Anda di halaman 1dari 12

Versi Bahasa Indonesia

AN INTRODUCTION TO METALLURGY
PROCESSING
MINERAL PROCESSING, METAL WORKING, MATERIAL
IAL TESTING, AND
CORROSION PROTECTION

Muhammad Joshua YB | 1406563866 | 21 Juni 2015


Versi Bahasa Indonesia

PENGANTAR PROSES-PROSES METALURGI

Pemrosesan Mineral, Pengerjaan Logam, Pengujian Material, Dan Perlindungan Korosi

Metallurgy merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat kimia dari suatu logam dan cara
pemerosesanya mulai dari mineral sampai menjadi produk jadi. Kata Metallurgy sebenarnya
berasal dari bahasa Yunani Metallougos yang merupakan istilah yang digunakan oleh ahli
kimia untuk mendeskripsikan mineral processing atau ekstraksi logam dari mineral. Pada masa
modern istilah metalurgi mulai meluas pengertian dan kajianya menjadi ilmu yang mempelajari
tentang logam, mulai dari proses pengambilanya dari mineral, pengolahan bijih logam,
manufaktur, karakterisasi material, hingga rekayasa material.

Mineral Processing (Pemrosesan Mineral)

Mineral Processing merupakan tahap awal dari pemrosesan material. Mineral processing
atau biasa juga disebut mineral dressing masuk dalam kategori metalurgi ekstraksi. Metalurgi
ekstraksi ini mencakup proses dan metode dari pengekstraksian logam dari tambang mineral di
alam. Yaitu seperti pemurnian mineral, pemisahan, proses-proses kimia, dan ekstraksi logam
murni dari paduanya. Setiap jenis logam membutuhkan metode ekstraksi yang berbeda, oleh
karena itu kajian metalurgi ekstraksi sangat bervariasi dan berkembang tergantung dari jenis-
jenis logam yang tersedia di alam.

Secara umum proses Metalurgi Ekstraksi dibagi menjadi tiga.

1.Pirometalurgi

Proses pirometalurgi merupakan pengambilan logam dari bijihnya dengan menggunakan


temperatur tinggi dimana terjadi reaksi kimia antara fase gas, solid (padat) ,dan cair. Proses
pirometalurgi yang melibatkan fase gas dan padat disebu calcining dan rosting. Sedangkan
proses yang menghasilkan fase cair disebut smelting.

2. Elektrometalurgi

Proses elektrometalurgi merupakan proses ekstraksi dan pemurnian yang melibatkan


energi listrik sebagai dasar dalam proses ekstraksi. Elektrometalurgi melibatkan prinsip
Versi Bahasa Indonesia

elektrolisis dan elektrokimia. Proses yang paling umum dalam elektrometalurgi adalah
electrowinning dan electro-refining.

3. Hidrometalurgi

Proses hidrometalurgi merupakan proses yang melibatkan larutan aqueous untuk


mengekstraksi logam dalam bijihnya. Proses pertama dalam hidrometalurgi adalah leaching,
yaitu dengan cara menguraikan bijih logam dalam larutan air atau pelarut lainnya. Setelah itu
larutan mengalami berbagai macam proses pemurnian dan penguatan konsentrasi sebelum logam
tersebut diambil baik dalam keadaan logam murni maupun sebagai senyawa kimia. Proses ini
meliputi precipitation, distilasi, adsorpsi, dan ekstraksi larutan.

Sedangkan untuk mineral processing sendiri memiliki unit-unit operasi pemrosesan mineral,
beberapa diantaranya sebagai berikut.

1. Penumbukan (comminution)

Penumbukan merupakan operasi pertama dalam pemrosesan mineral. Mineral yang


diambil dari alam direduksi ukuranya dengan berbagai cara agar ukuranya sesuai dan lebih
mudah untuk diproses dalam proses-proses ekstraktif selanjutnya. Cara yang paling umum
adalah dengan dihancurkan (crushing) dan digiling (grinding). Reduksi ukuran partikel
dilakukan dengan tiga jenis kekuatan: kompresi, impak, dan atrisi.

