Anda di halaman 1dari 12

e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN


HASIL BELAJAR DASAR DAN PENGUKURAN LISTRIK KELAS X TITL1
SMK NEGERI 3 SINGARAJA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
1
Dewa Gede Bayu Krisna, 2Agus Adiarta, 3Nyoman Santiyadnya

Jurusan Pendidian Teknik Elektro, FTK


Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

Email: { 1dewayugiana@yahoo.co.id , 2adiarta_pohgending@yahoo.com ,


3
santiyadnya@yahoo.com }

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Model Discovery Learning untuk
meningkatkan hasil belajar dasar dan pengukuran listrik kelas X TITL1 SMK Negeri 3
Singaraja tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas
(PTK), rancangan dalam penelitian ini menggunakan 2 siklus yang terdiri dari perencanan,
pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa
kelas X TITL 1 SMK Negeri 3 Singaraja yang berjumlah 38 orang. Berdasarkan data yang
diperoleh pada PTK siklus I siswa yang tuntas 25 siswa secara klasikal (71,43%) dalam
kategori cukup. Pada siklus II yang tuntas 30 orang siswa (85,71%) secara klasikal dalam
kategori baik. Perubahan dari siklus I ke siklus II mencapai peningkatan 14,28% secara
klasikal. Berdasarkan analisis dan pembahasan disimpulkan bahwa penerapan model
discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar dasar dan pengukuran listrik pada
siswa kelas X TITL1 SMK Negeri 3 Singaraja.

Kata kunci : Model Discovery Learning, Hasil belajar.

ABSTRACT

The purpose of this research was to know the implementation of Discovery Learning Model
in order to improve the basic learning achievement and electrical measurement of the tenth
class TITL 1 SMK Negeri 3 Singaraja in the academic year of 2014/2015. This study used
Classroom Action Research design. There were two cycles carried out that consisted of
planning, implementing, observing/evaluating, and reflecting. The subject of this research
was the tenth grade students of TITL in SMK N 3 Singaraja which consist of 38 students.
Based on the data founded the first cycle, it showed that students who reached the
standard achievement was 25 students by classically (71,43%) on enough category. In the
second cycle, the students who reached standard achievement was 30 students by
classically (85,71%) on good category. The improvement from the first cycle into the
second cycle was 14.28 % by classically. Based on the analysis and the discussion, it can
be concluded that the implementation of Discovery Learning model can improve students
achievement in the basic learning and electrical measurement of the tenth class TITL 1
SMK Negeri 3 Singaraja in the academic year of 2014/2015.

Keywords: Discovery Learning model, students achievement

22
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

PENDAHULUAN Pertama, siswa kurang menyiapkan


Ilmu pengetahuan dan teknologi diri sebelum pelajaran dimulai, walaupun
dewasa ini cukup mengalami kemajuan yang mereka telah mengetahui materi yang akan
sangat pesat. Oleh sebab itu perlu disampaikan oleh guru dalam pembelajaran.
diupayakan sumber daya manusia yang Kedua, dalam proses pembelajaran
berkualitas. Peningkatan mutu pada berbagai siswa terlihat kurang aktif, hal ini disebabkan
jenjang pendidikan termasuk Sekolah oleh siswa kurang antusias dalam menerima
Menegah Kejuruan merupakan titik berat pelajaran yang disampaikan guru di depan
pembangunan pendidikan pada saat ini dan kelas.keadaan tersebut tampak jelas karena
kurun waktu yang akan datang. Peningkatan siswa enggan bertanya baik kepada
dan pengembangan kemampuan temannya ataupun kepada guru pada saat
professional guru meliputi berbagai aspek berlangsungnya pelajaran.
yang salah satunya adalah kemampuan Ketiga, Guru sudah berupaya
dalam menggunakan model pembelajaran menerapkan model dan model pembelajaran
yang menyenangkan. Pada gilirannya akan inovatif, namun dalam implementasinya di
dapat meningkatkan keberhasilan kelas kurang sesuai dengan yang diharapkan
pendidikan. karena siswanya kurang paham apa yang di
Salah satu upaya yang dilakukan lakukan oleh dirinya. Sehingga guru masih
pemerintah untuk mengatasi rendahnya mendominasi dalam proses pembelajaran.
kualitas pendidikan adalah melakukan Keempat, dalam penyampaian materi
perubahan-perubahan kurikulum antara lain pelajaran, konsep-konsep yang diberikan
dengan menerapkan Kurikulum Tingkat guru kurang mendalam karena konsentrasi
Satuan Pendidikan (KTSP) secara nasional belajar siswa bertahan dalam jangka waktu
disemua jenjang pendidikan mulai tahun yang pendek. Akibatnya pengetahuan yang
2006. Sekarang pemerintah mulai diperoleh siswa menjadi kurang bermakna
menerapkan kurikulum baru yaitu Kurikulum serta konsep tersebut hanya bersifat hafalan,
2013. Kurikulum 2013 sering disebut juga sehingga konsep-konsep yang telah
dengan kurikulum berbasis karakter. diberikan oleh guru menjadi cepat pudar
Kurikulum ini merupakan kurikulum baru yang bahkan hilang dari ingatan siswa.
dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan .
Kebudayaan Republik Indonesia. Kurikulum Berdasarkan analisis yang dilakukan
2013 sendiri merupakan sebuah kurikulum penulis, bahwa model pembelajaran yang
yang mengutamakan pada pemahaman, skill, diterapkan di Kelas X TITL 1 SMK Negeri 3
dan pendidikan berkarakter, dimana siswa Singaraja kurang melatih siswa dalam proses
dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam pembelajaran, diharapkan dengan
proses berdiskusi dan presentasi serta menerapkan model discovery learning
memiliki sopan santun dan sikpa disiplin yang peserta yang pasif akan dapat dirangsang
tinggi. Kurikulum ini secara resmi oleh siswa yang aktif dalam teknik diskusi
menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan pada saat proses pembelajaran berlangsung
Pendidikan yang sudah diterapkan sejak karena model discovery learning memiliki
2006 lalu. kelebihan yang relevan dengan situasi dan
Berdasarkan observasi langsung pada karakteristik siswa SMK Negeri 3 Singaraja
saat PPL-Awal yang telah dilaksanakan pada diantaranya sebagai berikut.
bulan Juli tahun 2013 di SMK Negeri 3 1. Membantu siswa untuk memperbaiki dan
Singaraja dengan melakukan pengamatan meningkatkan keterampilan-keterampilan
dan wawancara dengan beberapa guru yang dan proses proses kognitif.
terkait, dapat diidentifikasi beberapa 2. Pengetahuan yang diperoleh melalui
permasalahan antara lain: model ini sangat pribadi dan ampuh

