Anda di halaman 1dari 24

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD DI KELAS TINGGI

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam mata kuliah
Ketrampilan Bahasa Indonesia

Dosen Pengampu: Dedy Irawan, S.Pd

Disusun oleh:

1. Agung Mukhlis Widodo 1501100164


2. Shindia Dendri Pratiwi 1501100168
3. Annis Dwiana Saputri 1501100181

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, hidayah, dan inayah kepada hamba-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia pada
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Makalah yang berjudul Pemebelajaran Bahasa Indonesia SD Di Kelas Tinggi
ini kami tulis berdasarkan sumber-sumber yang ada, baik dari buku, jurnal,
maupun media massa lainnya. Kami ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan
yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini serta kepada Bapak Dedi
Irawan, S. Pd selaku pengampu mata kuliah Keterampilan Bahasa Indonesia.
Dengan penulisan makalah ini semoga memberi manfaat dan menambah
wawasan bagi kita semua. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran pembaca agar kami dapat membuat makalah
dengan lebih baik lagi.

Purwokerto, 20 September 2016

Penulis
DAFTAR ISI

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SD DI KELAS TINGGI i


KATA PENGANTAR............................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................2
C. Tujuan...................................................................................2
D. Manfaat................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................3
A. Pengertian Pembelajaran.....................................................3
B. Proses Pembelajaran di Kelas Tinggi....................................3
C. PEMBELAJARAN BAHASA DI KELAS TINGGI...........................5
D. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD........................7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar, kajian teoritis kea


rah implementasi pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai alat pemahaman
kepada guru SD dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia
secara benar. Bahasa merupakan prooduk budaya yang berharga dari
generasi ke generasi berikutnya. Bahasa adalah hasil budaya yang hidup
dan berkembang dan harus dipelajari.

Pembelajaran Bahasa Indonesia SD diarahkan untuk meningkatkan


kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi dengan baik,, baik secara
lisan maupun tulisan. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan(KTSP) saat ini, pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang
SD/MI mencakup 4 aspek yaitu Mendengarkan, berbicara, membaca, dan
menulis. Dalam proses pembelajarannya, pembelajaran Apresiasi Sastra
SD diintegrasikan melalui 4 ketrampilan berbahasa. Dalam SK KD yang
tersurat dalam kurikulum SD/MI maka guru sebagai pelaksana, perencana
dan pengevaluasi pembelajaran, maka sebelum tatap muka, guru harus
menentukkan pembelajran yaitu setiap pertemuan dalam pembelajaran
bahasa Indonesia harus jelas fokusnya, agar pelaksanaan pembelajaran
jelas, terarah, efisien dan efektif sesuai tujuan.

Bahasa merupakan produk budaya yang berharga dari generasi ke


generasi berikutnya. Bahasa adalah budaya yang hidup dan berkembang
dan harus di pelajari. Seorang anak yang tidak pernah diajarkan berbicara,
maka tidak akan pernah memiliki kemampuan berbicara dan bahkan tidak
mampu berpikir sebagaimana layaknya anak manusia (Pirozzi,2003)
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran?


2. Bagaimana proses pembelajaran dikelas tinggi?
3. Bagaimana Pembelajaran Bahasa di kelas tinggi?
4. Bagaimana strategi pembelajaran Bahasa Indonesia SD

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembelajaran?


2. Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran dikelas tinggi?
3. Untuk mnengetahui bagaimana Pembelajaran Bahasa di kelas tinggi?
4. Untuk mengetahui bagaimana strategi pembelajaran Bahasa Indonesia
SD

D. Manfaat

1. Bagi pembaca menambah wawasan dan sebagai acuan dalam


pembuatan makalah selanjutnya.
2. Menjelaskan tentang apa saja strategi pembelajaran bahasa indonesia
3. Untuk memperluas wawasan dan pandangan mahasiswa bagaimana
mengajarkan bahasa indonesia di kelas tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran

Menurut Sudjana dalam Sugihartono, dkk (2007:80) pembelajaran


merupakan upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat
menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar. Sedangkan
Nasution dalam Sugihartono, dkk (2007:80) mendefinisikan pembelajaran
sebagai suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-
baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik sehingga terjadi proses
belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang belajar, tetapi
juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya
yang relevan dengan kegiatan belajar siswa.
Pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan
yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses
pendidikan. Pembelajaran seharusnya merupakan kegiatan yang dilakukan
untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar.
Untuk itu, harus dipahami bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dari
kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan
pengetahuan, maka guru akan dapat menentukan strategi pembelajaran yang
tepat bagi siswanya. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar
mengarahkan siswa untuk memiliki kemampuan berbahasa yaitu menyimak,
berbicara, membaca dan menulis.

