Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Disusun Oleh :

Nidi Pratiwi
34403515093

BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)


AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR
Jln. Pasir Gede Raya No. 19 Telp. (0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur 4321
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : Tuberculosis (TBC)


Sasaran : Klien dan keluarga
Hari/tanggal : Jumat, 09 Desember 2016
Waktu Pertemuan : 35 Menit
Tempat : Desa Babakan Karet Cianjur
Pemberi materi : Nidi Pratiwi

A. LatarBelakang
Di Indonesia salah satu penyakit yang ditakuti pada abad ke-19, TBC adalah
penyebab nomor 8 kematian anak usia 1 hingga 4 tahun pada tahun 20- Berdasarkan
data dari WHO tahun 1993 didapatkan fakta bahwa sepertiga penduduk Bumi telah
diserang oleh penyakit TBC. Sekitar 8 juta orang dengan kematian 3 juta orang
pertahun. Diperkirakan dalam tahun 2002-2020 akan ada 1 miliar manusia terinfeksi,
sekitar 5-10 persen berkembang menjadi penyakit dan 40 persen yang terkena
penyakit berakhir dengan kematian.
Prevalensi infeksi tuberkulosis di negara berkembang termasuk Indonesia masih
tinggi. Tuberkulosis pada anak cukup penting dengan alasan bahwa tuberkulosis pada
bayi dan anak akan lebih mudah berlanjut menjadi TBC paru yang lebih berat dan
dapat terjadi TBC ekstra paru; infeksi tuberkulosis atau sakit tuberkulosis
menunjukkan adanya penularan di lingkungannya dan tuberkulosis pada anak yang
tidak ditangani akan menjadi sumber infeksi dimasa yang akan datang. Adanya
kontak serumah dengan individu yang menularkan merupakan faktor risiko untuk
infeksi atau sakit tuberkulosis pada bayi dan anak. Di Indonesia data tentang hal
tersebut masih terbatas. Adanya infeksi tuberkulosis dapat ditelusuri dari adanya
kontak serumah dengan penderita TBC dewasa dengan BTA (+).
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit lama, namun sampai saat ini masih belum
bisa dimusnahkan. Jika dilihat secara global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia
setiap tahunnya, dimana angka ini melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan
Indonesia adalah negara terbesar ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak di
dunia, setelah Cina dan India. Sulitnya memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycobacterium tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya
adalah munculnya bakteri yang resisten terhadap obat yang digunakan. Karena itu,
upaya penemuan obat baru terus dilakukan.

B. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum :
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan peserta dapat
menginformasikan dan mengetahui tentang penyakit TBC sehingga dapat menjaga
kesehatan dan lingkungan sekitar.
Tujuan Instruksional Khusus :
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan peserta dapat menjelaskan
kembali :
1. Pengertian TBC
2. Proses penularan TBC
3. Tanda dan gejala TBC
4. Pencegahan TBC
5. Pengobatan TBC

C. Materi Penyuluhan (terlampir )


1. Pengertian TBC
2. Proses penularan TBC
3. Tanda dan gejala TBC
4. Pencegahan TBC
5. Pengobatan TBC

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi

E. Media
1. Leaflet

F. KegiatanPenyuluhan
No Kegiatanmahasiswa Waktu Kegiatan peserta
1 Pendahuluan 5 menit
Memberi salam Menjawab salam

Memberi pertanyaan persepsi Menjawab


Menyimak
Mengkonsumsikan pokok
Menyimak
bahasan
Mengkomunikasikan tujuan
2 Kegiatan Inti 25 menit
Memberikan penjelasan Menyimak
tentang materi penyuluhan
Memberikan kesempatan klien Bertanya

dan keluarga untuk bertanya


Memperhatikan
Menjawab pertanyaan
keluarga
3 Penutup 5 menit
Menyimpulkan materi Memperhatikan
penyuluhan bersama keluarga
Memberikan evaluasi secara Menjawab