23
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

karena menguatkan pengertian, ingatan sistematis sebagai penggorganisasian


dan transfer pengetahuan atau bahan pelajaran baru
3. Menimbulkan rasa senang pada siswa, untuk membelajarkan pembelajar dalam
karena tubuhnya rasa menyelidiki dan suatu kelas tertentu.
berhasil, dan lain-lain. Menurut Kurniasih dan Berlin,
Bertolak dari paparan di atas maka Discovery Learning adalah teori belajar yang
perlu diupayakan pemecahannya dengan didefinisikan sebagai proses pembelajaran
cara menerapkan model Discovery Learning yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dalam
untuk meningkatkan hasil belajar Dasar dan bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa
Pengukuran Listrik kelas X TITL 1 SMK mengorganisasi sendiri. Sebagai model
Negeri 3 Singaraja. belajar, Discovery Learning mempunyai
Joice dan Weil (dalam Rusman, prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry)
2012:133) berpendapat bahwa model dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan
pembelajaran adalah suatu rencana atau yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada
pola yang dapat digunakan untuk membentuk Discovery Learning lebih menekankan pada
kurikulum (suatu rencana pengajaran jangka ditemukannya konsep atau prinsip yang
panjang) merancang bahan-bahan sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya
pengajaran, dan membimbing dikelas atau dengan discovery ialah bahwa pada
yang lain. Jadi, Joice dan Weil menekankan discovery masalah yang diperhadapkan
model pembelajaran merupakan suatu kepada sisa semacam direkayasa oleh guru.
rencana untuk merancang proses Pada inkuiri masalahnya bukan hasil
pembelajaran dalam suatu kelas tertentu. rekayasa, sehingga peserta didik harus
David Ausabel (Mulyani Sumantri, mengerahkan seluruh pikirannya untuk
1998, dalam Weni, 2010:8) model mengajar menemukan temuan-temuan di dalam
mencangkup pengorganisasian ilmu masalah itu melalui proses penelitian,
pengetahuan (curriculum content), kegiatan problem solving lebih menekankan pada
mental dalam proses informasi baru kemampuan menyelesaikan masalah.
(learning), dan bagaimana guru dapat Dalam mengaplikasikan model
mengaplikasikan gagasan tentang kurikulum Discovery Learning guru berperan sebagai
dan belajar pada saat menjanjikan bahan pembimbing dengan memberikan
pelajaran baru. David menekankan model kesempatan kepada siswa untuk belajar
mengajar adalah bagaimana guru secara aktif, sebagaimana pendapat guru
mengorganisasikan pengetahuan, bahan harus dapat membimbing dan mengarahkan
pelajaran baru untuk membelajarkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan.
pembelajar (siswa). Kondisi seperti ini ingin mengubah kegiatan
Pembelajaran adalah suatu upaya belajar mengajar yang teacher oriented
yang dilakukan oleh seseorang guru atau (berorientasi pada guru), menjadi student
pendidik untuk membelajarkan siswa yang oriented (berorientasi pada siswa).
belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), Dalam Discovery Learning,
pembelajaran merupakan tugas yang hendaknya guru harus memberikan
dibebankan kepada guru, karena guru kesempatan muridnya untuk menjadi seorang
merupakan tenaga professional yang problem solver, seorang scientis, historin,
dipersiapkan untuk itu (Tim Pengembang atau ahli matematika. Bahan ajar tidak
MKDP, 2011:128) disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa
Mengacu pada pendapat tersebut dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan
diatas, dapat disimpulkan bahwa model menghimpun informasi,membandingkan,
pembelajaran adalah suatu pola atau mengkategorikan, menganalisis,
rencana yang sengaja dirancang secara mengintegrasian, mereorganisasikan bahan

