Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT TANAMAN


BAKTERIOLOGI

Oleh:
Nama : Rodifan Maarij F D P
NIM : 145040200111179
Kelompok : C1
Asisten :.

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bakteri merupakan mikroorganisme bersel satu, prokariotik, materi genetic


(DNA), tidak terikat oleh sebuah membrane dan karenanya tidak di atur dalam
inti. Kurang lebih ada 200 jenis yang dapat menyebabkan penyakit pada
tanaman. Patogen bakteri apabila menginfeksi inangnya akan menimbulkan
gejala serta tanda. Gejala akibat infeksi bakteri pada suatu tanaman yaitu dengan
adanya perubahan bentuk morfologis tanaman karena bakteri tersebut
mengganggu proses fisiologis tanaman, gejala tersebut dapat dilihat dengan mata
telanjang. Sedangkan untuk melihat tanda akibat infeksi pathogen bakteri pada
suatu inang biasanya dengan melihat ada tidaknya oose (aliran massa bakter).
Oose dapat dilihat apabila inang yang bergejala tersebut dimasukkan ke dalam
air.

Kebanyakan bakteri merupakan campuran berbagai macam spesies bakteri.


Oleh karena itu perlu dilakukan isolasi pada bakteri guna mempermudah dalam
proes identifikasi bakteri tersebut. Isolasi merupakan cara untuk memisahkan
atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan, sehingga diperoleh kultur
murni atau biakan muri.

1.2 Tujuan

Praktikum Ilmu Penyakit Tanaman aspek bakteriologi bertujuan untuk


melakukan metode isolasi, dan purifikasi bakteri serta uji patogenesitas bakteri
Erwinia carotovora dan Xanthomonas oryzae pv oryzae beserta untuk
mengetahui gejala penyakit yang dapat ditimbulkan.
1.3 Manfaat

Praktikum Ilmu Penyakit Tanaman aspek bakteriologi bermanfaat sebagai


media informasi bagi mahasiswa tentang gejala penyakit, metode isolasi, dan
purifikasi bakteri serta uji patogenesitas bakteri Erwinia carotovora dan
Xanthomonas oryzae pv oryzae.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bakteri

Bakteri berasal dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria) merupakan


kelompok organisme hidup yang paling memenuhi biosfer bumi ini. Bakteri
adalah organisme mikroskopis yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang,
biasanya hanya berukuran 0,2-1 m, meski ada jenis yang dapat menjangkau 0,3
mm, kebanyakan uniselular (bersel tunggal), dengan struktur sel yang relatif
sederhana tanpa inti sel, cytoskeleton, dan organel lain seperti mitokondria dan
kloroplas (Sastrahidayat, 2012).
Bacteria and mollicutes are prokaryotes. These are generally single-called
microorganisms whose genetic material (DNA) is not bound by a membrane and
therefore is not organized into a nucleus (Agrios, 2004).

2.2 Pengertian Patogenesitas Bakteri


Patogenesitas merupakan mekanisme infeksi atau invasi inang oleh bakteri
yang memperbanyak dan berasosiasi dengan inang serta mekanisme
perkembangan penyakit (Pelczar dan Michael, 1998).
A pathogen or pathogenic microorganism is usually defined as a biological
agent that can cause damage to its host during, or as a consequence of, the host
microorganism interaction. Damage may be inflicted directly by the
microorganism (e.g. by toxins or other so-called virulence factors) or indirectly
through the activity of the host immune responses. The ability of the pathogen to
infect is called its pathogenicity. Microorganisms express their pathogenicity by
means of their virulence, a term that refers to the relative, quantitative degree of
pathogenicity (Casadevall and Pirofski, 1999).

