Anda di halaman 1dari 132

Registrasi dan Ekstensifikasi

1.1 Pendaftaran NPWP dan Pengukuhan PKP

1.1.1 Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak

1.1.1.1 Prosedur Kerja

1.1.1.1.1 Wajib Pajak mengajukan berkas pendaftaran NPWP dengan menggunakan

Formulir Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak beserta persyaratannya

kepada Petugas Tempat Pelayanan Terpadu.

1.1.1.1.2 Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima Formulir Pendaftaran dan

Perubahan Data Wajib Pajak kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya.

Dalam hal berkas pendaftaran belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak untuk

melengkapinya. Dalam hal berkas pendaftaran sudah lengkap, Petugas Tempat

Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan LPAD. BPS akan diserahkan kepada

Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas pendaftaran

kemudian diteruskan kepada Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.1.1.3 Pelaksana Seksi Pelayanan merekam berkas pendaftaran Wajib Pajak.

1.1.1.1.4 Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keterangan Terdaftar dan

Kartu NPWP kemudian menyerahkannya ke Kepala Seksi Pelayanan

1.1.1.1.5 Surat Keterangan Terdaftar dan Kartu NPWP diterbitkan dalam rangkap dua :

Lembar ke1 : untuk Wajib Pajak

Lembar ke2 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

1.1.1.1.6 Kepala Seksi Pelayanan menandatangani Surat Keterangan Terdaftar kemudian

menyerahkannya kepada Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.1.1.7 Pelaksana Seksi Pelayanan menerima dokumen yang telah ditandatangani,

memberi nomor, memberi stempel kantor, memisahkan dokumen untuk arsip dan

dokumen yang akan diserahkan kepada Wajib Pajak.

1.1.1.1.8 Pelaksana Seksi Pelayanan mengarsipkan dan menyerahkan dokumen kepada

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

Kantor Pelayanan Pajak).

1.1.1.1.9 Proses selesai.

Administrasi Perpajakan 1
1.1.1.2 Bagan Arus (Flow Chart):

Lihat Lampiran 1

1.1.2 Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengukuhan PKP

1.1.2.1 Prosedur Kerja

1.1.2.1.1 Wajib Pajak mengajukan berkas permohonan Pengukuhan sebagai PKP dengan

menggunakan Formulir Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak beserta

persyaratannya kepada Petugas Tempat Pelayanan Terpadu.

1.1.2.1.2 Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima berkas permohonan pengukuhan

Pengusaha Kena Pajak kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya. Dalam

hal berkas permohonan pengukuhan PKP belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal berkas permohonan pengukuhan PKP

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan

LPAD. BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD

akandigabungkan dengan berkas permohonan pengukuhan PKP kemudian

diteruskan kepada Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.2.1.3 Pelaksana Seksi Pelayanan merekam permohonan Wajib Pajak

1.1.2.1.4 Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Tugas Pembuktian Alamat

kemudian menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pelayanan

1.1.2.1.5 Kepala Seksi Pelayanan menandatangani Surat Tugas Pembuktian Alamat

kemudian mengembalikannya kepada Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.2.1.6 Atas dasar Surat Tugas Pembuktian Alamat, Pelaksana Seksi Pelayanan

melakukan penelitian lapangan kebenaran alamat Wajib Pajak.

1.1.2.1.7 Berdasarkan hasil penelitian lapangan, Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak

konsep Berita Acara Hasil Pembuktian Alamat kemudian menyerahkannya kepada

Kepala Seksi Pelayanan. Dalam hal alamat Wajib Pajak terbukti benar, Pelaksana

Seksi Pelayanan kemudian mencetak konsep Surat Pengukuhan Pengusaha Kena

Pajak. Jika alamat PKP tidak benar, Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep

Surat Penolakan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Konsep Surat Pengukuhan

Pengusaha Kena Pajak atau konsep Surat Penolakan Pendaftaran Wajib Pajak

dan Pelaporan PKP dicetak rangkap dua, yaitu:

Lembar ke1 : untuk Wajib Pajak

Lembar ke2 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

1.1.2.1.8 Pelaksana Seksi Pelayanan menyampaikan konsep Berita Acara Hasil

Pembuktian Alamat dan konsep Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak atau

Administrasi Perpajakan 2
konsep Surat Penolakan Pendaftaran Wajib Pajak dan Pelaporan PKP kepada

Kepala Seksi Pelayanan.

1.1.2.1.9 Kepala Seksi Pelayanan menandatangani Berita Acara Hasil Pembuktian Alamat,

Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak atau Surat Penolakan Pendaftaran

Wajib Pajak dan Pelaporan PKP kemudian menyerahkan kepada Pelaksana Seksi

Pelayanan.

1.1.2.1.10 Pelaksana Seksi Pelayanan menerima dokumen yang telah ditandatangani,

memberi nomor, memberi stempel kantor, memisahkan dokumen untuk arsip dan

dokumen yang akan diserahkan kepada Wajib Pajak.

1.1.2.1.11 Pelaksana Seksi Pelayanan mengarsipkan dan menyerahkan dokumen kepada

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Penyampaian Dokumen di Kantor

Pelayanan Pajak).

1.1.2.1.12 Proses selesai

1.1.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 2

1.1.3. Tata Cara Perubahan Data Wajib Pajak Dan/Atau Pengusaha Kena Pajak Di Kantor

Pelayanan Pajak

1.1.3.1. Prosedur Kerja

1.1.3.1.1. Wajib Pajak dan/atau PKP harus mengisi Formulir Permohonan Perubahan Data

dan Wajib Pajak Pindah atau Formulir Permohonan Perubahan Data dan PKP

Pindah secara lengkap dan jelas. Dalam hal Wajib Pajak membutuhkan bantuan

dalam mengisi formulir tersebut dapat menanyakan Petugas Pendaftaran Wajib

Pajak di Tempat Pelayanan Terpadu.

1.1.3.1.2. Wajib Pajak dan/atau PKP menyerahkan Formulir Permohonan yang telah diisi

secara lengkap dan jelas serta di tandatangani Wajib Pajak dan/atau PKP atau

kuasanya kepada Petugas TPT, dengan melampirkan Kartu NPWP, SKT dan/atau

SPPKP lama untuk diganti dengan yang baru.

1.1.3.1.3. Petugas Pendaftaran Wajib Pajak menerima Formulir Permohonan beserta

lampirannya dan meneliti kelengkapan pengisian dan lampiran yang

dipersyaratkan. Dalam hal formulir permohonan belum diisi secara lengkap atau

Kartu NPWP, SKT dan/atau SPPKP lama tidak dilampirkan, permohonan

dikembalikan dan kepada Wajib Pajak/pemohon diminta untk melengkapi dan/atau

memperbaiki.

1.1.3.1.4. Petugas Pendaftaran Wajib Pajak mencetak Bukti Penerimaan Surat (BPS) dan

Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD). Setelah ditandatangani, BPS

Administrasi Perpajakan 3
diserahkan kepada Wajib Pajak/pemohon, sedangkan LPAD digabungkan dengan

berkas permohonan untuk diteruskan kepada Petugas Pendaftaran Wajib

Pajak/Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.3.1.5. Petugas Pendaftaran Wajib Pajak merekam data perubahan identitas Wajib

Pajakdan/atau PKP dan mencetak Kartu NPWP, SKT, dan/atau SPPKP yang baru.

SKT dan/atau SPPKP dicetak masing-masing rangkap dua :

Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak

Lembar ke-2 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

1.1.3.1.6. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan menandatangani SKT dan/atau SPPKP

kemudian menyerahkan kembali kepada Petugas Pendaftaran Wajib Pajak.

1.1.3.1.7. Petugas Pendaftaran Wajib Pajak menatausahakan SKT dan/atau SPPKP baru

yang telah ditandatangani, selanjutnya bersama dengan Kartu NPWP diserahkan

kepada Wajib Pajak/pemohon atau dikirimkan sesuai dengan SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen di KPP).

1.1.3.1.8. Proses selesai

1.1.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 3

1.1.4. Tata Cara Penyelesaian Penghapusan NPWP

1.1.4.1. Prosedur Kerja

1.1.4.1.1. Wajib Pajak mengajukan berkas penghapusan NPWP dengan menggunakan

Formulir Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak beserta persyaratannya.

1.1.4.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima Formulir Pendaftaran dan

Perubahan Data Wajib Pajak kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya.

Dalam hal berkas penghapusan belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak

untuk melengkapinya. Dalam hal berkas penghapusan sudah lengkap, Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan LPAD. BPS akan diserahkan

kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas

penghapusan kemudian diteruskan kepada Seksi Pemeriksaan untuk diproses

dalam SOP Pemeriksaan.

1.1.4.1.3. Pelaksana Seksi Pelayanan menerima dan merekam Laporan Hasil Pemeriksaan

(LHP). Berdasarkan hasil pemeriksaan:

a. Wajib Pajak memenuhi syarat untuk dihapuskan.

Dalam hal memenuhi syarat untuk dihapuskan maka Seksi Pelayanan

membuat Nota Dinas konfirmasi tunggakan pajak kepada Seksi Penagihan.

Dalam hal terdapat ketetapan Pajak berdasarkan LHP atau tunggakan pajak

Administrasi Perpajakan 4
berdasarkan jawaban Nota Dinas konfirmasi tunggakan pajak dari Seksi

Penagihan, maka Wajib Pajak harus melunasi dahulu utang pajak tersebut.

Kemudian mencetak Surat Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.

b. Wajib Pajak tidak memenuhi syarat untuk dihapuskan.

Dalam hal tidak memenuhi syarat untuk dihapuskan maka Seksi Pelayanan

mencetak Surat Penolakan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.

selanjutnya Surat Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak/Surat Penolakan

Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak diteruskan kepada Kepala Seksi

Pelayanan untuk ditandatangani.

1.1.4.1.4. Kepala Seksi Pelayanan menandatangani Surat Penghapusan Nomor Pokok

Wajib Pajak/Surat Penolakan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak kemudian

mengembalikannya kepada Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.4.1.5. Pelaksana Seksi Pelayanan menerima dokumen yang telah ditandatangani,

mencatat nomor Surat Penghapusan NPWP yang telah diberikan secara sistem ke

dalam buku register, memberi stempel kantor, memisahkan dokumen untuk arsip

dan dokumen yang akan diserahkan kepada Wajib Pajak.

1.1.4.1.6. Pelaksana Seksi Pelayanan mengarsipkan dan menyerahkan dokumen kepada

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Penyampaian Dokumen di KPP).

1.1.4.1.7. Proses selesai.

1.1.4.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 4.

1.1.5 Tata Cara Penyelesaian Pencabutan Pengukuhan PKP

1.1.5.1. Prosedur Kerja

1.1.5.1.1. Wajib Pajak mengajukan berkas pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

dengan menggunakan Formulir Pendaftaran dan Perubahan Data Wajib Pajak

beserta persyaratannya.

1.1.5.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima Formulir Pendaftaran dan

Perubahan Data Wajib Pajak kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya.

Dalam hal berkas pencabutan belum lengkap, berkas pencabutan dikembalikan

kepada Wajib Pajak untuk dilengkapi. Dalam hal berkas pencabutan sudah

lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan LPAD.

BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan

dengan berkas pencabutan kemudian diteruskan kepada Seksi Pemeriksaan untuk

diproses dalam SOP Pemeriksaan.

Administrasi Perpajakan 5
1.1.5.1.3. Pelaksana Seksi Pelayanan menerima dan merekam Laporan Hasil Pemeriksaan

(LHP) dan membuat Nota Dinas konfirmasi tunggakan pajak kepada Seksi

Penagihan. Dalam hal terdapat ketetapan Pajak berdasarkan LHP atau terdapat

tunggakan pajak berdasarkan jawaban Nota Dinas konfirmasi tunggakan pajak

dari Seksi Penagihan, maka Wajib Pajak harus melunasi dahulu utang pajak

tersebut. Kemudian mencetak Surat Pencabutan Surat Pengukuhan Pengusaha

Kena Pajak (SPPKP) berdasarkan LHP, dan selanjutnya diteruskan kepada

Kepala Seksi Pelayanan untuk ditandatangani.

1.1.5.1.4. Kepala Seksi Pelayanan menandatangani Surat Pencabutan SPPKP kemudian

mengembalikannya kepada Pelaksana Seksi Pelayanan.

1.1.5.1.5. Pelaksana Seksi Pelayanan menerima dokumen yang telah ditandatangani,

mencatat nomor SPPKP yang telah diberikan secara sistem ke dalam buku

register, memberi stempel kantor, memisahkan dokumen untuk arsip dan dokumen

yang akan diserahkan kepada Wajib Pajak.

1.1.5.1.6. Pelaksana Seksi Pelayanan mengarsipkan dan menyerahkan dokumen kepada

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Penyampaian Dokumen di KPP).

1.1.5.1.7. Proses selesai.

1.1.5.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 5.

1.2 Pendaftaran Objek Pajak

7.1.1. Tata Cara Pendaftaran Objek Pajak Baru Dengan Penelitian Kantor

1.2.1.1 Prosedur Kerja

1.2.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Pendaftaran Objek Pajak baru ke Kantor

Pelayanan Pajak melalui Petugas TPT.

1.2.1.1.2. Petugas TPT menerima permohonan Pendaftaran Objek Pajak Baru kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya. Dalam hal berkas permohonan pendaftaran

belum lengkap, berkas permohonan pendaftaran dikembalikan kepada Wajib

Pajak untuk dilengkapi. Dalam hal berkas permohonan pendaftaran sudah

lengkap, Petugas TPT akan mencetak Bukti Penerimaan Surat (BPS) dan Lembar

Pengawasan Arus Dokumen (LPAD). BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak

sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas permohonan pendaftaran,

dan kemudian diteruskan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.

1.2.1.1.3. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti berkas dan menetapkan

melakukan penelitian lapangan atau penelitian kantor. Untuk pendaftaran objek

Administrasi Perpajakan 6
baru dengan penelitian lapangan berdasarkan SOP Tata Cara Pendaftaran Baru

dengan Penelitian Lapangan. Sedangkan untuk pendaftaran objek baru dengan

penelitian kantor, Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneruskan berkas

permohonan pendaftaran kepada Pejabat Fungsional Penilai.

1.2.1.1.4. Pejabat Fungsional Penilai menerima berkas permohonan pendaftaran, melakukan

penelitian kantor, dan membuat konsep Berita Acara Penelitian Kantor dan

menandatangani SPOP dan LSPOP kemudian menyampaikan kepada Kepala

Seksi Ekstensifikasi Perpajakan beserta berkas permohonan pendaftaran.

1.2.1.1.5. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempelajari dan memaraf konsep Berita

Acara Penelitian Kantor, kemudian menyampaikan kepada Kepala Kantor. Dalam

hal Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan tidak menyetujui konsep Berita Acara

Penelitian Kantor, Pejabat Fungsional Penilai harus memperbaiki konsep Berita

Acara Penelitian Kantor tersebut.

1.2.1.1.6. Kepala Kantor mereview, menetapkan dan menandatangani Berita Acara

Penelitian Kantor, kemudian menyampaikan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan untuk dilakukan pemutakhiran data grafis. Dalam hal Kepala Kantor

tidak menyetujui konsep Berita Acara Penelitian Kantor, Pejabat Fungsional

Penilai harus memperbaiki konsep Berita Acara Penelitian Kantor tersebut.

1.2.1.1.7. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menerima Berita Acara Penelitian Kantor

dan menugaskan OC SIG/Petugas Data Grafis untuk melakukan pemutakhiran

data grafis dan proses penatausahaan berkas selanjutnya.

1.2.1.1.8. OC SIG/Petugas Data Grafis melakukan pemutakhiran data grafis, kemudian

meneruskan berkas permohonan pendaftaran kepada Kepala Seksi Pengolahan

Data dan Informasi untuk dilakukan perekaman data.

1.2.1.1.9. Kepala Seksi Pengolahan data dan Informasi meneruskan berkas permohonan

pendaftaran objek baru dengan menggunakan SOP Tata Cara Pencetakan SPPT,

STTS, DHKP Hasil Perubahan Data Objek dan Subjek PBB.

1.2.1.1.10. SPPT hasil pencetakan disampaikan kepada Wajib Pajak.

1.2.1.1.11. Proses selesai

1.2.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat lampiran 6.

7.1.2. Tata Cara Pendaftaran Objek Pajak Baru Dengan Penelitian Lapangan

1.2.2.1. Prosedur Kerja

1.2.2.1.1. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan berdasarkan hasil penelitian berkas

pendaftaran objek baru pada SOP Tata Cara Pendaftaran Objek Pajak Baru

Administrasi Perpajakan 7
dengan Penelitian Kantor menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana

Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk menyiapkan konsep surat tugas penelitian

lapangan.

1.2.2.1.2. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyusun konsep Surat Tugas

Penelitian Lapangan dan menyerahkan konsep tersebut kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan.

1.2.2.1.3. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan memaraf konsep Surat Tugas Penelitian

Lapangan dan menyerahkan konsep tersebut kepada Kepala Kantor. Dalam hal

Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan tidak menyetujui konsep Surat Tugas

Penelitian Lapangan, maka Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan harus

memperbaiki konsep surat tugas tersebut.

1.2.2.1.4. Kepala Kantor meneliti, menyetujui dan menandatangani Surat Tugas Penelitian

Lapangan dan mengembalikan surat tugas tersebut kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan. Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui konsep surat

tugas penelitian lapangan, maka Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan harus

memperbaiki konsep surat tugas tersebut.

1.2.2.1.5. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyerahkan Surat Tugas Penelitian

Lapangan kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melakukan Penelitian

lapangan.

1.2.2.1.6. Pejabat Fungsional Penilai menerima Surat Tugas dan melakukan penelitian

lapangan, serta membuat konsep Berita Acara Penelitian Lapangan dan

menandatangani SPOP dan LSPOP, kemudian menyampaikan kepada Kepala

Seksi Ekstensifikasi Perpajakan beserta berkas permohonan pendaftaran.

1.2.2.1.7. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempelajari dan memaraf konsep Berita

Acara Penelitian Lapangan, kemudian menyampaikan kepada Kepala Kantor.

Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan tidak menyetujui konsep Berita

Acara Penelitian Lapangan, maka Pejabat Fungsional Penilai harus memperbaiki

konsep Berita Acara Penelitian Lapangan tersebut.

1.2.2.1.8. Kepala Kantor mereview, menetapkan dan menandatangani Berita Acara

Penelitian Lapangan, kemudian menyampaikan kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan untuk dilakukan pemutakhiran data grafis. Dalam hal

Kepala Kantor tidak menyetujui konsep Berita Acara Penelitian Lapangan, maka

Pejabat Fungsional Penilai harus memperbaiki konsep Berita Acara Penelitian

Lapangan tersebut.

Administrasi Perpajakan 8
1.2.2.1.9. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menerima Berita Acara Penelitian

Lapangan dan menugaskan OC SIG/Petugas Data Grafis untuk melakukan

pemutakhiran data grafis dan proses penatausahaan berkas selanjutnya.

1.2.2.1.10. OC SIG/Petugas Data Grafis melakukan pemutakhiran data grafis, selanjutnya

meneruskan berkas permohonan pendaftaran kepada Kepala Seksi Pengolahan

Data dan Informasi untuk dilakukan perekaman data.

1.2.2.1.11. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menerima berkas permohonan

pendaftaran dan menindaklanjuti berdasarkan SOP Tata Cara Pencetakan SPPT,

STTS, DHKP Hasil Perubahan Data Objek dan Subjek PBB.

1.2.2.1.12. SPPT hasil pencetakan disampaikan kepada Wajib Pajak

1.2.2.1.13. Proses selesai.

1.2.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 7.

7.1.3. Tata Cara Penerbitan Surat Himbauan Untuk Ber-NPWP

1.2.3.1. Prosedur Kerja

1.2.3.1.1. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan berdasarkan dokumen masuk yang telah

didisposisi Kepala Kantor Pelayanan Pajak, Nota Dinas dari Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi, data pihak ke tiga, laporan hasil penelitian

pendahuluan, dan/atau alat keterangan, menyusun dan menugaskan Pelaksana

Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk mencetak konsep Surat Himbauan NPWP.

1.2.3.1.2. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mencetak konsep Surat Himbauan ber-

NPWP dan menyampaikan konsep tersebut kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan.

1.2.3.1.3. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti, menyetujui, dan memaraf Surat

Himbauan ber-NPWP serta meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

1.2.3.1.4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menyetujui, dan menandatangani

Surat Himbauan ber-NPWP.

1.2.3.1.5. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyiapkan pengiriman Surat

Himbauan yang telah ditandatangani dan menatausahakan arsipnya.

1.2.3.1.6. Proses dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

1.2.3.1.7. Proses selesai.

1.2.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 8.

Administrasi Perpajakan 9
Penyuluhan dan Pelayanan
2.1. Penyuluhan

2.4.1. Tatap Muka

2.1.1.1. Tata Cara Pelayanan Konsultasi Perpajakan Melalui Tatap Muka

2.1.1.1.1. Prosedur kerja

2.1.1.1. 1.1 Wajib Pajak/Calon Wajib Pajak datang ke Kantor Pelayanan Penyuluhan dan

Konsultasi Perpajakan untuk berkonsultasi di bidang Perpajakan.

2.1.1.1. 1.2 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menerima kedatangan Wajib Pajak/Calon Wajib Pajak yang ingin

berkonsultasi di bidang Perpajakan, mengisi Buku Tamu, mengantarkannya

ke Kelompok Pejabat Fungsional.

2.1.1.1. 1.3 Kelompok Jabatan Fungsional menerima kedatangan Wajib Pajak/Calon

Wajib Pajak, mengadakan konsultasi langsung dengan Wajib Pajak/Calon

Wajib Pajak, mencatat identitas, konsultasi yang diberikan serta mencatat ke

dalam Buku Pelayanan Konsultasi Perpajakan.

2.1.1.1. 1.4 Proses selesai.

2.1.1.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat lampiran 9.

2.1.1.2. Tata Cara Pelayanan Konsultasi Perpajakan Melalui Penyelengaraan Information

Desk

2.1.1.2.1. Prosedur Kerja

2.1.1.2.1.1 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

memberikan tugas dan pengarahan kepada Kelompok Jabatan Fungsional

untuk mengadakan penyuluhan perpajakan melalui information desk.

2.1.1.2.1.2 Kelompok Jabatan Fungsional menerima tugas dan pengarahan tersebut

kemudian membuat membuat konsep Surat Penunjukan Petugas Information

Desk berikut jadwal waktunya dan menyerahkan kepada Kepada Kantor

Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan untuk disetujui.

Administrasi Perpajakan 10
2.1.1.2.1.3 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

dan menandatangani Surat Penunjukan Petugas Information Desk berikut

jadwal waktunya.

2.1.1.2.1.4 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

memberikan nomor, tanggal dan stempel, mencatat di buku register kegiatan

Penyuluhan Perpajakan kemudian menyampaikan kepada Kelompok

Jabatan Fungsional.

2.1.1.2.1.5 Kelompok Tenaga Fungsional melaksanakan penyuluhan, mencatat identitas

tamu ke dalam Buku Register Penyuluhan Perpajakan.

2.1.1.2.1.6 Proses selesai.

2.1.1.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 10.

2.1.1.3. Tata Cara Penyuluhan Perpajakan Dengan Pemberian Penataran Melalui

Pendidikan dan Latihan

2.1.1.3.1. Prosedur kerja

2.1.1.3.1.1 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menerima Surat Permohonan Tenaga Pengajar untuk suatu unit

kerja/instansi yang akan menyelenggarakan pendidikan dan latihan dalam

mata pelajaran perpajakan, mencatat surat tersebut ke dalam buku agenda

surat masuk dan meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan

dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.1.3.1.2 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menerima

dan memberikan disposisi kepada Kelompok Jabatan Fungsional

melaksanakan tugas tersebut.

2.1.1.3.1.3 Kelompok Jabatan Fungsional menerima tugas tersebut, mempersiapkan

bahan/materi yang akan diberikan dan melaksanakan tugas tersebut,

mencatat di buku register kegiatan penyuluhan perpajakan serta

menyerahkan ke Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi

Perpajakan.

2.1.1.3.1.4 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

bahan/materi penyuluhan kemudian menugaskan Pelaksana Kantor

Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan membuat konsep Surat

Tugas.

Administrasi Perpajakan 11
2.1.1.3.1.5 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

membuat konsep Surat Tugas kemudian menyerahkannya kepada kepala

Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.1.3.1.6 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

dan menandatangani Surat Tugas.

2.1.1.3.1.7 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

mencatatat dalam Buku Register, memberi nomor dan tanggal, memberi

stempel kantor, serta memasukkan ke dalam amplop surat, mengarsipkan,

serta menyampaikn Surrat Tugas asli kepada Kelompok Jabatan Fungsional.

2.1.1.3.1.8 Proses selesai

2.1.1.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat lampiran 11.

2.1.1.4. Tata Cara Penyuluhan Perpajakan Kepada Wajib Pajak Secara Massal

2.1.1.4.1. Prosedur kerja

2.1.1.4.1.1 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan memberi

tugas dan pengarahan kepada Ketua Kelompok Jabatan Fungsional untuk

melakukan penyuluhan perpajakan kepada Wajib Pajak. Penugasan ini bisa

berasal dari inisiatif Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi

Perpajakan atau karena adanya Surat Permintaan Penyelenggaraan

Penyuluhan Perpajakan yang berasal dari pihak luar baik instansi pemerintah

maupun swasta.

2.1.1.4.1.2 Kelompok Jabatan Fungsional menerima penugasan dan pengarahan dari

Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi kemudian membuat

konsep Rencana Pelaksanan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan berdasarkan

Buku Pola Dasar Penyuluhan Perpajakan dan konsep Anggaran Biaya

dengan memperhatikan anggaran yang ada. Konsep Rencana Pelaksanan

Kegiatan Penyuluhan Perpajakan dan konsep Anggaran Biaya kemudian

diserahkan kepada Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi

Perpajakan.

2.1.1.4.1.3 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

dan menandatangani Rencana Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan

Perpajakan dan Anggaran Biaya kemudian meneruskannya kepada

Kelompok Jabatan Fungsional.

2.1.1.4.1.4 Kelompok Jabatan Fungsional menyerahkan Anggaran Biaya kepada

Bendahara Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

Administrasi Perpajakan 12
2.1.1.4.1.5 Bendahara kemudian memberikan dana kepada Kelompok Jabatan

Fungsional.

2.1.1.4.1.6 Kelompok Jabatan Fungsional menugaskan Pelaksana Kantor Pelayanan

Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan untuk membuat Surat Undangan.

2.1.1.4.1.7 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

membuat konsep Surat Undangan kemudian menyerahkannya kepada

Kelompok Jabatan Fungsional.

2.1.1.4.1.8 Kelompok Jabatan Fungsional meneliti dan memaraf konsep Surat

Undangan kemudian menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.1.4.1.9 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

dan menandatangani Surat Undangan.

2.1.1.4.1.10 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menatausahakan dan mengirimkan Surat Undangan. Proses pengiriman ini

diproses dalam SOP Penyampaian Dokumen di KP2KP.

2.1.1.4.1.11 Kelompok Jabatan Fungsional melakukan kegiatan penyuluhan perpajakan

sesuai dengan rencana dan Anggaran Biaya yang telah disetujui.

2.1.1.4.1.12 Kelompok Jabatan Fungsional membuat konsep Laporan Pelaksanaan

Kegiatan Penyuluhan Perpajakan dan konsep Laporan Pertanggungjawaban

Biaya kemudian menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.1.4.1.13 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

dan menandatangani Laporan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan dan Laporan

Pertanggungjawaban Biaya.

2.1.1.4.1.14 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menatausahakan, mengarsipkan, dan mencatat dokumen terkait kegiatan

penyuluhan Perpajakan dalam Buku Register Penyuluhan Perpajakan.

2.1.1.4.1.15 Laporan Pertanggungjawaban Biaya beserta dengan bukti-bukti pengeluaran

disimpan oleh Bendahara.

2.1.1.4.1.16 Proses selesai.

2.1.1.4.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 12.

Administrasi Perpajakan 13
2.4.2. Media Cetak

2.1.1.1. Tata Cara Penyuluhan Perpajakan Melalui Media Massa Cetak

2.1.2.1.1. Prosedur kerja

2.1.2.1. 1.1 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

memberikan tugas dan pengarahan kepada para Kelompok Jabatan

Fungsional untuk menyiapkan konsep Artikel/Iklan Penyuluhan dalam rangka

penyuluhan perpajakan melalui media cetak dengan judul dan tema yang

ditentukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi

Perpajakan.

2.1.2.1. 1.2 Kelompok Jabatan Fungsional membuat konsep Artikel/Iklan Penyuluhan dan

Anggaran Biaya kemudian menyerahkannya kepada Kepala Kantor

Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.2.1. 1.3 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

Artikel/Iklan Penyuluhan dan Anggaran Biaya kemudian menyerahkannya

kepada Kelompok Jabatan Fungsional.

2.1.2.1. 1.4 Kelompok Jabatan Fungsional menyerahkan Anggaran Biaya kepada

Bendahara.

2.1.2.1. 1.5 Bendahara menyerahkan dana kepada Kelompok Jabatan Fungsional.

2.1.2.1. 1.6 Kelompok Jabatan Fungsional menyerahkan Artikel/Iklan Penyuluhan kepada

Penerbit Media Masa.

2.1.2.1. 1.7 Kelompok Jabatan Fungsional menerima koran/majalah yang memuat

artikel/iklan penyuluhan perpajakan, kemudian membuat Laporan

Pertanggungjawaban Biaya kemudian menyerahkannya kepada Kepala

Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.2.1. 1.8 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

dan menandatangani Laporan Pertanggungjawaban Biaya.

2.1.2.1. 1.9 Laporan Pertanggungjawaban Biaya beserta dengan bukti-bukti pengeluaran

disimpan oleh Bendahara.

2.1.2.1. 1.10 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menerima koran/majalah, membuat kliping koran/majalah kemudian

menatausahakan dan mengarsipkannya.

2.1.2.1. 1.11 Proses selesai

2.1.2.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 13.

Administrasi Perpajakan 14
2.1.1.2. Tata Cara Penyuluhan Perpajakan Melalui Penerbitan Prospektus, Brosur Leaflet

atau Karikatur

2.1.2.2.1. Prosedur kerja

2.1.2.2. 1.1 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

memberikan tugas dan pengarahan kepada Kelompok Jabatan Fungsional

untuk membuat prospektus, brosur, leaflet, atau karikatur sesuai dengan

bidang keahlian masing-masing.

2.1.2.2. 1.2 Kelompok Jabatan Fungsional yang bersangkutan menerima tugas kemudian

menyiapkan bahan-bahan, mempelajari, membuat konsep prospektus,

brosur, leaflet, atau karikatur kemudian menyerahkannya kepada Kepala

Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.2.2. 1.3 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

prospektus, brosur, leaflet, atau karikatur.

2.1.2.2. 1.4 Proses pencetakan dokumen selanjutnya diproses dalam SOP Tata Cara

Pengadaan ATK/Formulir/Barang Inventaris.

2.1.2.2. 1.5 Proses selesai.

2.1.2.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 14.

2.4.3. Media Elektronik

2.1.1.1. Tata Cara Pelayanan Konsultasi Perpajakan Melalui Telepon

2.1.3.1.1. Prosedur kerja

2.1.3.1. 1.1 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menerima telepon dari Wajib Pajak yang ingin berkonsultasi tentang Pajak

Penghasilan, kemudian menyambungkan kepada pesawat telepon Kelompok

Jabatan Fungsional.

2.1.3.1. 1.2 Kelompok Jabatan Fungsional menerima sambungan telepon dari Pelaksana

Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan dari Wajib Pajak

yang ingin berkonsultasi, mencatat identitas penelpon ke dalam Buku

Pelayanan Konsultasi Perpajakan, memberikan penjelasan yang dikehendaki

oleh Wajib Pajak.

2.1.3.1. 1.3 Proses selesai

2.1.3.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 15.