24
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

serta membuat kesimpulan-kesimpulan. 2) Hasil belajar discovery mempunyai efek


(kurinasih dkk, 2014 : 65) transfer yang lebih baik daripada hasil
lainnya.
Tiga ciri utama belajar menemukan, 3) Secara menyeluruh, belajar discovery
yaitu sebagai berikut. bisa meningkatkan penalaran siswa dan
1) Mengeksplorasi dan memecahkan kemampuan untuk berfikir bebas. Secara
masalah untuk menciptakan, khusus, belajar penemuan melatih
menggabungkan, dan menggeneralisasi keterampilan-keterampilan kognitif siswa
pengetahuan. untuk menemukan dan memecahkan
2) Berpusat pada siswa. masalah tanpa pertolongan orang lain.
3) Kegiatan untuk menggabungkan Beberapa keunggulan model
pengetahuan baru dan pengetahuan penemuan juga diungkapkan oleh Suherman
yang sudah ada. (dalam Nur Hamiyah, dkk :184) sebagai
Blake dkk. membahas tentang filsafat berikut.
penemuan yang dipublikasikan oleh Whewell. 1. Siswa aktif dalam kegiatan belajar,
Whewell mengajukan model penemuan sebab ia berfikir dan menggunakan
dengan tiga tahap, sebagai berikut. kemampuan untuk menemukan hasil
1) Mengklarifikasi. akhir.
2) Menarik kesimpulan secara induksi. 2. Siswa memahami benar bahan
3) Membuktikan kebenaran (verifikasi). pelajarannya, sebab mengalami sendiri
Alasan alasan tentang mengapa proses menemukannya. Sesuatu yang
model ini dipakai, yakni sebagai berikut. diperoleh dengan cara ini lebih lama
1) Merupakan suatu cara untuk untuk diingat.
mengembangkan cara belajar siswa 3. Menemukan sendiri bisa menimbulkan
aktif. rasa puas. Kepuasan bathin ini
2) Dengan menemukan dan menyelidiki mendorongnya untuk melakukan
sendiri konsep yang dipelajari, maka penemuan lagi sehingga minat
hasil yang diperoleh akan tahan lama belajarnya meningkat.
dalam ingatan dan tidakmudah dilupakan 4. Siswa yang memperoleh pengetahuan
siswa. dengan model penemuan akan lebih
3) Pengertian yang ditemukan sendiri mampu mentransfer pengetahuannya ke
merupakan pengertian yang betul-betul berbagai konteks.
dikuasai dan mudah digunakan atau 5. Model ini melatih siswa untuk lebih
ditransfer dalam situasi lain. banyak belajar sendiri.
4) Dengan menggunakan model Discovery, Selain memiliki beberapa keuntungan,
anak akan belajar tentang cara model discovery (penemuan) juga memiliki
menguasai salah satu model ilmiah yang beberapa kelemahan, di antaranya
dapat dikembangkan sendiri. membutuhkan waktu belajar yang lebih lama
5) Siswa belajar berpikir, menganalisis dan dibandingkan dengan belajar menerima.
mencoba memecahkan masalah yang Untuk mengurangi kelemahan tersebut,
dihadapi sendiri, dimana kebiasaan ini bantuan guru diperlukan. Bantuan guru dapat
akan di transfer dalam kehidupan nyata. dimulai dengan mengajukan beberapa
pertanyaan dan memberikan informasi
Beberapa keuntungan belajar secara singkat. Pertanyaan dan informasi
discovery, yaitu. tersebut dapat dimuat dalam lembar kerja
1) Pengetahuan bertahan lama dan mudah siswa (LKS) yang telah disediakan oleh guru
di ingat. sebelum pembelajaran dimulai.

