Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN

INDERAJA SENSOR AKTIF

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Inderaja Sensor Aktif

Yang dibina oleh Feny Arafah, ST, MT

Disusun oleh :

Raynaldi Izam Nuky P. (1525028)

JURUSAN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang mahaesa. Karena atas rahmat dan
hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Interpretasi Citra Alos
PALSAR Indraja Sensor Aktif yang merupakan salah satu mata kuliah pokok Jurusan Teknik
Geodesi S-1 di InstitutTeknologi Nasional Malang.
Penyusunan laporan ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih
yang sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua Orang Tua kami yang takhenti-hentinya selalu mendoakan kami dan
menyemangati kami untuk selalu dan terus maju serta untuk dukungan berupa
materialnya,
2. Ibu Feny Arafah, ST, MT selaku dosen pembimbing matakuliah Inderaja sensor
aktif yang telah banyak memberikan masukan dan perhatian guna
terselesaikannya laporan ini dengan baik dan benar,
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih belum sempurna, baik dari
segimateri, sistematika pembahasan, maupun susunan bahasa. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun sangat diharapkan. Hasil penyusunan ini dengan segala
keterbatasannya dipersembahkan kepada dunia pendidikan. Semoga ada manfaatnya untuk
pengembangan sumber daya manusia di negara tercinta ini.

Malang, April 2017

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam perkembangan pembangunan yang sangat pesat seperti saat ini
mengetahui penggunaan kawasan hutan merupakan suatu hal yang diperlukan,
mengingat semakin bertambahnya jumlah manusia dengan kebutuhannya yang sangat
berkembang sehingga memungkinkan dengan adanya penyebab tersebut mendesak
manusia untuk membuka lahan di dalam kawasan hutan. Untuk meminimalisir dan
mencegah terbukanya lahan maka diperlukan ilmu menginterpretasi foto udara untuk
mengetahui penggunaan lahan didalam kawasan hutan (Harimurti 1999).
Menurut Susanto (1979) interpretasi berhubungan dengan mengidentifikasi
objek. terdapat beberapa tahap dalam menginterpretasi foto udara yaitu diantaranya
identifikasi dan delinasi. Identefikasi merupakan pengejaan foto yakni mengenali
objek yang langsung nampak berdasarkan pengetahuan lkal atau pengetahuan tertentu.
Sedangkan delinasi merupakan upaya penarikan batas pemisah berupa garis antara
dua satuan objek yang berbeda dan berdampingan (Susanto 1979).
Terdapat dua cara interpretasi citra yaitu secara visual-manual dan digital
(komputer) ( Sugiarto 2013). Interpretasi secara manual-visual, sebagaimana arti
katanya, merupakan metode interpretasi yang didasarkan pada hasil penyimpulan
visual terhadap ciri-ciri spesifik obyek pada citra yang dikenali dari bentuk, ukuran,
pola, bayangan, tekstur, dan lokasi obyek. Metode ini disebut sebagai metode manual
karena penafsirannya dilakukan oleh manusia sebagai interpreter. Proses interpretasi
dapat saja menggunakan bantuan komputer untuk digitasi on screen, namun
identifikasinya tetap dilakukan secara manual.
Beberapa unsur yang diidentifikasi dalam menginterpretasi foto udara
diantaranya unsur dasar yaitu warna dan susunan keruangan yang terdiri dari ukuran,
bentuk, tekstur, pola, tinggi, bayangan, situs dan asosiasi. Unsur dasar dalam
interpretasi yang pertama yaitu warna, warna merupakan tingkat kegelapan atau
tingkat kecerahan objek pada citra. Warna dapat membedakan antara objek satu
dengan yang lainnya misalnya mampu membedakan antara warna pemukiman dengan
vegetasi. Unsur interpretasi selanjutnya yaitu bentuk, bentuk merupakan variabel
kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu objek. Unsur interpretasi
selanjutnya yaitu ukuran. Ukuran merupakan atribut objek berupa jarak, luas, tinggi,
lereng dan volume. Unsur interpretasi selanjutnya ialah tekstur. Tekstur merupakan
frekuensi perubahan rona pada citra, umumnya tekstur dibedakan menjadi tekstur
halus atau tekstur kasar. Unsur selanjutnya yaitu pola, pola merupakan susunan
keruangan suatu objek atau bentuk suatu objek. Bayangan merupakan unsur
interpretasi selanjutnya, bayangan bersifat menyembunyikan detai atau objek yang
berada di daerah gelap. Objek atau gejala terletak di daerah banyangan pada
umumnya tidak tampak sama sekali. Meskipun demikian bayangan sering membantu
engenalan terhadap suatu objek yang diamati. Asosiasi merupakan unsur terakhir,
asosiasi ini dapat diartikan sebagai keterkaitan antara objek satu dengan yang lainnya.
Adanya keterkaitan ini membantu interpreter memprediksi suatu objek yang berada
didekat objek yang telah diketahui (Sutrisno 2010).