Administrasi Perpajakan 15
2.1.1.2. Tata Cara Penyuluhan Perpajakan Melalui Media Massa Elektronik Radio

2.1.3.2.1. Prosedur kerja

2.1.3.2. 1.1 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

memberikan tugas dan pengarahan kepada para Kelompok Jabatan

Fungsional untuk menyiapkan konsep Skenario/Iklan Penyuluhan dalam

rangka penyuluhan perpajakan melalui media massa elektronik-radio dengan

judul dan tema yang ditentukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan

dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.3.2. 1.2 Kelompok Jabatan Fungsional menerima tugas tersebut, menyiapkan bahan-

bahan, mempelajari, membuat konsep Skenario/Iklan Penyuluhan sesuai

dengan judul dan tema yang telah ditentukan, membuat Anggaran Biaya

yang diperlukan dan menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan.

2.1.3.2. 1.3 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

Skenario/Iklan Penyuluhan kemudian menugaskan Pelaksana Kantor

Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan. Sedangkan Anggaran

Biaya yang disetujui diserahkan kepada Kelompok Jabatan Fungsional untuk

kemudian diserahkan ke bendahara.

2.1.3.2. 1.4 Bendahara menyiapkan dana dan menyerahkan dananya kepada Kelompok

Pejabat Fungsional.

2.1.3.2. 1.5 Kelompok Jabatan Fungsional menyerahkan Skenario/Iklan Penyuluhan

beserta biayanya kepada media elektronikradio.

2.1.3.2. 1.6 Kelompok Jabatan Fungsional melaksanakan penyuluhan di media

elektronikradio kemudian meminta bukti pembayaran.

2.1.3.2. 1.7 Kelompok Jabatan Fungsional membuat konsep Laporan Hasil Penyuluhan

di media elektronikradio dan Laporan Pertanggungjawaban Biaya.

2.1.3.2. 1.8 Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan menyetujui

Laporan Hasil Penyuluhan dan Laporan Pertangungjawaban Biaya.

2.1.3.2. 1.9 Pelaksana Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan

menatausahakan dan mengarsipkan Laporan Hasil Penyuluhan.

2.1.3.2. 1.10 Laporan Pertanggungjawaban Biaya beserta dengan bukti-bukti pengeluaran

disimpan oleh Bendahara.

2.1.3.2. 1.11 Proses selesai.

2.1.3.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 16

Administrasi Perpajakan 16
2.2. Surat Keterangan Bebas

2.4.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh Ps. 21

2.2.1.1 Prosedur kerja

2.2.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB)

Pemotongan/Pemungutan PPh ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat

Pelayanan Terpadu.

2.2.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.2.1.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh,

kemudian uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

2.2.1.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani Uraian

Penelitian Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan

Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh, kemudian

menyampaikan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.2.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan Surat

Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh.

2.2.1.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian penelitian permohonan dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

Surat Keterangan Bebas (SKB) diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga), yaitu:

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak;

b. Lembar ke-2 : untuk Pemotong/Pemungut pajak;

c. Lembar ke-3 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.1.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep Surat Keterangan

Bebas (SKB) Pemotongan PPh Pasal 21 atau Surat Penolakan Permohonan Surat

Administrasi Perpajakan 17
Keterangan Bebas Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21,

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.2.1.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf dokumen hasil persetujuan,

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani dokumen hasil

persetujuan.

2.2.1.1.10. Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan PPh Pasal 21 atau Surat Penolakan

Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemotongan/Pemungutan Pajak

Penghasilan Pasal 21 ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada pihak-pihak

terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.2.1.1.11. Proses selesai.

2.2.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 17.

2.4.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh Ps. 22

Bendaharawan

2.2.2.1 Prosedur kerja

2.2.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB)

Pemotongan/Pemungutan PPh ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat

Pelayanan Terpadu.

2.2.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.2.2.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh,

kemudian menyampaikan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

Administrasi Perpajakan 18
2.2.2.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani Uraian

Penelitian Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) penerbitan Surat

Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh, kemudian

menyampaikan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.2.2.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) penerbitan Surat

Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh.

2.2.2.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian penelitian permohonan dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

Surat Keterangan Bebas (SKB) diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga), yaitu:

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak;

b. Lembar ke-2 : untuk Pemotong/Pemungut pajak;

c. Lembar ke-3 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.2.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep Surat Keterangan

Bebas PPh Pasal 22 Bendaharawan atau Surat Penolakan Permohonan Surat

Keterangan Bebas Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22

Bendaharawan, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.2.2.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf dokumen hasil persetujuan, dan

menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.2.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani dokumen hasil

persetujuan.

2.2.2.1.10. Surat Keterangan Bebas PPh Pasal 22 Bendaharawan atau Surat Penolakan

Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemotongan/Pemungutan Pajak

Penghasilan Pasal 22 Bendaharawan ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP

Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada pihak-

pihak terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.2.2.1.11. Proses selesai

2.2.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 18.

Administrasi Perpajakan 19
2.4.3. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Ijin Prinsip Pembebasan PPh Pasal 22 Impor

2.2.3.1 Prosedur kerja

2.2.3.1.1. Wajib Pajak mengajukan Permohonan Surat Ijin Prinsip Pembebasan Pemungutan

PPh ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

2.2.3.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan

LPAD. BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan

digabungkan dengan surat permohonan beserta kelengkapannya. Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam surat permohonan dan

dilanjutkan dengan meneruskan surat permohonan beserta kelengkapannya ke

Account Representative.

2.2.3.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan Surat Ijin Prinsip Pembebasan Pemungutan PPh, kemudian

meneruskan uraian penelitian permohonan terebut kepada Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

2.2.3.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani Uraian

Penelitian Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan

Surat Ijin Prinsip Pembebasan PPh Pasal 22 Impor, kemudian meneruskan uraian

penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.3.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan Surat Ijin

Prinsip Pembebasan PPh Pasal 22 Impor.

2.2.3.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian penelitian permohonan dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

Surat ijin prinsip diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga), yaitu:

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak;

b. Lembar ke-2 : untuk Pemotong/Pemungut pajak;

c. Lembar ke-3 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.3.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep Surat Ijin Prinsip

Pembebasan PPh Pasal 22 Impor atau Surat Penolakan Permohonan Surat Ijin

Prinsip Pembebasan PPh Pasal 22 Impor kemudian menyampaikannya kepada

Kepala Seksi Pelayanan.

Administrasi Perpajakan 20
2.2.3.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf dokumen hasil persetujuan,

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak

2.2.3.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani dokumen hasil persetujuan.

2.2.3.1.10. Surat Ijin Prinsip Pembebasan PPh Pasal 22 Impor atau Surat Penolakan

Permohonan Surat Ijin Prinsip Pembebasan PPh Pasal 22 Impor ditatausahakan di

Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan

disampaikan kepada pihakpihak terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen di KPP).

2.2.3.1.11. Proses selesai.

2.2.3.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 19.

2.4.4. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan

PPh Ps. 22 Impor

2.2.4.1 Prosedur kerja

2.2.4.1.1. Wajib Pajak mengajukan Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB)

Pemotongan/Pemungutan PPh ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat

Pelayanan Terpadu.

2.2.4.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.2.4.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh,

kemudian meneruskan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.2.4.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani Uraian

Penelitian Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan

Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh, kemudian

meneruskan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 21
2.2.4.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan Surat

Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh.

2.2.4.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian penelitian permohonan dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

SKB PPh Ps 22 Impor terdiri dari rangkap 6 :

a. Lembar 1 : DJBC / Bank Devisa

b. Lembar 2 : Importir / Wajib Pajak

c. Lembar 3 : DJBC / Bank Devisa (kembali ke KPP)

d. Lembar 4 : Direktorat PKP (dahulu Dit. PPh)

e. Lembar 5 : KPP Domisili Importir

f. Lembar 6 : Arsip KPP

2.2.4.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep Surat Keterangan

Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor atau Surat Penolakan

Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22

Impor, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.2.4.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf dokumen hasil persetujuan,

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.4.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani dokumen hasil

persetujuan.

2.2.4.1.10. Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor atau Surat

Penolakan Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemungutan Pajak Penghasilan

Pasal 22 Impor ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada pihak-pihak

terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.2.4.1.11. Proses selesai.

2.2.4.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 20.

2.4.5. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan

PPh Ps. 23

2.2.5.1 Prosedur kerja

Administrasi Perpajakan 22
2.2.5.1.1. Wajib Pajak mengajukan Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB)

Pemotongan/Pemungutan PPh ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat

Pelayanan Terpadu.

2.2.5.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.2.5.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh,

kemudian menyampaikan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.2.5.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani Uraian

Penelitian Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan

Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh, kemudian

menyampaikan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.2.5.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan Surat

Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPh.

2.2.5.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian penelitian permohonan dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

Surat Keterangan Bebas (SKB) diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga), yaitu:

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak;

b. Lembar ke-2 : untuk Pemotong/Pemungut pajak;

c. Lembar ke-3 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.5.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep Surat Keterangan

Bebas (SKB) Pemotongan PPh Pasal 23 atau Surat Penolakan Permohonan Surat

Keterangan Bebas Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 23,

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

Administrasi Perpajakan 23
2.2.5.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf dokumen hasil persetujuan,

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.5.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani dokumen hasil

persetujuan.

2.2.5.1.10. Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan PPh Pasal 23 atau Surat Penolakan

Permohonan Surat Keterangan Bebas Pemotongan/Pemungutan Pajak

Penghasilan Pasal 23 ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada pihak-pihak

terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.2.5.1.11. Proses selesai.

2.2.5.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat lampiran 21.

2.4.6. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN

2.2.6.1 Prosedur kerja

2.2.6.1.1. Wajib Pajak mengajukan Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB)

Pemotongan/Pemungutan PPN ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat

Pelayanan Terpadu.

2.2.6.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.2.6.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPN

kemudian menyampaikan uraian permohonan tersebut kepada Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

2.2.6.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani uraian

penelitian permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan

Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPN, kemudian

Administrasi Perpajakan 24
menyampaikan uraian penelitian permohonan tersebut kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.2.6.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah, menandatangani uraian penelitian

permohonan, dan memberikan persetujuan (approve) atas penerbitan Surat

Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan PPN.

2.2.6.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian penelitian permohonan dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga), yaitu:

a. Lembar ke-1 : untuk Kantor Pelayanan Bea dan Cukai

b. Lembar ke-2 : untuk Pemohon SKB PPN;

c. Lembar ke-3 : untuk Kantor Pelayanan Pajak Penerbit SKB PPN.

2.2.6.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep Surat Keterangan

Bebas Pajak Pertambahan Nilai atas Impor Barang Kena Pajak Tertentu atau

Surat Penolakan Pembebasan Pajak Pertambahan Nilai atas Impor Barang Kena

Pajak Tertentu, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.2.6.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf dokumen hasil persetujuan

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.6.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani dokumen hasil persetujuan.

2.2.6.1.10. Surat Keterangan Bebas Pajak Pertambahan Nilai atas Impor Barang Kena Pajak

Tertentu atau Surat Penolakan Pembebasan Pajak Pertambahan Nilai atas Impor

Barang Kena Pajak Tertentu ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada pihak-pihak

terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.2.6.1.11. Proses selesai.

2.2.6.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 22.

2.3. Pelayanan PBB

2.4.1. Tata Cara Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran Pajak Bumi dan

Bangunan

2.3.1.1 Prosedur kerja

2.3.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo

Pembayaran PBB ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

Administrasi Perpajakan 25
2.3.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permohonan Penentuan Kembali

Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB kemudian meneliti kelengkapan

persyaratannya. Dalam hal berkas permohonan Penentuan Kembali Tanggal Jatuh

Tempo Pembayaran PBB belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak untuk

melengkapinya. Dalam hal berkas permohonan permohonan Penentuan Kembali

Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB sudah lengkap, Petugas Tempat

Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD. BPS diserahkan kepada Wajib

Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan berkas permohonan Penentuan

Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB, dan kemudian diteruskan

kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.3.1.1.3. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menugaskan dan memberi disposisi

kepada Account Representative untuk membuat Uraian Penelitian Penentuan

Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB.

2.3.1.1.4. Account Representative membuat dan menandatangani Uraian Penelitian

Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB kemudian

menyerahkan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.3.1.1.5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani Uraian

Penelitian Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB kemudian

menyerahkan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi tidak menyetujui Uraian Penelitian Penentuan

Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB, maka Account Representative

harus memperbaiki Uraian Penelitian Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo

Pembayaran PBB tersebut.

2.3.1.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Uraian

Penelitian Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB, kemudian

meneruskan Uraian Penelitian Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo

Pembayaran PBB tersebut kepada Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi.

Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak menyetujui Uraian Penelitian

Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB tersebut maka

Account Representative harus memperbaiki Uraian Penelitian Penentuan Kembali

Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB tersebut.

2.3.1.1.7. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menerima Uraian Penelitian

Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB, mendisposisi dan

menugaskan Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi untuk merekam

perubahan data sebagaimana tersebut dalam Uraian Penelitian.

Administrasi Perpajakan 26
2.3.1.1.8. Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi merekam perubahan data

sebagaimana tersebut dalam Uraian Penelitian kemudian meneruskan berkas

permohonan Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB kepada

Kepala Seksi Pelayanan.

2.3.1.1.9. Kepala Seksi Pelayanan menerima berkas permohonan Penelitian Penentuan

Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB dan menugaskan Pelaksana

Seksi Pelayanan untuk mencetak konsep Surat Keputusan Penentuan Kembali

Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB berikut SPPT PBB atau Surat Jawaban.

2.3.1.1.10. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keputusan Penentuan

Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB berikut SPPT PBB atau Surat

Jawaban dan meneruskan kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.3.1.1.11. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Keputusan

Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB berikut SPPT PBB

atau Surat Jawaban, kemudian meneruskan kepada Kepala Kantor Pelayanan

Pajak. Dalam hal Kepala Seksi Pelayanan tidak menyetujui konsep Surat

Keputusan Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB berikut

SPPT atau Surat Jawaban tersebut, Pelaksana Seksi Pelayanan harus

memperbaiki konsep Surat tersebut.

2.3.1.1.12. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Keputusan

Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB berikut SPPT atau

Surat Jawaban. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak menyetujui

konsep Surat Keputusan Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran

PBB berikut SPPT PBB atau Surat Jawaban tersebut, Pelaksana Seksi Pelayanan

harus memperbaiki konsep Surat tersebut.

2.3.1.1.13. Surat Keputusan Penentuan Kembali Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran PBB

berikut SPPT PBB atau Surat Jawaban ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP

Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada Wajib

Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

2.3.1.1.14. Proses selesai.

2.3.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 23.

2.4.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)

2.3.2.1 Prosedur kerja

2.3.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan tertulis permintaan Surat Keterangan Nilai

Jual Objek Pajak (NJOP) ke Kantor Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 27
2.3.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permohonan penerbitan surat

keterangan NJOP kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya. Dalam hal

berkas permohonan penerbitan surat keterangan NJOP belum lengkap, berkas

permohonan penerbitan surat keterangan NJOP dikembalikan kepada Wajib Pajak

untuk dilengkapi. Dalam hal berkas permohonan penerbitan surat keterangan

NJOP sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak Bukti

Penerimaan Surat (BPS) dan Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD). BPS

akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan

berkas permohonan penerbitan surat keterangan NJOP, dan kemudian diteruskan

kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.

2.3.2.1.3. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti apakah objek pajak sudah

terdaftar pada basis data. Apabila objek pajak belum terdaftar pada basisdata,

maka proses dilanjutkan dengan SOP Tata Cara Pendaftaran Objek Pajak Baru

baik dengan penelitian lapangan atau dengan penelitian kantor, kemudian

dilanjutkan ke prosedur kerja nomor 11. Sedangkan untuk objek pajak yang telah

terdaftar maka proses dilanjutkan ke prosedur kerja nomor 4.

2.3.2.1.4. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti dan menetapkan perlu tidaknya

dilakukan penelitian lapangan. Apabila dirasa perlu dilakukan penelitian lapangan

maka mengikuti prosedur kerja nomor 5, dan bila tidak perlu dilakukan penelitian

lapangan maka mengikuti prosedur kerja nomor 11.

2.3.2.1.5. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menugaskan dan memberi disposisi

kepada Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk menyiapkan konsep

surat tugas penelitian lapangan penyelesaian permohonan surat keterangan

NJOP.

2.3.2.1.6. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyusun konsep surat tugas

penelitian lapangan penyelesaian permohonan surat keterangan NJOP dan

menyerahkan konsep tersebut kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.

2.3.2.1.7. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti, menyetujui dan memaraf konsep

surat tugas penelitian lapangan, kemudian menyerahkan konsep tersebut kepada

Kepala Kantor. Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan tidak menyetujui

konsep surat tugas penelitian lapangan, maka Pelaksana Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan harus memperbaiki konsep surat tugas tersebut.

2.3.2.1.8. Kepala Kantor mereview, menetapkan dan menandatangani surat tugas penelitian

lapangan, kemudian mengembalikan surat tugas tersebut kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan. Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui konsep surat

Administrasi Perpajakan 28
tugas penelitian lapangan tersebut maka Pelaksana Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan harus memperbaiki konsep surat tugas tersebut.

2.3.2.1.9. Pejabat Fungsional Penilai melakukan penelitian lapangan berdasarkan surat

tugas penelitian lapangan penyelesaian permohonan surat keterangan NJOP.

Kemudian mengikuti prosedur kerja nomor 11.

2.3.2.1.10. Pejabat Fungsional Penilai melakukan penelitian berdasarkan atas data-data di

SISMIOP. Dalam hal Pejabat Fungsional Penilai menemukan perbedaan data

antara basis data SISMIOP dengan keterangan Wajib Pajak, maka kembali ke

prosedur kerja nomor 5.

2.3.2.1.11. Pejabat Fungsional Penilai membuat uraian penelitian pembuatan keterangan

NJOP, mengisi dan menandatangani SPOP, LSPOP untuk objek PBB belum

terdaftar dan menyerahkan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.

2.3.2.1.12. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti, menyetujui dan menandatangani

uraian penelitian pembuatan keterangan NJOP dan SPOP, LSPOP untuk objek

PBB belum terdaftar. Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan tidak

menyetujui konsep uraian penelitian pembuatan keterangan NJOP, maka Pejabat

Fungsional Penilai harus memperbaiki konsep uraian penelitian pembuatan

keterangan NJOP tersebut.

2.3.2.1.13. Untuk objek PBB yang ada perubahan data mengikuti prosedur kerja nomor 14,

dan untuk objek PBB yang tidak ada perubahan data mengikuti prosedur kerja

nomor 16.

2.3.2.1.14. Kepala Seksi Pengolahan Data menugaskan untuk melakukan perekaman data

atas objek yang belum terdaftar.

2.3.2.1.15. Pelaksana Seksi Pengolahan Data melakukan perekaman data dan meneruskan

berkas permohonan surat keterangan NJOP kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.3.2.1.16. Kepala Seksi Pelayanan menerima berkas permohonan surat keterangan NJOP,

menugaskan dan memberikan disposisi Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak konsep surat keterangan NJOP.

2.3.2.1.17. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep surat keterangan NJOP dan

meneruskan kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.3.2.1.18. Kepala Seksi Pelayanan meneliti, menyetujui dan memaraf konsep surat

keterangan NJOP serta meneruskan kepada Kepala Kantor. Dalam hal Kepala

Seksi Pelayanan tidak menyetujui konsep surat keterangan NJOP tersebut,

Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki konsep surat keterangan tersebut.

2.3.2.1.19. Kepala Kantor mereview, menetapkan dan menandatangani surat keterangan

NJOP. Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui konsep surat keterangan NJOP

Administrasi Perpajakan 29
tersebut, Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki konsep surat keterangan

NJOP tersebut.

2.3.2.1.20. Proses dilanjutkan ke SOP tentang Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib

Pajak dan SOP tentang Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

2.3.2.1.21. Proses selesai.

2.3.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 24 (dua halaman).

2.4. Pelayanan Bea Meterai

2.4.1. Tata Cara Penyelesaian Pemberian Ijin Pembubuhan Tanda Meterai Lunas Dengan

mesin Teraan Meterai

2.4.1.1 Prosedur kerja

2.4.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Ijin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas

dengan Mesin Teraan Meterai ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat

Pelayanan Terpadu.

2.4.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.4.1.1.3. Account Representative membuka segel mesin teraan dan mencatat informasi

yang diperlukan dalam rangka membuat Berita Acara Pembukaan dan

Pemasangan Segel Mesin Teraan. Selanjutnya Account Representative membuat

dan menandatangani Laporan Penelitian Ijin Pembubuhan Tanda Bea Meterai

Lunas dengan Mesin Teraan Meterai kemudian menyerahkannya kepada Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Dalam hal data untuk Laporan Penelitian tidak

sesuai dengan permohonan Wajib Pajak, Account Representative dapat

menyesuaikan data dimaksud.

2.4.1.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani Laporan

Penelitian Ijin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan

Meterai kemudian menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

Dalam hal Kepala Seksi tidak menyetujui Laporan Penelitian Ijin Pembubuhan

Administrasi Perpajakan 30
Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai tersebut, Account

Representative harus memperbaiki dokumen tersebut.

2.4.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian Ijin Pembubuhan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan

Meterai kemudian menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pelayanan. Dalam hal

Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak menyetujui Laporan Penelitian Ijin

Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan Materai tersebut,

Account Representative harus memperbaiki dokumen tersebut.

2.4.1.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima Laporan Penelitian Ijin Pembubuhan Tanda

Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai dan menugaskan Pelaksana

Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil persetujuan.

Ijin Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan diterbitkan

dalam rangkap 3 (tiga), yaitu :

Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak

Lembar ke-2 : untuk Kantor Wilayah

Lembar ke-3 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

2.4.1.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Berita Acara Pembukaan dan

Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai dan konsep Ijin Pembubuhan Tanda

Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan atau konsep Surat Penolakan Ijin

Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan kemudian

menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.4.1.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Berita Acara Pembukaan

dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai dan konsep Ijin Pembubuhan

Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan atau konsep Surat Penolakan Ijin

Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan kemudian

meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.4.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Berita Acara

Pembukaan dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai dan Ijin Pembubuhan

Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan atau Surat Penolakan Ijin

Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan.

2.4.1.1.10. Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai dan Ijin

Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan atau Surat

Penolakan Ijin Pembubuhan Tanda Bea Materai Lunas dengan Mesin Teraan

ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen

Wajib Pajak) dan disampaikan kepada pihak-pihak terkait melalui Subbagian

Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

Administrasi Perpajakan 31
2.4.1.1.11. Proses selesai.

2.4.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 25.

2.4.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Penambahan Deposit Mesin Teraan Meterai

2.4.2.1 Prosedur kerja

2.4.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Pengisian Saldo Bea Meterai Mesin Teraan

ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

2.4.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.4.2.1.3. Account Representative melakukan penelitian atas permohonan Wajib Pajak dan

membuat konsep Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel kemudian

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Dalam hal

data untuk Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel tidak sesuai dengan

permohonan Wajib Pajak, Account Representative dapat menyesuaikan data

dimaksud.

2.4.2.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Berita

Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel kemudian meneruskannya kepada

Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi tidak menyetujui konsep

Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel, Account Representative harus

memperbaiki dokumen tersebut.

2.4.2.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Berita Acara

Pembukaan dan Pemasangan Segel dan meneruskannya kepada Kepala Seksi

Pelayanan. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak menyetujui konsep

Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel, Account Representative harus

memperbaiki dokumen tersebut.

2.4.2.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan

Segel dan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen

hasil persetujuan. Dalam hal penambahan deposit disetujui, dicetak konsep Berita

Administrasi Perpajakan 32
Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai. Dalam hal

penambahan deposit tidak disetujui, dicetak konsep Surat Penolakan

Permohonan.

2.4.2.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Berita Acara Pembukaan dan

Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai atau konsep Surat Penolakan,

kemudian meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.4.2.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Berita Acara Pembukaan

dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai atau konsep Surat Penolakan,

kemudian meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.4.2.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Berita Acara

Pembukaan dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai atau Surat Penolakan.

2.4.2.1.10. Berita Acara Pembukaan dan Pemasangan Segel Mesin Teraan Meterai atau

Surat Penolakan ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada Wajib Pajak

melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

2.4.2.1.11. Proses selesai.

2.4.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 26.

2.5. Pelayanan Pengembalian Pendahuluan

2.4.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengembalian Pendahuluan PPh Untuk WP

Patuh

2.5.1.1 Prosedur Kerja

2.5.1.1.1. Wajib Pajak Patuh mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran

pajak dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) atau surat tersendiri

melalui Tempat Pelayanan Terpadu (TPT). Penerimaan SPT diproses dengan

SOP Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT Tahunan.

2.5.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dimohon kepada Wajib Pajak

untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya sudah

lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD. BPS

diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

Administrasi Perpajakan 33
2.5.1.1.3. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menerima dan menugaskan Account

Representative untuk melakukan penelitian.

2.5.1.1.4. Account Representative melakukan penelitian terhadap SPTLB Wajib Pajak Patuh,

serta melakukan konfirmasi atas Kredit Pajak, serta menyusun dan

menandatangani Laporan Hasil Penelitian, serta menginput, mencetak, dan

memaraf Nothit SKPPKP.

2.5.1.1.5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani Laporan

Penelitian serta memaraf Nothit SKPPKP serta meneruskan kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.5.1.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian serta memaraf Nothit SKPPKPP. Nothit yang sudah ditetapkan

kemudian diteruskan ke Seksi Pelayanan.

2.5.1.1.7. Kepala Seksi Pelayanan menerima Nothit SKPPKP dan Laporan Penelitian,

kemudian menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak SKPPKP.

2.5.1.1.8. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak SKPPKP dan meneruskannya kepada

Kepala Seksi Pelayanan.

2.5.1.1.9. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf SKPPKP dan meneruskannya

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.5.1.1.10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani SKPPKP

2.5.1.1.11. dan disampaikan ke Wajib Pajak dengan SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen

di KPP.

2.5.1.1.12. SKPPKP ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan

Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan ke Wajib Pajak melalui Subbagian

Umum.

2.5.1.1.13. Pemrosesan atas SKPPKP dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penerbitan Surat

Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP).

2.5.1.1.14. Proses selesai.

2.5.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 27.

2.4.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengembalian Pendahuluan PPN Untuk WP

Kriteria Tertentu Khusus WP Patuh

2.5.2.1 Prosedur Kerja

2.5.2.1.1. Wajib Pajak Patuh mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran

pajak dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) atau surat tersendiri ke

Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu. Penerimaan SPT

Administrasi Perpajakan 34
Masa PPN diproses dengan SOP Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT

Masa.

2.5.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dimohon kepada Wajib Pajak

untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya sudah

lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD. BPS

diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.5.2.1.3. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menerima dan menugaskan Account

Representative untuk melakukan penelitian Surat Permohonan Pengembalian

Pendahuluan Kelebihan Pajak.

2.5.2.1.4. Account Representative melakukan penelitian terhadap Surat Permohonan

Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak Wajib Pajak Patuh, serta melakukan

konfirmasi atas Kredit Pajak, menyusun dan menandatangani Laporan Hasil

Penelitian, serta menginput dan mencetak Nothit SKPPKP.

2.5.2.1.5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menandatangani Laporan

Penelitian, dan memaraf Nothit SKPPKP, serta meneruskan kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.5.2.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian dan memaraf Nothit SKPPKP. Nothit yang sudah ditetapkan diteruskan

ke Seksi Pelayanan.

2.5.2.1.7. Kepala Seksi Pelayanan menerima Nothit SKPPKP dan Laporan Penelitian,

kemudian menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak SKPPKP.

2.5.2.1.8. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak SKPPKP dan meneruskannya kepada

Kepala Seksi Pelayanan.

2.5.2.1.9. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf SKPPKP dan meneruskannya

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.5.2.1.10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani SKPPKP.

2.5.2.1.11. SKPPKP ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan

Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan ke Wajib Pajak melalui Subbagian Umum

(SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

2.5.2.1.12. Pemrosesan atas SKPPKP dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penerbitan SPMKP.

2.5.2.1.13. Proses selesai.

Administrasi Perpajakan 35
2.5.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 28.

2.6. Pelayanan Perubahan Angsuran

2.4.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25

2.6.1.1 Prosedur Kerja

2.6.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25

beserta kelengkapannya ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan

Terpadu.

2.6.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

2.6.1.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Laporan Penelitian

Permohonan Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25 serta menyampaikan kepada

Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.6.1.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani Laporan

Penelitian Permohonan Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25 serta

menyampaikannya kepada Kepala Kantor. Dalam hal Kepala Seksi tidak

menyetujui laporan yang dibuat, Account Representative harus memperbaiki

dokumen tersebut terlebih dahulu.

2.6.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian Permohonan Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25. Dalam hal Kepala

Kantor tidak menyetujui laporan yang telah dibuat, Account Representative harus

memperbaiki dahulu dokumen tersebut.

2.6.1.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima Laporan Penelitian Permohonan Pengurangan

Angsuran PPh Pasal 25 dan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak dokumen hasil persetujuan.

Surat Keputusan Pengurangan Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 diterbitkan

dalam rangkap dua :

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak

Administrasi Perpajakan 36
b. Lembar ke-2 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

2.6.1.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keputusan Pengurangan

Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 kemudian meneruskannya kepada Kepala

Seksi Pelayanan.

2.6.1.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Keputusan

Pengurangan Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 kemudian meneruskannya

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.6.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Keputusan

Pengurangan Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25.

2.6.1.1.10. Surat Keputusan Pengurangan Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25

ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen

Wajib Pajak) dan disampaikan kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum

(SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

2.6.1.1.11. Proses selesai.

2.6.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 29.

2.4.2. Tata Cara Penetapan Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 Wajib Pajak Bank, Sewa

Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara Dan Badan Usaha Milik

Daerah

2.6.2.1 Prosedur Kerja

2.6.2.1.1. Wajib Pajak menyampaikan RKAP (untuk Wajib Pajak BUMN/BUMD) atau

Laporan Tri Wulanan (untuk Wajib Pajak Bank) ke Kantor Pelayanan Pajak melalui

Tempat Pelayanan Terpadu.

2.6.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya kepada Account Representative.

2.6.2.1.3. Account Representative membuat dan menandatangani Laporan Penelitian

Penentuan Besarnya PPh Pasal 25 kemudian menyerahkannya kepada Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

Administrasi Perpajakan 37
2.6.2.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani Laporan

Penelitian Penentuan Besarnya PPh Pasal 25, kemudian meneruskannya kepada

Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi tidak menyetujui Laporan

Penelitian, Account Representative harus memperbaiki dokumen dimaksud.

2.6.2.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian Penentuan Besarnya PPh Pasal 25 kemudian mengembalikannya

kepada Kepala Seksi Pelayanan. Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui

Laporan Penelitian, Account Representative harus memperbaiki dokumen

dimaksud.

2.6.2.1.6. Kepala Seksi Pelayanan menerima Laporan Penelitian Penentuan Besarnya PPh

Pasal 25 dan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak Surat

Pemberitahuan Besarnya Angsuran PPh Pasal 25.

2.6.2.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Pemberitahuan Besarnya

Angsuran PPh Pasal 25 kemudian menyerahkannya kepada Kepala Seksi

Pelayanan.

2.6.2.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Pemberitahuan

Besarnya Angsuran PPh Pasal 25 kemudian meneruskannya kepada Kepala

Kantor Pelayanan Pajak.

2.6.2.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Besarnya Angsuran PPh Pasal 25.

2.6.2.1.10. Surat Pemberitahuan Besarnya Angsuran PPh Pasal 25 ditatausahakan di Seksi

Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan

disampaikan kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen di KPP).

2.6.2.1.11. Proses selesai.

2.6.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 30.

