Anda di halaman 1dari 9

I.

KONDISI UMUM WILAYAH

3.1 Lokasi, Administrasi Wilayah


Pelaksanaan fieldwork Survei Tanah dan Evaluasi Lahan yaitu pada tanggal 28 - 30
April 2017 yang bertempat di daerah hutan konservasi pinus di UB Forest yang berada di
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. UB Forest berbatasan terhadap Kota Batu dan
Kabupaten Malang. UB Forest terletak di sebelah selatan kaki Gunung Arjuno dengan luas
wilayah 1.298,018 ha. Secara geografis Desa Donowarih berada pada titik koordinat
11203506-11203753 BT dan 705514-705227LS. Secara topografi Desa Donowarih
berada di ketinggian 600 m 850 m di atas permukaan laut.
Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, penentuan titik koordinat pada titik
pengamatan menggunakan GPS didapatkan titik 1 dengan longitude 9134130 BT dan latitude
674261 LS/LU. Pada titik 2 diperoleh hasil longitude 9134130 BT dan latitude 674187
LS/LU. Pada titik 3 diperoleh hasil longitude 9134130 BT dan latitude 674117 LS/LU. Pada
titik 4 diperoleh hasil longitude 9134200 BT dan latitude 674117 LS/LU. Pada titik 5
diperoleh hasil longitude 9134270 BT dan latitude 674117 LS/LU.
Desa Donowarih dibatasi oleh wilayah desa dan hutan. Di sebelah utara berbatasan
dengan Desa Bocek dan hutan lindung, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Girimoyo,
di sebelah selatan berbatasan dengan desa Pendem Kecamatan Junrejo Kota Batu, dan di
sebelah barat berbatasan dengan Desa Tawangargo.
Kecamatan Karangploso mempunyai jumlah penduduk kurang lebih 55.409 jiwa
dengan 9 desa, 46 dusun, 105 RW, dan 485 RT. Sarana pendidikan di daerah tersebut yaitu
terdapat 31 TK, 30 SD, 12 SMP, 4 SMA dan 2 Perguruan Tinggi. Untuk sarana kesehatan
terdiri dari 3 Puskesmas, 61 Posyandu, 5 Polindes, 8 praktek bidan, dan 5 toko obat. Untuk
wisata yang terdapat pada Kecamatan Karangploso yaitu Wisata Gunung Mujur (BPS, 2015).
3.2 Fisiografi Lahan
Fisiografi merupakan deskripsi bentuk lahan atau medan yang mencakup aspek fisik
(abiotik) dari lahan. Pengamatan fisiografi lahan meliputi pengamatan relief makro, relief
mikro, kemiringan, aliran permukaan, drainase alami, permeabilitas, Genangan/banjir,
pengelolaan air, erosi beserta kelas erosinya, bahaya erosi, padas, kontak, keadaan
permukaan, vegetasi dan penggunaan lahan, vegetasi alami, system penanaman dan sumber
air (Van Zuidam, 1979).
Form fisiografi lahan digunakan untuk mencatat hasil dari pengamatan pada setiap
titik, dimana form fisiografi berisikan deskripsi lokasi dan informasi lainnya. Menurut Rayes
(2006), Deskripsi lokasi atau seringkali disebut juga informasi umum wilayah meliputi
keterangan lokasi titik pengamatan, yang meliputi nama daerah secara administrasi (mulai
dari tingkat yang paling rendah, nama dukuh atau kampung, desa, kecamatan, dst), posisi
geografis, keadaan wilayah (landskap) dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
pembentukan tanah (genesis), potensi lahan dan penggunaan lahan.
