Anda di halaman 1dari 41

HAEMORAGIC ANTEPARTUM

A PENGERTIAN
Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi
antara kehamilan minggu ke-28 dan awal partus.
Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika
terjadi pada tempat plasenta dibandingkan dari sumber lain. Walaupun demikian plasenta
menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat
terjadi lebih dini . Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih sering terjadi. Walaupun
perdarahan vaginal setelah minggu ke29 harus dianggap mempunyai potensi serius .
perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab
utama pedarahan anterpatum yaitu;
Plasenta previa
Solutio plasenta

B ETIOLOGI
1 Plasenta Previa
a Pengertian
Pada keaadaan normal, Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus
uterus. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau seluruh pembukaan jalan
lahir.
b Etiologi
Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak
dapat dijelaskan. Namun demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan
dengan peningkatan kekerapan terjadi plasenta previa yaitu :

Paritas, Makin banyak parista ibu, makin besar kemungkinan mengalami


plasenta previa
Usia ibu pada saat hamil. Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih,
makin besar kemungkinan kehamilan plasenta previa.
Umur dan paritas
a Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th.
b Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah

Standar Asuhan Kebidanan Page 1


c Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil
disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana
endometrium belum matang.
d Adanya tumor-tumor : mioma uteri, polip endometrium.
e Kadang-kadang pada malnutrisi

2 Solusio Plasenta
a Pengertian
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya
b Etiologi
Belum diketahui pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik,
trauma eksternal, tali pusat pendek, dekompresi terus mendadak, anomali atau
tumor uterus, difisiensi gizi, merokok, konsumsi alcohol, penyalahgunaan kokain,
serta obstruksi vena kana inferior dan vena ovarika.

C PATOFISIOLOGI
a Plasenta Previa
Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi
pada triwulan ketiga kehamilan.Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih
banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin tuanya kehamilan.
Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan
berusia 20 minggu. Pada usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan
mulai menipis.
Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks
membuka. Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus
tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi dan akan menimbulkan
perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber pada sinus uterus yang atau
robekan sinis marginali dari plasenta.
b Solusio Plasenta
Terjadinya solusio plasentae dipicu oleh perdarahanke dalam desidua basalis yang
kemudian terbelah dan meninggalkan lapisan tipis yang melekat pada miometrium
sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan,kompresi dan
akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retroplasenta
yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah. Hingga pelepasan plasenta
makin luas dan mencapai tepi plasenta.Karena uterus tetap berdistensi dengan adanya

Standar Asuhan Kebidanan Page 2


janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah
tersebut.Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapt melepaskan selaput ketuban.

D PATHWAY
a Plasenta Previa

Usia ibu <20 &>35 multiparitas Riwayat SC/kuretase , Malnutrisi


tahun keguguran /op ibu hamil
miooma
Belum siapnya
endometrium untuk Perubahan atropi Laserasi endometrium Vaskularisasi
di opulasi pada desi dua secara sengaja pada uterus

Endometrium yang
Hipoplasia Vaskularisasi di
cacat
endometrium uterus

Keadaan endometrium

Plasenta yang bertumbuh di


segmen bawah uterus akibat

Standar Asuhan Kebidanan Page 3


Plasenta letak rendah dapat melebar
dan menipis sehingga menutupi
Plasenta
ostium uteri internum
b Solusio Plasenta

Trauma

Perdarahan ke dalam desidua basalis

Terbelah & meninggal lapisan tipis pada miometrium

Terbentuk hematoma desidual

Penghancuran plasenta

Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua

Hematoma retroplasenta

Pelepasan plasenta lebih banyak

Uterus tidak mampu berkontraksi optimal

Standar Asuhan Kebidanan Page 4


Darah mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban

Syok hipovolemik

E DIAGNOSA KEBIDANAN
a Plasenta previa
Untuk menegakkan diagnosa pasti kejadian plasenta previa. Hal-hal yang harus
dilakukan menurut ai yeyeh, dkk. 2010 :
1 Anamnesa
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan >22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa
alasan terutama pada mutigravida. Perdarahan cenderung berulang apada volume
yang lebih banyak dari sebelumnya, perdarahan menimbulkan penyulit pada ibu
maupun janin dalam rahim.
2 Inspeksi
Dapat dilihat pada perdarahan yang keluar pervaginam, banyak, sedikit atau darah
beku (stolsel). Bila terjadi perdarahan banyak maka ibu terlihat pucar atau anemis.
Pemeriksaan Fisik
3 Tekanan darah, nadi dan pernapasan dalam batas normal. Bila tekanan darah, nadi
dan pernapasan meningkat maka daerah akral menjadi dingin atau tampak anemis.
4 Pemeriksaan khusus Kebidanan

1) Palpasi abdomen
Janian belum cukup bulan, tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan,
bagian terendah janin masih tinggi karena plasenta berada pada segmen bawah
rahim. Bila cukup pengalaman bisa dirasakan suatu bantalan pada segmen
bawah rahim (SBR) terutama pada ibu yang kurus.
2) Denyut Jantung janin
Denyut jantung janin bervariasi dari normal menjadi asfiksia dan kemudian
kematian dalam rahim.
3) Pemeriksaan Inspekulo
Dengan memakai spekulum secara hati-hati dan dilihat asal perdarahan
tampak dari segmen bawah rahim atau kelainan serviks, vagina da varises
pecah.