lisan Menjawabsalam

Memberikan salam penutup

G. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
Peserta yang hadir pada penyuluhan Tuberculosis (TBC) pada
tanggal.. Mei 2017 adalah pasien yang hadir berjumlah 30 orang.
Penyuluhan dilaksanakan di ruang pada jam wib. Penyuluhan dilaksanakan
dengan media leaflet dan demonstrasi
2. Evaluasi proses
Penyuluhan berlangsung dengan tertib dan lancar. Penyuluhan berlangsung
selama 30 menit mulai jam wib sampai jam wib. Pasien mengikuti acara
penyuluhan sampai selesai.
3. Evaluasi hasil
Peserta mengetahui apa itu TBC,bagaimana penularannya,apa saja tanda dan
gejalanya,apa saja penyebab TBC dan mengetahui bagaimana cara untuk
mencegah TBC.
a. Prosedur : Akhir penyuluhan
b. Waktu : 5 menit
c. Bentuk soal : Tanya jawab
d. Jumlah soal : 4 soal
e. Jenis soal :
1) Apa saja gejala utama dan gejala tambahan pada TBC ?
2) Jelaskan kembali cara penularan TBC ?
3) Sebutkan apa saja cara untuk mencegah TBC ?
4) Pengobatan apa saja yang dilakukan untuk penyakit TBC ?
f. Jawaban soal :
1. Gejala umum tuberculosis anak :
Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
Batuk lama lebih dari 30 hari.
Nafsu makan menurun
Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus,
malaria, atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat
malam.
Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya
multiple.
Diare yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
2. Cara penularan :
Droplet (Batuk orang TB paru)
Makanan
Luka
3. Cara pencegahan TBC :
Hindari Kontak dengan Penderita TB
Isolasi penderita TB
Peningkatan Nutrisi pada anak
Vaksinasi BCG.
Peningkatan Nutrisi pada anak
Menjaga kebersihan rumah dari dahak penderita TB
Memperbaiki saluran ventilasi rumah
4. Pengobatan TBC :
Melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan seperti puskesmas
dan rumah sakit.
Melakukan pengobatan selama 6-9 bulan.
Minum obat secara lengkap, teratur, dan hingga tuntas.

TUBERCULOSISIS
( TBC )

1. PENGERTIAN TBC
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang
sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih
sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
Insidensi TBC dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di
seluruh dunia. Demikian pula di Indonesia, Tuberkulosis / TBC merupakan masalah
kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit
(morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Dengan penduduk lebih dari 200 juta
orang, Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan China dalam hal jumlah
penderita di antara 22 negara dengan masalah TBC terbesar di dunia. Hasil survei
Kesehatan Rumah Tangga Depkes RI tahun 1992, menunjukkan bahwa Tuberkulosis /
TBC merupakan penyakit kedua penyebab kematian, sedangkan pada tahun 1986
merupakan penyebab kematian keempat. Pada tahun 1999 WHO Global Surveillance
memperkirakan di Indonesia terdapat 583.000 penderita Tuberkulosis / TBC baru
pertahun dengan 262.000 BTA positif atau insidens rate kira-kira 130 per 100.000
penduduk. Kematian akibat Tuberkulosis / TBC diperkirakan menimpa 140.000
penduduk tiap tahun.
Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat.
Saat ini setiap menit muncul satu penderita baru TBC paru, dan setiap dua menit
muncul satu penderita baru TBC paru yang menular. Bahkan setiap empat menit
sekali satu orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Kenyataan mengenai penyakit
TBC di Indonesia begitu mengkhawatirkan, sehingga kita harus waspada sejak dini &
mendapatkan informasi lengkap tentang penyakit TBC .

2. CARA PENULARAN TBC


Sumber penularan adalah dahak penderita TBC yang mengandung kuman
TBC. TBC menular melalui udara bila penderita batuk, bersin dan berbicara dan
percikan dahaknya yang mengandung kuman TBC melayang-layang di udara dan
terhirup oleh oranglain. Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar
dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC
batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC
dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh
yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah
bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh
seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan
lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

3. TANDA DA GEJALA TBC


Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala ksusus
yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu
khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa
secara klinik.
a. Gejala umum tuberculosis anak :
5. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas / tidak naik dalam 1 bulan dengan
6. penanganan gizi.
7. Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara adekuat
8. (failure to thrive).
9. Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria, atau
10. infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat malam.
11. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya
multiple.
12. Batuk lama lebih dari 30 hari.
13. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.
b. Gejala khusus
1. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut
sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi,
adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
2. Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau
diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak
yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji
tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan 5 tahun yang tinggal serumah
dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30%
terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

