Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada zaman yang serba modern ini, kemajuan IPTEK berkembang sangat pesat. Belakangan ini
banyak penemuan baru tentang biologi molukular, diantaranya yaitu sistem cloning. Cloning
merupakan suatu proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama yang identik secara
genetic.
Dewasa ini, bumi kita banyak mengalami kemajuan dan perubahan yang berkesinambungan di
segala sektor kehidupan. Hal-hal baru yang belum dikenal oleh manusia sebelumnya banyak
bermunculan. Bahkan, sebelumnya hal tersebut tidak pernah terbayang akan terjadi, kini menjadi
kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi. Salah satu dari kemajuan dan perubahan itu, ialah lahirnya
satu penemuan baru yang disebut dengan kloning.

Perkembangan teknologi cloning saat inibegitu menakjubkan. Mendapatkan bibit unggul atau
produk unggul baik pada hewan maupun binatang menjadi lebih mudah. Namun ada hal yang
mengejutkan saat ini.

Kloning manusia, pernahkah anda mendengarnya? Kita tentunya bertanya-tanya tentang boleh
atau tidaknya melakukan kloning pada manusia. Lantas seperti apa pandangan etika terhadap Human
Cloning yang tengah marak menjadi perbincangan public ini? Disini kami akan membahas tentang apa
itu cloning dan pandangan etika terhadap human cloning yang tengah marak ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Human cloning?
2. Bagaimana Sejarah perkembangan cloning?
3. Bagaimana proses cloning pada manusia?
4. Bagaimana pandangan Alkitabiah mengenai Human cloning?
5. Bagaimana ajaran sosial dan Magisterium Gereja mengenai Human Kloning ini ?

Page
1
C. TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu dibuat agar kita semua dapat mengetahui,
memahami, dan bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap human cloning.

Page
2
BAB II
ISI
A. PENGERTIAN KLONING

Kloning dalam biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama
(populasi) yang identik secara genetik. Kloning merupakan proses reproduksi aseksual yang biasa
terjadi di alam dan dialami oleh banyak bakteria, serangga, atau tumbuhan.
Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia
untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Arti lain kloning digunakan
pula di luar ilmu-ilmu hayati. Kata ini diturunkan dari kata clone atau clon (bahasa Inggris) yang juga
dibentuk dari kata "klonos" (bahasa Yunani) yang berarti "cabang" atau "ranting", merujuk pada
penggunaan pertama dalam bidang hortikultura sebagai bahan tanam dalam perbanyakan vegetatif.
Kloning adalah penggunaan sel somatik makhluk hidup multiseluler untuk membuat satu atau
lebih individu dengan materi genetik yang sama atau identik. Kloning ditemukan pada tahun 1997 oleh
Dr. Ian Willmut seorang ilmuan Skotlandia dengan menjadikan sebuah sel telur domba yang telah
direkayasa menjadi seekor domba tanpa ayah atau tanpa perkawinan. Domba hasil rekayasa ilmuan
Skotlandia tersebut diberi nama Dolly.

Berdasarkan pengertian tersebut, ada beberapa jenis kloning yang dikenal, antara lain:
1. Kloning DNA rekombinan
Kloning ini merupakan pemindahan sebagian rantai DNA yang diinginkan dari suatu organisme
pada satu element replikasi genetik, contohnya penyisipan DNA dalam plasmid bakteri untuk
mengklon satu gen.

2. Kloning Reproduktif
Page
3
Merupakan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan hewan yang sama, contohnya Dolly
dengan suatu proses yang disebut SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer).

3. Kloning Terapeutik
Merupakan suatu kloning untuk memproduksi embrio manusia sebagai bahan penelitian. Tujuan
utama dari proses ini bukan untuk menciptakan manusia baru, tetapi untuk mendapatkan sel batang
yang dapat digunakan untuk mempelajari erkembangan manusia dan penyembuhan penyakit.

B. SEJARAH KLONING.

Kloning sebagai prosedur perbanyakan non-seksual telah sukses dilakukan sejak tahun 1952
oleh Briggs dan King, dan disempurnakan di Oxford oleh Sir John Gurdon tahun 1962-1966.

Kloning dapat berupa klon sel, yaitu sekelompok sel yang identik sifat-sifat genetiknya, semua
berasal dari satu sel, dan klon gen atau molecular, yaitu sekelompok salinan gen yang bersifat identik
yang direplikasi dari satu gen yang dimasukkan ke dalam sel inang.