B. Proses Pembelajaran di Kelas Tinggi

1. Proses Pembelajaran di Kelas Tinggi


a. Anak usia kelas 4, 5, dan 6 secara kognitif berada pada tahap
operasi konkret dan formal yang ditandai oleh kemampuan berfikir
abstrak atau konseptual.
b. Salah satu bentuk proses berfikir abstrak adalah berfikir hipotetis
kemudian menguji hipotesis melalui percobaan atau eksperimen.
c. Dari sisi perkembangan afektif anak usia kelas 4, 5, dan 6 berada
dalam tahap rasa produktif dan rasa identitas.
d. Wujud rasa produktif dan rasa identitas adalah menunjukkan
kemauan dan kemampuan berinisiatif, untuk menghasilkan sesuatu
secara mandiri.
e. Kematangan afektif pada dasarnya merupakan hasil dari interaksi
sisi biologis, personal dan seseorang dalam suatu rentang waktu.
f. Prinsip pembelajaran di kelas 4, 5, 6 ialah penciptaan suasana yang
memungkinkan siswa dapat mengembangkan kemampuan berfikir
abstrak, berinisiatif menghasilkan sesuatu secara mandiri.
g. Kemampuan kognitif dan kualitas afektif antara lain emosi
mempersyaratkan adanya pemberian suasana yang serasi dan
sepadan.

2. Ragam Model Pembelajaran di Kelas Tinggi


a. Dalam pembelajaran di kelas tinggi dapat diterapkan model
pembelajaran penelitian, kelompok interaktif, dan ceramah
bervariasi.
b. Model penelitian sangat potensial untuk mengembangkan rasa
ingin tahu, berfikir deduktif, berfikir induktif, berfikir kritis,
berfikir kreatif, berfikir komperatif/kolistik, dan berfikir hipotetis.
c. Prosedur dasar model penelitian adalah masalah hipotesis dan data
kesimpulan.
d. Model kelompok interaktif sangat potensial mengembangkan
keterampilan berkomunikasi, inisiatif, kreativitas, dan sinergi.
e. Model kelompok interaktif yang dapat digunakan di kelas tinggi
antara lain membaca berpasangan, kelompok pendukung, latihan
keterampilan bersama, tugas rumah kelompok, dan sajian situasi.
f. Model ceramah bervariasi termasuk ke dalam pendekatan
ekspositori dengan ciri utama adanya komunikasi verbal. Ada 5
model ceramah yang dapat dipakai di kelas tinggi yakni ceramah
tanya jawab, ceramah audio-visual, ceramah demonstrasi, ceramah
mini, dan ceramah interaktif.

3. Penerapan Ragam Metode mengajar di Kelas Tinggi


a. Misi pokok pembelajaran adalah mewujudkan proses belajar yang
bermakna.
b. Perilaku guru yang menunjang proses belajar yang efektif antara
lain sajian yang jernih, bervariasi, dan fleksibel berorientasi
pencapaian tujuan pemanfaatan waktu yang efektif untuk kegiatan
akademis.
c. Selain itu guru seharusnya memiliki aturan kelas, menguasai kelas,
penugasan yang menarik, bermakna dan mudah diselesaikan,
seefisien dalam pengarahan menggunakan banyak sumber dan
cepat mengatasi perilaku menyimpang.
d. Dari sisi siswa harus diupayakan agar mereka percaya diri, siap,
aktif, motivatif, komunikatif, dan trengginas.
C. PEMBELAJARAN BAHASA DI KELAS TINGGI

Dalam proses pembelajaran khususnya di kelas tinggi ada menyimak,


membaca, menulis, dan berbicara. beberapa hal yang mendasari sistem
pengajaran tersebut yaitu :
1. Tahap-tahap Menyimak
Dalam kegiatan menyimak ada tahapan yang harus dilakukan oleh
penyimak agar penyimak benar-benar memahami informasi yang
disimaknya. Tahapan itu adalah:
a. Tahap Mendengar
Dalam tahap ini, kita baru mendengar segala sesuatu yang
dikemukakan oleh sang pembicara dalam ujaran atau
pembicaraannya. Jadi kita masih berada dalam tahap hearing.