4. PENCEGAHAN TBC PADA ANAK


1. Perlindungan terhadap sumber penularan.
Prioritas pengobatan sekarang ditujukan terhadap orang dewasa. Akan
tetapi seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa TBC anak yang tidak
mendapat pengobatan akhirnya menjadi TBC dewasa dan akan menjadi sumber
penularan.
2. Vaksinasi BCG.
Vaksin BCG merupakan suatu attenuated vaksin yang mengandung kultur
strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap
TBC. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi efikasinya menunjukkan
hasil yang bervariasi yaitu antara 0 80% di seluruh dunia. Vaksin BCG secara
signifikan mengurangi resiko terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi
dari vaksin tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur,
cara/teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada infants, dan anak-anak yang
hasil uji tuberculinnya negatif dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa
dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak menerima terapi atau menerima terapi
tetapi resisten terhadap isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus
diberikan kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien
infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain bayi
sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu menjalani skin
test.
Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji tuberculinnya
posistif atau telah menderita active tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG
tidak memiliki efek untuk pasien yang telah terinfeksi TBC. Vaksin BCG
merupakan serbuk yang dikering-bekukan untuk injeksi berupa suspensi. Sebelum
digunakan serbuk vaksin BCG harus dilarutkan dalam pelarut khusus yang telah
disediakan secara terpisah. Penyimpanan sediaan vaksin BCG diletakkan pada
ruang atau tempat bersuhu 2 8oC serta terlindung dari cahaya. Pemberian vaksin
BCG biasanya dilakukan secara injeksi intradermal/intrakutan (tidak secara
subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai alternatif bagi
bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal. Dosis yang
digunakan adalah sebagai berikut:

1. Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis vaksin
BCG sebanyak 0,05ml (0,05mg).

2. Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin BCG
sebanyak 0,1 ml (0,1mg).

Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BCG dapat bertahan untuk 10


15 tahun. Sehingga re-vaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12
-15 tahun. Vaksin BCG dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami
gangguan pada kulit seperti atopic dermatitis, serta baru saja menerima vaksinasi
lain (perlu ada interval waktu setidaknya 3 minggu). Vaksin BCG juga tidak
diberikan untuk :

1. Pasien dengan gangguan imunitas (immunosuppressed) seperti pasien HIV,


pasien yang mengkonsumsi obat-obat kortikosteroid (immunosuppressan),
atau baru saja menerima transplantasi organ.

2. Wanita hamil dan menyusui, walaupun belum ada data yang menunjukkan
efek bahaya dari pemberian vaksin BCG terhadap wanita hamil dan menyusui.

3. Kemoprofilaksis primer maupun sekunder.


a. Kemoprofilaksis primer diberikan pada anak yang belum terinfeksi (uji
tuberculin negative), tetapi kontak dengan penderita TBC aktif. Obat yang
digunakan adalah INH 5-10 mg/kgBB/hari selama 2-3 bulan.
b.
Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak dengan uji tuberculin positif,
tanpa gejala klinis, dan foto paru normal, tetapi memiliki faktor risiko menjadi
TBC aktif. Golongan ini adalah balita, anak yang mendapat pengobatan
kortikosteroid atau imuosupresan lain, penderita dengan keganasan, terinfeksi
virus (HIV, morbili), gizi buruk, masa akil balik, atau infeksi baru TNC,
konversi uji tuberculin kurang dari 12 bulan. Obat yang digunakan adalah
INH 5-10mg/kgBB/hari selama 6-12 bulan.
4. Pengobatan terhadap infeksi dan penemuan sumber penularan.
5. Pencegahan terhadap menghambatnya penyakit dengan diagnosis dini.
6. Penyuluhan dan pendidikan kesehatan.4
Berkaitan dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent, Host dan Lingkungan
dari TBC, maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pencegahan Primer
Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling
efektif, walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan
mempertahankan standar kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi. Proteksi
spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi Aktif,
melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah dengan
angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi dengan nilai
proteksi yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan dan lingkungan, (2)
Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai terbukti ketika kontak dijalankan
dan tetap harus dikombinasikan dengan pasteurisasi produk ternak, (3)
Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu pada pencegahan dan pengobatan
diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit kronis dan mental.
2. Pencegahan Sekunder
Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan
kasus TBC yang timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan
Lingkungan. Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan
aplikasi modern kemoterapi spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi
maupun tenaga. Metode tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak
yang terinfeksi TBC sebagai pusat, sehingga pengobatan dini dapat diberikan.
Selain itu, pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting
untuk seleksi dari petunjuk yang paling efektif. Langkah kontrol kejadian kontak
adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan imunisasi TBC negatif dan
Chemoprophylaxis pada TBC positif. Kontrol lingkungan dengan membatasi
penyebaran penyakit, disinfeksi dan cermat mengungkapkan investigasi
epidemiologi, sehingga ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang
peranan terhadap epidemi TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan
untuk membatasi kasus baru harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari
tekanan psikis.
3. Pencegahan Tersier
Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai
dengan diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri
secara psikis, rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal
pasien, kemudian rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu.
Selanjutnya, pelayanan kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan
untuk mengurangi cacat sosial dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.