Standar Asuhan Kebidanan Page 5


4) Pemeriksaan Penunjang
1. Sitografi
Mula-mula kandung kemih dikosongkan lalu masukkan 40 cc larutan NaCl
12,5%, kepala janin ditekan ke arah pintu atas panggul (PAP), bila jarak
kepala janin dan kandung kemih 1 cm, kemungkinan terdapat plasenta previa.

b Solusio Plasenta
Anamnesis
1 Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut; kadang-kadang pasien bisa melokalisir
tempat mana yang paling sekit, dimana plasenta terlepas.
2 Perdarahan pervaginam yang bersifat bisa hebat dan sekonyong-konyong
(non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuandarah.
3 Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti
4 Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang,
ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.
5 Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan dan faktor kausal yang
lain.
Inspeksi
1 Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan .
2 Pucat, sianosis, keringat dingin.
3 Kelihatan darah keluar pervaginam
Palpasi
1 Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya retroplasenter hematoma;
uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
2 Uterus teraba tegang dank eras seperti papan yang disebut uterus in bois
(woodenuterus) baik waktu his maupun diluar his.
3 Nyeri tekan terutama di tempat plasenta tadi terlepas.
4 Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut (uterus) tegang.
Auskultasi
Sulit karena uterus tagang.Bila denyut jantung janin terdengar biasanya diatas
140, kemudian turun dibawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas
lebih dari sepertiga.
Pemeriksaan dalam

Standar Asuhan Kebidanan Page 6


1 Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup.
2 Kalau sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik
sewaktu his maupun diluar his.
3 Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta
ini akan turun kebawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus
plasenta, ini sering dikacaukan dengan plasenta previa.
Pemeriksaan umum
1 Tensi semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit
vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok.
2 Nadi cepat, kecil, dan filiformis.
Pemeriksaan laboratorium
1 Urin
2 Albumin (+); pada pemeriksaan sediment terdapat silinder dan lekosit.
3 Darah
4 Hb menurun (anemia), periksa golongan darah, kalau bisa cross match test.
5 Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah atau
hipofibrionogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation Test)
tiap 1 jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen
(kadar normalnya 150 mg%)
Pemeriksaan plasenta
Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanys.Biasanya tampak
tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat koagulum
atau darah beku di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplasenter.

KETUBAN PECAH DINI (KPD)

A DEFINISI

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum tanda-tanda persalinan.
(Mansjoer, Arif, dkk.2002)

Standar Asuhan Kebidanan Page 7


ketuban pecah dini(KPD) atau premature rupture of membranes(PROM) adalah pecahnya
kantung ketuban dan kebocoran dari cairan ketuban awal minimal 1 jam sebelum awal persalinan
pada setiap usia kehamilan. (Lowdermilk , Deitra Leonard, 2000)

Ketuban pecah dini(KPD) atau premature rupture of membranes (PROM) adalah pecahnya
kantung ketuban sebelum onset persalinan yang benar, terlepas dari lamanya kehamilan. (Murray
, Sharon Smith, dkk . 2002)

Pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan atau sebelum inpartu, pada pembukaan <4 cm
(fase laten). Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan.

KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah
KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan, dan
mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang kurang
bulan.Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat kommplek, bertujuan
untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan RDS (Respiration Dystress
Syndrome). (Miranie , Hanifah, dan Desy Kurniawati. 2009)

B ETIOLOGI
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intrauterin. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya
infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan
masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :

1 Inkompetensi serviks (leher rahim)

Standar Asuhan Kebidanan Page 8


Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher
rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah
kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar.

2 Peninggian tekanan intra uterin

Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan
terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :

a Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis


b Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli
terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim
secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar
dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang
menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah. (Saifudin.
2002)

c Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia
menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan tekanan
pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan selaput
ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan
selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006)

d Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat
mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah
peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut,
volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam
waktu beberapa hari saja.

Standar Asuhan Kebidanan Page 9


3 Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.

4 Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalopelvic


disproporsi).

5 Korioamnionitis
Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina
ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan
persalinan lama.

6 Penyakit infeksi
Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan
infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkanterjadinya proses biomekanik
pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.

7 Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik

8 Riwayat KPD sebelumya

9 Kelainan atau kerusakan selaput ketuban

10 Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

C PATOFISIOLOGI

Standar Asuhan Kebidanan Page 10


Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi kontraksi
uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban.Banyak mikroorganisme servikovaginal,
menghasilkan fosfolipid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara local asam arakidonat,
dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan
kontraksi myometrium.Pada infeksi juga dihasilkan produk sekresi akibat aktivitas
monosit/makrofag, yaitu sitokrin, interleukin 1, factor nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet
activating factor yang diproduksi oleh paru-paru janin dan ginjal janinyang ditemukan dalam
cairan amnion , secara sinergis juga mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk
kedalam cairan amnion juga akan merangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan
kemudian prostaglandin yang menyebabkan dimulainya persalinan.

Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain terjadinya ketuban
pecah dini akibat infeksi dan inflamasi . Enzim bacterial dan atau produk host yang disekresikan
sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban .Banyak
flora servikoginal komensal dan patogenik mempunyai kemampuan memproduksi protease dan
kolagenase yang menurunkan kekuatan tenaga kulit ketuban.Elastase leukosit polimorfonuklear
secara spesifik dapat memecah kolagen tipe III papa manusia, membuktikan bahwa infiltrasi
leukosit pada kulit ketuban yang terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat
menyebabkan pengurangan kolagen tipe III dan menyebabkan ketuban pecah dini.

Enzim hidrolitik lain , termasuk katepsin B , katepsin N, kolagenase yang dihasilkan netrofil dan
makrofag , nampaknya melemahkan kulit ketuban . Sel inflamasi manusia juga menguraikan
aktifator plasminogen yang mengubah plasminogen menjadi plasmin , potensial , potensial
menjasi penyebab ketuban pecah dini.