Berdasarkan hasil pengamatan dari 5 titik dari kelompok S1 pada tanggal 29 April
2017 di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa
Timur, berikut uraian tentang lahan pada setiap titiknya:
Titik 1
Titik pertama yaitu terletak pada Latitude 674261 LS/LU, Longitude 9134130 BT.
Relief makro bergumuk sedang pada relief mikro berbentuk teras. Bentuk lereng majemuk
dengan kemiringan 20%. Kondisi relief makro bergumuk sedangkan kondisi relief mikro
berbentuk teras, dan kelerenganya 8-15%. Laju aliran permukaan cepat dan drainase
alaminya agak cepat. Permeabilitas tanah yang cepat pada titik 1 menyebabkan
genangan/banjir sulit terjadi atau tanpa genangan. Pengelolaan airnya hanya memanfaatkan
drainase.
Erosi yang ditemukan pada titik satu adalah erosi percik. Selain itu tidak ditemukan
batuan, kerakal mapun kerikil saat pembuatan minipit. Penggunaan lahan pada titik 1
termasuk agroforestri yang didiominasi vegetasi alami yaitu tanaman pinus, sedangkan untuk
vegetasi spesifik adalah tanaman kopi, cabai, pisang.
Keadaan rezim lengas tanahnya adalah udik, karena tanah tidak pernah kering selama
90 hari (kumulatif) disetiap tahunnya. Sedangkan rezim suhu tanahnya adalah Isohipertermik
dikarenakan suhu di daerah tersebut > 22oC dan selisih antara suhu udara bulan basah dan
bulan kering < 6oC (Rayes, 2007).
Titik 2
Pada pengamatan fisiografi di titik 2 Latitude 674187 LS/LU, Longitude 9134130 BT
dengan kelerengan 8-15%, memiliki relief makro bergumuk dan relief mikro berbentuk teras
dan memiliki kemiringan 23%. Dengan keadaan aliran permukaan yang sedang dan drainase
alami yaitu baik.
Keadaan permeabilitas yang sedang pada titik 2 menyebabkan genangan/banjir sulit
terjadi atau tanpa genangan. Untuk pengelolaan air pada titik 2 memanfaatkan air dari
drainase. Erosi yang ditemukan pada titik 2 adalah erosi percik. Keadaan permukaan
disekitar minipit tidak ditemukan adanya batuan, kerakal mapun kerikil.
Pada titik 2 penggunaan lahannya adalah agroforestri, dengan vegetasi alami yang
didominasi oleh tanaman pinus dan vegetasi spesifik yaitu buncis, pisang, kopi, sistem irigasi
memanfaatkan air dari tadah hujan. Keadaan rezim lengas tanahnya adalah udik karena tanah
tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya berdasarkan kunci taxonomi
tanah. Rezim suhu tanahnya adalah Isohipertermik dikarenakan suhu di daerah tersebut >
22oC dan selisih antara suhu udara bulan basah dan bulan kering < 6oC (Rayes, 2007).
Titik 3
Pada pengamatan fisiografi di titik 3 terdapat Latitude 674117 LS/LU, Longitude
9134130 BT, dengan kelerengan 3-8%, memiliki relief makro bergumuk dan relief mikro
berbentuk teras dan memiliki kemiringan 36%. Dengan keadaan aliran permukaan yang cepat
dan drainase alami yaitu baik.
Keadaan permeabilitas yang agak cepat pada titik 3 menyebabkan genangan/banjir
sulit terjadi atau tanpa genangan. Untuk pengelolaan air pada titik 3 memanfaatkan air dari
drainase. Erosi yang ditemukan pada titik 3 adalah erosi percik. Keadaan permukaan
