Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi
segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan
perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang
berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di
bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan
air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
Peranan jalan pada peradaban manusia menurut Undang-
undang republik indonesia Nomor 38 tahun 2004 Tentang Jalan
yaitu bahwa jalan sebagai bagian sistem transportasi nasional
mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung
bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan.
Perkembangan peradaban manusia terlihat dengan jelas.
Pada zaman dahulu, manusia tidak mementingkan pelayanan
transportasi karena pada masa itu barang dan jasa yang
dibutuhkan belum beragam dan relatif sederhana. Sekarang
kebutuhan hidup semakin beragam.
Manusia saat ini cenderung hidup menetap, buka seperti
dahulu yang masih berpindah-pindah atau nomaden. Dalam
keadaan seperti ini, transportasi dan pengembangan teknologi
semakin diperlukan untuk membantu aktivitas manusia.
Peranan transportasi terhadap perekonomian
Transportasi sangat mempengaruhi proses produksi dan
distribusi. Dalam proses produksi, transportasi berperan penting
dalam menyatukan semua faktor produksi (sumberdaya), yang
tersebar di berbagai tempat berbeda ke satu lokasi (pabrik).
Semua diproses menjadi barang yang siap dikonsumsi. Dalam
proses distribusi, transportasi sangat penting digunakan untuk
mendistribusikan barang atau jasa yang diproduksi ke tempat
yang membutuhkan. Transportasi berperan menjamin
penyebaran barang dan jasa ke semua tempat.

1
Peranan transportasi dalam kehidupan social.
Transportasi mempunyai peran mempermudah
masyarakat dalam melakukan kegiatan yang menyangkut ke
hubungan kemanusiaan. Hubungan kemanusiaan dipermudah
dengan adanya transportasi mencakup penukaran informasi,
rekreasi, pelayanan perorangan atau kelompok,dan transportasi
ke tempat lainnya.
Peranan transportasi dalam politik
Dalam negara dengan bentuk kepulauan, seperti
Indonesia, transportasi dapat berperan sebagai pendukung
dalam usaha persatuan nasional, peningkatan pemerataan
pembangunan ke seluruh daerah di Indonesia, atau usaha
pengamanan negara dari serangan luar.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaiamana Sejarah Jalan di Indonesia ?
2. Bagaiamana uraian sistem jaringan jalan dan bagannya ?
3. Bagaiamana uraian pembagian peruntukkan jalan ?
4. Bagaiamana Uraian Fungsi dan Kelas Jalan ?
5. Bagaiamana Uraian Spesifikasi Penyediaan prasarana Jalan ?
6. Bagaiamana Uraian Bagian-bagian Jalan disertai gambar
skematisnya ?
7. Bagaimana Kecepatan Rencana dan Lebar badan Jalan
Minimum?
8. Bagaimana Uraian lebar jalur lalu lintas Minimum & Lebar
Rumija Minimum?

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui Sejarah Jalan di Indonesia ?
2. Mengetahui uraian sistem jaringan jalan dan bagannya ?
3. Mengetahui uraian pembagian peruntukkan jalan ?
4. Mengetahui Uraian Fungsi dan Kelas Jalan ?
5. Mengetahui Uraian Sesifikasi Penyediaan prasarana Jalan ?
6. Mengetahui Uraian Bagian-bagian Jalan disertai gambar
skematisnya ?
7. Mengetahui Kecepatan Rencana dan Lebar badan Jalan
Minimum?
8. Mengetahui Uraian lebar jalur lalu lintas Minimum & Lebar
Rumija Minimum?

2
1.4 MANFAAT
Adapun Manfaat Penulisan paper adalah untuk mengetahui
sejarah jalan di Indonesia dan mengetahui uraian sistem
jaringan Jalan berdasarkan UU no.38 tahun 2004 tentang jalan
dan PP no. 34 tahun 2006 tentang Jalan .