1.2. Rumusan Masalah


1. Menginterpretasi data citra Alos PALSAR sesuai unsur unsur dan karakteristik
citra RADAR.
2. Interpretasi semua objek pada data citra Alos PALSAR.
3. Tahapan tahapan penggunaan software dan proses interpretasi data Alos
PALSAR.

1.3. Maksud dan Tujuan


1. Agar mahasiswa dapat menginterpretasi data citra Alos PALSAR sesuai unsur
unsur dan karaktteristik citra RADAR.
2. Supaya mahasiswa dapat menginterpretasi semua objek pada data citra Alos
PALSAR.
3. Agar Mahasiswa mengerti cara mengoperasikan Software ENVI 4.6.1
4. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui tahapan tahapan proses interpretasi data
Alos PALSAR.

BAB II
ISI

2.1. ALOS
ALOS (Advanced Land Observing Satellite) atau dalam Bahasa Jepang disebut
Daichi, merupakan satelit kepunyaannya bangsa Jepang, dimana satelit ini
mempunyai tiga instrumen remote sensing, yaitu Panchromatic Remote-
sensing Instrument for Stereo Mapping(PRISM) untuk pemetaan elevasi secara
digital, kemudian instrumen yang kedua adalah the Advanced Visible and Near
Infrared Radiometer type 2 (AVNIR-2) untuk observasi tutupan lahan yang
akurat, serta yang terakhir adalah the Phased Array type L-band Synthetic
Aperture Radar (PALSAR) untuk observasi keadaan cuaca sepanjang hari
(siang dan malam).

Gambar Konfigurasi satelit ALOS

2.2 PRISM

Lebih dalam lagi mengenai ketiga instrumen remote sensing dari satelit ALOS,
kita akan membahasnya satu persatu. Kita mulai dari yang pertama yaitu
PRISM, yang merupakan radiometer panchromatic dengan resolusi spasial 2.5
meter pada keadaan nadir. Hasil ekstrak data dari PRISM ini dapat
menghasilkan Digital Surface Model (DSM) dengan tingkat keakuratan cukup
tinggi. PRISM sendiri mempunyai tiga sistem optik yang independen,
yaitu nadir, backward, dan forward, yang digunakan untuk merekam suatu
wilayah yang dilalui oleh satelit ALOS. Tiga sistem optik tersebut masing-
masing mempunyai tiga kaca dan juga beberapa detektor CCD untuk
melakukan scan push-broom.

Tabel Spesifikasi PRISM

2.3 ALOS PALSAR


ALOS PALSAR (Phased Array type L-Band Synthetic Aperture Radar)
merupakan sensor gelombang mikro aktif pada L-band (frekuensi-pusat 1270
MHz 23.6 cm) yang dikembangkan oleh JAXA (Japan Aerospace Exploration
Agency) bekerja sama dengan JAROS (Japan Resource Observation Systems
Organization). Sensor PALSAR mempunyai kemampuan off-nadir dengan
variable antara 10-51 derajat (sudut datang 8-60 derajat) dengan menggunakan
teknik phased array aktif dengan 80 modul-modul untuk
mentransmisikan/penerimaan.