II.3 Teknik Perbanyakan Bakteri

Metode-metode yang dapat digunakan untuk membuat biakan bakteri


menurut Rachdie (2008) antara lain teknik dilusi, cawan gores (sterak plate), dan
cawan tuang.
a. Teknik Dilusi (Pengenceran)

Teknik dilusi sangat penting di dalam analisa mikrobiologi. Karena


hampir semua metode perhitungan jumlah sel mikroba mempergunakan teknik
ini. Tujuan dari teknik ini pada prinsipnya adalah melarutkan atau melepaskan
mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya.
Sampel yang telah diambil kemudian disuspensikan dalam akuades steril.

b. Teknik Pour Plate (Lempeng Tuang)

Teknik Pour Plate adalah suatu teknik dalam menumbuhkan


mikroorganisme dalam media agar dengan cara mencampurkan media agar cair
dengan stok kultur. Teknik ini umumnya digunakan pada metode Total Plate
Count (TPC). Sedangkan teknik streak plate adalah suatu teknik dalam
menumbuhkan mikroorganisme dalam media agar dengan cara menggores
(streak) permukaan agar dengan jarum yang telah diinokulasi dengan kultur
mikroba. Teknik ini menjadikan mikroorganisme tumbuh dan tampak pada
goresan-goresan inokulasi bekas jarum (Radchie, 2008).

c. Teknik Streak Plate

Teknik Streak Plate (Rachdie, 2008)

Teknik streak plate (lempeng gores) adalah suatu teknik di dalam


menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menstreak
(menggores) permukaan agar dengan jarum ose yang telah diinokulasikan
dengan kultur bakteri. Dengan teknik ini mikroorganisme yang tumbuh akan
tampak dalam goresan-goresan inokulum bekas dari streak jarum ose (Rachdie,
2008).

II.4 Teknik Inokulasi Erwinia Carotovora

Erwinia carotovora adalah patogen tanaman yang dapat meyebabkan


kematian sel melalui perusakan dinding sel tanaman dengan membuat sel secara
osmosis mudah pecah. Hal ini bisa terjadi akibat produksi PCWDE seperti enzim
pectic ekstrasellular dan sellulase yang menghancurkan pektin dan sellulase.
Supspesies Erwinia Carotovora subsp. Atroseptica dapat menyerang kentang
yang juga dapat menghasilkan nonribosomal peptide phytotoxin yang dapat
meinduksi nekrosis dengan kebocoran elektrolit pada permukaan transmembran.
Gen Eca1043 pada patogen diduga dapat mensintesis dalam jumlah besar, protein
seperti hemagglutinin, pili and protein fimbrial untuk ikatan pada inang. Transfer
genetik horizontal dari gen yang meniru tipe empat sekresi dari Agrobacterium
tumefaciens dapat berpotensi patogen karene mutasi dalam gen ini dapat secara
negatif meninduksi proses virulensi (Astuti, 2012).

II.5 Teknik Inokulasi Bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae

Xanthomonas oryzae menginfeksi tanaman dengan cara masuk kedalam


jaringan tanaman melalui luka, hidatoda, stomata, atau benih yang terkontaminasi.
Penyebarannya pada wilayah persawahan melalui perantara air irigasi. Gejala
yang ditimbulkan oleh bakteri ini tergolong khas, yaitu mulai dari terbentuknya
garis basah pada helaian daun yang akan berubah menjadi kuning kemudian
putih. Gejala ini umum dijumpai pada stadium anakan, berbunga dan pemasakan.
Serangan penyakit pada tanaman muda dinamakan kresek. Bakteri ini memiliki
inang utama padi di berbagai stadia. Bakteri dapat menginfeksi ketika
kerapatannya > 109. Inokulasi dilakukan dengan cara pengguntingan daun padi
untuk pelukaan sebagai jalan masuk bagi infeksi bakteri. Pengguntingan
dilakukan 3-5 cm dari ujung daun menggunakan gunting yang terhubung dengan
botol berisi suspense isolate bakteri dengan selang pipa kecil, dimana suspense
menetes mengaliri gunting secara kontinu melalui selang. Selanjutnya diinkubasi
hingga muncuk gejala tanaman (Wahyudi etc, 2011).

II.6 Proses (mekanisme) Bakteri Menyerang Tanaman.

