Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI LEMAK MINYAK

DISUSUN OLEH :

Kelompok 2
1. Inawati Jati H3113052
2. Nadia Nur H3113066
3. Riris Khalydazia H3113080
4. Utfa Syahrifa H3113092
5. Yulia Suryandari H3113096
6. Lutfi Imawan H3113062
7. Rastri F H3113077

PROGRAM STUDI D III TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015
ACARA

EKSTRAKSI MINYAK KELAPA DAN MINYAK BIJIAN

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Minyak kelapa berdasarkan kandungan asam lemaknya digolongkan
ke dalam minyak asam laurat, karena kandungan asam lauratnya paling besar
jika dibandingkan asam lemak lainya. Minyak kelapa yang belum
dimurnikan mengandung sejumlah kecil komponen bukan minyak, misalnya
gum dan sterol serta asam lemak bebas. Sterol bersifat tidak bewarna, tidak
berbau, stabil dan berfungsi sebagai penstabil dalam minyak. Zat warna
alamiah yang terdapat pada minyak kelapa adalah karoten yang merupakan
hidrokarbon tidak jenuh dan tidak stabil pada suhu tinggi. Pada pengolahan
minyak menggunakan uap panas maka warna kuning yang disebabkan oleh
karoten yang mengalami degradasi. Minyak kelapa merupakan bagian paling
berharga dari buah kelapa. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua
adalah sebanyak 34,7%. Minyak kelapa digunakan sebagai bahan baku
industri, atau sebagai minyak goreng. Untuk industri kecil yang terbatas
kemampuan permodalannya, disarankan mengekstrak minyak dari daging
buah kelapa segar. Cara ini mudah dilakukan dan tidak banyak memerlukan
biaya. Kelemahannya adalah lebih rendahnya rendemen yang diperoleh.
Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan
menggunakan air. Bila santan didiamkan, secara pelan-pelan akan terjadi
pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang miskin
dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, dan
bagian yang miskin dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan
dibanding skim, karena itu krim berada pada bagian atas, dan skim pada
bagian bawah. Ekstraksi minyak dari biji-bijian ada 3 cara. Pemerasan dalam
jumlah besar menggunakan pengumpil, baji, sekrup, penggilas hidrolik, dan
sebagainya untuk memeras minyak dari bahan dalam kantong, keranjang
kawat, dan sebagainya. Pemerasan yang bersinambungan biasanya
dikerjakan dengan alat pemeras yang berbentuk sekrup, dan pemisahan
dengan pusaran telah digunakan untuk memisahkan minyak palem. Efisiensi
ekstraksi bergantung pada jenis biji, kadar air, pemasakan, besarnya tekanan
yang dipergunakan, tekanan maksimum, waktu pengeringan, suhu, dan
kepekatan minyak
2. Tujuan Praktikum
Praktikum Acara I Ekstraksi Minyak Kelapa dan Minyak Bijian
bertujuan untuk mengetahui banyaknya rendemen minyak yang terkandung
dalam sampel dengan berbagai macam cara ekstraksi.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Ada dua metode dasar untuk memperoleh minyak, yaitu pengepresan
dan ekstraksi pelarut. Proses pengepresan biasanya dilakukan dengan
pengepres hidrolik atau ulir yang digerakkan secara manual atau dengan
mesin. Proses prengepresan biasa meninggalkan ampas yang masih
mengandung 7-10% minyak. Sedangkan pada proses ekstraksi pelarut,
mampu mengambil minyak optimal, sehingga ampasnya hanya kurang dari
0,1% dari berat keringnya (Syah, 2006).
Cara ekstraksi merupakan system pembuatan minyak atsiri yang bahan
bakunya memiliki rendemen kecil, rusak pada suhu tinggi, dan rata- rata larut
dalam air. Cara ekstraksi biasanya digunakan untuk bahan baku minyak atsiri