D PATHWAY

Standar Asuhan Kebidanan Page 11


E DIAGNOSA KEBIDANAN

Standar Asuhan Kebidanan Page 12


DIAGNOSA DIAGNOSA POTENSIAL PERENCANAAN
1 Bagi Janin 1 Monitor keadaan umum /
Diagnosis ketuban pecah dini 1 Prematuritas
4jam
2 Infeksi
tidak sulit ditegakkan dengan 2 Observasi tanda-tanda
Semakin lama periode
keterangan terjadi pengeluaran vital/4jam
laten, semakin lama kala
3 Observasi DJJ/jam
cairan mendadak disertai bau
satu persalinan, maka 4 Observasi His, Kontraksi
khas selain keterangan yang
semakin besar insiden dan cairan ketuban yg
disampaikan dapat dilakukan
infeksi keluar
beberapa pemeriksaan yang 3 Mal presentasi 5 Mempertahankan
Sering dijumpai pada
menetapkan bahwa cairan yang kehamilan sampai cukup
presentasi bokong
keluar adalah air ketuban yaitu matur, khususnya maturitas
4 Prolaps tali pusat
dengan cara : Sering dijumpai, paru sehingga mengurangi
1 Tes dengan lakmus (litmus)
khususnya pada bayi kejadian kegagalan
Bila terjadi Biru (basa)
premature perkembangan paru yang
adalah air ketuban.
5 Mortalitas perinatal
Bila terjadi merah (asam) sehat
Semakin lama periode
6 Pemberian antibiotik
adalah air kemih
laten semakin tinggi
2 Pemeriksaan mikroskopik profilaksis
mortalitasnya 7 Waktu terminasi pada
terhadap tetesan cairan yang
2 Bagi Ibu
kehamilan dapat dianjurkan
kering, akan memperlihatkan 1 Partus Lama
Adanya inkoordinasi selang waktu 6 jam sampai
suatu corak seperti daun
kontraksi otot rahim 24 jam, bila tidak terjadi his
pakis (fernig pattern) bila
akibat dari induksi spontan.
cairan itu ketuban (Hoken,
8 Bila anak sudah viable
persalinan dengan
dan Mooree, 2001)
(lebih 36 minggu), lakukan
3 Pemeriksaan inspekulo yang oksitosin sehingga
induksi partus 6-12 jam
steril : terlihat cairan keluar menyebabkan sulitnya
9 Kolaborasi dengan dr untuk
dari osteum uteri eksternum kekuatan otot rahim
pemberian terafi dan
(Bary F.C,1996) untuk meningkatkan
tindakan selanjutnya.
4 Riwayat : jumlah cairan yang
pembukaan atau
hilang, warna cairan , bau,
pengusiran janin dari
hubungan seksual
dalam rahim.
pervaginam terakhir. 2 Perdarahan post partum
5 Pemeriksaan histopatologi air Adanya penggunaan

Standar Asuhan Kebidanan Page 13


narkosa pada
ketuban dan sitologi
penanganan ketuban
(kolaborasi )
pecah dini dengan
tindakan induksi
3 Atonia Uteri
Bila pada saat ketuban
pecah servik belum
matang atau belum
membuka sehingga akan
memperlama proses
persalinan dan
menyebabkan kelelahan
pada ibu yang berakibat
pada lemahnya kontraksi
uterus.
4 Infeksi Nifas
Adanya infeksi intra
partum akibat ketuban
pecah lebih dari 6 jam

KEHAMILAN DENGAN KONTRAKSI

A Definisi
Kehamilan kontraksi atau persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada
kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20-37 minggu) (Mansjoer, 2000).

Standar Asuhan Kebidanan Page 14


B Jenis jenis kontraksi
1 Kontraksi Dini
Kontraksi jenis ini biasanya terjadi saat awal-awalkehamilan atai saat trimester
pertama kehamilan. Kondisi ini terjadi saat tubuh masih sedang dalam proses
penyesuaian dengan berbagai perubahan akibat adanya kehamilan. Kontraksi terjadi
akibat mereganyanya ligamen di sekitar rahim biasanya diikuti oleh perut kembung,
konstipasi dan dehidrasi.Jika kontraksi di awal kehamilan ini diikuti oleh adanya
bercak darah maka segeralah anda ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut.
2 Kontraksi Palsu
Jenis kontraksi ini biasa disebut dengan istilah Braxton-Hicks, biasanya terjadi saat
kehamilan memasuki usia 32-34 minggu. Waktunya tidak bisa ditentukan namun
biasanya terjadi setiap 30 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 30
detik.Rasanya seperi nyeri saat kram haid. Jika kontraksi ini tidak terjadi menjadi
lama, kemudian intervalnya semakin memendek dan tidak bertambah kuat, maka
persalinan tidak akan terjadi dalam waktu sekarang. Berendamlah di air hangat untuk
meredakan kontraksi ini. Namun jika kontraksi semakin kuat dan interval semakin
pendek maka bisa menjadi petunjuk bahwa persalinan akan segera berlangsung.
3 Kontraksi Saat Berhubungan
Pada saat berhubungan dapat juga menimbulkan terjadinya kontraksi.Oleh karena itu
sebelum anda berhubungan, pastikan terlebih dulu melalui pemeriksaan dokter bahwa
kehamilan anda dinyatakan sehat. Kontraksi yang terjadi saat berhubungan, tidak
akan menjadikan resiko lahir prematur, selama kehamilannya sehat dan tanpa
komplikasi
4 Kontraksi Sebenarnya
Kontraksi sebenarnya terjadi menjelang persalinan. Kontraksi berlangsung selama 40-
60 detik, terjadi di setiap 10 samai 20 menit atau satu jam, kemudian kontraksi terjadi
menjadi lebih sering. Kontraksi sebenarnya akan diikuti oleh pembukaan mulut
rahim, keluarnya cairan atau lendir yang bercampur darah yang berwarna kecoklatan
yang merupakan sebagai sumbatan lendir atau mukus pada leher rahim.

Namun ada beberapa jenis kontraksi abnormal yang terjadi menjelang persalinan,
yaitu:

Standar Asuhan Kebidanan Page 15


1 Inersia primer. Kontraksi yang tidak muncul sama sekali menjelang persalinan. Hal
ini disebabkan oleh adanya kelainan fisik ibu seperti, ibu kekurangan gizi, mengidap
penyakit berat, mengalami anemia, mioma.

2 Inersia Sekunder. Kontraksi yang lemah.

3 Takisistol dimana kontraksi sebetulnya ada cuman terlalu sering sebelum waktunya,
sehingga "habis" sebelum waktunya.

4 Inkordinat, kontraksi yg tidak menyeluruh, artinya hanya bagian perut tertentu aja yg
mengalami kontraksi sedangkan bagian perut lainnya tdk mengalami, sehinga
persalinan tdk mengalami kemajuan, hal ini biasanya disebabkan oleh mioma atau
KPSW (ketuban pecah sebelum waktunya).

5 Tetanis. Kontraksi yang disebabkan oleh ari-ari yg lepas yang menyebabkan


kontraksi terus menerus tiada henti, hal ini justeru sangat berbahaya dan dapat
mengancam ibu dan bayi yang dikandungnya. Untuk kasus ini harus dilakukan caesar
segera.