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SEJARAH JALAN DI INDONESIA
Sejarah perkembangan jalan dimulai dengan sejarah manusia itu
sendiri yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan hidup dan
berkomunikasi dengan sesama. Dengan demikian perkembangan
jalan saling berkaitan dengan teknik jalan, seiring dengan
perkembangan teknologi yang ditemukan manusia.
Pada awalnya jalan raya hanya berupa jejak manusia yang
mencari kebutuhan hidup. Setelah manusia mulai hidup

3
berkelompok jejak-jejak berubah menjadi jalan setapak yang masih
belum berbentuk Jalan yang rata. Dengan dipergunakan alat
transportasi seperti hewan, kereta, atau yang lainnya, mulai dibuat
jalan yang rata.
Sejarah perkembangan jalan di Indonesia yang tercatat dalam
sejarah bangsa Indonesia adalah pembangunan jalan Daendles
pada zaman Belanda, yang dibangun dari anyer di Banten sampai
Panarukan di Banyuwangi Jawa Timur. Yang diperkirakan 1000 km.
Pembangunan tersebut dilakukan dengan kerja paksa pada akhir
abad 18. Tujuan pembangunan pada saat itu terutama untuk
kepentingan strategi dan dimasa tanam paksa untuk memudahkan
pengangkutan hasil bumi.
Jalan Daendles tersebut belum direncanakan secara teknis baik
geometrik maupun perkerasannya. Konstruksi perkerasan jalan
berkembang pesat pada jaman keemasan Romawi. Pada saat itu
telah dimulai dibangun jalan-jalan yang terdiri dari beberapa lapis
perkerasan. Perkembangan konstruksi perkerasan jalan seakan
terhenti dengan runtuhnya kekuasaan Romawi sampai abad 18.
Pada akhir abad 18, Thomas Telford dari Skotlandia (1757-1834)
ahli jembatan lengkung dari batu, menciptakan konstruksi
perkerasan jalan yang prinsipnya sama seperti jembatan lengkung
seperti berikut ini ;
Prinsip desak-desakan dengan menggunakan batu-batu belah
yang dipasang berdiri dengan tangan . Konstruksi ini sangat
berhasil kemudian disebut Sistem Telford.

Gambar 1 . Konstruksi Perkerasan Telford


Pada waktu itu pula John Mc Adam (1756 1836),
memperkenalkan kontruksi perkerasan dengan prinsip tumpang-
tindih dengan menggunakan batu-batu pecah dengan ukuran

4
terbesar ( 3). Perkerasan sistem ini sangat berhasil pula dan
merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal/mekanis
(dengan mesin). Selanjutnya sistem ini disebut Sistem Mc. Adam.

Gambar 2 . Konstruksi Perkerasan Mc. Adam


Sampai sekarang ini kedua sistem perkerasan tersebut masih
sering dipergunakan di daerahdaerah di Indonesia dengan
menggabungkannya menjadi sistem Telford-Mc Adam ialah utk
bagian bawah sistem Telford dan bagian atasnya sistem Mc Adam.
Perkerasan jalan yang menggunakan aspal sebagai bahan
pengikat ditemukan pertama kali di Babylon pada tahun 625 SM,
tetapi perkerasan jenis ini tidak berkembang sampai ditemukan
kendaraan bermotor oleh Gofflieb Daimler dan Karl Benz pada tahun
1880. Mulai tahun 1920 sampai sekarang teknologi konstruksi
perkerasan dengan menggunakan aspal sebagai bahan pengikat
maju pesat. Di Indonesia perkembangan perkerasan aspal dimulai
pada tahap awal berupa konstruksi Telford dan Macadam yang
kemudian diberi lapisan aus yang menggunakan aspal sebagai
bahan pengikat dan ditaburi pasir kasar yang kemudian berkembang
menjadi lapisan penetrasi (Lapisan Burtu, Burda Buras). Tahun 1980
diperkenalkan perkerasan jalan dengan aspal: emulsi dan Butas,
tetapi dalam pelaksanaan atau pemakaian aspal butas terdapat
permasalahan dalam hal variasi kadar aspalnya yang kemudian
disempurnakan pada tahun 1990 dengan teknologi beton mastic,
perkembangan konstruksi perkerasan jalan. menggunakan aspal
panas (hot mix) mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1975,
kemudian disusul dengan jenis yang lain seperti: aspal beton (AC)
dan lain-lain.