berupa bunga. Beberapa komoditas minyak atsiri yang menggunakan system
ekstraksi diantaranya mawar, melati, dan sedap malam. Cara ekstraksi dapat
dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu ekstraksi dengan pelarut menguap,
ekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan lemak panas
(Rusli, 2010)
Bagian yang paling terpenting dari buah kelapa adalah daging buah.
Daging buah kelapa mengandung berbagai enzim. Daging buah kelapa pada
semua stadium (muda, stengah muda, dan tua) dapat dimanfaatkan daging
buahnya untuk berbagai keperluan. Adapun produk utama dari daging kelapa
yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi adalah kopra dan minyak
kelapa. Minyak kelapa selain digunakan sebagai minyak goreng, juga dapat
dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan kecantikan (Rukmana, 2003).
Tanaman kacang tanah (Arachishipogea L) termasuk tanaman polong
polongan atau legium kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman
ini merupakan salah satu tanaman palawija jenis leguminoceae yang memiliki
kandungan gizi cukup tinggi antara lain protein, karbohidrat dan minyak.
Sekarang pemanfaatan kacang tanah makin luas dari minyak nabati hingga
selai. Kandungan minyak yang terdapat di dalam kacang tanah cukup tinggi
yaitu berkisar antara 40-50% dan merupakan minyak nabati yang bebas
kolesterol. Karena kandungan minyaknya cukup tinggi maka kacang tanah
merupakan sumber minyak yang penting. Minyak kacang tanah seperti juga
minyak nabati lainnya merupakan salah satu kebutuhan manusia, yang
dipergunakan baik sebagai bahan pangan (edible purpose) maupun bahan non
pangan (Andaka, 2009).
Minyak kelapa komersial (RBD) dibuat kopra. Kopra merupakan
daging/ buah kelapa yang dikeringkan. Kopra dibuat dengan pemanasan
matahari maupun pembakaran. Hasil ekstraksi dari kopra merupakan minyak
mentah. Jika belum dimurnikan, hasil ekstraknya tidak layak dikonsumsi. Hal
ini disebabkan oleh pengeringan kopra tidak memperhatikan sanitasi.
Perbedaan utama minyak kelapa murni dengan minyak kelapa komersial
adalah bau harum dan rasanya. Minyak kelapa murni berbau harum dan rasa
kelapanya khas. Sementara minyak kelapa komersial tidak mempunyai sifat
yang khas akibat proses pemurnian (Sutarmi, 2003).
Kandungan minyak dalam biji kemiri tergolong tinggi, yaitu 55
66% dari berat bijinya. Komponen utama penyusun minyak kemiri adalah
asam lemak tak jenuh, namun mengandung juga asam lemak jenuh dengan
persentase yang relatif kecil. Minyak kemiri yang terkandung dalam bijinya
juga memiliki banyak manfaat, antara lain bahan pembuat cat, pernis, sabun,
obat, kosmetik, dan bahan bakar. Pada umumnya, biji yang mengandung
lebih dari 30% minyak memerlukan penekanan untuk pengambilan
minyaknya, baik penekanan saja maupun penekanan sebelum dilakukan
proses ekstraksi. Jika yang dilakukan hanya penekanan saja tanpa ekstraksi,
maka proses penekanan dilakukan sehingga semua minyak terambil secara
maksimal. Namun penekanan yang dilakukan sebelum proses ekstraksi
bertujuan untuk mengambil sebagian saja minyak yang mudah terambil pada
proses penekanan, baru kemudian sisa minyaknya diambil dengan cara
ekstraksi menggunakan pelarut (Arlene, 2010).
Pengolahan basah atau pengolahan air adalah istilah yang digunakan
untuk ekstraksi minyak kelapa langsung dari kelapa susu. Metode ini
menghilangkan penggunaan pelarut yang dilaporkan dapat menurunkan
kebutuhan biaya investasi dan energi. Pengolahan basah hanya dapat