b. Tahap Memahami
Setelah kita mendengar, keinginan bagi kita untuk mengerti
atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang
disampaikan oleh sang pembicara. Maka sampailah, kita dalam
tahap pemahaman.
c. Tahap Menginterpretasi
Dalam tahap ini, penyimak yang baik, yang cermat dan
teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi
ujaran sang pembicara; dia ingin menafsirkan atau
rnenginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan
tersirat dalam ujaran itu. Dengan demikian, sang penyimak
telah tiba pada tahap interpreting.
d. Tahap Mengevaluasi
Setelah memahami serta dapat menafsir atau
menginterpretasikan isi pembicaraan, sang penyimak pun
mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan
sang pembicara, di mana keunggulan dan kelemahan, di mana
kebaikan dan kekurangan sang pembicara; maka dengan
demikian sudah sampai pada tahap evaluating.
e. Tahap Menanggapi
Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan
menyimak; sang penyimak menyambut, mencamkan,
menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan
oleh sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya; sang
penyimak pun sampailah pada tahap menanggapi (responding).
Tanggapan dapat berupa penolakan atau pendapat.
D. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Strategi adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber


yang dimiliki yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Pengupayaan pencapaian tujuan akhir digunakan sebagai acuan
di dalam menata kekuatan serta menutup kelemahan yang kemudian
diterjemahkan menjadi program kegiatan merupakan pemikiran strategis
(Joni, 1989:76).

Dalam usaha memperoleh pemahaman terhadap teks, pembaca


menggunakan strategi tertentu. Pemilihan strategi berkaitan erat dengan
faktor-faktor yang terlibat dalam pemahaman, yaitu pembaca teks dan
konteks. Dalam teori membaca dikenal beberapa strategi membaca. Pada
dasarnya, strategi membaca menggambarkan bagaimana pembaca
memproses bacaan sehingga dia memperoleh pemahaman terhadap bacaan
tersebut.

1. STRATEGI PEMBELAJARAN MENYIMAK


Ada beberapa strategi pembelajaran yang menjadi pilihan guru
untuk mengajarkan menyimak, yakni
a) Strategi Pertanyaan dan Jawaban
Strategi ini merupakan strategi yang paling sederhana dalam KBM
menyimak. Tahap-tahapan kegiatannya adalah :
1) Guru mengemukakan judul bahan simakan
2) Guru mengajukan pertanyaan berkenaan dengan isi simakan
yang akan dibicarakan.
3) Guru membacakan materi simakan. Pembacaan dapat
dilakukan perbagian dengan diselingi pertanyaan atau
dibacakan secara keseluruhan secara langsung
4) Setelah materi simakan selesai dibacakan guru memberi
kesempatan kepada siswa menanyakan hal-hal yang belum
dipahami.
5) Guru mengadakan tanya jawab dengan siswa
6) Siswa mengemukakan kembali informasi yang telah
diperoleh, (secara tertulis atau lisan).
Strategi KWL atau DLA (Direct Listening Activities)
Tahapan-tahapan kegiatannya, adalah:
1. Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul teks
simakan, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan
dengan judul bahan simakan sebagai upaya untuk pembangkitan
skemata siswa. Selanjutnya guru mengemukakan hal-hal pokok yang
perlu dipahami siswa dalam menyimak
2. Guru meminta siswa mendengarkan materi simakan yang dibacakan
oleh guru.
3. Guru melakukan tanya jawab tentang isi simakan. Pertanyaan tidak
selalu harus diikat oleh pertanyaan yang terdapat dalam buku. Guru
hendaknya menambahkan pertanyaan yang dikaitkan dengan konteks
kehidupan siswa atau masalah lain.
4. Guru memberikan latihan/tugas/kegiatan lain yang berfungsi untuk
mengembangkan keterampilan siswa dalam menyimak.
Strategi Menyimak dan Berpikir Langsung /MBL atau DLTA (Direct
Listening Thinking Activities)
Tahapan-tahapan kegiatannya, adalah :
1) Persiapan menyimak : Pada tahap ini guru memberitahukan judul
cerita yang akan disimak, misalnya Saat Sendirian di Rumah
Berdasarkan judul teresbut guru menanyakan kepada siswa Bagaimana
seandainya malam hari sendirian di rumah? Untuk membangkitkan
imajinasi siswa guru menunjukkan gambar rumah yang gelap.
Selanjutnya guru mengajukan pertanyaan Apa kira-kira isi cerita yang
akan dibacakan, apa yang kira-kira menarik dari cerita itu, bagaimana
seandainya peristiwa itu terjadi pada kalian? Dan sebagainya.
2) Membaca Nyaring: Guru membacakan cerita dengan suara nyaring
secara menarik dan hidup. Pada bagian tertentu yang dianggap
memiliki hubungan dengan prediksi dan tujuan pembelajaran, guru
menghentikan pembacaan dan mengajukan pertanyaan kepada siswa.
Apa kesimpulan yang kalian peroleh, apa yang terjadi kemudian, apa
yang terjadi selanjutnya dan sebagainya. Setelah tanya jawab dianggap
cukup, guru melanjutkan membacakan lagi.
3) Refleksi dan penyampaian pendapat. Guru mengakhiri pembacaan,
selanjutnya guru meminta siswa untuk mengemukakan kembali isi
cerita dan guru meminta pendapat siswa tentang unsur-unsur cerita,
misalnya tentang watak tokoh, tentang alur, seting dan sebagainya.