2. Sizing

Sizing merupakan proses utama dalam pemisahan partikel yang menggunakan dasar
perbedaan ukuran partikel. Salah satu prosesnya yaitu screening, yaitu dengan cara
melewatkan partikel melewati penyaring. Proses screening ini bias dilakukan secara statis
(hanya partikel yang bergerak) ataupun dinamis dengan penambahan goncangan.

3. Concentration

Concentration adalah proses peningkatan konsentrasi kandungan logam agar menjadi


layak untuk dilakukan proses ekstraksi logam. Proses dan metodenya sangat bervariasi
tergantung dari sifat fisika dan kimia dari mineral tersebut.
Versi Bahasa Indonesia

4. Gravity Separation

Gravity Separation merupakan proses pemisahan mineral berdasarkan berdaan gravitasi


spesifik dari setiap mineral yang berbeda. Pemisahanya dilakukan cara menggunakan media
tertentu seperti fluida kental maupun media buatan seperti spiral separators.

5. Flotasi buih (Froth flotation)

Flotasi buih merupakan proses yang penting dalam peningkatan konsentrasi mineral. Proses
ini dapat digunakan untuk memisahkan dua partikel yang berbeda dan dilakukan berdasarkan
reaksi kimia permukaan dari partikel.

Metal Working (Pengerjaan Logam)

Metal Working atau pengerjaan logam merupakan proses dalam pengerjaan


(pembentukan) logam untuk menghasilkan baik bahan setengah jadi maupun bahan jadi.
Pengerjaan logam telah berevolusi dari masa ke masa mulai dari proses peleburan bijih logam,
produksi logam mampu tempa yang ulet, sampai rekayasa material dengan konsep dan peralatan
modern. Secara umum proses pengerjaan logam dibagi menjadi tiga: proses deformasi,
pengecoran , pembentukan lain. Klasifikasi proses pembentukan logam digambarkan dalam
bagan berikut.

Pembentukan Logam
Versi Bahasa Indonesia

Proses Deformasi Pengecoran Pembentukan Lain

Penempaan Pengecoran pasir Metalurgi serbuk


(forging) (sand casting) Pengelasan
Pengerolan Pengecoran
Ekstrusi bertekanan (die
Penarikan casting)
Investment
Casting
Continuous
Casting

Figur 1.0 Klasifikasi


ikasi proses pembentukan logam.

Sumber : Diadaptasi dari Bondan T. Sofyan, Pengantar Material Teknik.. (Penerbit Salemba Teknika:
2011), Figur 4.8.

1. Proses Deformasi

Proses deformasi (pembentukan) merupakan proses pengubahan bentuk logam dengan


cara mekanis seperti penempaan (forging),, pengerolan, penekanan, penarikan kawat (wire
drawing), dan ekstrusi. Proses ini membutuhkan tegangan yang besar dimana agar material
mengalami perubahan bentuk maka tegangan harus melebihi dari tegang
tegangan
an luluh material yang
diproses. Keterlibatan tegangan yang tinggi dalam proses deformasi membutuhkan keuletan yang
tinggi dari
ari material tersebut sehingga tidak mengalami retak atau pecah saat proses berlangsung.

Proses pembentukan terbagi menjadi dua macam.

1. Proses pembentukan dingin ((cold forming) , jika proses dilakukan pada suhu kamar.
2. Proses pembentukan panas ((hot forming) , jika proses dilakukan pada suhu tinggi, di atas
suhu rekristalisasi.