2.4.3. Tata Cara Penerbitan Surat Pemberitahuan Perubahan Besarnya Angsuran Pajak

Penghasilan Pasal 25 (Dinamisasi)

2.6.3.1 Prosedur Kerja

2.6.3.1.1. Berdasarkan SKPKB/SKPKBT untuk tahun pajak yang lalu (SOP Tata Cara

Penerbitan Surat Ketetapan Pajak) atau informasi mengenai perkembangan usaha

Wajib Pajak, Account Representative membuat konsep Surat Pemberitahuan

Perubahan Besarnya Angsuran kepada Wajib Pajak dan menyampaikan konsep

tersebut ke Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

Administrasi Perpajakan 38
2.6.3.1.2. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Perubahan Besarnya Angsuran kemudian menyampaikan konsep

surat tersebut ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.6.3.1.3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Perubahan Besarnya Angsuran.

2.6.3.1.4. Pelaksana Seksi Pengawasan dan Konsultasi menatausahakan dan

menyampaikan Surat Pemberitahuan Perubahan Besarnya Angsuran kepada

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.6.3.1.5. Proses selesai.

2.6.3.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 31.

2.7. Pelayanan Surat Keterangan Fiskal

2.4.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Fiskal WP Non Bursa

2.7.1.1 Prosedur Kerja

2.7.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permintaan Surat Keterangan Fiskal kepada Kantor

Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu (TPT).

2.7.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permintaan Surat Keterangan

Fiskal kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya. Dalam hal berkas

permintaan belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak untuk melengkapinya.

Dalam hal berkas permintaan sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

mencetak BPS dan LPAD. BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD

digabungkan dengan berkas permintaan kemudian diteruskan kepada Account

Representative.

2.7.1.1.3. Account Representative melakukan penelitian, menyusun dan menandatangani

Laporan Penelitian, dan membuata konsep Surat Keterangan Fiskal/Surat

Penolakan Pemberian Surat Keterangan Fiskal, kemudian menyampaikannya

kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Dalam hal data untuk Laporan

Penelitian tidak sesuai dengan permintaan Wajib Pajak, Account Representative

dapat memutakhirkan data dimaksud.

2.7.1.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani Laporan

Penelitian serta memaraf konsep Surat Keterangan Fiskal/Surat Penolakan

Pemberian Surat Keterangan Fiskal dan menyampaikannya kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 39
2.7.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak setelah menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian dan Surat Keterangan Fiskal/Surat Penolakan Pemberian Surat

Keterangan Fiskal kemudian meneruskannya kepada Account Representative.

2.7.1.1.6. Account Representative menatausahakan dan menyampaikan Surat Keterangan

Fiskal/Surat Penolakan Pemberian Surat Keterangan Fiskal ke Subbagian Umum

untuk dikirim kepada Wajib Pajak dengan SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen

di KPP.

2.7.1.1.7. Proses selesai.

2.7.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 32.

2.8. Pelayanan PPN

2.4.1. Tata Cara Layanan Permintaan Pemusatan PPN

2.8.1.1 Prosedur Kerja

2.8.1.1.1 Wajib Pajak mengajukan permintaan pemusatan tempat terutang Pajak

Pertambahan Nilai kepada Kantor Wilayah melalui Kantor Pelayanan Pajak.

2.8.1.1.2 Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permintaan pemusatan tempat

terutang Pajak Pertambahan Nilai kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya.

Dalam hal berkas permintaan belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak untuk

melengkapinya. Dalam hal berkas permintaan sudah lengkap, Petugas Tempat

Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan LPAD. BPS akan diserahkan kepada

Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas permintaan

kemudian diteruskan kepada Account Representative.

2.8.1.1.3 Account Representative memberikan pernyataan penyebab terjadinya pemusatan

(karena Modernisasi atau bukan). Dalam hal pemusatan terjadi bukan karena

Modernisasi Kantor Pelayanan Pajak, Account Representative membuat ikhtisar

pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan membuat konsep Surat

Pengantar, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan

Konsultasi.

2.8.1.1.4 Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti ikhtisar pelaksanaan kewajiban

perpajakan Wajib Pajak dan memaraf Surat Pengantar, kemudian

menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.8.1.1.5 Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui ikhtisar pelaksanaan kewajiban

perpajakan Wajib Pajak serta menandatangani Surat Pengantar, kemudian

meneruskannya kepada Account Representative.

Administrasi Perpajakan 40
2.8.1.1.6 Account Representative menatausahakan ikhtisar pelaksanaan kewajiban

perpajakan Wajib Pajak beserta Surat Pengantar dan menyampaikannya kepada

Subbagian Umum untuk dikirim ke Kantor Wilayah dengan SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen.

2.8.1.1.7 Proses dilanjutkan di Kantor Wilayah (SOP Tata Cara Layanan Permintaan

Pemusatan PPN).

2.8.1.1.8 Proses selesai.

2.8.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 33.

2.9. Pelayanan Terkait Perubahan Laporan Keuangan

2.4.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pembukuan Dalam Bahasa Inggris dan

Dalam Mata Uang Dollar Amerika Serikat

2.9.1.1 Prosedur Kerja

2.9.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan izin penyelengaraan pembukuan Bahasa

Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat ke Kantor Pelayanan Pajak.

2.9.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan

LPAD. BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan

digabungkan dengan surat permohonan beserta kelengkapannya. Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam surat permohonan dan

meneruskan permohonan tersebut ke Pelaksana Seksi Pelayanan.

2.9.1.1.3. Pelaksana Seksi Pelayanan membuat surat pengantar serta meneruskannya ke

Kepala Seksi Pelayanan.

2.9.1.1.4. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf surat pengantar dan

meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.9.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menelaah dan menandatangani surat pengantar.

2.9.1.1.6. Proses dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak dan

SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

2.9.1.1.7. Surat Pengantar beserta permohonan izin penyelengaraan pembukuan Bahasa

Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat dari Wajib Pajak kemudian diproses

di Direktorat Peraturan Perpajakan II Kantor Pusat DJP dengan SOP Tata Cara

Administrasi Perpajakan 41
Penyelesaian Permohonan Pembukuan dalam Bahasa Inggris dan Mata Uang

Dollar Amerika Serikat.

2.9.1.1.8. Proses selesai.

2.9.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 34.

2.4.2. Tata Cara Layanan Permintaan Perubahan Tahun Buku Pertama

2.9.2.1 Prosedur Kerja

2.9.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan permintaan perubahan Tahun Buku Pertama ke Kantor

Pelayanan Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

2.9.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permintaan perubahan Tahun

Buku Pertama kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya. Dalam hal berkas

permintaan belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak untuk melengkapinya.

Dalam hal berkas permintaan sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

akan mencetak BPS dan LPAD. BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak

sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas permintaan kemudian

diteruskan kepada Account Representative.

2.9.2.1.3. Account Representative melakukan penelitian apakah permintaan Wajib Pajak

merupakan permintaan pertama atau bukan. Dalam hal permintaan merupakan

permintaan perubahan tahun buku yang kedua dan seterusnya, Account

Representative meneruskan permintaan ke Kantor Wilayah (diproses dengan SOP

Tata Cara Layanan Permintaan Perubahan Metode Pembukuan Dan/Atau Tahun

Buku Kedua, Dan Seterusnya) melalui Seksi Pelayanan lewat Surat Pengantar.

2.9.2.1.4. Surat pengantar dibuat oleh Pelaksana Seksi Pelayanan, diteliti dan diparaf oleh

Kepala Seksi Pelayanan, dan disetujui dan ditandatangani oleh Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

2.9.2.1.5. Dalam hal permintaan merupakan permintaan pertama, Account Representative

membuat dan menandatangani Laporan Penelitian dan membuat konsep Surat

Keputusan Persetujuan/Penolakan atas Permintaan untuk melakukan Perubahan

Tahun Buku Pertama, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

Dalam hal data untuk Laporan Penelitian tidak sesuai dengan permintaan Wajib

Pajak, Account Representative dapat memutakhirkan data dimaksud.

2.9.2.1.6. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi setelah meneliti dan menandatangani

Laporan Penelitian serta memaraf konsep Surat Keputusan

Administrasi Perpajakan 42
Persetujuan/Penolakan atas Permintaan untuk melakukan Perubahan Tahun Buku

Pertama, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.9.2.1.7. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian serta menandatangani Surat Keputusan Persetujuan/Penolakan atas

Permintaan untuk melakukan Perubahan Tahun Buku Pertama, kemudian

dikembalikan ke Account Representative.

2.9.2.1.8. Surat Keputusan Persetujuan/Penolakan atas Permintaan untuk melakukan

Perubahan Tahun Buku Pertama dan Surat Pengantar ditatausahalan di Seksi

Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan

disampaikan kepada pihak-pihak terkait melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen di KPP). Surat Pengantar beserta surat permintaan

disampaikan ke Kantor Wilayah, sedangkan surat keputusan disampaikan ke

Wajib Pajak.

2.9.2.1.9. Proses selesai.

2.9.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 35.

2.10. Pelayanan lainnya

2.4.1. Tata Cara Layanan Permintaan Penetapan Sebagai Daerah Terpencil

2.10.1.1 Prosedur Kerja

2.10.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan Surat Permintaan Penetapan sebagai Daerah Terpencil

kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

2.10.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima Surat Permintaan Penetapan

sebagai Daerah Terpencil kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai

dengan ketentuan. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya belum

lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan

Terpadu akan mencetak BPS dan LPAD. BPS akan diserahkan kepada Wajib

Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan surat permohonan beserta

kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam surat

permintaan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat permintaan beserta

kelengkapannya ke Pelaksana Seksi Pelayanan.

2.10.1.1.3. Pelaksana Seksi Pelayanan membuat konsep Surat dan meneruskannya kepada

Kepala Seksi Pelayanan.

Administrasi Perpajakan 43
2.10.1.1.4. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf Surat Pengantar dan

menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak bersama dengan Surat

Permintaan Penetapan sebagai Daerah Terpencil.

2.10.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Pengantar

dan mengembalikannya kepada Pelaksana Seksi Pelayanan untuk dikirimkan

kepada Kantor Wilayah bersama dengan Surat Permintaan Penetapan sebagai

Daerah Terpencil.

2.10.1.1.6. Pelaksana menatausahakan Surat Permintaan Penetapan sebagai Daerah

Terpencil bersama dengan Surat Pengantarnya (SOP Penatausahaan Dokumen

Wajib Pajak) dan mengirimkan ke Kantor Wilayah melalui Subbagian Umum (SOP

Tata CaraPenyampaian Dokumen di KPP).

2.10.1.1.7. Proses selesai.

2.10.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 36.

2.4.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Keberatan Atas Penunjukan Sebagai Wajib

Pajak

2.10.2.1 Prosedur Kerja

2.10.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan atas keberatan penunjukan sebagai Wajib

Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

2.10.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permohonan atas keberatan

penunjukan sebagai Wajib Pajak kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya.

Dalam hal berkas permohonan belum lengkap, dihimbau kepada Wajib Pajak

untuk melengkapinya. Dalam hal berkas permohonan atas keberatan penunjukan

sebagai Wajib Pajak sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

mencetak Bukti Penerimaan Surat (BPS) dan Lembar Pengawasan Arus Dokumen

(LPAD). BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan

dengan berkas permohonan atas keberatan penunjukan sebagai Wajib Pajak, dan

kemudian diteruskan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.10.2.1.3. Kepala Seksi Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menugaskan Account

Representative untuk meneliti persyaratan formal permohonan Wajib Pajak.

2.10.2.1.4. Account Representative meneliti pemenuhan persyaratan formal permohonan

Wajib Pajak, membuat, dan menandatangani laporan penelitian. Dalam hal

permohonan tidak memenuhi persyaratan formal, dibuatkan konsep Surat

Penolakan Permohonan bahwa permohonan tersebut tidak dapat diproses. Dalam

Administrasi Perpajakan 44
hal permohonan telah memenuhi persyaratan formal, Account Representative

menyiapkan Surat Pengantar dan mengirimkan ke Kantor Wilayah.

2.10.2.1.5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menandatangani laporan

penelitian dan memaraf surat pengantar/surat penolakan permohonan.

2.10.2.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani laporan

penelitian dan surat pengantar/surat penolakan permohonan.

2.10.2.1.7. Surat pengantar/surat penolakan permohonan ditatausahakan di Seksi Pelayanan

(SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan ke

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

2.10.2.1.8. Proses selesai.

2.10.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 37.

2.4.3. Tata Cara Pelaksanaan Pemenuhan Permintaan Konfirmasi Dan Klarifikasi

2.10.3.1 Prosedur Kerja

2.10.3.1.1. Kantor Pelayanan Pajak menerima surat permintaan konfirmasi atau klarifikasi

dari unit lain yang diproses dengan SOP Tata Cara Penerimaan Dokumen di

KPP.

2.10.3.1.2. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menugaskan dan memberi disposisi kepada

Kepala Seksi Pelayanan untuk menindaklanjuti.

2.10.3.1.3. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana

Seksi Pelayanan untuk membuat surat jawaban konfirmasi atau klarifikasi

berserta surat pengantarnya.

2.10.3.1.4. Pelaksana Seksi Pelayanan membuat dan mencetak surat jawaban konfirmasi

atau klarifikasi beserta surat pengantarnya serta menyampaikannya ke Kepala

Seksi Pelayanan. Dalam hal jawaban konfirmasi atau klarifikasi PPh atau PPN

tidak ada, Pelaksana Seksi Pelayanan membuat dan mencetak konsep Surat

Permintaan Pertanggungjawaban Faktur Pajak atau Surat Permintaan

Pertanggungjawaban Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh kepada Wajib Pajak.

2.10.3.1.5. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf surat jawaban konfirmasi atau

klarifikasi beserta surat pengantarnya dan/atau konsep Surat Permintaan

Pertanggungjawaban Faktur Pajak atau Surat Permintaan Pertanggungjawaban

Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh kepada Wajib Pajak dan meneruskannya

ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 45
2.10.3.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani surat jawaban

konfirmasi atau klarifikasi beserta surat pengantarnya dan/atau Surat Permintaan

Pertanggungjawaban Faktur Pajak atau Surat Permintaan Pertanggungjawaban

Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh kepada Wajib Pajak.

2.10.3.1.7. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan dokumen dengan SOP tentang

Tata Cara Penatausahaan Dokumen dan menyampaikan surat jawaban

konfirmasi atau klarifikasi beserta surat pengantarnya kepada unit yang meminta

konfirmasi/klarifikasi dan/atau Surat Permintaan Pertanggungjawaban Faktur

Pajak atau Surat Permintaan Pertanggungjawaban Bukti

Pemotongan/Pemungutan PPh kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum

dengan SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

2.10.3.1.8. Tembusan Surat Permintaan Pertanggungjawaban Faktur Pajak atau Surat

Permintaan Pertanggungjawaban Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh kepada

Wajib Pajak disampaikan kepada Account Representative sebagai bahan dalam

pemrosesan SOP Tata Cara Pertanggungjawaban Faktur Pajak atau Surat

Permintaan Pertanggungjawaban Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh.

2.10.3.1.9. Proses selesai.

2.10.3.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 38.

Administrasi Perpajakan 46
Pengolahan SPT

3.1. Penyediaan Formulir SPT, Aplikasi e-SPT dan terintegrasi Pengguna e-Filling
3.3.1. Pengertian dan Jenis SPT

3.1.1.1. Pengertian

Surat Pemberitahuan yang selanjutnya disebut SPT adalah surat yang oleh Wajib Pajak

digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak

dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan

peraturan perundangundangan perpajakan.

3.1.1.2. Jenis jenis SPT

Jenis-jenis SPT meliputi :

a. SPT Tahunan Pajak penghasilan yang terdiri dari:

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan;

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan bagi Wajib Pajak yang

diizinkan menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika

Serikat;

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi; dan

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21

b. SPT Masa yang terdiri dari

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 26;

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 22;

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 23 dan Pasal 26;

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 25;

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2);

SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 15;

SPT masa Pajak Pertambahan Nilai; dan

SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai bagi Pemungut Pajak Pertambahan Nilai

SPT sebagaimana dimaksud di atas, dapat berbentuk:

a. Formulir kertas (hardcopy); atau

b. eSPT

Administrasi Perpajakan 47
3.3.2. Penyediaan SPT

Wajib Pajak dapat mengambil SPT yang berbentuk formulir kertas (hardcopy), di tempat-

tempat sebagai berikut :

a. Kantor Pelayanan Pajak (KPP);

b. Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP);

c. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak;

d. Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak;

e. Pojok Pajak;

f. Mobil Pajak.

Sedangkan Aplikasi eSPT yang dapat digunakan untuk membuat eSPT sebagaimana

dimaksud pada Pasal 2 ayat (2) huruf b dapat diambil langsung di Kantor Pelayanan Pajak

(KPP). SPT dan aplikasi eSPT selain dapat diambil secara langsung oleh Wajib Pajak pada

tempattempat sebagaimana telah diuraikan di atas juga dapat dilakukan dengan

mengunduh/mendownload dari situs internet Direktorat Jenderal Pajak dengan alamat

http://www.pajak.go.id. Disamping dengan caracara tersebut, Wajib Pajak juga dapat

mencetak, menggandakan, dan/atau fotokopi sendiri SPT selama tidak mengubah bentuk,

ukuran dan isi SPT.

3.3.3. Registrasi e-Filling

3.1.3.1. Wajib Pajak yang akan menyampaikan SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT

Tahunan secara elektronik harus memiliki Electronic Filing Identification Number (eFIN)

dan memperoleh Sertifikat (digital certificate) dari Direktorat Jenderal Pajak.

3.1.3.2. Electronic Filing Identification Number (eFIN) diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak

tempat Wajib Pajak terdaftar berdasarkan surat permohonan Wajib Pajak.

3.1.3.3. Permohonan Wajib Pajak tersebut dapat disetujui apabila alamat yang tercantum pada

permohonan sama dengan alamat dalam database (Master File) Wajib Pajak di

Direktorat Jenderal Pajak.

3.1.3.4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memberikan keputusan atas permohonan yang

diajukan oleh Wajib Pajak untuk memperoleh Electronic Filing Identification Number

(eFIN) paling lama 2 (dua) hari kerja sejak permohonan diterima dengan lengkap dan

benar.

3.1.3.5. Dalam hal Electronic Filing Identification Number (eFIN) hilang, Wajib Pajak dapat

mengajukan permohonan pencetakan ulang dengan syarat menunjukkan asli kartu

Nomor Pokok Wajib Pajak atau Surat Keterangan Terdaftar, atau bagi PengusahaKena

Pajak dengan syarat menunjukkan asli Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

Administrasi Perpajakan 48
3.1.3.6. Wajib Pajak yang sudah mendapatkan Electronic Filing Identification Number (eFIN)

harus mendaftarkan diri melalui website pada satu atau beberapa Perusahaan

Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak.

3.1.3.7. Setelah mendaftarkan diri, Wajib Pajak akan memperoleh Digital Certificate (DC) dari

Direktorat Jenderal Pajak melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) dimana

Wajib Pajak mendaftarkan diri.

3.1.3.8. Digital Certificate (DC) seterusnya akan digunakan sebagai alat yang berfungsi sebagai

pengaman data Wajib Pajak dalam setiap proses penyampaian SPT dan

Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik (eFiling) melalui suatu

Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) ke Direktorat Jenderal Pajak.

3.1.3.9. Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) harus mengirimkan:

a. tata cara pelaksanaan eFiling;

b. aplikasi dan petunjuk penggunaan eSPT dan eSPTy; dan

c. informasi lainnya;

kepada Wajib Pajak yang telah mendaftarkan diri.

3.1.3.10. eSPT dan eSPTy yang telah diisi dan dilengkapi sesuai dengan ketentuan serta

dibubuhi tanda tangan elektronik atau tanda tangan digital disampaikan secara

elektronik ke Direktorat Jenderal Pajak melalui suatu Perusahaan Penyedia Jasa

Aplikasi (ASP).

3.1.3.11. Tanda Tangan Elektronik atau Tanda Tangan Digital adalah suatu informasi elektronik

yang di generate oleh Sistem Direktorat Jenderal Pajak.

3.1.3.12. Dalam hal SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan menunjukkan adanya

kewajiban pembayaran pajak, Wajib Pajak wajib mencantumkan Nomor Transaksi

Penerimaan Negara pada eSPT dan eSPTy sebagai bukti pembayaran yang telah

divalidasi.

3.1.3.13. Apabila eSPT dan eSPTy dinyatakan lengkap oleh Direktorat Jenderal Pajak, maka

kepada Wajib Pajak diberikan Bukti Penerimaan Elektronik.

3.1.3.14. Penyampaian SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik

(eFiling) dapat dilakukan selama 24 (dua puluh empat) jam sehari dan 7 (tujuh) hari

seminggu dengan standar Waktu Indonesia Bagian Barat.

3.1.3.15. SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang disampaikan secara

elektronik pada akhir batas waktu Penyampaian SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan

SPT Tahunan yang jatuh pada hari libur, dianggap disampaikan tepat waktu.

3.1.3.16. Wajib Pajak wajib menyampaikan keterangan dan/atau dokumen lain yang harus

dilampirkan dalam SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang tidak

dapat disampaikan secara elektronik ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak

Administrasi Perpajakan 49
terdaftar secara langsung atau melalui pos dengan tanda bukti pengiriman surat, atau

melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat,

kecuali SSP lembar 3 yang dibayarkan melalui Bank Persepsi dan Nomor Transaksi

Penerimaan Negara sudah dicantumkan dalam eSPT dan/atau eSPTy, paling lama:

a. 14 (empat belas) hari sejak batas terakhir pelaporan SPT dan Pemberitahuan

Perpanjangan SPT Tahunan dalam hal SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT

Tahunan disampaikan sebelum batas akhir penyampaian;

b. 14 (empat belas) hari sejak tanggal penyampaian SPT dan Pemberitahuan

Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik dalam hal SPT dan Pemberitahuan

Perpanjangan SPT Tahunan disampaikan setelah lewat batas akhir penyampaian.

3.1.3.17. Apabila Wajib Pajak telah memenuhi kewajiban sebagaimana diuraikan pada butir

3.1.3.16. di atas, SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dianggap telah

diterima dan tanggal penerimaan SPT sesuai dengan tanggal yang tercantum pada

Bukti Penerimaan Elektronik sebagaimana diuraikan pada butir 3.1.3.13. di atas.

3.1.3.18. Apabila kewajiban menyampaikan keterangan dan/atau dokumen lain yang harus

dilampirkan dalam eSPT dan eSPTy disampaikan melalui pos dengan tanda bukti

pengiriman surat, atau melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti

pengiriman surat, tanggal penerimaan keterangan dan/atau dokumen lain yang harus

dilampirkan dalam eSPT dan eSPTy adalah tanggal yang tercantum pada bukti

pengiriman surat.

3.1.3.19. Dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan Keterangan dan/atau dokumen lain yang

harus dilampirkan dalam eSPT dan eSPTy dalam jangka waktu sebagaimana

diuraikan pada butir 3.1.3.16. di atas, Wajib Pajak dianggap tidak menyampaikan SPT

dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan.

3.1.3.20. Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) wajib memberikan jaminan kepada Wajib

Pajak bahwa SPT atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan beserta

lampirannya yang disampaikan secara elektronik dijamin kerahasiaannya, diterima di

Direktorat Jenderal Pajak secara lengkap dan real time serta diakui oleh pihak Wajib

Pajak dan Direktorat Jenderal Pajak.

3.2.Penerimaan dan Pengolahan SPT


3.3.1. Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT Tahunan PPh

3.2.1.1 Prosedur Kerja

3.2.1.1.1. Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan /e-SPT baik langsung maupun melalui

Pos/Ekspedisi ke Kantor Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 50
3.2.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima SPT Tahunan yang disampaikan

langsung oleh Wajib Pajak dan SPT Tahunan yang disampaikan melalui

Pos/Ekspedisi. Untuk SPT Tahunan Wajib Pajak yang terdaftar pada KPP lain

yang diterima secara langsung harus ditolak sedangkan yang melalui

Pos/Ekspedisi diteruskan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar

dengan Surat Pengantar.

3.2.1.1.3. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mengecek kelengkapan SPT berdasarkan

ketentuan:

3.2.1.1.4. Untuk SPT Tahunan lengkap, dilanjutkan dengan merekam data SPT Tahunan

atau kelengkapannya, menerbitkan BPS/LPAD, menyampaikan langsung atau

mengirimkan BPS ke Wajib Pajak atau kuasanya, menggabungkan LPAD dengan

SPT Tahunan atau dokumen kelengkapannya.

3.2.1.1.5. Untuk SPT Tahunan tidak lengkap yang diterima langsung harus ditolak

sedangkan yang melalui Pos/Ekspedisi diteruskan ke Wajib Pajak dengan disertai

Surat Penolakan SPT Tahunan.

3.2.1.1.6. Untuk SPT Tahunan tidak lengkap diterima dibuatkan Surat Permintaan

Kelengkapan SPT Tahunan, yang disampaikan secara langsung atau dikirimkan

ke Wajib Pajak.

3.2.1.1.7. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu meneruskan konsep Surat Pengantar

Penerusan SPT Tahunan ke Kantor Pelayanan Pajak lain, Surat Penolakan SPT

Tahunan, dan Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan ke Kepala Seksi

Pelayanan, serta meneruskan SPT Tahunan beserta Register Harian Penerimaan

SPT Tahunan ke Seksi Pengolahan Data dan Informasi.

3.2.1.1.8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan menandatangani konsep surat yang

diterima. Proses atas surat yang telah ditandatangani dilanjutkan dengan

penatausahaan dokumen dan penyampaian dokumen oleh Pelaksana Seksi

Pelayanan melalui Subbagian Umum dengan SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di KPP.

3.2.1.1.9. Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi merekam elemen-elemen SPT

Tahunan dan membuat Transkrip Kutipan Elemen-Elemen dari Laporan Keuangan

Wajib Pajak, mencetak Lembar Penelitian SPT Tahunan untuk SPT Tahunan

Unbalance serta menggabungkannya dengan SPT Tahunan yang bersangkutan

(selanjutnya diproses dengan SOP Tata Cara Himbauan Perbaikan Surat

Pemberitahuan (SPT)), kemudian mengirim SPT Tahunan/Kelengkapan Data

Surat Pemberitahuan Tahunan yang sudah direkam ke Pelaksana Seksi

Pelayanan.

Administrasi Perpajakan 51
3.2.1.1.10. Account Representative melakukan penelitian sesuai dengan ketentuan dan

memproses SPT yang terdapat kesalahan matematis dan/atau terlambat

disampaikan/dibayar berdasarkan data hasil perekaman SPT. Dalam hal terdapat

kesalahan matematis, Account Representative membuat Surat Himbauan (SOP

Tata Cara Himbauan Perbaikan Surat Pemberitahuan) sedangkan dalam hal

terjadi keterlambatan penyampaian/pembayaran SPT, Account Representative

menerbitakan STP (SOP Tata Cara Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP)).

3.2.1.1.11. Pelaksana Seksi Pelayanan meneruskan SPT Tahunan yang termasuk Surat

Pemberitahuan Tahunan Lebih Bayar untuk diproses dengan SOP Tata Cara

Pemeriksaan.

3.2.1.1.12. Proses selesai.

3.2.1.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihal Lampiran 39.

3.3.2. Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT Masa

3.2.2.1 Prosedur Kerja

3.2.2.1.1. Wajib Pajak/Pengusaha Kena Pajak menyampaikan SPT Masa baik langsung

maupun melalui Pos/Ekspedisi ke Kantor Pelayanan Pajak.

3.2.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima SPT Masa yang disampaikan

langsung oleh Wajib Pajak dan SPT Masa yang disampaikan melalui

Pos/Ekspedisi. Untuk SPT Masa Wajib Pajak yang terdaftar pada KPP lain yang

diterima secara langsung harus ditolak sedangkan yang melalui Pos/Ekspedisi

diteruskan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dengan Surat

Pengantar.

3.2.2.1.3. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mengecek kelengkapan SPT Masa

berdasarkan ketentuan:

a. Untuk SPT Masa lengkap, dilanjutkan dengan merekam data SPT Masa atau

kelengkapannya, menerbitkan BPS/LPAD, menyampaikan langsung atau

mengirimkan BPS ke Wajib Pajak atau kuasanya, menggabungkan LPAD

dengan SPT Masa atau dokumen kelengkapan SPT Masa.

b. Untuk SPT Masa tidak lengkap yang diterima langsung harus ditolak

sedangkan yang melalui Pos/Ekspedisi diteruskan ke Wajib Pajak dengan

disertai Surat Penolakan SPT Tahunan

3.2.2.1.4. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu meneruskan konsep Surat Pengantar

Penerusan SPT ke Kantor Pelayanan Pajak lain dan Surat Penolakan SPT ke

Administrasi Perpajakan 52
Kepala Seksi Pelayanan, dan meneruskan SPT beserta batch header ke

Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi.

3.2.2.1.5. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan menandatangani konsep surat yang

diterima. Proses atas surat yang telah ditandatangani dilanjutkan ke SOP Tata

Cara Penatausahaan Dokumen WP dan SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen

di KPP.

3.2.2.1.6. Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi mengecek dan mencocokkan

kebenaran fisik SPT Masa apakah telah sesuai dengan isi batch header, merekam

SPT Masa lengkap, dan mengirimkan SPT Masa yang telah direkam ke Seksi

Pelayanan.

3.2.2.1.7. Account Representative meneliti dan memproses SPT yang terdapat kesalahan

matematis dan/atau terlambat disampaikan/dibayar berdasarkan data hasil

perekaman SPT. Dalam hal terdapat kesalahan matematis, Account

Representative membuat Surat Himbauan (SOP tentang Tata Cara Himbauan

Perbaikan Surat Pemberitahuan) sedangkan dalam hal terjadi keterlambatan

penyampaian/pembayaran SPT dibuatkan STP (SOP tentang Tata Cara

Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP)).

3.2.2.1.8. Pelaksana Seksi Pelayanan menerima SPT yang sudah direkam dari Pelaksana

Seksi Pengolahan Data dan Informasi dan menatausahakan SPT Masa. SPT

Masa LB yang meminta pengembalian dikirim ke Seksi Pemeriksaan dan

ditindaklanjuti dengan SOP Tata Cara Pemeriksaan.

3.2.2.1.9. Proses selesai.

3.2.2.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 40.

3.3.3. Tata Cara Penyelesaian Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan Surat Pemberitahuan

Tahunan

3.2.3.1 Prosedur Kerja

3.2.3.1.1. Wajib Pajak menyampaikan pemberitahuan perpanjangan jangka waktu

penyampaian SPT Tahunan PPh ke Kantor Pelayanan Pajak dengan

menggunakan formulir 1770-Y/1771-Y/1771-$Y.

3.2.3.1.2. Petugas Help Desk menerima pemberitahuan tersebut kemudian meneliti

kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud

dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor XX/PJ/2009. Dalam hal surat

pemberitahuan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal pemberitahuan perpanjangan SPT

Administrasi Perpajakan 53
Tahunan beserta persyaratannya sudah lengkap, maka diteruskan ke Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu.

3.2.3.1.3. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD. BPS akan

diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan

pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan beserta kelengkapannya dan

diteruskan ke Seksi Pelayanan.

3.2.3.1.4. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk meneliti

dan membuat konsep Surat Jawaban Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu

Penyampaian SPT Tahunan.

3.2.3.1.5. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan penelitian atas pemberitahuan

perpanjangan SPT Tahunan Wajib Pajak, membuat konsep Surat Jawaban

Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT Tahunan dan

meneruskan ke Kepala Seksi Pelayanan.

3.2.3.1.6. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memberikan persetujuan dengan

menandatangani konsep Surat Jawaban Pemberitahuan Perpanjangan Jangka

Waktu Penyampaian SPT Tahunan. Dalam hal Kepala Seksi tidak menyetujui

konsep Surat Jawaban Pemberitahuan yang dibuat, Pelaksana Seksi Pelayanan

harus memperbaiki konsep Surat Jawaban Pemberitahuan tersebut.

3.2.3.1.7. Kepala Kantor Pelayanan Pajak memberikan persetujuan dengan menandatangani

konsep Surat Jawaban Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian

SPT Tahunan. Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui konsep Surat Jawaban

Pemberitahuan yang dibuat, Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki

konsep Surat Jawaban Pemberitahuan tersebut.