Gambar Karakteristik observasi PALSAR dan Sensor PALSAR

2.4 Interpretasi Citra Visual

Gambar 2.4 Contoh Citra


Gambar Wahana Penginderaan Jauh
2.3.1. UNSUR INTERPRETASI CITRA
Unsur interpretasi citra terdiri dari sembilan:
1. Rona atau warna
2. Ukuran
3. Bentuk
4. Tekstur
5. Pola
6. Bayangan
7. Situs
8. Asosiasi
Sembilan unsur interpretasi citra ini disusun secara berjenjang atau secara
hirarkis dan disajikan pada Gambar:

Rona dan Warna


Rona (tone / color tone / grey tone) adalah tingkat kegelapan atau tingkat
kecerahan obyek pada citra. Rona pada foto pankromatik merupakan atribut
bagi obyek yang berinteraksi dengan seluruh spektrum tampak yang sering
disebut sinar putih, yaitu spektrum dengan panjang gelombang (0,4 0,7) m.
Berkaitan dengan penginderaan jauh, spektrum demikian disebut spektrum
lebar, jadi rona merupakan tingkatan dari hitam ke putih atau sebaliknya.
Warna merupakan ujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan
spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. Sebagai contoh, obyek
tampak biru, hijau, atau merah bila hanya memantulkan spektrum dengan
panjang gelombang (0,4 0,5) m, (0,5 0,6) m, atau (0,6 0,7) m.
Sebaliknya, bila obyek menyerap sinar biru maka ia akan memantulkan warna
hijau dan merah. Sebagai akibatnya maka obyek akan tampak dengan warna
kuning Berbeda dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan, warna
menunjukkan tingkat kegelapan yang lebih beraneka. Ada tingkat kegelapan di
dalam warna biru, hijau, merah, kuning, jingga, dan warna lainnya. Meskipun
tidak menunjukkan cara pengukurannya, Estes et al. (1983) mengutarakan
bahwa mata manusia dapat membedakan 200 rona dan 20.000 warna.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pembedaan obyek pada foto berwarna
lebih mudah bila dibanding dengan pembedaan obyek pada foto hitam putih.
Pernyataan yang senada dapat diutarakan pula, yaitu pembedaan obyek pada
citra yang menggunakan spektrum sempit lebih mudah daripada pembedaan
obyek pada citra yang dibuat dengan spektrum lebar, meskipun citranya sama-
sama tidak berwarna. Asas inilah yang mendorong orang untuk menciptakan
citra multispektral.
Rona dan warna disebut unsur dasar. Hal ini menunjukkan betapa
pentingnya rona dan warna dalam pengenalan obyek. Tiap obyek tampak
pertama pada citra berdasarkan rona atau warnanya. Setelah rona atau warna
yang sama dikelompokkan dan diberi garis batas untuk memisahkannya dari
rona atau warna yang berlainan, barulah tampak bentuk, tekstur, pola, ukuran
dan bayangannya. Itulah sebabnya maka rona dan warna disebut unsur dasar.

BENTUK
Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memerikan konfigurasi atau
kerangka suatu obyek (Lo, 1976). Bentuk merupakan atribut yang jelas
sehingga banyak obyek yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja.
Bentuk, ukuran, dan tekstur pada Gambar 1 dikelompokkan sebagai susunan
keruangan rona sekunder dalam segi kerumitannya. Bermula dari rona yang
merupakan unsur dasar dan termasuk primer dalam segi kerumitannya.
Pengamatan atas rona dapat dilakukan paling mudah. Oleh karena itu bentuk,
ukuran, dan tekstur yang langsung dapat dikenali berdasarkan rona,
dikelompokkan sekunder kerumitannya.
Ada dua istilah di dalam bahasa Inggris yang artinya bentuk, yaitu shape
dan form. Shape ialah bentuk luar atau bentuk umum, sedang form merupakan
susunan atau struktur yang bentuknya lebih rinci.
Contoh shape atau bentuk luar:
- Bentuk bumi bulat.
- Bentuk wilayah Indonesia memanjang sejauh sekitar 5.100 km.
Contoh form atau bentuk rinci:
- Pada bumi yang bentuknya bulat terdapat berbagai bentuk relief atau
bentuk lahan seperti gunungapi, dataran pantai, tanggul alam, dsb.
- Wilayah Indonesia yang bentuk luarnya memanjang, berbentuk
(rinci) negara kepulauan. Wilayah yang memanjang dapat berbentuk
masif atau bentuk lainnya, akan tetapi bentuk wilayah kita berupa
himpunan pulau-pulau. Baik bentuk luar maupun bentuk rinci,
keduanya merupakan unsur interpretasi citra yang penting. Banyak
bentuk yang khas sehingga memudahkan pengenalan obyek pada
citra.
Contoh pengenalan obyek berdasarkan bentuk
- Gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U, atau
berbentuk empat segi panjang.
- Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon pinus berbentuk
kerucut, dan tajuk bambu berbentuk bulu-bulu.
- Gunungapi berbentuk kerucut, sedang bentuk kipas alluvial seperti
segi tiga yang alasnya cembung.
- Batuan resisten membentuk topografi kasar dengan lereng terjal bila
pengikisannya telah berlangsung lanjut.
- Bekas meander sungai yang terpotong dapat dikenali sebagai bagian
rendah yang berbentuk tapal kuda.