Patogenisitas merupakan kemampuan patogen untuk dapat menyebabkan penyakit


pada inangnya. Menurut Rochdjatun (2011) terdapat setidaknya 7 cara patogen
bakteri menginfeksi tanaman diantaranya:

a. Adanya enzim dan toksin yang dihasilkan oleh bakteri dapat menganggu
proses metabolism tanaman atau dapat merusakan dinding sel dengan
melarutkan pectin, sehingga permeabilitas dinding sel akan terganggu,
akibatya sel tanaman mati.

b. Apabila permeabilitas dinding sel terganggu maka cairan sel akan keluar
(kadang-kadang sampai ke permukaan jaringan tanaman bersama-sama
bakteri). Disamping sel akan dipakai oleh bakteri sebagian yang lain akan
diuapkan sehingga edisiensi air bagi tanaman akan menurun

c. Pengambilan nutrisi tanaman untuk pertumbuhan bakteri akan mengakibatkan


efisiensi menurun dan pertumbuhan tanaman tidak baik (bakteri rhyzobium
pada kacang-kacangan)

d. Perusakan pada sel-sel parenkim dan jaringan pembuluh sehingga


menghambat aliran air dari akar ke daun.

e. Adanya polisakarida yang dihasilkan oleh bakteri dapat mengakibatkan


penyumbatan, begitu pula substansi-substansi yang dihasilkan oleh tanaman
sebagai reaksinya terhadap serangan penyakit.

f. Terjadinya gall (puru) akan memerlukan tambahan nutrisi atau mengurangi


efisiensi penggunaan nutrisi oleh tanaman, karena terbentuknya jaringan
tanaman yang tidak perlu. Di samping itu dengan adanya pertumbuhan yang
berlebihan, akan mengakibatkan terjadinya tekanan-tekanan pada jaringan di
sekelilingnya sehingga akan merusak jaringa atau paling tidak menghambat
aliran air dalam jaringan pembuluh.

g. Dengan adanya serangan bakter, maka tanaman akan lebih peka terhadap
serangan penyakit lain, baik oleh nematode maupun jamur. Umumnya
serangan bakteri lebih parah apabila terjadi pada tanaman yang muda dari
pada yang lebih tua.
III. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

Alat :

a) Beaker glass 250 ml : untuk wadah aquades


b) Gunting / pisau : untuk memotong spesimen
c) Cawan Petri : untuk wadah media NA
d) Pinset : untuk memindahkan sampel
e) Jarum ose : untuk isolasi bakteri
f) Wrapping : untuk mengcover cawan petri
g) Bunsen : untuk sterilisasi alat
h) Suntikan : untuk memasukkan suspensi ke kentang
i) Nampan : untuk tempat inkubasi

Bahan :

a) Tanaman bergejala : sumber pathogen yang diisolasi


b) Alkohol : untuk sterilisasi
c) Aquades : membersihkan bahan yang diuji
d) Tissue : meniriskan bahan dan membersihkan sekitar
e) Wrapping : membungkus / menutup tepian cawan petri
f) Media NA : sebagai media untuk perbanyakan
g) Umbi kentang : sebagai bahan pengujian (inang)
h) Umbi wortel : sebagai bahan pengujian (inang)
i) Padi sehat : sebagai bahan pengujian (inang)
j) Erwinia caratovora : sebagai suspensi yang akan diujikan
k) Xanthomonas oryzae : sebagai suspense yang akan diujikan
3.2 Cara Kerja

3.2.1 Perbanyakan Bakteri


a Diagram Alir
Bakteri diinkubasi selama 24 jam pada me

Koloni yang tumbuh diambil menggunakan jarum ose, selanjutnya distr

b Analisa Perlakuan
Pada praktikum yang dilakukan ini, digunakan bakteri Bakteri
Erwinia carotovora dan Xanthomonas oryzae pv oryzae yang sudah
diisolasi sebelumnya. Untuk memperoleh biakan murni dan koloni
tunggal, yang dilakukan adalah melakukan streak penuh pada media yang
baru untuk memperoleh biakan tunggal yang murni.