3.2.3.1.8. Sistem akan memproses Surat Jawaban Pemberitahuan Perpanjangan Jangka

Waktu Penyampaian SPT Tahunan.

3.2.3.1.9. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak Surat Jawaban Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu

Penyampaian SPT Tahunan yang tidak memenuhi ketentuan, namun apabila

dianggap perlu Kepala Seksi Pelayanan dapat juga menugaskan Pelaksana Seksi

Pelayanan untuk mencetak Surat Jawaban Pemberitahuan Perpanjangan Jangka

Waktu Penyampaian SPT Tahunan yang memenuhi ketentuan.

3.2.3.1.10. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan Surat Jawaban

Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT Tahunan

3.2.3.1.11. Surat Jawaban Pemberitahuan yang sudah dicetak kemudian diparaf oleh Kepala

Seksi Pelayanan dan disampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak

Administrasi Perpajakan 54
3.2.3.1.12. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani Surat Jawaban Pemberitahuan

Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT Tahunan.

3.2.3.1.13. Proses dilanjutkan ke SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak dan

SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

3.2.3.1.14. Proses selesai

3.2.3.2 Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 41.

3.3. Pemrosesan SPT di PPDDP


3.3.1. Tata Cara Penugasan pengambilan Kemasan dari KPP

3.3.1.1. Prosedur Kerja

3.3.1.1.1. Admin Transportasi mengenerate draft Surat Tugas Pengambilan Kemasan

(AK01), Daftar Kemasan akan Diangkut (AK02), Lampiran Surat Tugas

Pengambilan Kemasan (AK03), serta Lampiran Daftar Kemasan Akan Diangkut

(AK04) melalui aplikasi dan melakukan penyesuaian AK01 dan AK02, apabila

diperlukan.

3.3.1.1.2. Admin Transportasi memilih Nomor mobil, Nama Pengemudi, Nama Petugas

Pengambil, Nama Kru dan KPP yang akan diambil berkasnya.

3.3.1.1.3. Admin Transportasi mencetak AK01, AK02, AK03 dan AK04 sebanyak dua

rangkap untuk ditandatangani Kepala Bidang Penerimaan dan Penyimpanan

Dokumen melalui Kepala Seksi Pengumpulan dan Penerimaan Dokumen.

3.3.1.1.4. Admin Transportasi menerima AK01, AK02, AK03 dan AK04 yang sudah

ditandatangani oleh Kepala Bidang Penerimaan dan Penyimpanan Dokumen dari

Kepala Seksi Pengumpulan dan Penerimaan Dokumen.

3.3.1.1.5. Admin Transportasi menyerahkan AK01, AK02, AK03, dan AK04 yang telah

ditandatangani oleh Kepala Bidang Penerimaan dan Penyimpanan Dokumen

kepada Petugas Pengambil.

3.3.1.1.6. Proses selesai

3.3.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 42.

3.3.2. Tata Cara Pengambilan Kemasan dari KPP

3.3.2.1. Prosedur Kerja

3.3.2.1. Petugas Pengambil Kemasan menerima Surat Tugas Pengambilan Kemasan

(AK01),Daftar Kemasan akan Diangkut (AK02), Lampiran Surat Tugas

Pengambilan Kemasan (AK03), serta Lampiran Daftar Kemasan Akan Diangkut

Administrasi Perpajakan 55
(AK04) yang telah ditandatangani oleh Kepala Bidang Penerimaan dan

Penyimpanan Dokumen dari Petugas Admin Transportasi.

3.3.2.2. Transportasi mencatat jam dan kilometer (km) keberangkatan pada saat mobil

pengangkut kemasan akan keluar dari PPDDP pada AK03.

3.3.2.3. Petugas Pengambil menunjukkan dan menyerahkan tindasan AK01, AK02, AK03,

dan AK04 kepada Petugas Pengemas untuk diperiksa.

3.3.2.4. Petugas Pengemas memeriksa AK01, AK02, AK03, dan AK04 sesuai KPP yang

bersangkutan.

3.3.2.5. Petugas Pengambil memeriksa segel pada masingmasing kemasan dan

memastikan nomor barcode pada kemasan sama dengan nomor barcode pada

Packing List.

3.3.2.6. Petugas Pengambil bersamasama dengan Petugas Pengemas melakukan

pencocokkan berkas ( LPAD dan SPT ) yang dikemas dengan Daftar Isi Kemasan

(Packing List ).

3.3.2.7. Setiap ketidaksesuaian yang terjadi dalam Daftar Isi Kemasan ( Packing List ),

Petugas Pengambil akan mencoret pada dokumen yang dimaksud dan Petugas

Pengemas memarafnya.

3.3.2.8. Petugas Pengemas membuat Berita Acara Ketidaksesuaian Jumlah SPT dengan

Daftar Isi Kemasan yang ditandatangani oleh Petugas Pengemas dan Petugas

Pengambil dengan diketahui oleh Kepala Seksi Pelayanan.

3.3.2.9. Petugas Pengambil menyegel kemasan yang telah dicocokkan disaksikan oleh

Petugas Pengemas.

3.3.2.10. Petugas Pengambil meminta kepada Petugas Pengemas untuk memaraf AK04

dan kemudian ditandatangani oleh Kepala Seksi Pelayanan sebagai bukti

pengambilan serta Petugas Pengambil ikut menandatangani AK04.

3.3.2.11. Petugas Pengambil mengangkut kemasankemasan yang sesuai dengan AK04 ke

dalam mobil.

3.3.2.12. Petugas Pengemas melakukan penyegelan mobil dan menandatangani AK03.

3.3.2.13. Petugas Pengambil menyerahkan tindasan Daftar Kemasan akan Diangkut

(AK02), Lampiran Surat Tugas Pengambilan Kemasan (AK03), serta Lampiran

Daftar Kemasan Akan Diangkut (AK04) sebagai arsip Petugas Pengemas di KPP.

3.3.2.14. Jika pengambilan telah selesai untuk seluruh KPP, maka Petugas Pengambil

kembali ke PPDDP, dan Admin Transportasi akan mencatat Km dan jam

kedatangannya.

3.3.2.15. Proses selesai.

Administrasi Perpajakan 56
3.3.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 43.

3.3.3. Tata Cara Pengambilan Kemasan Dari KPP Oleh Pihak ketiga

3.3.3.1. Prosedur Kerja

3.3.3.1.1. Admin Transportasi menyerahkan Surat Tugas Pengambilan Kemasan SPT

(AK01),Daftar Kemasan akan Diangkut (AK02), Lampiran Surat Tugas

Pengambilan Kemasan SPT (AK03), serta Lampiran Daftar Kemasan akan

Diangkut (AK04) yang telah ditandatangani oleh Kepala Bidang Penerimaan dan

Penyimpanan Dokumen kepada Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga.

3.3.3.1.2. Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga menunjukkan dan menyerahkan tindasan

AK01, AK02, AK03, dan AK04 kepada Petugas Pengemas di KPP untuk diperiksa.

3.3.3.1.3. Petugas Pengemas menerima dan meneliti AK01, AK02, AK03, dan AK04

3.3.3.1.4. Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga memeriksa segel pada masingmasing

kemasan dan mencocokkan nomor barcode pada kemasan dengan nomor

barcode pada Daftar Isi Kemasan ( Packing List ) yang dicetak oleh Petugas

Pengemas.

3.3.3.1.5. Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga bersamasama dengan Petugas Pengemas

mencocokkan jumlah SPT yang dikemas dengan Daftar Isi Kemasan (Packing

List).

3.3.3.1.6. Setiap ketidaksesuaian yang terjadi, Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga akan

mencoret nomor LPAD yang tidak sesuai pada Daftar Isi Kemasan dan membuat

Berita Acara Ketidaksesuaian Jumlah SPT yang ditandatangani oleh Petugas

Pengemas dan Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga dengan diketahui oleh

Kepala Seksi Pelayanan.

3.3.3.1.7. Petugas Pengemas memaraf AK04 yang kemudian ditandatangani oleh Kepala

Seksi Pelayanan dan Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga.

3.3.3.1.8. Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga menyerahkan tindasan AK02, AK03 serta

AK04 kepada Petugas Pengemas.

3.3.3.1.9. Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga mengangkut kemasan sesuai dengan AK04.

3.3.3.1.10. Petugas Pengambil dari Pihak Ketiga kembali ke PPDDP, dan menyerahkan

AK01, AK02, AK03, AK04 beserta Kemasan yang telah diambil / diangkut dari KPP

KPP kepada Petugas Penerimaan Dokumen di PPDDP.

3.3.3.1.11. Proses selesai

3.3.3.2. Bagan Arus

Lihat Lampiran 44.

Administrasi Perpajakan 57
3.3.4. Tata Cara Penerimaan Kemasan di PPDDP

3.3.4.1. Prosedur Kerja

3.3.4.1.1. Petugas Pengambil Dokumen menyerahkan Surat Tugas Pengambilan Kemasan

(AK01), Daftar Kemasan akan Diangkut (AK02), Lampiran Surat Tugas

Pengambilan Kemasan (AK03), serta Lampiran Daftar Kemasan Akan Diangkut

(AK04) kepada Petugas Penerimaan Dokumen.

3.3.4.1.2. Petugas Penerimaan Dokumen bersamasama Petugas Pengambil Dokumen

memeriksa segel mobil, membuka segel dan menurunkan seluruh kemasan dari

mobil, memindahkannya ke dalam trolley sementara dan membawa trolley

sementara tersebut ke ruang penerimaan dokumen.

3.3.4.1.3. Petugas Penerimaan Dokumen membuka Aplikasi System Penerimaan Dokumen

dan melakukan perekaman data kemasan.

3.3.4.1.4. Petugas Penerimaan Dokumen merekam surat tugas (formulir AK01) dengan cara

memindai nomor barcode yang ada pada pojok kanan atas surat tugas (formulir

AK01), merekam Jam dan Km keberangkatan dan kedatangan mobil pengambil

kemasan (formulir AK03) ke dalam Aplikasi System Penerimaan Dokumen.

3.3.4.1.5. Seluruh barcode kemasan yang diterima dipindai oleh Petugas Penerimaan

Dokumen untuk memastikan bahwa jumlah, kode kemasan dan kode segel

kemasan yang diterima sesuai dengan jumlah, kode kemasan dan kode segel

kemasan pada Aplikasi System Penerimaan Dokumen dan pada Surat Tugas

Pengambilan Kemasan (formulir AK02 dan AK04).

3.3.4.1.6. Jika jumlah kemasan yang diterima tidak sama dengan jumlah kemasan pada

System Aplikasi maupun pada surat tugas pengambilan kemasan, maka Petugas

Penerimaan Dokumen melakukan pemeriksaan kemasan untuk memastikan tidak

ada kemasan yang tercecer/hilang. Dalam hal terdapat kemasan yang hilang,

maka Petugas Penerimaan Dokumen mencetak Berita Acara Kemasan Hilang.

3.3.4.1.7. Petugas Penerimaan Dokumen kemudian memeriksa kondisi kemasan segel

kemasan dan kemudian mencatatnya merekamnya pada Aplikasi System

Penerimaan Dokumen sampai semua kemasan dalam Surat Tugas Pengambilan

Kemasan (AK01) diterima.

3.3.4.1.8. Apabila ada segel kemasan yang rusak, maka akan dilakukan hitung ulang jumlah

berkas SPT pada kemasan tersebut oleh Petugas Penerimaan Dokumen. Setelah

berkas SPT selesai diperiksa, Petugas Penerimaan Dokumen mencetak Berita

Acara Hitung Ulang (RE02). Kemasan yang segelnya rusak akan diganti dengan

segel baru dan direkam ke dalam Aplikasi System Penerimaan Dokumen.

Administrasi Perpajakan 58
3.3.4.1.9. Setelah semua kemasan diterima, maka formulir AK01, AK02, AK03, AK04 dan

KM01 yang telah ter update dilakukan rekapitulasi daftar penyelesaian surat tugas

dalam rangka pengawasan kebutuhan logistik, kemudian diserahkan kembali ke

Petugas Penyimpanan Sementara.

3.3.4.1.10. Dalam hal surat tugas pengambilan kemasan lebih dari satu, maka langkah no. 4

s.d. 7 diulangulang sampai seluruh surat tugas dan seluruh kemasan terekam

dalam Aplikasi System Penerimaan Dokumen.

3.3.4.1.11. Seluruh kemasan yang telah diterima, diperiksa dan direkam/dipindai oleh Petugas

Penerimaan Dokumen kemudian diletakkan pada trolley sementara/trolley kosong

yang tersedia di ruang penerimaan ( Drop Off ), selanjutnya trolley sementara yang

berisi kemasan tersebut dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan sementara

melalui Petugas Penyimpanan Sementara.

3.3.4.1.12. Proses selesai.

3.3.4.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 45.

3.3.5. Tata Cara Penyimpanan Kemasan Dalam Gudang Penyimpanan

3.3.5.1. Prosedur Kerja

3.3.5.1.1. Admin Gudang membuat alokasi penyimpanan (Put Away) dengan menggunakan

sistem (aplikasi).

3.3.5.1.2. Admin Gudang mengunggah alokasi penyimpanan (Put Away) ke PDA Barcode

Reader.

3.3.5.1.3. Sistem menampilkan daftar alokasi penyimpanan kemasan.

3.3.5.1.4. Admin Gudang Menyerahkan PDA Barcode Reader & kemasan ke Petugas

Gudang.

3.3.5.1.5. Petugas Gudang memindai/input barcode pada kemasan dengan menggunakan

PDA Barcode Reader.

3.3.5.1.6. PDA Barcode Reader menampilkan informasi lokasi nomor lemari & nomor bilik

tempat kemasan disimpan.

3.3.5.1.7. Petugas Gudang membuka lemari yang sesuai dengan nomor lemari yang

ditampilkan oleh PDA Barcode Reader.

3.3.5.1.8. Petugas Gudang memindai/input barcode nomor bilik lemari.

3.3.5.1.9. PDA Barcode Reader memeriksa kesesuaian lokasi kemasan dengan lokasi

penyimpanan.

3.3.5.1.10. Apabila lokasi tidak benar, maka proses kembali ke nomor 6.

3.3.5.1.11. Apabila didalam trolley masih terdapat kemasan maka Proses kembali ke nomor 5.

Administrasi Perpajakan 59
3.3.5.1.12. Petugas Gudang menyerahkan PDA Barcode Reader kepada Admin Gudang.

3.3.5.1.13. Admin Gudang mengunduh daftar alokasi penyimpanan (Put Away) dari PDA

Barcode Reader ke sistem.

3.3.5.1.14. Admin Gudang memeriksa lokasi kemasan melalui inquiry gudang berkas.

3.3.5.1.15. Proses Selesai.

3.3.5.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 46.

3.3.6. Tata Cara Penyimpanan Image Data Back up

3.3.6.1. Prosedur Kerja

3.3.6.1.1. Petugas image data backup mengambil Storage Eksternal ke Bagian umum

PPDDP.

3.3.6.1.2. Petugas image data backup menyerahkan storage eksternal kepada Admin

Gudang.

3.3.6.1.3. Admin Gudang menempelkan label Barcode pada Storage Eksternal dan

menyerahkan kepada Petugas Perekam dan Transfer Data.

3.3.6.1.4. Petugas image data backup melakukan proses transfer Image Data dari server

utuk dibackup pada storage eksternal didampingi oleh Admin Gudang.

3.3.6.1.5. Apabila proses transfer Image data dari server ke storage eksternal telah selesai,

maka Petugas image data backup membuat (BAT01) yang ditandatangani oleh

Petugas image data backup dan Admin gudang mengetahui Kepala Seksi

Perekaman dan Transfer Data.

3.3.6.1.6. Petugas image data backup menyerahkan Storage eksternal dan Salinan (BAT01)

ke Admin Gudang.

3.3.6.1.7. Admin gudang membuat alokasi penyimpanan dengan menggunakan sistem,

3.3.6.1.8. Admin gudang mengunggah hasilnya ke PDA Barcode Reader.

3.3.6.1.9. Sistem menampilkan alokasi penyimpanan pada PDA Barcode Reader.

3.3.6.1.10. Admin Gudang Menyerahkan PDA Barcode Reader & kemasan ke Petugas

Gudang

3.3.6.1.11. Petugas gudang memindai/input barcode storage eksternal.

3.3.6.1.12. PDA Barcode Reader menampilkan informasi lokasi nomor lemari & nomor bilik

tempat kemasan disimpan

3.3.6.1.13. Petugas Gudang membuka lemari yang sesuai dengan nomor lemari yang

ditampilkan oleh PDA Barcode Reader

3.3.6.1.14. Petugas Gudang meletakkan Storage Eksternal pada lokasi yang sesuai dengan

alokasi penyimpanan (Put Away).

Administrasi Perpajakan 60
3.3.6.1.15. Petugas Gudang memindai/input barcode nomor bilik lemari.

3.3.6.1.16. PDA Barcode Reader memeriksa kesesuaian lokasi Storage Eksternal dengan

lokasi penyimpanan.

3.3.6.1.17. Apabila lokasi tidak benar, maka proses kembali ke nomor 13.

3.3.6.1.18. Petugas gudang menyerahkan PDA Barcode Reader kepada Admin Gudang.

3.3.6.1.19. Admin Gudang akan mengunduh daftar alokasi penyimpanan dari PDA Barcode

Reader ke sistem.

3.3.6.1.20. Admin Gudang memeriksa lokasi kemasan melalui inquiry gudang berkas

3.3.6.1.21. Proses Selesai.

3.3.6.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 47.

Administrasi Perpajakan 61
Pembayaran Pajak
4.1. Penerimaan
4.3.1. Tata Cara Penyusunan Rencana Penerimaan Pajak Berdasarkan Potensi Pajak,

Perkembangan Ekonomi Dan Keuangan

4.1.1.1. Prosedur Kerja

4.1.1.1.1. Kepala Kantor menerima Rencana Penerimaan Pajak dari Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi I, II, III, dan IV (SOP Tata Cara Penyusunan Estimasi

Penerimaan Pajak Per-Wajib Pajak) dan menugaskan Kepala Seksi Pengolahan

Data dan Informasi untuk mengkompilasi menjadi Rencana Penerimaan Kantor.

4.1.1.1.2. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menerima Rencana Penerimaan

Pajak yang telah disetujui Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan menugaskan

Pelaksana untuk mengkompilasi rencana penerimaan pajak tersebut.

4.1.1.1.3. Pelaksana menghimpun dan mengkompilasi Rencana Penerimaan Pajak dari

Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, II, III, dan IV, membuat konsep Nota Dinas

Pengantar, dan menyampaikan kepada Kepala Seksi Pengolahan Data dan

Informasi.

4.1.1.1.4. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi meneliti dan memaraf Rencana

Penerimaan Pajak Kantor Pelayanan Pajak, konsep Nota Dinas Pengantar, dan

menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

4.1.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak meneliti dan menandatangani Rencana

Penerimaaan Pajak Kantor Pelayanan Pajak dan konsep Nota Dinas Pengantar,

kemudian mengembalikan kepada Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi.

4.1.1.1.6. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menugaskan Pelaksana untuk

mengirimkan Rencana Penerimaan Pajak Kantor Pelayanan Pajak ke Kantor

Wilayah.

4.1.1.1.7. Pelaksana menyampaikan Rencana Penerimaan Pajak Kantor Pelayanan Pajak

yang telah ditandatangani Kepala Kantor Pelayanan Pajak ke Subbagian Umum

untuk dikirim ke Kantor Wilayah melalui SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP (SOP Tata Cara Pembuatan Rencana Kerja Bidang Dukungan Teknis dan

Konsultasi).

Administrasi Perpajakan 62
4.1.1.1.8. Proses selesai.

4.1.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 48.

4.2. Pengeluaran
4.3.1. Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Membayara Kelebihan Pajak (SPMKP)

4.2.1.1. Prosedur Kerja

4.2.1.1.1. Wajib Pajak menyampaikan permohonan pengembalian pembayaran pajak ke

Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

4.2.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dimohon kepada Wajib Pajak

untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya sudah

lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan LPAD.

BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD akan digabungkan

dengan surat permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan

Terpadu kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan

meneruskan surat permohonan beserta kelengkapannya ke Account

Representative.

4.2.1.1.3. Account Representative memproses pengembalian kelebihan pembayaran pajak

dalam hal terdapat:

a. Pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam Surat Ketetapan

Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)

UndangUndang KUP; (SOP Tata Cara Penerbitan Surat Ketetapan Pajak)

b. Pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana tercantum dalam Surat

Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)

UndangUndang KUP; (SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan

Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak

Terutang)

c. Pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam Surat Ketetapan

Pajak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang Undang

KUP; (SOP Tata Cara Penyelesaian SPT Tahunan Lebih Bayar)

d. Pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan

Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 17C UndangUndang KUP; (SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan

Pengembalian Pendahuluan Pajak Penghasilan (PPh) untuk Wajib Pajak Patuh

Administrasi Perpajakan 63
dan SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengembalian Pendahuluan

PPN untuk Wajib Pajak Kriteria Tertentu Khusus Wajib Pajak Patuh)

e. Pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan

Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 17D UndangUndang KUP;

f. Pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Keberatan atau

Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali dari Mahkamah Agung;

(SOP Tata Cara Penatausahaan Surat Keputusan

Keberatan/Banding/Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat

Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi

Pengawasan dan Konsultasi)

g. Pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pembetulan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Undang Undang KUP; (SOP Tata

Cara Penatausahaan Surat Keputusan Pembetulan di Seksi Pengawasan dan

Konsultasi)

h. Pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan

Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Undang Undang KUP; (SOP Tata

Cara Penatausahaan Surat Keputusan Keberatan/Banding/Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat Keputusan Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi Pengawasan dan Konsultasi)

i. Pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan

Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 Undang Undang KUP; (SOP Tata

Cara Penatausahaan Surat Keputusan Keberatan/ Banding/Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat Keputusan Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi Pengawasan dan Konsultasi)

j. Jumlah imbalan bunga yang tercantum dalam Surat Keputusan Pemberian

Imbalan Bunga. (SOP Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Membayar Imbalan

Bunga)

4.2.1.1.4. Account Representative meminta informasi utang pajak ke Seksi Penagihan,

dalam hal Wajib Pajak yang bersangkutan terdaftar juga di Kantor Pelayanan

Pajak lain, Account Representative meminta informasi utang pajak ke Kantor

Pelayanan Pajak lokasi Wajib Pajak terdaftar dengan membuat juga surat

pengantar untuk kemudian diparaf oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi

dan ditandatangani Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 64
4.2.1.1.5. Penyelesaian surat konfirmasi tunggakan pajak di Seksi Penagihan atau Kantor

Pelayanan Pajak terkait diproses dengan SOP Tata Cara Menjawab Konfirmasi

Data Tunggakan Wajib Pajak.

4.2.1.1.6. Seksi Penagihan atau Kantor Pelayanan Pajak terkait meneruskan jawaban

konfirmasi utang pajak kepada Account Representative.

4.2.1.1.7. Account Representative kemudian meneliti surat jawaban dan data tunggakan

pajak yang diterima baik dari Seksi Penagihan atau dari Kantor Pelayanan Pajak

lain. Apabila terdapat tunggakan pajak, proses dilanjutkan dengan

pemindahbukuan (SOP Tata Cara Pemindahbukuan (Pbk)).

4.2.1.1.8. Apabila masih terdapat kelebihan pembayaran pajak yang masih tersisa, proses

dilanjutkan dengan melengkapi data Nothit SKPKPP, SKPKPP dan SPMKP. Data

kemudian diproses oleh case management. Account Representative kemudian

mencetak dan memaraf Nothit SKPKPP, kemudian menyampaikannya kepada

Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

4.2.1.1.9. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, memaraf Nothit SKPKPP,

memberikan persetujuan (approve) pada sistem atas penerbitan SKPKPP dan

SPMKP, dan menyampaikan Nothit SKPKPP kepada Kepala Kantor Pelayanan

Pajak.

4.2.1.1.10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak memaraf Nota Penghitungan dan memberikan

persetujuan (approve) pada sistem atas penerbitan SKPKPP dan SPMKP.

4.2.1.1.11. Kepala Seksi Pelayanan menerima Nothit SKPKPP dan menugaskan Pelaksana

Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil persetujuan.

4.2.1.1.12. SPMKP dibuat dalam rangkap 4 (empat) dengan peruntukan sebagai berikut:

Lembar ke1 dan lembar ke2 untuk KPPN;

Lembar ke3 untuk Wajib Pajak yang bersangkutan; dan

Lembar ke4 untuk KPP yang menerbitkan SPMKP.

4.2.1.1.13. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep SKPKPP dan SPMKP.

4.2.1.1.14. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf SKPKPP dan SPMKP dan

menyampaikan konsep tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

4.2.1.1.15. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani SKPKPP dan

SPMKP.

4.2.1.1.16. SKPKPP dan SPMKP ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan ke Wajib Pajak dan

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara melalui Subbagian Umum (SOP Tata

Cara Penyampaian Dokumen di KPP).


4.2.1.1.17. Proses selesai

Administrasi Perpajakan 65
4.2.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 49.

4.3.2. Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga (SPMIB)

4.2.2.1. Prosedur Kerja

4.2.2.1.1. Account Representative memproses pembayaran imbalan bunga kepada Wajib

Pajak dalam hal terdapat:

a. keterlambatan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang KUP; (SOP Tata Cara

Penerbitan Surat Ketetapan Pajak, SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan

Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak

Terutang, SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengembalian

Pendahuluan Pajak Penghasilan (PPh) untuk Wajib Pajak Patuh, dan SOP

Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengembalian Pendahuluan PPN untuk

Wajib Pajak Kriteria Tertentu Khusus Wajib Pajak Patuh);

b. keterlambatan penerbitan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 17B ayat (3) Undang-Undang KUP; (SOP Tata Cara

Penyelesaian SPT Tahunan Lebih Bayar);

c. kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B ayat (4)

Undang-Undang KUP;

d. kelebihan pembayaran pajak karena pengajuan keberatan, permohonan

banding, atau permohonan peninjauan kembali dikabulkan sebagian atau

seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (1) Undang-Undang

KUP; (SOP Tata Cara Penatausahaan Surat Keputusan

Keberatan/Banding/Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat

Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi

Pengawasan dan Konsultasi);

e. kelebihan pembayaran pajak karena Surat Keputusan Pembetulan, Surat

Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, atau Surat Keputusan Pembatalan

Ketetapan Pajak atas surat ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak

mengabulkan sebagian atau seluruhnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal

27A ayat (1a) Undang-Undang KUP; (SOP Tata Cara Penatausahaan Surat

Keputusan Pembetulan di Seksi Pengawasan dan Konsultasi dan SOP Tata

Cara Penatausahaan Surat Keputusan Keberatan/Banding/Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat Keputusan Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi Pengawasan dan Konsultasi);

Administrasi Perpajakan 66
f. kelebihan pembayaran sanksi administrasi berupa denda Pasal 14 ayat (4)

dan/atau bunga Pasal 19 ayat (1) karena Surat Keputusan Pengurangan

Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi

sebagai akibat diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau

Putusan Peninjauan Kembali yang mengabulkan sebagian atau seluruhnya

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27A ayat (2) Undang-Undang KUP. (SOP

Tata Cara Penatausahaan Surat Keputusan Keberatan/Banding/Pengurangan

atau Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat Keputusan Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi Pengawasan dan Konsultasi).

2.2.1.2. Account Representative meminta informasi utang pajak ke Seksi Penagihan,

dalam hal Wajib Pajak yang bersangkutan terdaftar juga di Kantor Pelayanan

Pajak lain, Account Representative meminta informasi utang pajak ke Kantor

Pelayanan Pajak lokasi Wajib Pajak terdaftar dengan membuat juga surat

pengantar untuk kemudian diparaf oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi

dan ditandatangani Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.1.3. Penyelesaian surat konfirmasi tunggakan pajak di Seksi Penagihan atau Kantor

Pelayanan Pajak terkait diproses dengan SOP Tata Cara Menjawab Konfirmasi

Data Tunggakan Wajib Pajak.

2.2.1.4. Seksi Penagihan atau Kantor Pelayanan Pajak terkait meneruskan jawaban

konfirmasi utang pajak kepada Account Representative.

2.2.1.5. Account Representative kemudian meneliti surat jawaban dan data tunggakan

pajak yang diterima baik dari Seksi Penagihan atau dari Kantor Pelayanan Pajak

lain. Apabila terdapat tunggakan pajak, proses dilanjutkan dengan

pemindahbukuan (SOP Tata Cara Pemindahbukuan (Pbk)).

2.2.1.6. Apabila masih terdapat kelebihan pembayaran pajak yang masih tersisa, Account

Representative membuat dan melengkapi Nothit SKPIB, SKPIB, dan SPMIB. Data

kemudian diproses oleh case management. Account Representative kemudian

mencetak dan memaraf Nothit SKPIB dan menyampaikannya kepada Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

2.2.1.7. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, memaraf Nothit SKPIB, dan

memberikan persetujuan (approve) pada sistem atas penerbitan SKPIB dan

SPMIB.

2.2.1.8. Kepala Kantor Pelayanan Pajak memaraf Nothit SKPIB dan memberikan

persetujuan (approve) pada sistem atas penerbitan SKPIB dan SPMIB.

2.2.1.9. Kepala Seksi Pelayanan menerima Nothit SKPIB dan menugaskan Pelaksana

Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil persetujuan.

Administrasi Perpajakan 67
SKPIB dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dengan peruntukan sebagai berikut

a. Lembar ke-1 untuk Wajib Pajak yang bersangkutan;

b. Lembar ke-2 untuk KPKN;

c. Lembar ke-3 untuk KPP yang menerbitkan SKPIB.

SPMIB dibuat dalam rangkap 4 (empat) dengan peruntukan sebagai berikut:

a. Lembar ke-1 dan lembar ke-2 untuk KPPN;

b. Lembar ke-3 untuk Wajib Pajak yang bersangkutan;

c. Lembar ke-4 untuk Arsip KPP yang menerbitkan SPMIB.

2.2.1.10. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep SKPIB dan SPMIB

kemudian meneruskan konsep tersebut kepada Kepala Seksi Pelayanan.

2.2.1.11. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf SKPIB dan SPMIB kemudian

menyampaikan konsep tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

2.2.1.12. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani SKPIB dan

SPMIB.

2.2.1.13. SKPIB dan SPMIB ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan ke Wajib Pajak dan

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara melalui Subbagian Umum (SOP Tata

Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

2.2.1.14. Proses selesai.

4.2.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 50.

4.3. Pemindahbukuan
4.3.1. Tata Cara Penyelesaian Pemindahbukuan (Pbk)

4.3.1.1. Prosedur Kerja

4.3.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan pemindahbukuan ke Kantor Pelayanan

Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu karena salah atau kurang jelas mengisi

Surat Setoran Pajak atau untuk pemecahan setoran pajak atau untuk tujuan lain.

Permohonan pemindahbukuan dapat juga berasal dari Kantor Pelayanan Pajak

lain (SOP Tata Cara Penerusan Permohonan Pemindahbukuan).

4.3.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan

pemindahbukuan kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan

ketentuan. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya belum lengkap,

dihimbau kepada Wajib Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan

beserta persyaratannya sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

mencetak BPS dan LPAD. BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD

Administrasi Perpajakan 68
digabungkan dengan surat permohonan beserta kelengkapannya. Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam surat permohonan dan

dilanjutkan dengan meneruskan surat permohonan beserta kelengkapannya ke

Account Representative.

4.3.1.1.3. Pemindahbukuan dapat juga dikarenakan adanya kelebihan pembayaran pajak

atau adanya pemberian bunga kepada Wajib Pajak (berasal dari SOP Tata Cara

Penerbitan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) atau dari SOP

Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga (SPMIB)).

4.3.1.1.4. Account Representative melakukan perekaman data pemindahbukuan serta

membuat konsep bukti pemindahbukuan dan uraian penelitian pemindahbukuan

untuk disampaikan ke Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

4.3.1.1.5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memberikan persetujuan

dengan menandatangani uraian penelitian pemindahbukuan.