25
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

Langkah langkah Operasional Discovery Setelah dilakukan stimulation langkah


Learning yaitu. selanjutnya adalah guru member kesempatan
kepada peserta didik untuk mengidentifikasi
1. Langkah Persiapan Model Discovery sebanyak mungkin agenda-agenda masalah
Learning yang relevan dengan bahan pelajaran,
- Menentukan tujuan pembelajaran. kemudian salah satunya dipilih dan
- Melakukan identifikasi karakteristik dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban
peserta didik (Kemampuan awal, minat, sementara atas pertanyaan masalah).
gaya belajar, dan sebagainya). Memberikan kesempatan peserta didik untuk
- Memilih materi pelajaran. mengidentifikasi dan menganalisa
- Menentukan topik-topik yang harus permasalahan yang mereka hadapi,
dipelajari peserta didik secara induktif merupakan teknik yang berguna dalam
(dari contoh-contoh generalisasi). membangun peserta didik agar mereka
- Mengembangkan bahan-bahan belajar terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, - Data collection (pengumpulan data).
tugas dan sebagainya untuk dipelajari Ketika eksplorasi berlangsung guru
peserta didik. juga memberi kesempatan kepada para
- Mengatur topik-topik pelajaran dari peserta didik untuk mengumpulkan informasi
yang sederhana ke kompleks, dari yang sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
konkret ke abstrak. membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.
- Melakukan penilaian proses dan hasil Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab
belajar peserta didik. pertanyaan atau membuktian benar tidaknya
hipotesis, dengan demikian anak didik diberi
2. Prosedur Aplikasi Model Discovery kesempatan untuk mengumpulkan data
Learning (collection) berbagai informasi yang relevan,
Dalam mengaplikasikan model membaca literatur, mengamati objek,
discovery learning di kelas, ada beberapa wawancara dengan nara sumber, melakukan
prosedur yang harus dilaksanakan dalam uji coba sendiri dan sebagainya.
kegiatan belajar mengajar secara umum Konsekuensi dari tahap ini adalah peserta
sebagai berikut. didik belajar secara aktif untuk menemukan
- Stimulation ( stimulasi/pemberian sesuatu yang berhubungan dengan
rangsangan) permasalahan yang dihadapi, dengan
Pertama-tama pada tahap ini pelajar demikian secara tidak disengaja peserta didik
dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan menghubungkan masalah dengan
kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk pengetahuan yang telah dimiliki.
tidak memberi generalisasi, agar timbul - Data processing (pengolahan data)
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Pengolahan data merupakan kegiatan
Disamping itu guru dapat memulai kegiatan mengolah data dan informasi yang telah
PBM dngan mengajukan pertanyaan, anjuran diperoleh para peserta didik baik melalui
membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya wawancara, observasi dan sebagainya, lalu
yang mengarah pada persiapan pemecahan ditafsirkan, dan semuanya diolah, diacak,
masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu
untuk menyeiakan kondisi interaksi belajar dihitung dengan cara tertentu serta
yang dapat mengembangkan dan membantu ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
peserta didik dalam mengeksplorasi bahan. Data processing disebut juga dengan
- Problem statement (pernyataan/ pengkodean coding/ kategorisasi yang
identifikasi masalah) berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut

26
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

peserta didik akan mendapatkan mencerminkan pilihan tindakan terhadap


pengetahuan baru tentang tentang jawaban/ kegiatan-kegiatan sains.
penyelesaian yang perlu mendapat d. Dari hasil belajar adalah informasi
pembuktian logis. verbal.
- Verification (pembuktian) e. Keterampilan-keterampilan motorik.
Pada tahap ini peserta didik melakukan Hasil belajar mempunyai peranan
pemeriksaan secara cermat untuk penting dalam proses pembelajaran. Proses
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis penilaian terhadap hasil belajar dapat
yang ditetapkan tadi dengan temuan memberikan informasi kepada guru tentang
alternative, dihubungkan dengan hasil data kemajuan siswa dalam upaya mencapai
processing. Berdasarkan hasil verifikasi maka tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan
dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut
generalisasi yang menekankan pentingnya guru dapat menyusun dan membina
penguasaan pelajaran atas makna dan kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik
kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang untuk keseluruhan kelas maupun individu.
mendasari pengalaman seseorang, serta
pentingnya proses pengaturan dan Ada berbagai macam pendekatan,
generalisasi dari pengalaman-pengalaman model, dan model pembelajaran yang dapat
itu. diterapkan dalam proses pembelajaran,
maka perlu dipilih pendekatan, model, dan
Hasil belajar merupakan suatu tujuan model pembelajaran yang tepat untuk
yang hendak dicapai dalam pembelajaran. meningkatkan hasil belajar dasar dan
Secara singkat Dimyati dan Mudjiono (dalam pengukuran listrik siswa. Sejalan dengan
Tonjaya, 2014 : 19) menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan, maka peneliti
Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. menggunakan model discovery learning
Dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah yang dapat meningkatkan hasil belajar
kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia dasar dan pengukuran listrik siswa. Adapun
menerima pengalaman belajarnya. materi yang dibahas adalah daya dan faktor
Nurkancana & Sunartana (1990:11) daya dan sistem 3 fase.
menyatakan bahwa Hasil belajar adalah
sesuatu yang dicapai seseorang dalam 1) Daya listrik
kegiatan belajar selama kurun waktu tertentu
yang dinyatakan dalam bentuk angka atau Daya listrik didefinisikan sebagai laju
nilai. (dalam Tonjaya, 2014 : 19) hantaran energi listrik dalam sirkuit listrik.
Gagne (dalam Tonjaya, 2014 : 19) Satuan SI daya listrik adalah Watt yang
mengatakan bahwa ada lima kemampuan menyatakan banyaknya tenaga listrik yang
hasil belajar, yaitu sebagai berikut. mengalir per satuan waktu (Joule/detik).
a. Keterampilan-keterampilan intelektual,
karena keterampilan keterampilan itu 2) Macam-Macam Daya Listrik
merupakan penampilan-penampilan
yang ditunjukkan oleh siswa tentang a) Daya Semu (S)
operasi-operasi intelektual yang dapat
dilakukannya. Daya semu merupakan daya listrik
b. Penggunaan strategi-strategi kognitif, yang melalui suatu penghantar transmisi
karena siswa perlu menunjukkan atau distribusi. Daya ini merupakan hasil
penampilan yang baru. perkalian antara tegangan dan arus yang
c. Berhubungan dengan sikap-sikap yang melalui penghantar.
dapat ditunjukkan oleh perilaku yang Contoh penggunaan daya semu