Pada proses pembentukan panas pendeformasian logam menjadi lebih mudah karena
tegangan yang dibutuhkan relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan tegangan yang
dibutuhkan dari proses pembentukan dingin dan logam dapat dideformasi lebih besar. Namun
dalam suhu yang tinggi lapisan kerak (oksida) dipermukaan logam yan
yangg diproses akan mudah
Versi Bahasa Indonesia

terbentuk, dikarenakan pada suhu yang tinggi logam akan mudah teroksidasi oleh udara.
Sebaliknya, permukaan logam yang diproses akan relatif tetap mulus pada proses pembentukan
dingin. Meskipun derajat deformasinya lebih rendah, pada proses pembentukan dingin sifat
mekanis logam akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Figur 1.1 Ilustrasi proses penarikan kawat sebagai proses deformasi logam.

Sumber : http://ardra.biz/wp-content/uploads/2011/10/Zona-Deformasi-Wire-Drawing.jpg

2. Pengecoran

Pengecoran adalah proses fabrikasi logam dengan cara logam dicairkan dan kemudian
dituangkan ke dalam cetakan yang memiliki bentuk sesuai desain yang diinginkan. Teknik
pengecoran umumnya digunakan untuk membuat komponen-komponen yang besar dan memiliki
bentuk rumit, serta sering digunakan pada material yang memiliki keuletan rendah yang tidak
dapat dibentuk pada proses deformasi. Secara ummmum, proses pengecoran relatif lebih
ekonomis jika dibandingkan dengan proses deformasi.

Beberapa teknik pengecoran antara lain sebagai berikut.

1. Pengecoran pasir (sand casting), menggunakan cetakan pasir


2. Pengecoran bertekanan (die casting), logam cair yang dimasukkan ke dalam cetakan
diberi tekanan, dan pembekuan terjadi dalam kondisi bertekanan.
3. Investment casting atau lost-wax casting, lubang cetakan dibuat dari plastik yang
kemudian dicelupkan kedalam campuran silika atau campuran keramik lainnya. Setelah
Versi Bahasa Indonesia

dipanaskan plastik akan meleleh dan meninggalkan lubang cetakan sesuai bentuk yang
diinginkan.
3. Metalurgi Serbuk

Metalurgi serbuk atau dikenal dengan powder metallurgy merupakan proses


pembentukan material logam dengan cara material logam tersebut dibuat menjadi serbuk dengan
berbagai teknik. Kemudian, serbuk ini ditekan (kompaksi) ke dalam suatu cetakan yang memiliki
bentuk sesuai dengan desain. Serbuk yang telah memiliki bentuk setelah proses kompaksi
disebut bakalan (green). Bakalan kemudian dipanaskan agar terjadi difusi antarserbuk logam
sehingga menyatu, proses ini disebut sintering (penyinteran). Penyinteran dilakukan hingga suhu
mendekati titik lebur dari serbuk logam tersebut. Pada umumnya penyinteran berlangsung di
dalam tanur yang dipanaskan secara elektris, sedangkan oksidasi dicegah dengan gas pelindung
atau didalam ruang hampa.
Dalam beberapa kasus masih perlu dilakukan lagi kalibrasi agar mendapatkan ketepatan
ukuran yang lebih presisi yaitu berupa perbaikan permukaan. Perbaikan permukaan dilakukan
dengan pemenuhan pori-pori dengan bahan pelumas atau logam yang titik leburnya rendah
(misalnya, tembaga). Ciri khas terpenting dari bahan yang disinter ialah berat jenis dan jumlah
ruang pori-pori yang bergantung padanya. Berdasarkan hal ini maka dibentuklah enam kelas
berat jenis dengan huruf-huruf tanda A, B, C, D, E, F. Berat jenis dan kekuatan meningkat tanpa
bergantung pada jenis bahan sejalan dengan urutan huruf. Sebutan singkat untuk bahan sinter
terdiri atas singkatan SINT, sebuah huruf besar (kelas berat jenis), dan 2 angka yang
menunjukkan bahan.

Tabel 1.0 Klasifikasi bahan sinter berdasarkan berat jenis.


