lunak secara
tradisional, yang memakan waktu sekitar 6 sampai 7 jam (Purnomowati, 2006).
Daging ikan bandeng dikenal gurih, beraroma khas dan berwarna putih. Tetapi,
duri/tulang halusnya banyak sehingga menyebabkan masalah jika akan dikonsumsi.
Untuk mengatasi hal ini, ikan bandeng kemudian dioalh menggunakan pemasakan
bertekanan (autoclave atau pressure cooker ) untuk memperoleh produk ikan bandeng
presto. Produk olahan ikan dari lunak, sesuai dengan namanya, mempunyai duri/tulang
yang lunak. Bahan baku untuk pembuatan ikan duri lunak saat ini bukan hanya ikan
bandeng saja, tetapi juga ikan berduri banyak lainnya (missal ikan lemuru, mujair, tawes,
ikan terbang ) dan ikan-ikan lainnya.

Pengolahan ikan dari lunak merupakan modifikasi dari pemasakan tradisional


(ikan pindang). Dibandingkan dengan cara tradisional, waktu yang dibutuhkan untuk
pemasakan bertekanan lebih singkat. Produk akhirnya mempunyai warna, aroma dam
rasa yang tidak banyak berubah dibandingkan dengan ikan segarnya, tekstur dagingnya
menjadi lebih padat dan kenyal (dibandingkan dengan ikan pindang) dan duri/tulang
menjadi lunak sehingga seluruh bagian tubuh ikan dapat dikonsumsi.

Tekstur lunak pada bandeng presto dikarenakan Pengolahan bandeng presto


menggunakan suhu tinggi (115-1210C) dengan tekanan 1,5 atmosfer. Suhu dan tekanan
yang tinggi dicapai dengan menggunakan autoclave yaitu alat bertekanan tinggi atau
dalam skala rumah tangga dengan alat presscooker selama 60-90 menit (Arifudin, 1993).
Pada pemasakan presto adanya uap bertekanan tinggi akan dapat melunakkan duri
sehingga duri ikan akan menjadi rapuh dan mudah hancur, namun bentuk ikan masih
seperti aslinya (Achyadi, 2001).

Persiapan ikan

1. Ikan berukuran besar : terlebih dahulu buang sisik dan potong insang ikan. Belah
bagian perut ikan untuk mengeluarkan isi perut, usahakan agar empedu tidak sampai
pecah.
2. Ikan berukuran sedang : terlebih dahulu buang sisiknya. Keluarkan insang da nisi
perut dengan menarik insang secara perlahan-lahan sehingga seluruh isi perut dapat
ertarik keluar melalui rongga insang.
3. Cuci ikan dengan air bersih, agar semua kotoran yang masih melekat terutama
dibagian rongga perut dan sisa pembuluh darah dapat dibersihkan. Sebaiknya
menggunakan air mengalir, agar ikan benar-benar bersih.
4. Untuk meniriskan air dari ikan, susunan ikan pada wadah dengan posisi bagian perut
menghadap ke bawah agar tidak ada air yang menggenang terutama di rongga perut.
5. Setelah agak kering, timbang berat ikan denga menghitung jumlah bumbu yang
dibutuhkan. Lumuri ran dengan bumbu, sampai permukaan ikan tertutupi bumbu.
Untuk ikan berukuran besar, masukkan sebagian bumbu ke dalam belahan perut ikan.
6. Bungkus ikan yang telah diberi bumbu dengan daun pisang atau aluminium foil.
Susun ikan di dalam pressure cooker atau autoclave secara berselang-selinng (kepala-
ekor) (ekor-kepala). Berikan bumbu penyedap : laos, jahe, sereh, dan daun jeruk
purut. Lakukan pemasakan selama 60 menit.
7. Setelah pemasakan selesai, keluarkan ikan dari pressure cooker atau autoclave,
diinginkan, kemas dalam kantong plastic dan simpan disuhu rendah.

Pada saat praktikum pembuatan pindang presto lebih baik menggunakan aluminium foil
Karena rasanya yang lebih gurih dan juga aroma bumbu nya sangat harum warna pada
ikan bandeng juga sangat bagus yaitu warna kunig keemasan.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukn dapat disimpulkan bahwa :
1). Prinsip pengolahan ikan bandeng presto adalah dengan dilakukan pemrestoan
pada suhu 121 C selama 60-90 menit dengan menggunakan uap panas bertekanan
tinggi untuk proses pemasakannya.
2). Factor yang mempengaruhi dalam pengolahan bandeng presto adalah :
a. kualitas bahan baku
b. formulasi bumbu
c. suhu pemrestoan
d. peralatan yang digunakan

5.2. saran

Pada saat praktikum harus berhati-hati dalam menggunakan panic presto. Pada
saat menyiangi ikan bandeng harus berhati-hati karena sisik ikan mudah mengelupas.
DAFTAR PUSTAKA

Afrianto dan Liviawati. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.
Anonim. 2015. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digilib.unimus.ac.id/download.php?id=12441.
Diakses pada 24 April 2017

Arifudin, R. 1988. Bandeng Presto dalam Kumpulan Hasil Penelitian Teknologi Pasca Panen
Perikanan. BPTP. Jakarta.
Rizal, Syamsul. 2012. Prinsip Kerja Presto. http://fisikagoblog.blogspot.co.id/2012/06/prinsip-
kerja-presto.html. Diakses pada 24 April 2017

Astawan, M. 2003. Bandeng Presto. Makanan Masa Mendatang.


http:www.Kompas.com/kesehatan/news/0305/01/104518.htm.
Saparinto, Cahyo. 2007. Membuat aneka olahan bandeng. Penebar Swadaya. Jakarta

Saparinto, Cahyo.2006.Bandeng Duri Lunak.Yogyakarta : Kanisius

Susanto, Eko. 2010. Pengolahan Bandeng (Channos channos forsk) Duri Lunak.
eprints.undip.ac.id/19138/1/bandeng_duri_lunak.pdf. Diakses pada 24 April 2017

Suhaeni, Neni.2007.Petunjuk Praktis Membuat Bandeng Presto.Bandung : Medium


Suprapti,Lies.2002.bandeng asap ypgyakarta.kasinus