dilakukan dengan cara santan dengan melanggar emulsi. Ini agak sulit karena
emulsi stabilitas tinggi dari santan. Destabilisasi dapat dilakukan melalui tiga
mekanisme. Pertama Tahap ini creaming oleh aksi gaya gravitasi yang
dihasilkan dalam dua tahap, dengan berat jenis lebih tinggi terjadi pada fase
atas dan fase berat jenis lebih rendah bergerak ke bawah. Tahap kedua adalah
flokulasi atau pengelompokan di yang fasa minyak bergerak sebagai
kelompok yang tidak melibatkan pecahnya film antarmuka yang biasanya
mengelilingi setiap tetesan dan karena itu tidak mengubah globul asli.
Tahap terakhir, koalesensi adalah fase paling kritis dalam destabilisasi.
Selama tahap ini, daerah antarmuka adalah pecah,butiran bergabung bersama
dan mengurangi antarmuka yang daerah (Marina, et al, 2009).
Dalam metode basah, kelapa daging / kernel tidak pergi melalui
proses pengeringan sementara dalam metode kering, kernel dipanaskan
dalam kondisi tertentu untuk menghilangkan kelembaban di dalamnya
sementara mencegah invasi terik dan mikroba. Metode basah dapat dibagi
lagi menjadi dingin dan pencairan, fermentasi, enzimatik dan metode pH atau
semua ini dalam kombinasi sebagai tujuan utama adalah untuk mengacaukan
emulsi santan. Dalam metode kering, kernel dikeringkan menggunakan
pemanas dikontrol dan kemudian ditekan secara mekanis untuk mendapatkan
minyak (Mansor, et al, 2012).
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang berasal dari kernel
dari Cocos nucifera Linn. Standar internasional minyak kelapa ditetapkan
terutama oleh 2 organisasi: Codex Alimentarius, dan Asia dan Pasifik Kelapa
Komunitas (APCC). Standar Codex saat minyak kelapa, yang didasarkan pada
halus komersial, dikelantang dan deodorized minyak kelapa (RBD CNO),
menyatakan bahwa minyak nabati yang dapat dimakan dapat disempurnakan
oleh alkali ekstraksi dan mencuci, pemutihan dan deodorisasi untuk
menghapus konstituen yang tidak diinginkan dan untuk memperpanjang umur
simpan (Dayrit, et al, 2007).
Minyak kelapa kasar (Edible Coconut Oil) adalah salah satu produk
yang dihasilkan dari tanaman kelapa, tetapi nilai tambah dan manfaatnya
untuk kesehatan masih sangat kecil. Seiring dengan berkembangnya
teknologi memunculkan produk baru yang mempunyai nilai tambah tinggi
dan sebagai minyak goring yang berkualitas tinggi serta manfaat besar bagi
kesehatan. Produk tersebut adalah minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil,
VCO), merupakan minyak yang diperoleh dari daging buah kelapa tua segar
yang diperas dengan atau tanpa penambahan air, tanpa pemanasan atau
dengan pemanasan kurang dari 600C dan aman dikonsumsi manusia
(Fatwatun, 2013).
Minyak kelapa dihasilkan dari hancuran kopra, kernel kering, yang
berisi berisi 60-65% minyak. Minyak ini memiliki rasa manis yang natural dari
kelapa dan berisi 92% asam lemak jenuh (dalam bentuk trigliserida), sebagian
besar (sekitar 70%) adalah rantai yang lebih rendah asam lemak jenuh yang
dikenal sebagai Asam lemak rantai sedang (MCFAs). MCFAs yang tidak umum
berbeda dengan minyak nabati dengan asam laurat sekitar 45-56%. Berbagai
fraksi minyak kelapa memiliki trigliserida rantai menengah dan pelarut yang
sangat baik untuk rasa, esens, emulsifier, dll (Krishna, 2010).
C. METODOLOGI
1. Bahan
a. Kelapa 2 kg
b. Kacang Tanah 2 kg
c. Kemiri 700 gram
d. Lemak daging ayam 350 gram
e. Lemak daging sapi 350 gram
2. Alat
a. Alat penumbuk
b. Alat Press (ekstraksi)
c. Baskom
d. Kompor
e. Wajan