3.2.2 Uji Patogenesitas Bakteri


a Diagram Alir
1 Pembuatan Suspensi

Mengambil 2 goresan isolat bakteri Erwinia carotovora dan goresan Xanthomonas oryzae pv

Mencampurkan isolat Erwinia carotovora dengan 1 ml aquades ke dalam microtube dan XOO dengan

Kocok sampai tercampur (larutan menjadi keruh)


2 Inokulasi Bakteri Erwinia carotovora dan XOO
Mencuci umbi kentang, wortel dan

Suntikan masing-masing suspensi bakteri menggunakan micropipet pada kentang dan wortel, denga

Simpan di dalam nampan dan tutup m

b Analisa Perlakuan
1 Pembuatan Suspensi
Pembuatan suspensi bakteri ini dilakukan untuk memudahkan saat
inokulasi bakteri ke umbi nantinya. Dibutuhkan kira-kira 2 goresan isolat
bakteri ke dalam 1 ml aquades. Untuk mendapatkan suspensi bakteri,
larutan dikocok sampai keruh. Sedangkan pada bakteri XOO diperlukan
beberapa goresan isolat dalam 10 ml aquades sampai aquades menjadi
keruh.
2 Inokulasi Bakteri
Inokulasi ke tanaman ini dilakukan untuk menguji patogenisitas
bakteri terhadap tanaman. Langkah yang dilakukan adalah dengan mencuci
2 kentang dan 2 wortel dengan air mengalir serta 2 helai daun padi sehat.
Selanjutnya adalah dengan mencuci wortel, kentang dan daun padi ke
dalam laturan NaOCl selama 10 menit, perlakuan ini dilakukan untuk
membunuh mikroba yang tersisa di permukaan kentang dan wortel. Setelah
10 menit, kentang, wortel dan daun padi dibilas dengan aquades dan
ditiriskan. Suspensi yang telah dibuat, dimasukkan ke dalam micropipet.
Suntikan masing-masing suspensi bakteri menggunakan micropipet pada
kentang dan wortel, dengan perlakuan kontrol (suntikan aquades) dan non-
kontrol (suntikan bakteri) masing-masing 2 kali suntikan sebanyak 1 ml
suspensi setiap lubang. Sedangkan inokulasi pada daun padi adalah dengan
merendam daun padi ke dalam suspensi bakteri XOO. Simpan di dalam
nampan dan tutup menggunakan plastik wraping dan berikan celah sedikit
untuk sirkulasi udara, sedangkan pada daun padi disungkup dengan plastic
dan diletakkan di rumah kawat. Pengamatan dilakukan selama 7 hari dan
mendokumentasikan hasilnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan Pembahasan Purifikasi Bakteri


Purifikasi bakteri didapatkan dari isolate bakteri yang telah diinkubasi.
Setelah diinkubasi selama 1 minggu kedua pathogen yang dipurifikasi memiliki
kenampakan makroskopis yang berbeda, berikut tabel hasil purifikasi :

No Spesimen Dokumentasi Literatur


.
1 Xanthomonas
oryzae pv oryzae

Sumber: Jonit et al. (2016)

Pada hasil pengamatan kenampakan bakteri secara makroskopis bahwa


koloni bakteri berwarna kuning pucat, berbentuk bulat, tekstur halus, elevasi
cembung. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Bradbury, 1984). Koloni bakteri
pada media padat yang mengandung glukosa (glucose yeast extract) agar
berbentuk bulat, cembung, berlendir dan berwarna kuning karena memproduksi
pigmen xanthomonadin yang menjadi karakteristik dari genus ini. Koloni bakteri
pada media NA berbentuk lingkaran, halus, cembung, tidak tembus cahaya, dan
warna awalnya kuning pucat kemudian berubah warna menjadi kuning jerami.
Koloni mencapai 1-2 mm setelah 5-7 haridan kelangsungan hidup bakteri pada
media padat pendek. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Herwati et
al. (2011) makroskopis bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae di atas media
PDA membentuk koloni bulat cembung yang berwarna kuning keputihan sampai
kuning kecoklatan dan mempunyai permukaan yang licin. Sedangkan menurut
Bradbury (1984 dalam Puspitasari, 2014) bahwa koloni bakteri Xanthomonas
oryzae pv oryzae pada media padat yang mengandung glukosa (glucose yeast
extract agar) berbentuk bulat, cembung, berlendir dan berwarna kuning karena
memproduksi pigmen xanthomonadin yang menjadi karakteristik dari genus ini.
Koloni bakteri pada media NA berbentuk lingkaran, halus, cembung, tidak
tembus cahaya, dan warna awalnya kuning pucat kemudian berubah warna
menjadi kuning jerami.
4.2 Hasil dan Pembahasan Uji Patogenesitas Bakteri
Tabel Pengamatan Patogenesitas Bakteri