4.3.1.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak memberikan persetujuan dengan menandatangani

uraian penelitian pemindahbukuan.

4.3.1.1.7. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak konsep bukti pemindahbukuan.

4.3.1.1.8. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan pencetakan konsep bukti

pemindahbukuan.

4.3.1.1.9. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep bukti pemindahbukuan

kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

4.3.1.1.10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani bukti

pemindahbukuan.

4.3.1.1.11. Bukti pemindahbukuan diatatusahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara

Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan melalui Subbagian

Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP) ke Wajib Pajak atau ke

Kantor Pelayanan Pajak yang meneruskan permohonan untuk kemudian

disampaikan ke Wajib Pajak.

4.3.1.1.12. Proses selesai.

4.3.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 51.

4.3.2. Tata Cara Penerusan Permohonan Pemindahbukuan (Pbk) ke KPP Tempat WP Terdaftar

4.3.2.1. Prosedur Kerja

4.3.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan pemindahbukuan ke Kantor Pelayanan

Pajak.

Administrasi Perpajakan 69
4.3.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima Surat Permohonan

Pemindahbukuan kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan

ketentuan. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya belum lengkap,

dihimbau kepada Wajib Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan

beserta persyaratannya sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

mencetak BPS dan LPAD. BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD

digabungkan dengan surat permohonan beserta kelengkapannya. Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam surat permohonan dan

dilanjutkan dengan meneruskan surat permohonan beserta kelengkapannya ke

Pelaksana Seksi Pelayanan.

4.3.2.1.3. Pelaksana Seksi Pelayanan membuat konsep surat pengantar penerusan

permohonan pemindahbukuan.

4.3.2.1.4. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Pengantar

Penerusan Permohonan Pemindahbukuan dan meneruskannya ke Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

4.3.2.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Pengantar

Penerusan Permohonan Pemindahbukuan.

4.3.2.1.6. Surat pengantar pemindahbukuan ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata

Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan diteruskan melalui Subbagian

Umum ke Kantor Pelayanan Pajak tempat SSP diadministrasikan beserta

permohonan pemindahbukuan dari Wajib Pajak, sedangkan tembusan surat

pengantarnya disampaikan ke Wajib Pajak (SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di KPP).

4.3.2.1.7. Surat pengantar pemindahbukuan beserta permohonan pemindahbukuan dari

Wajib Pajak kemudian diproses di Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak

terdaftar (SOP Tata Cara Pemindahbukuan (Pbk)).

4.3.2.1.8. Proses selesai.

4.3.2.2. Bagan Arus

Lihat Lampiran 52.

Administrasi Perpajakan 70
Pengawasan Wajib Pajak

5.1. Mapping
5.4.1. Pengertian dan Tujuan

5.1.1.1. Pengertian Mapping adalah pemetaan yang menggambarkan potensi perpajakan

yang dapat dikelompokkan berdasarkan wilayah/lokasi , subjek pajak, jenis pajak,

sektor/subsektor usaha, sesuai kebutuhan/ keunggulan yang terdapat di wilayah

kerja KPP.

5.1.1.2. Tujuan Mapping adalah untuk mendapatkan gambaran umum potensi perpajakan

dan keunggulan fiskal di wilayah kerja masingmasing kantor/unit kerja yang akan

digunakan sebagai petunjuk dan sarana analisis dalam rangka penggalian potensi

penerimaan, pelayanan dan pengawasan.

5.4.2. Pengelompokan Mapping

5.1.2.1. Wilayah Lokasi/Usaha

a) Wilayah Administrasi Pemerintahan(Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota,

Propinsi).

Kegunaan : Untuk mengetahui luas dan struktur wilayah beserta pembagian

wilayah berdasarkan batas wilayah pemerintahan beserta jumlah

penduduk, wilayah yang dikenakan PBB, jumlah Wajib Pajak

terdaftar dan potensi jumlah calon wajib pajak.

Format : Peta, keterangan dalam peta , tabel/narasi

b) Wilayah Ekonomi

Kegunaan : Untuk mengetahui potensi ekonomi berdasarkan wilayah kegiatan

ekonomi seperti Lokasi Industri, Perdagangan, Pemukiman

Mewah, Lokasi Wisata, Lokasi Pertambangan, Lokasi

Perkebunan, Lokasi Pertanian, Lokasi kehutanan, Lokasi Perairan,

Lokasi Pelabuhan/Bandara, dan Lokasi Pergudangan yang ada di

lokasi kerja unit kantor yang bersangkutan, yang dapat memberi

gambaran potensi penerimaan pajak.

Format : Peta, Tabel

Administrasi Perpajakan 71
5.1.2.2. Subjek Pajak

Kegunaan : Untuk mengetahui gambaran umum dari subjek pajak di wilayah

kerjanya, baik yang telah terdaftar maupun yang belum, baik yang

berbentuk hukum seperti PT, CV, BUT, maupun yang tidak berbadan

hukum. Informasi yang disajikan menyangkut jumlahnya, tingkat

kepatuhan, dan ranking berdasarkan peranan penerimaan, tunggakan

pajak, dan lainlain yang bermanfaat untuk menentukan penanganan

lebih lanjut terhadap kelompokkelompok WP yang bersangkutan.

Format : Tabel

5.1.2.3. Jenis Pajak

Kegunaan : Untuk mengetahui gambaran umum performance penerimaan per jenis

pajak dan pertumbuhannya sehingga dapat memberi petunjuk

langkahlangkah penanganan dan pengamanannya.

Format : Tabel

5.1.2.4. Sektor/Subsektor

Kegunaan : Untuk mengetahui gambaran umum performance fiskal dari

sektor/subsektor di wilayah kerjanya. Informasi yang disajikan dapat

berupa tax ratio, kepatuhan, pertumbuhan dan sektor dominan,

sehingga dapat memberi petunjuk penggalian potensi fiskal.

1.3.1. Format : Tabel

5.4.3. Analisis Mapping

Kegunaan : Untuk mengetahui potensi perpajakan dan kelompokkelompok yang terkait

dengan potensi tersebut, tingkat resiko serta petunjuk penggalian potensi yang

akan dilakukan

Format : Tabel atau narasi

Analisis yang dilakukan dapat berupa :

1) Yang berhubungan dengan potensi jumlah WP contohnya :

a. Jumlah Penduduk dibandingkan dengan Jumlah WP OP.

b. Jumlah WP Ekspatriat yang terdaftar dibandingkan dengan jumlah tenaga

kerja asing /ekspatriat menurut data imigrasi dan dinas tenaga kerja.

c. Jumlah Bendaharawan dibandingkan dengan Jumlah WP Bendaharawan

Administrasi Perpajakan 72
2) Yang berhubungan dengan potensi penerimaan pajak contohnya :

a. Objek Pajak PPN : DPP PPN dibandingkan dengan PDRB

b. Objek Pajak PPh pasal 22 impor dibandingkan dengan jumlah impor

c. Objek Pajak PPN impor dibandingkan dengan jumlah impor

d. Ratio antara PPh Badan Terutang dan Peredaran Usaha

e. Jumlah realisasi penerimaan per sektor dibandingkan PDRB sektor

tersebut

3) Yang berhubungan dengan kepatuhan contohnya :

a. Perbandingan WP terdaftar dengan WP Efektif

b. Perbandingan WP Efektif dengan WP Filer/ Non Filer / Stop Filer

c. Penerimaan PPh Pasal 21 dibandingkan dengan penerimaan PPh Ps. 29

5.4.4. Tindak Lanjut Mapping

Kegunaan : Untuk memilih kelompok kelompok yang potensial untuk ditindaklanjuti dengan

memperhatikan :

1) Potensi perpajakannya

2) Tingkat kepatuhannya / tax gap

3) Tingkat kesulitan dalam implementasi

4) Deterrent Effect

Format : Tabel

5.2. Profilling
5.4.1. Pengertian dan Tujuan

5.2.1.1. Profil Wajib Pajak adalah informasi mengenai Wajib Pajak yang memuat mengenai

identitas dan kegiatan usaha serta riwayat aktivitas perpajakannya secara

berkesinambungan yang dapat diklasifikasikan data permanent, data akumulatif dan

data lain

5.2.1.2. Tujuan Profil Wajib Pajak adalah untuk menyajikan informasi yang dapat digunakan

untuk analisis, mengukur tingkat resiko dan kepatuhan Wajib Pajak serta untuk lebih

mengenal Wajib Pajak yang terdaftar di unit kerjanya dan dapat memonitor

perkembangan usaha Wajib Pajak yang bersangkutan dan melakukan pengawasan,

penggalian potensi, serta pelayanan yang lebih baik.

5.4.2. Pedoman Pembuatan Profil Wajib Pajak

5.2.2.1. Account Representative mendapat data dan informasi Wajib Pajak dari berbagai

sumber baik yang berasal dari internal maupun dari eksternal Direktorat Jenderal Pajak,

yang terdiri dari data permanen (identitas Wajib Pajak, struktur organisasi, daftar

pemegang saham dan struktur permodalan, daftar pengurus dan komisaris, kegiatan

Administrasi Perpajakan 73
usaha, pohon kepemilikan dan lainlain) dan data akumulatif (data perkembangan

usaha, kewajiban perpajakan, data lawan transaksi dan lainlain) serta data lainnya

5.2.2.2. Account Representative membuat profil Wajib Pajak berdasarkan data dan informasi

yang diperoleh sesuai dengan pedoman pembuatan profil dari Kantor Pusat Direktorat

Jenderal Pajak serta menindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5.4.3. Tata Cara Pemutakhiran Profil Wajib Pajak (Lihat Lampiran 53)

5.2.3.1. Account Representative mendapat informasi perubahan dan penambahan data Wajib

Pajak dari berbagai sumber..

5.2.3.2. Account Representative melakukan pemutakhiran data Wajib Pajak berdasarkan

informasi perubahan dan penambahan data Wajib Pajak yang diperoleh dari alat

keterangan, formulir pemutakhiran data, dan data resmi yang diperoleh sebagai dasar

pemutakhiran data Wajib Pajak, serta menindaklanjuti sesuai dengan peraturan yang

berlaku.

5.2.3.3. Proses selesai

5.3. Benchmarking
5.4.1. Proses Benchmarking Tahap I

5.3.1.1. Mengambil data SPT Tahunan PPH Badan (20012005) antara 510 WP dengan

ratio terbesar (TTOR, CTTOR, NPM, GPM, ROA, EBIT ) dalam KLU yang sama dan

tahun yang sama.

5.3.1.2. Ratio tersebut di ratarata untuk setiap tahunnya.

5.3.1.3. Diambil ratio terbesar untuk dijadikan benchmark

5.3.1.4. Menghapus data TTOR yang kurang dari CTTOR

5.3.1.5. KLU Kelapa Sawit dihilangkan karena sudah dibuat oleh KPDJP

5.3.1.6. Jika ratio NPM < dari ratarata suku bunga Bank Indonesia (12%), maka NPM dibuat

menjadi lebih tinggi dari 12 % dengan asumsi bahwa tidak ada perusahaan yang

menginginkan keuntungan di bawah suku bunga Bank Indonesia

5.3.1.7. Jika GPM < NPM maka data tersebut dihilangkan, karena GPM seharusnya > dari

NPM

5.3.1.8. Jika GPM < dari ratarata suku bunga Bank Indonesia, maka GPM menjadi > 12 %

ditambah selisih GPM lama dengan NPM lama

5.3.1.9. Demikian juga untuk EBIT jika rationya < dari ratarata suku bunga Bank Indonesia

(12%), maka EBIT dibuat menjadi lebih tinggi dari 12 %.

Administrasi Perpajakan 74
5.4.2. Proses Benchmarking Tahap II

Untuk mengakomodasi KLU yang tidak terbenchmark pada tahap I, maka dilakukan tahap II

sebagai berikut :

5.3.2.1. Memasukkan angka benchmark usulan KPP yang belum tercantum pada tahap I

5.3.2.2. Jika ratio NPM < dari ratarata suku bunga Bank Indonesia (12%), maka NPM dibuat

menjadi lebih tinggi dari 12 %

5.3.2.3. Jika GPM < dari ratarata suku bunga Bank Indonesia, maka GPM menjadi > 12 %

ditambah selisih GPM lama dengan NPM lama

5.3.2.4. Demikian juga untuk EBIT jika rationya < dari ratarata suku bunga Bank Indonesia

(12%), maka EBIT dibuat menjadi lebih tinggi dari 12 %.

5.4.3. Proses Benchmarking Tahap III

Untuk mengakomodasi KLU yang tidak terbenchmark pada tahap II, maka dilakukan tahap III

sebagai berikut :

5.3.3.1. Membuat benchmark berdasarkan Ikhtisar Profile 50 WP per KPP

5.3.3.2. Data benchmark per ratio diambil rata2 pertahun per KLU, kemudian diambil yg

terbesar diantara tahun 2002 s.d 2006

5.3.3.3. Menambahkan data benchmark berdasarkan Ikhtisar Profile 50 WP per KPP yang

belum masuk ke Tahap II

5.3.3.4. Menambahkan data benchmark dari database Kanwil atas Klu 100 WP Besar KPP

yang belum masuk ke Tahap II

5.3.3.5. Mengulangi proses penyesuaian NPM,GPM,TTOR,CTTOR dan EBIT sesuai tahap

sebelumnya

5.4.4. Proses Benchmarking Tahap IV dan V

Untuk mengakomodasi KLU yang tidak terbenchmark pada tahap III, maka dilakukan tahap IV

dan V dengan penjelasan sebagai berikut :

5.3.4.1. Kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan-penghitungan rasio-

rasio benchmark untuk tahap IV dan V adalah sebanyak 20 (dua puluh) dan 15

(lima belas) KLU.

5.3.4.2. Rasi-rasio yang dilakukan benchmarking tetap terdiri dari 14 (empat belas) rasio

yaitu:

a. Gross Profit Margin (GPM)

b. Operating Profit Margin (OPM)

c. Pretax Profit Margin (PPM)

d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR)

e. Net Profit Margim (NPM)

f. Dividend Payout Ratio (DPR)

Administrasi Perpajakan 75
g. Rasio PPN Masukan terhadap penjualan

h. Rasio biaya gaji terhadap penjualan

i. Rasio biaya bunga terhadap penjualan

j. Rasio biaya sewa terhadap penjualan

k. Rasio biaya penyusutan terhadap penjualan

l. Rasio input antara lainnya terhadap penjualan

m. Rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan

n. Rasio biaya luar usaha terhadap penjualan

3.4.3. Pemanfaatan rasio-rasio total benchmarking tetap mengacu pada Surat Edaran

Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang

Rasio Total Benchmarking dan Petunjuk Pemanfaatannya

5.4. Analysing dan Penggalian Potensi


5.4.1. Evaluasi / Analisis

Account Representative melakukan evaluasi/analisis perpajakan Wajib Pajak yang mencakup

Analisa Ratio Laporan Keuangan, CTTOR dan TTOR, Local Sectoral, Rasio Kapasitas

Produksi terhadap Omzet, Rasio Impor terhadap Omzet/Ekspor, Rasio Karyawan terhadap

Produksi, Rasio Modal dan Pinjaman, Trend/Perkembangan Kegiatan serta analisis lainnya.

5.4.2. Penggalian Potensi

Account Representative melakukan penggalian potensi pajak meliputi potensi Wajib Pajak itu

sendiri, potensi pengurus dan komisaris serta pemilik, potensi dari pihak terkait, potensi dari

data silang dan pihak ketiga.

5.5. Penggalian Potensi


5.5.1. Account Representative menindaklanjuti profile Wajib Pajak yang sudah dibuat melalui

pemutakhiran data dan penggalian potensi pajak serta pertukaran data yang meliputi potensi

Wajib Pajak itu sendiri, potensi pengurus dan komisaris serta pemilik, potensi dari pihak terkait,

potensi dari data silang dan pihak ketiga.

5.5.2. Account Representative menindaklanjuti hasil analisis dan penggalian potensi pajak dengan

melakukan himbauan tertulis yang dilanjutkan dengan konseling jika Wajib Pajak yang

bersangkutan tidak merespon atau melaksanakan apa dimintakan dalam surat himbauan

tersebut, dan ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan.

Administrasi Perpajakan 76
Pengolahan Data dan Informasi

6.1. Tata Cara Pencarian Data Potensi Perpajakan Dalam Rangka


Pembuatan Monografi Fiskal
6.1.1. Prosedur Kerja

6.1.1.1. Kepala Kantor memerintahkan Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan melakukan

pencarian data potensi perpajakan sesuai Surat Permintaan Monografi Fiskal dari

Kantor Wilayah.

6.1.1.2. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan memerintahkan Pelaksana Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan untuk menyusun konsep Surat Tugas Pencarian Data Potensi Perpajakan.

6.1.1.3. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyusun konsep Surat Tugas Pencarian

Data Potensi Perpajakan dan menyerahkan konsep tersebut kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan.

6.1.1.4. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan memaraf konsep surat tugas dan menyerahkan

konsep tersebut kepada Kepala Kantor.

6.1.1.5. Kepala Kantor menyetujui dan menandatangani Surat Tugas Pencarian Data Potensi

Perpajakan dan mengembalikannya kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.

6.1.1.6. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan memerintahkan Pelaksana Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan melakukan pengamatan dan pencarian data perpajakan sesuai dengan

surat tugas yang telah disetujui.

6.1.1.7. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan melakukan pengamatan dan pencarian data

dan membuat konsep Laporan Pengamatan dan Pencarian Data Potensi Perpajakan

serta menyampaikan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan Perpajakan.

6.1.1.8. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan memberikan persetujuan atas konsep l Laporan

Pengamatan dan Pencarian Data Potensi Perpajakan. Apabila Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan tidak setuju atas konsep tersebut, Pelaksana Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan harus memperbaiki konsep tersebut.

6.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani Laporan Pengamatan dan Pencarian

Data Potensi Perpajakan dalam bentuk Monografi Perpajakan.

Administrasi Perpajakan 77
6.1.1.10. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneruskan Laporan Pengamatan dan

Pencarian Data Potensi Perpajakan kepada Pelaksana Seksi Ekstensifikasi untuk

ditatausahakan dan diarsipkan.

6.1.1.11. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi mengarsipkan Laporan Pengamatan dan Pencarian

Data Potensi Perpajakan.

6.1.1.12. Proses selesai.

6.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 54.

Administrasi Perpajakan 78
Pemeriksaan dan Penyidikan
7.1. Pemeriksaan
7.2.1. Tata Cara Pengajuan Usulan Pemeriksaan di KPP

7.1.1.1. Prosedur Kerja

7.1.1.1.1. Kepala Seksi Pemeriksaan menerima usulan Wajib Pajak yang akan diperiksa

dengan kriteria:

a. Pemeriksaan Rutin, seperti: SPT Tahunan PPh Lebih Bayar, SPT Masa PPN

Lebih Bayar, SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar, SPT Tahunan PPh

untuk bagian tahun pajak atau tahun pajak sebagai akibat perubahan tahun

buku atau metode pembukuan atau revaluasi aktiva tetap, permohonan

sehubungan penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha,

pemecahan usaha, likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan usaha atau

permohonan Wajib Pajak Orang Pribadi akan meninggalkan Indonesia untuk

selama-lamanya) dari Kepala Seksi Pelayanan;

b. Pemeriksaan Tujuan Lain, seperti: Permohonan pemberian Nomor Pokok

Wajib Pajak (NPWP) dan/atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP),

penghapusan NPWP dan/atau pencabutan PKP, Pemeriksaan dalam rangka

penagihan pajak atau kriteria lain yang memenuhi kriteria pemeriksaan tujuan

lain dari Kepala Seksi Pelayanan;

c. Pemeriksaan Khusus disertai Analisa Risiko Wajib Pajak (berisi data, info profil

Wajib Pajak, data SPT, data pembayaran, dan data pemeriksaan) dari Kepala

Seksi Pengawasan dan Konslutasi;

d. Pemeriksaan Khusus dalam rangka pemeriksaan ulang dari Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

7.1.1.1.2. Kepala Seksi Pemeriksaan menugaskan Pelaksana Seksi Pemeriksaan untuk

membuat konsep Surat Pengantar dan Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan

diperiksa kriteria Pemeriksaan Rutin/Pemeriksaan Tujuan Lain atau Surat Usulan

Administrasi Perpajakan 79
Pemeriksaan Khusus/Surat Usulan Pemeriksaan Khusus dalam rangka

pemeriksaan ulang.

7.1.1.1.3. Pelaksana Seksi Pemeriksaan membuat konsep Surat Pengantar dan Daftar

Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa kriteria Pemeriksaan

Rutin/Pemeriksaan Tujuan Lain atau Surat Usulan Pemeriksaan Khusus/Surat

Usulan Pemeriksaan Khusus dalam rangka pemeriksaan ulang kemudian

menyerahkan kepada Kepala Seksi Pemeriksaan.

7.1.1.1.4. Kepala Seksi Pemeriksaan meneliti dan memaraf konsep Surat Pengantar dan

Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa kriteria Pemeriksaan

Rutin/Pemeriksaan Tujuan Lain atau Surat Usulan Pemeriksaan Khusus/Surat

Usulan Pemeriksaan Khusus dalam rangka pemeriksaan ulang kemudian

menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

7.1.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani konsep Surat

Pengantar dan Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa kriteria

Pemeriksaan Rutin/Pemeriksaan Tujuan Lain atau Surat Usulan Pemeriksaan

Khusus/Surat Usulan Pemeriksaan Khusus dalam rangka pemeriksaan ulang

selanjutnya menyerahkan kepada Kepala Seksi Pemeriksaan.

7.1.1.1.6. Kepala Seksi Pemeriksaan menerima Surat Pengantar dan Daftar Nominatif Wajib

Pajak yang akan diperiksa Kriteria Pemeriksaan Rutin/Pemeriksaan Tujuan Lain

atau Surat Usulan Pemeriksaan Khusus/Surat Usulan Pemeriksaan Khusus dalam

rangka pemeriksaan ulang kemudian menugaskan Pelaksana Seksi Pemeriksaan

untuk menatausahakan dan mengirimkan surat yang dimaksud.

7.1.1.1.7. Pelaksana Seksi Pemeriksaan menatausahakan dan mengirimkan Surat

Pengantar dan Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa kriteria

Pemeriksaan Rutin/Pemeriksaan Tujuan Lain/Surat Usulan Pemeriksaan Khusus

atau Surat Usulan Pemeriksaan Khusus dalam rangka pemeriksaan ulang kepada

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan tembusan Surat Usulan

Pemeriksaan Khusus ke Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan melalui

Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

7.1.1.1.8. Proses selesai.

7.1.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 55.

Administrasi Perpajakan 80
7.2.2. Tata Cara Pemeriksaan Sederhana Kantor

7.1.2.1. Prosedur kerja

7.1.2.1.1. Berdasarkan SP3 (SOP Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak),

Tim Pemeriksa Pajak membuat konsep surat panggilan dalam rangka

pemeriksaan pajak yang ditandatangani oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, dan

dikirimkan kepada Wajib Pajak.

7.1.2.1.2. Wajib Pajak memenuhi panggilan sesuai dengan waktu dan tempat yang telah

ditentukan dalam surat panggilan dengan membawa buku, catatan, dan dokumen

yang diperlukan oleh Tim Pemeriksa Pajak dan dibuatkan bukti

peminjaman/pengembalian dengan rinci dan jelas oleh Tim Pemeriksa Pajak.

7.1.2.1.3. Pada saat memulai pemeriksaan, Tim Pemeriksa Pajak harus memperlihatkan

Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan SP3 kepada Wajib Pajak yang

diperiksa. Apabila bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen yang

dipinjam berupa fotokopi, maka harus dinyatakan sesuai dengan aslinya dengan

surat pernyataan Wajib Pajak.

7.1.2.1.4. Terhadap Wajib Pajak yang tidak memenuhi panggilan, Tim Pemeriksa Pajak

membuat surat panggilan ke dua. Apabila panggilan ke dua tidak dipenuhi, Tim

Pemeriksa Pajak membuat Berita Acara Tidak Dipenuhinya Panggilan

Pemeriksaan dan LPP untuk ditandatangani oleh Tim Pemeriksa Pajak dan Kepala

Kantor Pelayanan Pajak. Kepala Kantor Pelayanan Pajak dapat menerbitkan surat

ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak secara jabatan sebagaimana

dimaksud dalam LPP yang penghasilan netonya dihitung berdasarkan Norma

Penghitungan Penghasilan Neto atau cara lain yang ditetapkan dengan Keputusan

Menteri Keuangan (SOP Tata Cara Penerbitan Surat Ketetapan Pajak). LPP

kemudian ditatausahakan di Seksi Pemeriksaan (SOP Tata Cara Penatausahaan

Laporan Pemeriksaan Pajak dan Nota Penghitungan (Nothit))

7.1.2.1.5. Berdasarkan bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen yang ada, Tim

Pemeriksa Pajak melakukan pemeriksaan dan menyusun KKP.

7.1.2.1.6. Setelah pemeriksaan diselesaikan (LPP telah tersusun), Tim Pemeriksa Pajak

membuat SPHP yang dilampiri dengan Daftar Temuan Pemeriksaan Pajak yang

ditandatangani oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, dan dikirimkan kepada Wajib

Pajak.

7.1.2.1.7. Wajib Pajak memberikan tanggapan tertulis baik setuju maupun tidak setuju atas

temuan hasil pemeriksaan dengan menggunakan formulir Surat Tanggapan Hasil

Pemeriksaan; Wajib Pajak yang menyetujui seluruh hasil pemeriksaan kemudian

menandatangani Surat Tanggapan Hasil Pemeriksaan beserta Lembar Pernyataan

Administrasi Perpajakan 81
Persetujuan Hasil Pemeriksaan dan Berita Acara Persetujuan Hasil Pemeriksaan;

Wajib Pajak yang tidak setuju atas sebagian atau seluruh hasil pemeriksaan

kemudian mengisi, menandatangani dan menyampaikan Surat Tanggapan Hasil

Pemeriksaan dilampiri dengan buktibukti pendukung sanggahan serta penjelasan;

7.1.2.1.8. Berdasarkan surat tanggapan dari Wajib Pajak, Tim Pemeriksa Pajak melakukan

pembahasan dengan Wajib Pajak.

7.1.2.1.9. Tim Pemeriksa Pajak membuat Risalah Pembahasan yang ditandatangani oleh

Tim Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak.

7.1.2.1.10. Dalam hal masih terdapat perbedaan antara hasil pembahasan dengan pendapat

Wajib Pajak, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak agar perbedaan tersebut dibahas terlebih dahulu oleh Tim

Pembahas Tingkat UP3 yang bersangkutan; Hasil pembahasan oleh Tim

Pembahas Tingkat UP3 dituangkan dalam Risalah Tim Pembahas dan

disampaikan oleh Tim Pemeriksa Pajak kepada Wajib Pajak; Dalam hal masih

terdapat perbedaan antara hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Tingkat UP3

dengan pendapat Wajib Pajak, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan

pembahasan kedua di tingkat kanwil atasannya dengan menggunakan surat

permohonan. (Permohonan pembahasan kedua tidak dapat dilakukan untuk

Pemeriksaan Sederhana Kantor atas Surat Pemberitahuan Masa Pajak

Pertambahan Nilai Lebih Bayar Restitusi yang disampaikan oleh PKP Kegiatan

Tertentu).

7.1.2.1.11. Berdasarkan Risalah Pembahasan atau Risalah Tim Pembahas, Tim Pemeriksa

Pajak mengirimkan Surat Panggilan kepada Wajib Pajak untuk menandatangani

Berita Acara Hasil Pemeriksaan dalam rangka pelaksanaan Pembahasan Akhir

Hasil Pemeriksaan.

7.1.2.1.12. Hasil pembahasan akhir dituangkan dalam suatu Berita Acara Hasil Pemeriksaan

beserta lampirannya berupa Ikhtisar Hasil Pembahasan Akhir yang ditandatangani

oleh Tim Pemeriksa Pajak dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Wajib

Pajak menolak untuk menandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan, Tim

Pemeriksa Pajak membuat catatan tentang penolakan tersebut dalam Berita Acara

Hasil Pemeriksaan.

7.1.2.1.13. Apabila Wajib Pajak tidak memberikan tanggapan dan/atau tidak menghadiri

Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, harus dibuatkan Berita Acara Tidak

Memberikan Tanggapan/Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak dan surat

ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak diterbitkan berdasarkan Surat

Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan yang disampaikan kepada Wajib Pajak atau

Administrasi Perpajakan 82
berdasarkan tanggapan tertulis Wajib Pajak yang disetujui oleh Tim Pemeriksa

Pajak.

7.1.2.1.14. Setelah menandatangani Berita Acara Persetujuan Hasil Pemeriksaan atau Berita

Acara Hasil Pemeriksaan, Wajib Pajak dapat menyampaikan formulir kuesioner

yang telah diisi oleh Wajib Pajak kepada Direktur Pemeriksaan Penyidikan dan

Penagihan Pajak.

7.1.2.1.15. Tim Pemeriksa Pajak melengkapi LPP dengan dokumendokumen terkait, dan

memproses nothit. KKP yang telah dibuat, kemudian diparaf oleh Tim Pemeriksa

Pajak sedangkan LPP ditandatangani oleh Tim Pemeriksa dan Kepala Kantor

Pelayanan Pajak. Pemrosesan nothit untuk diterbitkan surat ketetapan pajak

diuraikan di SOP Tata Cara Penerbitan Surat Ketetapan Pajak.

7.1.2.1.16. Bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen yang dipinjam dari Wajib

Pajak dikembalikan secara lengkap dan utuh kepada Wajib Pajak paling lama 7

(tujuh) hari sejak selesainya pemeriksaan dan dibuatkan Bukti

Peminjaman/Pengembalian Buku, Catatan dan Dokumen oleh Tim Pemeriksa

Pajak.

7.1.2.1.17. LPP yang sudah ditandatangani Kepala Kantor Pelayanan Pajak kemudian

disampaikan ke Seksi Pemeriksaan untuk diproses dengan SOP Tata Cara

Penatausahaan Laporan Pemeriksaan Pajak dan Nota Penghitungan (Nothit).

7.1.2.1.18. Proses selesai.

7.1.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 56 (tiga halaman).

7.2.3. Tata Cara Pemeriksaan Sederhana Lapangan

7.1.3.1. Prosedur Kerja

7.1.3.1.1. Tim Pemeriksa Pajak menerima SP3 dan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan

Lapangan kepada Wajib Pajak dari Seksi Pemeriksaan (SOP Tata Cara

Penerbitan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak).

7.1.3.1.2. Penyampaian Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan:

a. Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan yang ditujukan kepada Wajib

Pajak disampaikan oleh Tim Pemeriksa Pajak pada saat dimulainya

Pemeriksaan Lapangan.

b. Apabila menolak diperiksa, Wajib Pajak harus menandatangani Surat

Pernyataan Penolakan Pemeriksaan Pajak. Dalam hal Wajib Pajak menolak

untuk menandatangani Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan Pajak, Tim

Pemeriksa Pajak harus membuat dan menandatangani Berita Acara

Administrasi Perpajakan 83
Penolakan Pemeriksaan Pajak, kemudian menyampaikan konsep berita acara

tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk ditandatangani.

c. Dalam hal Wajib Pajak tidak berada di tempat, pemeriksaan tetap dilaksanakan

dengan terlebih dahulu meminta Pegawai yang ada untuk mewakili Wajib

Pajak dan mendampingi Tim Pemeriksa Pajak guna membantu kelancaran

pemeriksaan. Apabila menolak untuk membantu kelancaran pemeriksaan,

Pegawai Wajib Pajak harus menandatangani Surat Pernyataan Penolaka

Membantu Kelancaran Pemeriksaan Pajak. Dalam hal terjadi penolakan untuk

menandatangani Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran

Pemeriksaan Pajak, Tim Pemeriksa Pajak harus membuat dan

menandatangani Berita Acara Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan

Pajak, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak,

dan selanjutnya dapat melakukan penyegelan terhadap ruanganruangan

tertentu. Berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pajak, terhadap Wajib

Pajak yang menolak diperika dapat diusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan

(SOP Tata Cara Penyelesaian Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan).