C Klasifikasi His
a His pendahuluan :
His tidak kuat, tidak teratur
b His pembukaan ( Kala 1)
His pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm
Mulai kuat, teratur dan sakit
c His pengeluaran (his mengedan) ( kala II)
Sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi dan lama
His untuk mengeluarkan janin
Koordinasi bersama antara: his kontraksi otot perut, kontraksi diafragma dan
ligament.
d His pelepasan Uri ( Kala III)
Kontraksi sedang untuk melepaskan dan melahirkan plasenta
e His pengiring ( kala IV)
Kontraksi lemah, masih sedikit nyeri, pengecilan rahim dalam beberapa jam
atau hari.

D Etiologi

Standar Asuhan Kebidanan Page 16


Sering tidak diketahui, ada faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan
preterm dapat diklasifikasikansecara rinci sebagai berikut:Menurut Manuaba (1998 : 221)
1 Keadaan sosial ekonomi
Ekonomi rendah
Gizi kurang
Anemia
Perokok atau pecandu berat
Pekerja berat
2 Faktor Ibu
Hipertensi
DM
Jantung dan paru
3 Anatomi Genitalia
Serviks incompeten
Kelainan rahim
4 Faktor Kebidanan
Grand multi
Preeklamsia
Perdarahan
Hidramnion
Hamil ganda
Ketuban pecah dini

5 Faktor Umur
Usia kurang dari 20 tahun
Diatas 35 tahun

E Kondisi yang menimbulkan kontraksi


Ada beberapa kondisi ibu yang merangsang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan
telah terjadi produksi prostaglandin :
1 Kelainan Bawaan Uterus
Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm
dengan kelainan uterus yang ada.
2 Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada
beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, Hidramnion,
kehamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain, infeksi asenden
merupakan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan
ketuban pecah.
3 Serviks Inkompeten

Standar Asuhan Kebidanan Page 17


Hal ini juga mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm ,riwayat
tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dapat terjadinya inkompeten. Mc
Donald menemukan 59 % pasiennya pernah mengalami dilatasi kuretase dan 8 %
mengalami konisasi, Demikian pula Chamberlain dan Gibbings yang menemukan 60
% dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49 %
mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.
4 Kehamilan Ganda
Sebanyak 10 % pasien dengan persalinan preterm ialah kehamilan ganda dan secara
umum kehamilan ganda mempuyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.
( Wiknjosastro et. al., 2002 : 313 )
F Pencegahan persalinan preterm
1 Prinsip usaha pencegahan partus prematurus (= usaha mempertahankan kehamilan
sedapat mungkin sampai usia kehamilan aterm) :
1. Edukasi pasien untuk pemeriksaan dan perawatan antenatal yang baik dan
teratur
2. Menjelaskanfaktor-faktor resiko kehamilan dan persalinan
3. Menjelaskan tanda / gejala yang merupakan pertanda bahaya yang harus
diketahui pasien, supaya pasien dapat langsung mencari pertolongan ke
rumah sakit(kontraksi / mules, keluar cairan / lendir / darah, demam, pusing,
dan sebagainya)
4. Menjelaskan tanda / gejala yang merupakan pertanda bahaya yang harus
diketahui pasien, supaya pasien dapat langsung mencari pertolongan ke
rumah sakit(kontraksi / mules, keluar cairan / lendir / darah, demam, pusing,
dan sebagainya)
5. Bila terjadi tanda-tanda tersebut, dilakukan penatalaksa-naan medik untuk
berusaha mempertahankan kehamilan sedapat mungkin
6. Bila ditemukan tanda yang tidak memungkinkan untuk mempertahankan
kehamilan lebih lama (misalnya, pembukaan serviks, ketuban pecah, gawat
janin,infeksi) diusahakan untuk menciptakan kondisi yang seoptimal mungkin
bagi ibudan janin, kemudian dilakukan terminasi kehamilan.
2 Secara teknis kebidanan persalinan preterm dapat dicegah melalui hal hal sebagai
berikut
Hal-hal yang dapat dicegah:
1. Menurunkan atau mengobati anak terlalu rapat dicegah dengan kontrasepsi.
2. Pekerjaan sewaktu harus diistirahatkan dan jangan terlalu berat.
3. Bila dijumpai partus prematurus habitualis diperiksa WR dan VDRL bila hamil

Standar Asuhan Kebidanan Page 18


banyak istirahat atau dirawat.

3 Hal-hal yang tidak dapat dicegah:


1. Kausa ignota (sebab yang tidak diketahui).
2. Faktor Ovum.
3. Tempat insersi plasenta.
4. Insersi tali pusat.
5. Plasenta previa.
6. Congenital anomaly.
7. Hamil ganda
8.Sukabangsa
9. Hidrorea /Hydrorrhoe (pengeluaran cairan dari vagina selama kehamilan)
(Mochtar, 1998 : 220 ).

G Metode yang digunakan untuk menghentikan kontraksi pada kehamilan pada kehamilan
preterm.
1 Tirah baring.
Dengan menyuruh ibu berbaring lebih enak pada posisi tubuhnya. Keberhasilannya
mungkin disebabkan oleh perasaan tenteram pada diri ibu.
2 Magnesium sulfat.
Peranan magnesium mungkin terletak pada sifat antagonisnya terhadap kalsium.
Untuk menghindari intoksikasi oleh magnesium sulfat maka harus diperhatikan
refleks patella tetap ada dan depresi respiratori.
3 Preparat agonis b- adrenergik
a Isoksuprin.
Preparat ini kurang begitu efektif dan bisa menimbulkan efak samping yaitu
takikardia dan hipotensi.
b Ritodrin.
Merupakan obat satu-satunya yang mempunyai indikasi spesifik adalah untuk
menghentikan persalinan preterm.
c Terbutalin.
Umumnya digunakan pada pasien yang diperkirakan akan mengalami
persalinan preterm dengan menghambat kontraksi miometrium.
d Fenoterol
Secara struktural menyerupai ritodrin.
4 Terapi kombinasi
Dari hasil penelitian beberapa ahli maka terapi kombinasi dari ritodrin dengan
magnesium sulfat memberikan efek yg lebih ampuh dari pada satu obat saja.