. Cara Kerja
a. Ekstraksi Minyak kacang tanah secara Kering dengan
Pengempaan

Kacang Tanah 2 kg

Disangrai sampai agak matang

Di tumbuk sampai agak halus (ukuran kasar)

Diekstrak

Di hitung volume ekstraknya

Dihitung rendemennya
b. Ekstrak minyak kelapa secara basah, dengan pamanasan

Kelapa parut 2 kg

Diekstrak dengann air 1000 ml

Santan kental

Dimasak (dipanaskan) santan dengan api kecil

Dipisahkan dengan penyaringan minyak dan blondo

Diukur volume minyak kelapa

Dihitung rendemen minyak


c. Ektraksi minyak kelapa secara kering
Kelapa parut 2kg

Dikeringkan dengan cabinet dryer selama 3 jam suhu 50oC

Ditimbang parutan kelapa yang sudah berkurang airnya

Diekstrak kelapa kering dengan cara pengepresan

Diukur minyak yang dihasilkan

Dihitung rendemen minyak

d. Ekstraksi minyak biji kemiri


Biji kemiri 0,7 kg

Disangrai sampai agak matang

Ditumbuk sampai ukuran kasar

Diekstrak dengan cara pengepresan/ pengempaan

Diukur volume minyak kemiri

Dihitung rendemen
e. Ekstraksi minyak hewani lemak daging ayam

Dipilih daging ayam yang banyak lemaknya

Ditimbang bahan seberat 350 gram

Dipanaskan lemak sampai keluar minyaknya

Dihitung volume minyak hewani ayam

Dihitung rendemen minyak

f. Ekstraksi minyak hewani lemak daging sapi

Dipilih daging sapi yang banyak lemaknya

Ditimbang bahan seberat 350 gram

Dipanaskan lemak sampai keluar minyaknya

Dihitung volume minyak hewani sapi

Dihitung rendemen minyak


D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1.1 Hasil Rendemen Ekstraksi Minyak Lemak
Kel. Berat bahan Volume Rendemen
Bahan
(gram) (gram) (%)
1 Kelapa basah 2000 230 11,5
Kelapa
2 1200 332 27,7
kering
3 Kacang tanah 1960 48 2,449
4 Kemiri 2000 460 23
5 Lemak ayam 500 392 78,4
6 Lemak sapi 380 112 29,473
Sumber: Laporan Sementara
Dari data di atas rendemen minyak nabati dari paling tinggi sampai paling
rendah yaitu kacang tanah 2,449%, kelapa basah 11,5%, biji kemiri 23%, kelapa
kering 27,7. Rendemen minyak hewani yang tertinggi adalah lemak ayam sebesar
78,4% sedangkan terendah adalah lemak sapi sebesar 29,473%. Lemak dan
minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu
senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut
dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C 2H5OC2H5), kloroform
(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya. Lemak dan minyak dapat larut dalam
pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas
yang sama dengan pelaut tersebut. Sifat-sifat fisika lemak dan minyak adalah a)
bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin dari
lecitin, b) bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur
kamar, c) indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia
dan untuk pengujian kemurnian minyak, d) minyak/lemak tidak larut dalam air
kecuali minyak jarak (coastor oil, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna
dalam dietil eter, karbon disulfida dan pelarut halogen), e) Titik didih asam lemak
semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon, f) rasa pada
lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asam-asam
yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak
atau lemak, g) titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran
lemak atau minyak dengan pelarut lemak, h) titik lunak dari lemak/minyak
ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak, i) Shot melting point adalah
temperatur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak / lemak, j) Slipping point
digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran
komponen-komponennya. Sedangkan sifat-sifat kimia minyak dan lemak adalah
esterifikasi, hidrolisa, penyabunan, hidrogenasi, pembentukan keton, oksidasi
(Herlina, 2002).
Praktikum Acara I ekstraksi lemak dan minyak menggunakan sampel
parutan kelapa, kemiri, kacang tanah, lemak ayam dan lemak sapi. Sampel
tersebut diekstraksi hingga diperoleh minyak ataupun lemak. Ekstraksi yang
digunakan pada praktikum ini adalah pengepresan dan ekstraksi dengan
pemanasan.
Pada praktikum ini sampel yang diekstraksi dengan pengepresan adalah
kemiri, kacang tanah dan parutan kelapa kering. Menurut Djarkasi (2010),
pengepresan merupakan suatu cara ekstraksi minyak terutama untuk bahan yang
berasal dari biji-bijian, seperti kemiri dan kacang tanah. Cara ini dilakukan untuk
memisahkan minyak dari bahan yang berkadar minyak tinggi sekitar 30-70% dan
kadar air rendah yaitu lebih kecil dari 5%. Ekstraksi minyak dengan pengepresan
dapat dibagi dalam dua tahap yaitu perlakuan pendahuluan dan ekstraksi. Tahap
persiapan atau perlakuan pendahuluan meliputi: pembersihan, pengupasan,
pengecilan ukuran (perajangan dan penggilingan) dan pemanasan atau
pemasakan. Pengecilan ukuran merupakan langkah penting dalam pretreatment
sampel. Pengecilan ukuran dapat dilakukan dengan pemotongan, penggilingan
atau penumbukan, sehingga ukuran sampel menjadi seragam dan mempermudah
mengeluarkan minyak karena sel-sel atau jaringan bahan rusak. Selain itu,
pretreatment pemanasan sebelum pengempaan terhadap biji-bijian dimaksudkan
untuk rnemperbanyak keluarnya minyak dan untuk mernpermudah keluarnya