7.1.3.1.3. Peminjaman bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen:

a. Wajib Pajak yang diperiksa harus meminjamkan bukubuku, catatancatatan,

dan dokumendokumen yang berkaitan dengan kegiatan usaha atau pekerjaan

bebas Wajib Pajak atau objek yang terutang pajak beserta Surat Pernyataan

bahwa fotokopi dan atau hasil pengolahan data elektronik yang dipinjamkan

kepada Tim Pemeriksa Pajak adalah sesuai dengan aslinya apabila bukubuku,

catatancatatan, dan dokumendokumen tersebut berupa fotokopi dan atau

hasil pengolahan data elektronik.

b. Bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen yang diperlukan dan

ditemukan pada saat pelaksanaan pemeriksaan lapangan di tempat Wajib

Pajak dipinjam pada saat itu juga dan Tim Pemeriksa Pajak membuat Bukti

Peminjaman/Pengembalian Buku, Catatan, dan Dokumen.

c. Atas bukubuku, catatancatatan dan dokumendokumen yang belum dipinjam

pada saat pelaksanaan pemeriksaan lapangan, Tim Pemeriksa Pajak

membuat Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan, dan Dokumen yang

belum ditemukan/diperoleh. Bukubuku, catatancatatan, dan

dokumendokumen yang dipinjam harus diserahkan kepada Tim Pemeriksa

Pajak paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak Surat Peminjaman Buku,

Catatan, dan Dokumen diterima oleh Wajib Pajak.

Administrasi Perpajakan 84
d. Setiap penyerahan bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen dari

Wajib Pajak berkaitan dengan pemenuhan Surat Permintaan Peminjaman

Buku, Catatan, dan Dokumen, baik yang diserahkan sebagian atau secara

bertahap atau seluruhnya, Pemeriksa membuat Bukti

Peminjaman/Pengembalian Buku, Catatan, dan Dokumen.

e. Dalam hal Wajib Pajak menyatakan bahwa seluruh bukubuku, catatancatatan,

dan dokumendokumen sudah diserahkan, Tim Pemeriksa Pajak membuat dan

menandatangani Berita Acara Pemenuhan Seluruh Peminjaman Buku, Catatan

dan Dokumen, kemudian menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Pajak untuk menandatangani.

f. Dalam hal bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen perlu dilindungi

kerahasiaannya, atau jumlah bukubuku, catatancatatan, dan

dokumendokumen sangat banyak sehingga sulit untuk dibawa ke Kantor

Kepala Kantor Pelayanan Pajak, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak agar pelaksanaan pemeriksaan

lapangan dapat dilakukan di tempat Wajib Pajak dengan menyediakan ruangan

khusus tempat dilakukannya pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan.

g. Dalam hal data hasil pengolahan elektronik disimpan dalam media disket,

compact disk, tape backup, hard disk atau media penyimpanan lainnya yang

tidak dapat diperiksa karena kendala teknis, dapat dimintakan bantuan Tenaga

Ahli untuk melakukan pengubahan media atau pengubahan teknis lainnya

sehingga data dimaksud dapat diperiksa dengan membuat Surat Permintaan

Tenaga Ahli.

7.1.3.1.4. Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi jangka waktu penyerahan bukubuku,

catatancatatan, dan dokumendokumen:

a. Wajib Pajak yang tidak memenuhi jangka waktu penyerahan bukubuku,

catatancatatan, dan dokumendokumen, dikirim Surat Peringatan I pada hari

berikutnya setelah batas waktu penyerahan bukubuku, catatancatatan, dan

dokumendokumen terlampaui.

b. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Surat Peringatan I

terlewati dan Wajib Pajak masih belum juga menyerahkan bukubuku,

catatancatatan, dan dokumendokumen yang diminta, kepada Wajib Pajak

dikirim Surat Peringatan II pada hari berikutnya.

c. Jangka waktu penyerahan bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen

dalam setiap Surat Peringatan adalah selama 3 (tiga) hari sejak tanggal

dikirimnya masingmasing Surat Peringatan.

Administrasi Perpajakan 85
d. Apabila jangka waktu penyerahan Buku, Catatan, dan Dokumen sebagaimana

ditentukan dalam Surat Peringatan I dan Peringatan II telah terlewati dan Wajib

Pajak tidak memenuhi, Tim Pemeriksa Pajak harus membuat Berita Acara

Tidak Dapat Dipenuhinya Peminjaman Buku, Catatan, dan Dokumen.

e. Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi permintaan peminjaman bukubuku,

catatancatatan, dan dokumendokumen dalam jangka waktu yang ditentukan

dalam Surat Peringatan II, pajak yang terutang dihitung secara jabatan.

7.1.3.1.5. Untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci, Tim Pemeriksa Pajak melalui

Kepala Kantor Pelayanan Pajak dapat memanggil Wajib Pajak dengan

menggunakan Surat Panggilan I/Panggilan II. Keterangan Wajib Pajak yang

diberikan kepada Tim Pemeriksa Pajak, apabila dipandang perlu dapat dituangkan

dalam Berita Acara Pemberian Keterangan Wajib Pajak yang ditandatangani oleh

Tim Pemeriksa Pajak dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

7.1.3.1.6. Permintaan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan pemeriksaan yang

sedang dilakukan terhadap Wajib Pajak kepada pihak ketiga:

a. Melalui Kepala Kantor Pelayanan Pajak, Tim Pemeriksa Pajak dapat meminta

keterangan atau bukti yang berkaitan dengan pemeriksaan yang sedang

dilakukan terhadap Wajib Pajak kepada pihak ketiga sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 35 ayat (1) Undangundang Nomor 6 Tahun 1983 tentang

Ketentuan umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah

terakhir dengan Undangundang Nomor 16 Tahun 2000, secara tertulis dengan

membuat Surat Permintaan Keterangan atau Bukti.

b. Pihak Ketiga harus memberikan keterangan paling lama 7 (tujuh) hari sejak

diterimanya surat permintaan keterangan atau bukti.

c. Apabila dalam jangka waktu tidak dipenuhi, Tim Pemeriksa Pajak segera

menyampaikan Surat Peringatan I dan apabila dalam jangka waktu yang

ditentukan tidak dipenuhi, disampaikan Surat Peringatan II.

d. Apabila permintaan dalam Surat Peringatan II tidak juga dipenuhi, Pemeriksa

segera membuat Berita Acara Tidak Dipenuhinya Permintaan Keterangan atau

Bukti dari Pihak Ketiga.

7.1.3.1.7. Berdasarkan bukubuku, catatancatatan, dan dokumendokumen, penjelasan dari

Wajib Pajak, serta keterangan atau bukti yang berkaitan dengan pemeriksaan

yang dapat diperoleh, Tim Pemeriksa Pajak melakukan pemeriksaan dengan

menerapkan teknikteknik pemeriksaan yang lazim atau teknikteknik pemeriksaan

yang dipandang perlu dalam rangka mencapai tujuan pemeriksaan. Hasil

pemeriksaan dituangkan dalam Kertas Kerja Pemeriksaan dan konsep LPP

Administrasi Perpajakan 86
7.1.3.1.8. Pemberitahuan hasil pemeriksaan:

a. Hasil pemeriksaan lapangan diberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak

dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan yang dilampiri

dengan Daftar Temuan Pemeriksaan Pajak. Kepala Kantor Pelayanan Pajak

menandatangani Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan. Surat

Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan ditatausahakan oleh Tim Pemeriksa Pajak

dan disampaikan kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum.

b. Wajib Pajak dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari harus memberikan tanggapan

tertulis baik setuju maupun tidak setuju atas hasil Pemeriksaan Lapangan;

Dalam hal Pemeriksaan Sederhana Lapangan dilakukan atas Surat

Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar Restitusi, Wajib

Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) hari harus memberikan tanggapan tertulis

baik setuju maupun tidak setuju atas hasil Pemeriksaan Lapangan

c. Kepala Kantor Pelayanan Pajak berdasarkan permintaan Wajib Pajak dapat

memperpanjang jangka waktu pemberian tanggapan

d. Wajib Pajak yang menyetujui seluruh hasil pemeriksaan lapangan harus

menandatangani Surat Tanggapan Hasil Pemeriksaan beserta Lembar

Pernyataan Persetujuan Hasil Pemeriksaan dan Berita Acara Persetujuan

Hasil Pemeriksaan dan menyerahkannya kembali kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak;

e. Wajib Pajak yang tidak setuju atas sebagian atau seluruh hasil pemeriksaan

lapangan harus mengisi, menandatangani dan menyampaikan Surat

Tanggapan Hasil Pemeriksaan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan

dilampiri dengan buktibukti pendukung sanggahan serta penjelasan

seperlunya.

f. Tim Pemeriksa Pajak menandatangani Berita Acara Persetujuan Hasil

Pemeriksaan dan meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak

untuk menandatangani.

7.1.3.1.9. Pembahasan di tim pemeriksa dan tim pembahas:

a. Tanggapan atas Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan harus dibahas oleh

Tim Pemeriksa Pajak dengan Wajib Pajak yang hasil pembahasannya

dituangkan dalam Risalah Pembahasan

b. Dalam hal masih terdapat perbedaan antara hasil pembahasan dengan

pendapat Wajib Pajak, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan kepada

Kepala Kantor Pelayanan Pajak agar perbedaan tersebut dibahas terlebih

Administrasi Perpajakan 87
dahulu oleh Tim Pembahas Tingkat UP3 yang bersangkutan dengan

menggunakan surat permohonan

c. Hasil Pembahasan oleh Tim Pembahas Tingkat UP3 harus dituangkan dalam

Risalah Tim Pembahas dan disampaikan oleh Tim Pemeriksa Pajak kepada

Wajib Pajak

d. Dalam hal masih terdapat perbedaan antara hasil pembahasan oleh Tim

Pembahas Tingkat UP3 dengan pendapat Wajib Pajak, Wajib Pajak dapat

mengajukan permohonan pembahasan kedua di tingkat kanwil atasannya dan

harus disampaikan paling lambat 1 (satu) hari sejak tanggal Risalah Tim

Pembahas tingkat UP3

e. Hasil Pembahasan oleh Tim Pembahas Tingkat Kanwil harus dituangkan

dalam Risalah Tim Pembahas dan disampaikan oleh Tim Pemeriksa Pajak

kepada Wajib Pajak

f. Risalah Pembahasan dan Risalah Tim Pembahas merupakan bagian dari

Kertas Kerja Pemeriksaan dan digunakan sebagai dasar dalam pembahasan

akhir antara Tim Pemeriksa Pajak dengan Wajib Pajak

7.1.3.1.10. Pemanggilan kepada Wajib Pajak untuk menandatangani Berita Acara Hasil

Pemeriksaan dalam rangka pelaksanaan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan:

a. Berdasarkan Risalah Pembahasan atau Risalah Tim Pembahas, Tim

Pemeriksa Pajak mengirimkan Surat Panggilan sebanyakbanyaknya 2 (dua)

kali kepada Wajib Pajak untuk menandatangani Berita Acara Hasil

Pemeriksaan dalam rangka pelaksanaan Pembahasan Akhir Hasil

Pemeriksaan. Surat Panggilan ditandatangani oleh Kepala Kantor Pelayanan

Pajak.

b. Surat Panggilan dapat dikirimkan melalui faksimili atau disampaikan oleh kurir

atau Tim Pemeriksa Pajak, atau melalui pos tercatat untuk daerahdaerah

tertentu yang penggunaan faksimili tidak memungkinkan atau penyampaian

dengan kurir dianggap tidak efisien (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP)

c. Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi Surat Panggilan II, Tim Pemeriksa Pajak

membuat dan menandatangani Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak

7.1.3.1.11. Pembahasan akhir:

a. Tim Pemeriksa Pajak bersama dengan Wajib Pajak melakukan pembahasan

akhir.

b. Hasil pembahasan akhir dituangkan dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan

beserta lampirannya dan harus ditandatangani oleh Wajib Pajak, Tim

Administrasi Perpajakan 88
Pemeriksa Pajak, dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Berita acara tersebut

merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari LPP

c. Lampiran Berita Acara Hasil Pemeriksaan adalah Ikhtisar Hasil Pembahasan

Akhir dan merupakan bahan untuk membuat LPP;

d. Dalam hal Wajib Pajak menolak untuk menandatangani Berita Acara Hasil

Pemeriksaan, Tim Pemeriksa Pajak membuat catatan tentang penolakan

tersebut dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan

e. Apabila Wajib Pajak tidak memberikan tanggapan tertulis atau tidak menghadiri

Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan, Tim Pemeriksa Pajak membuat Berita

Acara Tidak Memberikan Tanggapan/Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak

dan surat ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak diterbitkan

berdasarkan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan yang disampaikan

kepada Wajib Pajak atau berdasarkan tanggapan tertulis Wajib Pajak yang

disetujui oleh Tim Pemeriksa Pajak

f. Setelah menandatangani Berita Acara Persetujuan Hasil Pemeriksaan atau

Berita Acara Hasil Pemeriksaan, Wajib Pajak dapat menyampaikan Formulir

Kuesioner yang telah diisi oleh Wajib Pajak kepada Direktur Pemeriksaan

Penyidikan dan Penagihan Pajak

7.1.3.1.12. Tim Pemeriksa Pajak melengkapi LPP dengan dokumendokumen terkait, dan

memproses nothit. KKP yang telah dibuat, kemudian diparaf oleh Tim Pemeriksa

Pajak sedangkan LPP ditandatangani oleh Tim Pemeriksa dan Kepala Kantor

Pelayanan Pajak. Pemrosesan nothit untuk diterbitkan surat ketetapan pajak

diuraikan di SOP Tata Cara Penerbitan Surat Ketetapan Pajak.

7.1.3.1.13. Bukubuku catatancatatan, dan dokumendokumen yang dipinjam dari Wajib

Pajak dikembalikan secara lengkap dan utuh kepada Wajib Pajak dengan

menggunakan Bukti Peminjaman/ Pengembalian Buku, Catatan dan Dokumen

paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal LPP

7.1.3.1.14. LPP yang sudah ditandatangani Kepala Kantor Pelayanan Pajak kemudian

disampaikan ke Seksi Pemeriksaan untuk doproses dengan SOP Tata Cara

Penatausahaan LPP dan Nota Penghitungan (Nothit).

7.1.3.1.15. Proses selesai.

7.1.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 57 (5 halaman)

Administrasi Perpajakan 89
7.1.4. Tata Cara Penatausahaan Laporan Pemeriksaan Pajak dan Nota Penghitungan

7.1.4.1. Prosedur Kerja

7.1.4.1.1. Tim Pemeriksa Pajak menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan, Kertas Kerja

Pemeriksaan, Nota Penghitungan, Alat Keterangan dan Lampiran IIA dan IIB

DUPAK kepada Kepala Seksi Pemeriksaan.

7.1.4.1.2. Kepala Seksi Pemeriksaan menugaskan Pelaksana Seksi Pemeriksaan untuk

meregistrasi dan memberi nomor Laporan Hasil Pemeriksaan dan Nota

Penghitungan.

7.1.4.1.3. Pelaksana Seksi Pemeriksaan meregistrasi dan memberi nomor Laporan Hasil

Pemeriksaan beserta Nota Penghitungan, selanjutnya menyampaikan Laporan

Hasil Pemeriksaan beserta Nota Penghitungan kepada Tim Pemeriksa Pajak.

7.1.4.1.4. Tim Pemeriksa Pajak melakukan penjilidan (pembundelan berkas) dan

menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan yang sudah dijilid sebanyak 3 (tiga) set,

Kertas Kerja Pemeriksaan, 3 (tiga) set Nota Penghitungan dan dokumen-dokumen

lain yang berhubungan dengan pemeriksaan pajak kepada Kepala Seksi

Pemeriksaan.

7.1.4.1.5. Kepala Seksi Pemeriksaan menugaskan Pelaksana Seksi Pemeriksaan untuk

menatausahakan Laporan Hasil Pemeriksaan, Kertas Kerja Pemeriksaan berikut

Nota Penghitungan dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan

pemeriksaan pajak.

7.1.4.1.6. Pelaksana Seksi Pemeriksaan meneliti kelengkapan Laporan Hasil Pemeriksaan,

Kertas Kerja Pemeriksaan berikut Nota Penghitungan dan dokumen-dokumen lain

yang berhubungan dengan pemeriksaan pajak yang diserahkan oleh Tim

Pemeriksa Pajak. Selanjutnya Pelaksana Seksi Pemeriksaan menyusun Surat

Pengantar yang akan ditujukan kepada kepada Kepala Seksi Pelayanan, Kepala

Seksi Pengawasan dan Konsultasi, Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi

dan Kepala Subbagian Umum.

7.1.4.1.7. Kepala Seksi Pemeriksaan meneliti dan menandatangani Surat Pengantar,

selanjutnya menyampaikan Surat Pengantar tersebut kepada Pelaksana Seksi

Pemeriksaan.

7.1.4.1.8. Pelaksana Seksi Pemeriksaan selanjutnya:

a. mengarsipkan 1 (satu) set Laporan Hasil Pemeriksaan dan Nota Penghitungan

beserta dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pemeriksaan

pajak;

Administrasi Perpajakan 90
b. menyampaikan Surat Pengantar beserta 1 (satu) set Laporan Hasil

Pemeriksaan dan Nota Penghitungan yang telah digabungkan dalam berkas

Wajib Pajak yang akan dikembalikan kepada Kepala Seksi Pelayanan;

c. menyampaikan Surat Pengantar beserta 1 (satu) set Laporan Hasil

Pemeriksaan dan Nota Penghitungan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan

Konsultasi;

d. menyampaikan surat pengantar beserta Alat Keterangan kepada Kepala Seksi

Pengolahan Data dan Informasi; dan

e. menyampaikan surat pengantar beserta Lampiran IIA dan IIB DUPAK kepada

Kepala Subbagian Umum.

1.4.1.9. Proses selesai.

7.1.4.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 58.

7.2. Penyidikan
7.2.1. Tata Cara Pengajuan Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan di KPP

7.2.1.1. Prosedur Kerja

7.2.1.1.1. Kepala Seksi Pemeriksaan menerima usulan Wajib Pajak yang akan diperiksa dari

Ketua Kelompok Fungsional Pemeriksa Pajak dan/atau Kepala Seksi Pengawasan

dan Konsultasi, dan selanjutnya menugaskan Pelaksana Seksi Pemeriksaan untuk

meneliti dan menyusun konsep Surat Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan.

7.2.1.1.2. Pelaksana Seksi Pemeriksaan menyusun konsep Surat Usulan Pemeriksaan Bukti

Permulaan berdasarkan usulan Ketua Kelompok Fungsional Pemeriksa Pajak dan

atau Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi, dan selanjutnya menyampaikan

konsep Surat Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut kepada Kepala Seksi

Pemeriksaan.

7.2.1.1.3. Kepala Seksi Pemeriksaan meneliti dan memaraf konsep Surat Usulan

Pemeriksaan Bukti Permulaan kemudian menyampaikan konsep Surat Usulan

Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

7.2.1.1.4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani konsep Surat

Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan, selanjutnya menyampaikan konsep Surat

Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut kepada Kepala Seksi

Pemeriksaan.

Administrasi Perpajakan 91
7.2.1.1.5. Kepala Seksi Pemeriksaan menugaskan Pelaksana Seksi Pemeriksaan untuk

menatausahakan dan mengirimkan Surat Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan

tersebut.

7.2.1.1.6. Pelaksana Seksi Pemeriksaan menatausahakan dan mengirimkan Surat Usulan

Pemeriksaan Bukti Permulaan kepada Kepala Kantor Wilayah DJP melalui

Subbagian Umum dengan SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.

7.2.1.1.7. Proses selesai.

7.2.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 59.

7.2.2. Tata Cara Penyelesaian Usulan Penyidikan

7.2.2.1. Prosedur Kerja

7.2.2.1.1. Kepala Kantor Wilayah menerima usulan penyidikan dari Kelompok Tenaga

Fungsional Kanwil dan memberi disposisi kepada Kepala Bidang Pemeriksaan,

Penyidikan dan Penagihan.

7.2.2.1.2. Kepala Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan menugaskan dan

memberi disposisi kepada Kepala Seksi Administrasi Penyidikan untuk membahas

usulan penyidikan.

7.2.2.1.3. Kepala Seksi Administrasi Penyidikan mengidentifikasi, menganalisis,

mempelajari, membahas dengan Kepala Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan

Penagihan dan memberi disposisi kepada Pelaksana Seksi Administrasi

Penyidikan untuk membuat konsep Surat Usulan Penyidikan.

7.2.2.1.4. Pelaksana Seksi Administrasi Penyidikan menghimpun/mengolah bahan dan

menyusun konsep surat usulan penyidikan serta menyampaikan kepada Kepala

Seksi Administrasi Penyidikan.

7.2.2.1.5. Kepala Seksi Administrasi Penyidikan meneliti dan memaraf konsep Surat Usulan

Penyidikan serta menyampaikannya kepada Kepala Bidang Pemeriksaan,

Penyidikan dan Penagihan.

7.2.2.1.6. Kepala Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan menelaah dan memaraf

konsep Surat Usulan Penyidikan serta menyampaikannya kepada Kepala Kantor

Wilayah.

7.2.2.1.7. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Surat Usulan Penyidikan.

7.2.2.1.8. Pelaksana menatausahakan Surat Usulan Penyidikan yang telah ditandatangani

oleh Kepala Kantor Wilayah, dan menyampaikannya ke Bagian Umum untuk

Administrasi Perpajakan 92
dikirim ke Direktorat Intelijen dan Penyidikan Kantor Pusat DJP dengan SOP Tata

Cara Penyampaian Dokumen di Kantor Wilayah.

7.2.2.1.9. Proses selesai.

7.2.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat lampiran 60.

Administrasi Perpajakan 93
Keberatan, Banding, dan Gugatan
8.1. Pembetulan Ketetapan Pajak
8.2.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pembetulan Ketetapan PPh, PPN, dan PPnBM di

KPP

8.1.1.1. Prosedur Kerja

8.1.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan pembetulan ketetapan pajak ke Kantor

Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

8.1.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Pelaksana Seksi Pelayanan.

8.1.1.1.3. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan penelitian terhadap kewenangan

memproses surat permohonan pembetulan ketetapan pajak yang diterima.

8.1.1.1.4. Dalam hal kewenangan memproses surat permohonan pembetulan ketetapan

pajak berada pada KPP:

a. Pelaksana Seksi Pelayanan meneruskan berkas permohonan pembetulan

ketetapan ketetapan pajak kepada Kepala Seksi Pelayanan.

b. Kepala Seksi Pelayanan meneruskan berkas permohonan pembetulan

ketetapan ketetapan pajak kepada Kepala Kantor dalam rangka penentuan

Tim Peneliti kemudian mengembalikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

c. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak Surat Tugas.

d. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Tugas kemudian

menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

Administrasi Perpajakan 94
e. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Tugas kemudian

menyerahkannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

f. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Tugas

kemudian menyerahkannya kepada Tim Peneliti.

g. Tim Peneliti melakukan penelitian atas permohonan pembetulan ketetapan

pajak dan membuat serta menandatangani Laporan Penelitian Pembetulan

atas Ketetapan Pajak kemudian menyerahkannya kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

h. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian Pembetulan atas Ketetapan Pajak kemudian menyerahkannya

kepada Kepala Seksi Pelayanan.

i. Kepala Seksi Pelayanan menerima Laporan Penelitian Pembetulan atas

Ketetapan Pajak dan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak Surat Keputusan Pembetulan Ketetapan Pajak/Surat Penolakan

Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak.

j. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keputusan Pembetulan

Ketetapan Pajak/ Surat Penolakan Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak

kemudian menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

k. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Keputusan

Pembetulan Ketetapan Pajak/Surat Penolakan Permohonan Pembetulan

Ketetapan Pajak kemudian meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Pajak.

l. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Keputusan Pembetulan Ketetapan Pajak/Surat Penolakan Permohonan

Pembetulan Ketetapan Pajak.

m. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan Surat Keputusan Pembetulan

Ketetapan Pajak/Surat Penolakan Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak

(SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan menyampaikan

kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP tentang Penyampaian

Dokumen di KPP).

n. Proses selesai.

8.1.1.1.5. Dalam hal kewenangan memproses surat permohonan pembetulan ketetapan

pajak berada pada Kantor Pusat atau Kantor Wilayah

a. Pelaksana Seksi Pelayanan melakukan penelitian kelengkapan berkas dan

membuat Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas yang Dikirimkan ke Kantor

Wilayah/Kantor Pusat, Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Pembetulan

Administrasi Perpajakan 95
Ketetapan Pajak, serta konsep Surat Pengantar kemudian menyerahkannya

kepada Kepala Seksi Pelayanan.

b. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan menandatangani Lembar Penelitian

Kelengkapan Berkas yang Dikirimkan ke Kantor Wilayah/Kantor Pusat dan

memaraf konsep Surat Pengantar kemudian menyerahkannya kepada Kepala

Kantor.

c. Kepala Kantor menyetujui dan menandatangani Surat Pengantar.

d. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan Surat Pengantar (SOP Tata

Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan mengirimkan semua berkas

terkait proses permohonan pembetulan ketetapan pajak ke Kanwil atau Kantor

Pusat melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

e. Proses selanjutnya dilaksanakan di Kantor Wilayah (SOP Tata Cara

Penyelesaian Pembetulan Ketetapan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan

Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah di Kanwil) atau di Direktorat

Keberatan dan Banding (SOP Tata Cara Penyelesaian Pembetulan Ketetapan

Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang

Mewah di KPDJP)

f. Proses selesai.

8.1.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 61.

8.2.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pembetulan Ketetapan PPh, PPN dan PPnBM

di Kanwil

8.1.2.1. Prosedur Kerja

8.1.2.1.1. Kantor Pelayanan Pajak menyampaikan Surat Pengantar, Surat Permohonan

Pembetulan Ketetapan Pajak dari Wajib Pajak, Lembar Pengawasan Arus

Dokumen, Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas, Lembar Pengawasan

Penelitian Berkas Pembetulan Ketetapan Pajak (SOP Tata Cara Penyelesaian

Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak Pajak Penghasilan, Pajak

Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah di KPP) kepada Kantor

Wilayah.

8.1.2.1.2. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima berkas dalam

point 1 yang telah didisposisi oleh Kepala Kantor Wilayah (SOP Penerimaan

Dokumen di Kanwil) serta menugaskan dan memberikan disposisi kepada Kepala

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk memprosesnya.

Administrasi Perpajakan 96
8.1.2.1.3. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti permohonan

pembetulan ketetapan pajak dan menugaskan Pelaksana Seksi Pengurangan,

Keberatan, dan Banding untuk membuat konsep Surat Pemberitahuan

Penerimaan Berkas Pembetulan Ketetapan Pajak untuk dikirim kepada Kantor

Pelayanan Pajak pengirim. Dalam hal Kantor Wilayah menerima berkas yang

bukan merupakan kewenangannya, Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan

Banding menugaskan Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding

untuk memproses juga konsep Surat Penerusan Berkas Pembetulan Ketetapan

Pajak untuk dikirim ke unit yang berwenang. Dalam hal permohonan pembetulan

ketetapan pajak menjadi kewenangan Kantor Wilayah, Kepala Seksi

Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneruskan ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk ditentukan nama-nama yang akan

dimasukkan dalam Tim Peneliti.

8.1.2.1.4. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding membuat konsep Surat

Pemberitahuan Penerimaan Berkas Pembetulan Ketetapan Pajak atau Penerusan

Berkas Pembetulan Ketetapan Pajak dan meneruskan ke Kepala Seksi

Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.1.2.1.5. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep surat tersebut. dan meneruskan ke Kepala Bidang Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

8.1.2.1.6. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menyetujui dan

menandatangani konsep surat tersebut.

8.1.2.1.7. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Pemberitahuan Penerimaan Berkas Pembetulan Ketetapan

Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak pengirim, dan Surat Penerusan Berkas

Pembetulan Ketetapan Pajak ke unit yang berwenang (SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen di Kanwil).

8.1.2.1.8. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menentukan nama-nama

dalam Tim Peneliti, dan menugaskan kepada Kepala Seksi Pengurangan,

Keberatan, dan Banding untuk membuat Surat Tugas.

8.1.2.1.9. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menugaskan Pelaksana

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk membuat konsep Surat Tugas.

8.1.2.1.10. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding membuat konsep Surat

Tugas dan meneruskan konsep tersebut ke Kepala Seksi Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

Administrasi Perpajakan 97
8.1.2.1.11. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep Surat Tugas serta meneruskan konsep tersebut ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.1.2.1.12. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menelaah dan memaraf

konsep Surat Tugas serta meneruskan konsep tersebut ke Kepala Kantor Wilayah.

8.1.2.1.13. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Surat Tugas.

8.1.2.1.14. Tim Peneliti berdasarkan Surat Tugas yang diterima kemudian melakukan

penelitian dalam rangka pemrosesan pembetulan ketetapan pajak sesuai dengan

prosedur yang disebutkan dalam Lampiran I SE-02/PJ.07/2007, yang terdiri dari:

a. Peneliti memulai pencatatan setiap pelaksanaan tahapan penelitian pada

Lembar Pengawasan Penelitian Pembetulan Ketetapan Pajak yang Tidak

Benar (Lampiran V.2)

b. Pembuatan Laporan Penelitian Pembetulan Ketetapan Pajak

1) Peneliti membuat Laporan Penelitian Pembetulan (Lampiran V.7).

2) Dalam hal dari hasil penelitian terdapat unsur kesalahan tulis, kesalahan

hitung, dan atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam

peraturan perundangundangan perpajakan, Peneliti membuat Surat

Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Permohonan Pembetulan

Ketetapan Pajak (Lampiran V.8).

3) Dalam hal dari hasil penelitian tidak terdapat unsur kesalahan tulis,

kesalahan hitung, dan atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu

dalam peraturan perundang-undangan perpajakan, Peneliti membuat

Surat Penolakan Permohonan Pembetulan (V.10).

c. Peneliti membuat Surat Keputusan Pembetulan Ketetapan Pajak (Lampiran 8),

dalam rangkap 3 (tiga) yang peruntukannya sebagai berikut:

- Lembar ke-1 untuk Wajib Pajak

- Lembar ke-2 untuk Kantor Pelayanan Pajak

- Lembar ke-3 untuk arsip

8.1.2.1.15. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Laporan Penelitian

Pembetulan, Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Permohonan

Pembetulan Ketetapan Pajak, atau Surat Penolakan Permohonan Pembetulan.

8.1.2.1.16. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Permohonan

Pembetulan Ketetapan Pajak, atau Surat Penolakan Permohonan Pembetulan ke

Wajib Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak penerbit surat ketetapan pajak melalui

Bagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di Kanwil).

Administrasi Perpajakan 98
8.1.2.1.17. Proses selesai.

8.1.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat lampiran 62 (dua halaman).

8.2. Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi


8.2.1. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi PPh, PPN, dan PPnBM di KPP

8.2.1.1. Prosedur Kerja

8.2.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

8.2.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Selain BPS, Petugas Tempat Pelayanan

Terpadu juga memberikan Lembar Isian Surat Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam

surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat permohonan beserta

kelengkapannya ke Account Representative.

8.2.1.1.3. Account Representative meneliti persyaratan formal Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi. Dalam hal berkas Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi tidak memenuhi persyaratan, Account

Representative membuat konsep Surat Pemberitahuan Surat Permohonan

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Tidak Memenuhi

Persyaratan Formal dan meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan

Konsultasi.

8.2.1.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi Tidak Memenuhi Persyaratan Formal kemudian meneruskannya

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.2.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi Tidak Memenuhi Persyaratan Formal.