Sint A Sint B Sint C Sint D Sint E Sint F
Berat Jenis Sangat Rendah Normal Tinggi Sangat Tidak
rendah tinggi berpori
Kekuatan Sangat Kecil Besar Sangat Sangat Terbesar
kecil besar besar
Penggunaan Saringan Bantalan Bagian Konstruksi Bagian Konstruksi
luncur normal kecil
Versi Bahasa Indonesia

Sumber : Diadaptasi dari Alois Schnmetz, fachkunde fur Metallberufe Wekstoffkunde fertigun von
Halbzeugen, Chemische Grundbegriffe, Physikalische Grundbegriffe, Maschinenelemente. (Bohmann Verlag AG,
Wina: 1985). Hal 114.

Material Testing (Pengujian Material)

Setiap konstruksi harus dihasilkan dengan pengorbanan biaya sekecil mungkin, untuk itu
berbagai macam tuntutan harus diselesaikan dengan memilih bahan yang cocok. Oleh karena itu,
sifat-sifat material seperti kekuatan, keuletan kekerasan, dan lain sebagainya harus diketahui dan
tingkah lakunya harus diuji pada persyaratan pengoperasian tertentu. Pengujian material juga
berfungsi untuk menyidik kesalahan bahan yang dapat muncul pada saat pembuatan dan
pengolahan.

Beberapa elemen berbagai cara pengujian material menurut Smallman dijelaskan sebagai
berikut. (Smallman 1999).

1. Uji Tarik
Pada uji Tarik, kedua ujung benda uji dijepit; salah satu ujung dihubungkan
dengan perangkat pengukur beban dari mesin uji dan ujung lainnya dihubungkan ke
perangkat peregang. Regangan diterapkan melalui kepala-silang yang digerakan motor
dan elongasi benda uji ditunjukkan dengan pergerakan relatif dari benda uji.
2. Pengujian kekerasan indentasi
Kekerasan logam, didefinisikan sebagai ketahanan terhadap penetrasi, dan
memberikan indikasi cepat mengenai perilaku deformasi. Alat uji kekerasan menekankan
bola kecil, piramida, atau kerucut ke permukaan logam dengan beban tertentu, dan
bilangan kekerasan (Brinell atau piramida inntan Vickers) diperoleh dari diameter jejak.
3. Pengujian impak
Material mungkin mempunyai kekuatan Tarik tinggi tetapi tidak tahan terhadap
beban kejut. Untuk menentukannya perlu dilakukan ujji-ketahanan-impak. Ketahanan
impak biasanya diukur dengan uji impak Izod atau Charpy terhadap benda uji bertakik
Versi Bahasa Indonesia

atau tanpa takik. Pada pengujian ini beban diayunkan dari ketinggian tertentu dan
mengenai benda uji, kemudian diukur energy disipasi pada patahan.
4. Pengujian creep
Creep adalah aliran plastis yang dialami material pada tegangan tetap. Meskipun
sebagian besar pengujian dilakukan dengan kondisi beban tetap, tersedia peralatan yang
mampu mengurangi pembebanan selama pengujian sebagai kompensasi terhadap
pengurangan penampang benda uji. Pada temperatur yang relatif tinggi, creep terjadi
pada semua level tegangan, tetapi pada temperatur tertentu laju creep bertambah dengan
meningkatya tegangan.
5. Pengujian fatik
Gejala fatik berkaitan dengan perpatahan dini yang dialami logam yang menerima
tegangan rendah secara berulang-ulang. Gejala fatik ini sangat penting pada berbagai
bidang rekayasa (misalnya pada konstruksi pesawat terbang). Telah tersedia berbagai
jennies mesin uji di mana tegangan diterapkan dengan cara tekuk, torsi, Tarik, atau
kompresi.
6. Pengujian keramik
Umumya terhadap keramik tidak dilakukan pengujian-tarik-langsung karena
keramik sangat peka terhadap cacat permukaan. Oleh karena itu, pada keramik dan gelas
diterapkan uji lentur. Pada metode uji lentur tiga-titik dan empat titik, specimen
berbentuk batang ditempatkan pada tumpuan dan dengan hati-hati diterapkan beban dan
laju regangan konstan.