27
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

yakni pada transformator (trafo), generator V= I x R


dan kwh meter di rumah.
Dimana di sini, ketika ada
b) Daya Nyata (P) tegangan,atau beda potensial, maka akan
dihasilkannya suatu arus, I dengan hubungan
Daya nyata merupakan daya listrik kelinearan tertentu. Selanjutnya, karena
yang digunakan untuk keperluan terbentuknya arus, akan terbentuknya medan
menggerakkan mesin-mesin listrik atau magnet pada rotor
peralatan lainnya yang digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut, medan magnet tersebut
Contoh penggunaan daya nyata kemudian akan menghasilkan proses lanjutan
biasanya terdapat pada peratalan rumah berupa pembentukan fluks magnetic.
tangga seperti kipas angin, lampu, tv, radio, Menurut persamaan
dan lain-lain. BA cos
Rotor tersebut kemudian akan
c) Daya Reaktif (Q) digerakkan oleh turbin yang digerakkan dari
energi luar seperti energi kinetis dari air
Daya reaktif merupakan selisih antara terjun, energi panas matahari, atau energi
daya semu yang masuk pada penghantar nuklir, dan energi lainnya. Di sini sesuai dan
dengan daya nyata pada penghantar itu membuktikan prinsip dari generator itu sendiri
sendiri, dimana daya ini terpakai untuk daya yaitu untuk mengubah energi mekanik
mekanik dan panas. Daya reaktif ini adalah menjadi energi listrik.
hasil kali antara besarnya arus, tegangan dan Kemudian, saat rotor berputar, terjadi
Sin . perubahan sudut, dan menyebabkan
terjadinya perubahan fluks magenetik yang
3) Sistem 3 Fase ada terhadap tiap satuan waktu yang
Proses pembangkitan tegangan pada kemudian pada masing-masing stator akan
generator 3 fasa. timbul GGL induksi atau gaya gerak listrik.
Pembangkitan tiga fasa dihubungkan Selanjutnya dari gaya gerak listrik
dengan cara kerja generator. Pada generator induksi tersebut, akan timbul tegangan
sebenarnya telah terpasang 3 set induktor dengan beda fasa sebesar 120 derajat.
pada stator, di mana pada ketiga induktor Perbedaan sudut tersebutlah yang
tersebut dipasang dengan beda fasa sebesar dinamakan sebagai pembangkitan sistem
120 derajat. Pada generator tiga fasa ini, tenaga listrik 3 fasa.
telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat
tiga bagian yaitu ada bagian stator dan rotor.
Maka pada generator tiga fasa ini, untuk
menghasilkan tegangan nominal, tentu
dibutuhkan kekuatan magnet pada tiap
statornya. Walaupun pada generator tiga
fasa, pada stator sudah terdapat medan
magnet walaupun nilainya sangatlah kecil.
Pada bagian rotor, rotor memiliki
kumparan yang kemudian kumparan tersebut
diberikan beda potensial, sehingga pada
kumparan akan teralirkan arus hal ini sesuai
dengan berlakunya hukum Ohm itu sendiri.

28
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

Gambar 1. Perbedaan Sudut Sistem Listrik 3 netral. Tegangan Va, Vb dan Vc disebut
fase tegangan fase atau Vf.