1. Kloning sel

Kloning sel adalah teknik untuk menghasilkan salinan makhluk hidup dengan menggunakan
bahan genetis dari sel makhluk itu sendiri.
1997 Dr Ian Wilmut dan rekannya dari Institute Roslin di Edinburgh, Inggris, mengklon domba
dari sel epitel ambing (sel payudara) seekor domba lainnya.Wilmut pertama mengambil sel epitel
ambing seekor domba jenis Finn Dorset berumur enam tahun yang sedang hamil. Kemudian sel ambing
itu dikultur dalam cawan petri dengan sumber makanan yang terbatas. Karena kelaparan sel itu
berhenti berkembang atau mematikan aktivitas gennya.Sementara itu mereka juga mengambil sel telur
yang belum dibuahi dari seekor domba betina jenis Blackface. Inti sel telur yang bisa membelah
Page
4
menjadi domba dewasa setelah dibuahi itu kemudian diambil, sekarang sel telur itu kosong, hanya
berisi organela dan plasma sel saja.
Selanjutnya dua sel itu didekatkan satu dengan lainya. Kejutan aliran listrik membuat kedua sel
itu bergabung seperti dua gelembung sabun. Kejutan aliran listrik kedua meniru energi alami yang
muncul ketika telur dibuahi oleh sperma, sehingga sel telur dengan inti baru itu merasa telah dibuahi.
Kejutan aliran listrik itu telah mengubah sel telur dengan inti baru itu seakan-akan menjadi sel embrio.
Kurang lebih enam hari kemudian, sel embrio bohongan itu disuntikkan ke dalam rahim seekor domba
betina Blackface lainnya yang kemudian mengandung. Setelah mengandung selama 148 hari induk
domba titipan ini melahirkan Dolly, seekor domba lucu seberat 6,6 kilogram yang secara genetis persis
dengan domba jenis Finn Dorset pemilik inti sel ambing.

2. Sel Eukariotik

Secara taksonomi eukariotik dikelompokkan menjadi empat kingdom, masing-masing hewan


(animalia), tumbuhan (plantae), jamur (fungi), dan protista, yang terdiri atas alga dan protozoa.
Salah satu ciri sel eukariotik adalah adanya organel-organel subseluler dengan fungsi-fungsi
metabolisme yang telah terspesialisasi. Tiap organel ini terbungkus dalam suatu membran. Sel
eukariotik pada umumnya lebih besar daripada sel prokariotik. Diameternya berkisar dari 10 hingga
100 m. Seperti halnya sel prokariotik, sel eukariotik diselimuti oleh membran plasma. Pada tumbuhan
dan kebanyakan fungi serta protista terdapat juga dinding sel yang kuat di sebelah luar membran
plasma. Di dalam sitoplasma sel eukariotik selain terdapat organel dan ribosom, juga dijumpai adanya
serabut-serabut protein yang disebut sitoskeleton. Serabut-serabut yang terutama berfungsi untuk
mengatur bentuk dan pergerakan sel ini terdiri atas mikrotubul (tersusun dari tubulin) dan
mikrofilamen (tersusun dari aktin).

C. KLONING PADA MANUSIA


Setelah sukses dengan teknologi kloning hewan menyusui, sekarang hanya tinggal menunggu
waktu, timbulnya kabar yang melaporkan lahirnya manusia hasil kloning. Contohnya saja pada Eve,
yang dikabarkan adalah bayi perempuan pertama hasil kloning, namun kebenaran beritanya masih
belum bisa dipastikan. Ada lagi berita mengenai hasil kloning permintaan dari pasangan homoseksual
dari Belanda. Namun, bukti-bukti konkrit mengenai manusia hasil kloningannya sama sekali tidak ada.
Page
5
Beberapa sumber menyebutkan, para peneliti tersebut beralasan bahwa hal ini menyangkut
pribadi sekaligus melanggar privasi dari pendonor gen jika diberitakan secara luas. Mungkin saja,
penyembunyian berita-berita seperti ini dilakukan, karena masih banyaknya kontroversi serta pro dan
kontra yang terjadi di masyarakat mengenai pengkloningan manusia yang dianggap melanggar kodrat
alam dan tidak sesuai dengan etika yang dianut dari agama.
Proses kloning pada manusia, sebenarnya tidak memiliki banyak perbedaan dengan bayi tabung
atau in vitro fertilization. Dalam proses ini, sperma sang suami dicampur ke dalam telur sang istri
dengan proses in vitro di dalam tabung kaca.
Setelah sperma tumbuh menjadi embrio, embrio tersebut ditanamkan kembali ke dalam tubuh si
ibu, atau perempuan lain yang menjadi ibu tumpang. Bayi yang lahir secara biologis merupakan anak
suami-istri tadi, walaupun dilahirkan dari rahim perempuan lain.