2. STRATEGI PENGAJARAN MEMBACA


Strategi KWL atau DRA (Direct Reading Activities) Penggunaan
strategi KWL adalah untuk mengembangkan kemampuan membaca
secara komprehensif, membaca kritis, dan mengembangkan perolehan
pengalaman siswa berdasarkan bentuk bacaan secara ekstensif.
Strategi KWL (Know-Want to Know-Learned)
Strategi KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan
Strategi DRA(Directed Reading Activity). Strategi DRA dirancang
oleh Betts. Pada dasarnya, langkah-langkahnya mengikuti petunjuk
mempersiapkan siswa sebelum, saat membaca dalam hati, dan
melanjutkan kegiatan membaca dengan pengecekan pemahaman dan
ketrampilan memahami pelajaran. Strategi diadaptasi sejak dikenal
pembelajaran membaca isi suatu mata pelajaaran (Content Area
Literacy). Strategi DRA didefinisikan sebagai kerangka berpikir untuk
merencanakan pembelajaran membaca suatu mata pelajaran yang
menekankan membaca sebagai media pengajaran dan kemahiraksaan
sebagai alat belajar (Eanes, 1997:88).

Lebih lanjut Eanes(1997:88) mengemukakan bahwa strategi DRA


mempunyai asumsi utama, yaitu pemahaman bisa ditingkatkan dengan
membangun latar belakang pengetahuan, menyusun tujuan khusus
membaca, mendiskusikan dan mengembangkan pemahaman sesudah
membaca. Komponen strategi dibagi dalam empat tahap, yaitu
persiapan, membaca dalam hati, tindak lanjut, dan pengayaan.

Adapun tahapan pengajarannya, adalah sebagai berikut.


a) Guru mengemukakan tujuan pembelajaran, membacakan judul
teks, bertanya jawab dengan siswa tentang hal-hal yang berkaitan
dengan judul bacaan sebagai pembangkitan pengalaman dan
pengetahuan siswa serta mengemukakan hal-hal pokok yang perlu
dipahami siswa dalam membaca.
b) Guru meminta siswa membaca dalam hati. Setelah siswa membaca
guru melakukan tanya jawab tentang isi bacaan. Pertanyaan tidak
selalu harus diikat oleh pertanyaan seperti yang ada dalam buku
teks. Guru menambahkan pertanyaan sesuai dengan konteks
kehidupan siswa maupun permasalahan lain.
c) Guru memberikan tugas latihan yang ditujukan untuk
mengembangkan pemahaman dan keterampilan siswa sejalan
dengan kegiatan membaca yang telah dilakukannya. Kegiatan itu
berupa menjelaskan makna kata-kata sulit dengan menggunakan
kamus, membuat ikhtisar bacaan, mempelajari penggunaan
struktur, ungkapan, dan peribahasa dalam bacaan.
3. STRATEGI PEMBELAJARAN MENULIS
Dari penelitian jurnal dapat dikatakan bahwa kemampuan
menulis di sekolah dasar, siswa diharapkan agar dapat menulis secara
efektif dan efisien berbagai jenis karangan dalam berbagai konteks.
Penguasan ketrampilan menulis mutlak diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari, namun pada kenyataannya pembelajaran menulis
karangan kurang perhatian yang serius. Pembelajaran menulis di
sekolah dasar sering kurang ditangani dengan baik. Kalaupun ada
pelaksanaannya kurang sistematis. Guru hanya memberikan sebuah
judul karangan yang harus dibuat oleh siswa dengan banyak lembar
tertentu.
Dari penelitian di sekolah dasar kelas V, rata-rata nilai yang
dianalisis peniliti dan guru kelas menunjukkan bahwa secara umum
kemampuan siswa dalam menulis masih kurang. Guru mengakui
bahwa ia belum tahu strategi apa yang harus dilakukan agar
pembelajaran menulis menjadi meningkat.