5. PENGOBATAN TBC
Pengobatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan tahap
lanjutan. Lama pengobatan 6-8 bulan, tergantung berat ringannya penyakit. Penderita
harus minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai
dinyatakan sembuh. Dilakukan tiga kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui
perkembangan kemajuan pengobatan, yaitu pada akhir pengobatan tahap awal,
sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.
a. Tujuan pengobatan TBC anak
- Menurunkan / membunuh kuman dengan cepat.
- Mencegah terjadinya resistensi kuman TBC.
- Sterilisasi kuman untuk mencegah relaps dengan jalan pengobatan:
Fase intensif (2 bulan) : mengeradikasi kuman dengan 3 macam
obat : INH, Rifampisim dan Pirazinamid.
Fase pemeliharaan (4 bulan) : akan memberikan efek sterilisasi
untuk mencegah terjadinya relap: menggunakan 2 macam obat : INH &
Rifampicin.

b. Prinsip Pengobatan TBC Anak


- Kombinasi lebih dari satu macam obat. Hal ini untuk mencegah terjadinya
resistensi terhadap obat.
- Jangka panjang, teratur, dan tidak terputus. Hal ini merupakan masalah
kadar kepatuhan pasien.
- Obat diberikan secara teratur tiap hari.4
c. Obat TBC Anak
Regimen dasar pengobatan TBC adalah kombinasi INH dan Rifampicin
selama 6 bulan dengan Pirazinamid pada 2 bulan pertama. Pada TBC berat dan
ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2
bulan (ditambah Etambutol dan Streptomisin), dilanjutkan dengan INH dan
Rifampicin selama 4-10 bulan sesuai perkembangan klinis.
Pada meningitis TBC, perikarditis, TBC milier, dan efusi pleura diberikan
kortikosteroid, yaitu prednison (PRED) 1-2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu,
diturunkan perlahan (tapering off) sampai 2-6 minggu.
OBAT SEDIAAN DOSIS DOSIS ESO
(mg/kg MAKS
BB)
INH Tablet 100 mg 5 15 300 mg Hepatitis, neuritis
Tablet 300 mg perifer, hipersensitif
Sirup 10 mg/ml
Rifampicin Kapsul/ kaplet 10 - 15 600 mg Urine/sekret merah,
(RIF) 150,300,450,600 hepatitis, mual,
Sirup 20 mg/ml flulike reaction
Pirazinamid Tablet 500 mg 25 35 2g Hepatitis,
(PZA) hipersensitif
Etambutol Tablet 500 mg 15 20 2,5 g Neurilis optika,
(EMB) gangguan visus
/warna, gangguan
saluran cerna
Streptomisin Injeksi 15 - 40 1 gram Ototoksis, nefrotokis
(SM)
Tabel 1. Obat anti tuberculosis untuk anak.
d. Regimen Pengobatan TBC Anak
2 bln 6 bln 9 bln 12 bln
INH

RIF

PZA
EMB

SM

PRED

Grafik 1. Regimen pengobatan TBC anak


e. Pemantauan Hasil Pengobatan
a) Pengawasan terhadap respon pengobatan. Perhatikan perbaikan klinik,
aktivitas, nafsu makan, kenaikan berat badan. Bila ada tuberkulosis ekstra
pulmonal diamati perbaikan yang terjadi. Respon klinis yang baik terhadap
terapi mempunyai nilai diagnostik. Respon yang baik dapat dilihat dari
perbaikan semua keluhan awal. Nafsu makan membaik, berat badan
meningkat dengan cepat, keluhan demam dan batuk menghilang dan tidak
merasa sakit. Respon yang nyata biasanya terjadi dalam 2 bulan awal (fase
intensif).
b) Pengawasan terhadap efek samping obat : biasanya jarang terjadi pada
anak. Neuritis perifer, gangguan Nervus VIII, gangguan penglihatan, gejala
hepatotoksik.
c) Pengamatan terhadap perbaikan gambaran laboratorium darah.
Pemeriksaan kimia darah atas indikasi.
d) Pengamatan terhadap perbaikan radiologik dilakukan pada akhir
pengobatan.
e) Mencari sumber infeksi pada keluarga dan masyarakat sekitarnya.4
DAFTAR PUSTAKA

http://www.mediacastore.com/tbc/
%20http://update.tbcindonesia.or.id/index.phpwww.tbcindonesi.or.id

http://www.keepkidshealthy.com/welcome/infectionsguide/tuberculosis.html

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K MS, Setiati S, eds. Pulmonologi


Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2006.

Santoso M. Tumbuh Kembang Buku Panduan Keterampilan Medik


No.3. Jakarta : FK Ukrida, 2008.

Rudolph A. Pulmonologi Buku Ajar Pediatri Edisi 20. Jakarta: EGC,


2007.

Sunarjo D. Tuberkulosis Pada Anak. SMF ANAK BRSD RAA.SOEWONDO


PATI, 2007.

Rasad S. Tuberkulosis Paru Radiologi Diagnostik 2. Jakarta : FKUI,


2008.

Aditama Y. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di


Indonesia. Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006.