Proses kloning manusia dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :


1. Mempersiapkan sel stem : suatu sel awal yang akan tumbuh menjadi berbagai sel tubuh. Sel
ini diambil dari manusia yang hendak dikloning.
2. Sel stem diambil inti sel yang mengandung informasi genetic kemudian dipisahkan dari sel.
3. Mempersiapkan sel telur : suatu sel yang diambil dari sukarelawan perempuan kemudian
intinya dipisahkan.
4. Inti sel dari sel stem diimplantasikan ke sel telur
5. Sel telur dipicu supaya terjadi pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelah (hari kedua)
menjadi sel embrio.
6. Sel embrio yang terus membelah (disebut blastosis) mulai memisahkan diri (hari ke lima) dan
siap diimplantasikan ke dalam rahim.
7. Embrio tumbuh dalam rahim menjadi bayi dengan kode genetik persis sama dengan sel stem
donor.

Proses cloning pada manusia

Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan
induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik)
dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanj utnya ditanamkan pada sel
Page
6
telur (ovum) wanita --yang telah dihilangkan inti selnya- dengan suatu metode yang mirip dengan
proses pembuahan atau inseminasi buatan. Dengan metodesemacam itu, kloning manusia dilaksanakan
dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang, lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil
dari seorang perempuan. Lalu dengan bantuan cairan kimiawi khusus dan kejutan arus listrik, inti sel
digabungkan dengan sel telur. ersebut ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat
memperbanyak diri, berkembang, berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu
keturunan yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alami.
Keturunan ini akan berkode genetik sama dengan induknya, yakni orang yang menjadi sumber
inti sel tubuh yang telah ditanamkan pada sel telur perempuan. Pembuahan dan inseminasi buatan
dalam proses kloning manusia terjadi pada sel-sel tubuh manusia (sel somatik), bukan sel-sel
kelaminnya. Seperti diketahui, dalam tubuh manusia terdapat milyaran bahkan trilyunan sel. Dalam
setiap sel terdapat 46 kromosom (materi genetik yang mengandung seluruh sifat yang diturunkan pada
manusia), kecuali sel-sel kelamin yang terdapat dalam buah zakar (testis) laki-laki dan dalam indung
telur (ovary) perempuan. Sel-sel kelamin ini mengandung 23 kromosom, yaitu setengah dari jumlah
kromosom pada sel-sel tubuh.
Pada pembuahan alami, sel sperma laki-laki yang mengandung 23 kromosom bertemu dengan
sel telur perempuan yang juga mengandung 23 kromosom. Pada saat terjadi pembuahan antara sel
sperma dengan sel telur, jumlah kromosom akan menjadi 46 buah, yakni setengahnya berasal dari laki-
laki dan setengahnya lagi berasal dari perempuan. Jadi anak yang dilahirkan akan mempunyai ciri-ciri
yang berasal dari kedua induknya baik yang laki-laki maupun yang perempuan.
Adapun dalam proses kloning manusia, sel yang diambil dari tubuh seseorang telah mengandung
46 buah kromosom, atau telah mengandung seluruh sifat-sifat yang akan diwariskan yang dimiliki
seseorang. Dengan demikian, anak yang dihasilkan dari proses kloning ini akan mempunyai ciri-ciri
hanya dari orang yang menjadi sumber pengambilan inti sel tubuh. Anak tersebut merupakan
keturunan yang berkode genetik sama persis dengan induknya, yang dapat diumpamakan dengan hasil
fotokopi selembar kertas pada mesin fotokopi kilat yang berwarna; yakni berupa selembar gambar
yang sama persis dengan gambar aslinya Setelah proses penggabungan ini terjadi, sel telur yang telah
bercampur dengan inti sel tanpa ada perbedaan sedikit pun. Proses pembuahan yang alamiah tidak akan
dapat berlangsung kecuali dengan adanya laki-laki dan perempuan, dan dengan adanya sel-sel kelamin.
Sedang proses kloning manusia dapat berlangsung dengan adanya laki-laki atau tanpa adanya laki-laki,