Didalam penelitian ini, banyak menemukan permasalahan.


Permasalahan mendasar yang dihadapi dalam penelitian ini adalah
sebagian besar siswa SD susah mengemukakan gagasan. Karangan
sebagaian siswa kurang sesuai dengan judul, padahal karangan dapat
dikatakan baik bila isi karangan yang ditulis sesuai dengan judul.

Untuk memecahkan masalah tersebut, perlu dikembangkannya


model pembelajaran menulis yang dapat menyelesaikan masalah
melalui penelitian tindakan kelas. Alternatif yang dapat dilakukan
ialah dengan pengembangan model menulis proses dengan penilaian
fortofolio. Penilaian fortofolio adalah kumpulan karya. Kumpulan
karya yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tulisan siswa.
(Dadan Djuanda, 2006. Jurnal strategi pembelajaran menulis)

Strategi Proses Menulis Terbimbing (PMT) atau GWP (Guiding


Writing Process) Strategi PMT pada intinya adalah mengjar siswa
dengan kegiatan menulis dengan mencontoh model karangan yang
telah dibacanya. Kegiatan yang ditempuh, adalah
a) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan cara melakukan
kegiatan belajar yang harus ditempuh oleh siswa.
b) Siswa membaca teks dan mempelajarinya ditinjau dari judul,
hubungan ide-ide pokok, dan pola pengembangan paragrafnya.
Dalam penulisan cerita diawali dengan membaca cerita untuk
memperoleh gambaran bagian-bagian cerita, isi bagan yang satu
dengan yang lain.
c) Berdasarkan pemahaman contoh model yang dibacanya, siswa
melakukan kegiatan
(1) pramenulis
(2) menulis draf
(3) melakukan perbaikan.
Strategi Menulis Secara Langsung/ MSL atau DWA (Direct Writing
Activities)
Strategi ini dilakukan misalnya pada saat siswa menulis buku, atau
menulis dalam buku harian, dan menulis karya ilmiah. Adapun
langkah-langkahnya adalah.
a) Siswa diminta menentukan karangan melalui kegiatan tukar
pendapat dengan teman/ kelompok diskusi. Guru
membantu membangkitkan gambaran berkenaan dengan
yang digarap.
b) Guru membantu siswa menggambarkan kerangka karangan
Misalnya melalui webbing, mendaftar ide-ide pokok dan
sebagainya.
c) Siswa memanfaatkan sumber informasi yang diperoleh dan
menyusun draf karya tulis.
d) Siswa saling menukarkan dan mempelajari draf karangan
dan saling memberi bahan masukan
e) Guru mengoreksi draf karangan siswa dan mengadakan
pembahasan secara singkat dengan difokuskan pada bagian-
bagian yang perlu diperbaiki
f) Siswa memperbaiki draf sesuai dengan masukan teman dan
guru.
g) Siswa menuliskan kembali dan memublikasikan melalui
atau membacakan di depan kelas.