5
Konstruksi perkerasan menggunakan semen sebagai bahan
pengikat telah ditemukan pada tahun 1928 di London tetap;
konstruksi perkerasan ini mulai berkembang pesat sejak tahun 1970
dimana mulai diperkenalkannya pembangunan perkerasan jalan
sesuai dengan fungsinya. Sedangkan perencanaan geometrik jalan
seperti sekarang ini baru dikenal sekitar pertengahan tahun 1960
kemudian mengalami perkembangan yang cukup pesat sejak tahun
1980.
Perencanaan Geometrik Jalan merupakan bagian dari
perencanaan jalan yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk
fisik jalan sehingga dapat memenuhi, fungsi dasar dari jalan yaitu
memberikan pelayanan optimum (keamanan dan kenyamanan)
pada arus lalu-lintas dan sebagai akses kerumah-rumah. Dalam
lingkup perencanaan geometrik jalan tidak termasuk perencanaan
tebal perkerasan jalan walaupun dimensi dari perkerasan
merupakan bagian dari perencanaan jalan seutuhnya, demikian pula
dengan drainase jalan.
Tujuan dari perencanaan Geometrik jalan adalah
menghasilkan infrastruktur yang aman, effisiensi pelayanan arus
lalu lintas dan memaksimalkan ratio tingkat penggunaan biaya
pelaksanaan. Ruang, bentuk, dan ukuran jalan dikatakan baik, jika
dapat memberi rasa aman dan nyaman kepada pemakai jalan.
Dasar dari perencanaan geometrik adalah
Sifat gerakan, dan
Ukuran kendaraan,
Sifat pengemudi Dalam Mengendalikan Gerak Kendaraannya,
Karakteristik arus lalu-lintas.
Hal-hal tersebut haruslah menjadi bahan pertimbangan
perencana sehingga dihasilkan bentuk dan ukuran jalan, serta ruang
gerak kendaraan yang memenuhi tingkat kenyamanan dan
keamanan yang diharapkan.

2.2 SISTEM JARINGAN JALAN MENURUT UU NO.38 TAHUN


2004 TENTANG JALAN DAN PP NO. 34 TAHUN 2006 TENTANG
JALAN
2.2.1 Uraian Sistem jaringan Jalan dan Bagannya

6
Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang
saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat
pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh
pelayanannya dalam satu hubungan hierarki. Dalam pasal 6
Peraturan Pemerintah No 34 tahun 2006 bahwa:

1. Sistem jaringan jalan merupakan satu


kesatuan jaringan jalan yang terdiri dari sistem jaringan
jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang
terjalin dalam hubungan hierarki.

2. Sistem jaringan jalan disusun dengan


mengacu pada rencana tata ruang wilayah dan dengan
memperhatikan keterhubungan antarkawasan dan/atau
dalam kawasan perkotaan, dan kawasan perdesaan.

Ada dua jaringan jalan yaitu jaringan primer dan jaringan


sekunder . berikut penjelasannya dibawah ini .

1. Sistem Jaringan Jalan Primer (Antar Kota)


Sistem Jaringan Jalan Primer merupakan Sistem jaringan
yang berada di luar daerah perkotaan (rural area)yang
terdiri dari jalan arteri primer, kolektor primer.
1. Jalan Arteri Primer
1.1.Definisi Arteri Primer
Jalan arteri primer menghubungkan secara
berdaya guna antar pusat kegiatan nasional atau
antara pusat kegiatan nasional dengan pusat
kegiatan wilayah. Sistem jaringan jalan primer
disusun berdasarkan rencana tata ruang dan
pelayanan distribusi barang dan jasa untuk
pengembangan semua wilayah di tingkat nasional,
dengan menghubungkan semua simpul jasa
distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan
sebagai berikut: menghubungkan secara menerus
pusat kegiatan nasional, pusat kegiatan wilayah,

7
pusat kegiatan lokal sampai ke pusat kegiatan
lingkungan; dan menghubungkan antar pusat
kegiatan nasional, sebagai contoh Jalur Pantura
yang menghubungkan antara Sumatera dengan
Jawa di Merak, Jakarta, Semarang, Surabaya sampai
dengan Banyuwangi merupakan arteri primer.
1.2Karakteristik Jalan Arteri Primer

Karakteristik jalan arteri primer adalah sebagai


berikut :