Standar Asuhan Kebidanan Page 19


5 Anti prostaglandin.
Preparat ini bekerja dengan menghambat kerja prostaglandin pada organ sasaran.
6. Preparat penghambat saluran kalsium.
7. Narkotik dan sedatif.

H Pathway

Standar Asuhan Kebidanan Page 20


I Diagnosa Kebidanan

Diagnosa Diagnosa Potensial Perencanaan

Standar Asuhan Kebidanan Page 21


Kehamilan dengan Maternal : 1.Monitoring keadaan umum
Perdarahan
kontraksi 2.Observasi tanda-tanda vital
Infeksi
Atonia uteri 3.Jelaskan kondisi ibu saat ini
B 4. Buat tanda persetujuan tertulis
Fetus :
untuk perawatan dan tindakan
Hipotermia
klien dirumah sakit/rumah bidan
BBLR
dan jelaskan tentang peraturan di
Hipoglikemia
kamar bersalin.
Sindrom gawat nafas
5.Kolaborasi dengan tim medis untuk
Perdarahan
tindakan selanjutnya
intracranial
6.Jelaskan tentang kemajuan
Rentan terhadap
persalinan.
infeksi
6. 7.Lakukan Perawatan dan
Hiperbilirubin
Kerusakan integritas pengawasan kala I
7. 8.Siapkan alat-alat
kulis
8. 9. Siapkan ruang untuk persalinan.
ikterus
Alat untuk persalinan.
1010. Perlengkapan untuk ibu dan bayi.
1111. Siapkan ibu
12 Ganti pakaian ibu
1313 Tempatkan di ruang bersalin.

14.Atur posisi ibu senyaman mungkin


1 15 Anjurkan miring ke kiri.
16 Ajarkan cara mengedan yang baik
dan benar
17 Anjurkan untuk relaksasi
18.Libatkan orang-orang untuk
memberi dukungan psikologis.
1819.Hadirkan pendamping yang
dianggap penting bagi ibu.
19 20.Beri ibu kebutuhan nutrisi berupa
makanan dan minuman.
20 21. Pantau tanda-tanda vital
21 22. Pantau kemajuan persalinan.
2 23. Lakukan pengawasan kala I atau
observasi dengan partograf
23 24. Rawat klien dikamar bersalin

Standar Asuhan Kebidanan Page 22


memantau proses persalinan .
24 25. Dukungan psikologis
25 26. Bantu kala II jika lahir spontan.
26 27. Lakukan manajemen aktiv kala
III
27 28. Lakukan perawatan bayi baru
lahir
28 29. Lakukan pengawasan kala 1V

PERDARAHAN POST PARTUM

A PENGERTIAN
Perdarahan post partum (HPP) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml atau lebih

dari traktus genetalia (palupi widyastuti, 2011)


Perdarahan post partum (HPP) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml atau lebih

setelah persalinan (Kathyn A. Melson, 1999).


Perdarahan post partum (HPP) adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah

persalinan berlangsung (Ida Bagus Gde Manuaba, 1998)


a Perdarahan post partum primer

Standar Asuhan Kebidanan Page 23


Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir, yang disebut

dengan perdarahan pasca persalinan dini(early post partum hemorrhage) atau lazim

disebut perdarahan pasca persalinan.

b Perdarahan post partum skunder

Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam bayi lahir dan disebut dengan perdarahan

nifas.

B ETIOLOGI
1 HPP primer
a Atonia uteri ( uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan)
b Trauma genetal ( meliputi penyebab spontan dan trauma akibat

penatalaksanaan atau gangguan, misalnya : kelainan yang menggunakan

peralatan termasuk seksio sesaria, episiotomy dan pemotongan gisiri)


c Retensio plasenta
d Sisa plasenta dan robekan jalan lahir
2 HPP Skunder
a Fragmen plasenta atau selaput plasenta bertahan
b Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet ( dapat terjadi di servik

vagina, kandung kemih, rectum)


c Terbukanya luka pada uterus ( setelah seksio sesaria atau rupture uteri)

C PATOFISIOLOGI
Faktor resiko yang terdiri dari : grande multipara, jarakpersalinan kurang dari 2 tahun,

persalinan dengan tindakan, pertolongan dukun, tindakan paksa dengan narkosa, kelahiran

sulit atau manual plasenta, penyakit yang diderita ( penyakit jantung,DM, atau kelainan

pembekuan darah) dapat menyebabkan atonia uteri, trauma genetal ( perineum, vulva ,

angina, servik, atau uiterus), retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir. Pada

atonia uterus ditandai dengan uterus tidak berkontraksi dan lembek menyebabkan pembuluh

darah pada bekas implantasi plasenta terbuka sehingga menyebabkan perdarahan.


Pada genetalia terjadi robekan atau luka episiotomy, ruptur varikositis, laserasi dinding

servik, inversui uterus menyebabkan perdarahan.Pada retensio plasenta ditandai dengan

Standar Asuhan Kebidanan Page 24


plasenta belum lahir setelah 30 menit. Sisa plasenta ditandai dengan plasenta atau sebagian

selaput ( mengandung pembuluh darah) tidak lengkap dan robekan jalan lahir terjadi

perdarahan segera setelah bayi lahir, jika ditangani dengan baik dapat menimbulkan

komplikasi tetapi apanila perdarahan tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan

komplikasi: dehidrasi, hipovolemik, syok hipovolemik, anemia berat, infeksi dan syok

septik, sepsis purpuralis, rupture uterus, kerusakan otak, trombo embolik, emboli paru. Pada

kehamilan berikutnya dapat mengalami aborsi spontan.