4. STRATEGI PEMBELAJARAN BERBICARA


Dalam penelitian jurnal terdapat pengamatan dalam proses
pembelajaran di kelas V SD Negeri Sampoka menunjukan bahwa
berbicara dalam diskusi kelompok merupakan keterampilan berbahasa
yang dianggap sulit. Hal ini dipengaruhi oleh faktor kesiapan siswa
dalam mengikuti materi. Hal ini dibuktikan dengan nilai mata
pelajaran bahasa indonesia yang masih kurang khususnya
keterampilan berbicara. Nilai rata-rata siswa khususnya dalam mata
pelajaran bahasa indonesia khususnya keterampilan berbicara dalam
diskusi kelompok rata-rata 60, dan nilai tersebut tidak mencapai
KKM, karena KKM nya adalah 65.
Observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran
pemahaman dalam pembelajaran bahasa indonesia dengan
menggunakan metode demontrasi dikelas V SD Negeri Sampaka.
Pedoman observasi pada penelitian ini di titik beratkan pada
pengamatan aspek-aspek pemahaman siswa selama pelaksanaan
proses pembelajaran. Data observasi dilengkapi dengan format atau
belangko pengamatan dan penilaian aktivitas siswa dan guru.
Dengan dilakukannya penelitian ini proses keterampilan
berbicara di SD Negeri Sampakah mengalami peningkatan secara
efektif pada aktivitas siswa, guru dan hasil belajar itu, tuntas secara
klasikal dan secara individu, dengan demikian hipotesis kegiatan
dalam penelitian ini dapat diterima dan dapat terbukti.(Ersia
Lamajun,2015.jurnal kreatif tadulako online).
Kegiatan berbicara meliputi berbagai bentuk, dan setiap bentuk
memiliki kekhasan. Secara umum prosedur KBM yang dirancang
perlu memperhatikan langkah KBM pada tahap persiapan,
pelaksanaan, dan tindak lanjut atau pasca wicara. Pada tahap
persiapan, misalnya langkah kegiatan berupa penyiapan naskah
sambutan. Tahap pelaksanaan mengacu pada kegiatan yang dilakukan
siswa ketika membacakan naskah sambutan. Sementara tindak lanjut
diisi dengan kegiatan penilaian pembacaan naskah sambutan.
Bentuk KBM lain yang juga digunakan, misalnya dalam
pembelajaran dialog, adalah kegiatan bermain peran. Tahapan yang
dilakukan adalah tahap persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
Penentuan KBM wicara dalam berbagai kemungkinan bentuknya
dapat dijabarkan berdasarkan identifikasi dari uraian yang terdapat
dalam buku pelajaran.

Metode pengajaran berbicara menurut Djago Tarigan


(1990) adalah sebagai berikut:
1) Ulang-ucap. Model ucapan adalah suara guru atau rekaman
suara guru, model ucapan yang diperdengarkan kepada siswa
harus dipersiapkan dengan teliti.
2) Lihat-ucapan. Guru memperlihatkan kepada siswa benda
tertentu kemudian siswa menyebutkan benda tersebut.
3) Memerikan. Memerikan berarti menjelaskan, menerangkan,
melukiskan, atau mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata
sendiri.
4) Menjawab pertanyaan
5) Bertanya
6) Pertanyaan menggali
7) Melanjutkan
8) Menceritakan kembali
9) Percakapan
10) Parafrase
11) Reka cerita gambar
12) Bermain peran
13) Wawancara
14) Memperlihatkan dan bercerita (Show and Tell)
(Winataputra,2001.Strategi belajar mengajar)
Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif adalah membaca secara luas. Objeknya
meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya. Membaca ekstensif meliputi :
1. Membaca Survai (Survey Reading)
Membaca survai adalah kegiatan membaca untuk
mengetahui secara sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca
lebih mendalam. Kegiatan membaca survai merupakan
pendahuluan dalam membaca ekstensif. Yang dilakukan seseorang
ketika membaca survai adalah sebagai berikut :
a) memeriksa judul bacaan/buku, kata pengantar, daftar isi dan
malihat abstrak
b) memeriksa bagian terahkir dari isi (kesimpulan),
c) memeriksa indeks dan apendiks.
2. Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau membaca cepat adalah kegiatan
membaca dengan mengandalakan kecepatan gerak mata dalam
melihat dan memperhatikan bahan tertulis yang dibacanya dengan
tujuan untuk mendapatkan informasi secara cepat.
Metode yang digunakan dalam melatihkan membaca cepat adalah :
a. Metode kosakata; metode yang berusaha untuk menambah
kosakata.
b. Metode motivasi; metode yang berusaha memotivasi
pembaca(pemula) yang mengalami hambatan.
c. Metode gerak mata; metode yang mengembangkan kecepatan
membaca dengan menigkatkan kecepatan gerak mata.