UKURAN

Ukuran ialah atribut obyek berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan
volume.
Karena ukuran obyek pada citra merupakan fungsi skala, maka di dalam
memanfaatkan ukuran sebagai unsur interpretasi citra harus selalu
diingat skalanya.
Contoh pengenalan obyek berdasarka ukuran:
- Ukuran rumah sering mencirikan apakah rumah itu rumah mukim,
kantor, atau industri. Rumah mukim umumnya lebih kecil bila
dibanding dengan kantor atau industri.
- Lapangan olah raga di samping dicirikan oleh bentuk segi empat,
lebih dicirikan oleh ukurannya, yaitu sekitar 80 m x 100 m bagi
lapangan sepak bola, sekitar 15 m x 30 m bagi lapangan tennis, dan
sekitar 8 m x 10 m bagi lapangan bulu tangkis.
- Nilai kayu di samping ditentukan oleh jenis kayunya juga
ditentukan oleh volumenya. Volume kayu bisa ditaksir berdasarkan
tinggi pohon, luas hutan serta kepadatan pohonnya, dan diameter
batang pohon.

TEKSTUR
Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand dan
Kiefer, 1979) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil
untuk dibedakan secara individual (Estes dan Simonett, 1975). Tekstur
sering dinyatakan dengan kasar, halus, dan belang-belang.
Contoh pengenalan obyek berdasarkan tekstur:
- Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang, semak bertekstur
halus.
- Tanaman padi bertekstur halus, tanaman tebu bertekstur sedang,
dan tanaman pekarangan bertekstur kasar .
- Permukaan air yang tenang bertekstur halus.
POLA
Pola, tinggi, dan bayangan pada Gambar 1 dikelompokkan ke dalam
tingkat kerumitan tertier. Tingkat kerumitannya setingkat lebih tinggi
dari tingkat kerumitan bentuk, ukuran, dan tekstur sebagai unsur
interpretasi citra. Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang
menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberapa
obyek alamiah.
Contoh:
- Pola aliran sungai sering menandai struktur geologi dan jenis
batuan. Pola aliran trellis menandai struktur lipatan. Pola aliran
yang padat mengisyaratkan peresapan air kurang sehingga
pengikisan berlangsung efektif. Pola aliran dendritik mencirikan
jenis tanah atau jenis batuan serba sama, dengan sedikit atau tanpa
pengaruh lipatan maupun patahan. Pola aliran dendritik pada
umumnya terdapat pada batuan endapan lunak, tufa vokanik, dan
endapan tebal oleh gletser yang telah terkikis (Paine, 1981)
- Permukaan transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu
dengan rumah yang ukuran dan jaraknya seragam, masing-masing
menghadap ke jalan.
- Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi dan sebagainya mudah
dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya dengan polanya yang
teratur, yaitu dari pola serta jarak tanamnya.