Administrasi Perpajakan 99
8.2.1.1.6. Surat Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi Tidak Memenuhi Persyaratan Formal ditatausahakan di Seksi

Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan

disampaikan ke Wajib Pajak (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.2.1.1.7. Dalam hal permohonan dapat diproses lebih lanjut, Account Representative

membuat konsep Surat Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi Memenuhi Persyaratan Formal dan

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

8.2.1.1.8. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi Memenuhi Persyaratan Formal dan meneruskannya kepada Kepala

Kantor Pelayanan Pajak.

8.2.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi Memenuhi Persyaratan Formal.

8.2.1.1.10. Surat Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi Memenuhi Persyaratan Formal ditatausahakan di Seksi Pelayanan

(SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan ke

Wajib Pajak (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.2.1.1.11. Atas Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi yang

memenuhi persyaratan formal, Account Representative meneruskan Permohonan

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi ke Seksi Pelayanan untuk

dibuatkan Surat Pengantar untuk diteruskan ke Kantor Wilayah/Direktorat

Keberatan dan Banding KPDJP.

8.2.1.1.12. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas

dan Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi, serta membuat konsep Surat Pengantar, kemudian

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan beserta berkas permohonan dari

Wajib Pajak.

8.2.1.1.13. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Pengantar, kemudian

meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak beserta berkas

permohonan dari Wajib Pajak.

8.2.1.1.14. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani Surat Pengantar dan

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

8.2.1.1.15. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

menatausahakan dan mengirim Surat Pengantar, Surat Permohonan

Administrasi Perpajakan 100


Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Wajib Pajak, Lembar

Pengawasan Arus Dokumen, Lembar Isian Surat Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi, Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi Memenuhi Persyaratan Formal, Lembar

Penelitian Kelengkapan Berkas, Lembar Pengawasan Penelitian Berkas

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi, Salinan Laporan

Pemeriksaan Pajak Lengkap yang sudah dilegalisasi oleh Kepala Seksi

Pelayanan.

8.2.1.1.16. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan Surat Pengantar beserta berkas

permohonan, dan berkas terkait lainnya (SOP Tata Cara Penatausahaan

Dokumen Wajib Pajak) dan menyampaikannya kepada Kantor Wilayah atau

Direktorat Keberatan dan Banding KPDJP melalui Subbagian Umum (SOP Tata

Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.2.1.1.17. Proses selanjutnya dilaksanakan di Kantor Wilayah (SOP Tata Cara Penyelesaian

Permohonan Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi di

Kanwil) atau di Direktorat Keberatan dan Banding KPDJP (SOP Tata Cara

Penyelesaian Permohonan Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi di KPDJP)

8.2.1.1.18. Proses selesai.

8.2.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 63.

8.2.2. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi PPh, PPN, dan PPnBM di Kanwil

8.2.2.1. Prosedur Kerja

8.2.2.1.1. Kantor Pelayanan Pajak menyampaikan Surat Pengantar, Surat Permohonan

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi dari Wajib Pajak, Lembar

Pengawasan Arus Dokumen (LPAD), Lembar Isian Surat Permohonan

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi, Pemberitahuan Surat

Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Memenuhi

Persyaratan Formal, Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas, Lembar

Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi, dan copy Laporan Pemeriksaan Pajak lengkap (SOP Tata Cara

Penyelesaian Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi

Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang

Mewah di KPP) kepada Kantor Wilayah.

Administrasi Perpajakan 101


8.2.2.1.2. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima berkas dalam

point 1 yang telah didisposisi oleh Kepala Kantor Wilayah (SOP Penerimaan

Dokumen di Kanwil) serta menugaskan dan memberikan disposisi kepada Kepala

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk memprosesnya.

8.2.2.1.3. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti permohonan

pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dan menugaskan Pelaksana

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk membuat konsep Surat

Pemberitahuan Penerimaan Berkas untuk dikirim kepada Kantor Pelayanan Pajak

pengirim. Dalam hal Kantor Wilayah menerima berkas yang bukan merupakan

kewenangannya, Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding

menugaskan Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk

memproses juga konsep Surat Penerusan Berkas untuk dikirim ke unit yang

berwenang. Dalam hal permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi

administrasi menjadi kewenangan Kantor Wilayah, Kepala Seksi Pengurangan,

Keberatan, dan Banding meneruskan ke Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan,

dan Banding untuk ditentukan nama-nama yang akan dimasukkan dalam Tim

Peneliti.

8.2.2.1.4. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding membuat konsep Surat

Pemberitahuan Penerimaan Berkas atau Penerusan Berkas dan meneruskan ke

Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.2.2.1.5. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep surat tersebut dan meneruskan ke Kepala Bidang Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

8.2.2.1.6. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menyetujui dan

menandatangani konsep surat tersebut.

8.2.2.1.7. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Pemberitahuan Penerimaan Berkas ke KPP pengirim, dan

Surat Penerusan Berkas ke unit yang berwenang (SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di Kanwil).

8.2.2.1.8. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menentukan nama-nama

dalam Tim Peneliti, dan menugaskan kepada Kepala Seksi untuk membuat Surat

Tugas.

8.2.2.1.9. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menugaskan Pelaksana

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk membuat konsep Surat Tugas.

Administrasi Perpajakan 102


8.2.2.1.10. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding membuat konsep Surat

Tugas dan meneruskan konsep tersebut ke Kepala Seksi Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

8.2.2.1.11. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep Surat Tugas serta meneruskan konsep tersebut ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.2.2.1.12. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menelaah dan memaraf

konsep Surat Tugas serta meneruskan konsep tersebut ke Kepala Kantor Wilayah.

8.2.2.1.13. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Surat Tugas.

8.2.2.1.14. Tim Peneliti berdasarkan Surat Tugas yang diterima kemudian melakukan

penelitian dalam rangka pemrosesan pengurangan atau penghapusan sanksi

administrasi sesuai dengan prosedur yang disebutkan dalam Lampiran III SE-

02/PJ.07/2007, yang terdiri dari:

a. Peneliti memulai pencatatan setiap pelaksanaan tahapan penelitian pada

Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi (Lampiran V.2)

b. Pembuatan analisis dan permintaan penjelasan dan atau pembuktian:

1) Peneliti melakukan analisis dan membuat Matrik Sengketa Pengurangan

atau Penghapusan Sanksi Administrasi (Lampiran V.6.a)

2) Apabila dibutuhkan, Peneliti dapat meminta penjelasan dan atau

pembuktian kepada Wajib Pajak dengan membuat Permintaan

Penjelasan dan atau Pembuktian (Lampiran V.17).

3) Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan Wajib Pajak tidak

memberikan respon, Peneliti dapat membuat Permintaan dan atau

Pembuktian (permintaan kedua) kepada Wajib Pajak (Lampiran V.18)

4) Dalam hal masih masih diperlukan tambahan penjelasan dan atau

pembuktian ke dua, Peneliti dapat membuat Permintaan Penjelasan dan

atau Pembuktian Tambahan kepada Wajib Pajak (Lampiran V.19)

5) Dalam hal Wajib Pajak tidak memberikan respon dalam jangka waktu

yang ditentukan dalam Permintaan Penjelasan dan atau Pembuktian

(permintaan kedua) atau Permintaan Penjelasan dan atau Pembuktian

Tambahan, Peneliti membuat Berita Acara Tidak Memberikan Penjelasan

dan atau Pembuktian (Lampiran V.20).

c. Pembahasan sengketa perpajakan:

Administrasi Perpajakan 103


1) Peneliti membuat Undangan Pembahasan Sengketa Perpajakan

(Lampiran V.21 dan V.22) untuk memanggil Wajib Pajak atau Pemeriksa

atau pihak lain untuk melakukan pembahasan sengketa perpajakan.

2) Peneliti membuat Berita Acara Pembahasan Sengketa Perpajakan

(Lampiran V.23). Berita Acara Pembahasan Sengketa Perpajakan ini

ditandatangai oleh pihak-pihak yang hadir dalam pembahasan.

d. Pembuatan Kertas Kerja Penelitian dan Laporan Penelitian Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi:

a) Peneliti membuat Kertas Kerja Penelitian Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi (Lampiran V.24)

b) Peneliti membuat Laporan Penelitian Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi (Lampiran V.25).

e. Pengiriman Surat Pemberitahuan Hasil Penelitian dan Pembahasan Akhir:

1) Peneliti membuat Surat Pemberitahuan Hasil Penelitian Pengurangan

atau Penghapusan Sanksi Administrasi, Permintaan Tanggapan dan

Undangan Menghadiri Pembahasan Akhir (Lampiran V.26),

Pemberitahuan Daftar Hasil Penelitian Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi (Lampiran V.27), Surat Tanggapan Hasil Penelitian

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi (Lampiran V.28).

2) Peneliti setelah meneliti tanggapan tertulis Wajib Pajak dapat melakukan

pembahasan akhir.

3) Peneliti melakukan pembahasan akhir

4) Peneliti membuat Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Penelitian

Keberatan (Lampiran V.29) dan membuat Daftar Hasil Akhir Penelitian

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi (Lampiran V.30).

5) Apabila Wajib Pajak tidak hadir dan tidak memberikan tanggapan tertulis,

Tim Peneliti membuat Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak dan Tidak

Memberikan Tanggapan Tertulis (Lampiran V.31) dan membuat Daftar

Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi (Lampiran V.30).

6) Apabila Wajib Pajak hadir tetapi tidak memberikan tanggapan tertulis atau

Wajib Pajak tidak hadir tetapi memberikan tanggapan tertulis, Tim Peneliti

membuat Berita Acara Memberikan/Tidak Meberikan dan

Kehadiran/Ketidakhadiran Wajib Pajak (Lampiran V.32) dan membuat

Daftar Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi (Lampiran V.30)

Administrasi Perpajakan 104


7) Apabila Wajib Pajak hadir dan memberikan/tidak memberikan tanggapan

tertulis, namun tidak bersedia menandatangani Berita Acara dalam

Lampiran V.29 dan Lampiran V.32, Tim Peneliti membuat Berita Acara

Tidak Bersedia Menandatangani Berita Acara Pembahasan dan membuat

Daftar Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi (Lampiran V.30)

8) Menyampaikan Daftar Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau

Penghapusan Sanksi Administrasi (Lampiran V.30) kepada Wajib Pajak.

Apabila Wajib Pajak tidak hadir, Daftar Hasil Akhir Penelitian

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi akan dikirim

sebagai lampiran Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan

Sanksi Administrasi.

f. Membuat Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi (Lampiran V.42 atau V.43), dibuat rangkap 3 (tiga) yang

peruntukannya sebagai berikut:

- Lembar ke-1 untuk Wajib Pajak

- Lembar ke-2 untuk Kantor Pelayanan Pajak

- Lembar ke-3 untuk arsip

g. Menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai hak dan kewajiban Wajib

Pajak (Lampiran V.37)

h. Tim Peneliti dapat mengajukan permintaan untuk dilakukan pemeriksaan

dalam rangka pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi (Lampiran

V.38)

i. Apabila dalam proses pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi

terdapat data/bukti baru atau data yang sebelumnya belum terungkap dalam

proses pemeriksaan, Tim Peneliti dan mengirimkan data tersebut ke unit

pemeriksa yang bersangkutan (Lampiran V.39)

8.2.2.1.15. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Laporan Penelitian dan

Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan SanksiAadministrasi.

8.2.2.1.16. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi

Administrasi ke Wajib Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak penerbit surat ketetapan

pajak melalui Bagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di Kanwil).

8.2.2.1.17. Proses selesai.

8.2.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 64 (tiga halaman).

Administrasi Perpajakan 105


8.3. Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar
8.4.3. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pembatalan SPPT/SKP/STP

8.3.1.1. Prosedur kerja

8.3.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan surat permohonan Pembatalan SPPT/SKP/STP ke

Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

8.3.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima permohonan Pembetulan

SPPT/SKP/STP kemudian meneliti kelengkapan persyaratannya. Dalam hal

berkas pendaftaran belum lengkap, diimbau kepada Wajib Pajak untuk

melengkapinya. Dalam hal berkas pendaftaran sudah lengkap, Petugas Tempat

Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD. BPS diserahkan kepada Wajib

Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan berkas permohonan, dan kemudian

meneruskan permohonan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

8.3.1.1.3. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menugaskan dan memberi disposisi

kepada Account Representative yang objek pajaknya meliputi wilayah kerjanya

untuk menindaklanjuti berkas permohonan pembatalan SPPT/SKP/STP.

8.3.1.1.4. Account Representative mempelajari berkas permohonan pembatalan

SPPT/SKP/STP dengan melakukan Pemeriksaan Sederhana Kantor (PSK) dan

membuat usulan pelaksanaan pemeriksaan lapangan, kemudian menyampaikan

kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi beserta berkas permohonan

pembetulan SPPT/SKP/STP.

8.3.1.1.5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan menyetujui usulan

pemeriksaan lapangan, kemudian menyampaikan usulan pemeriksaan lapangan

kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan beserta berkas permohonan

pembetulan SPPT/SKP/STP.

8.3.1.1.6. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menerima usulan pemeriksaan lapangan

beserta berkas permohonan pembetulan SPPT/SKP/STP, menugaskan dan

memberi disposisi kepada Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan untuk

membuat Surat Tugas Pemeriksaan Lapangan.

8.3.1.1.7. Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan membuat konsep Surat Tugas

Pemeriksaan Lapangan, kemudian menyampaikan kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan.

8.3.1.1.8. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan meneliti dan memaraf konsep Surat Tugas

Pemeriksaan Lapangan, kemudian menyampaikan konsep tersebut kepada

Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan tidak menyetujui konsep surat tugas pemeriksaan lapangan,

Administrasi Perpajakan 106


Pelaksana Seksi Ekstensifikasi Perpajakan harus memperbaiki konsep surat tugas

tersebut.

8.3.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Tugas

Pemeriksaan Lapangan, kemudian mengembalikan kepada Kepala Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak

menyetujui konsep surat tugas pemeriksaan lapangan, Pelaksana Seksi

Ekstensifikasi Perpajakan harus memperbaiki konsep surat tugas tersebut.

8.3.1.1.10. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menyerahkan surat tugas pemeriksaan

lapangan kepada Pejabat Fungsional Penilai untuk melakukan pemeriksaan

lapangan.

8.3.1.1.11. Fungsional Penilai Pajak menerima surat tugas pemeriksaan lapangan,

mengidentifikasi, memverifikasi lapangan, dan membuat uraian penelitian yang

dituangkan dalam BAPL sebagai bahan pertimbangan/masukan bagi Kepala

Kantor atas permohonan pembatalan SPPT/SKP/STP, kemudian menyampaikan

konsep Berita Acara Pemeriksaan Lapangan kepada Kepala Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan.

8.3.1.1.12. Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempelajari dan memaraf konsep Berita

Acara Pemeriksaan Lapangan, kemudian menyampaikan kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan tidak

menyetujui konsep Berita Acara Pemeriksaan Lapangan, Pejabat Fungsional

Penilai harus memperbaiki konsep berita acara tersebut.

8.3.1.1.13. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Berita Acara

Pemeriksaan Lapangan, kemudian menugaskan dan memberi disposisi kepada

Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi untuk melakukan perekaman

pembatalan SPPT/SKP/STP.

8.3.1.1.14. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menugaskan Pelaksana Seksi

Pengolahan Data dan Informasi untuk menyajikan informasi pembatalan

SPPT/SKP/STP.

8.3.1.1.15. Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi menyiapkan informasi

pembatalan SPPT/SKP/STP, kemudian menyampaikan kepada Kepala Seksi

Pengolahan Data dan Informasi.

8.3.1.1.16. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi menyampaikan informasi

pembatalan SPPT/SKP/STP kepada Kepala Seksi Pelayanan.

8.3.1.1.17. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

mencetak konsep Surat Keputusan Pembatalan SPPT/SKP/STP.

Administrasi Perpajakan 107


8.3.1.1.18. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keputusan Pembatalan

SPPT/SKP/STP, kemudian menyampaikan konsep surat keputusan tersebut

kepada Kepala Seksi Pelayanan.

8.3.1.1.19. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Keputusan

Pembatalan SPPT/SKP/STP dan menyampaikan konsep Surat Keputusan

Pembatalan SPPT/SKP/STP kepada Kepala Kantor Pelayanan. Dalam hal Kepala

Seksi Pelayanan tidak menyetujui konsep Surat Keputusan Pembatalan

SPPT/SKP/STP, Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki konsep surat

tersebut.

8.3.1.1.20. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani konsep Surat

Keputusan Pembatalan SPPT/SKP/STP. Dalam hal Kepala Kantor Pelayanan

Pajak tidak menyetujui konsep Surat Keputusan Pembatalan SPPT/SKP/STP,

Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki konsep surat keputusan tersebut.

8.3.1.1.21. Surat Keputusan Pembatalan SPPT/SKP/STP ditatausahakan di Seksi Pelayanan

(SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan disampaikan kepada

Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

8.3.1.1.22. Proses selesai.

8.3.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 65.

8.4.4. Tata Cara Penyelesaian permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar PPh, PPN dan PPnBM di KPP

8.3.2.1. Prosedur kerja

8.3.2.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar ke Kantor Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan

Terpadu.

8.3.2.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Selain BPS, Petugas Tempat Pelayanan

Terpadu juga memberikan Lembar Isian Surat Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

Administrasi Perpajakan 108


kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

8.3.2.1.3. Account Representative meneliti persyaratan formal Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar. Dalam hal berkas Pengurangan

atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar tidak memenuhi persyaratan,

Account Representative membuat konsep Surat Pemberitahuan Surat

Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar

Tidak Memenuhi Persyaratan Formal dan meneruskannya kepada Kepala Seksi

Pengawasan dan Konsultasi.

8.3.2.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar Tidak Memenuhi Persyaratan Formal kemudian

meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.3.2.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar Tidak Memenuhi Persyaratan Formal.

8.3.2.1.6. Surat Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Tidak Memenuhi Persyaratan Formal

ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen

Wajib Pajak) dan disampaikan ke Wajib Pajak (SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di KPP).

8.3.2.1.7. Dalam hal permohonan dapat diproses lebih lanjut, Account Representative

membuat konsep Surat Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Memenuhi Persyaratan Formal

dan meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

8.3.2.1.8. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar Memenuhi Persyaratan Formal dan meneruskannya

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.3.2.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar Memenuhi Persyaratan Formal.

8.3.2.1.10. Surat Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Memenuhi Persyaratan Formal ditatausahakan

di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan

disampaikan ke Wajib Pajak (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

Administrasi Perpajakan 109


8.3.2.1.11. Atas permohonan Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar yang memenuhi persyaratan formal, Account Representative

meneruskan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar ke Seksi Pelayanan untuk dibuatkan Surat Pengantar ke Kantor

Wilayah/Direktorat Keberatan dan Banding KPDJP.

8.3.2.1.12. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas,

Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar, membuat konsep Surat Pengantar dan meneruskannya

kepada Kepala Seksi Pelayanan beserta berkas permohonan dari Wajib Pajak.

8.3.2.1.13. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Pengantar dan

meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak beserta berkas

permohonan dari Wajib Pajak.

8.3.2.1.14. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani Surat Pengantar dan

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

8.3.2.1.15. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

menatausahakan dan mengirim Surat Pengantar, Surat Permohonan

Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Wajib Pajak,

Lembar Pengawasan Arus Dokumen, Lembar Isian Surat Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar , Pemberitahuan Surat

Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar

Memenuhi Persyaratan Formal, Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas, Lembar

Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar, Salinan Laporan Pemeriksaan Pajak Lengkap yang sudah

dilegalisasi oleh Kepala Seksi Pelayanan.

8.3.2.1.16. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan Surat Pengantar beserta berkas

permohonan, dan berkas terkait lainnya (SOP Tata Cara Penatausahaan

Dokumen Wajib Pajak) dan menyampaikannya kepada ke Kantor Wilayah melalui

Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.3.2.1.17. Proses selanjutnya dilaksanakan di Kantor Wilayah (SOP Tata Cara Penyelesaian

Permohonan Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang

Tidak Benar di Kanwil) atau di Direktorat Keberatan dan Banding (SOP Tata Cara

Penyelesaian Permohonan Permohonan Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar di KPDJP).

8.3.2.1.18. Proses selesai.

8.3.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 66.

Administrasi Perpajakan 110


8.4.5. Tata Cara Penyelesaian permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar PPh, PPN dan PPnBM di Kanwil

8.3.3.1. Prosedur Kerja

8.3.3.1.1. Kantor Pelayanan Pajak menyampaikan Surat Pengantar, Surat Permohonan

Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar dari Wajib

Pajak, Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD), Lembar Isian Surat

Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar,

Pemberitahuan Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar Memenuhi Persyaratan Formal, Lembar Penelitian

Kelengkapan Berkas, Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar, dan copy Laporan Pemeriksaan

Pajak lengkap (SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Pajak Penghasilan, Pajak

Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah di KPP) kepada Kantor

Wilayah.

8.3.3.1.2. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima berkas dalam

point 1 yang telah didisposisi oleh Kepala Kantor Wilayah (SOP Penerimaan

Dokumen di Kanwil) serta menugaskan dan memberikan disposisi kepada Kepala

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk memprosesnya.

8.3.3.1.3. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti permohonan

pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar dan menugaskan

Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk membuat konsep

Surat Pemberitahuan Penerimaan Berkas untuk dikirim kepada Kantor Pelayanan

Pajak pengirim. Dalam hal Kantor Wilayah menerima berkas yang bukan

merupakan kewenangannya, Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding

menugaskan Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk

memproses juga konsep Surat Penerusan Berkas untuk dikirim ke unit yang

berwenang. Dalam hal permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan

pajak yang tidak benar menjadi kewenangan Kantor Wilayah, Kepala Seksi

Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneruskan ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk ditentukan nama-nama yang akan

dimasukkan dalam Tim Peneliti.

8.3.3.1.4. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding membuat konsep Surat

Pemberitahuan Penerimaan Berkas atau Penerusan Berkas dan meneruskan ke

Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

Administrasi Perpajakan 111


8.3.3.1.5. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep surat tersebut dan meneruskan ke Kepala Bidang Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

8.3.3.1.6. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menyetujui dan

menandatangani konsep surat tersebut.

8.3.3.1.7. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Pemberitahuan Penerimaan Berkas ke KPP pengirim, dan

Surat Penerusan Berkas ke unit yang berwenang (SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di Kanwil).

8.3.3.1.8. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menentukan nama-nama

dalam Tim Peneliti, dan menugaskan kepada Kepala Seksi untuk membuat Surat

Tugas.

8.3.3.1.9. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menugaskan Pelaksana

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk membuat konsep Surat Tugas.

8.3.3.1.10. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding membuat konsep Surat

Tugas dan meneruskan konsep tersebut ke Kepala Seksi Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

8.3.3.1.11. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep Surat Tugas serta meneruskan konsep tersebut ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.3.3.1.12. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menelaah dan memaraf

konsep Surat Tugas serta meneruskan konsep tersebut ke Kepala Kantor Wilayah.

8.3.3.1.13. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Surat Tugas.

8.3.3.1.14. Tim Peneliti berdasarkan Surat Tugas yang diterima kemudian melakukan

penelitian dalam rangka pemrosesan pengurangan atau pembatalan ketetapan

pajak yang tidak benar sesuai dengan prosedur yang disebutkan dalam Lampiran

IV SE-02/PJ.07/2007, yang terdiri dari:

a. Peneliti memulai pencatatan setiap pelaksanaan tahapan penelitian pada

Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar (Lampiran V.2)

b. Pembuatan analisis dan permintaan penjelasan dan atau pembuktian:

1) Peneliti melakukan analisis dan membuat Matrik Sengketa Pengurangan

atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar (Lampiran V.6.a)

2) Apabila dibutuhkan, Peneliti dapat meminta penjelasan dan atau

pembuktian kepada Wajib Pajak dengan membuat Permintaan

Penjelasan dan atau Pembuktian (Lampiran V.17).

Administrasi Perpajakan 112


3) Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan Wajib Pajak tidak

memberikan respon, Peneliti dapat membuat Permintaan Penjelasan dan

atau Pembuktian (permintaan kedua) kepada Wajib Pajak (Lampiran

V.18)

4) Dalam hal masih masih diperlukan tambahan penjelasan dan atau

pembuktian ke dua, Peneliti dapat membuat Permintaan Penjelasan dan

atau Pembuktian Tambahan kepada Wajib Pajak (Lampiran V.19)

5) Dalam hal Wajib Pajak tidak memberikan respon dalam jangka waktu

yang ditentukan dalam Permintaan Penjelasan dan atau Pembuktian

(permintaan kedua) atau Permintaan Penjelasan dan atau Pembuktian

Tambahan, Peneliti membuat Berita Acara Tidak Memberikan Penjelasan

dan atau Pembuktian (Lampiran V.20).

c. Pembahasan sengketa perpajakan:

1) Peneliti membuat Undangan Pembahasan Sengketa Perpajakan

(Lampiran V.21 dan V.22) untuk memanggil Wajib Pajak atau Pemeriksa

atau pihak lain untuk melakukan pembahasan sengketa perpajakan.

2) Peneliti membuat Berita Acara Pembahasan Sengketa Perpajakan

(Lampiran V.23). Berita Acara Pembahasan Sengketa Perpajakan ini

ditandatangai oleh pihak-pihak yang hadir dalam pembahasan.

d. Pembuatan Kertas Kerja Penelitian dan Laporan Penelitian Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar :

1) Peneliti membuat Kertas Kerja Penelitian Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar (Lampiran V.24)

2) Peneliti membuat Laporan Penelitian Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar (Lampiran V.25).

e. Pengiriman Surat Pemberitahuan Hasil Penelitian dan Pembahasan Akhir:

1) Peneliti membuat Pemberitahuan Hasil Penelitian Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar, Permintaan Tanggapan

dan Undangan Menghadiri Pembahasan Akhir (Lampiran V.26),

Pemberitahuan Daftar Hasil Penelitian Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar (Lampiran V.27), Surat Tanggapan

Hasil Penelitian Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang

Tidak Benar (Lampiran V.28).

2) Peneliti setelah meneliti tanggapan tertulis Wajib Pajak dapat melakukan

pembahasan akhir.

3) Peneliti melakukan pembahasan akhir

Administrasi Perpajakan 113


4) Apabila Wajib Pajak hadir dan memberikan tanggapan tertulis, Peneliti

membuat Berita Acara Hasil Penelitian Pengurangan atau Pembatalan

Ketetapan Pajak yang Tidak Benar (Lampiran V.29) dan membuat Daftar

Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar (Lampiran V.30).

5) Apabila Wajib Pajak tidak hadir dan tidak memberikan tanggapan tertulis,

Tim Peneliti membuat Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak dan Tidak

Memberikan Tanggapan Tertulis (Lampiran V.31) dan membuat Daftar

Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar (Lampiran V.30).

6) Apabila Wajib Pajak hadir tetapi tidak memberikan tanggapan tertulis atau

Wajib Pajak tidak hadir tetapi memberikan tanggapan tertulis, Tim Peneliti

membuat Berita Acara Memberikan/Tidak Memberikan dan

Kehadiran/Ketidakhadiran Wajib Pajak (Lampiran V.32) dan membuat

Daftar Hasil Akhir Penelitian (Lampiran V.30)

7) Apabila Wajib Pajak hadir dan memberikan/tidak memberikan tanggapan

tertulis, namun tidak bersedia menandatangani Berita Acara dalam

Lampiran V.29 dan Lampiran V.32, Tim Peneliti membuat Berita Acara

Tidak Bersedia Menandatangani Berita Acara Pembahasan dan membuat

Daftar Hasil Akhir Penelitian (Lampiran V.30)

8) Apabila Wajib Pajak hadir, Tim Peneliti menyampaikan Daftar Hasil Akhir

Penelitian Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak

Benar (Lampiran V.30) langsung kepada Wajib Pajak. Apabila Wajib

Pajak tidak hadir, Daftar Hasil Akhir Penelitian Pengurangan atau

Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benarakan dikirim sebagai

lampiran Surat Keputusan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan

Pajak yang Tidak Benar.

f. Membuat Surat Keputusan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar (Lampiran V.46, V.47, V.48, V.49, V.50 atau V.51), dibuat

rangkap 3 (tiga) yang peruntukannya sebagai berikut:

- Lembar ke-1 untuk Wajib Pajak

- Lembar ke-2 untuk Kantor Pelayanan Pajak penerbit ketetapan pajak

- Lembar ke-3 untuk arsip

g. Menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai hak dan kewajiban Wajib

Pajak (Lampiran V.37)

Administrasi Perpajakan 114


h. Tim Peneliti dapat mengajukan permintaan untuk dilakukan pemeriksaan

dalam rangka pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar

(Lampiran V.38)

i. Apabila dalam proses pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang

tidak benar terdapat data/bukti baru atau data yang sebelumnya belum

terungkap dalam proses pemeriksaan, Tim Peneliti dan mengirimkan data

tersebut ke unit pemeriksa yang bersangkutan (Lampiran V.39)

8.3.3.1.15. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Laporan Penelitian

Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar dan Surat

Keputusan Pengurangan atau Penghapusan SanksiAadministrasi.

8.3.3.1.16. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Keputusan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak

yang Tidak Benar ke Wajib Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak penerbit surat

ketetapan pajak melalui Bagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

Kanwil).

8.3.3.1.17. Proses selesai.

8.3.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 67 (tiga halaman).

8.4. Keberatan PPh, PPN dan PPnBM


8.5.4. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Keberatan PPh, PPN dan PPnBM di KPP

8.4.1.1. Prosedur Kerja

8.4.1.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan keberatan ke Kantor Pelayanan Pajak

melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

8.4.1.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak Bukti Penerimaan

Surat (BPS) dan Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD). BPS diserahkan

kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat permohonan

beserta kelengkapannya. Selain BPS, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu juga

memberikan Lembar Isian Surat Keberatan. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya ke Account Representative.

Administrasi Perpajakan 115


8.4.1.1.3. Account Representative meneliti persyaratan formal keberatan. Dalam hal berkas

keberatan tidak memenuhi persyaratan, Account Representative membuat konsep

Surat Pemberitahuan Surat Keberatan Tidak Memenuhi Persyaratan Formal dan

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

8.4.1.1.4. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Surat Keberatan Tidak Memenuhi Persyaratan Formal kemudian

meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.4.1.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Surat Keberatan Tidak Memenuhi Persyaratan Formal.

8.4.1.1.6. Surat Pemberitahuan Surat Keberatan Tidak Memenuhi Persyaratan Formal

ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen

Wajib Pajak) dan disampaikan kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum

(SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.4.1.1.7. Dalam hal permohonan dapat diproses lebih lanjut, Account Representative

membuat konsep Surat Pemberitahuan Surat Keberatan Memenuhi Persyaratan

Formal dan meneruskannya kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

8.4.1.1.8. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dan memaraf konsep Surat

Pemberitahuan Surat Keberatan Memenuhi Persyaratan Formal dan

meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.4.1.1.9. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Pemberitahuan Surat Keberatan Memenuhi Persyaratan Formal.

8.4.1.1.10. Surat Pemberitahuan Surat Keberatan Memenuhi Persyaratan Formal

ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen

Wajib Pajak) dan disampaikan kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum

(SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.4.1.1.11. Atas permohonan keberatan yang memenuhi persyaratan formal, Account

Representative meneruskan permohonan keberatan ke Seksi Pelayanan untuk

dibuatkan Surat Pengantar ke Kantor Wilayah/KPDJP.

8.4.1.1.12. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak Lembar Penelitian Kelengkapan Berkas,

Lembar Pengawasan Penelitian Berkas Keberatan, membuat konsep Surat

Pengantar dan meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan beserta berkas

permohonan dari Wajib Pajak.

8.4.1.1.13. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Pengantar dan

meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak beserta berkas

permohonan dari Wajib Pajak.