Jalan arteri primer didesain berdasarkan


kecepatan rencana paling rendah 60 (enam
puluh) kilometer per jam (km/h);
Lebar Ruang Manfaat Jalan minimal 11 (sebelas)
meter;
Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien;
jarak antar jalan masuk/akses langsung minimal
500 meter, jarak antar akses lahan langsung
berupa kapling luas lahan harus di atas 1000
m2, dengan pemanfaatan untuk perumahan;
Persimpangan pada jalan arteri primer diatur
dengan pengaturan tertentu yang sesuai
dengan volume lalu lintas dan karakteristiknya;
Harus mempunyai perlengkapan jalan yang
cukup seperti rambu lalu lintas, marka jalan,
lampu lalu lintas, lampu penerangan jalan, dan
lain-lain;
Jalur khusus seharusnya disediakan, yang dapat
digunakan untuk sepeda dan kendaraan lambat
lainnya;
Jalan arteri primer mempunyai 4 lajur lalu lintas
atau lebih dan seharusnya dilengkapi dengan
median (sesuai dengan ketentuan geometrik);
Apabila persyaratan jarak akses jalan dan atau
akses lahan tidak dapat dipenuhi, maka pada

8
jalan arteri primer harus disediakan jalur lambat
(frontage road) dan juga jalur khusus untuk
kendaraan tidak bermotor (sepeda, becak, dll).

2. Jalan Kolektor Primer


2.1 Definisi Jalan Kolektor Primer
Jalan kolektor primer adalah jalan yang
dikembangkan untuk melayani dan
menghubungkan kota-kota antar pusat kegiatan
wilayah dan pusat kegiatan lokal dan atau
kawasan-kawasan berskala kecil dan atau
pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan
pengumpan lokal.
2.2 Ciri jalan kolektor primer

Jalan kolektor primer dalam kota merupakan


terusan jalan kolektor primer luar kota.

Jalan kolektor primer melalui atau menuju


kawasan primer atau jalan arteri primer.

Jalan kolektor primer dirancang berdasarkan


kecepatan rencana paling rendah 40 (empat
puluh) km per jam.

Lebar badan jalan kolektor primer tidak kurang


dari 7 (tujuh) meter

Jumlah jalan masuk ke jalan kolektor primer


dibatasi secara efisien. Jarak antar jalan
masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek
dari 400 meter.

9
Kendaraan angkutan barang berat dan bus
dapat diizinkan melalui jalan ini.

Persimpangan pada jalan kolektor primer diatur


dengan pengaturan tertentu yang sesuai
dengan volume lalu lintas nya.

Jalan kolektor primer mempunyai kapasitas


yang sama atau lebih besar dari volume lalu
lintas rata-rata.

Lokasi parkir pada badan jalan sangat dibatasi


dan seharusnya tidak diizinkan pada jam sibuk.

Harus mempunyai perlengkapan jalan yang


cukup seperti rambu lalu lintas, marka jalan,
lampu lalu lintas dan lampu penerangan jalan.

Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada


umumnya lebih rendah dari jalan arteri primer.

Dianjurkan tersedianya Jalur Khusus yang dapat


digunakan untuk sepeda dan kendaraan lambat
lainnya.

2. Sistem Jaringan Jalan Sekunder (kawasan Perkotaan)


Sistem jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan
rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam
kawasan perkotaan yang menghubungkan secara menerus
kawasan yang mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder
kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder ketiga, dan
seterusnya sampai ke persil.
1. Jalan Arteri Sekunder
1.1Definisi Jalan Arteri Sekunder

10
Jalan arteri sekunder adalah jalan yang melayani
angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak
jauh kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan
masuk dibatasi seefisien,dengan peranan pelayanan
jasa distribusi untuk masyarakat dalam kota.
Didaerah perkotaan juga disebut sebagai jalan
protokol.
1.2Ciri jalan arteri sekunder
Jalan arteri sekunder menghubungkan :

1. kawasan primer dengan kawasan sekunder


kesatu.

2. antar kawasan sekunder kesatu.

3. kawasan sekunder kesatu dengan kawasan


sekunder kedua.

4. jalan arteri/kolektor primer dengan kawasan


sekunder kesatu.

Jalan arteri sekunder dirancang berdasarkan


kecepatan rencana paling rendah 30 (tiga puluh)
km per jam.

Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 (delapan)


meter.

Lalu lintas cepat pada jalan arteri sekunder tidak


boleh terganggu oleh lalu lintas lambat.

Akses langsung dibatasi tidak boleh lebih pendek


dari 250 meter.