Page
7
dan terjadi pada sel-sel tubuh, bukan sel-sel kelamin. Proses ini dapat terlaksana dengan cara
mengambil sel tubuh seorang perempuan dalam kondisi tanpa adanya laki-laki.
Kemudian diambil inti selnya yang mengandung 46 kromosom, atau dengan kata lain, diambil
inti sel yang mengandung seluruh sifat yang akan diwariskan. Inti sel ini kemudian ditanamkan dalam
sel telur perempuan yang telah dibuang inti selnya.
Proses penggabungan antara inti sel tubuh dengan sel telur yang telah dibuang inti selnya tadi.
Dengan penanaman sel telur ke dalam rahim perempuan ini, sel telur tadi akan mulai memperbanyak
diri, berkembang, berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin. Janin ini akan menjadi sempurna dan
akhirnya dilahirkan ke dunia. Anak yang dilahirkan merupakan keturunan dengan kode genetik yang
persis sama dengan perempuan yang menjadi sumber asal pengambilan sel tubuh. Dengan demikian,
proses kloning dalam kondisi seperti ini dapat berlangsung sempurna pada seluruh tahapnya tanpa
perlu adanya seorang laki-laki.
Proses pewarisan sifat pada pembuahan alami akan terjadi dari pihak ayah dan ibu. Oleh karena
itu, anak-anak mereka tidak akan mempunyai corak yang sama. Dan kemiripan di antara anak-anak,
ayah dan saudara-saudara laki-lakinya, ibu dan saudara-saudara perempuannya,
Begitu pula kemiripan diantara sesama saudara kandung, akan tetap menunjukkan nuansa
perbedaan dalam penampilan fisiknya, misalnya dari segi warna kulit, tinggi, dan lebar badan. Begitu
pula mereka akan berbeda-beda dari segi potensi-potensi akal dan kejiwaan yang sifatnya asli (bukan
hasil usaha).
Klaim Clonaid, perusahaan Bioteknologi di Bahama, yang sukses menghasilkan manusia
kloning pertama di dunia dengan lahirnya Eve, 26 Desember 2002 lalu makin mendekatkan pada
impian tersebut. Walaupun ini masih sebuah awal. Manusia kloning
pertama di dunia bernama Eve.
Eve merupakan bayi pertama yang lahir dari 10 implantasi yang dilakukan Clonaid tahun 2002.
Bayi perempuan itu kini berusia 5 tahun. Sehat dan kini mulai menginjak pendidikan Taman Kanak
Kanak di pinggiran kota Bahama. Kelahiran Eve merupakan sebuah kejutan. Sebelumnya para
ilmuwan bersiap menerima kelahiran bayi cloning pertama karya dokter ahli kesuburan Italia, Dr.
Severino Antinori, awal Januari 2003. Antinori adalah ahli kesuburan yang piawai. Ia telah
mendeklarasikan keberhasilannya mengklon babi dan primata dan berhasil menerobos prosedur
fertilitas konvensional dengan membuat seorang wanita hamil pada usia 6 tahun pada 1994.
Kebanyakan ilmuwan setuju, reproduksi manusia dengan cara kloning memang memungkinkan.
Page
8
Namun mereka menekankan, eksperimen seperti itu tidak bisa dipertanggung jawabkan karena
tingginya resiko kematian dan gangguan pasca kelahiran.

D. PANDANGAN ALKITABIAH MENGENAI HUMAN CLONING


Dasar-dasar Alkitab yang melarang keras tindakan pembunuhan terhadap manusia (termasuk
ketika manusia itu masih dalam wujud embrio). Beberapa perikop berikut merupakan ajaran dasar iman
Katolik terhadap penghargaan hidup dan pribadi manusia:

Kejadian 1-2. Teks berikut merupakan dasar dari iman Katolik terhadap indahnya kehidupan.
Dalam teks tersebut terungkap bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Oleh para pendukung
penelitian human embryonic stem cells, ayat ini digunakan sebagai salah satu alasan bahwa teknologi
dan penelitian tentang human embryonic stem cells ini juga atas prakarsa Allah. Allah memberi
kemampuan kepada manusia untuk membuat kehidupan manusia ini semakin baik, termasuk
menciptakan human embryonic stem cells demi tujuan kemanusiaan. Namun kerangka pikir tentu
tidak benar. Jika menelaah lebih dalam, Segala sesuatu diciptakan oleh Allah, maka manusia yang
masih berwujud embrio pun adalah ciptaan Allah. Teknologi human embryonic stem cells dilakukan
dengan merusak/membunuh embrio. Hal ini tentu bertentangan dengan tindakan Allah yang
menciptakan segala sesuatu. Campur tangan manusia dalam menghentikan kehidupan dan
perkembangan embrio (yang adalah ciptaan Allah) demi tujuan kemanusiaan sekalipun merupakan
bentuk pelanggaran terhadap previlese Allah yang adalah pencipta segala sesuatu. Dengan demikian,
penciptaan embrio demi penelitian human embryonic stem cells telah melanggar kehendak Allah Sang
Pencipta segala sesuatu.