D PATWAY
E DIAGNOSA KEBIDANAN

Diagnosa Diagnosa Penatalaksanaan

potensial
1 Atonia uteri Syok - Lakukan
DS:
DO: hipovolemi pemeriksaan
- Uterus tidak
k TNSP
berkontraksi - Lakukan KBI dan
- Darah keluar
KBE
banyak dari - Berikan O2 dan

jalan lahir cairan cepat


- Terus lakukan

masase fundus

uteri dan pasang

utero vaginal

tampon
- Lakukan

pemeriksaan

golongan darang

Standar Asuhan Kebidanan Page 25


dan persiapan

tranfusi
2 retensio plasenta Atonia uteri - Tentukan jenis
DS:
DO: retensio yang
- Drah keluar
terjadi
banyak dari - Regangkan tali

jalan lahir pusat minta pasien


- Uterusa
untuk mengedan
lembek
- Ku menurun jika ekpulsi

plasenta tidak

terjadi coba traksi

terkontrol tali

pusat
- Pasang iuvd rl +

20 iu oxy

40tpm/mnt bila

perlu

kombinasikan

misoprostol 400

mg perektal
- Lahirkan plasenta

secara hati-hati
- Lakukan tranfusi

bila perlu

Standar Asuhan Kebidanan Page 26


PERSALINAN VAKUM

A. PENGERTIAN

Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi
vakum pada kepalanya. Alat ini dinamakan ekstrator vakum atau ventouse (Depkes
RI,2002). Menurut Mansjoer Arif (1999) tindakan ini dilakukan dengan memasang sebuah
mangkuk (cup) vakum di kepala janin dan tekanan negatif.
Ekstraksi vakum adalah tindakan obstetri yang bertujuan untuk mempercepat kala
pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi (Cuningham,
F2002).

B. ETIOLOGI
1. Kelelahan pada ibu : terkurasnya tenaga ibu pada saat melahirkan karena kelelahan fisik
pada ibu (Prawirohardjo, 2005).
2. Partus tak maju : His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persaiinan, tidak dapat
diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kematian (Prawirohardjo, 2005).
3. Gawat janin : Denyut Jantung Janin Abnormal ditandai dengan:
a. Denyut Jantung Janin irreguler dalam persalinan sangat bereaksi dan dapat kembali
beberapa waktu. Bila Denyut Jantung Janin tidak kembali normal setelah kontraksi,
hal ini mengakibatkan adanya hipoksia.
b. Bradikardia yang terjadi di luar saat kontraksi atau tidak menghilang setelah
kontraksi.
c. Takhikardi dapat merupakan reaksi terhadap adanya demam pada ibu (Prawirohardjo,
2005).

C. PATOFISIOLOGI
Adanya beberapa faktor baik faktor ibu maupun janin menyebabkan tindakan ekstraksi
forsep/ekstraksi vakum dilakukan. Ketidakmampuan mengejan, keletihan, penyakit jantung
(eklampsia), section secarea pada persalinan sebelumnya, kala II yang lama, fetal distress

Standar Asuhan Kebidanan Page 27


dan posisi janin oksiput posterior atau oksiput transverse menyebabkan persalinan tidak
dapat dilakukan secara normal.

Untuk melahirkan secara per vaginam maka perlu tindakan ekstraksi


vacum/forsep.Tindakan ekstraksi forsep/vacum menyebabkan terjadinya laserasi pada servik
uteri dan vagina ibu.Disamping itu terjadi laserasi pada kepala janin yang dapat
mengakibatkan perdarahan intrakranial.

D. PATHWAY

Standar Asuhan Kebidanan Page 28


E. DIAGNOSA KEBIDANAN

Standar Asuhan Kebidanan Page 29


DIAGNOSA DIAGNOSA POTENIAL PERENCANAAN

DS : Gawat janin yang siapkan lingkungan yang


adanya kelelahan ringan bersih dan aman
ketidakmampuan Ruptura uteri imminens siapkan alat, obat, dan
melakukan dorongan Udema porsio uteri penolong persalinan
atau tehknik relaksasi Robekan perineum berikan sentuhan, dukungan
kelihatan gelisah. yang lebih luas dan dorongan yang dapat
kelihatan putus asa Resiko tinggi infeksi membantu mengurangi
berhubungan dengan rasa nyeri
DO : episiotomi ajarkan tehknik pernapasan
Pembukaan lengkap atau Gangguan pola tidur dan relaksasi
hampir lengkap. berhubungan dengan observasi DJJ, his dan ttv
Kepala janin sudah nilai kemajuan persalinan
nyeri.
enganged Cephal haematoma lakukan pengosongan
Presentasi kepala Caput succedaneum kandung kemih.
Cukup bulan ( tidak lakukan pemasangan infus
prematur ) bila diperlukan
Tidak ada kesempitan siapkan untuk pertolongan
panggul. persalinan vakum (saat
Anak hidup dan tidak
syarat persalinan vakum
gawat janin. terpenuhi)
Penurunan H III / IV lakukan pendokumentasian
(dasar panggul ). semua tindakan yang
Kontraksi baik.
telah dilakukan
Ibu kooperatif dan masih
mampu untuk mengejan.
Ketuban sudah pecah /
dipecahkan.
Cairan amnion keluar

Standar Asuhan Kebidanan Page 30


HIPEREMESIS GRAVIDARUM

1 Pengertian

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah di masa kehamilan dengan frekuensi
serta gejala yang jauh lebih parah daripada morning sickness.

Pada morning sickness, mual dan muntah biasanya hanya berlangsung dalam 14
minggu pertama periode kehamilan dan umumnya dialami di pagi hari.Namun pada
kasus hiperemesis gravidarum, mual atau muntah bisa terus berlangsung lebih dari 14
minggu atau bahkan hingga bayi lahir.Gejalanya pun bisa muncul sepanjang hari dan
bukan di pagi hari saja.Tercatat ada beberapa penderita hiperemesis gravidarum yang
mengalami mual hingga 50 kali dalam sehari.

Hiperemesis gravidarum tidak boleh diabaikan dan harus ditangani secara medis.Selain
dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini juga dapat berpengaruh buruk pada
kesehatan fisik dan psikologis penderitanya, serta pertumbuhan bayi di dalam
kandungan.

2 Gejala

Berikut ini beberapa gejala hiperemesis gravidarum, di antaranya:

Mual dan muntah parah secara berkepanjangan.

Pusing.

Sakit kepala.

Jantung berdebar.

Sulit menelan makanan atau minuman.

Mengeluarkan air liur secara berlebihan.

Sangat sensitif terhadap aroma.