Hambatan-hambatan yang dapat mengurangi kecepatan mambaca :


(a) vokalisai atau berguman ketika membaca,
(b) membaca dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
question kepala bergerak searah tulisan yang dibaca,
(d) subvokalisasi; suara yang biasa ikut membaca di dalam pikiran
kita,
question jari tangan selalu menunjuk tulisa yang sedang kit abaca,
(f) gerakan mata kembali pada kata-kata sebelumnya.
3. Membaca Dangkal (Superficial Reading)
Pada hakekatnya membaca dangkal bertujuan untuk
memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang
tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca jenis ini
biasanya dilakukan seseorang membaca demi kesenangan,
membaca bacaan ringan yang mendatangkan kesenangan,
kegembiraan sebagai pengisi waktu senggang.
4. Membaca Intensif
Membaca intensif atau intensive reading adalah membaca
dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya
kita kuasai. Yang termasuk dalam membaca intensif adalah :

A. Membaca Telaah Isi :


1. Membaca Teliti
Membaca jenis ini sama pentingnya dengan
membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu
membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
2. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman (reading for understanding)
adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami
tentang standar-standar atau norma-norma kesastraan,
resensi kritis, dan pola-pola fiksi.
3. Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang
dilakukan secara bijakasana, mendalam dengan tujuan
untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna
baris-baris, makna antar baris, maupun makna balik baris.
4. Membaca Ide
Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca
yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-
ide yang terdapat pada bacaan.
5. Membaca Kreatif
Membaca kreatif adalah kegiatan membaca yang
tidak hanya sekedar menagkap makna tersurat, makna antar
baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil
membacanya untuk kehidupan sehari-hari.
B. Membaca Telaah Bahasa :
Membaca Bahasa (Foreign Language Reading)
Tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya
kata dan mengembangkan kosakata Membaca Sastra. Dalam
membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada
penggunaan bahasa dalam karya sastra. Apabila seseorang dapat
mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya
sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat
membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.
(Rohim,2008.pengajaran membaca di sekolah dasar)

Membaca Pemahaman
Teknik Membaca PQRST
Teknik membaca PQRST adalam teknik membaca
pemahaman yang bertujuan untuk memahami beberapa unsur yang
terdapat dalam sebuah bacaan yang dalam hal ini adalah cerpen.
Teknik membaca PQRST memiliki beberapa tahapan, yaitu:
1. Prepare ( P ) artinya peninjauan terhadap bacaa yang
akan dibaca.
2. Question ( Q ) artinya membuat beberapa pertanyaan
yang berkaitandengan bahan bacaan
3. Read ( R ) artinya membaca seluruh bagian dari bahan
bacaan dan menyesuaikan dengan beberapa pertanyaan
yang telah dibuat dalam tahap Question.
4. Summerize ( rangkuman ) artinya membuat sebuah
rangkuman dari bahan bacaan yang telah dibaca.
5. Test ( T ) artinya memeriksa dan menguji rangkuman
dengan bahan bacaan yang bertujuan untuk
menyesuaikan rangkuman yang telah dibuat dengan
bahan bacaan apakah sudah sesuai atau tidak.
SQ3R ialah teknik membaca pemahaman agar pembaca dapat
menyerap isi bacaan dengan lebih sempurna.
SQ3R, merupakan kepanjangan dari
S= survey , mengamati atau meneliti
Q=question = bertanya, pertanyaan
R=read, membaca
R=recount, menceritakan
R=review, meninjau kembali

Langkah-langkah SQ3R
Survey:
Yang dimaksud survey pada langkah pertama ini ialah
meneliti buku yang akan dibaca, bagian buku yang perlu diteliti
ialah :Judul buku dan sub judul, kata pengantar, daftar isi, daftar
gambar, struktur buku atau organisasi buku, bab pertama sampai
bab terakhir pada buku, grafik, bagan, diagram, gambar buku,
daftar pustaka..
Cara meneliti buku tersebut dilakukan dengan membaca cepat atau
membaca sekilas.

Question:
Yang dimaksud question ialah pertanyaan-pertanyaan yang
muncul pada waktu pembaca melakukan langkah pertama yaitu
pertanyaan tentang :
Isi bacaan, contoh-contoh bacaan, penalaran bacaan,komponen-
komponen yang melatar belakangi bacaan, rangkuman pada
bacaan, bobot pembahasan, ruang lingkup permasalahan dalam
bacaan.

Read:
Yang dimaksud read ialah kegiatan membaca buku secara
keseluruhan, dari bab pertama sampai bab terakhir.Proses
membaca ini dilakukan secara cermat,teliti dan kritis.
Kegiatan membaca read, ini merupakan proses mencari jawaban
atas pertanyaan pada langkah kedua , diharapkan semua pertanyaan
pembaca terjawab setelah ia membaca isi buku secara keseluruhan.
Yang dilakukan pembaca dalam proses read ini ialah ; memahami
topik pada bacaan, gagasan utama dan gagasan penunjang,
organisasi bacaan, kerangka bacaan, urutan atau pola urutan,
bagian tema penunjang /tema bawahan.