BAYANGAN
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di
daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah bayangan pada
umumnya tidak tampak sama sekali atau kadang-kadang tampak samar-
samar. Meskipun demikian, bayangan sering merupakan kunci
pengenalan yang penting bagi beberapa obyek yang justru lebih tampak
dari bayangannya.
Contoh:
- Cerobong asap, menara, tangki minyak, dan bak air yang dipasang
tinggi lebih tampak dari bayangannya.
- Tembok stadion, gawang sepak bola, dan pagar keliling lapangan
tenis pada foto berskala 1: 5.000 juga lebih tampak dari
bayangannya.
- Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan.
SITUS
Bersama-sama dengan asosiasi, situs dikelompokkan ke dalam
kerumitan yang lebih tinggi pada Gambar diatas. Situs bukan merupakan
ciri obyek secara langsung, melainkan dalam kaitannya dengan
lingkungan sekitarnya.
Situs diartikan dengan berbagai makna oleh para pakar, yaitu:
Letak suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya (Estes dan
Simonett, 1975). Di dalam pengertian ini, Monkhouse (1974)
menyebutnya situasi, seperti misalnya letak kota (fisik) terhadap wilayah
kota (administratif), atau letak suatu bangunan terhadap parsif tanahnya.
Oleh van Zuidam (1979), situasi juga disebut situs geografi, yang
diartikan sebagai tempat kedudukan atau letak suatu daerah atau wilayah
terhadap sekitarnya. Misalnya letak iklim yang banyak berpengaruh
terhadap interpretasi citra untuk geomorfologi.
- Letak obyek terhadap bentang darat (Estes dan Simonett, 1975),
seperti misalnya situs suatu obyek di rawa, di puncak bukit yang
kering, di sepanjang tepi sungai, dsb. Situs semacam ini oleh van
Zuidam (1979) disebutkan situs topografi, yaitu letak suatu obyek
atau tempat terhadap daerah sekitarnya.
Situs ini berupa unit terkecil dalam suatu sistem wilayah morfologi
yang dipengaruhi oleh faktor situs, seperti:
1) beda tinggi,
2) kecuraman lereng,
3) keterbukaan terhadap sinar,
4) keterbukaan terhadap angin, dan
5) ketersediaan air permukaan dan air tanah.
Lima faktor situs ini mempengaruhi proses geomorfologi maupun proses
atau perujudan lainnya.
Contoh:
- Tajuk pohon yang berbentuk bintang mencirikan pohon palma.
Mungkin jenis palma tersebut berupa pohon kelapa, kelapa sawit,
sagu, nipah, atau jenis palma lainnya. Bila tumbuhnya
bergerombol (pola) dan situsnya di air payau, maka yang tampak
pada foto tersebut mungkin sekali nipah.
- Situs kebun kopi terletak di tanah miring karena tanaman kopi
menghendaki pengaturan air yang baik.
- Situs pemukiman memanjang umumnya pada igir beting pantai,
tanggul alam, atau di sepanjang tepi jalan.

AS0SIASI
Asosiasi dapat diartikan sebagai keterkaitan antara obyek yang
satu dengan obyek lain. Adanya keterkaitan ini maka terlihatnya
suatu obyek pada citra sering merupakan petunjuk bagi adanya
obyek lain.
Contoh:
- Di samping ditandai dengan bentuknya yang berupa empat persegi
panjang serta dengan ukurannya sekitar 80 m x 100 m, lapangan
sepak bola di tandai dengan adanya gawang yang situsnya pada
bagian tengah garis belakangnya. Lapangan sepak bola berasosiasi
dengan gawang. Kalau tidak ada gawangnya, lapangan itu bukan
lapangan sepak bola. Gawang tampak pada foto udara berskala 1:
5.000 atau lebih besar.
- Stasiun kereta api berasosiasi dengan jalan kereta api yang
jumlahnya lebih dari satu (bercabang).
- Gedung sekolah di samping ditandai oleh ukuran bangunan yang
relatif besar serta bentuknya yang menyerupai I, L, atau U, juga
ditandai dengan asosiasinya terhadap lapangan olah raga. Pada
umumnya gedung sekolah ditandai dengan adanya lapangan olah
raga di dekatnya.

1. Langkah pertama yaitu Buka Software ENVI 4.61 yang berada pada
Tampilan Dekstop, Seperti gambar dibawah ini :
Gambar 2.7 Tampilan Dekstop
1. Langkah kedua yaitu buka Citra Alos Palsar dengan Klik pada tombol
file lalu Klik Open Image File pilih file yang akan dibuka, maka
akan muncul seperti gambar dibawah ini :

Gambar 2.8 Tampilan memuka Citra Alos PALSAR

2. Langkah selanjutnya Setelah file Citra terbuka, maka akan muncul


tampilan Available Band List untuk mengatur tipe band yang digunakan
dan tipe tampilan Citra yang akan digunakan, cara mengaturnya pilih
Gray Scale lalu Load Band tunggu sampai proses loadnya selesai,
maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini :
Gambar 2.9 Tampilan Citra Alos PALSAR pada Software ENVI 4.61

3. Langkah selanjutnya yaitu melakukan interpretasi pada Citra tersebut


dengan menentukan satu objek yang akan di interpretasi menggunakan
Software ENVI 4.61 pada unsur rona, gambar dibawah ini Menunjukkan
objek yang berada dalamgaris persegi berwarna merah adalah sebuah
laut.