Jika tidak ditangani secara baik atau diabaikan, gejala hiperemesis gravidarum
bisa memburuk dan berisiko tinggi menyebabkan komplikasi, seperti:

Kehilangan berat badan.

Standar Asuhan Kebidanan Page 31


Dehidrasi.

Konstipasi.

Ketosis atau peningkatan kadar asam keton yang bersifat toksik di dalam darah.

Hipotensi atau tekanan darah rendah.

Trombosis vena dalam atau penggumpalan darah di dalam pembuluh vena.


Pingsan.
Berat badan bayi rendah.

Selain berdampak pada fisik, gejala hiperemesis gravidarum juga dapat mengarah
pada masalah lainnya, seperti:

Menurunnya kualitas hidup penderita akibat aktivitas sehari-hari yang terganggu,


baik di dalam kehidupan keluarga, sosial, maupun pekerjaan.
Masalah psikologis, seperti stres, bingung, cemas, bahkan putus asa.

3 Penyebab

Diperkirakan sekitar satu persen wanita hamil menderita hiperemesis gravidum.Meski


begitu, para ahli hingga kini belum bisa mengetahui secara pasti penyebabnya.

Ada beberapa hal yang diyakini ahli berkaitan erat dengan kemunculan hiperemesis
gravidarum atau dalam kata lain dapat meningkatkan risiko seorang wanita terkena
kondisi ini.

Pernah mengalami hiperemesis gravidarum di kehamilan sebelumnya.

Memiliki keluarga dekat yang pernah menderita hiperemesis gravidarum,


misalnya ibu, kakak, atau adik.
Mengandung anak perempuan atau anak kembar.

Menderita mola hidatidosa atau kegagalan pembentukan janin akibat kehamilan


abnormal.

Standar Asuhan Kebidanan Page 32


4 Diagnosis

Gejala hiperemesis gravidarum berupa intensitas mual dan muntah yang sangat tinggi
memang mudah dikenali. Namun terkadang dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih
detil, seperti tes darah, urine, atau USG untuk memastikan pasien benar-benar
menderita hiperemesis gravidarum dan bukan kondisi lainnya yang juga menyebabkan
gejala yang sama.

Beberapa contoh kondisi selain hiperemesis gravidarum dengan gejala mual dan muntah parah
adalah mola hidatidosa atau kegagalan pembentukan janin akibat kehamilan abnormal,
gangguan lambung, gangguan hati, serta penyakit usus buntu.

5 Pengobatan

Pengobatan gejala hiperemesis gravidarum harus dilakukan sedini mungkin agar


hasilnya efektif.Karena itu Anda disarankan untuk segera menemui dokter atau ke
rumah sakit jika merasakan mual atau muntah yang berkepanjangan.

Jika gejala hiperemesis gravidarum belum terlalu parah, kemungkinan dokter akan
meresepkan obat-obatan berikut ini untuk Anda konsumsi di rumah:

Obat-obatan steroid.

Vitamin B6 dan B12.

Obat antiemitik atau antimual.

Selain dengan obat-obatan, ada beberapa tips pendukung yang bisa Anda lakukan
untuk meringankan gejala hiperemesis gravidarum, di antaranya:

Hindari diri dari aroma-aroma yang dapat memicu mual.

Banyak istirahat dan kurangi gerak.

Ketika merasa mual, minumlah air jahe atau air soda.

Konsumsi kudapan kering, seperti biskuit, secara berkala.

Untuk kasus hiperemesis gravidarum yang parah, biasanya penanganan harus


dilakukan di rumah sakit untuk mencegah timbulnya komplikasi lebih lanjut yang
dapat membahayakan kesehatan penderita serta bayi yang dikandungnya.

Standar Asuhan Kebidanan Page 33


Dalam kasus seperti ini, biasanya obat-obatan antimual akan disuntikkan langsung
oleh dokter ke dalam otot atau pembuluh vena pasien. Selain itu.pemasangan
infus juga akan dilakukan untuk menjaga asupan cairan yang dibutuhkan oleh
pasien agar terhindar dari dehidrasi

6 Pathway HEG

Standar Asuhan Kebidanan Page 34


Diagnosa Diagnosa Potensial Perencanaan
Hiperemesis Gravidarum Maternal 1 Menganjurkan
ibu untuk
Ibu menyatakan merasa lemas Akibat defisiensi tiamin (B1) cukup istirahat
akan menyebabkan terjadinya dan jangan
Ibu menyatakan merasa mual diplopia,palsi nervus ke-6, terlalu lelah.
terus menerus nistagmus, ataksia, dan 2 Menganjurkan
kejang.Jika hal ini tidak segera ibu mengurangi
KU : di tangani ,akan terjadi aktifitas berat.
lemas psikosis korsakoff (amnesia, 3 Menganjurkan
menurunyaa kemampuan ibu untuk
Kesadaran : untuk beraktifitas),ataupun makan dalam
apatis kematian.oleh karena itu porsi sedikit
untuk hipermesis tingkat III tapi sering dan
TD : 70 / 60 perlu di pertimbangkan utamakan
mmHg terminasi kehamilan. jangan makan
makanan yang
Nadi : 120 x / Fetal berlemak
menit karena
Penurunan berat badan yang menyebabkan
Rr : 24 x / kronis akan meningkatkan mual.
4 Menganjurkan
menit kejadian gangguan
ibu untuk
pertumbuhan janin dalam
banyak minum.
Suhu : 37,5 0 C rahim (IUGR).
5 Menganjurkan

Standar Asuhan Kebidanan Page 35


ibu untuk
BB : 43 kg banyak
mengkonsumsi
TB : 160 cm sayuran hijau
6 Menganjurkan
LILA : 23,5 cm ibu untuk tidur
dengan posisi
miring agar
saat ibu muntah
tidak terjadi
aspirasi.
7 Memberikan
terapi infus RL
24 tpm.
8 Kolaborasi
dengan doter
SPOG.