Kendaraan angkutan barang ringan dan bus


untuk pelayanan kota dapat diizinkan melalui
jalan ini.

11
Persimpangan pads jalan arteri sekunder diatur
dengan pengaturan tertentu yang sesuai dengan
volume lalu lintasnya.

Jalan arteri sekunder mempunyai kapasitas same


atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.

Lokasi berhenti dan parkir pada badan jalan


sangat dibatasi dan seharusnya tidak dizinkan
pada jam sibuk.

2. Jalan Kolektor Sekunder


2.1Definisi Jalan Kolektor Sekunder
Jalan kolektor sekunder adalah jalan yang
melayani angkutan pengumpulan atau
pembagian dengan ciri-ciri perjalanan jarak
sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah
jalan masuk dibatasi, dengan peranan pelayanan
jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota.
2.2Ciri Jalan Kolektor Sekunder
Jalan kolektor sekunder menghubungkan:
1. antar kawasan sekunder kedua.
2. kawasan sekunder kedua dengan kawasan
sekunder ketiga.
Jalan kolektor sekunder dirancang berdasarken
keoepatan rencana paling rendah 20 (dua
puluh) km per jam.
Lebar badan jalan kolektor sekunder tidak
kurang dari 7 (tujuh) meter.
Kendaraan angkutan barang berat tidak
diizinkan melalui fungsi jalan ini di daerah
pemukiman.
Lokasi parkir pada badan jalan-dibatasi.
Harus mempunyai perlengkapan jalan yang
cukup.
Besarnya lalu lintas harian rata-rata pads
umumnya lebih rendah dari sistem primer dan
arteri sekunder.

3. Bagan dari Sistem Jaringan Jalan Primer dan Sekunder

12
Gambar 3. Sistem Jaringan Jalan Primer

13
Gambar 4. Sistem Jaringan Jalan Primer

2.2.2 Uraian Pembagian Peruntukkan Jalan


Pembagian peruntukkan Jalan ada 2 , yaitu :
1. Jalan Umum

14
Jalan umum diperuntukkan bagi lalulintas umu ( termasuk
jalan tol)
2. Jalan Khusus
Jalan Khusus Bukan diperuntukkan bagi laluntas umum,
dalam rangka distribusi barang dan jasa yang
dibutuhkan , seperti :
1. Jalan di kawasan Pelabuhan
2. Jalan Kehutanan
3. Jalan Perkebunan
4. Jalan Inspeksi Pengairan
5. Jalan Kawasan Industri dan
6. Jalan Kawasan Pemukiman yang belum diserahkan
kepada pemerintah .
2.2.3 Uraian Fungsi dan Kelas Jalan
1. Klasifikasi berdasarkan fungsi
Klasifikasi jalan di Indonesia berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku antara lain:

1. Jalan Arteri, adalah jalan umum yang berfungsi untuk


melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak
jauh, kecepatan rencana > 60 km/jam, lebar badan jalan
> 8 m, kapasitas jalan lebih besar daripada volume lalu
lintas rata-rata, tidak boleh terganggu oleh kegiatan
lokal, dan jalan primer tidak terputus, dan sebagainya.

2. Jalan Kolektor adalah jalan yang digunakan untuk


melayani angkuatan pengumpul/pembagi dengan ciri
perjalanan jarak sedang, kecepatan rencana >40
km/jam, lebar badan jalan > 7 m, kapasitas jalan lebih
besar atau sama dengan volume lalu lintas rata-rata,
tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal, dan jalan
primer tidak terputus, dan sebagainya.

3. Jalan Lokal adalah jalan umum yang digunakan untuk


melayani angkutan setempat denan ciri perjalanan
dekat, kecepatan rencana > 40 km/jam, lebar jalan > 5
m,

15
4. Jalan Lingkungan adalah jalan umum yang digunakan
untuk melayani angkutan lingkungan dengan ciri
perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

2. Klasifikasi berdasarkan muatan sumbu


Jenis klasifikasi jalan di Indonesia juga dikelompokkan
berdasarkan muatan sumbu antara lain jalan kelas I, jalan
kelas II, jalan kelas IIIA, jalan kelas IIIB, dan jalan kelas IIIC.
Berikut penjelasan dari klasifikasi jalan di Indonesia.