Figur 1.2 Ilustrasi uji lentur terhadap benda uji keramik.

Sumber : http://www.ilmutekniksipil.com/

Corrosion Protection (Perlindungan Korosi)


Versi Bahasa Indonesia

Kebanyakan logam seiring dengan berjalanya waktu pada permukaanya yang tidak
terlindungi menunjukkan perubahan-perubahan, yang dalam banyak kasus mengakibatkan
penguraian yang melaju dari luar ke dalam, perusakan ini disebut korosi. Penyebab korosi ini
berupa kejadian yang sebagian bersifat kimiawi murni, sebagian lagi bersifat elektrokimia.
Korosi kimia murni terjadi akibat pengaruh zat asam udara (oksidasi) seperti juga asam, laruta
alkali, dan garam (Schnmetz, 1985). Sedangkan korosi elektrokimia berdasarkan atas
penguraian logam oleh arus galvanis halus. Peristiwa ini dapat terjadi jika terdapat dua benda
logam yang berlainan dan dapat berfungsi seperti sebuah unsur (elemen) galvanis (Schnmetz,
1985).

Secara umum beberapa cara untuk melindungi permukaan dari korosi diuraikan sebagai berikut
(Schnmetz, 1985).

1. Peminyakan dan penggemukan dengan minyak mineral bebas asam atau suatu pelaburan
dengan lak yang dapat dicuci.
2. Laburan, yaitu dengan menghamparkan satu atau beberapa kali bahan pelabur sebagai
lapisan dasar, antara, atau penutup.
3. Selubung bahan tiruan , selubung ini merupakan sebuah lapisan yang kedap udara
dengan tebal yang sesuai dengan keiinginan. Penerapaya sangat cocok pada tenunan
kawat, wadah industri bahan pangan, dan perlindungan bagian-bagian mesin pada
pengiriman jangka panjang.
4. Selubung ter,pek, atau aspal, selubung ini dilaburkan pipa baja yang diinstalasikan dalam
tanah.
5. Pengemailan, Lapisan email terdiri atas bubuk gelas dan zat warna yang dikenakan pada
permukaan benda kerja yang polos melalui penyelupan atau penyemprotan dan dibakar
dalam tanur pengemailan pada suhu 600oC-900oC.
6. Perlindungan permukaan secara kimiawi, yaitu perlindungan korosi dengan cara
melapisi material dengan larutan kimia yang dapat memberikan ketahan terhadap korosi
seperti minyak cat, minyak mineral, asam belerang, dan etsa.
7. Selubung logam, Logam pelindung yang cocok dihamparkan pada permukaan yang akan
dilindungi melalui penyelupan,penyemprotan,penggilingan (pemelatan) atau dengan
galvanisasi.
Versi Bahasa Indonesia
Versi Bahasa Indonesia

REFERENSI

1. Smallman, R.E. 1991. Metalurgi Fisik Modern. Jakarta: Penerbit PT Gramedia


Pustaka Utama.
2. T. Sofyan, Bondan. 2011. Pengantar Material Teknik. Jakarta: Penerbit Salemba
Teknika.
3. Callister Jr., W.D. 2004. Fundamentals Of Materials Science and Engineering :
An Integrated Approach, 3rd ed. John Wiley & Sons, Inc.
4. Schnmetz, Alois. 1985. Fachkunde fur Metallberufe Wekstoffkunde Fertigng
von Halbzeugen, Chemische Grundbegriffe, Physikalische Grundbegriffe,
Maschinenelemente. Wina: Bohmann Verlag AG.