Gambar 2. 10 Tampilan interpretasi terhadap unsur rona

4. Langkah selanjutnya ialah interpretasi terhadap unsur Bentuk, dimana


gambar diawah ini menunjukkan bahwa pada objek yang berada didalam
garis persegi berwarna merah adalah sebuah Sungai, dikarenakan pada
gambar tersebut bentuknya tidak beraturan atau alami.
Gambar 2.11 Tampilan interpretasi terhadap unsur bentuk

5. Langkah selanjutnya ialah interpretasi terhadap unsur bayangan, pada


gambar dibawah ini menunjukkan bahwa pada objek yang berada
didalam garis berwarna merah adalah sebuah lereng terjal, karena lereng
terjal akan nampak lebih jelas dengan adanya bayangan.

Gambar 2.12 tampilan interpretasi unsur bayangan

Setelah langkah langkah diatas sudah dilakukan, maka proses


interpretasi Citra sudah selesai.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Interpretasi citra dilakukan bertujuan untuk mendeteksi atau untuk mengetahui
data yang tampak maupun yang tidak tampak secara global. Deteksi juga memiliki arti
penentuan terhadap keberadaan suatu objek, apakah objek tersebut ada atau tidak ada
pada citra dan merupakan tahap awal dalam interpretasi citra.
Interpretasi juga dilakukan agar dapat mengenali suatu objek yang tergambar
pada citra melalui rekaman oleh sensor dengan menggunakan alat stereoskop melalui
prosess identifikasi. Pada tahap ini bersifat setengah terperinci serta kita dapat
mengenali objek berdasarkan tiga ciri utama sebagai berikut.
1. Ciri spektral, merupakan ciri yang dihasilkan oleh adanya interaksi antara tenaga
elektromagnetik dan objek. Pada ciri ini objek dinyatakan menggunakan rona dan
warna.
2. Ciri Spasial, pada ciri ini kita dapat mengenali objek menggunakan unsur-unsur
interpretasi yang meliputi rona, bentuk, pola, ukuran, bayangan, asosiasi, dan
tekstur karena pada ciri ini mengungkapkan jenis permukaan bumi.
3. Ciri temporal, ciri ini merupakan ciri yang terkait dengan benda pada waktu
perekaman, misalnya rekaman sungai pada musim hujan tampak cerah sedangkan
pada musim kemarau rekaman sungai tampak gelap.
Dalam interpretasi dilakukan sebuah analisis yang merupakan suatu kegiatan
pembelajaran serta penguraian data hasil tahap identifikasi sehingga dapat dihasilkan
dalam bentuk tabel, grafik, atau peta tematik. Agar dapat melakukan lebih terperinci
dilakukan beberapa hal sebagai berikut.
1. Menguraikan atau memisahkan objek yang rona atau warnanya berbeda.
2. Ditarik garis batas atau delineasi bagi objek yang rona warnanya sama.
3. Setiap objek dikenali berdasarkan karakteristik spasial dan unsur temporalnya.
4. Objek yang telah dikenali atau diketahui diklasifikasikan sesuai dengan tujuan
interpretasinya.
5. Digambarkan ke dalam peta kerja atau peta sementara.
6. Untuk menjaga ketelitian serta kebenarannya perlu dilakukan pengecekan medan
atau pengecekan di lapangan.
7. Interpretasi pada tahap akhir adalah pengkajian atas pola atau susunan keruangan
(objek).
8. Digunakan sesuai tujuannya

DAFTAR PUSTAKA
1.http://jurnal.lapan.go.id/index.php/majalah_sains_tekgan/article/view/386/332

2. https://mtnugraha.wordpress.com/2011/10/12/citra-satelit-alos/

3. http://informatika.web.id/grayscale-2.html