No Spesimen Dokumentasi Literatur


Sebelum Infeksi Sesudah Infeksi
.
1 Erwinia
carotovora
pada umbi
kentang

Sumber:
Safira (2014) Dokumentasi Pribadi
Sumber: ForestryImage
2 Erwinia
carotovora
pada umbi
wortel

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Safira (2014) Sumber: ForestryImage
3 Xanthomonas
oryzae pv
oryzae pada
daun padi

Dokumentasi Pribadi Sumber: ForestryImage


Sumber:
Safira (2014)

Hasil inokulasi menyebabkan umbi kentang menjadi busuk (gejala soft


root). Kenampakan dari luar terdapat bercak berwarna putih disekitar lubang
yang ditusuk dan ketika umbi dibelah maka terlihat adanya bercak berwarna
coklat disekitar lubang injeksi. Tekstur dari umbi menjadi lunak dan berlendir.
Pada hasil pengamatan daun padi yang telah dinokulasi bakteri terlihat bahwa
daun tanaman padi menjadi kering kecoklatan.

Menurut Astuti (2012) gejala umum yang terjadi pada tanaman umbi-
umbian adalah busuk basah, berwarna coklat atau kehitaman, pada daun, batang,
dan umbi. Pada bagian terinfeksi mula-mula terjadi bercak kebasahan. Bercak
membesar dan mengendap (melekuk), bentuknya tidak teratur, coklat tua
kehitaman. Jika kelembaban tinggi, jaringan yang sakit tampak kebasahan,
berwarna krem atau kecoklatan, dan tampak agak berbutir-butir halus. Di sekitar
bagian yang sakit terjadi pembentukan pigmen coklat tua atau hitam.

Bakteri XOO mampu menginfeksi padi melalui luka akibat pengguntingan


kemudian bergerak dan bermultiplikasi menuju xilem. Hidatoda juga dapat
menjadi jalan masuknya XOO ke dalam tanaman padi. Namun, infeksi patogen
melalui luka lebih mudah dibandingkan melalui hidatoda (Wahyudi et., al, 2011).

Gejala kresek maupun hawar dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-
abuan dan lama-lama daun menjadi kering. Pada varietas rentan, gejala menjadi
sistemik dan mirip gejala terbakar. Apabila penularan terjadi pada saat tanaman
berbunga maka gabah tidak terisi penuh bahkan hampa (Sudir et al., 2012). Sel
bakteri hawar daun masuk ke dalam jaringan tanaman melalui pori-pori atau
stomata pada daun, atau lewat celah/retakan yang terjadi akibat pertumbuhan
tanaman, seperti munculnya akar. Setelah masuk ke jaringan tanaman, bakteri
lalu memperbanyak diri atau tumbuh, kemudian menyerang sistem vaskuler
tanaman. Cairan yang mengandung bakteri akhirnya keluar ke permukaan daun
pada daerah yang terbentuk lesi/luka. Pada helaian daun, cairan bakteri akan
terlihat seperti embun susu. Selanjutnya, lesi akan berubah menjadi kuning
keputihan dan daun mongering (Tasliah, 2012).

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Hasil dari pengamatan bakteri patogen dengan 3 sampel tanaman bergejala


memiliki hasil yang berbeda pada setiap perlakuan. Kenampakan makroskopis
koloni bakteri memiliki warna putih dan kekuningan. Pada uji patogenesitas,
bakteri patogen XOO yang menimbulkan gejala nekrosis yang timbul pada daun
padi yang diinfeksikan. Pada E. carotovora menunjukkan gejala busuk kebasahan
dan lunak pada umbi kentang dan wortel.