Pada sistem tenaga listrik 3 fase,


idealnya daya listrik yang dibangkitkan,
disalurkan dan diserap oleh beban semuanya
seimbang, P pembangkitan = P pemakain,
dan juga pada tegangan yang seimbang.
Pada tegangan yang seimbang terdiri dari
tegangan 1 fase yang mempunyai magnitude Gambar 4. Hubungan Bintang (Y, wye).
dan frekuensi yang sama tetapi antara 1 fase Dengan adanya saluran / titik netral
dengan yang lainnya mempunyai beda fase maka besaran tegangan fase dihitung
sebesar 120listrik, secara fisik mempunyai terhadap saluran / titik netralnya, juga
perbedaan sebesar 60, dan dapat membentuk sistem tegangan 3 fase yang
dihubungkan secara bintang (Y, wye) atau seimbang dengan magnitudenya (akar 3
segitiga (delta, , D). dikali magnitude dari tegangan fase).
Vline = 3 Vfase = 1,73 Vfase.
Untuk arus yang mengalir pada
semua fase mempunyai nilai yang sama,
ILine = Ifase , Ia = Ib = Ic.
Hubungan Segitiga
Pada hubungan segitiga (delta, , D)
ketiga fase saling dihubungkan sehingga
membentuk hubungan segitiga 3 fase.

Gambar 2. Fasor Sistem Tenaga Listrik 3


fase

Gambar 2.2 menunjukkan fasor


diagram dari tegangan fase. Bila fasor-fasor
Gambar 3. Hubungan Segitiga (delta, , D).
tegangan tersebut berputar dengan
kecepatan sudut dan dengan arah
Dengan tidak adanya titik netral, maka
berlawanan jarum jam (arah positif), maka
besarnya tegangan saluran dihitung antar
nilai maksimum positif dari fase terjadi
fase, karena tegangan saluran dan tegangan
berturut-turut untuk fase V1, V2 dan V3.
fasa mempunyai besar magnitude yang
sistem 3 fase ini dikenal sebagai sistem yang
sama, maka:
mempunyai urutan fasa a b c . sistem
Vline = Vfase
tegangan 3 fase dibangkitkan oleh generator
Tetapi arus saluran dan arus fasa
sinkron 3 fase.
tidak sama dan hubungan antara kedua arus
Hubungan Bintang (Y, wye)
tersebut dapat diperoleh dengan
Pada hubungan bintang (Y, wye),
menggunakan hukum kirchoff, sehingga:
ujung-ujung tiap fase dihubungkan menjadi
satu dan menjadi titik netral atau titik bintang. Iline = 3 .Ifase = 1,73.Ifase
Tegangan antara dua terminal dari tiga Keuntungan Listrik 3 fase yaitu sebagai
terminal a b c mempunyai besar berikut.
magnitude dan beda fasa yang berbeda 1. Menyediakan daya listrik yang besar (
dengan tegangan tiap terminal terhadapa titik biasanya pada industri menengah dan
29
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

besar ). Industri atau hotel memerlukan Teknik dskritif kuantitatif merupakan suatu
daya listrik yang besar sehingga teknik yang menggunakan paparan
memerlukan line yang banyak. Tapi pada sederhana yang berkaitan dengan angka
output terakhir untuk pemakaian hanya . Adapun langkah-langkah analisis data
memerlukan satu phasa ( memilih salah tersebut adalah sebagai berikut.
satu dari 3 fase ). Listrik 3 phasa a) Rata-rata hasil belajar siswa dengan
biasanya diperlukan untuk menggunakan rumus sebagai berikut.
menggerakkan motor industri yang
memerlukan daya besar.
2. Karena menggunakan tegangan yang M
X (Adi, 2014:95)
lebih tinggi maka arus yang akan N
mengalir akan lebih rendah untuk daya
yang sama. Sehingga untuk daya yang Keterangan:
besar, kabel yang digunakan bisa lebih M = Mean (rata-rata) skor
kecil. X Jumlah skor klasikal
3. Untuk motor induksi, listrik 3 fase tidak N = Jumlah siswa
memerlukan kapasitor.
b) Tingkat ketuntasan individual dengan
METODE PENELITIAN menggunakan rumus sebagai berikut.
Penelitian ini menggunakan
rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). SHT
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan NA 100
suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar SMI
berupa sebuah tindakan, yang sengaja (Nurhasan, 1990, dalam Weni, 2010:43)
dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas
secara bersama. Tindakan tersebut diberikan Keterangan:
oleh guru atau dengan arahan dari guru yang NA = Nilai Akhir
dilakukan oleh siswa. Tujuan penelitian SHT = Skor Hasil Tes
tindakan kelas secara umum adalah SMI = Skor Maksimal Ideal
memperbaiki permasalahan kegiatan hasil
belajar (KBM). c) Tingkat Ketuntasan Belajar (KB)
Prosedur penelitian tindakan kelas ini mengunakan rumus sebagai berikut.
dilaksanakan sampai tercapainya rata-rata
hasil belajar secara individu minimal sebesar Jumlah siswa tuntas
KB 100%
70% dan secara klasikal sebesar 75%. jumlah siswa keseluruhan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan Keterangan:
dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. KB = Ketuntasan Belajar
Tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: 1)
perencanaan, 2) pelaksanaan, 3)
observasi/evaluasi, 4). Refleksi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Instrument pengumpulan data yang Ketuntasan siswa secara klasikal
digunakan untuk memperoleh data dalam terhadap materi daya dan faktor daya dan
PTK ini menggunakan: a) model observasi sistem 3 fase pada refleksi awal sebesar
dengan instrument pengumpulan data yang 64,85% termasuk kategori kurang, pada
berupa lembar pengamatan, b) model tes. siklus I sebesar 71,43% termasuk kategori
Data mengenai hasil belajar cukup dan presentase ketuntasan siswa
keterampilan berbicara siswa dianalisis secara klasikal terhadap materi sistem 3 fase
dengan menggunakan deskritif kuantitatif. pada siklus II sebesar 85,71% termasuk
30
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