disekitar minipit tidak ditemukan adanya batuan, kerakal mapun kerikil.
Pada titik 3 penggunaan lahannya adalah agroforestri, dengan vegetasi alami yang
didominasi oleh tanaman kopi dan vegetasi spesifik yaitu pisang, titonia, sistem irigasi alami,
memanfaatkan air dari tadah hujan. Keadaan rezim lengas tanahnya adalah udik karena tanah
tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya berdasarkan kunci taxonomi
tanah. Rezim suhu tanahnya adalah Isohipertermik dikarenakan suhu di daerah tersebut >
22oC dan selisih antara suhu udara bulan basah dan bulan kering < 6oC (Rayes, 2007).
Titik 4
Pada pengamatan fisiografi di titik 4 terdapat Latitude 674117 LS/LU, Longitude
9134200 BT, dengan kelerengan 8-15%, memiliki relief makro bergumuk dan relief mikro
berbentuk teras dan memiliki kemiringan 45%. Dengan keadaan aliran permukaan yang cepat
dan drainase alami yaitu agak cepat.
Keadaan permeabilitas yang agak cepat pada titik 4 menyebabkan genangan/banjir
sulit terjadi atau tanpa genangan. Untuk pengelolaan air pada titik 4 memanfaatkan air dari
drainase. Erosi yang ditemukan pada titik 4 adalah erosi percik. Bahaya erosi ringan, dan
keadaan permukaan disekitar minipit tidak ditemukan adanya batuan, kerakal mapun kerikil.
Pada titik 4 penggunaan lahannya adalah agroforestri, dengan vegetasi alami yang
didominasi oleh tanaman titonia dan vegetasi spesifik yaitu pisang, kopi, sistem irigasi alami,
memanfaatkan air dari tadah hujan. Keadaan rezim lengas tanahnya adalah udik karena tanah
tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya berdasarkan kunci taxonomi
tanah. Rezim suhu tanahnya adalah Isohipertermik dikarenakan suhu di daerah tersebut >
22oC dan selisih antara suhu udara bulan basah dan bulan kering < 6oC (Rayes, 2007).
Titik 5
Pada pengamatan fisiografi di titik 5 terdapat Latitude 674117 LS/LU, Longitude
9134270 BT, dengan kelerengan 15-25%, memiliki relief makro bergumuk dan relief mikro
berbentuk teras dan memiliki kemiringan 25%. Dengan keadaan aliran permukaan yang cepat
dan drainase alami yaitu baik.
Keadaan permeabilitas yang cepat pada titik 5 menyebabkan genangan/banjir sulit
terjadi atau tanpa genangan. Untuk pengelolaan air pada titik 5 memanfaatkan air dari
drainase. Erosi yang ditemukan pada titik 5 adalah erosi percik. Bahaya erosi ringan, dan
keadaan permukaan disekitar minipit tidak ditemukan adanya batuan, kerakal mapun kerikil.
Pada titik 5 penggunaan lahannya adalah agroforestri, dengan vegetasi alami yang
didominasi oleh tanaman kopi dan vegetasi spesifik yaitu pisang, mangga, sistem irigasi
alami, memanfaatkan air dari tadah hujan. Keadaan rezim lengas tanahnya adalah udik karena
tanah tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya berdasarkan kunci
taxonomi tanah. Rezim suhu tanahnya adalah Isohipertermik dikarenakan suhu di daerah
tersebut > 22oC dan selisih antara suhu udara bulan basah dan bulan kering < 6 oC (Rayes,
2007).