minyak dari bahan. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat pemanasan
adalah protein yang ada akan mengalami koagulasi sehingga dinding sel rnenjadi
bersifat permeabel dan mudah untuk dilewati minyak. Selanjutnya tahap
ekstraksi dilakukan dengan pengepresan menggunakan kempa hidrolik atau
berulir.
Pembuatan minyak kelapa pada praktikum ini dilakukan dengan cara basah
dan cara kering. Pembuatan minyak kelapa kering dilakukan dengan cara sebagai
berikut: kelapa parut dikeringkan dengan menggunakan cabinet dryer pada suhu
50oC selama 6 jam, kemudian kelapa kering disangrai dan dipres hingga
didapatkan minyak kelapa. Penyangraian dilakukan dengan tujuan untuk
mengurangi kadar air bahan, menggumpalkan protein dan untuk memecahkan
dinding sel bahan agar mudah ditembus oleh minyak atau lemak yang terkandung
didalamnya (Djatmiko, 1989). Sedangkan menurut Widiandani dkk (2010),
pembuatan minyak kelapa dengan cara kering yaitu dengan mengeringkan
parutan daging buah kelapa melalui pemanasan minimum kemudian melakukan
penekanan (press) secara mekanik terhadap buah kering. Pada pembuatan
minyak kelapa dengan cara basah diawali dengan pembuatan santan yang
merupakan emulsi minyak dari daging buah kelapa dalam air, kemudian emulsi
dipecah dengan proses pemanasan sehingga minyak dapat diambil. Cara basah
dilakukan dengan pemanasan santan pada api kecil, sehingga air pada santan
akan menguap. Hasil yang tertinggal setelah proses pemanasan adalah minyak
dan blondo, minyak dipisahkan dari blondo dengan cara penyaringan.
Sampel lemak ayam dan lemak sapi diekstraksi melalui proses rendering.
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang
mengandung minyak atau lemak dengan proses pemanasan. Penggunaan panas
pada proses ekstraksi adalah suatu hal yang spesifik, yang bertujuan untuk
menggumpalkan protein pada sel-sel bahan dan untuk memecahkan sel-sel
tersebut sehingga mudah ditembus oleh minyak atau lemak yang terkandung di
dalamnya (Djarkasi, 2010).
Menurut Djatmiko (1989), dengan menggunakan teknik pengepresan dapat
diperoleh rendemen minyak kelapa sebesar 28%. Nilai rendemen yang diperoleh
pada praktikum lebih kecil daripada teori, hal ini disebabkan karena jumlah
bahan yang digunakan berbeda dan tingkat kematangannya juga tidak sama.
Semakin tinggi tingkat kematangan kelapa, maka kandungan minyak dalam
kelapa semakin besar. Pada kelapa tua mengandung asam lemak yang banyak
terutama asam laurat dan asam miristat (Bolung et al., 2013).
Menurut Ismail dkk (2012), biji kemiri mengandung 50%-60% berat
minyak. Minyak kemiri mudah mengering bila dibiarkan di udara terbuka karena
sebagian besar tersusun oleh asam lemak tak jenuh dan memiliki sifat mudah
teroksidasi (Arlene, 2013), sehingga memungkinkan terjadinya penyusutan kadar
minyak yang mengakibatkan perbedaan nilai rendemen yang didapat dengan
teori.
Menurut Andaka (2009), kandungan minyak yang terdapat di dalam kacang
tanah cukup tinggi yaitu berkisar antara 4050%. Perbedaan nilai rendemen yang
didapatkan disebabkan karena jumlah berat awal bahan yang digunakan berbeda,
proses pengepresan yang kurang maksimal serta adanya perlakuan pendahuluan
seperti penyangraian yang dapat mempengaruhi rendemen yang didapatkan.
Kadar lemak pada daging sapi adalah 4,5% dan kadar lemak pada daging
ayam adalah 10,9% (Hermanto dkk., 2008). Nilai rendemen yang didapat
dipengaruhi oleh kandungan lemak pada daging. Semakin tinggi kandungan
lemak pada daging yang digunakan, maka lemak yang didapatkan setelah proses
pemanasan juga semakin besar.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada rendemen minyak kelapa adalah
tingkat kematangan buah kelapa, metode ekstraksi yang digunakan dan proses
pemanasan. Pada kelapa tua mengandung asam lemak yang banyak terutama
asam laurat dan asam miristat (Bolung et al., 2013). Semakin lama pemanasan,
hal-ha1 yang terjadi sebagai akibat proses pemanasan semakin sempurna,
sehingga minyak yang dihasilkan semakin banyak (Susiloningsih, 2007). Nilai
rendemen minyak kemiri dan minyak kacang tanah dipengaruhi oleh jumlah
berat awal bahan yang digunakan berbeda, proses pengepresan serta adanya
perlakuan pendahuluan seperti penyangraian. Teknik pengepresan memengaruhi
hasil rendemen minyak, semakin kuat pressing pada bahan maka minyak yang
dihasilkan semakin besar pula. Sedangkan faktor yang mempengaruhi rendemen
lemak ayam dan lemak sapi adalah jenis daging yang digunakan. Daging yang
mengandung lemak tinggi terutama pada bagian paha, akan menghasilkan lemak
yang tinggi pula ketika dipanaskan.
Komposisi asam lemak pada minyak kelapa adalah asam laurat (48%), asam
miristat (17,5%), asam palmitat (8,8%), asam kalprilat (8%), asam oleat (6%),
asam kaprta (7%), asam stearat (2%) dan asam linoleat (2,5%). Komposisi asam
lemak pada lemak sapi adalah asam oleat (46,5%), asam palmitat (29%), asam
stearat (18,5%), asam miristat (3%) dan asam linoleat (3%). Sedangkan
komposisi asam lemak pada minyak kacang adalah asam miristat sebesar 95%,
asam oleat sebesar 4% dan asam linolenat sebesar 1% (Enig, 1993).