Gambar 5. Distribusi beban muatan sumbu ke badan jalan


Jalan kelas I adalah jalan arteri yang dapat dilalui
kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran
lebar tidak melebihi 2500 milimeter, ukuran panjang
tidak melebihi 18000 milimeter dan muatan sumbu
terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton, yang
saat ini masih belum digunakan di Indonesia namun
sudah mulai dikembangkan di berbagai negara maju
seperti Perancis yang telah mencapai muatan sumbu
terberat sebesar 13 ton.
Jalan kelas II adalah jalan arteri yang dapat dilalui
kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran
lebar tidak melebihi dari 2500 mm. Ukuran panjang
tidak melebihi 18000 mm dan muatan sumbu terberat
yang diizinkan 10 ton. Jalan kelas ini merupakan jalan
yang sesuai untuk angkutan peti kemas.
Jalan kelas III A adalah jalan arteri atau kolektor yang
dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan
dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran

16
panjang tidak melebihi 18000 mm dan muatan sumbu
terberat yang diizinkan 8 ton.
Jalan kelas III B adalah jalan kolektor yang dapat dilalui
kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran
lebar tidak melebihi 2500 mm, ukuran panjang tida
melebihi 12000 mm. dan muatan sumbu terberat yang
diizinkan 8 ton.
Jalan kelas III C adalah jalan lokal dan lingkungan yang
dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan
dengan ukuran lebar tidak melebihi 2100 mm, ukuran
panjang tidak melebihi 9000 mm dan muatan sumbu
terbera yang diizinkan 8 ton.

Gambar 6. Tabel Kelas jalan berdasarkan penggunaanya

2.2.4 Uraian Spesifikasi Penyediaan prasarana Jalan


Menurut PPRI No. 34 Tahun 2006, klasifikasi kelas jalan
dikelompokkan berdasarkan penggunaan jalan dan kelancaran
lalu lintas dan angkutan jalan, serta spesifikasi penyediaan
prasarana jalan. Kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan
prasarana jalan dikelompokkan atas jalan bebas hambatan, jalan
raya, jalan sedang, dan jalan kecil.

17
Gambar 7 . Tabel Klasifikasi Jalan berdasarkan
Penyediaan Prasarana Jalan (Sumber:PP/34 tentang
jalan)
1. Jalan Bebas Hambatan ( Freeway )
Spesifikasi untuk jalan bebas hambatan ( freeway )
sebagaimana dimaksud dalam PP RI No.34 Tahun 2006
Tentang Jalan adalah sebagai berikut:
a. Merupakan jalan untuk lalu lintas umum,
b. Pengendalian jalan masuk secara penuh,
c. Tidak ada persimpangan sebidang,
d. Dilengkapi pagar ruang milik jalan dan median,
e. Paling sedikit mempunyai 2(dua) lajur setiap arah,
f. Lebar paling sedikit 3,5 meter
2. Jalan Raya ( Highway )
Spesifikasi untuk jalan raya ( highway ) sebagaimana
dimakasud dalam PP RI No.34 Tahun 2006 Tentang Jalan
adalah sebagai berikut:
a. Merupakan jalan untuk lalu lintas umum untuk lalu
lintas secara
b. menerus
c. Pengendalian jalan masuk secara terbatas,
d. Dilengkapi dengan median,
e. Paling sedikit 2(dua) lajur setiap arah,
f. Lebar lajur paling sedikit 3,5 meter.

3. Jalan Sedang ( Road )


Spesifikasi untuk jalan sedang ( road ) sebagaimana
dimakasud dalam PP RI No.34 Tahun 2006 Tentang Jalan
adalah sebagai berikut:
a. Merupakan jalan untuk lalu lintas umum,

18
b. Untuk lalu lintas jarak sedang dengan pengendalian
jalan masuk
c. tidak dibatasi, paling sedikit 2(dua) lajur untuk 2(dua)
arah,
d. Lebar jalur paling sedikit 7 meter.
4. Jalan Kecil ( Street )
Spesifikasi untuk jalan kecil ( street ) sebagaimana
dimakasud dalam PP RI No.34 Tahun 2006 Tentang Jalan
adalah sebagai berikut:
a. Merupakan jalan untuk lalu lintas umum untuk lalu
lintas setempat,
b. Paling sedikit 2(dua) lajur untuk 2(dua) arah,
c. Lebar jalur paling sedikit 5,5 meter.