3.3 Karakteristik Tanah


Karakteristik tanah fisik pada lima titik yaitu warna, struktur, tekstur, dan konsistensi.
Kondisi umum sifat fisik dominan sama di seluruh wilayah titik pengamatan, dan kondisi ini
bisa dipengaruhi oleh topografi wilayah. Pada sifat fisik tanah yaitu warna tanah, di seluruh
titik pengamatan mempunyai hue dominan 10 YR dan 7,5 YR. Warna ini merupakan
indikator fisik yang mudah dilihat dibandingkan yang lainnya. Karena semakin gelap warna
tanah maka semakin subur tanah tersebut. Menurut Radjamuddin (2009) bahwa warna tanah
dipengaruhi oleh empat jenis bahan, yaitu senyawa-senyawa besi, senyawa mangan dan
magnesium, kuarsa dan feldspar, dan bahan organik.
Tekstur tanah yang dominan pada wilayah ini adalah lempung berdebu, lempung
berdebu ini bukan tekstur tunggal dan ada tekstur lain yg terasa seperti pasir, liat, dan debu.
Karena lempung berdebu ini adalah gabungan dari pasir, liat, dan debu yang mempunyai
proporsi berbeda, namun yang menjadi dominan adalah debu. Karena tekstur tanah bisa
berbeda tergantung dari lingkungan di wilayah tersebut. Lalu tekstur tanah pun
mempengaruhi vegetasi yang akan dibudidayakan di wilayah tersebut cocok atau tidak.
Menurut Radjamuddin (2009) perbedaan pola sebaran fraksi tanah ini mengindikasikan
bahwa proses pedogenesis tidak berjalan sama dan adanya faktor lingkungan. Menurut
Notohadiprawiro dan Suparnowo (1978) bahwa lempung pada profil tanah disebabkan oleh
pengaruh suasana pembasahan lengas dan pengeringan.
Struktur yang ditemukan di semua wilayah pengamatan yaitu dominan gumpal
membulat. Struktur tanah ini memiliki ukuran diameter 1.5 cm 5 cm,. Struktur tanah ini
bisa berubah tergantung pengolahan lahannya karena semakin sering diolah maka agregat
tanah akan semakin kecil dan hancur. Menurut Rajamuddin (2009) bahwa struktut tanah
terdiri dari partikel-partikel tanah yang membentuk agregat dan ditentukan oleh partikel
penyusun tanah.
Konsistensi yang ditemukan pada wilayah pengamatan yaitu pada konsistensi lembab
adalah sangat gembur, dan pada konsistensi basah adalah agak lekat agak plastis. Konsistensi
ini berhubungan dengan daya kohesi dan adhesi tanah itu sendiri lalu konsistensi ini akan
berubah dayanya jika dilakukan pembajakan, pengolahan tanah, dsb. Menurut Hardjowigeno
(1992) bahwa tanah yang mempunyai konsistensi baik mudah diolah dan tidak melekat di alat
pengolah tanah.

3.4 Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan di wilayah ini adalah dominan perkebunan dan hutan, tetapi ada
wilayah yang penggunaan lahan tegalan. Pengaruh sifat fisik tanah dengan penggunaan lahan
sangat berkaitan, karena sifat fisik mempengaruhi produktivitas dari penggunaan lahan
seperti hortikultura dan perkebunan. Lalu alih fungsi lahan dari hutan ke perkebunan atau
hutan ke hortikutura dapat merubah sifat fisik tanah itu sendiri. Hasil penelitian Widianto et
al. (2004) bahwa alih guna lahan hutan menjadi kopi monokultur di Lampung mengakibatkan
perubahan sifat tanah permukaan berupa penurunan bahan organik dan jumlah ruang pori.
seperti pada titik 1.2, dimana disana ditemukan adanya alih fungsi lahan yang awalnya
agroforestri menjadi lahan tegalan yaitu digunakan untuk lahan buncis. Sedangkan pada titik
yang lain seperti pada titik 1.1, titik 1/3, titik 1.4 dan titik 1.5 penggunaan lahan yang ada
ialah agroforestri, yang mana penggunaan lahannya meliputi kehutanan dan pertanian. Hal
tersebut sejalan dengan pendapat Hairiah et al, (2003) dalam Rendra (2016), yang
menyatakan bahwa agroforestri adalah suatu sistem penggarapan tanah / penggunaan suatu
lahan dengan kegiatan kehutanan, pertanian, dan peternakan dikombinasikan secara bersama-
sama atau dapat juga dikatakan suatu sistem penggunaan lahan secara spasial yang dilakukan
oleh manusia yang menerapkan berbagai teknologi melalui pemanfaatan tanaman semusim
dan tanaman tahunan.