E. Kesimpulan
Dari praktikum acara I tentang Ekstraksi Minyak Kelapa dan Minyak Bijian
diperoleh kesimpulan bahwa :
1. Dengan menggunakan teknik pengepresan dapat diperoleh rendemen
minyak kelapa sebesar 28%.
2. Biji kemiri mengandung 50%-60% berat minyak.
3. Kandungan minyak yang terdapat di dalam kacang tanah cukup tinggi
yaitu berkisar antara 4050%.
4. Kadar lemak pada daging sapi adalah 4,5% dan kadar lemak pada daging
ayam adalah 10,9%.

DAFTAR PUSTAKA

Andaka, Ganjar. 2009. Optimasi Proses Ekstraksi Minyak Kacang Tanah Dengan
Pelarut N-Heksana. Jurnal Teknologi Volume 2 Nomor 1.
Arlene, Ariestya. 2010. Pengaruh Temperatur dan Ukuran Biji Terhadap
Perolehan Minyak Kemiri pada Ekstraksi Biji Kemiri dengan Penekanan
Mekanis. Jurnal Teknologi Volume 2 Nomor 1.
Dayrit, Fabian M, et al. 2007. Standards for Essential Composition and
QualityFactors of Commercial Virgin Coconut Oil and its Differentiation from
RBD Coconut Oil and Copra Oil. Philippine Journal of Science Vol.
136 No. 2
Fatwatun, Nely. 2013. Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Pemecahan Emulsi
Dengan Metode Ultrasonik. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol 2, No 4
Tahun 2013, Halaman 184-188.
Krishna, Gopala. 2010. Coconut Oil: Chemistry, Production and Its Applications - A
Review. Indian Coconut Journal, Vol. 3. No. 15.
Mansor, Man Che. 2012. Physicochemical Properties of Virgin Coconut Oil
Extracted From Different Processing Methods. International Food Research
Journal 19 (3): 837-845 (2012).
Marina, AM, Man Che, Amin,. 2009. Virgin Coconut Oil. Trends in Food Science &
Technology Vol 20 Hal 481-487
Rukmana, Rahmat. 2003. Aneka Olahan Kelapa. Kanisius. Yogyakarta.
Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. PT Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Sutarmi, 2003. Taklukan Penyakit Dengan VCO. Penebar Swadana. Jakarta
Syah, Andi NA. 2006. Biodesel Jarak Pagar Bahan Bakar Alternatif Yang Ramah
Lingkungan. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Lampiran Perhitungan
volume
x 100
Rendemen kelapa kering berat bahan

332
x 100
1200
27,7