5.2 Saran

Mungkin saran untuk praktikumnya adalah kondisi ruangan agar lebih


kondusif.

DAFTAR PUSTAKA
Agrios. 2004. Plant Pathology. London: Elsevier Academic Press.

Astuti, Dian tria. 2012. Erwinia caotovora. http: //diantrias. blogspot. com/2012/12 /
erwinia-carotovora.html. diakses tanggal 30 April 2017

Casadevall A. and Pirofski L.A. 1999. HostPathogen Interactions: Redefining the


Basic Concepts of Virulence and Pathogenicity. Infect Immun 67: 37033713.

Devi, R.K., Aini, L.Q., dan Abdi, A.L. 2013. Uji Metode Inokulasi Dan Patogenisitas
Blood Disease Bacterium (Bdb) Pada Buah Pisang (Musa Sp.). Jurnal HPT
Volume 1 Nomor 1 April 2013

Khoshkdaman. M, Ali Akbar Ebadi, Danial Kahrizi. 2012. Evaluation of


pathogencity and race classification of Xanthomonas oryzae pv. oryzae in Guilan
provinceIran. Department of Plant Pathology, Rice Research Institute of
Iran (RRII), Rasht, Iran. Vol.3, No.4, 557-561 (2012) Agricultural Sciences
http://dx.doi.org/10.4236/as.2012.34066

Pelczar dan Michael. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jilid 2. Jakarta: Universitas


Indonesia.
Rachdie. 2008. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba.
http://rachdie.blogsome.com/2006/10/14/faktor-yang-mempengaruhi-
pertumbuhan-mikroba/. Diakses 05 2017

Rianawati, S., S. Kartikaningrum, dan Suryanah. 2012. Metode Pengujian Ketahanan


Phalaenopsis Hasil Silangan F1 Terhadap Infeksi Erwinia Carotovora Subsp.
Carotovora Secara In Vitro. Prosiding Seminar Nasional Anggrek 2012. Balai
Penelitian Tanaman Hias.

Rustam. 2017. Uji Metode Inokulasi dan Kerapatan Populasi BloodDisease


Bacterium pada Tanaman Pisang. J. Hort. 17(4):387-392, 2007

Sastrahidayat, I.R. 2012. Fitopatologi. UB Press: Malang.


Tri,A.W; Meliah,S; Asih,A.N. 2011. Xanthomonas oryzae pv oryzae Bakteri Hawan
Daun pada Padi: Isolasi, Karakterisasi, dan Telaah Mutagenesis dengan
Transposon. Bogor: Departemen Biologi Fakultas MIPA IPB.

Semangun, Haryono. 2007. Penyakit-Penyakit Tanaman Holtikultura di


Indonesia.Gajah Mada. University Press. Bulak Sumur : Jogyakarta.

Soetoro. H, Atje. Cahyaniati. 1994. Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan


Secara Terpadu Pada Tanaman Kubis. Direktorat Jendral Pertanian Tanaman
Pangan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman : Jakarta

Tasliah. 2012. GEN KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP BAKTERI HAWAR


DAUN (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) Resistance Gene on Rice to
Bacterial Leaf Blight Caused by Xanthomonas oryzae pv. Oryzae. Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik
Pertanian. J. Litbang Pert. Vol. 31 No. 3 September 2012: 103-112
Triny, S.K. 2011. Penyakit hawar daun bakteri dalam tonggak kemajuan teknologi
produksi tanaman pangan. Bogor: Paket dan Komponen Teknologi Produksi
Padi.
Wahyudi, Aris Tri, Siti Meliah, Abdjad Asih. 2011. Xanthomonas oryzae pv. oryzae
Bakteri Penyebab Hawar Daun pada Padi: Isolasi, Karakterisasi, dan Telaah
Mutagenesis dengan Transposon. MAKARA, SAINS, VOL. 15, NO. 1,
APRIL 2011: 89-96.

Walton Richard E, Toerbinejed M,ed 2008. Prinsip dan praktik ilmu endodonsia 3th
ed. Alih bahasa. Sumawinata N, Juwono L, ed Jakarta: Penerbit Buku
kedokteran, EGC; p. 243-7.