Kejadian 1: 26-27. Teks ini merupakan prinsip dasar dalam iman Katolik untuk menolak
teknologi human embryonic stem cells dan kloning pada manusia bahwa manusia adalah citra Allah
(gambar Allah). Dalam teks ini hendak dikatakan bahwa setiap manusia adalah citra Allah dan Allah
tidak membeda-bedakannya di antara manusia, entah itu manusia (sejak pembuahan hingga
kesudahannya) dewasa ataupun yang masih dalam tahap embrio. Dengan demikian, teknologi human
embryonic stem cells merupakan pelanggaran terhadap harkat martabat manusia, bahkan sejak
pembuahannya, karena dalam human embryonic stem cells, manusia (yang berwujud embrio)
terdiskriminasi dan tercabut hak hidupnya demi mendapatkan stem cell bagi manusia lain.

Page
9
Keluaran 20 : 13. Teks ini berisi perintah Tuhan yang melarang setiap manusia
melakukan pembunuhan atas sesamanya. Hak hidup dan hak mati sepenuhnya berada di tangan
Allah.Dengan demikian, teknologi human embryonic stem cells (baik dilakukan secara in vitro
fertilization maupun human somatic cell nuclear transfer/cloning) bertentangan dengan perintah Tuhan
dan melanggar hak hidup manusia.

Hakim-Hakim 13: 3-5; Ayub 3:3; Ayub 10: 8-12; Mzm 51: 5; Mzm 139:13-16; Yesaya 44: 2, 21,
24; 49:1; Yeremia 1:5 dan Galatia 1: 15-16. Teks-teks berikut mengungkapkan kebenaran iman Katolik
tentang panggilan Allah sejak manusia dikandung ibunya (sejak pembuahan terjadi). Setiap individu
(bahkan dalam tahap embrio pun) telah memiliki alur hidup yang telah direncanakan Tuhan untuknya.
Dengan demikian, teknologi human embryonic stem cells dan kloning pada manusia telah
mengacaukan sekaligus melanggar martabat panggilan manusia sejak dalam kandungan.

Mzm 113:5-9. Teks ini mengungkapkan tentang pembelaan Allah terhadap orang-orang yang
lemah dan tersingkir. Allah telah berkenan dengan orang-orang yang hina itu. Dalam kasus teknologi
human embryonic stem cells dan kloning pada manusia, embrio merupakan bagian dari individu/orang
yang mendapatkan pembelaan Allah dan perhatian Allah. Jika embrio itu dirusak/dibunuh demi
kepentingan penelitian ataupun kemajuan teknologi pengobatan, maka tindakan itu sama artinya
dengan melawan Allah sendiri yang telah berkenan mengasihi dan memelihara serta mengangkat
orang-orang yang hina, lemah dan tersingkir.

Mat 7: 21-23. Teks ini hendak mengatakan bahwa Tuhan Allah bukanlah Allah yang
pragmatis seperti manusia. Tindakan membunuh embrio demi mendapatkan stem cell ataupun kloning
demi mendapatkan keturunan adalah tindakan pragmatis yang berlawanan dengan kehendak-Nya.
Human embryonic stem cells dan kloning telah menampakkan suatu pragmatise manusia yang
mengancam kehidupan manusia itu sendiri.

E. AJARAN SOSIAL DAN MAGISTERIUM GEREJA MENGENAI HUMAN


CLONING.

Page
10
Gereja Katolik mengungkapkan sikap tegasnya dalam menolak teknologi human embryonic
stem cells dan kloning pada manusia melalui beberapa Konstitusi Pastoral, dan deklarasi ajaran iman-
moralnya.

Gaudium Et Spes.

Konstitusi Pastoral ini mengungkapkan tentang Martabat manusia dan tugas perutusannya di tengah
dunia. Dikatakan oleh Konstitusi Gaudium Et Spes bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah
(Kej 1: 26; Keb 2:23). Konstitusi Gaudium et Spes juga mendasarkan pandangannya pada Kitab Suci
tentang manusia. Adapun Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah,
ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas
semua makhluk di dunia ini untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah.
Dengan dasar pandangan inilah, Konstitusi Gaudium et Spes mengungkapkan bahwa hidup manusia
yang adalah citra Allah tengah berada dalam situasi kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan
dunia saat ini. Disebutkan pula oleh Gaudium et Spes tentang tantangan perubahan masyarakat dengan
segala kemajuan dan keterpurukkannya, termasuk juga kemajuan dalam bidang biologi/bioteknologi.
Harapannya, manusia dapat mengembangkan kemajuan itu demi menjunjung tinggi martabat manusia
dan meluhurkan Allah. Dengan demikian, segala bentuk pelanggaran terhadap martabat manusia
(meski masih dalam tahap embrio), adalah juga merupakan bentuk ketidaktaatan akan Allah yang telah
menciptakan manusia seturut gambar-Nya.

Evangelium Vitae.