kategori baik, jadi dapat disimpulkan bahwa


presentase ketuntasan siswa secara klasikal
terhadap materi daya dan faktor daya dan
sistem 3 fase mengalami peningkatan
sebesar 14,28% dari siklus I dan II. berikut
gambar grafik dari peningkatan dari masing-
masing siklus.

Gambar 6. Proses pengambilan data hasil


belajar

Gambar5. Grafik dari peningkatan dari


masing-masing siklus.

Tabel 01. Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus I dan Siklus II


Variabel Refleksi Awal Siklus I Siklus II Peningkatan
Hasil Belajar
64,85% 71,43% 85,71% 14,28%
Dasar dan
(dari siklus I ke
Pengukuran
kurang siklus II)
Listrik cukup Baik
Dari tabel 01 ditunjukkan daya dan sistem 3 fase mengalami
presentase ketuntasan siswa secara peningkatan sebesar 14,28% dari siklus I
klasikal terhadap materi daya dan faktor dan II.
daya dan sistem 3 fase pada refleksi awal
sebesar 64,85% termasuk kategori Pembahasan
kurang, pada siklus I sebesar 71,43% Berdasarkan hasil penelitian di atas
termasuk kategori cukup dan presentase yang diperoleh pada siklus I yaitu tingkat
ketuntasan siswa secara klasikal ketuntasan siswa secara klasikal terhadap
materi daya dan faktor daya dan sistem 3
terhadap materi sistem 3 fase pada siklus fase dalam pelajaran Dasar dan Pengukuran
II sebesar 85,71% termasuk kategori Listrik 71,43% ternyata hasil tersebut belum
baik, jadi dapat disimpulkan bahwa memenuhi target sesuai dengan harapan
presentase ketuntasan siswa secara penelitii. Hal ini disebabkan oleh beberapa
klasikal terhadap materi daya dan faktor kendala yaitu: (1) Pada saat diberi

31
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

kebebasan untuk mencari kelompok, kegiatan belajar memberikan arah sehingga


beberapa siswa ada yang tidak mau saling tujuan yang dikehendaki bisa tercapai.
berkelompok, sehingga pembelajaran tidak Setelah penyempurnaan pada siklus
berjalan dengan maksimal. Hal ini II, maka diperoleh peningkatan hasil belajar
disebabkan oleh kecenderungan siswa yang Dasar dan Pengukuran Listrik dari
pintar memilih kelompok dengan siswa yang persentase rata-rata kelas pada siklus I
dianggap pintar, sehingga siswa yang pintar 71,34% menjadi 85,71% pada siklus II.
dan tidak menjadi kelompok yang berbeda. Tindakan pada siklus II memberikan
Akibatnya pada kelompok siswa yang peningkatan sesuai dengan harapan dan
memiliki kemampuan kurang tidak tercipta memenuhi kriteria keberhasilan yang sudah
hubungan teman sebaya sehingga ditentukan karena hanya ada 5 siswa yang
mengalami kendala dalam kelompoknya mendapat nilai di bawah KKM yang
dikarenakan kemampuan mereka sama- ditetapkan yakni 70.
sama rendah, (2) guru lebih banyak
menampilkan contoh-contoh berupa gambar, SIMPULAN DAN SARAN
bayangan-bayangan di kehidupan nyata agar Berdasarkan atas permasalahan yang
siswa lebih mudah untuk menggali informasi dirumuskan dan hasil yang diperoleh dari
ataupun menemukan konsep dengan sendiri penelitian maka dapat disimpulkan hasil
sehingga tujuan dari model pembelajaran belajar siswa kelas X TITL1 semester genap
discovery learning bisa tercapai dengan SMK Negeri 3 Singaraja dalam mata
maksimal pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik pada
Berdasarkan kendala-kendala siklus I hasilnya berada pada kategori cukup
tersebut maka diadakan penyempurnaan dengan hasil presentase 71,34%. Sedangkan
pada siklus berikutnya yaitu (1) Perbaikan ada siklus II persentase hasil belajar siswa
tindakan yang dilakukan menekankan mencapai 85,71% yang berada pada kategori
langkah-langkah model pembelajaran baik. Hasil belajar dari siklus I dan siklus II
discovery learning sehingga siswa lebih terdapat kenaikan sebesar 14,28%.
paham terhadap cara kerja dan tugas mereka Mengacu kepada temuan penelitian
dalam pembelajaran; (2) pada saat ini, dapat dikemukakan beberapa saran
membentuk kelompok, guru membentuk sebagai berikut. Kepada siswa diharapkan
kelompok harus melihat kemampuan siswa agar dalam prosespembelajaran selalu
agar siswa yang kurang bisa diberi tahu oleh terlibat langsung dalam pembelajaran.
siswa yang pintar, sehingga akan tercipta Kepada guru SMK diharapkan mencoba
tutor yang sebaya; (3) guru lebih banyak model discovery learning dalam
menampilkan contoh-contoh berupa gambar, pembelajaran sebagai salah satu model
bayangan-bayangan di kehidupan nyata agar pembelajaran. Kepada peneliti lain
siswa lebih mudah untuk menggali informasi diharapkan penelitian ini dapat dijadikan
ataupunmenemukan konsep dengan sendiri acuan ataupun referensi demi ketuntasan
sehingga tujuan dari model pembelajaran penelitian selanjutnya.
discovery learning bisa tercapai dengan
maksimal; (4) siswa belum terbiasa dengan DAFTAR PUSTAKA
penerapan model pembelajaran discovery Agung, Iskandar. 2010. Meningkatkan
learning . Hal ini disebabkan siswa baru kali Kreativitas Pembelajaran Bagi Guru.
pertama belajar dengan menggunakan model Jakarta: Bestari Bhuana Murni
pembelajaran discovery learning oleh karena
itu mereka perlu beradaptasi. Hal ini sejalan Aswar, Saifuddin.1992. Reliabilitas dan
dengan pendapat sardiman (2003) (dalam Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tonjaya, 2014) bahwa motivasi dalam