Ricite
Yang dimaksud ialah menceritakan kembali bacaan yang
telah dibacanya ; dalam hal ini ada dua langkah;
1. Jika pembaca dapat menceritakan kembali bacaan itu secara
baik, maka ia dikatakan sebagai pembaca yang berhasil,. Pembaca
yang berhasil itu dapat melanjutkan langkah tingkat review pada
tahapan terakhir.
2. Jika pembaca tidak dapat menceritakan kembali bacaan yang
telah dibacanya, maka ia dikatakan pembaca yang gagal. Pembaca
yang gagal tidak diperkenankan melanjutkan ke langkah yang lebih
tinggi. Pembaca ini mengulang pada langkah yang ke tiga.
Demikian selanjutnya bagi pembaca yang mengalami kegagalan.

Review
Yang dimaksud review ialah membaca ulang buku yang
telah dibacanya, tujuan review ialah :
1. Membetulkan kesalahan yang dilakukan
2. Mencocokkan kembali apa yang telah diingat dengan yang
aslinya.
3. Membenahi ulang pada materi bacaan yang hilang dari ingatan
pembaca.
Hal-hal yg harus di perhatikan agar materi yg diajarkan mudah
dipahami oleh siswa :
- merumuskan tujuan instruksional khusus yang luas
- mengidentifikasi dan memahami karakteristik siswa
- menyusun bahan materi dengan menggunakan bahan pengait
(advance organizer)
- menyampaikan bahan dengan memberi keterangan singkat dengan
menggunakan papan tulis, memberikan contoh-contoh yang
kongkrit dan memberikan umpan balik, memberikan rangkuman
setiap akhir pembahasan materi
- merencanakan evaluasi secara terprogram.
(Zulela,2012.Pembelajaran bahasa indonesi
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD khususnya kelas tinggi, akan


menjadi sangat efektif, bermakna, dan berhasil mencapai tujuan jika guru
mempertimbangkan berbagai faktor yang ada pada siswanya seperti motivasi, tipe
belajar, lingkungan belajar yang disenangi, kelemahan dan kelebihan yang
dimiliki siswa.
Peran aktif guru dalam penyampaian materi pelajaran Bahasa Indonesia di
kelas tinggi sangat menentukan diterima atau tidaknya pesan dan informasi oleh
siswa. Kesalahan-kesalahan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia harus
dapat dijadikan motivasi siswa untuk belajar memperbaiki kesalahan tersebut dan
mengetahui kebenaran atas kesalahan tersebut. Di sinilah peran guru untuk
meluruskan dan mengarahkannya.
Teknik teknik yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia
antara lain : teknik ceramah, teknik Tanya jawab, teknik diskusi kelompok, teknik
pemberian tugas, teknik bermain peran, teknik karya wisata dan teknik sinektik.

B. Saran
Kita sebagai calon guru yang akan mengajar di sekolah Dasar hendaknya
mengetahui tentang apa saja yang harus dipahami oleh kita sebagai calon guru.
Jangan sampai kita mengajar dengan asal asalan karena itu akan membuat ketidak
nyamanan bagi siswa.
Di biasakan setiap kita akan mengajar kita terlebih dahulu harus
mempunyai rencana pembelajaran atau yang biasa di sebut RPP, mengapa
demikian agar pembelajaran kita terencana. Jadi kita dapat mengetahui tema apa
yang akan di bahas metode apa saja yang akan digunakan dan teknik apa saja
yang akan dipakai. Oleh karena itu kita harus selaku calon guru harus mengetahui
teori-teori tersebut sehingga dapat dituangkan dalam proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda Dadan. 2006. Studi Tentang Penerapan Pendekatan Komunikatif dan


Pendekatan Terpadu dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di
Kelas VI SD Negeri Sukamaju Kabupaten Sumedang. Jurnal
Pendidikan Dasar.Volume No 10
Lamajau Ersida. -. Peningkatan Kemampuan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas

V SDN Sampaka Kec. Bualemo Kab. Banggai Melalui Metode


Diskusi Kelompok. Jurnal Kreatif. Volume 5 No 1.

Rahim, Frida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta : PT Bumi


Akasara

Winataputra, Udin S. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas


Terbuka
Zulela. 2012. Pebelajaran Bahasa Indonesia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
offset