Evangelium Vitae adalah Ensiklik Paus Yohanes Paulus II tentang Nilai Hidup Manusia Yang
Tak Dapat Diganggu-gugat. Pada awal ensiklik, Paus menulis tentang Injil Kehidupan sebagai inti
amanat Yesus. Melalui ensiklik ini, Paus hendak mengajarkan tentang keluhuran nilai hidup dan
martabat manusia. Secara tegas ensiklik Evangelium Vitae menekankan bahwa apa saja yang
berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan
suku, pengguguran, euthanasia dan bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan
pribadi manusia seperti pemenggalan anggota badan, siksaan yang ditimpakan pada jiwa maupun raga,
usaha-usaha paksaan psikologis; apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi
hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang,
perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja

Page
11
yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan, dan tidak
diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang bebas dan bertanggungjawab: itu semua dan hal-hal lain
yang serupa memang perbuatan yang keji. Dan sementara mencoreng peradaban manusiawi,
perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan mereka yang melakukannya, daripada mereka yang
menanggung ketidak-adilan, lagi pula sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta (No.3).

Dalam kasus human embryonic stem cell dan kloning yang berkaitan langsung dengan
kehidupan manusia tahap embrio, Ensiklik Evangelium Vitae menulis demikian: dari saat telur dibuahi
sudah mulailah suatu kehidupan, yang bukan hidup ayah atau ibunya; melainkan hidup manusia yang
baru beserta pertumbuhannya. Ilmu genetika modern menunjukkan bahwa sejak tahap pertama
(pembuahan) sudah tersusun program tentang bagaimana makhluk hidup itu adanya di masa
mendatang: seorang pribadi, pribadi individual dengan aspek- aspeknya yang karakteristik, yang sudah
ditetapkan dengan baik. Oleh karena itu, manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai pribadi
sejak saat pembuahan. Maka, sejak saat itu juga hak-haknya sebagai pribadi harus diakui. Di antara
hak-hak itu terutama hak yang tidak dapat diganggu- gugat setiap manusia yang tak bersalah untuk
hidup. (No.60).

Dalam menanggapi persoalan human embryonic stem cells dan kloning, Ensiklik Evangelium
Vitae dengan jelas menolak teknologi tersebut karena teknologi tersebut mengganggu hak hidup dari
embrio manusia, termasuk melanggar penghargaan terhadap pribadi manusia yang unik dengan segala
macam karakter khasnya (penolakan terhadap teknologi kloning manusia).

Declaration on The Production And The Scientific And Therapeutic Use of Human Embryonic Stem
Cells (2000)

Deklarasi ini merupakan tanggapan Pontifical Academy for Life atas Produksi dan Penggunaan
Human Embryonic Stem Cells bagi penelitian maupun pengobatan. Ada 3 problem etis yang hendak
dijabarkan oleh deklarasi ini berkaitan dengan hal itu:

Apakah secara moral dapat dibenarkan untuk memproduksi dan/atau menggunakan embrio
manusia yang hidup untuk mempersiapkan/memperoleh human embryonic stem cells? Atas
permasalahan ini, Deklarasi memberikan jawaban negatif atas tindakan tersebut dengan alasan: (a)
Embrio setelah pembuahan adalah subjek manusia dengan identitas khas yang telah ada. Embrio ini
mulai mengkoordinasikan dirinya dan mulai mengalami perkembangan yang berlanjut serta gradual.
Page
12
Mengambil human embryonic stem cells berarti merusak dan membunuh embrio itu sendiri; (b) Setiap
individu memiliki hak atas hidupnya sendiri . Oleh karena itu setiap intervensi yang tidak menunjang
kelangsungan hidup embrio berarti tindakan itu merusak/melanggar hak individu; (c) Oleh karena itu,
pengambilan embryoblast atau yang sering disebut sebagai inner cell mass (ICM) dari blastokista, yang
menyebabkan kerusakan embrio, memutus perkembangannya, maka tindakan ini adalah tindakan
immoral yang berat dan sungguh merupakan tindakan yang tidak pantas; (d) Meski demi tujuan yang
baik yakni pengobatan (therapeutic use), namun tindakan memperoleh human embryonic stem cells
tidak dapat dibenarkan secara moral. Tujuan yang baik tidak dapat membenarkan tindakan yang pada
dirinya sendiri adalah tindakan yang salah.

Apakah secara moral dapat dibenarkan untuk melakukan yang disebut sebagai therapeutic
cloning dengan memproduksi klon embrio manusia dan kemudian merusaknya untuk mendapatkan
human embryonic stem cells? Atas permasalahan ini, Deklarasi memberikan jawaban negatif dengan
alasan: setiap tipe therapeutic cloning, yang menerapkan produksi embrio manusia dan kemudian
merusaknya demi mendapatkan human embryonic stem cells adalah perbuatan yang tidak pantas secara
moral. Embrio hasil kloning juga memiliki identitas yang unik sebagai bakal manusia (meski hasil
kloning).