32
e-Journal Jurnal JPTE Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Teknik Elektro (Volume: 4 No.1 Tahun 2015)

Cekdin, cekmas dan Taufik Barlian.2013.


Rangkaian Listrik. Yogyakarta: Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran
Penerbit Andi Mengembangkan Profesionalisme
Guru.Edisi 2. Jakarta : PT. Raja
Dantes, Nyoman. 2012. Metode Penelitian. Grafindo Persada
Yogyakarta : Penerbit Andi
Sarimun, Wahyudi N. 2011. Buku Saku
Erick Julian Molle. 2013. Apa itu Kurikulum Pelayanan Teknik. Depok : Garamond
2013. Tersedia pada
http://www.gubuginformasi.com/2014/ Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif
04/apa-itu-kurikulum-2013.html. (di Kualitatif Dan R & D. Bandung :
akses pada hari Kamis, 11 Desember Penerbit ALFABETA
2014. Jam 11.15 WITA)
Supartini,Weni. 2010. Penerapan Model
Hamzah dan B. Uno. 2007. Model Pembelajaran Tipe STAD untuk
Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Meningkatkan Hasil Belajar IPA Pada
Siswa Kelas IV Sekolah Dasar No. 5
Hamiyah,Nur dan Muhamad Jauhar.2014. Sukasada Tahun Pelajaran
Strategi Belajar Mengajar Di Kelas. 2009/2010. (tidak diterbitkan)
Jakarta: Prestasi Pustaka Karya
Thobroni, Muhammad dan Arif Mustofa.
Hindiarno dan Noer Boedi Harnowo. 2007. 2011. Belajar & Pembelajaran.
Listrik Di Rumahku. Jakarta : Pakar Jogjakarta : AR-RUZZ MEDIA
Raya
Tonjaya, Adi. 2014. Penerapan Model
Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2008. Evaluasi Pembelajaran Kontekstual Untuk
Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Meningkatkan Hasil Belajar Dasar
Presindo Dan Pengukuran Listrik Siswa Kelas X
TITL3 (Teknik Instalasi Tenaga Listrik)
Kusumah,Wijaya dan Dedi Dwitagama. 2012. SMK Negeri 3 Singaraja Tahun
Mengenal Penelitian Tindakan Pelajaran 2014/2015. Undiksha :
Kelas.Jakarta: PT. Indeks Skripsi Pendidikan Teknik Elektro
(Tidak diterbitkan)
Kokasih,E.2014.Strategi Belajar Dan
Pembelajaran. Bandung: Yrama Wena, Made. 2008. Strategi Pembelajaran
Widya Inovatif Kontemporer. Jakarta : Bumi
Aksara
Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014.
Perancangan Pembelajaran Prosedur Yuniar, Tanti. (Tidak Ada Tahun Terbit).
Pembuatan RPP. Jakarta : Kata Pena Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
Penerbit : Agung Media Mulia
Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014..
Sukses Mengimplementasikan ----------2013. Pedoman Penulisan Skripsi dan
Kurikulum 2013. Jakarta : Kata Pena Tugas Akhir Program Sarjana dan
Diploma 3 Universitas Pendidikan
Riduwan. 2007. Skala Pengukuran Variabel- Ganesha. Singaraja : Undiksha
Variabel Penelitian. Bandung :
Alfabeta

33