MIOMA UTERI

A. PENGERTIAN
Mioma Uteri adalah tumor jinak otot polos uterus dengan berbagai komposisi
jaringan ikat. Nama lain : Leimioma Uteri dan Fibroma Uteri (Manuaba, 2001). Tumor ini
tak hanya terdiri dari jaringan otot polos namun juga terdiri dari elastin, kolagen, dan
matriks protein ekstraselular. Kumpulan tersebut disebut sebagai leiomyomata dan sering
juga disebut myoma

B. ETIOLOGI
Penyebab pasti dari mioma pada rahim masih belum diketahui secara jelas.
Namunbeberapa penelitian mengatakan bahwa mioma muncul dari satu sel ganas yang
berada diantara otot polos dalam rahim. Selain itu adanya faktor keturunan sebagai
penyebab mioma.Pertumbuhan dari mioma uteri di duga berkaitan dengan hormon estrogen.
Mioma menunjukkan pertumbuhan maksimal selama masa reproduksi, ketika pengeluaran
estrogen maksimal dan dapat bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dimana saat

Standar Asuhan Kebidanan Page 36


itu kadar estrogennya sangat tinggi. Tidak didapatkan bukti bahwa hormon estrogen
berperan sebagai penyebab mioma namun diketahui bahwa estrogen berpengaruh terhadap
pertumbuhan mioma.
Faktor Predisposisi Mioma Uteri
a. Umur
Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada
wanita berusia lebih dari 40 tahun.Mioma menunjukkan pertumbuhan maksimal selama
masa reproduksi dimana saat itu kadar estrogen sangat tinggi.Tumor ini paling sering
memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun. Dan mengalami pengecilan pada saat
menopause.
b. Paritas
lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai
saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya
mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.
c. Faktor ras dan genetik
Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri
tinggi.Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat
keluarga ada yang menderita mioma.
d. Fungsi ovarium
Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana
mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami
regresi setelah menopause.

C. PATOFISIOLOGI
Secara makroskopik , fibroid atau myoma berbentuk bulat atau oval, dengan konsistensi
kenyal dan gambaran khas seperti konde. Myoma ini dapat tunggal, tapi lebih sering
berkelompok dalam ukuran dan letak yang berbeda. Ada empat sub grup myoma secara
klinis yaitu :
a) Subserosa
Letaknya di bawah tunika serosa.Kadang-kadang vena yang ada di permukaan
pecah dan menyebabkan perdarahan intraabdominal.Myoma subserosa kadang timbul
di antara dua ligamen latum, berupa myoma intra ligamenter yang dapat menekan
ureter dan A. Iliaca. Ada kalanya tumor ini mendapat vaskularisasi yang lebih banyak
dari omentum sehingga lambat laun terlepas dari uterus, disebut sebagai myoma
parasitik..
b) Intramular
Terletak pada myometrium.Jaringan tumor ini terpisah dari jaringan normal
myometrium oleh selapis tipis jaringan ikat yang membentuk pseudokapsul.
Pseudokapsul ini berguna dalam operasi myomektomi sebagai penanda untuk

Standar Asuhan Kebidanan Page 37


enukleasi massa tumor. Bila tumor ini membesar dapat menyebabkan pembesaran
uterus dan berbenjol-benjol.
c) Submukosa
Tumor ini lebih jarang dari yang lain, sekitar 5% dari semua leiomyomata. Tumor
ini tumbuh di bawah endometrium dan dapat menyebabkan perdarahan yang banyak
dan infertilitas, sehingga memerlukan histerektomi.Tumor yang bertangkai dapat
menonjol keluar serviks dan dapat menyebabkan perdarahan intermenstrual atau
mengalami ulserasi dan infeksi.
d) Servikal Mioma
Tumor ini amat jarang terjadi, namun memberikan kesulitan terbesar dalam operasi
karena kesulitan dan kedekatannya dengan kandung kemih dan ureter. Pembesaran
massa tumor mengakibatkan fibroid mengalami impaksi dan menyebabkan retensi urin
dan obstruksi ureter.

D. PATHWAY

Standar Asuhan Kebidanan Page 38


E. DIAGNOSA KEBIDANAN

Standar Asuhan Kebidanan Page 39


DIAGNOSA DIAGNOSA POTENSIAL PERENCANAAN
Moma Uteri Anemia 1. Melakukan Pemeriksaan
Ds : Tekanan Darah tidak secara Subjektif dan objektif
Cemas stabil pada ibu (Anamnesa serta
Nyeri perut bagian bawah Infeksi pemeriksaan fisik pasien
Perdarahan tidak normal Perdarahan hebat dengan jelas dan lengkap)
Do : 2. Memberitahu hasil
Gangguan kontraksi otot pemeriksaan pada pasien
3. Berkolaborasi dengan dr
rahim
SPOG serta menganjurkan
Hipermenorea karena
ibu untuk USG
meluasnya permukaan
4. Memberikan KIE
endometrium saat
(Komunikasi, informasi dan
menstruasi
edukasi) pada pasien
Perdarahan
Bersabar dalam
berkepanjangan
menghadapi sakit
Penekanan rahim Memberi keyakinan dan
yang membesar
support bahwa sakitnya
Terasa berat di bisa sembuh
Menjaga nutrisi tetap baik
abdomen bagian
Menjaga kondisi tubuh
bawah
Sukar miksi atau tetap sehat
defekasi Mengurangi aktivitas
Terasa nyeri karena 5. Melaksanakan prosedur pre
tertekan urat syaraf operasi jika advice dr perlu di
Pemeriksaan lakukan tindakan operasi.
Informed consent
Ginekologis
Dijumpai kebetulan Persyaratan admisistrasi
dan tidak sengaja Pemeriksaan
pemeriksaan dengan laboratorium
USG Untuk usia lebih dari 35
tahun EKG atau konsul
radiologi
Untuk pasien kecurigaan
DM cek gula darah
sewaktu
Konsulkan kebagian lain
apabila terdapat kelainan
Persipan transfusi darah
jika perlu
Pasien dipuasakan 6-8

Standar Asuhan Kebidanan Page 40


jam sebelum dilakukan
tindakan
Ganti baju operasi, semua
perhiasan dan gigi palsu
dilepas dan diserahkan
kepada keluarganya
Di pasang infuse advice
dr , pasang DC sambil
cukur pubis dan vulva
hygieni daerah sekitar
operasi dibersihkan.

Standar Asuhan Kebidanan Page 41