Apakah secara moral dapat dibenarkan untuk menggunakan human embryonic stem cells dan
sel-sel yang terdiferensiasi dari stem cell, yang mana disediakan oleh para peneliti dan dibuat secara
komersial? Atas permasalahan ini Deklarasi memberikan jawaban negatif karena setiap upaya dan
keterlibatan dalam persetujuan untuk menggunakan human embryonic stem cells, berarti terlibat dalam
perusakan dan pembunuhan embrio demi memperoleh human embryonic stem cells.

Kesimpulannya, Deklarasi ini jelas menolak dilakukannya teknologi human embryonic stem
cells maupun therapeutic cloning, sebab tindakan itu merupakan sebuah pelanggaran moral yang berat.
Penelitian dan penggunaan stem cells yang secara moral tidak bermasalah adalah teknologi adult stem
cells. Adult Stem Cells menampakkan metode yang lebih rasional dan manusiawi untuk membuat
kemajuan ilmu teknologi baik demi tujuan penelitian maupun pengobatan (tujuan medis).

Document of The Holy See On Human Cloning (17 September 2004)

Pada awal dokumen ini, Takhta Suci mengungkapkan bahwa riset ilmiah demi kepentingan
umat manusia itu perlu didukung dan dimajukan. Dengan demikian Takhta Suci dengan serius
Page
13
mendukung penelitian dibidang kedokteran dan biologi, dengan tujuan menyembuhkan penyakit dan
memperbaiki kualitas hidup semua orang, asalkan martabat manusia dihormati. Hormat ini menuntut
agar setiap riset yang tak sesuai dengan martabat manusia dari sudut moral harus disisihkan.

Ada beberapa keberatan etis Takhta Suci terhadap teknologi kloning manusia yakni: (1) kloning
adalah serangan terhadap martabat manusia karena embrio hasil kloning tidak memiliki susunan gen
yang baru (perpaduan antara gen dari sel telur dan sel sperma) tetapi hanya merupakan kopian dari
induknya; (2) kloning kurang hormat terhadap pribadi manusia: individu hasil kloning merupakan
individu hasil rekayasa manusia sehingga pribadi manusia direndahkan menjadi sekedar hasil produksi
semata; (3) Kloning terapeutik dari sudut etis tidaklah netral, bahkan lebih buruk dari kloning
reproduktif sebab kloning terapeutik telah mengorbankan embrio demi tujuan penelitian yang akan
menghasilkan human embryonic stem cells. Ini sama halnya dengan tindakan pembunuhan embrio.

Katekismus Gereja Katolik

Dalam Katekismus Gereja Katolik memang tidak dibicarakan secara khusus mengenai human
embryonic stem cells dan kloning, namun ada beberapa pokok ajaran yang dapat digunakan untuk
menilai tindakan riset ataupun penggunaan human embryonic stem cells dan kloning pada manusia.
Pada nomor 2270 Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa hidup manusia harus dihormati dan
dilindungi secara absolut sejak pembuahan. Dari awal keberadaannya, setiap manusia telah memiliki
hak sebagai seorang pribadi, yang tidak dapat diganggu gugat untuk hidup. Hal ini berdasarkan pada
sabda Tuhan sendiri yang telah membentuk manusia sejak pembuahan dan telah memeliharanya
sedemikian rupa sehingga embrio itu dapat hidup dan berkembang sebagai seorang manusia dewasa.

Dari pokok ajaran ini, umat beriman Katolik diajak untuk menghormati dan melindungi embrio
karena embrio adalah manusia yang sudah utuh sebagai seorang pribadi. Apa yang terjadi dalam human
embryonic stem cells dan terapeutik kloning tentu berlawanan dengan ajaran ini. Dan dengan demikian,
Gereja Katolik menolak dengan tegas penggunaan kedua teknologi tersebut.

Pokok Problem Etika Moral Human Embryonic Stem Cells dan Human Cloning yang ditolak oleh
Gereja Katolik

Dari beberapa ajaran Gereja Katolik tentang penolakan teknologi human embryonic stem cells
dan human cloning ini dapat disimpulkan bahwa Gereja Katolik tetap menjunjung tinggi martabat dan

Page
14
hak hidup manusia, bahkan sejak manusia itu dalam tahap embrio. Apa yang ditolak oleh Gereja
Katolik sehubungan dengan teknologi human embryonic stem cells dan human cloning adalah
terjadinya perusakan/pembunuhan embrio (pada teknologi human embryonic stem cells) dan
pelanggaran terhadap keunikan martabat pribadi manusia (pada human cloning). Kedua hal ini
merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran moral dan melanggar kehendak Allah. Dengan
demikian, Gereja Katolik menolak dengan tegas kedua macam teknologi tersebut.