2.2.5 Uraian Bagian-bagian Jalan disertai gambar skematisnya


Damija ( Daerah Milik Jalan ) , adalah ruang sepanjang
jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang
dikuasai oleh pembina jalan dengan suatu hak tertentu
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Daerah milik jalan di peruntukan bagi daerah manfaat jalan
dan pelaksanaan maupun penambahan jalur lalu lintas di
kemudian hari serta kebutuhan ruang untuk pengamanan
jalan. (KD.No.43/AJ.007/DRJD/97)
Damaja (Daerah Manfaat Jalan ), adalah ruang sepanjang
jalan yang dibatasi oleh lebar tinggi dan kedalaman ruang
batas tertentu. Ruang tersebut di peruntukan bagi medan,
perkesrasan jalan, jalur pemisah, bahu jalan, saluran tepi
jalan, trotoar, lereng, ambang pengaman, timbunan dan
galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan dan bangunan
pelengkap lainya. Lebar Damaja di tetapkan oleh Pembina
Jalan sesuai dengan keperluannya. Tinggi minimum 5.0
meter dan kedalam minimum 1,5 meter di ukur dari
permukaan perkerasan.
Dawasja (Daerah Pengawasan Jalan), adalah sejalur
tanah tertentu yang terletak di luar daerah milik jalan (ruas
sepanjang jalan di luar Damija) yang penggunanya di awasi
oleh pembina jalan dengan maksud agar tidak

19
mengganggu pandangan pengemudi dan konstruksi
bangunan jalan dalam hal tidak cukup luasnya daerah milik
jalan. Dawasja ditentukan berdasarkan kebutuhan terhadap
pandangan pengemudi, ditetapkan oleh Pembina Jalan.
Daerah Pengawasan Jalan dibatasi oleh : Lebar diukur dari As
Jalan.
Bahu jalan : Bahu Jalan adalah bagian jalan yang
berdampingan dan sama tinggi dengan perkerasan jalan.
Bahu jalan berfungsi
Menahan perkerasan terhadap gerakan ke samping.
Sebagai jalur darurat pada waktu kendaraan
mendahului, berpapasan maupun berhenti.
Untuk menyediakan ruang pejalan kaki
Badan jalan : merupakan bagian jalan di mana jalur lalu
lintas, bahu dan saluran samping dibangun
Median : adalah suatu pemisah fisik jalur lalu lintas yang
berfungsi untuk menghilangkan konflik lalu lintas dari arah
yang berlawanan, sehingga pada gilirannya akan
meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Saluran samping jalan : adalah bagian jalan yang
berdampingan dengan bahu, yang berfungsi untuk
menampung dan mengalirkan air secepatnya.

20
Gambar 8. Skematis dari bagian bagian jalan

2.2.6 Kecepatan Rencana dan Lebar badan Jalan Minimum


Menurut PP 34 Tahun 2006 Tentang Jalan berikut uraian
tentang kecepatan rencana dan lebar badan jalan minimum

21
V RENCANA LEBAR BADAN
KELAS JALAN MINIMUM JALAN MINIMUM
(km/jam) (m)
PRIMER
Arteri Primer 60 11
Kolektor Primer 40 9
Lokal Primer 20 7.5
Lingkungan 15 6.5
Primer
SEKUNDER
Arteri Sekunder 30 11
Kolektor Sekunder 20 9
Lokal Sekunder 10 7.5
Lingkungan 10 6.5
Sekunder

2.2.7 Lebar Jalur Lalu Lintas Minimum dan Lebar Rumija


Minimum
Menurut PP 34 Tahun 2006 Tentang Jalan berikut adalah
uraian lebar jalur lalu lintas minimum dan lebar rumija minimum
LEBAR JALUR LALU
RUMIJA
KELAS JALAN LINTAS MINIMUM
MINIMUM (m)
(m)
JALAN BEBAS 2 [ 2 x 3.5 ] = 14 M 30
HAMBATAN
JALAN RAYA 2 [ 2 x 3.5 ] = 14 m 25
JALAN SEDANG 2 x 3.5 = 7 m 15
JALAN KECIL 2 x 2.75 = 5.5 m 11

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Peranan jalan pada peradaban manusia menurut Undang-
undang republik indonesia Nomor 38 tahun 2004 Tentang JALAN
yaitu bahwa jalan sebagai bagian sistem transportasi nasional