Administrasi Perpajakan 116


8.4.1.1.14. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani Surat Pengantar dan

meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

8.4.1.1.15. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk

menatausahakan dan mengirim Surat Pengantar, Surat Keberatan Wajib Pajak,

Lembar Pengawasan Arus Dokumen, Lembar Isian Surat Keberatan,

Pemberitahuan Surat Keberatan Memenuhi Persyaratan Formal, Lembar

Penelitian Kelengkapan Berkas, Lembar Pengawasan Penelitian Berkas

Keberatan, Salinan Laporan Pemeriksaan Pajak Lengkap yang sudah dilegalisasi

oleh Kepala Seksi Pelayanan.

8.4.1.1.16. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan Surat Pengantar beserta berkas

permohonan, dan berkas terkait lainnya (SOP Tata Cara Penatausahaan

Dokumen Wajib Pajak) dan menyampaikannya ke Kantor Wilayah atau Direktorat

Keberatan dan Banding melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di KPP).

8.4.1.1.17. Proses selanjutnya dilaksanakan di Kantor Wilayah (SOP Tata Cara Penyelesaian

Permohonan Keberatan di Kanwil) atau di Direktorat Keberatan dan Banding

KPDJP (SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan Keberatan di KPDJP).

8.4.1.1.18. Proses selesai.

8.4.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 68.

8.5. Banding
8.6.5. Tata Cara Penyelesaian Permintaan Surat Uraian Banding dari Pengadilan Pajak

8.5.1.1. Prosedur Kerja

8.5.1.1.1. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima Permintaan

Banding dari Pengadilan Pajak yang telah didisposisi Kepala Kantor Wilayah (SOP

Penerimaan Dokumen di Kanwil) serta menugaskan dan memberikan disposisi

kepada Kepala Seksi Pengurangan Keberatan dan Banding untuk memprosesnya.

8.5.1.1.2. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima disposisi dan

menugaskan Penelaah Keberatan untuk membuat konsep Surat Uraian Banding.

8.5.1.1.3. Penelaah Keberatan membuat konsep Surat Uraian Banding kemudian

menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.5.1.1.4. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep Surat Uraian Banding kemudian menyerahkannya kepada Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

Administrasi Perpajakan 117


8.5.1.1.5. Kepala Bidang Pengurangan Keberatan dan Banding menelaah dan memaraf

konsep Surat Uraian Banding.

8.5.1.1.6. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Surat Uraian Banding.

8.5.1.1.7. Pelaksana Seksi Pengurangan Keberatan dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Uraian Banding. Proses pengiriman Surat Uraian Banding ini

diproses dalam SOP Penyampaian Dokumen di Kanwil.

8.5.1.1.8. Proses selesai.

8.5.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 69.

8.6.6. Tata Cara Persiapan Sidang di Pengadilan Pajak

8.5.2.1. Prosedur Kerja

8.5.2.1.1. Kepala Bidang Pengurangan Keberatan dan Banding menerima Surat Undangan

Sidang dari Pengadilan Pajak setelah mendapat disposisi dari Kepala Kantor

Wilayah (SOP Tata Cara Penerimaan Dokumen di Kantor Wilayah) kemudian

menugaskan Penelaah Keberatan.

8.5.2.1.2. Penelaah Keberatan menyiapkan Surat Tugas Menghadiri Sidang paling lambat

satu hari sebelum dilaksanakannya sidang di Pengadilan Pajak berdasarkan Surat

Undangan Sidang dari Pengadilan Pajak. Jika diperlukan menghadirkan

pemeriksa, Penelaah Keberatan sesegera mungkin mengirimkan Surat

Permintaan untuk Menghadirkan Pemeriksa sebelum diadakannya sidang di

Pengadilan Pajak.

8.5.2.1.3. Penelaah Keberatan membuat SIK dalam rangka menghadiri sidang di Pengadilan

Pajak yang ditanda tangani oleh Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan dan

Banding. Dalam hal sidang dihadiri oleh Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan

dan Banding maka SIK ditandatangani oleh Kepala Kantor Wilayah.

8.5.2.1.4. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

menyampaikan Surat Tugas Menghadiri Sidang, SIK, dan Surat Permintaan untuk

Menghadirkan Pemeriksa kepada Pemeriksa dan Penelaah Keberatan.

8.5.2.1.5. Penelaah Keberatan sesegera mungkin mempelajari, menganalisis dan

memahami ketentuan formal pengajuan banding atau gugatan. Dalam hal sidang

sudah pernah dilaksanakan sebelumnya, maka Penelaah Keberatan mempelajari

berkas hasil persidangan sebelumnya.

8.5.2.1.6. Penelaah Keberatan hadir dalam persidangan, mengisi daftar absen kehadiran

sidang yang telah dipersiapkan oleh staf panitera Pengadilan Pajak.

Administrasi Perpajakan 118


8.5.2.1.7. Penelaah Keberatan dan Pemeriksa berkoordinasi (disebut Tim Sidang Banding)

dalam menghadiri, menjawab, memberikan keterangan terhadap setiap

pertanyaan dalam proses sidang berlangsung. Jika dalam persidangan, diperlukan

acara rekonsiliasi maka Tim Sidang Banding wajib mengikutinya meskipun pada

akhirnya tidak menyetujui koreksi yang disengketakan dan ditulis dalam laporan

acara rekonsiliasi.

8.5.2.1.8. Tim Sidang Banding wajib mencatat dalam Laporan (Catatan) Sidang yang berisi

pertanyaan hakim maupun pemohon banding, jawaban, statement atau

pernyataan yang disampaikan dalam proses persidangan.

8.5.2.1.9. Tim Sidang Banding melaporkan hasil sidang kepada atasan atas hasil sidang

yang telah diikuti agar dapat diikuti proses dan perkembangan sengketa yang

sedang disengketakan.

8.5.2.1.10. Proses selesai.

8.5.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 70.

8.6. Gugatan
8.6.1. Tata Cara Penyelesaian Surat Tanggapan

8.6.1.1. Prosedur Kerja

8.6.1.1.1. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima Surat

Permintaan Uraian Tanggapan dari Pengadilan Pajak yang telah didisposisi oleh

Kepala Kantor Wilayah (SOP Penerimaan Dokumen di Kanwil) kemudian

menugaskan Kepala Seksi terkait untuk membuat Surat Tanggapan.

8.6.1.1.2. Kepala Seksi terkait meneliti Surat Permintaan Uraian Tanggapan dan

menugaskan Penelaah Keberatan untuk membuat konsep Surat Tanggapan.

8.6.1.1.3. Penelaah Keberatan membuat konsep Surat Tanggapan dan menyampaikan

kepada Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.6.1.1.4. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti dan memaraf

konsep Surat Tanggapan kemudian menyampaikan ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.6.1.1.5. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menelaah dan memaraf

konsep Surat Tanggapan kemudian menyampaikan ke Kepala Kantor Wilayah.

8.6.1.1.6. Kepala Kantor Wilayah menyetujui dan menandatangani Surat Tanggapan.

8.6.1.1.7. Pelaksana Seksi Pengurangan Keberatan dan Banding menatausahakan dan

mengirimkan Surat Tanggapan ke Pengadilan Pajak melalui Bagian Umum (SOP

Tata Cara Penyampaian Dokumen di Kanwil).

Administrasi Perpajakan 119


8.6.1.1.8. Proses selesai.

8.6.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 71.

8.6.2. Tata Cara Pelaksanaan Putusan Gugatan Atau Banding

8.6.2.1. Prosedur kerja

8.6.2.1.1. Account Representative menerima Putusan Gugatan/Banding Pengadilan Pajak

yang berasal dari Badan Peradilan Pajak yang telah diproses dengan SOP Tata

Cara Penatausahaan Surat Keputusan Pembetulan/Keberatan/Banding/

Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak dan Surat Keputusan

Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi di Seksi Pengawasan dan

Konsultasi.

8.6.2.1.2. Account Representative meneliti Putusan Gugatan/Banding Pengadilan Pajak dan

membuat draft Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak kemudian meneruskannya

kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

8.6.2.1.3. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi setelah meneliti dan memberikan

persetujuan draft Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak, serta

menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.6.2.1.4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak memberikan persetujuan atas draft Pelaksanaan

Putusan Pengadilan Pajak.

8.6.2.1.5. Kepala Seksi Pelayanan menerima konsep Pelaksanaan Putusan Pengadilan

Pajak dan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak konsep

Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak.

8.6.2.1.6. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Pelaksanaan Putusan Pengadilan

Pajak dan menyerahkannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

8.6.2.1.7. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Pelaksanaan Putusan

Pengadilan Pajak dan meneruskannya ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

8.6.2.1.8. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Pelaksanaan

Putusan Pengadilan Pajak.

8.6.2.1.9. Account Representative menindaklanjuti Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak

tersebut:

Dalam hal terdapat pajak yang lebih dibayar, maka diproses dengan SOP Tata

Cara Penerbitan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP)

Dalam hal terdapat imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak atau atas

kelebihan pembayaran sanksi administrasi, maka diproses dengan SOP Tata

Cara Penerbitan Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga (SPMIB)

Administrasi Perpajakan 120


Dalam hal terdapat lebih bayar atau pembayaran lebih atas ketetapan, maka

diproses dengan SOP Tata Cara Penyelesaian Penghitungan Lebih Bayar

(PLB)

8.6.2.1.10. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak ditatausahakan di Seksi Pelayanan (SOP

Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan dikirimkan kepada Wajib

Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

8.6.2.1.11. Proses selesai.

8.6.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 72.

8.7. Peninjauan Kembali


8.7.1. Tata Cara Pembuatan Konsep Kontra Memori Peminjauan Kembali ke MA Melalui

KPDJP

8.7.1.1. Prosedur Kerja

8.7.1.1.1. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima Surat

Permintaan Kontra Memori Peninjauan Kembali dari Direktorat Keberatan dan

Banding yang telah didisposisi oleh Kepala Kantor Wilayah (SOP Penerimaan

Dokumen di Kanwil) serta menugaskan dan memberikan disposisi kepada Kepala

Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk memprosesnya.

8.7.1.1.2. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan dan Banding memberikan penugasan

kepada Penelaah Keberatan untuk memproses Surat Permintaan Kontra Memori

Peninjauan Kembali.

8.7.1.1.3. Penelaah Keberatan menyusun konsep Kontra Memori Peninjauan Kembali,

kemudian meneruskannya ke Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan dan

Banding.

8.7.1.1.4. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan dan Banding meneliti konsep Kontra

Memori Peninjauan Kembali kemudian meneruskan ke Kepala Bidang

Pengurangan, Keberatan dan Banding.

8.7.1.1.5. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan dan Banding menelaah konsep Kontra

Memori Peninjauan Kembali kemudian meneruskan ke Kepala Kantor Wilayah.

8.7.1.1.6. Kepala Kantor Wilayah menyetujui konsep Kontra Memori Peninjauan Kembali

kemudian meneruskan ke Penelaah Keberatan.

8.7.1.1.7. Penelaah Keberatan mencetak dokumen yang sudah disetujui dan membuat Surat

Pengantar Konsep Kontra Memori Peninjauan Kembali.

8.7.1.1.8. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

menyampaikan konsep Memori dan Surat Pengantarnya ke Direktorat Keberatan

Administrasi Perpajakan 121


dan Banding melalui Bagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

Kanwil).

7.1.1.1. Proses selesai.

8.7.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 73.

8.7.2. Tata Cara Pembuatan Konsep Memori Peminjauan Kembali ke MA Melalui KPDJP

8.7.2.1. Prosedur Kerja

8.7.2.1.1. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menerima Surat

Permintaan Memori Peninjauan Kembali dari Direktorat Keberatan dan Banding

yang telah didisposisi oleh Kepala Kantor Wilayah (SOP Penerimaan Dokumen di

Kanwil) serta menugaskan dan memberikan disposisi kepada Kepala Seksi

Pengurangan, Keberatan, dan Banding untuk memprosesnya.

8.7.2.1.2. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding memberikan penugasan

kepada Penelaah Keberatan untuk memproses Surat Permintaan Memori

Peninjauan Kembali.

8.7.2.1.3. Penelaah Keberatan menyusun konsep Memori Peninjauan Kembali, kemudian

meneruskannya ke Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding.

8.7.2.1.4. Kepala Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding meneliti konsep Memori

Peninjauan Kembali kemudian meneruskan ke Kepala Bidang Pengurangan,

Keberatan, dan Banding.

8.7.2.1.5. Kepala Bidang Pengurangan, Keberatan, dan Banding menelaah konsep Memori

Peninjauan Kembali kemudian meneruskan ke Kepala Kantor Wilayah.

8.7.2.1.6. Kepala Kantor Wilayah menyetujui konsep Memori Peninjauan Kembali kemudian

meneruskan ke Penelaah Keberatan.

8.7.2.1.7. Penelaah Keberatan mencetak dokumen yang sudah disetujui dan membuat Surat

Pengantar konsep Memori Peninjauan Kembali.

8.7.2.1.8. Pelaksana Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding menatausahakan dan

menyampaikan konsep Memori dan Surat Pengantarnya ke Direktorat Keberatan

dan Banding melalui Bagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

Kanwil).

8.7.2.1.9. Proses selesai.

8.7.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 74.

Administrasi Perpajakan 122


Penagihan
9.1. Tata Usaha Piutang Pajak
9.2.1. Tata Cara Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus

9.1.1.1. Prosedur Kerja

9.1.1.1.1. Jurusita Pajak mengetahui, mendapat informasi dan/atau menemukan bukti yang

akurat bahwa Penanggung Pajak ada indikasi melakukan perbuatan seperti yang

tersebut di atas dan segera membuat konsep Surat Perintah Penagihan Pajak

Seketika dan Sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran,

penerbitan Surat Teguran ataupun penerbitan Surat Paksa lalu menyampaikannya

kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.1.1.2. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Surat Perintah Penagihan

Pajak Seketika dan Sekaligus, dan menyampaikannya kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak. Dalam hal Kepala Seksi Penagihan tidak menyetujui, kasus

penerbitan Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus ditutup.

9.1.1.1.3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menerima, meneliti, memberikan batas waktu

pelunasan, dan menandatangani Surat Perintah Penagihan Pajak Seketika dan

Sekaligus.

9.1.1.1.4. Jurusita Pajak menatausahakan dan menyampaikan Surat Perintah Penagihan

Pajak Seketika dan Sekaligus kepada Penanggung Pajak untuk segera melunasi

tunggakan pajaknya sebelum melakukan perbuatan-perbuatan seperti yang

tersebut di atas dan selanjutnya melaksanakan proses penagihan berikutnya.

9.1.1.1.5. Proses selesai.

9.1.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 75.

9.2.2. Tata Cara penerbitan dan Penyampaian Surat Teguran Penagihan

9.1.2.1. Prosedur Kerja

Administrasi Perpajakan 123


9.1.2.1.1. Berdasarkan data keterlambatan pembayaran tunggakan pajak yang diperoleh dari

sistem, Jurusita Pajak mencetak konsep Surat Teguran Penagihan dan

meneruskannya kepada Kepala Seksi Penagihan. Surat Teguran Penagihan

dicetak minimal sebanyak rangkap 2 (dua) yaitu :

a. Lembar ke-1 untuk Wajib Pajak

b. Lembar ke-2 untuk Arsip Kantor Pelayanan Pajak.

9.1.2.1.2. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Surat Teguran Penagihan

dan menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

9.1.2.1.3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Teguran

Penagihan,

9.1.2.1.4. Jurusita Pajak menatausahakan (mencatat Surat Teguran pada Kartu

Pengawasan Tunggakan Pajak dan mengarsipkan Surat Teguran) dan

mengirimkan Surat Teguran Penagihan kepada Wajib Pajak melalui Subbagian

Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP)

9.1.2.1.5. Proses selesai.

9.1.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 76.

9.2.3. Tata Cara Penerbitan dan Pemberitahuan Surat Paksa

9.1.3.1. Prosedur Kerja

9.1.3.1.1. Berdasarkan data Surat Teguran yang telah lewat waktu dari sistem, Jurusita

Pajak meneliti dan mencetak konsep Surat Paksa dan Berita Acara

Pemberitahuan Surat Paksa serta menyampaikannya kepada Kepala Seksi

Penagihan.

9.1.3.1.2. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Surat Paksa dan Berita

Acara Pemberitahuan Surat Paksa serta menyampaikannya kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

9.1.3.1.3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Paksa

kemudian menyampaikannya kepada Jurusita Pajak.

9.1.3.1.4. Jurusita Pajak menerima Surat Paksa dan memberitahukan Surat Paksa dan

Berita Acara Pemberitahuan Surat Paksa kepada Wajib Pajak/ Penanggung Pajak.

9.1.3.1.5. Jurusita Pajak membuat sekaligus menandatangani Laporan Pelaksanaan Surat

Paksa (LPSP) dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi Penagihan.

Administrasi Perpajakan 124


9.1.3.1.6. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan menandatangani Laporan Pelaksanaan

Surat Paksa (LPSP) kemudian menyerahkannya kembali kepada Jurusita Pajak

untuk ditatausahakan.

9.1.3.1.7. Jurusita menatausahakan LPSP dengan cara mencatat pada Kartu Pengawasan

serta mengarsipkan LPSP.

9.1.3.1.8. Proses selesai.

9.1.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 77.

9.2.4. Tata Cara Penerbitan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan

9.1.4.1. Prosedur Kerja

9.1.4.1.1. Jurusita Pajak meneliti data tunggakan pajak beserta pelunasannya

(SSP/STTS/SSB/bukti Pbk) atau pengurangan (keputusan pembetulan/keputusan

keberatan /putusan banding/keputusan pengurangan atau pembatalan ketetapan

pajak/keputusan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi), membuat

konsep SPMP dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.4.1.2. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep SPMP, serta

menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

9.1.4.1.3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani SPMP dan

meneruskan kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.4.1.4. Jurusita Pajak menerima SPMP yang telah disetujui.

1.4.1.1. Proses selesai.

9.1.4.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 78.

9.2.5. Tata Cara Pelaksanaan Lelang

9.1.5.1. Prosedur kerja

9.1.5.1.1. Berdasarkan data dari sistem yang menunjukkan bahwa Wajib Pajak/Penanggung

Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak setelah 14 (empat

belas) hari sejak pelaksanaan penyitaan, Jurusita Pajak membuat konsep Surat

Kesempatan Terakhir sebelum tanggal/hari Pelaksanaan Lelang dan

menyampaikan kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.5.1.2. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Surat Kesempatan

Terakhir, serta menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 125


9.1.5.1.3. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Kesempatan Terakhir.

9.1.5.1.4. Jurusita Pajak menatusahakan dan mengirimkan Surat Kesempatan Terakhir

kepada WajibPajak/Penanggung Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara

Penyampaian Dokumen di KPP)

9.1.5.1.5. Dalam hal Wajib Pajak/Penanggung Pajak melunasi utang pajaknya, maka proses

akan dilanjutkan dengan SOP tentang Tata Cara Pencabutan Sita.

9.1.5.1.6. Dalam hal Penanggung Pajak tetap tidak melunasi utang pajaknya, maka Jurusita

Pajak akan membuat konsep Surat Penetapan Harga Limit terhadap barang-

barang yang telah disita dan akan dijual melaui lelang serta menyampaikannya

kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.5.1.7. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Surat Penetapan Harga

Limit serta menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

9.1.5.1.8. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Penetapan

Harga Limit.

9.1.5.1.9. Kepala Seksi Penagihan menugaskan dan memberi disposisi kepada Jurusita

Pajak untuk menginventarisasi aset-aset Penanggung Pajak yang akan dilelang

dan membuat konsep Surat permohonan Jadwal Waktu dan Tempat Pelelangan

9.1.5.1.10. Jurusita Pajak menginventarisasi aset-aset Penanggung Pajak yang akan dilelang,

meneliti dengan melihat data tunggakan beserta pelunasan (SSP/STTS/SSB/bukti

Pbk) atau pengurangan (keputusan pembetulan/keputusan keberatan/putusan

banding/keputusan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak/keputusan

pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi), membuat konsep Surat

Permohonan Jadwal Waktu dan Tempat Pelelangan yang disertai dengan salinan

data tunggakan beserta pelunasan atau pengurangan dan menyampaikannya

kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.5.1.11. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Surat Permohonan Jadwal

Waktu dan Tempat Pelelangan, serta menyampaikannya kepada Kepala Kantor

Pelayanan Pajak.

9.1.5.1.12. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat

Permohonan Jadwal Waktu dan Tempat Pelelangan.

9.1.5.1.13. Jurusita Pajak menyampaikan Surat Permohonan Jadwal Waktu dan Tempat

Pelelangan beserta kelengkapannya kepada Kantor Pelayanan Piutang dan

Lelang Negara.

Administrasi Perpajakan 126


9.1.5.1.14. Setelah menerima Surat Penetapan Hari dan Tanggal Lelang Kepala Kantor

Pelayanan Pajak meneruskan Surat Penetapan Hari dan Tanggal Lelang kepada

Kepala Seksi Penagihan (SOP Tata Cara Penerimaan Dokumen di KPP).

9.1.5.1.15. Jurusita Pajak membuat konsep Pengumuman Lelang dengan tanggal/hari 14

(empat belas) hari sebelum tanggal/hari berdasarkan Surat Penetapan Hari dan

Tanggal Lelang dari Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara, dan

menyampaikannya kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.5.1.16. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep Pengumuman Lelang,

serta menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

9.1.5.1.17. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Pengumuman

Lelang dan meneruskan kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.5.1.18. Kepala Seksi Penagihan menerima Pengumuman Lelang yang telah

ditandatangani Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan meneruskannya kepada

Jurusita Pajak.

9.1.5.1.19. Jurusita Pajak mengirimkan Pengumuman Lelang ke penerbit Surat Kabar Harian

untuk diiklankan atau ditempel di papan pengumuman kantor dalam hal

Pengumuman Lelang terhadap barang dengan nilai paling banyak

Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). Pengumuman Lelang untuk barang

bergerak dilakukan 1 (satu) kali dan untuk barang tidak bergerak dilakukan 2 (dua)

kali.

9.1.5.1.20. Pelaksanaan Lelang dipimpin oleh Pejabat Lelang dengan didampingi oleh Kepala

Kantor Pelayanan Pajak atau Kepala Seksi Penagihan sebagai Penjual Barang

Sitaan.

9.1.5.1.21. Hasil Lelang dipergunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya penagihan pajak

yang belum dibayar dan sisanya untuk membayar utang pajak.

9.1.5.1.22. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menerima Risalah Lelang dari Kantor Pelayanan

Piutang dan Lelang Negara dan meneruskan kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.1.5.1.23. Kepala Seksi Penagihan menerima Risalah Lelang dan menugaskan Jurusita

Pajak untuk mengupdate data tunggakan pajak dan menatausahakan.

9.1.5.1.24. Jurusita Pajak mengupdate data tunggakan pajak dan menatausahakan Risalah

Lelang ke dalam berkas penagihan Wajib Pajak.

9.1.5.1.25. Proses selesai.

9.1.5.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 79 (dua halaman).

Administrasi Perpajakan 127


9.2. Penagihan Aktif
9.2.1. Tata cara Menjawab Konfirmasi Data Tunggakan Wajib Pajak

9.2.1.1. Prosedur Kerja

9.2.1.1.1. Kepala Seksi Penagihan menerima Surat Permintaan Konfirmasi Data Tunggakan

Pajak baik dari Unit Lain yang telah didisposisi Kepala Kantor (SOP Tata Cara

Penerimaan Dokumen di KPP) maupun dari Seksi Terkait kemudian menugaskan

Pelaksana Seksi Penagihan untuk meneliti dan membuat surat jawaban, data

tunggakan, dan surat pengantar.

9.2.1.1.2. Pelaksana Seksi Penagihan meneliti data tunggakan pajak Wajib Pajak, apakah

telah sesuai atau belum, kemudian membuat Konsep Surat Jawaban dan Surat

Pengantar untuk Unit Lain, kemudian menyampaikannya kepada Kepala Seksi

Penagihan.

9.2.1.1.3. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan menandatangani surat jawaban permintaan

data tunggakan Wajib Pajak beserta lampiran daftar tunggakannya serta memaraf

surat pengantar dan meneruskan surat pengantar ke Kepala Kantor Pelayanan

Pajak.

9.2.1.1.4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani surat pengantar.

9.2.1.1.5. Pelaksana Seksi Penagihan menatausahakan dan mengirim Surat Jawaban

Permintaan Data Tunggakan Wajib Pajak ke seksi terkait atau bersama Surat

Pengantar apabila dikirim untuk Unit Lain melalui Subbagian Umum (SOP Tata

Cara Penyampaian Dokumen di KPP).

9.2.1.1.6. Proses selesai.

9.2.1.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 80.

9.2.2. Tata Cara Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) Bunga Penagihan

9.2.2.1. Prosedur Kerja

9.2.2.1.1. Berdasarkan data surat ketetapan pajak yang menurut ketentuan harus ditebitkan

STP karena pada saat jatuh tempo pelunasan tidak atau kurang dibayar,

Pelaksana Seksi Penagihan memilih ketetapan pajak yang akan dikenai Bunga

Penagihan, dan mengirim kasus tersebut ke Manajemen Kasus.

9.2.2.1.2. STP Bunga Penagihan kemudian diproses oleh sistem.

9.2.2.1.3. Pelaksana Seksi Penagihan mencetak dokumen konsep STP Bunga Penagihan

dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi Penagihan.

Administrasi Perpajakan 128


9.2.2.1.4. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan memaraf konsep STP Bunga Penagihan dan

menyampaikannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

9.2.2.1.5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani konsep STP

Bunga Penagihan.

9.2.2.1.6. Pelaksana Seksi Penagihan menatausahakan dan mengirimkan STP Bunga

Penagihan melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di

KPP).

9.2.2.1.7. Proses selesai.

9.2.2.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 81.

9.2.3. Tata Cara Penyelesaian Permohonan Penundaan Pembayaran Pajak

9.2.3.1. Prosedur Kerja

9.2.3.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan Penundaan Pembayaran Pajak.

9.2.3.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapi. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu akan mencetak BPS dan

LPAD. BPS akan diserahkan kepada Wajib Pajak, sedangkan LPAD akan

digabungkan dengan surat permohonan beserta kelengkapannya. Petugas

Tempat Pelayanan Terpadu kemudian merekam surat permohonan dan

dilanjutkan dengan menyampaikan surat permohonan beserta kelengkapannya

kepada Kepala Seksi Penagihan. Pelaksana Seksi Pelayanan merekam

Permohonan Wajib Pajak dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi

Penagihan.

9.2.3.1.3. Kepala Seksi Penagihan menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana

Seksi Penagihan untuk membuat Laporan Penelitian Permohonan Penundaan

Pembayaran Pajak.

9.2.3.1.4. Pelaksana Seksi Penagihan membuat Laporan Penelitian Permohonan

Penundaan Pembayaran Pajak dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi

Penagihan.

9.2.3.1.5. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan menandatangani Laporan Penelitian

Permohonan Penundaan Pembayaran Pajak dan menyampaikannya kepada

Kepala Kantor Pelayanan Pajak.

Administrasi Perpajakan 129


9.2.3.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian Permohonan Penundaan Pembayaran Pajak dan menyampaikannya

kepada Kepala Seksi Pelayanan.

9.2.3.1.7. Surat Keputusan Penundaan Pembayaran Pajak atau Keputusan Penolakan atas

Permohonan Penundaan Pembayaran pajak diproses oleh sistem.

9.2.3.1.8. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan dan memberi disposisi kepada Pelaksana

Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil persetujuan. Surat Keputusan

Penundaan Pembayaran Pajak atau Keputusan Penolakan atas Permohonan

Penundaan Pembayaran pajak diterbitkan dalam rangkap 2 (dua), yaitu :

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak

b. Lembar ke-2 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

9.2.3.1.9. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keputusan Penundaan

Pembayaran Pajak atau Keputusan Penolakan atas Permohonan Penundaan

Pembayaran Pajak dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.

9.2.3.1.10. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Keputusan

Penundaan Pembayaran Pajak atau Keputusan Penolakan atas Permohonan

Penundaan Pembayaran pajak kemudian menyampaikannya kepada Kepala

Kantor Pelayanan Pajak.

9.2.3.1.11. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Surat Keputusan

Penundaan Pembayaran Pajak atau Keputusan Penolakan atas Permohonan

Penundaan Pembayaran Pajak.

9.2.3.1.12. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan dan mengirimkan Surat Keputusan

Penundaan Pembayaran Pajak atau Keputusan Penolakan atas Permohonan

Penundaan Pembayaran Pajak kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum

(SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen)

9.2.3.1.13. Proses selesai.

9.2.3.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 82.

9.2.4. Tata Cara Penyelesaian permohonan Mengangsur Pembayaran Pajak

9.2.4.1. Prosedur Kerja

9.2.4.1.1. Wajib Pajak mengajukan permohonan mengangsur pembayaran pajak ke Kantor

Pelayanan Pajak melalui Tempat Pelayanan Terpadu.

9.2.4.1.2. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu menerima surat permohonan kemudian

meneliti kelengkapan persyaratannya sesuai dengan ketentuan. Dalam hal surat

Administrasi Perpajakan 130


permohonan beserta persyaratannya belum lengkap, dihimbau kepada Wajib

Pajak untuk melengkapinya. Dalam hal surat permohonan beserta persyaratannya

sudah lengkap, Petugas Tempat Pelayanan Terpadu mencetak BPS dan LPAD.

BPS diserahkan kepada Wajib Pajak sedangkan LPAD digabungkan dengan surat

permohonan beserta kelengkapannya. Petugas Tempat Pelayanan Terpadu

kemudian merekam surat permohonan dan dilanjutkan dengan meneruskan surat

permohonan beserta kelengkapannya kepada Kepala Seksi Penagihan.

9.2.4.1.3. Kepala Seksi Penagihan menugaskan Pelaksana Seksi Penagihan untuk

membuat Laporan Penelitian Permohonan Mengangsur.

9.2.4.1.4. Pelaksana Seksi Penagihan membuat dan menandatangani Laporan Penelitian

Permohonan Mengangsur, kemudian meneruskannya kepada Kepala Seksi

Penagihan.

9.2.4.1.5. Kepala Seksi Penagihan meneliti dan menandatangani Laporan Penelitian

Permohonan Mengangsur dan meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Pajak. Dalam hal Kepala Seksi tidak menyetujui Laporan Penelitian Permohonan

Mengangsur yang dibuat, Pelaksana Seksi Penagihan harus memperbaiki

dokumen tersebut.

9.2.4.1.6. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyetujui dan menandatangani Laporan

Penelitian Permohonan Mengangsur dan meneruskannya ke Seksi Pelayanan.

Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui Laporan Penelitian Permohonan

Mengangsur yang dibuat, Pelaksana Seksi Penagihan harus memperbaiki

dokumen tersebut.

9.2.4.1.7. Kepala Seksi Pelayanan menerima Laporan Penelitian Permohonan Mengangsur

dan menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak dokumen hasil

persetujuan.

Surat Keputusan Angsuran Pembayaran Pajak diterbitkan dalam rangkap 2 (dua),

yaitu :

a. Lembar ke-1 : untuk Wajib Pajak

b. Lembar ke-2 : untuk arsip Kantor Pelayanan Pajak

9.2.4.1.8. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak konsep Surat Keputusan Angsuran

Pembayaran Pajak dan meneruskannya kepada Kepala Seksi Pelayanan

9.2.4.1.9. Kepala Seksi Pelayanan meneliti dan memaraf konsep Surat Keputusan Angsuran

Pembayaran Pajak kemudian meneruskannya kepada Kepala Kantor Pelayanan

Pajak.

9.2.4.1.10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak menandatangani Surat Keputusan Angsuran

Pembayaran Pajak.

Administrasi Perpajakan 131


9.2.4.1.11. Surat Keputusan Angsuran Pembayaran Pajak ditatausahakan di Seksi Pelayanan

(SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak) dan menyampaikannya

kepada Wajib Pajak melalui Subbagian Umum (SOP Tata Cara Penyampaian

Dokumen di KPP).

9.2.4.1.12. Proses selesai.

9.2.4.2. Bagan Arus (Flow Chart)

Lihat Lampiran 83.

Administrasi Perpajakan 132