Meski demikian, tentu perdebatan mengenai problem etis dan moral tentang kedua teknologi ini
masih terus berlanjut. Salah satu pertanyaan yang terus menghantui dan selalu membutuhkan
penjelasan lebih lanjut adalah jika kedua teknologi ini bertentangan dengan kehendak Allah, mengapa
secara hukum alam teknologi ini dapat berhasil? Apakah Allah tidak turut campur tangan dalam proses
alam tersebut?

Langkah Pastoral terhadap persoalan Cloning dan Stem Cell

Setelah mengetahui secara singkat mengenai teknologi human embryonic stem cells dan
kloning pada manusia serta berbagai macam problem etisnya dari berbagai macam kalangan, hal
apakah yang dapat dilakukan demi menjalankan langkah pastoral yang tepat dalam memelihara
kehidupan? Mengingat problem etis kedua teknologi tersebut cukup berat, maka beberapa hal yang
dapat dilakukan sebagai langkah pastoral selanjutnya adalah sebagai berikut:

Memperoleh dan mempublikasikan secara luas pemahaman mengenai teknologi human


embryonic stem cells dan kloning manusia. Pemahaman ini menyangkut pendekatannya melalui bidang
biologis, etika moral, religius dan juga efeknya bagi hidup masyarakat manusia pada umumnya.
Pemahaman ini akan menghantar umat beriman pada sikap kritis dan bijaksana dalam menyikapi
berbagai macam kemajuan teknologi termasuk kedua macam teknologi tersebut.

Membahasakan pandangan etika moral Magisterium Gereja Katolik kepada para umat dengan
lebih sederhana dan tepat sasaran. Hal ini menyangkut problem-problem pokok etika moral kemajuan
teknologi yang ditentang oleh Gereja ataupun yang diijinkan oleh Gereja.

Memberikan pemahaman kepada para umat untuk tidak melakukan pengobatan ataupun
memperoleh keturunan dengan kedua teknologi tersebut. Hal ini pertama-tama karena kedua teknologi

Page
15
tersebut bertentangan dengan prinsip moral dan etika, khususnya karena telah melanggar hak hidup
embrio dan martabatnya sebagai seorang pribadi unik.

Bekerjasama dengan pihak-pihak lain yang memiliki keprihatinan yang sama terhadap
penghormatan dan perlindungan manusia atas hak hidup dan martabatnya sebagai seorang
pribadi.

Page
16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari beberapa ajaran Gereja Katolik tentang penolakan teknologi human embryonic
stem cells dan human cloning ini dapat disimpulkan bahwa Gereja Katolik tetap menjunjung
tinggi martabat dan hak hidup manusia, bahkan sejak manusia itu dalam tahap embrio. Apa
yang ditolak oleh Gereja Katolik sehubungan dengan teknologi human embryonic stem cells
dan human cloning adalah terjadinya perusakan/pembunuhan embrio (pada teknologi human
embryonic stem cells) dan pelanggaran terhadap keunikan martabat pribadi manusia (pada
human cloning). Kedua hal ini merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran moral dan
melanggar kehendak Allah. Dengan demikian, Gereja Katolik menolak dengan tegas kedua
macam teknologi tersebut.

Page
17
Daftar Pustaka
Dokumen Gereja

Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, Dokumen Konsili Vatikan II


Ensiklik Evangelium Vitae
Document of The Holy See On Human Cloning (17 September 2004)
Declaration on The Production And The Scientific And Therapeutic Use of Human
Embryonic Stem Cells (2000)
Katekismus Gereja Katolik
Pontifical Council of The Family, Kloning:Penghapusan Peran Orang tua Langsung dan
Pengingkaran Keluarga (8 Agustus 2008)

Artikel dan Buku

CB. Kusmaryanto, SCJ, Kontroversi Aborsi, Jakarta: Grasindo, 2002


CB. Kusmaryanto, SCJ, Problem Etis Kloning Manusia, Jakarta: Grasindo, 2001
CB. Kusmaryanto, SCJ, Tolak Aborsi: Budaya Kehidupan Versus Budaya Kematian,
Yogyakarta: Kanisius, 2005
Donald Wuerl, Pastoral Letter on Human Embryonic Stem Cell Research dalam
Origins,Vol.34, Tahun 2005
Marion L. Soard, Scripture and Stem Cells: Seeking Biblical Guidance When There Is No
Obvious Biblical Word dalam Ex Auditu, Vol.17, 2001
Suzanne Holand (ed), The Human Embryonic Stem Cell Debate, London: A Bradford Book The
MIT Press Cambridge, 2001

Page
18