22
mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung
bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan.Sejarah
perkembangan jalan dimulai dengan sejarah manusia itu sendiri
yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan hidup dan
berkomunikasi dengan sesama. Dengan demikian
perkembangan jalan saling berkaitan dengan teknik jalan,
seiring dengan perkembangan teknologi yang ditemukan
manusia.
Pada awalnya jalan raya hanya berupa jejak manusia yang
mencari kebutuhan hidup. Setelah manusia mulai hidup
berkelompok jejak-jejak berubah menjadi jalan setapak yang
masih belum berbentuk Jalan yang rata.
2.2.8 Ada dua jaringan jalan yaitu jaringan primer dan jaringan
sekunder . Jalan di peruntukkan ada dua yaitu jalan umum yang
dipergunakan pada lalu lintas umum dan jalan khusus yaitu jalan
yang tidak diperuntukkan pada lalu lintas umum atau belum
diberikan kepada pemerintah jalan dapat di klasifikasikan
menurut fungsi yaitu Jalan Arteri , Jalan Kolektor , Jalan Lokal ,
dan Jalan Lingkungan . Spesifikasi Penyediaan prasarana Jalan
ada 4 , yaitu Jalan bebas hambatan (freeway), Jalan Raya
(Highway) Jalan Kecil (Road), Jalan Kecil (Street).Ada beberapa
bagian bagian jalan yaitu Damija(Daerah Milik Jalan) Damaja
( Daerah manfaat jalan) , Dawasja (daerah Pengawasan Jalan)
Kecepatan Rencana dan Lebar badan Jalan Minimum Menurut PP
34 Tahun 2006 Tentang Jalan berikut uraian tentang kecepatan
rencana dan lebar badan jalan minimum

V RENCANA LEBAR BADAN


KELAS JALAN MINIMUM JALAN MINIMUM
(km/jam) (m)
PRIMER
Arteri Primer 60 11
Kolektor Primer 40 9
Lokal Primer 20 7.5
Lingkungan 15 6.5
Primer

23
SEKUNDER
Arteri Sekunder 30 11
Kolektor Sekunder 20 9
Lokal Sekunder 10 7.5
Lingkungan 10 6.5
Sekunder

Lebar Jalur Lalu Lintas Minimum dan Lebar Rumija Minimum


Menurut PP 34 Tahun 2006 Tentang Jalan berikut adalah uraian
lebar jalur lalu lintas minimum dan lebar rumija minimum
LEBAR JALUR LALU
RUMIJA
KELAS JALAN LINTAS MINIMUM
MINIMUM (m)
(m)
JALAN BEBAS 2 [ 2 x 3.5 ] = 14 M 30
HAMBATAN
JALAN RAYA 2 [ 2 x 3.5 ] = 14 m 25
JALAN SEDANG 2 x 3.5 = 7 m 15
JALAN KECIL 2 x 2.75 = 5.5 m 11

3.2 SARAN
Kita harus mengetahai dan bisa menentukan klasifikasi dan
spesifikasi kelas jalan karena pada kelas jalan ada banyak
parameter yang harus ada dalam perenanaan jalan raya ,
Hendaknya sebelum membangun sebuah proyek terlebih dahulu
memrencanakan system manajemen pada pembangunan
jaringan jalan dengan baik, terlebih jika pembangunannya di
perkotaan jika tidak ditakutkan akan terjadi jaringan jalan yang
semrawut.

DAFTAR PUSTAKA
https://sites.google.com/site/kisaranteknik/assignments/rekayasa-jalan-
raya

24
Buku Pedoman Konstruksi Pembagunan
https://id.wikibooks.org/wiki/Penerapan_Geometrik_Jalan_Raya/Sistem_J
aringan_Jalan
http://www.jasasipil.com/2016/01/jenis-klasifikasi-jalan-di-
indonesia.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Pengelompokan_jalan
https://www.slideshare.net/efridwiyanto_/sistem-transportasi-
pertemuan-ke-1
tugas Jalan Raya
http://slideplayer.info/slide/2690817/
http://trionohungkul.blogspot.co.id/2012/11/penampang-melintang-
jalan.html
https://nekocume.blogspot.co.id/2014/10/definisi-damaja-damija-
dawasja-ruwasja.html

25