3.5 Sebaran SPT di Lokasi Survei


Tabel 1.Sebaran SPT di Lokasi Survei
Titik 1 Titik 2 Titik 3 Titik 4 Titik 5
Typic Typic Typic Typic Typic
A1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
A2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
B1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
B2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
C1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic
Typic Typic Typic Typic
C2 Dystrudept
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
s
Typic Typic Typic Typic Typic
D1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
D2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic
Typic Typic Typic Typic
E1 Dystrudept
Dystrudepts Dystrudepts Humudepts Humudepts
s
Typic Typic Typic Typic Typic
E2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Pachic Typic Typic Typic
F1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic
Typic Typic Typic Typic
F2 Dystrudept
Humudepts Humudepts Dystrudepts Humudepts
s
G1 Typic Typic Typic Typic Typic
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
G2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
H1
Humudepts Humudepts Dystrudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Humic Typic Typic
H2
Humudepts Humudepts Dystrudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
I1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
I2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Pachic Typic Typic Typic
J1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Pachic Typic Typic
J2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic
Typic Typic Typic Typic
K1 Dystrudept
Dystrudepts Dystrudepts Humudepts Dystrudepts
s
Typic
Typic Typic Typic Typic
K2 Dystrudept
Humudepts Dystrudepts Humudepts Dystrudepts
s
Typic Typic Typic Typic Typic
L1 Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts

Typic Typic Typic Typic Typic


L2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
M1 Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts

Andic
Andic Typic Andic Typic
M2 Dystrudept
Dystrudepts Dystrudepts Dystrudepts Dystrudepts
s
Typic Typic Typic Typic Typic
N1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
N2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
O1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
O2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
P1
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Andic Typic Typic
P2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
Q1
Hapludolls Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
Q2
Humudepts Humudepts Dystrudepts Humudepts Humudepts
R1 Typic Typic Typic Typic Typic
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic Typic Typic Typic Typic
R2
Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts Humudepts
Typic
Andic Typic Andic Typic
S1 Dystrudept
Dystrudepts Humudepts Dystrudepts Humudepts
s
Dari fieldwork yang telah dilakukan di Desa Tawangargo dan Desa Donowarih telah
didapatkan hasil klasifikasi tanah dari 190 titik pengamatan yaitu dari kelas A sampai kelas S.
Pada 190 titik tersebut telah ditemukan sub grup yaitu AH (Andic Humudepts) TD (Typic
Dystrudepts), AD (Andic Dystrudepts), PH2 (Pachic Humudepts), TH1 (Typic Hapludolls),
TH (Typic Humudepts). Serta HD (Humic Dystrudepts).
Pada Satuan Peta Tanah diperoleh hasil sebanyak 12 Satuan Peta Tanah. Pada Satuan
Peta Tanah sederhana terdapat Konsosiasi Typic Humudepts dan Konsosiasi Typic
Distrudepts, sedangkan untuk Satuan Peta Tanah Majemuk terdapat Asosiasi Pachik
Humudepts, Typic Dystrudepts; Kompleks Typic Dystrudepts, Typic Humudepts, Humic
Dystrudepts; Asosiasi Typic Humudepts, Typic Distrudepts; Asosiasi Typic Humudepts,
Humic Dystrudepts; Asosiasi Typic Humudepst, Typic Distrudepts, Andic Humudepts;
Asosiasi Typic Humudepts, Andic Humudepts; Asosiasi Typic Humudepts, Andic
Distrudepts, Typic Distrudepts, Asosiasi Typic Dystrudepts, Typic Humudepts, Asosiasi Typic
Humudepts, Typic Hapludolls; Asosiasi Typic Humudepts, Pachic Humudepts; dan Asosiasi
Humic Dystrudepts dan Typic Humudepts. Dari seluruh Satuan Peta Tanah yang didapatkan
tersebut didominasi oleh Satun Peta Tanah Sederhana yaitu Konsosiasi Typic Humudepts.
Dalam menentukan sub grup tersebut berdasarkan dari sifat fisik dan kimia tanah.
Satuan peta tanah dalam satu landform memiliki karakteristik yang berbeda, dipengaruhi oleh
ketinggian tempat dan bahan induk. Untuk mengetahui satuan peta tanah tersebut perlu
dilakukannya pengelompokan karakteristik yang sama. Berdasarkan karakteristik tanah yang
telah diketahui akan membantu dalam pembuatan Satuan Peta Tanah.